A Lucky Girl, An Interview With Fazerdaze

Bukan hanya para fans yang merasa beruntung dapat menyaksikan penampilan perdana Fazerdaze di Jakarta, sang penyanyi pun tak kalah sumringah.

Processed with VSCO with nc preset

Ada suatu hal yang saya rasakan setiap bertemu langsung dengan para musisi indie yang memulai karier mereka dari kamar tidur sebelum beralih ke panggung. Di video musik atau foto pers, mereka umumnya memancarkan aura effortlessly cool yang membuat mereka bersinar dan menjadi objek afeksi bagi anak-anak keren lainnya. Namun, ketika bertemu langsung, terlebih sebelum mereka tampil di atas panggung, umumnya mereka memiliki pembawaan yang approachable dan cenderung kikuk atau pemalu. In endearing way, tentu saja.

Begitu juga yang saya rasakan saat bertemu Amelia Murray atau yang lebih dikenal dengan nama Fazerdaze, beberapa jam sebelum gig perdananya di Jakarta yang berlangsung di Rossi Musik Fatmawati, tanggal 21 Oktober lalu dan dipromotori oleh Studiorama, Six Thirty Recordings, dan noisewhore.

Impresi pertama saya, gadis berusia 24 tahun ini bahkan terlihat lebih stunning in real life dengan paras dan postur yang terlihat seperti model Jepang. Wajahnya bersih dari riasan dan memang agak terlihat lelah akibat jadwal tur padat yang telah berlangsung sekitar 6 minggu di mana ia telah tampil di Eropa, Jepang, dan Asia Tenggara, tapi dengan ramah ia menunjukkan senyum semanis gula saat berkenalan dengan saya.

Saya bisa menangkap rasa canggung dalam gestur tubuh dan caranya menjawab pertanyaan di awal interview one on one kami. Untungnya, tak butuh waktu lama sebelum pembicaraan kami menjadi lebih cair dan relaks, khususnya ketika berbicara soal musik. “Lumayan nervous sebetulnya, karena gig Jakarta ini menjadi gig dengan penjualan tiket paling cepat habis dalam tur kali ini. Saya nervous karena saya ingin tampil sebaik mungkin agar penonton bisa menikmatinya dan tidak merasa rugi telah menghabiskan waktu, energi, dan uang mereka untuk menonton saya di atas panggung,” ungkapnya dalam bahasa Inggris beraksen Selandia Baru.

Memulai karier musiknya sebagai bedroom musician. Amelia mengaku masih sering takjub kalau melihat banyak orang datang ke show-nya dan bahkan ikut menyanyikan lirik yang ia tulis di kamar tidurnya di Auckland, Selandia Baru. Begitupun saat ia melihat animo fans Indonesia yang tinggi untuk konsernya. Tiket yang dibanderol seharga Rp250.000 habis terjual dalam waktu dua hari dan meskipun waktu itu jam masih menunjukkan pukul 4 sore yang artinya masih beberapa jam lagi sebelum venue dibuka dan dimulai dengan penampilan dua band lokal, Sharesprings dan Grrrl Gang, sebagai opening act, beberapa fans sudah hadir dan sabar menunggu di sekitar Rossi.

Selain musik dan (let’s be honest here) fisik yang dengan mudah membuat jatuh hati, saya merasa ada daya tarik lain yang membuatnya diterima dengan tangan terbuka oleh orang Indonesia. Yaitu? Trivia jika Amelia masih memiliki darah Indonesia dalam tubuhnya yang sadar atau tidak membangkitkan optimisme Good News From Indonesia bagi pecinta musik lokal. Meskipun pada faktanya, Amelia tidak pernah tinggal di Indonesia. Kedatangannya ke Jakarta kali ini memang bukan untuk pertama kali, karena ia masih punya keluarga dari pihak ibu yang tinggal di sini, namun ia adalah gadis Selandia Baru sejati.

IMG_20171021_154933

“Saya kangen minum kopi Selandia Baru,” jawabnya tentang hal yang paling ia rindukan setelah sekian lama menghabiskan waktu di jalan. “Selandia Baru punya kopi-kopi yang enak. Saya juga kangen tidur di kamar saya sendiri. Tapi yang paling saya rindukan adalah pacar saya, haha!” tandasnya.

Dengan inspirasi musik yang umumnya berasal dari tahun 90-an seperti Pixies, Smashing Pumpkins, Slowdives, dan Mazzy Star, debut LP Fazerdaze yang bertajuk Morningside dirilis tahun ini dengan respons positif untuk nuansa dreampop bercampur shoegaze yang dibangun oleh gitar catchy dan vokalnya yang ringan. “Nama Fazerdaze sendiri sebetulnya tidak punya arti apa-apa. Waktu saya mencari nama alias untuk proyek ini, saya menuliskan beberapa calon nama di atas kertas dan ketika terlintas nama Fazerdaze saya langsung berpikir ‘This is it. That’s the name’,” ujarnya. “Saya suka bagaimana Fazerdaze dilafalkan dan ditulis, it just feels right.”

Instrumen pertama yang ia pelajari adalah piano saat kecil, namun ia tak menyukainya dan baru ketika belajar main gitar ia mulai membuat musiknya sendiri. “Saya tidak ingat lagu pertama yang saya mainkan dengan gitar, antara ‘Daniel’ dari Elton John, Bic Runga yang ‘Drive’, atau Foo Fighters yang ‘Times Like These’” kenangnya. Tiga pilihan lagu yang sangat berbeda satu sama lain sebetulnya dan sama beragamnya dengan musik yang ada di playlist-nya. “Belakangan ini saya lagi mendengarkan King Krule, Frank Ocean, dan The Smiths. Sebelumnya saya tidak pernah benar-benar mendengarkan The Smiths, baru akhir-akhir saja saya mulai serius mengulik musik mereka.”

Diversitas dalam selera musik tersebut menurutnya turut dipengaruhi dari skena musik di sekitarnya, khususnya di Wellington di mana ia menghabiskan masa kecilnya, dan Auckland di mana ia menulis materi untuk album debutnya. “Dibandingkan skena musik Australia, skena musik di Selandia Baru mungkin lebih kecil, tapi juga tak kalah berkembang dan keren. Skenanya lebih ke alternative underground di mana orang dengan bebas membuat musik, entah itu di band, menjadi bedroom producer, atau DJ,” paparnya.

Saya melontarkan nama Yumi Zouma, band dream pop yang juga berasal dari Selandia Baru, dan bertanya apakah dream pop memang komoditas musik asal negara Kiwi tersebut. Dengan sumringah Amelia mengungkapkan kecintaannya pada rekan satu genrenya tersebut, namun ia tak lupa menambahkan jika Selandia Baru juga memiliki musisi folk yang patut disimak seperti Aldous Harding, Tiny Ruins, dan Nadia Reid.

Kesuksesan Morningside yang berisi 10 lagu dan merupakan kelanjutan dari self-titled EP berisi 6 lagu di tahun 2014 tak lepas dari single utama “Lucky Girl” dengan video yang ia sunting sendiri. Sepintas musik dan video lagu ini terasa innocent lewat irama hangat super catchy dan singalong chorus di mana ia mendeklarasikan dirinya adalah “a lucky girl” berulang kali dengan sajian visual yang tak kalah vibrant. Namun, jika jeli mendengar dan melihat, kamu akan sadar jika lagu ini menyimpan pesan tersembunyi yang melankolis dan penuh rasa cemas.

“Saya menulis lagu itu setelah baru saja melewati masa yang sulit dan depresif. Saya menyelesaikan lagu itu dengan sekali duduk. Lagu ini adalah cara saya untuk move on dan mensyukuri hal-hal yang saya punya,” jelasnya tentang lagu tersebut. “Untuk videonya, saya ingin mengangkat tema-tema seperti taking things for granted dan self-sabotage lewat adegan yang menggambarkan emosi destruktif. Hal itu memang saya sengaja agar terasa kontras dengan liriknya yang bilang kalau saya adalah cewek yang beruntung. Saya ingin orang menyadari ada kesedihan dan kegelapan di balik musik pop yang ringan.”

“Lucky Girl” juga yang kerap menjadi lagu pamungkas dengan koor paling meriah dalam setiap konser Fazerdaze sejauh ini. Menyoal tampil live, apakah Amelia dan band pengiringnya punya ritual sebelum naik ke panggung? “Kami biasanya suka mengoper benda seperti bola untuk membangun koneksi lalu kami biasanya melakukan salaman, which is really lame, haha!” jawabnya sambil tertawa.

Melihat jumlah penggemar yang terus bertambah, rasanya tak akan ada yang menganggap Fazerdaze sebagai band yang lame. Respons positif atas musiknya pun telah membuahkan banyak pengalaman menarik bagi Amelia seperti bertemu dengan salah satu role model-nya, Bjӧrk, saat ia mengikuti Red Bull Music Academy di Kanada tahun lalu, atau ketika ia bertemu dengan Ansel Elgort. “Saya sempat bertemu dengannya bersama beberapa kru film. Saya tak yakin ia mendengarkan musik saya, tapi sutradaranya menyukai album saya, hehe.”

Dalam show Jakarta kali ini, ia dan band pengiringnya sukses tampil gemilang membawakan 13 lagu plus satu lagu encore tanpa mengindahkan kondisi venue yang malam itu terasa begitu panas karena banyaknya penonton. Setelah Jakarta, ia akan pulang sejenak ke Selandia Baru sebelum melanjutkan tur ke Amerika Utara. Ia mengaku senang dapat kembali pulang dan berharap bisa segera punya waktu untuk membuat materi baru. Ia juga tak lupa mengungkapkan harapan untuk dapat kembali mengunjungi Jakarta di tahun depan.

Menutup interview ini, saya pun memintanya memberikan sedikit saran bagi mereka, terutama cewek-cewek muda, yang juga ingin terjun ke dunia musik seperti dirinya. “Yang penting berani untuk mencoba,” pesannya. “Tidak ada yang benar atau salah dalam bermusik, yang penting adalah berani memulai dan tetap bekerja keras,” simpulnya dengan, lagi-lagi, senyuman manis.

Processed with VSCO with oak1 preset

 

Advertisements

A Matter of Taste, An Interview With Rinrin Marinka

Apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang celebrity chef? Tak hanya kepiawaian mengolah sajian yang menarik secara rasa dan visual belaka, namun juga natural charm dan kepribadian yang membuat orang tak bisa melepaskan pandangan. Beruntung, Rinrin Marinka punya semua itu.

Fotografi: Ifan Hartanto. Creative Director: Anindya Devy. Stylist: Priscilla Nauli. Makeup Artist: Ranggi Pratiwi. Hairdo: Eva Pical.

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-1

Jika nama Maria Irene Susanto terdengar asing di telinga Anda, tenang saja, itu bukan sepenuhnya salah Anda. Chef, TV host, dan restaurateur kelahiran Jakarta, 22 Maret 1980 ini memang lebih dikenal di publik dengan nama Rinrin Marinka atau Chef Marinka, demikian ia akrab disapa lewat berbagai cooking show yang telah ia bintangi. Mulai tampil di layar kaca sejak 10 tahun lalu, tak bisa dipungkiri jika kiprahnya sebagai salah satu juri di Masterchef Indonesia yang tayang di tahun 2011 menjadi langkah yang mengantar namanya ke masyarakat yang lebih luas. Kehadirannya sebagai satu-satunya juri perempuan dan juga satu-satunya juri yang terus hadir dari season pertama sampai ketiga salah satu program cooking reality show tersohor tersebut tentu bukan sekadar menjadi pemanis saja, walaupun pada kenyataannya ia memang sosok yang menyenangkan untuk dilihat. Selalu terlihat energik dan santai namun mampu bersikap tegas bila diperlukan, nama Chef Marinka berhasil meninggalkan kesan yang mendalam bagi siapa saja yang menyaksikannya.

Pasca Masterchef Indonesia, penampilan chef cantik ini masih bisa kita lihat sebagai presenter, model komersial, bintang tamu talk show, red carpet, dan tentu saja, cooking show, termasuk Back to the Streets: Jakarta dan Wonderful Indonesia Flavours yang keduanya ditayangkan di kanal Asian Food Channel. Dalam kedua acara itu, Chef Marinka bersama co-host yang meliputi chef asal Australia, Tobie Puttock dan Darren Robertson, memperkenalkan cita rasa kuliner khas Indonesia ke ranah yang lebih luas dengan cara mengeksplorasi keragaman budaya dan tradisi kuliner di beberapa destinasi Indonesia, mulai dari Jakarta, Makassar, Tomohon, hingga Lombok, sebelum membawa pulang inspirasi yang didapat dalam setiap perjalanan tersebut kembali ke dapur dalam bentuk resep dan interpretasi yang menggugah selera.

Walaupun kedua acara tersebut telah selesai masa tayangnya, tampaknya kita tak perlu menunggu lama untuk melihat Chef Marinka back on action. Saat ini, ia mengaku tengah mempersiapkan syuting cooking show terbaru yang juga akan ditayangkan di Asian Food Channel. “Bedanya dengan sebelumnya, kali ini aku sendirian. Sebelumnya biasanya kan tampil berdua walau pernah beberapa episode juga sendirian, tapi kali ini definitely aku sendiri. Kali ini aku juga masaknya di dapur saja, tidak keliling lagi. Ada bagusnya juga jadi tidak lelah, soalnya kalau yang kemarin kan sempat syutingnya travelling dua bulan, pulang-pulang sempat sakit juga,” ungkapnya.

            Tiba di lokasi pemotretan dalam balutan t-shirt putih, jeans, dan kacamata hitam, wanita yang tergolong bertubuh petite ini terlihat santai dengan wajah bebas riasan apapun. Sembari membiarkan wajahnya mulai dirias di hadapan cermin, ia pun melanjutkan ceritanya. “Di show ini aku tetap masak masakan Indonesia, tapi lebih berdasarkan pengalaman pribadi. Karena acara ini juga lebih ditujukan untuk penonton luar negeri, jadi basically temanya ingin mengajarkan kalau masakan Indonesia itu bisa dibikin di dapur sendiri memakai bahan-bahan yang harusnya bisa didapat di mana-mana. Contohnya kemarin aku bikin ayam betutu, kan biasanya harus dimasak 8 sampai 13 jam, nah aku bisa masaknya dengan teknik aku sendiri jadi cuma dua jam yang rasanya tetap seautentik mungkin,” tandasnya.

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-5

Lahir dan dibesarkan di Jakarta, Chef Marinka mengaku waktu kecil ia sebetulnya memiliki sifat tomboy. “Aku dulu ingin menjadi James Bond karena kagum saat menontonnya, tapi di saat yang sama aku juga ingin menjadi seorang princess, haha. Jadi suka berkelahi tapi suka masak juga. Pokoknya aku orangnya sangat eksperimental dan suka tantangan,” tuturnya. Minat memasak menurutnya datang dari dirinya sendiri karena di masa kecil ia mengingat ibunya justru cenderung lebih menyukai membuat masakan yang instan. “Tidak apa-apa sebetulnya, karena dia wanita karier, Kan aku anak paling kecil dan lahirnya waktu beliau sudah berumur 40-an, kalau soal karier beliau memang sangat ambisius makanya sampai sekarang pun masih kerja padahal umurnya sudah berapa. Tapi dulu dia suka bikin kue kering untuk hari raya, jadi mungkin itu masakan yang mengingatkan aku soal masa kecil,” kenangnya.

Selepas Sekolah Menengah Atas, ia bertolak ke Sydney, Australia untuk berkuliah di jurusan Art & Design serta Fashion Design di KVB Institute College. “Aku punya banyak passions sebetulnya. Pokoknya yang berhubungan dengan seni, aku pasti suka. Aku senang pergi ke museum, membeli lukisan, I appreciate local artists & local fashion, pokoknya segala macam seni aku suka,” cetusnya tentang bidang ilmu yang sempat ia pelajari. Namun, minatnya terhadap dunia kuliner tampaknya memang tak bisa dibendung. “Aku delapan tahun di Sydney dan di sana sukanya masak buat orang. Kalau buat diri sendiri I’m not fussy, lebih baik beli, haha. Tapi kalau masak untuk orang lain, aku merasa enjoy melakukannya. Awalnya beli buku-buku resep, coba eksperimen, lama-lama aku berpikir ‘You know what? This is something that I really like’.” Mendapat restu dari orangtua, ia pun mendaftarkan diri ke sekolah masak terkenal Le Cordon Bleu untuk mempelajari French cuisine dan pastries dengan serius. Ditanya soal pengalaman paling berkesan selama sekolah kuliner, ia sempat berpikir beberapa saat sebelum menjawab, “Aduh susah ya, selama masa sekolah, waktu yang belajar masak itu yang paling menyenangkan ya. Benar-benar tidak ingin melewatkan satu hari pun, sakit pun tetap ingin masuk kelas. Jadi seperti orang haus ilmu. Kalau dibilang yang paling memorable mungkin tidak ada karena everything is so much fun!

Sempat mencicipi kuliah di bidang fashion dan seni, apakah segi visual menjadi pokok perhatian dalam proses kreasi kulinernya? “Aku merasa kuliner juga bentuk seni, dari segi penampilan dan juga rasa. Dari penampilan aku inginnya minimal rapi, kalau terlalu artsy yang sampai tidak terlihat seperti makanan mungkin orang juga segan ya,” jawabnya dengan tenang. Begitu pula saat menyoal fenomena makanan-makanan unik yang “Instagram-able” dan eye-catching seperti makanan yang bertema rainbow dan unicorn, ia memandangnya sebagai sesuatu yang wajar karena kreativitas memang tidak bisa dibatasi. “Yang penting rasanya harus tetap enak. Kalau buat aku lebih baik penampilannya jelek tapi rasanya enak dibanding cantik tapi ternyata tidak enak. Bagi aku itu lebih penting, karena in the end of the day, you’re going to swallow it,” tegasnya.

Lulus dari Le Cordon Bleu dan sempat magang di beberapa restoran di Sydney sebelum akhirnya pulang ke Tanah Air, Rinrin mengawali karier dengan menjadi freelance cooking instructor sambil terus menantang kemampuan dirinya sendiri dalam berkreasi, khususnya dalam membangun sinergi antara kuliner Timur dan Barat dari segi rasa dan artistik. Sempat memiliki restoran pertamanya di bilangan Fatmawati, ia pun pertama kali muncul di layar kaca lewat program Sendok Garpu di Jak TV di tahun 2007. Awalnya, pengagum chef terkenal Inggris Jamie Oliver ini sama sekali tidak menyangka jika dirinya akan berkiprah sebagai chef di layar kaca. Walaupun merasa dirinya memang termasuk ceriwis dan gemar berbicara di tengah lingkungan dekatnya, namun untuk berbicara di depan kamera, ia mengaku butuh latihan sebelum terbiasa. “Aku bawel kalau sama teman, tapi kalau di depan kamera memang harus dilatih, sampai sekarang aku juga masih suka grogi atau melakukan kesalahan saat syuting. Begitu juga saat menjadi MC, tapi ya practice makes perfect,” ucapnya. Nama Rinrin Marinka sebagai nama panggung sendiri menurutnya muncul secara spontan. “Sebetulnya malu kalau diceritakan, tapi nama Marinka itu asalnya dari harapan aku kalau someday punya anak perempuan, aku mau namanya Marinka. Tapi ada salah satu teman aku menyarankan kalau aku pakai nama itu dulu saja, and you know what? Why not? Haha, awalnya seperti itu,” ungkapnya sambil tersenyum.

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-6

Dengan kepribadian yang menarik dan apa adanya, nama Chef Marinka kian akrab di telinga publik hingga akhirnya ia pun termasuk dalam jajaran celebrity chef yang ada di Indonesia. Menyinggung perihal label “celebrity chef”, Rinrin sebetulnya punya mixed feelings soal istilah tersebut. “Itu sempat menjadi konotasi tertentu kalau di Indonesia karena beberapa oknum yang menurut aku seperti berlebihan. I rather be called as professional chef sebetulnya, tapi sekarang sudah terserah sih. It’s okay if people want to call me that, aku juga tidak butuh konfirmasi dari semua orang kok whether I can really cook or not. Lihat dengan mata kepala sendiri saja, seperti itu sih kalau sekarang,” cetusnya sebelum melanjutkan, “Mungkin yang masih mengganggu adalah sebutan ‘sexy chef’ ya? Menurut aku seksi ya seksi saja, chef ya chef saja, haha,” tandasnya.

Well, sulit diingkari jika sosoknya yang atraktif memang banyak menarik perhatian orang, terutama lawan jenis, mulai dari yang bersikap sopan hingga yang sering mengirimkan komentar bernada miring di social media miliknya. “Kalau ditanya risih, ya pasti risih lah. Tapi terkadang sudah terlanjur malas menanggapi atau melihat komen jadi ya didiamkan saja. Paling aku cuma mau bilang ‘You need God!’ Haha.” Untungnya, masih lebih banyak penggemar yang mengapresiasinya dengan cara yang positif, termasuk salah seorang penggemar yang dengan penuh niat membuatkan seri sticker LINE berupa karikatur Chef Marinka, “It’s actually making my day!” seru Rinrin dengan riang.

Soal social media sendiri, sama seperti public figure pada umumnya, Rinrin memanfaatkan Instagram untuk meng-update kabar dirinya dan sekelumit insight dari aktivitas sehari-hari, termasuk personal style dirinya. “Aku sih mencoba menjadi diri sendiri saja in term of character maupun penampilan. Kalau untuk tampil di publik, pertimbangan aku cuma jangan sampai terlalu seksi. You know how to dress lah, tergantung occasion juga, tapi aku juga sebetulnya playful and moody soal fashion. Kalau lihat lemari baju aku isinya bisa sangat random dari satu gaya ke gaya lainnya, but overall I like edgy and rock n roll looks,” ujarnya.

            Selalu terlihat menawan dengan rambut indah terawat yang sering digerai alami begitu saja, wanita yang memiliki hobi karaoke untuk penghilang stress ini secara mengejutkan mengaku dirinya tidak suka pergi ke salon. “Maybe I just simply lazy, aku tidak suka ke salon karena harus menyetir ke sana. Kalau ada waktu luang, aku sangat menikmati diam di rumah saja sendirian. Tapi tempat aku walau kecil juga sering dijadikan basecamp sama teman-teman aku. Sekadar menonton series, bagi aku itu sebuah kemewahan kalau bisa menghabiskan waktu di rumah seorang diri.”

            Menonton series rasanya kurang lengkap kalau tidak ditemani kudapan, begitupun bagi Chef Marinka yang menyebut chips dan es krim vanilla dengan butterscotch sebagai camilan guilty pleasure favoritnya. Sementara untuk urusan late night craving, ia menganjurkan kacang-kacangan dan sedikit protein untuk memuaskan hasrat mengunyah di malam hari. “Banyak orang bilang makan buah saja, tapi sebetulnya itu juga tidak terlalu baik karena kandungan gulanya,” jelasnya. Dengan profesi sebagai chef yang setiap hari berhadapan dengan makanan, Rinrin jelas punya kiatnya sendiri untuk tetap menjaga pola hidup sehat. “Basically just do detox, misal hari ini makan banyak, besok detoks. Harus tahu porsi, karena kita kadang suka tidak tahu diri makannya jadi terlalu banyak. Olahraga juga, aku ikut Bodytec di Kemang sama berenang. Mau coba yang lain tapi belum punya waktu. Aku ingin mencoba bela diri atau olahraga yang pakai senjata seperti panah atau pistol. I know its sounds crazy but I just love it. Jadi aku kebalikannya yoga, I’m not a yoga person at all.”

            Komitmennya dalam menjaga gaya hidup sehat juga diwujudkan dengan membangun Mars Kitchen, café miliknya di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan, yang menawarkan menu-menu sehat tanpa MSG, pewarna, atau pengawet namun tentunya dengan cita rasa yang yummy. Sudah berjalan selama dua tahun, café ini masih tetap laris dikunjungi siapa saja yang mencari kebutuhan healthy menu dengan atmosfer yang homey. Saya pun bertanya apakah ia sudah memiliki rencana ekspansi untuk gerai selanjutnya, yang lantas dijawabnya dengan cepat. “Sebetulnya kita kerjasama dengan Bodytec di Kemang, so we have the tiny one there. Cuma kalau ekspansi rasanya belum deh, masalah lokasi juga mungkin ya? Satu dulu cukup untuk sekarang. Aku terpikir untuk bikin sesuatu yang lain justru. Konsepnya ingin yang beda. Kalau di Mars Kitchen kan memang untuk semua orang yang ingin hidup sehat, kalau yang satu lagi aku inginnya lebih hipster. Semacam tempat hangout yang seru, but I don’t know if it’s going to work karena ekonomi dunia juga lagi menurun dan persaingannya juga lagi banyak sekali. Baru cita-cita saja sih dan aku harus cari partner juga, karena di Mars Kitchen kan sendirian. Itu juga lumayan keteteran, jadi mungkin nanti dulu.”

cover story_BACCARAT_JULI_AGUSTUS-3

Di tengah derasnya arus informasi yang membawa perubahan dengan cepat dalam skala global, termasuk dalam hal tren makanan yang dapat dengan instan diadaptasi ke ranah lokal, Chef Marinka mengungkapkan pandangannya terhadap dunia kuliner di Indonesia saat ini. “Sebetulnya memang makin berkembang, terutama di Jakarta, tapi masih bisa dibilang slow. Dari segi tren memang cepat karena kiblat makanan kita ke Amerika dan mereka memang cenderung menjadi yang pertama kalau soal tren makanan, jadi kita cepat mengikuti tren tapi cepat hilangnya juga, seperti cronuts misalnya. Tapi aku juga melihat sekarang semakin banyak orang yang bangga makan masakan Indonesia dan itu bagus. Jangan sampai kita jadi seperti Filipina yang mulai kehilangan cita rasa kuliner autentiknya. Dari industrinya, aku juga ingin membawa masakan Indonesia jadi as famous as Thai or Korean food. Itu butuh kerjasama dari semua pihak, termasuk dari government. Sekarang pun hal itu sudah mulai berjalan kok seperti kemarin syuting Wonderful Indonesia Flavours, aku mewakili Indonesia memperkenalkan masakan Indonesia ke luar negeri bagi aku itu achievement and I’m proud of it. Kalau soal promosi, mungkin bisa lebih efektif lagi, kita tidak bisa menjagokan kuliner satu daerah saja karena masakan Indonesia benar-benar beragam dari Aceh sampai Papua. You have to do it one by one, fokus di makanan dari satu daerah dulu, baru seterusnya ke daerah lain,” paparnya dengan gamblang.

Memperkenalkan masakan Indonesia ke dunia memang menjadi salah satu fokus utama yang ingin ia jalani sebagai seorang professional chef. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat ia pergi ke Peru untuk urusan pekerjaan. “Di Peru aku sama asisten aku harus masak buat 300 orang di Hotel Delfines dan di sana tidak ada yang bisa bahasa Inggris sampai sempat stress rasanya. Tapi ya we have to work it out, aku bawa satu kopor isinya bahan makanan Indonesia semua, jadinya aku cuma bawa baju-baju tipis dan sampai di sana langsung kedinginan, haha! Hari ketiga di sana aku juga diminta mengajar di Le Cordon Bleu setempat dan rasanya menyenangkan karena aku jadi ingat dulu aku belajar di Le Cordon Bleu, sekarang aku yang mengajar.”

            Dengan semua pencapaian karier yang telah ia raih dalam kiprahnya selama ini, Chef Marinka merasa belum saatnya berpuas diri dan masih memiliki banyak mimpi dalam genggamannya, mulai dari keinginan memiliki talk show sendiri hingga merilis buku masak berikutnya setelah sebelumnya sempat merilis buku resep masakan bertajuk Fantastic Cooking di tahun 2011 yang berisi 30 resep kreasinya. Di samping urusan kuliner, ia ternyata juga punya bucket list lain yang ingin ia rasakan. Yaitu? “Akting, hehe. Karena itu juga art kan? Aku mau coba main film untuk seru-seruan saja. Maunya film yang entah action atau yang drama tapi harus yang very dramatic sampai harus menangis atau berteriak. I like something that extreme, jadi kalau bisa ya jangan yang setengah-setengah,” tutur pengagum aktor Johnny Depp ini. “Aku suka Johnny Depp karena dia idealis, dia kalau main film bukan karena ingin terkenal tapi karena dia memang suka perannya. I like him because he’s good looking but he doesn’t care that he’s good looking. Tapi sekarang aku sudah tidak terlalu suka Johnny Depp lagi karena dia ketahuan selingkuh. I hate that. Pokoknya kalau sudah cheater, aku langsung malas!” serunya sambil tertawa.

            Walaupun sempat mengungkapkan keinginan untuk suatu saat bisa membawa kariernya dan tinggal di luar negeri, untuk saat ini Chef Marinka mengaku jika ia belum bisa meninggalkan kota kelahirannya, Jakarta. “Kalau keinginan untuk pindah pasti ada dan sempat terpikir, tapi dilemma di karier juga karena pekerjaan aku sekarang ada di sini. Semua support system juga ada di sini, support system dalam arti kata aku punya community yang benar-benar kuat memengaruhi kehidupan sehari-hari, Teman-teman yang ada di sini, they’re all my happiness. Jadi, aku merasa belum ada purpose yang lebih kuat untuk pindah dibanding fokus yang ada di sini,” pungkasnya. Jakarta dengan segala sudutnya yang menawarkan sejuta cerita, hate it or not, akan meninggalkan kesan bagi siapa saja yang hidup di lambungnya atau yang sekadar melintas. Untuk menutup artikel ini saya pun bertanya kepada Chef Marinka, sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta kira-kira sajian apa yang bisa mewakili karakteristik Jakarta as a city. Dengan wajah yang sudah terias sempurna dan langkah percaya diri menuju depan kamera, chef cantik ini sambil mengulas senyum pun menjawab, “Jakarta itu menurut aku messy dan chaotic. Kalau dilihat sepintas mungkin terlihat biasa saja tidak menggugah selera, tapi ketika diaduk baru terasa enaknya, persis seperti ketoprak, haha. Well, ketoprak memang bukan makanan cantik sih, but I can make it pretty!”

 

Man About Time, An Interview With Joe Taslim

Berbekal persistensi dan work ethic yang telah teruji oleh waktu, Joe Taslim tiba di saat yang tepat untuk menyelamatkan perfilman Indonesia dari kelesuan dan stagnasi pemeran yang itu-itu saja. Di antara himpitan jadwal yang kian memadat, aktor karismatik ini menyelipkan satu jam untuk berbincang dengan Baccarat Indonesia. 

STYLING ANINDYA DEVY FOTOGRAFER HILARIUS JASON MAKE UP & HAIR ARTIST ARIMBI TEKS ALEXANDER KUSUMA PRAJA LOKASI THE WESTIN JAKARTA

Hidup di kota besar dengan segala tantangan dan peluang yang bergulir begitu cepat, time could be your bestfriend or your worst enemy. Lengah sedikit, Anda bisa tergilas oleh waktu. Selayaknya Russian roulette, Anda mungkin tak akan pernah bisa 100% yakin kapan the perfect timing bisa mengantarmu ke kesuksesan atau justru stuck di satu tempat. Some people might believe in miracle and coincidences, others believe success comes to those who dare and act. Joe Taslim termasuk dalam golongan yang kedua.

Nama pria kelahiran Palembang, 23 Juni 1981 ini mencuat di publik ketika ia turut berperan di film laga The Raid pada tahun 2011 lalu, walaupun sesungguhnya ia telah mulai berakting di feature movie sejak tahun 2008 lewat film horror berjudul Karma dan film drama Rasa setahun setelahnya. Brutal dan penuh adegan bela diri yang membuat penonton tercengang sambil menahan napas, The Raid yang digarap oleh sutradara Gareth Evans adalah sebuah film martial arts action yang bisa dibilang breakthough dan mengharumkan film produksi Indonesia di mata dunia, termasuk nama para pemerannya. Peran Joe sebagai sosok Sersan Jaka di film ini berhasil memukau penonton dengan mata tajamnya, tubuh tegap, dan tentu saja keahlian bela diri mumpuni yang berasal dari background-nya sebagai atlet judo profesional yang sempat tergabung dalam timnas judo Indonesia.

            People fell in love with him dan sosoknya kian dikenal lewat berbagai photoshoot majalah dan komersial. Menyusul kesuksesan The Raid di ranah internasional, proyek Joe selanjutnya meliputi proyek skala internasional Dead Mine, sebuah film action horror produksi HBO Asia yang dirilis di sejumlah negara Asia. Not long after that, he got his first Hollywood role dalam Fast & Furious 6 yang lantas disusul dengan peran untuk Star Trek Beyond. Dengan pencapaian karier yang membanggakan tersebut, Joe pun memantapkan kakinya sebagai salah satu aktor Indonesia papan atas di saat umurnya telah melewati umur 20-an dengan filmografi yang sebetulnya masih bisa dihitung dengan jari.

Ditemui di presidential suite The Westin Jakarta, Joe yang memenuhi jadwal interview & photoshot untuk edisi ini datang sesuai jam yang telah disepakati ditemani beberapa entourage. Menyapa semua orang dengan ramah dan terlihat casual dengan t-shirt putih, jogger pants, sneakers, serta topi snapback yang bertengger di kepalanya, you can’t help but to feel his laid-backness. Namun, ketika ia berganti wardrobe dengan sharp tailored suit dan beraksi di depan lensa kamera (not a new thing for him since he used to be a model), Anda bisa merasakan auranya sebagai Joe the movie star. But make no mistake; behind all the glitz as an actor, Joe is a fighter, family guy, and social activist at the same time. Tanpa membuang waktu lebih lama, kami pun berbincang dengannya tentang the past, present, and the future.

L1001519

Hai Joe, boleh ceritakan aktivitas Anda belakangan ini?

Sekarang baru selesai syuting film action, The Night Comes for Us. Kita syuting 3 bulan, syuting terlama untuk film Indonesia yang pernah saya lakukan. Saya main jadi anti hero character, he’s a bad guy but looking for salvation. Tapi harga yang harus dia bayar untuk semua dosa yang dia lakukan, to go back to the right path itu mahal sekali. It’s very dark. Karakternya juga dark banget. Itu sudah selesai tapi saya langsung ambil film drama, judulnya Surat Kecil Untuk Tuhan, untuk balancing the psychological aja sih buat saya. Dari main film yang sangat keras, berdarah-darah, daripada saya harus ke psikolog gitu kan atau meditating, it’s better to do the other path, which is ambil film yang sangat drama, yang no violence and no action at all. It’s something I like to do untuk balance for me as an actor.

Jadi akting di film drama bisa menjadi semacam terapi juga ya?

Yes, therapy. Biasanya kalau syuting panjang kita mainin satu karakter bisa terbawa, bisa sampai ngomong sendiri kadang di rumah. Kalau syuting cuma sebulan mungkin nggak, tapi kalau di atas dua bulan, setiap hari mostly kita di set mainin karakter itu dari pagi sampai malam, we need time to balikin lagi. Dibanding lakuin itu, if I can, I will do the opposite, play different character yang benar-benar opposite dari karakter sebelumnya which is works. Kalau nggak, bisa tambah gila, haha.

Film Surat Kecil Untuk Tuhan ini sendiri tentang apa?

Ini film drama tentang anak-anak sih, sesuatu yang ingin saya lakukan dari dulu banget, bikin film yang bisa ditonton semua umur, especially kids, yang punya message penting juga untuk apa yang terjadi di seluruh dunia sekarang tentang anak-anak terlantar, human trafficking, penculikan, harvesting organ, segala macam. Saya berharap film itu bisa jadi campaign juga untuk isu anak-anak terlantar. It’s a movie yang harusnya bisa menginspirasi banyak orang sih.

Mengingat banyak film Anda yang mengandung kekerasan, apakah selama ini anak-anak Anda juga ikut menyaksikan film Anda?

Saya pernah main film drama tiga tahun lalu dan mereka nonton. The Raid juga sebetulnya mereka nonton tapi tetap saya dampingi untuk menjelaskan kalau semua itu hanya seni, semua itu hanya props. I try to give them angle agar jangan terperosok dalam ilusi violence yang disajikan di film itu. And they understand, so it’s cool sih harusnya, nggak masalah. Tapi anak yang paling kecil nggak lah. Yang sudah 10-11 tahun saja yang sudah punya logic yang baik.

Apa reaksi anak-anak kalau lihat ayahnya di layar?

Mereka sudah biasa sekarang. Dulu kalau lihat foto saya di jalan, di billboard misalnya, masih suka excited, sekarang sudah biasa. They understand it’s my job, papanya kerja di industri yang membutuhkan papanya dipajang di mana-mana, it’s their dad’s job to represents brand, to be in a movie and delivers character. Saya rasa mereka juga sudah mengerti inside-nya, bukan cuma dari luarnya saja. It’s a job, just like any other job like makeup artist or photographer. Kalau aktor atau singer mungkin memang dapat spotlight khusus karena mereka adalah frontline to deliver sebuah project atau brand, tapi sebenarnya sama aja, everybody’s working hard behind the scene. Di industri ini, it’s all about collaboration.

Flashback sejenak, bagaimana masa kecil Anda di Palembang?

Saya dulu dari kecil memang diarahkan orangtua untuk jadi atlet. Masih kecil ya sekolah, sore latihan, its quite discipline life. Main ya main tapi karena fokusnya juga udah ada di sekolah dan olahraga, jadi main ya seadanya, tapi jadi lebih tersalurkan lah. Karena ingin cari yang cocok, saya sempat coba banyak hal. Bulutangkis, taekwondo, kungfu, judo, wushu, bahkan tinju pun pernah sempat mau saya coba.  Tpi akhirnya memang harus fokus di satu cabang dan saya memilih judo, saya juara nasional dan masuk timnas. 

Dari sekian banyak bela diri yang pernah ditekuni, kenapa memilih fokus di judo?

Judo dari saya kecil pun is mostly something that fun dan seru. Judo memang bela diri yang butuh kegigihan, karena prosesnya juga nggak ada yang gampang, dibanting, dicekik, dipatahin, dikunci segala macam. Tapi kalau memang gigih it could reach some point yang membanggakan. Memang keuletan itu yang nggak gampang. Kalau latihan pasti sakit, tapi setelah sekian lama, when you adapt to the pain, you need the pain everyday, it’s something yang seru, setelah dinikmati ya its good pain yang bikin kita lebih kuat physically and mentally, which I think that help a lot in my career as actor now. Secara mentally and psychologically I was raised in very warrior way. Jadi di dunia seni pun I think its same work ethic, harus gigih dan kerja keras, nggak cepat puas, respect, karena core-nya judo memang respect dan discipline. Disiplin itu sih yang banyak membantu di dunia perfilman ini. Banyak orang yang nggak punya core itu. They think acting is just mambo jambo spotlight, getting famous and the girls or get the cover of magazine, they don’t know the foundation of it. It’s a profession. It’s not something you want to brag to other people about.

Jadi, bagaimana Anda akhirnya terjun ke showbiz?

I always love movies. Dari kecil its part of the family tradition juga untuk nonton film bioskop bisa seminggu dua kali or at least sekali because my dad is a huge fan of movies. Mungkin dari situ juga timbul keinginan untuk terjun ke industri ini. Awalnya saya mulai dari commercial, ada satu brand yang membutuhkan talent dengan skill judo, they ask me to go to the audition and then I got the job, that’s my first introduction to camera and shooting process. Dari situ banyak tawaran seperti photoshoot untuk magazine dan runway. For me its learning process. Dari 2001 sampai 2006, it was tons of auditions, tons of work here and there. Audisi untuk iklan, photoshoot, runway, sinetron, FTV… I just did everything just to know industri ini seperti apa sih. Sama seperti bela diri, I learn so many martial arts, but at some point I know I need to focus on one. Salah satu hal yang membuat saya menjadi good judo-ka dulu karena saya mempelajari banyak martial arts lain dan membawa elemen-elemen itu ke martial art yang saya tekuni. Sama seperti industri ini, by the time I decide to focus on acting in feature movie, I have a good foundation and already learnt many things that I could deliver through my experiences, right?

Saat pertama kali berakting di film Karma, apakah waktu itu Anda sudah menikah?

Yes, I was married in 2004, Karma keluar di 2008. I got married when I was really young but I think its good, jadi bisa lebih fokus ke kerjaan. Sudah nggak pikir main-main lagi. Agendanya cuma satu, I just want to be a good actor. Kalau belum kawin mungkin I just think about the girls or party, you know? It’s probably one of the keys that brought me here. Kebanyakan orang kan when they get famous, the distraction around the art sometimes too strong, they got carried away and forgot it’s a profession you love, not the illusion around it.

So you think you started your career on the right time?

Yeah, I think everything happens for reason. Karier saya baru berjalan mulus when I was about 30, below 30 it was struggle all the way, which is happens for reason. Kalau saya mendapat semua apresiasi ini di umur 20, maybe I would be somebody else. Mungkin saya tidak bisa menahan diri dan belum cukup matang. Tapi di umur 30 sekarang dan sudah menikah, saya bisa fokus di pekerjaan. Nggak ada yang aneh-aneh lah. Ini bukan sesuatu yang buat main-main, it’s my life. Not just for being on screen and get famous, this is my life and my career.

Do you already feel settled now?

I’m happy. I think my personality juga bukan yang terlalu ambisius. I don’t think I’m very ambitious guy, I think I believe in doing a bit by bit in perfect way will lead you to the dream and point you couldn’t think you could achieve. Jadi dibanding bikin sesuatu yang grande, I’m kinda guy who a bit OCD in term of how I work. Bagi saya lebih penting memperhatikan detail dalam pekerjaan karena kita nggak akan tahu ke mana hal-hal ini bisa membawa kita. I love surprises, so jalanin apa saja dengan sepenuh hati, dan tiba-tiba, jackpot!

L1001878

Well, mungkin bagi banyak aktor Indonesia the ultimate dream adalah go international main di film Hollywood, but you actually already did that.

I never have a big dream about it to be honest. Kalau berandai-andai mungkin siapapun pasti pernah, tapi kalau untuk bermimpi terus dipikirin nggak sih. This is an unpredictable profession because this is art, it’s very hard to judge. You never sure if you did a good work in one project and it could lead to the other. It doesn’t work that way. It needs a little bit of magic yang munculnya dari keyakinan and it has to be fun. Dan saya selama ini melakukan semua project, apakah itu komersial atau film, semuanya harus I know I’m going to have so much fun. It’s not because of the money or what, I know when I read the script and then I think I will have so much fun in this one, I’m gonna give everything. That’s it. Kalau project-nya sukses atau nggak, it doesn’t matter because I win already. I would never lose because I did it for the sake of I believe in it and I’m very happy for it. Jadi itu sih, filmnya mau kaya apa juga I’m a winner already. In my case, do your profession with love and always give 110 percent, always give perfection to every details and it could lead you somewhere to probably you won’t imagine before.

Do you have any bucket list in acting?

A lot pastinya. Secara karier film saya juga masih belum banyak. Kalau lokal ingin kerja dengan Joko Anwar, Ifa Isfansyah, Hanung Bramantyo. Kalau di luar pasti lebih banyak lagi pastinya, haha. As long as the story make me fall in love with, then anything could happen.

Talk about time, punya brand favorit untuk jam tangan?

I have Omega and Rolex, dua itu yang aku suka sih. I’m very loyal in terms of brands. Jadi kalau sudah suka satu, I feel I don’t want to betray the brand I love. Jadi jarang juga nyoba-nyoba, biasanya kalau sudah coba satu atau dua, ya sudah stay di situ saja.

Pertimbangannya apa kalau membeli jam tangan?

Banyak orang yang memakai jam tangan sekadar untuk fashion. Tapi kalau saya melihat jam tangan itu as a little bit of hint about who you are. Kalau pakai jam tangan untuk meeting and meet people, hal itu memberikan kesan jika kamu adalah orang yang peduli soal waktu, sedangkan design-wise, it’s also show what kind of a guy you are. Kalau saya sendiri sih memang stay to leather and steel. Nggak suka yang modelnya aneh-aneh. Classic watches like Omega or Rolex never disappoint me. They always fit me really good and I think my character also represented. So it’s not like I’m representing the brand, but the brand help me to represent who I am. Like this guy care about time, discipline, classic, persistence and detail oriented. Jam tangan bisa memberikan ilusi tentang diri kita. Not always, but it helps.

Anda sempat posting foto rapper Tupac Shakur di Instagram, kalau musik Anda suka mendengarkan apa?

Banyak sih yang saya suka. I’m an old soul jadi saya nggak begitu mendengarkan lagu-lagu sekarang, kecuali yang bagus banget, picky sih. Saya suka dengerin lagu zaman dulu seperti Stevie Wonder, Tupac, Biggie, atau lebih tua lagi The Beatles. Maybe because I’m not that young anymore, haha.

Anda juga sering posting video main piano di Instagram dan bilang jika hal itu membantu membangun mood dalam berakting. Memang gemar main musik ya?

Just for fun, not professionally. Musik selalu berhasil membangun mood apapun. Seperti di film kan semua dibangun dari musik. Nonton film kalau nggak ada musiknya, you don’t know what you are watching. Saya main piano belajar sendiri dari YouTube. Sekarang semua bisa dipelajari dari YouTube. Asal gigih saja, persistence. Kalau gigih apa sih yang nggak bisa? Kalau bosenan, nyerah, ya nggak bisa belajar apa saja. Alasan orang can’t do what they want karena mereka kurang gigih atau cuma sekadar mengikuti tren.

Ada skill lain yang ingin dipelajari selanjutnya?

I want to speak different languages, ingin belajar Mandarin, Korea, Jepang… Saya rasa bahasa Asia sudah sangat penting sekarang. Different instruments juga kalau di musik. Itu hal yang sangat membantu di sela kesibukan. If I have the option, I rather sit in front my piano instead of hanging out. Ini sesuatu yang positif lah and time is ticking, I’m not that young anymore and I love to learn a lot of things, jadi kalau ada waktu ya I want to learn or try new things. Especially in music, kalau udah bisa piano, I wanna go to different instrument and learn it from YouTube. Ada kenikmatan belajar sendiri. Kalau dengan guru, you’re just following order. When you learn from YouTube, you will find your own system, you teach yourself. Dan pada saat berhasil, ada kepuasan tersendiri yang beda.

Di Instagram, Anda juga kerap posting soal social campaign seperti He for She Campaign dan Fight or Flight. Tell us more about it.

Kalau Fight or Flight itu saya bantuin campaign teman saja sih. My friend is an UFC champion and actor in L.A. Dia bikin campaign soal bullying. Kalau orang dipukulin ya jangan victim terus, lo harus melawan. Ini campaign untuk orang memperkuat diri jadi he asks me to give support and I did it because it’s a good campaign. Itu sesuatu yang saya lakukan di sela kesibukan. Helping them, helping the campaign but actually I’m helping myself too, it bring peace to me. Directly or indirectly, like it or not, celebrities have power to build the awareness and influence the people, jadi gunain yang benar aja. Kalau ada yang minta tolong as an influencer to doing something good I would say yes. I don’t have a reason to say no.

Kalau tentang He for She?.

He for She Campaign itu tentang penyetaraan gender di seluruh dunia. Kalau di He for She Indonesia kita mencoba bilang bahwa kesempatan harus sama antara laki-laki dan perempuan, penyetaraan gender di semua bidang, di instansi pemerintahan dan swasta, salary harus sama, dan perempuan juga berhak menjadi pilar pembangunan Indonesia ke depannya and have opportunity untuk sama-sama membangun negeri. To make it work, kampanye ini memang butuh dukungan dari semua laki-laki, kalau untuk perempuan doang jadinya terpisah. The point is always untuk bikin orang aware dulu, lewat social media dan nanti juga video yang sudah kita shoot akan dimasukkan ke bioskop dan digital.

Do you see yourself as a humanitarian?

I want to be. But I don’t know, it depends on what you do, you cannot say yourself as a humanitarian but you never really there. I try my best to, at least support the humanity program. But to claim myself as humanitarian I don’t think I have the credibility. I haven’t been in Syria, Sudan, or Aceh. So far I’m still doing it through penggalangan dana and the practical campaign to raise the money for them. But I don’t think its enough. I’m just a supporter of humanity.

What make you proud as Indonesian actor?

I’m proud as Indonesian actor because being Indonesian actor brought me my career. Saya kan bukan orang Indonesia yang tinggal di Amerika. Bukan orang Indonesia yang pindah ke Amerika terus berkarier di sana dari nol. Karierku dimulai di sini dan yang membukakan pintu untuk film-film Hollywood yang aku dapat itu karena aku main film Indonesia. Film Indonesia The Raid yang membukakan pintu aku ke sana, that’s the movie I’m always being proud of, karena kalau nggak ada film itu ya nggak ada Fast, Star Trek, dan nggak ada hari ini juga. That’s Indonesia movie, man. You have to be proud too.

Pernah ada keinginan untuk tinggal di luar negeri demi karier?

Pindah sih belum. I don’t think so, kecuali memang pekerjaan di sana harus stay lama. Tapi juga akan balik lagi, I don’t think I will move to anywhere else. Kalau ada tawaran film di luar ya kita bakal syuting, kelarin. Udah kelar ya pulang lah. Sekarang belum kepikiran sama sekali, plus everything is fine here. Semua di sini baik-baik saja. Education wise it’s good, life wise it’s good. It’s home lah.

Including the recent politics situation?

It’s okay… Everything is gonna be fine. When it’s done, it’s done. Everybody will hug each other.

Hopefully.

Possibly.

L1001424 copy

A League of Her Own, An Interview With Natalie Ludwig

Dari Dartmouth sampai Dolce & Gabbana, dengan cantik Natalie Ludwig melangkah seimbang di antara kehidupan akademis di kampus Ivy League yang tersohor dan kariernya sebagai rising supermodel di berbagai pentas fashion dunia. 

Pada tanggal 11 September 2015 lalu, bertempat di dermaga Pier 26 dengan pemandangan cahaya matahari terbenam yang membentang di atas Sungai Hudson, New York City, hampir 100 model turun beriringan untuk berjalan di atas runway Givenchy koleksi Musim Semi 2016. Seperti yang bisa diharapkan dari rumah mode legendaris asal Prancis yang saat itu masih dinahkodai oleh sang Creative Director Riccardo Tisci (baru bulan Februari kemarin ia mengumumkan rencananya meninggalkan Givenchy setelah 12 tahun di sana), pagelaran mode tersebut berlangsung dengan spektakuler. Dengan koreografi kreasi seniman garda depan Marina Abramovic, deretan model tersohor seperti Mariacarla Boscono, Kendall Jenner, dan Joan Smalls memeragakan koleksi yang menjadi tribute bagi peringatan serangan teror yang menimpa kota tersebut 14 tahun sebelumnya. Ethereal and divine, para model yang mayoritas mengenakan pakaian berwarna hitam, putih, dan gading terlihat seperti para peziarah sekaligus penyintas. Di antara wajah-wajah familiar yang telah lama malang-melintang di atas catwalk, terselip satu wajah yang terlihat asing, namun seakan menghipnotis para penonton untuk memerhatikan gerak-geriknya di atas panggung.

03580007

Sang pemilik wajah bernama Natalie Ludwig. Runway tersebut adalah kali pertama model asal Kanada ini berjalan di fashion week dan pintu masuknya ke dunia fashion sebagai model eksklusif untuk Givenchy. Dibantu oleh casting director kepercayaannya, Patrizia Pilotti, bukan hal yang aneh bagi Riccardo Tisci untuk, once in awhile, memilih wajah-wajah paling fresh sebagai model eksklusif bagi show Givenchy, dalam artian, sang model terpilih hanya boleh berjalan untuknya di musim tersebut. It’s once in a lifetime opportunity and almost like a rite of passage to a stardom. Butuh lebih dari keberuntungan untuk mendapat kesempatan itu, dan Natalie Ludwig punya banyak hal yang membuat seorang Riccardo Tisci dan casting director manapun menyukainya. “Saya tidak bisa memikirkan alternatif lain yang lebih baik untuk memulai karier saya. And yes, I’ll never forget the magic of that show! Tentu saja saya sangat nervous tapi saya berusaha sebisanya agar hal itu tak terlihat. Pakaian yang saya kenakan adalah extraordinary works of art, the energy was moving, and the show took place in New York City on September 11th,” kenangnya.

Nat, demikian gadis kelahiran Vancouver, 14 Juli 1995 ini biasa dipanggil, bergabung di agensi model pertamanya saat masih berumur 13 tahun, namun baru di tahun 2014 ia bergabung di agensi papan atas Elite Management. Setelah debut yang impresif sebagai model eksklusif untuk Givenchy di Musim Semi 2016, di musim berikutnya ia langsung melesat sebagai fresh face paling dicari di kancah fashion week dunia. Rumah mode termahsyur mulai dari Burberry, Valentino, Maison Margiela, hingga Dolce & Gabbana berebut memintanya untuk berjalan di show mereka.

Diberkahi oleh tubuh semampai dengan kecantikan klasik bak Dewi Venus, gadis berdarah Kanada dan Jerman ini memang seakan terlahir untuk menjadi seorang model. Namun, bukan berarti ia menganggap modeling adalah poros utama dalam hidupnya. Ketika banyak model muda lainnya mencurahkan fokus dan masa muda mereka untuk karier modeling sampai rela meninggalkan bangku sekolah, bagi Natalie edukasi adalah hal yang tak bisa ditawar. Kendati menjadi model yang tengah naik daun dengan sejuta peluang terhampar di hadapannya, ia memutuskan untuk tetap menikmati masa mudanya seperti teman-teman sebayanya dan melanjutkan kuliah di jurusan Sosiologi di Dartmouth College, salah satu universitas Ivy League bergengsi di Amerika Serikat. “Bukan hal yang mudah untuk kuliah sekaligus kerja, tapi mendapatkan degree adalah hal yang penting bagi saya, jadi saya secara secara maksimal berusaha menyeimbangkan keduanya. Saya menghabiskan satu semester untuk fokus kuliah, semester berikutnya untuk modeling, dan kembali ke kampus semester selanjutnya secara bergantian. It’s allowing me to devote different portions of time to each and try to stay on top of both. Saya juga merasa beruntung punya kesempatan untuk kuliah di salah satu universitas Ivy League karena bisa mendapat banyak inspirasi dari teman-teman kampus yang datang dari latar yang sangat beragam.”

            Itu adalah caranya untuk tetap menjalani hidupnya dengan “biasa” seperti remaja pada umumnya. Namun, mungkin “biasa” memang bukan suatu kata yang tepat untuknya. Ia berasal dari keluarga yang tak asing dengan sorotan lampu dan atensi. Ibunya, Sharlene, adalah mantan aktris; ayahnya, Harald Horst Ludwig adalah businessman dan petinggi dari perusahaan showbiz Lionsgate, sedangkan kakaknya adalah Alexander Ludwig, aktor yang muncul sebagai Cato di The Hunger Games dan serial Vikings di History Channel. Sebelumnya, Alexander juga memulai karier sebagai model untuk Abercrombie & Fitch saat fotografer Bruce Weber melihatnya di perpustakaan University of Southern California dan baru-baru ini adik perempuan Natalie, Sophia, juga baru bergabung di IMG Models mengikuti jejaknya. So it’s really a family affair for her. Melihat latar belakang keluarganya, kamu mungkin bertanya-tanya apakah Natalie akan mulai merambah ke akting dan tampaknya memang hanya tinggal menunggu waktu hingga saat itu tiba. “Iya, saat ini saya sedang mencari kelas akting, karena saya merasa art form dari modeling dan akting sebetulnya berjalan beriringan,” ungkapnya.

            Genetically blessed dan didukung support system yang kuat dari keluarganya, adalah hal yang mendebarkan untuk menanti hal-hal menakjubkan apa lagi yang bisa ia lakukan di masa depan. Tapi untuk sekarang, menyelesaikan kuliah dan meniti karier menuju status supermodel adalah fokus utamanya. Di antara jeda waktu menunggu wajahnya dirias and hit the runway, Natalie menjawab interview berikut ini di belakang panggung pagelaran Ralph Lauren untuk New York Fashion Week musim ini.

03570006.jpg

Di mana kamu tumbuh besar dan apa pengaruh dari masa kecilmu yang terbawa sampai sekarang? Saya lahir dan besar di Vancouver, Kanada, di keluarga besar yang sangat adventurous! Sekarang pun kalau sedang tidak modeling saya suka traveling, ski, hiking, main tennis dan melakukan aktivitas penuh adrenalin lain seperti bungee jumping, sky diving, kayaking, etc. I’m always up for testing my boundaries and trying new things. Hal itu membuat saya menjadi orang yang cukup pemberani dan mengajari saya untuk stand my own ground, yang menurut saya sangat penting di industri yang sedang saya jalani.

Apa cita-citamu waktu kecil dulu? Waktu kecil saya selalu ingin menjadi penyiar berita. Dulu saya selalu menonton berita setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan terpesona dengan sosok orang-orang yang menyampaikan berita-berita penting untuk dunia.

Jadi apa yang membuatmu terjun ke modeling? Saya mulai modeling di usia 13 tahun saat saya di-scout Lizbell Agency di sebuah field hockey game. Ketika saya pindah ke East Coast untuk kuliah, saya bergabung di Elite New York, untungnya karena jarak kampus dan agensi saya sangat dekat jadi saya bisa melakukan keduanya sekaligus! Saya suka modeling karena pekerjaan ini membuat saya bisa mengeksplor diri sendiri melalui emosi dan karakter yang berbeda-beda yang harus saya tampilkan di set.

Apa hal yang kamu baru pelajari dari dunia fashion dan modeling saat kamu akhirnya terjun ke dalamnya? Kamu akan menyadari jika industri ini ternyata bisa mengajarkan banyak hal tentang diri kamu sendiri. Hal itu terasa ketika saya bereksperimen dengan fashion lebih dalam, bekerja dengan fotografer yang berbeda-beda dengan visi masing-masing.

Apakah kamu punya pencapaian favorit di dunia modeling sejauh ini? Saya rasa saya tidak bisa memilih satu yang paling favorit, tapi menjadi model eksklusif untuk Givenchy selalu menjadi hal yang membanggakan bagi saya! Yang baru-baru ini, saya lagi di Times Square dan melihat wajah saya di American Eagle Holiday Campaign terpampang di atas jalanan, which was a very cool moment for me!

03590008x

Bila harus memilih antara runway dan photo shoot, mana yang membuatmu lebih excited? Keduanya sangat exciting, jadi kembali lagi tergantung pada job itu sendiri. Tapi yang jelas, there is nothing that compares to the energy you feel as you walk on the runway.

Di antara major fashion week capitals, kota apa yang menjadi favoritmu dan kenapa? My favorite fashion week capital is Paris. There is a special sense of magic in the air there, causing me to feel constantly inspired simply by people-watching on the streets as I walk to castings.

Kamu sempat mendapat pujian dari Naomi Campbell saat berjalan di Burberry, bagaimana kamu berkenalan dengannya? Siapa saja model favoritmu saat kamu beranjak dewasa? Saya bertemu dengan Naomi pertama kali di Uruguay dan merasa beruntung bisa mengenal dirinya, dia adalah salah satu model yang paling hard-working dan loyal yang pernah saya temui. Saat saya kecil, Naomi adalah model yang saya idolakan, kepercayaan dirinya dari dulu sampai sekarang selalu menginspirasi tanpa batas. Selain Naomi, saya juga mengidolakan Linda Evangelista dan Stephanie Seymour.

Siapa saja yang ada di daftar dream collaboration milikmu? Rasanya tidak mungkin untuk menyebut semua dream job yang saya inginkan, tapi ada banyak para visionaries yang saya harap bisa bekerjasama dengan saya, contohnya seperti Steven Meisel, Patrick Demarchelier, dan Peter Lindberg.

What’s your secret weapon when it comes to confidence? Stay true to myself and only do what makes me happy. When I am happy, I feel confident. Self-love is very important, especially in this industry.

Di Instagram terlihat kamu sangat dekat dengan kakak-adikmu, siapa yang paling dekat denganmu di keluarga? My siblings are my best friends no question, I Facetime with all of them daily, it would be evil to pick a favorite! Haha.

Kamu mengambil major Sosiologi di Dartmouth, kenapa dan apa yang membuatmu passionate di bidang itu? Saya tertarik pada Sosiologi karena ini ilmu tentang manusia dan budaya. Saya passionate soal humanitarian work. Baru-baru ini saya bergabung di “Model Mafia”, sebuah grup aktivis yang digagas oleh Cameron Russel dan saya tidak sabar untuk terlibat di proyek-proyek yang akan datang.

Menyinggung tentang politik, bagaimana iklim politik belakang ini mempengaruhi dirimu? Hal apa yang ingin kamu ubah dari dunia? Saya harus bilang jika saya bangga menjadi orang Kanada karena negara ini tetap menjadi negara yang menghargai perbedaan dan menerima semua orang. I would love for the world to be a more accepting and safe space.

Tell us about your personal style, how would you describe it and what’s your sartorial signature? Gaya personal saya cukup free-spirited dan menyesuaikan dengan kegiatan yang saya lakukan. Kalau lagi kuliah, saya hanya memakai pakaian yang kasual dan agak sporty, a lot of Adidas originals and Supreme! Tapi kalau lagi modeling di New York, saya cenderung memakai pakaian warna hitam, with good vintage statement pieces to spice things up.  

Jika kamu bisa memilih satu karakter fiksi untuk menggambarkan dirimu, siapa yang akan kamu pilih? Carrie Bradshaw dari Sex and The City karena dia mampu menyeimbangkan antara cinta, fashion, karier, dan teman-temannya, dengan great sense of humor about it all.

Have you ever been in love? What makes you fall in love with someone? I’ve been in love once. I fell In love because he always pushed me to be a better version of myself. I think having someone who encourages you to grow is extremely important.

Apakah kamu termasuk orang yang membaca dan mempercayai horoskop? I love reading my Cancer horoscope everyday, it keeps me mindful! 

Saya dengar kamu suka mendengarkan musik sebelum berjalan di runway atau sebelum photo shoot untuk membangun mood, apa yang sedang kamu dengarkan belakangan ini? “Paris” dari The Chainsmokers, “White Inversion” dari Post Malone, dan “Free Fallin” dari Tom Petty. Selera musik saya sangat beragam!

Kamu telah berpergian ke banyak tempat, punya destinasi impian yang belum terlaksana? Destinasi travel impian saya adalah Peru. Saya selalu ingin hiking dan melihat Machu Picchu dengan mata sendiri.

 Apa saja yang menjadi bucket list tahun ini? Do a half marathon, work with youth at risk in New York, go gorge jumping, and launch the starting of a fashion line with my brother, Alexander Ludwig. 

Terakhir, what’s the best advice you ever got, in term of modeling or life in general? “Good things happen when you show up”.

Photographer: David Richardson.

Stylist: Jo Heng.

Assistant Stylist: Enyu Lin.

Makeup: Kentaro Kondon.

Hair: Jake Gallagher.

On The Records: NICHOLSON

Come from the land of so-called Bollywood sounds, NICHOLSON is a live electronica project from singer-songwriter Sohrab Nicholson and producer/multi-instrumentalist Rohan Rammana which bringing a breath of fresh air to the musical landscape in Mumbai, India. The project is started not long after Sohrab finishing his jazz piano study at St. Francis Xavier University in Canada. After a brief stint in UK, he went home to India along with his musical exploration of ambient electronic which he combines with the key harmony of jazz. His conquest to find music producer who can understand and enhance his music bringing him to Rohan, one of the founders of Cotton Press, a music studio in Mumbai with main focus is to support the local alternative scene. With the right chemistry of emotive vocal and transcendental ambient electronic, it doesn’t took a long time for them to gain positive recognition through their debut EP For What in 2014. Supported by hypnotizing live performance and cinematic music video for singles like “Cold Water” and “For What II”, NICHOLSON successfully serving an interesting feast of sounds and sights.

14040007_524066931118756_1237400459790716242_n

Hi Sohrab & Rohan, how are you? Where in the world are you right now and what are you doing before answering this email?

Very well thanks. We’re in Mumbai, India right now. We’re in the process of writing our first album, so we have been spending a lot of time in the studio.

So I guess we should start from the beginning, what inspired you to start making beats in the first place and how did you guys meet and make this project?

Well music was essentially a very essential part of both our childhoods. We were exposed to a lot of it because of our families. Our dads exposed us to what they listened to, and eventually we learned to play our instruments. As far as the project is concerned, we met quite by chance at Cotton Press Studio in Mumbai, where Rohan is one of the founding partners. We started working on our first EP before we planned on launching a project of any kind.

What’s the story behind NICHOLSON’s name?

I had initially gone to Cotton Press Studio, to record a couple songs I had written. We worked on our first EP together in an artist-producer context. I didn’t at the time want another alias, so I just used my last name. Very quickly the dynamic changed and it was quite clear we were a duo in every sense, but the name stuck. Funnily enough we later discovered that Rohan grew up next to a lady called Mrs. Nicholson. Turns out she was my great aunt!

How would you describe your genre?

Wellwe’re not really genre specific. We draw inspiration from a really large palette. We come from similar jazz backgrounds, but listen to vastly different music from one another. So, in essence what we make is an amalgamation of all our influences.

What are your musical influences?

Jazz, Classical, Hip-Hop, Film Scores, Pop, Electronica… We’re sort of all over the place.

What kind of records were you collecting when you’re growing up?

Collectively… Michael Jackson. We definitely both had Michael Jackson records growing up. Pink Floyd, Miles Davis, Oscar Peterson, Weather Report – a few names that were always playing at home when we were growing up.

How do you think your hometown affects your music?

Never really thought about it to be honest…

How the songwriting/recording is usually goes for you? Who’s doing what?

It just depends on the song. We’ll jam out an idea and develop it. Sometimes, Sohrab will have a song skeleton with lyrics and basic chord guideline, which then gets developed together. Other times, it just starts with a groove… There’s no real system. It’s sort of a give and take. We both have ideas that all make it to the table and then we curate them.

You have awesome music videos that always feels so cinematic, how do you came up with the concept for your videos?

Well the video series is all thanks to our good friend Sachin Pillai, who came on board to collaborate with us from the very beginning. He’s a very talented cinematographer and documentary film maker. Our common friends are in the videos as well which made it quite special. The videos are Sachin’s babies. We brainstormed concepts etc, but he definitely captained that ship.

How do you feel about your local indie music scene in India nowadays? Do you have any recommended names to listens to?

The landscape of Indie music in India is changing very rapidly. A few years ago, there wasn’t really a market for non-mainstream Bollywood music. What’s happening right now is quite exciting. Yeah, lots of great acts… Sandunes, Parekh and Singh (Formerly Nischay Parekh), Sid Vashi are a few you should definitely check out!

What are you doing when not making music?

It’s pretty much our full time job. Other than this project, we also compose and produce music for television commercials, documentaries, etc.

What’s the most memorable gig so far and why?

Magnetic Fields which is a music festival held in a palace in Alsisar, Rajasthan. The festival on a whole was truly a very unique experience and we are just so happy we had the opportunity to perform there.

What’s your dream project?

A feature film background score.

What are the next goals for you?

We are writing our album as well as working on a creating a complete audio/visual experience tour collaborating with really talented visual artists, the “Wolves” who recently played at Glastonbury with Anoushka Shankar.

https://www.facebook.com/nicholsontunes/

Photos by Neville Sukhia

Art Talk: The Pink And Blue of Fran Munyoz

Hailed from Valencia, Spain, artist Fran Munyoz paints about boys and girls in their undies, looking fragile and sensual at the same time, in vibrant pastel landscape of predominantly pink and blue palette. It was love at the first sight when I accidentally saw his works in my Instagram feeds. Just mere minutes after I instantly click the follow button and liking so many posts, I decide to drop him a message for interview request, and here it is. The 22-year-old artist tells about his life in Valencia, his artistic process, and the captivating characters that appear in his work.

 FRANMUNYOZ

Hi Fran, when did you start focusing making art? Did you come from creative/artistic family?

I’ve been painting, drawing, and sculpting since I was young, but it’s only around from these past two years, I am focus on creating personal works. No one from my family is an artist. I have learnt Fine Arts at the Polytechnic University of Valencia for two years. In addition, I’m also joining personal classes to develop my skills.

What do you love the most about your hometown and how does it affect your art?

I really like how calm it is, it’s close to the sea and at the same time it’s also around mountains. I used to focusing in body shapes; nevertheless I also have included landscapes in my latest series to generate different backgrounds.

Who are your favorite artists?

My favorite artists are Antonio López, Hopper, Matisse, and Dalí.

 pp

What kind of mediums do you use?

I used to work with mix and collage technique. Both of them are dynamic and they increase the dimension of the work. But actually what I’m really like is to combine drawing and painting.

Tell us a little about your creative process.

I am working so hard constantly, and especially after I decided to do what I love and I mixed it with my essence. I choose the colors depend of the situation or series. I like planning all the works with a coherent theme and stay true to the meaning that I want to transmit through my works.

What the other thing beside art that makes you passionate?

I am passionate about human, trying to get know more from the people, understanding different perspective and know how they feel.

angelcaido

What makes you nostalgic?

Thinking about life itself makes me nostalgic, and especially to think about the ones that aren’t with me anymore.

How do you define “beauty”?

I think during XXI Century the concept of “Beauty” shouldn’t be explained because it’s wide, relative, and very depends on who is looking at it.

What was the last thing you read, watched, and listened to?

The last book I have read was Art After Modernism from Brian Wallis. Last film I have seen is Edward Scissorhands from Tim Burton, and last song I have listened is “Til It Happens to You” from Lady Gaga.

What are your current and upcoming projects?

Nowadays I am working on some commission works, a new video art project and some exhibitions. There’s an individual exhibition which will be held in Madrid and a collective exhibition in Malaga.

Where can we see more of your work?

My website and Instagram.

mar

Fluorescent Adolescent, An Interview With Saffron Llewellyn

We hate to burst the bubble, tapi menyebut Saffron Llewellyn hanya sebagai representatif dari generasi millennial adalah sebuah honest mistake. She’s actually way more than that. 

Fotografi: Sally Ann & Emily May. Stylist: Anindya Devy & Priscilla Nauli. Makeup Artist: Priscilla Risjad. Assistant Stylist: Versace Wang.

img_9498

Lebih dari edisi apapun, memilih cover untuk edisi Anniversary selalu menjadi momen krusial bagi kami. Kami berharap sosok yang menghiasi sampul edisi Anniversary kami untuk set up the mood for the upcoming year and to be the face yang dapat mewakili DNA majalah yang sedang kamu pegang ini. Beberapa nama di tahun-tahun sebelumnya yang meliputi Eva Celia, Sherina, dan Chelsea Islan adalah segelintir bintang muda Tanah Air yang tak hanya diberkahi oleh talenta besar di bidang masing-masing tapi juga their own personal style and state of mind yang selaras dengan semangat yang kami usung, which is para perempuan muda yang punya sikap, mimpi, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Memasuki tahun keenam ini, we’re planning to even gutsier and take more risk. Kami ingin memperkenalkanmu kepada fresh face yang bisa menjadi sosok alternatif dari yang biasanya kamu lihat. Salah satunya adalah cover kami edisi ini, Saffron Llewellyn. Namanya mungkin masih terbilang asing bagi banyak orang, beberapa mengenalnya sebagai putri dari Gwen Winarno dan cucu dari pakar kuliner Bondan Winarno, sementara bagi sebagian orang lainnya, she’s a budding model with promising future.

            Bernama lengkap Saffron Jemima Llewellyn, wajah gadis berdarah Indonesia, Belanda, Inggris, dan Amerika yang lahir di Jakarta, 26 Juni 2001 silam ini belakangan semakin sering dijumpai dalam berbagai pemotretan untuk majalah-majalah high fashion dan campaign untuk brand seperti The Balletcats dan Mazuki. Tapi di usianya yang baru menginjak 15 tahun, modelling is more like an after school extra activity for her. Saat tiba di apartemen milik fotografer Sally dan Emily yang menjadi lokasi shoot kali ini, Saffron literally baru pulang dari sekolah dengan masih memakai seragam, rambut yang diikat seadanya, dan wajah polos tanpa riasan apapun. Dengan tinggi 163 cm dan kesan pertama yang terlihat canggung, sejujurnya ia terlihat seperti anak sekolah biasa dengan tas penuh buku pelajaran. Things are getting interesting setelah dia duduk di depan cermin rias, menarik napas, dan membiarkan wajahnya mulai dirias oleh makeup artist yang memperlihatkan facial features miliknya dengan cekatan. Setelah mengenakan looks yang telah disiapkan dan mulai berdiri di depan kamera, the transformation is complete. “I wouldn’t mind doing modelling,” ujarnya sambil tersenyum. “In fact I really enjoy it. My mom says dari masih bayi saya juga sempat ikut beberapa foto, but I think my first ever shoot yang saya ingat itu waktu umur 11 tahun untuk majalah Dewi, and after that it’s kinda build it up,” sambungnya.

img_2964

Ditemani oleh playlist 90’s R&B hits dari Spotify, ia terlihat nyaman berada di depan kamera sambil sesekali menggumamkan lirik dari lagu TLC yang terdengar. She knows her angles so well dan ketika diminta menunjukkan raut fierce, wajahnya seperti pinang dibelah dua dengan sang ibu, with a hint of young Natalie Portman and the same allure of Lily-Rose Depp. Namun ketika tertawa atau diminta menunjukkan ekspresi konyol, wajahnya langsung kembali carefree selayaknya anak sebayanya. Setelah beberapa looks, dia memekik senang saat kami menunjukkan t-shirt bergambar selfie dari Instagram dirinya yang kami siapkan khusus (later on the t-shirt became a birthday present for her boyfriend). Memakan waktu dari jam 4 sore sampai jam 9 malam, shoot terakhir dilakukan di kolam renang yang cukup dingin without any complaints. Ini memang bukan cover majalah pertamanya, but still, dia ternyata sama excited-nya dengan kami. “I was like ‘Nylon? It’s pretty big, right?’ saat dihubungi kalian, lucunya saya sebetulnya pernah datang ke acara Nylon bersama teman-teman saya and yeah its cool, dan sekarang saya ada di sini untuk foto cover! I’m actually really happy and thank you for having me to do it!”

            Dengan umur yang masih sangat belia dan potensi yang luar biasa, saya rasa hanya masalah waktu sebelum wajah Saffron mendominasi halaman-halaman fashion spreads, covers, dan proyek seru lainnya. In the mean time, education is still her number one priority. Tidak mau asal ambil pekerjaan, ia mengaku memilih semua tawaran dengan hati-hati dengan concern utama tidak mengganggu jadwal sekolahnya. I love meeting new people and getting to do so many different things in the process. Memang agak susah untuk terbiasa but I’m getting there, you know? The creative process is really fun. Yang saya nggak suka paling kalau terlalu lama dan saya masih punya banyak homeworks, haha.”

Di balik mature professionalism yang ia tunjukkan, berbincang dengannya ternyata sama serunya seperti menemukan sosok seorang BFF. Super chill dan secara candid menceritakan segalanya tanpa pretensi apapun, she’s actually a normal teenager who likes to spend the weekend with her friends or boyfriend dan menikmati masa remajanya. “I like being teenager. In the fashion point of view pun saya merasa fashion saat ini sedang booming, like the guys really dressing up at the moment. I like how teenagers nowadays have good sense of fashion. I think we’re really outgoing and like to try new things out there,” ujarnya.

Bicara soal remaja saat ini, most people akan menyambungkannya dengan generasi Millennial, dan Saffron punya pengalaman soal hal itu. “You know what happens? Dalam pemotretan sebelumnya, they ask me about being millennial dan banyak yang bilang kalau millennial itu anak-anak seumuran saya, right? Tapi saya sempat search di internet and found out that I’m not even counted as millennial. Orang bilang millennial kan mereka yang lahir dari tahun 1980 sampai 2000, but I was born in 2001, haha! So, I’m like ‘are you sure I’m millennial?’” ungkapnya sambil tertawa renyah. Well, maybe it’s time for us untuk mulai memikirkan generasi AFTER the millennial seperti Saffron, generasi baru yang mungkin lebih berani lagi dengan sisi individu dan sikap rebellious khas remaja tanpa peduli prasangka dari generasi-generasi pendahulunya. “Well… Excuse me, but we’re the kids at the moment, like gimana lagi right? I mean we’re just enjoying our time, leave us alone! Haha!”

So Saffron, boleh cerita sedikit soal masa kecil kamu? Dulu kamu kecilnya kaya gimana sih?

Waktu kecil saya sempat sangat girly, tapi kemudian saya jadi lumayan tomboy setelah mulai aktif olahraga seperti tennis dan renang. I was very active and cut my hair really short. So yeah, saya sempat jadi girly Barbie girl kemudian tomboy dan kemudian jadi seperti sekarang which I think is a mix of both of them.

What’s your childhood dream back then?

It’s so embarrassing, tapi saya ingat dulu saya pengen banget jadi penyanyi. You can ask my mom, dulu saya sering pecicilan nyanyi random lyrics sambil pura-pura main gitar. Saya juga dulu ingin jadi aktris, tapi kalau sekarang saya ingat lagi, I’m like ‘what was I thinking?

Kalau sekarang masih minat jadi penyanyi atau cukup di karaoke saja?

Oh no, cukup karaoke saja. I love karaoke, it’s like a time for me to release myself, haha. I usually go with a bunch of crazy friends and just jammed out.

Apa lagu karaoke wajibmu?

“Mamma Mia” by ABBA atau “Bohemian Rhapsody”, apa lagi ya? Oh ya “Don’t Stop Me Now” dari Queen juga! Kalau karaoke bareng keluarga saya, we always sing “Bohemian Rhapsody”. It’s just a thing that we always do.

Kalau di keluarga kamu paling dekat dengan siapa?

Probably my mom, karena we’re just like sisters in a sense ada waktu-waktu di mana we completely hate each other and then love each other so much. Kami juga sering sharing pakaian, sepatu, makeup… atau lebih tepatnya, I share my makeup, haha. So yeah, saya rasa saya paling dekat dengan ibu saya, dia bisa tau jika saya punya masalah dan sangat suportif soal modeling, she’s like “Oow… look at you in the cover,” and I’m like “Oh my God, please stop, it’s annoying,” haha.

Pasti banyak yang bilang kamu mirip banget sama your mom ya?

Yeah! And to be honest I don’t see the similarity at all! Dia kadang-kadang suka menggoda saya soal itu tapi saya justru suka sebal kalau disama-samakan. But I think I kinda understand. She’s also a fashion stylist and I get my fashion sense from her. Most of my things are from her wardrobe anyway and I’m like the younger version of her in that sense. Barang terakhir yang saya pinjam dari lemarinya adalah boyfriend jeans yang sangat nyaman and she’s like “You better give it back or get your own jeans!” and I’m like, “Okay, geez…”

How about your grandpa? Kamu sering diajak wisata kuliner sama Pak Bondan?

Ya kalau di family trip he’s the one that will show us around and to try something new in different places. Saya harap nggak akan ada yang cari dan nonton, tapi saya sempat muncul di salah satu episode show-nya. Saya masih kecil banget bareng sepupu saya, please do not try to find the clip because it’s probably the most embarrassing thing ever! Haha! But yeah, it’s always fun to going around with my grandpa because there’s an always new experience. Saya sangat picky soal makanan dan biasanya menolak kalau disodorkan makanan yang tidak biasa saya makan but in the end of the day, I will try it too, haha.

Kamu punya nama yang unik, what do you think about it dan jika bisa memilih nama sesuai yang kamu inginkan, nama apa yang akan kamu pilih?

Saya sempat bertanya-tanya soal arti nama saya dan dari mana asalnya karena orang-orang sempat memanggil saya dengan nama “kunyit” kemudian saya baru tahu it was a spice. Sebetulnya nama saya tidak hanya terinspirasi dari nama rempah-rempah but actually dari nama lead vocalist sebuah band bernama The Republica yang menjadi favorit mama saya. The lead singer’s stage name was Saffron. I always liked the name Aquamarine. So then my nickname would be Aqua. People think I’m weird when I tell them that. 

Mengintip Instagram milikmu, tampaknya kamu sangat into Halloween ya?

Yeah I really like Halloween. Setiap tahun saya mencoba something new. Tahun ini saya punya dua kostum. Yang pertama saya menjadi Alice karena keluarga saya did the Alice in Wonderland things, my mom became the White Queen, I became Alice, my mom’s boyfriend became Mad Hatter and his daughter became Cheshire Cat, it was cute and fun! Yang kedua, saya merias muka saya sendiri dengan riasan bertema tengkorak, that was the first Halloween makeup I did all by myself, It took such a long time maybe because I’m such a perfectionist. It took like two hours, literally.

 img_9709

Tell me about school life, seberapa penting edukasi bagimu?

I take education very seriously, I’m not the best at it but I feel like without it I can’t do anything else. Itu sebabnya untuk kerja, saya hanya bisa melakukannya sepulang sekolah atau pas weekend. Orangtua saya nggak akan kasih izin saya untuk bolos demi pemotretan dan saya pun juga nggak mau bolos karena saya pasti akan ketinggalan pelajaran.

Apa satu hal atau skill yang ingin kamu pelajari?

Saya ingin bisa bahasa Prancis. Saya sempat belajar sendiri, but it doesn’t seem really working, haha. But yeah, saya selalu ingin belajar bahasa Prancis atau Belanda karena keluarga dari pihak ibu saya banyak yang berasal dari sana. Saya sebetulnya lumayan paham kalau mendengar orang ngomong bahasa Belanda, tapi saya nggak bisa ikutan ngomong, which is so frustrating.

Apa yang menjadi obsesimu belakangan ini?

I don’t really obsess over things, so yeah, I don’t have a current obsession.

What’s on your music playlist right now?

The 1975, Arctic Monkeys, and a lot of old 90s music. They are so fun to jam out and karaoke with.

Kamu sering datang ke festival musik, konser atau festival apa yang paling ingin kamu datangi dan kenapa?

I love festivals! I love how they have all these different genres and indie music which I really love. Baru-baru ini saya pergi ke We The Fest yang sangat amazing karena ada The 1975, haha. I really want to go to Glastonbury or Coachella one day. It’s on my bucket list.

Who’s your celeb crush? Jika bisa menghabiskan satu hari dengannya, apa yang ingin kamu lakukan?

I have so many that I don’t really know which one to pick! Mungkin yang paling utama adalah Matty Healy atau Alex Turner karena mereka terlihat really chill. Saya ingin ngobrol dengan mereka soal bagaimana mereka mendapat ide dan menulis lirik untuk lagu-lagu mereka dan mungkin minta diajari main gitar. I wouldn’t mind talking about those things at a cafe or something over coffee.

Dengan atensi yang makin banyak, bagaimana caramu menanggapi rumor dan negativitas, baik itu di real life maupun di internet?

I sometimes get caught up tapi saya selalu mencoba tetap positif dan berusaha agar hal itu tidak mengganggu saya. I think its stupid when people hate on you, make rumors so say negative things about you. They are totally wasting their time, jadi kenapa saya harus membuang waktu juga untuk menanggapinya? Like my mum says, they’re probably just saying those things cause they’re jealous! Hahaha.

Seberapa penting media sosial bagimu dan socmed apa saja yang kamu pakai?

Tidak terlalu penting. Saya biasanya membuka socmed hanya untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan atau apa yang menjadi ‘the new big thing’. I usually just go on Instagram, I’m always on Snapchat and Facebook. That’s pretty much it, hahaha.

Kamu pernah punya akun ask.fm tapi dihapus, why?

Hahaha omg yeah I did! I don’t know. Saya menganggapnya cukup memalukan dan sebetulnya tidak terlalu menyukai konsepnya, like anonymous people would ask you questions and I don’t know where any of them are going! I also didn’t really used it and only seemed to have used it when it was big. Everyone in my school started using it so I did. Quite stupid of me to be honest.

Seberapa sering kamu berpergian dan apa tujuan liburan favoritmu?

I don’t travel often. Saya biasanya pergi ke Bali karena cukup dekat dan kakek-nenek saya tinggal di sana. I always feel most at home and stress-free at Bali. Jadi destinasi favorit saya bisa dibilang Bali karena saya selalu ke sana, haha. Terkadang, tapi sangat jarang, saya mengunjungi saudara di Inggris dan Prancis, which is always loads of fun.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Apa destinasi liburan impianmu?

Wow. This is a hard question. I’m quite of a beach gal so I would probably want to go to Maldives or Fiji.

Apa satu hal darimu yang membuatmu merasa unik dari orang lain?

I think my sense of style and my nose, haha!

Apa brand favoritmu?

Brand favorit saya adalah Zara dan Topshop. Mereka sangat kreatif dalam soal desain, terutama jeans. I feel like Zara and Topshop really stand out. I feel like I can always see some similarites between other brands but with these two brands, they can never be the same like the others. They are just so different. I seem to only fit in jeans from Zara and sometimes Topshop.

Apakah kamu pernah melakukan fashion faux pas?

Of course! I think everyone does. Dengan bertambahnya umur, saya mencoba lebih berhati-hati saat berpakaian. Saya punya dua rules yang saya patuhi. It’s basically either I have one denim item in my outfit and I am only allowed to wear one pattern item with my outfit and the rest have to be plain clothing. Saya tidak ingin mengambil risiko aneh-aneh dalam berpakaian. I think the most common one I do is wear the wrong undergarmets with my outfit, hahaha! 

Do you have any secret skills?

My secret skill is probably tennis and maybe baking. I’ve played tennis since I was 4 years old and I always bake in my free time and for some family occasions.

Apa zodiakmu dan seberapa besar kamu percaya horoskop?

Zodiak saya Cancer. I take them really seriously no matter how many people tell me it’s not true, hahaha! Saya bisa duduk berjam-jam membicarakan sikap orang berdasarkan zodiak mereka. My boyfriend hates it when I talk about it but you got to admit! They are all pretty spot on.

What do you want to be remembered for years from now?

I want to be remembered as someone who was really hardworking to get where she was in her life and that no obstacle was hard enough for her to go over.

img_9723-2

 

En Garde, En Vogue! An Interview With Ayabambi

Membaurkan kedinamisan dan energi eksplosif dari tarian vogue dengan sensibilitas serta kemisteriusan Jepang yang berakar dari kultur geisha dan kabuki, power couple sekaligus dance duo AyaBambi siap menaklukkan dunia, one dance at a time

nylon_indonesia_oct_cover_19648

Ketika tarian vogue (atau voguing) terlahir dari subkultur ballroom kaum LGBT keturunan kulit hitam dan Latin di daerah Harlem, New York City pada tahun 80-an, tarian ini pada hakikatnya lebih dari sekadar sebuah aliran modern house dance yang menjadi ajang pertaruhan gengsi dua orang “queens” yang saling mengadu kebolehan mereka dalam berpose dan menari dengan cara yang super stylish, artful, dan fierce. Identik dengan exaggerated choreography yang terlihat feminin dan maskulin di saat yang bersamaan, tarian yang mengambil inspirasi dari bentuk hieroglif kebudayaan Mesir kuno dan pose-pose elegan para model yang menghiasi halaman majalah Vogue ini, seperti yang kemudian diceritakan dalam film dokumenter Paris is Burning yang mengupas ballroom scene New York City di akhir 80-an, sama seperti aspek-aspek lainnya dari subkultur tersebut adalah bentuk self-expression yang lahir sebagai reaksi perlawanan dari sebuah opresi dan diskriminasi seksualitas, gender, warna kulit, hingga kelas sosial di era tersebut.

Sebelum film dokumenter garapan Jennie Livingston tersebut dirilis di tahun 1990 dan menjadi sebuah cult classic sampai sekarang, ballroom scene dan drag culture bagaikan sebuah dunia lain yang tidak tersentuh oleh masyarakat umum. A little bit of Narnia for the African-American and Latino LGBT people di era itu, sebuah safe haven untuk melarikan diri sejenak dari realita keras dalam kehidupan sehari-hari (“the white, rich, straight world”). Selain dokumenter tersebut, sang primadonna pop Madonna lah yang kemudian bertanggung jawab memperkenalkan tarian vogue ke publik mainstream saat ia merilis single berjudul “Vogue” di tahun yang sama. Menjadi salah satu hits terbesar dari Madonna, “Vogue” dengan musik video ikonik yang disutradarai oleh David Fincher berhasil membawa tarian vogue yang awalnya hanya ditampilkan di underground gay bars and disco di New York City ke clubs di seluruh dunia. Vogue pun bergeser menjadi sebuah tarian yang merefleksikan hedonism, positivity, serta inclusivity yang menginspirasi para penari dan calon penari di seluruh dunia, termasuk AyaBambi yang berasal dari Jepang.

Jika ini kali pertama kamu mendengar nama mereka, you are in for a treat. Secara singkat, AyaBambi adalah duo penari Jepang yang terdiri dari Aya Sato dan Bambi yang meraih popularitas global berkat koreografi menghipnotis dan gaya cyber-goth mereka yang super keren. Keduanya sudah mulai menari sejak usia dini dan mengambil inspirasi dari berbagai macam aliran dance untuk menciptakan highly synchronized routine yang powerful, penuh presisi, dan tentu saja, fierce. Menekankan hand choreography untuk mengeksekusi gerakan-gerakan tajam yang membingkai wajah mereka dengan potongan rambut avant-garde dan riasan gothic vibe yang khas, jelas ada pengaruh yang kuat dari elemen vogue dan tutting dalam tarian yang mereka peragakan. Meskipun begitu, dengan cepat mereka menolak jika tarian mereka hanya dikategorisasikan sebagai vogue. “Our dance isn’t actually vogue dance. It has some elements of vogue dance, but it is our original style consisting of our favorite posing and stuff,” tegas Aya Sato dalam balasan email untuk kami yang mereka kirim dari Rio de Janeiro, Brasil. Meski demikian, keduanya juga tak menampik jika tarian vogue yang mereka lihat saat beranjak dewasa memegang peranan penting dalam seni tari yang mereka geluti, not only for the stylistic direction, but also for the self-liberation.

nylon_indonesia_oct_cover_19262

Setelah menarik perhatian para netizen semenjak mengunggah video-video dance workshop mereka sejak empat tahun lalu di YouTube dan mengundang ribuan views dengan cepat, membintangi kampanye fashion, video musik, komersial, dan berkeliling dunia memang telah menjadi bagian dari keseharian mereka dalam beberapa tahun terakhir ini. Thanks to their international appeal dan fakta jika dance adalah universal language yang tidak terbelenggu batas bahasa dan budaya, mereka dapat dengan mudah diterima di mana saja, dari mulai underground club di New York, warehouse party di London, maupun galeri seni di Tokyo, they simply doesn’t have boundaries. Brasil hanyalah satu dari sekian banyak destinasi yang telah mereka kunjungi untuk menunjukkan kemampuan mereka, entah itu dengan tampil bersama megastar sekelas Madonna ataupun menggelar dance class yang selalu dipenuhi para peminat, most of them adalah penggemar yang telah menyaksikan AyaBambi lewat video-video yang beredar di internet. Saat ini, menyebut AyaBambi hanya sekadar dancer pun adalah sebuah simplifikasi yang bisa menyesatkan. Dalam akun Instagram @ayabambi_official yang telah diikuti oleh 131K followers, dengan bangga mereka mencantumkan profesi yang meliputi dancer, koreografer, model, stylist, fotografer, editor, dan director. Tentu saja, itu bukan hanya gelar yang asal mereka sematkan ke diri sendiri begitu saja, they have enough creds to back it up.

Tiga tahun terakhir ini mereka telah mengumpulkan resume video features yang impresif. Setelah muncul di beberapa musik video Jepang untuk BoA, Nano, Shiina Ringo, dan Miliyah Kato, mereka pun go international dengan tampil di video untuk Benjamin Pettit, DJ asal Inggris yang lebih dikenal dengan nama Zinc dalam single “Show Me” yang menampilkan AyaBambi menari di depan cermin sebuah dance studio dengan twist yang mencengangkan serta video “Forever (Pt. II)” milik Snakehips di mana keduanya tampil begitu membius dalam video berdurasi 3 setengah menit tersebut. Video selanjutnya yang benar-benar memperkenalkan mereka ke ranah mainstream adalah saat mereka ikut tampil dalam video “Bitch I’m Madonna” seperti sebuah rekayasa semesta yang mempertemukan mereka tak hanya dengan the queen herself (Madonna, duh!) tapi juga nama-nama besar lainnya di video tersebut seperti Rita Ora, Jeremy Scott, Miley Cyrus, dan terutama the prodigal designer and cool kids patron, Alexander Wang. It was love at first sight bagi desainer Amerika berdarah Asia tersebut. Dengan kecintaan yang sama pada fashion and art, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk saling mengapresiasi karya masing-masing dan Wang pun mengajak AyaBambi menjadi bagian dari kampanye koleksi goth-inspired Fall-Winter 2015 labelnya bersama deretan perempuan keren dengan personal style yang distinctive lainnya seperti Anna Ewers, Molly Bair, Binx Walton, Lexi Boling, Hanne Gaby Odiele, Sarah Brannon, Isabella Emmack dan mantan vokalis Crystal Castes, Alice Glass. “Saya sudah mengagumi Aya dan Bambi sejak menonton video-video mereka di internet, “ ungkap Wang pada WWD. “Kebetulan, saat mereka tampil di video Madonna, saya bertemu mereka di pesta yang diadakan Madonna di Paris dan langsung jatuh cinta. Mereka memiliki gaya yang sangat individual namun mereka juga sangat sesuai dengan karakter di koleksi ini,” ungkapnya tentang keputusannya mengajak AyaBambi dalam kampanye yang dijepret oleh fotografer legendaris Steven Klein tersebut.

Chemistry antara Madonna dan AyaBambi tak berhenti di video musik saja, tapi juga berlanjut ke tur dan live performance. Keduanya resmi menjadi penari dalam Rebel Heart Tour yang diadakan Madonna di seluruh dunia, walaupun sempat terjadi sebuah insiden. Pada penampilannya di Brit Awards Februari 2015 lalu yang disiarkan secara langsung, Madonna sempat mengalami kecelakaan di atas panggung saat ia membawakan lagu “Living for Love”. Masuk ke panggung seperti high priestess slash bride of darkness, Madonna mengenakan jubah panjang hitam dengan Aya dan Bambi mengekor di belakangnya sambil memegang ujung jubah. Saat di puncak tangga, jika sesuai rencana, mereka akan menarik lepas jubah Armani tersebut dan Madonna dengan epik akan melanjutkan langkahnya sebagai seorang ratu dalam balutan busana matador. Sialnya, Madonna ternyata belum benar-benar melepas ikatan jubahnya dengan sempurna saat AyaBambi menariknya, seorang Madonna pun terjatuh dari tangga di depan ribuan orang yang hadir secara live maupun yang menonton dari layar televisi. “Saya sangat ketakutan waktu itu!” kenang Aya. “Saya merasa waktu seakan berhenti dan kejadian itu seperti berlangsung berjam-jam,” tandasnya. Untungnya, Madonna dengan profesional tetap melanjutkan tampil dengan gemilang tanpa terlihat kesal dan tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu karena AyaBambi tetap menari bersamanya di sepanjang tur termasuk dalam sebuah penampilan untuk lagu yang sama di The Ellen DeGeneres Show. “Bekerja dengan Madonna adalah hal yang sangat menyenangkan, she liked us,” ungkap Aya lagi. “Hal yang paling menggembirakan adalah dia sangat terbuka dengan ide dan koreografi yang saya ciptakan, and we were so glad for that. Dia pun sangat ramah. Tapi, at the same time, kami merasa tidak boleh berpuas diri dan berhenti di situ.”

Seperti yang bisa diduga dan mereka akui sendiri, fashion memang memegang peranan penting bagi proses kreatif mereka. “We don’t just attract to dancing. Dancing is one of the ways to fuse fashion and art. We are influenced by people who create work together,” ujar mereka. “Saat tidak menari, kami menekuni hal-hal lain yang kami sukai. We enjoy designing clothes, and making clothes, and thinking about so many stuff that we can make is also fun.” Maka tak heran jika pesona AyaBambi terus menarik mutual symbiosis dengan para kreatif di bidang fashion.

nylon_indonesia_oct_cover_19090

Sebagai bagian dari proyek bertajuk MOVEment yang digagas oleh AnOther Magazine dan Sadler’s Wells Theatre (sebuah tempat pertunjukan seni di London), AyaBambi membintangi salah satu dari fashion film yang digarap oleh tujuh sutradara kontemporer dan menampilkan tujuh koleksi khusus dari fashion designers ternama saat ini. Dibalut oleh rancangan Hussein Chalayan from head to toe, mereka berkolaborasi dengan Ryan Heffington yang juga dikenal sebagai koreografer untuk FKA twigs (“Google Glass” dan “Video Girl”) dan Sia (“Elastic Heart” dan “Chandelier”) untuk menciptakan sebuah tarian hyper-synchronized dengan background putih yang memperkuat sajian visual tersebut dengan diiringi oleh dentam elektronik minimalis. ”Pakaian dan filmnya sendiri sebetulnya sangat simple dan dalam, which we love, sometimes the form of the clothes is more important than the freedom or beauty of the physical body,” ungkap mereka soal video yang digarap oleh Jacob Sutton tersebut. Selain untuk Hussein Chalayan, AyaBambi pun telah tampil di banyak fashion video lainnya, termasuk saat menari bersama si kembar Dean & Dan Caten dari label Dsquared2 dalam video buatan Leslie Kee.

Terlepas dari semua pencapaian tersebut, cult following, dan minat publik yang besar pada keduanya, salah satu dari daya tarik paling vital dari kesuksesan AyaBambi adalah misteri yang menyelimuti keduanya yang mengingatkan kita kepada tabir rahasia dan kemistisan seorang penari geisha dari masa lampau. Di zaman di mana detail personal siapa saja dengan mudah bisa dilacak hanya dengan memasukkan kata kunci di kolom pencarian dan beberapa kali klik, mereka menjaga rapat hal-hal yang menurut mereka tidak perlu diungkap ke publik, termasuk nama lengkap dan usia mereka. Minimnya informasi yang bisa dilacak di internet pun membuahkan spekulasi tersendiri tentang sosok mereka sebenarnya. Apakah mereka anak kembar? Are they sisters? Apakah mereka berasal dari masa depan? Are they cyborgs? Semua pertanyaan tersebut menciptakan misteri dan image yang too cool to be true akan keduanya. And just like some sort mythical creatures, people dying to know more about them, including us. Tapi mereka tidak mudah dipancing. Dalam email berisi sekitar 30 pertanyaan yang kami kirimkan sebagai usaha untuk mengulik lebih dalam tentang diri mereka, mereka hanya menjawab mungkin setengahnya saja dan itu pun dengan kalimat-kalimat sangat singkat dan ambigu. Namun, satu hal yang tidak pernah mereka tutupi adalah kenyataan jika mereka adalah romantic partners.

 Berasal dari Yokohama dan kini berdomisili di Tokyo, Aya dan Bambi (atau Akkun dan Mammi-chan, yang menjadi cara mereka memanggil satu sama lain) pertama kali bertemu di sebuah audisi dance dan walaupun baru benar-benar berkolaborasi secara profesional sebagai AyaBambi sekitar dua tahun terakhir ini, mereka sebetulnya telah menjadi romantic partner selama tiga tahun belakangan. “Kami bertemu secara kebetulan, tapi Bambi memahami apa yang ingin saya lakukan. Pemikirannya, ekspresi, dan daya tariknya mampu memandu ide-ide dalam kepala saya, so I think its good balance,” ungkap Aya.

Instagram menjadi salah satu jendela kecil bagi kita untuk mengintip dunia mereka. Tak hanya aktivitas sehari-hari, proyek terbaru atau hal-hal personal seperti teddy bear kesayangan Bambi yang diberi nama Meringue, tapi terutama adalah soal hubungan mereka. Keduanya telah bertunangan sejak setahun terakhir, namun saat pertanyaan soal pernikahan muncul, they’re not really bothered about it, Bagaimanapun Jepang masing sebuah negara konservatif yang memegang teguh nilai-nilai tradisional. “Jepang sering disebut sebagai negara maju,” ungkap Aya pada sebuah wawancara, “Namun negara ini tetap sangat konservatif dan tradisional. Isu-isu seperti ini bergerak sangat lambat di Jepang,” lanjutnya.

nylon_indonesia_oct_cover_18654

Titik terang bagi keduanya muncul saat beberapa distrik seperti Shibuya , Setagaya, dan tiga distrik lainnya melegalkan sertifikat same-sex couples special partnership. Walaupun secara hukum, sertifikat tersebut tidak dianggap sebagai sertifikat pernikahan, namun sertifikat tersebut mengakui adanya partnership untuk same-sex couple dan memberikan mereka hal-hak sipil selayaknya pasangan pada umumnya. It’s not a marriage certificate but it’s still better than nothing, dan itu adalah sebuah kemajuan bagi LGBT rights di Jepang. Aya dan Bambi sendiri mungkin tidak terburu-buru untuk menikah, namun mereka telah melakukan their fantasy dream wedding dalam sebuah video bertajuk “Short White Wedding” yang digarap oleh situs Vogue tahun lalu. Dalam video yang disutradari oleh Ujin Lin tersebut, Aya dan Bambi menampilkan koreo keren mereka dalam balutan bridal dresses musim tersebut yang meliputi koleksi dari Givenchy, Valentino, Louis Vuitton, Rodarte, dan Vera Wang. Menukar pakaian hitam dominatrix khas mereka dengan busana pengantin putih yang ethereal dengan iringan musik yang glorious, kamu tidak bisa untuk tidak tersenyum dan merasa ikut bahagia saat menyaksikan video tersebut. “We don’t know. We don’t think. In our world, probably there are only two of us. I am what I am, and so is she,” ungkap Aya tentang pandangan orang lain atas hubungannya dengan Bambi.

            “We had many awesome things together, but we still want to do many things, and we think we can learn many other things from collaboration,” ujarnya. Selain pernikahan itu sendiri, masih banyak mimpi yang ingin mereka capai, khususnya proyek-proyek revolusioner yang menggabungkan dunia fashion, seni tari, dan film. “Tim Burton adalah filmmaker favorit kami, jadi jika ada kesempatan bekerjasama dengannya, itu akan mengabulkan salah satu impian kami!” pungkas mereka.

Kembali ke tarian vogue, dalam sejarahnya yang paling primal, vogue sebetulnya adalah tarian perang, sebuah duel di antara dua rival penari. Namun di tangan Aya dan Bambi, tarian ini menjelma menjadi sebuah kolaborasi transcendental yang tak hanya berhenti di raga tapi juga jiwa, melumerkan batas frasa dan rasa di antara keduanya. In the end, it’s a celebration of life, love, and beauty.

nylon_indonesia_oct_cover_19374

Photo: Yuji Watanabe.

Styling: Shotaro Yamaguchi @eight peace.

Make-Up Artist: Nao Yoshida.

Hair: Shuco @3rd

 

#30DaysofArt 27/30: Tara Astari Kasenda

“Sewaktu sekolah dasar, saya mulai belajar melukis dengan seorang guru bernama Roelijati, ternyata beliau adalah salah satu seniman perempuan alumni ASRI (sekarang ISI) Yogyakarta angkatan tahun 50-an. Ajaran-ajaran beliau tentang seni, terutama seni rupa barat masih saya ingat sampai sekarang dan banyak yang saya jadikan pakem untuk membuat karya,” papar alumni FSRD ITB jurusan Seni Lukis ini tentang salah satu influens dalam karyanya. Walaupun akar ilmunya memang seni lukis, namun seniman muda kelahiran Jakarta, 27 Mei 1990 ini tak pernah berhenti bereksplorasi dengan berbagai medium. Mulai dari menggabungkan digital print dengan medium yang lebih konvensional seperti akrilik dan cat minyak, resin sculptures, instalasi, hingga image transfer di atas silicone sealant.

 profile-pic

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Ketertarikan kepada seni muncul dengan sendirinya sejak kecil, yang memperkenalkannya saya nggak ingat. Mungkin mama saya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Ya, passion terhadap seni itu sendiri.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Cy Twombly.

ini-budi-lagi

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Gaya dalam karya saya terbentuk perlahan-lahan selama saya kuliah. Sedangkan kalau soal medium sampai sekarang saya masih terus eksplorasi.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya ketika saya menyelesaikan tingkat pertama di kampus bersama teman-teman seangkatan saya.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Selalu ikuti perasaan dan intuisi dan menstruktur keduanya dalam sebuah konteks.

a-lighter-shade-of-pale

Bagaimana kamu mendeskripsikan ciri khas dalam karyamu?

Dari dulu sampai sekarang warna-warna yang saya ciptakan untuk karya saya selalu warna pastel lembut, biasanya dikombinasikan dengan objek-objek yang diburamkan. Nuansa karya saya dreamy dan ambigu. Oh ya dan sudah 3 tahun terakhir ini karya saya mengeksplorasi silicone sealant sebagai medium berkarya.

 

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Solo presentation di Art Taipei 2015 sebagai salah satu young emerging artist di Asia.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sama rasanya seperti orang-orang lain dengan profesi-profesi lain di era ini.

equator-art-project

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Industri kreatif secara keseluruhan saya rasa sedang marak-maraknya di Jakarta sekarang.

What’s your current obsession?

Pipil, anjing saya.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah.

 

Project saat ini?

Sekarang saya sedang fokus mempersiapkan pameran bersama kantor saya, whateverworkshop.

Target sebelum usia 30?

Tidak ada yang spesifik.

somatic-markers

#30DaysofArt 25/30: Sakinah Alatas

Berasal dari keluarga keturunan Arab yang konservatif dan religius, arti seni bagi gadis kelahiran Bogor, 14 April 1994 ini adalah upaya untuk berdialog sekaligus mempertanyakan berbagai hal yang mengusik benaknya. “Saya mempunyai kegelisahan dalam masalah dampak dari tradisi pernikahan sistem endogami, pengkultusan Alawiyyin, dan status sosial yang diamini oleh banyak golongan Alawiyyin tersebut.  Alawiyyin adalah sebutan untuk suatu kaum/golongan yang memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad SAW. Dari latar belakang tersebut banyak yang mempengaruhi saya dalam pembuatan karya,” terang Nina yang masih berstatus mahasiswi seni rupa di Universitas Negeri Jakarta. Merasa belum pantas menyandang gelar seniman dan lebih nyaman disebut sebagai perupa, gadis yang kerap mengeksplorasi topik religi lewat karyanya ini juga memiliki organisasi massa yaitu ICFAM (Indonesia Contemporary Fiber Art Movement) dan kolektif Buka Warung yang terdiri dari 18 seniman perempuan.

img_5071-copy

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak duduk di Sekolah Dasar saya senang sekali menggambar dan sering ikut lomba menggambar walaupun jarang sekali menang, dan ketika SMP dan SMA saya senang dengan mata pelajaran Seni Budaya. Ketika kuliah saya tertarik untuk mengambil jurusan Seni Rupa, karena saya merasa hanya jurusan itulah yang saya bisa.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Mella Jaarsma, Agatha Olek, Sirin Neshat, Mulyono, Prihatmoko Moki, dan Hendra Blankon Priyadhani.

Bagaimana kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sampai saat ini saya belum menemukan satu medium/karakter medium yang cocok untuk saya, karena dalam berkarya saya kerap menggunakan banyak medium, dan juga masih terus mencari medium yang pas dan cocok untuk membicarakan apa yang ingin saya sampaikan.

dsc02230

dsc02246

Apa idealismemu dalam berkarya?

Dalam berkarya saya selalu mencoba jujur kepada diri saya, karya saya, dan audience. Saya senang sekali apabila ada audience yang merasakan hal yang sama seperti pada karya tersebut, di situ saya merasa senang sekali. Dan saya juga suka membuat karya yang menantang diri saya dan spontanitas.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan ciri khas dalam karyamu?

Dilihat dari ciri khas estetik dalam berkarya saya juga masih suka berubah, yang pasti saat ini saya suka dengan medium instalasi ruang, karena lebih bisa banyak bercerita dan mencoba mengajak audience untuk setidaknya dapat mengerti apa yang saya kerjakan dan berharap dapat dirasakan oleh audience.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya adalah pameran tugas dari senior setelah masa ospek selesai, temanya “Sama Rasa Sama Rata”, tahun 2012.

karya-terbaru2

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mengikuti program Three Musketeers di Ace House Collective Yogyakarta selama 3 bulan, yang mana saya mendapat bimbingan, pembelajaran, kritik dari banyak seniman-seniman di Yogyakarta juga bertemu orang-orang baru yang membuat saya mencoba untuk terus belajar bagaimana menjadi manusia berguna dan menjadi seniman.

Kalau untuk kamu sendiri, apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sebenarnya saya merasa belum pantas dijuluki sebagai seorang seniman, hehe. Lebih pede dibilang sebagai perupa aja kayanya. Di era social media seperti sekarang ini tentu memudahkan para perupa untuk mengenalkan dirinya ke publik, memperlihatkan karya-karyanya di social media, jadi saling mengetahui apa yang dikerjakan perupa-perupa lain hanya melihat di Instagram misalnya, tanpa pernah bertemu langsung. Memudahkan dalam mengetahui info acara pameran dan open submission untuk pameran, dan masih banyak lagi manfaatnya, yang pasti diambil yang positifnya aja sih, hehe.

bahan-colase2

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Fleksibel di mana aja. Yang pasti di Bogor atau Jakarta.

Project saat ini?

Project karya yang baru saja saya lakukan ialah “Mencari Kafa’ah” yang dipamerkan di Ace House Collective, Yogyakarta.

Target sebelum usia 30?

Pengen punya studio kerja sendiri, pengen menjelajahi Indonesia dan keliling dunia, udah itu aja.

bondage

#30DaysofArt 19/30: Naufal Abshar

There’s always a meaning behind a laugh, dan lewat sentuhan kuasnya, pelukis kelahiran Bandung, 13 Juli 1993 ini mengeksplorasi makna yang lebih dalam di balik aktivitas tertawa sebagai konstruksi hubungan sosial dan emosi. Graduated with honours dari jurusan Fine Arts Lasalle College of The Arts Singapura & Goldsmiths University London, pria yang sekarang tinggal di Jakarta ini mengakui jika hobinya menggambar sejak kecil terinfluens dari film Disney dan mainan Lego favoritnya, “Saya selalu menggambar di manapun dan kapanpun, saya tidak pernah memperhatikan guru ketika sedang mengajar, saya malah asik duduk di pojok kelas untuk menggambar di buku paket ataupun buku tulis,” ungkap founder dari NA Arthouse tersebut. Karyanya yang dipenuhi oleh sosok-sosok penuh tawa ekspresif dalam warna colorful segar sekilas memang terlihat harmless namun ada yang selalu mengusik rasa penasaran tentang konteks di balik tawa tersebut di mana karya-karya tersebut telah dipamerkan di banyak tempat, dari mulai Indonesia, Singapura, Venice, hingga Lithuania.

artist-photo2

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?
Apapun. Terutama kegelisahan dan ketidaksesuaian saya terhadap situasi publik yang men-trigger saya untuk berkarya.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Perjalanannya cukup panjang memakan waktu 2 setengah tahun untuk menemukan style dan concept saya garap sekarang, sewaktu kuliah saya melakukan sejumlah research dan eksperimen untuk mendapatkan konsep “HAHA” yang termotivasi oleh salah satu manifestasi humor yaitu laughter. Dari situ saya mencoba untuk mengolah aktivitas laughter tersebut untuk menjadi bahan landasan kritikan terhadap social issues dan politik.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?
Seniman dalam negeri: Arin Sunaryo, Nyoman Masriadi, Heri Dono.

 hiding-behind-the-armor

Apa idealismemu dalam berkarya?
Hati, berkaryalah dengan jujur dari hati karena itulah yang akan membuat suatu karya itu jauh lebih berarti. Bagi saya seni adalah cerminan buah pikiran dan observasi saya pada sebuah kehidupan yang saya alami

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu? 
Ya mungkin sekitar 4 tahun yang lalu ketika saya masih menuntut ilmu di universitas. Saya ingat karya saya terpilih menjadi shortlisted artwork yang akan dipamerkan pada saat open house kampus. Saya merasa senang dan bangga walaupun pada saat eksekusinya karya saya hanya dipajang di sudut bawah panel besi yang tidak banyak orang-orang melihat. Ya tapi namanya starting jadi tetap saja senang, haha.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?
Hmm… Karya saya didominasi oleh tulisan “HAHA”, figur tertawa, dan warna-warna colorful yang tajam.

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini? 
Menjadi cover sebuah art magazine besar di Singapura yaitu ART REPUBLIK Magazine dan bisa menjadi pembicara pada forum seni tingkat dunia dan menjadi the only representative dari Indonesia sebagai the youngest fast rising artist.

the-laughing-girl

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?
Apa ya? Menurut saya Social Media sangatlah membantu dalam bidang self-promotion tergantung bagaimana kita memposisikan kita pada social media tersebut.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?
Untuk sekarang masih cukup lemah tetapi ada banyak potensial dan kesempatan untuk mengembangkan art scene untuk lebih wide dan global.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?
Di mana saja, kebanyakan di studio.

Target sebelum usia 30?
Yes, saya akan menjadi the most established and famous young Indonesian artist pertama yang akan berpameran di galeri dan museum besar dunia seperti MoMa,Tate Modern, Guggenheim, White Cube. Dan mendirikan residency atau foundation seniman-seniman muda lainnya.

high-end-life-style

#30DaysofArt 17/30: Natasha Lubis

Mengaku mengidap sindrom anak tengah yang penyendiri, imajinasi masa kecil peraih gelar master bidang Fine Art di Goldsmiths College London ini disalurkan lewat karya visual berupa lukisan dan kolase three dimensional dengan elemen fantasi dan permainan warna yang eklektik. Melewati beragam tahap dalam pendekatannya terhadap seni, estetika counter-culture dan persepsi perempuan pun menjadi bagian integral dalam karya artist kelahiran Jakarta, 9 Oktober 1989 yang saat ini berdomisili di Bali tersebut. “Saya pikir good art punya kemampuan untuk mentransformasi sang spektator, potensi utopis tersebut sangat saya kagumi. Menyaksikan efek karya-karya seni yang inspiratif merupakan motivasi besar untuk terus berkarya dan berharap suatu hari bisa memberikan efek itu ke orang lain. Art is an exciting way to relate to people too, many of the most stimulating people I know I had connected through art.”

natasha-lubis 

Bagaimana masa kecilmu memengaruhi karyamu saat ini?

Saya besar di Jakarta, selesai SMA saya tinggal cukup lama di Melbourne, Australia. Lalu sempat tinggal di London untuk menjalani masters di bidang Fine Art di Goldsmiths College. Awal tahun ini saya kembali menetap di Indonesia.

Dari masa kecil saya memang sangat ‘fantastical’, ditambah lagi saya tipe anak tengah klasik yang cenderung penyendiri. Dunia imajinasi saya jadikan sarana hiburan alternatif di dalam kesendirian saya, dulu cukup normal bagi saya untuk berbincang-bincang dengan hasil gambar saya sendiri, haha.Saya besar dengan saudara-saudara yang usianya berdekatan, layaknya anak kecil kami sering merancang permainan peran fantastis antar sesama yang benar-benar menstimulir imajinasi. Memori-memori tersebut sangat berkesan dan memberi pengaruh ke cara pandang saya.

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Susah untuk ingat momen atau orang spesifik karena saya mulai hobi gambar dari kecil banget. Tapi kesadaran akan seni selalu dijunjung tinggi di upbringing saya, karena memang banyak anggota keluarga yang aktif di bidang musik dan budaya. Tapi seni visual adalah ketertarikan yang saya kembangkan sendiri.

Saya melewati beragam tahap di dalam approach saya terhadap seni, tahap yang sangat signifikan adalah ketika saya mulai serius mengulik kultur musik sekitar awal SMP. Usia remaja merupakan waktu spesial untuk merasuki dunia musik karena sensasi yang didapat luar biasa menggairahkan. Beberapa musisi yang fundamental bagi sumber inspirasi ya dimulai dari the classics seperti Radiohead dan Pink Floyd, era musik 60-70an, yang lalu menjalar ke berbagai macam lain. Selain dari musiknya sendiri, faktor budaya yang lahir dari dunia musik saya anggap sangat menarik. Saya ingat merasa kagum dengan energi kultur rock n’roll dan subkultur musik lainya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Saya mendapat kenikmatan dan juga tantangan tersendiri dengan berkarya, lagipula belum kepikiran akan passion lain yang bisa saya lakukan dengan potensi dan fokus semaksimal seni. Memproses pemikiran dan emosi lewat karya seni adalah proses penting untuk eksistensi saya, apalagi dengan berkembangnya lingkup interests dan awareness, makin timbul kehausan untuk mengutarakan ide-ide baru lewat karya.

1

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Saya mengagumi seniman-seniman wanita yang tidak konvensional. tahun ini saya terlibat artist residency di Ketemu Project Space (Bali), proyek ini menyorot hidup dan praktek almarhumah seniman perempuan asal Bali, I Gak Murniasih (biasa dipanggil Murni). Karya Murni kontroversial dikarenakan unsur erotisme absurdis frontal yang terinfluens dari otobiografinya sendiri. Riwayat hidupnya memang dipenuhi tragedi, namun ia tetap berhasil mencurahkan esensi hidupnya dengan penuh gairah dan optimisme lewat dedikasinya akan seni.

Kalau inspirasi dasar, dari sejarah seni barat saya terinspirasi oleh ideologi irasional gerakan surrealis, dan juga visualisasi whimsical mereka. saya juga senang dengan influens literatur dan cinema, dua platform ini dapat mentransportasikan kita ke realitas imajiner secara immediate. Salah satu penulis esensial bagi saya adalah Hermann Hesse, kepekaanya akan tabiat manusia dan juga kesadaran kosmis terangkum dengan puitis di dunia fiksinya.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Tidak punya idealisme yang berat, yang penting terus berani berkarya, bereksperimen dan lanjuti jalur hidup kreatif ini yang bisa dibilang tidak normatif di mata banyak orang.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Menggambar adalah proses fundamental yang terapeutik tapi juga bisa mengisolisir, makin lama saya merasa medium lukis tidak menyampaikan ide tujuan saya secara pas. Sekitar semester akhir S1 ketertarikan saya telah mencakup banyak referensi budaya barat dari masa counterculture di era 60-70an. saya tertarik akan elemen-elemen paradoksal yang direpresentasikan kultur ini, seperti penggambaran akan ide-ide utopis yang hedonistik namun dengan cara mengeksploitasikan kesensualitasan perempuan.

Zaman hippie ini sangat identik dengan image seduktif ikonis yang tersebar di media massa yang memang rajin saya koleksikan. Peralihan ke kolase menjadi perkembangan alami karena saya bisa langsung menggunakan imej-imej di archive saya sebagai medium. Saya pikir penggunaan found images mengkomunisasikan intention saya dengan cara yang lebih direct, dan lebih mudah menampung beragam ide dan referensi dibanding lukisan biasa.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu? 

Praktek seni saya cukup terikat dengan bahasa visual, tantangan bagi banyak seniman adalah membuat keseimbangan efektif antara konsep dan tampilan visual. Unsur fantasi yang menantang cukup integral dalam estetika saya, termasuk juga permainan warna yang dapat menciptakan atmosfer tertentu. Banyak dari karya saya secara abstrak mewakili persepsi perempuan, ini memberikan nuansa feminin di praktek seni saya.

mothernature

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Body of work yang cukup signifikan adalah seri karya kolase three-dimensional yang dibuat untuk ekshibisi akhir pendidikan S1. Saya baru saja bergeser dari lukisan untuk eksperimen media kolase, dan ternyata langsung senang akan dinamika medium tersebut. Karya di graduation show kampus tersebut mendapatkan saya tawaran solo show di Melbourne, Australia. Overall it was a good learning experience.

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Merasa sangat beruntung untuk bisa menjalani pendidikan masters di London tahun lalu, itu merupakan periode yang menantang. Universitas yang saya masuki mempunyai sejarah panjang akan pendekatan intens terhadap pemikiran teori kritis barat yang tidak ortodoks, saya merasa kewalahan sepanjang proses karena tidak familiar dengan banyak topik. Sekarang saya merasa mendapat pengertian baru atas pola pemikiran kritis.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Pastinya banyak sekali keuntungan era social media, generasi sekarang mempunyai keuntungan teknologi yang tak terbayangkan di masa lalu. Kita mempunyai akses bebas ke informasi yang jauh mempermudah proses riset dan kebebasan untuk berkomunikasi dengan siapapun pada skala global. Sangat ajaib menyadari bahwa kita mempunyai kuasa untuk mengakses dan menkurasi informasi yang kita inginkan dari sejarah manusia, it’s actually quite a burdensome advantage.

Saya rasa kultur sosmed juga bisa khaotis, wilayah virtual yang sangat luas seperti menyebabkan kebosanan kolektif ke para pengguna, kita menjadi terlalu terbiasa dengan segala tipe informasi yang lalu membuat kewalahan dan mudah terdistraksi, tidak heran muncul lah kultur-kultur tolol yang menghibur seperti kultur ‘meme’. Sepertinya semua kompleksitas ini sudah layaknya muncul sejalan cepatnya perkembangan zaman, dan hal ini sangat menarik untuk diobservasi lewat perspektif seni.

2

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Jujur saja saya masih ada homework dan kewajiban untuk lebih mengenalkan diri ke komunitas-komunitas dan budaya seni dalam negeri. Tapi dari pengalaman saya tahun ini, kehadiran seni kontemporer lokal jauh terasa lebih dirayakan dibanding dulu, ini membuat saya optimistik. Dan kota sekompleks dan sedinamis Jakarta kayaknya tidak akan kehabisan produksi karya-karya menarik.

What’s your current obsession?

Saya developed hobi menyehatkan yaitu berenang tiap pagi selama tinggal di Bali, ternyata aktivitas ini sangat meditatif.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Sebisanya saya spend the time somewhere outdoors, soalnya penting tuh untuk ketenangan mental, baik itu ke pantai atau cuma ke outdoor cafe. Nonton live music is always a good idea too. 

Project saat ini?

Selalu ada personal project yang perlu dikembangkan atau diselesaikan. Saya juga sedang mencari komunitas seni yang terbuka untuk kesempatan kolaborasi atau residency. 

Target sebelum usia 30?

Kalau impian sih banyak, termasuk yang nggak realistis, tapi yang utama adalah kesempatan untuk bisa terus berkembang dalam berkarya, karena memang sulit untuk menjadikan praktek seni sebagai jalur karier yang konkret. At some point juga ingin mulai kolaborasi dengan orang sepemikiran untuk membuat proyek menarik.

obscured-by-clouds

#30DaysofArt 13/30: Mirfak Prabowo

Di samping aktivitasnya sebagai basisst untuk band rock Sigmun, pria kelahiran Jakarta, 6 April 1989 yang membagi waktunya antara Bandung dan Jakarta ini juga dikenal sebagai seorang visual artist yang aktif berkarya dalam berbagai medium. Dengan latar pendidikan seni lukis, Mirfak sempat menggelar pameran lukisan tunggalnya dengan tajuk “SANCTUM” di tahun 2013 berupa lukisan-lukisan abstrak yang dikembangkan dari karya tugas akhirnya di ITB. Selain itu, belakangan ini ia pun sedang asik menekuni sculpture berupa makhluk-makhluk imajinatif berbahan clay dengan desain urban yang kental. “Masa kecil saya yang paling berpengaruh mungkin di saat saya tidak boleh membeli mainan, sehingga karya terakhir yang paling sering saya geluti adalah membuat sebuah patung figure imajinasi saya sendiri,” ungkapnya.

img_20161027_205017

Kapan dan siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Tidak ingat siapa yang memperkenalkan, tapi yang jelas dari kecil sudah sering berkarya (mencoreti tembok rumah) kata ibu saya, ahaha.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Rasa kepuasan setelah menyelesaikan sebuah karya. Dan apresiasi dari orang yang melihatnya.

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Seiring berjalannya waktu, saya mencoba mengulik beberapa medium seperti cat minyak dan acrylic untuk melukis, clay untuk mematung, dan brush pen untuk menggambar. Saat ini medium yang paling sering saya gunakan adalah clay di mana saya membuat karakter imaji saya menjadi sebuah figure patung/mainan.

 psx_20160920_132848

Apa idealismemu dalam berkarya?

Berkarya untuk memuaskan keinginan diri sendiri.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Salvador Dali, Chuck Close, Creaturebox, Kim Jung Gi, Simon Lee, dan Takayuki Takeya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Bermacam-macam, kalau dari karya lukis saya ciri khasnya yaitu pemakaian warna yang sangat beragam. Kalau dari karya figure lebih berat ke bentuk monster dari yang lucu dan simple hingga yang seram dan detail.

_mg_8858

 

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Masih, karya pertama saya berupa lukisan di masa awal kuliah saat mengambil jurusan seni lukis. Saat itu kami diberikan tugas untuk membuat lukisan realis, dan saya mencoba melukis sebuah kaki seorang pekerja dengan beralaskan sendal jepit dan berada di atas bebatuan. Yang paling teringat dari karya tersebut adalah ketika saya berhasil membuat semacam ilusi bahwa batu kerikil yang saya buat itu nyata.

 

Untuk ekshibisi pertama yaitu pameran tunggal saya pada tahun 2013 bertajuk “SANCTUM”. Karya-karya saya saat itu berupa lukisan abstrak yang merupakan pengembangan dari karya tugas akhir. Dalam ekshibisi tersebut saya mencoba memberikan kepercayaan kepada para audiens agar bisa menikmati karya yang saya buat tanpa harus saya berikan sebuah landasan untuk menginterpretasikan visual karyanya. Saya ingin agar audiens bisa menikmati dan membuat cerita sendiri dari visual yang saya suguhkan.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Bermacam-macam, kalau dari karya lukis saya ciri khasnya yaitu pemakaian warna yang sangat beragam. Kalau dari karya figure lebih berat ke bentuk monster dari yang lucu dan simple hingga yang seram dan detail.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Dari segi seni visual: berhasil melakukan pameran solo di Bandung yang bertajuk “SANCTUM”. Lalu bisa berkolaborasi dalam membuat patung dengan ilustrator Singapura bernama Kilas. Serta produk kolaborasi dengan partner saya ilustrator bernama Bea Ariani P. yang berupa sculpture face mug & merchandise lainnya. Dari segi musik: berhasil membuat album perdana Sigmun.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Ada plus dan minusnya, senang bila ada yang merespons via social media dan sampai mengoleksi karya yang telah saya buat. Minusnya sendiri koneksi audiens dengan karya terkadang hanya sebatas melihat visual di gadget saja. Namun hal tersebut juga menjadi dorongan untuk bisa berpameran baik di sebuah galeri ataupun bazaar, agar timbul kedekatan antara karya dan audiens.

 psx_20161029_005009

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekitarmu saat ini?

Semakin ramai. Munculnya seniman-seniman muda baru yang berani. Acara dan pameran yang semakin banyak untuk wadah para seniman agar dapat memperkenalkan karya mereka, serta para audiens yang antusias untuk mencoba memahami karya. Baik itu untuk menelaah lebih lanjut atau sekadar berfoto selfie dengan karya tersebut, ehehehe. 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Biasanya di rumah partner saya mengerjakan proyek-proyek kami yang sedang berlangsung.

Current obsession?

Mengkoleksi mainan dan membuat mainan, hehe.

Project apa yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Yang sedang berlangsung di antaranya yaitu collaboration project seperti sculpture face mug, beberapa commissioned work berupa patung/figure, dan handmade jewellery di Instagram @papipu_id. Lalu yang ingin dilakukan selanjutnya merencanakan pameran tunggal bila memungkinkan. Entah kapan, yang penting diniatkan dahulu hehe.

Target sebelum usia 30?

Melebarkan sayap secara internasional, baik dari segi seni visual, produk, maupun musik.

1024_multi_light_cig_1024x1024

#30DaysofArt 11/30: Kinez Riza

Alih-alih pengaruh masa kecil, eksplorasi Kinez Riza akan konsep alam, waktu, dan sublim dalam karyanya yang meliputi fotografi, film, dan instalasi sejatinya berasal dari dahaga keingintahuan yang seakan tak pernah puas tentang misteri semesta dan sejarah manusia. “Seperti innate predisposition yang tidak bisa dihindarkan, atau bawaan diri yang secara alami selalu mencari metode-metode untuk mewakili suatu hal atau konsep yang selalu berkembang,” ungkap seniman lintas ilmu yang lahir di Jakarta, 25 Agustus 1989 dan berkuliah di London tersebut. Di samping seni dan literature, minatnya yang meliputi arkeologi dan antropologi telah mengantarnya ke berbagai ekspedisi seru di seluruh dunia. Salah satunya mendokumentasikan hasil penelitian jejak tangan manusia purba dari 40 ribu tahun lalu di sebuah gua di Maros, Sulawesi yang diteliti pakar arkeolog Indonesia dan internasional serta menjadi orang Indonesia pertama yang diterima oleh organisasi The Arctic Circle untuk residensi di Kutub Utara. Senantiasa menggabungkan sisi artistik dan scientific, karyanya pun telah dipamerkan di Amsterdam, Dubai, dan Mongolia.

Processed with VSCOcam with f2 preset

Bagaimana masa kecilmu memengaruhi karyamu saat ini?

Jujur saja saya menghindari kesan autobiografis dalam berkarya, saya rasa latar belakang, asal-usul, dan pengaruh masa kecil bukan the driving factor buat saya berkarya. Tetapi dari masa kecil saya memang punya daya tertarik lebih kepada seni rupa dan sastra secara alami. Orangtua saya sering bilang bahwa waktu kecil saya sering sibuk sendiri dengan keterampilan tangan dan buku, saya susah diganggu, haha.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Consolidating my practice is very important to me, dan kematangan karya saya butuh time and space, saya sering merasa kurang puas dengan hasil karya yang mengikuti brief tertentu.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Terlalu banyak, haha. Saya suka Hiroshi Sugimoto, James Turrell, Olafur Eliasson, Peter Beard, Team Lab, Picasso, Miro, Francis Bacon, Christo, Monet, banyak sekali.

dreams_on_a_frontier_plate_02-1024x768
Dreams On A Frontier Plate.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Secara tidak langsung, saya membeli kamera analog bekas yang murah dari pasar, setelah melihat hasil cetakan film pertama saya langsung mempunyai afinitas dengan medium photography, yang dilanjuti oleh medium film dan instalasi. Saya suka dengan pandangan implicit and emotive dalam karya visual.

 

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya digelar oleh D Gallerie, karya-karya saya memperlihatkan gambar alam yang dipadu oleh konteks dan isu representasi. Karya saya tidak mendiskusikan hal-hal yang berbentuk social, political or economic, dan karya saya bukan konseptual, jadi bincangan pada saat itu membandingkan karya fotografi yang jurnalistik atau fotografi seni rupa. Pada saat itu konteks dan isu representasi di belakang karya belum gampang dipahami oleh publik.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal ciri khas dalam karyamu?

Setelah saya perhatikan, ciri khas karya saya memang selalu meliputi konsep alam, waktu, dan sublim, akan tetapi salah satu obsesi saya adalah memperhatikan cahaya, warna, dan fenomena.

uranium-series-dating-panels-maros-regency-sulawesi
Uranium series dating panels, Maros Regency, Sulawesi.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pemahaman yang lebih matang tentang proses dan hasil karya saya.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Era social media masa kini adalah suatu hal yang saya diskusikan secara tidak langsung dalam karya saya, tapi saya menggambarkannya dengan cara yang tidak explicit, justru memperlihatkan obyek kuno, budaya punah atau tradisi masa lampau. Era social media secara alami meningkatkan pehamaman visual kepada penggunanya, jadi bisa dipandang positif untuk meningkatkan pemahaman publik kepada visual arts, mungkin awalnya hadir di exhibition untuk upload foto keren di sosmed adalah hal baru, akan tetapi saya yakin pemahaman lebih baik tentang seni rupa bisa berkembang di luar our own obsession.

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Masih dalam tahap muda, saya lihat rekan-rekan saya bekerja keras dan serius untuk membangun budaya seni rupa yang lebih kekal dan accessible to the general public. Saya merasa bahagia dan bangga melihat hasil kerja keras rekan-rekan saya. Yang kurang diketahui orang lain, seni rupa adalah salah satu indication of modern humans’ intellectual and creative capacity dalam evolusi manusia modern. It has paved the way for culture, civilization and commerce to develop to what it is today.

a_restful_place_01-1024x768
A Restful Place.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Mengikuti kegiatan teman-teman, atau pura-pura mati di rumah.

Current obsession?

Interiors and architecture, saya suka menulis, ke antah-berantah, terobsesi dengan masak dan balanced lifestyle. Walaupun lifestyle saya sering out of balance, haha!

Project saat ini?

Melanjutkan film dokumenter saya tentang human creativity and evolution, sudah dalam tahap production terakhir, mungkin bisa ditayangkan tahun ini.

Target sebelum usia 30?

Bangun kabin kecil in the wilderness.

the-shadow-of-fjortende-julibukta-1024x768

Book Club: Interview with Dea Anugrah

Menyoal masa kecil, Dea Anugrah mengaku memiliki banyak cita-cita. Mulai dari pemain sepakbola, musisi rock, anggota sirkus keliling, hingga Pokemon master. Namun, berawal dari obrolan bersama guru Bahasa Indonesia saat SMA serta melahap koleksi perpustakaan sekolah yang meliputi The Old Man and the Sea, Huck Finn, dan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, pria 25 tahun asal Pangkal Pinang tersebut terpancing untuk menulis puisi, esai, dan cerpen yang berlanjut sampai hari ini. Karyanya telah tersebar di berbagai media baik cetak maupun online dan ia pun berkesempatan tampil di festival sastra sekelas Ubud Writers & Readers Festival 2013 di Bali bahkan sebelum merilis buku puisi pertamanya, Misa Arwah dan Puisi-puisi Lainnya di tahun 2015 lalu. Tahun ini, setelah menuntaskan studinya di jurusan Filsafat UGM dengan tugas akhir tentang pemikiran Arthur Schopenhauer, ia pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai wartawan dan merilis Bakat Menggonggong, sebuah kumpulan 14 cerita pendek yang ditulis dalam rentang waktu 2012-2016 di mana setiap cerita menunjukkan eksplorasi gamblangnya dalam teknik bercerita yang beragam.

img_20160308_025129

Hai Dea, apa kabar? Bagaimana biasanya kamu memperkenalkan dirimu dan profesimu?

Halo, Alex. Kabarku baik. Untuk keperluan publikasi, biasanya aku mencantumkan keterangan bahwa aku menulis puisi, cerpen, dan esai dalam bahasa Indonesia dan sedikit informasi tentang buku-bukuku (Misa Arwah dan Bakat Menggonggong).

Bagaimana biasanya kamu memulai hari dan apa yang menjadi kegiatan keseharianmu belakangan ini?

Sekarang aku bekerja sebagai wartawan. Jadi, kegiatan utamaku sehari-hari, setelah bangun tidur sekitar jam 12 siang (hehe), ialah mengetik berita.

Di titik apa kamu serius menulis secara profesional?

Kalau profesional yang kamu maksud adalah sekadar mendapatkan uang dari menulis, kukira itu bukan hal yang serius, bukan hasil menimbang-nimbang sampai sesak napas selama empat harmal atau semacamnya. Aku mengirimkan tulisan-tulisan ke koran dan majalah, mereka memuatnya, lalu membayarku. Tapi kalau profesional berarti menjadikan menulis sebagai mata pencarian utama, aku belum, dan mungkin tidak bakal, menjerumuskan diriku sendiri ke dalamnya.

Seorang teman pernah bercerita bahwa bukunya cuma terjual 59 eksemplar di bulan pertama setelah diterbitkan. Sila bayangkan situasi bulan-bulan berikutnya, ketika orang yang membicarakan buku itu makin sedikit. Dan pengalaman temanku itu bukan kasus langka di Indonesia.

Boleh cerita soal Bakat Menggonggong? Berapa lama proses pembuatannya sampai selesai dan apa yang menjadi tema utama/benang merah dari kumpulan cerpen ini?

Karena berbentuk kumpulan, pembuatan Bakat Menggonggong santai sekali. Tidak seperti orang mengerjakan novel atau traktat, misalnya, yang mesti menulis secara rutin setiap hari selama berbulan-bulan atau lebih. Belasan cerita pendek dalam buku itu kutulis dalam rentang 2012-2016 dan hampir seluruhnya sudah terbit secara terpisah di pelbagai media.

Sebagaimana tertulis di sampul belakang, yang “mengikat” cerita-cerita yang bermacam-macam dalam buku itu adalah suara naratornya. Dalam hampir setiap cerita, si narator cerewet dan sinis dan mulutnya agak tercela. Selain itu ada kesamaan “semangat”, yakni penjelajahan bentuk dan teknik penyampaian cerita.

 

Siapa sosok yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk dirimu yang sekarang?

Teman-teman dekat, para penulis yang bukunya kubaca, pacar dan bekas pacar, keluarga. Aku tidak tahu siapa yang memberikan pengaruh paling banyak.

 

Tanpa berpikir terlalu lama, tolong sebutkan satu nama penulis favoritmu yang terlintas beserta alasannya.

Ernest Hemingway. Dia penulis besar yang karyanya kubaca paling awal. Dan sampai sekarang, setiap kali membaca buku-bukunya aku merasa mendapat pelajaran baru tentang menulis dan hidup dan apa saja.

Sejauh ini apa hal yang paling disukai selama menjadi penulis?

Ketika menemukan hal-hal yang bisa kusadap dari buku-buku bagus dan ketika bertemu dan berkumpul dengan teman-teman yang pintar dan menyenangkan. Kupikir dua jenis pengalaman itulah yang paling kusukai. Kalau tidak menulis, mungkin aku tidak akan mengalami keduanya.

Percaya dengan yang namanya writer’s block? Kalau iya, bagaimana caramu mengatasinya?

Writer’s block itu seperti dosa. Kalau kita tidak memikirkannya, ia tidak ada. Seperti kata Szymborska: dua puluh tujuh tulang, tiga puluh lima otot, dan dua ribu saraf pada tiap ujung jari-jari kita sudah lebih dari cukup untuk menulis apa saja.

Bagaimana kondisi yang ideal bagi Dea untuk menulis?

Aku mudah terganggu oleh bunyi-bunyian, terutama suara orang, wabil khusus suara anak kecil, dan bau tidak enak. Di luar itu kurasa tidak ada masalah, keadaan apa pun cocok-cocok saja buat menulis. Masalahnya, sekalipun kondisi di sekitarku ideal, menulis tidak pernah terasa mudah.

 

Apa pengaruh sosial media/internet untuk dirimu, baik secara personal maupun profesional?

Internet jelas sangat penting untuk orang-orang di negara dunia ketiga, termasuk para penulisnya. Tanpa situs-situs file sharing, misalnya, aku pasti kekurangan bahan bacaan dan tontonan. Internet membuat persebaran pengetahuan jadi berkali-kali lipat lebih murah, cepat, dan luas.

Perkara media sosial agak ruwet. Pada satu sisi ia memudahkan kita bergaul dan berjualan, tapi di sisi lain ia menimpuk kita dengan banyak sekali urusan yang kita tidak perlukan. Media sosial bisa menggiring seorang penulis untuk menulis seperti keinginan khalayak alias menjadi penyambung lidah netizen. Apakah perbedaan netizen dan gerombolan biri-biri? Kadang, suara biri-biri enak didengar dan perlu.

Menurutmu, di zaman media sosial seperti sekarang, masih perlukah seorang penulis bergantung pada toko buku/penerbit untuk menjual karyanya?

Perlu. Sejauh yang kualami, berjualan sendiri itu melelahkan sekali, terutama urusan mengirimkan buku kepada para pemesan.

Seberapa sering kamu menilai buku dari sampulnya?

Cuma sesekali dan patokan yang kupakai tidak terlalu tinggi. Selama tidak keterlaluan buruknya, aku bisa maklum. Aku lebih sering menilai buku dari nama penulis yang tertera di sampulnya, sebab yang fana adalah waktu, penulis jelek abadi. Hehe.

Banyak yang mengira dirimu perempuan based on your name. Seandainya kamu jadi perempuan untuk satu hari, apa hal pertama yang ingin kamu lakukan?

Memeriksa apakah aku tetap menyukai hal-hal yang kusukai dan tetap tidak menyukai hal-hal yang tidak kusukai. Seandainya aku jadi mengagumi SBY dan senang mendengarkan lagu “Tubuhku Otoritasku” dan membenci rokok, misalnya, kupikir aku tidak bakal tahan.

 

Selain menulis, apa lagi hal yang suka kamu lakukan?

Membaca, menonton, main videogame, dan tidur. Khusus soal tidur: tentu semua orang terbiasa tidur, tapi aku tidur seperti kacung tenis mengejar bola dan seperti rohaniwan memikirkan hari kiamat dan seperti wartawan membaca tulisannya sendiri. Dalam kata-kata lain, aku tidur seolah-olah di dunia ini tidak ada urusan yang lebih penting daripada tidur.

Jika bisa memilih satu ceritamu untuk difilmkan, cerita apa yang kamu pilih dan siapa yang akan kamu pilih untuk menyutradarainya?

Tamasya Pencegah Bunuh Diri, Alejandro Jodorowsky atau Hitoshi Matsumoto.

 

Apa satu hal yang ingin kamu pelajari/kuasai lebih dalam?

Kupikir yang paling mendesak adalah belajar bahasa asing selain Inggris, supaya aku bisa mengakses lebih banyak bacaan.

Apa rencana selanjutnya untuk saat ini?

Menulis novel.

 

Terakhir, boleh berikan rekomendasi lima buku favoritmu beserta alasan singkat untuk masing-masing buku?

orang2

Orang-Orang Bloomington

Budi Darma

Satu dari sedikit sekali buku yang akan bertahan andai suatu saat kesusastraan Indonesia memutuskan untuk bertaubat dan mensucikan diri dari karya-karya buruk.

 snows

The Snows of Kilimanjaro and Other Stories

Ernest Hemingway

Beberapa cerita pendek penting Hemingway terhimpun di dalam buku ini (“A Clean, Well-lighted Place”, “The Short Happy Life of Francis Macomber”, dan “Fifty Grand”).

pedro 

Pedro Paramo

Juan Rulfo

Gabriel Garcia Marquez mengaku sanggup menuturkan ulang novel ini, baik dari depan ke belakang maupun dari belakang ke depan. Tidak mengherankan, sebab, dilihat dari sisi mana pun, novel ini bagus sekali.

 bartleby

Bartleby & Co.

Enrique Vila-Matas

Novel ensiklopedik tentang para penulis yang memutuskan untuk tidak atau berhenti menulis. Salah satu buku paling menarik yang saya baca dalam beberapa tahun terakhir.

 maps

Map: Collected and Last Poems

Wislawa Szymborska

“Saat kuucapkan hari depan, suku katanya yang pertama telah jadi milik masa silam,” tulis Szymborska dalam “The Three Oddest Words”. Buku ini memuat sekitar 250 puisi Szymborska dalam bahasa Inggris, mulai dari yang termahsyur seperti “Love at the First Sight”, “On Death, Without Exaggeration”, dan “Nothing Twice” hingga puisi-puisi yang ditulisnya menjelang kematian.

Foto oleh: Saila Rezcan.

http://www.dea-anugrah.com

 

The Pursue of Perfection, An Interview With George Maple

Always try to push the limit of herself dan segala batasan yang ada di sekitarnya, George Maple adalah sosok musisi perfeksionis penuh talenta yang tidak pernah dipuaskan oleh mediocrity, tidak dari orang lain, dan terutama tidak dari dirinya sendiri. 

dsc09932-2

Almost like a déjà vu, di hari pertama We The Fest (WTF) tahun ini yang jatuh pada hari Sabtu tanggal 13 Agustus lalu, tim NYLON menemukan diri kami dalam situasi yang nyaris sama dengan setahun sebelumnya. Which is? Menyambangi Fairmont Hotel Jakarta di Sabtu pagi untuk melakukan photoshoot dan interview eksklusif bersama salah satu international artist yang menjadi bintang festival musik garapan Ismaya Live tersebut. Tahun lalu kami telah bertemu Kimbra, sementara kali ini kami berkesempatan bertemu dengan Jess Higgs, seorang penyanyi perempuan muda yang tak kalah bertalentanya yang saat ini lebih dikenal dengan nama panggungnya, yakni George Maple. Entah kebetulan apa bukan, kedua vokalis perempuan tersebut memiliki beberapa kesamaan yang mudah disadari. Keduanya telah mulai bermusik sejak awal remaja, berasal dari wilayah Down Under (Kimbra dari Selandia Baru, sementara George dari Australia), meraih breakthrough lewat sebuah lagu kolaborasi, dan yang paling penting, keduanya memiliki bakat musikalitas yang impresif dengan perhatian pada detail visual yang sama kompleksnya. In other words, both of them are very passionate and perfectionist for their body of works. Namun tentu di sini kami tidak bicara soal membandingkan keduanya secara head to head, karena bagaimanapun keduanya punya karakteristik masing-masing. Jika Kimbra identik dengan kata quirky, maka sexy dan sultry adalah kata yang lebih tepat menggambarkan George Maple.

            Ditemui di kamar hotelnya, penyanyi berusia 25 tahun ini baru kembali setelah melakukan soundcheck untuk performanya di hari pertama WTF sebelum terbang esok hari untuk Sunny Side Up di Bali. She’s been in Indonesia for few times. Salah satunya ketika tampil bersama Flight Facilities untuk menyanyikan single “Foreign Language” saat ia masih memakai nama Jess. Tapi ini adalah penampilan perdananya sebagai George Maple and she’s definitely excited for it. “Tentu saja rasanya selalu seru saat pergi ke negara baru dan tampil di sebuah festival. Saya merasa setiap hari adalah sebuah pencapaian baru, entah itu berkolaborasi dengan musisi lain, menulis lagu, atau tampil di atas panggung. Playing shows is obviously very fun, saya menikmati tampil di panggung sama besarnya seperti bekerja di studio. Especially for the fans, it’s all about the kids who come and the fact that I want to come out. When they sing louder than you, it’s amazing,” ungkapnya sambil duduk di depan cermin makeup dan membiarkan wajahnya mulai dirias.

Saat berhadapan langsung dengannya, kamu akan merasa jika sejatinya wanita ini memang memiliki aura seorang chanteuse karismatik. Perawakannya tinggi dengan rambut jet black serta winged eyeliner yang membingkai mata dan bibir yang diselimuti lipstick yang terkesan intimidating. However, vokalnya saat berbicara mengalun halus dan merdu hampir seperti sedang bernyanyi. Lahir dan dibesarkan di Newport, Sydney, ia mengaku bukan berasal dari keluarga musisi. Ayahnya adalah seorang businessman dan ibunya seorang akademisi. Namun ia menyebut jika kakeknya yang berdarah Jerman adalah seorang pengacara yang juga bernyanyi di choir dan mungkin dari sana lah bakatnya menurun. Waktu kecil, ia terbiasa mendengarkan apapun yang didengarkan oleh orangtuanya seperti Sade, Prince, dan penyanyi Australia bernama Renee Geyer, sampai akhirnya ia mulai menemukan selera musiknya sendiri saat beranjak remaja yang terdiri dari TLC, Justin Timberlake, dan Backstreet Boys.

dsc09412-2

Ketertarikannya pada musik diawali dengan mempelajari piano dengan metode Suzuki yang sekaligus mempertajam kemampuan vokalnya. Selama masa SMA, ia mulai tampil di berbagai acara musik di kotanya menyanyikan lagu-lagu cover musisi favoritnya sebelum beberapa tahun kemudian ia bertemu dengan Flight Facilities lewat mutual friend di sebuah bar dan seminggu kemudian mengisi vokal di lagu “Foreign Language” yang telah disebutkan sebelumnya. Kepopuleran lagu tersebut berimbas tak hanya rasa penasaran orang pada sosok dirinya, tapi juga keinginannya untuk merilis materi lagunya sendiri sebagai musisi profesional yang sempat tertunda saat ia berkuliah di jurusan media dan jurnalisme. Following her true calling to be musician, ia merilis sebuah lagu electro-soul bertajuk “Fixed” di tahun 2013 yang juga menjadi salam perkenalannya ke publik dengan nama George Maple. “Di masa awal-awal membuat musik, saya masih merasa enggan untuk menunjukkan diri saya, saya menginginkan suatu wadah di mana saya bisa berkreasi tanpa harus mengekspos diri saya, jadi saya membuat George Maple sebagai sebuah kanvas kosong. Nama itu sendiri sebetulnya tidak berarti apa-apa, it’s just a name that emulate what I’m trying to show, and my mom like it, haha.”

            Just like Sasha Fierce for Beyonce atau David Bowie sebagai Ziggy Stardust, tidak sedikit musisi yang memilih untuk menciptakan sebuah persona baru dalam berkarya dengan berbagai alasan masing-masing. Most of them are for creative reasons. Begitu pun juga yang menjadi alasannya dalam memakai nama George Maple. “I think it’s more like a space where I can channel energy and put my experiences in more dramatic form. Saya senang bercerita dan apa yang saya tulis kebanyakan memang berdasarkan pengalaman personal yang mungkin agak sedikit didramatisir. Rasanya melegakan memiliki sebuah wadah berkreasi di mana George sebagai karakter, instead of me, bisa menempatkan dirinya di kondisi yang lebih ekstrem. It’s really a good place for me to put certain things so they don’t become a part of me, seperti energi-energi negatif yang bisa saya tampung di sebuah safe place.”

            Ketertarikannya pada musik elektronik terpicu saat mendengarkan album kolaborasi Gil Scott-Heron dan Jamie xx beberapa tahun lalu. Menggabungkan sensibilitas musik pop dan soul klasik dengan balutan produksi elektronik minimalis, ia menyebut musiknya sebagai Future Pop. “I don’t want to be the one to define future pop, everyone have their own interpretations, tapi bagi saya hal ini tentang mengeksplor cara baru untuk membuat musik dan menulis lagu, karena bagaimanapun, it’s always paying homage to the traditional pop music but also exploring these new technologies and style and challenging the traditional method a little bit,” paparnya, sebelum melanjutkan, “Saya merasa produksi adalah bagian besar dalam penulisan lagu, but in the end of the day, jika kamu bisa duduk dan memainkan lagu itu dengan sebuah gitar, then it’s a good song.”

Bicara soal songwriting sendiri, George mengaku mengagumi para penulis lagu pop seperti Max Martin dan Linda Perry, “Hal yang menarik adalah influens musik yang saya buat sekarang sebetulnya saya sendiri tidak tahu asalnya dari mana, I don’t grow up listening to some music I tend to create now and my friends always tell me about these artists yang mereka pikir memengaruhi saya, seperti Rose Royce misalnya yang terkenal di tahun 70-an. Mereka pikir saya mendengarkan Rose Royce padahal saya tidak mendengarkan musiknya sebelum mereka memberitahu saya. I try not to listen to too many things because I have quite sympathetic ears, and I don’t want to accidentally copy something, a lot of it actually comes from whatever going on inside of me. Saya senang menemukan musisi baru baik yang zaman sekarang maupun old artists, discovering Rose Royce is big one for me because it’s open this door to something I’m not naturally doing namun bisa mengembangkan warna musik saya. So I guess I’m always open to many new things.”

Telah banyak sekali berkolaborasi dengan para musisi dan produser elektronik seperti Flume, What So Not, DJ Snake, Kilo Kish, Ta-ku, Snakehips untuk menyebut segelintir kecilnya, George saat ini sedang menikmati serunya membuat lagu seorang diri, tak hanya soal vokal, tapi juga produksi hingga mixing. To be able to 100% sufficient adalah hal vital baginya. Kepekaannya yang semakin terlatih dan introspeksi personal pada inspirasi dalam dirinya kemudian mewujud dalam sebuah debut album mini Vacant Space yang dirilis akhir 2015 lalu oleh Future Classic dengan hits single “Talk Talk” yang melambungkan namanya. Direkam selama 18 bulan dan dikerjakan berpindah-pindah kota, dari mulai London, Los Angeles, New York, dan Sydney, album ini berisi lima lagu soulful dengan produksi aransemen elegan di mana vokalnya silih berganti menyesuaikan mood lagu, berat dan powerful di satu lagu dan ringan di lagu lain dengan lirik emosional nan jujur soal relationship, terutama di lagu “Vacant Space” yang juga menjadi lagu pertama. “Saat menulis lagu ini saya sedang ada di London dan berada di situasi emosional yang lumayan berantakan. Saya punya pengalaman kurang menyenangkan soal relationship dan merasa lelah soal itu. Saya pergi ke tempat teman saya untuk main musik. Dia bermain gitar lalu lagu ini mengalir dengan sendirinya dan selesai dalam waktu 10 menit. Aslinya, lagu ini lebih seperti lagu pop tradisional dengan chorus and everything, saya lalu mengirimnya ke Harley (alias Flume) dan ia mengutak-atik aransemennya menjadi lebih obscure,” kenangnya.

Not just moving on dari cerita cinta yang kandas, kepindahannya ke Amerika tahun lalu juga membawanya ke inspirasi baru dalam bermusik. Pertemanannya dengan para rapper dan produser Hip Hop di Amerika menginjeksikan semangat baru dalam dirinya dan menginfluens musiknya. “I think it’s just a life, saya telah melewati beberapa fase, saya mungkin akan kembali menelusuri sisi rapuh saya lagi di masa mendatang, tapi untuk saat ini saya sedang menikmati rasa percaya diri dan boldness yang ada di diri saya sekarang. It’s just what me at the moment,” paparnya. Hasilnya adalah materi baru seperti “Stick And Horses” dan “Buried“ yang dirilis tahun ini. Dibandingkan materi sebelumnya, kedua lagu tersebut terdengar jauh lebih agresif dan powerful dengan influens Hip Hop kental yang menjadi babak baru dalam musiknya, termasuk dalam urusan visual.

 Jika sebelumnya George dengan sengaja membangun image misterius dengan menolak memberikan press shot dan memilih vokalnya yang berbicara mewakili dirinya, belakangan ini ia seutuhnya menempatkan dirinya di bawah spotlight panggung-panggung besar dari mulai Coachella sampai Lollapalooza, bidikan fotografer, dan menjadi tokoh utama dalam video-video terbarunya yang bernuansa provokatif dengan tema besar seperti power, money, and sex, yang juga sebuah commentary yang berasal dari pengamatannya soal industri musik yang ia geluti. “I think it’s about observing and being aware of it. Banyak hal yang bisa membuatmu geram tapi kamu punya pilihan untuk mengambil sikap, and I choice not to act that way but also to hopefully provide some guidance for people who don’t really understand the complexity of the industry. Begitu banyak anak muda yang berharap masuk ke industri ini dan dimanfaatkan oleh orang sekitarnya. It’s an industry where if someone is taking advantage of you, they not just taking advantage of your job, but also for you as a person, because we are the product and it’s quite upsetting for me watching younger artists go through that, so I hope my observations could help someone else one day.”

            Di video untuk “Stick And Horses” yang juga menampilkan kolaborasi dengan rapper GoldLink, George menampilkan imaji kekuasaan dan seksualitas dalam sebuah strips club yang seduktif dan berbahaya, sebuah wilayah yang diakuinya benar-benar asing bagi dirinya. Sementara di video “Buried” yang digarap oleh Leticia Dare, George kembali menemukan dirinya di tempat yang dekat dari rumahnya. Berkolaborasi bersama teman masa kecilnya, Chris Emerson, yang lebih dikenal sebagai What So Not dan rapper asal Atlanta bernama Rome Fortune, video ini menampilkan visual dirinya yang sedang tenggelam di bawah air. “Waktu sekolah, kami punya acara seperti swimming carnival di mana kami harus pergi dan berkompetisi dalam adu renang, dan kebetulan tempat kami merekam video ini adalah tempat yang sama. Kebetulan juga Chris memang dulu tinggal tak jauh dari rumah saya, jadi ini seperti nostalgia. Kami berada di tempat renang yang sering kami kunjungi saat sekolah, it’s quite humbling and cool.”

            Perhatiannya pada detail visual tak lantas berhenti di situ. Dalam pemotretan ini misalnya, secara spesifik ia mengetahui dan menyiapkan referensi riasan seperti apa yang ia mau, pilihan baju, dan overall concept. Visual baginya adalah perpanjangan dari musik yang ia hasilkan. Saat saya bertanya apakah ia termasuk orang yang lebih suka mencari inspirasi dengan cara menonton film atau membaca buku, ia menjawab bukan dua hal itu yang menjadi sumber inspirasinya. “Saya banyak menghabiskan waktu di imajinasi saya sendiri. Dari kecil saya sering jalan-jalan sendirian dan menulis cerita di benak saya dan mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa akhirnya saya melakukan hal ini sebagai profesi. Saya tentu saja ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan menonton film atau membaca buku, tapi saya merasa inspirasi saya berasal dari hal-hal yang benar-benar ada di sekitar saya. I don’t think you can really write about things you don’t know, so for me it’s about learning and experiencing as much as possible. You learn so much just by hanging around with other people and listening to them.”

            Menyebut nama Kendrick Lamar dan Kanye West sebagai dream collaborators, kolaborasi baginya adalah tentang membangun koneksi tak hanya soal kreativitas tapi juga di level personal. “I just love to work with people whom I can vibing with in personal sense, dan vibe itu tidak selalu harus yang bersifat positif, it could be a friction, sexual tension, or even sometimes frustration, I guess it’s all about the energy and how the energy works together,” terangnya. Sisi perfeksionis dalam dirinya bahkan membuatnya tak segan untuk turun tangan langsung dalam menangani hal-hal teknis seperti membalas email and all the business side of it. “Rasanya seperti bekerja di sebuah dapur,” cetusnya, “Kita harus tahu setiap aspek dan bagian dari profesi yang kita lakukan. Saya merasa tidak banyak musisi yang berusaha mengerti soal itu, for me it’s just my personality that need to be hands on everything.”

Dengan jadwal tampil di festival bergengsi di berbagai belahan dunia, praktis tahun 2016 menjadi tahun super sibuk baginya. Telah tinggal di banyak kota besar dunia, saat ini, ia menyebut Los Angeles sebagai tempatnya pulang. Ketika sedang bercerita tentang LA, omongannya sempat terhenti saat speaker memutarkan salah satu lagunya. “Is it weird to hear your own song?” tanya saya yang langsung dijawabnya “No, I’m used to it, it’s cool, but it always a bit funny,” tandasnya dengan senyuman simpul, sebelum melanjutkan hal yang paling ia rindukan dari rumah, yaitu? “Saya suka membuat salad. Hal favorit saya saat pulang tur adalah pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan salad dan membuat semangkuk besar salad. It’s strange thing I enjoy, I especially salmon salad, haha,” pungkasnya. Menyoal hal yang ia suka lakukan selain bermusik, ia sempat berpikir agak lama karena baginya saat ini fokusnya memang sedang 100% di musik, tapi pada akhirnya ia mengutarakan jawaban yang melintas di benaknya. “Saya pergi ke Meksiko beberapa bulan lalu dan menginap di sebuah tempat di dekat Cabo yang agak terpencil, and that’s the first holiday I got in so long and I feel really relax. I do yoga retreats as well, I would like to go to Ubud, saya belum pernah ke sana, dan mungkin setelah tur ini saya akan ke sana.”

            Sebagai musisi yang namanya sedang naik, especially in this social media age, George pun mengungkapkan pendapat pribadinya soal popularitas dan media sosial. “Media sosial tentu saja sangat bermanfaat in so many ways tapi di saat yang sama saya juga tidak menyukai orang-orang yang bersembunyi di balik keyboard. Orang-orang sekarang bisa sangat judgemental di internet, terutama untuk anak-anak dan remaja. It’s hard enough to growing up; you don’t need the additional stress from internet tapi saya merasa media sosial adalah platform yang luar biasa. Contohnya baru-baru ini saya menonton video di Facebook tentang seorang gadis kecil berumur 10 tahun di Palestina yang melaporkan hal di sekitarnya yang mungkin tidak diekspos oleh media umum,” tandasnya. Talk about keyboard warriors, apakah dia punya pengalaman buruk soal komentar di internet? “I’m pretty good with them. Tentu saja ada momen di mana saya ingin menjawab setiap komentar dan menjelaskan dari sisi saya, but you know, yang namanya hater pasti ada saja, its part of the job and not a new thing, entah itu dari media atau dari orang di internet. Saya membaca satu hal yang diucapkan oleh Kiera Knightley, dia bilang dia tidak membaca review apapun soal filmnya baik yang positif maupun negatif dan lebih fokus berkarya, dan saya pikir itu adalah sikap yang tepat karena kemungkinannya kamu bisa saja menjadi besar kepala saat membaca pujian atau justru merasa bitter saat membaca komentar negatif. So yeah I try not to read too much because in the end of the day, semua orang punya pendapat masing-masing.”

            Tanpa terasa, perbincangan saya dengan George telah berlangsung hampir satu jam. Wajahnya telah selesai dirias dan ia pun bersiap mengganti pakaian ke wardrobe yang telah disediakan stylist kami. Sebelum beranjak, saya pun melempar pertanyaan terakhir soal rencana yang ada di depan matanya. Selain tentu saja masih menyiapkan materi-materi baru dengan kejutan-kejutan yang masih ia rahasiakan, ia pun mengungkapkan, “I don’t really have a bucket list, to be honest. Yang jelas saya merasa sangat beruntung dan bersyukur dengan segala hal dan kesempatan yang telah terjadi sepanjang tahun ini and all the crazy circumstances, I don’t even know what will happen around the corner dan hal itu yang justru membuat segalanya menjadi exciting, so I will just keep myself surprised,” tandasnya sambil menyunggingkan senyum. “But for now…” ujarnya tiba-tiba, “Saya berpikir untuk mencari seseorang yang bisa membantu mengkustom jaket saya, put a bunch of rhinestones on it, saya mungkin akan mencarinya di Bali dan menikmati sisa hari sambil minum cocktail di samping kolam and just chill.”

dsc09530-2

 

Little Miss Sunshine, An Interview With Zahara Davis

Dari Bali sampai ke West Coast, model belia Zahara Davis membawa irresistible beauty dan effervescent charm ke dunia fashion yang ia geluti sejak dini. Fine, fresh, fierce, she got it on lock! Foto oleh: Andre Wiredja.

dsc01217

Bayangkan jika pada suatu hari kamu hanyalah gadis berumur 14 tahun yang sedang asik melahap Big Mac di sebuah shopping mall, seseorang dari model agency menghampiri dan memberimu kartu nama, and next thing you know, kamu berjalan di runway prestisius fashion week dunia, menjadi Victoria’s Secret Angel, mengencani pria-pria seperti Leonardo DiCaprio dan Tom Brady serta menjadi model dengan bayaran paling mahal di dunia seperti yang dialami oleh supermodel Gisele Bündchen. Skenario yang hampir mirip juga terjadi untuk Kate Moss yang di usia 14 tahun menarik perhatian seorang scouting agent dari Storm Model Management saat ia berada di bandara JFK New York sebelum akhirnya menjadi salah satu model paling iconic di dunia.

Sekelumit cerita di atas mungkin contoh cerita ‘discovery’ yang sama klisenya dengan cerita seorang gadis mengantarkan temannya untuk casting namun justru ia yang menjadi bintang (seperti yang dialami oleh Adriana Lima dan Gemma Ward misalnya). Sebuah anekdot di dunia modelling yang terdengar seperti dongeng, but it’s really happened and never gets old. Kita tidak akan pernah tahu apa yang membuat seorang scouting agent dari agensi modeling berani mempertaruhkan kepercayaan kepada seorang gadis muda yang hanya ia lihat sekilas di random places. But still, kita terus mendengar cerita tentang gadis yang tadinya bukan siapa-siapa breaks into the industry dan menjadi model tenar thanks to street-scouting. The chances are odd but it’s not impossible.

It’s the girl who never thought she could who gets discovered. The prettiest girl in school doesn’t always make the best model,” ujar Ivan Bart, seorang top agent dari IMG Models, yang pernah menaungi Gisele Bundchen, Heidi Klum, dan Kate Moss. Pada kenyataannya, dari sekian banyak pretty faces in the crowd, memang tidak ada jaminan jika wajah cantik dan postur semampai saja cukup untuk membuatmu menjadi the next big thing dalam industri modeling yang sangat kompetitif. Just like any other It Girls, the It models juga diberkahi that ‘special oomph’, the ‘je ne sais quoi’, the ‘x-factor’, dan istilah lainnya untuk mendeskripsikan pesona natural dan magis yang dimiliki beberapa gadis remaja yang membuat mereka stands out in the crowd dengan begitu effortless dan membuat orang-orang tergila-gila. Seperti yang dimiliki Zahara Davis, seorang model muda dan girl crush yang siap membuatmu terobsesi dan menjadikan dirinya sebagai ‘goals’.

Just like any other crushes in the social media era, saya pertama kali mengetahui sosok Zahara justru dari akun Instagram miliknya (@zaharadavis) yang saat artikel ini ditulis telah memiliki 32.2K followers. Sama seperti umumnya model generasi sekarang yang kerap disebut sebagai “The Instagirls” (Cara Delevingne, Kendall Jenner, Gigi Hadid, Fernanda Ly, etc) yang dengan gamblang menunjukkan personality mereka lewat social media dan membuat mereka terasa lebih approachable dan relatable, Zahara juga memiliki daya tarik tersendiri yang membuat siapapun tergoda untuk scrolling down her feeds dan menekan tombol follow dengan cepat. Saya ingat yang pertama kali tercetus di benak saya adalah “Wow, this girl is drop dead gorgeous!” dan lebih terkejut lagi saat mengetahui jika dirinya adalah seorang model yang kala itu berdomisili di Bali.

Diberkahi oleh kulit semanis karamel yang eksotis, perfect bikini body, facial feature unik paduan genetik Native American, Saint Lucia, dan Inggris yang mengalir dalam darahnya, gadis yang dilahirkan di Maui, Hawaii dan dibesarkan di Bali ini memulai karier modelingnya sejak ia ditemukan oleh Jules Henry, CEO dan founder dari Fauve Agency sekitar tiga tahun lalu saat ia masih berumur 13 tahun. Di bawah naungan model management yang berbasis di Bali tersebut, Zahara mengembangkan talenta naturalnya sebagai model paling muda di antara jajaran roster lainnya seperti Salvita DeCorte, Helene Jansen, Reti Ragil, Dara Warganegara, Drina Ciputra, dan model-model papan atas lainnya di Indonesia saat ini.

Blessed with good genes itu sudah pasti, namun berbekal kerja keras, professionalism dan work ethic yang sudah dibangun dari usia dini, tidak butuh waktu lama bagi Zahara untuk menjadi sensasi baru di skena fashion dengan menjadi muse bagi banyak fashion photographer terkenal dan muncul di berbagai editorial majalah-majalah mode prestisius. Kini di umurnya yang baru saja menginjak 16 tahun, Zahara telah memiliki cukup portofolio yang akan mengundang decak kagum siapa saja. Selain Fauve, saat ini ia juga diwakili oleh agensi internasional Next Management yang membuka peluang pekerjaan internasional lebih lebar baginya. Setahun terakhir ia telah malang melintang ke Paris, Los Angeles, dan New York dan bekerja untuk klien-klien besar seperti This Is A Love Song, NYLON US, Urban Outfitters, Glamour US, Billabong, dan yang menjadi salah satu career highlight-nya sejauh ini: Dipotret fotografer legendaris Bruce Weber untuk editorial berjudul “Reach Out and Touch Somebody’s Hand”  di Vogue Italia edisi April 2016 bersama model-model internasional seperti Ajak Deng, Mica Arganaraz, Fare Fares, Gelila Assefa, Anushka Sharma, dan Shehkar Jah.

Keputusan menjadikan Zahara sebagai cover edisi Summer tahun ini muncul secara spontan ketika fotografer Andre Wiredja bertemu Zahara di Bali dan melakukan test shoot. Tanpa ragu, ketika Andre melempar ide untuk memotret Zahara, kami pun langsung menyambutnya. Walaupun sayangnya saya tidak bisa bertemu dan mewawancarainya langsung, semua testimoni dari orang-orang yang saya dengar tentang Zahara selalu bernada positif. Semua sepakat jika Zahara adalah sosok berkepribadian, down to earth, menyenangkan untuk bekerjasama, dan memiliki masa depan cemerlang di bidang yang ia geluti sekarang. Dari apartemennya di Los Angeles, Zahara pun mengungkapkan beberapa sisi dalam dirinya lewat balasan email yang ia kirim untuk NYLON. Ready to know her better?

dsc01581

Hai Z, jadi apa yang mendorongmu terjun ke dunia modeling? Saya selalu ingin melakukannya, something I had a passion for. Saya mulai modeling bersama Juls saat saya berumur 13 tahun dan mendapat kesempatan bertemu dengan fotografer Nicoline Patricia yang kemudian banyak mendidik saya soal pekerjaan sebagai model. Sebelum itu saya juga sudah melakukan beberapa pekerjaan modeling, namun saya rasa itu titik di mana karier saya benar-benar dimulai. And since then I haven’t really stopped. Both my mum and my grandma were in the fashion industry, so that did have an impact on what I’m doing now.

Bagaimana akhirnya kamu dikontrak Fauve Management dan Next Management? It was all at the right time, with the right people and things just happened perfectly.

Apa hal yang paling kamu sukai dan tidak sukai dari modeling? Saya suka kesempatan traveling ke berbagai tempat di dunia dan bertemu banyak orang-orang berbakat namun saya harus bilang jika bangun dan bekerja dari mulai jam 4 pagi isn’t the cherry on my Sunday.

Bagaimana rasanya melihat foto diri kamu sendiri di media? Tergantung fotonya sebetulnya tapi saya jelas bukan the best judge untuk menilai diri saya sendiri karena kebanyakan foto yang saya kurang sukai justru malah disukai banyak orang lain.

Boleh cerita sedikit soal pengalamanmu bekerja bersama Bruce Weber untuk Vogue Italia? Saya sampai harus mencubit diri saya sendiri saat tiba di lokasi pemotretan agar yakin jika itu bukan mimpi. Salah satu pengalaman terbaik saya sebagai model sejauh ini. Semua orang sangat friendly dan menyenangkan untuk bekerjasama.

Susah nggak membagi waktu antara karier dan akademis? Ya, lumayan susah karena saya harus selalu berpergian, but somehow I manage to work it out. Home school is pretty mobile.

Do you consider yourself as world citizen? Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu tempati, mana yang kamu anggap sebagai “rumah”?

I am a citizen of the world, tapi saya lahir di Hawaii dan dibesarkan di Indonesia. Bali is where I will always call home.

Apakah kamu punya kakak atau adik? Siapa supporter paling besar di keluargamu? Saya anak satu-satunya dan dibesarkan oleh ibu saya. She is most definitely my biggest fan. Dia selalu mendukung saya 100%

Apa yang paling kamu rindukan dari Bali? Bagaimana kamu mendeskripsikan perfect night out di Bali? Saat saya di Bali, itu biasanya saya sedang liburan dari semua hal lain. Itu waktu bagi saya untuk bersantai dan berkumpul bersama keluarga dan teman-teman saya. Quiet nights in are my favorite there.

Apa hal favorit yang kamu lakukan di musim panas?

My favorite is to island hop between Indonesia and all the little islands.

 

What’s your favorite summer memory? I now go every year to Glastonbury, which is coming up soon and is my favorite festival of summer so far.

 

What do you think about summer fling? Not on the top of my list.

dsc01431

Saya pernah lihat salah satu posting di Instagram milikmu tulisan “Those who criticise our generation forget who raised it”, kalau bagi kamu sendiri apa rasanya menjadi seorang model dari generasi millennial di era media sosial seperti sekarang? Media sosial telah menjadi satu hal yang berpengaruh di industri fashion dan saya pun menjadi bagian darinya, tapi call me old fashion but it was a lot easier for models back when it didn’t matter how many likes your Instagram post got. 

Seberapa penting social media untuk kehidupan sehari-harimu? Saya hanya punya akun Instagram dan Snapchat. Kalau kamu menemukan akun social media selain dua itu atas nama saya, kemungkinan besar mereka adalah fake accounts. Saya berusaha untuk tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial.

Apakah kamu termasuk morning person atau evening person? Depends how the crowd is! As long as I’m with good people then I can do either.

Couch potato or gym fanatic? Bagaimana caramu agar tetap fit? Gym! Without a doubt. Tapi saya tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuan nutritionist dan trainer saya Melanie dari Motion. Saya selalu excited untuk kembali latihan bersamanya setiap saya di Bali.

Apa kamu punya signature style yang menjadi andalanmu? Setiap hari saya bangun dengan mood yang berbeda. Saya tidak bisa bilang saya punya satu particular style, but it’s always me.

Siapa model favoritmu? Naomi Campbell dan Candice Swanepoel.

Selain modeling, hal-hal apa lagi yang kamu sukai? Membaca, menulis, traveling, musik, nutrisi dan healthy living.

 

Apa yang menjadi obsesimu belakangan ini? Saya selalu terobsesi dengan every healthy thing on the market, never gets old to me.

Musik apa yang biasanya ada di playlist personalmu? Rap dan R&B adalah favorit saya. My top band would probably be Destiny’s Child or TLC.

How about the beauty regime? Produk apa yang menjadi favoritmu? Saya sangat perhatian soal produk yang akan saya pakai untuk kulit saya. I love organic products. Saat ini saya menyukai:

– All lush bath bombs 

– Pure shea butter lip balm

– Hemp seed hair oil (amazing)

– Sea salt body scrub

– BEST cream I use is Bali browning lotion 

What makes you laugh? Life.

What makes you cry? LIFE.

Apa hal paling mendebarkan yang pernah kamu lakukan? Bungee jumping, it was crazy.

Apa sifat yang paling kamu sukai dari dirimu sendiri? I’m just a happy go lucky girl.

Kalau yang paling tidak disukai? Being happy go lucky, sometime doesn’t always work out, you may end up in a ditch, ahaha!

Apa yang menjadi ketakutan terbesarmu? Tidak bisa meraih target-target yang telah saya buat.

Secret skill? Staying balanced through it all the craziness that I love.

Apa saran terbaik yang pernah kamu terima? Keep your eyes on the stars and your feet on the ground.

Do you collect something? Memories.

Rencanamu selanjutnya? Reaching my goals and dreams.

dsc01753