#Xinjiapo, My Singapore Trip Part 2: Tiong Bahru & Laneway Festival

Hari kedua di Singapura: Mengeksplor hip culture dan festival musik paling seru di Asia Tenggara.

Setelah hari pertama dihabiskan untuk menelusuri art conclave Gillman Barracks dan night life di Haji Lane, saya terbangun di hari Sabtu tanggal 24 Januari dengan excitement penuh. Today is the day for St. Jerome’s Laneway Music Festival Singapore 2015! Tahun ini merupakan kali kelima festival musik asal Australia tersebut digelar di Singapura dan seperti biasa menghadirkan lineup keren dari established & upcoming indie musicians seperti FKA twigs, St. Vincent, dan Little Dragon. Tahun ini juga menjadi tahun pertama saya datang ke Laneway, so excited!

Well, Laneway sendiri baru akan dimulai sekitar jam 12 siang, karena itu kami punya agenda lain sebelum menuju Gardens by The Bay yang menjadi venue festival tersebut. Setelah breakfast di hotel, kami pun naik taksi dengan tujuan Tiong Bahru, sebuah tempat yang belakangan menjadi daerah hip di Singapura. Tapi, entah kenapa supir taksi kami salah menurunkan kami. Instead of Tiong Bahru, kami turun di Keong Saik Road di daerah Chinatown, yang sebetulnya tak kalah menarik untuk jalan-jalan. Daerah yang awalnya dikenal sebagai red light district ini sekarang dipenuhi oleh coffee shop, cafe, art gallery, dan bahkan sebuah coworking space yang akan segera dibuka. Di jalan ini juga terdapat Potato Head dan Three Buns, a familiar fixture if you’re Jakarta hipster. Dibanding naik taksi lagi dan kami pun sebetulnya tidak terburu-buru, kami memutuskan untuk jalan kaki ke stasiun MRT untuk menuju Tiong Bahru. Tentunya sambil menikmati gedung-gedung art deco di area Keong Saik dan gang-gang kecilnya yang seringkali dihiasi mural dan warna-warni vibrant yang membuat daerah ini terasa seperti a quaint little village.

Keong Saik Road

Setelah naik MRT dari Outram Park yang hanya berjarak satu stasiun dari Tiong Bahru, kami pun jalan kaki sedikit lagi sebelum akhirnya sampai di Yong Siak Street, salah satu jalanan di Tiong Bahru yang paling hip dengan deretan toko buku, cafe, coffee shop, dan organic store. Dibangun tahun 1930-an, Tiong Bahru yang artinya “Kuburan Baru” merupakan area perumahan paling tua di Singapura yang dulunya memang area pemakaman dan daerah perumahan yang sepi dan didominasi orang tua. Namun, thanks to para creativepreneur muda yang membawa hip culture ke area ini, Tiong Bahru sekarang telah hidup kembali menjadi tempat favorit para ekspat dan local cool kids di mana lifestyle establishment hidup berdampingan di antara bangunan ruko dari tahun 40-an dan pasar basah tradisional. Berjalan-jalan di Yong Siak sendiri yang didominasi apartemen dua sampai lima lantai dari zaman pre-war bertembok putih dengan balkon bundar dan tangga spiral yang khas adalah pengalaman yang menyenangkan. Di daerah yang cenderung tenang ini, waktu seakan berhenti. Di antara obrolan santai orang-orang yang sedang asik menyisip kopi, kamu masih bisa mendengar musik Chinese tradisional dan suara burung di antara pohon kelapa. It was very nice place to live, I think.

polaroidMAKER_31_01_2015 7_32_04polaroidMAKER_31_01_2015 7_33_14
Sampai di Yong Siak, kami sebetulnya ingin mencicipi kopi terkenal di 40 Hands Coffee, namun coffee shop tersebut tampak sedang ramai-ramainya. So, kami pun memutuskan untuk saling berpencar untuk mengekslorasi Tiong Bahru sendiri-sendiri sebelum makan siang. Yang langsung menarik perhatian saya adalah toko buku di seberang 40 Hands Coffee, yang bernama BooksActually yang bisa dibilang Aksara Bookstore-nya Singapura, walaupun jauh lebih mungil. Toko buku independen milik Kenny Leck dan Karen Wai ini dimulai tahun 2005 dan sempat berpindah-pindah sebelum akhirnya stay di Tiong Bahru dan menjadi literary hub bagi skena literatur lokal. Begitu masuk, it was love at the first sight. I mean, tumpukan buku-buku yang semuanya menggoda untuk dibawa pulang, terutama karya-karya para penulis lokal dan majalah-majalah indie setempat. Para pemilik toko buku ini tampaknya adalah penyuka kucing. Selain menjual banyak buku yang mengangkat tema kucing, toko buku ini memiliki tiga ekor kucing peliharaan yang dibiarkan bebas berkeliaran di atas tumpukan buku dan mencakar punggung buku, which is very cute dan malah terasa seperti “sentuhan khusus” untuk buku tersebut. Seolah hal itu tidak cukup, BooksActually juga menjual banyak pernak-pernik vintage yang menggemaskan. Mulai dari postcard, toples kaca, tumpukan kaset, foto-foto kuno, hingga koleksi Pez, semuanya adalah cobaan untuk mental dan dompet saya.

BooksActuallyBagian dalam BooksActually

Sadar saya belum melihat toko-toko lain, saya pun keluar sejenak dari BooksActually untuk melihat toko-toko sekitarnya. Tak jauh dari situ ada toko buku satu lagi berhias mural yang lucu bernama Woods in the Books yang khusus menjual buku anak-anak, bakery bernama Plain Vanilla yang terkenal dengan cupcakes-nya dengan dekorasi yang dihiasi jejeran sepeda vintage dan ayunan kayu, restoran Jepang bernama Ikyu, Bhutan Shop yang menjual produk-produk organik dari mulai bahan makanan sampai peralatan mandi, dan Open Door Policy (ODP), sebuah bistro bernuansa rustic dengan desain ruangan open-planned yang membuat tamu bisa melihat proses pembuatan masakan di balik dinding kaca. Sudah masuk jam makan siang, dan ODP pun obviously terlihat ramai. Untungnya kami sudah reservasi terlebih dulu dan segera duduk di meja kami dan mulai melihat-lihat menu. Semua menu yang ada di main dish sangat menggoda selera. Mulai dari 48 hour braised beef cheek with red wine quinoa and beetroot puree, roast akaroa salmon with crushed potatoes, grilled baby leeks and brown butter jus, hingga ODP wagyu burger with all the trimmings, garlic fries and japanese mayonnaise. Saya pun memesan burger andalan mereka tersebut. It was really big, tasty, and awesomely yummy!

Woods in the BooksODP famous burgerBelanjaan dari BooksActually
Membawa ransel berisi belanjaan buku ke festival musik mungkin bukan ide yang bagus, but I can’t stop myself untuk kembali ke BooksActually setelah lunch untuk membeli buku dan majalah. Buku yang saya beli bertajuk Lontar yang merupakan jurnal literatur para penulis Asia Tenggara dan majalah desain lokal, The Design Society Journal. Well, dengan ransel yang semakin berat, sekitar jam 2 siang kami berangkat menuju Gardens by The Bay di area Marina Bay yang menjadi tempat perhelatan Laneway Fest dalam tiga tahun terakhir ini. Di hari-hari biasa pun sebetulnya tempat ini menarik untuk dieksplor, terutama jika kamu penggemar dunia botani, I would like to come back to this place again, tapi untuk sekarang tujuan utama memang ke Laneway Festival, so here we go!

LanewayFest
Begitu masuk ke area festival, terlihat para festival goers dari regional Asia Tenggara dan Australia sudah memenuhi area rerumputan di bukit-bukit kecil ataupun berdesakkan menyaksikan para performer di tiga stage yang tersedia. This is my first Laneway experience, karena itu saya memutuskan untuk mengelilingi seluruh area Laneway terlebih dahulu sambil menikmati alcohol-infused popsicle dari Popaganda, checking out the booths and the crowd dan bertemu beberapa teman, termasuk Cherie Ko the Singapore’s indie darling, sebelum menuju depan stage untuk menyaksikan performance dari Pond, Royal Blood, dan Mac DeMarco. Hujan yang sempat turun agak deras tak membuat penonton gentar, dengan memakai disposable raincoat, orang-orang cuek asik berdansa di atas rumput dengan latar Marina Bay Sands Hotel, it was awesome.

Laneway2Laneway3
Semakin malam, semakin sulit untuk bergerak saking banyaknya orang yang datang. Tahun ini tiket Laneway berhasil sold out sebelum hari H dan sekitar 13 ribu orang dari Singapura dan kawasan Asia Pasifik memenuhi festival ini. It might be really crammed, tapi hal itu terbayar dengan aksi fenomenal dari para headliners dan semangat dari crowd-nya sendiri yang datang untuk menikmati musik dan bersenang-senang. Tak heran kalau Laneway Festival disebut sebagai Coachella-nya Asia Tenggara, it’s a must visit festival for the music lovers! Highlights tentang Laneway Festival akan saya post secara terpisah, namun yang pasti I really happy to finally watch FKA twigs live in front of my eyes!

Ketika St. Vincent merampungkan setnya sebagai performer terakhir Laneway tahun ini, waktu sudah melewati jam 12 malam. Selain Keenan, di hari kedua ini rombongan kami ditambah oleh pasangan musisi Lala Karmela dan Petra Sihombing yang memang baru bisa menyusul ke Singapura hari itu karena ada pekerjaan lain sebelumnya. Sebelum pulang ke hotel, kami sepakat untuk mengisi perut terlebih dulu. Daerah Clarke Quay yang dekat dengan hotel kami pun menjadi tujuan. Kawasan pinggir sungai ini juga telah dikenal dengan night life yang hidup, terutama karena waktu itu Sabtu malam, banyak sekali orang yang berjalan-jalan santai, hang out di cafe dan restoran (termasuk Hooters), atau party di beberapa club yang ada di area tersebut. Selesai mengisi perut di salah satu restoran Jepang, kami pun kembali ke hotel dengan perut kenyang dan beristirahat.

Laneway Team

Advertisements

The Characteristic of Contemporary Hipster

Berbicara karakteristik dari hipster modern, mungkin sebaiknya kita harus terlebih dulu mencoba memahami esensi hipster dari kacamata subkultur. But first thing first, dari awal mungkin kamu bertanya-tanya tentang apa sih sebetulnya pengertian subkultur? In a nut shell, subkultur adalah sebuah gerakan yang dilakukan secara kolektif oleh sekelompok orang yang merasa kurang nyaman dan memisahkan diri dari kultur dominan di sekitar mereka. Dalam praktiknya, subkultur bisa dibilang melakukan perlawanan terhadap lingkungan mereka yang bentuknya bisa berupa apa saja. Mulai dari agama, ideologi, politik, musik, gaya hidup, hingga fashion. Untuk membedakan diri dari orang-orang umum (the mainstream) di sekitar mereka, para penganut sebuah subkultur biasanya menunjukkan identitas diri lewat simbol-simbol tertentu seperti pakaian, musik, literatur, bahasa slang, dan berkumpul dengan orang-orang yang memiliki estetika, selera, dan ideologi yang sama.
Sebagai subkultur tersendiri, budaya hipster pun enggak lepas dari beberapa simbol tersebut. Namun bila diamati, ternyata subkultur hipster sebetulnya enggak memiliki satu keseragaman yang benar-benar bersifat unik dan kolektif seperti umumnya subkultur sebelum mereka. Secara visual, kita dengan mudah bisa mengenal kaum hippie dari baju dan musik psikedelik mereka atau anak punk dari jaket kulit dan rambut mohawk mereka. Dalam kasus hipster kontemporer, ternyata cukup sulit untuk menunjuk dengan pasti siapa saja yang bisa disebut sebagai hipster. Gadis berkacamata tebal yang gemar memakai vintage dress dan mendengarkan lagu-lagu pop Prancis tahun 70-an bisa dibilang sebagai hipster. Seorang desainer grafis yang hobi mengoleksi sepatu sneakers dan selalu update dengan lagu-lagu elektronik terbaru bisa disebut hipster. Demikian juga dengan seorang barista berkumis tipis dengan tato segitiga di lengan yang terkadang tampil sebagai DJ amatir di gigs lokal, dia pun bisa dibilang hipster. Secara penampilan, mereka memang terlihat berbeda tapi ketiganya bisa dengan cepat dicap sebagai hipster. Apa yang benar-benar menandakan jika mereka bernaung di bawah satu payung besar bernama hipster?
Dibandingkan beberapa subkultur populer sebelumnya, subkultur hipster yang lahir di era dengan keadaan sosial-politik yang relatif stabil terlihat tidak memiliki agenda perlawanan yang khusus selain kecenderungan mereka melawan kapitalisme dan kemonotonan hidup. Secara umum, it’s more like a fight against the boredom in life. Kultur hipster lebih ke arah individualisme, tentang bagaimana mengekspresikan diri sendiri lewat pemikiran maupun penampilan dan melakukan hal-hal yang memang kamu sukai tanpa takut dianggap aneh oleh orang lain. Secara natural, semua orang ingin terlihat stand out di antara sekumpulan orang lainnya dengan cara mengadopsi kode-kode visual tertentu seperti pakaian yang kamu pakai, musik yang kamu dengarkan, buku yang kamu baca, dan sebagainya sebagai simbol identitas diri. Hipster datang dari berbagai latar dan selera yang berbeda-beda, kesamaan yang menyatukan hipster adalah obsesi mereka untuk breaking away from the mainstream and making some personal statement.

Bila subkultur sebelumnya biasanya dimulai dari skena musik tertentu, dalam kasus hipster, internet lah yang menjadi faktor dominan di balik transformasi budaya. Dalam buku Strauss-Howe yang berjudul Millenials Rising: The Next Great Generations, mereka beropini jika generasi Millenials adalah generasi dengan sense of community yang kuat baik secara lokal maupun global, dan hal itu terbukti lewat internet. Bila di masa sebelum internet sebuah subkultur membutuhkan beberapa tahun untuk akhirnya terekspos media dan menjadi sebuah tren, kini hal itu bisa terjadi dengan sangat cepat lewat berbagai situs dan blog yang menjadi sumber informasi paling viral dan instan dibanding media standar seperti televisi atau majalah.
Hanya dengan duduk di depan komputer, kita bisa melihat gaya apa yang sedang ngetren di kota-kota besar seluruh dunia lewat berbagai street style blog atau mendengarkan band yang sedang happening di Brooklyn dan membangun komunitas secara online lewat orang-orang sedunia. Hipster yang besar di zaman internet memiliki kemudahan untuk menemukan berbagai referensi dari segala masa dan tempat dalam membentuk personal identity dan image, yang secara sadar atau tidak, ingin kita tampilkan ke dunia baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Booming berbagai situs social networking seperti Friendster, MySpace, Facebook, dan Twitter seakan menjadi wadah untuk menunjukkan taste personal kita dan menciptakan sebuah identitas baru yang enggak jarang jauh lebih keren dari bagaimana diri kita yang sebenarnya di dunia nyata.
Like suddenly, anak culun pendiam di kelasmu ternyata punya selera musik yang keren dan punya lebih banyak followers di Twitter dibanding kamu berkat isi tweet-nya yang witty dan sarkastik. Atau temanmu yang sebelumnya kamu ledek karena suka memakai baju ketinggalan zaman tiba-tiba menjadi seorang fashion blogger terkenal. The internet give you a chance to show the better and cooler version of your personal image. Disusul dengan makin canggihnya smartphone dan aplikasi seperti Instagram atau Path, yang melahirkan online sharing culture, yaitu tendensi bagi kita untuk memberitahu apapun yang sedang kita lakukan, makanan apa yang sedang kita makan, lagu yang sedang didengarkan, dan sebagainya secara langsung lewat social media. Kelihatannya memang enggak penting, tapi entah kenapa ada saja orang yang peduli dan enggak jarang kita ikut menikmati hal tersebut. Walau sharing culture ini juga yang membuat generasi Millenials dianggap generasi yang narsis dan terobsesi pada diri sendiri, namun its already became our culture dan menjadi cara untuk menunjukkan personal image kita ke dunia.

Enggak jarang juga, personal statement seseorang kemudian menular ke orang lain dan menjadi sebuah tren. Siklusnya kurang lebih seperti ini:

• Seorang hipster menjadi early adopter dengan mengadopsi satu referensi yang terlihat unik dan berbeda dibanding selera hegemoni di sekitarnya.

• Awalnya dia mungkin ditertawakan atau dianggap aneh, namun hal itu justru membuatnya merasa puas karena memiliki satu ciri yang berbeda dari orang lain. Dengan cuek dan penuh kebanggaan, ia memakai pakaian dan atribut yang menunjukkan referensi tersebut.

• Beberapa orang di sekitar hipster tersebut diam-diam mengagumi gaya berpakaiannya dan mulai meniru style yang sama sehingga menjadi sebuah tren di segelintir orang.

• Seiring waktu, tren yang dilakukan oleh segelintir orang tersebut menarik perhatian media yang memang selalu haus untuk memberitakan sesuatu yang baru. Media akan membahas tren tersebut, membuat sebuah istilah untuk menyebutnya, dan menetapkan beberapa stereotipe atau aturan sesuai persepsi mereka sendiri.

• Seorang selebriti terkenal ikut memakai gaya tersebut, dibahas oleh semua media lainnya, lalu tren tersebut secara resmi menjadi sesuatu yang dianggap cool dan trendi. Tak lama, beberapa toko retail pakaian besar seperti Zara, Topshop, atau Forever 21 memproduksi secara massal dan menjual tren tersebut sebagai koleksi musim terbaru mereka.

• Di poin ini, tren tersebut telah menjadi sesuatu yang mainstream. Orang-orang yang tadinya menertawakan sang hipster yang pertama kali memakainya, secara ironis akhirnya memakai gaya yang sama dengan harga yang lebih mahal dan model yang pasaran.

• Bagi hipster, tren tersebut sudah kehilangan nilai eksklusivitasnya dan mereka pun segera mencari referensi lain sebagai tandingan dari tren yang sebetulnya mereka ciptakan sendiri.

• Ulangi lagi semua proses tadi. Wash, rinse, repeats.

Tentu saja, sesuai kodratnya hipster secara reaktif akan mencoba menghindari apapun yang sedang ngetren dengan cara mengadopsi referensi yang belum dilirik orang lain. Tapi dengan semakin gampangnya sesuatu menjadi tren, hal itu pun terus terjadi berulang-ulang dengan cepat dan lama-lama akhirnya terjadi semacam kompetisi di kalangan hipster itu sendiri. Dari yang awalnya murni karena ingin menunjukkan selera pribadi, akhirnya mereka seperti berlomba untuk menjadi yang paling unik, paling beda, paling pertama menemukan the next big thing dibanding hipster lainnya. Istilah hipster berubah menjadi label bagi para pencetus tren dan menjadi target market potensial bagi industri mode dan gaya hidup yang akhirnya membuktikan definisi hipster menurut Oxford Dictionary: A person who follows the latest trends and fashions, especially those regarded as being outside the cultural mainstream.

Makna hipster sendiri akhirnya sudah bergeser dari sebelumnya. Hipster hari ini adalah mereka yang dianggap atau merasa dirinya cool, keren, dan selalu paling update soal tren terbaru. Menjadi hipster adalah jalan pintas bagi some people untuk berlomba menjadi keren. Mereka pergi ke acara yang sama dengan mayoritas orang lainnya, memakai pakaian dengan gaya yang sama, label yang sama, bucket hat yang sama, membaca majalah yang sama, mendengarkan musik yang sama, ikut heboh color run atau car free day bukan karena memang mendalami olahraga lari dan peduli kesehatan tapi demi update status di Path dan pamer sepatu Nike terbaru. Kata “hipster” sudah tidak lagi berkonotasi dengan “otentik” dan “unik”, namun menjadi sinonim bagi kata “gaul” atau “trendi” yang terasimilasi oleh the mainstream culture and its become a mainstream lifestyle.  istilah hipster menjadi sesuatu yang overused dan berubah menjadi komoditi kapitalis and it’s time to redefining the term all over again, for better or worse.

So, What Is A Hipster Anyway? An Open Discussion

Tulisan ini adalah bab awal dari proyek tentang hipster yang sedang saya kerjakan. Sengaja saya post di sini untuk sneak peek sekaligus memancing feedback. So feel free to discuss on comment box. EDIT: I open the comment box for anonymous account, so anon, let all Hell breaks loose!!!

Josephmark-Illustration-PocketHipster-LowRes-1

So, what is a hipster anyway?

“Hipsters are a subculture of men and women typically in their 20’s and 30’s that value independent thinking, counter-culture, progressive politics, an appreciation of art and indie-rock, creativity, intelligence, and witty banter.” ~ Urban Dictionary

Jadi, apa sih sebetulnya kata “hipster” yang sering kamu dengar dan baca sekarang ini? Well, kalau kamu pikir hipster yang akan dibahas di sini adalah model celana panjang dengan potongan ngepas di bawah pinggul yang sempat ngetren di kalangan cewek-cewek Indonesia, maka kamu salah besar karena saya enggak bakal ngomongin soal celana model hipster tersebut. Kata “hipster” yang dimaksud di sini mengacu ke sebuah fenomena subkultur anak muda paling signifikan di kota-kota urban seluruh dunia sepanjang dekade 2000 lalu sampai hari ini. Sebagai gambaran awal, pengertian hipster menurut situs Urban Dictionary di atas adalah persepsi tentang hipster yang paling gampang dicerna.

Yup, secara umum istilah hipster yang berasal dari Amerika Serikat memang merujuk pada sosok pria maupun wanita berumur belasan sampai tiga puluhan yang mengagungkan hal-hal independen (indie), kreatif, berwawasan luas dan progresif, menolak hal-hal yang dianggap umum dan populer (mainstream), serta menunjukkan sisi individualisme mereka lewat pemikiran maupun penampilan yang terkadang dianggap eksentrik bagi orang awam. Di negara asalnya, mereka biasanya berasal dari kalangan kelas menengah di kota-kota urban yang kental lingkungan kreatif dan kultur anak mudanya seperti New York, San Francisco, dan Chicago. Walaupun berasal dari Amerika Serikat, tentunya sekarang kita enggak usah jauh-jauh ke kawasan Brooklyn atau Wicker Park untuk mengenal kaum hipster. Berkat kemajuan internet dan arus informasi yang semakin hari semakin cepat, tren dari luar negeri dengan gampang bisa masuk dan diserap dengan cepat juga oleh anak-anak muda lokal yang melek teknologi dan tanggap pada perkembangan zaman.

Istilah hipster sendiri sudah mulai terdengar di Indonesia sejak pertengahan tahun 2000-an dan semakin banyak peminatnya 3 dan 4 tahun lalu di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogya. Sekarang, kemanapun kita pergi ke tempat atau acara yang didominasi anak muda, dengan gampang kita akan menemukan orang-orang yang secara penampilan bisa masuk kategori hipster. Dalam konteks lokal, khususnya di Jakarta, hipster adalah orang-orang yang bisa dijumpai di setiap konser musik garapan Ismaya Live, semua cabang toko buku Aksara, di concept store seperti The Goods Dept, acara budaya di Goethe dan Salihara, atau kafe-kafe berinterior trendi minimalis di daerah Senopati, Kemang, dan Panglima Polim.

You’ll know a hipster dari gaya mereka yang stylish, terlihat cerdas, mempunyai aura kekerenan, dan sering menyelipkan kosa kata Inggris atau kalimat berbau sarkastik dalam obrolan. Kalau masih ragu, coba lihat ciri-ciri lain yang lebih visual seperti celana digulung, kacamata berbingkai klasik, tote bag, iPhone, atau jam tangan Daniel Wellington mereka.

Enggak bisa dipungkiri, ketika istilah hipster semakin populer dan dikenal oleh banyak orang, mau enggak mau semakin banyak juga anak-anak muda yang ingin dianggap bagian dari that cool people with great sense of style and fantastic tastes tersebut. Kesan eksklusif dan trendi itu juga yang membuat banyak orang tergoda untuk ikut-ikutan bergaya seperti hipster yang akhirnya memperkuat stereotipe negatif jika hipster adalah anak-anak berduit, superficial, dan hanya mementingkan gaya tanpa tahu substansi di balik atribut yang mereka pakai. Saat ini, ketika menjadi hipster sudah bergeser maknanya menjadi sebuah tren, semua orang bisa saja terlihat seperti hipster dengan mengikuti dress code dan hangout di tempat tertentu. Tapi how we really define someone as a hipster? Apakah dengan memakai skinny jeans dan rutin datang ke konser musik indie sudah cukup untuk mengategorikan seseorang sebagai hipster? Well, not as simple as that.

Mungkin kita sering mendengar kata “hipster” dalam obrolan sehari-hari, tapi saat kamu bertanya “Apa sih hipster itu?” kamu mungkin akan kesulitan menemukan jawaban yang pasti, karena setiap orang punya definisi masing-masing tentang hipster di kepala mereka sementara sebagian besar cuma akan mengangkat bahu, terlalu malas untuk menjelaskan hal yang sebetulnya belum terlalu mereka pahami juga. Bila kurang puas, kamu mungkin akan mencari arti hipster di internet namun itu pun enggak terlalu membantu dan malah membuatmu semakin bingung karena situs Urban Dictionary saja mempunyai 400 entri lebih tentang definisi hipster. Bahkan kamus sekelas Oxford Dictionary pun hanya mendefinisikan hipster sebagai “a person who follows the latest trends and fashions” padahal hipster secara logika justru muncul sebagai orang-orang yang menciptakan tren mereka sendiri.

Well, untuk mencari tahu persepsi orang lain soal hipster, saya pun coba membuat survey kecil tentang hipster di Google Drive yang saya sebar di social media pribadi saya dan dijawab oleh 100 orang responden secara anonymous. Berikut adalah beberapa respons yang saya pilih secara acak dari pertanyaan “Menurut kamu, hipster itu apa?”

• Orang yang pengen beda sendiri, tapi enggak mau dibilang trendsetter, pengen dibilang eksklusif.
• Form of self-expression in quirky way.
• Hipster is being yourself. Simply loving something down to the edge, doing it in your daily life, and putting some spotlight so people have the perspective why you love that thing so much.
• Orang yang mengetahui dan mencari sendiri apa yang ia suka.
• Snob, terlihat casual padahal pakai barang mahal, ironis.
• Seseorang yang memiliki style tersendiri dan cuek terhadap komentar orang lain.
• Orang-orang yang menghindari apa yang dianggapnya sudah terlalu umum, terlepas baik atau tidaknya hal tersebut.
• Someone who is too cool to follow the mainstream and create his/her own definition of cool instead.
• Hipster itu pergi buat sahur ke warteg aja pake docmart, belagu banget.
• Orang yang selalu ada dan datang di setiap lokasi dan acara yang lagi happening.
• Sok asik, trying so hard to be cool by acting and dressing differently to impress others.
• Unique, original, calm, deep.
• Hipster itu semacam kata ejekan.
• People who dabble in art. Maybe. Dont know.
• People who want to be hip – 3G – gaya gaul global.
• Overrated. Some people are just trying too hard to be hipster while I personally believe that some people were born with hipster gene.
• Open minded, walaupun naif seenggaknya mereka enggak munafik.
• Unik. Punya keseruan sendiri di dunia mereka yang kadang orang umum enggak paham kenapa mereka bisa suka.
• Hipsters are ok, posers are not! Although I personally think that the term ‘hipster’ is overrated.
• Anak Gaul Jakarta
• They looks cool and different, but in the end they looks the same as the other hipster.
• Hipster sama aja kayak anak-anak. Sama-sama menyukai apa yang mereka suka.
• Suatu culture baru dari sebuah fasis, SARA, dan kasta.
• Selalu (mencari) tau hal-hal yang paling baru berkaitan tentang life style dan mulai meninggalkan hal-hal tersebut ketika udah banyak orang-orang yang tau.
• Anak muda yang menjadi gejala postmodern. Terobsesi dengan otentitas dan ide-ide kebaruan.

Seperti yang sudah bisa diduga, respons yang masuk memang cukup beragam. Dari mulai yang bernada positif, netral, sampai yang cenderung negatif. Jelas bukan hal yang simpel untuk mendefinisikan hipster secara spesifik tapi secara garis besar kita pun bisa merangkum pengertian kolektif tentang hipster sebagai orang-orang yang ingin membedakan diri dari lingkungan mereka melalui sikap, pemikiran, dan atribut yang melekat pada diri mereka. Yang membedakan adalah standar dan pandangan personal masing-masing orang tentang hipster. Sebagian orang memandang hipster sebagai orang-orang yang merasa nyaman dengan menjadi diri mereka sendiri dan tahu apa yang mereka sukai, sementara sebagian lainnya menganggap hipster justru orang-orang yang tidak punya jati diri dan butuh pengakuan eksistensi dari sekitar mereka dengan cara mengejar ketrendian. Saya akan coba mengupas definisi hipster secara lebih mendalam di post-post selanjutnya, tapi untuk saat ini, I think we should agree that everyone have their own opinion about hipster and nothing wrong with that.

“Opinions are like assholes. Everybody’s got one and everyone thinks everyone else’s stinks.” ~ Simone Elkeles

So, what’s your own asshole opinion about hipster?

Write it on the comment box below 🙂