On The Records: The Aces

 

Berasal dari Provo, Utah yang didominasi oleh penganut LDS Church yang religius, kuartet yang terdiri dari vokalis/gitaris Cristal Ramirez, lead guitarist/back vox Katie Henderson, bassist McKenna Petty, dan drummer Alisa Ramirez ini membuktikan jika kamu tidak perlu berkata kasar dan minum minuman keras untuk menyajikan musik rock yang keren. Dimulai oleh kakak-beradik Cristal dan Alisa, The Aces telah tampil bersama sejak masa sekolah dan tampil di berbagai festival di sekitar kota mereka, namun single “Stuck” yang dirilis tahun lalu yang kemudian mengantar nama mereka ke ranah yang lebih luas. Digarap bersama produser Dan Gibson & Simon Oscroft, “Stuck” adalah single alt-pop super catchy dengan guitar driven melody yang mengingatkan pada HAIM maupun The 1975.

April ini, mereka pun merilis single terbaru berjudul “Physical” yang tak kalah catchy. “Lagu ini becerita tentang kejenuhan kami soal hubungan yang hanya mementingkan hubungan fisik. Pacaran dan hubungan fisik adalah hal yang seakan diglamorkan oleh masyarakat dan kami ingin membawa perspektif kami soal itu, yaitu hubungan fisik memang asik, tapi bisa dengan cepat bikin bosan kalau cuma hal itu yang dikejar dalam sebuah hubungan,” ungkap mereka.

Dengan jam terbang yang semakin tinggi dan kontrak dengan Red Bull Records, The Aces makin disibukkan dengan berbagai gigs sambil menyiapkan album penuh mereka, namun ada satu hal yang tak pernah berubah, yaitu backstage pre-show ritual mereka.”Kami akan berkumpul dan berdoa bersama dalam lingkaran. Kami selalu berterima kasih pada Tuhan untuk setiap show, karena kami selalu merasa bersyukur orang mau datang dan mendengarkan musik kami,” papar mereka. Amen for that.

Foto oleh: Tessa Barton.

 Photo Credit - Tessa Barton 2

The Beginning

Kami tumbuh besar di kota dan sekolah yang sama. Cristal dan saya (Alisa) telah main musik bareng sejak kecil dan selalu punya cita-cita bikin band, mungkin karena terinspirasi dari kakak kami yang sepertinya terlibat di ratusan band saat dia SMA. McKenna telah menjadi sahabat kami sejak sekolah dasar, jadi tentu saja kami mengajaknya bergabung ke band kami. Dan untuk beberapa tahun pertama hanya ada kami bertiga di band ini sebelum McKenna pindah sekolah dan bertemu Katie yang kemudian juga menjadi teman kami. Dan ketika kami tahu salah satu sahabat kami bisa main gitar, kami menjadi berempat sampai sekarang.

The Namesake

Awalnya kami memakai nama “The Blues Aces” setelah mendapat saran dari kakak perempuan salah satu teman kami yang termasuk anak keren, dia bilang semua nama band yang bagus terdiri dari nama warna dan benda. Saya mengusulkan nama “The Blue Aces” dan itu jadi nama pertama kami sampai akhirnya kami memutuskan untuk mencopot kata “blue” saat merilis materi baru.

Influences

The Beatles, Whitney Houston, The 1975, Tears for Fears, Michael Jackson, Earth Wind and Fire, dan banyak band keren lain yang menginfluens kami sejak remaja. Kami biasanya mendeskripsikan musik kami di ranah alt-pop dengan sentuhan rock. Musik kami cenderung guitar-driven dan memakai drum yang biasa terdengar di rock akustik karena itulah bunyi yang kami dengar dan mainkan sejak dulu.

Hometown

Tumbuh di kota kecil yang religius di Utah anehnya memang membantu musikalitas dan kemampuan performing kami. Mayoritas anak-anak di kota kami tumbuh bermain musik dan bernyanyi untuk gereja, yang akhirnya menghasilkan banyak musisi berbakat. Karena standar agama yang kuat juga, anak remaja di kota kami tidak terlalu suka pesta dan mabuk-mabukan, jadi banyak venue yang terbuka untuk semua umur dan mengizinkan kami untuk tampil sejak kecil. Orang biasanya kaget saat mereka tahu jika Provo Utah punya skena musik dengan band-band lokal yang keren.

First gig

Gig pertama kami di pesta ulang tahun Cristal yang ke-11, haha. Kami baru banget membentuk band ini dan tiba-tiba punya ide buat main di pestanya Cristal. Alisa pertama kalinya mematahkan drum stick, kakak perempuan McKenna sok main keyboard di sebuah Casio rusak, tapi orang-orang heboh menontonnya, haha.

Mutual agreement

Memakai topi fedora seharusnya adalah hal ilegal!

Future plan

Releasing some more music and playing more shooowwss!!!

http://theacesofficial.com/

Advertisements

Heart on Their Sleeve, An Interview With The Submissives

Jangan terkecoh dengan nama dan penampilan mereka yang terlihat harmless, The Submissives menyembunyikan pesan subversif di balik lovesick indie pop.

Di atas panggung, The Submissives adalah band asal Montreal, Kanada yang terdiri dari 6 orang perempuan with matching dresses dengan dua orang vokalis yang setengah bergumam menyanyikan lagu-lagu indie pop beraransemen low-key yang mereka sebut sebagai lovesick pop. Namun, pada hakikatnya band ini bermula dari proyek solo seorang Deb Edison yang menulis dan merekam semua lagu yang ada di album debut Betty Told Me (2015) dan album baru yang akan dirilis bulan ini, Do You Really Love Me? yang akan dirilis oleh Fixture Records.

Berisi 15 lagu yang masing-masing berdurasi kurang dari tiga menit dengan judul-judul seperti “Perfect Woman”, “Dream Life”, dan “My Boyfriend”, sekilas mereka menyajikan fantasi patriarkal dari kehidupan wanita idaman di sebuah suburban yang sempurna, tapi seperti yang kita ketahui bersama, there’s always something sinister about that. “Nama The Submissives merujuk pada sikap pasif, patuh, taat, dan tunduk. Bagi saya, itu adalah sebuah sentimen yang ditujukan kepada kaum pria. It’s that feeling where you are sitting still and silent with a smile on your face, saying nothing, but that isn’t the way you feel inside,” ungkap Deb perihal nama yang mereka usung.

Pesan-pesan terselubung tersebut tak hanya muncul secara literal lewat lirik lagu, tapi juga secara visual. Dalam video terbaru untuk single “The Hum” yang digarap Zale Burley misalnya, Deb mengenakan white bride dress dalam beberapa menit awal yang terasa normal sebelum the video getting bloodier, sekali lagi menonjolkan tema love gone wrong andalan mereka. To see the bigger picture, Deb pun menjelaskan beberapa hal tentang proyek ini dalam email yang ia kirim dari Montreal.

the-submissives-linx-selby-2

Hai Deb, apa kabar? Di mana kamu sekarang dan apa yang kamu lakukan sebelum membalas email ini? Hi! I’m doing great today; I slept a lot last night. Great question! Saya sedang berada di kawasan bernama the Mile End di Montreal, Quebec, Kanada. Sebelum membalas email ini saya pergi mengirim surat dan membeli deterjen. Sekarang saya minum kopi sambil menulis email ini. 

Jadi bagaimana awal mulanya project solo ini berkembang menjadi format full band? Saya punya ide untuk bikin band dari berapa tahun lalu, namun belum sempat terlaksana. Saya menulis semua lagu untuk band ini dalam dua minggu terakhir November tahun lalu, which was a very sad and confusing time in my life. Saya menyelesaikannya di bulan Desember dan band ini mulai latihan Januari lalu. Having the songs performed live was always the dream!

Dari mana kamu mengumpulkan personel lainnya? Semua personel band ini adalah orang-orang yang menurut saya sangat berbakat dan menarik, dan tidak butuh waktu lama bagi kami untuk get it all together. Walaupun awalnya beberapa di antara kami tidak terlalu kenal satu sama lain, we’ve gotten much closer.

Boleh ceritakan show pertama kalian? Kami pertama kali tampil dalam acara bikinan sendiri di Montreal, tepatnya di lantai dua sebuah gedung di area yang agak terbengkalai tapi sering digunakan sebagai venue atau tempat jamming. Waktu itu kami merilis album Betty Told Me. Interiornya kami hias dengan lampu gantung, lilin, bunga, dan kain merah. Andre Charles Theriault membuka acara dan penonton menikmatinya dengan sangat tenang, considering it was just a voice and guitar in a room usually loud and unruly. Teman kami Neutral Fixation dari Massachusetts tampil sebelum kami. Being on stage after working so hard together for two months felt magical.  Band lokal Cheap Wig menutup show dengan liar, the crowd was drunk and lost in the strobe light at that point. The show went really well, it was a great night!

Apa saja yang menjadi inspirasi terbesar untuk band ini? Dua lagu yang saya dengarkan tanpa henti saat membuat album pertama adalah “In My Brain” oleh Badge dan “Mer Morte” dari band rock Montreal bernama Les Jaguars. Saya juga terobsesi pada sosok Joe Meek, seorang produser dan penulis lagu yang luar biasa. Lagu-lagunya terdengar sweet and dark di saat yang sama, you gotta learn about the man if you haven’t already! Saya juga suka apapun yang dirilis oleh label-label seperti Sublime Frequencies, Light in the Attic, dan Awesome Tapes dari Afrika.  Also, many thanks to the hero who runs the website Aquarium Drunkard, formerly the blog Ghost Capital.  So much more, but I will stop at that.  

0008100661_10

Bicara tentang album Do You Really Love Me? kalian juga akan merilisnya dalam format kaset, apakah itu cuma untuk gimmick atau bagaimana? Apa pendapatmu soal era musik digital/streaming saat ini? Merilis dalam format kaset bukan sekadar gimmick bagi saya, pengalaman merekam album dalam bentuk kaset adalah sesuatu yang luar biasa! Semua track dikompres secara natural dan menyatu dengan apik, it’s so fun and satisfying. I am addicted to tape technology. Saya tidak bisa berkomentar banyak soal era digital, karena saya pun merilis versi digital untuk semua lagu saya karena menurut saya rasanya menyenangkan jika album yang kamu buat juga bisa didengar orang di belahan dunia lain secara instan. Namun, saya tetap lebih memilih punya produk dengan bentuk fisik yang bisa kamu genggam. Tapes are great, but for me, releasing music on vinyl is the ultimate goal.

Bagaimana keadaan skena musik di Montreal saat ini? There is a lot of great music going on in this city at the moment! Kita semua bisa diuntungkan dengan membuat show yang mengajak band dan musisi dari genre yang berbeda dan memperkenalkan musisi baru yang mungkin belum pernah tampil live sebelumnya. I hope to see more non bar/official venues pop up in the future; I think it’s important to move out of our comfort zones. This is something I am really trying to work on myself…  I also hope to see cops staying out of the scene.

Selain musik, apa yang kamu lakukan sehari-hari? Saya bekerja di kafe, menggambar, bikin video, nonton bioskop, travel as much as possible, hang out with my cats and friends, walk my roommate’s dog, drink sparkling water, lie on my bed, sleep.

Apa  rencana selanjutnya? We are finally starting to practise after a big summer break! Kami akan merilis album tanggal 8 September di tempat bernama Club Balattou.  Di Oktober kami akan rekaman dengan local genius recording pro Garrett Johnson.  Hopefully we’ll release that one on vinyl!  For the future, I hope to learn to write songs together and really just jam out.

 

 

Band photos by Linx Selby.

http://submissives.bandcamp.com/

Girls Just Want To Have Fun, An Interview With Hinds

Lewat album debut Leave Me Alone, kuartet garage rock asal Madrid, Hinds menyajikan musik yang gutsy dan kental akan feminisme tanpa melupakan caranya bersenang-senang.

Kurang dari tiga tahun lalu, baik Carlotta Cosials dan Ana García Perrote tidak tahu caranya memainkan gitar. Namun, sebuah liburan musim panas di pesisir pantai Denia di mana mereka menghabiskan waktu dengan bermain gitar dan bernyanyi menginspirasi kedua gadis Spanyol tersebut untuk membuat musik bareng sepulangnya mereka ke Madrid. Setelah melewati masa latihan ekstensif, keduanya membentuk duo bernama Deers yang terinfluens dari band-band seperti The Strokes, Black Lips, serta The Vaccines dan merilis dua track berjudul “Bamboo” dan “Trippy Gum” via Bandcamp di tahun 2014 sebelum akhirnya mereka berkembang menjadi full band dengan mengajak dua sahabat mereka Ade Martin di bass dan Amber Grimbergen di drum. Memadukan bunyi lo-fi dari garage rock kontemporer dengan elemen pop dari musik surf rock dan girl group 60-an, mereka merilis beberapa single selanjutnya dan dengan segala respons positif yang didapat, mereka pun menghabiskan tahun tiga tahun terakhir dengan tampil di berbagai festival musik, termasuk South by Southwest di mana mereka tampil dalam 16 show hanya dalam kurun waktu empat hari. Sayangnya, kepopuleran itu juga memancing atensi yang tidak diinginkan dari band bernama The Dears yang lewat kuasa hukumnya mengancam akan menuntut Deers jika mereka tidak mengganti namanya yang dianggap terdengar mirip band Kanada tersebut. Deers mengalah dan mengganti nama mereka menjadi Hinds (yang berarti rusa betina) dan dengan nama itu juga mereka akhirnya merilis album debut bertajuk Leave Me Alone lewat label Lucky Number di awal tahun ini. Berisi 12 lagu yang memadukan materi-materi baru seperti “Garden” dengan beberapa single yang sudah dirilis sebelumnya seperti “Chili Town” dan “Castigadas en el granero”, bersama album ini Hinds pun sukses menggelar tur dunia dan kini, dari teras rumah mereka di Madrid, Carlotta dan Ana membalas email dari NYLON.

hinds-by-salva-lopez
DARI KIRI: Ade Martin, Amber Grimbergen, Ana Perrote, Carlotta Cosials.

Hai Carlotta dan Ana, Hinds bermula dari kalian berdua, tapi bagaimana sebenarnya kalian bisa bertemu? Kami diperkenalkan oleh dua bekas pacar kami. Sekarang kalau diingat lagi, kami merasa harus berterima kasih karena mereka lah yang memperkenalkan kami ke satu sama lain. Dan kenapa akhirnya kami bikin musik bareng… Saya tidak tahu! We’ve always loved music because music inspires life.

Apa rasanya menjadi sebuah girl band di Spanyol? Bagaimana biasanya proses pembuatan lagu bagi kalian? Well, kami merasa kreativitas dan bermusik di girl band sebetulnya tidak ada kaitannya sama sekali, hahaha. Being in an all girl band is seriously tough, tapi kami siap melawan siapapun dan apapun. Kalau tentang penulisan lagu, tergantung masing-masing lagu sih, tapi biasanya memang Ana dan saya (Carlotta) yang menulis lirik dan melodi serta gitar, Ade mengerjakan bass lines dan Amber di drum. Jadi setiap personel mencurahkan dirinya dalam setiap lagu, even tho we spend so many hours in here searching for the right melodies and feelings.

Apa yang menjadi influens utama bagi musik kalian? Sun, beer, and oceans.

Boleh cerita soal album Leave Me Alone? Di mana kalian merekamnya dan berapa lama prosesnya? Kami merekamnya April tahun lalu di daerah selatan Spanyol, di sebuah kota kecil bernama El Puerto de Santa Maria yang terletak di Cadiz. Kami di sana selama sepuluh hari dan butuh tiga hari bagi kami sampai akhirnya menemukan sound yang kami inginkan dari proses mixing. We were young and innocent dan walaupun kami sangat menyukai hasilnya, kami sebetulnya sama sekali tidak menyangka jika banyak orang di luar sana yang juga menyukai album ini sebesar kami.

Feminisme telah menjadi topik yang tidak dapat dihindari dalam musik sekarang ini, bagaimana kalian memandangnya? Apakah kalian terganggu jika banyak orang yang melabeli kalian sebagai “Girl Crush” atau “It Girls” hanya karena kalian merupakan girl band? Boys have a crush with girls, girls have a crush with boys, boys have crushes with boys and girls also with girls; saya rasa masalahnya bukan di situ. Kesalahan pada sikap sexism di musik adalah berpikir jika apa yang kami raih sejauh ini berkat campur tangan pria di baliknya, masih banyak orang bodoh yang tidak mau percaya jika kami bisa berada di titik ini karena usaha kami sendiri, because we FOUR YOUNG SPANISH GIRLS have done what we’ve done. 

Apakah kalian pernah mengalami perlakuan misoginis saat manggung atau di tur? Tidak terhitung. Hal-hal seperti “She is prettier than you”, atau “Show your pussy”, atau doing like the gesture of sucking a dickSeriously, so so so so many times. Atau selesai manggung, pria paruh baya menghampirimu and telling you bullshit karena mereka pikir mereka bebas melakukannya karena mereka lebih tua dan kamu secara otomatis harus menghormati mereka and bla bla blah…

Apa yang paling kalian sukai dari tampil di panggung? Performing is the best. Beraksi di panggung adalah salah satu momen favorit kami, no doubt. Tapi yang paling kami suka dari tur adalah kami melakukannya dengan teman-teman kami. Like having a supporting band for the whole tour so we become super close to each other, or inviting friends from Spain that are studying abroad… Itu hal yang asik dan keren. And the energy? Energinya sama besarnya seperti kamu pergi ke sebuah pesta. A gooood party.

Kalian baru saja menyelesaikan tur dunia kalian di Singapura, apa hal yang kalian sukai dari touring selain manggung? Discovering that people is incredibly different in every city, but with kind of similitude in each continent. Dan kuliner! Kami suka makan dan mencoba berbagai menu andalan setempat.

Since it’s our Summer Issue, what’s the best way to spend summer in Madrid? In the streets drinking sangria!

Jika kalian bisa memilih tempat apa saja untuk liburan musim panas, tempat apa yang akan kalian pilih dan kenapa? Oke, kalau kami juga bisa mengajak semua teman kami di Madrid, kami pasti akan pilih daerah pantai yang super murah. Mungkin… Benicassim?

Apa yang ada di playlist kalian saat ini? Bob Dylan, King Gizzard, dan Joaquin Sabina. 

Rencana untuk sisa tahun ini? Menyelesaikan tur dunia! And writing the best album ever, again!

Terakhir, sebutkan top 5 musisi perempuan favorit kalian! Courtney Barnett, Patti Smith, Gabriella Cohen, , dan Fiona Campbell.

 

Influences: Scandal

Scandal Band

First look can be so deceiving. Itulah yang saya rasakan sewaktu pertama kali melihat foto keempat gadis Osaka yang bernaung di satu band pop rock bernama SCANDAL di suatu majalah. Prasangka awal saya mengatakan mereka adalah unit bubblegum pop yang menari-nari ceria dengan suara imut melengking. Namun begitu melihat beberapa video mereka di YouTube, terutama live show mereka, saya menyadari betapa prasangka tersebut tidak bisa lebih salah lagi. SCANDAL benar-benar sebuah girl band dalam arti sesungguhnya. Terdiri dari Haruna Ono (lead vocalist/secondary guitarist), Mami Sasazaki (lead guitarist/secondary vocal), Tomomi Ogawa (bassist/secondary vocal), dan Rina Suzuki (drummer/secondary vocal), keempat gadis cantik ini memulai karier saat masih memakai seragam SMA dengan tampil di jalanan dan taman di Osaka setiap akhir pekan, sebelum tak lama kemudian dikontrak indie label Kitty Records dan diundang tur ke 6 kota di Amerika Serikat, jauh sebelum mereka merilis mini-album pertama mereka, Yah! Yah! Yah! Hello Scandal: Maido! Scandal Desu! Yah Yah Yah! di tahun 2008.

Pencapaian impresif tersebut mengantar mereka ke major label dan pendengar yang lebih luas, menghasilkan 4 LP dan banyak singles yang merajai chart. Tahun lalu, setelah menggelar tur Asia kedua, mereka pun merilis album terbaru bertajuk Standard dan melempar video untuk single “Awanai Tsumori no, Genki de ne” di mana melihat empat gadis cantik memakai dress putih dan memainkan instrumen masing-masing sambil headbanging menjadi bukti jika tradisi band-band perempuan keren dari Jepang masih terjaga sampai detik ini. Kali ini, mereka membicarakan influens awal mereka dan obsesi mereka pada diva-diva J-pop.

Apa yang membuat kalian ingin membentuk band bersama?

Haruna: Kami semua pertama kali bertemu di sebuah sekolah dance dan vokal di daerah Kansai (Jepang bagian barat seperti Osaka, Kobe, Kyoto, dll), dan suatu hari seorang guru kami bertanya, “Kenapa kalian tidak mencoba memainkan instrumen?” guru yang sama juga menanyakan hal itu ke murid-murid lainnya, tapi akhirnya, cuma kami berempat yang terus lanjut bermain instrumen. Kami tak menyangka akhirnya bisa benar-benar menjadi band seperti sekarang ini.

Musik apa yang kalian dengarkan saat itu?

Haruna: Saya mendengarkan R&B dan J-pop yang waktu itu sedang sangat booming.

Tomomi: Saat itu saya sedang serius belajar dance, jadi saya banyak mendengarkan R&B.

Mami: Saya juga mendengarkan J-pop.

Rina: Saat masih kecil, saya hanya mendengarkan J-pop. Idola pertama saya adalah Ayumi Hamasaki saat saya masih SD.

ayumi hamasaki

Lalu, album atau band apa yang berpengaruh saat kalian mulai membentuk SCANDAL?

Mami: Saat pertama terbentuk, kami semua menonton DVD SUM 41 untuk mempelajari penampilan mereka.

Apa album pertama yang kalian beli?

Haruna: “Don’t Wanna Cry” dari Namie Amuro.

namie amuro

Tomomi: Album Greatest Hits Morning Musume.

Mami: Sama! Greatest Hits Morning Musume.

Rina: Saya juga! Waktu SD saya membentuk grup dance dan mengkopi gerakan mereka… ah saya jadi ingat masa-masa itu.

Morning_Musume_-_Best_1

Kalau konser yang pertama kalian datangi?

Haruna: Konser Arashi.

Tomomi: Morning Musume.

Mami: Ibu saya pernah bilang kalau saya ikut menonton konser Kome Kome Club saat masih berumur tiga tahun… tapi tentu saja saya tidak ingat. Haha.

Rina: Konser Kinki Kids di Kyocera Dome di Osaka bersama ibu saya. Itu pengalaman pertama saya datang ke konser.

Apa yang menjadi inspirasi untuk lirik di lagu-lagu kalian?

Rina: Saya biasanya menulis sendirian di rumah. Namun akhir-akhir ini kami mulai menulis lirik dan membuat lagu secara bersamaan. Terkadang saya yang menyelesaikan semua lirik dan membuat melodi untuk bagian chorus, dan meminta personel lain untuk menyelesaikan sisanya. Inspirasi selalu datang tak terduga, jadi biasanya saya segera merekam inspirasi dengan voice recorder atau menulisnya di buku catatan.

Apa rasanya berada di atas panggung?

Mami: Setiap pertunjukan live, kami selalu berusaha agar penonton bisa merasakan excitement seperti mereka seolah-olah sedang berada di taman hiburan, dan melupakan dunia nyata untuk sejenak.

Kalau bisa berkolaborasi dengan siapa saja, siapa yang kalian pilih?

Haruna: 2NE1!

2NE1

Boleh ceritakan sedikit tentang album baru kalian?

Tomomi: Sejak kami membentuk SCANDAL, lagu-lagu kami memiliki tema utama tentang impian kami untuk mengadakan konser di Osaka-jo Hall. Tempat ini adalah concert hall legendaris di Osaka seperti halnya Nippon Budokan di Tokyo, karena kami semua berasal dari daerah Kansai, venue ini adalah tujuan pertama kami. Setelah impian ini tercapai pada bulan Maret lalu, kami akhirnya mulai membuat lagu yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Album baru ini bisa menjadi musik background bagi kehidupan sehari-hari seseorang.

osaka jo

Kalian telah menggelar konser pertama di Indonesia tahun lalu, ada pesan untuk fans Indonesia?

Rina: Kami sangat bahagia melihat banyak fans di Indonesia yang sudah menantikan kami, dan kami merasa kebudayaan Jepang sangat diterima dengan baik. Kami suka makanan Indonesia dan ingin kembali lagi untuk bersantai dan liburan. Kami terus berusaha mengadakan konser di luar Jepang bahkan sebelum major debut kami. Terima kasih banyak untuk semua support dan sampai bertemu lagi di live show kami berikutnya di Indonesia!

Grrrl Power! An Interview with BIKINIES

Bikinies by Aloysius Nitia

The Jakarta’s literal riot grrrl band, Bikinies, kembali ke permukaan dengan sebuah album mini yang akan membuatmu berkeringat. 

Sadly, kita harus mengakui jika band perempuan yang bagus di Indonesia masih terbilang sangat minim. Kita pernah punya band perempuan paling keren di Indonesia yaitu Dara Puspita di tahun 60-an dengan skill bermusik yang tak kalah dengan kaum pria. Kita juga pernah melihat beberapa band lain yang semua personelnya perempuan muncul sekilas, namun tak ada yang pernah benar-benar berhasil menancapkan kuku mereka di kancah musik Indonesia. Dan kini, ketika bicara “girl band” di Indonesia berarti bicara tentang sekelompok gadis imut yang bernyanyi lip-sync dengan gerakan koreo yang seragam, band perempuan asal Jakarta, Bikinies, mungkin menjadi satu-satunya harapan untuk mengembalikan lagi makna dari kata “girl band” yang sesungguhnya.

            Terdiri dari Selviana Shapie (vokal), Victoria “Meti” Anastasia (gitar/back vox), Dhany Arliyanti (bass), dan Tiffany Ayu Puspasari (keyboard), nama Bikinies sebetulnya bukan nama yang benar-benar baru. Band yang terbentuk akhir tahun 2003 ini merupakan bagian dari booming band-band keren bentukan anak-anak Institut Kesenian Jakarta yang membangkitkan dan mendominasi skena musik indie Jakarta circa pertengahan era 2000-an silam.

            Dengan influens bermusik dari The Donnas, Bikini Kill, Jossie And The Pussycats, dan band-band perempuan berkarakter lainnya, Bikinies meramu musik pop rock bernapaskan riot grrrl dengan tempo kencang, distorsif, dan penuh semangat. Bikinies pun menyumbangkan lagu dalam kompilasi musik indie legendaris Thursday Riot di tahun 2005 lalu dengan single “Like An Idiot” dan dua tahun kemudian, single “C’mon” masuk kompilasi 24 Hour Campus Hits vol.2. Sayangnya, band ini kemudian sempat menghilang karena kesibukan masing-masing personel, bahkan sebelum merilis satu album pun.

            Enam tahun berselang, namun Bikinies ternyata tak pernah benar-benar tenggelam. Tahun ini mereka merilis self-titled album mini pertama mereka yang berisi empat lagu yang memproklamirkan jika Bikinies masih ada dan siap untuk menggebrak lagi. “Kenapa lama sekali… karena semua butuh proses yang matang dari segi arrangement lagu dan musik, yang masih berubah dan akhirnya matang. Juga karena kesibukan dari masing-masing personel. Dan kita mengerjakannya semuanya secara santai, nggak terburu-buru supaya maksimal. Proses recording-nya sendiri itu terjadi di bulan April 2013 setelah semua arrangement fix dan maksimal. Maka kami pikir sekarang waktu yang tepat untuk mengeluarkan EP kita,” ungkap mereka.

            Diperkuat dua additional player pria bernama Christian Kity (additional guitar) dan Pasha van Krab (drum), BIKINIES EP dibuka oleh single “Dance Floor Mafia” yang memacu adrenalin dan sama intensnya dengan dua lagu selanjutnya “Come On” dan “My Ex Boyfriend” sebelum ditutup oleh “Like A Bottle Of Beer” yang lebih akustik dan kalem. Menyusul respons positif untuk album yang memang telah ditunggu ini, mereka pun mulai tampil di beberapa show lagi, termasuk dalam gig bertajuk Identite di Home Club, Singapura. “Menyenangkan! Tidak terlalu ramai pengunjung tapi venue & crowd-nya asik, nggak pada malu-malu untuk joget. Tidak menyangka musik & perform kita dapat diterima oleh masyarakat Singapura dengan baik. Seru juga sih karena bisa kenal band-band lain yang emang musiknya keren-keren,” kenang mereka akan gig yang juga menghadirkan Puti Chitara dari Indonesia dan dua band Singapura, Obedient Wives Club dan .gif, tersebut.

            Kita bisa berharap jika EP ini hanya perhentian sementara sambil menunggu mereka melaju dengan potensi maksimal dalam sebuah full album. Kini, sambil menanggapi undangan gigs dan menyiapkan sebuah video klip, mereka mengaku sudah berencana untuk melanjutkan recording kembali dengan target album baru tahun depan. In the mean time, let’s wish them Godspeed and dance with their EP.

Logo

http://bikinies.bandcamp.com/

As published in NYLON Indonesia November 2013