On The Records: Low Pink

Berawal dari ruang personal seorang pemuda bernama Raoul Dikka, Low Pink sejatinya hadir sebagai proyek one man band dengan semangat Do-It-Yourself yang pekat. Lahir di Jakarta namun menghabiskan masa SMA di Malang, pemuda 20 tahun tersebut seorang diri merekam musik berinfluens dream pop dan psych dengan peralatan rekaman rumahan sederhana seperti gitar, drum, bass, laptop, dan mic seadanya. “Instrumen musik pertama gue adalah drum, dan gue sama teman-teman sempat bikin band pop-punk ala Blink-182 pas gue kelas 1 SMP. Setelah itu gue mulai penasaran sama gitar, gue belajar sendiri dan pokoknya thanks banget buat YouTube karena dia adalah sumber ilmu yang paling besar buat gue. Sebelum doyan musik rock gue sempat suka banget sama musik jazz karena drummernya jago-jago. Then Radiohead and Tame Impala changed my perspective in music,” papar Raoul. Hijrah kembali ke Jakarta untuk lanjut kuliah, materi-materi yang ada pun diperhalus tanpa meninggalkan esensi lo-fi dari proses rekamannya dan terangkum dalam sebuah debut EP bertajuk Phases yang dirilis oleh Kolibri Rekords bulan Agustus lalu. Drenched in reverbs and hazy atmosphere, album berisi 6 lagu ini diterima dengan baik dan seiring tawaran manggung yang makin gencar, Low Pink pun bertransisi ke format full band dengan mengajak Ryoichi Watanabe (gitar), Bondan Rahadian (bass), dan Ody Panggabean (drums). Cheers for the next phase.

phases-ep 

Hai Raoul, apa kabar? Boleh perkenalkan dirimu and your current activities?

Hellooo, gue Raoul dan hobi gue bikin lagu dan gambar-gambar sebisanya, hehe. Gue sekarang kuliah DKV di Interstudi Tendean.

Apa cerita di balik nama Low Pink?

Low Pink dalam arti rendah warna pink, warna pink bisa mewakili subjek atau objek apapun. Low Pink bisa berarti rendah akan apapun.

Bicara soal Phases EP, boleh cerita soal rekamannya? Berapa lama waktu yang dihabiskan dan di mana saja rekamannya?

Rekamannya gue kerjain sendiri semua di rumah gue di Malang pakai equipment yang seadanya (gitar, drum, bass, laptop, dan mic abal-abal). Proses rekamannya barengan sama penulisan beberapa lagu-lagunya juga. Itu selesai sekitar 1 bulan, dan buat mixing dan mastering gue selesaikan di Jakarta sekitar 2 bulan setelah gue rekaman itu.

Apa tema utama untuk album Phases? Dan kenapa “Someone For Your Days” yang dipilih sebagai single?

Temanya itu dingin, ada perasaan “tersesat dan hampir menyerah”, dirty AF, dan nuansanya penuh debu. Karena pada saat itu gue benar-benar suka banget sama The Soundcarriers. Kalau “Someone For Your Days” itu lagu yang menurut gue paling  beda di Phases EP, dan gue juga yakin banget di Indonesia belum ada yang bikin musik dengan warna dan sound kayak lagu itu. So there’s a chance for Low Pink to show its color.

 

Apa saja musical influences untuk Low Pink?

Banyak banget sih karena sempat berubah warna musik beberapa kali. Beberapa di antaranya adalah Radiohead, Tame Impala, The Soundcarriers, Dead Meadow, DIIV, Washed Out, Beach House, Mac Demarco, Tennis, Cat’s Eyes, The Horrors, Allah-Las, Tredici Bacci, Flunk, dan sebenarnya masih banyak banget.

 

How would you describe your own sounds?

Hmmm… Dusty-Cold-Lost-Psychedelic-Pop-but-a-little-bit-Rock-ish, hahahaha.

 

So far, apa pengalaman manggung terseru?

Waktu main di acaranya Kolibri Rekords di Xabi Studio (21 Agustus 2016), karena yang nonton pada fokus banget dan tumben Low Pink main rapi hehehe. Sama satu lagi di Malang waktu bulan Desember 2015, semuanya pada nggak sober dan pada pilek, ada yang sampai pakai masker segala haha.

 

Di zaman digital kaya sekarang, seberapa pentingnya merilis album secara fisik? Orang jadi nganggap bahwa suatu band itu udah berjalan dengan baik kalau udah punya rilisan fisik. Karena masih banyak banget orang yang nganggap rilisan digital itu masih kurang ‘sah’.

 

Apa komentar paling memorable yang pernah didengar soal Low Pink?

“Gue semalem nyoba dengerin Low Pink, ternyata enak banget didengerin waktu mood lagi nggak enak.”

Please describe your dream gig/collaboration.

Dream Gig? Main di pinggir kolam renang yang gede, tapi yang nonton harus pada di dalam kolam semua hahaha.

 

What’s the next plan?

Materi yang lebih easy-listening/lebih universal dan better live performance pastinya.

Raoul’s Fave Local Releases:

moiss

Substitute EP

Moiss

Band dari Semarang ini musiknya ringan dan benar-benar enjoyable dalam segala keadaan. Plus gue suka banget artwork-nya.

teriakan

Teriakan Bocah

Kelompok Penerbang Roket

Band gokil, berhasil ngambil tema rock jadul yang hasilnya jadi Indonesia banget. Bikin semangat dan menurut gue bisa bikin orang jadi seolah mikir “Gue keren dan kenapa gue harus takut sama apapun?”.

exposure

Exposure

Pijar

Album yang energik, bikin nggak tahan pengen joget-joget sendiri. Isian-isian gitarnya sadis dan masih suka ngagetin.

sommerhaar

Farscape Et Dives

Sommerhaar

Nuansa ‘dingin’-nya dapet banget. Lagu-lagunya nggak klise kayak musik-musik elektronik biasanya. Aneh, tapi enak banget.

silampukau

Dosa, Kota, & Kenangan

Silampukau

Udah jarang gue denger musik kayak gini; simple, catchy, liriknya bagus, dan bikin gue jadi suka lagi sama musik-musik akustik. Ini cocok banget sih buat didengerin sama orang-orang yang udah terlalu kebarat-baratan, biar tau aja kalau dia masih tinggal di Indonesia.

 

https://www.facebook.com/lowpink1

Advertisements

On The Records: Much

Terinspirasi setelah melihat aksi Lemuria di Rossi Musik, Dandy Gilang yang merupakan vokalis kuintet pop-punk Malang bernama Write The Future mulai membuat proyek solo indie rock berelemen Midwest emo dan merilis album mini berjudul Know Where You’re Heading di tahun 2014. Proyek ini lantas berkembang ketika Dandy mengajak pacarnya, Aulia Anggia, untuk mengisi vokal dan lahirlah Much, duo indie rock asal Malang yang telah merilis album Closest Things I Can Relate To pada Record Store Day tahun lalu. Dirilis oleh Haum Entertainment yang merupakan label indie di Malang yang gencar memajukan local scene kota apel tersebut dengan berbagai rilisan menarik, album tersebut berisi 6 lagu beraransemen fuzzy dengan melodi gitar yang twinkly serta vokal manis yang menyanyikan lirik tentang romance youth dan mengingatkanmu pada anthemic soundtrack dari teenage flick 90-an yang catchy.

WHO

Halo, di Much sendiri ada Aulia Anggia biasa dipanggil Anggi berperan sebagai sinden di band ini, ada Dandy Gilang biasa dipanggil Dandy juga nyanyi tapi dengan porsi yang lebih sedikit, lebih banyak bermain gitar sih. Selain berdua, kita biasa dibantu sama teman-teman baik dari keluarga Haum Records, ada Risang Candrasa (Risang) di gitar juga dan biasanya bermain gitar di band pop-punk Write The Future, ada juga Pandu Rahadya (Pandu) di drum yang kebetulan sedang menempuh akhir masa studi di ITB dan juga bermain untuk band lokal di sana Stagger, terakhir ada bos besar Haum Records pecinta idol group, I Made Nara Virjana (Vino) di bass.

 HOME BASE

Malang, Jawa Timur. “Kalau sekarang, terutama anak-anak lebih semangat dan berani, berani keluar kandang, berani bikin musik, berani bikin rilisan, dan thankfully lebih banyak lagi media yang mau liput atau bahas musik dan band di Malang, yang masih kurang sih venue, hehe,” ungkap Dandy.

 THE NAMESAKE

Anggi: “Jadi awalnya setelah kita berhasil membentuk sebuah grup musik ini, mulailah kita mencari nama yang dirasa cocok, simple, dan dapat menggambarkan personality kita. Beberapa nama sempat terlintas tetapi kebanyakan nama ternyata tidak cocok, dan akhirnya ketika dirasa kita punya terlalu banyak ide untuk nama band ini atau dalam Bahasa Inggris too much, kemudian tanpa banyak pertimbangan ya maka jatuhlah pilihan kita pada nama Much.”

 INFLUENCES

Anggi: “Jadi dulu saya lebih sering mendengarkan band-band Britpop atau post punk. Namun, setelah Dandy melibatkan saya dalam proyek musik ini, saya mulai mencari-cari referensi band-band yang vokalisnya cewek, dan favorit saya seperti Alvvays, Colour Me Wednesday, Tigers Jaw, Camera Shy, dan Adventures.”

Dandy: “Musical influences saya, terutama untuk Much bisa pertama dari Lemuria, trus Adventures, Joyce Manor, Saves The Day, Andrew Jackson Jihad, sampai ke Algernon Cadwallader.”

LISTEN THIS

“Break Heart, Break Apart”, single terbaru dari album kedua yang direncanakan rilis tahun ini. “Sedikit banyak sih lagu ini bisa jadi teaser buat materi dan sound di album baru nanti bakal kaya gimana. Selain itu untuk kualitas produksi juga kita berusaha untuk bisa lebih keren lah dari Closest Things I Can Relate To.

LOCAL MUSIC HEROES

Anggi: “Apa ya? Potret kali ya.”

Dandy: “Untuk Indo sih, dari dulu saya suka Padi. Love you mas Fadly.”

BEST GIG

Gigs paling seru sih di acara We.Hum Collective, Humming Mad ke-10 di Jakarta bareng Barefood, Laguna Bang Bang, Fuzzy I, sama Saturday Night Karaoke beberapa bulan yang lalu. Bisa dibilang itu pengalaman pertama kami main di luar kota juga pertama kali kita nyobain house gig dan juga mungkin musik dan lagu kita juga kayanya masih belum banyak yang tau, tapi eh kok rame banyak yang nyanyi dan setelah main pun banyak yang mau ngajakin kita ngobrol dan nanyain rilisan.

IMG_2281IMG_2282

DREAM GIG

Anggi: “Aku sih pengen banget nyobain sensasi main di house-gig lagi, selain itu juga pengen tur di beberapa kota sekalian jalan-jalan. Tapi juga pengen jadi opening act-nya Tigers Jaw kalau bisa, haha!”

Dandy: “Kalau aku sih pengen banget main di pinggir pantai. Plus pengen banget kolaborasi sama Mas Prabu Saturday Night Karaoke plis, apa aja.”

FAVORITE PAST TIME

“Kalau Anggi, biasa mengisi hari-harinya sebagai sarjana dengan menonton serial The Return of The Superman yang berisikan Daehan, Minguk, dan Manse sambil cari-cari kerja. Kalau Dandy biasanya ngurusin café di Malang sembari tetap aktif dalam grup musik lain bersama Risang, yaitu Write The Future. Kalau Risang Candrasa juga biasanya mengisi hari-harinya sebagai entrepreneur dengan mengelola café pribadi miliknya. Vino dan Pandu Rahadya sampai saat jawaban ini ditulis, masih juga berjuang menyelesaikan tugas akhirnya dengan tekanan batin yang dirasa semakin berat setiap hari ketika melihat teman-temannya satu per satu mulai meraih gelar sarjana.”

FUTURE PLAN

Dandy: “Lebih banyak main, gigs/music festival, dalam kota luar kota. Rilis album baru, tour, ketemu lebih banyak lagi temen baru, scene Malang lebih rame lagi yang berkecimpung, lebih banyak media yang mau liput, terus banyak juga yang mau main ke Malang.”

Anggi: “Hampir sama kayak Dandy sih, lebih banyak main di gigs/music festival, rilis album, tour, dan Nikah!!! HAHAHAHA!”

IMG_2279

Foto oleh: Permana Hidayat.

On The Records: Anoa Records, Jakarta’s Freshest Indie Label

anoa

Di zaman ketika para musisi dan band hanya tinggal memiliki akun Soundcloud atau Bandcamp untuk mempromosikan musik mereka, apakah keberadaan label rekaman masih berarti? Well, selain label major yang paling terkena dampaknya secara ekonomi, keadaan ini secara menyegarkan justru memunculkan label-label indie di beberapa kota di Indonesia yang menampung berbagai rilisan paling menarik dari band-band lokal mereka. Dan serunya, semua itu dilakukan for the sake’s of fun dan kecintaan mereka akan band yang berkualitas. Salah satu label indie yang tengah menarik perhatian adalah sebuah label asal Jakarta bernama Anoa Records. Label baru yang digawangi oleh Peter A. Walandouw, Andri Rahadi, dan Ritchie Ned Hansel ini telah merilis dua album dari band roster mereka, yaitu duo alternative rock Jakarta bernama Barefood dan Seaside yang merupakan band indie pop bervokalis perempuan. Sebagai teaser, kamu bisa mendengarkan beberapa single dari kedua band yang mengusung aroma 90’s alt music tersebut di Soundcloud milik Anoa Records, namun saya menyarankanmu untuk memesan CD mereka langsung bila kamu ingin mendengarkan dua band paling fresh di Jakarta saat ini. Dengan dua rilisan awal yang menjanjikan tersebut, saya pun mengirim beberapa pertanyaan via email yang dijawab oleh Peter A. Walandouw sebagai representatif Anoa Records.

Hi, Peter, dari mana kalian bertiga memiliki ide untuk membuat label ini?

Ide label ini sendiri muncul gara-gara menonton film dokumenter Creation Records, Upside Down. Di dokumenter itu saya ngeliat betapa uniknya Alan McGee mendirikan labelnya. Lalu terbersit untuk membuat label, ide ini saya lempar dan gayung bersambut oleh yang lainnya. Tadda! Jadilah label ini.

What’s the story behind the name?

Hehe… Kita awalnya ingin milih nama label yang beda, nggak melulu bahasa Inggris. Nama yang tetap berkesan slenge’an, hahaha dan kayaknya asik kalau nama binatang lokal Indonesia, dan terpilihlah nama Anoa dari beberapa nama unik binatang lokal seperti trenggiling dan sebangsanya. Diucapinnya juga enak. Simpel gitu aja.

So how was it? Setelah akhirnya punya label sendiri?

Ternyata emang seru ya berada di balik layar, ngurusin rilisan sebuah band. Ada sensasinya juga hahaha! Intinya sih ya, kita bisa tahu seluk-beluk bisnis mikro untuk label semacam ini dan tantangannya.

barefood

Kalau daily job kalian sendiri sebetulnya apa?

Kami bertiga pekerja kantoran semua8 to 5, dan kami ngurusin label ini jika ada waktu luang selepas kantor hahaha!

Apa yang menjadi pertimbangan kalian untuk merilis sebuah record?

Sebenarnya kami sudah kenal band-band ini dan kenal baik dengan personelnya. Dan band-band yang bagus, fresh, dan potensial. Alhamdulilah, mereka tertarik untuk bekerjasama dengan label kami yang sebenarnya masih hijau. Pertimbangannya sederhana sesuai dengan moto kami: If we believe in something we hear, it’s better to record it. Dan kami melakoni label ini dengan santai sebenarnya, pokoknya rilis band yang kami sukai dan keren. tanpa harus pusing label ini harus seperti apa konsepnya atau artistik sebuah label kayak apa, seribet 4AD Record misalnya, hahaha! Kami sudah keburu pusing ngurus soal produksi.

Menurut kalian fungsi label sekarang ini apa?

Saling melengkapi saja. Promosi tak bisa mengandalkan publisher semata, tetapi juga sang artis. Social media sudah menjadi instrumen sangat penting dalam promo sebuah produk, apapun jenisnya. Sebenarnya tak ada yang berubah secara drastic sih dari fungsi sebuah label. Peran promo harus bersama-sama. Soundcloud itu juga penting banget untuk band-band baru memperkenalkan musik mereka.

Selain Barefood dan Seaside akan ada apa lagi yang muncul dari kalian?

Wah, sebenarnya kami ingin fokus dulu untuk dua band ini, Barefood dan Seaside, setelah merilis mereka, lalu memasarkannya, dan memastikan promo dan serapan di pasar berjalan dengan baik. Kedua band ini perlu banget dikenal skena lokal kita. Namun tentu ada beberapa nama band yang kami pikir layak dan hendak dijajaki kerjasamanya. Namun namanya belum bisa kami sampaikan, takut nggak jadi haha! Maklumlah ini label cekak dengan pendanaan dari sebagian gaji bulanan kami, hehe… doakan semoga lancar.

seaside

http://anoarecs.com/

 

Any Given Sunday, An Interview With Suddenly Sunday

Lewat album debut berjudul Everything Under The Sun, Suddenly Sunday ingin menunjukkan jika kita tak perlu menunggu hari Minggu untuk bersenang-senang. 

Bukan rahasia lagi jika pergantian personel dalam sebuah band adalah momen krusial yang menentukan masa depan dari band tersebut. It’s either a break it or make it moment, namun untungnya Suddenly Sunday termasuk dalam kategori yang kedua. Kuintet female-fronted indie rock asal Jogja tersebut memang sempat mengalami beberapa pergantian personel, termasuk dua orang vokalis, sebelum akhirnya melaju stabil dengan line-up saat ini yang terdiri dari bassist Woro Agustin, vokalis Dini Yunitasari, gitaris Adi Wijaya, gitaris Helmy Febrian dan drummer Dewi Sarmudyahsari alias Moody. Terbentuk sejak tahun 2007 saat para personelnya masih sama-sama bekerja di sebuah distro di Jogja bernama Whatever Shop (dengan Woro dan Moody sebagai personel awal yang masih tersisa sampai sekarang), perkenalan saya dengan band ini bermula saat melihat video klip mereka untuk single “Club Addicted” di YouTube. Single yang diambil dari album mini pertama mereka, bertajuk Music Box, tersebut berhasil menarik perhatian dengan vokal powerful Dini yang diiringi guitar-based ritme dancey yang dibangun personel lainnya. Sekilas langsung teringat aksi-aksi seperti CSS dan Ladyhawke. Kini, mereka telah merampungkan debut full album berjudul Everything Under The Sun dan dalam kunjungan singkat mereka ke Jakarta beberapa pekan lalu, mereka menyempatkan diri mendatangi NYLON untuk sesi interview.

Dua hari sebelumnya mereka baru tampil di RadioShow, yang menjadi agenda utama sekaligus gig pertama mereka di ibukota. RadioShow sendiri bisa dibilang salah satu program musik berkualitas yang tak ragu mengundang band-band indie dalam negeri saat acara lainnya memilih bermain aman dengan pengisi acara yang dikenal publik mainstream. “Followers naik dengan signifikan!” ungkap Dini sambil tertawa saat mengungkapkan efek dari gig tersebut yang paling dirasakan. Banyak band yang masih menunggu waiting list untuk bisa tampil dalam acara itu, mereka beruntung mendapat slot untuk tampil membawakan 7 lagu, termasuk meng-cover “ Barcelona” milik The Plasticines yang mereka akui sebagai influens bermusik selain Bloc Party dan Yeah Yeah Yeahs. “Nama Suddenly Sunday sendiri idenya dari salah satu owner Whatever Shop itu tadi. Soalnya kami tiap hari Senin ada jadwal latihan, hari itu kami sering minta libur atau shift pagi biar sorenya bisa latihan bareng, jadi dari hari Minggu kami suka tiba-tiba nyiapin materi besok mau nge-jam apa ya? Hehe” cerita Woro. Hasil dari jam session itu mewujud dalam Everything Under The Sun yang dirilis dengan dua cara, yaitu kemasan digital yang bekerjasama dengan situs Gigsplay di mana saat kamu membeli merchandise mereka (kaus atau tote bag) di Gigsplay.com, kamu akan mendapat kode verifikasi untuk mengunduh album ini. Satu lagi adalah bentuk fisik dengan packaging unik berupa notes/kalendar meja dari bahan kayu yang artsy.“Kalau zaman sekarang memang 55 ribu untuk CD lokal terbilang cukup mahal, ya? Tapi kalau dilihat dari prosesnya ini memang handmade, kami beli plywood meteran terus motong sendiri, di depannya juga ada proses cutting tersendiri yang dibantuin sama pengrajin di selatan Jogja. Idenya dari brainstorming, artwork dibikin sama teman kami, Afit. Walaupun memang agak ribet karena harus print sendiri, motongin sendiri, makanya kami bikinnya masih limited 200 pieces, nanti 201 kalau kami sudah punya biaya lagi,”.ungkap Woro sambil tersenyum.

Berisi 11 track termasuk tiga lagu dari EP Music Box yang diaransemen ulang dan satu remix “Club Addicted” oleh Egaaa, mereka menunjuk “Hibernation” sebagai single pertama. “Kami pilih ‘Hibernation’ karena cukup mewakili soul-nya SS dan atmosfer yang ingin ditampilkan di album ini. Lagu-lagu kami juga nggak melulu soal cinta, misal ‘Hibernation’ itu menyinggung tentang global warming, terus ada “Myopia’ yang ingin mengangkat fenomena yang tampak dan tidak, intinya semua aksi reaksi yang terjadi di bawah matahari,” ujar Dini. Respons yang didapat pun terbukti positif, mereka lantas mengenang kembali momen launching album ini yang diadakan secara free di Lembaga Indonesia Prancis Jogja, 6 Juni lalu. “Kami menyiapkan semuanya sendiri. Mulai setting dari jam 9 pagi dan harus mulai main jam 8 malam, tanpa MC, tanpa band pembuka, dan badan lagi capek-capeknya. Tapi senangnya yang datang banyak sekali dan apresiatif,” ujar Woro, sebelum disambung oleh Dini, “Orang Jogja itu paling susah tepuk tangan di gigs, untungnya yang datang itu sudah dengan mindset mau nonton Suddenly Sunday jadi mereka tepuk tangan setiap kami habis membawakan setiap lagu, atmosfernya juga kena banget, kami dibantu tiga teman artist untuk bikin visual di atas panggung, jadi pas kami manggung di atasnya ada ilustrasi matahari dari kain yang ditembak, yang terlihat panas, meredup kemudian senja. Semacam interpretasi dari ‘apa sih everything under the sun itu?’”

Dalam sesi interview ini, memang yang paling dominan menjawab adalah Dini dan Woro. Mungkin karena peran Dini sebagai vokalis yang juga bekerja sebagai penyiar radio di salah satu radio ternama Jogja dan Woro yang termasuk paling lama di band ini. Adi dan Helmy lebih memilih mendengarkan dan mengiyakan. “Mereka berdua memang kurang talkative karena dasarnya pendiam, mereka lebih suka berbicaranya lewat musik. Aransemen awalnya biasanya datang dari mereka, Mereka berbicara lewat karya, hehe,” tukas Dini sambil melirik jahil kedua temannya. Terlihat sekali jika setiap personel memang sudah nyaman dan memahami peran masing-masing, satu modal penting yang harus dimiliki sebuah band. Berikutnya? “Kami ingin lagu-lagu kami terus menyebar dan ingin tur lagi, kalau bisa sampai ke luar negeri!” tandas Woro dengan semangat. Well, tak ada yang tidak mungkin terjadi di bawah matahari, so let’s see what’s happen next for them, shall we? Fingers crossed.

As published in NYLON Indonesia October 2012

Photo by Rude Billy

Here Comes The Sun, An Interview With Backwood Sun

Bersiaplah, musik Magic Folk yang diusung Backwood Sun adalah penanda momen paling bersinar dalam folk scene Indonesia saat ini.

Entah kamu menyadarinya atau tidak, musik folk dan segala subgenrenya (folk rock, folktronica, psych folk, dll) sedang mengalami fase “revival” kembali. Barometernya adalah munculnya band-band seperti The National, Band of Horses dan Fleet Foxes di Amerika Serikat, sementara di Inggris lahir scene baru bernama nu-folk dengan nama-nama seperti Laura Marling, Mumford & Sons dan Noah and the Whale. Berkat internet dan keandalan band folk masa kini yang menggabungkan esensi folk tradisional dengan bunyi yang modern, perlahan folk menjadi genre yang accessible dan memasuki ranah pendengar musik mainstream dengan titik puncaknya adalah band folk Bon Iver yang meraih 4 nominasi Grammy tahun ini dan memenangkan dua diantaranya sebagai Best New Artist dan Best Alternative Music Album. Folk pun tak lagi identik dengan pria-pria berjenggot karena musik folk paling menarik sekarang ini justru dimainkan oleh anak-anak muda seperti duo kakak-beradik First Aid Kit dari Swedia atau tiga gadis cantik bernama The Staves dari Inggris, sedangkan dari Indonesia sendiri kita mempunyai The Trees & The Wild, Deugalih & Folks, Afternoon Talk serta lima pemuda Jakarta yang membentuk band folk yang terbilang masih sangat fresh saat ini dengan nama Backwood Sun.

Seperti biasa, pertemanan dan selera musik yang sama menjadi faktor pencetus Lim Rendy (vokal/gitar), Bowo Pranoto (gitar), Chandra Wijaya (bass), Martius Forus (keyboard/tamborin) dan Ready Febrian (drum) untuk bergerak dalam satu band yang telah melewati banyak proses sebelum akhirnya mereka merasa nyaman di jalur folk. Band psychedelic rock bernama Bang Bang Shoes adalah cikal bakal band ini di mana Lim, Bowo, Chandra dan Martius adalah anggotanya, sementara saat itu Ready masih sibuk mencicipi berbagai genre mulai dari grind sampai Drum N Bass, sambil menjadi freelance photographer yang sempat beberapa kali memotret Bang Bang Shoes sebelum akhirnya menjadi bagian dari Backwood Sun yang terbentuk tahun lalu. “Sebenarnya musik Bang Bang Shoes dan Backwood Sun sendiri nggak jauh berbeda, intinya masih harmonisasi vokal, cuma kalau sebelumnya kental dengan psikedelia berbalut overdrive, nah di Backwood Sun ini lebih akustik dan clean,” ungkap Lim yang menjadi songwriter dan komposer utama. Lalu apa arti nama band ini sendiri? “Backwood Sun itu kalau dijabarkan dalam Bahasa Indonesia yang baku berarti ‘Matahari di Desa’, kenapa demikian? Karena suasana itulah yang coba gue bangun dalam materi yang sedang digarap ini, suasana yang hangat, mungkin.” Jawab Lim sambil tersenyum.

Mendengarkan lagu-lagu seperti “Got a Morning”, “Red Valley” atau “Wilderness” dari demo album mereka, The Mystery of Woods, imaji yang terlintas di benak saya adalah perjalanan ke pegunungan asing saat matahari mulai tenggelam. There’s a sense of some warmness namun di saat yang sama juga terasa mendebarkan. Mereka sendiri mengaku influens terbesar dalam bermusik datang dari musisi 60 dan 70-an seperti Bob Dylan, The Byrds, Beach Boys, Graham Nash, Neil Young, Vashti Bunyan, Kitaro, sampai Richard Stoltzman dengan menekankan harmonisasi pada bagian vokal dan unsur psikedelia dalam musik yang mereka sebut Magic Folk. “Wait, Magic Folk?” Tanya saya, Ready pun mencoba menjelaskan, “Kami masing-masing punya karakter dalam satu band, karena semua personel punya selera masing-masing nggak cuma folk saja, jadi kami mix sedemikian rupa sehingga terciptalah apa yang kami sebut Magic Folk,” penyataan Ready kemudian diteruskan oleh Chandra, “Di dalam musik kami terdapat banyak unsur, ada unsur budaya Barat dan Timur dengan folk sebagai garis besarnya.” Sementara untuk soal lirik, seluruhnya diserahkan kepada Lim yang banyak terinspirasi dari mimpi-mimpi yang ia alami (dia seorang lucid dreamer), yang saya rasa cukup menjelaskan dari mana asalnya lirik bernaratif dalam setiap lagu mereka.

Well, I don’t know it’s because magic or not, faktanya adalah walau hanya berbekal album demo berisi 5 lagu yang direkam di kepingan CD-R, lagu mereka bisa menarik pendengar dari banyak negara seperti Amerika (“Yang paling banyak di fan page Facebook kami.” cetus Lim), Inggris, Yunani, Jepang, Meksiko dan salah satu single mereka “The Man Has Come” juga terdapat di situs label Inggris bernama TakeAimFire. Walau mengaku musik hanya sampingan dari daily job mereka, tapi mereka terlihat cukup serius dalam bermusik. Band yang telah bernaung di Sinjitos Records ini tengah menyiapkan album penuh yang rencananya dirilis tahun depan. Masih lama memang, namun untuk saat ini kamu bisa menunggunya dengan mendatangi berbagai gig mereka yang semakin padat dari hari ke hari atau menonton live session mereka di Black Studio yang diunggah di YouTube baru-baru ini. Ibarat hari, mereka baru saja memasuki awal pagi yang cerah, dan saya percaya there’s even brighter days waiting for them.

 

As published in NYLON Indonesia April 2012

Photo by Muhammad Asranur.

Let It Flow, An Interview With Swimming Elephants

Bagi Swimming Elephants, bermusik tanpa harus menjadi pretensius itu jauh lebih menyenangkan

Ketika pertama kali mengetahui eksistensi band ini dari blog musik seorang teman, rasa tertarik langsung muncul ketika membaca nama mereka yang unik. Rasa tertarik itu semakin berkembang ketika mendengar single pertama mereka yang berjudul “At the Zoo”, sebuah lagu yang menangkap perhatian sejak ketukan drum pertama dan membuat kita terhanyut untuk mendengarkannya sampai selesai berkat aransemen yang terasa mengalir. “Let it flow” adalah esensi yang saya tangkap dan frasa yang sama mungkin juga dapat mewakili konsep Swimming Elephants itu sendiri. Bayangkan saja, sejak band ini terbentuk di tahun 2009, pengalaman live performance mereka dapat dihitung dengan jari, salah satu yang paling berkesan adalah ketika tampil di Jaya Pub, di mana penampilan mereka mendapat respons yang begitu positif. Minimnya jam terbang bukan disebabkan tidak ada tawaran, tapi karena daily job yang hanya mengizinkan mereka tampil di akhir pekan. Keenam personel Swimming Elephants memang memiliki kesibukan masing-masing di luar musik, vokalis/gitaris Rizki Yogaswara (Yogas) bekerja sebagai telco engineer, gitaris Gilar Di Aria (Gilar) adalah pegawai kantoran, drummer Wisnu Andita Rahmadi (Ninu) bekerja di perusahaan leasing, vokalis/keyboardist Saras Juwono seorang environmental engineer dan keyboardist Aprilia D. H bekerja sebagai graphic designer, sedangkan bassist Ranggi Mukti Rakasiwi yang berhalangan hadir untuk photo shoot artikel ini adalah seorang product designer.

Berawal dari Yogas, Ninu dan Gilar yang sudah saling mengenal sejak bersekolah di SMP yang sama, mereka sering mengisi waktu luang mereka dengan iseng bermain musik, satu aktivitas yang jika meminjam istilah mereka bisa disebut dengan “pertemanan permusikan”. Kegiatan ini terpaksa berhenti ketika Gilar pergi ke Melbourne untuk studi perfilman. Selesai kuliah, Gilar kembali ke Jakarta dan mengajak Yogas dan Ninu untuk membentuk band yang membuat dan menyanyikan karya mereka sendiri. Mereka kemudian mengajak Saras dan disusul oleh April dan Ranggi yang resmi bergabung di bawah nama Swimming Elephants sejak dua tahun lalu. “Untuk nama, kebetulan waktu itu gue teringat salah satu scene dari film Tarsem Singh yang berjudul The Fall, dan gue suka aja kalo scene itu digambarin secara literal, syukur-syukur setelah dirembukin ternyata yang lain pada setuju.” Jelas Gilar tentang nama bandnya. Lalu bagaimana mereka mendeskripsikan musik yang mereka mainkan? Yogas menjawab pertanyaan saya dengan berkata: “Masalah genre kita nggak pernah ngebatesin, begitu juga influens. Apa yang klop sama kita aja. Masing-masing personel punya selera sendiri walaupun agak mirip. Nah benang merahnya itu mungkin yang jadi Swimming Elephants. Walaupun influens macem-macem, aliran musik masih dalam wadah pop kok.” “Mungkin playful pop kali ya?” cetus Gilar sebelum dijawab oleh Ninu, “Nggak ngerti soal genre, yang gue tau cuma mainin musik yang cocok di hati.”

Kalimat Ninu tersebut dapat mencerminkan sikap mereka dalam bermusik. Musik bagi mereka bukan sebagai sarana untuk mencari uang, band ini pun mereka anggap sebagai workshop untuk bermain musik dan cara berekreasi untuk melepas kejenuhan dalam bekerja. Prioritas mereka bukanlah mencari label rekaman, membuat album paling hebat, mencari popularitas dan motif-motif pretensius lainnya. Karena itu mereka tak merasa harus dikejar target untuk membuat album atau video klip sebagai media promosi, Atas dasar semangat bersenang-senang yang sama juga, mereka saling memberi kebebasan untuk membuat lagu atau saling bertukar instrumen di setiap lagu yang berbeda ketika sedang berada di atas panggung. Walaupun begitu, mereka satu suara ketika mengungkapkan rencana mereka dalam waktu dekat ini, yaitu mengumpulkan materi-materi yang belum selesai dan membuat lagu baru untuk dijadikan EP yang diharapkan dapat keluar tahun ini serta memperbanyak jam terbang untuk tampil di gigs.

Untuk menutup sesi interview kali ini saya pun meminta pendapat mereka tentang musik Indonesia saat ini, masing-masing personel memiliki pendapat sendiri, di antaranya menurut Gilar: “Apresiasi mayoritas pendengar musik lokal agak backwards menurut gue, karena buat sebagian dari mereka, musisi lokal yang paling bisa menyerupai band atau musisi luar malah bagus, Kebanyakan mentalitasnya masih mentalitas fans cover band, bukannya mencari honesty atau mungkin bahkan originality, nggak salah sih, tapi sayang aja.“ Sedangkan Saras berpendapat “Benar-benar berkembang pesat dan tiba-tiba, sudah seperti ledakan penduduk. Kayaknya sekarang ini banyak banget orang yang menjadikan bermusik sebagai main income-nya. There is absolutely nothing wrong with that, cuma suka miris aja karena seringkali musik sekedar dijadikan bahan untuk jualan, instead of something to pamper the ears.”

Dari jawaban tersebut jelas terlihat walaupun proyek musik ini terkesan santai, mereka pun sebenarnya sangat concern dan tanggap terhadap scene musik Indonesia saat ini. Untuk sekarang, biarkan mereka merenangi arus mereka sendiri dan kita pun masih di sini dengan sabar menunggu karya-karya mereka selanjutnya.

As published in NYLON Indonesia April 2011

Photo by Anton Jhonsen.

Rebel With A Cause, An Interview With Hightime Rebellion

Tidak ada cara yang paling asik untuk berontak selain lewat musik. Hightime Rebellion menunjukkan caranya.

Ketika kami sedang menyusun rubrik Radar untuk Music Issue tahun lalu, kami menghabiskan waktu dengan mendengarkan begitu banyak musik Indonesia dari berbagai genre. Salah satu yang akhirnya terpilih adalah band asal Jakarta bernama Hightime Rebellion yang menarik perhatian kami begitu mendengar lagu mereka. Dimotori oleh vokalis Miyane Soemitro, vokalis/pianis/songwriter Rendy Surindrapati, gitaris Jason Sutrisno, bassist Pulung Wahyuaji, gitaris Adji Dimas Ramayanda dan drummer Reza Arafat, formasi awal band ini tercipta ketika Rendy bertemu dengan Arafat di sebuah pesta, pertemuan itu kemudian berujung kepada ide untuk membuat suatu band. Arafat kemudian mengajak rekannya Pulung dan Jason untuk bergabung ke band yang kala itu masih belum memiliki nama, selang beberapa saat, masuklah Miyane menjadi vokalis sehingga konsep pun berubah menjadi duet vokal wanita-pria. Terakhir, Dimas yang sebelumnya menjabat sebagai drummer di band terdahulu Rendy ikut bergabung untuk menjadi partner Jason dalam departemen gitar. Mungkin masih banyak di antara kamu yang belum pernah mendengar nama mereka, tapi band yang terbentuk sejak tahun 2007 ini sudah memiliki basis penggemar tersendiri dan pengalaman di atas panggung yang cukup, di antaranya adalah saat mereka dua kali tampil di gig Superbad! Di manamereka dipercaya menjadi headliner utama dan Erlend Øyebeserta rekan-rekannya di The Whitest Boy Alive turut berdansa dan meneriakkan melody shout dari lagu “Sympathy For The Devil” ketika menyaksikan mereka membawakan lagu “Waking Hour” dan menginspirasi mereka untuk memasukkan melody shout itu ke proses recording lagu itu.

Saat diminta mendeskripsikan musik mereka, mereka balik meminta pendapat saya. Well, setelah mendengarkan beberapa lagu mereka, saya menarik kesimpulan jika garis besar mereka adalah pop dengan twist berupa reverb gitar dan aransemen yang agak psychedelic sehingga terciptalah wall-of-sound yang danceable. Selain aransemen yang terdengar begitu lush, vokal Miyane yang punya ciri khas tersendiri pun menjadi nilai jual istimewa dari band ini. Lalu sudah sampai mana proses pembuatan album mereka? “It’s called Magical Mystery…cause it’s still a mystery haha” Canda Miyane yang langsung disahuti oleh Rendy “Wow, that’s interesting… Sejujurnya untuk album, ibaratnya orang membuat ilustrasi masih dalam tahap sketching. Sudah pakai pensil, masih diwarnain tapi belum di-outline”. Pulung menimpali dengan berkata “Yang pasti, hope it will taste like your favorite food.” Untuk penulisan lirik, mereka mempercayakannya ke Rendy dan Miyane. Rendy yang bekerja sebagai penata musik untuk berbagai produksi iklan TV mengaku terinfluens oleh Bob Dylan, Fran Healy dan Richard Ashcroft saat membuat suatu lirik, “Biasanya dari sebuah melodi atau kata yang menarik. Kalau sudah ada satu yang nyangkut, sisanya akan tertulis dengan sendirinya seperti mengisi Teka Teki Silang.” Jelas Rendy, sedangkan Miyane yang mendapat inspirasi dari banyak musisi wanita seperti Karen Carpenter, Blondie dan The Pretenders dalam menulis lirik menjawab: “Adanya rangsangan dari melodi-melodi yang dimainkan berulang-ulang oleh cowok-cowok ini. Kalau tema biasanya hasil dari over-analyzed things in my head, haha.”

Mungkin masih agak lama sampai kita bisa mendengarkan album debut mereka, tapi beberapa lagu sudah dapat didengarkan di MySpace mereka, salah satunya adalah “Crest of Mind” yang juga dapat diunduh gratis. Saat saya mewawancarai mereka untuk artikel ini, mereka belum mempunyai manajer (walau tak lama kemudian mereka di-sign oleh FFWD Records) sehingga setiap personel memiliki peran dengan sendirinya sesuai karakteristik masing-masing. Ada yang luwes bila bertemu orang, ada yang cenderung teknis, ada yang jarang bicara tapi selalu memiliki solusi yang tepat. Saat sesi pemotretan dimulai, sedikit banyak terlihat beberapa karakter mereka, Arafat ternyata sangat luwes bila diminta berpose, sedangkan Rendy yang terlihat pendiam di depan kamera, adalah orang yang paling vokal ketika diajak berbincang tentang bandnya. Saya bertanya ke Miyane tentang bagaimana rasanya menjadi satu-satunya perempuan di kelompok ini, dan dia menjawab dengan antusias “Seperti Goggle Pink, seru rasanya! Kadang dimanja karena jadi satu-satunya cewek tapi terkadang harus jadi ibu-ibu cerewet yang harus ngawasin mereka. Love them!” ungkapnya. Dari pandangan mata, jelas terlihat mereka sudah sangat nyaman berada di antara satu sama lain, Rendy pun menyudahi interview ini dengan berkata, “Selalu bercanda dan tertawa bersama menurut saya adalah kunci supaya kami kompak, kalo main musik terlalu serius it’ll ruin the whole concept of rock n’roll.”

As published in NYLON Indonesia April 2011

Foto oleh Anton Jhonsen.

Down to the Rabbit Hole, An Interview With Stars and Rabbit

Mendengarkan lagu Stars and Rabbit seperti membaca buku cerita yang tak ingin kamu letakkan sebelum selesai.

Saat tengah bersiap menyiapkan Radar 10 Local Music Heroes untuk Music Issue NYLON Indonesia tahun ini (April 2012), tentu saja kami sudah mempunyai bayangan siapa saja yang akan termasuk di dalamnya dan jujur saja salah satu yang paling pertama saya ingat adalah duo musisi Yogyakarta bernama Stars and Rabbit. Walaupun saya sudah mendengarkan beberapa lagu mereka sejak akhir tahun lalu dan ingin segera menulis tentang mereka, saya sengaja menyimpannya untuk edisi spesial musik ini, so, here it is.

Dijumpai di sebuah studio musik di bilangan Senopati, Stars and Rabbit yang terdiri dari gitaris dan arranger Adi Widodo dan Elda Suryani sebagai singer-songwriter baru saja menyelesaikan interview shoot untuk sebuah acara televisi, sebuah kegiatan yang tampaknya semakin lumrah bagi mereka belakangan ini. Memadukan vokal Elda yang unik dan kemampuannya menulis lirik imajinatif dengan musik gubahan Adi yang catchy, mereka tak hanya menjadi omongan di media musik dalam negeri, tapi juga sampai ke berbagai publikasi di Inggris, Italia hingga Islandia, walaupun mereka belum merilis album satu pun sampai saat ini.

Saat bertemu, mereka sedang membicarakan dialek daerah dari berbagai kota yang pernah mereka tinggali dengan bersemangat, terutama Elda yang sangat ekspresif saat menceritakan sesuatu. Elda yang baru sampai di Jakarta sehari sebelumnya terlihat ceria, walaupun mengaku dirinya baru saja sembuh dan mengalami kecelakaan kecil jatuh dari tangga. Jadwal Stars and Rabbit sendiri lumayan padat, menghabiskan satu hari di Jakarta untuk beberapa interview dan besoknya mereka langsung berangkat ke Bandung untuk sebuah gig. Anyway, pertanyaan pertama tentu saja bagaimana mereka bertemu. “I know him from my ex-boyfriend. They had a band. 6 or 7 years ago, dan kami berteman baik sejak itu. Tapi kami sempat hilang kontak dua tahun terakhir.” ungkap Elda. “Kalau aku sudah ngefans sama Elda sejak dia masih main di bandnya yang dulu, Candles. Dari dulu sebenarnya kami sering sharing masalah musik dan aku sempat beberapa kali bantuin beberapa project Elda, kami sempat lost contact cukup lama sampai akhirnya di pertengahan tahun 2011, Elda menghubungi aku buat project baru. Karena terlalu banyak rasanya hal-hal yang sayang untuk kami abaikan begitu saja, karena pemikiran dan visi yang sama, akhirnya kami melanjutkan project ‘Stars and Rabbit’ ini.” lanjut Adi. Walaupun saat itu mereka sudah memiliki beberapa lagu seperti “Like It Here”, “Rabbit Run” dan “Worth It”, nama band justru baru mereka pikirkan belakangan. Stars and Rabbit sendiri sebenarnya adalah nama akun personal twitter Elda, yang akhirnya dipilih karena dirasakan cocok untuk lagu mereka yang memang cenderung whimsical dan manis.

Bicara tentang musik mereka yang whimsical, hal itu tak lepas dari vokal Elda yang kerap dibilang mirip Joanna Newsom, Emiliana Torrini dan Cerys Matthews, namun gadis pengagum Jewel dan Vanessa Carlton ini mengaku jika cara bernyanyinya memang keluar begitu saja tanpa dibuat-buat, sama seperti lirik yang ia tulis. Walau tak bisa memainkan instrumen, jika mendapat inspirasi yang datangnya bisa dari mana saja, Elda akan mencoret-coret di buku doodling yang sering ia bawa, humming dan memetik senar gitar berdasarkan insting. Di saat itulah ia membutuhkan bantuan Adi yang akan menerjemahkan apa yang ada di pikiran Elda lewat musik. Proses bermusik yang berjalan dengan sangat natural untuk mereka. Lucunya, walau chemistry bermusik mereka sangat kuat, namun mereka mengaku jika sebenarnya mereka tidak terlalu nyambung kalau di luar musik. Untuk hang out pun mereka memiliki lingkup pertemanan masing-masing, walau tak bisa dipungkiri jika kedekatan keduanya memang terasa. “Dia itu sudah seperti kakak saya.” kata Adi sambil tersenyum, yang langsung disahuti oleh Elda, “Haha, kita kan cuma beda dua bulan padahal!”

Walaupun kini Adi menetap di Jakarta dan bekerja di sebuah Production House, sementara Elda masih menetap di Jogja sambil mengurusi toko handmade miliknya yang bernama Little Garage. Mereka mengungkapkan dengan yakin jika sampai kapanpun Jogja adalah rumah mereka, walaupun mereka sendiri bukan orang asli Jogja. “Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Jogja dikelilingi gunung, laut, bukit dan orangnya pembawaannya laid back semua. Padahal dulu sebelum pindah dari Surabaya, aku sempat menolak tinggal di Jogja, eh begitu sampai di sini jadi nggak mau kemana-mana rasanya,” ungkap Elda. “Tapi itu juga yang menjadi salah satu ‘bahaya’ tinggal di Jogja, saking nyamannya banyak yang nggak mau mengembangkan diri keluar. Seperti adegan orang-orang yang makan bunga lotus di kasino di film Percy Jackson.” Lanjut gadis yang kerap memakai topi-topi lucu saat manggung ini. “If you want to do something, you must act now. Nggak usah takut, karena semua pasti ada jalannya sendiri.” Tutupnya dengan senyum lebar.

As published on NYLON Indonesia April 2012

photo by Muhammad Asranur