On The Records: Much

Terinspirasi setelah melihat aksi Lemuria di Rossi Musik, Dandy Gilang yang merupakan vokalis kuintet pop-punk Malang bernama Write The Future mulai membuat proyek solo indie rock berelemen Midwest emo dan merilis album mini berjudul Know Where You’re Heading di tahun 2014. Proyek ini lantas berkembang ketika Dandy mengajak pacarnya, Aulia Anggia, untuk mengisi vokal dan lahirlah Much, duo indie rock asal Malang yang telah merilis album Closest Things I Can Relate To pada Record Store Day tahun lalu. Dirilis oleh Haum Entertainment yang merupakan label indie di Malang yang gencar memajukan local scene kota apel tersebut dengan berbagai rilisan menarik, album tersebut berisi 6 lagu beraransemen fuzzy dengan melodi gitar yang twinkly serta vokal manis yang menyanyikan lirik tentang romance youth dan mengingatkanmu pada anthemic soundtrack dari teenage flick 90-an yang catchy.

WHO

Halo, di Much sendiri ada Aulia Anggia biasa dipanggil Anggi berperan sebagai sinden di band ini, ada Dandy Gilang biasa dipanggil Dandy juga nyanyi tapi dengan porsi yang lebih sedikit, lebih banyak bermain gitar sih. Selain berdua, kita biasa dibantu sama teman-teman baik dari keluarga Haum Records, ada Risang Candrasa (Risang) di gitar juga dan biasanya bermain gitar di band pop-punk Write The Future, ada juga Pandu Rahadya (Pandu) di drum yang kebetulan sedang menempuh akhir masa studi di ITB dan juga bermain untuk band lokal di sana Stagger, terakhir ada bos besar Haum Records pecinta idol group, I Made Nara Virjana (Vino) di bass.

 HOME BASE

Malang, Jawa Timur. “Kalau sekarang, terutama anak-anak lebih semangat dan berani, berani keluar kandang, berani bikin musik, berani bikin rilisan, dan thankfully lebih banyak lagi media yang mau liput atau bahas musik dan band di Malang, yang masih kurang sih venue, hehe,” ungkap Dandy.

 THE NAMESAKE

Anggi: “Jadi awalnya setelah kita berhasil membentuk sebuah grup musik ini, mulailah kita mencari nama yang dirasa cocok, simple, dan dapat menggambarkan personality kita. Beberapa nama sempat terlintas tetapi kebanyakan nama ternyata tidak cocok, dan akhirnya ketika dirasa kita punya terlalu banyak ide untuk nama band ini atau dalam Bahasa Inggris too much, kemudian tanpa banyak pertimbangan ya maka jatuhlah pilihan kita pada nama Much.”

 INFLUENCES

Anggi: “Jadi dulu saya lebih sering mendengarkan band-band Britpop atau post punk. Namun, setelah Dandy melibatkan saya dalam proyek musik ini, saya mulai mencari-cari referensi band-band yang vokalisnya cewek, dan favorit saya seperti Alvvays, Colour Me Wednesday, Tigers Jaw, Camera Shy, dan Adventures.”

Dandy: “Musical influences saya, terutama untuk Much bisa pertama dari Lemuria, trus Adventures, Joyce Manor, Saves The Day, Andrew Jackson Jihad, sampai ke Algernon Cadwallader.”

LISTEN THIS

“Break Heart, Break Apart”, single terbaru dari album kedua yang direncanakan rilis tahun ini. “Sedikit banyak sih lagu ini bisa jadi teaser buat materi dan sound di album baru nanti bakal kaya gimana. Selain itu untuk kualitas produksi juga kita berusaha untuk bisa lebih keren lah dari Closest Things I Can Relate To.

LOCAL MUSIC HEROES

Anggi: “Apa ya? Potret kali ya.”

Dandy: “Untuk Indo sih, dari dulu saya suka Padi. Love you mas Fadly.”

BEST GIG

Gigs paling seru sih di acara We.Hum Collective, Humming Mad ke-10 di Jakarta bareng Barefood, Laguna Bang Bang, Fuzzy I, sama Saturday Night Karaoke beberapa bulan yang lalu. Bisa dibilang itu pengalaman pertama kami main di luar kota juga pertama kali kita nyobain house gig dan juga mungkin musik dan lagu kita juga kayanya masih belum banyak yang tau, tapi eh kok rame banyak yang nyanyi dan setelah main pun banyak yang mau ngajakin kita ngobrol dan nanyain rilisan.

IMG_2281IMG_2282

DREAM GIG

Anggi: “Aku sih pengen banget nyobain sensasi main di house-gig lagi, selain itu juga pengen tur di beberapa kota sekalian jalan-jalan. Tapi juga pengen jadi opening act-nya Tigers Jaw kalau bisa, haha!”

Dandy: “Kalau aku sih pengen banget main di pinggir pantai. Plus pengen banget kolaborasi sama Mas Prabu Saturday Night Karaoke plis, apa aja.”

FAVORITE PAST TIME

“Kalau Anggi, biasa mengisi hari-harinya sebagai sarjana dengan menonton serial The Return of The Superman yang berisikan Daehan, Minguk, dan Manse sambil cari-cari kerja. Kalau Dandy biasanya ngurusin café di Malang sembari tetap aktif dalam grup musik lain bersama Risang, yaitu Write The Future. Kalau Risang Candrasa juga biasanya mengisi hari-harinya sebagai entrepreneur dengan mengelola café pribadi miliknya. Vino dan Pandu Rahadya sampai saat jawaban ini ditulis, masih juga berjuang menyelesaikan tugas akhirnya dengan tekanan batin yang dirasa semakin berat setiap hari ketika melihat teman-temannya satu per satu mulai meraih gelar sarjana.”

FUTURE PLAN

Dandy: “Lebih banyak main, gigs/music festival, dalam kota luar kota. Rilis album baru, tour, ketemu lebih banyak lagi temen baru, scene Malang lebih rame lagi yang berkecimpung, lebih banyak media yang mau liput, terus banyak juga yang mau main ke Malang.”

Anggi: “Hampir sama kayak Dandy sih, lebih banyak main di gigs/music festival, rilis album, tour, dan Nikah!!! HAHAHAHA!”

IMG_2279

Foto oleh: Permana Hidayat.

Advertisements

Irresistible Inconsistency, An Interview With Protocol Afro

You can call it what you want, yang jelas Protocol Afro akan membuatmu berdansa dengan lagu-lagu mereka tanpa terkukung oleh genre. 

Suka atau tidak, kita hidup di masyarakat yang gemar menempelkan label ke semua hal, tak terkecuali musik. Berbicara soal label atau genre dalam musik pun akan selalu menjadi dikotomi tersendiri, di satu sisi genre bermanfaat sebagai terminologi untuk membicarakan sebuah band dan musik yang mereka mainkan, serta secara umum memudahkan kita saat mencoba mengenalkan sebuah band ke pendengar baru, namun di sisi lain genre juga bisa menjadi semacam pagar kecil yang membatasi band tersebut untuk berkembang. Sebagian musisi akan nyaman-nyaman saja berada di kotak genre yang mereka buat sendiri atau diberikan orang lain, sementara sebagian lainnya seperti Protocol Afro menolak untuk dibatasi oleh genre.

We called itInconsistent Pop’, dasarnya tetap indie rock tapi nuansa pop-nya tetap ada dan lebih bebas menginjeksikan genre apapun ke musik kami.” Ujar Mayo Falmonti yang menjabat sebagai bassist, manajer dan co-founder yang membentuk band Jakarta ini bersama vokalis Aryadita Utama alias Ditto, gitaris Giano Valentino, drummer Kristian Harahap dan gitaris Panji Prasetyo tahun 2007 silam. Saya sendiri pertama kali mendengar nama band ini sekitar dua tahun lalu lewat single mereka kala itu, “Radio”, satu lagu bernuansa post-punk dengan vokal Ditto yang sekilas mirip Brandon Flowers dari The Killers. Lama menghilang dari radar saya, di tahun 2011 mereka kembali dengan single “Music (Dance With Me)” yang terdengar dancey dan berwarna lebih uplifting dibanding lagu sebelumnya serta tampil di Baybeats Festival di Singapura dengan tambahan satu personel, Ferdi Salim di synths/keyboard. Suatu prestasi tersendiri bagi band yang saat itu belum merilis album dan belum dikenal bahkan oleh publik di negeri sendiri. “Apresiasinya luar biasa, padahal di saat bersamaan di negara sendiri band ini tidak dikenal sama sekali, gue kasih demo ke acara dan pensi sering ditolak, tapi pas approach Baybeats, malah goal, padahal sebelum Baybeats itu baru manggung tiga kali. Menurut gue, miracle from God bisa dapat kesempatan gitu.” Kenang Mayo tentang gig itu yang kemudian menjadi turning point bagi band ini. Berkat ulasan bagus dari media dalam dan luar negeri, nama mereka perlahan semakin dikenal dan mereka memutuskan untuk lebih serius dalam bermusik dengan merilis self-titled EP berisi 4 lagu dan tampil di berbagai kesempatan seperti HelloASEAN 2011 di Nusa Dua, Bali dan acara 811 Show di Metro TV.

Kini, dengan materi-materi baru seperti “Light It Up”, “Electricfire” dan “The Youth” yang berbenang merah aransemen dancey dan anthemic, mereka siap menuju langkah berikutnya. I don’t care its cliché or not, namun pertanyaan soal nama band selalu menarik bagi saya, termasuk Protocol Afro yang membuat saya bertanya-tanya karena tak ada satu pun personel yang berambut Afro. Saya mengharapkan jawaban yang mencengangkan dan memang itu yang saya dapat. Siapa sangka jika nama Protocol Afro datang dari situs name generator? “Bosan di kantor, gue iseng cari nama band di situs band name generator dengan menggunakan keyword ‘Mayo’ dan muncul ‘Mayo & The Protocol Afro’, akhirnya ‘Mayo & The’ dicoret, dan ‘Protocol Afro’ dipilih jadi nama bandnya.”  Ungkap Giano yang disambut tawa oleh semua personel. Saya sempat bertanya pernahkah mereka terpikir untuk mengganti nama, namun semua personel mengungkapkan jika mereka telah stuck in comfort dengan nama itu, “Mungkin bisa dibilang nama ini yang memilih kami. Dari sekian ratus ribu kemungkinan nama yang keluar, tapi entah kenapa nama yang muncul adalah nama yang telah mengantarkan kita sampai di sini.” tukas Ditto dengan serius.

Walau sehari-hari disibukkan dengan daily job masing-masing (diantaranya ada yang berprofesi sebagai jurnalis tv, marketing saham, graphic designer dan kuliah S2), mereka dengan senang hati mencurahkan perhatian lebih untuk proyek musik ini. Tak hanya sekedar memainkan instrumen masing-masing, setiap personel memiliki porsi tugas ekstra yang berbeda-beda. Mayo adalah manajer yang rajin menyambangi EO acara dan media untuk mengenalkan band mereka, Giano berperan sebagai mastermind dalam setiap lagu yang digarap, Pandji membuat visual/animasi saat mereka tampil, sementara Kristian dan Ferdi mengurusi marketing dan promosi. Kalau Ditto? Well, Ditto punya opini sendiri tentang bagaimana cara band ini bergerak, “Ibarat tubuh, Mayo is the heart, that keeps us going, Giano the brain blessed with inspiration, Kris the legs that move us in the right direction, Panji and Ferdi are the hands that make things happen, and me the face, because I look better than the other lads,” ujarnya sambil tertawa. Lalu apa rencana Protocol Afro selanjutnya? “Yang pasti sih full debut album yang rencananya bakal rilis pertengahan atau akhir tahun ini, dan selain itu juga video clip. Ada juga rencana untuk bikin conceptual live videos, yang sempat kita omongin bersama, tapi belum terlaksana. Selain itu sekarang juga lagi coba approach beberapa teman-teman musisi dalam dan luar negeri untuk me-remix lagu kami. Sudah ada satu, by the way, yaitu Riot !n Magenta (electropop duo dari Singapura) yang me-remix single kami, ‘Music (Dance With Me)’.” jawab Ferdi mewakili teman-temannya. Mereka boleh saja memainkan musik yang inkonsisten namun satu hal yang konsisten saya tangkap dari band ini adalah kekompakan dan semangat mereka yang tinggi. Yang jelas saat mendengar harapan mereka untuk bisa tampil di luar negeri kembali, saya rasa hal itu bukan angan-angan siang bolong belaka.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Photo by Muhammad Asranur

http://soundcloud.com/indische-partij-records

Let It Flow, An Interview With Swimming Elephants

Bagi Swimming Elephants, bermusik tanpa harus menjadi pretensius itu jauh lebih menyenangkan

Ketika pertama kali mengetahui eksistensi band ini dari blog musik seorang teman, rasa tertarik langsung muncul ketika membaca nama mereka yang unik. Rasa tertarik itu semakin berkembang ketika mendengar single pertama mereka yang berjudul “At the Zoo”, sebuah lagu yang menangkap perhatian sejak ketukan drum pertama dan membuat kita terhanyut untuk mendengarkannya sampai selesai berkat aransemen yang terasa mengalir. “Let it flow” adalah esensi yang saya tangkap dan frasa yang sama mungkin juga dapat mewakili konsep Swimming Elephants itu sendiri. Bayangkan saja, sejak band ini terbentuk di tahun 2009, pengalaman live performance mereka dapat dihitung dengan jari, salah satu yang paling berkesan adalah ketika tampil di Jaya Pub, di mana penampilan mereka mendapat respons yang begitu positif. Minimnya jam terbang bukan disebabkan tidak ada tawaran, tapi karena daily job yang hanya mengizinkan mereka tampil di akhir pekan. Keenam personel Swimming Elephants memang memiliki kesibukan masing-masing di luar musik, vokalis/gitaris Rizki Yogaswara (Yogas) bekerja sebagai telco engineer, gitaris Gilar Di Aria (Gilar) adalah pegawai kantoran, drummer Wisnu Andita Rahmadi (Ninu) bekerja di perusahaan leasing, vokalis/keyboardist Saras Juwono seorang environmental engineer dan keyboardist Aprilia D. H bekerja sebagai graphic designer, sedangkan bassist Ranggi Mukti Rakasiwi yang berhalangan hadir untuk photo shoot artikel ini adalah seorang product designer.

Berawal dari Yogas, Ninu dan Gilar yang sudah saling mengenal sejak bersekolah di SMP yang sama, mereka sering mengisi waktu luang mereka dengan iseng bermain musik, satu aktivitas yang jika meminjam istilah mereka bisa disebut dengan “pertemanan permusikan”. Kegiatan ini terpaksa berhenti ketika Gilar pergi ke Melbourne untuk studi perfilman. Selesai kuliah, Gilar kembali ke Jakarta dan mengajak Yogas dan Ninu untuk membentuk band yang membuat dan menyanyikan karya mereka sendiri. Mereka kemudian mengajak Saras dan disusul oleh April dan Ranggi yang resmi bergabung di bawah nama Swimming Elephants sejak dua tahun lalu. “Untuk nama, kebetulan waktu itu gue teringat salah satu scene dari film Tarsem Singh yang berjudul The Fall, dan gue suka aja kalo scene itu digambarin secara literal, syukur-syukur setelah dirembukin ternyata yang lain pada setuju.” Jelas Gilar tentang nama bandnya. Lalu bagaimana mereka mendeskripsikan musik yang mereka mainkan? Yogas menjawab pertanyaan saya dengan berkata: “Masalah genre kita nggak pernah ngebatesin, begitu juga influens. Apa yang klop sama kita aja. Masing-masing personel punya selera sendiri walaupun agak mirip. Nah benang merahnya itu mungkin yang jadi Swimming Elephants. Walaupun influens macem-macem, aliran musik masih dalam wadah pop kok.” “Mungkin playful pop kali ya?” cetus Gilar sebelum dijawab oleh Ninu, “Nggak ngerti soal genre, yang gue tau cuma mainin musik yang cocok di hati.”

Kalimat Ninu tersebut dapat mencerminkan sikap mereka dalam bermusik. Musik bagi mereka bukan sebagai sarana untuk mencari uang, band ini pun mereka anggap sebagai workshop untuk bermain musik dan cara berekreasi untuk melepas kejenuhan dalam bekerja. Prioritas mereka bukanlah mencari label rekaman, membuat album paling hebat, mencari popularitas dan motif-motif pretensius lainnya. Karena itu mereka tak merasa harus dikejar target untuk membuat album atau video klip sebagai media promosi, Atas dasar semangat bersenang-senang yang sama juga, mereka saling memberi kebebasan untuk membuat lagu atau saling bertukar instrumen di setiap lagu yang berbeda ketika sedang berada di atas panggung. Walaupun begitu, mereka satu suara ketika mengungkapkan rencana mereka dalam waktu dekat ini, yaitu mengumpulkan materi-materi yang belum selesai dan membuat lagu baru untuk dijadikan EP yang diharapkan dapat keluar tahun ini serta memperbanyak jam terbang untuk tampil di gigs.

Untuk menutup sesi interview kali ini saya pun meminta pendapat mereka tentang musik Indonesia saat ini, masing-masing personel memiliki pendapat sendiri, di antaranya menurut Gilar: “Apresiasi mayoritas pendengar musik lokal agak backwards menurut gue, karena buat sebagian dari mereka, musisi lokal yang paling bisa menyerupai band atau musisi luar malah bagus, Kebanyakan mentalitasnya masih mentalitas fans cover band, bukannya mencari honesty atau mungkin bahkan originality, nggak salah sih, tapi sayang aja.“ Sedangkan Saras berpendapat “Benar-benar berkembang pesat dan tiba-tiba, sudah seperti ledakan penduduk. Kayaknya sekarang ini banyak banget orang yang menjadikan bermusik sebagai main income-nya. There is absolutely nothing wrong with that, cuma suka miris aja karena seringkali musik sekedar dijadikan bahan untuk jualan, instead of something to pamper the ears.”

Dari jawaban tersebut jelas terlihat walaupun proyek musik ini terkesan santai, mereka pun sebenarnya sangat concern dan tanggap terhadap scene musik Indonesia saat ini. Untuk sekarang, biarkan mereka merenangi arus mereka sendiri dan kita pun masih di sini dengan sabar menunggu karya-karya mereka selanjutnya.

As published in NYLON Indonesia April 2011

Photo by Anton Jhonsen.

The Alpha Kids, An Interview With L’Alphalpha

Seperti anak kecil yang menggemaskan, L’Alphalpha dengan cepat menjadi kesayangan semua orang.

Selalu ada dinamika dalam perkembangan musik indie di Indonesia, terlepas dari perdebatan panjang tentang definisi musik “indie” itu sendiri. Ibarat pasang-surut, ada masa di mana muncul begitu banyak band indie berkualitas dan setelah itu tiba tahun-tahun stagnansi tanpa hadirnya nama yang standout. Untungnya, saat ini kita sedang memasuki fase “the next wave”, ditandai oleh band-band baru dengan warna yang terasa segar dan berbeda. Darimana barometernya? Tidak usah jauh-jauh, lihat saja sejumlah gigs yang sedang gencar digelar dan amati nama-nama yang menghiasi headline-nya, salah satu yang paling bersinar adalah sebuah band asal Jakarta yang bernama L’Alphalpha. Band yang belakangan merajai berbagai gig di Jakarta dan Bandung setelah merilis album debut berjudul When We Awake, All Dreams Are Gone.

Berbicara tentang L’Alphalpha, prinsip “the more is the merrier” dapat menjadi kalimat kunci untuk membukanya. Berawal dari sepasang teman bernama Yudhistira Mahendra (Yudish) dan Herald Reynaldo (Herald) yang membentuk band acoustic noise pop dengan nama Alphalpha, yang diambil dari nama salah satu anak kecil di film Little Rascal, sebelum akhirnya berkembang menjadi band empat orang dengan Tercitra Winitya (Ciwi) di keyboard dan Ildo Reynardian (ildo) sebagai drummer, menggantikan posisi Yudish yang akhirnya beralih menjadi gitaris. Menandai awal yang baru, mereka memodifikasi nama band dengan tambahan “L apostrof “ seperti ejaan Perancis dan merekrut dua personil lagi yaitu pianis Byatriasa Ega (Yayas) dan pemain biola Purusha Irma (Irma) yang sesuai dengan tujuan mereka yang ingin terdengar lebih megah dan konseptual. Formasi enam personel inilah yang menjadi L’Alphalpha yang kita kenal sekarang, sebuah band yang musiknya kerap didefinisikan sebagai post-rock, Skandinavia dan ambience, tapi bagaimana mereka memandang musik mereka sendiri? “Orang bilang musik kami agak Skandinavia, agak post-rock, gue sih setuju tapi sebenarnya dibanding genre kami lebih suka menyebutnya sebagai konsep. Konsep kami intinya musik yang ambience dan sinematik. Karena kebetulan di album ini yang dominan nulis lirik itu gue maka memang cenderung ke post-rock.” jelas Herald si vokalis.

Proses membuat album ini sudah dimulai sejak tahun 2009 namun tersendat di tahun pertama karena masalah budget dan kendala waktu, sebagian personel berdomisili di Jakarta sementara Herald dan Ciwi saat artikel ini ditulis masih tercatat sebagai mahasiswa di ITB, dan sempat membentuk band indie pop bernama Jodi In The Morning Glory Parade. Baru di tahun kedua mereka fokus menggarap album yang tadinya direncanakan hanya sebagai album mini dan dijalankan dengan etos Do It Yourself. Mereka dengan berani memilih jalur self-release, di mana mereka mengurus segala sesuatunya bahkan memasukan setiap keping CD dengan tangan mereka sendiri. Ketika launching di HeyFolks! pun mereka mengurus dekorasi hingga sound system sendiri. “Capek tapi terbayar dengan rasa puas, kami menjalani prosesnya dari awal dan jadinya lebih menghargai musik kami sendiri. Puasnya lebih terasa dan ownership-nya jadi lebih tinggi juga.” Tutur Herald, “Begitu tau kami self-release, teman-teman mendukung dengan turun tangan langsung secara maksimal. Jadi untuk band manapun, jangan takut self-release karena pasti banyak orang-orang yang akan membantu,” sambung Yudish. Proses mengurus pemesanan CD pun menjadi kepuasan sendiri ketika membaca pesanan yang datang dari Kalimantan hingga Cina. “Nggak nyangka aja musik kami sampai ke tempat yang bahkan belum pernah kami kunjungi, ini juga salah satu keuntungan self-release, karena kalau lewat label kami nggak akan tau sudah sampai kemana saja flow album ini “ ujar Yudish. Walaupun nama mereka sedang melambung tinggi, mereka mengakui masih agak terkejut dengan banyaknya orang yang menyukai mereka, “Mungkin yang paling bikin seneng sih kalau buka last.fm, biasanya kan top listener-nya kita-kita sendiri, sekarang udah gak tau siapa.” Celetuk Herald sambil tersenyum.

Salah satu yang unik dari band ini adalah walaupun mereka memainkan musik yang terdengar dingin dan muram, mereka memasukkan toys instrument dalam aransemennya sehingga terdengar lebih dreamy serta membuat packaging yang terkesan manis. “Waktu kita masih berdua, Herald selalu bilang cover itu penting. Kita bisa tau Rolling Stones atau Beatles dari cover albumnya aja, hal itu kemudian terpatri dan ketika akhirnya beneran bikin album, kita serius mikirin kemasan yang cocok dan memorable.” Jelas Yudish. Album debut mereka akhirnya dikemas seperti buku dongeng pengantar tidur dengan ilustrasi klasik khas buku Enid Blyton. Proses mencari ilustrator yang cocok pun cukup memakan waktu, setelah browsing sana-sini, akhirnya yang mereka cari datang dari lingkungan pertemanan mereka sendiri dengan dipilihnya Diani Apsari, senior Herald di kampus, yang membuat semua artwork berbasis cat akrilik di album yang mengangkat tema mimpi ini. Berbicara tentang mimpi, mimpi apa yang belum terwujud? “Kami ingin membuat konser berskala besar, mungkin dengan konsep orkestra atau berkolaborasi dengan musisi Indonesia idola kami. Kalau launching kemarin kan hanya sekedar showcase dan media gathering, jadi impian paling dekat adalah konser, doakan saja semoga ada yang mau mensponsori.” Jawab Yudish mewakili rekan-rekannya. Untuk band seperti L’Alphalpha, saya rasa hal itu bukan sekedar mimpi kemarin sore, mereka jelas punya passion dan drive yang mampu mewujudkan setiap mimpi indah mereka.

As published in NYLON Indonesia April 2011

Foto oleh Anton Jhonsen.

http://www.lalphalpha.com/

Pura Vida, An Interview With Las Robertas

“Pura Vida” yang berarti “pure/good life” adalah frasa paling khas dari masyarakat Costa Rica, negara asal Las Robertas. Frasa yang sama juga dengan tepat menggambarkan musik mereka. 

It was a typical day in San José, Costa Rica. Matahari bersinar cukup terik dengan angin yang sesekali bertiup di negara Amerika Tengah yang mendapat sinar matahari sekitar 2040 jam per tahunnya ini, cuaca yang membuatmu ingin pergi ke pantai untuk surfing atau sekedar berjalan-jalan. Namun, Monserrat Vargas, penduduk asli San José yang juga bassist dan vokalis trio Las Robertas, justru memilih menghabiskan harinya di dalam rumah dengan menonton film dokumenter Fugazi yang berjudul Instrument sambil sesekali berbincang dengan sang drummer, Franco Valenciano, tentang acara TV konyol yang baru-baru ini ditontonnya. “Kami bertemu sekitar 3 tahun lalu, Meche (Mercedes Oller, vokalis/gitaris) dan saya melihat Franco bermain dengan bandnya saat itu, kami sangat ngefans dengannya jadi kami mengajaknya bergabung di band baru kami dan dia bilang dia mau asalkan dia boleh tampil dengan memakai dress dan wig. We were totally fine with that.” ungkap Monserrat tentang sejarah terbentuknya band mereka.

Dengan referensi dari berbagai girl group, musik soul 60-an, musik ye-ye Perancis dan band-band 90-an seperti Black Tambourine, Sonic Youth dan The Breeders, mereka merilis Cry Out Loud, album debut berisi 10 lagu garage/noise pop/surf rock berbahasa Inggris dengan durasi singkat (kurang dari 4 menit) yang dipenuhi bebunyian fuzzy, nostalgic reverb. Monserrat dan Mercedes menepati janji mereka untuk membiarkan Franco tampil di gig-gig awal Las Robertas sebagai drummer cewek bernama Ana Maria, yang membuat banyak orang terkecoh dan mencap mereka sebagai all-girl band selayaknya Dum Dum Girls dan Vivian Girls, sebuah mispersepsi yang menjadi inside joke tersendiri tentang gender seperti halnya nama band mereka. “Meche yang memilih nama itu karena menurutnya nama Roberta terdengar maskulin dan feminin di saat yang sama. Dan dia sebagai seorang musisi tak ingin dipandang dari jenis kelaminnya saja.” jelas Monserrat.

“Kami tak terlalu memikirkan tentang apa yang ingin kami buat, kami hanya memainkan apa yang terlintas di kepala, karena itu kami tak bisa menyebut dengan tegas genre apa yang kami bawakan. Kurasa garage cukup mendekati, tapi does it really matter?” Monserrat balik bertanya saat saya menanyakan arah bermusik mereka. No is the clear answer, tak penting label apa yang orang lekatkan ke mereka, nyatanya berkat single-single seperti “In Between Buses”, “Ghost Lover” dan “Ballroom”, mereka tak hanya menjadi band yang dikenal di kawasan Amerika Latin. Tahun lalu mereka tampil di New York dan festival SXSW, diantara banyak kesibukan mereka lainnya. Franco yang kini tak lagi menyamar sebagai perempuan memiliki dua band lain, yaitu Zopilot dan Monte, Mercedes telah menyelesaikan studinya di jurusan Interior Design, sementara Monserrat tampil bersama The Great Wilderness, bandnya yang lain. Di awal tahun ini, mereka sedang kembali ke studio menyiapkan LP kedua mereka yang diharapkan bisa dirilis pada akhir bulan Maret dan sebuah tur Eropa.

Entah ini relevan apa tidak, mungkin kamu belum tahu jika Costa Rica sekarang memiliki seorang presiden perempuan pertama di sepanjang sejarahnya. Saya pun bertanya kepada Monserrat, apakah hal itu memiliki pengaruh terhadap dirinya sebagai seorang musisi perempuan di Costa Rica? Gadis cantik ini menjawabnya dengan lugas, “Tidak juga, kami tidak pernah melihat musik dari sisi gender. Kurasa menjadi musisi di Costa Rica sama beratnya bagi cowok ataupun cewek. Hal tersebut lebih tentang bekerja keras dan melakukan apa yang bisa kamu lakukan dengan kemampuanmu sendiri, tak peduli kamu cewek atau cowok.”

As published in NYLON Indonesia March 2012

Photo by Natalia Sanabria 

Lovely Logic, An Interview With Munchausen Trilemma

Sometimes being left is so right. Atau setidaknya itu yang dirasakan tiga orang wanita di balik Munchausen Trilemma.

Munchausen Trilemma berawal dari keinginan Diantra Irawan, yang dikenal sebagai vokalis band bossa Bandung Hollywood Nobody, untuk belajar main gitar setelah banyak mendengarkan female singer/guitarist seperti Best Coast, Eisley dan Warpaint. Dian lalu iseng mengirim tweet yang mengajak pemain musik wanita untuk bertemu dan berbincang tentang musik, yang kemudian mempertemukannya dengan Riska Maharlika dan Vinda Monalisa. Walaupun usia mereka berbeda-beda, ketiga perempuan ini menemukan kecocokan baik dalam bermusik maupun hal-hal lainnya, termasuk satu persamaan di antara mereka yang menjadi fakta unik dari trio indie rock ini: mereka semua bertangan kidal. “Itu sama sekali tidak disengaja. Kami janjian ketemu, sedang makan, dan menyadari semuanya kidal. Tapi yang main instrumennya dengan tangan kiri sih Vinda. Dia main gitar kiri dan drum set nya juga dipindahin setting-nya khusus untuk left handed drummers. Saya dan Riska diajari untuk main gitar normal, kanan.” Ungkap Dian.

Dari situlah titik awal mereka bermusik bersama di bawah nama Munchausen Trilemma. Tanpa sungkan mereka mengakui jika skill mereka belum seberapa karena masih sama-sama belajar. Vinda dan Riska sebelumnya sering membantu band-band yang membutuhkan additional player, sementara Dian sendiri baru belajar gitar dalam hitungan bulan dan baru saja membeli gitar pertamanya yang diberi nama Fenny Rose. Namun, entah beginner luck atau bukan, versi demo single pertama mereka yang berjudul “If Loving You Is Heartbreaking” mendapat respons sangat positif saat dirilis sebagai free download. Dengan influens dari The Pains of Being Pure At Heart, Warpaint, Wye Oak, Yuck dan Best Coast, lagu ini merupakan perkenalan yang manis dari band yang terbentuk kurang dari setengah tahun lalu ini. Dengan intro suasana airport dan reverb gitar yang mengiringi vokal lirih Dian, lagu berwarna dream pop/shoegaze ini mau tak mau mengingatkan saya akan lagu-lagu indie Indonesia circa 90-an. “Munchausen Trilemma musiknya tidak ribet. Kami hanya memainkan beberapa kord simpel, dan sebaiknya menghindari kord B dan semua barred chord (palang) karena tangan saya kecil, dan saya belum mendalami kord yg sulit. Hahaha. Paling banyak 5 kord. Seputaran A-Em-G-Dm. Everyone could play it. Sound-nya memang agak kasar. Tidak rapi dan banyak yang bilang terdengar Lo-Fi dan rough. Basically, saya hanya membuat yang sanggup saya buat.” Jelas Dian tentang konsep musik mereka.

Bila dibandingkan saat tampil sebagai personel Hollywood Nobody atau live band Sarasvati, Dian mengungkapkan dirinya bisa tampil lebih lepas di band ini karena bisa bergaya seperti apa adanya dia sehari-hari, dengan gaya kasual, cuek dan lebih nge-rock. Dian pula yang membuat artwork desain untuk EP yang akan dirilis nanti. Saya pun memintanya menjelaskan arti di balik nama bandnya yang terdengar rumit ini. “Nama Munchausen Trilemma diambil dari istilah psikologi. ‘tidak ada satupun hal yang bisa dibuktikan kebenarannya 100%’, termasuk logika dan matematika. Kalau dijelasin, panjang banget. Saya memutuskan memakai nama itu setelah membuka-buka blog lama saya untuk inspirasi lirik, kemudian menemukan blog posting dengan judul itu. Saya baca lagi, dan suka. Akhirnya selain sebagai judul lagu, saya pakai untuk nama band. Saya pikir saya membuat lirik mengenai perasaan, cinta, dan semua yang tidak logis itu. Untuk membuktikan logika dan matematika saja tidak mungkin, apalagi perasaan. Your feelings belong to you, you don’t have to explain it to anyone. Kadang kita hanya ingin menyanyikan isi hati, tanpa berpikir apapun. Inilah yang saya lakukan di Munchausen Trilemma. Singing my heart out. “ Jawab Dian sambil menegaskan jika ia tak mau menyebut band ini sebagai side project dari Hollywood Nobody.

Kedepannya nanti, selain EP mereka juga akan membuat video hasil kerjasama dengan para seniman lokal. Dari ramainya yang membicarakan atau setidaknya me-retweet link akun Soundcloud mereka di timeline saya di mana sebagian besar dari mereka adalah rekan-rekan musisi dan yang aktif di scene musik lokal, it’s safe to say we all can’t wait to hear more stuff from them. Atas respons yang diterima Munchausen Trilemma sejauh ini, Dian mempunyai pendapatnya sendiri, “Semua orang bilang hal hal yang berbeda sih. But we love that people mostly say we bring 90s back. Who doesn’t love 90s?”

As published in NYLON Indonesia February 2012

Foto oleh Marnala Eros.

The Warring Sound, An Interview With Polka Wars


Satu hal yang lebih menarik dari nama Polka Wars? Their music, of course. 

Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, tapi temperatur hari itu masih ridiculously hot dan ketika saya menjumpai para personel Polka Wars, tampaknya mereka sedang terlibat debat yang tak kalah panasnya. “Setiap kami ngumpul pasti 60% nya diisi dengan debat, dari ngomongin musik sampai hal-hal nggak penting haha.” Ujar Giovanni Rahmadeva, drummer band Jakarta ini. Berdebat memang cara mereka menghabiskan waktu dengan efektif sambil menstimulasi ide-ide baru, dan saat ditanya siapa yang paling jago debat di antara mereka, serempak mereka menunjuk vokalis/gitaris Karaeng Putra Adjie yang ternyata seorang juara debat di kampusnya (Fakultas Teknik UI). Polka Wars sendiri terbentuk dari pertemanan saat Aeng, Xandega Tahajuansya (bass) dan Billy Saleh (gitar) masih bersekolah di Al-Izhar Pondok Labu, sebelum Deva yang dua tahun lebih senior menawarkan bantuan untuk menjadi drummer di band yang sebelumnya bernama Polka Walks ini.

My first question, of course, nama band mereka yang cukup menarik perhatian, yang tentu saja sudah melewati proses debat panjang dan masing-masing membuat list nama band untuk diusulkan, termasuk nama “Zolim Mental” dan “Zinah Astral” usulan Dega (he used to play metal). “Sengaja diganti ‘walks’ nya biar lebih gampang diucapin dan kesannya lebih rusuh, lebih jagoan haha, kalau ‘polka’ kan kesannya imut atau feminin,” ujar Billy. “Kalau dicari bisa ada maknanya, tapi apa sih nama doang, kami juga bukan band yang mentingin banget nama, jadi ya nggak dipikirin banget, lebih fokus ke musiknya sih,” cetus Dega tentang nama bandnya, “Tapi gue juga mikir kalau band namanya udah catchy pasti lebih cepat nyangkut lah, lo nggak tau bandnya tapi mungkin pernah dengar namanya, kalau di poster gig lumayan bisa bikin orang penasaran lah.”  Tambahnya.

While their name in some way suggest hipster friendly tunes, faktanya dua lagu yang ada di akun Soundcloud mereka yaitu “Coraline” dan “Horse Hooves” adalah indie alternative/post-rock beraransemen dinamis yang mengiringi Aeng bernyanyi dengan suara bariton. “Agak sebal sih, soalnya untuk lagu Ini vokal gue memang keluarnya kaya gini, untuk lagu yang lain feel-nya pasti akan beda. Mungkin karena masih jarang range vokal bariton di Indonesia jadi orang refer-nya selalu ke Paul Banks.” Jawab Aeng tentang vokalnya yang sering dibilang mirip vokalis Interpol itu. “Sebenarnya kalau influence banyak banget, tapi mayoritas orang yang baru dengar lagu kami bilangnya ini Interpol banget ya, Local Natives banget, ini kekinian atau apalah.” Ungkap Deva. “Lebih banyak ke Interpol karena vokalnya juga sih. Gue sama Aeng memang suka Interpol tapi waktu bikin lagu ini nggak pernah mikir Interpol sama sekali dan hal itu keluar dengan sendirinya. Gue juga belum lama ini baca interview vokalis Fleet Foxes tentang album barunya yang dibilang berbau Simon & Garfunkel, dia jawab yang namanya influence itu memang ada di alam bawah sadar kita.” Sambung Dega.

Terbentuk tahun lalu, mereka menghabiskan setahun pertama untuk proses songwriting serta mengeksplor musik yang mereka buat, d imana setiap personel mempunyai peranan kreatif yang sama besar. Horn section yang ada di penghujung “Coraline” misalnya, tercetus dari inisiatif Deva meminta Uga Swastadi, temannya yang kuliah musik di Berklee, untuk membuatkan horn section danmengajak Sistha Anindya mengisi part saxophone dan keyboard di lagu itu. Untuk saat ini, mereka tengah berkonsentrasi memantapkan materi yang ada dan memperbanyak pengalaman manggung. “Main live itu seperti rediscovering ourselves sebagai band, contohnya ‘Horse Hooves’ udah dibawain berapa kali dan bentuknya sudah beda banget dari versi teaser yang kami upload dan mungkin nanti rekaman finalnya juga akan beda.” Ucap Dega. Short term plan mereka yang lain adalah mencari manajer dan tentu saja mempersiapkan debut album dengan maksimal. “Gue pengen punya semacam prasasti di mana ada yang mengingatkan gue tentang masa tertentu saat gue bahagia dan gue bikin sesuatu.” Tegas Dega yang disepakati teman-teman sebandnya.

Polka Wars jelas masih bisa dibilang sebagai anak kemarin sore dan tentu banyak “perang” lain yang harus mereka hadapi untuk survive di industri ini, tapi dengan dua lagu yang menjanjikan itu, anggap saja, they’re already win the first battle.

As published in NYLON Indonesia November 2011

Foto oleh Tito Van D’artie