On Stage: Neon Lights Singapore 2016

Dipenuhi deretan headliners memukau dari berbagai genre, Neon Lights 2016 berhasil memancing 15 ribu penonton untuk berbesar hati menerjang hujan badai dan genangan lumpur di Fort Canning Park, Singapura.

Saat menulis artikel ini, sepatu saya belum sepenuhnya bersih dari sisa-sisa lumpur pada festival musik dan seni yang berlangsung 26-27 November 2016 tersebut. Yup, hujan badai yang turun sejak siang hari di hari pertama membuat area perbukitan Fort Canning menjadi lautan lumpur. Untungnya, ribuan penonton tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu and still having fun dengan mengenakan poncho ataupun bertelanjang kaki dan mandi hujan, after all that’s the spirit of outdoor music festival! Dibandingkan Laneway, Neon Lights sendiri adalah festival yang masih terbilang baru. Namun, meskipun baru menginjak tahun kedua, Neon Lights tampak siap menjadi sebuah annual event yang wajib dikunjungi tak hanya berkat lineup yang keren, tapi juga penekanan pada kata “festival” itu sendiri. Selain aksi musisi regional dan internasional, kita juga bisa melihat berbagai aktivasi seru seperti performance art, spoken word poetry, graffiti painting, light installations, dance showcases, hingga teater musikal yang bercerita tentang sejarah skena punk setempat. With the all good memories, I’ll tell you what really happened.

 

Day 1 – 26 November

Foals
Foals

Hujan deras yang mengguyur Singapura dari siang membuat saya baru bisa tiba di Fort Canning sekitar jam 5 sore dan terpaksa melewatkan penampilan Chairlift dan Lucy Rose. Tanpa buang waktu, saya langsung merapat ke Fort Gate Stage untuk menyaksikan Shura yang hampir merampungkan setengah set-nya. Membawakan electronic jams seperti “Touch” dan “Indecision” yang groovy, penyanyi Inggris tersebut menjadi pembuka yang manis bagi Neon Lights pertama saya. Selesai Shura, saya menyempatkan waktu untuk mengenal medan Fort Canning terlebih dahulu. Dibagi menjadi dua stage utama dan empat stage kecil yang letaknya lumayan berjauhan, kita harus pintar-pintar mengatur waktu untuk mengejar artis yang mau kita lihat. Sembari menunggu jadwal Foals tampil di Fort Green Stage, saya masih sempat melihat Gentle Bones membawakan dua lagu terakhir. Menjadi musisi Singapura yang tampil di jam dan stage utama, kualitas singer-songwriter berusia 22 tahun tersebut memang tidak kalah dengan para musisi internasional. Mendapat posisi lumayan depan dan dekat speaker saat giliran Foals tampil, saya bisa menikmati dengan maksimal deretan hits yang dibawakan oleh kuintet asal Oxford ini. Tampil dengan energi eksplosif, vokalis Yannis Philippakis sempat berkata jika festival ini akan menjadi penampilan terakhir mereka sebelum ke studio untuk merampungkan materi-materi baru. In the mean time, Foals pun memanjakan penggemar mereka dengan lagu-lagu andalan seperti “Spanish Sahara”, “Cassius”, serta “Inhaler” yang memancing beberapa orang untuk moshing.

Crystal Castles
Crystal Castles

Bergegas kembali ke Fort Gate untuk bisa berdiri paling depan di set Crystal Castles, produser Inggris Aaron Jerome yang lebih dikenal dengan nama SBTRKT belum menuntaskan DJ set-nya yang meliputi garage, UK bass, hip-hop, hingga remix “Midnight Request Line” milik Skream. Sambil menunggu kru menyiapkan panggung, terdengar juga racikan elektronik eklektik milik Gold Panda dari tenda di belakang Fort Gate Stage. Sempat bimbang untuk melihat sejenak Gold Panda, lampu stage padam yang artinya Crystal Castles sudah siap tampil. Songwriter/producer Ethan Kath naik ke panggung diiringi lampu strobe yang menghipnotis dan mulai memainkan synth-nya sebelum disusul oleh vokalis Edith Frances. Dengan rambut pink dan vokalnya yang setengah berteriak, Edith tampil seperti orang kesetanan yang tak lelah menarik atensi penonton dengan berbagai cara. Mulai dari naik ke speaker hingga berguling di lumpur, more reason to be hyped up! Repertoire dari album pertama hingga album terbaru mereka Amnesty (I) pun disajikan dengan sangat intens. It’s definitely a highlight for the first day!

Selesai digempur habis-habisan oleh Crystal Castles yang menutup Fort Gate Stage, masih ada penampilan Neon Indian di Fort Green Stage, namun sebelum ke sana, saya tidak bisa menahan diri untuk mengunjungi Silent Disco yang berada di area Easy Street samping Fort Gate. I always love Silent Disco! Bayangkan sekumpulan orang memakai headset yang terdiri dari tiga channel (biru, merah, hijau) di mana ada tiga orang DJ di DJ deck yang mengisi 3 channel tersebut dengan playlist masing-masing yang sangat bertolak belakang. Saat kamu sedang asik mendengarkan Chainsmokers, bisa saja orang di sebelahmu sedang menyanyikan keras-keras lagu Nirvana atau sedang heboh berjoget reggae, it was fun and crazy! Saking serunya, saya tidak sadar telah berada di Silent Disco selama lebih dari setengah jam sebelum akhirnya beranjak ke Fort Green Stage untuk mengintip aksi Alan Palomo dan rekannya di Neon Indian. Sayangnya, penampilan mereka diganggu beberapa kendala teknis dan gerimis yang kembali turun membuat sebagian penonton beranjak pulang. Hal itu tak membuat Neon Indian kecil hati dan tetap maksimal membawakan singles juara seperti “The Glitzy Hive”, “Should Have Taken Acid with You”, dan ditutup oleh “Polish Girl”.

Day 2 – 27 November

The Tallest Man on Earth
The Tallest Man on Earth

Hari kedua Neon Lights masih dibayangi awan mendung dan udara lembap, namun untungnya tidak turun hujan deras seperti hari sebelumnya. But still, lapangan rumput Fort Canning masih berupa lautan lumpur yang cukup dalam dan licin. Sialnya sepatu yang saya pakai di hari sebelumnya masih basah dan saya pun terpaksa memakai sandal hotel, which is obviously bad decision karena tak butuh waktu lama sebelum sandal itu copot terbenam lumpur. Melihat orang-orang sekitar cuek bertelanjang kaki, saya pun nyeker sambil membayangkan ini semua adalah mud spa. Anyway, artis yang pertama saya lihat di hari kedua adalah The Tallest Man on Earth yang merupakan solo project dari singer-songwriter asal Swedia, Kristian Matsson. Ternyata beliau baru saja cerai dari istrinya dan masih galau, sehingga lagu-lagu ballad yang dibawakan dengan gitar akustiknya pun membuat suasana di Fort Gate Stage makin terasa syahdu dan intim.

Blood Orange
Blood Orange

Selesai bergalau ria, saya menuju Fort Green Stage untuk menunggu giliran Blood Orange. Proyek musik R&B electronic yang digawangi oleh Dev Hynes ini memang menjadi salah satu incaran utama saya dan saya pun rela menunggu di depan stage. Hasilnya tentu tidak mengecewakan. Membuka penampilannya dengan single “Augustine” dari album Freetown Sound, Dev adalah seorang performer ulung serba bisa yang membuat kita tak bisa berhenti kagum. Mulai dari menyanyi, mencabik gitar, memainkan synth, hingga menari sepanjang stage dengan latar gedung-gedung New York City semuanya dilakukan dengan sangat atraktif. It’s all a grand tribute to 80’s NYC! Disokong oleh band pendukung dan backing vocal yang sama kerennya, penampilan selama 45 menit dari Blood Orange terasa berlalu begitu cepat dan membuat hampir semua penonton bertahan dan meminta encore. Blood Orange’s solo show in the near future, dear promoters?

Jose Gonzalez
Jose Gonzalez

Setelah Blood Orange adalah giliran penyanyi kebanggaan Malaysia, Yuna, yang akan tampil di Fort Green Stage. Yang sayangnya bentrok dengan jadwal José González di Fort Gate Stage. Dengan pertimbangan saya akan menyaksikan Yuna di Jakarta seminggu setelahnya, saya pun memutuskan untuk menunggu Jose Gonzalez saja. Persiapan yang cukup lama membuat saya sempat mengintip beberapa stage kecil yang diisi oleh performance yang seru, dari mulai ensemble musik tradisional Melayu hingga poetry reading. Ketika akhirnya José González naik panggung, the feel is so surreal. I mean, hanya memakai kaus oblong, berjenggot tebal, dan memeluk gitar Alhambra favoritnya, pria berusia 38 tahun ini terlihat seperti sosok kultus yang sedang menyampaikan kotbah dengan suara husky dan lirik-lirik syahdu bagi para jemaatnya. Alam raya pun seperti bersekongkol. Semilir angin yang sejuk, bintang yang malu-malu di balik awan, dan penonton yang tenggelam dalam khidmat (beberapa bahkan terlihat menangis) membuat penampilan José González sebagai pengalaman yang magis dan membangun mood yang tepat untuk penampilan selanjutnya, Sigur Rόs.

Sigur Ros
Sigur Ros

            Datang jauh-jauh dari Islandia, band post-rock legendaris ini telah memukau pendengar musik dari berbagai generasi berkat musik mereka yang surgawi. Band yang kini terdiri dari Jόnsi, Goggi, dan Orri ini menyapa penggemar lama mereka dengan beberapa lagu dari album-album terdahulu seperti “Starálfur” dan “Popplagið” sebelum membawakan materi dari album ketujuh, Kveikur. Diperkuat oleh sajian visual dan lighting yang turut membangun atmosfer, segala elemen khas dari Sigur Rόs yang meliputi vokal falsetto Jόnsi, classical dan minimalist aransemen yang dipadu oleh wall-of-sounds post rock yang eksplosif membuat seluruh crowd di Fort Canning seperti tersihir dan hanya bisa terpana. Bagaimanapun, menyaksikan Sigur Rόs secara live adalah sensasi sounds & visual yang sangat memorable. Melihat penonton yang berangsur pulang dengan senyuman puas meski kaki tenggelam dalam lumpur, Neon Lights 2016 pun ditutup with high notes!

 Foto oleh: Andandika Surasetja.

BRNDLFEST: The Brandals’ 12 Years Retrospective Concert

SAN_1833 copy

Ungkapan “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya” ternyata bisa diterapkan pula dalam perjalanan sebuah band. Band yang besar harus menghargai sejarahnya dan The Brandals mengamini hal itu. Terbentuk sejak Desember 2001, The Brandals telah menjadi salah satu band ibukota paling ikonik berkat penampilan mereka membawakan garage rock di atas panggung dengan liar, ditingkahi bahasa vulgar, namun tetap terlihat stylish. Ibaratnya, bila New York punya The Ramones dan London punya The Clash, maka Jakarta memiliki The Brandals sebagai band rock yang mewakili esensi liar kota besar dalam lirik lagu yang lekat dengan kehidupan masyarakat urban. 12 years and four albums later, they still stands tall dan merayakannya dengan sebuah konser retrospektif bernama BRNDLFEST tanggal 22 Desember lalu di Rolling Stone HQ, Kemang.

            Dengan sub judul “Cerita Mutasi Urban”, Festival BRNDLS tersebut menghadirkan pameran memorabilia segala pernak-pernik berbau The Brandals, mulai dari CD, kliping artikel, properti panggung, flyer, poster gig, kaos, well, basically anything! Acara dijadwalkan mulai pukul 3 sore namun terpaksa mundur sejenak karena gerimis yang turun tanpa henti hari itu. Saat dijumpai, sang vokalis Eka Annash sedang mengelap salah satu kotak kaca berisi memorabilia yang basah tersiram hujan sementara personel lainnya masih bersiap untuk ganti baju dan sebagainya. Eka mengungkapkan bagaimana festival ini awalnya direncanakan untuk satu dekade mereka namun terhalang beberapa hal hingga baru terlaksana sekarang dengan kerja keras dari para personel, kru, dan tentu saja fans mereka yang kerap disebut brigade rock n’ roll. Fans memang tak terpisahkan dalam karier sebuah band, dan dalam event ini The Brandals mengajak dua band bentukan fans mereka, yaitu Lampu Kereta dan The Badunks untuk menjadi pembuka acara. Penonton belum terlalu ramai, namun kedua band tersebut meminjam semangat yang sama dengan idola mereka dan bermain tanpa gentar.

Memorabilia

            “The Brandals sekarang gue ngeliatnya kaya Johnny Depp waktu jadi sersan Tom Hanson di 21 Jump Street tapi sekarang udah jadi James Bond, haha! Dulu masih muda, masih ijo… sekarang udah tua, udah content, suave, tau apa yang dia mau, lebih experienced,” ungkap Eka saat saya bertanya bagaimana sebetulnya The Brandals di umurnya yang ke-12. “Sekarang lebih family, lebih keluarga karena hampir semua di Brandals udah berkeluarga jadinya tidak raw lagi, lebih terpoles biar disayang mertua,” sambung Toni Dwi Setiadji, sang gitaris yang bersama drummer Rully Anash menjadi dua personel yang telah ada dari awal.

            Lepas Maghrib, diadakan pemutaran perdana video klip lagu “Abrasi” dari album terbaru mereka DGNR8 yang disutradarai oleh fotografer Anton Ismael dan disambung dengan penayangan film dokumenter Marching Menuju Maut yang dibuat oleh Faesal Rizal yang telah mendokumentasikan perjalanan karier The Brandals dari awal karier mereka. Dokumenter tersebut secara gamblang mengungkap segala sesuatu tentang The Brandals. Bagaimana mereka bermula dari band bernama The Motives dengan vokalis Edo Wallad sebelum digantikan oleh Eka dengan nama The Brandals, persiapan latihan sebelum naik panggung pertama kali, bagaimana mereka membangun popularitas dari berbagai gig intim di BB’s Café, Parc, dan berbagai pensi, termasuk PL Fair tahun 2003 di Stadion Lebak Bulus yang bersejarah bagi mereka. Bagaimana tidak? Dalam pensi tersebut, The Brandals tampil dalam keadaan “tinggi” di depan 8 ribu penonton dan memprovokasi mereka dengan kata-kata kasar. Hasilnya adalah hujan batu dan benda-benda lain namun dengan berani The Brandals tetap melanjutkan penampilan mereka. Momen tersebut menguatkan citra jika The Brandals memang benar-benar berandalan di atas panggung dan sempat dilarang tampil oleh beberapa event organizers.

Kliping

            Dokumenter berdurasi cukup panjang tersebut juga mengungkapkan bagaimana pergantian manajer menjadi turning point The Brandals untuk lebih lurus dalam bermusik dan bersikap. Salah satu momen lucu adalah beberapa footage Eka yang sebelumnya identik dengan ngomong kasar berubah mengucapkan assalamualaikum ketika manggung. Yang tak luput dibahas adalah soal pergantian personel dan bagaimana musik mereka beralih menjadi lebih digital di album terbaru. Yang jelas, 12 tahun memang bukan waktu yang sedikit untuk mendewasakan mereka.

            Selesai screening dan ngobrol-ngobrol singkat soal Marching Menuju Maut, The Brandals formasi saat ini yang terdiri dari Eka, Rully, Toni serta dua personel yang bergabung belakangan, bassist Radit Syahrazam dan gitaris PM, akhirnya tampil di atas panggung dengan backdrop bergambar drakula yang dibuat oleh ilustrator bernama Gogoporen. Lagu “Mutasi Urban” dan “Lingkar Labirin” dari self-titled debut mereka dipilih menjadi lagu pembuka. Sebagai frontman, Eka memang sudah tidak sevulgar dulu ketika berbicara di atas panggung, namun dia masih terdengar witty dengan celetukan-celetukan khasnya. Energi mereka semakin memanas seiring membawakan lagu-lagu jawara lainnya dalam repertoire empat album yang telah mereka hasilkan, termasuk “Abrasi” yang mengajak Eric PRBLMZ untuk mengisi bagian rapnya, “100% Kontrol”, “Brokenheart Blues”, dan “Perak”.

Bayu

            Bukan ulang tahun namanya kalau tidak ada kejutan. The Brandals menghadirkan dua mantan personel awal mereka, gitaris Bayu Indrasoewarman dan bassist Dodi Widyono ke atas panggung untuk memainkan lima lagu dari album ketiga Audio Imperialist, termasuk “24 Lewat (Lagu Luna)”  dan “100 KM”. Penonton semakin bersemangat melihat formasi awal The Brandals dan melihat Eka yang melakukan crowd surfing, saya lantas teringat bagaimana dulu saya terkagum-kagum melihat penampilan mereka yang intens dalam berbagai acara musik yang saya datangi. Radit dan PM akhirnya naik panggung lagi dan The Brandals menuntaskan penampilan mereka dari tiga lagu dari album DGNR8, yaitu “DGNR8”, “Awas Polizei!”, “Start Bleeding” dan dipungkaskan dengan “Marching Menuju Maut” dari album pertama mereka.

            Total 21 lagu dibawakan oleh The Brandals dalam durasi satu jam lebih. Dengan gemilang, The Brandals berhasil merangkum 12 tahun pertama karier mereka dengan menghargai masa-masa yang telah lewat tanpa terpaku di masa lalu. Toh lewat album baru mereka, The Brandals telah membuktikan diri jika mereka bukanlah band nostalgia. What’s next for them? “Yang jelas mau liburan dulu sebulan! Haha! Terus udah mulai kumpulin materi lagi pelan-pelan,” jawab Eka sambil tersenyum puas. The Brandals pada akhirnya akan terus bermutasi to keep the spirit alive. And I wish them a Godspeed.

Eka Annash

Foto oleh Sanko Yannarotama

This Charming Man, Morrissey Live in Jakarta (10 May 2012)


Coret lagi satu nama paling penting dari daftar Bands/Musician You Must See Before You Die, Morrissey is finally here.

Who is Morrissey?” Demikian bunyi tulisan yang tertera di backdrop panggung konser perdana Morrissey yang dipromotori oleh Indika Production tanggal 10 Mei kemarin. Mayoritas orang mengenalnya sebatas vokalis band Inggris, The Smiths, sementara sebagian yang lain mungkin hanya sering mendengar namanya tapi tak pernah benar-benar mendengarkan musiknya, namun crowd yang memenuhi venue Tennis Indoor Senayan dari sore hari, membawa spanduk, bunga dan terus tersenyum ceria adalah golongan yang berbeda. Mereka adalah diehard fans yang menganggap Steven Patrick Morrissey tak hanya penyanyi idola, namun lebih sebagai personal hero yang datang bukan sekadar menonton konser, tapi juga “naik haji” menunaikan impian seumur hidup mereka menyaksikan Morrissey di depan mata.

Selain area depan ticket box yang dipenuhi para penjual kaus Morrissey yang sering typo (entah kurang “r” atau “s”), yang terasa berbeda adalah untuk hari itu Tennis Indoor bebas dari makanan yang mengandung daging atas permintaan Moz (panggilan akrab Morrissey) yang seorang vegetarian dan pendukung PETA. Tak hanya stand F&B dalam area konser saja yang bebas daging, kabarnya panitia harus membayar para pedagang sate di Senayan untuk menghilang sebentar. Sebuah upaya cukup maksimal untuk menghargai Moz yang terkenal sangat strict (ia pernah walk out dari panggung Coachella 2009 karena mencium bau daging dimasak) dan memerhatikan detil apa pun, termasuk pilihan hotelnya, Shangri-La, hanya karena ia penggemar band The Shangri-Las. Romantisme personal tersebut juga terasa saat penonton menunggu dimulainya konser sambil menyaksikan beberapa video musik retro yang tampaknya dipilih sendiri oleh Moz, mulai dari Brigitte Bardot sampai New York Dolls, yang ditembak dari proyektor ke kain yang menutupi panggung. Sekitar jam 9 malam, akhirnya video playlist selesai dan kain penutup tersebut diturunkan dan menampilkan semua instrumen yang siap dimainkan, termasuk satu gong besar di belakang drum set. Para pemain band yang hanya memakai jeans, kecuali gitaris Boz Boorer yang memakai dress perak, naik ke panggung disusul oleh sosok flamboyan yang ditunggu.

Dibuka dengan “How Soon Is Now?” eforia penonton meledak memenuhi udara Tennis Indoor yang bebas dari asap rokok. Moz yang sudah berusia 52 tahun memang tidak bisa menutupi fisiknya yang merenta, namun karismanya sangat kuat dan vokalnya pun masih prima. Hits-hits seperti “You’re The One For Me, Fatty”, “Alma Matters” dan “Everyday Is Like Sunday” memancing koor penonton yang begitu keras dan bunga-bunga terus dilempar ke atas panggung oleh penonton baris depan. Berbeda dari citra snob dan racist yang kerap dituduhkan media asing, Moz malam itu begitu humble menyapa penonton dan menunjukkan gratitude menyaksikan antusiasme penonton Indonesia, sehingga sempat berkata takjub, “Jakarta… I’m not expect this…” Beberapa penonton juga ditarik naik ke atas panggung untuk berpelukan dengan Moz yang sempat beberapa kali berganti kemeja (salah satunya dilempar ke penonton). Di lagu “Meat Is Murder”, Morrissey menampilkan video berisi cuplikan dokumenter animal abuse yang quite disturbing sebelum meneruskan set dengan lagu “Let Me Kiss You, “I’m Throwing My Arms Around Paris” dan “Speedway” dan berkata “Indonesia…”Saya cinta kamu. With all my heart, I wish we’ll never be apart,” sebelum memberikan encore satu lagu “Still Ill” yang merupakan lagu The Smiths.

Dengan tampil satu setengah jam membawakan 19 lagu, tentu banyak yang merasa belum puas dan berharap mendengar hits beliau lainnya yang tidak dimainkan seperti “The More You Ignore Me, The Closer I Get”, “Suedehead” dan hits lawas The Smiths. Setiap orang tentu memiliki daftar lagu Morrissey/The Smiths favorit mereka, jadi memang rasanya tidak mungkin juga berharap semua bisa dimainkan malam itu. Kembali ke pertanyaan awal tadi, siapa sih Morrissey? Semua orang punya jawaban sendiri, bagi saya pribadi yang kesehariannya tak pernah sepi dari lagu Morrissey, untuk akhirnya bisa menyaksikan beliau secara langsung di depan mata dan bernyanyi bersama sudah menjadi salah satu pengalaman hidup yang menggetarkan. It’s still feels surreal, even now.

As published in NYLON Indonesia June 2012

On The Records: Girls on Gigs

Siapa bilang perempuan hanya bisa menjadi sekadar pemanis belaka di konser-konser musik? Empat perempuan berikut ini bercerita tentang serunya bekerja di gigs. 

Ade Putri

Road manager

Road manager adalah penghubung antara band dengan panitia; kami yang mengatur jadwal keberangkatan serta kepulangan rombongan sesuai request dan availability player mau pun tim produksi. Kami juga memastikan panitia membaca rider dengan baik dan memberikan counter rider – intinya memastikan kebutuhan band & produksi bisa terpenuhi.” Ungkap Ade Putri tentang job description seorang road manager. Bila masalah standar road manager pada umumnya adalah panitia yang kurang kordinasi atau liaison officer yang tidak komunikatif, sebagai seorang road manager yang mengurusi band-band cadas seperti Seringai, Superman Is Dead dan Suicidal Sinatra, ia harus berhadapan dengan tantangan ekstra, yaitu crowd dan medan yang tak terduga. “Waktu SID perform di USU, Medan tahun 2003 lalu, ada provokator dan konser jadi rusuh. Panitia nggak bisa berbuat banyak karena mereka nggak nyangka kejadiannya akan seperti itu,” kenangnya, “SID tetap menuntaskan set list, biar pun udah gue suruh turun karena suasananya nggak kondusif. Turun panggung, SID dan manajer langsung naik mobil kembali ke hotel. Saat gue bersama tim produksi lagi beresin alat di panggung, eeh…banyak banget barang melayang ke atas panggung. Jadilah gue dan stage crews berlindung di bawah ridging stage. Menegangkan, kayak perang, hahaha.” Tandasnya santai. Gadis kelahiran Surabaya yang juga berprofesi sebagai freelance publicist dan social media strategist di sebuah digital agency ini mengaku lebih menyukai terjun langsung ke lapangan dibanding bekerja di balik meja, karena itu di antara semua kesibukannya, ia tetap menikmati menjadi freelance road manager untuk band yang sudah disebutkan di atas dan beberapa nama lainnya seperti Vicky Shu, The Flowers dan Armada. “Let me tell you something, handling bunch of rockin’ boys is much much much easier than handling one unpredictable selfish and spoiled princess!” Tutupnya dengan senyum jahil.

Isha Hening

Visual Jockey

Apakah kamu sempat menonton penampilan Röyksopp di Love Garage beberapa bulan lalu? Kalau iya, pasti kamu ingat visual mapping keren yang melengkapi live performance mereka. Well, guess what? Visual mapping tersebut dibuat oleh perempuan manis bernama Isha Hening yang kian dikenal sebagai seorang Visual Jockey andal. Semua bermula saat ia masih berkuliah di ITB jurusan DKV – Multimedia, gadis berumur 25 tahun ini sering menghabiskan waktu di Common Room, sebuah ruang kreatif di Bandung, yang juga tempat sebuah komunitas bernama Openlabs yang mengulik soal electronic music, visual dan new media art. Dari situ ia belajar soal VJ dan live visual sampai akhirnya pertama kali menjadi VJ untuk Bottlesmoker di sebuah gig elektronik Bandung, sebuah pengalaman yang membuatnya jatuh cinta, ketagihan dan akhirnya menjadi profesi. Isha lalu dipercaya menjadi VJ untuk event-event besar seperti Godskitchen, Beatfest, Djakarta Warehouse Project, Dance Republic, Playground dan Love Garage. “Hampir semua event berkesan sebetulnya, karena pasti ada yang uniknya, seperti kemarin senang banget bisa VJ-ing untuk Bag Raiders dan Röyksopp karena saya kebetulan memang ngefans atau yang paling capek saat main sampai pukul 6 pagi untuk Armin Van Buuren. Tapi tetap sih, saya paling menikmati kalau main di gigs drum ‘n bass seperti Phunktion, hehe.”  Jawab Isha saat ditanya event yang menurutnya paling berkesan. Selepas Love Garage, kini gadis yang memiliki daily job sebagai motion graphic artist di Fear FX Studio di daerah Bangka, Jakarta Selatan ini sedang bersiap mengerjakan video klip untuk Rock N Roll Mafia bersama temannya Guntech dan sebuah group exhibition di Dia.lo.gue Artspace, Kemang. Bekerja di field yang didominasi pria, apakah sebagai VJ ia pernah diremehkan hanya karena ia perempuan? “Haha, ya pasti pernah, seringnya sih masalah teknis, tapi seharusnya isu seperti itu sudah basi ya, sudah tidak penting gendernya apa, pada akhirnya karya dan profesionalisme yang berbicara.” Jawabnya optimis.

Niken Prista

Gig photographer

Admit it, DSLR is just like fashion accessory nowadays. Kita dengan mudah melihat cewek-cewek menenteng kamera di gig musik, tapi berapa banyak diantara mereka yang memang seorang gig photographer dan rela berdesak-desakan di media pit yang disesaki pria-pria yang terkadang, literally push each other untuk mendapatkan foto yang keren? Mungkin masih bisa dihitung dengan jari dan Nikensari Pristandari adalah salah satunya. Gadis berperawakan mungil ini dapat dengan mudah kamu lihat di berbagai gig sedang membidikkan kamera kesayangannya, Canon Kiss X2, untuk situs musik Geeksbible.com atau beberapa media lainnya. “Keinginan buat motret penampilan band/musisi buat gue pribadi adalah untuk mendukung band lokal yang masih belum dikenal banyak orang dan sebagai media berbagi keriaan buat mereka yang nggak bisa nonton konser tertentu. Jadi ketika liat jepretan gue, mereka juga bisa merasakan euforia yang sama saat gue motret penampilan band/musisi itu,“ ungkap Niken tentang alasannya menjadi gig photographer, “Basically, gue sendiri cinta musik, dan menjadi salah satu bagian dari hal tersebut adalah menyenangkan.” Imbuhnya. Melihat sosok mungil dan pembawaannya yang kalem, mungkin kamu akan kaget mengetahui jika ternyata ia paling antusias memotret untuk gig-gig metal dan salah satu keinginan terbesarnya adalah memotret di Hellfest. Gadis berumur 21 tahun ini mengaku dirinya memang pendiam, namun jika melihat foto-foto bidikannya di akun flickr-nya (flickr.com/photos/nikenprista), kamu bisa merasakan emosi dan semangat dari objek fotonya. Apa tipsnya? “Baiknya sih survey dulu venue-nya di mana jadi kira-kira sudah siap angle photo yang mau diambil dan mau bawa lensa apa aja. Terus peka juga sama hal-hal yang berpengaruh pada hasil foto, misalnya lighting. Biasanya kalau venue cukup gelap, gue ngitungin waktu kapan lighting ini bisa pas nembak ke objek yang mau gue foto, atau pada lighting warna tertentu.”

Nastasha Abigail

Announcer/band manager

Berbincang dengan Nastasha Abigail sama menyenangkannya dengan mendengarkan siarannya di Trax FM. Ia ramah, approachable dan senantiasa menyelipkan joke segar dalam omongannya. Sebagai seorang announcer merangkap reporter untuk salah satu stasiun radio anak muda paling dikenal tersebut, Abigail memang kerap kali dijumpai di berbagai acara musik, baik yang berskala besar maupun gig-gig yang lebih kecil. Kini, selain siaran dan mendesain cincin buatan sendiri dengan nama Hullo, lulusan Jurnalistik UPH ini menambah resume dengan menjadi manajer untuk Zeke Khaseli, suatu tawaran yang secara spontan ia terima dengan antusias, walau ia mengaku masih dalam tahap belajar. Saya pun bertanya di umurnya yang ke-25 tahun ini, sampai kapan kira-kira ia ingin berkarier di bidang yang berhubungan dengan musik. “Gue sedang berada di comfort zone sebetulnya. Apalagi sebagai anak muda yang notabene budak konser, gue bersyukur dapet tiket-tiket gratisan, ketemu banyak teman baru, lokal dan internasional. Jadwal siaran pun membuat gue bisa melakukan banyak kegiatan lainnya. Kalau ditanya mau sampai kapan, itu gue agak bingung. Pernah sih kepikiran kerja kantoran dan menciptakan kestabilan hidup, tapi kayaknya gue nggak terlalu banyak punya baju rapi,” jawabnya sebelum menambahkan dengan tersenyum lebar “Menjamin mapan bukan berarti menjamin senang kan?”

As published in NYLON Indonesia April 2012

Fotografi oleh Muhammad Asranur