Heart on Their Sleeve, An Interview With The Submissives

Jangan terkecoh dengan nama dan penampilan mereka yang terlihat harmless, The Submissives menyembunyikan pesan subversif di balik lovesick indie pop.

Di atas panggung, The Submissives adalah band asal Montreal, Kanada yang terdiri dari 6 orang perempuan with matching dresses dengan dua orang vokalis yang setengah bergumam menyanyikan lagu-lagu indie pop beraransemen low-key yang mereka sebut sebagai lovesick pop. Namun, pada hakikatnya band ini bermula dari proyek solo seorang Deb Edison yang menulis dan merekam semua lagu yang ada di album debut Betty Told Me (2015) dan album baru yang akan dirilis bulan ini, Do You Really Love Me? yang akan dirilis oleh Fixture Records.

Berisi 15 lagu yang masing-masing berdurasi kurang dari tiga menit dengan judul-judul seperti “Perfect Woman”, “Dream Life”, dan “My Boyfriend”, sekilas mereka menyajikan fantasi patriarkal dari kehidupan wanita idaman di sebuah suburban yang sempurna, tapi seperti yang kita ketahui bersama, there’s always something sinister about that. “Nama The Submissives merujuk pada sikap pasif, patuh, taat, dan tunduk. Bagi saya, itu adalah sebuah sentimen yang ditujukan kepada kaum pria. It’s that feeling where you are sitting still and silent with a smile on your face, saying nothing, but that isn’t the way you feel inside,” ungkap Deb perihal nama yang mereka usung.

Pesan-pesan terselubung tersebut tak hanya muncul secara literal lewat lirik lagu, tapi juga secara visual. Dalam video terbaru untuk single “The Hum” yang digarap Zale Burley misalnya, Deb mengenakan white bride dress dalam beberapa menit awal yang terasa normal sebelum the video getting bloodier, sekali lagi menonjolkan tema love gone wrong andalan mereka. To see the bigger picture, Deb pun menjelaskan beberapa hal tentang proyek ini dalam email yang ia kirim dari Montreal.

the-submissives-linx-selby-2

Hai Deb, apa kabar? Di mana kamu sekarang dan apa yang kamu lakukan sebelum membalas email ini? Hi! I’m doing great today; I slept a lot last night. Great question! Saya sedang berada di kawasan bernama the Mile End di Montreal, Quebec, Kanada. Sebelum membalas email ini saya pergi mengirim surat dan membeli deterjen. Sekarang saya minum kopi sambil menulis email ini. 

Jadi bagaimana awal mulanya project solo ini berkembang menjadi format full band? Saya punya ide untuk bikin band dari berapa tahun lalu, namun belum sempat terlaksana. Saya menulis semua lagu untuk band ini dalam dua minggu terakhir November tahun lalu, which was a very sad and confusing time in my life. Saya menyelesaikannya di bulan Desember dan band ini mulai latihan Januari lalu. Having the songs performed live was always the dream!

Dari mana kamu mengumpulkan personel lainnya? Semua personel band ini adalah orang-orang yang menurut saya sangat berbakat dan menarik, dan tidak butuh waktu lama bagi kami untuk get it all together. Walaupun awalnya beberapa di antara kami tidak terlalu kenal satu sama lain, we’ve gotten much closer.

Boleh ceritakan show pertama kalian? Kami pertama kali tampil dalam acara bikinan sendiri di Montreal, tepatnya di lantai dua sebuah gedung di area yang agak terbengkalai tapi sering digunakan sebagai venue atau tempat jamming. Waktu itu kami merilis album Betty Told Me. Interiornya kami hias dengan lampu gantung, lilin, bunga, dan kain merah. Andre Charles Theriault membuka acara dan penonton menikmatinya dengan sangat tenang, considering it was just a voice and guitar in a room usually loud and unruly. Teman kami Neutral Fixation dari Massachusetts tampil sebelum kami. Being on stage after working so hard together for two months felt magical.  Band lokal Cheap Wig menutup show dengan liar, the crowd was drunk and lost in the strobe light at that point. The show went really well, it was a great night!

Apa saja yang menjadi inspirasi terbesar untuk band ini? Dua lagu yang saya dengarkan tanpa henti saat membuat album pertama adalah “In My Brain” oleh Badge dan “Mer Morte” dari band rock Montreal bernama Les Jaguars. Saya juga terobsesi pada sosok Joe Meek, seorang produser dan penulis lagu yang luar biasa. Lagu-lagunya terdengar sweet and dark di saat yang sama, you gotta learn about the man if you haven’t already! Saya juga suka apapun yang dirilis oleh label-label seperti Sublime Frequencies, Light in the Attic, dan Awesome Tapes dari Afrika.  Also, many thanks to the hero who runs the website Aquarium Drunkard, formerly the blog Ghost Capital.  So much more, but I will stop at that.  

0008100661_10

Bicara tentang album Do You Really Love Me? kalian juga akan merilisnya dalam format kaset, apakah itu cuma untuk gimmick atau bagaimana? Apa pendapatmu soal era musik digital/streaming saat ini? Merilis dalam format kaset bukan sekadar gimmick bagi saya, pengalaman merekam album dalam bentuk kaset adalah sesuatu yang luar biasa! Semua track dikompres secara natural dan menyatu dengan apik, it’s so fun and satisfying. I am addicted to tape technology. Saya tidak bisa berkomentar banyak soal era digital, karena saya pun merilis versi digital untuk semua lagu saya karena menurut saya rasanya menyenangkan jika album yang kamu buat juga bisa didengar orang di belahan dunia lain secara instan. Namun, saya tetap lebih memilih punya produk dengan bentuk fisik yang bisa kamu genggam. Tapes are great, but for me, releasing music on vinyl is the ultimate goal.

Bagaimana keadaan skena musik di Montreal saat ini? There is a lot of great music going on in this city at the moment! Kita semua bisa diuntungkan dengan membuat show yang mengajak band dan musisi dari genre yang berbeda dan memperkenalkan musisi baru yang mungkin belum pernah tampil live sebelumnya. I hope to see more non bar/official venues pop up in the future; I think it’s important to move out of our comfort zones. This is something I am really trying to work on myself…  I also hope to see cops staying out of the scene.

Selain musik, apa yang kamu lakukan sehari-hari? Saya bekerja di kafe, menggambar, bikin video, nonton bioskop, travel as much as possible, hang out with my cats and friends, walk my roommate’s dog, drink sparkling water, lie on my bed, sleep.

Apa  rencana selanjutnya? We are finally starting to practise after a big summer break! Kami akan merilis album tanggal 8 September di tempat bernama Club Balattou.  Di Oktober kami akan rekaman dengan local genius recording pro Garrett Johnson.  Hopefully we’ll release that one on vinyl!  For the future, I hope to learn to write songs together and really just jam out.

 

 

Band photos by Linx Selby.

http://submissives.bandcamp.com/

After School Rock, An Interview with No Vacation

IMG_0794

Hailed from San Francisco, indie-pop duo No Vacation began as dorm room project between Basil Saleh and Sabrina Mai as a way for the former to fight his personal depression. With influences from different musical backgrounds, they’re making their debut “mixtape” called Amo XO which basically a collection of summer-ish buoyant and hazy pop songs perfectly crafted for lazy summer days. Here’s my interview with Basil about the band.

Amo X

Hi Basil! How are you? Where are you right now and what are you doing before answering this email?

Hi, so nice to hear from you! Right now I am at the cafe right now with my favorite iced coffee. I just finished my last final exams of the semester earlier today. I haven’t got much sleep this week because I’ve been busy studying, so I’m a bit tired, haha. I think Sabrina is helping her girlfriend move out of her suite right now.

So, how was it started? What prompted you to make a band? 

I had found Sabrina’s SoundCloud and fell in love with her singing. Also, we both had history class together, and had mutual friends, so we were already familiar with each other. I remember I used to be really attracted to one of her friends. One day I went to her friend’s bedroom expecting to get some alone time, and to my dismay, Sabrina was already inside playing guitar along to some music on the floor. Now that I knew she had a guitar, I later invited her to jam with me in the laundromat (even though back then, I was pretty bad at guitar), and that’s kinda how the band got started. The two of us writing songs and playing covers down in the dusty laundromat when we had free time after class. The only song we still have from that time is “August”. Some of the other old songs we wrote were pretty good now that I think about it, I might bring them back in some form or another someday for a future No Vacation record.

What’s the story behind the name?

Well, I’m not exactly the most diligent student in the world, and after my first semester of university, my grades were bad enough to get me put on academic probation. I knew that I would have a very busy time ahead of me because I not only had to get my grades up, and become very studious, but also put in a lot of time with the new band. So after we recorded the mixtape and were trying to come up with a name for ourselves, No Vacation seemed pretty spot-on, as a little reference to how busy I was going to be. (Oh, and my grades are fine now by the way!)

You define your sound as Post-Tropical Sadcore, care to elaborate more? And what were the biggest influences for your music?

That description really just started as a joke, I found a bunch of fake genres names on an emo music blog and thought it would be funny to have that as our genre. Somewhat coincidentally, this joke descriptor ended up being really truthful, as a lot of our songs have a sweet sunny melody (hence the post-tropical), along with sad lyrics (the sadcore).

As for music influences, we are all really into bands like The Smiths, Toro y Moi, and Two Door Cinema Club and also local Bay Area indie bands like Surf Club, Leer, and The Bilinda Butchers. Personally speaking I’ve taken a lot of influence from shoegaze bands like My Bloody Valentine, and also electronic music producers like Nujabes.

Is there any particular influences from San Francisco itself that reflected on your music?

Yeah, the scenery and atmosphere here is a huge influence for us, the city is very chilled out and fun, so it inspires us to write our very melodic indie-pop. I think we would sound completely different if we lived elsewhere.

Tell me the story of Amo XO, how’s the creative process and who usually wrote up the lyrics?

Sometime after playing our first show together as just the two of us, I told Sabrina i didn’t want to be in a band together anymore, because I wanted to make really loud and heavier sounding music (having been in mostly punk bands before).  Around this time, I was dealing with a lot of depression. One of my best friends had just moved from SF back to Austin, and I started feeling isolated and alone all the time. I remember spending a lot of Christmas break either locked inside my room, or wandering around taking long walks at night. I was consumed with a lot of negative feelings. I guess calling Sabrina and asking her if she wanted to record some songs with me was my way of reaching out and trying to get help. She was super happy to pick up where we had left off, and we went to her friend’s home studio with a lot of new ideas.

We had each written most of the songs on Amo XO apart from each other by ourselves. So we recorded our individual songs by ourselves, and then once those versions were recorded, I came in and played the other instruments (adding in lead guitar, bass, and synth, and the beats) and did the backing vocals, so most of the songs (with the exception of the two acoustic tracks) ended up sounding completely new and being very collaborative when we were done. I came up with the concept of using samples and outside sounds in the mixtape, so that the mixtape would have more of a story: thematically following the arc of a day, with the intro, interlude, and outro tracks representing early morning, noon, and night.

Near the end of the session, we were still one song short, so I went home and wrote the riff for “Beach Bummer”. Since we usually write our own lyrics and just bounce them off each other, the next day we came up with our individual lyrics together and finished recording.

I still remember us getting the finished mixtape on CD after our final day in the studio and feeling the happiest I’ve ever felt just driving around playing the songs over and over on the car speakers and eating falafels.

Do you remember your first gig? How was it?

Our first gig was really special, we have our keyboardist Nat to thank for that. She got us the gig, through this SF based collective called The Secret Show Society that plans and throws annual hidden shows in different remote locations and only promotes the shows by word of mouth. So it was cool playing our first gig as No Vacation to a big crowd at such a cool event, and we were able to play a really good first show and kind of stun the crowd. The people who had listened to Amo XO already were super shocked with how loud and energetic we were live, and the people who hadn’t heard it yet thought we were some kind of shoegazing punk band.

What’s the most memorable gig so far?

We just played the legendary SF venue Bottom of the Hill, and it was an incredible experience. I was ridiculously nervous because it was the biggest show we’ve played so far and we had just played two awful shows in the weeks before where my guitar broke. This time we were playing in front of a packed venue, with some big music business people in the crowd. But we played our best gig yet and gave all the fans a great show, so that was super relieving!

Also, that night, my all time favourite band, The Bilinda Butchers came out to see us and I got to chat with them after the show, it was so cool meeting my heroes and finding out that they are just like me!

What’s the next plan?

We have grown so fast for being such a young and new band, it’s been such a humbling experience for me. We just want to keep spreading our music and growing our audience, as well as becoming a better band and better musicians. Thanks to Converse, we got to record some new songs in their professional studio with Rubber Tracks SF. We think people will love the new EP we have coming out. No Vacation is no longer just two people, we are a full band with five members now, and the new songs reflect this.  Our new stuff has a lot more energy now but still retains the trademark style that fans of our songs are used to.

I think the next step is for us to find a record label that can help us expand even further. We want to play big festivals like Coachella someday, just like all the bands we love. We also want to tour in Europe and Asia as well because we have a lot of fans outside of the U.S. that we would love to play for.

Last, where’s your dream vacation would be?

I went to a lot of cool places as a kid when my dad took me on his travels. But right now i’m discovering so much just in San Francisco and having so much fun just living my life. But to answer the question, I listen to a lot of Japanese music, so I guess my dream vacation would be to go on tour there with my band and play some gigs there and explore Tokyo. I’d also like to visit both Austin and Boston in the U.S. sometime soon to visit my friends there and see some of the great local bands in those cities.

NoVacation

https://novacationgrrl.bandcamp.com/

Sunday Girl, A Trip At Singapore with Cherie Ko

3

Menyusuri sisi quirky Singapura di hari Minggu yang cerah bersama indie darling kebanggaan kota tersebut, Cherie Ko. 

Di samping menjadi pit stop utama band-band indie keren yang melintasi Benua Asia, Singapura juga menyimpan potensi skena indie lokal yang cukup besar. Walaupun mungkin belum terlalu terekspos, bukan sekali dua kali kami menemukan band-band keren yang ternyata berasal dari Negara Singa tersebut dan menulisnya di Radar kami, salah satunya adalah band shoegaze fuzzy pop bernama Obedient Wives Club di mana Cherie Ko tergabung sebagai gitaris. Saat akhirnya bertemu dengannya di Laneway Singapore akhir Januari lalu, it was an instant click dan kami janjian untuk hang out sebelum saya kembali ke Jakarta.

Esoknya, di Minggu siang yang panas, Cherie menjemput saya di depan Singapore Art Museum. Memakai collar dress biru, bowler hat, sepatu oxford dan anting berbentuk ceri, ia terlihat seperti karakter utama dari film Wes Anderson. Matanya menghilang saat ia tertawa ketika saya memuji penampilannya yang super cute. Menyebut Winona Ryder di Heathers dan Parker Posey di Party Girl! sebagai style icon, tak sulit mengetahui bagaimana ia menjadi indie darling Singapura, tak hanya dari style, tapi juga substansi musik yang ia miliki.

Di umur 23 tahun, Cherie telah memiliki karier bermusik yang ekstensif sejak pertama kali belajar gitar ketika berumur 15 tahun. Sebelum tergabung di Obedient Wives Club di tahun 2011, namanya telah lebih dulu dikenal berkat unggahan lagu-lagu cover di kanal YouTube miliknya yang telah mendapat 3 juta views. “Video pertama yang saya unggah adalah ‘Your Call’ dari Secondhand Serenade. Saya memakai silly headband dan duduk di atas sebuah kursi dalam posisi yoga yang aneh. Waktu itu emo-pop sedang naik-naiknya mungkin karena itu saya bisa mendapat banyak views,” kenangnya sambil tersenyum.

Selain menjadi gitaris di Obedient Wives Club yang meraih popularitas di regional Asia Tenggara, ia juga menjadi frontwoman trio Bored Spies yang ia bentuk bersama Park Soo Young dan Orestes Morfin dari band cult Bitch Magnet dan telah tampil di Primavera Sound Festival 2013 di antara jadwal tur Amerika dan Eropa. Sekarang, Cherie juga memiliki solo proyek dengan nama Pastelpower di mana ia menukar gitarnya dengan keyboard untuk membuat musik indie pop yang dreamy dan lirik-lirik yang witty. Merilis demo kaset bertajuk Sparkling Eyes dan tampil di berbagai festival di Singapura, Malaysia, dan Thailand, lewat bedroom project ini Cherie pun kian mengukuhkan statusnya sebagai salah satu sosok paling dominan di skena indie Singapura yang sedang menggeliat.

Dengan talenta musik yang besar, rasanya lumayan susah dipercaya mendengar pengakuan Cherie jika awalnya ia justru tidak terlalu tertarik pada musik, terlepas fakta jika ia telah belajar piano dari kecil atas paksaan ibunya. “I’ll be completely honest here! I was a pretty average kid, and I didn’t grow up as a music lover. Saya tidak peduli dengan musik ketika masih anak-anak dan hanya mendengarkan apapun yang ibu saya putar di mobil. Saya banyak mendengarkan Faye Wong karena dia adalah penyanyi favorit ibu saya. Tapi saya sebetulnya biasa saja, sampai saya mendengarkan Cocteau Twins ketika remaja dan merasa terhubung dengan musik mereka. Lalu saya menyadari jika Faye Wong sebetulnya juga terinspirasi Cocteau Twins, dan itu seperti momen eureka. I adore shoegaze and I try to incorporate dreamy textures in my music too,” ungkapnya.

Dengan influens penyanyi pop perempuan Prancis 60-an seperti Françoise Hardy dan Sylvie Vartan, 80’s shoegaze, serta dreampop kekinian seperti Beach House, Cherie mendapat inspirasi membuat Pastelpower sehabis menonton ulang Edward Scissorhands dan membuat musik yang terpicu visual pastiche dari rumah suburban berwarna pastel dan halaman rumput yang tertata rapi di film tersebut. Visual imagery yang kuat dari film itu dan film-film cult tahun 60 sampai 90-lainnya (khususnya film-film John Waters) akhirnya memicu lahirnya lagu-lagu di EP Sparkling Eyes dan digital live EP bertajuk Pastelpower Broadcast: Live EP yang berisi dua lagu berjudul “Allergies” dan “Oh, Louie!” beserta musik video konseptual garapan Syamsul Bahari di kanal YouTube Pastelpower. Uniknya, selain dijual dalam format digital di Bandcamp, Cherie juga membuat bentuk fisik EP ini dalam bentuk kartu pos yang dilengkapi download code dan berisi pesan personal yang ditulis tangan olehnya.

“Bagaimana rasanya menjadi musisi indie di Singapura?” tanya saya di dalam mobilnya yang dipenuhi CD band-band lokal dan regional. “It feels great!” jawabnya sambil memasukkan CD band Yellow Fang dari Thailand, “Rasanya menyenangkan berada di komunitas orang-orang dengan cara berpikir dan minat yang sama dan berjuang untuk goal yang sama. Tapi saya juga sadar menjadi musisi di Singapura doesn’t pay the bills. Terutama jika kamu ‘indie’. Tapi hal itu tidak menghentikan kami untuk melakukan musik yang kami cintai!” imbuhnya. “Saya selalu bahagia kalau bisa menemukan band-band lokal baru. Dua minggu lalu saya menonton penampilan seorang gadis bernama Linying di sebuah gig, dan saya sangat terpesona melihatnya menggabungkan sensibilitas folk dengan bunyi elektronik. So fresh! Saya juga sangat menyukai The Pinholes yang merupakan salah satu band Singapura paling otentik di luar sana. They are a throwback to the good ol’ times, bringing back the vibes, mereka juga memiliki aksi panggung yang sangat enerjik dan fun,” imbuhnya.

            “Saya akan bersemedi di tempat rahasia saya untuk menulis lagu-lagu baru, jadi hal terdekat yang akan kamu dengar dari saya adalah album debut saya! Saya akan banyak bereksperimen di album ini, sonically. Saya juga ingin memasukkan macam-macam instrumen musik, That is all I will be revealing for now! ungkapnya bersemangat ketika saya bertanya tentang rencananya tahun ini. Mengingat ia sudah tampil di pusat-pusat hip culture Asia Tenggara seperti Bangkok dan Penang, apakah ia berencana mengunjungi Jakarta juga? “Saya banyak mendengar hal seru tentang Jakarta dan saya ingin sekali untuk mampir dan membuat show. Saya berharap bisa merencanakan suatu hal di Jakarta tahun ini,” jawabnya. Dengan janji itu, kami pun sampai di destinasi pertama petualangan kecil kami di tempat-tempat quirky Singapura favoritnya.

9fotor_(29)

Colbar Eating House

“ColBar sebetulnya kependekan dari Colonial Bar, dan sudah dibuka sejak 1953 sebagai unofficial canteen untuk infantri Inggris. Temboknya dipenuhi foto-foto dan memorabilia kuno tentang sejarahnya dan membuat tempat ini terasa rustic dan memiliki old-school charm. Makanan yang ada di sini sangat homemade dan otentik. Saya terutama menyukai nasi kari ayamnya. Maybe it might be slightly overpriced, but the place makes for a great experience with its story to tell!

9A Whitchurch Road.

fotor_(28)

Gillman Barracks

“Gillman Barracks adalah contemporary art cluster yang dibangun di bekas barak militer dan berisi museum, galeri seni, dan non-profit spaces. Sekarang tempat ini juga menjadi venue populer untuk pop-up gigs, parties, dan events. Walaupun terkenal dengan museumnya, saya lebih tertarik pada graffiti dan street art yang terpampang di tembok-tembok mereka, salah satunya karya Mary Bernadette Lee, seorang teman saya yang merupakan ilustrator/seniman dengan bakat luar biasa. Saya suka karya-karyanya yang berasal dari emosi yang kita hadapi sehari-hari dan ditegaskan dengan memakai cat air which is so very pretty in a raw way. I’m also a big fan of her portraits of naked ladies! They are awesome. You can check out her work at http://mrydette.com

gillmanbarracks.com

9 Lock Rd.

5

Henderson Waves

“Saya pernah kencan di sini ketika berumur 17 tahun. Saya menaiki tangga bersama cowok ini dan kami saling memainkan musik dengan gitar akustik. The night breeze, trees, skyline made for a pretty awesome date!

The Southern Ridges, Henderson Rd.

fotor_(24) fotor_(27)

Curated Records

“Curated Records adalah record store kecil dengan koleksi indie records yang hebat. Saya menyukai toko ini karena sangat well-organized dan rapi. Saya terutama menyukai bagaimana Instagram feed mereka terasa seperti record shelves betulan jadi saya penasaran untuk datang ke toko ini untuk melihat-lihat. Saya kemudian berteman dengan pemiliknya, Tremon, dan sekarang toko ini menjadi personal favorit saya.”

curatedrecords.com

55 Tiong Bahru Rd.

fotor_(25)

WP_20150125_082

Tiong Bahru Bakery

“Tempat ini menjadi tujuan wajib saya setiap mampir ke Tiong Bahru karena saya tidak bisa berhenti menyukai butter croissants mereka! It’s the best croissants you can get in town.

tiongbahrubakery.com

56 Eng Hoon Street.

10

Singapore Botanic Gardens

Baru-baru ini saya tampil di Singapore Botanic Gardens bersama teman saya Jean dari band Giants Must Fall. It was a post-valentines’ day gig dan banyak pasangan yang tiduran di atas picnic mat. Saya tampil di sebuah gazebo yang diterangi fairy lights, rasanya hampir seperti adegan film Twilight ketika Edward dan Bella berdansa waltz, haha! Orangtua saya sangat bangga malam itu karena mereka punya memori masa kecil yang sangat banyak di tempat ini. Rasanya lucu karena tidak peduli berapa banyak show yang saya datangi di seluruh dunia, in the end cukup sebuah garden gig sederhana yang membuat orangtua saya sangat bangga pada musik saya.”

sbg.org.sg

1 Cluny Road

On the Records: Bedchamber

Bedchamber, unit indie pop teranyar Jakarta bersiap meninggalkan masa remaja dengan sebuah album debut yang impresif dan semoga saja, everlasting.

PerennialDi masa ketika musik didominasi oleh bebunyian elektronik dan artifisial, jujur saja ada kerinduan tersendiri untuk mendengarkan kembali musik indie pop dalam format band yang organik selayaknya musik-musik dari skena indie pop lokal di dekade lalu yang didominasi oleh band Bandung, yang sayangnya seperti mati suri digusur oleh genre electronic atau folk. Adalah Bedchamber, band besutan anak-anak jurusan desain di Jakarta yang menebus kerinduan tersebut dengan mini album bertajuk Perennial. Berawal dari sebuah project pameran seni kolektif, Ratta Bill (vokal/gitar), Abi Chalabi (gitar), dan Smita Kirana (bass) yang sama-sama ingin ngeband iseng nge-jam bareng dan mengajak Ariel Kaspar, teman sekelas Ratta sebagai drummer hingga terbentuklah band yang namanya diambil dari sebuah random page di Wikipedia tentang Lady of the Bedchamber ini sekitar pertengahan tahun lalu.

Awal terbentuk, mereka masih menerka arah bermusik dari beragam influens setiap personelnya dari Radiohead, Weezer, DIIV, sampai musik punk (akun Soundcloud mereka masih menyimpan cover version lagu “Salah” milik Potret) dan sempat memainkan musik yang cenderung ke arah post rock sebelum akhirnya mekar sempurna menjadi sounds Bedchamber saat ini yang bisa dijabarkan sebagai indie pop at its best: aransemen yang jangly, struktur melodi yang catchy, vokal yang menyelisik dalam reverb, dan lirik bertema teen angst seperti misalnya saja, lirik “Who we are when we’re gone at 21/When we’re 21/Will we lose our sight?” yang terdapat dalam single pertama mereka, “Youth”.

“Ya sebenarnya EP ini bercerita tentang anxiety kita sendiri gimana kita masuk ke fase baru dalam hidup. Album ini dibikin pas kita masuk umur 20 di mana dari kita umur 19 ke 20 itu ada perbedaan yang cukup signifikan karena 19 adalah umur terakhir sebagai teenager jadi perasaan itu sih yang banyak dijadiin inspirasi,” ungkap Ratta yang menulis semua lirik di EP ini. “’Youth’ menyambung cerita kita sempat cari momen apa sih yang bisa kita capture dari EP ini yang kita buat waktu kita beranjak umur 20. Dan kebetulan kita semua sama-sama anak-anak yang cukup resah setelah ini kita mau ngapain? Kalau orang taunya masa muda itu hura-hura aja kita justru sebaliknya, di balik hura-hura ‘Youth’ sendiri ada kegelisahan yang cukup besar dan itu yang kita angkat,” imbuhnya tentang album debut yang berhasil mengangkat nama Bedchamber sebagai salah satu band pendatang baru paling menarik saat ini dan menghujani mereka dengan banyak tawaran manggung, termasuk tampil di Keuken, Bandung yang diakui mereka sebagai gig luar kota pertama mereka beberapa waktu lalu.

Semangat Do-It-Yourself khas remaja dalam album ini terasa kental tak hanya dari musiknya tapi juga desain packaging bertema scientific illustration yang dibuat oleh para personelnya dan Perennial sendiri dirilis oleh Kolibri Rekords, sebuah label rekaman baru yang dibentuk oleh para personel Bedchamber dan juga sahabat mereka, Daffa Andika. Tak hanya Bedchamber, label ini pun dalam waktu dekat akan merillis materi dari nama-nama baru seperti Atsea dan Gizpel yang tak kalah menariknya, which is very exciting for our local scene.

Di balik kedewasaan musiknya, yang menarik ketika saya bertemu langsung dengan band ini adalah para personelnya yang ternyata masih terasa sewajarnya anak-anak kuliahan yang gemar bercanda, tidak bisa diam saat difoto, saling meledek satu sama lain, dan terasa sekali semangat mereka menjalani band ini, walaupun seringkali harus mengorbankan waktu kuliah. “Promosi, nge-gigs, tapi jangan lupa kuliah,” ujar mereka sambil tertawa santai saat ditanya rencana selanjutnya dari band ini. Yang pasti, Perennial adalah sebuah perkenalan manis dari band yang masih dalam tahap berkembang ini dan menyoal kembali pertanyaan retoris yang dilontarkan dalam sebait lirik “Youth” di atas, I really hope they will never lose their sight.

https://soundcloud.com/bedchamber

DARI KIRI: Ratta Bill, Smita Kirana, Ariel Kaspar, Abi Chalabi.

Foto oleh Sanko Yannarotama.

On The Records: Lucite Tokki

Hello there, do you mind introducing yourself?

Hi, We are a singer-songwriter pop duo based in Seoul, Korea. We consist of a vocal, Cho Ye Jin and a guitarist, Kim Sun Young.

 How do you guys met each other? Who’s the first one came up with an idea to form a band together?

Ye Jin: We met each other in college. We both majored in applied music and during our first year we had to pair up with a partner for our exam. It was then when we decided to work together for the first time. Sun Young made a song and played the guitar while I wrote lyrics and sang the song she made. This triggered us to have formed what we are now, naturally.

Where the Lucite Tokki name is came from?

At first, we were just “Tokki” (which means rabbit in Korean) because of our characters. Ye Jin used to draw a rabbit which you can see on our website (www.lucite-tokki.com) as her mascot since high school. And we decided to use the rabbits as our characters and call ourselves “Tokki”. But while presenting our band names to our friends, they said it was too simple. So we put the word “Lucite” in front of  “Tokki”. We just like the nuance of the word; it doesn’t have a special meaning.

 What are the musical influences for Lucite Tokki? What music you guys listen to right now?

These days we love to listen to classical music and jazz of 30s, 40s. Especially Jerome Kern whom I think is the best composer out there. But basically we were influenced by pop, rock and electronic songs. We love many UK bands like Mansun or Franz Ferdinand and electronic musicians like Depeche Mode, Junior Boys, Daft Punk and many more.

Which one is easier? Singing/writing in English or Korean? Are you hoping to make more full English songs in the future?

 We were born and raised in Seoul. Thus, it is a lot easier to write in Korean but we would like to write and sing in English because English is a global language. We are hoping to spread our music all over the world and in order to do that, we have to study English harder haha

Korean Wave already became a global phenomenon, but to be honest we eager to know the other choice of Korean bands, so please tell us a bit about the indie scene in Seoul from your personal opinion. Do you think the indie bands will get some recognition from wider audience too?

Of course! They will and they have to get some more recognition from world wide music fans.

I know Korean Wave at this moment is just confined for idol groups but there are many amazing and well-prepared musicians in the Korean indie scene. I think many indie bands in Korea (including us) are well qualified and are waiting for a chance to expose their music. So we have to come up with fresh and new ideas to meet abroad listeners like you!

You’ve been making music together for quite a long time, was it hard to maintain the good relationship between you two? Do you ever fight or argue, and if yes, what you’re usually doing to settle the problems?

We always argue with each other and I think arguing is the key to maintain our relationship. It might sound like an irony but it really helps to keep us open with each other.

Where’s the best spot to catch a great music while we’re on Seoul? 

Nowadays, many places are emerging as a hot spot for art and music in Seoul. But I think there is no place like Hong-Dae for live music. You can visit here and listen to live music with a wide variety of genres.

What’s your favorite idol/group from the mainstream K-Pop and why?

I’m not sure you would be familiar with ‘Shin-Hwa‘. They are one of the first generations of K-Pop idol. They remind us of our teenager days.

What are you guys doing beside music?

Nothing! We are full time musicians. But we draw cartoons and make short video clips for our music. And sometimes we offer singing/guitar lessons.

What’s next project/hope for Lucite Tokki?

We just released our third full album in July so we are going to have many gigs for a while. And we have a plan for the next season of ‘Suitcase Theather’ which is our live performance on Youtube for international supporters.

 http://www.lucite-tokki.org/

The Best Summer Ever, An Interview With Summer Camp

Bagaimana cara mengobati patah hati setelah ditinggal summer fling kamu? Coba dengarkan lagu-lagu Summer Camp. 

Rachel Berry di episode pertama Glee pernah berkata: “Being anonymous is worse than being poor.” Tapi bagi Jeremy Warmsley dan Elizabeth Sankey, dua musisi London yang membentuk Summer Camp, anonymity justru merupakan kemewahan tersendiri yang terpaksa mereka lepas saat lagu-lagu mereka terus mencuri perhatian para music blogger dunia. Proyek musik ini bermula dari bedroom project Jeremy, seorang multi-instrumentalist yang sebelumnya bergerak di genre folktronica, yang mengajak Liz temannya untuk mengisi vokal di lagu berjudul “Ghost Train”, sebuah lagu pop bernuansa 60’s girl group dengan viral video yang memakai footage dari film 80-an. Single itu juga yang menjadikan nama Summer Camp tercantum di setiap situs musik berpengaruh sekaligus membuat orang-orang penasaran tentang identitas mereka (awalnya mereka bahkan tidak punya foto publisitas dan malah mengirim foto polaroid dua orang yang sedang berciuman di pesta untuk artikel tentang mereka).

It’s easy to understand kenapa mereka bisa mendapat perhatian yang bahkan melebihi dari yang diharapkan. Di tengah menjamurnya boy-girl duo dengan musik nostalgic seperti Cults, Kisses, Big Deal, Minks, dan masih banyak lagi, Summer Camp mengambil influence dari film-film remaja Amerika tahun 80-an dan menggabungkan lo-fi, chillwave, sunshine pop dan synth pop yang terdengar manis dan ringan namun menyembunyikan lirik-lirik patah hati dan obsesi gelap di saat yang sama (“I’d make you love me so much that you’d ask permission to breathe” ancam Liz di lagu “I Want You”).

Sekarang, setelah beberapa single dan video menyusul, merilis satu EP berjudul Youth, dan tawaran manggung terus berdatangan, mau tak mau mereka mulai membuka diri terhadap media dan ternyata anggapan sinis yang mengatakan mereka hanyalah dua orang hipster yang sok misterius terbukti salah. They’re really nice folks yang bahkan masih mau menyempatkan membalas sendiri setiap email penggemar yang masuk di sela-sela tur Eropa untuk mempromosikan album debut mereka, Welcome to Condale, yang dirilis Moshi Moshi Records di hari Halloween kemarin. Via email, saya berbincang tentang album debut, rumor, dan film-film John Hughes favorit mereka.

Bagaimana ceritanya sampai kalian bisa bertemu kemudian membuat musik bersama?

Jeremy: Kami telah saling mengenal sejak lama. Suatu hari kami memutuskan untuk bersama-sama merekam satu lagu hanya dengan niat just for fun lalu mengunggahnya ke internet dengan nama samaran. Lagu itu kemudian ternyata mendapat respons sangat bagus dari blog-blog musik jadi kami memutuskan untuk melanjutkan proyek main-main ini. Kami berdua sangat senang bisa berada di band yang sama karena kami saling menutupi kekurangan satu sama lain dengan sangat baik.

Sebelum kalian membuka identitas kalian ke publik, apa gosip paling aneh yang sampai di telinga kalian tentang siapa orang dibalik Summer Camp?

Elizabeth: Kami pernah dikira Chris Martin dan Gwyneth Paltrow, haha!

Tolong ceritakan sedikit tentang proses rekaman album debut kalian

Jeremy: Ha, how nice to be asked! Prosesnya sendiri sudah lumayan lama jadi agak sulit untuk mengingatnya dengan detail. Let me see, yang saya ingat adalah menghabiskan berjam-jam di kamar tidurku yang sempit dan membuat lagu-lagu bersuara aneh, saya cenderung memasukkan suara paling aneh yang saya buat dan tidak pernah membuat sesuatu yang simpel jika saya bisa membuatnya rumit, haha. I’m still very proud of those days, saya bisa belajar banyak, tapi sekarang saya bersyukur bisa tergabung di sebuah band, I always wanted to be in a band!

Saya sudah mendengarkan kalian sejak single “Ghost Train” yang masuk ke kompilasi NME Radar, lalu kalian merilis EP dan sekarang kalian juga sudah mempunyai LP pertama kalian, apa yang kalian rasakan ketika telah berada di titik ini?

Elizabeth: It feels great, kami tak pernah menyangka akan sampai sejauh ini. Kami hanya senang membuat musik dan memainkannya di atas panggung, rasanya luar biasa saat hal itu menjadi pekerjaan utama kami sekarang.

Dimana Condale? Dan kenapa kalian memakainya sebagai judul album?

Elizabeth: Sebenarnya Condale bukan kota sungguhan. Condale adalah kota kecil yang ceritanya terletak di California. Semua lagu kami bertempat di sana, kami menyukai ide jika karakter-karakter di satu lagu dapat berinteraksi dengan karakter di lagu-lagu yang lain.

 

Apa influens terbesar untuk musik Summer Camp?

Jeremy: Wow, sulit untuk disebutkan dengan spesifik. Kami berdua menyukai film dan cerita bergenre coming-of-age seperti Freaks and Geeks, My So-Called Life dan film-film John Hughes. Kami juga menyukai banyak genre musik seperti Motown, Gracelands dan electronic.

So, apa film John Hughes favorit kalian?

Jeremy: We love them all. Mungkin Sixteen Candles karena humornya, Breakfast Club untuk dance scene ikoniknya dan Pretty In Pink karena tokoh Duckie. Ah, Duckie.

Di album ini ada lagu berjudul ‘1988’, apa yang kira-kira sedang kalian lakukan di tahun itu?

Elizabeth: Haha! Jeremy berumur lima tahun baru masuk sekolah di Venezuela, Amerika Selatan yang sama jauhnya dari Inggris dimana dia tinggal sekarang dengan Indonesia. Saya berumur empat tahun dan barangkali sedang makan..

Kira-kira suasana bagaimana yang paling tepat untuk mendengarkan album ini? Apakah kalian membayangkan situasi tertentu saat sedang membuat lagu?

Jeremy: Tidak juga, kami harap lagu-lagu ini bisa dipasang ketika orang ingin berdansa tapi juga saat mereka ingin santai mendengarkan musik sendirian di kamar. Seseorang bahkan pernah mengirim email dan memberitahu kami jika dia baru saja bercinta dengan diiringi lagu kami, which was weird! Haha

Dimana gig terbaik kalian sejauh ini?

Jeremy: Kami baru saja bermain di Oxford dan rasanya luar biasa! Show kami yang berkesan lainnya adalah di Bologna dan New York

Apa rencana kalian selanjutnya?

Elizabeth: Kami ingin suatu saat datang ke Indonesia untuk sebuah show! Lalu kami juga ingin mulai menulis untuk album berikutnya

 

http://www.wearesummercamp.com/

Sweet Talking, An Interview With Afternoon Talk

Keep it as simple and sweet as Afternoon Talk.

Satu lagi bukti jika musik indie pop yang bagus tidak harus berasal dari Jakarta atau Bandung, Afternoon Talk yang terdiri dari Sofia (vokal), Osa (gitar, bass) dan Ridwan (gitar, drum) dengan bangga mengakui bahwa mereka berasal dari Bandar Lampung, kota di Pulau Sumatra yang mungkin scene musiknya secara umum (let alone the so-called indie scene) masih kurang terdengar di media nasional. “Yang paling disukai dari kota asal kami adalah ketika bangun tidur yang kami dengar adalah suara burung berkicau dan ayam berkokok. Dan udara yang segar tanpa polusi, pantai – pantai yang indah, nggak macet dan jarang banjir haha,” ungkap Sofia yang sebelumnya pernah tergabung di band indie rock The Syalala.

Proyek musik ini sendiri terbentuk di awal tahun 2011 saat Sofia dan Osa dengan iseng membuat lagu akustik berjudul “There’s One Thing You Should Know” yang ternyata mendapat sambutan positif, lalu mereka kemudian mengajak Ridwan, teman satu band Osa saat SMA dulu, untuk bergabung di bawah nama Afternoon Talk. “Nggak ada filosofi apa-apa sebenarnya ketika mencetuskan nama itu. Sejak awal nama itu terdengar enak di telinga. Juga tidak ada alasan khusus mengapa indie pop, kami hanya bekerja sesuai dengan apa yang kami mau. Jadi deskripsi musik Afternoon Talk itu sendiri menjadi kebebasan tiap pendengar untuk mengapresiasinya, karena dari awal kita nggak memusingkan hal itu, kita balikin konsep dasar kita adalah akustik.” Ungkap mereka.

It’s basically songs about the people around us, friends, family and memories, datang dari lingkungan tempat kami melewati hari,” cetus mereka tentang musik yang mereka buat. Hal tersebut kemudian tercermin jelas lewat lagu-lagu seperti “The Ship Will Bring You Home”, “So Far Away” dan single “Love Letter” yang terdapat di akun Reverbnation mereka yang memang terdengar perky dan manis dengan iringan gitar akustik, di mana Sofia menulis lirik-lirik berbahasa Inggris dan menyanyikannya dengan cara seperti sedang bercerita, mengingatkan akan Soko, vokalis perempuan asal Prancis yang diakui Sofia sebagai salah satu influensnya. Ditanya soal pembuatan album, mereka mengaku sedang dalam tahap menyelesaikan EP berisi lima lagu yang rencananya dirilis dalam waktu dekat sambil terus mengasah performance mereka di beberapa gig, which is salah satunya adalah Java Rockin’ Land 2011 kemarin. “We were so excited that day! Kami menikmati sekali bisa main di sana, banyak band lain yang bukan band rock yang juga tampil di JRL but we just rockin’ on. That was a very great experience, kami berharap bisa tampil di sana lagi.” Ungkap Sofia dengan bersemangat.

Dengan begitu banyaknya band lain di luar sana yang mengusung genre indie pop, bagaimana mereka membandingkan diri mereka dengan band-band itu? “Nothing, because comparing can be a boomerang to us, jadi kami hanya mencoba mengekspresikan pengalaman kami dengan jujur dan lugas juga tetap membuka diri untuk semua kemungkinan, let the listener decide,” jawab mereka. Kesan santai yang sama kembali muncul saat ditanya tentang project mereka selanjutnya, tanpa mau terdengar muluk, mereka menjawabnya dengan kalimat sederhana: “Making music and deliver it to your ears.”

As published in NYLON Indonesia January 2012 

Photo by Dimas Teguh A

 http://soundcloud.com/afternoontalk

The Breakfast Club, An Interview With Brilliant at Breakfast

Brilliant at Breakfast menyajikan musik semanis lolipop tanpa membuatmu sakit gigi.

Cuaca Jogja yang cenderung panas ternyata bukan halangan bagi Brilliant at Breakfast untuk menghasilkan musik indie pop, satu genre yang umumnya lebih banyak datang dari daerah sejuk seperti Bandung. Setelah tahun lalu merilis digital EP berjudul Almost Verbose, kini band yang terdiri dari Mumu (drum & perkusi), Tanto (keyboard), Eka (bass & vokal), Eka (melodica & perkusi), Ramii (gitar) dan Roy (gitar) hadir dengan Being Verbose Is Easy, Being Verbose Ain’t Easy, sebuah debut LP berisi sembilan lagu dengan berbagai tema menarik seperti superhero lokal (“Gundala Putra Petir”), mitologi Yunani (“Splashdown”), kotak pos kesepian (“Words Afloat”), berakhirnya liburan (“If Monday’d Never Come”), Harvey Williams dari band Another Sunny Day (“Nobody Ever Died…”), dan minuman manis (“Strawberry V”). Simak obrolan saya dengan band bersuara perky dan whimsy ini.

 

Bagaimana cerita terbentuknya band ini?

Kami terbentuk sejak akhir 2008 lalu, awalnya mau dibikin band fiktif beranggotakan stick figure tanpa ada wujud manusia sama sekali. Tapi karena nggak realistis untuk dijalankan, jadinya cukup semi-fiktif saja. Kami sengaja anonim dan nggak banyak menampilkan identitas individu. Bukan tidak mungkin kami hanya dikenal lewat karakter stick figures tadi.

Dari Gundala sampai Harvey Williams, dari mana datangnya inspirasi untuk membuat lagu?

Kami punya selera humor dan bacaan yang agak aneh, oleh karena itu kami mau nggak mau terinfluens Monty Python, Lewis Carroll serta Lemony Snicket. Dari kategori lain ada komik strip Calvin & Hobbes serta seniman grafiti Banksy. Kalo musik ya biasa lah, band-band Eropa seperti Heavenly, Belle & Sebastian, Acid House Kings.

Biasanya band indie pop yang bagus berasal dari Bandung, tapi kalian sendiri dari Jogja, bagaimana sih kalian melihat scene music jogja saat ini?

Cukup menarik. Seperti ruang tersembunyi tempat orang pacaran. Kecil, bagi yang belum tahu mungkin nggak terdengar, tapi ternyata asik. Nama-nama lama mungkin sudah cukup banyak yang tahu, tapi ternyata muncul nama-nama baru yang menunggu ditemukan satu persatu.

Kalian sempat mini tour ke Jakarta, how was it?

Saat itu kami sedang berjemur di pantai setelah merilis album pertama lalu kami mendapat tawaran dari bung Wahyu “Acum” Nugroho untuk mengadakan tur Jakarta-Bogor. Tentu kami tidak ingin melewatkan kesempatan untuk jajan es podeng di Jakarta, maka kami pun berangkat. Kami tampil di dua show radio dan tiga gig. Kami mendapat pengalaman seru dari semua event tersebut. Bertemu sejumlah radio personalities, bermain di pub retro dan crowd yang ramah di Superbad, serta bermain di antara record-record keren di dalam toko Hey Folks yang membuat kami bingung antara mau menjual atau membeli hehe.

Bagaimana kalian memandang respons yang terbilang baik untuk musik kalian, sampai-sampai ada band dari Amerika yang meng-cover lagu kalian dan album kalian juga dirilis label dari Peru (Susy Records) dan Connecticut (February Records)?

Pastinya nggak bisa menyembunyikan rasa senang dan bangga kita. Di kehidupan secara umum, rasanya kita di Indonesia sudah terbiasa terperosok ke bawah sebawah-bawahnya dari konflik, kebencian, kemiskinan, korupsi, inefisiensi, dan seterusnya.

Hanya dari dunia berbagai subkultur musik, kita semua bisa mengangkat kepala dengan bangga. Band-band Indonesia mulai terbiasa saling mengapresiasi dan menjalin kerjasama di lingkup dalam negeri maupun luar negeri. Lewat karya kita menunjukkan bahwa kita bukan hanya negara dunia ketiga yang hobi bikin onar atau apalah, namun kita juga manusia dan kita punya potensi cukup tinggi dalam berkarya.

 What’s the next plan/project?

Setelah kemarin sudah rilis album, ke depan kita ingin rilis single, album split, dan mungkin proyek kolaborasi. Baik dengan manusia maupun… err… bukan manusia. Kalo ada yang mau menggila bersama kami, silakan colek. Lalu jalan-jalan yang lebih jauh lagi, lalu bikin video klip, menang Pulitzer, masuk Dewan Keamanan PBB, dan menguasai dunia.

 

As published in NYLON Indonesia June 2011

Photo by Dead Media

Lovely Logic, An Interview With Munchausen Trilemma

Sometimes being left is so right. Atau setidaknya itu yang dirasakan tiga orang wanita di balik Munchausen Trilemma.

Munchausen Trilemma berawal dari keinginan Diantra Irawan, yang dikenal sebagai vokalis band bossa Bandung Hollywood Nobody, untuk belajar main gitar setelah banyak mendengarkan female singer/guitarist seperti Best Coast, Eisley dan Warpaint. Dian lalu iseng mengirim tweet yang mengajak pemain musik wanita untuk bertemu dan berbincang tentang musik, yang kemudian mempertemukannya dengan Riska Maharlika dan Vinda Monalisa. Walaupun usia mereka berbeda-beda, ketiga perempuan ini menemukan kecocokan baik dalam bermusik maupun hal-hal lainnya, termasuk satu persamaan di antara mereka yang menjadi fakta unik dari trio indie rock ini: mereka semua bertangan kidal. “Itu sama sekali tidak disengaja. Kami janjian ketemu, sedang makan, dan menyadari semuanya kidal. Tapi yang main instrumennya dengan tangan kiri sih Vinda. Dia main gitar kiri dan drum set nya juga dipindahin setting-nya khusus untuk left handed drummers. Saya dan Riska diajari untuk main gitar normal, kanan.” Ungkap Dian.

Dari situlah titik awal mereka bermusik bersama di bawah nama Munchausen Trilemma. Tanpa sungkan mereka mengakui jika skill mereka belum seberapa karena masih sama-sama belajar. Vinda dan Riska sebelumnya sering membantu band-band yang membutuhkan additional player, sementara Dian sendiri baru belajar gitar dalam hitungan bulan dan baru saja membeli gitar pertamanya yang diberi nama Fenny Rose. Namun, entah beginner luck atau bukan, versi demo single pertama mereka yang berjudul “If Loving You Is Heartbreaking” mendapat respons sangat positif saat dirilis sebagai free download. Dengan influens dari The Pains of Being Pure At Heart, Warpaint, Wye Oak, Yuck dan Best Coast, lagu ini merupakan perkenalan yang manis dari band yang terbentuk kurang dari setengah tahun lalu ini. Dengan intro suasana airport dan reverb gitar yang mengiringi vokal lirih Dian, lagu berwarna dream pop/shoegaze ini mau tak mau mengingatkan saya akan lagu-lagu indie Indonesia circa 90-an. “Munchausen Trilemma musiknya tidak ribet. Kami hanya memainkan beberapa kord simpel, dan sebaiknya menghindari kord B dan semua barred chord (palang) karena tangan saya kecil, dan saya belum mendalami kord yg sulit. Hahaha. Paling banyak 5 kord. Seputaran A-Em-G-Dm. Everyone could play it. Sound-nya memang agak kasar. Tidak rapi dan banyak yang bilang terdengar Lo-Fi dan rough. Basically, saya hanya membuat yang sanggup saya buat.” Jelas Dian tentang konsep musik mereka.

Bila dibandingkan saat tampil sebagai personel Hollywood Nobody atau live band Sarasvati, Dian mengungkapkan dirinya bisa tampil lebih lepas di band ini karena bisa bergaya seperti apa adanya dia sehari-hari, dengan gaya kasual, cuek dan lebih nge-rock. Dian pula yang membuat artwork desain untuk EP yang akan dirilis nanti. Saya pun memintanya menjelaskan arti di balik nama bandnya yang terdengar rumit ini. “Nama Munchausen Trilemma diambil dari istilah psikologi. ‘tidak ada satupun hal yang bisa dibuktikan kebenarannya 100%’, termasuk logika dan matematika. Kalau dijelasin, panjang banget. Saya memutuskan memakai nama itu setelah membuka-buka blog lama saya untuk inspirasi lirik, kemudian menemukan blog posting dengan judul itu. Saya baca lagi, dan suka. Akhirnya selain sebagai judul lagu, saya pakai untuk nama band. Saya pikir saya membuat lirik mengenai perasaan, cinta, dan semua yang tidak logis itu. Untuk membuktikan logika dan matematika saja tidak mungkin, apalagi perasaan. Your feelings belong to you, you don’t have to explain it to anyone. Kadang kita hanya ingin menyanyikan isi hati, tanpa berpikir apapun. Inilah yang saya lakukan di Munchausen Trilemma. Singing my heart out. “ Jawab Dian sambil menegaskan jika ia tak mau menyebut band ini sebagai side project dari Hollywood Nobody.

Kedepannya nanti, selain EP mereka juga akan membuat video hasil kerjasama dengan para seniman lokal. Dari ramainya yang membicarakan atau setidaknya me-retweet link akun Soundcloud mereka di timeline saya di mana sebagian besar dari mereka adalah rekan-rekan musisi dan yang aktif di scene musik lokal, it’s safe to say we all can’t wait to hear more stuff from them. Atas respons yang diterima Munchausen Trilemma sejauh ini, Dian mempunyai pendapatnya sendiri, “Semua orang bilang hal hal yang berbeda sih. But we love that people mostly say we bring 90s back. Who doesn’t love 90s?”

As published in NYLON Indonesia February 2012

Foto oleh Marnala Eros.

The Cool Kip, An Interview With Kip Berman from The Pains of Being Pure At Heart


Kip Berman dari The Pains of Being Pure At Heart adalah contoh anak baik-baik yang tampil keren dengan caranya sendiri.

Kip Berman, vokalis dan gitaris The Pains of Being Pure At Heart, terbiasa hidup dalam dikotomi. Saat masih sekolah dulu, ia mendengarkan Nirvana, The Exploding Hearts, Sonic Youth dan rajin mendatangi acara-acara punk namun selalu menyempatkan diri untuk belajar dan membuat PR. Kini, pemuda kurus yang dulu mengenakan celana khaki di gig punk dan menggambar simbol anarki di meja sekolahnya ada di depan saya sebagai frontman salah satu band indie-pop paling menarik saat ini. Peggy Wang (keyboardist), Alex Naidus (bassist) dan Kurt Feldman (drummer), personel lain dari band asal Brooklyn ini masih melakukan sound check, menyisakan Kip sendirian untuk menghadapi rentetan interview hari itu. Wajahnya terlihat lelah namun senyumnya langsung mengembang saat saya menghampirinya di ruang kecil di dalam Balai Sarbini, tempat yang menjadi venue penampilan pertama mereka di Indonesia. Terlepas dari hujan deras disertai petir hari itu, ia mengaku sudah menikmati segelas kopi dan beberapa donut, jadi “So far so good,” jawabnya sambil tersenyum saat saya menyapanya.

Rutinitas interview dan touring ke berbagai kota di dunia jelas bukan sesuatu yang mereka targetkan saat mulai bermain musik bersama sejak tahun 2007 lalu, Band ini terbentuk dengan spontan saat Alex dan Kip ingin merayakan pesta ulang tahun Peggy dengan tampil di sebuah gudang pabrik di Brooklyn, di mana mereka menyanyikan 5 lagu dalam durasi 10 menit saja. Dari situ mereka mengajak Kurt, teman sekamar Kip untuk mengisi posisi drummer dan mulai tampil di berbagai gig-gig kecil. Nama The Pains of Being Pure At Heart mungkin terdengar seperti nama band emo, namun pada kenyataannya band ini kerap dicap sebagai musik twee dengan referensi dari My Bloody Valentine dan band-band C86. Mereka jelas bukan yang pertama membuat kembali musik-musik bermelodi pop dengan reverb dan noise di sana-sini, namun berkat lagu-lagu seperti “Contender”, “Everything With You” dan “The Tenure Itch” yang terdapat di self-titled debut mereka dan fakta jika keempat anak ini berasal dari Amerika Serikat di mana twee adalah sesuatu yang undetected, membuat mereka mempunyai nilai lebih yang akhirnya membuat Pitchfork menobatkan mereka sebagai The Best New Music. Thanks to the internet, nama mereka kini tak hanya dikenal anak-anak hip di New York saja, tapi juga seluruh dunia.

Band yang awalnya harus menempuh perjalanan jauh ke Tallahassee hanya untuk tampil di depan penonton berjumlah lima orang di sebuah toko sandwich kini menjadi headliner untuk festival musik sekelas Coachella, SXSW, Summer Sonic dan menghabiskan banyak hari di kota-kota asing yang tak pernah didatangi sebelumnya dalam rangka tur album kedua mereka, Belong. “Apa yang saya nikmati dari tur? Hal yang paling dasar tentu saja berpergian itu sendiri,” ujar Kip, “Seperti Jakarta misalnya, ini adalah salah satu tempat di dunia yang mungkin tak bisa saya datangi jika saya mempunyai pekerjaan reguler. Saya memiliki kesempatan untuk bertemu orang-orang menarik di berbagai penjuru dunia yang menyukai hal-hal yang saya sukai juga lewat musik.” Lanjutnya sambil kemudian menyebutkan tiga hal yang paling ia rindukan di rumah, which are laundry, his girlfriend dan masakan ibunya.

“Saya tidak minum alkohol sebelum tampil, beberapa orang merasa lebih nyaman jika mereka minum dulu sebelum show, tapi saya ingin menampilkan sisi terbaik saya yang bisa ditunjukkan dalam setiap show. Biasanya saya hanya mondar-mandir di sekitar venue atau bermain scrabble di ponsel saya bersama personel lainnya.” Ungkapnya saat saya bertanya tentang pre-show ritual. Suatu pernyataan menarik dari vokalis yang menyanyikan banyak lirik patah hati berbau teenage angst seperti “You’re taking toffee with your vicodin, something sweet to forget about him,” di lagu “Young Adult Friction” dan baru-baru ini merilis EP berjudul Acid Reflex yang berisi 4 lagu dari album Belong yang di-remix oleh Saint Etienne, Twin Shadows, Violens dan Washed Out. “Tapi setelah show, biasanya saya pergi minum-minum bersama orang-orang yang datang ke show saya.” Lanjutnya. Well, either its beer or just milkshake, Kip adalah sesosok teman minum yang asik untuk membicarakan musik indie atau anarkisme.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Foto oleh Muhammad Asranur.