On The Records: NICHOLSON

Come from the land of so-called Bollywood sounds, NICHOLSON is a live electronica project from singer-songwriter Sohrab Nicholson and producer/multi-instrumentalist Rohan Rammana which bringing a breath of fresh air to the musical landscape in Mumbai, India. The project is started not long after Sohrab finishing his jazz piano study at St. Francis Xavier University in Canada. After a brief stint in UK, he went home to India along with his musical exploration of ambient electronic which he combines with the key harmony of jazz. His conquest to find music producer who can understand and enhance his music bringing him to Rohan, one of the founders of Cotton Press, a music studio in Mumbai with main focus is to support the local alternative scene. With the right chemistry of emotive vocal and transcendental ambient electronic, it doesn’t took a long time for them to gain positive recognition through their debut EP For What in 2014. Supported by hypnotizing live performance and cinematic music video for singles like “Cold Water” and “For What II”, NICHOLSON successfully serving an interesting feast of sounds and sights.


Hi Sohrab & Rohan, how are you? Where in the world are you right now and what are you doing before answering this email?

Very well thanks. We’re in Mumbai, India right now. We’re in the process of writing our first album, so we have been spending a lot of time in the studio.

So I guess we should start from the beginning, what inspired you to start making beats in the first place and how did you guys meet and make this project?

Well music was essentially a very essential part of both our childhoods. We were exposed to a lot of it because of our families. Our dads exposed us to what they listened to, and eventually we learned to play our instruments. As far as the project is concerned, we met quite by chance at Cotton Press Studio in Mumbai, where Rohan is one of the founding partners. We started working on our first EP before we planned on launching a project of any kind.

What’s the story behind NICHOLSON’s name?

I had initially gone to Cotton Press Studio, to record a couple songs I had written. We worked on our first EP together in an artist-producer context. I didn’t at the time want another alias, so I just used my last name. Very quickly the dynamic changed and it was quite clear we were a duo in every sense, but the name stuck. Funnily enough we later discovered that Rohan grew up next to a lady called Mrs. Nicholson. Turns out she was my great aunt!

How would you describe your genre?

Wellwe’re not really genre specific. We draw inspiration from a really large palette. We come from similar jazz backgrounds, but listen to vastly different music from one another. So, in essence what we make is an amalgamation of all our influences.

What are your musical influences?

Jazz, Classical, Hip-Hop, Film Scores, Pop, Electronica… We’re sort of all over the place.

What kind of records were you collecting when you’re growing up?

Collectively… Michael Jackson. We definitely both had Michael Jackson records growing up. Pink Floyd, Miles Davis, Oscar Peterson, Weather Report – a few names that were always playing at home when we were growing up.

How do you think your hometown affects your music?

Never really thought about it to be honest…

How the songwriting/recording is usually goes for you? Who’s doing what?

It just depends on the song. We’ll jam out an idea and develop it. Sometimes, Sohrab will have a song skeleton with lyrics and basic chord guideline, which then gets developed together. Other times, it just starts with a groove… There’s no real system. It’s sort of a give and take. We both have ideas that all make it to the table and then we curate them.

You have awesome music videos that always feels so cinematic, how do you came up with the concept for your videos?

Well the video series is all thanks to our good friend Sachin Pillai, who came on board to collaborate with us from the very beginning. He’s a very talented cinematographer and documentary film maker. Our common friends are in the videos as well which made it quite special. The videos are Sachin’s babies. We brainstormed concepts etc, but he definitely captained that ship.

How do you feel about your local indie music scene in India nowadays? Do you have any recommended names to listens to?

The landscape of Indie music in India is changing very rapidly. A few years ago, there wasn’t really a market for non-mainstream Bollywood music. What’s happening right now is quite exciting. Yeah, lots of great acts… Sandunes, Parekh and Singh (Formerly Nischay Parekh), Sid Vashi are a few you should definitely check out!

What are you doing when not making music?

It’s pretty much our full time job. Other than this project, we also compose and produce music for television commercials, documentaries, etc.

What’s the most memorable gig so far and why?

Magnetic Fields which is a music festival held in a palace in Alsisar, Rajasthan. The festival on a whole was truly a very unique experience and we are just so happy we had the opportunity to perform there.

What’s your dream project?

A feature film background score.

What are the next goals for you?

We are writing our album as well as working on a creating a complete audio/visual experience tour collaborating with really talented visual artists, the “Wolves” who recently played at Glastonbury with Anoushka Shankar.


Photos by Neville Sukhia

Summer Fling: India’s Photo Diary of Sabai Morscheck

Entah dengan berjemur di pantai atau sekadar bersantai seharian di rumah, kita percaya jika every summer has its own story. Bagi Sabai Morscheck, musim panas kali ini berbau rempah dan warna vibrant dari India yang tertangkap dalam foto-foto berikut.

Maharaja's City Palace (Jaipur)

Hi Sabai! Boleh cerita sedikit soal masa kecilmu?

Hi! Aku besar dengan ayah yang seorang pelukis jadi dari kecil aku menyukai seni dan aku suka melihat keindahan dari semua tempat yang aku datangi.

What’s your favorite thing to do on summer?

Sekarang ini sih masih diving ya. Jadi kalau libur bawaannya pengen diving mulu.

Apa summer experience yang kamu tangkap di photo diary ini?

Oke, liburan kemarin aku pergi ke India, dan banyak banget pengalaman baru yang aku dapat soal budaya dan gaya hidup mereka. India menurut aku ibukotanya nggak jauh beda ya sama Jakarta, dan tempat-tempat wisata mereka sangat eksotis. Hal-hal yang aku tangkap mayoritas bentuk bangunan mereka yang mewah dan penuh ukiran, aku juga suka foto orang-orang India dengan gaya tradisional mereka yang penuh warna.

Gadis-gadis India dengan saree mereka yang warna warni (Fatehpur Sikri).
Gadis-gadis India dengan saree mereka yang warna warni (Fatehpur Sikri).
Pasar mereka yang penuh warna (Kinari Bazar).
Pasar mereka yang penuh warna (Kinari Bazar).

Apa impresi awalmu tentang tempat tersebut?

Yang paling berkesan itu warna-warna yang meriah. Mereka berani memadukan warna-warna cerah sampai pakaian mereka sehari-hari (saree) juga mayoritas warnanya cerah. Suara yang khas itu suara klakson! Hahaha, walaupun Jakarta jauh lebih macet, tapi di India mereka suka membunyikan klakson mereka. Bahkan tulisan-tulisan pada truk mayoritas ‘please horn’.  Kalau masalah aroma yang khas itu aroma rempah-rempah pada makanan mereka. asli, aromanya nempel di mana-mana.

Taj Mahal (Agra)
Taj Mahal (Agra)
Salah satu mesjid di samping Taj Mahal.
Salah satu mesjid di samping Taj Mahal.

Hal yang menurutmu hanya bisa ditemukan di tempat tersebut?

Taj Mahal (ini sih sudah pasti ya), masala chai, rombongan sapi di jalan raya, cricket, penjual yang asli jago gila jualannya, aroma rempah-rempah yang khas banget, saree yang bagus-bagus banget warnanya, anak-anak kecil yang akrobat waktu lampu merah, warna-warna cerah di mana-mana.

Detail bangunan di Qutb Complex.
Detail bangunan di Qutb Complex.

Favorite summer memory?

Beberapa bulan lalu aku ke Lombok Timur, di sana ada resort namanya Jeeva Beloam, mereka punya private beach yang super bersih dan indah banget. Aku suka pantai, santai menikmati laut aja aku udah seneng banget. Jadi kalau aku dibawa ke pantai yang indah, tinggal di sana walaupun nggak ada sinyal handphone juga aku bakalan betah. Dan dengan partner travelling yang pas.

Favorite summer dessert?

Creme brulee.

Diajarin bikin keramik kaya yang dipakai untuk menghiasi Taj Mahal (Agra).
Diajarin bikin keramik kaya yang dipakai untuk menghiasi Taj Mahal (Agra).
Jaipur City.
Jaipur City.

What’s your summer essentials?

Sunglasses, t-shirt, short, swimsuit, sunblock, dan yang paling penting: sendal jepit!

Do you believe in summer fling?

Hahaha aku pribadi sih nggak, tapi teman-teman aku yang ngerasain.

Satu lagu untuk mendeskripsikan summer kamu?

“Go Outside” dari Cults. Alasannya karena aku nggak ngerti lagu India, haha! Dan aku suka lirik yang ini: “I think it’s good to go out. Cause if you don’t you’ll never make a memory that will stay.”

Sabai Morscheck


On The Records: Ramayana Soul


Memadukan bunyi musik tradisional India dengan musik rock Inggris mungkin sama sekali bukan hal yang asing seperti yang sudah lama dipopulerkan oleh The Beatles di akhir 60-an atau band Britpop Kula Shaker yang melejit di 90-an dengan single “Govinda” yang berbahasa Sanksrit, namun tetap saja rasanya selalu menyenangkan mendengar paduan sitar yang magis dengan sounds gitar yang modern. Adalah Ramayana Soul, band raga-rock/psychedelia gagasan Erlangga Ishanders yang sebelumnya dikenal sebagai gitaris band indie legendaris Jakarta bernama Pestolaer yang membawa formula tersebut ke ranah lokal. “Jujur awalnya nggak ada kepikiran, semua ngalir kaya air karena ada kesempatan. Singkat kata, semua berawal dari musik kamar seperti biasa. Yang pada akhirnya solid terbentuk sebagai band di 2010,” ungkap vokalis yang akrab disapa Angga tersebut. Melihat langsung penampilan live mereka yang membius di mana Angga dengan bertelanjang kaki akan bergantian memainkan sitar dan keyboard atau justru bernyanyi cuek sambil menari diiringi nyanyian chanting dari Ivon Destian dan aransemen padu dari 3 personel lainnya, its enough to take you to higher realm of sonic and stay grounded at the same time. “Kalau dibilang influens mungkin jadi rahasia dapur, tapi kalau yang membangkitkan adalah beberapa musisi yang notabene di luar sana kalau ngomongin agama sulit tapi mereka bisa. Kenapa kita yang di sini yang lebih beragam kok nggak bisa? Contoh kaya Ray Charles besar dari dunia gospel dan Enya yang segitu ribetnya dunia dia bisa lurus bikin sesuatu tanpa mandang bulu agama,” ungkap Angga tentang warna musik mereka. Setelah baru-baru ini merampungkan kolaborasi eksklusif dengan Studiorama Sessions dalam bentuk video musik, band ini pun dicanangkan tampil dalam gelaran Studiorama Live kelima pada tanggal 18 Oktober nanti di Rossi Musik Fatmawati.

WHO: Erlangga Ishanders (vokal, sitar, gitar, harmonium, tabla), Adhe Kurniawan (gitar), Ivon Destian (vokal), Kaisar Irfan Tirtamurti (bass) dan Sultan Bimo Kamil (drums, tabla).

WHERE: Jakarta.

INFLUENCES: The Stone Roses, Kula Shaker, George Harrison, Ian Brown, Ravi Shankar, Enya. “Yang paling nggak bisa munafik adalah psychedelic, itu akarnya. Cuma kita bukan hippies, kita bukan bohemian, kita nggak mencoba untuk jadi mereka,” cetus Angga.

BEHIND THE NAME: “Itu sebetulnya ‘kepeleset’ aja nggak tau kenapa, jadi waktu dianjurin temen buat main di acara ditanya ‘nama band lo apa?’ nah Ramayana Soul ini yang keluar. Nggak ada arti yang spesifk, cuma terbersit seketika.”

LISTEN THIS: “Jaya Raga Jiwa” yang menenangkan seperti mantra, “Mawar Batu” yang dari judulnya seakan terinspirasi dari The Stone Roses dan “Aluminium Foil” dengan aransemen psych rock dan peralihan vokal mencengangkan dari berbisik hingga lantang berteriak. “Lagu itu bercerita tentang beberapa kaum yang menjauhi fitnah sebagai loyalitas terhadap Penciptanya. Dan beberapa cerita tentang kaum yang nggak bisa lepas dari madat,” ungkap Angga.

LOCAL MUSIC HEROES: “Udah jelas Rhoma Irama. Kalau dibilang suka musiknya sih nggak, tapi kok dia bisa berpikir segitu jauhnya. Pas banget waktu musik India dateng, teknologi rekaman di Indonesia lagi maju-majunya sampai Rhoma Irama juga dapat serapan dari Deep Purple hingga akhirnya dangdut terlihat kaya gitu, nggak yang Melayu atau terlalu stagnan.”

HOMETOWN GLORY: “Kita ngeliat scene sekarang udah beragam dan lebih berani dari sisi positif tentunya.”

BEST GIG: “Semua gigs berkesan, tapi sejauh ini yang lebih berkesan kita main di acara Polpang vol. 1 pemutaran acara film Amuk, karena menurut kita sangat menyenangkan dan apresiasif.”

NEXT PLAN: “Sejauh ini kita nggak pasang target sebagai hal yang idealis. Yang penting jalan aja. Album adalah next target. Kita akan mengeluarkan full album bekerjasama dengan Wasted Rockers Records berisi 8 materi yang rampung dan juga dibantu beberapa kawan kita dari Sineping yang membantu pembuatan video klip single kita nantinya.”


Through The Lens: Ridzki Noviansyah

Boleh cerita sedikit tentang diri kamu?

Nama saya Achmad Ridzki Noviansyah biasa dipanggil Ridzki, saya bekerja sebagai freelance photographer namun main job saya saat ini adalah Clinical Research Associate dan sekarang sedang bertugas di Malaysia selama 6 bulan.

Apa yang membuatmu tertarik dengan fotografi?

Fotografi adalah medium ekspresi yang paling cocok untuk saya. Saya juga senang menulis tapi saya sering menganggap tulisan saya terlalu cheesy dan terkadang malah idenya nggak tersampaikan karena terlalu panjang. Maka dari itu saya mendalami fotografi, untuk menyampaikan ide, cerita, pengalaman atau pada yang paling mendasar kenyataan.

Tempat paling menarik yang kamu datangi, so far?

Nggak bisa dipungkiri lagi, cuma Indonesia. 17 ribu lebih pulau dengan penduduk yang memiliki adat-istiadat yang berbeda-beda, belum lagi hal-hal lain yang menakjubkan baik di darat maupun di laut. Keanekaragaman Indonesia itu sangat luas, saya pernah baca bila orang Aceh, Jogjakarta, Bali dan Papua dimasukkan dalam 1 ruangan dan diminta melakukan tarian tradisionalnya masing-masing, nggak akan ada yang percaya mereka datang dari satu negara.

Apa yang ingin kamu sampaikan dari foto-fotomu?

Realitas. mungkin itu kata yang tepat, sebagai contoh sekarang saya menghindari sesuatu yang jelas-jelas sebagai tujuan dari suatu tempat wisata. Saya lebih tertarik untuk menarik diri dan melihat kehidupan di sekeliling tempat wisata tersebut. Saya juga tertarik dengan melihat bagaimana warna benda-benda di sekeliling kita saling berbenturan dan melengkapi satu dengan yang lain. Ini menjadikan sesuatu yang banal jadi memiliki sebuah nilai estetika, kalau saya nyebutnya “yang banal, yang berwarna.”

Tolong ceritakan tentang foto-foto yang kamu kirimkan ini

Ok, ini foto-foto yang saya ambil ketika saya pergi ke India awal tahun ini. Saya nggak punya konsep mau foto apa sebelumnya karena saya berpikir lihat saja nanti keadaannya di sana gimana. Ketika sampai, saya dibombardir dengan pemandangan, aroma dan hal-hal lain yang membuat saya takjub. Saya mulai mencoba memotret manusia dan hewan yang ada di India dibanding sekadar bangunan atau landscape. Hewan mungkin tidak begitu sulit tetapi orang-orang India sangat tidak mau difoto. Nah untungnya ada yang namanya auto (bajaj kalau di Jakarta), supirnya senangnya ngebut-ngebutan dan di atas auto itu saya selalu melihat ke jalan, kalau ada orang-orang dengan tingkah laku yang menarik langsung saya foto.

Hal paling berkesan dari India?

Kekacauan dan keindahan dalam satu tempat, yang bisa dinikmati terpisah atau sekaligus dengan secangkir chai.

Apa arti traveling untuk kamu?

Traveling itu ibarat belajar buat saya. Tujuannya bukan lagi atraksi wisata tetapi apa yang terjadi selama di perjalanan; apa yang saya pelajari dari itu dan pengalaman apa yang bisa saya dapatkan. Kalau ngeliat atraksi wisatanya itu cuma bonus.

Next project?

Saya sedang ingin mencari inspirasi baru. Selama ini hanya melihat karya fotografi dan saya nggak terlalu terpengaruh dengan karya fotografer lain. Saya teringat ucapan Erik Prasetya yang berkata ketika dia membuat Jakarta, Estetika Banal yang di otaknya adalah puisi-puisi yang dia baca. Maka dari itu saya memutuskan rehat dulu selama sebulan dari semua yang berbau fotografi. Namun akhir Juli nanti saya akan mengikuti sebuah workshop fotografi di Chiang Mai, Thailand. Ini selain mendapatkan pembelajaran baru juga akan melihat the up and coming photographers di region Asia, maka dari itu saya sangat bersemangat untuk menghadiri ini. Sebagai persiapan mungkin saya harus baca literatur tentang Chiang Mai terlebih dahulu dan berkenalan lebih mendalam tentang kebudayaan Thailand secara umum dan melihat apakah ada hal-hal tertentu yang saya bisa angkat sebagai cerita.

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Ridzki Noviansyah


Gone With The Wind, An Interview With Timur Angin

Timur Angin mengajak kita mengintip sudut dunia lewat bidikan kameranya. 

Ada sejuta alasan kenapa orang senang berpergian. Sebagian dengan tujuan rekreasi dan menghilangkan penat, sementara sebagian lainnya pergi mencari inspirasi dan menceritakan kembali apa yang diperoleh dari perjalanannya. Beberapa akan bercerita lewat catatan tulisan dan yang lain memilih mengabadikan momen-momen tersebut lewat jepretan foto, seperti yang dilakukan oleh Timur Angin, seorang fotografer dengan reputasi yang sudah dikenal baik oleh dunia fotografi Indonesia. “Memotret dan bikin karya, daripada uang habis untuk membeli barang-barang bermerk atau mempercantik mobil, misalnya. Lagian kan kalau gue bisa balik modal hehe.” Jawabnya dengan enteng tentang motivasinya berpergian.

Sebagai fotografer, Timur tentu terbiasa dengan pekerjaan yang meliputi foto fashion, wedding, hingga corporate, tapi kecintaannya pada fotografi justru datang dari foto-foto scenery yang ia tangkap dalam perjalanannya. Entah ada kaitan dengan namanya atau tidak, yang jelas pria berumur 33 tahun kelahiran Jogjakarta ini memang senang berpergian ke berbagai tempat baik dalam maupun luar negeri dan seringkali destinasinya adalah tempat-tempat yang bukan menjadi tujuan wisata populer. Mulai dari Asia Tenggara, Cina, India, Tibet hingga Israel pernah dijajakinya.

Dalam berpergian, Timur lebih menyukai metode backpacking dan membaur dengan para penduduk lokal ketimbang berdiam diri di hotel. Bukan rahasia jika backpacking memang menawarkan cerita-cerita menarik di balik segala tantangannya. “Pernah waktu ke kota Chengdu, Cina, cari alamat kok nggak ketemu-ketemu. Berasa bego banget, padahal ya cuma muter-muter di situ. Mungkin terbiasa dengan ketidakberesan kota Jakarta, pas nemu kota yang teratur malah bingung sendiri.” Ucap Timur sambil tersenyum. Namun kesulitan mencari alamat mungkin tak ada apa-apanya jika dibandingkan pengalaman bertransportasi yang jauh dari kata layak. “Backpacking dari India menuju Nepal lewat jalan darat. Berjejalan naik kereta ekonomi di India. Waktu itu pas lagi winter, jendelanya bolong dan dinginnya minta ampun, toiletnya juga parah kondisinya dan pengemis mondar-mandir. Sebenarnya sama aja kaya di Jawa, tapi karena di India jadinya lebih parah. Hahaha, pengalaman hidup sih intinya.” Kenangnya ketika diminta menceritakan salah satu pengalaman berkesan yang dialaminya.

 Interaksi dengan masyarakat setempat pun tentu tak dapat dihindari, lantas bagaimana Timur menyikapi hal tersebut?  “Sebagai turis, pasti mudah kok berinteraksi. Bahkan nggak perlu mengerti bahasanya pun pasti berhasil. Apalagi yang backpacking. Kalau sama pelayan restoran, interaksinya mungkin hanya sebatas bayar bill. Tapi kalau ingin tahu lebih dalam, mending baca Lonely Planet. Kita nggak pernah tahu tabiat orang yang kita ajak bicara kayak gimana, entah itu lokal atau sesama backpacker, yang penting selalu waspada.” Jawabnya. Dan dia pun menceritakan ada keuntungan tersendiri ketika mengatakan dirinya berasal dari Indonesia, “Beberapa kali pasti berhasil dalam hal tawar-menawar. Kalau bilang bahwa kita sama-sama berasal dari negara miskin yang korup pasti tawaran kita akan diiyakan oleh si pedagang, contohnya seperti di Myanmar dan Kamboja, haha.”

Untuk masalah destinasi, Timur mengaku tidak terlalu pilih-pilih. Pantai, gunung atau perkotaan siap dikunjungi, yang penting lokasinya menarik untuk hunting foto. Dari sekian banyak tempat, jika harus menyebut satu, mana yang menjadi the best place he ever visit? “Tel Aviv karena nggak mudah bagi orang Indonesia untuk dapat izin masuk ke sana, kalau ke Jerusalem mungkin lebih umum.” Jawabnya. Dari kota ini juga ia mendapat souvenir paling memorable, yaitu kaus bendera Israel yang sampai sekarang belum pernah dipakai keluar rumah. Selain foto dan koleksi fridge magnet dari berbagai negara, Timur juga gemar mencicipi sajian lokal yang tak ditemukan di tempat lain seperti susu dan burger daging yak yang dicicipinya di Tibet.

Pertanyaan terakhir dari saya adalah destinasi impian selanjutnya, dan dengan semangat ia menjawab kawasan Amerika Selatan. “Terinspirasi oleh foto-foto karya Alex Webb. Matahari di sana bagus banget nggak kaya di Jakarta, terus ambience manusia dan lingkungannya selalu berwarna. Yang pasti langit biru seperti di Bali dan mau apa-apa juga murah. Lagian gue juga senangnya sama negara-negara eksotis. Ketimbang negara plesir yang major seperti Amerika atau Eropa, tapi kalau dibayarin orang sih nggak apa-apa juga kesana. Hahaha.”

 As published in NYLON Indonesia June 2011

All photos by Timur Angin