Filmstrips: 13 Scariest South Korea Horror Movies

Hampir mirip seperti film horror Jepang dan Asia pada umumnya, film horror Korea kerap mengangkat tema tentang keluarga disfungsional, rahasia kelam, dan dendam jiwa tertindas yang kemudian melahirkan cerita misteri tentang arwah pembalas dendam yang mungkin klise namun selalu efekfif membuat bulu kuduk kamu merinding. Fenomena tersebut berakar dari ungkapan Gwonseonjingak (“Menghukum kejahatan dan menghargai kebajikan”), sebuah pepatah Korea yang terinspirasi dari ajaran Konfusianisme tentang keadilan: Lakukan hal baik, kamu akan mendapat imbalan; lakukan hal buruk, tak hanya kamu yang akan menerima akibatnya, tapi juga orang-orang di sekitarmu. Konsep tentang balasan setimpal ini yang kemudian menjadi salah satu tema dominan dalam film-film horror Korea. Namun, dalam perkembangannya, film horror Korea pun tak terjebak dalam tema dan genre yang itu-itu saja. Beberapa tahun belakangan, para sineas Korea Selatan menawarkan film berelemen zombie, monster, torture, hingga thriller psikologis yang memperkaya khazanah horror Korea Selatan. Menyambut Halloween, berikut adalah 13 film horror Korea Selatan yang harus masuk watch list kamu.

 

Whispering Corridors (1998)

Walaupun sudah berusia 20 tahun, namun film ini menjadi salah satu film horror wajib tonton bila kita bicara tentang dunia sinema Korea. Disutradarai oleh Park Ki-hyung, film ini menjadi bagian dari film-film Korea pasca penghapusan sensor ketat di akhir kediktatoran militer negara tersebut. Hasilnya, film-film di era tersebut banyak mengangkat sindiran sosial terhadap sistem, tak terkecuali film ini yang menyinggung tentang sistem edukasi Korea yang keras. Berlatar di sebuah sekolah menengah khusus perempuan, peristiwa kematian seorang murid menjadi pemicu dari banyak kematian misterius lain, rahasia tabu yang terpendam, dan pemberontakan gadis remaja. Film ini sendiri menjadi film pertama dari Whispering Corridors series dengan empat film sekuel (Memento MoriWishing Stairs, Voice, dan A Blood Pledge) yang walaupun tidak memiliki cerita yang saling berkaitan namun memiliki latar dan tema yang mirip.

A Tale of Two Sisters (2003)

Cerita tentang keluarga difungsional memang menjadi latar menarik bagi sebuah film horror, tak terkecuali dalam film garapan Kim Jee-woon ini. Terinspirasi dari cerita rakyat zaman Dinasti Joseon, plot film ini berkisar pada seorang gadis bernama Su-mi (Im Soo-jung) yang baru keluar dari institusi mental dan pulang ke rumah ayahnya (Kim Kap-soo) yang juga dihuni oleh adik perempuannya Su-yeon (Moon Geun-young) dan ibu tiri mereka, Eun-joo (Yum Jung-ah). Konflik antara saudara perempuan dan ibu tiri mereka kemudian diperparah dengan sosok penampakan hantu anak perempuan dan twist yang tidak disangka but so satisfying. Selain termasuk film horror paling laris di Korea, film ini juga menjadi film horror Korea pertama yang ditayangkan di bioskop Amerika dan telah di-remake versi Hollywood dengan judul The Uninvited.

Bunshinsaba (2004)

Memiliki judul bahasa Inggris Witch Board, film karya sutradara Ahn Byeong-ki ini memang berfokus pada sejenis permainan ouija board khas Korea yang disebut Bunshinsaba. Dan seperti yang bisa kamu duga, permainan apapun yang mengundang arwah penasaran untuk membalas dendam tidak akan berakhir baik-baik saja. Ceritanya sendiri cukup sederhana, dengan tokoh utama seorang siswi pindahan yang di-bully oleh teman sekelas barunya. Tidak tahan dengan perlakuan tersebut, ia dan dua orang temannya memutuskan mencoba kutukan Bunshinsaba untuk membalas para bully. Kutukan tersebut terbukti manjur dan satu per satu bully ditemukan tewas dengan muka terbakar. Namun, apakah hal itu sepadan dengan harga yang harus dibayar oleh para pemanggil?

Bloody Reunion (2006)

Berjudul asli Seuseungui Eunhye, karya debut sutradara Im Dae-Woong ini memiliki judul bahasa Inggris meliputi To Sir with Love, My Teacher, Teacher’s Mercy, dan Bloody Reunion. Kisah dibuka dengan seorang detektif yang menyelidiki kejadian pembunuhan massal di rumah Nyonya Park, seorang pensiunan guru yang kini duduk di kursi roda. 5 orang ditemukan tewas di rumah tersebut dan yang selamat adalah Nyonya Park dan pengasuhnya, Mi-Ja. Kepada sang detektif, Mi-Ja menceritakan bagaimana kejadian tersebut dimulai dari reuni para bekas murid Nyonya Park. Terlihat begitu dicintai oleh para mantan muridnya, namun ternyata mereka semua menyimpan dendam masing-masing bagi sang guru dan hal itu dengan brutal terungkap seiring munculnya sosok pembunuh bertopeng kelinci yang juga menyimpan dendam.

The Host (2006)

Bagi yang menyukai film horror yang menampilkan sosok monster, film karya Bong Joon-ho yang dibintangi oleh banyak bintang terkenal seperti Song Kang-ho dan Bae Doona ini tidak boleh dilewatkan. Kisah bermula ketika cairan kimia dari sebuah lab militer Amerika di Korea dibuang secara sembarangan dan mengalir ke Sungai Han yang kemudian menimbulkan efek negatif bagi ekosistem sungai. Beberapa tahun kemudian, seorang pria pandir bernama Park Gang-du memiliki warung kecil di taman dekat sungai yang dijalankan bersama ayah dan putrinya. Suatu hari ketika ia sedang mengantarkan makanan, monster berukuran besar muncul dari Sungai Han dan menyerang orang dengan buas. Gang-du melihat putrinya di antara kerumunan orang yang panik dan berusaha menolongnya. Namun, monster itu berhasil menangkap putrinya dan kembali menyelam ke air. Setelah pemakaman massal bagi para korban, pemerintah Korea dan armada militer Amerika tiba dan mengkarantina semua orang yang berada di lokasi, termasuk Gang-du dan keluarganya karena ternyata makhluk buas tersebut juga mampu menyebarkan virus mematikan. Menampilkan special effect yang bagus dan jalan cerita yang menegangkan, film ini terinspirasi dari kejadian nyata di tahun 2000 ketika cairan formaldehyde dalam jumlah besar dibuang oleh peneliti yang bekerja untuk militer Amerika ke sungai dan sempat menimbulkan antipati masyarakat Korea Selatan pada Amerika. Karena tema tersebut, film ini juga dianggap sebagai kritik Korea Selatan terhadap Amerika Serikat dan mendapat pujian bahkan dari Korea Utara, sesuatu yang jarang terjadi untuk film Korea Selatan.

Hansel and Gretel (2007)

Terinspirasi dari cerita dongeng klasik, film ini menceritakan seorang salesmanbernama Eun-soo yang mengalami kecelakaan di sebuah jalan tol dan terbangun di hutan gelap, di mana ia bertemu seorang gadis cilik yang membawa lentera dan mengajaknya pulang ke rumahnya. Bernama “House of Happy Children”, rumah di tengah hutan itu dihuni oleh sang gadis misterius, kakak lelaki, adik perempuan, serta dua orang dewasa yang sepintas terlihat seperti orangtua mereka, well at least sampai akhirnya Eun-soo menyadari semua keganjilan dan harus berhadapan dengan berbagai misteri yang menyelimuti rumah tersebut. Menghadirkan atmosfer hangat khas Natal yang silih berganti dengan nuansa disturbing, sutradara Yim Pil-Sung berhasil mengemas seramnya horror bergenre haunted house dengan sentuhan fantasy/fairy tale yang mengingatkan pada karya Guillermo del Toro.

Death Bell (2008)

Kita semua tahu masa ujian sekolah terkadang terasa seperti urusan hidup dan mati bagi seorang pelajar, namun bagaimana bila kamu benar-benar bisa kehilangan nyawa (dengan cara yang sadis) bila salah menjawab pertanyaan? Hal itulah yang dialami oleh 20 murid SMA di kelas elite yang sedang menyiapkan ujian masuk universitas. Satu per satu mereka menghilang dan mati secara mengenaskan sementara yang masih selamat harus berjuang mengungkap jawaban dari semua kegilaan tersebut. Memadukan elemen torture-horror seperti film Saw, drama sekolah, dan peristiwa supranatural, Death Bell menjadi film debut yang cukup sukses dari sutradara Chang yang sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara video musik.

Thirst (2009)

Sebagai salah satu sutradara terkenal yang berhasil mengangkat derajat film-film Korea di ranah internasional, Park Chan-wook memiliki ciri khas framing yang dipikirkan matang, humor gelap, dan topik-topik yang seringkali brutal dalam filmnya, tak terkecuali di film horror ini. Terinspirasi oleh novel Therese Raquin karya Emile Zola, film ini bercerita tentang seorang pendeta Katolik yang jatuh cinta dengan istri temannya sendiri. Seakan itu tak cukup, sang pendeta pun berubah menjadi vampire setelah mengalami eksperimen medis yang gagal. Judul Thirst di sini tak hanya tentang haus darah sang pendeta yang berubah jadi vampire, tapi juga merujuk pada nafsu dan cinta segi tiga yang terjadi. Film ini berhasil memenangkan Jury Prize di Cannes 2009 dan menjadi film mainstream Korea pertama yang menampilkan adegan full frontal male nudity. 

White: The Melody of the Curse (2011)

Di balik semua keglamorannya, dunia K-pop adalah dunia yang keras di mana hanya sedikit dari para idol yang bisa survive dan mendapat popularitas. Girl group fiksional dalam film ini, Pink Dolls yang terdiri dari 4 member termasuk grup yang belum berhasil terkenal, sampai seorang anggotanya menemukan sebuah rekaman video lama berisi latihan lagu dan dance tanpa keterangan apapun. Pink Dolls pun mempelajari lagu tersebut dan mengklaimnya sebagai karya mereka. Tanpa mereka duga, di balik ketenaran tiba-tiba yang datang, mereka juga akan disambut oleh ambisi, rasa rakus, dan sosok wanita berambut putih yang menghantui mereka. Film karya sutradara Kim Gok dan Kim Sun ini termasuk menarik karena berlatar dunia K-pop dan segala keriuhannya yang ternyata menyimpan banyak emosi negatif bagi mereka yang tidak beruntung.

The Silenced (2015)

Dibintangi oleh Park Bo-young dan Uhm Ji-won, film mystery thriller garapan sutradara Lee Hae-young ini berlatar Gyeongseong di tahun 1938 ketika Jepang masih menduduki Korea. Seorang gadis rapuh bernama Ju-ran pindah ke sebuah sekolah asrama putri yang merangkap sanatorium untuk memulihkan kesehatannya. Awalnya kehidupan Ju-ran berjalan menyenangkan dengan sahabat barunya, Yeon-deok, dan program kesehatan yang diberikan sang kepala sekolah. Namun, perlahan ia menyadari beberapa murid menghilang satu per satu dan ia merasakan ada perubahan ganjil dalam tubuhnya. Bertekad untuk mencari jawaban, ia pun mulai menginvestigasi misteri di sekolah tersebut yang ternyata berkaitan dengan sebuah program rahasia dari militer Jepang.

The Wailing (2016)

Besutan tangan dingin sutradara Na Hong-jin yang karyanya sudah diakui internasional, The Wailing bercerita tentang seorang polisi yang menginvestigasi rentetan kematian dan penyakit misterius di sebuah pedesaan yang terletak di gunung. Penyelidikan tersebut melibatkan beberapa petunjuk seperti seorang pria Jepang misterius, wanita tanpa nama yang tak kalah misterius, serta sosok iblis bermata merah yang menghantui desa tersebut. Masalah semakin runyam ketika putri sang detektif ikut tertular penyakit aneh tersebut dan ia pun harus berpacu dengan waktu sebelum semua terlambat. Jalan cerita yang intens dan sinematografi yang menarik, film ini berhasil sukses secara komersial maupun kritik dan membuahkan banyak penghargaan bagi sang sutradara.

Train to Busan (2016)

Kalau kamu penggemar film Korea, besar kemungkinan kamu memang sudah menonton film yang dibintangi oleh aktor beken Gong Yoo ini. Ditayangkan perdana di festival film Cannes tahun 2016, film ini mendapat respons positif berkat alur ceritanya yang menegangkan dan membuat penonton ikut berdebar-debar. Genrenya sendiri adalah zombie outbreak, di mana seorang ayah workaholic bernama Seok-woo (Gong Yoo) dan putri kecilnya Su-an (Kim Su-an) sedang berada di kereta menuju Busan saat infeksi virus menyebar dan membuat orang menjadi zombie. Bahu-membahu dengan para penumpang kereta lain yang meliputi seorang wanita hamil dan suaminya, tim baseball remaja, dua saudara perempuan tua, pengusaha kaya yang egois, dan seorang tunawisma yang tidak stabil, ayah dan anak tersebut harus berjuang bertahan hidup dan tiba dengan selamat ke Busan.

Gonjiam: Haunted Asylum (2018)

Termasuk film horror terbaru yang keluar tahun ini, besutan Jung Bum-shik ini mengangkat genre found footage horror yang sebetulnya bukan hal yang asing, namun tetap saja terasa menakutkan, terutama karena latarnya di sebuah rumah sakit jiwa yang angker. Menyusul berita menghilangnya dua remaja secara misterius di bekas rumah sakit jiwa Gonjiam, seorang YouTuber kanal horror bernama Ha-joon justru mengajak teman-temannya untuk melakukan live broadcast di tempat tersebut dengan harapan mendapat 1 juta penonton. Seperti yang bisa kita duga, mereka pun harus berhadapan dengan arwah-arwah ganas di tempat tersebut. Walaupun cerita atau akhirnya mudah ditebak, namun tetap saja film ini seru ditonton beramai-ramai.

Filmstrips: Merayakan Keragaman Genre di Korea Indonesia Film Festival 2018

Perhelatan tahunan Korea Indonesia Film Festival akan digelar kembali dengan memboyong film-film beragam genre dari Korea Selatan. 

Seperti yang telah saya ceritakan di sejarah singkat film Korea, dunia perfilman Korea telah mengalami pasang-surut akibat gejolak politik, kultur, dan ekonomi dalam sejarah Negeri Ginseng tersebut. Kini, seiring dengan kepopuleran Korean Wave yang tetap belum terbendung, kehadiran film-film Korea Selatan di seluruh dunia lewat berbagai festival film maupun penayangan publik sama sekali bukan hal asing.

Di Indonesia, film-film kontemporer Korea Selatan telah memiliki pangsa pasarnya sendiri, khususnya lewat jaringan bioskop CGV Cinemas (sebelumnya dikenal dengan blitzmegaplex dan CGV blitz) yang dari awal muncul memang berusaha menawarkan pilihan yang lebih beragam di luar film Hollywood. Thanks to them, kita pun bisa turut menyaksikan film-film laris Korea Selatan seperti Train to Busan (2016) secara legal di layar lebar. Komitmen mereka untuk memperkenalkan film Korsel ke Indonesia pun dipertegas dengan menggelar Korea Indonesia Film Festival (KIFF), acara tahunan yang dibesut bersama Korean Cultural Center Indonesia (KCCI).

Untuk tahun ini, KIFF akan digelar tanggal 18 sampai 21 Oktober di empat kota, yaitu: CGV Cinemas Grand Indonesia Jakarta, Social Market Palembang, J-Walk Jogjakarta, dan Daya Grand Square Makassar. Total 20 film akan ditayangkan di festival kali ini, empat di antaranya adalah film Indonesia yang meliputi Dilan 1990, Pengabdi Setan, Si Doel the Movie, dan Susah Sinyal. Dengan harga tiket yang dibanderol hanya Rp15.000 per film, rasanya sayang untuk melewatkan festival ini begitu saja. Film Korea Selatan apa saja yang menjadi highlight di KIFF 2018 ini? Let’s see one by one.

The Negotiation (2018)

Ditunjuk menjadi film pembuka, film besutan sutradara Lee Jong-seok ini adalah crime thriller yang berfokus pada Ha Chae-yoon (Son Ye-jin), seorang negosiator Kepolisian Seoul yang harus adu kepala dengan Min Tae-koo (Hyun Bin), penyelundup senjata yang melakukan penyanderaan di mana Ha Chae-yoon hanya punya waktu 12 jam untuk menyelamatkan nyawa para sandera. Film ini sendiri baru tayang di Korea Selatan pada tanggal 19 September lalu dan mendapat respons positif baik dari Korsel maupun internasional.  As opening movie, film ini hanya akan ditayangkan tanggal 18 Oktober di CGV Grand Indonesia dan khusus untuk undangan. Tapi kabarnya, setelah KIFF, film ini akan ditayangkan untuk publik mulai tanggal 24 Oktober nanti.

Forgotten (2017)

Korea Selatan punya reputasi bagus dalam genre mystery thriller dan film garapan Jang Hang-jun ini berhasil menjadi bagian yang tak mengecewakan. Jin-seok (Kang Ha-neul) baru saja pindah rumah bersama kedua orangtua dan kakak lelakinya, Yoo-seok (Kim Mu-yeol).  Pada suatu malam, Jin-seok melihat kakaknya diculik masuk ke dalam sebuah mobil van dan setelah 19 hari tanpa kabar, kakaknya pulang ke rumah tanpa memori apapun tentang penculikan yang ia alami. Namun, Jin-seok yang mengidap hipersensitivitas merasakan ada perubahan dalam sikap kakaknya ditambah suara misterius dari ruangan yang dikunci oleh pemilik rumah sebelumnya. Sang sutradara menggarap cerita ini setelah mendengar cerita temannya yang memiliki sepupu yang menghilang dari rumah selama sebulan dan kembali dengan sikap seperti orang yang benar-benar lain. Selain itu, ia pun mengambil inspirasi dari dongeng asal Prancis, Bluebeard, tentang seorang pria kaya yang gemar membunuh istri-istrinya dalam sebuah ruang rahasia.

1987: When the Days Comes (2017)

Mengambil latar tahun 1987 dan berdasarkan peristiwa nyata yang berujung pada Gerakan Demokrasi Juni yang mengakhiri rezim militer Presiden Chun Doo-hwan di Korea Selatan. Protes mahasiswa besar-besaran yang mengubah sejarah Korsel ini dipicu oleh terungkapnya kematian aktivis mahasiswa Park Jong-chul setelah ditangkap dalam sebuah demonstrasi pro-demokrasi dan disiksa dalam interogasi yang kejam. Kasus yang hendak ditutupi aparat ini pun terkuak ketika sekelompok orang dengan sekuat tenaga membawanya ke permukaan. Disutradarai oleh Jang Joon-hwan, film  political thriller ini berhasil mendapat penghargaan Best Director di Cinema Asia Film Festival dan Baeksang Arts Awards (Grand Prize Film) di Asian Film Awards 2018.

The Spy Gone North (2018)

Di tahun 1993, berembus kabar Korea Utara tengah mengembangkan senjata nuklir yang menjadi momok hingga hari ini. Mantan perwira militer Korea Selatan, Park Suk-young (Hwang Jung-min) direkrut oleh National Intelligence Service (NIS) untuk menyusup ke militer Korea Utara dengan nama sandi “Black Venus”. Dalam penyelidikannya, ia menemukan kesepakatan rahasia antara pejabat tinggi Korea Utara dan Korea Selatan yang membuatnya terjebak di posisi serba salah. Terinspirasi dari kisah nyata Park Chae-seo, mata-mata Korsel yang menyusup ke fasilitas nuklir Korut, film besutan Yoon Jong-bin ini ditayangkan perdana di Cannes Film Festival 2018.

Along with the Gods (2017 & 2018)

Diangkat dari webtoon karya Joo Ho-min, film bergenre action fantasy yang disutradarai oleh Kim Yong-hwa ini terbagi menjadi dua film. Film pertama memiliki sub judul The Two Worlds yang dirilis 20 September 2017 lalu dan di bulan Februari 2018 menjadi film yang paling banyak ditonton nomor dua dalam sejarah film Korea Selatan. Sekuelnya yang dirilis Agustus 2018 lalu memiliki sub judul The Last 49 Days dan dua sekuel berikutnya direncanakan syuting tahun depan. Premis kedua film ini sendiri berpusat pada seorang pemadam kebakaran bernama Kim Ja-hong (Chae Tae-hyun) yang setelah meninggal dibawa ke alam baka oleh tiga grim reapers, Gang-lim (Ha Jung-woo), Haewonmak (Ju Ji-hoon), dan Lee Deok-choon (Kim Hyang-gi). Ketiganya menemani Kim Ja-hong yang punya waktu 49 hari di alam baka untuk menyiapkan diri menghadapi pengadilan untuk menentukan nasibnya di afterlife.

The Battleship Island (2017)

Meneruskan tradisi panjang film bertema sejarah dan patriotisme di masa pendudukan Jepang, film karya Ryoo Seung-wan ini bercerita tentang pulau kecil bernama Hashima di dekat pesisir Nagasaki, di mana 400 orang Korea menjadi tahanan kerja paksa. Seorang musisi yang ingin menyelamatkan putrinya, petarung jalanan, tentara pemberontak, dan seorang comfort woman menemukan diri mereka berada di pusaran konflik yang berujung pada usaha untuk meloloskan diri dari pulau tersebut. Dengan set yang digarap serius dan memakan biaya produksi lima kali lebih besar dari film domestik Korsel pada umumnya, film ini mendapat penghargaan Best Art Design di Blue Dragon Film Awards 2017.

Gonjiam: Haunted Asylum (2018)

Pecinta film horor tidak boleh melewatkan film besutan Jung Bum-shik yang mengusung genre found footage horror ini. Sekelompok kru kanal YouTube horor berencana melakukan live broadcast di sebuah gedung tua bekas rumah sakit jiwa demi mengejar target mendapatkan satu juta penonton. Mereka melakukan ritual pemanggilan arwah dan tentu saja kejadian-kejadian mengerikan pun siap menyambut mereka di gedung angker tersebut. Gonjiam sendiri merupakan gedung angker yang benar-benar ada di daerah Gwangju dan disebut sebagai salah satu tempat paling berhantu di Korea dan di tahun 2012 CNN Travel memasukkannya ke daftar 7 tempat paling mengerikan di dunia. Film ini pun tak lepas dari rumor ganjil yang menyelimuti proses produksinya. Hanya beberapa hari setelah film ini dirilis, salah satu aktor yaitu Lee Seung-wook yang melakukan debutnya di film ini mengumumkan ia pensiun dari dunia film dan tidak pernah hadir dalam agenda promosi film ini. Ia menyebutkan alasan personal sebagai keputusannya, namun kita sebagai pecinta film horor mungkin setengah berharap ada alasan yang lebih misterius di balik keputusan tiba-tiba tersebut. Oh ya, khusus di pemutaran CGV Grand Indonesia, film ini akan ditayangkan di layar Screen X untuk sensasi kengerian yang maksimal.

Selain 7 judul di atas, KIFF 2018 juga akan menayangkan Golden Slumber (2018) karya Noh Dong-seok yang bergenre action thriller, The Princess and The Matchmaker (2018) yang merupakan romance comedy masa kerajaan,serta The Accidental Detective 1 & 2 yang memadukan crime comedy dan thriller.

Di samping film-film komersial, kita juga bisa menyaksikan special art screening film teater dan opera A Bird Story, Dallae Story, dan Magic Flute yang ditayangkan secara gratis. Melengkapi keragaman tersebut, Korean ASEAN Animation Omnibus yang merupakan kumpulan film animasi dari Korea dan negara-negara ASEAN akan ditayangkan khusus di CGV Pacific Place Jakarta hari Jumat 19 Oktober jam 7 malam dengan gratis.

Filmstrips: Brief History of Korean Cinema

Bermula dari film-film propaganda perang hingga gemilang di festival film berkelas dunia, dunia perfilman Korea telah melewati banyak jatuh bangun yang terikat erat dan sama melelahkannya dengan sejarah bangsa itu sendiri—mulai dari pendudukan Jepang antara 1903-1945, Perang Dunia II, Perang Korea 1950-1953, dan tahun-tahun represif oleh pemerintahan militer.

Konon, catatan pertama tentang film di Korea muncul di koran Inggris The Times edisi 19 Oktober 1897 yang melaporkan: “Gambar bergerak (film) akhirnya diperkenalkan ke Joseon, sebuah negeri yang terletak di Timur Jauh. Di awal Oktober 1897, gambar bergerak ditayangkan untuk publik di Jingogae, Bukchon, di sebuah barak kecil yang dipinjam dari orang Cina pemiliknya selama tiga hari. Karya yang ditayangkan meliputi film-film pendek dan dokumenter yang diproduksi oleh Pathe Pictures dari Prancis.” Meskipun keabsahan berita tersebut akhirnya dibantah oleh peneliti Brian Yecies yang bersikeras ia tak dapat menemukannya di The Times edisi tersebut dan kini dianggap mitos, tahun-tahun berikutnya menjadi tonggak dari sejarah sinema di Korea.

Penayangan film untuk publik tercatat pada surat kabar Hwangseong sinmun tahun 1903. Di tahun yang sama, bioskop pertama Korea dengan nama Dongdaemun Motion Picture Studio pun dibuka dan disusul oleh bioskop The Dansung-sa Theatre di Seoul, empat tahun kemudian. Bioskop-bioskop pionir ini menayangkan film-film impor dari Amerika Serikat dan Eropa yang meliputi karya-karya dari Douglas Fairbanks, Fritz Lang, dan D. W. Griffith.

Adalah Uirijeok Gutu (Loyal Revenge) yang tercatat sebagai film produksi Korea pertama di tahun 1919, meskipun bentuknya adalah kino drama alias produksi teater hidup di mana para aktornya berakting di depan film yang diproyeksikan ke backdrop panggung. Evolusi berikutnya adalah film bisu di tahun 1923 (The Story of Janghwa and Hongreyon) dan film bersuara pertama pada tahun 1935 (Chunhyang-jeon).  Di antara rentang tahun tersebut, Korea mengalami apa yang disebut dengan The Golden Era of Silent Movies yang sayangnya juga menjadi bab yang hilang dalam sejarah sinema Korea karena setiap film yang diproduksi sebelum 1934 tidak satu pun yang berhasil diselamatkan dengan kondisi utuh.

dr-huyung
Hae Yeong alias Hinatsu Eitaro alias Dr. Huyung. Sutradara Korea yang aktif menggarap film-film yang disponsori Jepang sebelum akhirnya menetap di Indonesia.

Memasuki masa Perang Dunia II, Korea yang berada di bawah pendudukan Jepang didominasi oleh film-film propaganda perang yang kerap mengangkat tema asimilasi antara Jepang dan Korea. Salah satunya adalah film produksi 1941 berjudul You and I yang menggambarkan bagaimana pemuda Korea secara sukarela bergabung ke pasukan Jepang dan berisi subplot cerita pernikahan antara seorang wanita Jepang dengan pria Korea. Film tersebut digarap oleh sutradara Korea Hae Yeong yang punya hubungan erat dengan industri film Jepang dan memiliki nama Jepang “Hinatsu Eitaro”. Yang menarik, setelah merampungkan film itu, Hae pergi ke Jawa untuk membuat film-film dokumenter bagi Jepang dan setelah perang berakhir, ia mengganti namanya menjadi Dr. Huyung, menikahi wanita Indonesia, memiliki dua anak, dan memproduksi film-film Indonesia seperti Antara Bumi dan Langit (film Indonesia pertama yang menampilkan adegan ciuman), Gadis Olahraga, Kenangan Masa, dan Bunga Rumah Makan.

viva freedom
Poster film Viva Freedom! (1946).

Dengan berakhirnya Perang Dunia II dan Jepang angkat kaki dari Korea, kebebasan menjadi tema yang mendominasi sinema Korea dengan contoh pentingnya adalah Viva Freedom! (1946) yang digarap oleh Choi In-gyu. Masa-masa euforia ini tak bertahan lama karena Korea diguncang oleh perang sipil antara Korea Utara dan Korea Selatan. Dalam peperangan selama tiga tahun tersebut (1950-1953), hanya 14 film yang diproduksi dan semuanya tidak ada yang selamat.

The Coachman.jpg
The Coachman (1961).

Menyusul gencatan senjata di tahun 1953, presiden Korea Selatan Syngman Rhee pun mencoba menghidupkan kembali dunia sinema Korsel dengan menghapuskan pajak dan menyediakan peralatan serta teknologi bagi para filmmakers Korsel untuk memproduksi film. Upaya itu melahirkan masa keemasan sinema Korsel baik secara kuantitas maupun kualitas. Dipermanis dengan censorship yang longgar, di masa ini para sutradara Korsel melahirkan film-film legendaris seperti The Housemaid (1960) karya Kim Ki-young dan Obaltan (1961) karya Yu Hyun-mok yang disebut sebagai dua film Korea Selatan terbaik dalam sejarah, serta The Coachman (1961) karya Kang Dae-jin yang menjadi film Korea Selatan pertama yang memenangkan penghargaan di festival film internasional dengan memboyong penghargaan Silver Bear Jury Prize di Berlin International Film Festival tahun 1961.

yeongja.jpg
Yeong-ja’s Heydays (1975).

Sayangnya, gairah sinema Korsel kembali surut ketika Park Chung-hee menggantikan Syngman Rhee sebagai presiden tahun 1962 dan pemerintah mulai menancapkan kontrol yang lebih ketat dalam perfilman Korsel. Sepanjang dekade 1970-an, sinema Korsel berada di cengkeraman sensor Pemerintah. Film-film yang dianggap tidak patriotik, berbau komunis, dan mengandung ide-ide yang dianggap obscene dibabat habis, sampai-sampai menurut International Film Guide edisi 1981: “Tidak ada negara dengan penyensoran film yang lebih ketat dibanding Korea Selatan—kecuali mungkin Korea Utara dan negara-negara blok Komunis lainnya.” Menurunnya kualitas dan diversitas cerita membuat baik para sineas dan penikmat film di masa itu merasa lesu. Yang masih dapat menimbulkan denyut adalah film-film bergenre “hostess films” seperti Yeong-ja’s Heydays (1975) dan Winter Woman (1977) yang keduanya disutradarai oleh Kim Ho-sun. Dua film tersebut bercerita tentang para wanita malam dan terlepas dari konten seksual yang kental, Pemerintah mengizinkan film-film seperti itu dirilis dan menjadi genre populer di antara 1970-1980.

surrogate_woman
Kang Soo-yeon di film The Surrogate Woman (1986).

Masuk dekade 1980, Pemerintah mulai melonggarkan kekang mereka dan gairah membuat film perlahan bangkit. Walaupun jumlah pengunjung bioskop masih terbilang rendah, namun industri film Korsel semakin gencar meraih perhatian internasional. Di tahun 1981, film garapan Im Kwon-taek dengan judul Mandala memenangkan Grand Prix di Hawaii Film Festival dan di tahun 1987, aktris Kang Soo-yeon meraih gelar Aktris Terbaik di Venice Film Festival untuk perannya di film karya Im Kwon-taek berikutnya, The Surrogate Woman (1986). Dua tahun kemudian, ia juga menjadi Aktris Terbaik di Moscow International Film Festival lewat film Come, Come, Come Upward yang juga besutan Im Kwon-taek.

marriage-story
Marriage Story (1992).

Di penghujung 80-an, lanskap industri film Korsel pun semakin berkembang dengan masuknya film-film impor , pembukaan kantor-kantor cabang perusahaan film Amerika, serta investasi para chaebol (konglomerat) yang mendanai produksi dan distribusi film lokal. Yang pertama melakukannya adalah Samsung yang mendanai 25% biaya produksi film Marriage Story (1992) garapan Kim Ui-seok. Setelah Samsung, konglomerat lain seperti Daewoo dan Hyundai turut tergoda untuk menyisihkan uang mereka dengan berinvestasi ke film lokal. Meskipun krisis ekonomi Asia turut menghantam Korsel dan membuat para chaebol kembali fokus ke bisnis utama mereka, namun mereka telah menggemburkan lahan basah bagi masa renaissance industri film Korsel yang ditandai dengan meningkatnya jumlah penonton, praktik bisnis yang sehat, dan regenerasi para sineas.

shiri
Shiri (1999).

Antusiasme rakyat Korsel, khususnya kaum muda terhadap industri perfilman terus memuncak. Di perhelatan perdana Busan International Film Festival tahun 1996 misalnya, tak hanya semua penayangan laris dibanjiri penonton, para penikmat film bahkan sampai ramai-ramai mengejar Tony Rayns, seorang kritikus film asal Inggris, demi meminta tanda tangan. Excitement tersebut pun berhasil diterjemahkan menjadi penjualan tiket film lokal yang mencetak sejarah lewat Shiri (1999), film blockbuster pertama Korsel yang meraih tiket penjualan lebih dari 2 juta tiket di Seoul saja. Kesuksesan film karya Kang Je-gyu tersebut diikuti oleh film-film lokal blockbuster lainnya seperti Joint Security Area (2000) karya Park Chan-wook, My Sassy Girl (2001) karya Kwak Jae-yong, dan Silmido (2003) karya Kang Woo-suk.

Oldboy
Oldboy (2003).

New Korean Cinema” alias film-film kontemporer Korea Selatan pun semakin terkenal dan terbuka aksesnya seiring kepopuleran Korean Wave di seluruh dunia yang masih terasa hingga saat ini. Sutradara Park Chan-wook dengan filmnya Oldboy (2003) meraih Grand Prix di Cannes 2004 dan dipuji oleh sineas-sineas terkenal dunia seperti Quentin Tarantino dan Spike Lee (yang kemudian me-remake film tersebut di tahun 2013). Tak berhenti di negaranya sendiri, Park Chan-wook kemudian membuat film berbahasa Inggris pertamanya, Stoker, di tahun 2013 yang dibintangi Mia Wasikowska dan Nicole Kidman. Di tahun yang sama, sutradara Korsel lainnya, Bong Joon-ho juga merilis film berbahasa Inggris Snowpiercer yang dibintangi Chris Evans dan Tilda Swinton. Kedua film tersebut mendapat respons positif dan kian menegaskan talenta yang dimiliki industri film Korsel.

burning1
Burning (2018).

Selain Park Chan-wook yang kian menegaskan posisinya sebagai salah satu sutradara kontemporer Korsel terbaik lewat The Handmaiden (2016) yang bersaing memperebutkan Palme d’Or di Cannes 2016 dan diganjar Best Film Not in the English Language di British Academy Film Awards 2018, nama mentereng lain di dunia sinema Korsel saat ini adalah Lee Chang-dong yang karyanya, Burning (2018) juga bersaing di Palme d’Or Cannes 2018 dan menjadi entri Korea Selatan untuk Best Foreign Language Film di Academy Awards mendatang.

Filmstrips: The 8 Best Adam Sandler Movies

Mendengar nama Adam Sandler, kamu mungkin langsung membayangkan sosok tipikalnya sebagai douche turned good guy di film-film bergenre komedi yang banyak dipuji sekaligus dikritik. Memulai kariernya sebagai stand up comedian dan menjadi cast di Saturday Night Live, dalam rentang karier yang sudah melewati lebih dari 25 tahun, pria asal New York tersebut telah tampil di lebih dari 60 film dan 15 serial televisi. Berikut ini adalah ingin rekomendasi personal saya atas 8 film terbaik Adam Sandler yang harus kamu tonton.

8. Big Daddy (1999)

Salah satu film yang membuat nama Adam Sandler lekat dengan genre komedi keluarga, di sini ia berperan sebagai Sonny Koufax, seorang bujangan lapuk di New York City yang sebisa mungkin menghindari apapun bentuk tanggung jawab selayaknya orang dewasa pada umumnya. Hingga suatu hari, ia menemukan seorang anak laki-laki berumur 5 tahun yang dibuang ke apartemennya. Bertekad untuk mengubah persepsi orang pada dirinya dan merebut kembali hati pacarnya, Sonny pun merawat anak tersebut dengan caranya sendiri, Meskipun tidak mendapat review yang gemilang, namun dari sisi komersil, film ini termasuk film Adam Sandler dengan pendapatan tertinggi saat dirilis. Fun fact: sang anak kecil diperankan oleh aktor kembar Cole dan Dylan Sprouse yang kini sudah dewasa.

7. Funny People (2009)

Ditulis dan disutradarai oleh komedian terkenal Judd Apatow yang juga kawan lama Adam Sandler, film ini menceritakan tentang George Simmons (Adam Sandler), seorang mantan stand up comedian yang beralih menjadi bintang film dan menghadapi krisis kepercayaan diri akibat film-filmnya yang tidak laku ditonton. Seolah itu tak cukup, ia juga didiagnosis leukemia dengan harapan hidup yang kecil. Merasa dirinya akan segera mati, ia pun memutuskan kembali ke akarnya sebagai pelawak stand up yang kemudian mempertemukannya dengan para juniornya, Ira Wright (Seth Rogen), Mark (Jason Schwartzman), dan Leo (Jonah Hill). Tak hanya mencoba mendapatkan kembali sinarnya di panggung komedi, ia pun berusaha merebut kembali hati mantan tunangannya, Laura (Leslie Mann) yang telah menikah. Dengan cerita yang mirip dengan kisah hidup Adam Sandler yang sesungguhnya, film ini termasuk filmnya yang paling humanis dan personal.

6. Hotel Transylvania (2012)

Film animasi tahun 2012 ini bukan kali pertama Adam Sandler berakting hanya dengan suaranya saja. Sepuluh tahun sebelumnya ia pernah menjadi pengisi suara di film animasi Eight Crazy Nights yang lebih ditujukan ke penonton remaja dan dewasa. Di film yang ramah untuk seluruh keluarga ini, Adam mengisi suara Count Dracula, pemilik hotel bernama Hotel Transylvania di mana para makhluk gaib dapat beristirahat sejenak dari dunia manusia. Untuk merayakan ulang tahun putrinya yang ke-118 tahun, Count Dracula mengundang para monster ke hotel tersebut dan terkejut setengah mati saat ia menyadari ada tamu yang tak diundang: seorang manusia berusia 21 tahun bernama Jonathan. Count Dracula pun pontang-panting melindungi putrinya dari jatuh cinta dengan sang manusia sekaligus menjaga reputasi hotelnya. Mendapat respons yang bagus secara komersil dan kritik, film ini menghasilkan dua sekuel yang juga tak kalah mengibur.

5. The Wedding Singer (1998)

Berlatar tahun 1980-an, film ini mempertemukan Adam Sandler sebagai seorang penyanyi acara pernikahan bernama Robbie Hart dengan Drew Barrymore sebagai waitress bernama Julia Sullivan. Keduanya bertemu saat bekerja di sebuah acara yang sama, di mana keduanya sudah punya pasangan masing-masing. Tidak bisa mengingkari chemistry di antara mereka dan sadar bahwa they’re made for each other, keduanya pun berada di situasi pengakuan cinta yang mengesankan di atas sebuah pesawat menuju Las Vegas. Diramaikan oleh lagu-lagu hits era 80-an dan alur cerita yang terbilang manis, film ini sukses mendapat respons positif baik dari publik maupun para kritikus.

4. Click (2006)

Pernah membayangkan bisa mengatur hidup kamu semudah menekan remoteWell, itu yang dialami oleh Adam Sandler sebagai Michael Newman di film garapan Frank Coraci ini. Michael adalah seorang pria biasa dengan karier sebagai arsitek, istri cantik, dan dua anak yang lucu. Seperti orang biasa lainnya, ia pun dihadapkan dengan masalah-masalah biasa seperti bos yang banyak mau dan tumpukan pekerjaan yang menyita waktunya. Hidupnya menjadi tidak biasa saat suatu hari ia pergi ke sebuah gerai Bed Bath & Beyond untuk membeli universal remote control. Di bagian “Beyond”, ia bertemu dengan pria misterius bernama Morty (Christopher Walken) yang memberikan sebuah remote ke dirinya. Tak butuh waktu lama bagi Michael untuk sadar bahwa remote tersebut punya kekuatan aneh untuk mengatur realita semudah mengatur televisi. Its all fun and games pada awalnya, sampai akhirnya remote tersebut mulai bertindak sendiri semaunya dan mengacaukan hidup Michael. Penuh dengan momen lucu akibat keajaiban remote tersebut, film ini juga menyimpan sisi sentimental yang akan membuat kamu lebih apresiatif terhadap waktu dan keluarga yang kamu miliki saat ini.

3. 50 First Dates (2004)

Kembali berpasangan dengan Drew Barrymore, film yang disutradarai oleh Peter Segal ini bisa dibilang salah satu film Adam Sandler yang paling populer berkat ceritanya yang memadukan humor dengan drama romantis. Kali ini Adam menjadi Henry Roth, seorang dokter hewan di Sea Life Park di Pulau Oahu, Hawaii di mana ia sering mematahkan hati para turis wanita yang datang berkunjung just because dia tidak mau terikat komitmen, sampai suatu hari ia bertemu dengan wanita bernama Lucy Whitmore (Drew Barrymore) yang menarik hatinya. The twist is, Lucy adalah pengidap sindrom amnesia khusus di mana ia hanya bisa mengingat satu hari dalam hidupnya, tepatnya hari di mana ia mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan kondisi tersebut. Orang-orang sekitar Lucy berusaha menutupi peristiwa itu demi menjaga perasaannya, namun berbekal rasa cinta yang sungguh-sungguh, Henry pun bertekad membahagiakan Lucy dengan apapun kondisinya. Dipenuhi momen romantis dan juga komedi (plus pilihan soundtracks yang solid), plot film ini telah diadaptasi ke berbagai versi, dari mulai India hingga Jepang.

2. The Meyerowitz Stories (2017)

Mendapat sambutan meriah saat ditayangkan di Cannes, drama komedi Netflix garapan Noah Baumbach ini menceritakan tentang kehidupan keluarga Meyerowitz dan hubungan para anggota keluarganya. Adam Sandler berperan sebagai Danny Meyerowitz, seorang pengangguran yang setelah berpisah dari istrinya memutuskan untuk kembali tinggal bersama ayahnya, Harold (Dustin Hoffman), seorang mantan dosen dan seniman. Dominan dan keras kepala, Harold adalah tipikal ayah yang memproyeksikan kegagalannya ke anak-anaknya, termasuk ke Matthew (Ben Stiller) dan Jean (Elizabeth Marvel). Sebuah penyakit kronis pun memaksa mereka untuk menerka ulang arti keluarga. Untuk film ini, Adam Sandler mendapat banyak review positif tentang kredibilitas aktingnya yang kian dianggap serius oleh para kritikus film.

1. Punch-Drunk Love (2002)

Ditulis dan disutradarai oleh Paul Thomas Anderson, Adam Sandler berperan sebagai Barry Egan, seorang pengusaha yang struggling dengan rasa kesepian dan social anxiety. Dibesarkan dengan tujuh saudara perempuan yang sering mengoloknya, Barry sama sekali payah dalam soal menjalin hubungan, sampai suatu hari ia bertemu dengan Lena Leonard (Emily Watson) yang merupakan teman kerja dari salah satu kakak perempuannya. Keduanya dengan cepat saling jatuh cinta, namun Barry harus melindungi perasaan itu dan dirinya sendiri dari gerombolan preman yang mencoba memeras dan mencuri identitas dirinya. Meskipun tidak berhasil menjadi box office, namun film ini mendapat sambutan positif dari para kritikus film, termasuk untuk performa Adam Sandler yang mampu menunjukkan potensi aktingnya di luar genre komedi dengan emosi yang lebih dalam tapi tanpa melupakan sisi humoris dirinya.

Movie Review: Aruna & Lidahnya

Bersama Aruna & Lidahnya, Edwin dan Palari Films mengajak kita bertualang dalam rasa dan romansa.

Tidak dianjurkan menonton film ini dalam kondisi perut kosong.

Itu pesan paling penting yang bisa saya berikan padamu tentang Aruna & Lidahnya, film terbaru garapan Edwin yang dipersembahkan oleh Palari Films. Kenapa? Well, karena film ini bertabur sajian-sajian lezat yang dihadirkan dengan begitu menggoda mata dan imajinasi sekaligus memancing respons alami kita untuk menjilat bibir, menelan ludah, atau menahan bunyi perut yang tiba-tiba. Intinya, tidak ada yang lebih menyiksa dibanding menonton film ini sambil kelaparan.

Diangkat dari novel karya Laksmi Pamuntjak, film ini bercerita tentang Aruna (Dian Sastrowardoyo), seorang penyandang titel ahli wabah di atas kertas dan pemuja kuliner di hati. Aruna termasuk penganut paham “hidup untuk makan” di mana makan adalah kegiatan paling menyenangkan baginya, entah itu sendirian atau bersama sahabatnya, Bono (Nicholas Saputra), seorang chef muda dengan palet lidah dan keterusterangan yang sama tajamnya.

Masakan lezat nyaris seperti obsesi bagi Aruna dan salah satu obsesi terbesarnya adalah racikan resep nasi goreng yang kerap dimasak oleh sang mbok sejak ia kecil. Berulang kali ia mencoba memasak nasi goreng tersebut, berulang kali juga ia gagal mereplika rasanya. Bono pun mengusulkan agar mereka melacak resep itu sampai ke kampung halaman sang mbok di Pontianak.

Kebetulan, mencuatnya kabar tentang wabah flu burung yang mulai menjangkiti manusia membuat Aruna ditugaskan kantornya untuk menyelidiki kasus tersebut di empat kota yang berbeda: Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak, dan Singkawang. Bersama Bono, perjalanan dinas itu turut menjadi wisata kuliner dengan daftar panjang  makanan yang harus mereka cicipi di kota-kota tersebut: Rawon Surabaya, Soto Ayam Lamongan, Kacang Koah, Campor Lorjuk, Pengkang, Bakmi Kepiting, Choi Pan, dan tentunya, nasi goreng yang konon serupa cita rasanya dengan nasi goreng si mbok.

aruna

Petualangan tersebut makin lengkap dengan hadirnya Nadezhda (Hannah Al Rashid), sahabat keduanya yang membuat hati Bono mencair, serta Farish (Oka Antara), mantan supervisor merangkap cinta lama Aruna yang membuat lidahnya kelu. Bersama Farish yang kini kembali menjadi rekan satu timnya, Aruna mengunjungi beberapa peternakan unggas dan para pasien terindikasi flu burung.

Berbeda dengan Aruna dan dua sahabatnya, Farish sepintas berada di kutub yang berbeda. Ia kaum yang “makan untuk hidup”, yang menganggap makanan hanya untuk mengisi perut yang kosong. Namun, hal itu tak lantas menyurutkan dinamika yang perlahan mengalir dari satu meja makan ke meja makan lainnya. Percikan-percikan afeksi yang belum terungkap antara Aruna dan Farish, antara Bono dan Nad, serta letupan kecemburuan Aruna dan Bono melihat keakraban Nad dan Farish membumbui perjalanan mereka yang kaya rasa baik di lidah maupun di hati.

Dalam investigasinya, Aruna menemukan beberapa kejanggalan tentang data yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan serta sosok-sosok berpakaian steril yang seakan menyebarkan ketakutan akan wabah tersebut. Kecurigaan tersebut memperdalam konflik internal dirinya terhadap Farish. Tentang perasaannya yang terpendam, tentang hubungan rahasia Farish, dan dugaan bahwa isu flu burung ini hanya lahan basah untuk praktik korupsi.

Di Singkawang, rasa curiga berbalut benturan ego pun memuncak dan menyebabkan riak di antara keempat orang ini, namun, lagi-lagi makanan menjadi mediator terbaik. Pada akhirnya, ketika semua pertanyaan telah dijawab dengan terang-benderang, maka makan bersama orang-orang tersayang pun terasa lebih nikmat dan lidah Aruna tak lagi kelu.

aruna3

Aruna & Lidahnya merupakan film kedua Edwin bersama Palari Films setelah Posesif (2017). Keduanya adalah karya Edwin yang tergolong komersial dibanding film-film terdahulunya yang lebih bersifat arthouse. Namun, dalam film ini pun Edwin tak kehilangan sentuhannya. Racikan khas Edwin masih terasa lewat sinematografi lanskap langit/pemandangan, tone warna yang dreamy, serta surrealism yang terselip di beberapa adegan, utamanya di dua adegan mimpi Aruna yang lumayan absurd di mana ia memeras jeruk nipis langsung ke lidahnya dan menyebutnya “asin” serta adegan lain di mana ia meminum air laut dengan sedotan panjang lalu mencetuskan “tawar” tentang rasanya. Kedua adegan alam bawah sadar ini adalah cerminan bahwa memang ada yang salah dalam lidah seorang Aruna. Tak hanya tentang rasa, tapi juga perasaan.

Yang menarik dan membedakan film ini dari karya sebelumnya adalah bumbu humor dalam takaran yang pas. Bila biasanya film Edwin cenderung fokus pada satu atau dua tokoh, film ini menghadirkan empat karakter utama yang perannya bisa dibilang sama penting. Walau tak bisa dipungkiri bila Aruna memang tokoh utama dan poros cerita, yang diperkuat dengan kemampuan breaking the fourth wall, namun tanpa kehadiran Bono, Farish, dan Nadezdha, niscaya film ini rasanya akan hambar, atau seperti yang diungkapkan Bono dalam sebuah adegan: Lauk dalam makanan bisa terasa terlalu asin atau terlalu pedas kalau hanya dicicipi satu per satu, baru ketika semua komponen lauk di piring diambil sedikit-sedikit lalu dilahap dalam satu sendok maka nikmatnya baru terasa maksimal.

aruna1

Untungnya, chemistry di antara Dian, Nico, Oka, dan Hannah berhasil disajikan dengan begitu renyah, Tanpa adanya chemistry yang pas di antara para pemain, film ini akan langsung bubar jalan. Keempatnya berhasil membungkusnya dengan celetukan ringan, komentar usil, dan gestur-gestur kecil yang seringkali berbicara lebih lantang dibanding sekadar dialog. Yang juga menarik adalah film ini memberikan kesempatan bagi keempat tokoh untuk lebih mengenal satu sama lain dengan lebih intim. Tak hanya berputar pada Aruna dan Farish saja, kita juga bisa melihat dinamika antara Aruna dengan Bono, Bono dengan Nad, Nad dengan Farish, Farish dengan Bono, lalu tentu saja momen Aruna dengan Nad yang menampilkan dinamika antara perempuan dengan begitu real: mulai dari meminjamkan pembalut hingga obrolan tentang cinta dan pentingnya membawa kondom.

aruna2

Bagaimanapun, cerita tentang empat orang dewasa muda yang telah ajek dalam karier namun masih gamang dalam urusan cinta memang belum terlalu banyak kita temukan di menu film Indonesia yang terkesan itu-itu saja, dan hal itu yang coba ditawarkan dalam film ini.

Bila indikator kesuksesannya adalah penonton yang mendecakkan lidah setiap visual makanan terpampang di layar dan ikut tertawa di adegan atau dialog yang memang diharapkan mengundang senyum, maka film ini rasanya telah berhasil menuntaskan dahaga tersebut.

Aruna & Lidahnya tayang di bioskop tanggal 27 September 2018

 

Film Strip: Fatal Frame & Parasyte

Beberapa pekan terakhir ini saya berkesempatan menonton dua film asal Jepang yang dibawa oleh Moxienotion ke Indonesia. Keduanya merupakan live action dari game maupun manga yang sudah terkenal. Berikut adalah catatan kecil saya tentang keduanya.

Fatal FrameFatal Frame (Gekijoban: Zero)

Sutradara: Mari Asato.

Diangkat berdasarkan novel karya Eiji Otsuka, Fatal Frame telah lebih dulu dikenal sebagai seri game mystery supernatural ikonik dengan plot seorang gadis remaja Jepang yang menggunakan sebuah camera obscura untuk menghadapi hantu dan memecahkan kejadian misteri. Disebut sebagai salah satu game horror terbaik berkat storytelling yang brilian dan sinematografi yang kuat, game Fatal Frame kental akan misteri, suspense, dan teka-teki yang akan membuatmu penasaran dan tersedot dalam alur ceritanya. Unsur itu pula yang terasa dalam film adaptasi garapan sutradara Mari Asato ini.
Berlatar sekolah Katolik khusus perempuan di sebuah bukit di daerah pedesaan Jepang yang dipenuhi gadis-gadis sekolah berpakaian seragam hitam dan desas-desus tentang sebuah ritual serta kutukan yang hanya menimpa anak gadis, Fatal Frame menceritakan tentang Aya (diperankan oleh model remaja Ayami Nakajo), seorang gadis cantik bersuara indah yang dihantui bayangan seorang gadis mirip dirinya yang tenggelam dalam air dan memohon untuk dibebaskan dari kutukan yang menimpanya. Gadis yang populer dan memiliki banyak pengagum ini pun mengurung diri di kamarnya dan membuat teman-temannya cemas. Kejadian aneh mulai muncul ketika seorang siswi bernama Kasumi (Kasumi Yamaya) melakukan ritual tengah malam dengan mencium foto wajah Aya dan menghilang tanpa jejak ketika berjalan di hutan bersama temannya, Michi (Aoi Morikawa). Michi, gadis penggemar fotografi tersebut menemukan foto Aya di kamar Kasumi dan mulai dihantui oleh sosok mirip Aya yang memohon dibebaskan dari kutukannya. Tak butuh waktu lama, kutukan tersebut menyebar ke seluruh sekolah dan semakin banyak siswi yang menghilang dan ditemukan meninggal di sungai seperti lukisan Ophelia karya John Everett Millais yang tergantung di ruangan suster kepala. Bertekad untuk mencegah lebih banyak korban, Aya pun keluar dari kamar dan mengajak Michi untuk bersama menyelidiki misteri tentang sesosok arwah yang menyerupai dirinya dan rahasia gelap yang tersimpan di balik dinding sekolah tersebut.

FatalFrame2
Film ini sendiri memang menyajikan cerita tentang ritual, exorcism, dan pembunuhan yang menjadi tema besar dari serial game Fatal Frame, namun kamu tak akan menemukan adegan penuh darah atau penampakan yang akan membuatmu terlonjak dari kursi. Sutradara Mari Asato menghadirkan atmosfer creepy lewat kamera film 16mm dan tensi cerita yang dibangun oleh suasana kelam di sudut-sudut sekolah merangkap katedral, hutan berpohon tinggi, danau penuh teratai, dan jalanan kota kecil. You can almost feel the eerie chill, bahkan di adegan siang bolong sekalipun. Tanpa adanya keterangan tentang latar waktu dan tempat yang spesifik, nuansa klasik dan konservatif di film ini pun mengaburkan batas antara realita dan fantasi. Lebih dari sebuah cerita horror, dengan banyak referensi dan simbol yang terkandung dalam setiap detailnya, Fatal Frame juga mengusung tema besar tentang cinta terlarang dan coming of age story tentang fase dari gadis remaja yang menuju kedewasaan. Ethereal dan delicate seperti The Virgin Suicides bertemu dengan The Crucible, film ini dengan anggun menghadirkan plot misteri berkualitas dan narasi visual yang cantik.

parasyteParasyte: Part 1 (Kiseiju)

Sutradara: Takashi Yamazaki.

Film Jepang garapan Takashi Yamazaki ini diangkat dari serial manga horror sci-fi legendaris berjudul sama karya Hitoshi Iiwaki. Bercerita tentang invasi entitas misterius yang muncul dari dalam laut dan secara serentak mulai melakukan rencana mereka menguasai dunia dengan cara mengambil alih tubuh manusia sebagai host. Salah satu parasit tersebut tiba di kamar seorang anak SMA bernama Shinichi Izumi (Shota Sometani) dan berusaha masuk ke lubang telinganya saat ia tertidur. Lucky for him, dia sedang memakai earphone. Parasit berbentuk seperti cacing itu pun berusaha masuk melalui hidung Shinichi namun lagi-lagi gagal karena ia terbangun dan melakukan perlawanan sebelum akhirnya parasit itu menembus telapak tangan kanannya dan berdiam di situ.
Awalnya Shinichi merasa tidak ada yang aneh selain tangan kanannya yang mati rasa, namun perlahan tangan kanannya mulai bergerak dengan sendirinya. Next thing he know, tangan kanannya bisa memanjang dan berubah bentuk dengan sendirinya, sebelum akhirnya muncul bola mata dan mulut yang memperkenalkan dirinya sebagai parasit. Parasit yang kemudian dipanggil dengan nama Migi (tangan kanan) ini pun berdialog dengan Shinichi dan menunjukkan rasa haus akan ilmu pengetahuan dan apapun yang menyangkut tentang spesies manusia. Sementara itu di berbagai tempat lain, parasit yang berhasil mengambil alih otak host-nya mulai meneror manusia dengan cara memakan manusia lain sebagai sumber nutrisi dan menjalankan misi untuk menghapus umat manusia dari bumi ini sebagai reaksi dari kerusakan alam. Beberapa dari parasit tersebut yang lebih pintar mulai beradaptasi dengan cara menyamar sebagai bagian dari masyarakat. Mulai dari polisi, murid sekolah, politikus, dan salah satunya menjadi guru di sekolah Shinichi. Parasit yang mengambil alih tubuh seorang wanita bernama Ryoko Tamiya (Eri Fukatsu) tertarik kepada anomali simbiosis antara Shinichi dan Migi. Pertemuan dengan Ryoko membuahkan rentetan peristiwa yang memaksa Shinichi dan Migi untuk bekerjasama bertahan hidup dari serangan Parasyte lain dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh Shinichi dan orang-orang terdekatnya sebelum akhirnya bereskalasi menjadi perang antara alien dan manusia.
Terlepas dari premis invasi alien dan body snatcher horror, film ini sendiri menawarkan visual sinema Jepang yang subtle dan akting mengesankan dari para pemainnya. Secara halus, sang sutradara berhasil menunjukkan transisi dari adegan sekolahan yang hangat berbumbu light comedy menuju thriller yang semakin gory dan kelam dengan tema seperti degadrasi lingkungan dan family dissolution. Semuanya dilengkapi oleh adegan laga dengan efek CGI yang smooth dan beberapa kali membuat saya menahan napas atau berdecak kagum. Film ini sendiri adalah bagian pertama yang akan dilanjutkan bagian kedua yang akan dirilis April nanti di Jepang. One thing for sure, you don’t have to read the manga beforehand to enjoy this movie, saya merekomendasikan film ini untuk yang suka pada film-film seperti The Faculty dan The Host.

Parasyte2