Through The Lens: Deby Sucha

Deby Sucha

Dalam edisi Oktober 2015 NYLON Indonesia yang mengangkat tema “The It issue”, saya menulis tentang profil empat perempuan muda yang berkarya di dunia fotografi yang masih didominasi kaum pria. Salah satunya adalah Deby Sucha, fotografer kelahiran Jakarta 29 tahun yang lalu yang saat ini sedang bermukim di Jepang. Dengan mata yang jeli menangkap atmosfer raw dari street photography, Deby telah menarik banyak klien besar seperti The Body Shop dan Makarizo serta menjuarai berbagai kompetisi fotografi dari Sony, Capcom, Garuda Indonesia, dan Korea Air. Let’s get to know her better, shall we?

Deby7

Hai Deby, boleh perkenalkan sedikit tentang dirimu?

Hi! My name is Deby Sucha, born in Jakarta, Indonesia. Some called me their personal photographer. Currently based in Tokyo, Japan and working for Airbnb.com

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada fotografi dan kapan pertama kalinya kamu mulai bereksperimen dengan kamera?

Simply because I loved travelling, dan kayaknya seru banget kalau apa yang aku lihat selama perjalanan bisa terus dilihat kapan aja. I am a living-in-the-present kind of person, but when I look back to the past, I’d like to immerse myself into the snap shots photographs I took. Awalnya aku suka street snap fotografi dengan kamera pocket waktu aku umur 18 tahun, kemudian aku dapat kesempatan untuk jadi asisten fotografer fashion di Jakarta yang bikin aku mau belajar lebih dalam lagi tentang fotografi.

Deby9Deby3Deby4

Deby5

Apa kamera pertama yang kamu punya?

Analog Nikon FM2.

Siapa fotografer yang paling menginspirasimu?

My all time favs Peter Lindbergh, Gavin Watsons, Philip Lorca Dicorcia.

Kalau kamera yang paling sering digunakan saat ini?

Digital: Canon EOS 6D, Film: Pentax 67 Medium Format.

How about your dream camera?

Kamera sekarang canggih-canggih banget deh udah pasti bikin be’em semua ya… Haha! Apalagi yang mirrorless dengan fitur full frame plus dukungan ISO tinggi. Tapi yang bikin penasaran itu dikit banget, and actually I have owned my dream camera, which is my medium format Pentax 67.

Deby8

What’s your educational background? Apakah kamu otodidak atau memang mempelajari fotografi secara khusus?
Graduated of Visual Communication Design , Bachelor of Art. Untuk fotografi sih belajar sendiri , dan curi-curi ilmu dari kerja sebagai asisten di lapangan. Selain itu juga hobi liatin photobook-photobook buat cari inspirasi.

Apa obyek favoritmu untuk difoto?
Street and people.

Deby2Deby1

How would you describe your own aesthetic?
Raw.

What do you think about being female photographer di dunia yang masih didominasi fotografer laki-laki ini? Do you think gender is important in this field?
Menurut aku sekarang ini udah banyak fotografer-fotografer wanita yang super talented in their field. See that gender doesn’t matter. If the camera itself would choose their own photographer , I bet most of it would say “hand me to the ladies please!” Haha.

Di zaman, semua orang bisa memotret dengan smartphone masing-masing dan aplikasi editing, do you think  conventional” photography masih relevan saat ini?
I appreciate all the photography related technologies we have right now, as I often use that as well and it’s super easy and cool! But if you want to create something big, something powerful, you won’t go with that shortcut things, right? We put at least some effort to it, and someday we get paid for the effort we have made. Kalau untuk sharing di social media , why not?

Deby10

Dari mana biasanya mencari inspirasi?
Go outside , and walk, look around. There you go.

Sejauh ini project apa yang paling berkesan untukmu?
The project I’m running with my friends right now.

What’s your next project?
An independent webmagazine for art, culture, street and fashion.

Advice/tips to anyone who wants to become a photographer?
First thing is to go outside, go to the public library and see other people’s artworks, go to exhibitions, and bring your camera all the time, never stop shooting.  And last but the most important thing. Show off your works to your friends, listen to their opinion.

Deby6

All photos by Deby Sucha

Instagram: @debysucha

www.debysucha.com

Through The Lens: Albert Judiyanto

Boleh cerita sedikit tentang diri kamu?

Nama saya Albert Judiyanto, saya seorang fotografer dan creative director di Whatnot yang terdiri dari dua divisi yaitu Whatnot Studio yang bergerak di branding, marketing, graphic house dan DailyWhatnot yang berupa media online.

Tolong ceritakan tentang foto-foto yang kamu kirimkan ini

Ini foto-foto saya di Israel. Beberapa foto ini kurang lebih merupakan kumpulan dari perjalanan saya di sana. Banyak hal menarik yang saya temui seperti contohnya ketemu bapak-bapak yang cukup berkarakter dengan kumis indahnya itu, di Western Wall ada anak muda yang beribadah dengan senjatanya, mural-mural dengan pesan humanity di West Bank Wall. Juga Petra, sebuah kota di Jordan yang bangunannya terbuat dari batu semua.

 

Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu datangi, kenapa memilih Israel untuk ditampilkan?

Dari semua tempat saya memilih Israel karena perjalanan saya waktu itu yang membuat saya jadi ingin keliling dunia dan penasaran sama budaya-budaya lainnya.

Tempat paling menarik yang kamu datangi, so far?

Waktu tahun 1999 tanggal 25 Desember, saya ke Italia dengan tujuan untuk masuk Gereja St. Peter’s Basilica lewat The Holy Door. Pintu itu dibuka cuma setiap 25 tahun sekali, kabarnya orang-orang yang bisa ngelewatin pintu itu dosa-dosanya akan diampuni. Beruntungnya saya punya kesempatan untuk bisa ke sana dan juga bisa bertemu dengan Paus waktu itu. Jadi buat saya yang terasa berkesan itu lebih ke momen yang bisa saya rasakan, di saat Natal bisa ke Italia dan dari sekian ribu orang yang masuk pintu itu, saya salah satunya.

Apa ciri khas/signature dari foto-fotomu?

Foto-foto saya kebanyakan natural dan agak raw pada umumnya, jadi what you see is what you get.

Siapa saja fotografer favoritmu?

Kalau untuk foto, saya terinspirasi dari beberapa fotografer seperti Garry Winogrand, Juergen Teller, Terry Richardson, Hedi Slimane juga beberapa fotografer yang tergabung di tinyvices.

Destinasi impianmu saat ini?

Pelaminan…haha! Kalau jawaban seriusnya, saya ingin jadi orang yang pernah ke semua negara, tapi untuk saat ini sih ingin ke Tokyo, New York, Miami.

Next project?

Kalau project jangka panjangnya ngumpulin foto-foto traveling, kalau kesampaian, semoga bisa semua negara. Someday mau saya compile dalam satu media. Kalau yang jangka pendeknya, Whatnot sedang dalam proses membuat dua website baru seperti DailyWhatnot, ya pertengahan tahun ini harusnya sudah running.

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Albert Judiyanto

http://albertjudiyanto.com/

Gone With The Wind, An Interview With Timur Angin

Timur Angin mengajak kita mengintip sudut dunia lewat bidikan kameranya. 

Ada sejuta alasan kenapa orang senang berpergian. Sebagian dengan tujuan rekreasi dan menghilangkan penat, sementara sebagian lainnya pergi mencari inspirasi dan menceritakan kembali apa yang diperoleh dari perjalanannya. Beberapa akan bercerita lewat catatan tulisan dan yang lain memilih mengabadikan momen-momen tersebut lewat jepretan foto, seperti yang dilakukan oleh Timur Angin, seorang fotografer dengan reputasi yang sudah dikenal baik oleh dunia fotografi Indonesia. “Memotret dan bikin karya, daripada uang habis untuk membeli barang-barang bermerk atau mempercantik mobil, misalnya. Lagian kan kalau gue bisa balik modal hehe.” Jawabnya dengan enteng tentang motivasinya berpergian.

Sebagai fotografer, Timur tentu terbiasa dengan pekerjaan yang meliputi foto fashion, wedding, hingga corporate, tapi kecintaannya pada fotografi justru datang dari foto-foto scenery yang ia tangkap dalam perjalanannya. Entah ada kaitan dengan namanya atau tidak, yang jelas pria berumur 33 tahun kelahiran Jogjakarta ini memang senang berpergian ke berbagai tempat baik dalam maupun luar negeri dan seringkali destinasinya adalah tempat-tempat yang bukan menjadi tujuan wisata populer. Mulai dari Asia Tenggara, Cina, India, Tibet hingga Israel pernah dijajakinya.

Dalam berpergian, Timur lebih menyukai metode backpacking dan membaur dengan para penduduk lokal ketimbang berdiam diri di hotel. Bukan rahasia jika backpacking memang menawarkan cerita-cerita menarik di balik segala tantangannya. “Pernah waktu ke kota Chengdu, Cina, cari alamat kok nggak ketemu-ketemu. Berasa bego banget, padahal ya cuma muter-muter di situ. Mungkin terbiasa dengan ketidakberesan kota Jakarta, pas nemu kota yang teratur malah bingung sendiri.” Ucap Timur sambil tersenyum. Namun kesulitan mencari alamat mungkin tak ada apa-apanya jika dibandingkan pengalaman bertransportasi yang jauh dari kata layak. “Backpacking dari India menuju Nepal lewat jalan darat. Berjejalan naik kereta ekonomi di India. Waktu itu pas lagi winter, jendelanya bolong dan dinginnya minta ampun, toiletnya juga parah kondisinya dan pengemis mondar-mandir. Sebenarnya sama aja kaya di Jawa, tapi karena di India jadinya lebih parah. Hahaha, pengalaman hidup sih intinya.” Kenangnya ketika diminta menceritakan salah satu pengalaman berkesan yang dialaminya.

 Interaksi dengan masyarakat setempat pun tentu tak dapat dihindari, lantas bagaimana Timur menyikapi hal tersebut?  “Sebagai turis, pasti mudah kok berinteraksi. Bahkan nggak perlu mengerti bahasanya pun pasti berhasil. Apalagi yang backpacking. Kalau sama pelayan restoran, interaksinya mungkin hanya sebatas bayar bill. Tapi kalau ingin tahu lebih dalam, mending baca Lonely Planet. Kita nggak pernah tahu tabiat orang yang kita ajak bicara kayak gimana, entah itu lokal atau sesama backpacker, yang penting selalu waspada.” Jawabnya. Dan dia pun menceritakan ada keuntungan tersendiri ketika mengatakan dirinya berasal dari Indonesia, “Beberapa kali pasti berhasil dalam hal tawar-menawar. Kalau bilang bahwa kita sama-sama berasal dari negara miskin yang korup pasti tawaran kita akan diiyakan oleh si pedagang, contohnya seperti di Myanmar dan Kamboja, haha.”

Untuk masalah destinasi, Timur mengaku tidak terlalu pilih-pilih. Pantai, gunung atau perkotaan siap dikunjungi, yang penting lokasinya menarik untuk hunting foto. Dari sekian banyak tempat, jika harus menyebut satu, mana yang menjadi the best place he ever visit? “Tel Aviv karena nggak mudah bagi orang Indonesia untuk dapat izin masuk ke sana, kalau ke Jerusalem mungkin lebih umum.” Jawabnya. Dari kota ini juga ia mendapat souvenir paling memorable, yaitu kaus bendera Israel yang sampai sekarang belum pernah dipakai keluar rumah. Selain foto dan koleksi fridge magnet dari berbagai negara, Timur juga gemar mencicipi sajian lokal yang tak ditemukan di tempat lain seperti susu dan burger daging yak yang dicicipinya di Tibet.

Pertanyaan terakhir dari saya adalah destinasi impian selanjutnya, dan dengan semangat ia menjawab kawasan Amerika Selatan. “Terinspirasi oleh foto-foto karya Alex Webb. Matahari di sana bagus banget nggak kaya di Jakarta, terus ambience manusia dan lingkungannya selalu berwarna. Yang pasti langit biru seperti di Bali dan mau apa-apa juga murah. Lagian gue juga senangnya sama negara-negara eksotis. Ketimbang negara plesir yang major seperti Amerika atau Eropa, tapi kalau dibayarin orang sih nggak apa-apa juga kesana. Hahaha.”

 As published in NYLON Indonesia June 2011

All photos by Timur Angin

http://timurangin.com/

Through The Lens: Noran Bakrie

Boleh cerita sedikit tentang dirimu?

Saya Noran, secara KTP tinggal di Jakarta tapi tahu benar rumahnya lebih luas dari Jakarta, hehe. Rumah saya itu ada di mana pun kaki saya menapak. Kesibukan saat ini di Verve Reps, saya representing beberapa ilustrator & fotografer di situ. Di luar itu, kalau ada yang minta saya fotoin untuk project-nya, saya fotoin, atau saya buat project foto sendiri aja sekalipun nggak ada yang minta, hehe.

Apa yang membuatmu tertarik dengan fotografi?

Its simplicity. Nggak usah repot-repot berkata-kata untuk menjelaskan, cukup satu foto saja kadang bisa langsung buat ribuan orang mengerti.

Tempat paling menarik yang kamu datangi, so far?

Semuanya berkesan. Personally saya merasa sangat nyaman di Pulau Fraser dan di Kepulauan Great Barrier Reef, saya suka bagaimana dunia terasa di situ, warna hidup jadi cuma 5: krem (warna pasir), hijau (warna hutan), biru (warna laut dan danau), putih dan biru cerah (warna langit). Tenang banget. Saya suka landscape di Pulau Rinca, Komodo & Alor. Out of earth. Oh dan saya juga menemukan “rumah” di kepulauan di Andaman Thailand, it’s my personal sanctuary.

Apa arti traveling untuk kamu?

Buat saya, the road is home. Saya merasa paling nyaman ketika dalam perjalanan. Ada sebongkah besar “ketidaktahuan” ketika kita datang ke tempat baru, dan bongkahan itu yang membuat hidup menjadi menarik. Ada rasa ingin belajar, rasa ingin mengerti, ada rasa kerendahan hati juga ketika kita bertemu budaya baru, prinsip hidup baru, cara pikir baru, penduduk lokal dan orang-orang asing; perasaan bahwa saya cuma setitik jiwa bagai debu di antara hamparan jiwa-jiwa lainnya di bumi itu, mengajarkan saya untuk melepas ego saya dan mengutamakan kebaikan untuk semuanya.

Destinasi impianmu saat ini?

Ingin kembali ke Afrika lagi. Namibia, Madagascar, Kenya, Seychellen & Mauritius, Pulau Socotra, hampir semuanya di benua itu. Oh dan ingin sekali explore Amerika Selatan. Doain ya!

Tolong ceritakan tentang foto-foto yang kamu kirimkan ini

Ini adalah catatan saya ketika backpacking ke Macau dan Hong Kong. Waktu itu rencana backpack saya lumayan impulsive, saya lagi chatting sama web designer (kami lagi ngerjain project bareng) yang kenal banget juga nggak, tapi ternyata gampang disetanin. Saya cuma nanya ke dia, “Jadi kita mau backpack ke mana, hutan, pantai, gunung apa kota?” dan dia jawab, “Semuanya.” – Jadilah kami merencanakan itinery Macau – HK – Thailand – India – Nepal, yang rasanya memegang rekor tercepat kalau ada award untuk travel planning, haha. Tau-tau dalam setengah jam kemudian kami sudah punya tiket pesawat untuk ke semua negara itu.

Hal-hal paling berkesan selama di sana?

Semua yang janggal terasa menyenangkan: dari angin super kencang di Macau, bangunan kuno Cina kolonial (kami menginap di sebuah hospedaria bekas lokasi shooting Wong Kar Wai), sampai keramahan penduduknya dan kebiasaan mereka untuk jogging seharian dimana-mana. Yang kita lakukan selama di Macau sebenarnya cuma satu: nyasar tanpa arah, dari pagi sampai malam. Kalau ingin ke tempat tertentu, dengan polosnya nanya ke orang di jalan, salah turun bis, salah belok, sampai akhirnya sampai juga tanpa mengerti gimana caranya kok bisa sampai. Tapi syukur, semua tempat yang kami lewati itu menarik, dari kasino sampai hutan gantung. Kalau capek, kami berhenti di kedai kopi/dimsum lokal dan nguping cara bicara atau cerita pengunjungnya yang lagi ngobrol, buat saya itu menyenangkan. Kegiatan nyasar itu masih kami lakukan sampai mau berpindah negara, niatnya mau ke Hong Kong, kami salah arah pas naik bis, turun di perbatasan Shenzen Cina, dan dengan bloonnya nanya, “Ini ke Hong Kong, bukan?” Hahaha.

Hong Kong lebih teratur dari Macau, saya amazed dengan kota itu. Kami tinggal di sebuah gedung dodgy, Chung King Mansion, terkenal sebagai sarang narkoba dan prostitusi. Isinya imigran Afrika, Pakistan, India – badannya gede-gede semua. Kalau mau ngantri lift, selalu dagdigdug soalnya mata mereka besar-besar dan menatap tajam ke antrian, hahaha. Kalau malam, kami bisa mendengar teriakan-teriakan pelacur imigran Afrika yang lagi jualan di Tsim Sha Tsui, padahal kamar sewaan kami di lantai 20-an. Oh, ngomong-ngomong soal kamar sewaan, saya masih ingat kalau kamar itu kasurnya banyak kutunya, jadilah semalaman kami garuk-garuk nggak bisa tidur hahaha. Tapi nggak satu pun dari itu bisa membuat saya sebal, saya sudah terlanjur mencintai Hong Kong.

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Noran Bakrie

http://noranbakrie.com/