Heart On Her Sleeves, An Interview With Cindercella

Entah itu sebagai content creator, social media influencer, hingga kini merambah ke dunia tarik suara, Marcella Febrianne Hadikusumo alias Cindercella melakukan semuanya dengan segenap hati.

36543588_221578445136754_8980075436755124224_n(1)

 

Seperti apa morning ritual seorang Cindercella?

Yang pertama setelah bangun pagi, pasti saya buka handphone, hehe. Habis itu makan dulu baru mandi, terus siap-siap aktivitas. Kalau ada waktu, saya juga olahraga. Sekarang saya sedang rajin ikut latihan High Intensity Interval Training.

 

Bagaimana awalnya kamu mulai aktif di YouTube?

Sebetulnya tidak pernah terpikir untuk bikin konten di YouTube dan belum paham juga kalau hal itu bisa menjadi profesi. Tapi dari dulu saya memang suka menonton YouTube, dari yang cover lagu sampai beauty tutorial. Awalnya saya suka menyanyi di depan komputer, terus akhirnya iseng upload di YouTube. Waktu itu sekitar tahun 2011, saya masih kelas 3 SMP.

Masih ingat beauty tutorial pertama yang kamu buat?

Masih, yang pertama saya buat adalah easy smokey eyes tutorial. Setelah itu mulai coba bikin makeup yang aneh. Lupa kapan pertamanya, tapi bukan untuk Halloween sih, memang lagi suka coret-coret muka pakai face paint, rekam, terus bikin tutorial deh.

minuet

Baru-baru ini sempat launching produk makeup juga ya?

Iya! Bareng sahabat saya, Vinna Gracia yang juga Makeup Artist dan Content Creator. Kita ditawari sebuah company untuk bikin produk berdua dan hasilnya adalah all-in-one palette yang dibikin di Korea. Kita berdua yang menentukan warna, tekstur, nama produk, nama shade, sampai packaging-nya.

 

As social media darling, bagaimana kamu menanggapi komen yang muncul?

Saya jujur termasuk yang suka baca komen, tapi kalau ada yang hate ya cukup tertawa saja. Kalau dibalas pun pasti saya balasnya dengan bercanda, bukan yang marah-marah. Tapi kalau ada yang sudah tidak enak dibaca, saya tidak balas, tapi langsung block saja, bye!

 

What is your childhood dream?

Tadinya saya ingin jadi Sailor Moon tapi diberi tahu mama kalau itu cuma bohongan. Tapi dari kecil saya memang suka nyanyi sampai ikut les nyanyi bareng kakak. Dulu sempat les piano juga sekitar 8 tahun, tapi sekarang sudah lupa… Sorry mom!

Kamu juga baru merilis lagu bersama pacarmu, Ben Sihombing. Boleh ceritakan?

Lagunya berjudul “Hati”, awalnya tidak ada rencana untuk bikin lagu bareng tapi beberapa bulan pacaran muncul lah lagu ini. Ceritanya simpel, tentang sepasang kekasih yang lagi jatuh cinta. Kami berdua bertemu ketika sama-sama baru putus, ternyata klop, yang tadinya tidak ada niat jadian, eh jadian. Itu yang mau diceritakan di lagu ini, kalau memang jatuh cinta dengan orang yang tepat di waktu yang tepat, kita bisa move on dengan sesantai mungkin.

 

Apakah ada rencana untuk bikin lagu solo? Kalau iya seperti apa?

Ada, sekarang lagi mau bikin lagu saya sendiri. Mau yang ada ukulelenya, its gonna be a love song. Next, mungkin saya akan bikin lagu featuring Ben tapi dengan style saya sendiri, hehe.

 

Apa yang kamu cari dalam seorang pasangan?

Yang bisa saling support, komunikasi, trust, dan tentunya humor.

 

Ada bucket list yang belum tercapai?

 

Saya mau coba skydiving! Saya juga ingin membuat acara, entah itu launching makeup atau birthday party, tapi semua yang datang harus dress up seperti Halloween, harus niat sampai makeup-nya juga. Kalau ditanya impian, saya ingin semua orang yang saya sayangi merasa bahagia.

 

Foto: Melody Amadea via instagram.com/cindercella/

Writers Club: Interview With Theodora Sarah Abigail

Lahir di Jakarta, 3 April 1998, sejak kecil penulis yang akrab dipanggil Ebi ini sudah gemar menulis apa saja yang bisa ia pikirkan dan rasakan dari sekitarnya—mulai dari Pokemon, pepohonan, hingga cerita tentang putri-putri dari kerajaan asing. Melihat minatnya, sang ibu pun memberikan sebuah buku jurnal yang harus diisi olehnya setidaknya dua halaman per hari. Sempat kesal karena merasa diharuskan menulis, perlahan ia pun terbiasa dan justru menikmatinya. Kini, di tengah kesibukannya sebagai stay at home mom dan manajer untuk sebuah komunitas pendiri startup di Asia Tenggara, ia masih menyempatkan waktu untuk menulis. Tulisannya bisa kamu nikmati dalam antologi puisi Warchild (2016) serta kumpulan esai personal In the Hands of a Mischievous God (2017) yang diterbitkan oleh The Comma Books.

 ebibooks

Apa yang membuatmu ingin menulis?

Selain waktu kecil diharuskan menulis dua halaman per hari, ibu juga sering mengajakku mengunjungi perpustakaan lokal dan meminjam 20 sampai 30 buku untuk aku baca. Kombinasi dari kepercayaan yang ibu berikan dan keinginan untuk mengikuti jejak para penulis yang telah menginspirasi menjadi alasan bagiku untuk menulis juga.

cantik

Masih ingat buku karya penulis lokal yang pertama kali kamu baca?

Sebenarnya, buku pertama yang aku baca adalah Cantik Itu Luka oleh Eka Kurniawan. Tapi bukan edisi Bahasa Indonesianya—I read the translation. Setelah membaca terjemahannya, aku sangat tersentuh dengan caranya bercerita lalu aku pun membaca versi aslinya dalam Bahasa Indonesia, karena aku yakin it must have been a hundred times more beautiful.

 

Siapa saja penulis lokal yang menjadi favoritmu?

Leila Chudori dan putrinya, Raka Ibrahim, Eka Kurniawan, Madina Malahayati, dan Goenawan Mohamad untuk alasan masing-masing. Dan kalau boleh menyebut musisi lokal, karena aku merasa banyak band punya lirik yang indah, aku akan menyebut Payung Teduh, NAIF, dan The Panturas sebagai favoritku juga.

 laut

Kalau hanya boleh memilih satu buku penulis lokal untuk direkomendasikan, buku apa yang akan kamu pilih dan apa alasannya?

Ya ampun… Pertanyaan yang sangat, sangat sulit untuk dijawab. Bukan salah satu penulis tapi salah satu buku ya? Hmm aku akan merekomendasikan Laut Bercerita oleh Leila Chudori karena aku merasa buku ini adalah salah satu contoh terbaik dari literatur Indonesia modern yang kita punya saat ini.

 

Bagaimana kamu melihat dunia literatur di Indonesia saat ini dan apa harapanmu?

Dunia sastra Indonesia masih terus berkembang. Comma Books misalnya dibentuk sebagai anak Kepustakaan Populer Gramedia dengan fokus pada karya literary, dan aku berharap semakin banyak penulis muda yang terinspirasi untuk membagikan cerita mereka. Aku percaya dunia sastra Indonesia tidak akan maju kalau tidak didukung oleh sekolah. Aku berharap sekolah bisa mendorong siswanya untuk mempelajari karya-karya klasik di dunia sastra Indonesia sehingga mereka terekspos pada keindahan kata dalam karya penulis lokal. Aku pun berharap nantinya orang tidak harus selalu memburu karya sastra dari luar negeri karena mereka sudah jatuh cinta dengan karya para penulis lokal.

 

Bagaimana caramu membagi waktu antara menulis, keluarga, dan kesibukan lainnya?

Untungnya aku dapat banyak bantuan dari suami. Dia rela turun tangan dan membantu urus anak—siapin makanan, doing the laundry, and other things that others might say are supposed to be “the women’s job.” Because of this understanding and willingness to help from his end, I’m very grateful to get the time I need to work. I do my best to make the time with my family count as well. Seperti yang dibilang orang, it’s not always the amount of time that counts, but being fully engaged in the time you do have.

Di samping itu, aku juga punya jam kerja yang terbilang aneh, so I may be up until 1-2AM untuk menulis. Sebenarnya 1-2 jam per hari saja sih cukup kalau kita niatin. Lama-lama tulisannya terkumpul. I think the most important point to be made here is that we have to be able to ask for help when we need it, and to share the responsibilities, and to be fully engaged in each endeavor instead of multitasking too much.

 

Apakah sekarang kamu sudah mulai beralih membaca buku digital?

To tell you the truth—I’ve tried to. Tapi karena sudah sangat terbiasa membaca buku fisik, membaca buku digital terasa asing bagiku. The experience doesn’t feel the same. Tapi aku merasa keberadaan buku-buku digital juga penting karena masih sedikit sekali perpustakaan yang layak di Indonesia, jadi seharusnya kita bisa melawan masalah tersebut dan meningkatkan minat membaca dengan membuat buku digital lebih mudah diakses.

APPLE-AND-KNIFE-by-Intan-Paramaditha---cover-(drop-shadow)

 Apa buku yang baru atau sedang kamu nikmati?

Seperti banyak orang lain di Indonesia, aku baru membaca cuplikan-cuplikan dari The Subtle Art of Not Giving a F*ck (Mark Manson). Aku juga menikmati Her Body and Other Parties (Carmen Maria Machado), Apple and Knife (Intan Paramaditha), dan satu lagi (last one!) adalah Commodore oleh Jacqueline Waters, buku puisi yang aku beli di Post Santa.

 

Apa rencanamu selanjutnya?

Doain ya, aku ingin menerbitkan buku baru sekitar tahun depan. Kalau mimpi jangka panjangnya, aku ingin membangun beberapa perpustakaan di Indonesia agar orang punya kesempatan untuk membaca buku dan punya mimpi yang sama seperti yang aku punya waktu kecil dulu.

Foto: Instagram @theodorasabigail

A Matter of Taste, An Interview With Rinrin Marinka

Apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang celebrity chef? Tak hanya kepiawaian mengolah sajian yang menarik secara rasa dan visual belaka, namun juga natural charm dan kepribadian yang membuat orang tak bisa melepaskan pandangan. Beruntung, Rinrin Marinka punya semua itu.

Fotografi: Ifan Hartanto. Creative Director: Anindya Devy. Stylist: Priscilla Nauli. Makeup Artist: Ranggi Pratiwi. Hairdo: Eva Pical.

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-1

Jika nama Maria Irene Susanto terdengar asing di telinga Anda, tenang saja, itu bukan sepenuhnya salah Anda. Chef, TV host, dan restaurateur kelahiran Jakarta, 22 Maret 1980 ini memang lebih dikenal di publik dengan nama Rinrin Marinka atau Chef Marinka, demikian ia akrab disapa lewat berbagai cooking show yang telah ia bintangi. Mulai tampil di layar kaca sejak 10 tahun lalu, tak bisa dipungkiri jika kiprahnya sebagai salah satu juri di Masterchef Indonesia yang tayang di tahun 2011 menjadi langkah yang mengantar namanya ke masyarakat yang lebih luas. Kehadirannya sebagai satu-satunya juri perempuan dan juga satu-satunya juri yang terus hadir dari season pertama sampai ketiga salah satu program cooking reality show tersohor tersebut tentu bukan sekadar menjadi pemanis saja, walaupun pada kenyataannya ia memang sosok yang menyenangkan untuk dilihat. Selalu terlihat energik dan santai namun mampu bersikap tegas bila diperlukan, nama Chef Marinka berhasil meninggalkan kesan yang mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya.

Pasca Masterchef Indonesia, penampilan chef cantik ini masih bisa kita lihat sebagai presenter, model komersial, bintang tamu talk show, red carpet, dan tentu saja, cooking show, termasuk Back to the Streets: Jakarta dan Wonderful Indonesia Flavours yang keduanya ditayangkan di kanal Asian Food Channel. Dalam kedua acara itu, Chef Marinka bersama co-host yang meliputi chef asal Australia, Tobie Puttock dan Darren Robertson, memperkenalkan cita rasa kuliner khas Indonesia ke ranah yang lebih luas dengan cara mengeksplorasi keragaman budaya dan tradisi kuliner di beberapa destinasi Indonesia, mulai dari Jakarta, Makassar, Tomohon, hingga Lombok, sebelum membawa pulang inspirasi yang didapat dalam setiap perjalanan tersebut kembali ke dapur dalam bentuk resep dan interpretasi yang menggugah selera.

Walaupun kedua acara tersebut telah selesai masa tayangnya, tampaknya kita tak perlu menunggu lama untuk melihat Chef Marinka back on action. Saat ini, ia mengaku tengah mempersiapkan syuting cooking show terbaru yang juga akan ditayangkan di Asian Food Channel. “Bedanya dengan sebelumnya, kali ini aku sendirian. Sebelumnya biasanya kan tampil berdua walau pernah beberapa episode juga sendirian, tapi kali ini definitely aku sendiri. Kali ini aku juga masaknya di dapur saja, tidak keliling lagi. Ada bagusnya juga jadi tidak lelah, soalnya kalau yang kemarin kan sempat syutingnya travelling dua bulan, pulang-pulang sempat sakit juga,” ungkapnya.

            Tiba di lokasi pemotretan dalam balutan t-shirt putih, jeans, dan kacamata hitam, wanita yang tergolong bertubuh petite ini terlihat santai dengan wajah bebas riasan apapun. Sembari membiarkan wajahnya mulai dirias di hadapan cermin, ia pun melanjutkan ceritanya. “Di show ini aku tetap masak masakan Indonesia, tapi lebih berdasarkan pengalaman pribadi. Karena acara ini juga lebih ditujukan untuk penonton luar negeri, jadi basically temanya ingin mengajarkan kalau masakan Indonesia itu bisa dibikin di dapur sendiri memakai bahan-bahan yang harusnya bisa didapat di mana-mana. Contohnya kemarin aku bikin ayam betutu, kan biasanya harus dimasak 8 sampai 13 jam, nah aku bisa masaknya dengan teknik aku sendiri jadi cuma dua jam yang rasanya tetap seautentik mungkin,” tandasnya.

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-5

Lahir dan dibesarkan di Jakarta, Chef Marinka mengaku waktu kecil ia sebetulnya memiliki sifat tomboy. “Aku dulu ingin menjadi James Bond karena kagum saat menontonnya, tapi di saat yang sama aku juga ingin menjadi seorang princess, haha. Jadi suka berkelahi tapi suka masak juga. Pokoknya aku orangnya sangat eksperimental dan suka tantangan,” tuturnya. Minat memasak menurutnya datang dari dirinya sendiri karena di masa kecil ia mengingat ibunya justru cenderung lebih menyukai membuat masakan yang instan. “Tidak apa-apa sebetulnya, karena dia wanita karier, Kan aku anak paling kecil dan lahirnya waktu beliau sudah berumur 40-an, kalau soal karier beliau memang sangat ambisius makanya sampai sekarang pun masih kerja padahal umurnya sudah berapa. Tapi dulu dia suka bikin kue kering untuk hari raya, jadi mungkin itu masakan yang mengingatkan aku soal masa kecil,” kenangnya.

Selepas Sekolah Menengah Atas, ia bertolak ke Sydney, Australia untuk berkuliah di jurusan Art & Design serta Fashion Design di KVB Institute College. “Aku punya banyak passions sebetulnya. Pokoknya yang berhubungan dengan seni, aku pasti suka. Aku senang pergi ke museum, membeli lukisan, I appreciate local artists & local fashion, pokoknya segala macam seni aku suka,” cetusnya tentang bidang ilmu yang sempat ia pelajari. Namun, minatnya terhadap dunia kuliner tampaknya memang tak bisa dibendung. “Aku delapan tahun di Sydney dan di sana sukanya masak buat orang. Kalau buat diri sendiri I’m not fussy, lebih baik beli, haha. Tapi kalau masak untuk orang lain, aku merasa enjoy melakukannya. Awalnya beli buku-buku resep, coba eksperimen, lama-lama aku berpikir ‘You know what? This is something that I really like’.” Mendapat restu dari orangtua, ia pun mendaftarkan diri ke sekolah masak terkenal Le Cordon Bleu untuk mempelajari French cuisine dan pastries dengan serius. Ditanya soal pengalaman paling berkesan selama sekolah kuliner, ia sempat berpikir beberapa saat sebelum menjawab, “Aduh susah ya, selama masa sekolah, waktu yang belajar masak itu yang paling menyenangkan ya. Benar-benar tidak ingin melewatkan satu hari pun, sakit pun tetap ingin masuk kelas. Jadi seperti orang haus ilmu. Kalau dibilang yang paling memorable mungkin tidak ada karena everything is so much fun!

Sempat mencicipi kuliah di bidang fashion dan seni, apakah segi visual menjadi pokok perhatian dalam proses kreasi kulinernya? “Aku merasa kuliner juga bentuk seni, dari segi penampilan dan juga rasa. Dari penampilan aku inginnya minimal rapi, kalau terlalu artsy yang sampai tidak terlihat seperti makanan mungkin orang juga segan ya,” jawabnya dengan tenang. Begitu pula saat menyoal fenomena makanan-makanan unik yang “Instagram-able” dan eye-catching seperti makanan yang bertema rainbow dan unicorn, ia memandangnya sebagai sesuatu yang wajar karena kreativitas memang tidak bisa dibatasi. “Yang penting rasanya harus tetap enak. Kalau buat aku lebih baik penampilannya jelek tapi rasanya enak dibanding cantik tapi ternyata tidak enak. Bagi aku itu lebih penting, karena in the end of the day, you’re going to swallow it,” tegasnya.

Lulus dari Le Cordon Bleu dan sempat magang di beberapa restoran di Sydney sebelum akhirnya pulang ke Tanah Air, Rinrin mengawali karier dengan menjadi freelance cooking instructor sambil terus menantang kemampuan dirinya sendiri dalam berkreasi, khususnya dalam membangun sinergi antara kuliner Timur dan Barat dari segi rasa dan artistik. Sempat memiliki restoran pertamanya di bilangan Fatmawati, ia pun pertama kali muncul di layar kaca lewat program Sendok Garpu di Jak TV di tahun 2007. Awalnya, pengagum chef terkenal Inggris Jamie Oliver ini sama sekali tidak menyangka jika dirinya akan berkiprah sebagai chef di layar kaca. Walaupun merasa dirinya memang termasuk ceriwis dan gemar berbicara di tengah lingkungan dekatnya, namun untuk berbicara di depan kamera, ia mengaku butuh latihan sebelum terbiasa. “Aku bawel kalau sama teman, tapi kalau di depan kamera memang harus dilatih, sampai sekarang aku juga masih suka grogi atau melakukan kesalahan saat syuting. Begitu juga saat menjadi MC, tapi ya practice makes perfect,” ucapnya. Nama Rinrin Marinka sebagai nama panggung sendiri menurutnya muncul secara spontan. “Sebetulnya malu kalau diceritakan, tapi nama Marinka itu asalnya dari harapan aku kalau someday punya anak perempuan, aku mau namanya Marinka. Tapi ada salah satu teman aku menyarankan kalau aku pakai nama itu dulu saja, and you know what? Why not? Haha, awalnya seperti itu,” ungkapnya sambil tersenyum.

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-6

Dengan kepribadian yang menarik dan apa adanya, nama Chef Marinka kian akrab di telinga publik hingga akhirnya ia pun termasuk dalam jajaran celebrity chef yang ada di Indonesia. Menyinggung perihal label “celebrity chef”, Rinrin sebetulnya punya mixed feelings soal istilah tersebut. “Itu sempat menjadi konotasi tertentu kalau di Indonesia karena beberapa oknum yang menurut aku seperti berlebihan. I rather be called as professional chef sebetulnya, tapi sekarang sudah terserah sih. It’s okay if people want to call me that, aku juga tidak butuh konfirmasi dari semua orang kok whether I can really cook or not. Lihat dengan mata kepala sendiri saja, seperti itu sih kalau sekarang,” cetusnya sebelum melanjutkan, “Mungkin yang masih mengganggu adalah sebutan ‘sexy chef’ ya? Menurut aku seksi ya seksi saja, chef ya chef saja, haha,” tandasnya.

Well, sulit diingkari jika sosoknya yang atraktif memang banyak menarik perhatian orang, terutama lawan jenis, mulai dari yang bersikap sopan hingga yang sering mengirimkan komentar bernada miring di social media miliknya. “Kalau ditanya risih, ya pasti risih lah. Tapi terkadang sudah terlanjur malas menanggapi atau melihat komen jadi ya didiamkan saja. Paling aku cuma mau bilang ‘You need God!’ Haha.” Untungnya, masih lebih banyak penggemar yang mengapresiasinya dengan cara yang positif, termasuk salah seorang penggemar yang dengan penuh niat membuatkan seri sticker LINE berupa karikatur Chef Marinka, “It’s actually making my day!” seru Rinrin dengan riang.

Soal social media sendiri, sama seperti public figure pada umumnya, Rinrin memanfaatkan Instagram untuk meng-update kabar dirinya dan sekelumit insight dari aktivitas sehari-hari, termasuk personal style dirinya. “Aku sih mencoba menjadi diri sendiri saja in term of character maupun penampilan. Kalau untuk tampil di publik, pertimbangan aku cuma jangan sampai terlalu seksi. You know how to dress lah, tergantung occasion juga, tapi aku juga sebetulnya playful and moody soal fashion. Kalau lihat lemari baju aku isinya bisa sangat random dari satu gaya ke gaya lainnya, but overall I like edgy and rock n roll looks,” ujarnya.

            Selalu terlihat menawan dengan rambut indah terawat yang sering digerai alami begitu saja, wanita yang memiliki hobi karaoke untuk penghilang stress ini secara mengejutkan mengaku dirinya tidak suka pergi ke salon. “Maybe I just simply lazy, aku tidak suka ke salon karena harus menyetir ke sana. Kalau ada waktu luang, aku sangat menikmati diam di rumah saja sendirian. Tapi tempat aku walau kecil juga sering dijadikan basecamp sama teman-teman aku. Sekadar menonton series, bagi aku itu sebuah kemewahan kalau bisa menghabiskan waktu di rumah seorang diri.”

            Menonton series rasanya kurang lengkap kalau tidak ditemani kudapan, begitupun bagi Chef Marinka yang menyebut chips dan es krim vanilla dengan butterscotch sebagai camilan guilty pleasure favoritnya. Sementara untuk urusan late night craving, ia menganjurkan kacang-kacangan dan sedikit protein untuk memuaskan hasrat mengunyah di malam hari. “Banyak orang bilang makan buah saja, tapi sebetulnya itu juga tidak terlalu baik karena kandungan gulanya,” jelasnya. Dengan profesi sebagai chef yang setiap hari berhadapan dengan makanan, Rinrin jelas punya kiatnya sendiri untuk tetap menjaga pola hidup sehat. “Basically just do detox, misal hari ini makan banyak, besok detoks. Harus tahu porsi, karena kita kadang suka tidak tahu diri makannya jadi terlalu banyak. Olahraga juga, aku ikut Bodytec di Kemang sama berenang. Mau coba yang lain tapi belum punya waktu. Aku ingin mencoba bela diri atau olahraga yang pakai senjata seperti panah atau pistol. I know its sounds crazy but I just love it. Jadi aku kebalikannya yoga, I’m not a yoga person at all.”

            Komitmennya dalam menjaga gaya hidup sehat juga diwujudkan dengan membangun Mars Kitchen, café miliknya di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan, yang menawarkan menu-menu sehat tanpa MSG, pewarna, atau pengawet namun tentunya dengan cita rasa yang yummy. Sudah berjalan selama dua tahun, café ini masih tetap laris dikunjungi siapa saja yang mencari kebutuhan healthy menu dengan atmosfer yang homey. Saya pun bertanya apakah ia sudah memiliki rencana ekspansi untuk gerai selanjutnya, yang lantas dijawabnya dengan cepat. “Sebetulnya kita kerjasama dengan Bodytec di Kemang, so we have the tiny one there. Cuma kalau ekspansi rasanya belum deh, masalah lokasi juga mungkin ya? Satu dulu cukup untuk sekarang. Aku terpikir untuk bikin sesuatu yang lain justru. Konsepnya ingin yang beda. Kalau di Mars Kitchen kan memang untuk semua orang yang ingin hidup sehat, kalau yang satu lagi aku inginnya lebih hipster. Semacam tempat hangout yang seru, but I don’t know if it’s going to work karena ekonomi dunia juga lagi menurun dan persaingannya juga lagi banyak sekali. Baru cita-cita saja sih dan aku harus cari partner juga, karena di Mars Kitchen kan sendirian. Itu juga lumayan keteteran, jadi mungkin nanti dulu.”

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-3

Di tengah derasnya arus informasi yang membawa perubahan dengan cepat dalam skala global, termasuk dalam hal tren makanan yang dapat dengan instan diadaptasi ke ranah lokal, Chef Marinka mengungkapkan pandangannya terhadap dunia kuliner di Indonesia saat ini. “Sebetulnya memang makin berkembang, terutama di Jakarta, tapi masih bisa dibilang slow. Dari segi tren memang cepat karena kiblat makanan kita ke Amerika dan mereka memang cenderung menjadi yang pertama kalau soal tren makanan, jadi kita cepat mengikuti tren tapi cepat hilangnya juga, seperti cronuts misalnya. Tapi aku juga melihat sekarang semakin banyak orang yang bangga makan masakan Indonesia dan itu bagus. Jangan sampai kita jadi seperti Filipina yang mulai kehilangan cita rasa kuliner autentiknya. Dari industrinya, aku juga ingin membawa masakan Indonesia jadi as famous as Thai or Korean food. Itu butuh kerjasama dari semua pihak, termasuk dari government. Sekarang pun hal itu sudah mulai berjalan kok seperti kemarin syuting Wonderful Indonesia Flavours, aku mewakili Indonesia memperkenalkan masakan Indonesia ke luar negeri bagi aku itu achievement and I’m proud of it. Kalau soal promosi, mungkin bisa lebih efektif lagi, kita tidak bisa menjagokan kuliner satu daerah saja karena masakan Indonesia benar-benar beragam dari Aceh sampai Papua. You have to do it one by one, fokus di makanan dari satu daerah dulu, baru seterusnya ke daerah lain,” paparnya dengan gamblang.

Memperkenalkan masakan Indonesia ke dunia memang menjadi salah satu fokus utama yang ingin ia jalani sebagai seorang professional chef. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat ia pergi ke Peru untuk urusan pekerjaan. “Di Peru aku sama asisten aku harus masak buat 300 orang di Hotel Delfines dan di sana tidak ada yang bisa bahasa Inggris sampai sempat stress rasanya. Tapi ya we have to work it out, aku bawa satu kopor isinya bahan makanan Indonesia semua, jadinya aku cuma bawa baju-baju tipis dan sampai di sana langsung kedinginan, haha! Hari ketiga di sana aku juga diminta mengajar di Le Cordon Bleu setempat dan rasanya menyenangkan karena aku jadi ingat dulu aku belajar di Le Cordon Bleu, sekarang aku yang mengajar.”

            Dengan semua pencapaian karier yang telah ia raih dalam kiprahnya selama ini, Chef Marinka merasa belum saatnya berpuas diri dan masih memiliki banyak mimpi dalam genggamannya, mulai dari keinginan memiliki talk show sendiri hingga merilis buku masak berikutnya setelah sebelumnya sempat merilis buku resep masakan bertajuk Fantastic Cooking di tahun 2011 yang berisi 30 resep kreasinya. Di samping urusan kuliner, ia ternyata juga punya bucket list lain yang ingin ia rasakan. Yaitu? “Akting, hehe. Karena itu juga art kan? Aku mau coba main film untuk seru-seruan saja. Maunya film yang entah action atau yang drama tapi harus yang very dramatic sampai harus menangis atau berteriak. I like something that extreme, jadi kalau bisa ya jangan yang setengah-setengah,” tutur pengagum aktor Johnny Depp ini. “Aku suka Johnny Depp karena dia idealis, dia kalau main film bukan karena ingin terkenal tapi karena dia memang suka perannya. I like him because he’s good looking but he doesn’t care that he’s good looking. Tapi sekarang aku sudah tidak terlalu suka Johnny Depp lagi karena dia ketahuan selingkuh. I hate that. Pokoknya kalau sudah cheater, aku langsung malas!” serunya sambil tertawa.

            Walaupun sempat mengungkapkan keinginan untuk suatu saat bisa membawa kariernya dan tinggal di luar negeri, untuk saat ini Chef Marinka mengaku jika ia belum bisa meninggalkan kota kelahirannya, Jakarta. “Kalau keinginan untuk pindah pasti ada dan sempat terpikir, tapi dilemma di karier juga karena pekerjaan aku sekarang ada di sini. Semua support system juga ada di sini, support system dalam arti kata aku punya community yang benar-benar kuat memengaruhi kehidupan sehari-hari, Teman-teman yang ada di sini, they’re all my happiness. Jadi, aku merasa belum ada purpose yang lebih kuat untuk pindah dibanding fokus yang ada di sini,” pungkasnya. Jakarta dengan segala sudutnya yang menawarkan sejuta cerita, hate it or not, akan meninggalkan kesan bagi siapa saja yang hidup di lambungnya atau yang sekadar melintas. Untuk menutup artikel ini saya pun bertanya kepada Chef Marinka, sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta kira-kira sajian apa yang bisa mewakili karakteristik Jakarta as a city. Dengan wajah yang sudah terias sempurna dan langkah percaya diri menuju depan kamera, chef cantik ini sambil mengulas senyum pun menjawab, “Jakarta itu menurut aku messy dan chaotic. Kalau dilihat sepintas mungkin terlihat biasa saja tidak menggugah selera, tapi ketika diaduk baru terasa enaknya, persis seperti ketoprak, haha. Well, ketoprak memang bukan makanan cantik sih, but I can make it pretty!”

 

Man About Time, An Interview With Joe Taslim

Berbekal persistensi dan work ethic yang telah teruji oleh waktu, Joe Taslim tiba di saat yang tepat untuk menyelamatkan perfilman Indonesia dari kelesuan dan stagnasi pemeran yang itu-itu saja. Di antara himpitan jadwal yang kian memadat, aktor karismatik ini menyelipkan satu jam untuk berbincang dengan Baccarat Indonesia. 

STYLING ANINDYA DEVY FOTOGRAFER HILARIUS JASON MAKE UP & HAIR ARTIST ARIMBI TEKS ALEXANDER KUSUMA PRAJA LOKASI THE WESTIN JAKARTA

Hidup di kota besar dengan segala tantangan dan peluang yang bergulir begitu cepat, time could be your bestfriend or your worst enemy. Lengah sedikit, Anda bisa tergilas oleh waktu. Selayaknya Russian roulette, Anda mungkin tak akan pernah bisa 100% yakin kapan the perfect timing bisa mengantarmu ke kesuksesan atau justru stuck di satu tempat. Some people might believe in miracle and coincidences, others believe success comes to those who dare and act. Joe Taslim termasuk dalam golongan yang kedua.

Nama pria kelahiran Palembang, 23 Juni 1981 ini mencuat di publik ketika ia turut berperan di film laga The Raid pada tahun 2011 lalu, walaupun sesungguhnya ia telah mulai berakting di feature movie sejak tahun 2008 lewat film horror berjudul Karma dan film drama Rasa setahun setelahnya. Brutal dan penuh adegan bela diri yang membuat penonton tercengang sambil menahan napas, The Raid yang digarap oleh sutradara Gareth Evans adalah sebuah film martial arts action yang bisa dibilang breakthough dan mengharumkan film produksi Indonesia di mata dunia, termasuk nama para pemerannya. Peran Joe sebagai sosok Sersan Jaka di film ini berhasil memukau penonton dengan mata tajamnya, tubuh tegap, dan tentu saja keahlian bela diri mumpuni yang berasal dari background-nya sebagai atlet judo profesional yang sempat tergabung dalam timnas judo Indonesia.

            People fell in love with him dan sosoknya kian dikenal lewat berbagai photoshoot majalah dan komersial. Menyusul kesuksesan The Raid di ranah internasional, proyek Joe selanjutnya meliputi proyek skala internasional Dead Mine, sebuah film action horror produksi HBO Asia yang dirilis di sejumlah negara Asia. Not long after that, he got his first Hollywood role dalam Fast & Furious 6 yang lantas disusul dengan peran untuk Star Trek Beyond. Dengan pencapaian karier yang membanggakan tersebut, Joe pun memantapkan kakinya sebagai salah satu aktor Indonesia papan atas di saat umurnya telah melewati umur 20-an dengan filmografi yang sebetulnya masih bisa dihitung dengan jari.

Ditemui di presidential suite The Westin Jakarta, Joe yang memenuhi jadwal interview & photoshot untuk edisi ini datang sesuai jam yang telah disepakati ditemani beberapa entourage. Menyapa semua orang dengan ramah dan terlihat casual dengan t-shirt putih, jogger pants, sneakers, serta topi snapback yang bertengger di kepalanya, you can’t help but to feel his laid-backness. Namun, ketika ia berganti wardrobe dengan sharp tailored suit dan beraksi di depan lensa kamera (not a new thing for him since he used to be a model), Anda bisa merasakan auranya sebagai Joe the movie star. But make no mistake; behind all the glitz as an actor, Joe is a fighter, family guy, and social activist at the same time. Tanpa membuang waktu lebih lama, kami pun berbincang dengannya tentang the past, present, and the future.

L1001519

Hai Joe, boleh ceritakan aktivitas Anda belakangan ini?

Sekarang baru selesai syuting film action, The Night Comes for Us. Kita syuting 3 bulan, syuting terlama untuk film Indonesia yang pernah saya lakukan. Saya main jadi anti hero character, he’s a bad guy but looking for salvation. Tapi harga yang harus dia bayar untuk semua dosa yang dia lakukan, to go back to the right path itu mahal sekali. It’s very dark. Karakternya juga dark banget. Itu sudah selesai tapi saya langsung ambil film drama, judulnya Surat Kecil Untuk Tuhan, untuk balancing the psychological aja sih buat saya. Dari main film yang sangat keras, berdarah-darah, daripada saya harus ke psikolog gitu kan atau meditating, it’s better to do the other path, which is ambil film yang sangat drama, yang no violence and no action at all. It’s something I like to do untuk balance for me as an actor.

Jadi akting di film drama bisa menjadi semacam terapi juga ya?

Yes, therapy. Biasanya kalau syuting panjang kita mainin satu karakter bisa terbawa, bisa sampai ngomong sendiri kadang di rumah. Kalau syuting cuma sebulan mungkin nggak, tapi kalau di atas dua bulan, setiap hari mostly kita di set mainin karakter itu dari pagi sampai malam, we need time to balikin lagi. Dibanding lakuin itu, if I can, I will do the opposite, play different character yang benar-benar opposite dari karakter sebelumnya which is works. Kalau nggak, bisa tambah gila, haha.

Film Surat Kecil Untuk Tuhan ini sendiri tentang apa?

Ini film drama tentang anak-anak sih, sesuatu yang ingin saya lakukan dari dulu banget, bikin film yang bisa ditonton semua umur, especially kids, yang punya message penting juga untuk apa yang terjadi di seluruh dunia sekarang tentang anak-anak terlantar, human trafficking, penculikan, harvesting organ, segala macam. Saya berharap film itu bisa jadi campaign juga untuk isu anak-anak terlantar. It’s a movie yang harusnya bisa menginspirasi banyak orang sih.

Mengingat banyak film Anda yang mengandung kekerasan, apakah selama ini anak-anak Anda juga ikut menyaksikan film Anda?

Saya pernah main film drama tiga tahun lalu dan mereka nonton. The Raid juga sebetulnya mereka nonton tapi tetap saya dampingi untuk menjelaskan kalau semua itu hanya seni, semua itu hanya props. I try to give them angle agar jangan terperosok dalam ilusi violence yang disajikan di film itu. And they understand, so it’s cool sih harusnya, nggak masalah. Tapi anak yang paling kecil nggak lah. Yang sudah 10-11 tahun saja yang sudah punya logic yang baik.

Apa reaksi anak-anak kalau lihat ayahnya di layar?

Mereka sudah biasa sekarang. Dulu kalau lihat foto saya di jalan, di billboard misalnya, masih suka excited, sekarang sudah biasa. They understand it’s my job, papanya kerja di industri yang membutuhkan papanya dipajang di mana-mana, it’s their dad’s job to represents brand, to be in a movie and delivers character. Saya rasa mereka juga sudah mengerti inside-nya, bukan cuma dari luarnya saja. It’s a job, just like any other job like makeup artist or photographer. Kalau aktor atau singer mungkin memang dapat spotlight khusus karena mereka adalah frontline to deliver sebuah project atau brand, tapi sebenarnya sama aja, everybody’s working hard behind the scene. Di industri ini, it’s all about collaboration.

Flashback sejenak, bagaimana masa kecil Anda di Palembang?

Saya dulu dari kecil memang diarahkan orangtua untuk jadi atlet. Masih kecil ya sekolah, sore latihan, its quite discipline life. Main ya main tapi karena fokusnya juga udah ada di sekolah dan olahraga, jadi main ya seadanya, tapi jadi lebih tersalurkan lah. Karena ingin cari yang cocok, saya sempat coba banyak hal. Bulutangkis, taekwondo, kungfu, judo, wushu, bahkan tinju pun pernah sempat mau saya coba.  Tpi akhirnya memang harus fokus di satu cabang dan saya memilih judo, saya juara nasional dan masuk timnas. 

Dari sekian banyak bela diri yang pernah ditekuni, kenapa memilih fokus di judo?

Judo dari saya kecil pun is mostly something that fun dan seru. Judo memang bela diri yang butuh kegigihan, karena prosesnya juga nggak ada yang gampang, dibanting, dicekik, dipatahin, dikunci segala macam. Tapi kalau memang gigih it could reach some point yang membanggakan. Memang keuletan itu yang nggak gampang. Kalau latihan pasti sakit, tapi setelah sekian lama, when you adapt to the pain, you need the pain everyday, it’s something yang seru, setelah dinikmati ya its good pain yang bikin kita lebih kuat physically and mentally, which I think that help a lot in my career as actor now. Secara mentally and psychologically I was raised in very warrior way. Jadi di dunia seni pun I think its same work ethic, harus gigih dan kerja keras, nggak cepat puas, respect, karena core-nya judo memang respect dan discipline. Disiplin itu sih yang banyak membantu di dunia perfilman ini. Banyak orang yang nggak punya core itu. They think acting is just mambo jambo spotlight, getting famous and the girls or get the cover of magazine, they don’t know the foundation of it. It’s a profession. It’s not something you want to brag to other people about.

Jadi, bagaimana Anda akhirnya terjun ke showbiz?

I always love movies. Dari kecil its part of the family tradition juga untuk nonton film bioskop bisa seminggu dua kali or at least sekali because my dad is a huge fan of movies. Mungkin dari situ juga timbul keinginan untuk terjun ke industri ini. Awalnya saya mulai dari commercial, ada satu brand yang membutuhkan talent dengan skill judo, they ask me to go to the audition and then I got the job, that’s my first introduction to camera and shooting process. Dari situ banyak tawaran seperti photoshoot untuk magazine dan runway. For me its learning process. Dari 2001 sampai 2006, it was tons of auditions, tons of work here and there. Audisi untuk iklan, photoshoot, runway, sinetron, FTV… I just did everything just to know industri ini seperti apa sih. Sama seperti bela diri, I learn so many martial arts, but at some point I know I need to focus on one. Salah satu hal yang membuat saya menjadi good judo-ka dulu karena saya mempelajari banyak martial arts lain dan membawa elemen-elemen itu ke martial art yang saya tekuni. Sama seperti industri ini, by the time I decide to focus on acting in feature movie, I have a good foundation and already learnt many things that I could deliver through my experiences, right?

Saat pertama kali berakting di film Karma, apakah waktu itu Anda sudah menikah?

Yes, I was married in 2004, Karma keluar di 2008. I got married when I was really young but I think its good, jadi bisa lebih fokus ke kerjaan. Sudah nggak pikir main-main lagi. Agendanya cuma satu, I just want to be a good actor. Kalau belum kawin mungkin I just think about the girls or party, you know? It’s probably one of the keys that brought me here. Kebanyakan orang kan when they get famous, the distraction around the art sometimes too strong, they got carried away and forgot it’s a profession you love, not the illusion around it.

So you think you started your career on the right time?

Yeah, I think everything happens for reason. Karier saya baru berjalan mulus when I was about 30, below 30 it was struggle all the way, which is happens for reason. Kalau saya mendapat semua apresiasi ini di umur 20, maybe I would be somebody else. Mungkin saya tidak bisa menahan diri dan belum cukup matang. Tapi di umur 30 sekarang dan sudah menikah, saya bisa fokus di pekerjaan. Nggak ada yang aneh-aneh lah. Ini bukan sesuatu yang buat main-main, it’s my life. Not just for being on screen and get famous, this is my life and my career.

Do you already feel settled now?

I’m happy. I think my personality juga bukan yang terlalu ambisius. I don’t think I’m very ambitious guy, I think I believe in doing a bit by bit in perfect way will lead you to the dream and point you couldn’t think you could achieve. Jadi dibanding bikin sesuatu yang grande, I’m kinda guy who a bit OCD in term of how I work. Bagi saya lebih penting memperhatikan detail dalam pekerjaan karena kita nggak akan tahu ke mana hal-hal ini bisa membawa kita. I love surprises, so jalanin apa saja dengan sepenuh hati, dan tiba-tiba, jackpot!

L1001878

Well, mungkin bagi banyak aktor Indonesia the ultimate dream adalah go international main di film Hollywood, but you actually already did that.

I never have a big dream about it to be honest. Kalau berandai-andai mungkin siapapun pasti pernah, tapi kalau untuk bermimpi terus dipikirin nggak sih. This is an unpredictable profession because this is art, it’s very hard to judge. You never sure if you did a good work in one project and it could lead to the other. It doesn’t work that way. It needs a little bit of magic yang munculnya dari keyakinan and it has to be fun. Dan saya selama ini melakukan semua project, apakah itu komersial atau film, semuanya harus I know I’m going to have so much fun. It’s not because of the money or what, I know when I read the script and then I think I will have so much fun in this one, I’m gonna give everything. That’s it. Kalau project-nya sukses atau nggak, it doesn’t matter because I win already. I would never lose because I did it for the sake of I believe in it and I’m very happy for it. Jadi itu sih, filmnya mau kaya apa juga I’m a winner already. In my case, do your profession with love and always give 110 percent, always give perfection to every details and it could lead you somewhere to probably you won’t imagine before.

Do you have any bucket list in acting?

A lot pastinya. Secara karier film saya juga masih belum banyak. Kalau lokal ingin kerja dengan Joko Anwar, Ifa Isfansyah, Hanung Bramantyo. Kalau di luar pasti lebih banyak lagi pastinya, haha. As long as the story make me fall in love with, then anything could happen.

Talk about time, punya brand favorit untuk jam tangan?

I have Omega and Rolex, dua itu yang aku suka sih. I’m very loyal in terms of brands. Jadi kalau sudah suka satu, I feel I don’t want to betray the brand I love. Jadi jarang juga nyoba-nyoba, biasanya kalau sudah coba satu atau dua, ya sudah stay di situ saja.

Pertimbangannya apa kalau membeli jam tangan?

Banyak orang yang memakai jam tangan sekadar untuk fashion. Tapi kalau saya melihat jam tangan itu as a little bit of hint about who you are. Kalau pakai jam tangan untuk meeting and meet people, hal itu memberikan kesan jika kamu adalah orang yang peduli soal waktu, sedangkan design-wise, it’s also show what kind of a guy you are. Kalau saya sendiri sih memang stay to leather and steel. Nggak suka yang modelnya aneh-aneh. Classic watches like Omega or Rolex never disappoint me. They always fit me really good and I think my character also represented. So it’s not like I’m representing the brand, but the brand help me to represent who I am. Like this guy care about time, discipline, classic, persistence and detail oriented. Jam tangan bisa memberikan ilusi tentang diri kita. Not always, but it helps.

Anda sempat posting foto rapper Tupac Shakur di Instagram, kalau musik Anda suka mendengarkan apa?

Banyak sih yang saya suka. I’m an old soul jadi saya nggak begitu mendengarkan lagu-lagu sekarang, kecuali yang bagus banget, picky sih. Saya suka dengerin lagu zaman dulu seperti Stevie Wonder, Tupac, Biggie, atau lebih tua lagi The Beatles. Maybe because I’m not that young anymore, haha.

Anda juga sering posting video main piano di Instagram dan bilang jika hal itu membantu membangun mood dalam berakting. Memang gemar main musik ya?

Just for fun, not professionally. Musik selalu berhasil membangun mood apapun. Seperti di film kan semua dibangun dari musik. Nonton film kalau nggak ada musiknya, you don’t know what you are watching. Saya main piano belajar sendiri dari YouTube. Sekarang semua bisa dipelajari dari YouTube. Asal gigih saja, persistence. Kalau gigih apa sih yang nggak bisa? Kalau bosenan, nyerah, ya nggak bisa belajar apa saja. Alasan orang can’t do what they want karena mereka kurang gigih atau cuma sekadar mengikuti tren.

Ada skill lain yang ingin dipelajari selanjutnya?

I want to speak different languages, ingin belajar Mandarin, Korea, Jepang… Saya rasa bahasa Asia sudah sangat penting sekarang. Different instruments juga kalau di musik. Itu hal yang sangat membantu di sela kesibukan. If I have the option, I rather sit in front my piano instead of hanging out. Ini sesuatu yang positif lah and time is ticking, I’m not that young anymore and I love to learn a lot of things, jadi kalau ada waktu ya I want to learn or try new things. Especially in music, kalau udah bisa piano, I wanna go to different instrument and learn it from YouTube. Ada kenikmatan belajar sendiri. Kalau dengan guru, you’re just following order. When you learn from YouTube, you will find your own system, you teach yourself. Dan pada saat berhasil, ada kepuasan tersendiri yang beda.

Di Instagram, Anda juga kerap posting soal social campaign seperti He for She Campaign dan Fight or Flight. Tell us more about it.

Kalau Fight or Flight itu saya bantuin campaign teman saja sih. My friend is an UFC champion and actor in L.A. Dia bikin campaign soal bullying. Kalau orang dipukulin ya jangan victim terus, lo harus melawan. Ini campaign untuk orang memperkuat diri jadi he asks me to give support and I did it because it’s a good campaign. Itu sesuatu yang saya lakukan di sela kesibukan. Helping them, helping the campaign but actually I’m helping myself too, it bring peace to me. Directly or indirectly, like it or not, celebrities have power to build the awareness and influence the people, jadi gunain yang benar aja. Kalau ada yang minta tolong as an influencer to doing something good I would say yes. I don’t have a reason to say no.

Kalau tentang He for She?.

He for She Campaign itu tentang penyetaraan gender di seluruh dunia. Kalau di He for She Indonesia kita mencoba bilang bahwa kesempatan harus sama antara laki-laki dan perempuan, penyetaraan gender di semua bidang, di instansi pemerintahan dan swasta, salary harus sama, dan perempuan juga berhak menjadi pilar pembangunan Indonesia ke depannya and have opportunity untuk sama-sama membangun negeri. To make it work, kampanye ini memang butuh dukungan dari semua laki-laki, kalau untuk perempuan doang jadinya terpisah. The point is always untuk bikin orang aware dulu, lewat social media dan nanti juga video yang sudah kita shoot akan dimasukkan ke bioskop dan digital.

Do you see yourself as a humanitarian?

I want to be. But I don’t know, it depends on what you do, you cannot say yourself as a humanitarian but you never really there. I try my best to, at least support the humanity program. But to claim myself as humanitarian I don’t think I have the credibility. I haven’t been in Syria, Sudan, or Aceh. So far I’m still doing it through penggalangan dana and the practical campaign to raise the money for them. But I don’t think its enough. I’m just a supporter of humanity.

What make you proud as Indonesian actor?

I’m proud as Indonesian actor because being Indonesian actor brought me my career. Saya kan bukan orang Indonesia yang tinggal di Amerika. Bukan orang Indonesia yang pindah ke Amerika terus berkarier di sana dari nol. Karierku dimulai di sini dan yang membukakan pintu untuk film-film Hollywood yang aku dapat itu karena aku main film Indonesia. Film Indonesia The Raid yang membukakan pintu aku ke sana, that’s the movie I’m always being proud of, karena kalau nggak ada film itu ya nggak ada Fast, Star Trek, dan nggak ada hari ini juga. That’s Indonesia movie, man. You have to be proud too.

Pernah ada keinginan untuk tinggal di luar negeri demi karier?

Pindah sih belum. I don’t think so, kecuali memang pekerjaan di sana harus stay lama. Tapi juga akan balik lagi, I don’t think I will move to anywhere else. Kalau ada tawaran film di luar ya kita bakal syuting, kelarin. Udah kelar ya pulang lah. Sekarang belum kepikiran sama sekali, plus everything is fine here. Semua di sini baik-baik saja. Education wise it’s good, life wise it’s good. It’s home lah.

Including the recent politics situation?

It’s okay… Everything is gonna be fine. When it’s done, it’s done. Everybody will hug each other.

Hopefully.

Possibly.

L1001424 copy

21 Questions With…. A. Nayaka

Being the hottest rapper in town and getting himself busy with gigs and projects, A. Nayaka kinda surprises me when he releases his latest EP called Colorblindflo right on April Fool’s Day month ago. Collaborating with the usual suspects like Yosugi, Aytsaga, TRIP TRVP, Saesar, Ben Utomo, and NAJ, he describes the 6 tracks EP as a banger album full of heavy traps that could be the perfect anthem for your home party. “But you really have to listen to the last song tho. Where the first 5 songs I go all out crazy, the last song I poured my heart out and basically explained the things I’ve been through in the past couple of months, and eventually finding an escape from that,” says Nayaka about the track called “Escape”. Not stopping to catch a breath, he’s already back to studio for his upcoming full-length album which tentatively called When The Internet Raised Your Kids set to release on Summer. To learn more about this guy, I throw him 21 trivial questions and here are his answers

What’s your favourite breakfast?

A hotel buffet breakfast.

What’s your favourite cartoon when you were a kid?

Yu-Gi-Oh.

 20b

What’s your favourite video game of all time?

The Amazing Spider-man on PS1.

Spider-Man_2000_game_cover

Do you have a nickname?

Close friends call me “Bill”.

What’s the worst haircut you ever had?

Went skin bald during winter in Europe.

What was the first live act you saw?

My Chemical Romance. 

What was the last movie you watch?

It’s not a movie, but I’ve been hooked on Black Mirror the TV series.

 black-mirror-masks

Who’s your favourite person to follow on Instagram?

@floydmayweather

floyd

Who’s the most famous person you ever met?

@carissaperusset

carissa

What’s your favourite beer?

This German beer called “Kolsch”.

Kolsch 

What’s your favourite drunken/stoned snack?

Ramen is a snack for me.

What’s your worst habit?

I criticize everything.

What’s your favourite emoji?

The “100” emoji and the upside down smile emoji.

100_Emoji

Heavy Metal or EDM?

The heaviest metal possible.

Raisa or Isyana Sarasvati?

Raisa, cause apparently I sat next to her table at the ramen place earlier, but I don’t know her LOL.

Do you have pet?

Yes, she is a dog that’s a mix between a Shih Tzu and a Maltese, her name is Molly.

Do you believe in horoscope?

Yes, in a way, but I’m more into Feng Shui.

What’s the coolest thing you ever heard about you?

When people come to Blue Room Studio (my home studio) and they say “You know how many great people have worked here?”

If you could pick any director to direct movie about your life, who would it be?

Gaspar Noé.

gaspar

What song you would like to play on your funeral?

Explosions in the Sky – “Your Hand In Mine”.

What are you plans for this remaining year?

I really want to do more shows and hopefully more international shows as well because nothing feels better than travelling, meeting new people, and get paid off your hobby.

On The Records: Sunmantra

Saat memutuskan mengajak visual artist Psychobiji untuk tampil di malam final NYLON Face Off, kami langsung membayangkan aksi musik apa yang tepat bila disandingkan dengan visual liquid nan trippy yang akan diracik olehnya. Pilihan kami pun jatuh pada Sunmantra, duo indie electronic Jakarta yang terdiri dari Jonathan “Jojo” Pardede dan Bernadus Fritz Adinugroho, and we proudly says we make a right choice. Musik techno andalan Sunmantra seperti “Silver Ray”, “Elusive Synergy”, dan “When You Bite My Lips” seolah bersinergi sempurna dengan visual yang disajikan sebagai backdrop. It feels like a match made in audio visual heaven dan membuat NYLON Face Off tahun ini begitu memorable.

Tercetus dari tahun 2012, Sunmantra sejatinya bermula dari proyek long distance saat Jojo dan Fritz masih berkuliah di negara yang berbeda. Sesi tukar-menukar file Digital Audio Workstation menjadi jalan bagi mereka untuk membuat lagu-lagu techno yang diramu dengan genre lain seperti krautrock, shoegaze, atau elemen apapun yang mereka anggap menyenangkan dan bisa membantu lagu yang sedang digarap agar terdengar lebih hidup. Sampai sekarang pun, walau telah stay di kota yang sama, metode ini masih mereka jalankan. “Kita jarang banget ngerjain lagu bareng, biasanya kita satu studio kalau udah mau mixing. Semua draft musik dibuat di studio masing-masing. Jadi bisa aja kita bikin lagu sendiri-sendiri terus baru dipilih yang mana yang cocok buat Sunmantra, sisanya kita pakai buat proyek pribadi,” ungkap mereka.

 Nama Sunmantra sendiri bisa dibilang muncul secara magis di mimpi Jojo. “Jadi di dalam mimpi itu gue lagi di atas panggung di sebuah festival dan ngeliat drum head-nya bertuliskan ‘Sunmantra’, nah setelah bangun gue langsung chat Fritz dan bilang, ‘Kayanya kita harus punya band namanya ‘Sunmantra’,” kenang Jojo. Magis dan menghipnotis, diperkuat oleh ciri khas mereka memakai facepaint saat manggung, penampilan live Sunmantra adalah salah satu aksi lokal yang wajib dinantikan dan disaksikan dengan mata kepala sendiri. “Waktu live, mindset kita adalah ‘menghibur penonton’ jadi kita taruh posisi kita dalam point of view-nya penonton, jadi gimana caranya kita bikin live set kita seseru mungkin. Bisa aja kita pakai yang sama dengan recording, bisa juga berbeda, kita lihat bigger picture dari set-nya sendiri.”

            Dengan respons positif yang terus diraih lewat beberapa single dan live act yang seru, wajar jika banyak orang penasaran mengapa Sunmantra belum merilis album apapun. Sambil tertawa, mereka menjelaskan jika sebetulnya dari dua tahun lalu mereka sudah ingin sekali merilis album di bawah nama Sunmantra yang sayangnya akhirnya terus tertunda karena kesibukan keduanya di proyek masing-masing. “Tahun ini kita bakal rilis sesuatu sih, semoga bisa dirilis sebelum puasa,” janji mereka dengan singkat. Sempat mengerjakan beberapa remix untuk musisi lain, saya pun menanyakan kolaborasi impian mereka. “Mungkin Sasha Grey ya? Suaranya bagus banget. Kita rasa untuk Sunmantra yang musiknya cenderung gelap bisa cocok sih,” tutup mereka.

            Sembari menunggu materi berikutnya, Jojo dan Fritz pun mengungkapkan beberapa album yang paling berpengaruh dalam karier musik mereka. Foto oleh: Bhrahu Pradipto.

Jojo:

 da82227f0cf94551c55520099b2e523a

Bad Music for Bad People

The Cramps

Kalau nggak ada album ini mungkin gue nggak nge-band sih, dari SMP gue udah tergila-gila sama Lux Interior dan Poison Ivy, panggung mereka selalu powerful dan energetic.

 the_brian_jonestown_massacre_their_satanic_majesties_second_request-front

Their Satanic Majesties’ Second Request

The Brian Jonestown Massacre
Album ini membuat gue akhirnya milih kerja di musik setelah lulus SMA.

sound of silver

Sound of Silver

LCD Soundsystem
Album yang selalu membuat gue terkesima dalam pemilihan sound-nya. Nggak nyangka dance music bisa dibikin sekece ini.

Fritz:

rotten apples

Rotten Apples

The Smashing Pumpkins

Dulu kira-kira tahun 2004-an gue beli kaset ini zaman masih nyari-nyari sound gitar. abis dengerin album ini gue langsung ngulik efek dan mulai nemuin sound yang gue suka.

 nin-with-teeth-cover

With Teeth

Nine Inch Nails

CD ini masih ada di mobil gue sampai sekarang, lumayan bisa dibilang kalau nggak dengerin ini gue kayaknya nggak bakal mikir buat dengerin techno, EBM, dan kawan-kawannya.

nite-versions-4e514653e5bf7

Nite Versions

Soulwax

Gue doyan banget album mereka ini, salah satu yang bikin gue penasaran buat ngulik synthesizer dan mulai nyoba bikin lagu yang isinya nggak full gitar-gitaran aja.

#30DaysofArt 30/30: Windi Apriani

Lahir di Bandung pada 10 April 1987, minat berkesenian dalam diri Windi Apriani sudah tertanam sejak dini. “Semenjak kecil saya sudah akrab dengan media lukis. Betapa tidak, memiliki seorang bapak yang hobi melukis sedikit banyak mempengaruhi bakat dan minat saya hingga kemudian saya diterima di FSRD ITB, membuat saya makin serius untuk menekuni jalur berkesenian. Yang mempengaruhi kekaryaan saya rasanya akumulasi dari masa kecil, hingga saat ini, dan pasti masa yang akan datang,” pungkas seniman yang dikenal dengan lukisan bermedium ballpoint dan oil di atas kanvas yang kerap kali berupa self-portrait dan menggambarkan simbolisme kehidupan domestik seorang wanita. Memiliki keluarga kecil bersama sang suami Agung Fitriana yang juga seorang seniman serta sang buah hati, peran barunya sebagai seorang istri dan ibu tak menyurutkan langkahnya dalam seni, hal itu justru menjadi katalis yang memperkuat konteks dalam karya wanita yang juga gemar membuat roti dan kue ini.

windiapriani 

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak kecil saya selalu melihat bapak melukis, sejak saat itu mungkin ya. Hingga kemudian saya diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, membuat saya makin serius untuk menekuni jalur berkesenian.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Keinginan untuk menjadi seorang seniman adalah cita-cita saya sejak dulu, passion saya ada di situ, hal itulah yang mendorong untuk selalu produktif berkarya.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Ada banyak ya, salah satunya Vilhelm Hammershoi, sebagai referensi pada beberapa periode awal karya saya.

windi-apriani-internal-dialogue-iii-ballpoint-and-oil-on-canvas-200x150cm-2016

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Ketika masih mahasiswi, sebagaimana umumnya ada fase eksplorasi medium, pun gagasan visual dalam kekaryaan. Dari sekian medium yang pernah dicoba, semakin lama saya semakin nyaman menggunakan ballpoint dengan teknik/metode crosshatching.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Saat aspek intrinsik dan ekstrinsik saling menunjang satu sama lain.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Secara umum, karya saya berangkat dari hal ihwal pengalaman personal, ihwal masa, ihwal momen, ihwal objek/benda-benda yg saling kait-mengait dan memorable bagi saya.

the-hush-sound

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama saya sebetulnya saat saya berumur 3 tahun, melukis dengan tangan, cat minyak di atas kanvas dan masih tersimpan sampai sekarang, hehe. Sedangkan pertama kali berpameran sewaktu mahasiswi dulu, pameran yang sifatnya lebih kepada karya studi. 

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Saya bersyukur atas apa yang saya jalani, setiap momen (kaitannya dengan karier kesenimanan dan aspek kekaryaan) saya rasa selalu berkesan.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Saya rasa cukup positif.

long-afternoon-shadows

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Cukup bagus. Menunjukkan grafik yang optimis.

What’s your secret skill besides art?

Hmmm, membuat kue dan roti.

rhythmical-afternoon

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di dapur, baking time.

Target sebelum usia 30?

Punya anak kedua.

after-nature

 

 

#30DaysofArt 29/30: Wastana Haikal

“Nama lengkapku Haikal, tapi aku coba tambahkan unofficial name di depan, yaitu Wastana (‘wasta’ di dalam Bahasa Sunda artinya ‘nama’, wastana = namanya). Why I chose this name because everytime I introduce my name, everybody always asking me my full name,” ungkap freelance graphic desainer kelahiran Bandung, 12 Juni 1994 yang baru saja lulus dari DKV ITB ini. Terinfluens dari kartun masa kecil seperti film-film Disney’s serta serial animasi Avatar: The Last Airbender, ia mengembangkan gaya ilustrasi yang terkesan quirky, vibrant, dan penuh detail. Maka tak heran jika ia pun menaruh minat khusus pada animasi. Proyek akhir kuliahnya berupa film animasi pendek 2D bertajuk Biwar yang berdasarkan folklore Papua adalah bukti dari talentanya yang menjanjikan.

haikal

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Specifically,aku lupa. Tapi, keluarga aku dari ibu dan ayah memang banyak yang tertarik terhadap seni dan estetis. Kakek aku, dua-duanya senang menggambar, tanteku tertarik dunia fashion, tante aku yang lain tertarik di bidang kerajinan, ibuku senang terhadap nilai estetis dalam berpakaian atau hiasan rumah. Jadi mungkin secara alami alam memperkenalkanku terhadap seni. Tapi untuk yang secara formal itu sepertinya terjadi waktu SD, jadi aku masuk ekstrakulikuler gambar, nah di situ gurunya adalah guru kelas keterampilan. Beliau adalah orang kedua yang sering melibatkan aku di dalam lomba gambar setelah ibuku.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Satu, tanggung jawab sebagai lulusan sekolah desain yang menurut aku emang harus selalu berkarya. Dua, mata pencaharian, haha. Tapi pada dasarnya aku senang banget buat sesuatu.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Emte, NALU, Diana Volonskaya, Kelly Beeman, Ariel Victor, Zaruhi Galstyan, Rebecca Green, Oliver Jeffers, Rachel Ajeng, Alina Chau, Maruti Bitamin, and many more.

biwar

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Saat masuk kuliah, aku diperkenalkan dengan cat air oleh dosen gambar bentuk. Sebelum itu aku sudah tau apa itu cat air tapi belum pernah menggunakannya, lebih sering menggunakan pensil warna yang bisa di-blend menggunakan air. Nah, saat aku coba cat air, aku seneng banget. The after effect was mesmerized me. Stroke-nya sama hasil “beauty mess” yang ia hasilkan. Akhirnya mulai dari situ aku pakai cat air terus untuk membuat karya-karya manual. Pada satu waktu aku akhirnya beli pen tablet karena aku ingin mengasah skill digital drawing (cat air masih tetap berjalan). Intinya, sampai sekarang aku masih menjalankan manual dan digital karena aku merasakan ada keindahan tersendiri dari mereka berdua, dan terkadang mereka memiliki misi yang berbeda, dalam artian ada beberapa konsep karya yang aku rasa lebih cocok pakai manual, atau lebih cocok pakai digital sehingga aku menetapkan untuk mempertahankan itu.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Festive, vibrant, cheerfull, quirky, immature, detail, exaggerate.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama aku, kata ibuku adalah ikan lumba-lumba di lantai rumah pada saat umur 3 tahun. Dan semenjak itu aku terus menggambar sampai detik ini. Kalau official pameran aku yang pertama pas ada di tingkat 1 kuliah. Pameran tugas akhir tahun 1 untuk penentuan program studi di tingkat 2. Seperti mahasiswa yang lain, aku menampilkan tugas-tugas tingkat 1 seperti Nirmana, gambar bentuk, gambar konstruksi, dan lain-lain. I was so excited that time bukan karena pamerannya tapi karena persiapannya yang benar-benar mengerahkan 200+ orang satu angkatan untuk membuat pameran itu. Kami menginap di kampus, men-display, dan lain-lain.

untitled

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Berkesempatan meluncurkan buku ilustrasi anak pertama aku awal tahun 2016 di bawah asosiasi Room To Read dan PROVISI dan menyumbangkannya hampir ke seluruh perpustakaan terpencil di Indonesia bersama buku-buku dari ilustrator lain. Satu lagi, ini agak fanboyish tapi, I was so happy salah satu karya aku tentang Meghan Trainor mendapat apresiasi dari Meghan Trainor dan dia me-repost itu.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Aku bisa mendapatkan unlimited referensi. Like really. Unlimited. Jadi aku bisa tau orang-orang skill-nya udah sampai mana, media apa saja yang dipakai, tutorial, dan lainnya yang menyangkut kemakmuran skill kita. Dan kalau beruntung kita bisa personal message ke artist yang kita tuju dan menjadi teman di dunia maya. Tapi terkadang aku bakal mudah putus asa. So many talented people on internet. Dan nggak jarang karya mereka keren mampus. Dan kadang aku suka jadi down, putus asa, dan bahkan bisa sampai berhenti berkarya. Padahal mungkin aku harus sabar sedikit, siapa tau aku sedang on the way ke sana with more practice and intergrity atau aku memang nggak bisa kaya yang lain karena memang itu keunikan aku dan gimana caranya keunikan aku itu jadi nilai tambah.

guys

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Kalau untuk Bandung sendiri, aku udah mulai senang karena sudah mulai didandani di sana-sini. Nuhun Kang Emil. Sebagian orang bilang beliau hanya menata kota namun tidak membenahi kota. Well, I think dia membenahi kota juga. Kota itu di dalamnya ada manusia, dan manusia butuh hiburan dan sesuatu yang eye pleasing dan Ridwan Kamil udah bikin itu dan menjadi contoh untuk kota- kota lain. Walaupun Bandung sekarang macetnya udah mampus. But anyway, I like his programs and progress. Orang-orang di Bandung, contohnya saja di ITB sudah mulai menyadari berapa besar nilai seni dan desain di berbagai aspek kehidupan. Dalam bikin acara, brand dan lain-lain. Bahkan ada kabar, karena ITB sedang mengejar sebuah akreditasi, mereka mengajak teman saya untuk membuat mural di setiap fakultas. And it’s such an old song, every time I graduate from school, the school gets more beauty. Tapi ya gitu, sebagian besar orang masih kurang concern terhadap nasib dompet para desainer dan seniman. Hiks.

Current obsession?

I really want to go to America no matter what the purpose is. I want to live there, one week is enough. I want to be one of the animator, or illustrator, or intern in Walt Disney’s movie production.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di kamar aku, duduk di depan laptop. Aku nggak terlalu banyak main keluar pas weekend, karena jarak rumah aku jauh dari pusat kota, bisa 2 jam. Jadi keluar rumah kalau ada occasion aja. Paling aku keluar ke Miko Mall, nearest mall that provides duniawi amusement from my house kaya bioskop, KFC, McD dan lain-lain. Paling jauh ya sekitaran Kota Bandung, terutama Dago. Biasanya aku kumpul sama teman sambil ngobrol atau ngerjain kerjaan.

baroque-2

Project saat ini?

Aku baru menyelesaikan proyek animasi dari J&T Express semacam pengantar paket yang digunakan untuk pelatihan para kurir. Aku juga baru menyelesaikan proyek buku cerita seri tentang pertumbuhan seorang cewek, aku dapat bagian cerita saat dia menemukan kesempurnaan dirinya. Selanjutnya aku bakal ikutan workshop ilustrasi bersama Room To Read dan PROVISI dengan penerbit-penerbit yang dari workshop tersebut akan dibikin buku cerita anak dan dibagikan ke perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Lalu aku lagi merencanakan bikin studio animasi bareng partner aku.

Target sebelum usia 30?

Menaikkan haji orang tua, memiliki kendaraan pribadi, lulus S2, menjadi desainer yang memiliki pribadi yang baik, terlibat dalam produksi animasi baik luar atau dalam negeri, have 10k followers on Instagram.

jovi

#30DaysofArt 28/30: Theo Frids Hutabarat

Melewati masa kecil di Bekasi yang menurutnya jauh dari paparan dunia seni, satu-satunya akses bagi seniman kelahiran Jakarta, 6 Februari 1987 ini pada dunia seni rupa adalah melihat gambar di buku. “Waktu SMP saya pertama kali melihat buku tentang Vincent van Gogh di sebuah toko buku. Karena saya tidak sanggup beli buku itu, jadi saya pelototi isi buku tersebut agar semua terekam di dalam kepala. Dari buku itu juga saya tahu saudara laki-laki Vincent namanya sama dengan saya, Theo. Sejak saat itu saya berpikir mungkin ini pertanda, haha,” kenang peraih magister FSRD ITB yang saat ini juga berprofesi sebagai guru seni rupa di sebuah sekolah swasta di Bandung. Selama masa studinya, ia menemukan minat pada persoalan di sekitar proses penciptaan karya lukis yang kemudian diwujudkan dalam karya-karya lukisan yang menampilkan seorang pelukis yang sedang men-trace karya-karya pelukis lain melalui bantuan proyeksi, sebuah insepsi menarik yang menyoal referensi dan originalitas dalam dunia yang ia geluti

theo-frids-hutabarat

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak kecil saya suka menggambar, tapi gambar saya saat itu banyak dipengaruhi komik-komik Jepang, khususnya Dragon Ball dan Offside. Orang tua selalu mendukung saya, tapi secara khusus saya ingat momen di mana almarhumah Nenek memarahi ibu saya karena sempat melarang saya kotor-kotoran saat membuat karya. Berkat kejadian itu saya seperti mendapat license untuk berkreasi sebebas-bebasnya, haha. Saya juga ingat guru seni rupa saya di SMP, Pak Aji Sumakno, yang mengenalkan saya pada cat air dan memamerkan hasil karya saya di sekolah. Waktu itu rasanya bangga sekali bisa memamerkan karya ke teman-teman di sekolah.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Menurut saya, karya seni mestinya bisa menyediakan jeda dalam hidup yang makin cepat dan sibuk ini, untuk menyadari hal-hal yang terlewat dan tidak sempat terpikirkan.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Francis Bacon, Egon Schiele, Paul Cezanne, dan tentu saja Vincent van Gogh.

the-labor-oil-on-canvas-200x150-cm-2014

Bagaimana kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sejak masuk Studio Seni Lukis FSRD-ITB, saya menghabiskan banyak waktu di dalam studio dan melakukan eksperimentasi dalam melukis. Menjelang tugas akhir, saya menyadari potensi dari proyektor dalam membantu membuat lukisan, misalnya untuk memperbesar gambar agar bisa di-trace ke atas kanvas. Dari situ saya mulai menggunakan proyeksi dalam karya saya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya tertarik pada persoalan di sekitar penciptaan seni lukis. Kanvas, sketsa, ide, referensi, dan originalitas adalah beberapa kata kunci dalam kekaryaan saya. Lukisan-lukisan saya sering menggambarkan pelukis yang sedang men-trace karya-karya pelukis lain melalui bantuan proyeksi. Karena karya saya seperti ini, sampai-sampai seorang teman mengatakan kalau saya tidak pernah punya lukisan dengan trademark saya sendiri, haha.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran karya cat air saya waktu SMP. Sampai hari ini karya tersebut masih dipajang di rumah. Kalau pameran ‘serius’ pertama, tidak lama setelah sidang tugas akhir kuliah saya, sekitar tahun 2009. Seusai sidang, dosen pembimbing saya (yang kebetulan kurator) meminta karya tugas akhir saya untuk dipamerkan di sebuah galeri di Jakarta.

 tracing-insulinde-video-projection-on-painting-dimension-variable-2015

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mendapat kesempatan untuk mempresentasikan karya dalam solo project di ArtStage Singapore 2015 dan berpartisipasi dalam pameran 125.660 Specimens of Natural History di Galeri Salihara pada tahun yang sama. Pameran yang membaca warisan Alfred Russell Wallace ini sangat berkesan buat saya, karena secara kritis memperlihatkan pengaruh pengetahuan manusia terhadap alam. Dua curator pameran ini, Etienne Turpin dan Anna-Sophie Springer, berhasil membangun sebuah narasi pameran yang menyadarkan saya akan risiko dari perkembangan ilmu pengetahuan.

 

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Saya bukan pengguna social media. Sehari-hari hanya menggunakan email, WhatsApp, dan Line. Tapi teman-teman saya sering menyarankan saya membuat Instagram. Katanya bagus untuk memperkenalkan karya kita ke khalayak luas. Mungkin benar, ya?

 

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Art scene di Bandung mulai memperlihatkan pergeseran dari ruang-ruang pusat seni ke arah ruang-ruang alternatif, di mana seni rupa bisa cair berbaur dengan musik, fashion, dan gaya hidup. Ruang-ruang seperti Spasial dan Pabrik Tekstil Cicaheum menawarkan pengalaman pameran yang lebih santai dan egaliter karena mayoritas diisi oleh anak-anak muda. Semoga saja keadaan ini terus berkembang, sehingga dunia seni rupa Bandung tidak lagi terasing di ruang yang itu-itu saja.

the-chair-oil-on-canvas-200x150-cm-2015

Punya talenta rahasia di luar seni?

I’m good at organizing things. Sepertinya turunan dari bapak-ibu saya. Kalau obsesi, saat ini saya sedang maraton nonton film-film dari Lee Yoon-ki, Hong Sang-soo, dan Hirokazu Koreeda.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Having a me time di daerah Dalem Kaum dekat Alun-alun Bandung, khususnya di Toko Simanalagi yang menjual pisang goreng terbaik in town. Atau tenggelam dalam buku-buku di Kineruku. Tapi stay di rumah, kumpul bersama teman-teman, dan nonton bioskop dadakan pakai proyektor juga selalu menjadi pilihan. Bandung selalu macet saat weekend, jadi kalau tidak terpaksa pergi, stay di rumah adalah pilihan terbaik.

 im-art

Project saat ini?

Saya sedang mempersiapkan pameran tunggal pertama saya. Project ini akan menyoal ‘kekosongan’ di tengah praktek seni lukis sekarang, khususnya di Indonesia.

Target sebelum usia 30?

Pameran tunggal! Rencana pameran ini sudah lama tertunda, jadi tidak sabar ingin segera jadi.

viva-la-capital

#30DaysofArt 27/30: Tara Astari Kasenda

“Sewaktu sekolah dasar, saya mulai belajar melukis dengan seorang guru bernama Roelijati, ternyata beliau adalah salah satu seniman perempuan alumni ASRI (sekarang ISI) Yogyakarta angkatan tahun 50-an. Ajaran-ajaran beliau tentang seni, terutama seni rupa barat masih saya ingat sampai sekarang dan banyak yang saya jadikan pakem untuk membuat karya,” papar alumni FSRD ITB jurusan Seni Lukis ini tentang salah satu influens dalam karyanya. Walaupun akar ilmunya memang seni lukis, namun seniman muda kelahiran Jakarta, 27 Mei 1990 ini tak pernah berhenti bereksplorasi dengan berbagai medium. Mulai dari menggabungkan digital print dengan medium yang lebih konvensional seperti akrilik dan cat minyak, resin sculptures, instalasi, hingga image transfer di atas silicone sealant.

 profile-pic

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Ketertarikan kepada seni muncul dengan sendirinya sejak kecil, yang memperkenalkannya saya nggak ingat. Mungkin mama saya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Ya, passion terhadap seni itu sendiri.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Cy Twombly.

ini-budi-lagi

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Gaya dalam karya saya terbentuk perlahan-lahan selama saya kuliah. Sedangkan kalau soal medium sampai sekarang saya masih terus eksplorasi.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya ketika saya menyelesaikan tingkat pertama di kampus bersama teman-teman seangkatan saya.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Selalu ikuti perasaan dan intuisi dan menstruktur keduanya dalam sebuah konteks.

a-lighter-shade-of-pale

Bagaimana kamu mendeskripsikan ciri khas dalam karyamu?

Dari dulu sampai sekarang warna-warna yang saya ciptakan untuk karya saya selalu warna pastel lembut, biasanya dikombinasikan dengan objek-objek yang diburamkan. Nuansa karya saya dreamy dan ambigu. Oh ya dan sudah 3 tahun terakhir ini karya saya mengeksplorasi silicone sealant sebagai medium berkarya.

 

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Solo presentation di Art Taipei 2015 sebagai salah satu young emerging artist di Asia.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sama rasanya seperti orang-orang lain dengan profesi-profesi lain di era ini.

equator-art-project

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Industri kreatif secara keseluruhan saya rasa sedang marak-maraknya di Jakarta sekarang.

What’s your current obsession?

Pipil, anjing saya.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah.

 

Project saat ini?

Sekarang saya sedang fokus mempersiapkan pameran bersama kantor saya, whateverworkshop.

Target sebelum usia 30?

Tidak ada yang spesifik.

somatic-markers

#30DaysofArt 26/30: Sarita Ibnoe

Mendeskripsikan masa kecilnya sebagai anak yang pendiam dan lebih suka mengamati sekitarnya, menggambar pun menjadi penyampaian ekspresi bagi seniman kelahiran Jakarta, 3 April 1989 ini. “Pertama kali saya coba menggambar itu waktu SD kelas 3 atau 4. Pulang sekolah saya langsung ke rumah dan kebetulan jam-jam segitu supir ayah saya pasti lagi di rumah. Pak Yono ini suka ngajak saya gambar, jadi dia gambar sesuatu lalu saya meniru gambarnya di kertas yang berbeda. Lalu yang saya ingat juga dia ngajarin cara bikin cincin dari karet gelang. Haha. Ya sejak itu deh saya jadi kebiasaan coret-coret,” ungkap lulusan Middlesex University, London ini. Selain medium charcoal dan akrilik yang menjadi andalan untuk menciptakan karya yang lekat akan imaji keseharian dari pengalamannya sehari-hari yang terkesan sketchy dalam palet warna earth tone yang hangat, saat ini Sarita juga sedang gemar bereksperimen dengan medium lainnya seperti instalasi dan seni serat.

 unnamed-1

Kapan dan siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Saya datang dari keluarga yang biasa saja, bukan yang berkesenian. Ya walaupun saya punya oom dan tante yang seniman dan designer. Dari kecil saya tinggal di Jakarta sampai umur 13 lalu saya harus pindah ke Kuala Lumpur karena pekerjaan ayah saya. Akhirnya saya melanjutkan sekolah dan kuliah di sana. Tapi tahun terakhir kuliah saya pindah ke London dan akhirnya lulus S1 di sana. Sepertinya oom dan tante saya yang berkesenian itu mempunyai banyak pengaruh ke saya. Waktu kecil saya sering main ke rumah mereka dan melihat pekerjaan-pekerjaan yang sedang mereka kerjakan; dari melukis hingga graphic design. Dan sampai saat ini, kurang lebih itulah yang saya kerjakan. Dari kecil saya termasuk orang yang kalem, jarang ngobrol, dan suka ngeliatin orang, haha. Mungkin itu juga kebawa sampai sekarang dan terlihat dari karya-karya saya juga.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Awalnya saya pikir saya menggambar terus karena saya nggak bisa yang lain. Hehe. Tapi nggak sih, saya tetap berkarya karena saya menemukan keseruan tersendiri waktu berkarya. Walaupun pasti ada stressnya, tapi tetap penasaran dan ingin tahu sampai sejauh apa saya bisa berkarya. Menurut saya berkesenian itu pekerjaan yang misterius, haha. Nggak ada yang ngeh kalau ini juga susah, kecuali pekerja seni juga. Tidak ada benar salah, perlu pemikiran panjang, konsep yang matang, eksekusi yang hati-hati. Tapi kalau dilihat oleh orang awam, yang terlihat mungkin hanya bagusnya saja. Hal ini juga sih yang bikin seru.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sepertinya saat ini saya pun masih mencari. Adapun style atau medium yang saya pakai selama ini adalah hasil dari jam terbang dan experiment yang saya lakukan.

img_2040

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Di awal-awal berkarya, saya sangat suka karya-karya Mark Rothko dan Kurt Schwitters. Seniman lain yang saya idolakan adalah Kimsooja, Gerhard Richter, Agnes Martin, Marina Abramovic. And of course my local heroes: Handiwirman Saputra dan Ay Tjoe Christine.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Ekshibisi pertama saya sebenarnya waktu mau lulus, tapi it is requirement dari universitasnya, jadi mungkin jangan dihitung ya.

Waktu balik ke Jakarta saya kesulitan banget untuk mencari teman atau bergabung dalam ‘kelompok’ apapun. Teman sekolah dari dulu sudah entah kemana dan sedikit juga yang berkesenian. Tapi lama-lama teman-teman kuliah saya yang orang Indonesia akhirnya balik, jadi kami berkumpul lagi. Dari koneksi melalui mereka, akhirnya saya dan seorang seniman lain bikin pameran sendiri di sebuah café dan pada saat pembukaan ternyata lumayan seru juga, banyak yang datang.

Ada satu lagi ekshibisi pertama saya, yaitu: ekshibisi pertama saya di galeri dan dengan kurator. Bagi saya ini sebuah milestone yang penting, karena jadi tau proses kerja seniman pada umumnya dan dari sini juga saya berkembang sampai sekarang dan berkenalan dengan orang-orang di dunia seni nggak hanya di Jakarta tapi juga mereka yang berbasis di Bandung dan Jogja. Ekshibisi ini berlangsung di tahun 2012 di dia.lo.gue waktu saya lolos seleksi program mereka: Exi(s)t #2. Proses pameran ini cukup panjang, dan lumayan stressful karena istilahnya baru tau tentang fine art yang sebenarnya, sambil terjun langsung berkarya. Tapi hasilnya juga jadi lebih memuaskan, karena dengan proses itu, karya saya jadi lebih beralasan dan bercerita, bukan lagi hanya sekadar skill menggambar saja yang digunakan.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Idealisme saya dalam berkarya adalah di mana saya punya waktu yang cukup.

img_1965

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Saya terbiasa membuat karya dari keseharian dan pengalaman saya. Dan juga terinspirasi dari dialog-dialog bersama orang lain. Sering kali gambar/karya saya terkesan sketchy dan mempunyai pallete warna yang khas.

Apa yang menjadi personal breakthrough paling berkesan sejauh ini?

Setiap saya menyelesaikan sebuah karya yang menurut saya memuaskan, itu sudah menjadi sebuah pencapaian. Sejauh ini mungkin salah satu pencapaian yang berkesan adalah waktu membuat sebuah karya yang dijadikan finalis Gudang Garam Indonesia Art Award.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media sekarang?

Susah! Haha. Saya juga kadang-kadang bingung kenapa tetap dijalanin. Tapi ya udah, kecebur, jadi basahin aja sekalian.

 memendam-diam

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Art scene di Jakarta (atau mungkin di Indonesia) sedang sangat maju ya sepertinya. Walaupun awalnya kurang seimbang, dalam arti; banyak yang menjadi seniman, tapi bagian dari ekosistem dunia seni seperti artist manager atau kritikus seni dan lain-lain tidak naik secepat jumlahnya seniman yang bertambah. Tapi bagus juga semakin banyak orang aware dengan profesi-profesi dalam dunia seni.

Punya talenta rahasia di luar seni?

I am so good at travelling solo! Haha! Not sure if that’s a skill, but sure is one of my favourite thing to do.

img_5474_ 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Kemungkinan besar di rumah, haha. Mungkin kadang di pembukaan pameran atau di Roti Bakar Wiwied.

 

Project saat ini?

Sekitar setahun belakangan ini saya sedang merencanakan sebuah personal project tentang rumah atau tempat tinggal, tapi belum yakin akan jadi seperti apa. Sejauh ini kalau ada teman yang pergi ke luar kota atau luar negeri, saya selalu titip bawain tanah/kerikil dari tempat itu dan ditaruh di dalam botol transparan yang tertutup. Sampai saat ini saya sudah punya tanah dan udara dari hampir 30 kota! Hehe.

Target sebelum usia 30?

Menghasilkan karya dengan medium yang sangat berbeda dari yang biasanya saya lakukan.

img_6290

#30DaysofArt 25/30: Sakinah Alatas

Berasal dari keluarga keturunan Arab yang konservatif dan religius, arti seni bagi gadis kelahiran Bogor, 14 April 1994 ini adalah upaya untuk berdialog sekaligus mempertanyakan berbagai hal yang mengusik benaknya. “Saya mempunyai kegelisahan dalam masalah dampak dari tradisi pernikahan sistem endogami, pengkultusan Alawiyyin, dan status sosial yang diamini oleh banyak golongan Alawiyyin tersebut.  Alawiyyin adalah sebutan untuk suatu kaum/golongan yang memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad SAW. Dari latar belakang tersebut banyak yang mempengaruhi saya dalam pembuatan karya,” terang Nina yang masih berstatus mahasiswi seni rupa di Universitas Negeri Jakarta. Merasa belum pantas menyandang gelar seniman dan lebih nyaman disebut sebagai perupa, gadis yang kerap mengeksplorasi topik religi lewat karyanya ini juga memiliki organisasi massa yaitu ICFAM (Indonesia Contemporary Fiber Art Movement) dan kolektif Buka Warung yang terdiri dari 18 seniman perempuan.

img_5071-copy

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak duduk di Sekolah Dasar saya senang sekali menggambar dan sering ikut lomba menggambar walaupun jarang sekali menang, dan ketika SMP dan SMA saya senang dengan mata pelajaran Seni Budaya. Ketika kuliah saya tertarik untuk mengambil jurusan Seni Rupa, karena saya merasa hanya jurusan itulah yang saya bisa.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Mella Jaarsma, Agatha Olek, Sirin Neshat, Mulyono, Prihatmoko Moki, dan Hendra Blankon Priyadhani.

Bagaimana kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sampai saat ini saya belum menemukan satu medium/karakter medium yang cocok untuk saya, karena dalam berkarya saya kerap menggunakan banyak medium, dan juga masih terus mencari medium yang pas dan cocok untuk membicarakan apa yang ingin saya sampaikan.

dsc02230

dsc02246

Apa idealismemu dalam berkarya?

Dalam berkarya saya selalu mencoba jujur kepada diri saya, karya saya, dan audience. Saya senang sekali apabila ada audience yang merasakan hal yang sama seperti pada karya tersebut, di situ saya merasa senang sekali. Dan saya juga suka membuat karya yang menantang diri saya dan spontanitas.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan ciri khas dalam karyamu?

Dilihat dari ciri khas estetik dalam berkarya saya juga masih suka berubah, yang pasti saat ini saya suka dengan medium instalasi ruang, karena lebih bisa banyak bercerita dan mencoba mengajak audience untuk setidaknya dapat mengerti apa yang saya kerjakan dan berharap dapat dirasakan oleh audience.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya adalah pameran tugas dari senior setelah masa ospek selesai, temanya “Sama Rasa Sama Rata”, tahun 2012.

karya-terbaru2

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mengikuti program Three Musketeers di Ace House Collective Yogyakarta selama 3 bulan, yang mana saya mendapat bimbingan, pembelajaran, kritik dari banyak seniman-seniman di Yogyakarta juga bertemu orang-orang baru yang membuat saya mencoba untuk terus belajar bagaimana menjadi manusia berguna dan menjadi seniman.

Kalau untuk kamu sendiri, apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sebenarnya saya merasa belum pantas dijuluki sebagai seorang seniman, hehe. Lebih pede dibilang sebagai perupa aja kayanya. Di era social media seperti sekarang ini tentu memudahkan para perupa untuk mengenalkan dirinya ke publik, memperlihatkan karya-karyanya di social media, jadi saling mengetahui apa yang dikerjakan perupa-perupa lain hanya melihat di Instagram misalnya, tanpa pernah bertemu langsung. Memudahkan dalam mengetahui info acara pameran dan open submission untuk pameran, dan masih banyak lagi manfaatnya, yang pasti diambil yang positifnya aja sih, hehe.

bahan-colase2

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Fleksibel di mana aja. Yang pasti di Bogor atau Jakarta.

Project saat ini?

Project karya yang baru saja saya lakukan ialah “Mencari Kafa’ah” yang dipamerkan di Ace House Collective, Yogyakarta.

Target sebelum usia 30?

Pengen punya studio kerja sendiri, pengen menjelajahi Indonesia dan keliling dunia, udah itu aja.

bondage

#30DaysofArt 24/30: Ryan Ady Putra

Lahir di Jakarta. 30 Mei 1990, namun tumbuh besar di Jogja dan Magelang, ketertarikan pada seni dalam diri alumni DKV Institut Seni Indonesia ini muncul saat ia terekspos skena skateboard, musik, dan graffiti setempat. “Saya yang awalnya tidak tertarik sama sekali dengan menggambar karena saya pikir membosankan, menjadi sangat terobsesi dengan grafitti/mural, cover kaset/CD, dan skateboard graphic. Dari situ saya mulai mencoba meniru gambar yang saya lihat dan saya pikir keren. Setelah itu saya juga mulai membuat t-shirt dan sticker, di mana saya sendiri yang menyablon dan membuat graphic-nya. Hingga akhirnya saya melanjutkan kuliah di ISI yang membuat saya lebih tau banyak hal tentang seni,” ungkap pria yang juga aktif sebagai freelance designer untuk clothing brand baik dari luar maupun dalam negeri ini. Karyanya yang kental dengan semangat Do It Yourself dan humor tongue in cheek yang nakal telah dipamerkan di Bali, Singapura, Portland, Melbourne dan diliput oleh media seperti Juxtapoz.

 b46t9816

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sekitar awal tahun 2000-an, di mana saya mulai belajar skateboard dan tau mural/graffiti. Saat itu tidak ada satu orang yang spesifik mempengaruhi saya, karena minimnya informasi pada waktu itu yang terjadi adalah kita selalu bertukar informasi dari teman satu ke teman lainnya. Selanjutnya saya digging sendiri.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Pada awalnya saya hanya “do something cool” tanpa mengetahui bahwa dari something yang menurut saya cool itu adalah karya dan salah satu dari proses berkarya. Tetapi saat ini, berkarya sudah menjadi suatu kebutuhan bagi saya. Karena profesi ini mengharuskan untuk selalu dig more something new dan memberikan sesuatu ke dalam karya saya dari apa yang saya explore.

 

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Seniman yang banyak mempengaruhi saya adalah beberapa seniman yang ada di scene skateboard and surf. Seperti Ed Templeton, Sailor Jerry, Barry McGee, masih banyak sih kalau mau disebutin semua.

never-perfect-resize

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Saya tidak pernah membedakan satu medium dengan medium yang lain atau memilih style tertentu. Saya selalu membiarkan ini semua mengalir. Setiap medium mempunyai kesenangan dan kesulitan tersendiri. Medium bagi saya dapat membantu menuangkan gagasan-gagasan tertentu sesuai dengan konsep atau tema yang saya pikir dan untuk lebih merepresentasikan gagasan-gagasan saya tersebut. Tapi basically karya saya berasal dari drawing.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Saya tidak ingat spesifik pameran apa dan apa karya saya. Tapi dari momen awal-awal saya berpameran, yang selalu saya rasakan adalah gugup, malu bahkan merasa karya itu jelek ketika dipamerkan ke publik.Tapi lama kelamaan saya menjadi percaya diri setelah ada masukan dan komentar dari beberapa teman tentang karya saya.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Saya tidak punya satu idealis dalam berkarya. Just go with the flow and fun!

less-ride-more-selfie

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Ada beberapa keywords di dalam karya saya yaitu: Ironi, funny things, babes and skull.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pencapaian paling berkesan dan sangat berpengaruh bagi saya saat ini adalah menjadi artist yang bisa berkolaborasi dengan beberapa clothing brand favorit saya. Pada awalnya saya hanya dapat menjadi “fans” dari beberapa brand yang sekarang menjadi client saya, dan ketika brand yang saya sukai sekarang menjadi client saya, that’s what I called pleasure.

 

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Mungkin bisa dibilang saya adalah salah satu seniman yang ada di dalam era tersebut. Kalau dari sisi saya sendiri, saya mendapat banyak keuntungan dari hal itu. Selain mendapatkan banyak pekerjaan, saya juga mendapatkan banyak tawaran untuk berpameran dari orang-orang yang melihat portofolio online saya tersebut. Khususnya Tumblr dan Instagram.

the-opposite-of-happy 

What’s your secret skill beside art?

Kayanya nggak punya deh… Haha.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Saya tipikal orang yang tidak punya waktu kerja, jadi bisa saja saya mengabiskan waktu weekend dengan berkarya dan main pas weekdays.

tumblr_oedq910zhe1qjulcmo1_1280

 

Project saat ini?

Saat ini saya tidak ada satu project khusus karena awal tahun lalu saya baru saja pameran tunggal. Tapi saya berencana rilis beberapa merchandise dari keramik dan wool rugs.

Target sebelum usia 30?

Dua kali solo show kemarin di Bali, jadi next aku pengen solo show di luar negeri. Los Angeles kalau bisa. Haha.

tumblr_oedqa9v5qh1qjulcmo1_1280

#30DaysofArt 23/30: Radhinal Indra

Memutuskan resign dari full time job sebagai desainer grafis di firma desain LeBoYe untuk menjadi full time artist, keberanian seniman kelahiran Bima, 10 Februari 1989 yang sekarang tinggal di Bandung ini pun terbayar manis ketika karyanya yang mengeksplorasi pengaruh bulan dalam berbagai aspek kehidupan manusia (selenology) lewat lukisan akrilik di atas kertas, kanvas, dan alumunium dapat diterima dengan baik oleh publik. Mengaku sebagai pop culture geek sekaligus science enthusiast, Indra menyebut latar belakang keluarga dan masa kecilnya di Bima sebagai katalis berkarya. “Bima itu kota pesisir di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kota kecil, tidak begitu banyak kegiatan kesenian di kota saya. Keluarga saya adalah keluarga akademik, tidak begitu religius dan mencintai proses belajar dan ilmu pengetahuan. Ibu adalah guru Matematika yang galak, cocok dengan karakternya yang kalkulatif. Sedangkan bapak adalah social sciences enthusiast yang gemar berdiskusi dengan tetangga,” ungkap pria yang menyebut kata sustainable sebagai idealisme berkaryanya ini.

 radhinal_foto

Siapa sosok yang membuatmu tertarik pada seni?

Saya suka sekali nonton TV, mungkin anak-anak di kota gampang untuk mendapatkan poster, action figure, kartu, kaos Satria Baja Hitam, Power Rangers, Sailor Moon, dll. Tapi kami di kampung tidak. Atas rasa iri yang natural inilah memicu saya waktu kecil ingin membuat sendiri gambar-gambar yang terlihat di TV.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Saya suka potensi. Ketika melihat sesuatu lalu bergumam “Ini bisa diapakan lagi ya? Ini bisa bagus nggak ya? Lucu juga nih?” Begitu.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Kalau seniman: Martin Creed, Olafur Elliason, Donald Judd, Antony Gromley. Arsitek: Daniel Liebeskind, Phillip Johnson, Kengo Kuma, Peter Zumthor, Andra Matin.

radhinal_onbeing_roundcyclicandblood_aoc_eachdia30cm_2015_

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Kadang itu ditemukan setelah membuat beratus-ratus karya, yang menemukan bukan saya. Tapi orang lain yang mengamati rentang karya-karya saya sejak dulu. Respons mereka biasanya “Ah, ini lo banget.”

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya menjabarkan kemungkinan-kemungkinan dari suatu gagasan. Tahun lalu saya tertarik dengan konfigurasi. Mungkin tahun ini berbeda, let’s find out.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Masih, dan masih terbayang sampai sekarang. Itu di tahun 2014, September. Saya tidak punya pengalaman berpameran sama sekali. Yang saya tahu selama ini adalah kerja balik layarmembuat logo dan meloloskan proyek-proyek besar properti di Jakarta dan Bali. Itu di galeri RUCI, saya sedikit malu karena merasa sangat noob di antara list seniman-seniman lain yang sudah jauh lebih banyak pengalaman berpamerannya. Saya berpikir, bagaimana karya saya bisa steal the show. Mungkin itu yang memicu saya untuk berkarya dengan skala repetisi yang tinggi. Ternyata respons pengunjung sangat bagus, saya selalu ingat pameran ini sebagai standard effort yang harus saya berikan ke tiap karya saya dan pameran-pameran ke depannya.

moon_deforming_acryliconpaper_21x21cmeach_2016

Apa yang menjadi personal breakthrough paling berkesan sejauh ini?

Taking a risk from monthly salary to no salary at all at November 2014.

 

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Visibility. Sebaiknya konsisten terhadap apa yang dikerjakan sehingga audiens kita juga mengikuti perkembangan karya senimannya. Audiens lebih well-informed terhadap apa yang dilakukan seniman, sebelum mereka menghadiri suatu pameran dan saya rasa progress yang bagus. Satu hal yang tidak bisa dirasakan generasi seniman dekade 90-an dan sebelumnya; yaitu living with your crowds/fans/followers.

 

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Bandung is having a robust art scene. Peningkatan kualitas artistik terjadi di berbagai aspek, tidak hanya seni yang di galeri. Tambah bagus dan tambah banyak alternatif cara berkarya.

 radhinal_unsqueezed_acrylicdigitalcollage_120x120cm_2016

What’s your current obsession beside art?

Saya adalah comic, book, movie geek dan science enthusiast.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Bioskop, perpustakaan alternatif, pembukaan pameran, cafe sekitaran Dago dan toko loak.

Project saat ini?

Saya sedang menyiapkan solo exhibition di Jakarta untuk 10 bulan ke depan.

 

Target sebelum usia 30?

Membangun sustainable studio dan storage berukuran at least sekitar 10m x 10m x 5m agar bisa mengerjakan karya berukuran besar.

sayang-no-5

#30DaysofArt 22/30: Prayudi “Herzven”Herlambang

Jauh sebelum menjadi street artist seperti sekarang, pria kelahiran Jakarta, 7 Juli 1993 yang lebih dikenal dengan nama alias Herzven ini telah lebih dulu mencoret tembok rumahnya dengan alat gambar apa saja yang bisa ia temukan saat kecil. “Saya ingat dulu paling sering diajari menggambar orang sedang poop dari belakang oleh kakek saya yang memang menyukai hal-hal konyol dan bukan seorang seniman/perupa visual,” kenang lulusan Politeknik Negeri Media Kreatif yang tinggal di Depok ini. Injeksi humor dan kebebasan corat-coret dari masa kecil tersebut tetap terbawa dalam karya-karyanya sampai saat ini. Namanya menarik perhatian ketika ia memenangkan ajang Secret Walls di Indonesia Comic Con dua tahun terakhir ini bersama tim Indo dan Hongkong, namun sebetulnya ia telah aktif mengembangkan karyanya sejak masa kuliah baik secara personal maupun bersama komunitas street art seperti KOMPENI (Komunitas Pencinta Seni) dan Gerilya Visual, serta berpameran di beberapa tempat, termasuk Galeri Nasional.

unnamed

Apa yang mendorongmu berkarya?

Yang mendorong saya untuk berkarya sampai saat ini ya simple sih, karena saya belum memiliki alasan untuk berhenti melakukan hal ini dan saya sangat menyukai hal ini karena dengan cara ini kita berkomunikasi dan bersilaturahmi.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Saya ingin menggambar dengan cara yang enjoy, lepas, nggak harus mikirin salah ataupun mirip nggak mirip. Dan juga saya selalu melihat referensi-referensi dan sering mengkhayal aja, berimajinasi ngebayangin hal-hal yang absurd dan keren… Oh iya satu lagi, yang penting kita senang ngelakuinnya, mirip-mirip pas masih kecil dulu kalau lagi gambar corat-coret.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Banyak banget! Aryz, Osgemeos, Astronautboys, ROA, Saner Edgar, Salvador Dali, Neckface, Jean-Michel Basquiat, dan masih banyak lagi karena semua teman-teman saya adalah orang yang menginspirasi saya juga sih.

2015-06-10-04-01-59-1

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Coret-coretan anak kecil, bebas, ceria, slebor… asoy… geboy. 

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Kalau ditanya ekshibisi pertama saya lupa, tapi yang jelas saya selalu suka ketika berekshibisi dengan banyak teman-teman dulu dan lebih suka ngobrol dan ngumpul-ngumpulnya sih, hehe.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media sekarang?

Ya seru sih, dengan era yang kaya sekarang sangat memudahkan saya untuk menjalin komunikasi dengan teman-teman antar kota, antar provinsi, antar pulau, bahkan antar negara sampai saya punya teman dari Pantai Gading.

arlin_x-herz2

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Selalu berhasil menahan kebelet poop ketika sedang mau live painting bahkan sampai acara Secret Walls. Mungkin ini kutukan dari ajaran kakek saya dulu, hahaha.

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Asoy sih, sudah mulai berkembang art scene di sekitaran sini.

What’s your secret skill beside art?
Hmm ya secret lah, harus nongski bareng saya baru bisa ngelihat kelebihan-kelebihan lain saya.

2015-01-15-05-02-59-1-wllppr

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah sih biasanya… Di rumah teman, di rumah pacar, di rumah teman-teman band, dan banyak rumah-rumah lagi pokoknya lah.

Project saat ini?
Project Bismillah.

Target sebelum usia 30?

Impian saya adalah panjang umur sampai melewati usia 30 tahun. Amin!

image4

#30DaysofArt 21/30: Patriot Mukmin

Entah ada kaitan dengan namanya atau tidak, namun tema-tema patriotik dan sejarah bangsa memang menjadi benang merah dalam karya seniman yang dikenal lewat medium woven photographs dan triple-sided paintings ini. “Momen penting yang tidak bisa saya lupakan adalah ketika tahun 1998 saya menyaksikan kerusuhan yang terjadi di sekitar tempat tinggal dan aktif mengikuti berita di televisi terkait upaya penurunan Presiden Soeharto. Ingatan terkait reformasi sedikit banyak muncul di beragam karya yang saya hasilkan,” papar pria kelahiran Tangerang, 4 Juni 1987 yang menetap di Bandung sejak lulus dan meraih magister seni di FSRD ITB tersebut. Selayaknya konteks sejarah yang bisa berbeda tergantung dari sisi mana kita melihatnya, yang seringkali hanya kumpulan fragmen, ataupun ditampilkan di publik secara tersamar dan direkayasa, pria yang sempat bercita-cita menjadi desainer mobil ini pun mengajak kita untuk memandang ilusi dalam karyanya dari berbagai sisi.

patriot-mukmin-foto-profil-1

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sedari kecil senang menggambar, namun belum tahu ada dunia seni sebelum kuliah di jurusannya. Dulu saya bercita-cita jadi desainer mobil, namun setelah di kampus justru tertantang untuk bisa sukses di dunia yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya, yaitu dunia seni rupa.

Apa yang mendorongmu berkarya?

Kalau mendorong mungkin kurang tepat, lebih ke arah adiktif. Setiap kali selesai mengerjakan satu karya, apalagi jika karyanya bagus, ada kenikmatan yang berbeda. Rasa itu yang bikin saya ingin terus berkarya. Ketika karya diapresiasi oleh publik, wartawan, atau kolektor, hal tersebut menambah rasa puas yang sebelumnya sudah dirasakan. 

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Tahun 2011 saya tinggal di satu rumah kontrakan. Namanya bujangan, kalau bangun pagi kelaparan kita harus cari sarapan keluar rumah dong. Saat itu tempat yang jual sarapan berjarak hampir 1 kilometer jadi lumayan juga bisa liat-liat selama berjalan kaki ke tempat makan. Satu momen saya lihat pagar rumah tetangga yang tipenya batang-batang lurus vertikal yang kalau dilihat dari samping tampak penuh, tapi dari depan tampak kosong. Momen itu menginspirasi seri karya triple-sided paintings saya. Seri karya lukis yang bentuknya kayak pagar-pagar yang bisa dilihat dari 3 sisi.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Waktu itu kita masih tingkat 2 kuliah. Pameran bersama anak-anak jurusan seni lukis dan seni grafis. Judul pamerannya “Krisis Identitas” di Galeri Dago Tea House, Bandung. Sesuai judulnya, pamerannya krisis banget. Malu kalau lihat foto-fotonya juga. Haha.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Saya sering mengidentifikasi diri saya sebagai orang yang berada di tengah-tengah. Saya suka melihat satu persoalan dari beragam sudut pandang. Karakter itu sedikit banyak tercermin di karya-karya saya.

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Rene Magrite, David Samuel Stern.

nyonya

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Tahun 2011 sempat ikut lomba Bazaar Art Award, dan keluar sebagai pemenang pertama. Momen itu membantu meyakinkan orang tua bahwa anaknya bisa berjuang di jalan seni. Tahun 2015 melangsungkan pameran tunggal dan mendapatkan apresiasi yang cukup baik. Pameran diliput banyak media massa, dan karyanya ada yang dikoleksi dan dibawa ke Melbourne untuk dipamerkan kembali. Saat ini karya tersebut dipajang di Asia Institute, University of Melbourne. Pameran tunggal itu juga sangat berkesan bagi saya karena dalam pengerjaannya saya dibantu oleh banyak orang. Sebagai seniman yang biasanya asik sendiri bikin karya di studio, pameran tunggal kemarin membuat saya bekerjasama dengan teman-teman untuk membantu terciptanya karya-karya yang dipamerkan.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sebagai seorang yang pekerjaannya berpusat pada penciptaan imej, tentu keberadaan sosial media memberi keuntungan. Imej berfungsi ketika dilihat, maka dengan sosmed, kemungkinan imej untuk berfungsi menjadi lebih besar dan lebih cepat. Membuat karya yang diciptakan bisa diapresiasi lebih banyak orang.

eksplorasi-handmapping

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Bandung itu sangat kondusif untuk produksi karya seni, iklimnya adem, vendor material seni banyak, teman-teman seperjuangan di sini semua, kalau lagi bosan di mana-mana ada tempat nongkrong, acara-acara seni juga frequently diadakan di beragam galeri di dalam kota. Akan tetapi, untuk event seni yang bersifat internasional, Bandung kurang, kita harus keluar kota. Minimal ke Jakarta dan Jogja. Kalau mau lebih jauh lagi, kita harus terlibat proyek di luar seperti Singapura, Hongkong, Tokyo, dan kota-kota dengan art event internasional lainnya.

seeing-is-photographing

Punya talenta rahasia di luar seni?

Saya bisa melakukan gerakan elastico, gerakan menggocek flip-flop khasnya Ronaldinho. Kalau saja badan saya lebih tinggi, dan dulu orangtua setuju saya ikut SSB, mungkin saya sekarang sudah jadi pemain sepakbola profesional. Haha.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah, nonton Bein Sport!

Target sebelum usia 30?

So far so good, di ulang tahun ke-30 inginnya bisa bilang so far so awesome!

a4-motionview

#30DaysofArt 20/30: Nurrachmat Widyasena

Stupid third world Asian tries to talking-talking about Space Age,” cetus seniman asal Bandung yang biasa dipanggil Mas Ito ini untuk mendeskripsikan diri dan karyanya. Memiliki ayah seorang pakar teknologi dan menyukai sci-fi sejak kecil menjadi fondasi dari tema retro-futurism yang dikemas dengan humor oleh lulusan FSRD ITB ini lewat instalasi, drawing, dan printmaking. Namun, meskipun terlihat cenderung ringan dan mengundang senyum, bukan berarti pria kelahiran Kanada, 20 Mei 1990 ini tidak serius dalam berkarya. “Bagi saya, dalam berkarya kita tidak bisa hanya bergantung dan mengandalkan kreativitas saja. Karena bagi saya kreativitas hanyalah 10% dari kekaryaan. Sisanya adalah kerja keras, skill manajemen, bertemu dengan orang yang tepat, dan disiplin diri yang baik,” papar pria yang juga dikenal sebagai pemilik clothing brand bernama KITC ini.

nurrachmat-widyasena-foto-diri-2

Siapa sosok yang membuatmu tertarik pada seni?

Pada saat SMA, guru Bahasa Indonesia saya, Ibu Molly merupakan istri dari seniman terkenal Pak Tisna Sanjaya. Ibu Molly sering bercerita tentang dunia seniman dan apa yang dikerjakan oleh suaminya. Dari cerita-cerita tersebut saya menjadi tertarik untuk menjadi seorang seniman. Tiga tahun kemudian saya masuk FSRD ITB dan diajar langsung oleh Pak Tisna Sanjaya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Awalnya sih karena adanya janji-janji utopis seorang seniman yang sudah sukses, bikin satu buah karya, laku, bisa hidup tenang 3-5 tahun, hahahaha. Tetapi sekarang berkarya buat saya menjadi seperti sebuah kepuasan sendiri, seperti sebuah simulation game, mengembangkan karier, naikin level kekaryaan, berstrategi membuat pameran, dsb. Menarik!!

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Pada saat saya kuliah di tingkat 3 awal, saya terkena cacar air untuk kedua kalinya di hidup saya. Karena hanya bisa berada di rumah, saya iseng membuka lemari tempat saya menyimpan barang-barang saya waktu kecil. Di situ saya menemukan beberapa gambar eksplorasi luar angkasa yang retro sekaligus futuristik. Dari situlah saya menyadari dan mulai mencari tau trend dalam seni kreatif yang bernama Retro Futurism yang kemudian menjadi fondasi utama dalam kekaryaan saya sekarang.

 2015-pt-besok-jaya-nike-space-max-rocket-shoes

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

“Patriotic Myth Of Space Age”, adalah pameran tunggal pertama saya di Galeri Kamones, Bandung, tahun 2013. Pameran tersebut sangat berkesan bagi saya, karena 5 bulan setelah lulus kuliah saya membuat sebuah pameran tunggal di sebuah bangunan yang sangat industrial dan tidak “white cube” seperti layaknya sebuah galeri profesional. Pertama kalinya saya merancang sebuah pameran dengan sangat bebas dan tidak ada beban. Sampai saat ini, pameran tersebut masih menjadi pameran pribadi yang paling saya sukai.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Banyak sekali seniman-seniman yang menjadi inspirasi saya dalam berkarya. Tapi dari dulu sampai sekarang, saya sangat mengidolakan Kenji Yanobe dan Tom Sachs.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Bekerjasama dengan Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk mengerjakan beberapa seri karya saya. Saya diundang melihat langsung peluncuran roket milik LAPAN di kota pesisir Pantai Pameungpeuk. Berbincang dengan petinggi-petinggi militer, bertemu dan melihat perangkat kerja para staff ahli LAPAN, merasakan dan mendengarkan dari dekat secara langsung detik-detik perhitungan mundur peluncuran roket.

artwork-1457805631

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Tidak dapat dipungkiri social media sangat berperan aktif dalam pengembangan karier seorang seniman. Mempercepat jalur distribusi visual kekaryaan yang telah kita buat untuk dilihat orang banyak. Membuat semakin banyak orang tau apa yang sedang kita lakukan, karya apa saja yang telah kita buat, dan masih banyak lagi.

Tell me about your current obsession!

Untuk saat ini saya sedang sangat terobsesi dengan onigiri yang dijual di Indomaret. ENAAAAAAK DAN MURAAAH!! Selain itu saya sedang senang mengoleksi minuman-minuman kaleng dari berbagai negara, biasanya saya titip dengan teman-teman yang sedang berpergian ke luar negeri. 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di studio tempat saya berkarya, sedang main game, atau sedang bekerja.

artwork-1457803058

Project saat ini?

Untuk saat ini saya sedang membangun sebuah perusahaan berbasis teknologi bernama PT Besok Jaya untuk menjadi mercusuar teknologi di Indonesia seperti Space X dan Tesla Motors-nya Elon Musk. Selain itu saya sedang mempersiapkan diri untuk project pameran tunggal saya.

Target sebelum usia 30?

Target Tidak Realistis Sebelum 30 Tahun

  • Punya android humanoid personal yang bisa bantuin bikin karya.
  • Diundang oleh NASA untuk bikin karya di luar angkasa.
  • Bisa mengubah daun menjadi uang dengan bantuan teknologi.

Target Realistis Sebelum 30 Tahun

  • Punya studio seniman sendiri lengkap dengan tim produksi dan tim administrasinya.
  • Membuat karya roket luar angkasa sendiri 1:1.
  • Brand personal saya KITC lebih dikenal dan matang secara income dan infrastruktur.

2015-dangdut-alien