Heavy Petals, Rustic Botanical Styling 101 at Indoestri

“Say it with flower”, they say. Ya, rangkaian bunga memang bisa mewakili pesan yang ingin disampaikan sang pengirim, tapi seperti halnya kata-kata, bunga pun tidak bisa dirangkai secara asal. You need some skill and more importantly, sincerity

c4

Setiap kali saya datang ke Indoestri Makerspace, bisa dipastikan saya akan pulang dengan membawa sebuah skill baru. Jika sebelumnya saya sempat belajar leather 101 dan membuat tote bag sendiri, kali ini saya datang untuk mempelajari rustic botanical styling bersama Cosa Project and I’m so excited karena sejak kecil saya memang memiliki ketertarikan tersendiri pada keindahan botani, khususnya saat melihat bentuk bunga-bunga yang unik dan simbol yang terwakili dalam setiap bunga atau yang lazim disebut dengan bahasa bunga.

c9

Saat saya tiba di Indoestri, jam telah menunjukkan pukul sepuluh lebih yang artinya saya sudah terlambat dan dengan tergesa masuk ke kelas di mana para partisipan workshop lainnya sedang mendengarkan dengan serius kata pengantar dari Christyna Theosa, founder dan creative director dari Cosa Design & Decor yang menjadi mentor kami untuk hari itu. After catch some breathe and quickly glance the room, tampaknya saya menjadi satu-satunya peserta pria di kelas ini. Somehow, hal itu memang sudah terduga, but I’m actually not the only guy in the room karena dalam kelas ini Christyna juga mengajak beberapa orang dari timnya and some of them are my fellow XY chromosome, hehe!

Dengan inspirasi dari bunga-bunga yang seakan dikumpulkan dari hutan liar, Cosa Décor yang bermula di tahun 2013 memang dikenal dengan gaya rustic botanical dan bunga organik yang telah menghiasi dekorasi berbagai pesta pernikahan dan event di Bali dan Jakarta. Tak kenal maka tak sayang, Christyna pun memperkenalkan bunga-bunga dari Mimsy Botanical yang akan kami gunakan dalam kelas ini. Untuk gaya rustic, Protea dan Banksia dianggap sebagai kandidat tepat untuk focal flower (bunga yang menjadi highlight utama dalam rangkaian ini). Kuncup Protea yang memiliki tekstur velvety dan Banksia yang sangat woody memang terlihat kokoh dengan ukuran yang cukup besar untuk mempertegas elemen rustic yang ingin ditonjolkan. Meskipun kedua bunga tersebut yang menjadi bintang utama, mereka tak akan lengkap tanpa ditemani dayang-dayang berupa mawar segar berbagai warna dan para “pemain pendukung” yang meliputi bermacam dedaunan dengan tekstur dan aroma unik masing-masing. Mulai dari caspea, dusty miller, eucalyptus gunnii, parvifolia, hingga populus.

c5

Hal pertama yang kami lakukan adalah mengisi bejana logam yang telah disediakan sebagai vas dengan air bersih dan memasukkan serbuk makanan ke dalam air tersebut agar bunga bisa lebih kuat dan awet. Kita juga bisa tambahkan sedikit gula untuk mempercepat proses pemekaran bagi bunga yang masih kuncup. Yang pertama masuk adalah dedaunan dengan daun yang rimbun dengan tangkai yang dipotong miring 45 derajat dan diletakkan dengan posisi menyilang satu sama lain. Tujuannya agar tangkai-tangkai dedaunan tersebut bisa menjadi pondasi untuk menopang banksia dan protea yang berukuran besar dan cukup berat. Pastikan juga setiap tangkai untuk masuk ke dalam air sebagai asupan mereka.

c7

Setelah dedaunan terlihat imbang dan rimbun dari semua sudut, saya pun mulai memasukkan bunga-bunga mawar. They’re all really fresh dengan duri di sana-sini, cara mengambilnya yang aman adalah dengan menggenggam bagian dasar mahkota bunga. Menggunakan gunting tanaman yang telah disediakan, saya menggunting duri-duri mawar tersebut sebelum dimasukkan, not only for safety reason, tapi karena duri tersebut bisa membuatnya tersangkut dengan bunga-bunga lain sehingga sulit untuk didekor ulang. Setelah rangkaian bunga sudah terlihat cukup “penuh”, saya pun memasukkan tiga tangkai protea. Menurut Christyna, untuk alasan estetika bunga berjumlah ganjil memang lebih sedap dipandang, kalaupun ingin berjumlah genap, maka harus diperhatikan posisinya agar tetap terlihat dinamis. Mungkin merangkai bunga terdengar mudah karena basically kamu tinggal memasukkan tangkai-tangkai bunga dan daun, tapi percaya deh, it’s not as easy as it seems. Saya sempat harus membongkar ulang semua yang ada di vas saya karena somehow kamu bisa merasakan jika rangkaian bungamu terlihat aneh atau kurang harmonis. So I took them out and start from scratch again.

c8

Setelah break makan siang dan di percobaan kedua, saya akhirnya merasa puas dengan rangkaian bunga yang saya buat karena finally mereka terlihat cantik dan balance dari sudut manapun saya melihatnya. Ketika semua partisipan sudah selesai, the next step adalah belajar mengikat rangkaian bunga tersebut as a bouquet. Dengan hati-hati saya menggenggam semua tangkai bunga dan mengeluarkannya dari vas, and boy, it’s heavy! Dibantu oleh seorang  staff, saya mengikat rangkaian bunga dengan tali tambang yang sesuai dengan gaya rustic dan membungkusnya dalam kertas coklat yang kemudian diikat. Voila! Rangkaian bunga rustic kreasi sendiri siap dibawa pulang!

c6

Tapi kelas belum selesai, karena Christyna juga mengajarkan basic table setting dengan gaya rustic yang memakai elemen dekorasi yang terlihat sederhana tapi tetap menarik. Lulusan Art Center College of Design di Pasadena California tersebut pun menjelaskan, “For me rustic is very memorable/nostalgic, woody, always seems casual, humble and relax.” Karenanya gaya rustic ini sangat cocok untuk dekorasi yang terlihat hangat dan intimate. Untuk yang ingin mencoba sendiri di rumah, kamu tidak perlu memakai bunga-bunga impor yang eksotis karena kita pun bisa bereksperimen dengan bunga dan dedaunan lokal seperti alang-alang, mawar, kadaka silver leaf, silver dusty miller, juwawut, silver dollar leaf, dan apapun yang bisa kamu jumpai di alam bebas. Uniknya, beberapa bunga yang digunakan dalam gaya rustic ini justru akan semakin terlihat menarik saat perlahan mengering nanti. Setelah mawar-mawar yang ada di buket milik saya akhirnya mati, saya mengambil tangkai protea dan dusty miller dan meletakkannya di mason jar sebagai dekorasi meja kerja saya, until this very day! More tips untuk bunga lebih awet? Place them in the chill room and love them!

c1

Foto oleh Willie William.

Instagram: @indoestri, @cosaprojects

 

Style Study: Textile & Leather 101 Workshop at Indoestri Makerspace

IndoestriDengan azas Self Made yang diusung Leonard Theosabrata dalam Indoestri Makerspace, Do-It-Yourself just got rephrased.

I love tote bags. I really do, terutama untuk daily activities karena sifatnya yang praktis dan simpel. Namun, siapa sangka jika di balik bentuknya yang terlihat simpel, there’s quite a process to make one. Hal itu yang saya pelajari sendiri ketika mengikuti one day workshop bertajuk Textile & Leather 101 di Indoestri Makerspace, sebuah makerspace pertama di Jakarta yang digagas oleh Leonard Theosabrata, seorang figur penting di dunia industri kreatif Indonesia saat ini berkat perannya sebagai salah satu founder Brightspot Market dan The Goods Dept. It’s been a long time since I actually make something with my own hand, so I’m more than excited.

Saya tiba sejam lebih awal dari jadwal jam 10 pagi yang ditentukan pada hari Sabtu tanggal 4 Oktober lalu dan memanfaatkannya untuk melihat-lihat warehouse di daerah industri Daan Mogot tersebut. Selain menjadi pabrik furniture Accupunto milik keluarga Theosabrata, lahan seluas satu hektar ini juga memiliki area khusus sekitar 2000m2 untuk Indoestri Makerspace. Di lantai pertama terdiri dari ruang meeting, ruang workshop sekaligus studio foto, dan juga beberapa virtual office yang bisa disewa oleh brand owner atau desainer independen untuk memamerkan produk mereka. Sementara di lantai atas terdapat area luas yang menjadi main attraction dari Indoestri ini sendiri, yaitu sebuah space di mana para anggota bisa berkreasi dengan berbagai alat dan material yang ada dan telah dibagi menjadi bagian-bagian khusus seperti woodwork, metalwork, paintwork, leatherwork, dan sebuah lounge untuk beristirahat atau bertukar ide. Absorbing all those industrial vibes, I’m ready for making something self-made.

indoestri2

Sebelum memulai workshop yang diikuti 20 orang ini, Leo yang juga menjadi tutor workshop kali ini terlebih dulu menjelaskan tentang kampanye SELF MADE yang ia buat. “The creation process is a journey that is irreplaceable even by the destination,” adalah filosofi utama di baliknya. Pria lulusan Art Center College of Design di Pasadena, California tersebut merasa gemas melihat perkembangan industri kreatif yang cenderung stagnan, terjebak hype, dan sustainability yang terasa kurang karena para desainer/pemilik brand yang tidak benar-benar memahami dan menggeluti proses produksi. Kampanye SELF MADE memiliki misi utama mengajak orang untuk mengenal proses berkarya dari tahap paling basic, mempertajam skill, membangun network, dan mengembangkan skema bisnis startup mereka, salah satunya dalam bentuk berbagai workshop yang digelar di Indoestri dalam open house month mereka sepanjang bulan Oktober ini.

indoestri3

Now, off to the actual process. Saya mendapat materi workshop berupa modul, pensil, penggaris, gunting, dan bahan kanvas. Setelah mengguntingnya dalam ukuran yang sudah ditentukan (100 x 50 cm), bahan tersebut dilipat dua sama rata, menyisakan 1 cm di pinggir untuk diobras dan dijahit. Saya belum pernah memakai mesin obras dan it’s been forever since the last time I use sewing machine on middle school, jadi rasanya lumayan menegangkan saat menginjak pedal untuk mengatur kecepatan jarum. Some of the stitches are out of the lines, but hey, that’s the part of learning, right?

Selesai mengobras bagian pinggir, saya melipat bagian pinggir atas tas ke dalam sekitar 3 cm, menandainya dengan jarum pentul, lalu menjahitnya kembali dengan mesin jahit. Kali ini saya sudah agak terbiasa dan mulai bisa mengatur tempo dengan lebih baik. Langkah keempat adalah membentuk bagian dasar tas. Saya melipat kedua bagian pinggir bawah tas sekitar 8 cm dan menjahit garis lurus lalu membalik bagian dalam ke luar, voila, tas pun sudah terbentuk dan tinggal ditambahkan straps. Namun sebelum itu, tas ini dibubuhi logo SELF MADE yang memakai teknik silkscreen terlebih dahulu. Tas kemudian dijemur menghadap sinar matahari langsung agar tintanya cepat kering. Sambil menunggu, saya dan para peserta workshop lain saling berbincang and getting to know each other. Para pesertanya kebetulan memang berasal dari berbagai background, mulai dari mahasiswa seni, fotografer, pemilik brand, ibu-ibu, hingga ayah dan anak yang kompak mengikuti workshop ini. Suasananya sangat menyenangkan dan santai.

InstagramCapture_c078ad86-c16a-474d-bedc-085441ae92e6

Setelah mengambil tas yang sudah kering, last step adalah memasang straps dari bahan kulit. Menurut modul saya harus mengukur sepanjang 65 cm dan lebar 3 cm, namun saya menambahkan 5 cm lebih panjang (70 cm) agar lebih nyaman personally. Straps tersebut dijahit sekitar 3 cm dari bagian atas tas dalam bentuk 2,5 square box. Hal ini bisa dilakukan dengan mesin jahit bila kamu sudah cukup terbiasa, atau dengan jahit tangan yang lebih lama namun lebih presisi kalau kamu belum yakin dengan mesin jahit. Straps are attached, then it’s done! My first ever self-made tote bag which I quite proud of mengingat tas ini dibuat dengan tangan dan hanya dimiliki secara eksklusif oleh peserta workshop. So next time you saw someone carrying this bag, you know that they’re making this bag by themselves.

Selain workshop tekstil, Indoestri juga telah menggelar berbagai workshop menarik lainnya mulai dari ceramic, leather works, dan lecture tentang memulai brand dengan dipandu oleh para praktisi professional di bidangnya masing-masing dan terbuka untuk siapa saja. You should check out their Instagram (@indoestri) to keep yourself updated and be ready to be the part of the SELF MADE movement!

photo 5

http://www.indoestri.com/