#30DaysofArt 14/30: M.R. Adytama Pranada

Akrab disapa dengan nama Charda, pria kelahiran Surabaya, 16 Juni 1987 yang dibesarkan di Jakarta ini adalah seorang seniman multi-disiplin yang bereksperimen dengan fotografi, prints, ilustrasi, serta video bertema memori dan sejarah yang kemudian dipresentasikan dalam instalasi mixed media yang telah dipamerkan dalam berbagai ekshibisi di seluruh dunia dari mulai Seoul, Australia, Swedia, Los Angeles, hingga Islandia. Menurut Charda, ayahnya merupakan sosok yang memperkenalkannya pada dunia fotografi. “Saya selalu ingat beliau selalu membawa kamera kemanapun kita pergi, hampir setiap bulan selalu ada foto baru atau foto keluarga lama yang diperlihatkan. Kamera ayah saya adalah kamera pertama kali yang saya gunakan yang masih saya simpan sampai sekarang, Pentax K1000. Kamera ini pula yang masih sering saya gunakan untuk eksplorasi karya,” pungkas pria yang pernah meraih juara pertama Soemardja Award di Bandung ini. Menyelesaikan studi sarjananya di ITB, saat ini Charda tengah menuntaskan pendidikan S2 di Central Saint Martins, London dalam bidang Innovation Management.

img_5366

Kapan dan siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Orang tua saya yang pertama kali membawa saya ke museum-museum di Jakarta. Saya juga masih ingat dua om saya yang pelukis sering menginap di rumah, menghabiskan waktu mengamati mereka melukis di halaman depan rumah dengan bau cat minyak, kopi hitam, dan asap rokok. Om saya pula yang mulai memperkenalkan saya pada karya-karya Afandi dan Basuki Abdullah.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Memori dan museum. Saya sangat suka bagaimana sebuah medium berkarya dapat merekam memori dan menyampaikan sebuah cerita, dan bagaimana sebuah representasi karya dapat mempengaruhi persepsi kita. Saya kira fotografi dan instalasi di museum memberikan dampak yang cukup besar bagi saya.

 

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama saya adalah sebuah lukisan kecil dengan kolase yang saya ambil dari berita di koran, sebuah karya untuk ujian prakarya di SMA. Kalau tidak salah tentang demonstrasi. Not good at all, haha, tapi saya kira ini momen pertama di mana saya berani untuk jujur dan bercerita kepada orang lain. It feels good! Dan karya ini masih saya gantung di kamar saya.

hela-1installation-performance-with-grace-sahertian-2015
HELA 1,Installation & Performance with Grace Sahertian, 2015

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Ketertarikan saya tentang memori membawa saya kembali pada medium fotografi.

 

Apa idealismemu dalam berkarya?

To tell a story.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Olafur Eliasson, Tisna Sanjaya, Raymond Pettibon, Danh Vo, F.X. Harsono.

going-home-installation-2015
Going Home (Installation), 2015

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya selalu merasa insecure dan kritis terhadap proses berkarya saya sendiri sehingga saya selalu banyak melakukan proses eksplorasi dan eksperimentasi. Saya kira dengan karya saya bukan soal ciri visual atau aesthetic, tapi lebih kepada tema-tema memori dan sejarah yang selalu saya gunakan.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Saya kira tiap tahap proses yang saya jalani selalu merupakan breakthrough dari proses panjang dalam berkarya. Mungkin breaktrough yang paling berkesan adalah pelajaran dari pengalaman saya sendiri, it’s not about being an artist as a profession and called yourself an artist, but its about a journey of determination with your own discipline and consistency on doing your own ‘thing’. Saya kira prinsip ini juga yang membawa saya untuk mengembangkan eksplorasi saya ke proses S2 sekarang.

 

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

A good tools for not being me.

truth-enlightens
TRUTH ENLIGHTENS, mixed media installation, 2013

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

I’m in heaven. Lots of great works and exhibitions with free museums!

Punya current obsession di luar seni?

Current obsession? Netflix.

Project saat ini?

Saat ini saya sedang eksplorasi mengenai artist interpretation and the art representation of a ‘stage’ or space that constructed from performance art, theater, and cinema.

 

Target sebelum usia 30?

Menyelesaikan S2! Karena thesis defence kemungkinan besar akan berbarengan dengan ulang tahun ke-30, hahaha!

 the-unseen-shadow-of-indonesian-art-history-by-urban-archaeologist

#30DaysofArt 11/30: Kinez Riza

Alih-alih pengaruh masa kecil, eksplorasi Kinez Riza akan konsep alam, waktu, dan sublim dalam karyanya yang meliputi fotografi, film, dan instalasi sejatinya berasal dari dahaga keingintahuan yang seakan tak pernah puas tentang misteri semesta dan sejarah manusia. “Seperti innate predisposition yang tidak bisa dihindarkan, atau bawaan diri yang secara alami selalu mencari metode-metode untuk mewakili suatu hal atau konsep yang selalu berkembang,” ungkap seniman lintas ilmu yang lahir di Jakarta, 25 Agustus 1989 dan berkuliah di London tersebut. Di samping seni dan literature, minatnya yang meliputi arkeologi dan antropologi telah mengantarnya ke berbagai ekspedisi seru di seluruh dunia. Salah satunya mendokumentasikan hasil penelitian jejak tangan manusia purba dari 40 ribu tahun lalu di sebuah gua di Maros, Sulawesi yang diteliti pakar arkeolog Indonesia dan internasional serta menjadi orang Indonesia pertama yang diterima oleh organisasi The Arctic Circle untuk residensi di Kutub Utara. Senantiasa menggabungkan sisi artistik dan scientific, karyanya pun telah dipamerkan di Amsterdam, Dubai, dan Mongolia.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Bagaimana masa kecilmu memengaruhi karyamu saat ini?

Jujur saja saya menghindari kesan autobiografis dalam berkarya, saya rasa latar belakang, asal-usul, dan pengaruh masa kecil bukan the driving factor buat saya berkarya. Tetapi dari masa kecil saya memang punya daya tertarik lebih kepada seni rupa dan sastra secara alami. Orangtua saya sering bilang bahwa waktu kecil saya sering sibuk sendiri dengan keterampilan tangan dan buku, saya susah diganggu, haha.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Consolidating my practice is very important to me, dan kematangan karya saya butuh time and space, saya sering merasa kurang puas dengan hasil karya yang mengikuti brief tertentu.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Terlalu banyak, haha. Saya suka Hiroshi Sugimoto, James Turrell, Olafur Eliasson, Peter Beard, Team Lab, Picasso, Miro, Francis Bacon, Christo, Monet, banyak sekali.

dreams_on_a_frontier_plate_02-1024x768
Dreams On A Frontier Plate.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Secara tidak langsung, saya membeli kamera analog bekas yang murah dari pasar, setelah melihat hasil cetakan film pertama saya langsung mempunyai afinitas dengan medium photography, yang dilanjuti oleh medium film dan instalasi. Saya suka dengan pandangan implicit and emotive dalam karya visual.

 

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya digelar oleh D Gallerie, karya-karya saya memperlihatkan gambar alam yang dipadu oleh konteks dan isu representasi. Karya saya tidak mendiskusikan hal-hal yang berbentuk social, political or economic, dan karya saya bukan konseptual, jadi bincangan pada saat itu membandingkan karya fotografi yang jurnalistik atau fotografi seni rupa. Pada saat itu konteks dan isu representasi di belakang karya belum gampang dipahami oleh publik.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal ciri khas dalam karyamu?

Setelah saya perhatikan, ciri khas karya saya memang selalu meliputi konsep alam, waktu, dan sublim, akan tetapi salah satu obsesi saya adalah memperhatikan cahaya, warna, dan fenomena.

uranium-series-dating-panels-maros-regency-sulawesi
Uranium series dating panels, Maros Regency, Sulawesi.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pemahaman yang lebih matang tentang proses dan hasil karya saya.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Era social media masa kini adalah suatu hal yang saya diskusikan secara tidak langsung dalam karya saya, tapi saya menggambarkannya dengan cara yang tidak explicit, justru memperlihatkan obyek kuno, budaya punah atau tradisi masa lampau. Era social media secara alami meningkatkan pehamaman visual kepada penggunanya, jadi bisa dipandang positif untuk meningkatkan pemahaman publik kepada visual arts, mungkin awalnya hadir di exhibition untuk upload foto keren di sosmed adalah hal baru, akan tetapi saya yakin pemahaman lebih baik tentang seni rupa bisa berkembang di luar our own obsession.

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Masih dalam tahap muda, saya lihat rekan-rekan saya bekerja keras dan serius untuk membangun budaya seni rupa yang lebih kekal dan accessible to the general public. Saya merasa bahagia dan bangga melihat hasil kerja keras rekan-rekan saya. Yang kurang diketahui orang lain, seni rupa adalah salah satu indication of modern humans’ intellectual and creative capacity dalam evolusi manusia modern. It has paved the way for culture, civilization and commerce to develop to what it is today.

a_restful_place_01-1024x768
A Restful Place.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Mengikuti kegiatan teman-teman, atau pura-pura mati di rumah.

Current obsession?

Interiors and architecture, saya suka menulis, ke antah-berantah, terobsesi dengan masak dan balanced lifestyle. Walaupun lifestyle saya sering out of balance, haha!

Project saat ini?

Melanjutkan film dokumenter saya tentang human creativity and evolution, sudah dalam tahap production terakhir, mungkin bisa ditayangkan tahun ini.

Target sebelum usia 30?

Bangun kabin kecil in the wilderness.

the-shadow-of-fjortende-julibukta-1024x768

Art Talk: The Melancholic Dreams of Ika Putranto

Ada banyak alasan untuk jatuh cinta dengan sebuah karya seni. Untuk saya pribadi, karya seni ibarat suatu jendela untuk melihat dimensi lain yang dibangun psyche sang seniman dan dalam kasus Ika Putranto, dunia yang tercipta dari sapuan kuasnya adalah dunia dreamy dan melankolis. Hewan-hewan misterius, bunga-bunga aneh dan gestur manusia yang “muted” menjadi ciri khas dari lulusan DKV UPH yang sekarang bekerja sebagai freelance graphic designer tersebut. Tak puas berkarya di atas kanvas, kini Ika mulai bereksperimen dengan medium yang lebih masif.

Boleh cerita sedikit tentang masa kecilmu? Bagaimana pengaruhnya untuk karyamu kini?

Dari kecil saya memang sudah suka banget sama seni, dulu sempat bercita-cita jadi pianis atau violinist, tapi bakatnya mentok, haha. Waktu kecil itu saya sangat “fairy tale”, suka banget baca buku dongeng sama mama. nonton film-film Disney dan film balet, banyak mengkhayal. suka buka buku-buku papa yang tentang lukisan. Mungkin ini yang bikin influence karya saya sekarang. style lukis saya sebenarnya agak mundur, impressionism (abad 19). Yang paling terlihat sih, stroke tarikan garis kuas saya pendek-pendek seperti era itu dan pencampuran warnanya juga searah.

Bagaimana proses berkarya seorang Ika?

Untuk proses produksi karya, biasanya saya mulai sendiri dari konsep dulu, biasanya dipikirin di kepala saja. Terus saya mencari mood board, warna, tone, mood, gestur, objek dan menggabungkan semuanya menjadi kesatuan karya. Dimulai dengan sketsa pensil di kanvas. Kalau instalasi seperti yang saya buat untuk ekshibisi “MAPS. Re imagined” di Di.Lo.Gue tempo hari, saya punya partner produksi. Namanya Miebi Sikoki, dia geek genius yang jago banget bikin science thingy dan konstruksi. Biasanya setelah saya diskusi teknis sama dia, dia yang akan bikin skema produksi teknisnya, setelah itu baru dikasih lagi ke saya untuk finishing. Untuk penggunaan material jenis kayu dan kaca, saya juga konsultasi sama dia.

Apa medium favoritmu dan kenapa?

Cat air dan acrilyc. Kanvas, kertas dan kayu. Karena tekstur dan mood yang dihasilkan dari media-media itu banyak yang bisa dieksperimen.

Sejauh ini, pameran mana saja yang paling berkesan untukmu?

Pameran gabungan 7 seniman perempuan di Linggar Gallery, kuratornya Mia Maria. Sangat berkesan karena range umur artist dan pengalamannya sangat beragam, saya  belajar banyak dari senior-senior seniman perempuan. Sempat ikut young artist exhibition di Korea dan acara bienalle di Italia, tapi cuma submit karya saja, nggak ikut ke sana. Terakhir, pameran di Dia.Lo.Gue Artspace, kuratornya Mitha Budhyarto, juga sangat berkesan karena pertama kali membuat karya berukuran cukup masif dan eksperimen media baru. Judul karyanya “Through the Looking Glasses”.

Apa inspirasi di balik instalasi “Through the Looking Glasses” tersebut? Alice in Wonderland kah?

Judulnya memang diambil dari buku keduanya Alice in Wonderland. Tapi kalau secara konsep sebenarnya nggak. Di sini saya bercerita tentang “boundaries” dan “perception“. Kaca merupakan analogi dari batas-batas yang transparan. Ada, tapi tidak terlihat. Saya ingin menunjukkan kalau batasan-batasan itu bisa ditembus. untuk hewan-hewannya sendiri merupakan alegori dari sifat-sifat saya dan mimpi. Untuk perception-nya dilihat dari bentuk instalasinya yang kalau dilihat dari beberapa sisi akan terlihat berbeda. seperti persepsi, tergantung sudut pandang kita saja melihatnya.

Jika bisa memilih, kamu ingin hidup di era apa? 

Saya ingin merasakan hidup di tahun 1800-an atau 1900-an, hehe. Well mannered etiquette and wardrobe. Di era tersebut saya sangat tertarik dengan art movement-nya, karena silang disiplinnya kuat. Literatur musik dan seni rupa saling bertautan.

Apa pendapatmu tentang seni di kalangan anak muda Indonesia?

Secara general saya merasa seharusnya seni diperkenalkan lebih dini. Dari kecil sudah mulai menikmati museum atau baca buku. Akses seni di Indonesia agak susah ya? Galeri-galeri bagus kebanyakan cuma ada di Jakarta, Bali, Jogja dan Bandung. Itu pun jadwal acaranya kurang terpublikasi.  Mungkin seharusnya bisa lebih diperkenalkan supaya lebih accessible.

Apa rencana selanjutnya?

Saat ini saya lagi mau bikin project baru yang lumayan beda dari yang sudah saya buat. Saya juga ingin membuat artist collective bersama dua partner saya yaitu Miebi Sikoki, dia bagian high tech dan konstruksi dan satu lagi Dibyokusumo, dia director dan video artist. Ingin explore seni dengan teknologi.

 

As published in NYLON Indonesia August 2012

http://fauxisfraud.blogspot.com/