Man About Time, An Interview With Joe Taslim

Berbekal persistensi dan work ethic yang telah teruji oleh waktu, Joe Taslim tiba di saat yang tepat untuk menyelamatkan perfilman Indonesia dari kelesuan dan stagnasi pemeran yang itu-itu saja. Di antara himpitan jadwal yang kian memadat, aktor karismatik ini menyelipkan satu jam untuk berbincang dengan Baccarat Indonesia. 

STYLING ANINDYA DEVY FOTOGRAFER HILARIUS JASON MAKE UP & HAIR ARTIST ARIMBI TEKS ALEXANDER KUSUMA PRAJA LOKASI THE WESTIN JAKARTA

Hidup di kota besar dengan segala tantangan dan peluang yang bergulir begitu cepat, time could be your bestfriend or your worst enemy. Lengah sedikit, Anda bisa tergilas oleh waktu. Selayaknya Russian roulette, Anda mungkin tak akan pernah bisa 100% yakin kapan the perfect timing bisa mengantarmu ke kesuksesan atau justru stuck di satu tempat. Some people might believe in miracle and coincidences, others believe success comes to those who dare and act. Joe Taslim termasuk dalam golongan yang kedua.

Nama pria kelahiran Palembang, 23 Juni 1981 ini mencuat di publik ketika ia turut berperan di film laga The Raid pada tahun 2011 lalu, walaupun sesungguhnya ia telah mulai berakting di feature movie sejak tahun 2008 lewat film horror berjudul Karma dan film drama Rasa setahun setelahnya. Brutal dan penuh adegan bela diri yang membuat penonton tercengang sambil menahan napas, The Raid yang digarap oleh sutradara Gareth Evans adalah sebuah film martial arts action yang bisa dibilang breakthough dan mengharumkan film produksi Indonesia di mata dunia, termasuk nama para pemerannya. Peran Joe sebagai sosok Sersan Jaka di film ini berhasil memukau penonton dengan mata tajamnya, tubuh tegap, dan tentu saja keahlian bela diri mumpuni yang berasal dari background-nya sebagai atlet judo profesional yang sempat tergabung dalam timnas judo Indonesia.

            People fell in love with him dan sosoknya kian dikenal lewat berbagai photoshoot majalah dan komersial. Menyusul kesuksesan The Raid di ranah internasional, proyek Joe selanjutnya meliputi proyek skala internasional Dead Mine, sebuah film action horror produksi HBO Asia yang dirilis di sejumlah negara Asia. Not long after that, he got his first Hollywood role dalam Fast & Furious 6 yang lantas disusul dengan peran untuk Star Trek Beyond. Dengan pencapaian karier yang membanggakan tersebut, Joe pun memantapkan kakinya sebagai salah satu aktor Indonesia papan atas di saat umurnya telah melewati umur 20-an dengan filmografi yang sebetulnya masih bisa dihitung dengan jari.

Ditemui di presidential suite The Westin Jakarta, Joe yang memenuhi jadwal interview & photoshot untuk edisi ini datang sesuai jam yang telah disepakati ditemani beberapa entourage. Menyapa semua orang dengan ramah dan terlihat casual dengan t-shirt putih, jogger pants, sneakers, serta topi snapback yang bertengger di kepalanya, you can’t help but to feel his laid-backness. Namun, ketika ia berganti wardrobe dengan sharp tailored suit dan beraksi di depan lensa kamera (not a new thing for him since he used to be a model), Anda bisa merasakan auranya sebagai Joe the movie star. But make no mistake; behind all the glitz as an actor, Joe is a fighter, family guy, and social activist at the same time. Tanpa membuang waktu lebih lama, kami pun berbincang dengannya tentang the past, present, and the future.

L1001519

Hai Joe, boleh ceritakan aktivitas Anda belakangan ini?

Sekarang baru selesai syuting film action, The Night Comes for Us. Kita syuting 3 bulan, syuting terlama untuk film Indonesia yang pernah saya lakukan. Saya main jadi anti hero character, he’s a bad guy but looking for salvation. Tapi harga yang harus dia bayar untuk semua dosa yang dia lakukan, to go back to the right path itu mahal sekali. It’s very dark. Karakternya juga dark banget. Itu sudah selesai tapi saya langsung ambil film drama, judulnya Surat Kecil Untuk Tuhan, untuk balancing the psychological aja sih buat saya. Dari main film yang sangat keras, berdarah-darah, daripada saya harus ke psikolog gitu kan atau meditating, it’s better to do the other path, which is ambil film yang sangat drama, yang no violence and no action at all. It’s something I like to do untuk balance for me as an actor.

Jadi akting di film drama bisa menjadi semacam terapi juga ya?

Yes, therapy. Biasanya kalau syuting panjang kita mainin satu karakter bisa terbawa, bisa sampai ngomong sendiri kadang di rumah. Kalau syuting cuma sebulan mungkin nggak, tapi kalau di atas dua bulan, setiap hari mostly kita di set mainin karakter itu dari pagi sampai malam, we need time to balikin lagi. Dibanding lakuin itu, if I can, I will do the opposite, play different character yang benar-benar opposite dari karakter sebelumnya which is works. Kalau nggak, bisa tambah gila, haha.

Film Surat Kecil Untuk Tuhan ini sendiri tentang apa?

Ini film drama tentang anak-anak sih, sesuatu yang ingin saya lakukan dari dulu banget, bikin film yang bisa ditonton semua umur, especially kids, yang punya message penting juga untuk apa yang terjadi di seluruh dunia sekarang tentang anak-anak terlantar, human trafficking, penculikan, harvesting organ, segala macam. Saya berharap film itu bisa jadi campaign juga untuk isu anak-anak terlantar. It’s a movie yang harusnya bisa menginspirasi banyak orang sih.

Mengingat banyak film Anda yang mengandung kekerasan, apakah selama ini anak-anak Anda juga ikut menyaksikan film Anda?

Saya pernah main film drama tiga tahun lalu dan mereka nonton. The Raid juga sebetulnya mereka nonton tapi tetap saya dampingi untuk menjelaskan kalau semua itu hanya seni, semua itu hanya props. I try to give them angle agar jangan terperosok dalam ilusi violence yang disajikan di film itu. And they understand, so it’s cool sih harusnya, nggak masalah. Tapi anak yang paling kecil nggak lah. Yang sudah 10-11 tahun saja yang sudah punya logic yang baik.

Apa reaksi anak-anak kalau lihat ayahnya di layar?

Mereka sudah biasa sekarang. Dulu kalau lihat foto saya di jalan, di billboard misalnya, masih suka excited, sekarang sudah biasa. They understand it’s my job, papanya kerja di industri yang membutuhkan papanya dipajang di mana-mana, it’s their dad’s job to represents brand, to be in a movie and delivers character. Saya rasa mereka juga sudah mengerti inside-nya, bukan cuma dari luarnya saja. It’s a job, just like any other job like makeup artist or photographer. Kalau aktor atau singer mungkin memang dapat spotlight khusus karena mereka adalah frontline to deliver sebuah project atau brand, tapi sebenarnya sama aja, everybody’s working hard behind the scene. Di industri ini, it’s all about collaboration.

Flashback sejenak, bagaimana masa kecil Anda di Palembang?

Saya dulu dari kecil memang diarahkan orangtua untuk jadi atlet. Masih kecil ya sekolah, sore latihan, its quite discipline life. Main ya main tapi karena fokusnya juga udah ada di sekolah dan olahraga, jadi main ya seadanya, tapi jadi lebih tersalurkan lah. Karena ingin cari yang cocok, saya sempat coba banyak hal. Bulutangkis, taekwondo, kungfu, judo, wushu, bahkan tinju pun pernah sempat mau saya coba.  Tpi akhirnya memang harus fokus di satu cabang dan saya memilih judo, saya juara nasional dan masuk timnas. 

Dari sekian banyak bela diri yang pernah ditekuni, kenapa memilih fokus di judo?

Judo dari saya kecil pun is mostly something that fun dan seru. Judo memang bela diri yang butuh kegigihan, karena prosesnya juga nggak ada yang gampang, dibanting, dicekik, dipatahin, dikunci segala macam. Tapi kalau memang gigih it could reach some point yang membanggakan. Memang keuletan itu yang nggak gampang. Kalau latihan pasti sakit, tapi setelah sekian lama, when you adapt to the pain, you need the pain everyday, it’s something yang seru, setelah dinikmati ya its good pain yang bikin kita lebih kuat physically and mentally, which I think that help a lot in my career as actor now. Secara mentally and psychologically I was raised in very warrior way. Jadi di dunia seni pun I think its same work ethic, harus gigih dan kerja keras, nggak cepat puas, respect, karena core-nya judo memang respect dan discipline. Disiplin itu sih yang banyak membantu di dunia perfilman ini. Banyak orang yang nggak punya core itu. They think acting is just mambo jambo spotlight, getting famous and the girls or get the cover of magazine, they don’t know the foundation of it. It’s a profession. It’s not something you want to brag to other people about.

Jadi, bagaimana Anda akhirnya terjun ke showbiz?

I always love movies. Dari kecil its part of the family tradition juga untuk nonton film bioskop bisa seminggu dua kali or at least sekali because my dad is a huge fan of movies. Mungkin dari situ juga timbul keinginan untuk terjun ke industri ini. Awalnya saya mulai dari commercial, ada satu brand yang membutuhkan talent dengan skill judo, they ask me to go to the audition and then I got the job, that’s my first introduction to camera and shooting process. Dari situ banyak tawaran seperti photoshoot untuk magazine dan runway. For me its learning process. Dari 2001 sampai 2006, it was tons of auditions, tons of work here and there. Audisi untuk iklan, photoshoot, runway, sinetron, FTV… I just did everything just to know industri ini seperti apa sih. Sama seperti bela diri, I learn so many martial arts, but at some point I know I need to focus on one. Salah satu hal yang membuat saya menjadi good judo-ka dulu karena saya mempelajari banyak martial arts lain dan membawa elemen-elemen itu ke martial art yang saya tekuni. Sama seperti industri ini, by the time I decide to focus on acting in feature movie, I have a good foundation and already learnt many things that I could deliver through my experiences, right?

Saat pertama kali berakting di film Karma, apakah waktu itu Anda sudah menikah?

Yes, I was married in 2004, Karma keluar di 2008. I got married when I was really young but I think its good, jadi bisa lebih fokus ke kerjaan. Sudah nggak pikir main-main lagi. Agendanya cuma satu, I just want to be a good actor. Kalau belum kawin mungkin I just think about the girls or party, you know? It’s probably one of the keys that brought me here. Kebanyakan orang kan when they get famous, the distraction around the art sometimes too strong, they got carried away and forgot it’s a profession you love, not the illusion around it.

So you think you started your career on the right time?

Yeah, I think everything happens for reason. Karier saya baru berjalan mulus when I was about 30, below 30 it was struggle all the way, which is happens for reason. Kalau saya mendapat semua apresiasi ini di umur 20, maybe I would be somebody else. Mungkin saya tidak bisa menahan diri dan belum cukup matang. Tapi di umur 30 sekarang dan sudah menikah, saya bisa fokus di pekerjaan. Nggak ada yang aneh-aneh lah. Ini bukan sesuatu yang buat main-main, it’s my life. Not just for being on screen and get famous, this is my life and my career.

Do you already feel settled now?

I’m happy. I think my personality juga bukan yang terlalu ambisius. I don’t think I’m very ambitious guy, I think I believe in doing a bit by bit in perfect way will lead you to the dream and point you couldn’t think you could achieve. Jadi dibanding bikin sesuatu yang grande, I’m kinda guy who a bit OCD in term of how I work. Bagi saya lebih penting memperhatikan detail dalam pekerjaan karena kita nggak akan tahu ke mana hal-hal ini bisa membawa kita. I love surprises, so jalanin apa saja dengan sepenuh hati, dan tiba-tiba, jackpot!

L1001878

Well, mungkin bagi banyak aktor Indonesia the ultimate dream adalah go international main di film Hollywood, but you actually already did that.

I never have a big dream about it to be honest. Kalau berandai-andai mungkin siapapun pasti pernah, tapi kalau untuk bermimpi terus dipikirin nggak sih. This is an unpredictable profession because this is art, it’s very hard to judge. You never sure if you did a good work in one project and it could lead to the other. It doesn’t work that way. It needs a little bit of magic yang munculnya dari keyakinan and it has to be fun. Dan saya selama ini melakukan semua project, apakah itu komersial atau film, semuanya harus I know I’m going to have so much fun. It’s not because of the money or what, I know when I read the script and then I think I will have so much fun in this one, I’m gonna give everything. That’s it. Kalau project-nya sukses atau nggak, it doesn’t matter because I win already. I would never lose because I did it for the sake of I believe in it and I’m very happy for it. Jadi itu sih, filmnya mau kaya apa juga I’m a winner already. In my case, do your profession with love and always give 110 percent, always give perfection to every details and it could lead you somewhere to probably you won’t imagine before.

Do you have any bucket list in acting?

A lot pastinya. Secara karier film saya juga masih belum banyak. Kalau lokal ingin kerja dengan Joko Anwar, Ifa Isfansyah, Hanung Bramantyo. Kalau di luar pasti lebih banyak lagi pastinya, haha. As long as the story make me fall in love with, then anything could happen.

Talk about time, punya brand favorit untuk jam tangan?

I have Omega and Rolex, dua itu yang aku suka sih. I’m very loyal in terms of brands. Jadi kalau sudah suka satu, I feel I don’t want to betray the brand I love. Jadi jarang juga nyoba-nyoba, biasanya kalau sudah coba satu atau dua, ya sudah stay di situ saja.

Pertimbangannya apa kalau membeli jam tangan?

Banyak orang yang memakai jam tangan sekadar untuk fashion. Tapi kalau saya melihat jam tangan itu as a little bit of hint about who you are. Kalau pakai jam tangan untuk meeting and meet people, hal itu memberikan kesan jika kamu adalah orang yang peduli soal waktu, sedangkan design-wise, it’s also show what kind of a guy you are. Kalau saya sendiri sih memang stay to leather and steel. Nggak suka yang modelnya aneh-aneh. Classic watches like Omega or Rolex never disappoint me. They always fit me really good and I think my character also represented. So it’s not like I’m representing the brand, but the brand help me to represent who I am. Like this guy care about time, discipline, classic, persistence and detail oriented. Jam tangan bisa memberikan ilusi tentang diri kita. Not always, but it helps.

Anda sempat posting foto rapper Tupac Shakur di Instagram, kalau musik Anda suka mendengarkan apa?

Banyak sih yang saya suka. I’m an old soul jadi saya nggak begitu mendengarkan lagu-lagu sekarang, kecuali yang bagus banget, picky sih. Saya suka dengerin lagu zaman dulu seperti Stevie Wonder, Tupac, Biggie, atau lebih tua lagi The Beatles. Maybe because I’m not that young anymore, haha.

Anda juga sering posting video main piano di Instagram dan bilang jika hal itu membantu membangun mood dalam berakting. Memang gemar main musik ya?

Just for fun, not professionally. Musik selalu berhasil membangun mood apapun. Seperti di film kan semua dibangun dari musik. Nonton film kalau nggak ada musiknya, you don’t know what you are watching. Saya main piano belajar sendiri dari YouTube. Sekarang semua bisa dipelajari dari YouTube. Asal gigih saja, persistence. Kalau gigih apa sih yang nggak bisa? Kalau bosenan, nyerah, ya nggak bisa belajar apa saja. Alasan orang can’t do what they want karena mereka kurang gigih atau cuma sekadar mengikuti tren.

Ada skill lain yang ingin dipelajari selanjutnya?

I want to speak different languages, ingin belajar Mandarin, Korea, Jepang… Saya rasa bahasa Asia sudah sangat penting sekarang. Different instruments juga kalau di musik. Itu hal yang sangat membantu di sela kesibukan. If I have the option, I rather sit in front my piano instead of hanging out. Ini sesuatu yang positif lah and time is ticking, I’m not that young anymore and I love to learn a lot of things, jadi kalau ada waktu ya I want to learn or try new things. Especially in music, kalau udah bisa piano, I wanna go to different instrument and learn it from YouTube. Ada kenikmatan belajar sendiri. Kalau dengan guru, you’re just following order. When you learn from YouTube, you will find your own system, you teach yourself. Dan pada saat berhasil, ada kepuasan tersendiri yang beda.

Di Instagram, Anda juga kerap posting soal social campaign seperti He for She Campaign dan Fight or Flight. Tell us more about it.

Kalau Fight or Flight itu saya bantuin campaign teman saja sih. My friend is an UFC champion and actor in L.A. Dia bikin campaign soal bullying. Kalau orang dipukulin ya jangan victim terus, lo harus melawan. Ini campaign untuk orang memperkuat diri jadi he asks me to give support and I did it because it’s a good campaign. Itu sesuatu yang saya lakukan di sela kesibukan. Helping them, helping the campaign but actually I’m helping myself too, it bring peace to me. Directly or indirectly, like it or not, celebrities have power to build the awareness and influence the people, jadi gunain yang benar aja. Kalau ada yang minta tolong as an influencer to doing something good I would say yes. I don’t have a reason to say no.

Kalau tentang He for She?.

He for She Campaign itu tentang penyetaraan gender di seluruh dunia. Kalau di He for She Indonesia kita mencoba bilang bahwa kesempatan harus sama antara laki-laki dan perempuan, penyetaraan gender di semua bidang, di instansi pemerintahan dan swasta, salary harus sama, dan perempuan juga berhak menjadi pilar pembangunan Indonesia ke depannya and have opportunity untuk sama-sama membangun negeri. To make it work, kampanye ini memang butuh dukungan dari semua laki-laki, kalau untuk perempuan doang jadinya terpisah. The point is always untuk bikin orang aware dulu, lewat social media dan nanti juga video yang sudah kita shoot akan dimasukkan ke bioskop dan digital.

Do you see yourself as a humanitarian?

I want to be. But I don’t know, it depends on what you do, you cannot say yourself as a humanitarian but you never really there. I try my best to, at least support the humanity program. But to claim myself as humanitarian I don’t think I have the credibility. I haven’t been in Syria, Sudan, or Aceh. So far I’m still doing it through penggalangan dana and the practical campaign to raise the money for them. But I don’t think its enough. I’m just a supporter of humanity.

What make you proud as Indonesian actor?

I’m proud as Indonesian actor because being Indonesian actor brought me my career. Saya kan bukan orang Indonesia yang tinggal di Amerika. Bukan orang Indonesia yang pindah ke Amerika terus berkarier di sana dari nol. Karierku dimulai di sini dan yang membukakan pintu untuk film-film Hollywood yang aku dapat itu karena aku main film Indonesia. Film Indonesia The Raid yang membukakan pintu aku ke sana, that’s the movie I’m always being proud of, karena kalau nggak ada film itu ya nggak ada Fast, Star Trek, dan nggak ada hari ini juga. That’s Indonesia movie, man. You have to be proud too.

Pernah ada keinginan untuk tinggal di luar negeri demi karier?

Pindah sih belum. I don’t think so, kecuali memang pekerjaan di sana harus stay lama. Tapi juga akan balik lagi, I don’t think I will move to anywhere else. Kalau ada tawaran film di luar ya kita bakal syuting, kelarin. Udah kelar ya pulang lah. Sekarang belum kepikiran sama sekali, plus everything is fine here. Semua di sini baik-baik saja. Education wise it’s good, life wise it’s good. It’s home lah.

Including the recent politics situation?

It’s okay… Everything is gonna be fine. When it’s done, it’s done. Everybody will hug each other.

Hopefully.

Possibly.

L1001424 copy

Advertisements

Eyes Wide Open, An Interview With Nasya Marcella

Selayaknya langit malam, dunia layar kaca tak pernah sepi akan bintang-bintang yang terus melesat berkilauan. But once in awhile, selalu ada sosok-sosok tertentu dengan pijar tersendiri yang lebih dari paras cantik belaka. Kami pun menemukan that something special thing dalam diri Nasya Marcella yang simply irresistible. Mari buka mata lebar-lebar untuknya.

img_8681

Dibesarkan di zaman ketika televisi masih menjadi sumber hiburan utama di rumah, jujur saja, saya termasuk anak yang tumbuh dengan menonton sinetron lokal for guilty pleasure dan karena memang kurangnya pilihan tontonan lain saat itu. Namun, seiring bertambahnya umur dan kesibukan (and dwelling in YouTube, obviously) saat ini saya termasuk orang yang hampir tidak punya waktu untuk menonton stasiun televisi lokal. Alhasil, saya nyaris tidak familiar lagi dengan para pendatang baru yang menghiasi layar kaca Indonesia saat ini. Tapi sebagai pekerja media, terkadang saya merasa perlu menyempatkan diri untuk tune in sejenak di stasiun-stasiun TV lokal demi meng-update diri sendiri soal who’s who in television nowadays (and the local infotainment buzz, for another guilty pleasure) dan tidak butuh waktu lama untuk mengetahui fakta jika sinetron tampaknya memang masih mendominasi jam-jam prime time televisi lokal dengan deretan wajah-wajah rupawan yang mostly berdarah Kaukasia.

Some things never really change, I guess. Namun, seperti yang sudah sempat saya singgung sebelumnya di atas, dari sekian banyak bintang-bintang muda yang silih berganti muncul di layar perak dengan talentanya masing-masing, pasti ada saja segelintir nama yang memiliki sparkle tersendiri yang seolah mengundang kita untuk mengenalnya lebih jauh. Dan Nasya Marcella adalah salah satu di antaranya. Cantik? Itu sudah pasti. Dengan pembawaan girl next door yang sangat manis dan senyuman berlesung pipit yang teduh, dara bernama lengkap Victoria Nasya Marcella Tedja tersebut memang terlihat selayaknya gadis impian yang menjadi the object of affection dalam kisah-kisah komedi romantis. It’s easy to fell in love at the first sight with her saat melihatnya di berbagai judul-judul sinetron atau iklan yang ia bintangi, namun saat melihatnya secara langsung di malam final NYLON Face Off akhir tahun lalu, saya harus mengakui jika she’s even prettier in real life. Dengan senyum radiant yang seolah menular dan kepribadian super sweet, ditunjang perannya sebagai brand ambassador untuk label kosmetik remaja Emina, it’s really no brainer jika kami memilihnya sebagai cover girl edisi Beauty tahun ini.

            Di sebuah pagi di pertengahan bulan Januari lalu, ia datang tepat pada jam yang telah ditetapkan untuk pemotretan ini. Memakai kemeja blus bermotif gingham warna pastel dengan jeans putih yang senada, ia melepas kacamata hitam yang bertengger di atas hidung bangirnya untuk menyapa kami dengan senyuman manis. Ditemani oleh sang mama yang selalu setia mengantarnya memenuhi berbagai jadwal, ia pun duduk dengan sabar menunggu tim makeup & hair datang sambil sesekali mengecek smartphone miliknya. Untuk mencairkan suasana, saya pun bertanya tentang kesibukannya akhir-akhir ini yang dijawabnya dengan antusias. “Kemarin terakhir itu habis main film layar lebar judulnya Abdullah dan Takeshi, sebetulnya belum selesai, masih ada satu hari lagi untuk syuting tapi jadwalnya belum ketemu sama yang lain. Sama paling photoshoot-photoshoot gitu sih. Ini film pertama aku, seneng banget, terus udah gitu syutingnya ke Jepang juga!” paparnya ceria.

            Saat tim makeup & hair akhirnya tiba, interview ini pun kami lanjutkan di depan meja makeup. Sambil membiarkan wajah segarnya mulai dirias, ia melanjutkan ceritanya soal film debutnya tersebut yang turut dibintangi oleh Kemal Palevi dan Dion Wiyoko. Bergenre komedi, dalam film yang direncanakan tayang bulan Maret ini Nasya berperan sebagai seorang mahasiswi yang terjebak dalam perebutan dua pria berdarah Arab dan Jepang yang tertukar saat lahir. Proses syutingnya sendiri di Jepang hanya berlangsung selama empat hari, namun Nasya harus extend beberapa hari ekstra untuk syuting iklan terbaru Emina sekaligus merayakan ulang tahun ke-19 yang jatuh di tanggal 9 Desember silam. “Itu pas ulang tahun pas aku lagi syuting, tapi sebelum ulang tahun aku justru punya free time ke Disneyland sama mama berdua dari pagi sampai malam. Ulang tahun di Jepang seneng sih, tapi karena lagi jauh jadi ngerayainnya cuma aku sama mama dan tim Emina, karena tim film udah pada pulang. Ulang tahun nggak ketemu sama keluarga… Agak gimana gitu rasanya… Tapi aku tetap teleponan sama keluarga, mereka ngucapin happy birthday. Agak sedih sih karena nggak ketemu langsung, sama teman-teman juga. Tapi pas aku pulang dan sampai di Jakarta aku dapet surprise juga sama temen-temen, hehe,” ungkap gadis Sagittarius tersebut tanpa bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.

img_8977

Walaupun saat ini sudah tergabung dalam sebuah manajemen artis, Nasya mengaku ia masih lebih suka ditemani sang mama ke mana saja. Tak hanya menjadi sahabat dan sosok manajer pribadi, sang mama juga yang menjadi pendukung utama ketika ia memutuskan terjun ke dunia entertainment. Lahir dan besar di Jakarta, anak tengah dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan tersebut memulai kariernya sejak kelas satu SMP di tahun 2010 lewat beberapa iklan dan ajang modeling. Lain dari yang sempat saya perkirakan, walaupun sepintas dari wajahnya terlihat memiiki darah blasteran, Nasya mengaku jika orangtuanya berdarah Jawa tulen. “Cuma masih ada kakek di Semarang, jadi setahun sekali aku pulang ke Semarang. Mungkin di keluarga, aku memang kaya beda sendiri gitu, kayanya aku paling belo deh di keluarga makanya dulu sering disuruh coba aja jadi artis, padahal di keluarga aku memang nggak ada yang sama sekali di dunia entertainment. Awalnya coba sih karena penasaran aja, aku casting sama ikut modeling yang di mall gitu, karena nggak ada basic jadi awalnya nggak tau harus ngapain juga, tapi terus mama daftarin les modeling yang berguna banget karena dulunya aku memang anaknya cuek banget sih, lewat les itu aku jadi belajar dandan, belajar pakai baju yang bagus kaya gimana, belajar jalan, sama ngelatih kepribadian aku juga,” ceritanya mengenang awal perjuangannya sebelum akhirnya masuk ke dunia sinetron yang membesarkan namanya.

“Kalau sinetron sendiri baru pas kelas 9, mau masuk SMA. Awalnya juga nggak kepikiran main sinetron sama sekali karena masih sekolah, tapi ya udah iseng aja ikut casting terus ternyata dipanggil diajak main sinetron yang sudah tayang. Aku pikir seru juga karena syutingnya kaya jalan-jalan, ke Puncak, ke Anyer… Tapi ternyata nyita waktu, akhirnya pas SMA aku sempat sekolah reguler tapi terus keluar dan home school. Tapi home school-nya masih ada kelasnya juga jadi nggak boring. Sekelas ada sekitar 10 orang, aku tetap cari yang ada temannya juga sih, nggak pengen yang bener-bener sekolah sendirian,” akunya.

Berbekal dengan keberanian mencoba hal-hal baru untuk mengembangkan bakatnya, perannya sebagai Safira di sinetron berjudul Satria yang diputar di tahun 2011 itu menjadi pengantar baginya untuk fokus di kancah sinetron dengan membintangi sinetron-sinetron selanjutnya seperti Yang Masih Dibawah Umur, Magic, Akibat Pernikahan Dini, Fortune Cookies, dan Jakarta Love Story, walaupun ia mengaku tidak memiliki basic akting sebelumnya. “Apa ya, aku belajar dari pengalaman aja, dari casting iklan kadang ada akting dan dialognya juga kan. Yang pasti sih harus rajin pelajarin skenario terus waktu itu kaya banyak nanya dulu, dimarahin sutradara pasti pernah karena nggak hapal dialog tapi lama-lama akhirnya terbiasa sih. Pokoknya jangan malu untuk bertanya, jangan malu untuk dimarahin, kalau dimarahin ya dipelajarin salahnya di mana, belajar dari kesalahan.”

Dengan kontrak bersama SinemArt, ia pun kerap beradu peran dengan para bintang muda lainnya di bawah rumah produksi tersebut. Salah satu yang cukup sering adalah dengan Stefan William, salah satu aktor muda yang paling digilai penggemar sinetron saat ini. Dengan Stefan ia sempat bermain dalam tiga judul produksi. Mau tak mau, ia pun sempat digosipkan cinta lokasi yang lantas ditampiknya halus dan dianggapnya sebagai usaha untuk membangun chemistry dengan lawan mainnya saja. Tentu saja beberapa orang tampaknya tidak semudah itu untuk diyakinkan. “Bukan cuma nanyain, ada yang sampai ngata-ngatain juga, haha! Mungkin nggak bisa dibilang haters aku sih, tapi mereka lebih kaya fans-nya Stefan sama si ini atau si itu. Mereka kaya ‘Kenapa sih Kak Stefan sama Kak Nasya?’, ‘Ih cantikan dia tau daripada Kak Nasya’, ‘Kak Nasya kan orangnya gini gini gini’… Tapi nggak sampai yang buat haters gitu sih. Aku biasa aja sih hadapinnya, lucu-lucu aja, kadang ada yang setiap aku upload apa, benar-benar dikomenin tiap foto tapi ya udah nggak apa-apa, malah bagus haha, berarti dia care sama aku,” tukas Nasya dengan santai.

Untuk menjaga hubungan dengan fans, Nasya termasuk aktif di Instagram dengan followers sejumlah 242 ribu saat artikel ini ditulis. Selain Instagram, Nasya juga mengaku aktif di Ask.fm, sebuah media sosial yang memang cukup digandrungi belakangan ini karena memungkinkan para penggunanya untuk saling mengirim dan menjawab pertanyaan secara langsung. “Kalau Twitter aku susah balesinnya, kalau di Ask.fm bisa langsung dijawab terus bisa anon juga. Sempat ada yang nanya aneh-aneh, tapi aku sering off-anon biar yang nanya harus keliatan namanya, seru sih Ask.fm.” ungkap pemilik akun nasmarcella di situs tersebut.

img_8495

Beside the occasional haters, enam tahun berkarier di entertainment, Nasya tampaknya telah cukup merasakan manis-pahitnya industri ini. Ia menyukai fakta jika lewat kariernya ia bisa bertemu dengan banyak orang dan menambah pengalaman, di samping tentunya memiliki penghasilan sendiri sehingga tidak harus merepotkan orangtuanya lagi, walaupun ia sepenuh hati sadar jika ada beberapa hal yang harus dikorbankan untuk meraih itu semua. “Ya aku jadi korbanin pendidikan. Dulu pas mulai sinetron ambil home schooling biar tetap sekolah tapi ambil jalan tengahnya, sekarang juga belum sempat kuliah. Waktu juga terkuras karena syuting. Jadwal di entertainment kan nggak tentu ya, kalau kerja kantoran kan udah tetap Senin sampai Jumat, tapi ini hari Minggu suka ada kerjaan juga jadi kadang-kadang nggak bisa ke gereja atau ke acara keluarga. Orang-orang sekitar aku jadi susah bikin janji, aku jadi nggak enak tapi kalau bisa nyusul aku pasti nyusul, misal ke acara keluarga atau ketemu temen,” bukanya dengan jujur dan tanpa pretensi.

Untuk urusan kuliah, Nasya mengaku jika beberapa jurusan yang menjadi pertimbangannya adalah Psikologi dan Komunikasi, namun jika ditanya soal passion, ia sebetulnya ingin belajar soal makeup and beauty dengan serius. Well, saat ini ia memang tidak hanya menjadi brand ambassador bagi Emina, beberapa bulan belakangan ia pun sibuk mengembangkan bisnisnya sendiri di bidang beauty, yaitu label fake eyelashes dengan nama Enlashes yang dijual secara online. “Aku memang suka makeup dan dandan, aku udah jadi brand ambassador makeup juga terus aku mikir apa lagi yang masih relate, ya udah akhirnya bulu mata, iseng-iseng dan menurut aku kalau bulu mata untuk penyimpanannya nggak perlu sampai yang punya gudang, kalau misalkan nggak laku juga aku santai aja, soalnya bulu mata kan nggak terpengaruh sama trend. Kalau jualan baju pasti ada trend kan, ini project santai banget untuk waktu luang aja,” tukasnya.

Dengan interest khusus pada makeup and beauty, ia juga percaya diri untuk merias wajahnya sendiri sebelum syuting dengan skill yang ia dapat dari menonton para beauty blogger favoritnya seperti Michelle Phan dan Peary Pie. “Kalau menurut aku makeup mereka cocok karena nggak terlalu tebel tapi variasinya banyak. Terus mereka Asian juga, jadi lebih bisa relate untuk contoh warna makeup-nya. Beauty Icon aku itu Michelle Phan karena dia keren terus orangnya keliatan ulet kerjanya, dia bisa sukses dari blogger jadi entertainer juga, bikin buku, terus kerjasama sama brand kosmetik terkenal juga,” paparnya dengan excited saat berbicara soal subjek favoritnya tersebut.

img_9564

Untuk urusan personal style, penikmat film bergenre superheroes dan young adults series seperti Hunger Games Trilogy dan The Divergent ini mengaku tidak memiliki gaya khusus untuk mendeskripsikan dirinya. Ia memilih mood untuk menentukan outfit yang ia kenakan walau saat ini ia mengaku lebih menyukai gaya yang simple dengan two piece dan monokromatis sesuai umurnya yang telah beranjak dewasa. No more short pants, dan tentunya mental yang terus berkembang. “Ya, setiap ulang tahun aku kaya lebih ke mindset aja, ini udah umur baru harus lebih dewasa lagi, emang nggak terlalu keliatan banget perubahannya tapi dari dalem aja. Rasanya kaya harus lebih berani, nggak boleh manja, jadi lebih kaya bangun mindset gitu. Terus harus lebih happy. Lebih lega. Be better aja. Pembawaannya dari tahun ke tahun harus punya mood yang lebih bagus lagi.”

Di umur yang hampir 20 tahun sekarang, apakah Nasya sudah mulai memikirkan untuk menjalin hubungan yang serius? Saya memancingnya dengan pertanyaan seputar Valentine’s Day. “Jomblo nih, jadi nggak ngerayain Valentine, haha! Paling sama keluarga aja, aku suka kasih bunga ke mama. Kalau kemarin-kemarin sebetulnya belum boleh pacaran karena masih sekolah, sekarang sih sebetulnya udah boleh, tapi belum ada juga, hehe,” ucapnya dengan agak tersipu. Sosok seperti apa yang dicari olehnya? “Carinya yang seagama aja, orangtua pasti ingin anaknya sama yang seagama, terus kalau bisa yang nggak kerja di entertainment juga. Kalau maunya orangtua sih kaya gitu, kalau aku sendiri  sebetulnya nggak terlalu ngerti yang gitu-gitu karena nggak banyak pengalaman juga, tapi kalau kata orangtua sebaiknya seperti itu. Jadi ya udah ikutin aja. Sama yang lebih dewasa sih yang pasti secara pemikiran,” tandasnya mantap.

Walaupun telah mengantungi berbagai profesi mulai dari aktris, model, brand ambassador hingga beauty entrepreneur, rasa penasaran untuk mencoba hal-hal baru dalam dirinya tampaknya belum bisa terbendung. Ia membocorkan keinginan untuk menambah resumenya lagi. Yaitu? “Aku belum pernah nge-host! Aku punya beberapa teman yang jadi MC terus keliatannya seru banget, aku juga jadi pengen coba, tapi belum ada kesempatannya aja. Dan kayanya memang harus punya karakter sendiri, kalau jadi MC mungkin aku jadi bawel sih jatuhnya, haha!” Bebernya.

Hampir satu jam telah berlalu, wajahnya sudah selesai dirias dan ia pun bersiap berganti baju untuk first look yang akan ia kenakan. Untuk menuntaskan obrolan kami, saya meminta Nasya untuk mengutarakan keinginan dan targetnya untuk tahun 2016 ini. Dengan mata yang membulat jenaka, ia pun membuka mulutnya untuk menjawab. “Di tahun ini… Aku ingin sukses antara sinetron atau film. Mungkin harus memilih salah satu karena kalau dua-duanya nggak mungkin deh. Sama bisnis bulu mata ini bisa jalan dan ada kemajuan. Sama dapat pacar kali ya? Haha.” Well, it’s her coming of age days after all and it looks as bright as her eyes.

img_9811

Foto oleh: Hilarius Jason.

Styling oleh: Andandika Surasetja

Makeup artist: Virry Christiana

Hair stylist: Jeffry Welly

Asisten Stylist: Kanishka Andhina

Lokasi: TM Studio

Love Actually, An Interview With Velove Vexia

Nylon April

Dengan attitude santai dan easy going, Velove Vexia melangkah tenang dengan temponya sendiri baik dalam karier maupun sisi kehidupan lainnya. Yang jelas, she’s not here for taking your order, she’s here to be herself.

Audrey Hepburn pernah berkata: “The beauty of a woman must be seen from in her eyes, because that is the doorway to her heart, the place where love resides.” Sayangnya, di suatu pagi awal Maret lalu, Velove Vexia masuk ke studio pemotretan dengan ditemani seorang asisten dan mata yang ditutupi sunglasses tebal. Tanpa buang waktu, ia pun langsung duduk di depan meja rias. “Uhm… Jelek,” tukasnya singkat saat ditanya kabarnya hari itu seraya melepas kacamata hitamnya dan membiarkan rambutnya tergerai bebas. Sebuah jawaban yang intimidatif dan kita jelas tahu bagaimana menyebalkannya harus bekerja di pagi hari dengan mood yang kacau. Namun, secepat kata itu terlontar dari mulutnya, senyuman jahil pun menyemburat di wajahnya. “Enggak, it’s just becanda!” serunya dengan mata berbentuk almond yang menyipit jenaka dan memancarkan keramahan sang pemiliknya. As simple as that, kami bisa merasa ini akan menjadi pemotretan yang menyenangkan.

            Nama Velove Vexia jelas bukan nama asing bagi mereka yang memiliki televisi. Mengawali karier akting di layar perak, gadis berdarah Manado-Jawa tersebut dengan cepat dikenal banyak orang berkat paras cantiknya yang terkesan innocent dan aktingnya yang terlihat natural, serta tentu saja namanya yang ear-catching. Saya selalu penasaran arti di balik namanya yang keren dan bertekad jika bisa ngobrol dengannya, pertanyaan pertama saya adalah mengenai namanya. “Aku juga nggak tau sih, there’s must be some meaning tapi aku juga nggak pernah nanya. Cuma kalau nama aku its actually ada ‘a’-nya, jadi bukan ‘Velove’ tapi ‘Vaelove’. Jadi sebetulnya namanya ‘Vaelovexia’ nyambung. Cuma karena orang susah manggilnya, jadi ‘Velove Vexia’. Kalau ‘Vaelove’ sendiri itu dari nama belakang mamaku yang digabungin sama ‘love’ jadi artinya kaya ‘love from the mother’,” jelasnya dengan senyum simpul.

            Menyoal sang mama, aktris kelahiran Jakarta, 13 Maret 1990 tersebut mengungkapkan jika ibunya mungkin orang pertama yang mendorongnya untuk berada di spotlight, bahkan sejak ia masih kecil dan sama sekali tidak berminat untuk hal itu. “Dari kecil my mom obsesinya pengen aku jadi model, artis, atau something like that, cuma aku dulunya tomboy sekali. Aku aja waktu SD itu kalau pakai rok rasanya malu. Karena aku punya kakak dan adik cowok jadi aku juga main sama teman-teman mereka dan kalau pakai rok malah malu takut diejekin. Jadi mama dulu kaya yang nyuruh aku ke sanggar, ikutan dance, ikutan pemilihan Abang None cilik dan aku menang, tapi aku nangis dan cemberut karena sebetulnya itu tuh obsesinya mama. Karena aku juga ogah-ogahan, akhirnya dia stop ngedorong aku. Eh tiba-tiba sekarang malah jadi artis sendiri tanpa dibantuin mama, jadi kayanya emang udah jalannya sih,” kenang putri dari pengacara terkenal O.C. Kaligis tersebut.

Velove1

Dress: Jaquemus @ Escalier, Shoes: Camper.

Ia menyebut karier entertainment-nya sebagai sebuah ketidaksengajaan yang berawal dari sebuah liburan di Bali dan bertemu manajer yang kemudian membukakan jalannya ke showbiz lewat peran utama di sinetron bertajuk Olivia tahun 2007 silam. Dalam sinetron tersebut ia berperan sebagai sang title character, seorang gadis enerjik yang menyamar sebagai cowok demi bergabung dengan klub sepak bola. “Awalnya aku nggak mau main sinetron karena aku juga bukan penonton sinetron, terus akhirnya ketemu satu produser yang tadinya ngomongin film eh tapi ujung-ujungnya ngomongin sinetron. Aku kaya yang ‘Ambil nggak ya?’ Terus temanku ada yang bilang ‘Udah ambil aja, coba’, so I take it for experience,” jelasnya.

Tanpa background akting sama sekali sebelumnya, Velove mengaku sempat clueless saat pertama kali syuting. “Kan kalau syuting they change the angles and everything. I was like, ‘Lho tadi kan udah adegannya? Kenapa diulang-ulang?’ Aku kaya beneran clueless gitu dan aku ingat ada adegan yang ceritanya aku akting kaget, itu menghabiskan 12 kali take karena aku nggak mau kaget yang lebay. Aku sampai argumen dengan sutradaranya karena walau main sinetron, tapi aku nggak mau akting yang lebay gitu. Akhirnya sutradara mengiyakan dan untungnya nggak apa-apa aku akting dengan gaya natural,” paparnya sambil membiarkan wajahnya dirias dengan makeup yang, well, natural. “I learn along the way but still with my style. Director dan produser yang adapt to my kind of acting. I don’t wanna do the ‘lebay’ thing. Karena saat itu rating sinetronnya bagus for almost a year, jadi produsernya okein dan penonton juga suka,” imbuhnya.

Kesuksesan sinetron tersebut pun membuahkan berbagai tawaran menarik lainnya, dari mulai sinetron, FTV, film, bintang video klip, hingga menjadi brand ambassador. Seiring kesuksesan yang ia raih, atensi publik pun mau tak mau mulai mengintainya, termasuk soal kehidupan pribadinya. “Awalnya to be honest its tough for me, karena aku memang nggak suka attention dan segala macem. I’m quite introvert sebetulnya. Dari kecil aku tomboy tapi sering ngabisin waktu di kamar, sampai sekarang pun aku hobinya ya baca buku di kamar. Diliatin orang itu nggak nyaman sebetulnya. Awalnya sih lebih kaya risih diliatin terus, lagi makan diminta foto. Sebetulnya bukan nggak suka sama mereka tapi aku memang nggak nyaman karena bawaannya introvert. Kadang lagi capek pun harus ngeladenin orang untuk interview. Dan waktu mulai akting itu aku masih kecil kan, masih sekolah. Jadi nggak terbiasalah, awalnya shock. Bukannya yang makin tampil atau apa, aku justru malah makin menutup diri, kaya ‘Pak tolong dong saya jangan difoto,’ tapi ya udahlah that’s the risk.”

Velove2

Atasan: Topshop, Rok: DKNY.

Berbeda dengan kebanyakan artis muda yang sedang naik daun lainnya, Velove tak ragu untuk menunda karier yang sedang mekar-mekarnya demi mengejar kehidupan akademis. Setelah vakum selama setengah tahun untuk fokus ujian sekolah, ia sempat bermain dalam satu produksi sinetron lagi sebelum pergi ke Paris untuk kuliah di Catholic Institute of Paris. Setahun di Paris, ia pindah ke Los Angeles untuk kuliah Bisnis Manajemen di Santa Monica College. “I know that one day I want to be a businesswoman,” ucapnya sebelum meneruskan, “Aku memang tertarik sama bisnis. Sebetulnya aku juga suka sih analisa yang berhubungan dengan hukum. Cuma mungkin karena dari kecil udah biasa ngeliat papa jadi lawyer mungkin ada aja rasa ingin coba something else. Dan kayanya aku juga nggak berani deh mesti berantem-berantem sama lawyer lain di persidangan,” tukasnya ketika ditanya kenapa tidak memilih jurusan Hukum seperti ayahnya.

“Senangnya di luar negeri itu karena nggak ada yang kenal, jadi lebih bebas mau ngapain tanpa ada yang ngeliatin, mau makan sendiri pun tenang aja. Kalau di sini kan suka ngerasa ada mata-mata tertuju malah jadi salah tingkah. Terus kaya lagi amburadul aja aku bisa cuek pergi. Kalau di sini, setiap misalnya aku lagi kucel baru bangun tidur terus ke supermarket pasti ada aja ketemu orang dan minta foto terus di-upload ke social media, aku kaya ‘Oh my God!’ ceritanya lagi sambil menyisip air mineral.

Tinggal sendirian di West L.A. membuat Velove belajar untuk hidup mandiri sekaligus menikmati privacy yang jarang ia dapat. Menghabiskan me time di pantai, menyusuri toko-toko vintage, dan road trip menjadi pengalaman yang priceless baginya. The best of it? “Road trip ke San Francisco straight from L.A. Gempor sih!” cetusnya bersemangat. “Ke Vegas juga pernah karena gara-gara ada teman yang punya pesawat sendiri so I don’t need passport, karena waktu itu aku juga belum punya California ID jadi ke mana-mana masih pakai passport. Berangkat sama dia dan keluarganya naik pesawatnya tapi aku baru ingat aku harus pulang ke L.A. karena ada ujian, nah karena nggak bawa passport ya nggak bisa naik pesawat dong, jadi aku naik mobil balik ke L.A. itu capek banget nyetir berapa jam. Itu aneh sih kaya perginya oke deh naik private jet tapi pulangnya nyetir sampai gempor, haha! Tapi seru sih!” ceritanya sambil tertawa lepas.

Tiga tahun di Amerika, bukan berarti namanya tenggelam begitu saja di ranah entertainment Tanah Air. Dalam kurun waktu tersebut Velove sering kali menyempatkan pulang ke Indonesia saat liburan untuk ikut beberapa produksi sinetron dan film, termasuk film Mika yang dirilis tahun 2013. Di film yang disutradarai oleh Lasja Fauzia Susatyo tersebut, Velove tak hanya menjadi pemeran utama yang bersanding dengan Vino G. Bastian tapi juga menjadi executive producer. Kalau pun tidak pulang ke Indonesia, ia akan mengisi harinya dengan mengikuti kelas Thaiboxing atau Bar Method sambil tak lupa mengeksplorasi sisi femininnya. “Aku mulai belajar makeup justru pas di Amerika. Kalau ada waktu luang, kadang abis kelas aku suka pergi sendiri ke Sephora, mainan makeup terus belajar sendiri dari YouTube,” ucap Velove yang menyebut Grace Kelly sebagai beauty icon-nya.

Velove3

Atasan dan rok: Balenciaga

Bicara tentang beauty, kecantikan Velove dan personality-nya yang classy yet approachable membuatnya dipercaya sebagai brand ambassador Maybelline yang berpusat di New York. “It’s a long journey,” ujarnya tentang hal tersebut, “Karena dari  L’Oréal (induk company Maybelline) sendiri kalau milih brand ambassador kan harus disetujui sama tim New York juga dan banyak banget saingannya. They always keep on looking karena kan untuk long term juga, jadinya lama prosesnya hampir setengah tahun.” Perannya sebagai brand ambassador Maybelline tak sebatas menjadi wajah di berbagai ad campaign label tersebut, tapi juga terlibat dalam berbagai aktivasi seru. “Banyak banget, kaya kemarin sempat ada Maybelline Goes To School, aku dan Ryan (Ogilvy) keliling ke beberapa sekolah and I mean it’s not something yang biasa aku lakukan. Kaya ke sekolah ketemu anak-anak sharing beauty tips dan interaksi sama mereka langsung, kapan lagi kan? Sekolahnya juga bukan di Jakarta aja, sekolah yang di daerah juga kita datengin. Beda banget kan anak Jakarta sama anak yang di daerah, mereka lebih polos dan banyak yang nggak bisa dandan tapi mereka sangat antusias dan nggak jaim. It was fun!” pungkasnya, excited.

So what’s her beauty secret, anyway? “Aku sih nggak ribet, sumpah… Aku sih yang penting rajin bersihin muka. Menurutku ritual utama itu fokus di kulit karena kalau kulit kamu bagus, ya udah it’s just stunning. Kalau kulitnya kotor mau di-makeup kaya gimana juga susah jadi aku benar-benar ngerawatnya kulit banget. Sebetulnya nggak ada perawatan khusus, cuma cuci muka itu harus rajin banget. Kalau pakai makeup langsung hapus, jangan dibiarin seharian,” ungkap Velove sebelum kemudian mendefinisikan arti beauty untuknya secara personal: “Beauty is something yang bisa diapresiasikan oleh orang. Jadi, beauty is very subjective, it depends on the people. Tergantung dari kamu melihat beauty itu seperti apa. Tapi beauty menurut aku harus inside and out. It’s a must, kamu nggak bisa cantik di dalam doang tapi luarnya nggak ditata dengan bagus. Atau luarnya cantik tapi dalamnya nggak.”

Lucky for her, she’s indeed not just a pretty face. Terlepas dari persona celebrity yang melekat padanya, ia ternyata seorang avid reader yang lebih memilih menghabiskan waktu untuk membaca buku di kamar dibanding hang out di mall. “Karena dari kecil papa biasain aku untuk baca. Waktu kecil every weekend, anak-anaknya dibawa ke toko buku untuk beli buku dan harus di-review. Akhirnya jadi kebiasaan beli buku. Waktu kecll aku sukanya baca Detektif Conan sama Shin-chan, that’s my favorite comic. Mulai bosan baca komik, aku mulai baca buku-bukunya papa, dan dulu dia suka novel Sidney Sheldon. Kalau sekarang aku lebih suka non-fiction kaya bisnis dan psikologi, cuma kalau novel gitu aku suka banget Paulo Coelho. Aku suka karena novelnya ada makna hidupnya, there’s something deeper, makanya aku suka baca,” ungkapnya. Hebatnya lagi, saat ini pun ia tak hanya sekadar menjadi pembaca buku, she’s also in the middle of writing her own book yang rencananya akan rampung pertengahan tahun ini. “It’s a non-fiction book but I won’t tell you more. Nanti aja pas keluar. It’s about women in general,” bocornya singkat.

            Menulis buku merupakan salah satu bucket list yang siap dicoretnya untuk tahun ini. Kebetulan, hari pemotretan dengan NYLON jatuh tepat satu hari sebelum ulangtahunnya yang ke-25. “Iya! Makanya sebetulnya hari ini tadinya nggak mau kerja, haha,” ujarnya saat disinggung hal itu. Well, 25 tahun biasanya identik dengan quarter life crisis dan segala kegelisahan menghadapi berbagai tuntutan, baik dari lingkungan maupun diri sendiri. It’s a turning point for most people, tak terkecuali bagi seorang Velove Vexia sekalipun. “Rasanya galau. Bukannya tentang mau kawin atau apa, tapi lebih ke what I want to do and what I want achieve. I think I need to travel more, aku harus lebih produktif, dan kaya gitu lah ada resolusi-resolusinya. Age is more than a number, aku juga pengen lebih healthy karena by the time I’m 25 which is tomorrow, metabolisme aku pasti menurun dan emang harus rajin olahraga dan lebih sehat.”

            Walaupun namanya dibesarkan oleh dunia entertainment, Velove tak pernah merasa harus aji mumpung mengambil semua tawaran yang datang. Ia memilih menjalani kariernya with her own pace, pun di usianya saat ini dengan gelar akademis yang sudah ia genggam. Untuk ukuran artis yang sepopuler dirinya, Velove pun sebetulnya baru dua kali bermain film layar lebar. Satu hal yang disebabkan oleh jadwal yang seringkali bentrok. Apakah untuk ke depannya ia masih berminat bermain film? “Masih dong, aku masih pengen main film tapi yang ceritanya lebih unik kali ya. Kalau ceritanya cuma drama doang aku malas karena menurutku nggak ada bedanya sama sinetron, mending aku syuting sinetron. Dan dari awal juga aku masuknya dari sinetron dan lebih dikenal di sinetron. Jadi kalau main film pun aku mau yang di luar karakter aku yang ceritanya lebih unik,” jawabnya tegas. Peran apa yang ia inginkan? “Pengen jadi Lara Croft. Aku suka film action dan karakter cewek yang tough. Menurut aku Angelina Jolie as Lara Croft itu keren sekali karena actually kan Angelina Jolie pernah ditawarin main film James Bond as a Bond girl cuma dia nolak dan dia bilang ‘I want to be the James Bond’ akhirnya dapetlah dia Lara Croft yang nggak kalah keren dari James Bond,” ceritanya dengan antusiasme yang terpancar dari wajahnya.

            Selain Angelina Jolie, ia juga mengidolakan sosok Ron Howard yang dikenal sebagai sutradara A Beautiful Mind dan The Da Vinci Code. Dengan bersemangat, Velove pun menceritakan sebuah kejadian unik saat ia tanpa sengaja duduk di sebelah Ron Howard di dalam pesawat on the way dari L.A. ke New York. “Aku sebetulnya pergi sama teman aku, cewek, tapi kita berdua maunya duduk di window, jadi kita nggak bisa duduk bareng. Kita duduk paling depan terus ada cowok duduk di sebelah teman aku super ganteng tipe cowok Wallstreet guy, sedangkan yang duduk di sebelah aku kaya kakek-kakek brewokan belum mandi, bawa ransel dan buka laptop, haha. Aduh, udah sok-sok tidur tapi diajak ngobrol basa-basi, ternyata aku satu sekolah sama anaknya dia di L.A. Terus dia tiba-tiba nanya aku, ‘Are you an actress?’ tapi aku bilang aja bukan soalnya dibilang aktris di Indonesia pun malas jelasinnya, karena banyak yang nggak ngerti juga Indonesia itu di mana. Terus dia bilang ‘You could be an actress,’ terus abis itu aku nanya, ‘How about you? Are you a blogger?’ Haha! Sumpah aku nanya ke Ron Howard ‘Lo blogger?’ terus dia jawab, ‘No I’m actually a writer and scriptwriter, and I’m also producer and director. Do you know Da Vinci Code?’ Terus aku yang ‘Yes! Oh my God! I love it!’ dan baru sadar kalau dia Ron Howard. Terus dia bilang aku bisa jadi aktris tapi harus ikut acting school karena di New York kan ketat persaingannya. Aku dikasih contact number-nya dan diundang ke premiere filmnya yang The Dilemma,” kenang Velove yang juga sempat ditawari menjadi penyanyi oleh produser American Idol yang ditemuinya secara tak sengaja saat sedang berbelanja. Sekali lagi membuktikan jika ia punya daya magnetis tersendiri dari dirinya yang membuat orang akan mudah berpaling ke arahnya, sebagaimanapun ia berusaha untuk tidak menarik perhatian. Kedua tawaran tersebut ditolaknya karena saat itu ia memang ingin fokus menyelesaikan kuliahnya.

I have two sides. Ada satu sisi yang aku perfeksionis idealis dan ada satu sisi lagi aku yang enjoying life. Jadi kalau lagi kerja ya kerja banget, tapi kalau santai ya bisa santai banget, nggak mau even pergi ke mall. I hate malls. Daripada ke mall mending aku di kamar baca buku, I get something for my thoughts atau traveling sendirian. Aku suka living in my own world,” ungkapnya.

Faktanya, selain membaca buku, traveling memang menjadi salah satu kegiatan favoritnya yang sering ia lakukan. Passport bahkan menjadi salah satu benda yang wajib selalu ada di tasnya. “Kadang biasanya abis dari kerjaan aku langsung ke airport jadi itu kenapa passport harus ada di tas aku dibanding aku tinggal di rumah. Karena sometimes aku suka random tiba-tiba ingin pergi. Paling sering sih Singapore, kadang pulang-pergi. My dad juga gitu sih, pernah beberapa kali aku diajak papa ke London and I have no idea jadi aku nggak bawa apa-apa, cuma paspor. Belanja bajunya di sana. Mungkin kebawa papa juga sih,” ungkapnya sambil menceritakan jika ia memang seringkali pergi bersama sang ayah, termasuk menonton World Cup di Brazil. “Yang paling berkesan di Meksiko. I think the best moment in my life itu, aku ke Cabo, Meksiko, di sana aku naik ATV ke gunung kaktus dan pas sunset kita tepat di atas gunung dan pas turun, langsung sampai di pantai yang nggak ada orangnya, kaya virgin beach gitu dan pas sunset itu kereeen banget, sumpah…” kenangnya dengan senyuman lebar dan mata yang berbinar, membuat siapapun yang mendengarnya seakan ikut menyaksikan langsung pemandangan tersebut.

Di usia yang saat ini telah menginjak 25 tahun, dengan steady career, recognition, dan support dari orang-orang terdekatnya, apalagi yang ingin dikejar olehnya? “Actually on the entertainment side, I’m quite satisfied. Sekarang yang belum malah yang di luar dunia hiburan, itu yang aku rasa pengen coba lebih banyak hal lagi. Kalau entertainment juga bukan main objective aku sebetulnya. Aku lebih sering nolak kerjaan sampai manajer aku kaya suka ngomel. Karena memang nggak pernah niat jadi artis, jadi aku lebih santai. Minat aku pengen jadi wanita karier tapi bukan di dunia hiburan, passion aku di bisnis,” tegas Velove tentang arah karier yang ingin ia jalani seterusnya.

Ketika pemotretan akhirnya rampung, jarum jam sudah menunjuk pukul tiga sore dan langit di luar yang mulai mendung. Tak ingin menahan the soon to be birthday girl lebih lama lagi, saya pun melayangkan pertanyaan terakhir untuknya, what’s next from her?Just wait and see!” ucapnya sambil membereskan barang bawaannya. “It will be surprise, dan pasti ada something different, I’ll keep you posted!” pungkasnya sebelum pamit dan mengucapkan terima kasih kepada semua orang di studio. Cantik, cerdas, dan berkarisma, well maybe she’s born with it.

Velove4

Atasan & rok: Burberry.

As published in NYLON Indonesia April 2015

Fotografer: Hilarius Jason

Stylist: Anindya Devy & Patricia Annash

Makeup Artist: Ryan Ogilvy

Hair Stylist: Jeffry Welly