#30DaysofArt 22/30: Prayudi “Herzven”Herlambang

Jauh sebelum menjadi street artist seperti sekarang, pria kelahiran Jakarta, 7 Juli 1993 yang lebih dikenal dengan nama alias Herzven ini telah lebih dulu mencoret tembok rumahnya dengan alat gambar apa saja yang bisa ia temukan saat kecil. “Saya ingat dulu paling sering diajari menggambar orang sedang poop dari belakang oleh kakek saya yang memang menyukai hal-hal konyol dan bukan seorang seniman/perupa visual,” kenang lulusan Politeknik Negeri Media Kreatif yang tinggal di Depok ini. Injeksi humor dan kebebasan corat-coret dari masa kecil tersebut tetap terbawa dalam karya-karyanya sampai saat ini. Namanya menarik perhatian ketika ia memenangkan ajang Secret Walls di Indonesia Comic Con dua tahun terakhir ini bersama tim Indo dan Hongkong, namun sebetulnya ia telah aktif mengembangkan karyanya sejak masa kuliah baik secara personal maupun bersama komunitas street art seperti KOMPENI (Komunitas Pencinta Seni) dan Gerilya Visual, serta berpameran di beberapa tempat, termasuk Galeri Nasional.

unnamed

Apa yang mendorongmu berkarya?

Yang mendorong saya untuk berkarya sampai saat ini ya simple sih, karena saya belum memiliki alasan untuk berhenti melakukan hal ini dan saya sangat menyukai hal ini karena dengan cara ini kita berkomunikasi dan bersilaturahmi.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Saya ingin menggambar dengan cara yang enjoy, lepas, nggak harus mikirin salah ataupun mirip nggak mirip. Dan juga saya selalu melihat referensi-referensi dan sering mengkhayal aja, berimajinasi ngebayangin hal-hal yang absurd dan keren… Oh iya satu lagi, yang penting kita senang ngelakuinnya, mirip-mirip pas masih kecil dulu kalau lagi gambar corat-coret.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Banyak banget! Aryz, Osgemeos, Astronautboys, ROA, Saner Edgar, Salvador Dali, Neckface, Jean-Michel Basquiat, dan masih banyak lagi karena semua teman-teman saya adalah orang yang menginspirasi saya juga sih.

2015-06-10-04-01-59-1

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Coret-coretan anak kecil, bebas, ceria, slebor… asoy… geboy. 

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Kalau ditanya ekshibisi pertama saya lupa, tapi yang jelas saya selalu suka ketika berekshibisi dengan banyak teman-teman dulu dan lebih suka ngobrol dan ngumpul-ngumpulnya sih, hehe.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media sekarang?

Ya seru sih, dengan era yang kaya sekarang sangat memudahkan saya untuk menjalin komunikasi dengan teman-teman antar kota, antar provinsi, antar pulau, bahkan antar negara sampai saya punya teman dari Pantai Gading.

arlin_x-herz2

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Selalu berhasil menahan kebelet poop ketika sedang mau live painting bahkan sampai acara Secret Walls. Mungkin ini kutukan dari ajaran kakek saya dulu, hahaha.

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Asoy sih, sudah mulai berkembang art scene di sekitaran sini.

What’s your secret skill beside art?
Hmm ya secret lah, harus nongski bareng saya baru bisa ngelihat kelebihan-kelebihan lain saya.

2015-01-15-05-02-59-1-wllppr

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah sih biasanya… Di rumah teman, di rumah pacar, di rumah teman-teman band, dan banyak rumah-rumah lagi pokoknya lah.

Project saat ini?
Project Bismillah.

Target sebelum usia 30?

Impian saya adalah panjang umur sampai melewati usia 30 tahun. Amin!

image4

#30DaysofArt 5/30: Arnis Muhammad

Lahir dan besar di kota kecil Bireun yang merupakan salah satu daerah konflik paling parah di Aceh membuat mural street artist kelahiran 20 Januari 1993 ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk menggambar. Terinspirasi dari ibunya yang merupakan seorang penjual bunga hias, Arnis gemar mengeksplorasi pattern bunga matahari yang kemudian menjadi salah satu ciri khas karyanya sampai saat ini, di samping pattern ikan yang muncul kemudian serta folklore. “Awalnya, aku menggambar cuma sekadar sebagai hobi. Lalu, sewaktu pindah ke Banda Aceh saat aku tamat SMA, aku kenalan dengan salah satu street artist bernama Dhian Saputra. Dia lah yang mulai memperkenalkan aku dengan dunia street art,” ungkap pria yang gemar menghabiskan waktunya di pantai ini. Karya pria yang kini tinggal di Banda Aceh ini telah menghiasi banyak hal, mulai dari tembok, badan perahu, surfing board, hingga ekshibisi bertajuk Modern Myths di Artotel Sanur, Bali.

arnis-muhammad

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Awalnya sih karena penasaran, waktu liat teman aku si Dhian itu menggambar, aku jadi pengen bisa buat karya seperti itu juga. Dan akhirnya aku coba, terus ketagihan sampai sekarang.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Seperti yang sudah aku ceritain, karena medium style yang pertama kali aku coba itu dinding dan cat tembok, dan aku langsung jatuh cinta, jadinya kurang tertarik coba ke medium style lain.

 Apa idealismemu dalam berkarya?

Idealisme aku sih simple, I do what I like to do, no matter what people say. Jadi, walaupun ada yang bilang gambar aku aneh, perwarnaan aku nggak kuat, dan segala macam, aku anggap sebagai masukan aja, tapi nggak membuat aku jadi berubah konsep atau ikutin trend gitu. Aku tetap dengan karakter aku sendiri.

peusijuk-2017

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Artist yang banyak menginspirasi aku itu Caratoes, Sofles, dan yang dari local talent aku suka Darbotz.

 

Masih ingat ekshibisi pertamamu?

Karya ekshibisi pertama aku itu di acara Piasan Seni Aceh 2014. Waktu itu aku gambar Cut Nyak Dhien dengan gaya karakter aku sendiri. Alhamdulillah, respons masyarakat lumayan bagus dan bikin aku makin semangat buat berkarya lagi.

Pencapaian yang berkesan sejauh ini?

Baru-baru ini aku dapat kesempatan ikutan exhibition Modern Myths di Artotel Bali. Ini suatu kebanggaan tersendiri bagi aku yang dari kota kecil ini bisa dikenal lebih luas dengan skala sebesar itu.

rimung-aulia

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Aku merasa sangat terbantu dengan adanya social media ini. Selain aku bisa lebih mudah tampilin karya aku ke orang banyak, aku juga bisa dengan mudah ikutin perkembangan seniman-seniman lainnya.

Current obsession?

Aku sekarang lagi tertarik mendalami mitos-mitos yang ada di daerah pesisir pantai Aceh. Awalnya untuk mencari bahan buat exhibition yang di Bali kemarin, sekarang malah jadi keterusan buat mencari lebih banyak lagi.

 5-mitos-aceh

Bagaimana kamu melihat skena seni di kotamu?

Untuk Banda Aceh sendiri, pergerakan seninya bisa dibilang masih dalam proses berkembang. Masih ada banyak talent berbakat yang kurang terekspos, karena kurangnya ruang untuk berkarya.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

PANTAI! Hahaha!

Project saat ini dan target yang ingin dicapai sebelum umur 30?

Cuma simple project sih, Aku ada kolaborasi dengan brand lokal Aceh, dan juga project buat video gambar sama salah satu videographer di sini. Untuk target sebelum 30 tahun, pengen bikin pameran tunggal pastinya.

under-gloomy-sky