Art Talk: Still Loving Youth Illustration of Ryan Ady Putra

Boleh cerita sedikit tentang dirimu dan apa yang kamu kerjakan?

Halo nama saya Ryan Ady Putra, mahasiswa tingkat akhir di salah satu institut seni di selatan Yogyakarta. Minum kopi 2x sehari dan gemar menggambar dengan indian ink di kertas.

Apa yang mendorongmu untuk menjadi seorang ilustrator?
Emmm ilustrator? Sebenarnya sih nggak mau disebut ilustrator, lebih suka disebut artist, hehehe
ya alasannya klasik banget sih dari sekadar hobi menggambar, tertarik sama dunia seni, dan saya rasa jadi ilustrator itu fun banget. Kamu bisa memvisualkan apa saja yang kamu pikirkan dan yang kamu ingin sampaikan ke publik.


Bagaimana kamu mendeskripsikan karyamu sendiri? Pilih satu
lagu/video yang bisa  menggambarkannya.
 Karyaku? Respons visual dari apa yang ada di sekitarku, tentang bagaimana cara merayakan hidup, menceritakan kegelisahan dan harapan atau kegalauan seorang anak muda untuk masa depannya. Buat lagunya coba deh dengerin “Shine On You Crazy Diamond” dari Pink Floyd.


Apa influens terbesar untuk karyamu?
     Paling banyak sih karya saya ter-influence dari musik, skateboard dan lifestyle anak muda tentunya. Yang lain mungkin dari kejadian sehari-hari yang ada di sekitar saya. Contohnya kaya kejadian orang utan yang dibakar kemarin terus saya iseng bikin drawing orang utan judulnya “There’s No Way To Home”


 Di mana domisilimu saat ini dan apa hal paling keren dari situ?
    Saat ini saya tinggal di Yogyakarta. Yang paling keren yaitu banyak banget seniman-seniman keren dari yang muda sampai yang tua ada semua di sini.

Siapa seniman lokal idolamu?
   Saya memilih satu paket seniman yang ada di Ace House Collective. Idola banget tuh semuanya, haha… Soalnya karya mereka “still loving youth” banget.

Selain art, apa lagi yang kamu lakukan?
    Saat ini selain gambar sih ya kuliah. Prepare buat skripsi.

Sejauh ini, dari semua karyamu, mana yang paling kamu anggap personal?
Mungkin karya yang judulnya ” Make Yr Own Tomorrow” saya membuat 4 panel di piringan hitam. Saya menceritakan tentang harapan dan apa yang harus dilakukan untuk menghadapi masa depan yang gemilang.


Selain di atas kertas/kanvas, apa kamu pernah berkarya dengan
medium lain? Apa medium yang paling ingin kamu coba?
    Saya sudah pernah bikin di papan skate bekas, teak wood, piringan hitam. Lagi pengen banget sih coba di keramik atau kaca. Kelihatannya gampang-gampang susah tapi menarik buat dicoba.


Pameran paling berkesan yang kamu ikuti?
      “Can’t Grow Up” Art Exhibition di California. Itu pertama kali saya pameran di luar negeri, saya pameran bareng artist idola seperti Jimbo Phillips, Michael Sieben, dll.


Apa quote favoritmu tentang art?
    “Kalau kamu nggak bisa dapet uang dari karyamu, kamu bisa cari uang dari tempat lain, biar tetap bisa berkarya”

Current/next project?
Akhir September nanti saya ada pameran di Perth, Australia sama beberapa seniman dari Australia dan Amerika. Sekarang juga lagi prepare buat t-shirt merch saya sendiri yang saya beri nama The LVST project.

http://www.localyouth.blogspot.com/

Art Talk: The Intricate Embroidery of Izziyana Suhaimi

Embroidery art is not a new thing, for sure, but in amidst of blooming illustrators/artists start dwelling with this mixed media approach, one of the front-runners is Izziyana Suhaimi, a Singaporean artist that combining an intricate embroidery details for her pencil and water colors drawing of (most of it) young girls. I’m a fan since the first time I saw her works and can’t wait to have a little chat with her, it goes like this.

Hi Izzi, how are you? Would you mind to tell us a bit about yourself and what are you doing?
Well, a little bit about myself. I love to read, I love grey days. I am currently doing a mentorship program with a local gallery. I am experimenting more with embroidery and mediums in general, which is all very exciting and keeping me busy.

How was it started? Since when you start making art?
Like most kids, I love to draw. But I’ve never had any proper art training until university, when I took a degree in Photography. I also started embroidering while in university. After graduating, I wanted to put my works out into the world, and so that’s what I did and that’s how it all started.


 
How the usual creative process is goes for you? Do you always incorporate embroidery for your works?
So far, yes, I find that embroidery works very well in most of the works I make. But I’ve been working with it for a few years now and who knows, I might find another medium, or I might stick with embroidery for a really long time.
Usually, I will get an image in my head, which I find interesting to explore and I will go off in some directions (research, sketch, staring into space) to find out what this one image is about. But lately I find myself trying to pin down one idea or one thing that I want to express and figure out how to say this in a visual form. So it’s the opposite from how I usually work.

Where do you usually get the inspirations?
From things I read, music I listen to, inspiration can come from anywhere!

Do you have any specific era or culture that kind of influence your works?
I think that would be the now. I like to observe what the current trends are, what people especially the youths gravitate towards and are concerned about, what the world is obsessed with – contemporary culture. And from there, I like to relate it back to history and traditional culture. I find that the now is a constant mix of all eras, a sum of all history and even the future. It is always in flux, so there is a very rich source of inspiration.

Do you have some dream project or things you always want to try/make?
I have a lot! One of the things I would really like to do is to embark on a project where a lot of artists from everywhere work together to create one thing. It’ll be interesting to see what comes out of that.

Beside art, what else you’re fond of?
Books!

How do you deal with creative block?
Enjoy it! When I don’t feel like making anything, I try and go and do something else. Things are happening but on a subconscious level, everything is “stewing”. Once inspiration hits, sometimes I find that I will be dying for a break.

If you can collaborate with any person in the world (designer/artist/anything), who will you chose and why?
Ah that’s a tough one, there are so many. I think my dream collaboration would be with musicians I love – Metric, The National, Mew… I’m also fascinated with Islamic Arts and Arabic calligraphy, so maybe to collaborate with an expert in these fields would be interesting too.

What we can expect from you in the future?
This is another tough one! Well lots of things but they’re all a bit vague now so I can’t really give details. But I am definitely definitely excited to find out what’s in store.

http://my-bones.tumblr.com/

The Another Side of Kemas Dwisatria Ramadhana

Boleh cerita sedikit tentang diri kamu?

Hi, saya Kemas Dwisatria Ramadhana, biasa dipanggil Acil, kira-kira  saya adalah seorang pria paruh baya yang dulunya mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter dan pelukis. Namun akhirnya sekarang menjadi seorang graphic designer yang dulunya berkuliah di DKV Universitas Bina Nusantara. Untungnya, sampai sekarang tetap berkutik di dalam dunia ilustrasi walaupun bukan menjadi seorang pelukis. Hehehe.

Sejak kapan mulai suka bikin ilustrasi?

Kalau ilustrasi sebenarnya dari kecil sudah suka menggambar, karena saat itu kita lebih mengenal menggambar. Dari dulu ikut lomba gambar waktu TK sama SD, tapi kalau kenal ilustrasi itu saat SMA dan mulai mendalami saat kuliah. Karena ternyata makna ilustrasi itu sangat mendalam, tidak seperti sekadar menggambar yang tidak memiliki makna di dalamnya.

Apa hal yang pertama kali membuatmu ingin menggambar?

Film kartun Jepang sama Si Komo. Dari dulu suka Doraemon.

Kalau ilustrator favoritmu?

Tomer Hanuka, Audrey Kawasaki dan James Jean, karakter yang mereka buat itu inspiratif banget.

 Kesibukan saat ini apa saja?

Kalau kesibukan sekarang, ya paling kerja di bidang digital advertising, ikut beberapa event sama mencicil self project

Bisa cerita sedikit tentang project Животное стороне (The Animal Side) yang kamu buat untuk teman-temanmu?

Awalnya project ini cuma hadiah buat teman-teman kampus yang sudah 4 tahun main bareng, tapi ternyata banyak yang suka sama project ini dan jadi banyak yang minta dibuatin ilustrasi, akhirnya diseriusin deh.

Kalau ilustrasimu baru-baru yang menampilkan karakter dengan unsur Jepang idenya dari mana?

Ide awalnya dari pandangan sehari-hari. Kita sering bertemu orang berbeda-beda, baik genre musik, watak maupun style fashion yang berbeda. Mungkin penggambaran dari ide awalnya saya mau menggambarkan musik yang plural serta penampilan orangnya seperti apa.

Apa yang kamu harapkan selanjutnya?

Mudah-mudahan bisa membuat pameran tunggal, insya Allah, dan ingin mengambil S2 di luar jika sanggup. Hehehe.

http://kemasacil.blogspot.com/

The Sugary Drawings of Oktarina Lukitasari

Bagi Oktarina Lukitasari atau yang biasa dipanggil Na, inspirasi untuk menggambar bisa datang dari hal-hal sederhana di mana dan kapan saja, misalnya ketika sedang di toko kue ia melihat kue pretzel, freelance designer asal Bandung ini langsung terinspirasi membuat ilustrasi bergambar pretzel dan hasilnya adalah satu ilustrasi anak perempuan yang memakai headpiece berbentuk pretzel raksasa di kepalanya. Ilustrasi tersebut hanyalah satu dari banyak artwork manis lainnya yang bisa kamu lihat di akun Tumblr milik gadis kelahiran 1986 yang mengambil kuliah jurusan Interior Design di ITENAS Bandung ini. Setiap ilustrasinya memakai palet warna pastel dan menampilkan objek favoritnya yaitu anak perempuan berpipi merah dengan latar yang simpel dan dreamy. Kesan girly dan polos terasa kental saat melihat ilustrasinya dan kata “manis” pun melekat di benakmu, sensasi yang sama jika kamu melihat gambar strawberry shortcake atau foto anak kelinci yang menggemaskan. “Karya yang spontan dan ringan, haha. Yang penting bisa bikin yang melihat jadi ikut merasakan apa yang ingin disampaikan di gambar.” Ujar Na saat diminta menjelaskan tentang karyanya. Well, I think she’s just nailed it.

What’s your early memory about drawing?

Dulu waktu kecil, mama kalau ajarin gambar pasti gambar baju-bajuan, terus jadi suka iseng bikin gambar, dari doodling, gambarin buat teman dan akhirnya suka gambar di sketchbook. Dari dulu suka gambar pakai pensil warna dan cat air, gambar digital juga pakai efek dan brush cat air.

Ilustrasimu terlihat sangat girly dan manis, apa inspirasimu?

Karena juga suka fashion, saya sangat suka dengan Fifi Lapin, fashion illustration nya sangat lucu, saya penyuka kelinci dan Fifi Lapin adalah kelinci paling fashionable di dunia, hehe. Selain itu suka juga sama karyanya Courtney Brims, Conrad Roset, dan Laura Laine. Kalau dari Indonesia, saya suka ilustrasinya Amanda Mitsuri dan Diantra Irawan, karakter karya mereka kuat.

Kamu juga punya label aksesori bernama Moschia, tell me about it.

Moschia itu adalah label aksesori yang saya dan teman saya yang bernama Marchseu kerjakan. Awalnya iseng-iseng pas kuliah dan banyak teman yang suka, akhirnya ikutan bazaar, pameran, lalu sekarang suka juga nitip di salah satu toko di Bandung. Kita lebih banyak ngerjain gelang-gelang dengan warna pastel yang ringan.

What’s your dream?

Sangat ingin bikin produk dengan ilustrasi gambar yang ada, diaplikasikan dalam bentuk produk atau interior dan masih ingin melanjutkan Moschia nya. Sebenarnya ada passion untuk di bidang fashion juga, ingin bisa punya label fashion sendiri.

As published in NYLON Indonesia February 2012

 http://oktarinacil.tumblr.com/

The Retrofuturism Collages of Resatio Adi Putra

Resatio Adi Putra telah mencoba banyak medium dalam membuat ilustrasi sebelum akhirnya pria kelahiran Bandung 26 tahun yang lalu ini memantapkan diri untuk fokus dengan kolase. Mengambil inspirasi terbesar dari alam bawah sadar, mimpi, surrealism dan fairy tale, sejak 4 tahun lalu Tio mulai membuat kolase-kolase whimsical dan retrofuturism untuk berbagai media, mulai dari gig poster, t-shirt dan berbagai fashion spread yang salah satunya pernah dimuat di situs Vogue Italia.

Kenapa akhirnya kamu memilih kolase?

Saya suka mengumpulkan gambar, ilustrasi, dan foto-foto tua. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan ketika melihat gambar-gambar tersebut, ada perasaan magis. Dari sana saya saya mencoba membuat suatu karya yang mempergunakan gambar-gambar yang saya punya tersebut. Selain itu, kolase adalah sebuah kecenderungan yang menolak untuk mati bahkan dengan lahirnya teknologi digital pada masa kini.

Siapa seniman yang paling menginspirasimu?

Influence terbesar saya ialah Jan Svankmajer dengan karakter-karakter dan bizzare scenes dalam filmnya.

Selain itu Rene Magritte dengan lukisan-lukisannya yang naturally unnatural.

Bisa ceritakan tentang proses berkaryamu?

Yang paling pertama ialah saya harus tahu saya akan membuat apa, cerita, visual, karakter dan semuanya. Setelah itu saya melihat koleksi gambar-gambar tua milik saya, saya pilih, dan saya gunting, tempel sesuai apa yang saya harapkan.

Kolase saya menggunakan 2 teknik, digital dan manual. Digital untuk keperluan pekerjaan, misal untuk t-shirt graphic, poster, fashion spread dalam satu majalah, dll. Manual untuk keperluan pameran dan koleksi pribadi.

Kamu pernah membuat gig poster untuk Mocca, apakah kamu juga pernah membuat poster untuk band/event lain?

Iya, Mocca, itu sudah hampir 1-2 tahun yang lalu, sebelum Mocca vakum. Gig poster yang lain sering juga dulu, tapi sekarang sih kebanyakan project saya untuk kepentingan editorial layout, ya semacam fashion spread untuk majalah, seperti waktu itu saya berkolaborasi dengan salah satu fashion photographer handal untuk keperluan fashion spread salah satu majalah, dan akhirnya hasil kolaborasi kami sempat dimuat di Vogue. Ada beberapa clothing line juga seperti Monstore dan Noah Eats Apple yang menjadi salah satu project menarik untuk saya, mereka mencetak kolase-kolase saya di atas t shirt.


Kalau kamu diminta membuat ilustrasi untuk suatu band, kamu ingin band apa?

Venetian Snares.


Project yang sedang atau akan dikerjakan?

Banyak project dari tahun lalu yang belum sempat direalisasikan, tapi mimpi saya tahun ini ialah menyelesaikan kolaborasi dengan Salamatahari untuk buku ilustrasi untuk anak, juga saya ingin membuat pameran-pameran seniman-seniman kolase di Indonesia.

Check his Tumblr: http://resatio.tumblr.com/

The Ghost in the Machine by Erika Iris Simmons

It’s not what you have but it’s how you use it.” Tukas Erika Iris Simmons tentang prinsipnya dalam berkarya. Seniman yang berdomisili di Princeton, New Jersey ini membuat seri experimental artwork berupa siluet ikon-ikon terkenal seperti Jimi Hendrix, The Beatles, Audrey Hepburn hingga Robert Smith dengan media pita kaset dan roll film usang. “Ketika saya mulai bereksperimen membuat artwork, saya tidak punya banyak uang, jadi saya mulai menggeledah isi rumah untuk mencari barang-barang yang bisa digunakan untuk membuat composite art pieces. Suatu hari ketika hendak berangkat kerja, mata saya menangkap tumpukan kaset yang tergeletak di atas kanvas dan tiba-tiba saya punya ide memakai kaset-kaset tersebut untuk menciptakan gambar,” ungkap wanita berumur 28 tahun ini. “Saya berpikir, ‘What ghosts could be hiding in those machines?’ Saya menarik seutas pita kaset lalu pita itu tergulung dengan indah dan mengingatkanku akan rambut Jimi Hendrix, itulah karya pertama saya.” Lanjutnya tentang proyek yang kemudian diberi nama “The Ghost in the Machine” ini. Erika yang mengaku mulai membuat artwork sejak tahun 2008 karena terinspirasi oleh Ken Knowlton ini awalnya membutuhkan waktu sekitar tiga minggu untuk membuat satu karya namun seiring waktu ia kini sudah jauh lebih cepat dalam menyelesaikan sebuah karya. “Yang harus kamu lakukan hanya menggunting pita untuk membuat berbagai detail lalu menempelkannya sesuai sketsa. Terkadang saya juga membuat karya tanpa harus menggunting pita, semua tergantung apa yang saya rasa cocok untuk sebuah karya.” Terangnya.  Selain seri “The Ghost in the Machine”, saat ini ia juga bereksperimen membuat sculpture besar dari jaring pancing yang dibentuk sedemikian rupa hingga terlihat seolah ada putri duyung tak kasat mata yang tertangkap jaring itu. “Saya gemar mengeksplorasi ide tentang ‘full void’…bagaimana ruang yang terlihat kosong sebenarnya justru dipenuhi kehidupan.” Tandas Erika yang banyak terinspirasi dari berbagai audiobook yang ia dengarkan saat berkarya. Apa pekerjaan lain yang ia lakukan di luar seni? “Well, kalau saya tidak sedang membuat seni, saya bekerja paruh waktu sebagai waitress di sebuah restoran. It’s a good life.”

As published in NYLON Indonesia April 2012

http://www.iri5.com/