Happy Together! Highlights From St. Jerome’s Laneway Festival Singapore 2015

St. Jerome’s Laneway Festival telah hadir kembali di Singapura dalam perhelatan teranyar sekaligus termasifnya.

 Disebut sebagai Coachella untuk Asia Tenggara, sejak pertama kali digelar tahun 2011 silam, Laneway Festival yang lahir dari sebuah festival jalanan di Melbourne, Australia dan dibesarkan di Singapura telah senantiasa menghadirkan nama-nama terbesar di spektrum musik indie dari berbagai genre. Mulai dari Deerhunter, Toro Y Moi, The Horrors, Kimbra, James Blake sampai Haim pernah tampil dalam perhelatan sebelumnya dan di kali kelimanya ini, Laneway Singapura berhasil menjual habis tiket seharga $165 sebelum hari H dan menjaring 13 ribu penonton lebih (3 ribu orang lebih banyak dari tahun sebelumnya) untuk memenuhi area The Meadow, di Gardens by the Bay pada hari Sabtu 24 Januari lalu untuk menyaksikan total 19 nama-nama terkenal dari international headliners serta aksi-aksi menjanjikan dari regional acts yang terbagi dalam tiga panggung. Come rain, come shine, its always a party in Laneway, berikut ini adalah highlight pilihan kami dari Laneway Festival Singapore 2015 sekaligus a friendly warning agar kamu tidak kehabisan tiket lagi untuk Laneway selanjutnya.

Angus & Julia Stone Angus & Julia Stone
Selalu ada hal yang terasa spesial jika dua kakak-beradik berkolaborasi dalam proyek musik yang sama dan tampil bersama di atas panggung, tak terkecuali duo kakak-beradik asal Australia ini yang secara harmonis menggabungkan vokal mereka menjadi koir surgawi dalam balutan folk-pop yang ekstatis. Membawakan lagu-lagu dari self-titled album yang diproduseri Rick Rubin, keduanya sukses menyihir penonton saat matahari mulai terbenam.

Mac DeMarcoMac DeMarco
Setelah melihat aksinya di Jakarta dua hari sebelumnya, kami tak sabar untuk menikmati lagi aksi ngaco si anak badung musik indie asal Kanada tersebut. Seperti biasa, Mac dan bandnya selalu menyelipkan humor dalam aksi panggungnya yang disambut meriah oleh crowd, termasuk menyanyikan “Yellow” milik Coldplay secara asal dan berkata bahwa mereka harus menyudahi set mereka karena Celine Dion akan segera tampil, sebelum akhirnya Mac kembali surfing di antara penonton dan menjadi satu-satunya crowd surfer di Laneway Singapore tahun ini. Selesai turung panggung, Mac menyempatkan diri untuk hang out di antara penonton dan dengan senang hati melayani selfie bersama banyak orang. Eat that, Kanye.

FKA twigsFKA twigs
Kami tak akan pernah bisa benar-benar menentukan mana yang lebih membuat Tahliah Barnett alias FKA twigs bisa begitu menghipnotis ribuan penonton: Gerakan tubuhnya yang sensual atau musiknya yang merupakan paduan dari slick R&B dan experimental electronic. Yang jelas, melihatnya beraksi di panggung adalah sebuah pengalaman orgasmik dan membuat kami tak heran jika Robert Pattinson pun dibuat mabuk kepayang oleh pesona gadis asal Inggris tersebut.

St VincentSt. Vincent
Ada alasan khusus kenapa Annie Clark yang dikenal dengan nama alias St. Vincent dipilih sebagai penutup festival ini. Tampil dengan cheongsam hitam ketat, vokalis dan gitaris asal Amerika ini tampil luar bisa memukau, baik ketika ia sedang bernyanyi atau mulai memainkan gitar elektriknya. Momen-momen terbaik muncul saat ia melakukan keduanya ataupun berkolaborasi dengan keyboardist merangkap bassist-nya, Toko Yasuda, dalam koreografi robotik dan aksi panggung yang sama kerennya. Tak peduli kamu datang ke festival ini untuk menyaksikan siapapun atau belum pernah mendengarkan musiknya sekalipun, kamu akan ternganga kagum melihat aksi St. Vincent.

Royal BloodRoyal Blood
Mike Kerr dan Ben Thatcher dari duo asal Brighton, Inggris ini membuktikan jika kamu hanya butuh bass dan drum untuk menghasilkan musik rock cadas yang anthemic. Membawakan lagu-lagu paduan hard rock, garage, dan blues rock seperti “Out of the Black” dan “Figure It Out” dari self-titled debut mereka yang dirilis tahun lalu, Royal Blood berhasil menciptakan lingkaran mosh pit dan memanggil kembali arwah Led Zeppelin.

Chet FakerChet Faker
Walaupun tampil dengan jadwal yang bentrok dengan BANKS, musisi brewok asal Australia ini berhasil menarik massa ribuan orang untuk memenuhi Cloud Stage yang berukuran kecil dan butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki dari main area. It was so packed, para jurnalis foto sampai harus memanjat pagar untuk bisa memotret dan menikmati racikan electronic trip hop dari Chet Faker, and it was worthed. Terutama ketika penonton kompak berseru “heyo heyo heyoo” saat “No Diggity” dimainkan.

JungleJungle
Kami berani bertaruh jika tidak ada siapapun yang bisa melihat aksi Jungle dan tahan untuk tidak bergoyang. Menggabungkan funk dengan elektronik dan retro vibe dari old skool soul, proyek yang dimulai oleh Tom McFarland dan Josh Lloyd-Watson di kamar tidur mereka di Inggris ini bermetamorfosis menjadi format live band yang berhasil menciptakan area dancefloor bernuansa tropikal yang sangat cocok dengan setting festival ini digelar.

PondPond
Terdiri dari kolektif musisi asal Perth, Australia yang meliputi personel dari band-band Perth seperti Tame Impala, The Growl, dan The Silents, proyek musik kolaboratif ini membangkitkan kembali psychedelic rock dalam arti sesungguhnya saat membawakan setlist yang didominasi album Hobo Rocket (2013) dan album terbaru mereka yang baru saja rilis akhir Januari lalu, Man, It Feels Like Space Again. Vokalis Nick Allbrook menarik perhatian penonton dengan gerakan yang kadang awkward dan kadang liar sementara personel lain terlihat totally in the bliss. Apapun “afternoon delight” yang mereka nikmati saat itu, we could say it was a good shit.

EagullsEagulls
Selalu ada tempat tersendiri bagi band-band post-punk yang menggabungkan bebunyian hardcore dan shoegaze dalam setiap festival musik outdoor di manapun. Kali ini slot tersebut sudah direservasi oleh kuintet asal Leeds, Inggris yang bernama Eagulls. Tampil sebagai opening act dalam tur Franz Ferdinand dan meraih banyak pujian dari para kritikus musik, Eagulls yang dikomandoi oleh vokalis George Mitchell berkesempatan untuk membuktikan diri di depan publik Laneway, and they’re really deliver it.

Akreditasi: Foto Headline, Angus & Julia Stone, Mac DeMarco oleh Aloysius Lim; FKA twigs, Royal Blood, St. Vincent oleh Alvin Ho; Jungle oleh Cliff Yeo; Chet Faker oleh Lionel Boon; Pond oleh Nor Asyraf; Eagulls oleh Rueven Tan. Semua courtesy dari Laneway Festival Singapore.

On The Records: LP1 by FKA twigs

FKA Twigs

LP1, full album pertama dari avatar pop masa depan bernama FKA twigs.

Jauh sebelum namanya masuk tabloid gosip sebagai pacar baru aktor Robert Pattinson, Tahliah Barnett alias FKA twigs telah lebih dulu membangun popularitas sebagai backdancer untuk artis-artis seperti Kylie Minogue, Taio Cruz, dan Jessie J, sebelum akhirnya ia siap untuk meraih spotlight sendiri sebagai singer-songwriter paling menarik asal Inggris saat ini. Video single pertamanya, “Water Me” dirilis Agustus tahun lalu dan menampilkan gadis berdarah Jamaika, Spanyol, dan Inggris tersebut secara close up. Dengan mata besar yang semakin besar berkat efek digital, gap tooth, braided corn row, dan bibir merah semungil boneka, ia menyanyikan ode patah hati dengan ketukan synth a la trip hop yang ganjil dan menghipnotis. It was an instant hook. Berturut-turut ia lalu merilis dua album mini, EP1 dan EP2 yang menjadi wadah bagi musik uniknya yang sulit untuk didefinisikan: Bayangkan seorang peri luar angkasa yang terdampar di MTV era 90-an, ketika elemen sultry khas R&B bertemu dengan trip hop, dub, dan garage. It is very futuristic and twisted.

Bicara tentang FKA twigs, bicara tentang visual strike yang kuat. Sebelum merilis materi apapun ia telah menjadi cover di i-D magazine dan selalu membuat video untuk setiap lagu di EP-nya. Namun, di full album pertamanya yang bertajuk LP1 dan dirilis oleh label Young Turks (the xx, SBTRKT, Koreless), ia membuktikan jika ia bukan salah satu dari style over substance musicians yang mendominasi chart musik saat ini. 
Dibuka oleh “Preface” yang menjadi cue bagi kita untuk memasuki dunianya yang ganjil, di mana bisikan vokal ethereal menjadi instrumen vital yang dengan cair menyelisip di antara produksi electronic glitch dan esensi R&B yang sultry dan slick, album berisi 10 track ini turut menampilkan para produser andal seperti Arca, Dev Hynes, Sampha, dan Emile Haynie serta arahan visual dari longtime collaborator, Jessie Kanda. Dalam video “Two Weeks” yang menjadi single utama album ini, ia menjelma sebagai perwujudan seorang ratu dari peradaban kuno, duduk di singgasana dan dengan penuh kendali menampilkan gerakan tangan yang subtle, mengingatkan akan image Aaliyah sebagai Akasha di film Queen of the Damned, sembari menyanyi dengan sensual lirik-lirik empowering yang sangat direct seperti “high as motherfucker” dan “I can fuck you better than her” yang entah disengaja atau tidak terasa pas dengan kondisi percintaannya dengan Robert Pattinson yang masih kerap dikaitkan dengan bekas kekasihnya, Kristen Stewart.

Track kelima, “Pendulum”, adalah titik sentral album ini yang mengekspos dirinya dalam keadaan paling telanjang dengan emosi patah hati yang sama membirunya dengan “Water Me”, it was beautifully fragile and soothing at the same time. Sementara di “Video Girl” ia membicarakan pengalamannya sebagai “that girl on that video” dan seakan menegaskan jika sekarang inilah dirinya yang sebenarnya, bukan sebagai penari latar untuk musisi lain.
Momen menarik lainnya di album ini adalah “Closer” yang berisi paduan choir seindah himne surgawi dan “Give Up” dengan beat yang membuatnya menari Vogue di sebuah live performance. Lewat album yang menjadi salah satu album terbaik tahun ini, FKA twigs menegaskan statusnya sebagai avatar pop masa depan. Eat your heart out, K-Stew.

Track List:

1. Preface
2. Lights On
3. Two Weeks
4. Hours
5. Pendulum
6. Video Girl
7. Numbers
8. Closer
9. Give Up
10. Kicks

13 Lagu Favorit Saya Tahun Ini (Because I’m Too Lazy To Write In English)

Lebih cepat dari hari di kalender, tidak terasa 2013 akan segera berlalu dan ternyata setahun sudah kita survive dari ramalan kiamat 2012 suku Maya dan Mama Lauren (RIP). Time flies, and its not just sentimental phrase anymore. Seperti biasa, dalam satu tahun ini kita tentu mengalami ups and downs dalam hidup dan kini saatnya merasakan lagi rasa bittersweet saat mengingat lagi apa saja yang sudah kita lakukan satu tahun terakhir ini, hal-hal yang telah kita capai, dan apa saja yang telah hilang dari hidup kita setahun ini. Penyesalan adalah hal yang wajar, namun, optimisme pun muncul dengan sendirinya seiring semangat baru untuk menjalani tahun baru yang mudah-mudahan bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Dan apa lagi yang lebih menyenangkan untuk menyambut tahun baru sambil mendengarkan lagi lagu-lagu yang heavy rotation di music player kita tahun ini? Berikut adalah 13 lagu favorit saya tahun ini, in no particular order. Enjoy 🙂

Flight Facilities – Stand Still (feat. Micky Green)

Tahun ini menjadi tahun yang menyenangkan bagi duo DJ asal Australia yang sebelumnya terkenal dengan single “Crave You” ini. Berturut-turut mereka merilis lagu-lagu indie electro keren seperti “Clair De Lune” yang gloomy, “I Didn’t Believe” yang soul disco, dan “Stand Still” yang berisi vokal dari penyanyi pop & blues Aussie, Micky Green. Dibuka dengan bunyi siulan dan detak jam, lagu ini membawa mood super positif di pagi hari. Lagu ini sering kali menjadi lagu pertama yang saya dengar saat di pagi hari berjalan kaki keluar rumah sambil tersenyum ke tetangga dengan langkah ringan. Momen spesial lainnya untuk lagu ini adalah saat menonton live Flight Facilities di DWP kemarin, mereka tampil di stage outdoor dan hujan deras turun tanpa henti namun semua penonton cuek saja dan terus joget-joget lucu. It was nice memory.

Disclosure – Latch (feat. Sam Smith)

Well, actually lagu ini sudah dirilis di UK bulan Oktober tahun 2012, tapi saya sendiri baru pertama kali dengar saat lagu ini jadi single pertama di album Settle untuk pasar US yang dirilis bulan Januari tahun ini, jadi nggak apa-apa kan masuk list ini? Hehe. Anyway, Disclosure yang terdiri kakak-adik Guy & Howard Lawrence memang menjadi satu nama paling laris di dunia musik internasional tahun ini berkat kejelian mereka meramu bebunyian electro dengan bumbu musik house dan garage. Album debut mereka, Settle, yang mendapat nominasi Best Dance Album untuk Grammy tahun depan berisi 14 lagu dengan banyak hits keren yang lebih keren dari album baru Daft Punk yang overhyped (IMHO). Salah satu yang paling saya suka adalah “Latch” ini, yang bertema rasa posesif saat kita ketemu orang yang kita suka dan nggak mau kita lepas. Maunya nempel terus, figuratively and maybe literally. Vokal Sam Smith dengan pas membangun mood lagu dengan synth juara ini yang awalnya kalem dan perlahan semakin naik sampai akhirnya pecah, just like when we really loving someone.

Lorde – Ribs

Yeah, I know some of you maybe already sick & bored listening to “Royals”, tapi terlepas dari semua hype yang ditujukan untuk penyanyi New Zealand yang baru berumur 17 tahun ini, I must admit she really deserves it. Awalnya saya malas mendengarkan album debut Pure Heroine karena sudah bosan dengan single “Royals” dan semua hype tentang Lorde (dibaca “Lord”, bukan “Lordee”), tapi akhirnya saya pun iseng download dan tiba-tiba album ini jadi album yang paling sering saya putar ulang dari awal sampai akhir karena ternyata saya suka 10 lagu yang ada di dalamnya, especially track keempat ini. Saya suka lirik melankolisnya yang mencantumkan referensi lagu “Lovers Spit” dari Broken Social Scene, dan bagaimana lagu ini  bisa membuat saya mau nangis dan lari di saat yang sama. Saya mengunduh album Pure Heroine tepat satu malam sebelum terbang ke Malaysia untuk meliput Urbanscapes Festival dan lagu ini jadi lagu yang saya ulang-ulang selama di pesawat. And it really fits the emotion that I felt on that time.

FKA twigs – Water Me

Dari awalnya hanya seorang penari latar untuk Jessie J, nama Tahliah Barnett yang merupakan penyanyi dan penari asal London berdarah Jamaika dan Spanyol melesat saat menjadi cover majalah i-D. Dengan nama FKA twigs, dia membuat musiknya sendiri yang merupakan paduan dari R&B dan Trip Hop dengan nuansa ethereal yang sekilas seperti Grimes dengan vokal yang jauh lebih jelas. Misterius dan ganjil, “Water Me” adalah lagu downtempo yang cuma berdurasi 3 menit dengan delapan baris lirik yang implisit, namun mampu membuat impact yang akan mengendap jauh lebih lama dari durasi lagu ini sendiri. Next thing you know, you just want to repeat this song over and over again.

King Krule – Easy Easy

King Krule is the man. No, seriously penyanyi Inggris benama asli Archy Marshall ini adalah anomali. Tidak seharusnya cowok redhead kurus dengan wajah penuh freckles punya vokal seberat itu, tidak seharusnya cowok 19 tahun yang terlihat seperti model Topman meracau dalam emosi dan wisdom yang melampaui umur lahiriahnya, dan tidak seharusnya ia memakai setelan baggy di Abad 21 . “Easy Easy” yang terdengar gritty adalah lagu yang dengan mudah membiusmu dengan instrumentasi gitar yang simple a la 90-an dan aksen Inggris yang sulit untuk ditangkap. Penuh agresi khas remaja Britania Raya, lagu ini terasa begitu real dan mentah, seperti emosi yang sengaja ditahan di dada.

Lily Allen – Hard Out Here

Dari pertama kali muncul, Lily Allen dikenal sebagai penyanyi perempuan dengan attitude dan tema-tema lagu yang menyoal soal feminisme dengan cara yang cuek dan penuh sindirian tounge-in-cheek. Namun, banyak yang kecewa ketika Allen kembali dengan single terbarunya ini, sebuah lagu yang unashamedly pop dipenuhi efek Auto-tune dan video klip yang menampilkan para penari latar kulit hitam dengan gerakan-gerakan tak senonoh. Banyak yang marah karena mengira Allen telah membuang idealismenya untuk menjadi penyanyi “jualan” dan merendahkan wanita kulit hitam. Padahal kalau kita dengarkan liriknya baik-baik, lagu ini adalah sebuah gunting dalam selimut bagi musik pop saat ini. Dalam samaran pop, Allen justru menampar keras dunia musik yang masih didominasi kaum patriarki dan bagaimana standar ganda terhadap penyanyi perempuan masih begitu kuat diterapkan oleh para pemimpin industri musik maupun dari media itu sendiri. Dalam video klipnya, ada adegan yang khusus menyindir video klip “Blurred Lines” milik Robin Thicke yang kerap dikecam karena menjadikan para model perempuan dalam video klipnya hanya sebagai objek. Well, terlepas dari pesan moralnya, this is actually really catchy pop song, walau mungkin tak akan kamu dengar di radio-radio lokal, because there’s gonna be a hella lot of a *BEEP*, *BEEP*, and more *BEEP*

The 1975 – Chocolate

Sebetulnya saya sempat kecewa saat pertama kali mencari musik kuartet asal  Manchester setelah penasaran melihat hype band ini di situs NME. Dari nama band dan foto mereka, saya mengira mereka akan memainkan indie rock yang kasar dan keras, tapi saat akhirnya mendengar lagu-lagu mereka di Youtube, I can’t help but think these guys actually sounds like some pop boyband with leather jackets and scruffy hairs. Yup, surprisingly, indie rock yang mereka mainkan terdengar sangat pop dan easy listening dengan penampilan live yang dipenuhi fans-fans perempuan di depan stage. BUT, I can’t deny kalau ada pesona tersendiri dalam cengkok vokal Matthew Healy sang vokalis yang bisa membuat kaum hawa keplek-keplek. Lagu “Chocolate” adalah lagu indie rock manis beraransemen simpel dengan lirik mudah diingat yang mengajak sing along. Part favorit saya adalah bunyi gitar di menit 0:49 dan lirik “Now you’re never gunna’ quit it, now you’re never gunna’ quit it, now you’re never gunna’ quit it
If you don’t start smoking it, that’s what she said” yang super duper catchy dan menyenangkan.

Joanna Gruesome – Sugarcrush

Nah, kalau kamu mencari band-band Inggris yang mainnya “berantakan” dan “bodo amat”, kuintet asal Cardiff yang namanya merupakan parodi dari Joanna Newsom ini adalah pilihan yang tepat. Sesuai judulnya, lagu ini seperti dibuat anak-anak rusuh yang lagi sugar rush dicampur zat-zat halu. Dibuka dengan kocokan reverb khas noise pop berisi vokal duet cewek-cowok dan detail-detail bebunyian sonik di sana-sini, bersiaplah untuk banjir reverb, muntah pelangi, dan klimaks di satu menit terakhir yang super rusuh dengan aftertaste yang bikin ketagihan.

Justin Timberlake – Mirrors

I always have a soft spot for JT, dari zaman dia masih keriting sampai pakai pomade seperti anak Brightspot sekarang. Alasan suka lagu ini, karena kalau di hotel pasang Channel V atau MTV, pasti lagu ini ada aja dan jadi nyangkut di kepala. Secara objektif, lagu ini berdurasi 8 menit lebih yang tentu saja lumayan lama bagi sebuah lagu pop, but somehow ternyata nggak bikin bosen. Diproduksi oleh Timbaland, lagu midtempo ballad R&B ini berisi efek-efek suara yang menarik, mulai dari bunyi beatbox, vocal loop, piano, orkestra dan vokal falsetto JT (yang biasanya lumayan annoying) di lagu ini terdengar laidback dan soulful, dengan banyak “oohs” dan “aahs”. This could be a new wedding anthem for the now generation.

Jirapah – Crowns

Talk about wedding, lagu dari band Jakarta favorit saya ini yang terinspirasi dari film Rocket Rain adalah salah satu yang paling getir dan juara. Filmnya sendiri memang menyinggung soal pernikahan dan Jirapah menerjemahkannya dalam bunyi hazy khas mereka. Vokal Ken Jenie di lagu ini terdengar lebih kalem dan lebih mudah didengar dari biasanya, dengan lirik metaforis yang menangkap kegelisahan dalam perkawinan dengan jenius. Aransemen penuh reverb tentu saja menjadi senjata utama dan ditutup oleh monolog dari Mar Galo yang mengutip manifesto pernikahan dalam suatu adegan di film Rocket Rain. Monolog yang bertumpuk dan terus bertumpuk seiring makin meredupnya bunyi instrumen latar sampai akhirnya percakapan satu arah itu terasa mengepung dan membuat sesak, untuk kemudian pergi begitu saja tanpa basa-basi. Haunting dan poetic, untuk efek maksimal, tonton videoklipnya yang dibuat oleh Anggun Priambodo yang berisi footage dari acara pernikahan sepasang pengantin yang dengan epiknya, entah bagaimana sang pengantin pria bisa melihat video ini dan menuliskan pesan di YouTube: “Surprise, haru, dan merasa lucu. Ini acara pernikahan kami 26 tahun yg lalu. Salut untuk karya yang kreatif. Thanks ya…!”

The War On Drugs – Red Eyes

Saat mendengar The War On Drugs merilis single baru pasca album Slave Ambient (2011) dan ditinggal Kurt Vile, saya bergegas mencarinya di internet and it was really love at the first heard, jujur saya sampai menitikkan air mata karena saking bagusnya lagu yang merupakan single pertama dari album ketiga Lost in the Dream yang akan dirilis bulan Maret tahun depan tersebut. Berisi aransemen indie rock Amerikana dan vokal Adam Granduciel yang dengan effortless memainkan emosi, lagu ini adalah tipe lagu yang tetap terdengar luar biasa di mana pun kita mendengarkannya, entah itu di konser, di udara, di sebuah toilet umum, atau di sebuah road trip. Melancholic, nostalgic, and uplifting at the same time, saya bisa mendengarkan lagu ini berjam-jam sambil merenung dan merasa bahagia sekaligus sedih. I really can’t describe how awesome this song is, you should really listen to it by yourself.

Panama – Always

Lagu synthpop dari band Australia yang dipenuhi nada-nada berkilau nan glorious ini adalah lagu yang paling saya dengar saat saya merayakan ulang tahun ke-27 bulan Oktober lalu dengan berlibur ke Ubud. Menutup mata dan membiarkan diri ini tertidur mendengarkan lagu ini sambil bersyukur pada hidup adalah salah satu momen istimewa tahun ini. Personal note aside, lagu ini adalah pengingat bahwa lagu-lagu indie synthpop terbaik di dua dekade terakhir ini masih berasal dari band-band benua Kangguru tersebut.

Taylor Swift – 22

 I don’t know about you, but I’m feeling 22. Karena walaupun tahun depan saya akan berumur 28 tahun, saya masih merasa berumur 22 tahun di hati dan jiwa ini, haha! What can I say? I love Taylor Swift and this friggin song. Now dance.

Cheers for the New Year and the new chance for us to finally get it right.