Be Kind, Rewind: 5 Illustrators Remaking Their Fave Movie Posters

Whether you judge a movie from the poster or not, poster film memang selalu menjadi bagian integral dalam ikonografi sebuah film. Lebih dari sekadar alat promosi yang dengan vulgar menyuguhkan kalimat bombastis dan nama-nama besar pelakonnya, ada sebuah masa ketika poster film menjadi medium bagi para ilustrator untuk menginterpretasikan adegan atau tema yang lebih subtle dalam film tersebut lewat gaya artistik yang beragam sebelum akhirnya tergerus oleh medium fotografi. Untuk membangkitkan semangat yang ada di masa-masa itu, saya pun mengajak lima ilustrator berikut untuk menginterpretasikan poster film favorit mereka dengan signature style masing-masing.

BIH HERO 6 POSTER_NYLON 

William Davis

Instagram: @wd.willy

 WD.WILLY PHOTO PROFIL

Describe yourself in one sentence!

Orang yang sering memperhatikan lingkungan sekitar.

Current project?

Project buku ilustrasi Azka Corbuzier, membantu Faza Meong dalam pembuatan Si Juki, dan tetap sebagai mahasiswa di suatu kampus di Jakarta.

Ilustrator favorit?

Eiichiro Oda (komikus manga One Piece), Rhoald Marchellius, Kim Jung Gi.

How would you describe your artwork?

Memiliki karakteristik dalam setiap pembangunan karakternya, sangat bermain dengan gesture dan ekspresif, dan sangat teliti tentang detail dan pencahayaan.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Big Hero 6! Karena sangat cocok banget dari mulai karakter, tempat, segala sesuatunya tentang Big Hero 6 sangat mirip dengan style saya!

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Karena menurut saya Big Hero 6 sangat unik dalam segi cerita maupun pembangunan karakternya sangat berkhas Jepang. 

Your Instagram crush?

@thepumpkinbear, @hong_sonnsang, @jakeparker, @david_adhinarya_lojaya

Next project?

Sedang dalam pembuatan komik dan pembuatan buku ilustrasi Azka Corbuzier.

mr nobody

Anindito Wisnu

IG: @aninditowisnu

Photo 11-10-15 17.55.41

Describe yourself in one sentence!

Seorang arsitek yang belum juga sukses dan sedang mencoba menjadi seniman yang siapa tahu bisa lebih sukses.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Sebelumnya hanya hobi, mulai serius berkarya setelah mendapat tawaran untuk menyumbang artwork di novel karya Risa Sarasvati, Sunyaruri.

How would you describe your artwork?

Similarity. Menangkap esensi dan karakter objek yang digambar melalui ekspresi muka, selebihnya saya bisa “bermain-main” di bagian lain seperti rambut, badan, dll.

Alasan memilih Mr. Nobody untuk di-remake posternya?

Film ini menyadarkan saya bahwa hidup terdiri dari keputusan-keputusan dan pilihan yang akan membawa kita ke cerita hidup selanjutnya. Sebuah pilihan yang sederhana pun ternyata sangat menentukan nasib kita ke depan secara signifikan. Pilihan tersebut bukan perkara benar atau salah, namun bagaimana kita memaknai segala proses dalam hidup di setiap langkah yang kita ambil. “If you never make choice, anything is possible.”

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Beauty And The Beast (2015), karena menampilkan salah satu cerita dongeng masa kecil favorit saya namun dengan sajian visual yang dark gloomy.

What’s your latest obsession?

Obsesi saya untuk bisa menyimpan karya saya di setiap negara yang ada di dunia ini.

cd5

Gemma Ivana Miranda

IG: @gemmaivanamiranda

Gemmabio2

Describe yourself in one sentence!

A visual enthusiast, dreamy dog lover, Disney aficionado, dessert devotee, and music habitué.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

I grew up loving fairytales and folklores, and I have been an avid doodler since I was a kid. But it was not ‘till my college years I got into designing seriously.

Apa objek favoritmu?

Binatang! Untuk kolase,saya suka mencari ilustrasi vintage, foto-foto klasik, dan motif-motif abstrak.

Ilustrator favoritmu?

A lot of people! Samuel Burgess Johnson, Sam Chirnside, Sam Donaldson, Raf Ram, dan banyak lagi. I usually find random artists through my Behance account.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Semua film Disney klasik yang hampir seluruh elemennya dikerjakan oleh tangan, serial Harry Potter, dan apapun dari Wes Anderson.

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Ilene Woods, yang mengisi suara Cinderella, adalah favorit saya, dan saya telah mencintai cerita ini sepanjang hidup saya. I find that older movies (and music!) give me so much tranquility and inspiration.

Your Instagram crush?

@kathkrnd, @yendryma, @theacademynewyork, dan @samuelburgessjohnson. Untuk fashion, saya suka @jennalyyy dan @stone_cold_fox

What’s the coolest art tip you’ve ever received?

My professor once told me to never lose myself in an artwork and to always give a touch of magic. After all, as quoted from Ursula Le Guin, “The creative adult is the child who has survived.”

 Scan10163

Muchlis Fachri

IG: @muklay

 Muchlis fachri_ foto 4

Describe yourself in one sentence!

Naughty or free but polite, hehehe!

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Kehidupan sehari-hari dan sneakers. Dahulu aku senang sekali menggambar sepatu polosku karena gatal apalagi kalau warnanya putih, sempat dimarahi ibu karena itu.

Ilustrator favoritmu?

Banyak sekali, aku sangat terinspirasi dari seniman pop Amerika, sampai street art NYC yang membuatku amaze karena tidak mungkin dilakukan di Indonesia. 

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Aku suka sekali dengan setiap karya Tim Burton, lalu aku juga menggemari Johnny Depp karena setiap dia ada di film Tim Burton selalu dengan kostum dan make-up yang berbeda-beda, sangat total, dan saya memilih Edward Scissorhands, karena selain film ini sangat cool di segi visual, juga mempunyai cerita yang sangat mendalam.

Your Instagram crush?

@DABS MYLA dan @TRISTANEATON, they are dope, sick, and crazy and last but not least @laurenevemayberry.

Next project?

Let it flow! Tidak pernah merencanakan sesuatu dari jauh, semua serba shocking and shaking, hehe!

MOVIE POSTER -

Lissy Radityanti

IG: @lissy.ra

 IMG_4820

Describe yourself in one sentence!

I am a 21-year-old girl who is very passionate in any form of art, call it music, movie, or fine arts, I’m in!

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

I guess it’s in my blood, karena keluargaku turun temurun semuanya senang berkarya baik musik ataupun hand-craft. Tapi mungkin karena dari kecil aku juga suka nonton Disney’s cartoon especially the princesses, and always got mesmerized by its visual jadi aku pengen bisa menggambar sebagus itu dan jadi suka gambar dari kecil.

Apa objek favoritmu?

Girls. Because they are pretty, magical, and powerful. 

Ilustrator favoritmu?

Agnes Cecile, Diela Maharanie, dan Paula Bonet.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Any Wes Anderson’s movie. The Grand Budapest, Fantastic Mr. Fox, The Darjeeling Limited. Karena tone warnanya yang visual-appealing untuk saya dan teknik pengambilan gambarnya yang quirky dan khas banget.

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Film ini salah satu film yang visualnya sangat indah dan dreamy. Walau film ini dirilis tahun 1999, tapi serasa lagi nonton film 70-an dari mulai tone film sampai musik-musiknya, so I guess that’s kinda cool.This movie is also an adaptation from the novel with the same title and the movie director, Sofia Coppola (one of my faves) cukup berhasil menyampaikan pesan melalui film ini tanpa mengurangi esensi dari bukunya. I also feel personally attached to the movie when I first watched it and that’s rarely happen.

What’s your latest obsession?

I’m obsessed with vintage movies, psychology, and Mr. Robot!

 

 

Art Talk: The Inky Juxtaposition of Mediocrux

mediocrux_onel-and-ervi_picture

Sama halnya dengan seorang penulis, sometimes being an artist is a lonely job. Bagi mayoritas, berkesenian adalah proses “bertapa” seorang diri dengan ego dan pemikiran personal, but some artists are lucky to have a fellow artist as their partner, in sense of romance, creative, or both. Seperti yang dialami oleh Norman Dave Carlo Nelwan (Onel) dan Eugenia Ervi, sepasang ilustrator dan tattoo artist Jakarta yang berkarya bersama dengan nama Mediocrux. “Kita awalnya satu kampus, cuma nggak dekat, lalu kita kembali bertemu lagi saat bekerja di kantor yang sama. Semenjak satu kantor kita mulai banyak berdiskusi dan ternyata kita memiliki cukup banyak persamaan lalu kita pacaran, hehehe. Sembari mengisi masa pacaran kita coba untuk membuat proyek bersama, lalu terbentuklah Mediocrux,” terang Onel dan Ervi yang sama-sama lahir di tanggal 24 Maret (Onel yang lahir di tahun 1991 lebih tua setahun dari Ervi). Mediocrux yang dimulai pada pertengahan 2015 pun menjadi platform kolaboratif bagi keduanya. Tak hanya terbatas oleh kertas, kanvas, dan dinding, Mediocrux juga membuat customary item yang bisa digunakan sehari-hari, seperti leather patches, sketchbook, dan dompet untuk menyebut segelintir produk yang dibuat secara hand-made dan hand drawn oleh tangan keduanya dari awal hingga selesai.

Apa cerita di balik nama Mediocrux itu sendiri? “MEDIOcre + horcRUX”, mediocre karena kita merasa banyak banget ilustrator yang karyanya bagus-bagus banget jadi sebenarnya mediocre ini diambil dari rasa minder kita dan horcrux karena kita suka dengan konsepnya (padahal kita bukan fans berat Harry Potter) di mana horcrux dipakai untuk menyimpan sebagian jiwa seseorang, di sini kita menganalogikan karya kita sebagai horcrux.

Apa saja influence untuk kalian dalam berkarya? Dari hal yang kita alami, obrolan sehari-hari, film yang kita tonton, musik yang kita dengar, buku yang kita baca, juga dari hal-hal yang mengganggu pikiran.

Siapa saja artist favorit kalian? Kalau Onel: Albrecht Dürer dan Danny Fox. Ervi: René Magritte.

Karya kalian identik dengan warna hitam yang pekat, baik di Mediocrux maupun personal, how do you two describe your own aesthetic? Kenapa hitam sejujurnya kita juga nggak tau pasti kenapa, cuma setiap ngebayangin mau gambar apa, yang kebayang ya gambarnya warnanya hitam. Mmm… bagi kita less is more, kurang lebih sih itu juga yang kita terapin dalam berkarya.

15338420_245515072529189_6178674402234728448_n

Untuk di Mediocrux sendiri dinamikanya seperti apa saat berkarya? Is there a clash of ego? Saat berkarya bersama kita biasanya brainstorming bareng lalu pada saat eksekusi karya, kita biasanya bagi porsi setengah-setengah untuk memenuhi ego masing-masing.

What it feels like to be a couple and making art together? Sangat menyenangkan karena bisa saling tukar pikiran dan jadi lebih mudah memahami satu sama lain as a couple.

Dari berbagai medium yang pernah kalian olah, apa yang menjadi favorit? Kertas dan kulit sih sejauh ini.

ef19c2263d089dc9d22db0ba827d2cba

Sejauh ini project apa yang memorable bagi kalian? Bagi kita kayanya sih yang paling memorable itu self-project kita dalam membuat merchandise Mediocrux, karena di situ kita banyak eksplor baik media maupun teknik dalam membuatnya.

Apa project selanjutnya? Untuk project mendatang kita ada rencana untuk buat buku ilustrasi,  tapi baru rencana aja sih, hehe.

What’s your dream project? Yang lagi kita jalani sekarang.

13715299_1751089861825515_423680283_n

http://www.instagram.com/mediocrux/

#30DaysofArt 29/30: Wastana Haikal

“Nama lengkapku Haikal, tapi aku coba tambahkan unofficial name di depan, yaitu Wastana (‘wasta’ di dalam Bahasa Sunda artinya ‘nama’, wastana = namanya). Why I chose this name because everytime I introduce my name, everybody always asking me my full name,” ungkap freelance graphic desainer kelahiran Bandung, 12 Juni 1994 yang baru saja lulus dari DKV ITB ini. Terinfluens dari kartun masa kecil seperti film-film Disney’s serta serial animasi Avatar: The Last Airbender, ia mengembangkan gaya ilustrasi yang terkesan quirky, vibrant, dan penuh detail. Maka tak heran jika ia pun menaruh minat khusus pada animasi. Proyek akhir kuliahnya berupa film animasi pendek 2D bertajuk Biwar yang berdasarkan folklore Papua adalah bukti dari talentanya yang menjanjikan.

haikal

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Specifically,aku lupa. Tapi, keluarga aku dari ibu dan ayah memang banyak yang tertarik terhadap seni dan estetis. Kakek aku, dua-duanya senang menggambar, tanteku tertarik dunia fashion, tante aku yang lain tertarik di bidang kerajinan, ibuku senang terhadap nilai estetis dalam berpakaian atau hiasan rumah. Jadi mungkin secara alami alam memperkenalkanku terhadap seni. Tapi untuk yang secara formal itu sepertinya terjadi waktu SD, jadi aku masuk ekstrakulikuler gambar, nah di situ gurunya adalah guru kelas keterampilan. Beliau adalah orang kedua yang sering melibatkan aku di dalam lomba gambar setelah ibuku.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Satu, tanggung jawab sebagai lulusan sekolah desain yang menurut aku emang harus selalu berkarya. Dua, mata pencaharian, haha. Tapi pada dasarnya aku senang banget buat sesuatu.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Emte, NALU, Diana Volonskaya, Kelly Beeman, Ariel Victor, Zaruhi Galstyan, Rebecca Green, Oliver Jeffers, Rachel Ajeng, Alina Chau, Maruti Bitamin, and many more.

biwar

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Saat masuk kuliah, aku diperkenalkan dengan cat air oleh dosen gambar bentuk. Sebelum itu aku sudah tau apa itu cat air tapi belum pernah menggunakannya, lebih sering menggunakan pensil warna yang bisa di-blend menggunakan air. Nah, saat aku coba cat air, aku seneng banget. The after effect was mesmerized me. Stroke-nya sama hasil “beauty mess” yang ia hasilkan. Akhirnya mulai dari situ aku pakai cat air terus untuk membuat karya-karya manual. Pada satu waktu aku akhirnya beli pen tablet karena aku ingin mengasah skill digital drawing (cat air masih tetap berjalan). Intinya, sampai sekarang aku masih menjalankan manual dan digital karena aku merasakan ada keindahan tersendiri dari mereka berdua, dan terkadang mereka memiliki misi yang berbeda, dalam artian ada beberapa konsep karya yang aku rasa lebih cocok pakai manual, atau lebih cocok pakai digital sehingga aku menetapkan untuk mempertahankan itu.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Festive, vibrant, cheerfull, quirky, immature, detail, exaggerate.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama aku, kata ibuku adalah ikan lumba-lumba di lantai rumah pada saat umur 3 tahun. Dan semenjak itu aku terus menggambar sampai detik ini. Kalau official pameran aku yang pertama pas ada di tingkat 1 kuliah. Pameran tugas akhir tahun 1 untuk penentuan program studi di tingkat 2. Seperti mahasiswa yang lain, aku menampilkan tugas-tugas tingkat 1 seperti Nirmana, gambar bentuk, gambar konstruksi, dan lain-lain. I was so excited that time bukan karena pamerannya tapi karena persiapannya yang benar-benar mengerahkan 200+ orang satu angkatan untuk membuat pameran itu. Kami menginap di kampus, men-display, dan lain-lain.

untitled

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Berkesempatan meluncurkan buku ilustrasi anak pertama aku awal tahun 2016 di bawah asosiasi Room To Read dan PROVISI dan menyumbangkannya hampir ke seluruh perpustakaan terpencil di Indonesia bersama buku-buku dari ilustrator lain. Satu lagi, ini agak fanboyish tapi, I was so happy salah satu karya aku tentang Meghan Trainor mendapat apresiasi dari Meghan Trainor dan dia me-repost itu.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Aku bisa mendapatkan unlimited referensi. Like really. Unlimited. Jadi aku bisa tau orang-orang skill-nya udah sampai mana, media apa saja yang dipakai, tutorial, dan lainnya yang menyangkut kemakmuran skill kita. Dan kalau beruntung kita bisa personal message ke artist yang kita tuju dan menjadi teman di dunia maya. Tapi terkadang aku bakal mudah putus asa. So many talented people on internet. Dan nggak jarang karya mereka keren mampus. Dan kadang aku suka jadi down, putus asa, dan bahkan bisa sampai berhenti berkarya. Padahal mungkin aku harus sabar sedikit, siapa tau aku sedang on the way ke sana with more practice and intergrity atau aku memang nggak bisa kaya yang lain karena memang itu keunikan aku dan gimana caranya keunikan aku itu jadi nilai tambah.

guys

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Kalau untuk Bandung sendiri, aku udah mulai senang karena sudah mulai didandani di sana-sini. Nuhun Kang Emil. Sebagian orang bilang beliau hanya menata kota namun tidak membenahi kota. Well, I think dia membenahi kota juga. Kota itu di dalamnya ada manusia, dan manusia butuh hiburan dan sesuatu yang eye pleasing dan Ridwan Kamil udah bikin itu dan menjadi contoh untuk kota- kota lain. Walaupun Bandung sekarang macetnya udah mampus. But anyway, I like his programs and progress. Orang-orang di Bandung, contohnya saja di ITB sudah mulai menyadari berapa besar nilai seni dan desain di berbagai aspek kehidupan. Dalam bikin acara, brand dan lain-lain. Bahkan ada kabar, karena ITB sedang mengejar sebuah akreditasi, mereka mengajak teman saya untuk membuat mural di setiap fakultas. And it’s such an old song, every time I graduate from school, the school gets more beauty. Tapi ya gitu, sebagian besar orang masih kurang concern terhadap nasib dompet para desainer dan seniman. Hiks.

Current obsession?

I really want to go to America no matter what the purpose is. I want to live there, one week is enough. I want to be one of the animator, or illustrator, or intern in Walt Disney’s movie production.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di kamar aku, duduk di depan laptop. Aku nggak terlalu banyak main keluar pas weekend, karena jarak rumah aku jauh dari pusat kota, bisa 2 jam. Jadi keluar rumah kalau ada occasion aja. Paling aku keluar ke Miko Mall, nearest mall that provides duniawi amusement from my house kaya bioskop, KFC, McD dan lain-lain. Paling jauh ya sekitaran Kota Bandung, terutama Dago. Biasanya aku kumpul sama teman sambil ngobrol atau ngerjain kerjaan.

baroque-2

Project saat ini?

Aku baru menyelesaikan proyek animasi dari J&T Express semacam pengantar paket yang digunakan untuk pelatihan para kurir. Aku juga baru menyelesaikan proyek buku cerita seri tentang pertumbuhan seorang cewek, aku dapat bagian cerita saat dia menemukan kesempurnaan dirinya. Selanjutnya aku bakal ikutan workshop ilustrasi bersama Room To Read dan PROVISI dengan penerbit-penerbit yang dari workshop tersebut akan dibikin buku cerita anak dan dibagikan ke perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Lalu aku lagi merencanakan bikin studio animasi bareng partner aku.

Target sebelum usia 30?

Menaikkan haji orang tua, memiliki kendaraan pribadi, lulus S2, menjadi desainer yang memiliki pribadi yang baik, terlibat dalam produksi animasi baik luar atau dalam negeri, have 10k followers on Instagram.

jovi

#30DaysofArt 10/30: Kei Kusuma

Bermula dari kekaguman masa kecilnya melihat lukisan Tree of forgiveness by Sir Edward Burne Jones yang menjadi salah satu koleksi pribadi karya seni milik orangtuanya, seniman grafis yang lahir di Malang, 2 Mei 1990 yang sedang berdomisili di Surabaya ini pun mempelajari karya-karya dari Gustav Klimt, Ingres, Paul Gauguin, Xu Beihong, Hasegawa Tōhaku, serta seniman dunia lainnya dan secara instingtif mengembangkan gayanya sendiri. “Mengetahui banyaknya seniman dan karya seni luar biasa sering mengingatkan saya akan betapa miripnya emosi yang dapat kita rasakan dari suatu karya seni terlepas dari kapan suatu karya tersebut diciptakan. Saya ingat membuat banyak sekali gambar peperangan, susunan kastil, dan lainnya sejak usia balita. Karya pertama yang saya ikutkan ekshibisi menceritakan tentang mitologi perang antara tokoh pewayangan Jawa kuno,” cetusnya. Penuh dengan detail dan unsur emotif, Kei pun menghadirkan theatre of image yang tak terpaku oleh alat atau medium tertentu.

profile-photo

Siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Dibesarkan dalam keluarga yang memiliki pandangan terbuka dalam berbagai kesenian, kultur, dan budaya membuat saya merasa sangat beruntung. Menurut saya kebebasan untuk beropini dan melakukan observasi terhadap hal-hal di sekitar kita sejak dini amat sangat mempengaruhi kemampuan kita dalam mendefinisikan sesuatu sebagai seorang individu, dan saya rasa hal tersebut sangat mempengaruhi karya-karya saya saat ini.

 

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Semenjak kecil, saya selalu merasa tertarik terhadap semua hal di sekitar saya, selalu mengamati dan mempelajari berbagai informasi visual dari berbagai sumber berdasarkan rasa keingintahuan yang tulus terhadap hal-hal yang belum saya ketahui. Digabungkan dengan latihan yang disiplin secara reguler, saya beranggapan bahwa daya interpretasi dan kedisiplinan dalam berkarya menjadi aspek terpenting bagi seorang seniman untuk dapat terus berprogres.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Saya menggunakan berbagai alat dan medium dalam proses berkarya, pena dan tinta, acrylic, gouache, pastel maupun color pigments. Akan tetapi, saya tidak merasa memiliki keterikatan atau preferensi khusus terhadap suatu alat ataupun medium. Saya justru lebih memprioritaskan keindahan dari hasil akhir serta impact yang dapat diberikan oleh sebuah karya seni.

plum-blossom-ink-tempera-color-pigments-on-paper-2012

Apa idealismemu dalam berkarya?

Menurut saya dibandingkan menyampaikan sebuah pesan atau idealisme tertentu, merupakan hal yang lebih penting bagi seorang seniman untuk dapat menanamkan emosi tersendiri dalam karyanya untuk dinikmati setiap orang yang melihatnya. Perasaan cinta, takut, kebencian, kesedihan, kebahagiaan dan berbagai emosi lainnya yang dinilai secara terpisah maupun secara utuh merupakan bahasa universal yang dapat dimengerti oleh semua orang, baik orang awam maupun art elitist.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal ciri khas dalam karyamu? Walaupun akan lebih baik untuk tidak terlalu menyederhanakannya, pada dasarnya mayoritas karya saya merupakan simbolisasi dari keindahan dan kompleksitas emosi yang terpadu berdasarkan pandangan personal saya terhadap kehidupan. Menurut saya cukup sulit untuk memberikan interpretasi verbal terhadap karya dan ide saya, begitupun sebaliknya. Dari pandangan saya secara personal, sosok wanita merupakan simbolisasi paling tepat untuk merepresentasikan aspek keindahan dan kompleksitas kehidupan. Sosok wanita selalu diasosiasikan dengan keindahan, sensualitas, kerapuhan, kelahiran kehidupan baru, kesucian, kasih sayang, sementara di sisi lain, wanita juga erat berhubungan dengan tema seperti kematian, godaan, kekecewaan, dosa, etc. Menurut saya aspek kontradiktif pada sosok wanita amat sangat menarik dan menginspirasi dalam pengerjaan sebagian besar karya saya.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Saya sering mendapatkan inspirasi dari berbagai hal. Mulai dari classical art, contemporary art dan kehidupan sehari-hari saya pribadi. Saya terinspirasi oleh karya-karya dari Gottfried Helnwein, Michael Zavros, Gustave Dore, Liu Zheng, Feng Zhengjie, Wei Dong, etc. Saya menyukai karya seni yang berkarakter kuat dan memiliki elemen multi-interpretatif.

the-spoiled-ram-ink-on-paper-2014

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Karya saya, The Spoiled Ram, baru saja memenangkan Best in Show Award untuk 12 Inches of Sin Annual Jurried Art Exhibition Part V dan sudah terjual pada Immersive art auction event yang diselenggarakan oleh Sin City Gallery, Las Vegas, Nevada.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Internet dan social media secara umum telah menjadi sumber informasi paling penting saat ini. Menurut saya hal ini amat sangat membantu sebagai platform untuk kebebasan berekspresi bagi siapapun. Akan tetapi, dengan segala kemudahan informasi dan hiburan yang selalu tersedia  secara online, tidak ada jaminan bahwa suatu karya yang kita produksi dapat diapresiasi dan mendapatkan atensi yang selayaknya, terlepas dari betapa bagus dan menarik kualitasnya. Oleh karena itu, tetap saja ada faktor-faktor tertentu yang harus diperhitungkan apabila ingin karya Anda diapresiasi dan dihargai secara profesional.

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Saya tidak terlalu tertarik pada scene apapun.

little-lost-lamb 

Talenta lain di luar seni?

I can cook impromptu surprise dinner for my girl out of nowhere (yes, I consider that a secret skill).

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Brainstorming at my workdesk, watching movies at theatre or at places, meeting up with my friends, honestly I never actually have a scheduled weekdays/weekend routines per se.

 

Project saat ini?

Tahun 2017 saya akan mengadakan solo exhibition pertama saya, dibantu oleh Sin City Gallery dalam penyelenggaraannya. Di samping itu, saya cukup senang dengan berbagai hal yang saya kerjakan saat ini.

Target sebelum usia 30?

Klise dan simple saja sebenarnya. Saya ingin lebih fokus lagi dalam berkarya, more exhibition and project, and i want to make my family happy, that’s all.

unison-of-diversity

#30DaysofArt 4/30: Ariel Victor

“Menurut saya, bukan hanya visual yang berperan penting dalam menghasikan sebuah karya. Cerita justru menjadi esensi dalam karya-karya saya, baik itu animasi ataupun ilustrasi,” ujar animator dan ilustrator lulusan Animation & Interactive Media RMIT University, Melbourne ini. Punya ibu seorang guru TK, sejak kecil pria yang lahir di Semarang, 10 Januari 1992 ini telah disodori film-film Disney, buku cerita anak-anak, dan berbagai ensiklopedia yang menimbulkan hasrat untuk menggambar hal-hal favoritnya, mulai dari karakter film sampai binatang dan dinosaurus. Penuh warna pastel yang vibrant dengan cerita yang memikat, final project animasi 2D karyanya yang berjudul Me & Them sukses meraih penghargaan Best Australian Student Film di Melbourne International Animation Festival (MIAF) dan membuahkan proyek seru lainnya, mulai dari kompilasi animasi indie dalam rangka mempromosikan breast cancer awareness hingga animasi pendek sebagai salah satu Christmas E-card untuk Hallmark.

arielvictor-profile

Bagaimana masa kecilmu mempengaruhi karyamu saat ini?

Saya lahirnya di Semarang, terus sempat pindah ke Salatiga, Tomohon, sebelum akhirnya menetap di Jakarta pas umur 10 tahun. Dari kecil sih orang tua selalu mendukung saya dalam berkreativitas, especially my mom who’s a kindergarten teacher.

 

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Kebanyakan nonton film Disney, lama-lama jadi obsesi untuk bikin film animasi sendiri.

 

Bagaimana akhirnya kamu menemukan style favoritmu?

Tentunya banyak trial and error dilewati. Dari mencoba dan “mencuri” berbagai gaya dari seniman, ilustrator, dan animator favorit saya, eventually and naturally I get to the point where I am comfortable with the way I draw.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Henri Mattise. Warna-warni cut-outs beliau selalu memberikan kesan tersendiri untuk saya. Di dunia animasi, hands down to Hayao Miyazaki dan segala imajinasinya! Selain itu saya juga sangat suka karya dari seniman independen yang saya follow di media sosial seperti Lisk Feng, Dadu Shin, Alex Grigg, dan Charles Huettner.

finding-snakes

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya orangnya tergolong perfeksionis, jadi sering banget terobsesi dengan warna, komposisi, bentuk, dan keteraturan obyek-obyek dalam gambar saya.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Graduation Show dari RMIT University, Melbourne. Waktu itu final project 2D Animasi saya yang berjudul Me & Them ditayangkan ke publik pertama kali. It felt really good to finally finish and share my hardwork, it took 6 months to make! Acaranya juga spesial banget karena kita sendiri yang organize semuanya, it was a blast!

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Di satu sisi, terkadang disodorin karya-karya keren dari berbagai artist setiap harinya bisa jadi stress tersendiri yang nggak jarang membuat saya minder. Di sisi lain, media sosial sangat membantu mendapatkan koneksi dan juga menjadi wadah untuk membagikan karya saya. But it’s all good. It’s about finding balance between the two.

Bakat rahasia di luar seni?

I can probably mouth along to every episodes of Friends, is that a skill? Hahaha. I am usually easily obsessed with TV series, which can be super distracting. I also like to binge watch a lot of cartoons, still.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Coffee shops di sekitar Jakarta aja, kalau memang lagi nggak banyak deadline.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya melihat banyak sekali event dan pameran yang didedikasikansebagai wadah bagi seniman lokal di Jakarta. Senang sekali tentunya melihat semuanya ini dalam sebuah profesi yang kadang bisa dibilang “lonely”. Belum lagi di kota besar yang selalu sibuk seperti Jakarta ini, nggak gampang untuk connect atau bahkan hangout aja, jadi banyaknya kesempatan untuk bisa mengapresiasi karya satu sama lain tentunya positif banget!

 

Project apa yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Kampanye Crowdfunding bareng Kopi Keliling lewat wujudkan.com untuk membuat pilot episode dari Traveling Richie (that will hopefully become a webseries in the future) baru selesai bulan lalu. Jadi sekarang sedang dalam tahap produksi. Selain itu saya sedang brainstorming untuk membuat film pendek yang selanjutnya juga.

Target sebelum usia 30?

Wah banyak banget, mau buat film animasi pendek lebih banyak lagi pastinya. Film animasi panjang juga, fingers crossed! I really want to make picture books too! Also getting to experience making works on different countries as well!

the-chosen-generation

Got IT? 5 It Girls Illustrations From 5 It Female Illustrators

{It Girls: The girls you want to know more about, the girls you want to look like, the girls you say you hate but you secretly love them.}

Walaupun konsep tentang seorang “It Girl” senantiasa menjadi hal yang abstrak dan setiap orang memiliki definisi personalnya tentang sosok enigmatik tersebut, sejak istilah “It” pertama kali dipakai Rudyard Kipling untuk menyebut kualitas misterius seorang perempuan dalam cerpennya yang  berjudul Mrs. Bathhurst di tahun 1904, kemunculan Clara Bow sebagai the original It Girl, hingga kelahiran generasi It Girl terkini seperti Kendall Jenner dan Gigi Hadid, istilah It Girl akan terus disematkan kepada para perempuan berkarakter yang once in awhile akan muncul dan menjadi bahan bibir semua orang berkat sikap effortless dan sense of style yang natural. The best part? Setiap It Girl memiliki karakternya masing-masing, and that’s why we love them. Dengan semangat itu, saya mengumpulkan lima ilustrator perempuan muda berbakat untuk bercerita secara visual tentang It Girl favorit mereka masing-masing.

nylonzozo

Zoë Kravitz

Oleh

Talula Zuhra Soenharjo / @ilsavancamp

Processed with VSCOcam with b5 preset

I am… 22-year-old design student who loves films. My definition of It Girl… Someone who is incredibly good at what they do; wears nice, interesting clothes; has good taste in everything, percaya diri. I love Zoë because… Dia multitalenta, style-nya berantakan tapi enak dilihat, and I love her dreadsMy favorite object to draw… Girls, girls, girls! My inspirations… Stories, teen angst, coming of age graphic novels, and girls. One song to describe my artwork… The Smashing Pumpkins’ “Stand Inside Your Love”, just because I mainly listen to it when I’m drawingLatest obsession… Video alien di YouTube.

jane-birkin-1-copy

Jane Birkin

Oleh

Kanishka Andhina / @kanishk_

img_1367

I am… A person who enjoys art and science and everything odds about life. My definition of It Girl… Ikon perempuan yang dikenal dan dikagumi banyak orang for her image, for her background, or her work yang stand out di antara milyaran perempuan lainnya. I love Jane because… Her signature beauty transcends so many eras. My favorite object to draw… HUMAN! My inspirations… My sadness, hahaha, the gloominess helps me in many ways. One song to describe my artwork…  Mew – “A Dark Design”. Latest obsession… I’m obsessed to clean my hands over and over.

katemoss_nylon

Kate Moss

Oleh

Jessica Verina / @jessicavije

Processed with VSCOcam with hb1 preset

I am… Currently working as a graphic designer at Terry Palmer Group Indonesia and a freelance GD/illustrator. My definition of It Girl… Perempuan yang berprestasi, punya passion, bisa jadi role model buat para perempuan lain, dan punya sesuatu yang unik yang bisa membuat dia stand out dan diingat orang. I love Kate because… I think she doesn’t give two cents about what anyone says, dia punya attitude yang chill and do her things in her own ways. My favorite object to draw… I’m always drawn to draw human portraits, especially beautiful and unique looking women. Selain itu aku juga suka buat ilustrasi intimate scenes & flowers, haha. One song to describe my artwork… Kaleo –“All the Pretty Girls” (that’s pretty much all I draw). Latest obsession… I’ve been doing a lot of watercolor works.

maisie-williams1-1

Maisie Williams

Oleh

Sharin Yofitasari / @sharin_y

small-cut

I am… 22-year-old motion graphics artist dan ilustrator. Selain art dan film, aku juga seorang music enthusiast. It’s hard to say which band/artist I like the most, but I often answer: it’s Two Door Cinema ClubMy definition of It Girl… Wanita selebritis yang menggunakan popularitasnya untuk melakukan atau mendukung hal-hal baik seperti charity atau kampanye sosial. I love Maisie because… Dia berpikir sangat dewasa untuk gadis seusianya dan lebih memilih untuk memprotes animal’s rights daripada pose untuk paparazziMy favorite object to draw… Girls. My inspirations… Musik sering jadi inspirasi aku. Kadang aku suka mengambil lirik dari suatu lagu dan memvisualisasikannya dalam gambar. One song to describe my artwork… Beyoncé – “Run The World”. Latest obsession… Album terbaru Last Dinosaurs dan Breaking Bad (karena baru saja nonton ulang).

dian-sastro

Dian Sastro

Oleh

Ayash Hartanto / @wonderyash

ayash

I am… Seorang freelancer yang sedang menggarap beberapa proyek, juga persiapan pameran bersama teman-teman artist lain, dan sekarang juga sudah mulai menggarap tugas akhir. My definition of It Girl… Sesosok perempuan yang diidam-idamkan tiap perempuan di manapun. Mulai dari paras hingga keberuntungannya yang jelas bikin iri. I love Dian because… Dian Sastro itu unik, pendidikan dan kariernya bisa terbilang sukses, plus sangat jarang membuat sensasi di media manapun. Perawakannya juga terlihat tenang dan santai. Cocoklah jadi inspirational public figureMy favorite object to draw… I draw lots of human or human faces. Tapi sebenarnya sangat random, kadang menggambar landscape atau skyscrapers menjadi paling favorit. My inspirations… Mood dan musik. One song to describe my artwork… “It’s A Long Way to the Top” oleh AC/DC. Latest obsession… Mengadakan pameran karya bersama teman-teman terdekat.

Art Talk: The Fading Melancholia of Cynthia Tedy

profile

Shades that fade slowly but never completely,” demikian deskripsi personal yang diutarakan Cynthia Tedy untuk estetika karya grafisnya. Lahir di Jakarta 24 tahun silam, gadis yang berprofesi sebagai ilustrator dan desainer grafis tersebut mengaku telah mulai rutin menggambar sejak kelas 2 SMA namun baru mempertimbangkannya sebagai karier ketika menginjak tahun ketiganya di jurusan animasi. “Mungkin itu adalah masa-masa saat kebanyakan orang belajar bahwa dunia itu tidak sebatas apa yang kita asumsikan, juga mulai paham bahwa berbagai hal dalam hidup itu bisa dilihat dari banyak sudut pandang. Kita bisa belajar begitu banyak karena ada orang-orang yang mengekspresikan cara mereka merangkul kehidupan with all its beauty and tragedy. Sebisanya, aku mau mengambil bagian juga dalam perjalanan itu,” ungkapnya bijak. Setelah mengenalnya lebih jauh, there’s definitely a certain air of wisdom and innate awareness dalam benaknya yang kemudian mewujud lewat torehan jarinya. Melihat karya milik pengagum James Jean, Yoshitaka Amano, Taiyo Matsumoto, dan Dae Hyun Kim ini, you can’t help to sense some kind of bittersweet melancholia seperti menemukan kembali tumpukan shoujo manga favoritmu dari masa kecil, atau mengingat kembali memori yang hampir pudar. Tak jarang, ilustrasinya turut dilengkapi oleh secarik cerita maupun puisi untuk memperkuat narasi yang ingin ia sampaikan. Belum lama ini, salah satu karyanya pun menjadi ilustrasi dalam buku kumpulan puisi berjudul Kalopsia karya Aaron Ares. “Aku dikontak oleh si penulis karena dia merasa karyaku sejalan dengan apa yang mau dia ekspresikan. Poetry is something I find strangely healing, so I was compelled to work on the project,” papar gadis yang juga pernah membuat ilustrasi untuk cover album milik Jeffrey Popiel/Juniperus ini.

Hi Cynthia, apa kabar? Apa yang menjadi kesibukan belakangan ini? Halo! Selain lifelong personal project yang jalan terus seperti drawing series dan poetry writing, sekarang sedang merencanakan pembuatan formal portfolio website sendiri. Baru-baru ini juga mulai perlahan research dan memilah-milah contact art director atau beragam publikasi yang mungkin ada chemistry dengan working style aku. Basically, thinking about the direction I want to try with my current work.

Dari mana saja biasanya mendapat inspirasi? Dari kehidupan dan percakapan sehari-hari yang sepintas lumrah. Aku ada kebiasaan kecil untuk bertanya dari waktu ke waktu, “Apa cerita yang mungkin ada di balik ini?” Jadi seperti berburu struktur atau denyut nadi tersembunyi. Penemuan-penemuan ini selalu aku catat untuk dipelajari dan diolah kembali di kemudian hari. Biarpun tampak sepele, disiplin kecil ini bisa mengkultivasi ide bagus yang matang perlahan atau betahap. Selain itu, banyak mempelajari ide atau pemikiran orang lain supaya bisa membuka cara pandang dan mengasah sense.

tumblr_nntgln3ffx1r7xgixo1_r1_500

Aku lihat ada beberapa karya yang terinspirasi serial fiksi seperti Evangelion dan Final Fantasy, apakah kamu punya karakter fiksi favoritmu? Kalau karakter fiksi favorit sih nggak ada yang spesifik. Biasanya yang aku favoritin tuh karya atau kreatornya sendiri. Final Fantasy itu ilham besar masa kecil yang membuat aku sadar kalau karya seinspiratif itu memungkinkan untuk dibuat. Makanya dulu sempat berpikir untuk kerja di game company dan ambil kuliah jurusan animasi 3D. Kalau yang menarik dari Evangelion adalah director-nya sendiri, cara dia memproyeksikan emosi dan pengalaman dia ke dalam cerita fiksi.

tumblr_n95pxoxbpr1r7xgixo1_r1_500

Kamu juga suka menulis short story and comic, mana yang biasanya lebih dulu, the visual or the story? Siapa saja penulis favoritmu? Kadang visual, kadang story/words, kadang satu paket. I adore the storytelling of film director Wong Kar Wai and comic artist Natsume Ono.

Apa medium favoritmu dalam berkarya? Meskipun sering mewarnai secara digital, yang paling comforting itu tetap proses inking on paper.

Selain ilustrasi, hal apa lagi yang kamu suka lakukan? Crafts, like sewing and crochet, making plushies or miniature items. Also enjoy taking walks, both solo and accompanied.

tumblr_nsy6fgkaaw1r7xgixo1_r2_500

tumblr_nsy6fgkaaw1r7xgixo2_r2_500

What’s your current obsession? Following baseball games after working hours! Juga menyambut Olympic Games tahun ini. Aku mengikuti berbagai sports secara kasual tergantung season-nya, misalnya gymnastics dan figure skating, yang juga mengandung unsur artistik.

Sejauh ini apa project paling berkesan dan kalau boleh berandai, apa yang menjadi dream project bagimu? Seri ilustrasi Retrospective: Before I grew Up yang dikerjakan untuk minor project semester terakhir kuliah. Karena proposalnya bebas, jadi aku mencoba sesuatu yang lebih reflektif secara pribadi, yaitu cerminan tentang berbagai profesi berkesan yang aku temui saat masa kecil, disandingkan dengan pemikiranku tentang hal yang sama sepuluh tahun lebih kemudian. Karya ini tetap menjadi salah satu favorit pribadiku karena itu pertama kalinya aku merasa berhasil mengabadikan sesuatu “sepenuhnya”. Kalau dream project sih belum terpikir, tapi menurutku akan jadi pengalaman bagus kalau ada kesempatan berkolaborasi dengan bidang seni lain, misalnya fashion design, musik atau arsitektur.

Ada rekomendasi ilustrator lokal yang menurutmu karyanya harus disimak? Elicia Edijanto dengan lukisan hitam-putihnya yang elegan, Stephanie Priscilla dengan dunia bersahajanya yang penuh warna, dan yang satu ini bukan ilustrator tapi musisi lokal yang patut disimak: The Trees and The Wild.

What’s next project from you? Self-published zine kolaborasi dengan teman dari Taiwan. There will be illustrations, comics, short stories plus poetry in it. Temanya belum dipastikan secara spesifik, tapi akan menyangkut summer.

tumblr_n6u1h71s4u1r7xgixo1_r1_500

http://cynthiatedy.tumblr.com/

 

Art Talk: The Sugary Drawing of Maelle Rajoelisolo

maeller

“Saya lahir dan besar di Paris, dan hal itu jelas membawa pengaruh yang besar dalam karya saya… Saya mungkin tidak akan tertarik pada fashion jika saya tidak pernah tinggal di kota ini,” ujar Maelle Rajoelisolo, seorang fashion and beauty illustrator yang berbasis di ibukota Prancis tersebut. Penuh warna, fun, dan super girly dengan referensi dari daily style, haute couture, dan pop culture, meiihat karya bermedium pensil warna dari gadis berumur 26 tahun tersebut di akun Instagram miliknya @cirquedepapier memang memberikan sensasi yang sama ketika kamu melihat deretan dessert penuh warna di etalase toko kue favoritmu. “Thank you! I love that compliment! Saya pecinta makanan manis jadi saya senang mendengarnya,” tanggap Maelle akan komentar tersebut. “Saya sangat suka passion fruit dan chocolate macaroons, crêpes, apple pies and very good chocolate fondants. Hanya membicarakannya saja sudah cukup membuat saya lapar,” sambungnya tentang daftar dessert favoritnya. Selayaknya kudapan manis yang lezat, we sure can’t get enough of her works, saya pun tergoda untuk mengobrol lebih jauh dengannya.

brooklyn

Jadi, bagaimana awalnya kamu tertarik menekuni bidang ilustrasi?
It was (and still is!) a long and not easy way; Saya suka menggambar sejak kecil tapi untuk serius di bidang ini sebetulnya tidak direncanakan. Awalnya saya berpikir untuk menjadi seorang arsitek atau pengacara, namun saya berubah pikiran dan tertarik menjadi artistic director. Saya akhirnya memutuskan menjadi ilustrator dan belajar desain grafis. Waktu itu saya membuka blog (saya sudah kecanduan internet sejakumur 11 tahun) dan mulai menggambar setiap hari.

Bagaimana sih typical day bagimu?

There is no typical day in work, dan saya menyukainya. Tapi biasanya saya bangun jam 8 pagi, mulai bekerja jam 9, makan siang jam 1 siang, mengerjakan hal lain sampai jam 3, menggambar lagi, stop di jam 7, pergi keluar (atau makan malam di rumah, saya tinggal bersama pacar saya jadi biasanya tergantung apa yang ingin kami lakukan dan jam berapa dia pulang), dan biasanya saya bisa mulai menggambar lagi dari jam 9 malam sampai jam 1 dini hari. Sejujurnya saya seperti burung hantu, saya senang bekerja di malam hari, jadi saya lebih suka bangun siang (I know, it’s bad) dan bekerja sampai larut malam (sampai jam 3 pagi bahkan). Tapi semuanya tergantung dari jadwal saya, terkadang saya juga harus pergi ke kantor, tergantung klien.

Seperti apa kondisi tempat kerjamu?

Flat saya termasuk kecil jadi saat ini saya bekerja di sebuah meja kecil yang penuh dengan barang-barang saya! Saya juga termasuk orang yang berantakan… Jadi semua hal tergeletak sembarangan. Saya tidak sabar untuk pindah ke flat yang lebih besar jadi saya bisa punya ruang yang lebih luas untuk kerja. Terkadang saya juga suka bekerja di co-working café; I love the environment and being surrounded by other creative people.

 paris2

Apa yang biasanya kamu gambar kalau sedang melamun?

I usually sketch random girls in random poses, wearing random dresses (or not). Saya juga suka menggambar karakter chibi. I love chibis. They’re were my favorite thing to draw back when I was a teen.

Bagaimana kamu mendeskripsikan karyamu?

Baru-baru ini ada yang menyebut kalau karya saya adalah “happy-making” dan saya senang mendengarnya. Saya juga berusaha menciptakan dunia saya sendiri yang selalu terinpirasi fashion, elegan tapi tidak terlalu serius dan selalu penuh warna. Misi saya adalah untuk membangun dunia tersebut secara maksimal, seperti yang dilakukan Wes Anderson dalam film-filmnya.

Apakah ada seniman yang menginspirasi karyamu?

Banyak, saya tidak bisa menyebut semuanya karena biasanya hal itu suka gonta-ganti seiring waktu, tapi saya selalu mengagumi karya-karya Laura Laine, Fifi Lapin, sahabat saya Sibylline Meynet, Paper Fashion… dan banyak lagi. 

Dari mana saja biasanya kamu menemukan inspirasi untuk menggambar?

Ada banyak film dan serial TV yang menginspirasi saya. Selama ada unsur fashion di dalamnya. Contohnya, saya menggambar banyak hal dari film Marie Antoinette karya Sofia Coppola untuk sebuah pameran tahun lalu dan beberapa adegan dari film favorit saya, Funny Face yang dibintangi Audrey Hepburn. Dan walaupun saya bukan penggemar berat Taylor Swift, saya tidak bisa menahan diri untuk menggambar outfit yang ia kenakan di video “Blank Space”.

 paris

Selain pensil warna, medium apa lagi yang biasanya kamu gunakan?

Saya pernah mencoba mewarnai di komputer saat saya remaja namun tidak melakukannya lagi sejak saya menyadari jika pensil warna adalah medium favorit saya karena mengingatkan masa kecil saya, Baru-baru ini saya juga mulai berkarya dengan cat air.

Musik apa yang biasanya kamu dengarkan saat bekerja?

Apa saja. Saya lebih memilih musik yang relaxing, tapi musik pop pun tidak masalah. Saya bisa mendengarkan musik sambil berkonsentrasi menggambar dan secara otomatis menyimak lirik lagu tersebut… Otak saya lebih fokus pada hal seperti itu ketika saya sedang menggambar.

nylon

Apa hal yang baru kamu sadari atau pelajari belakangan ini?

Saya baru menyadari jika gadis-gadis yang saya gambar bisa lebih dari sekadar paper dolls, saya bisa mengubah mereka menjadi sebuah pattern, notebook, dll. I am so happy to push my work further!

Apa proyek selanjutnya?

Saya sedang mencoba untuk berkolaborasi dengan brand yang saya suka. Baru-baru ini saya senang bisa bekerja dengan Boohoo.com di akhir tahun lalu. Saat ini saya juga masih mengerjakan brand dan toko paper goods saya. Ada banyak produk yang ingin saya desain dan buat, namun seperti biasa hal itu membutuhkan banyak waktu dan uang. So everything is going step by step.

 lemonade

Follow Maëlle Rajoelisolo di Instagram @cirquedepapier, Facebook: Cirque de papier, Tumblr: @cirquedepapier.

Art Talk: The Colorful Everyday Life of Maskrib

Maskrib1

“Saya orang yang suka jalan-jalan random, ke gunung, hutan, pasar, stasiun, ke mana saja, mostly tanpa rencana dan tujuan sih yang penting jalan dulu, hal itu sangat menginspirasi dan menyegarkan otak saya. Saya juga suka mengamati aktivitas orang-orang yang saya temui, orang-orang sedang pulang kantor di hari Jumat, orang yang sedang menunggu bis, dsb. Bagi saya pengalaman itu menarik saja untuk diceritakan kembali dalam bentuk visual,” ungkap Reza Dwi Setyawan, seorang ilustrator dan desainer grafis yang juga akrab disapa Maskrib tentang inspirasinya dalam berkarya. Dari observasinya akan kehidupan jalanan dan segala manusianya yang menyimpan sejuta cerita, pria kelahiran Sukoharjo 26 tahun lalu yang kini berdomisili di Boyolali tersebut menghasilkan ilustrasi pop art yang meskipun terlihat padat dan riuh oleh detail namun memiliki sense of simplicity yang tidak membuat mata kita lelah. Di samping aktif mengerjakan personal project dan commission work dalam berbagai media dan medium, tahun ini artist yang menyebut Jeremy Ville, Andy Rementer, Angela Dalinger, dan Eddie Hara sebagai influens tersebut telah merilis coloring book perdananya yang bertajuk Happy Slow Life. Yup, we know kalau coloring book for adults memang sedang hype belakangan ini sebagai kegiatan past time yang therapeutic, namun mengenal dan mengagumi karya-karya Maskrib selama ini, I’m definitely excited for this one.

Maskrib

Hai Maskrib, apa yang mendorong untuk serius di bidang ilustrasi? Basically dari kecil emang udah seneng gambar sih seperti kebanyakan orang, dan beruntungnya sampai sekarang kesenangan menggambar itu tetap terjaga dan membawa banyak feedback positif, hehe. Kalau menekuni ilustrasi secara lebih serius dimulai pada masa awal kuliah. Ada satu teman saya namanya Ardan Kukuh Prayogo yang kemudian mengajarkan saya bagaimana berilustrasi dan make a living dari ilustrasi. Dari awal mulai serius sampai pada masa sekarang kurang lebih 4 tahun saya mencoba mencari formula yang pas dan nyaman bagi saya sendiri dalam proses menggambar.

Kalau Maskrib sendiri belajar ilustrasi secara otodidak atau memang sempat belajar secara akademis? Saya pernah kuliah jurusan DKV, tapi sejujurnya secara teknis saya belajar ilustrasi secara otodidak. Dari menjalin hubungan pertemanan dengan banyak teman-teman ilustrator, saya banyak mendapat input positif dari mereka.

11899598_1011634055554975_1077766897_n

Bagaimana tercetus proyek membuat coloring book ini? Sudah lama saya ingin membuat artbook saya sendiri. Dan kebetulan beberapa bulan kemarin ada salah satu penerbit yang menawarkan saya untuk membuat sebuah coloring book dengan mengangkat konsep dan tema seperti apa yang sering saya angkat di kebanyakan ilustrasi saya yaitu ”Human Life”. Pihak penerbit memberikan kebebasan berkreasi dalam isi ilustrasinya. Jadi ini semacam coloring book semi artbook saya juga, hehe. Yang pasti coloring book ini akan jauh berbeda dari coloring book yang sudah ada.

Screen-Shot-2016-02-16-at-4.45.12-PM-copy

Maskrib juga pernah bikin ilustrasi di vinyl dan clothing, sejauh ini medium apa yang jadi favorit? Sebenarnya nggak ada yang benar-benar favorit sih bagi saya. Segala macam media, selama saya bisa bersenang-senang, berkreasi, menuangkan ide-ide saya dan menikmati setiap proses pembuatannya. Kalau saat ini saya sedang senang mengeksplor media clay, membuat figure dari ilustrasi saya dalam bentuk 3 dimensi.

Mengingat kentalnya influens street life dalam karyamu, how would you describe the Jakarta street life? Dan apa saja spot favoritmu di Jakarta? Jakarta street life di satu waktu bisa banyak sekali melihat manusia, beberapa saat kemudian bisa menghilang begitu saja. Waktu bisa terlihat sangat cepat kemudian terasa begitu lamban. Spot favorit saya di Jakarta sampai saat ini masih rooftop kantor tempat saya magang dulu di daerah Palmerah.

Screen-Shot-2016-02-16-at-4.48.28-PM-copy

Selain ilustrasi, apa lagi yang menjadi hobi seorang Maskrib? Kalau duduk di pinggir jalan atau di atas jembatan tanpa melakukan apa-apa, hanya mengamati orang-orang beraktivitas bisa disebut hobi, mungkin itu salah satu hobi saya selain menggambar dan jalan-jalan, hahaha.

12317792_431799760355005_303256949_n

Apa kolaborasi impianmu? Sesungguhnya sampai sekarang impian saya adalah bisa bekolaborasi dengan salah satu band/musisi yang saya suka musiknya. Membuat ilustrasi full untuk album musik mereka.

Selain coloring book, apa lagi project untuk tahun ini? Kalau untuk project komersil ilustrasi masih tetap berjalan sampai saat ini. Dan sesungguhnya setelah rilis coloring book nanti saya sudah ada rencana personal project membuat sebuah artbook visual diary saya sendiri, hahaha! Isinya akan penuh dengan curhat sehari-hari saya. Oh iya dan tentu saja semoga saya bisa lebih fokus lagi membangun art merch saya sendiri @slowboystore.

11350860_1461327187493859_109437074_n

 

Art Talk: The Punk Rock Illustration of Ayash Haryanto

Ayash Haryanto

Pertama kali menemukan akun Instagram @wonderyash yang bernuansa monokrom hitam-putih, saya seperti tidak bisa menahan diri untuk menekan tombol Likes sebanyak mungkin pada karya ilustrasi hitam-putih dengan referensi terhadap musik punk dan pop culture yang begitu kuat dan sosok musisi ikonik seperti Kurt Cobain hingga Morrissey. Kekaguman saya bertambah ketika menyadari jika sang ilustrator adalah seorang perempuan muda dengan penampilan yang cute. Bernama lengkap Ayash Haryanto, ilustrator kelahiran Medan, 26 September 1992 tersebut masih tercatat sebagai mahasiswi semester akhir di salah satu universitas di Jakarta. Mengaku suka menggambar sejak masih sangat kecil, Ayash sendiri baru mulai fokus menggambar sejak SMA dengan kiblat utama gambar-gambar superheroes dari komik DC dan Marvel. Namun, baru ketika masuk kuliah ia memfokuskan diri pada artwork hitam-putih seperti yang ia buat sekarang. “Saat kuliah baru sadar, kalau menggambar, terutama anatomi tubuh dan perspektif, tidak sesimpel itu. Apalagi urusan warna, dan buatku bermain warna itu bisa dibilang sulit nan rumit. Nah, karena aku pribadi merasa kurang bisa memadukan warna, walaupun sempat coba berbagai media seperti cat air atau minyak, aku putuskan untuk fokus dengan artwork black and white. Tidak kompleks, dan tidak mudah, namun aku merasa artwork black and white itu mudah diterima oleh semua orang,” ungkap gadis yang juga gemar bereksperimen dengan media mural tersebut.

tumblr_ne57eoOLI11qa0ub6o1_1280

Secara sekilas, terlihat elemen punk yang kuat di karyamu. Kalau untuk kamu sendiri bagaimana musik memengaruhi proses berkaryamu?

Kalau soal elemen punk dalam gambarku, jujur sekali pada awalnya aku membuat artwork bertemakan punk hanya sekelibat terlintas di kepala karena waktu itu aku nggak sengaja lagi scrolling down Tumblr dan nemu salah satu foto yang aku kira cocok untuk aku bikin quick sketch. Mulai dari situ, aku kepo sama genre punk ini, kemudian aku penasaran dengan culture, cara berpakaian, ideologi, dan terutama musik mereka yang mendukung aku dalam pembuatan proses karya. Buatku, musik itu pembangkit mood. Musik apapun itu, terkadang saat membuat artwork punk pun aku nggak selalu mendengarkan musik mereka juga. Karena ya, lagi-lagi menyesuaikan dengan suasana hati.

Siapa saja seniman favoritmu?

Seniman favoritku cukup banyak. Untuk yang dari luar negeri aku suka Raymond Pettibon, Sam Dunn, Alex MDC, Benjamin Lande, dan mereka semua seniman/ilustrator yang mostly black and white. Untuk dalam negeri, ada Roby Dwi Antono (aku favorit sama lukisan popsurealisnya), Amenkcoy, dan masih banyak lagi. Influens benar-benar datang dari Raymond Pettibon dan Amenkcoy. Mereka bisa dibilang kiblatku banget.

Wonder1

Apa medium favoritmu dalam berkarya dan kenapa?

Tinta hitam dan kuas. Media paling simpel yang pernah aku pakai. Cukup mudah, dan dalam pembuatan karya nggak memakan waktu banyak, khususnya untuk blocking, aku bisa lebih menghemat waktu. Dan tentunya nggak pusing-pusing menentukan warna.

Selain art, apa lagi yang kamu suka?

Semua kesukaanku sepertinya nggak bisa jauh dari yang namanya art. Aku suka musik. Akhir-akhir ini aku lagi rajin explore soal musik dari genre mana aja dan dari Indonesia atau luar negeri. Karena musik sangat berpengaruh dalam pembuatan karyaku, kadang aku buat playlist sendiri sesuai current mood, dan aku putar saat aku mau buat suatu artwork. Dan biasanya, artwork itu bisa nunjukkin perasaan aku saat itu.

What’s your current obsession?

Obsesiku untuk sekarang, aku mau ngadain mini exhibition (khusus black and white artwork) bareng temen-temen ilustrator lain, dan di dalamnya ada sesi workshop plus gambar bareng menggunakan media tinta hitam aja. Selain itu, aku lagi terobsesi untuk ngebuat artwork band, dari band-band favoritku. Mungkin lingkup musiknya masih nggak jauh dari punk ya, atau mungkin band bergenre ambience.

Who’s your local music hero?

Still Superman Is Dead! Dan Slank… hehe.

Apa project selanjutnya?

Rencana, ingin membuat fanzine yang isinya karya-karya dari teman-teman sekitar terlebih dahulu. Kalau rencana awal sukses, aku akan lanjut ke konsep selanjutnya, yaitu mengajak beberapa ilustrator favorit yang aku kenal untuk ikut berkontribusi langsung dalam menyumbangkan karyanya untuk fanzine ini. Mengapa fanzine, karena buatku ini media yang bisa memperluas koneksi dan menambah teman lebih banyak.

tumblr_nme8s08TAX1qa0ub6o1_1280

Wondeyash’s mixtape:

Talking Heads

“New Feeling”

Buatku ini lagu post-punk yang bisa ngebangkitin mood. Cocok didengerin di waktu apapun. Biasa aku dengerin lagu ini ketika mood lagi jelek-jeleknya, dan berhasil balikin mood jadi baik lagi.

Radiohead

“High and Dry”

I just love the lyrics. Lagu Radiohead terbaik versiku, dan jadi salah satu lagu favorit ketika mood lagi nggak bagus.

The Clash

“The Magnificent Seven”

Ini lagu unik dan bisa cheer up your day. Pertama kali aku dengar salah satu lagu Daftpunk, nggak tau kenapa langsung terbayang lagu ini. Dan ternyata aku temuin mashup dari lagu ini dengan Daftpunk di YouTube.

The Pixies

“Here Comes Your Man”

Mungkin untuk yang suka sama OST 500 Days of Summer, tau lagu ini yang pernah dinyanyikan ulang sama Meaghan Smith. Ini juga termasuk lagu yang bisa  membangkitkan mood.

The Smiths

“Ask”

Lagu ini masih jadi andalan dan masuk ke dalam playlist aku untuk gambar di saat momen-momen senang.

tumblr_nqgibroxYE1qa0ub6o1_r1_1280

Art Talk: The Peculiar Illustrations of Anwita Citriya

Anwita Citriya

For some people, once they start drawing, they’ll never stop. Sama seperti natural-born artist pada umumnya, Anwita Citriya telah mulai menggambar sejak sejauh yang dia bisa ingat. “Bagi saya ilustrasi adalah cara untuk mengekspresikan pemikiran dan ide karena saya tidak pandai berkata-kata. Saya mulai membuat lebih banyak ilustrasi sejak tahu banyak orang mengapresiasi karya saya. Feedback dari mereka juga membuat saya terus ingin lebih baik lagi,” ungkap gadis kelahiran Bandung 22 tahun lalu yang kini masih menginjak semester 7 jurusan Desain Interior di Binus University tersebut. Mengidolakan para ilustrator perempuan seperti Audrey Kawasaki, Amy Judd, Ykha Amelz, dan Amna Oriana, “misterius” menjadi kata yang biasanya terlintas ketika kita melihat karya ilustrasinya yang didominasi warna hitam dan putih serta beberapa warna pastel yang terkadang ikut menyemburat. Gaya ilustrasinya sendiri memang kental dengan pengaruh manga, namun ia juga memiliki sumber inspirasi lain dari novelis Jepang favoritnya, Haruki Murakami, yang dikenal dengan cerita surreal dan rasa melankolis yang dreamy. Hal yang sama juga terasa dalam ilustrasi Citriya, there’s some certain floating and sentimental mood about it that make us want to go deeper to know her.

Anwita2

How do you usually introduce yourself?
I’m Citriya, a girl who draws and day-dream a lot.

Apa medium favoritmu dalam berkarya?
My favorite medium is pencil and watercolor. Sometimes I use acrylic paint too.

Hal apa saja yang biasanya menjadi inspirasimu?
It can be anything. Mulai dari baca buku, listening to some new songs, jalan-jalan sore, getting lost or just sit in a coffee shop mengamati orang lalu-lalang. Sometimes inspiration comes when you least expect it.

Anwita7

Do you believe in creative block? Kalau iya, bagaimana caramu untuk mengatasinya?
I do. When I’m stuck with no inspiration at all, the best thing to do is just to stop drawing.
Usually I’d bring one book, go to a nearby coffee shop and find myself a quiet nook to read for hours. But if I’m too lazy to go out I’d surf the net to find some new, weird, unusual things for inspiration. Pinterest and Tumblr are the two sites i frequently use.

Anwita4

Sejauh ini project apa yang paling berkesan untukmu?
Mungkin untuk melukis, proyek pertama saya yang paling berkesan. Saat masih di bangku SMP saya pernah diminta melukis background panggung untuk acara sekolah. It’s not big or anything, tapi rasanya bangga aja. Setelah itu saya dan teman saya selalu dipercaya untuk jadi tim dekorasi setiap kali sekolah mengadakan acara. It was fun.

Musik apa yang biasanya menemanimu saat berkarya?
It depends on the mood, but mostly I listen to instrumental or indie music. Like The Cinematic Orchestra’s “Arrival of the Birds & Transformation” or Agnes Obel’s “Philharmonics.”

Apa saja kesibukanmu saat ini?
Right now I’m doing internship in an interior design company.

Anwita5

Apa kegiatan yang suka kamu lakukan bila tidak sedang berkarya?
Read mangas and blogs, do a movie marathon or play the piano.

What’s your current obsession?
Human psychology and mythical beings. I find them really intriguing.

You love Haruki Murakami a lot, apa quote-nya yang paling berkesan untukmu?
“Your work should be an act of love, not a marriage of convenience.”

Anwita1

What’s the next project from you?
Well… Me and my friend are developing a project and it’s related to fashion. I’ll be doing some illustrations and hopefully it goes as planned. Fingers crossed!

http://instagram.com/anwitacitriya

Anwita6

Art Talk: The Britpop Sensibility of Danu Labda

Danu Labda

It’s kinda hard to imagine if you never have at least one favorite Britpop song, terutama kalau kamu termasuk generasi 90-an yang beranjak remaja ketika genre asal Inggris tersebut tengah mendominasi tangga lagu di seluruh dunia. Dengan aksen Inggris yang kental, lirik yang mencerminkan kehidupan anak muda marginal, dan terutama karena aransemen yang catchy, band-band Inggris Raya seperti Oasis, Blur, Radiohead, Suede berhasil menjadi fenomena kultur pop tersendiri yang melawan dominasi budaya pop Amerika. Tak hanya di negara asalnya, Britpop pun menjadi bagian dari gerakan Cool Britannia di seluruh dunia, ketika apapun yang berbau Inggris dianggap cool, termasuk di kalangan remaja Indonesia di akhir 90-an di mana musik Britpop menjadi populer dan banyak band indie lokal saat itu yang secara langsung maupun tak langsung terinfluens Britpop. Rasanya, siapa saja yang sudah menginjak usia sekolah ketika di akhir 90-an dan awal 2000-an akan dengan mudah menyebut lagu atau band Britpop favorit mereka, which at some point represent our younger days. Danu Labda adalah salah satunya. Desainer grafis, ilustrator, dan art director di salah satu advertising agency Jakarta ini menuangkan kecintaannya pada Britpop dalam bentuk ilustrasi digital yang menampilkan sosok-sosok ikonik Britpop dalam gaya line art yang terlihat seperti goresan cat air. Thom Yorke, Jarvis Cocker, Morrissey, dan dua bersaudara Gallagher yang digambarnya dengan mencantumkan biografi singkat masing-masing terasa sebagai sebuah tribute yang menyenangkan dan membuatmu ingin membuka lagi playlist musik Britpop di iPod-mu.

Thom Yorke

Apa yang pertama kali mendorongmu untuk menjadi ilustrator?
Pertama kali banget waktu gue kecil gue selalu suka sama film-film superhero masa-masa generasi 90-an kaya Kamen Rider Black, Saint Seiya, dll. Gue nggak pernah ketinggalan ngikutin film mereka, kalau ketinggalan bisa nangis. Sampai suatu saat gue dibeliin kaos jagoan-jagoan masa kecil gue, di situ gue coba bikin gambar mereka di kertas pake referensi yang ada di kaos. Dari situ jadi suka gambar-gambar tokoh-tokoh kesukaan gue, setelahnya gue mulai banyak gambar macem-macem, nggak cuma tokoh-tokoh fiksi kesukaan aja tapi gue mulai mencoba gambar keadaan di sekitar gue dan musisi kesukaan gue.

Apa yang menjadi influens kamu dalam berkarya?
Dalam mendesain, influens gue adalah manusia itu sendiri karena desain yang sukses itu adalah desain yang berhasil mengomunikasikan pesannya kepada audiens. Sedangkan dalam ilustrasi kebanyakan karya gue terinfluens oleh beberapa seniman kontemporer dan surealis seperti Conrad Roset, Florian Nicolle & Salvador Dali.

Dari sekian banyak genre musik, kenapa Britpop? What’s your personal story about it?
Sebenarnya gue suka eksplorasi musik-musik yang gue denger. Gua coba dengerin ini, gue coba dengerin itu, coba dengerin lagu dari ranah Eropa & Amerika. Tapi kalau ditanya kenapa Britpop jadi yang paling favorit mungkin lirik-lirik dari lagu-lagu band asal British ini yang paling merefleksikan beberapa kejadian di kehidupan gue. Oasis “Stand By Me” itu lagu pertama yang gue denger yang bikin gue jatuh hati sama lagu-lagu mereka sampai sekarang. Lagu lainnya yang bisa bikin emosi gue naik-turun di setiap lirik-lirik juga iramanya dan bersinggungan dengan kehidupan dan orang-orang terdekat gue.

Noel GallagherJarvis Cocker Liam Gallagher

Dari Britpop series ini, karya mana yang pertama dibuat dan apa ceritanya sampai tercetus ide project ini?
Ilustrasi yang pertama kali dibuat itu yang Thom Yorke, kadang kalau gue lagi suka sama sebuah lagu gue suka ekspresiin apa yang gue suka, waktu itu lagi suka-sukanya album solo Noel Gallagher yang Noel Gallagher’s High Flying Birds dan kebetulan Noel Gallagher akan berulang tahun, jadi gue iseng-iseng bikin ilustrasi buat Noel, eh tanpa disadarin kok kayanya asik ya bikin full series legenda-legenda British pop ini. Tapi nggak sempet jadinya yang kesampean baru 4 orang, haha.

Sejauh ini project paling berkesan yang pernah kamu kerjakan apa saja?
Wah semuanya berkesan tapi dengan cara yang berbeda-beda, mungkin yang baru-baru ini gue kerjain ya, bikin 50 ilustrasi tentang Hari Kartini, dikerjain dengan deadline yang cuma 6 hari, selama 6 hari itu jam tidur gue nggak beres dan hampir sakit-sakitan, haha. Klien gue di sini sebuah graphic house dari Jakarta dan gambar gue ini bakal dipake oleh 50 anak yatim piatu dalam bentuk t-shirt.

Oh ya, kamu juga punya dua project yang disebut Kojay dan Ikidolanan, boleh diceritakan?
Haha ini sebenarnya 2 projek itu projek alterego gue aja sih, gue suka koleksi action figure dan gue suka komik. Kalau kojay (komikjayus) karena gue suka komik dan gue pengen bikin komik, tapi nggak punya terlalu banyak waktu buat merealisasikan komik yang serius gitu makanya gue bikin komik yang becanda aja. Ini juga projek gue sama temen-temen gue yang lain yaitu Amer Risnadi, Nino Aditya, Afda Trihatma. Kalau Ikidolanan itu projek web series gue sama Amer Risnadi & Adri Putra, isinya ngomongin dan ngebahas action figure di YouTube.

What’s your dream project?
Membuat sebuah ilustrasi raksasa dan berkolaborasi dengan Konrad Roset mungkin haha, who knows?

Apa project lain baru-baru ini?
Lagi ngejalanin ilustrasi untuk Jazz Goes To Campus 2014 & beberapa ilustrasi untuk brand Monstore.

JGTC 2014

Danu’s favorite Britpop songs:
Oasis – Stand By Me
Pulp – Like a Friend
Beady Eye – Blue Moon/The Beat Goes On
Jarvis Cocker – Don’t Let Him Waste Your Time
Morrissey – The First of the Gang To Die
The Beatles – I’ll Follow the Sun
Suede – The Beautiful Ones
Radiohead – No Surprises

http://danulabda.com/

The Melancholic Girls of Amna Oriana

Amna Oriana

I’ve been drawing ever since I can remember, dari kecil sejak saya memegang pensil untuk pertama kalinya,” ucap Amna Oriana, seorang desainer grafis dan ilustrator muda kelahiran Denpasar 22 tahun lalu yang kini berdomisili di Bandung. “Saat saya memegang pensil pertama saya pada waktu itu juga saya yang cuma sekadar bocah umur 3 tahun mungkin nggak ada kepikiran apapun. Tapi yang jelas sejak itu saya tidak pernah berhenti menggambar,” imbuhnya. Well, untungnya Amna tak berhenti menggambar, kalau tidak mungkin saat ini kita tidak akan melihat sosok-sosok gadis misterius dengan ekspresi wajah tak tertebak yang tergurat dari goresan pensilnya.

            “I gather inspiration from everything and anything. Basically, everything and anything pretty in any form. Although as for me, sudden sparks of inspiration usually comes at unexpected times; say it when I’m about to sleep or when I’m in the shower,” ungkap lulusan DKV ITB yang kini tengah menyelesaikan proyek ilustrasi untuk buku anak-anak dan beberapa commissioned works. Let’s find out more about her.

Endurance

Nama kamu unik, ada arti tertentunya?

My parents said Amna = aman (lol, I know), Amna means safety. Lalu Ayah saya mengambil Oriana dari nama Oriana Fallaci, she was a controversial Italian journalist, famed for her political interviews and World War II reports.

Kenapa suka sekali menggambar sosok perempuan?

Mungkin karena I’m a girl myself? Hahaha, pada dasarnya saya menggambar apapun yang menginspirasi saya dan membuat saya tergerak untuk menggambarnya. Nature, landscapes, pretty places, photographs, films, artworks, flowers. And also pretty people with ethereal face. I can stare at them for hours for artistic purpose.

Siapa saja ilustrator favoritmu?

It would take hours for me to ramble on about my long list of favorite artist and illustrators, but to sum it up, Audrey Kawasaki is my ultimate favorite artist. Dan juga Shaun Tan, Ray Caesar, Hikari Shimoda, Victo Ngai, Yuko Shimizu, Sachin Teng, William Joyce, dan Yoskay Yamamoto. Saya juga mengagumi karya Ykha Amelz dan Roby Dwi Antono.

Frida

Apa medium favoritmu?

Untuk manual, medium favorit adalah pensil dan cat air. Tapi belakangan ini saya lebih banyak berkarya dengan digital painting. 

Apakah kamu sering mendengarkan musik saat berkarya?

Selalu. I have this need to listen to Perfume’s songs when I work.

Apa doodle yang sering kamu buat kalau lagi bosan?

Hairs! Garis-garis detail untuk menggambar rambut adalah part yang paling saya suka.

Longing

Apa hal yang suka kamu lakukan di samping membuat ilustrasi?

Watch movies, take photos, read books, or just do nothing and rob my time to imagining and re-imagining entirely made-up scenarios in my head.

What’s your dream project?

To make visual book as pretty as Shaun Tan’s The Arrival.

Apa quote favoritmu tentang art?

Ini dari Sylvia Plath: “The worst enemy to creativity is self-doubt.”

 Wisdom Teeth

http://a-m-n.tumblr.com/

The Style Icon Series by Emma Block

emmablock

Hi, my name is Emma Block and I'm an illustrator living in London.

I have always wanted to be an artist since I was about 10, 
when I was 17 I realised I could make a living as an illustrator.
I feel so incredibly lucky that most of the time my job involves drawing all day.

I live in London and I find it am incredibly inspiring place to live. 
There are so many wonderful art galleries and museums in the city; 
there is always an exhibition to go see, plus lovely parks and markets.
audrey hepburn style icon hi res

My work is very mixed media, and I think it has a slightly nostalgic quality to it. 
I use cut paper, gouache, coloured pencil and ink.
I am very inspired by vintage films and vintage fashion.
jean seberg hi resWhen I had just had my hair cut short Jean Seberg was a big inspiration for me. 
I loved her look in Breathless, 
so I did a little illustration of her, highlighting all the things I liked about her style.
 People really liked it, so that's how my Style Icon series started.twiggy hi res
There are lots more style icons I’m planning on illustrating when I get the time!
 I would love to illustrate Anna Karina, Mia Farrow, Jane Birkin and so many others!

For me Audrey Hepburn is the ultimate style icon.
 When I can't think of what to wear in the morning I think 'what would Audrey wear?'
 She managed to make really ordinary items
 like a white shirt or a black polo neck look amazing.

My own style is quite inspired by the 60s. 
I wear a lot of button up shirts, cropped trousers, trench coats, dresses and striped t-shirts.
 My style is kind of feminine and classic.

brigitte bardo hi res

I like listen to music a lot when I work.
 At the moment I am listening to a lot Francois Hardy 
(she's on my list of style icons to illustrate)
 and Joni Mitchell, as well as 1930s jazz.

I’m currently producing work for a very exciting exhibition,
 taking place next month, which takes the circus as its inspiration.
  I am enjoying drawing lots of circus ladies on the trapeze and dancing with tigers.

The next thing for me would be to write and illustrate my own children’s book!

edie hi res                                          http://emmablock.co.uk/

Art Talk: The Bittersweet Illustrative Animals of Kareena Zerefos

Kareena

Would you mind to tell me a bit about yourself and why you decide
to pursue art?

My name is Kareena. I’m a petite artist, designer and flâneuse, originally from Sydney but based in London. I pursued art, not so much as a decision, rather more because I’ve found it is something I’ve always been compelled to do.

What’s the early influences for your works? Do you remember the
first thing you would consider as your first artwork?

The early influenced for my work was the yearning for tangibility, to go back to creating by hand. Nostalgia and simplicity. I consider ‘Rose Tinted Glasses’ to be my first artwork, but really there were many more before, but I think this was the first piece that lead me to where I am now.

Kareena1
How you would describe your art?

A fragile, slightly nostalgic and bittersweet illustrative style.

 What’s the best advice you ever get from someone?

Do what you love and it doesn’t matter if it doesn’t work out.

kareena-zerefos-3

I read on your bio, you like the word “elephant”,
is it the animal or the word that intrigue you?

Yes! I love the word Elephant, mostly the way it looks written. Obviously the animal is truly amazing too.

Kareena2

You just held exhibition on Curious Duke Gallery, how was it? From
all exhibitions you’re participated, which one is the most memorable
and why?

I didn’t get to attend the show at Curious Duke (I’ve been travelling a lot recently), but as I’m still fairly new to London, it’s just really exciting to be involved in a show with so many wonderful artists.
My most memorable show will always be my first solo show in Sydney in 2008, it was such a terrifying and thrilling experience!

From Pitchfork to cover album, seems you already done many
interesting projects, what’s your dream project/collaboration?

There is always a lot of variety with the work I do, and I am very lucky to be able to work across many exciting industries – music, fashion/textiles and media… a lot of what I’ve already had the privilege of working on has been a dream! There are a couple of collaborative projects that I would love to do like a range of cute underwear and sleep wear (this one might already be in the pipeline – I’ll keep you posted!), and one day I would love to collaborate on some fine porcelain tea and coffee sets.

Kareena3
You draw animals a lot, do you have some kind of spirit animal?

It’s impossible for me to favour one animal over another! At the moment I’m very much drawn to fennec foxes.

What kind of music you’re listening nowadays?

When I draw I tend to listen to The Decemberists, Iron & Wine or Kings of Convenience, all very bittersweet. I’ve also been listening to Melbourne band, Alpine’s new album recently.

From_the_Menagerie_NEW_640
What’s next for you?

I’m spending a couple of months in Sydney (escaping the London winter!), working on some new pieces based on Greek mythology and Aesop’s Fables. Hopefully, I’ll be able to put on a show here later in the year.

http://art.kareenazerefos.com/

Kareena_Zerefos (1)

Art Talk: The Childlike Watermark of Diani Apsari

 Diani Apsari

Hi Diani, boleh cerita sedikit tentang diri kamu dan kegiatan saat ini?

Hi, saya berasal dari Bandung, sekarang kerja jadi desainer grafis di salah satu graphic house di Jakarta.

Apa memori awalmu yang paling berkesan tentang art? Masih ingat gambar pertama yang pernah kamu bikin?

Orang tua saya sering bilang pas saya kecil, saya menggambar “ndhas” (Bahasa Jawa: kepala) melulu. Saya masih ingat dulu pas umur 6 tahun saya menggambar putri duyung dan kepiting. Ibu saya mengirimnya ke Republika, eh taunya dimuat, saya dapat hadiah uang Rp25.000. Terus saya belikan uang itu pensil warna pertama saya.

NYLON

Ciri khas kamu yang paling menonjol yang aku lihat yang berciri buku dongeng zaman dulu seperti Enid Blyton, inspirasi terbesar kamu sendiri apa sih?

Saya memang tumbuh dengan buku-buku cerita bergambar yang cukup variatif di rumah, tapi yang paling saya suka itu serial buku ceritaTini terbitan Pustaka Cerita Gramedia… aslinya namanya Martine, asal Prancis tahun 1950-an.

diani1
Who’s your fave artist?

Wah banyak, tapi saya suka Marcel Marlier (ilustratornya Martine), untuk objek yang lebih dewasa saya suka karya Milo Manara. Iklan-iklan zaman dahulu saya juga suka, tapi sayangnya saya gak tau ilustratornya siapa, hehehe.

lalphalpha-artworks

Bagaimana ceritanya sampai bisa diminta bikinin cover album L’alphalpha? How’s the creative process?

Pertama dikenalin dengan Yudhis (vokalis L’alphalpha) oleh teman saya, dan Yudhis ternyata satu band dengan Herald dan Ciwi (personel L’alphalpha yang lain), teman sekampus saya. Yudhis bilang lagi cari ilustrator yang bisa menggambar ala buku dongeng Enid Blyton, pas itu Yudhis liat-liat karya saya ketika tugas akhir dan sepertinya cocok. Saya juga senang bisa ketemu temen-temen yang suka style gambar saya. Sesudah itu langsung kumpul dengan Satria (manajer L’alphalpha) dan anak-anak yang lain, tuker-tukeran reference. Yudhis bilang kalau konsep albumnya kali ini seperti buku dongeng jaman dahulu, dan kalau bisa mereka juga bisa jadi karakter utama dalam ilustrasi tersebut. Selanjutnya kontak berlangsung via e-mail, dan dalam waktu 10 hari, ilustrasi-ilustrasi tersebut sudah jadi. Untuk desain layout cover dan tipografinya dikerjakan Yudhis.

Jika diminta membuatkan ilustrasi untuk band/musisi favoritmu, kamu mau siapa?

Kalau musisi lokal, saya ingin buat ilustrasi untuk Sore, Stars and Rabbit dan Mian Tiara. Kalau luar, Bjork.

little l’alphalpha.

 What is your dream job?

Jadi ilustrator, punya klien yang bonafid, pameran keliling dunia, punya studio sendiri di rumah.

Next project?

Kebanyakan personal project, lalu ada project cerita bergambar dengan teman saya yang sudah lama ketunda, dan mungkin akan ada lagi project dari L’alphalpha untuk album berikutnya.

http://dianiapsari.tumblr.com/

kitties

Art Talk: Sarah Larnach

Hi Sarah, how are you? Please tell me about yourself.

Hi! I am really good, thanks. I work as an artist (a painter) and occasional art director; you may know my work from collaborations I’ve done with musicians. I’m living back in my homeland, New Zealand after spending thirteen years based in Australia. Its good to be home but I’m too busy painting to enjoy it at the moment!

How do you start making art? When the first time you realize you good at it?

The art making obsession started when I was a child- I would pretend to be sick I order to stay home from school and work on my latest ‘series’. I didn’t believe I was ‘good at it’  until aged 16, when a few teachers at school were very very encouraging. I did win my first art prize at age 12 however, at a local fair; I had made a clay mask of a goblin from the movie The Labyrinth.

What things inspire you as an artist?

Movies inspire me because they are masterpieces of imagination. Photographs inspire me because they appear so naturally perfect, but you know so much work has gone into the shot. The biggest inspiration though, is the desire to make my friends smile.

How you define your style?

Watercolour and ink paintings of little heroes, painted with a love of the medium and the subject, often bright, often naughty, often funny.

What’s your fave material to work with?

I like to paint in water colour on really heavy, smooth paper. Lately ink has become an obsession also; Windsor & Newton Coloured Inks are my favourite.

How did the collaboration with Ladyhawke come about?

We met when I was at art school and Pip was making music, but not yet as ‘Ladyhawke’. A few years later we both moved to Sydney and in the tiny apartment we shared, she and I began to work on the early visual images for Ladyhawke. The Ladyhawke art has been around for as long as the Ladyhawke sound.

How’s the creative process? Do you listen to her songs while making the artwork?

She lets me listen to her songs as they’re written, so I already have a feel for the songs, but yes when it comes to making art for a specific song- I listen to that song on repeat while I’m getting the idea together. When I’m actually painting, I listen to books and have movies playing because otherwise my mind wanders too far.

Beside Ladyhawke, have you made any other music related illustration?  

Ladyhawke was the first, and I credit our collaboration with launching my international career. I’ve since worked on album covers and illustrated several other bands and musicians. A love of album art has been life long for me, and I was very inspired by the music/visual art relationship when I studied art.

Your most fave album art ever?

Led Zepplin – III, Roxy Music –Country Life, Little Feet – Waiting For Columbus, and everything that Derik Riggs did for Iron Maiden.

If you got a chance to making artwork for any musician/band, who would it be?

Jay-Z. Or to paint Nicki Minaj as a pin-up girl.

What’s your dream job?

Painting Fleetwood Mac for Rolling Stone magazine. And illustrating for a movie.

What do you do in the free time?

My girlfriend and I just moved into a new house- I’m spending  a lot of time trying to make it look like a tropical dreamland. Also, I like to cook. And to explore.

Next project?

I’m painting thirty small paintings which were commissioned a few weeks ago, and I’m working on large portraits works for my debut solo show… maybe I should bring it to Indonesia!

http://sarahlarnach.blogspot.com/