Be Kind, Rewind: 5 Illustrators Remaking Their Fave Movie Posters

Whether you judge a movie from the poster or not, poster film memang selalu menjadi bagian integral dalam ikonografi sebuah film. Lebih dari sekadar alat promosi yang dengan vulgar menyuguhkan kalimat bombastis dan nama-nama besar pelakonnya, ada sebuah masa ketika poster film menjadi medium bagi para ilustrator untuk menginterpretasikan adegan atau tema yang lebih subtle dalam film tersebut lewat gaya artistik yang beragam sebelum akhirnya tergerus oleh medium fotografi. Untuk membangkitkan semangat yang ada di masa-masa itu, saya pun mengajak lima ilustrator berikut untuk menginterpretasikan poster film favorit mereka dengan signature style masing-masing.

BIH HERO 6 POSTER_NYLON 

William Davis

Instagram: @wd.willy

 WD.WILLY PHOTO PROFIL

Describe yourself in one sentence!

Orang yang sering memperhatikan lingkungan sekitar.

Current project?

Project buku ilustrasi Azka Corbuzier, membantu Faza Meong dalam pembuatan Si Juki, dan tetap sebagai mahasiswa di suatu kampus di Jakarta.

Ilustrator favorit?

Eiichiro Oda (komikus manga One Piece), Rhoald Marchellius, Kim Jung Gi.

How would you describe your artwork?

Memiliki karakteristik dalam setiap pembangunan karakternya, sangat bermain dengan gesture dan ekspresif, dan sangat teliti tentang detail dan pencahayaan.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Big Hero 6! Karena sangat cocok banget dari mulai karakter, tempat, segala sesuatunya tentang Big Hero 6 sangat mirip dengan style saya!

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Karena menurut saya Big Hero 6 sangat unik dalam segi cerita maupun pembangunan karakternya sangat berkhas Jepang. 

Your Instagram crush?

@thepumpkinbear, @hong_sonnsang, @jakeparker, @david_adhinarya_lojaya

Next project?

Sedang dalam pembuatan komik dan pembuatan buku ilustrasi Azka Corbuzier.

mr nobody

Anindito Wisnu

IG: @aninditowisnu

Photo 11-10-15 17.55.41

Describe yourself in one sentence!

Seorang arsitek yang belum juga sukses dan sedang mencoba menjadi seniman yang siapa tahu bisa lebih sukses.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Sebelumnya hanya hobi, mulai serius berkarya setelah mendapat tawaran untuk menyumbang artwork di novel karya Risa Sarasvati, Sunyaruri.

How would you describe your artwork?

Similarity. Menangkap esensi dan karakter objek yang digambar melalui ekspresi muka, selebihnya saya bisa “bermain-main” di bagian lain seperti rambut, badan, dll.

Alasan memilih Mr. Nobody untuk di-remake posternya?

Film ini menyadarkan saya bahwa hidup terdiri dari keputusan-keputusan dan pilihan yang akan membawa kita ke cerita hidup selanjutnya. Sebuah pilihan yang sederhana pun ternyata sangat menentukan nasib kita ke depan secara signifikan. Pilihan tersebut bukan perkara benar atau salah, namun bagaimana kita memaknai segala proses dalam hidup di setiap langkah yang kita ambil. “If you never make choice, anything is possible.”

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Beauty And The Beast (2015), karena menampilkan salah satu cerita dongeng masa kecil favorit saya namun dengan sajian visual yang dark gloomy.

What’s your latest obsession?

Obsesi saya untuk bisa menyimpan karya saya di setiap negara yang ada di dunia ini.

cd5

Gemma Ivana Miranda

IG: @gemmaivanamiranda

Gemmabio2

Describe yourself in one sentence!

A visual enthusiast, dreamy dog lover, Disney aficionado, dessert devotee, and music habitué.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

I grew up loving fairytales and folklores, and I have been an avid doodler since I was a kid. But it was not ‘till my college years I got into designing seriously.

Apa objek favoritmu?

Binatang! Untuk kolase,saya suka mencari ilustrasi vintage, foto-foto klasik, dan motif-motif abstrak.

Ilustrator favoritmu?

A lot of people! Samuel Burgess Johnson, Sam Chirnside, Sam Donaldson, Raf Ram, dan banyak lagi. I usually find random artists through my Behance account.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Semua film Disney klasik yang hampir seluruh elemennya dikerjakan oleh tangan, serial Harry Potter, dan apapun dari Wes Anderson.

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Ilene Woods, yang mengisi suara Cinderella, adalah favorit saya, dan saya telah mencintai cerita ini sepanjang hidup saya. I find that older movies (and music!) give me so much tranquility and inspiration.

Your Instagram crush?

@kathkrnd, @yendryma, @theacademynewyork, dan @samuelburgessjohnson. Untuk fashion, saya suka @jennalyyy dan @stone_cold_fox

What’s the coolest art tip you’ve ever received?

My professor once told me to never lose myself in an artwork and to always give a touch of magic. After all, as quoted from Ursula Le Guin, “The creative adult is the child who has survived.”

 Scan10163

Muchlis Fachri

IG: @muklay

 Muchlis fachri_ foto 4

Describe yourself in one sentence!

Naughty or free but polite, hehehe!

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Kehidupan sehari-hari dan sneakers. Dahulu aku senang sekali menggambar sepatu polosku karena gatal apalagi kalau warnanya putih, sempat dimarahi ibu karena itu.

Ilustrator favoritmu?

Banyak sekali, aku sangat terinspirasi dari seniman pop Amerika, sampai street art NYC yang membuatku amaze karena tidak mungkin dilakukan di Indonesia. 

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Aku suka sekali dengan setiap karya Tim Burton, lalu aku juga menggemari Johnny Depp karena setiap dia ada di film Tim Burton selalu dengan kostum dan make-up yang berbeda-beda, sangat total, dan saya memilih Edward Scissorhands, karena selain film ini sangat cool di segi visual, juga mempunyai cerita yang sangat mendalam.

Your Instagram crush?

@DABS MYLA dan @TRISTANEATON, they are dope, sick, and crazy and last but not least @laurenevemayberry.

Next project?

Let it flow! Tidak pernah merencanakan sesuatu dari jauh, semua serba shocking and shaking, hehe!

MOVIE POSTER -

Lissy Radityanti

IG: @lissy.ra

 IMG_4820

Describe yourself in one sentence!

I am a 21-year-old girl who is very passionate in any form of art, call it music, movie, or fine arts, I’m in!

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

I guess it’s in my blood, karena keluargaku turun temurun semuanya senang berkarya baik musik ataupun hand-craft. Tapi mungkin karena dari kecil aku juga suka nonton Disney’s cartoon especially the princesses, and always got mesmerized by its visual jadi aku pengen bisa menggambar sebagus itu dan jadi suka gambar dari kecil.

Apa objek favoritmu?

Girls. Because they are pretty, magical, and powerful. 

Ilustrator favoritmu?

Agnes Cecile, Diela Maharanie, dan Paula Bonet.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Any Wes Anderson’s movie. The Grand Budapest, Fantastic Mr. Fox, The Darjeeling Limited. Karena tone warnanya yang visual-appealing untuk saya dan teknik pengambilan gambarnya yang quirky dan khas banget.

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Film ini salah satu film yang visualnya sangat indah dan dreamy. Walau film ini dirilis tahun 1999, tapi serasa lagi nonton film 70-an dari mulai tone film sampai musik-musiknya, so I guess that’s kinda cool.This movie is also an adaptation from the novel with the same title and the movie director, Sofia Coppola (one of my faves) cukup berhasil menyampaikan pesan melalui film ini tanpa mengurangi esensi dari bukunya. I also feel personally attached to the movie when I first watched it and that’s rarely happen.

What’s your latest obsession?

I’m obsessed with vintage movies, psychology, and Mr. Robot!

 

 

Art Talk: The Many Pieces of Atreyu Moniaga

Berangkat dari imajinasi masa kecil, energi kreativitas yang seolah tanpa batas dalam diri seorang multi-hyphenate Atreyu Moniaga dengan leluasa melintasi berbagai medium. Dari kanvas hingga ke Cannes.

atreyu

Di usia yang masih terbilang muda dan ditambah dengan wajah yang seolah berhenti di umur belasan, mungkin kamu tidak akan menyangka jika Atreyu Moniaga telah mengantungi lebih banyak profesi dari mayoritas orang. A multi-hyphenate, I dare say. Secara ringkas, istilah multi-hyphenate mengacu kepada seseorang yang memiliki beberapa profesi atau bakat sekaligus. Katakanlah seorang singer-songwriter, model merangkap aktris, atau dalam kasus Atreyu: ilustrator, fotografer, dosen, dan belakangan, an actor.

Lulusan IKJ kelahiran 9 Desember 1988 tersebut pertama kali mencuat lewat karya-karya ilustrasi berbasis cat air dengan nuansa whimsical dan dreamy yang terinfluens dari cerita fantasi yang ia lahap dari kecil. Tak berhenti di atas kanvas, pria yang dikenal dengan nickname Atreist dalam sirkuit desain dan seni ini terus mengeksplor berbagai medium dan terlibat di banyak pameran dan project menarik, termasuk salah satunya mendesain embroidery yang menjadi bagian dalam koleksi “Melange De Sens” karya fashion designer Sebastian Gunawan. Di samping ilustrasi, ia pun mewujudkan imajinasinya dalam bentuk fotografi yang walaupun terasa jauh lebih grim bila dibandingkan ilustrasi penuh warna miliknya, namun tetap menunjukkan elemen surreal yang selama ini menjadi ciri khasnya. Seolah tak kehabisan energi, hari-harinya juga disibukkan dengan menjadi dosen fotografi dan ilustrasi di Universitas Bunda Mulia dan ia pun menambah resumenya dengan berakting dalam film pendek The Fox Exploits The Tiger’s Might garapan Lucky Kuswandi.

Dalam debut akting di film pendek berdurasi 25 menit tersebut, Atreyu berperan sebagai Aseng, seorang remaja Tionghoa di sebuah kota kecil yang dekat dengan basis militer di era Orde Baru yang represif. Sarat oleh isu rasial, opresi, dan percikan seksualitas, film ini berhasil terpilih untuk ditayangkan dalam program Semaine de La Critique (Pekan Kritikus) di Festival Film Cannes tahun 2015, sekaligus menjadi film Indonesia pertama yang masuk dalam ajang tersebut setelah film Tjoet Nja’ Dien karya Eros Djarot di tahun 1989. Sebuah langkah awal yang impresif bagi seseorang yang mengaku tidak pernah berakting sebelumnya. Dengan begitu banyak sisi yang menggoda untuk dibicarakan, Atreyu pun menuturkan beberapa fragmen dalam dirinya.

backyard-wonderland

Di mana kamu menghabiskan masa kecil dan hal-hal apa yang menarik minatmu saat itu? Saya menghabiskan masa kecil saya mostly di kamar. Membaca dongeng-dongeng klasik, majalah Bobo, komik Jepang, dan bermain video game. Yang menarik minat saya saat itu adalah keajaiban cerita-cerita fantasi

Apakah kamu memang berasal dari keluarga kreatif? In a way of thinking? Yes. Saya merasa orangtua saya memiliki pandangan dan argumen yang unik.

Hal apa yang pertama kali membuatmu ingin serius menekuni bidang ilustrasi? Yang membuat saya ingin serius menekuni bidang ilustrasi sebenarnya dimulai sejak kuliah. Saya awalnya sempat pupus menggambar karena merasa tidak memiliki bakat dan informasi. Yang saya tahu saat itu adalah jika ingin survive; jadilah desainer grafis. Dan karena dekat dengan menggambar, saya rasa tak apa-apa.Tapi belakangan selama perkuliahan berjalan sayamendapatkan informasi-informasi baru tentang ilustrasi, ilustrator, dan detail-detail lain yang membuat saya merasa punya kesempatan.

Siapa saja sosok yang menginfluens karyamu? Cara bertutur saya dalam berkarya sepertinya sangat terinfluens dari singersongwriter Jewel. Saya merasa ingin membuat ilustrasi sebaik dia membuat lirik. Selain itu saya juga terinspirasi dari orang-orang seperti James Jean, Takashi Murakami, Dussan Kallay, dan dosen saya sewaktu kuliah dulu mas Arief Timor. Saya juga menyukai karya-karya Pedro Almodovar.

13241244_226596837724483_6082203544827445773_n

Kalau sekarang, hal apa saja yang biasanya menginspirasi untuk berkarya? Yang menginspirasi saya dalam berkarya sekarang (selain briefing dan demand), saya rasa kehidupan itu sendiri. Saya secara egois membicarakan tentang diri saya sendiri dalam karya-karya saya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan personal aesthetic dirimu? Dan apa medium favoritmu untuk berkarya? I actually can’t describe my personal aesthetic. Saya mencoba untuk relax dalam berkarya agar saya betul-betul menikmati proses penciptaan karya. Medium favorit saya juga sebetulnya nggak ada. Mungkin karya saya didominasi cat air. Tapi yaitu karena cat air masih sampai saat ini medium yang paling saya kuasai. Tapi sebetulnya saya sangat ingin mencoba medium-medium lain. Rasanya akan sangat seru.

please

Selain ilustrasi, kamu juga mendalami fotografi. Kalau menurutmu, bagaimana ilustrasi dan fotografi bisa saling melengkapi? Saya melakukan treatment yang sama dalam fotografi seperti yang saya lakukan dalam ilustrasi (baca: curhat) jadi saling melengkapi mungkin nggak, tapi ada beberapa hal yang menurut saya bisa diraih lebih baik dengan digambar, dan beberapa lebih baik dengan dipotret.

13245423_230140614036772_5985381347418943950_n

Kalau tentang menjadi dosen? Apa yang menarik dari profesi ini? Saya jadi dosen karena tawaran teman saya yang saat itu sudah jadi dosen uluan. Sudah dua tahun mengajar. Yang menyenangkan adalah melihat semangat-semangat polos anak-anak ini sih dan mengajar membuat saya jadi terus meng-update kabar-kabar terkini dari mata kuliah yang saya ajarkan. Dan semangat mahasiswa-mahasiswa ini yang akhirnya membuat kami sudah membuat 2 kali pameran fotografi dan 1 kali pameran ilustrasi. Semoga bisa terus berlangsung.

Bagaimana ceritanya sampai akhirnya terlibat di film Lucky Kuswandi? Ini kisah yang jawabannya seperti jawaban artis-artis di interview TV nih, haha! Saya nggak sengaja datang ke sebuah pameran di mana saat itu Lucky juga datang. Dan menurut dia saya cocok dengan karakter Aseng di film ini. Terus diajak casting. Terus dapat deh perannya.

Apa yang paling memorable dan menantang selama syuting, mengingat ini adalah film pertamamu? Syutingnya sangat menyenangkan. Saya merasa beruntung bekerja dengan mereka yang sangat cekatan dan rapi. Yang paling menantang saat shooting adalah scene terakhir saat Aseng dan David terlibat perebutan pistol. Malam itu take-nya belasan kali. Saya dan Fauzan (pemeran David) sangat merasa bersalah sama crew yang lain saat adegannya harus diulang, dan saat itu sudah sekitar jam 1 pagi.

Selain film ini, kamu juga bermain di film pendek garapan Monica Tedja, apakah dunia akting akan menjadi sesuatu yang kamu geluti dengan serius? Untuk itu saya masih belum tahu. Saya ternyata menikmati proses berakting dari reading sampai syutingnya beneran. Jadi mungkin saya ingin mencoba lagi. Ya berkaryalah ya, apapun platform-nya. Kalau prosesnya enjoyable yah ayuk aja.

Selain dunia art, apa hal lain yang kamu nikmati? Sushi, tapi ini art juga kan sebenarnya.

Apa yang kamu lakukan untuk mengatasi creative blockBiasanya saya latihan teknis sih kalau lagi mentok. Latihan mewarna atau mengarsir. Tapi kalau jenuh banget biasanya saya stop sama sekali dan nonton-nonton film aja. Cuma baru-baru ini saya mendapat treatment baru yaitu creative talks. Jadi kaya kumpul-kumpul sama teman-teman terus ngobrol ngalor ngidul aja tentang urusan art. Dan kalau tetap mentok juga, saya nyanyi-nyanyi aja di kamar.

What’s your next project? Be healthy, be happy! That’s the ultimate, ultimate project!

14606520_297400527310780_2955092824774464233_n

 

 

Art Talk: The Fading Melancholia of Cynthia Tedy

profile

Shades that fade slowly but never completely,” demikian deskripsi personal yang diutarakan Cynthia Tedy untuk estetika karya grafisnya. Lahir di Jakarta 24 tahun silam, gadis yang berprofesi sebagai ilustrator dan desainer grafis tersebut mengaku telah mulai rutin menggambar sejak kelas 2 SMA namun baru mempertimbangkannya sebagai karier ketika menginjak tahun ketiganya di jurusan animasi. “Mungkin itu adalah masa-masa saat kebanyakan orang belajar bahwa dunia itu tidak sebatas apa yang kita asumsikan, juga mulai paham bahwa berbagai hal dalam hidup itu bisa dilihat dari banyak sudut pandang. Kita bisa belajar begitu banyak karena ada orang-orang yang mengekspresikan cara mereka merangkul kehidupan with all its beauty and tragedy. Sebisanya, aku mau mengambil bagian juga dalam perjalanan itu,” ungkapnya bijak. Setelah mengenalnya lebih jauh, there’s definitely a certain air of wisdom and innate awareness dalam benaknya yang kemudian mewujud lewat torehan jarinya. Melihat karya milik pengagum James Jean, Yoshitaka Amano, Taiyo Matsumoto, dan Dae Hyun Kim ini, you can’t help to sense some kind of bittersweet melancholia seperti menemukan kembali tumpukan shoujo manga favoritmu dari masa kecil, atau mengingat kembali memori yang hampir pudar. Tak jarang, ilustrasinya turut dilengkapi oleh secarik cerita maupun puisi untuk memperkuat narasi yang ingin ia sampaikan. Belum lama ini, salah satu karyanya pun menjadi ilustrasi dalam buku kumpulan puisi berjudul Kalopsia karya Aaron Ares. “Aku dikontak oleh si penulis karena dia merasa karyaku sejalan dengan apa yang mau dia ekspresikan. Poetry is something I find strangely healing, so I was compelled to work on the project,” papar gadis yang juga pernah membuat ilustrasi untuk cover album milik Jeffrey Popiel/Juniperus ini.

Hi Cynthia, apa kabar? Apa yang menjadi kesibukan belakangan ini? Halo! Selain lifelong personal project yang jalan terus seperti drawing series dan poetry writing, sekarang sedang merencanakan pembuatan formal portfolio website sendiri. Baru-baru ini juga mulai perlahan research dan memilah-milah contact art director atau beragam publikasi yang mungkin ada chemistry dengan working style aku. Basically, thinking about the direction I want to try with my current work.

Dari mana saja biasanya mendapat inspirasi? Dari kehidupan dan percakapan sehari-hari yang sepintas lumrah. Aku ada kebiasaan kecil untuk bertanya dari waktu ke waktu, “Apa cerita yang mungkin ada di balik ini?” Jadi seperti berburu struktur atau denyut nadi tersembunyi. Penemuan-penemuan ini selalu aku catat untuk dipelajari dan diolah kembali di kemudian hari. Biarpun tampak sepele, disiplin kecil ini bisa mengkultivasi ide bagus yang matang perlahan atau betahap. Selain itu, banyak mempelajari ide atau pemikiran orang lain supaya bisa membuka cara pandang dan mengasah sense.

tumblr_nntgln3ffx1r7xgixo1_r1_500

Aku lihat ada beberapa karya yang terinspirasi serial fiksi seperti Evangelion dan Final Fantasy, apakah kamu punya karakter fiksi favoritmu? Kalau karakter fiksi favorit sih nggak ada yang spesifik. Biasanya yang aku favoritin tuh karya atau kreatornya sendiri. Final Fantasy itu ilham besar masa kecil yang membuat aku sadar kalau karya seinspiratif itu memungkinkan untuk dibuat. Makanya dulu sempat berpikir untuk kerja di game company dan ambil kuliah jurusan animasi 3D. Kalau yang menarik dari Evangelion adalah director-nya sendiri, cara dia memproyeksikan emosi dan pengalaman dia ke dalam cerita fiksi.

tumblr_n95pxoxbpr1r7xgixo1_r1_500

Kamu juga suka menulis short story and comic, mana yang biasanya lebih dulu, the visual or the story? Siapa saja penulis favoritmu? Kadang visual, kadang story/words, kadang satu paket. I adore the storytelling of film director Wong Kar Wai and comic artist Natsume Ono.

Apa medium favoritmu dalam berkarya? Meskipun sering mewarnai secara digital, yang paling comforting itu tetap proses inking on paper.

Selain ilustrasi, hal apa lagi yang kamu suka lakukan? Crafts, like sewing and crochet, making plushies or miniature items. Also enjoy taking walks, both solo and accompanied.

tumblr_nsy6fgkaaw1r7xgixo1_r2_500

tumblr_nsy6fgkaaw1r7xgixo2_r2_500

What’s your current obsession? Following baseball games after working hours! Juga menyambut Olympic Games tahun ini. Aku mengikuti berbagai sports secara kasual tergantung season-nya, misalnya gymnastics dan figure skating, yang juga mengandung unsur artistik.

Sejauh ini apa project paling berkesan dan kalau boleh berandai, apa yang menjadi dream project bagimu? Seri ilustrasi Retrospective: Before I grew Up yang dikerjakan untuk minor project semester terakhir kuliah. Karena proposalnya bebas, jadi aku mencoba sesuatu yang lebih reflektif secara pribadi, yaitu cerminan tentang berbagai profesi berkesan yang aku temui saat masa kecil, disandingkan dengan pemikiranku tentang hal yang sama sepuluh tahun lebih kemudian. Karya ini tetap menjadi salah satu favorit pribadiku karena itu pertama kalinya aku merasa berhasil mengabadikan sesuatu “sepenuhnya”. Kalau dream project sih belum terpikir, tapi menurutku akan jadi pengalaman bagus kalau ada kesempatan berkolaborasi dengan bidang seni lain, misalnya fashion design, musik atau arsitektur.

Ada rekomendasi ilustrator lokal yang menurutmu karyanya harus disimak? Elicia Edijanto dengan lukisan hitam-putihnya yang elegan, Stephanie Priscilla dengan dunia bersahajanya yang penuh warna, dan yang satu ini bukan ilustrator tapi musisi lokal yang patut disimak: The Trees and The Wild.

What’s next project from you? Self-published zine kolaborasi dengan teman dari Taiwan. There will be illustrations, comics, short stories plus poetry in it. Temanya belum dipastikan secara spesifik, tapi akan menyangkut summer.

tumblr_n6u1h71s4u1r7xgixo1_r1_500

http://cynthiatedy.tumblr.com/

 

Art Talk: The Sugary Drawing of Maelle Rajoelisolo

maeller

“Saya lahir dan besar di Paris, dan hal itu jelas membawa pengaruh yang besar dalam karya saya… Saya mungkin tidak akan tertarik pada fashion jika saya tidak pernah tinggal di kota ini,” ujar Maelle Rajoelisolo, seorang fashion and beauty illustrator yang berbasis di ibukota Prancis tersebut. Penuh warna, fun, dan super girly dengan referensi dari daily style, haute couture, dan pop culture, meiihat karya bermedium pensil warna dari gadis berumur 26 tahun tersebut di akun Instagram miliknya @cirquedepapier memang memberikan sensasi yang sama ketika kamu melihat deretan dessert penuh warna di etalase toko kue favoritmu. “Thank you! I love that compliment! Saya pecinta makanan manis jadi saya senang mendengarnya,” tanggap Maelle akan komentar tersebut. “Saya sangat suka passion fruit dan chocolate macaroons, crêpes, apple pies and very good chocolate fondants. Hanya membicarakannya saja sudah cukup membuat saya lapar,” sambungnya tentang daftar dessert favoritnya. Selayaknya kudapan manis yang lezat, we sure can’t get enough of her works, saya pun tergoda untuk mengobrol lebih jauh dengannya.

brooklyn

Jadi, bagaimana awalnya kamu tertarik menekuni bidang ilustrasi?
It was (and still is!) a long and not easy way; Saya suka menggambar sejak kecil tapi untuk serius di bidang ini sebetulnya tidak direncanakan. Awalnya saya berpikir untuk menjadi seorang arsitek atau pengacara, namun saya berubah pikiran dan tertarik menjadi artistic director. Saya akhirnya memutuskan menjadi ilustrator dan belajar desain grafis. Waktu itu saya membuka blog (saya sudah kecanduan internet sejakumur 11 tahun) dan mulai menggambar setiap hari.

Bagaimana sih typical day bagimu?

There is no typical day in work, dan saya menyukainya. Tapi biasanya saya bangun jam 8 pagi, mulai bekerja jam 9, makan siang jam 1 siang, mengerjakan hal lain sampai jam 3, menggambar lagi, stop di jam 7, pergi keluar (atau makan malam di rumah, saya tinggal bersama pacar saya jadi biasanya tergantung apa yang ingin kami lakukan dan jam berapa dia pulang), dan biasanya saya bisa mulai menggambar lagi dari jam 9 malam sampai jam 1 dini hari. Sejujurnya saya seperti burung hantu, saya senang bekerja di malam hari, jadi saya lebih suka bangun siang (I know, it’s bad) dan bekerja sampai larut malam (sampai jam 3 pagi bahkan). Tapi semuanya tergantung dari jadwal saya, terkadang saya juga harus pergi ke kantor, tergantung klien.

Seperti apa kondisi tempat kerjamu?

Flat saya termasuk kecil jadi saat ini saya bekerja di sebuah meja kecil yang penuh dengan barang-barang saya! Saya juga termasuk orang yang berantakan… Jadi semua hal tergeletak sembarangan. Saya tidak sabar untuk pindah ke flat yang lebih besar jadi saya bisa punya ruang yang lebih luas untuk kerja. Terkadang saya juga suka bekerja di co-working café; I love the environment and being surrounded by other creative people.

 paris2

Apa yang biasanya kamu gambar kalau sedang melamun?

I usually sketch random girls in random poses, wearing random dresses (or not). Saya juga suka menggambar karakter chibi. I love chibis. They’re were my favorite thing to draw back when I was a teen.

Bagaimana kamu mendeskripsikan karyamu?

Baru-baru ini ada yang menyebut kalau karya saya adalah “happy-making” dan saya senang mendengarnya. Saya juga berusaha menciptakan dunia saya sendiri yang selalu terinpirasi fashion, elegan tapi tidak terlalu serius dan selalu penuh warna. Misi saya adalah untuk membangun dunia tersebut secara maksimal, seperti yang dilakukan Wes Anderson dalam film-filmnya.

Apakah ada seniman yang menginspirasi karyamu?

Banyak, saya tidak bisa menyebut semuanya karena biasanya hal itu suka gonta-ganti seiring waktu, tapi saya selalu mengagumi karya-karya Laura Laine, Fifi Lapin, sahabat saya Sibylline Meynet, Paper Fashion… dan banyak lagi. 

Dari mana saja biasanya kamu menemukan inspirasi untuk menggambar?

Ada banyak film dan serial TV yang menginspirasi saya. Selama ada unsur fashion di dalamnya. Contohnya, saya menggambar banyak hal dari film Marie Antoinette karya Sofia Coppola untuk sebuah pameran tahun lalu dan beberapa adegan dari film favorit saya, Funny Face yang dibintangi Audrey Hepburn. Dan walaupun saya bukan penggemar berat Taylor Swift, saya tidak bisa menahan diri untuk menggambar outfit yang ia kenakan di video “Blank Space”.

 paris

Selain pensil warna, medium apa lagi yang biasanya kamu gunakan?

Saya pernah mencoba mewarnai di komputer saat saya remaja namun tidak melakukannya lagi sejak saya menyadari jika pensil warna adalah medium favorit saya karena mengingatkan masa kecil saya, Baru-baru ini saya juga mulai berkarya dengan cat air.

Musik apa yang biasanya kamu dengarkan saat bekerja?

Apa saja. Saya lebih memilih musik yang relaxing, tapi musik pop pun tidak masalah. Saya bisa mendengarkan musik sambil berkonsentrasi menggambar dan secara otomatis menyimak lirik lagu tersebut… Otak saya lebih fokus pada hal seperti itu ketika saya sedang menggambar.

nylon

Apa hal yang baru kamu sadari atau pelajari belakangan ini?

Saya baru menyadari jika gadis-gadis yang saya gambar bisa lebih dari sekadar paper dolls, saya bisa mengubah mereka menjadi sebuah pattern, notebook, dll. I am so happy to push my work further!

Apa proyek selanjutnya?

Saya sedang mencoba untuk berkolaborasi dengan brand yang saya suka. Baru-baru ini saya senang bisa bekerja dengan Boohoo.com di akhir tahun lalu. Saat ini saya juga masih mengerjakan brand dan toko paper goods saya. Ada banyak produk yang ingin saya desain dan buat, namun seperti biasa hal itu membutuhkan banyak waktu dan uang. So everything is going step by step.

 lemonade

Follow Maëlle Rajoelisolo di Instagram @cirquedepapier, Facebook: Cirque de papier, Tumblr: @cirquedepapier.

Art Talk: The Colorful Everyday Life of Maskrib

Maskrib1

“Saya orang yang suka jalan-jalan random, ke gunung, hutan, pasar, stasiun, ke mana saja, mostly tanpa rencana dan tujuan sih yang penting jalan dulu, hal itu sangat menginspirasi dan menyegarkan otak saya. Saya juga suka mengamati aktivitas orang-orang yang saya temui, orang-orang sedang pulang kantor di hari Jumat, orang yang sedang menunggu bis, dsb. Bagi saya pengalaman itu menarik saja untuk diceritakan kembali dalam bentuk visual,” ungkap Reza Dwi Setyawan, seorang ilustrator dan desainer grafis yang juga akrab disapa Maskrib tentang inspirasinya dalam berkarya. Dari observasinya akan kehidupan jalanan dan segala manusianya yang menyimpan sejuta cerita, pria kelahiran Sukoharjo 26 tahun lalu yang kini berdomisili di Boyolali tersebut menghasilkan ilustrasi pop art yang meskipun terlihat padat dan riuh oleh detail namun memiliki sense of simplicity yang tidak membuat mata kita lelah. Di samping aktif mengerjakan personal project dan commission work dalam berbagai media dan medium, tahun ini artist yang menyebut Jeremy Ville, Andy Rementer, Angela Dalinger, dan Eddie Hara sebagai influens tersebut telah merilis coloring book perdananya yang bertajuk Happy Slow Life. Yup, we know kalau coloring book for adults memang sedang hype belakangan ini sebagai kegiatan past time yang therapeutic, namun mengenal dan mengagumi karya-karya Maskrib selama ini, I’m definitely excited for this one.

Maskrib

Hai Maskrib, apa yang mendorong untuk serius di bidang ilustrasi? Basically dari kecil emang udah seneng gambar sih seperti kebanyakan orang, dan beruntungnya sampai sekarang kesenangan menggambar itu tetap terjaga dan membawa banyak feedback positif, hehe. Kalau menekuni ilustrasi secara lebih serius dimulai pada masa awal kuliah. Ada satu teman saya namanya Ardan Kukuh Prayogo yang kemudian mengajarkan saya bagaimana berilustrasi dan make a living dari ilustrasi. Dari awal mulai serius sampai pada masa sekarang kurang lebih 4 tahun saya mencoba mencari formula yang pas dan nyaman bagi saya sendiri dalam proses menggambar.

Kalau Maskrib sendiri belajar ilustrasi secara otodidak atau memang sempat belajar secara akademis? Saya pernah kuliah jurusan DKV, tapi sejujurnya secara teknis saya belajar ilustrasi secara otodidak. Dari menjalin hubungan pertemanan dengan banyak teman-teman ilustrator, saya banyak mendapat input positif dari mereka.

11899598_1011634055554975_1077766897_n

Bagaimana tercetus proyek membuat coloring book ini? Sudah lama saya ingin membuat artbook saya sendiri. Dan kebetulan beberapa bulan kemarin ada salah satu penerbit yang menawarkan saya untuk membuat sebuah coloring book dengan mengangkat konsep dan tema seperti apa yang sering saya angkat di kebanyakan ilustrasi saya yaitu ”Human Life”. Pihak penerbit memberikan kebebasan berkreasi dalam isi ilustrasinya. Jadi ini semacam coloring book semi artbook saya juga, hehe. Yang pasti coloring book ini akan jauh berbeda dari coloring book yang sudah ada.

Screen-Shot-2016-02-16-at-4.45.12-PM-copy

Maskrib juga pernah bikin ilustrasi di vinyl dan clothing, sejauh ini medium apa yang jadi favorit? Sebenarnya nggak ada yang benar-benar favorit sih bagi saya. Segala macam media, selama saya bisa bersenang-senang, berkreasi, menuangkan ide-ide saya dan menikmati setiap proses pembuatannya. Kalau saat ini saya sedang senang mengeksplor media clay, membuat figure dari ilustrasi saya dalam bentuk 3 dimensi.

Mengingat kentalnya influens street life dalam karyamu, how would you describe the Jakarta street life? Dan apa saja spot favoritmu di Jakarta? Jakarta street life di satu waktu bisa banyak sekali melihat manusia, beberapa saat kemudian bisa menghilang begitu saja. Waktu bisa terlihat sangat cepat kemudian terasa begitu lamban. Spot favorit saya di Jakarta sampai saat ini masih rooftop kantor tempat saya magang dulu di daerah Palmerah.

Screen-Shot-2016-02-16-at-4.48.28-PM-copy

Selain ilustrasi, apa lagi yang menjadi hobi seorang Maskrib? Kalau duduk di pinggir jalan atau di atas jembatan tanpa melakukan apa-apa, hanya mengamati orang-orang beraktivitas bisa disebut hobi, mungkin itu salah satu hobi saya selain menggambar dan jalan-jalan, hahaha.

12317792_431799760355005_303256949_n

Apa kolaborasi impianmu? Sesungguhnya sampai sekarang impian saya adalah bisa bekolaborasi dengan salah satu band/musisi yang saya suka musiknya. Membuat ilustrasi full untuk album musik mereka.

Selain coloring book, apa lagi project untuk tahun ini? Kalau untuk project komersil ilustrasi masih tetap berjalan sampai saat ini. Dan sesungguhnya setelah rilis coloring book nanti saya sudah ada rencana personal project membuat sebuah artbook visual diary saya sendiri, hahaha! Isinya akan penuh dengan curhat sehari-hari saya. Oh iya dan tentu saja semoga saya bisa lebih fokus lagi membangun art merch saya sendiri @slowboystore.

11350860_1461327187493859_109437074_n

 

Art Talk: The Punk Rock Illustration of Ayash Haryanto

Ayash Haryanto

Pertama kali menemukan akun Instagram @wonderyash yang bernuansa monokrom hitam-putih, saya seperti tidak bisa menahan diri untuk menekan tombol Likes sebanyak mungkin pada karya ilustrasi hitam-putih dengan referensi terhadap musik punk dan pop culture yang begitu kuat dan sosok musisi ikonik seperti Kurt Cobain hingga Morrissey. Kekaguman saya bertambah ketika menyadari jika sang ilustrator adalah seorang perempuan muda dengan penampilan yang cute. Bernama lengkap Ayash Haryanto, ilustrator kelahiran Medan, 26 September 1992 tersebut masih tercatat sebagai mahasiswi semester akhir di salah satu universitas di Jakarta. Mengaku suka menggambar sejak masih sangat kecil, Ayash sendiri baru mulai fokus menggambar sejak SMA dengan kiblat utama gambar-gambar superheroes dari komik DC dan Marvel. Namun, baru ketika masuk kuliah ia memfokuskan diri pada artwork hitam-putih seperti yang ia buat sekarang. “Saat kuliah baru sadar, kalau menggambar, terutama anatomi tubuh dan perspektif, tidak sesimpel itu. Apalagi urusan warna, dan buatku bermain warna itu bisa dibilang sulit nan rumit. Nah, karena aku pribadi merasa kurang bisa memadukan warna, walaupun sempat coba berbagai media seperti cat air atau minyak, aku putuskan untuk fokus dengan artwork black and white. Tidak kompleks, dan tidak mudah, namun aku merasa artwork black and white itu mudah diterima oleh semua orang,” ungkap gadis yang juga gemar bereksperimen dengan media mural tersebut.

tumblr_ne57eoOLI11qa0ub6o1_1280

Secara sekilas, terlihat elemen punk yang kuat di karyamu. Kalau untuk kamu sendiri bagaimana musik memengaruhi proses berkaryamu?

Kalau soal elemen punk dalam gambarku, jujur sekali pada awalnya aku membuat artwork bertemakan punk hanya sekelibat terlintas di kepala karena waktu itu aku nggak sengaja lagi scrolling down Tumblr dan nemu salah satu foto yang aku kira cocok untuk aku bikin quick sketch. Mulai dari situ, aku kepo sama genre punk ini, kemudian aku penasaran dengan culture, cara berpakaian, ideologi, dan terutama musik mereka yang mendukung aku dalam pembuatan proses karya. Buatku, musik itu pembangkit mood. Musik apapun itu, terkadang saat membuat artwork punk pun aku nggak selalu mendengarkan musik mereka juga. Karena ya, lagi-lagi menyesuaikan dengan suasana hati.

Siapa saja seniman favoritmu?

Seniman favoritku cukup banyak. Untuk yang dari luar negeri aku suka Raymond Pettibon, Sam Dunn, Alex MDC, Benjamin Lande, dan mereka semua seniman/ilustrator yang mostly black and white. Untuk dalam negeri, ada Roby Dwi Antono (aku favorit sama lukisan popsurealisnya), Amenkcoy, dan masih banyak lagi. Influens benar-benar datang dari Raymond Pettibon dan Amenkcoy. Mereka bisa dibilang kiblatku banget.

Wonder1

Apa medium favoritmu dalam berkarya dan kenapa?

Tinta hitam dan kuas. Media paling simpel yang pernah aku pakai. Cukup mudah, dan dalam pembuatan karya nggak memakan waktu banyak, khususnya untuk blocking, aku bisa lebih menghemat waktu. Dan tentunya nggak pusing-pusing menentukan warna.

Selain art, apa lagi yang kamu suka?

Semua kesukaanku sepertinya nggak bisa jauh dari yang namanya art. Aku suka musik. Akhir-akhir ini aku lagi rajin explore soal musik dari genre mana aja dan dari Indonesia atau luar negeri. Karena musik sangat berpengaruh dalam pembuatan karyaku, kadang aku buat playlist sendiri sesuai current mood, dan aku putar saat aku mau buat suatu artwork. Dan biasanya, artwork itu bisa nunjukkin perasaan aku saat itu.

What’s your current obsession?

Obsesiku untuk sekarang, aku mau ngadain mini exhibition (khusus black and white artwork) bareng temen-temen ilustrator lain, dan di dalamnya ada sesi workshop plus gambar bareng menggunakan media tinta hitam aja. Selain itu, aku lagi terobsesi untuk ngebuat artwork band, dari band-band favoritku. Mungkin lingkup musiknya masih nggak jauh dari punk ya, atau mungkin band bergenre ambience.

Who’s your local music hero?

Still Superman Is Dead! Dan Slank… hehe.

Apa project selanjutnya?

Rencana, ingin membuat fanzine yang isinya karya-karya dari teman-teman sekitar terlebih dahulu. Kalau rencana awal sukses, aku akan lanjut ke konsep selanjutnya, yaitu mengajak beberapa ilustrator favorit yang aku kenal untuk ikut berkontribusi langsung dalam menyumbangkan karyanya untuk fanzine ini. Mengapa fanzine, karena buatku ini media yang bisa memperluas koneksi dan menambah teman lebih banyak.

tumblr_nme8s08TAX1qa0ub6o1_1280

Wondeyash’s mixtape:

Talking Heads

“New Feeling”

Buatku ini lagu post-punk yang bisa ngebangkitin mood. Cocok didengerin di waktu apapun. Biasa aku dengerin lagu ini ketika mood lagi jelek-jeleknya, dan berhasil balikin mood jadi baik lagi.

Radiohead

“High and Dry”

I just love the lyrics. Lagu Radiohead terbaik versiku, dan jadi salah satu lagu favorit ketika mood lagi nggak bagus.

The Clash

“The Magnificent Seven”

Ini lagu unik dan bisa cheer up your day. Pertama kali aku dengar salah satu lagu Daftpunk, nggak tau kenapa langsung terbayang lagu ini. Dan ternyata aku temuin mashup dari lagu ini dengan Daftpunk di YouTube.

The Pixies

“Here Comes Your Man”

Mungkin untuk yang suka sama OST 500 Days of Summer, tau lagu ini yang pernah dinyanyikan ulang sama Meaghan Smith. Ini juga termasuk lagu yang bisa  membangkitkan mood.

The Smiths

“Ask”

Lagu ini masih jadi andalan dan masuk ke dalam playlist aku untuk gambar di saat momen-momen senang.

tumblr_nqgibroxYE1qa0ub6o1_r1_1280

Art Talk: The Peculiar Illustrations of Anwita Citriya

Anwita Citriya

For some people, once they start drawing, they’ll never stop. Sama seperti natural-born artist pada umumnya, Anwita Citriya telah mulai menggambar sejak sejauh yang dia bisa ingat. “Bagi saya ilustrasi adalah cara untuk mengekspresikan pemikiran dan ide karena saya tidak pandai berkata-kata. Saya mulai membuat lebih banyak ilustrasi sejak tahu banyak orang mengapresiasi karya saya. Feedback dari mereka juga membuat saya terus ingin lebih baik lagi,” ungkap gadis kelahiran Bandung 22 tahun lalu yang kini masih menginjak semester 7 jurusan Desain Interior di Binus University tersebut. Mengidolakan para ilustrator perempuan seperti Audrey Kawasaki, Amy Judd, Ykha Amelz, dan Amna Oriana, “misterius” menjadi kata yang biasanya terlintas ketika kita melihat karya ilustrasinya yang didominasi warna hitam dan putih serta beberapa warna pastel yang terkadang ikut menyemburat. Gaya ilustrasinya sendiri memang kental dengan pengaruh manga, namun ia juga memiliki sumber inspirasi lain dari novelis Jepang favoritnya, Haruki Murakami, yang dikenal dengan cerita surreal dan rasa melankolis yang dreamy. Hal yang sama juga terasa dalam ilustrasi Citriya, there’s some certain floating and sentimental mood about it that make us want to go deeper to know her.

Anwita2

How do you usually introduce yourself?
I’m Citriya, a girl who draws and day-dream a lot.

Apa medium favoritmu dalam berkarya?
My favorite medium is pencil and watercolor. Sometimes I use acrylic paint too.

Hal apa saja yang biasanya menjadi inspirasimu?
It can be anything. Mulai dari baca buku, listening to some new songs, jalan-jalan sore, getting lost or just sit in a coffee shop mengamati orang lalu-lalang. Sometimes inspiration comes when you least expect it.

Anwita7

Do you believe in creative block? Kalau iya, bagaimana caramu untuk mengatasinya?
I do. When I’m stuck with no inspiration at all, the best thing to do is just to stop drawing.
Usually I’d bring one book, go to a nearby coffee shop and find myself a quiet nook to read for hours. But if I’m too lazy to go out I’d surf the net to find some new, weird, unusual things for inspiration. Pinterest and Tumblr are the two sites i frequently use.

Anwita4

Sejauh ini project apa yang paling berkesan untukmu?
Mungkin untuk melukis, proyek pertama saya yang paling berkesan. Saat masih di bangku SMP saya pernah diminta melukis background panggung untuk acara sekolah. It’s not big or anything, tapi rasanya bangga aja. Setelah itu saya dan teman saya selalu dipercaya untuk jadi tim dekorasi setiap kali sekolah mengadakan acara. It was fun.

Musik apa yang biasanya menemanimu saat berkarya?
It depends on the mood, but mostly I listen to instrumental or indie music. Like The Cinematic Orchestra’s “Arrival of the Birds & Transformation” or Agnes Obel’s “Philharmonics.”

Apa saja kesibukanmu saat ini?
Right now I’m doing internship in an interior design company.

Anwita5

Apa kegiatan yang suka kamu lakukan bila tidak sedang berkarya?
Read mangas and blogs, do a movie marathon or play the piano.

What’s your current obsession?
Human psychology and mythical beings. I find them really intriguing.

You love Haruki Murakami a lot, apa quote-nya yang paling berkesan untukmu?
“Your work should be an act of love, not a marriage of convenience.”

Anwita1

What’s the next project from you?
Well… Me and my friend are developing a project and it’s related to fashion. I’ll be doing some illustrations and hopefully it goes as planned. Fingers crossed!

http://instagram.com/anwitacitriya

Anwita6

Art Talk: The Britpop Sensibility of Danu Labda

Danu Labda

It’s kinda hard to imagine if you never have at least one favorite Britpop song, terutama kalau kamu termasuk generasi 90-an yang beranjak remaja ketika genre asal Inggris tersebut tengah mendominasi tangga lagu di seluruh dunia. Dengan aksen Inggris yang kental, lirik yang mencerminkan kehidupan anak muda marginal, dan terutama karena aransemen yang catchy, band-band Inggris Raya seperti Oasis, Blur, Radiohead, Suede berhasil menjadi fenomena kultur pop tersendiri yang melawan dominasi budaya pop Amerika. Tak hanya di negara asalnya, Britpop pun menjadi bagian dari gerakan Cool Britannia di seluruh dunia, ketika apapun yang berbau Inggris dianggap cool, termasuk di kalangan remaja Indonesia di akhir 90-an di mana musik Britpop menjadi populer dan banyak band indie lokal saat itu yang secara langsung maupun tak langsung terinfluens Britpop. Rasanya, siapa saja yang sudah menginjak usia sekolah ketika di akhir 90-an dan awal 2000-an akan dengan mudah menyebut lagu atau band Britpop favorit mereka, which at some point represent our younger days. Danu Labda adalah salah satunya. Desainer grafis, ilustrator, dan art director di salah satu advertising agency Jakarta ini menuangkan kecintaannya pada Britpop dalam bentuk ilustrasi digital yang menampilkan sosok-sosok ikonik Britpop dalam gaya line art yang terlihat seperti goresan cat air. Thom Yorke, Jarvis Cocker, Morrissey, dan dua bersaudara Gallagher yang digambarnya dengan mencantumkan biografi singkat masing-masing terasa sebagai sebuah tribute yang menyenangkan dan membuatmu ingin membuka lagi playlist musik Britpop di iPod-mu.

Thom Yorke

Apa yang pertama kali mendorongmu untuk menjadi ilustrator?
Pertama kali banget waktu gue kecil gue selalu suka sama film-film superhero masa-masa generasi 90-an kaya Kamen Rider Black, Saint Seiya, dll. Gue nggak pernah ketinggalan ngikutin film mereka, kalau ketinggalan bisa nangis. Sampai suatu saat gue dibeliin kaos jagoan-jagoan masa kecil gue, di situ gue coba bikin gambar mereka di kertas pake referensi yang ada di kaos. Dari situ jadi suka gambar-gambar tokoh-tokoh kesukaan gue, setelahnya gue mulai banyak gambar macem-macem, nggak cuma tokoh-tokoh fiksi kesukaan aja tapi gue mulai mencoba gambar keadaan di sekitar gue dan musisi kesukaan gue.

Apa yang menjadi influens kamu dalam berkarya?
Dalam mendesain, influens gue adalah manusia itu sendiri karena desain yang sukses itu adalah desain yang berhasil mengomunikasikan pesannya kepada audiens. Sedangkan dalam ilustrasi kebanyakan karya gue terinfluens oleh beberapa seniman kontemporer dan surealis seperti Conrad Roset, Florian Nicolle & Salvador Dali.

Dari sekian banyak genre musik, kenapa Britpop? What’s your personal story about it?
Sebenarnya gue suka eksplorasi musik-musik yang gue denger. Gua coba dengerin ini, gue coba dengerin itu, coba dengerin lagu dari ranah Eropa & Amerika. Tapi kalau ditanya kenapa Britpop jadi yang paling favorit mungkin lirik-lirik dari lagu-lagu band asal British ini yang paling merefleksikan beberapa kejadian di kehidupan gue. Oasis “Stand By Me” itu lagu pertama yang gue denger yang bikin gue jatuh hati sama lagu-lagu mereka sampai sekarang. Lagu lainnya yang bisa bikin emosi gue naik-turun di setiap lirik-lirik juga iramanya dan bersinggungan dengan kehidupan dan orang-orang terdekat gue.

Noel GallagherJarvis Cocker Liam Gallagher

Dari Britpop series ini, karya mana yang pertama dibuat dan apa ceritanya sampai tercetus ide project ini?
Ilustrasi yang pertama kali dibuat itu yang Thom Yorke, kadang kalau gue lagi suka sama sebuah lagu gue suka ekspresiin apa yang gue suka, waktu itu lagi suka-sukanya album solo Noel Gallagher yang Noel Gallagher’s High Flying Birds dan kebetulan Noel Gallagher akan berulang tahun, jadi gue iseng-iseng bikin ilustrasi buat Noel, eh tanpa disadarin kok kayanya asik ya bikin full series legenda-legenda British pop ini. Tapi nggak sempet jadinya yang kesampean baru 4 orang, haha.

Sejauh ini project paling berkesan yang pernah kamu kerjakan apa saja?
Wah semuanya berkesan tapi dengan cara yang berbeda-beda, mungkin yang baru-baru ini gue kerjain ya, bikin 50 ilustrasi tentang Hari Kartini, dikerjain dengan deadline yang cuma 6 hari, selama 6 hari itu jam tidur gue nggak beres dan hampir sakit-sakitan, haha. Klien gue di sini sebuah graphic house dari Jakarta dan gambar gue ini bakal dipake oleh 50 anak yatim piatu dalam bentuk t-shirt.

Oh ya, kamu juga punya dua project yang disebut Kojay dan Ikidolanan, boleh diceritakan?
Haha ini sebenarnya 2 projek itu projek alterego gue aja sih, gue suka koleksi action figure dan gue suka komik. Kalau kojay (komikjayus) karena gue suka komik dan gue pengen bikin komik, tapi nggak punya terlalu banyak waktu buat merealisasikan komik yang serius gitu makanya gue bikin komik yang becanda aja. Ini juga projek gue sama temen-temen gue yang lain yaitu Amer Risnadi, Nino Aditya, Afda Trihatma. Kalau Ikidolanan itu projek web series gue sama Amer Risnadi & Adri Putra, isinya ngomongin dan ngebahas action figure di YouTube.

What’s your dream project?
Membuat sebuah ilustrasi raksasa dan berkolaborasi dengan Konrad Roset mungkin haha, who knows?

Apa project lain baru-baru ini?
Lagi ngejalanin ilustrasi untuk Jazz Goes To Campus 2014 & beberapa ilustrasi untuk brand Monstore.

JGTC 2014

Danu’s favorite Britpop songs:
Oasis – Stand By Me
Pulp – Like a Friend
Beady Eye – Blue Moon/The Beat Goes On
Jarvis Cocker – Don’t Let Him Waste Your Time
Morrissey – The First of the Gang To Die
The Beatles – I’ll Follow the Sun
Suede – The Beautiful Ones
Radiohead – No Surprises

http://danulabda.com/

Art Talk: The Moody Sketches of Natisa Jones

PROFILE 2- Photographed by Olivier Turpin

Ketika anak-anak lainnya tengah belajar menulis dan membaca, Natisa Jones telah lebih dulu menggambar. Datang dari keluarga kreatif, di mana ketertarikan akan seni muncul dengan sendirinya, gadis kelahiran tahun 89 ini selalu tahu jika seni visual adalah sesuatu yang ingin ia lakukan. Passion itu yang membuatnya berani keluar dari rumahnya di Bali saat masih berumur 15 tahun untuk ikut boarding school di Prem Tinsulanonda International di Chiang Mai, Thailand dan meraih gelar diploma pertamanya di bidang Visual Art.

            Sebelumnya, di akhir tahun 2005 Natisa telah menggelar pameran perdananya yang bertajuk “Through My Eyes” di Bali dan Jakarta. Ia pun melanjutkan kuliah seni di Royal Melbourne Institute of Technology Australia, di mana ia mendapat gelar Bachelor of Fine Arts Painting. Lulus dari RMIT, Natisa tidak langsung kembali ke Bali, dan memilih stay di Jakarta selama beberapa waktu dan terlibat dalam berbagai kegiatan kreatif, di antaranya menjalani internship di NYLON Indonesia dan membuat desain print untuk label mode KLE, sembari mulai menyelesaikan beberapa karya terbaru.

            Tak lama setelah kembali menetap di Sanur, Bali, ia lantas membesut pameran tunggal terbaru dengan judul “Are We There Yet”. Dalam pameran yang diadakan di Three Monkeys Sanur akhir Juni tahun lalu, Natisa menampilkan 25 karya sketsa mixed media terbarunya yang memaparkan berbagai imaji yang lekat di kehidupannya. Lewat email, saya pun mengajak Natisa bercerita tentang visinya dalam berkarya.

7. OH ITS SO AMAZING HERE

Hi, Nat, apa kabar? Boleh cerita berapa lama kamu menyiapkan pameran “Are We There Yet”?

Hi Lex, I’m good, can’t complain. Saya sudah merencanakan tentang ekshibisi ini di kepala saya cukup lama namun baru mulai benar-benar menyiapkan semuanya sekitar dua bulan, sedangkan saya sendiri membutuhkan 3-4 bulan sampai semua karya selesai.

How was the opening night?

It was a lot of fun. Beberapa pelukis yang saya kagumi datang untuk melihat karya saya. Orang-orang memberi respons positif dan yang paling saya ingat ada sekitar 8 cewek yang menghampiri saya dan bilang salah satu sketsa yang berjudul “Gak Pernah Sisiran” seperti menggambarkan mereka. Hal itu membuat saya gembira, karena mereka bisa merasa relate dengan karya saya secara personal. That was exciting.

Apa inspirasi utamamu dalam pameran ini?

Inspirasinya hal-hal di sekitar saya. Saya sangat responsif terhadap lingkungan sekitar saya, so I drew a line for all the pieces I have made to be about anything I was going through and an ever moving timeline. Jadi semua karya di pameran ini adalah dokumentasi dari sebuah perjalanan, yang paralel dengan perjalanan untuk menjadi manusia dan perjalanan dalam berkarya. “Are We There Yet?” melempar pertanyaan: to being aware of the present moment but not concerned with a destination or a conclusion. Dengan begitu, tanpa mendikte jawabannya, orang bisa mengingat pengalaman mereka sendiri dan merasa terhubung dengan karya tersebut. So Are We There Yet? You tell me.

8. SABLENG

Bagaimana momen atau mood yang sempurna bagimu untuk berkarya?

Momen atau mood yang tepat untuk berkarya adalah… ketika saya menemukan sebuah momentum dan saya harus menyalurkan ide tersebut ke atas kertas tak peduli di manapun dan kapanpun. sometimes of course, you can’t, Tergantung kondisi tapi biasanya saya akan mulai sketching dulu dan menyelesaikannya nanti ketika saya berada di studio, but there’s no such thing as perfect time, ide bisa datang tak terduga dan umumnya justru ketika saya hendak tidur sambil memandang langit-langit kamar atau ketika berada di mobil… semacam itulah.

Kamu dengan sengaja tidak menghapus atau memperbaiki setiap “kesalahan”, seperti salah coret dan sebagainya dalam karyamu, apa yang kamu pikirkan?

Haha I am lazy, but no, that’s not why. Saya tidak suka menghapus kesalahan. Saya ingin bisa melihat bagaimana karya saya berkembang sejak saya mulai mengerjakannya sampai akhirnya selesai. Saya senang bisa mengingat setiap decision yang saya ambil sampai akhirnya karya tersebut jadi.

Setiap “kesalahan” itu menjadi bagian dari cerita karya itu sendiri. I think it’s not good to try and be too polished and clean. I like errors, I like mistakes, I enjoy chaos. It’s all part of the fun part of why the story is so exciting. Life isn’t perfect, nobody is perfect. Why pretend like it is?

Apa kamu punya personal favorite dari ekshibisi ini?

Hmm… well I don’t know if I have a favorite, but here’s one I get asked a lot: suatu saat, salah satu teman saya melihat beberapa lukisan saya dan berkata jika semua sosok pria dalam karya saya mirip pacar saya. Saya tertawa, karena saya tak selalu sengaja menggambar pacar saya, but because his face and body is the one I have sketched out the most, I become most familiar to his anatomy. Jadi salah satu lukisan berjudul “Always The Same Goddamned Boy” bercerita tentang itu. It’s funny that it may come off as romantic, or cheesy, but it’s not. It’s just part of my process. I just draw and take from whatever is around me. 

5. Its Okay

http://www.natisajones.com/

 

The Style Icon Series by Emma Block

emmablock

Hi, my name is Emma Block and I'm an illustrator living in London.

I have always wanted to be an artist since I was about 10, 
when I was 17 I realised I could make a living as an illustrator.
I feel so incredibly lucky that most of the time my job involves drawing all day.

I live in London and I find it am incredibly inspiring place to live. 
There are so many wonderful art galleries and museums in the city; 
there is always an exhibition to go see, plus lovely parks and markets.
audrey hepburn style icon hi res

My work is very mixed media, and I think it has a slightly nostalgic quality to it. 
I use cut paper, gouache, coloured pencil and ink.
I am very inspired by vintage films and vintage fashion.
jean seberg hi resWhen I had just had my hair cut short Jean Seberg was a big inspiration for me. 
I loved her look in Breathless, 
so I did a little illustration of her, highlighting all the things I liked about her style.
 People really liked it, so that's how my Style Icon series started.twiggy hi res
There are lots more style icons I’m planning on illustrating when I get the time!
 I would love to illustrate Anna Karina, Mia Farrow, Jane Birkin and so many others!

For me Audrey Hepburn is the ultimate style icon.
 When I can't think of what to wear in the morning I think 'what would Audrey wear?'
 She managed to make really ordinary items
 like a white shirt or a black polo neck look amazing.

My own style is quite inspired by the 60s. 
I wear a lot of button up shirts, cropped trousers, trench coats, dresses and striped t-shirts.
 My style is kind of feminine and classic.

brigitte bardo hi res

I like listen to music a lot when I work.
 At the moment I am listening to a lot Francois Hardy 
(she's on my list of style icons to illustrate)
 and Joni Mitchell, as well as 1930s jazz.

I’m currently producing work for a very exciting exhibition,
 taking place next month, which takes the circus as its inspiration.
  I am enjoying drawing lots of circus ladies on the trapeze and dancing with tigers.

The next thing for me would be to write and illustrate my own children’s book!

edie hi res                                          http://emmablock.co.uk/

Art Talk: The Bittersweet Illustrative Animals of Kareena Zerefos

Kareena

Would you mind to tell me a bit about yourself and why you decide
to pursue art?

My name is Kareena. I’m a petite artist, designer and flâneuse, originally from Sydney but based in London. I pursued art, not so much as a decision, rather more because I’ve found it is something I’ve always been compelled to do.

What’s the early influences for your works? Do you remember the
first thing you would consider as your first artwork?

The early influenced for my work was the yearning for tangibility, to go back to creating by hand. Nostalgia and simplicity. I consider ‘Rose Tinted Glasses’ to be my first artwork, but really there were many more before, but I think this was the first piece that lead me to where I am now.

Kareena1
How you would describe your art?

A fragile, slightly nostalgic and bittersweet illustrative style.

 What’s the best advice you ever get from someone?

Do what you love and it doesn’t matter if it doesn’t work out.

kareena-zerefos-3

I read on your bio, you like the word “elephant”,
is it the animal or the word that intrigue you?

Yes! I love the word Elephant, mostly the way it looks written. Obviously the animal is truly amazing too.

Kareena2

You just held exhibition on Curious Duke Gallery, how was it? From
all exhibitions you’re participated, which one is the most memorable
and why?

I didn’t get to attend the show at Curious Duke (I’ve been travelling a lot recently), but as I’m still fairly new to London, it’s just really exciting to be involved in a show with so many wonderful artists.
My most memorable show will always be my first solo show in Sydney in 2008, it was such a terrifying and thrilling experience!

From Pitchfork to cover album, seems you already done many
interesting projects, what’s your dream project/collaboration?

There is always a lot of variety with the work I do, and I am very lucky to be able to work across many exciting industries – music, fashion/textiles and media… a lot of what I’ve already had the privilege of working on has been a dream! There are a couple of collaborative projects that I would love to do like a range of cute underwear and sleep wear (this one might already be in the pipeline – I’ll keep you posted!), and one day I would love to collaborate on some fine porcelain tea and coffee sets.

Kareena3
You draw animals a lot, do you have some kind of spirit animal?

It’s impossible for me to favour one animal over another! At the moment I’m very much drawn to fennec foxes.

What kind of music you’re listening nowadays?

When I draw I tend to listen to The Decemberists, Iron & Wine or Kings of Convenience, all very bittersweet. I’ve also been listening to Melbourne band, Alpine’s new album recently.

From_the_Menagerie_NEW_640
What’s next for you?

I’m spending a couple of months in Sydney (escaping the London winter!), working on some new pieces based on Greek mythology and Aesop’s Fables. Hopefully, I’ll be able to put on a show here later in the year.

http://art.kareenazerefos.com/

Kareena_Zerefos (1)

Art Talk: The Childlike Watermark of Diani Apsari

 Diani Apsari

Hi Diani, boleh cerita sedikit tentang diri kamu dan kegiatan saat ini?

Hi, saya berasal dari Bandung, sekarang kerja jadi desainer grafis di salah satu graphic house di Jakarta.

Apa memori awalmu yang paling berkesan tentang art? Masih ingat gambar pertama yang pernah kamu bikin?

Orang tua saya sering bilang pas saya kecil, saya menggambar “ndhas” (Bahasa Jawa: kepala) melulu. Saya masih ingat dulu pas umur 6 tahun saya menggambar putri duyung dan kepiting. Ibu saya mengirimnya ke Republika, eh taunya dimuat, saya dapat hadiah uang Rp25.000. Terus saya belikan uang itu pensil warna pertama saya.

NYLON

Ciri khas kamu yang paling menonjol yang aku lihat yang berciri buku dongeng zaman dulu seperti Enid Blyton, inspirasi terbesar kamu sendiri apa sih?

Saya memang tumbuh dengan buku-buku cerita bergambar yang cukup variatif di rumah, tapi yang paling saya suka itu serial buku ceritaTini terbitan Pustaka Cerita Gramedia… aslinya namanya Martine, asal Prancis tahun 1950-an.

diani1
Who’s your fave artist?

Wah banyak, tapi saya suka Marcel Marlier (ilustratornya Martine), untuk objek yang lebih dewasa saya suka karya Milo Manara. Iklan-iklan zaman dahulu saya juga suka, tapi sayangnya saya gak tau ilustratornya siapa, hehehe.

lalphalpha-artworks

Bagaimana ceritanya sampai bisa diminta bikinin cover album L’alphalpha? How’s the creative process?

Pertama dikenalin dengan Yudhis (vokalis L’alphalpha) oleh teman saya, dan Yudhis ternyata satu band dengan Herald dan Ciwi (personel L’alphalpha yang lain), teman sekampus saya. Yudhis bilang lagi cari ilustrator yang bisa menggambar ala buku dongeng Enid Blyton, pas itu Yudhis liat-liat karya saya ketika tugas akhir dan sepertinya cocok. Saya juga senang bisa ketemu temen-temen yang suka style gambar saya. Sesudah itu langsung kumpul dengan Satria (manajer L’alphalpha) dan anak-anak yang lain, tuker-tukeran reference. Yudhis bilang kalau konsep albumnya kali ini seperti buku dongeng jaman dahulu, dan kalau bisa mereka juga bisa jadi karakter utama dalam ilustrasi tersebut. Selanjutnya kontak berlangsung via e-mail, dan dalam waktu 10 hari, ilustrasi-ilustrasi tersebut sudah jadi. Untuk desain layout cover dan tipografinya dikerjakan Yudhis.

Jika diminta membuatkan ilustrasi untuk band/musisi favoritmu, kamu mau siapa?

Kalau musisi lokal, saya ingin buat ilustrasi untuk Sore, Stars and Rabbit dan Mian Tiara. Kalau luar, Bjork.

little l’alphalpha.

 What is your dream job?

Jadi ilustrator, punya klien yang bonafid, pameran keliling dunia, punya studio sendiri di rumah.

Next project?

Kebanyakan personal project, lalu ada project cerita bergambar dengan teman saya yang sudah lama ketunda, dan mungkin akan ada lagi project dari L’alphalpha untuk album berikutnya.

http://dianiapsari.tumblr.com/

kitties

Art Talk: The Magical Animals of Mia Taninaka

Free spirit dan adventurous adalah dua kata yang bisa menggambarkan Mia Taninaka, seorang seniman berdarah Jepang-Australia yang kini bermukim di Bali. Dua kata tersebut juga mewakili apa yang tertangkap dari ilustrasi berbau folklore dan shamanisme karyanya, yang menampilkan objek-objek alami (mainly, its various type of birds) dengan palet warna yang bold dan dipenuhi detail impresif. “Seni bagi saya adalah cara untuk melepaskan energi tertentu dari tubuh kita. Kurasa penting bagi semua orang untuk memiliki creative outlet tertentu, entah melukis, menari atau apapun yang bisa membuatmu bergerak. Kalau tidak, stress sehari-hari akan menumpuk dan membuatmu gila.” Ujar penggemar musik Davendra Banhart tersebut. Setelah menggelar pameran tunggal terbarunya “And The Gods Made Love” di Deus Gallery, Canggu, Bali, pemilik design company Wolfie & Huck ini sedang mencoba mengenal Indonesia lebih jauh. Here, she’s talking about her art.

Hi Mia, how are you? How’s going on? Would you mind to introduce yourself?

Hi, I’m Mia. I’m a 27 year old half Japanese girl born on the full moon in May. I enjoy hot cups of tea, carrot cake, lentils, sunny days with a cool breeze, and going on epic adventures with my amazing boyfriend and beautiful friends.

Where do you live right now and how you spend your usual day?

I’m currently living in Bali. Spending most of my days in the sun, at the studio painting & drawing, reading books, travelling around Indonesia and dreaming about holidays. I’ve done a bit of travelling to various places in Java, Lombok, Sumbawa and are planning a roadtrip through Sumba in the near future. I’m learning to speak Indonesian at the moment, but I’ve been pretty lazy!

How long have you been creating art? When did you first consider yourself an artist?

I’ve been arting around since I was a kid, making birthday cards and painting my bedroom walls. I had my first show a few years ago, but I don’t think I considered myself to be an ‘artist’ till I got to quit my day job.

 

Where do you grow up? What was your childhood like? Are you come from creative family?

I grew up on the Northern Beaches of Sydney and spent a lot of my childhood travelling through Sth East Asia with my family. This gave me a cultural kick in the butt and opened my eyes and mind to a whole new world and way of life.

Can you remember the first artwork you ever did?

No, but I recently found a box of paintings I did for my parents in kindy. Lots of trees and flowers, the ocean and the sun with happy fish and birds.So I guess my style hasn’t changed much since then haha.

Are you going to art school?

I’ve never been to art school. I studied Graphic Design, but I’m not really a fan of timetables and exams and my concentration span is terrible!

 

Who/what have been your greatest influences?

Music, mountains, the ocean, animals, my boyfriend, carpets, spirituality, folklore, shamanism, the moon and love.

Which artists do you admire?

Gustav Klimt, Devendra Banhart, Ricardo Cavolo, Marc Chagall, Kelsey Brooks, Bob Dylan, George Harrison, Margaret Kilgallen and many more. There are so many amazing artists at the moment, it’s good to see so much creativity in the world.

What’s inspiring you at the moment and why?

I’m experiencing a bit of a creative block at the moment, so I’m filtering through a lot of other artists work and referencing old images of birds, animals and botanical plants.

What’s your preferred medium to work in and why?

I mainly work with acrylics, ink and watercolours on timber surfaces. I like the bold flat colour of acrylics, the fine imperfections of ink and the soft pretty rainbows watercolour can make.

What’s your favorite object to draw?

I love painting feathers and leaves and eyes. I love the details you can create in a birds feather and the different expressions you can convey in the eyes.

 

Tell me about Wolfie & Huck, where the name came from?

Wolf-girls are amazing and my boyfriend kinda reminds me of Huckleberry Finn..so I stuck them together and made a nice little love story about them.

What you’re working on now?

I’ve just been commissioned by a very good friend to do a large crow portrait so I’m excited about working on that. I’m also working on a collection of painted resin cast deer skulls.

Do you listen to music while making art or you prefer some silence? If you choose music, what kinds of music do you listen to?

I’ve got to have music playing to do any sort of creative work. A lot of Bob Dylan, Al Green, Dan Auerbach, The Greenhornes, Black Keys, Charlie Parr, George Harrison, The Beatles, Devendra Banhart, heaps of Neil Young. Anything that makes you feel something deep inside your belly or puts a smile on your  face.

What are your tips to get over the creative block?

Stop working for a bit and have a time out from the pressure of needing to be creative right then and there. Have a cup of tea, go camping, read a book, just start doodling mindlessly again and give yourself a guilt-free day off.

That’s the beauty of being an artist, you can give yourself a day off if you’re not feeling it.

 

What one place would you recommend people to get inspiration?

Lying down under the stars. You can get lost up there and your mind gets to go exploring.

What’s the best piece of advice you’ve been given?

“Don’t worry about it. Everything’s going to be amazing”

Next project?

Mm, no idea yet. I’m just going to work towards doing another solo show early next year.  I haven’t put much though into my next show. I’m hoping to experiment more with other mediums…maybe some sculpture, wall hangings etc. Make it more of an interactive show.

http://wolfieandhuck.blogspot.com/

Art Talk: Sarah Larnach

Hi Sarah, how are you? Please tell me about yourself.

Hi! I am really good, thanks. I work as an artist (a painter) and occasional art director; you may know my work from collaborations I’ve done with musicians. I’m living back in my homeland, New Zealand after spending thirteen years based in Australia. Its good to be home but I’m too busy painting to enjoy it at the moment!

How do you start making art? When the first time you realize you good at it?

The art making obsession started when I was a child- I would pretend to be sick I order to stay home from school and work on my latest ‘series’. I didn’t believe I was ‘good at it’  until aged 16, when a few teachers at school were very very encouraging. I did win my first art prize at age 12 however, at a local fair; I had made a clay mask of a goblin from the movie The Labyrinth.

What things inspire you as an artist?

Movies inspire me because they are masterpieces of imagination. Photographs inspire me because they appear so naturally perfect, but you know so much work has gone into the shot. The biggest inspiration though, is the desire to make my friends smile.

How you define your style?

Watercolour and ink paintings of little heroes, painted with a love of the medium and the subject, often bright, often naughty, often funny.

What’s your fave material to work with?

I like to paint in water colour on really heavy, smooth paper. Lately ink has become an obsession also; Windsor & Newton Coloured Inks are my favourite.

How did the collaboration with Ladyhawke come about?

We met when I was at art school and Pip was making music, but not yet as ‘Ladyhawke’. A few years later we both moved to Sydney and in the tiny apartment we shared, she and I began to work on the early visual images for Ladyhawke. The Ladyhawke art has been around for as long as the Ladyhawke sound.

How’s the creative process? Do you listen to her songs while making the artwork?

She lets me listen to her songs as they’re written, so I already have a feel for the songs, but yes when it comes to making art for a specific song- I listen to that song on repeat while I’m getting the idea together. When I’m actually painting, I listen to books and have movies playing because otherwise my mind wanders too far.

Beside Ladyhawke, have you made any other music related illustration?  

Ladyhawke was the first, and I credit our collaboration with launching my international career. I’ve since worked on album covers and illustrated several other bands and musicians. A love of album art has been life long for me, and I was very inspired by the music/visual art relationship when I studied art.

Your most fave album art ever?

Led Zepplin – III, Roxy Music –Country Life, Little Feet – Waiting For Columbus, and everything that Derik Riggs did for Iron Maiden.

If you got a chance to making artwork for any musician/band, who would it be?

Jay-Z. Or to paint Nicki Minaj as a pin-up girl.

What’s your dream job?

Painting Fleetwood Mac for Rolling Stone magazine. And illustrating for a movie.

What do you do in the free time?

My girlfriend and I just moved into a new house- I’m spending  a lot of time trying to make it look like a tropical dreamland. Also, I like to cook. And to explore.

Next project?

I’m painting thirty small paintings which were commissioned a few weeks ago, and I’m working on large portraits works for my debut solo show… maybe I should bring it to Indonesia!

http://sarahlarnach.blogspot.com/

Art Talk: The Cosmic Iconoclasm of Fab Ciraolo

Ever wonder the alternate reality where Picasso was born in modern era and became a provocative graffiti artist (while wearing The Black Keys tee) or Marlene Dietrich as a sex symbol (with Arcade Fire tattooed near her breast) instead of Madonna? Well, that’s what happens in cosmic vision of Fabian Ciraolo, a young artist from Santiago, Chile. Bringing the cultural (and even religious) icons to hipster culture is just a little part of awesome portfolio that he’s done as an illustrator, while also being a drummer for a 4-piece indie rock Oh Margot. Superb.

Hi Fabian, how are you? Would you mind to tell us about yourself and what are you doing right now?

Hey! All good here, about myself… I am an illustrator from Santiago Chile, and these days I am working on my upcoming exhibitions in Mexico, Chile, Brazil, France… and other countries.

Since when you start making art?

Since I have memory, all my life I was drawing, so.. it is hard to say when all of this start.. I just now for sure it won’t stop.

 It seems like you’re kinda into pop culture, judging from how you incorporate the historical figure with pop icon and bands like CSS, Cut Copy, etc. What prompt you to do that? And how the usual creative process behind your works?

I don’t know if I am into pop culture or not, honestly I don’t even get what pop culture really is, and I really not interested to be part of something. I just make what I want to… the music and bands that you see in my drawings is just because I can’t draw without music… My usual creative process is a mess, I just put in the paper these ideas that came to me.. is not always the same.. sometimes the idea is around my head for days and I need to find the perfect day to draw it and have fun doing it. Almost all day I am thinking nonsense things… my brain is really particular…it’s always filled with a lot of stuff, I need to reorder them and give them a twist.

Who’s your favorite pop icon and why?

Don’t have any favorite, this series of icons start because I love Frida, so drawing all the other characters was the next step. Usually these characters are people that interest me for some reason… Dalí is my favorite artist and human being!

  What did you like doodling as a kid?

Things from my head.. weird stuff came up.. my parents really think that was something wrong with me.. and also lot of portraits of my mom… since I was little.

Tell me a bit about your band, you made the cover art too, right?

Yeah, Oh Margot is my band, so it was a really nice project. We are working on our first big record now, so I think I will do something again. I love to make cover for bands, in fact now I am working some covers for really good bands out there.

So music always being a big part for your art?

Music is a big influence, for sure, I can’t imagine drawing without music in the background. I love lot of bands.. don’t make me pick some favorites cause I can’t! Haha!

  If you can add some soundtrack to your art, what song you will choose?

Mmmm… The Animals – House Of The Rising Sun.

What makes you happy?

Friends, family, music, band, concerts, exhibitions, vodka and drawing.

Would you recommend one of your favorite places in your hometown?

Valparaíso, in the coast of Chile, such a beautiful and interesting place!

What’s next?

Starting a new series, nothing like the icons, it’s another concept. I will show a little glimpse of it soon, but I am really happy with this new drawings… fun and kinky!

http://fabianciraolo.blogspot.com/

Art Talk: Still Loving Youth Illustration of Ryan Ady Putra

Boleh cerita sedikit tentang dirimu dan apa yang kamu kerjakan?

Halo nama saya Ryan Ady Putra, mahasiswa tingkat akhir di salah satu institut seni di selatan Yogyakarta. Minum kopi 2x sehari dan gemar menggambar dengan indian ink di kertas.

Apa yang mendorongmu untuk menjadi seorang ilustrator?
Emmm ilustrator? Sebenarnya sih nggak mau disebut ilustrator, lebih suka disebut artist, hehehe
ya alasannya klasik banget sih dari sekadar hobi menggambar, tertarik sama dunia seni, dan saya rasa jadi ilustrator itu fun banget. Kamu bisa memvisualkan apa saja yang kamu pikirkan dan yang kamu ingin sampaikan ke publik.


Bagaimana kamu mendeskripsikan karyamu sendiri? Pilih satu
lagu/video yang bisa  menggambarkannya.
 Karyaku? Respons visual dari apa yang ada di sekitarku, tentang bagaimana cara merayakan hidup, menceritakan kegelisahan dan harapan atau kegalauan seorang anak muda untuk masa depannya. Buat lagunya coba deh dengerin “Shine On You Crazy Diamond” dari Pink Floyd.


Apa influens terbesar untuk karyamu?
     Paling banyak sih karya saya ter-influence dari musik, skateboard dan lifestyle anak muda tentunya. Yang lain mungkin dari kejadian sehari-hari yang ada di sekitar saya. Contohnya kaya kejadian orang utan yang dibakar kemarin terus saya iseng bikin drawing orang utan judulnya “There’s No Way To Home”


 Di mana domisilimu saat ini dan apa hal paling keren dari situ?
    Saat ini saya tinggal di Yogyakarta. Yang paling keren yaitu banyak banget seniman-seniman keren dari yang muda sampai yang tua ada semua di sini.

Siapa seniman lokal idolamu?
   Saya memilih satu paket seniman yang ada di Ace House Collective. Idola banget tuh semuanya, haha… Soalnya karya mereka “still loving youth” banget.

Selain art, apa lagi yang kamu lakukan?
    Saat ini selain gambar sih ya kuliah. Prepare buat skripsi.

Sejauh ini, dari semua karyamu, mana yang paling kamu anggap personal?
Mungkin karya yang judulnya ” Make Yr Own Tomorrow” saya membuat 4 panel di piringan hitam. Saya menceritakan tentang harapan dan apa yang harus dilakukan untuk menghadapi masa depan yang gemilang.


Selain di atas kertas/kanvas, apa kamu pernah berkarya dengan
medium lain? Apa medium yang paling ingin kamu coba?
    Saya sudah pernah bikin di papan skate bekas, teak wood, piringan hitam. Lagi pengen banget sih coba di keramik atau kaca. Kelihatannya gampang-gampang susah tapi menarik buat dicoba.


Pameran paling berkesan yang kamu ikuti?
      “Can’t Grow Up” Art Exhibition di California. Itu pertama kali saya pameran di luar negeri, saya pameran bareng artist idola seperti Jimbo Phillips, Michael Sieben, dll.


Apa quote favoritmu tentang art?
    “Kalau kamu nggak bisa dapet uang dari karyamu, kamu bisa cari uang dari tempat lain, biar tetap bisa berkarya”

Current/next project?
Akhir September nanti saya ada pameran di Perth, Australia sama beberapa seniman dari Australia dan Amerika. Sekarang juga lagi prepare buat t-shirt merch saya sendiri yang saya beri nama The LVST project.

http://www.localyouth.blogspot.com/

Art Talk: The Intricate Embroidery of Izziyana Suhaimi

Embroidery art is not a new thing, for sure, but in amidst of blooming illustrators/artists start dwelling with this mixed media approach, one of the front-runners is Izziyana Suhaimi, a Singaporean artist that combining an intricate embroidery details for her pencil and water colors drawing of (most of it) young girls. I’m a fan since the first time I saw her works and can’t wait to have a little chat with her, it goes like this.

Hi Izzi, how are you? Would you mind to tell us a bit about yourself and what are you doing?
Well, a little bit about myself. I love to read, I love grey days. I am currently doing a mentorship program with a local gallery. I am experimenting more with embroidery and mediums in general, which is all very exciting and keeping me busy.

How was it started? Since when you start making art?
Like most kids, I love to draw. But I’ve never had any proper art training until university, when I took a degree in Photography. I also started embroidering while in university. After graduating, I wanted to put my works out into the world, and so that’s what I did and that’s how it all started.


 
How the usual creative process is goes for you? Do you always incorporate embroidery for your works?
So far, yes, I find that embroidery works very well in most of the works I make. But I’ve been working with it for a few years now and who knows, I might find another medium, or I might stick with embroidery for a really long time.
Usually, I will get an image in my head, which I find interesting to explore and I will go off in some directions (research, sketch, staring into space) to find out what this one image is about. But lately I find myself trying to pin down one idea or one thing that I want to express and figure out how to say this in a visual form. So it’s the opposite from how I usually work.

Where do you usually get the inspirations?
From things I read, music I listen to, inspiration can come from anywhere!

Do you have any specific era or culture that kind of influence your works?
I think that would be the now. I like to observe what the current trends are, what people especially the youths gravitate towards and are concerned about, what the world is obsessed with – contemporary culture. And from there, I like to relate it back to history and traditional culture. I find that the now is a constant mix of all eras, a sum of all history and even the future. It is always in flux, so there is a very rich source of inspiration.

Do you have some dream project or things you always want to try/make?
I have a lot! One of the things I would really like to do is to embark on a project where a lot of artists from everywhere work together to create one thing. It’ll be interesting to see what comes out of that.

Beside art, what else you’re fond of?
Books!

How do you deal with creative block?
Enjoy it! When I don’t feel like making anything, I try and go and do something else. Things are happening but on a subconscious level, everything is “stewing”. Once inspiration hits, sometimes I find that I will be dying for a break.

If you can collaborate with any person in the world (designer/artist/anything), who will you chose and why?
Ah that’s a tough one, there are so many. I think my dream collaboration would be with musicians I love – Metric, The National, Mew… I’m also fascinated with Islamic Arts and Arabic calligraphy, so maybe to collaborate with an expert in these fields would be interesting too.

What we can expect from you in the future?
This is another tough one! Well lots of things but they’re all a bit vague now so I can’t really give details. But I am definitely definitely excited to find out what’s in store.

http://my-bones.tumblr.com/