Little Miss Sunshine, An Interview With Zahara Davis

Dari Bali sampai ke West Coast, model belia Zahara Davis membawa irresistible beauty dan effervescent charm ke dunia fashion yang ia geluti sejak dini. Fine, fresh, fierce, she got it on lock! Foto oleh: Andre Wiredja.

dsc01217

Bayangkan jika pada suatu hari kamu hanyalah gadis berumur 14 tahun yang sedang asik melahap Big Mac di sebuah shopping mall, seseorang dari model agency menghampiri dan memberimu kartu nama, and next thing you know, kamu berjalan di runway prestisius fashion week dunia, menjadi Victoria’s Secret Angel, mengencani pria-pria seperti Leonardo DiCaprio dan Tom Brady serta menjadi model dengan bayaran paling mahal di dunia seperti yang dialami oleh supermodel Gisele Bündchen. Skenario yang hampir mirip juga terjadi untuk Kate Moss yang di usia 14 tahun menarik perhatian seorang scouting agent dari Storm Model Management saat ia berada di bandara JFK New York sebelum akhirnya menjadi salah satu model paling iconic di dunia.

Sekelumit cerita di atas mungkin contoh cerita ‘discovery’ yang sama klisenya dengan cerita seorang gadis mengantarkan temannya untuk casting namun justru ia yang menjadi bintang (seperti yang dialami oleh Adriana Lima dan Gemma Ward misalnya). Sebuah anekdot di dunia modelling yang terdengar seperti dongeng, but it’s really happened and never gets old. Kita tidak akan pernah tahu apa yang membuat seorang scouting agent dari agensi modeling berani mempertaruhkan kepercayaan kepada seorang gadis muda yang hanya ia lihat sekilas di random places. But still, kita terus mendengar cerita tentang gadis yang tadinya bukan siapa-siapa breaks into the industry dan menjadi model tenar thanks to street-scouting. The chances are odd but it’s not impossible.

It’s the girl who never thought she could who gets discovered. The prettiest girl in school doesn’t always make the best model,” ujar Ivan Bart, seorang top agent dari IMG Models, yang pernah menaungi Gisele Bundchen, Heidi Klum, dan Kate Moss. Pada kenyataannya, dari sekian banyak pretty faces in the crowd, memang tidak ada jaminan jika wajah cantik dan postur semampai saja cukup untuk membuatmu menjadi the next big thing dalam industri modeling yang sangat kompetitif. Just like any other It Girls, the It models juga diberkahi that ‘special oomph’, the ‘je ne sais quoi’, the ‘x-factor’, dan istilah lainnya untuk mendeskripsikan pesona natural dan magis yang dimiliki beberapa gadis remaja yang membuat mereka stands out in the crowd dengan begitu effortless dan membuat orang-orang tergila-gila. Seperti yang dimiliki Zahara Davis, seorang model muda dan girl crush yang siap membuatmu terobsesi dan menjadikan dirinya sebagai ‘goals’.

Just like any other crushes in the social media era, saya pertama kali mengetahui sosok Zahara justru dari akun Instagram miliknya (@zaharadavis) yang saat artikel ini ditulis telah memiliki 32.2K followers. Sama seperti umumnya model generasi sekarang yang kerap disebut sebagai “The Instagirls” (Cara Delevingne, Kendall Jenner, Gigi Hadid, Fernanda Ly, etc) yang dengan gamblang menunjukkan personality mereka lewat social media dan membuat mereka terasa lebih approachable dan relatable, Zahara juga memiliki daya tarik tersendiri yang membuat siapapun tergoda untuk scrolling down her feeds dan menekan tombol follow dengan cepat. Saya ingat yang pertama kali tercetus di benak saya adalah “Wow, this girl is drop dead gorgeous!” dan lebih terkejut lagi saat mengetahui jika dirinya adalah seorang model yang kala itu berdomisili di Bali.

Diberkahi oleh kulit semanis karamel yang eksotis, perfect bikini body, facial feature unik paduan genetik Native American, Saint Lucia, dan Inggris yang mengalir dalam darahnya, gadis yang dilahirkan di Maui, Hawaii dan dibesarkan di Bali ini memulai karier modelingnya sejak ia ditemukan oleh Jules Henry, CEO dan founder dari Fauve Agency sekitar tiga tahun lalu saat ia masih berumur 13 tahun. Di bawah naungan model management yang berbasis di Bali tersebut, Zahara mengembangkan talenta naturalnya sebagai model paling muda di antara jajaran roster lainnya seperti Salvita DeCorte, Helene Jansen, Reti Ragil, Dara Warganegara, Drina Ciputra, dan model-model papan atas lainnya di Indonesia saat ini.

Blessed with good genes itu sudah pasti, namun berbekal kerja keras, professionalism dan work ethic yang sudah dibangun dari usia dini, tidak butuh waktu lama bagi Zahara untuk menjadi sensasi baru di skena fashion dengan menjadi muse bagi banyak fashion photographer terkenal dan muncul di berbagai editorial majalah-majalah mode prestisius. Kini di umurnya yang baru saja menginjak 16 tahun, Zahara telah memiliki cukup portofolio yang akan mengundang decak kagum siapa saja. Selain Fauve, saat ini ia juga diwakili oleh agensi internasional Next Management yang membuka peluang pekerjaan internasional lebih lebar baginya. Setahun terakhir ia telah malang melintang ke Paris, Los Angeles, dan New York dan bekerja untuk klien-klien besar seperti This Is A Love Song, NYLON US, Urban Outfitters, Glamour US, Billabong, dan yang menjadi salah satu career highlight-nya sejauh ini: Dipotret fotografer legendaris Bruce Weber untuk editorial berjudul “Reach Out and Touch Somebody’s Hand”  di Vogue Italia edisi April 2016 bersama model-model internasional seperti Ajak Deng, Mica Arganaraz, Fare Fares, Gelila Assefa, Anushka Sharma, dan Shehkar Jah.

Keputusan menjadikan Zahara sebagai cover edisi Summer tahun ini muncul secara spontan ketika fotografer Andre Wiredja bertemu Zahara di Bali dan melakukan test shoot. Tanpa ragu, ketika Andre melempar ide untuk memotret Zahara, kami pun langsung menyambutnya. Walaupun sayangnya saya tidak bisa bertemu dan mewawancarainya langsung, semua testimoni dari orang-orang yang saya dengar tentang Zahara selalu bernada positif. Semua sepakat jika Zahara adalah sosok berkepribadian, down to earth, menyenangkan untuk bekerjasama, dan memiliki masa depan cemerlang di bidang yang ia geluti sekarang. Dari apartemennya di Los Angeles, Zahara pun mengungkapkan beberapa sisi dalam dirinya lewat balasan email yang ia kirim untuk NYLON. Ready to know her better?

dsc01581

Hai Z, jadi apa yang mendorongmu terjun ke dunia modeling? Saya selalu ingin melakukannya, something I had a passion for. Saya mulai modeling bersama Juls saat saya berumur 13 tahun dan mendapat kesempatan bertemu dengan fotografer Nicoline Patricia yang kemudian banyak mendidik saya soal pekerjaan sebagai model. Sebelum itu saya juga sudah melakukan beberapa pekerjaan modeling, namun saya rasa itu titik di mana karier saya benar-benar dimulai. And since then I haven’t really stopped. Both my mum and my grandma were in the fashion industry, so that did have an impact on what I’m doing now.

Bagaimana akhirnya kamu dikontrak Fauve Management dan Next Management? It was all at the right time, with the right people and things just happened perfectly.

Apa hal yang paling kamu sukai dan tidak sukai dari modeling? Saya suka kesempatan traveling ke berbagai tempat di dunia dan bertemu banyak orang-orang berbakat namun saya harus bilang jika bangun dan bekerja dari mulai jam 4 pagi isn’t the cherry on my Sunday.

Bagaimana rasanya melihat foto diri kamu sendiri di media? Tergantung fotonya sebetulnya tapi saya jelas bukan the best judge untuk menilai diri saya sendiri karena kebanyakan foto yang saya kurang sukai justru malah disukai banyak orang lain.

Boleh cerita sedikit soal pengalamanmu bekerja bersama Bruce Weber untuk Vogue Italia? Saya sampai harus mencubit diri saya sendiri saat tiba di lokasi pemotretan agar yakin jika itu bukan mimpi. Salah satu pengalaman terbaik saya sebagai model sejauh ini. Semua orang sangat friendly dan menyenangkan untuk bekerjasama.

Susah nggak membagi waktu antara karier dan akademis? Ya, lumayan susah karena saya harus selalu berpergian, but somehow I manage to work it out. Home school is pretty mobile.

Do you consider yourself as world citizen? Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu tempati, mana yang kamu anggap sebagai “rumah”?

I am a citizen of the world, tapi saya lahir di Hawaii dan dibesarkan di Indonesia. Bali is where I will always call home.

Apakah kamu punya kakak atau adik? Siapa supporter paling besar di keluargamu? Saya anak satu-satunya dan dibesarkan oleh ibu saya. She is most definitely my biggest fan. Dia selalu mendukung saya 100%

Apa yang paling kamu rindukan dari Bali? Bagaimana kamu mendeskripsikan perfect night out di Bali? Saat saya di Bali, itu biasanya saya sedang liburan dari semua hal lain. Itu waktu bagi saya untuk bersantai dan berkumpul bersama keluarga dan teman-teman saya. Quiet nights in are my favorite there.

Apa hal favorit yang kamu lakukan di musim panas?

My favorite is to island hop between Indonesia and all the little islands.

 

What’s your favorite summer memory? I now go every year to Glastonbury, which is coming up soon and is my favorite festival of summer so far.

 

What do you think about summer fling? Not on the top of my list.

dsc01431

Saya pernah lihat salah satu posting di Instagram milikmu tulisan “Those who criticise our generation forget who raised it”, kalau bagi kamu sendiri apa rasanya menjadi seorang model dari generasi millennial di era media sosial seperti sekarang? Media sosial telah menjadi satu hal yang berpengaruh di industri fashion dan saya pun menjadi bagian darinya, tapi call me old fashion but it was a lot easier for models back when it didn’t matter how many likes your Instagram post got. 

Seberapa penting social media untuk kehidupan sehari-harimu? Saya hanya punya akun Instagram dan Snapchat. Kalau kamu menemukan akun social media selain dua itu atas nama saya, kemungkinan besar mereka adalah fake accounts. Saya berusaha untuk tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial.

Apakah kamu termasuk morning person atau evening person? Depends how the crowd is! As long as I’m with good people then I can do either.

Couch potato or gym fanatic? Bagaimana caramu agar tetap fit? Gym! Without a doubt. Tapi saya tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuan nutritionist dan trainer saya Melanie dari Motion. Saya selalu excited untuk kembali latihan bersamanya setiap saya di Bali.

Apa kamu punya signature style yang menjadi andalanmu? Setiap hari saya bangun dengan mood yang berbeda. Saya tidak bisa bilang saya punya satu particular style, but it’s always me.

Siapa model favoritmu? Naomi Campbell dan Candice Swanepoel.

Selain modeling, hal-hal apa lagi yang kamu sukai? Membaca, menulis, traveling, musik, nutrisi dan healthy living.

 

Apa yang menjadi obsesimu belakangan ini? Saya selalu terobsesi dengan every healthy thing on the market, never gets old to me.

Musik apa yang biasanya ada di playlist personalmu? Rap dan R&B adalah favorit saya. My top band would probably be Destiny’s Child or TLC.

How about the beauty regime? Produk apa yang menjadi favoritmu? Saya sangat perhatian soal produk yang akan saya pakai untuk kulit saya. I love organic products. Saat ini saya menyukai:

– All lush bath bombs 

– Pure shea butter lip balm

– Hemp seed hair oil (amazing)

– Sea salt body scrub

– BEST cream I use is Bali browning lotion 

What makes you laugh? Life.

What makes you cry? LIFE.

Apa hal paling mendebarkan yang pernah kamu lakukan? Bungee jumping, it was crazy.

Apa sifat yang paling kamu sukai dari dirimu sendiri? I’m just a happy go lucky girl.

Kalau yang paling tidak disukai? Being happy go lucky, sometime doesn’t always work out, you may end up in a ditch, ahaha!

Apa yang menjadi ketakutan terbesarmu? Tidak bisa meraih target-target yang telah saya buat.

Secret skill? Staying balanced through it all the craziness that I love.

Apa saran terbaik yang pernah kamu terima? Keep your eyes on the stars and your feet on the ground.

Do you collect something? Memories.

Rencanamu selanjutnya? Reaching my goals and dreams.

dsc01753

 

Advertisements

Picture Perfect, An Interview With Gianni Fajri

 

Berawal dari tugas membuat video dan foto promo untuk clothing brand saat mendalami Fashion Business di LaSalle College, Gianni Fajri menyadari jika menyajikan sebuah presentasi visual adalah pelampiasan sempurna bagi kreativitas dalam dirinya, apapun mediumnya. Sempat bekerja di sebuah fashion company, karier profesional gadis kelahiran Bandung yang akrab disapa Ghyan ini di bidang filmmaking dimulai saat ia dipercaya menggarap Behind The Scene dari Filosofi Kopi. Ditambah berbagai project seru lainnya seperti video campaign dan dokumentasi untuk beberapa clothing label maupun company hingga music video untuk Maliq & D’Essentials, Neonomora, dan LCDTRIP, namanya pun mencuat sebagai salah satu director muda dengan resume yang kian hari kian menarik perhatian. Kini, di usia 25 tahun, Gianni dikenal sebagai seorang film director yang memiliki production house sendiri bernama Maji Piktura, creative director dari sebuah creative studio bernama Anara, serta art director untuk PonYourTone. Her upcoming project? Sebuah debut film pendek berjudul Julian Day yang terinspirasi dari album milik band Elephant Kind. 

gianni

Tell me about your background, sejak kapan kamu tertarik pada directing/filmmaking dan apakah kamu mempelajarinya secara akademis atau otodidak?

My background was in a Fashion Industry, I went to LaSalle College majoring Fashion Business and have worked with several fashion company. Filmaking adalah media yang sempurna untuk melampiaskan kreativitasku. Berawal dari tugas kampus yang membutuhkan photo & video untuk promo brand baju, dari situ aku belajar sendiri dari mulai mengambil foto, edit foto sampai ke video. That’s when I started to learn and jump in into the film industry. The right word is otodidak.

Apakah dalam berkarya kamu berusaha memiliki satu ciri khas yang “Gianni banget”? Kalau iya, how would you describe it?

Beauty shoot, neon lights and dynamic shot (ghostly) and there must blue in it.

Siapa saja sosok visual maker yang influential bagimu?

Sofia Copolla, Terrence Malick, Gregg Araki, Nabil (music video director), Chan-wook Park, Wong Kar Wai.

Apa yang biasanya kamu lakukan untuk mencari inspirasi?

Being out of the circle, matiin handphone. Getting lost somewhere and talking with stranger/people randomly. Being sensitive with surroundings.

Sejauh ini, project apa yang paling berkesan bagimu dan kenapa?

Director Behind the Scene, Filosofi Kopi. Punya kesempatan berkarya & belajar di industri film kemudian dibayar pula, hahaha.

Bagaimana kamu melihat peran media sosial bagi kariermu?

Social media nowadays is very important apalagi di industri kreatif. Social media menjadi media promosi yang bisa membantu karya teman-teman sineas & seniman dilihat/didengar lebih luas lagi. Getting inspired and being inspired is what I’ve learnt in social media.

Apa advise terbaik yang pernah kamu dapat soal profesimu?

David Lynch salah satu director yang mempunyai pola pikir spiritual yang sangat menginspirasiku saat melahirkan karya. Ada dua quotes terbaiknya yang selalu kupegang teguh saat mulai berkreasi. Yang pertama: “If you stay true to your ideas, film-making becomes an inside-out, honest kind of process.” Dan yang kedua: “Every viewer is going to get a different thing. That’s the thing about painting, photography, cinema.” Berkarya dengan tujuan, jangan memikirkan yang lain because we’re not a Nutella jar, we cannot make everyone’s happy. So trust your guts, if you don’t feel like you’re doing it, then don’t.

What’s your current obsession?

Writing and walking. 

Benda apa saja yang selalu ada di tasmu?

Books, phone, lipstick, wallet and note book.

What do you love and hate the most about the creative scene in Jakarta right now?

Love: It’s growing! Banyak yang sudah mengapresiasi dan teknologi sudah mendukung. I’m sure it’s getting big kalau kita sama-sama mengapresiasi dan berkarya dengan jujur. Hate: I don’t do hate. But more to critical, kalau karya seni itu butuh proses. Banyak orang yang ingin cepat jadi hanya di layer pertama kemudian membodohi penikmatnya yang membentuk satu benchmark yang tidak jujur dan original.

Tell me about your dream project/collaboration?

Writing my own feature film yang mengangkat sisi humanisme dengan packaging yang sangat fresh.

Apa project selanjutnya yang bisa dibocorkan untuk saat ini?

Preparing my next film, hehehe. Still a secret tho. Well for this year, lagi persiapan buat TV series Viva Barista kedua (it’s a documentary about coffee, lifestyle & travel hosted by 3 boys: Rio Dewanto, Muhammad Aga, dan Roby Navicula) we did it the first time online on Metro TV. Should be exciting!

Gianni’s Watch List:

the-handmaiden-cannes

The Handmaiden

Craziest & exciting plot ever, should watch!

lost-in-translation-2

Lost in Translation

My forever favorite movie, in love with the soundtrack and what they called platonic love.

 knight-of-cups-bale-blanchett

Knight of Cups

Very poetical movie by Terrence Malick, if you feel like you’re in the mood of gloomy, should watch this movie,

viceland-vice-media

Viceland

YouTube channel yang dipimpin oleh Spike Jonze. Content yang sangat menarik untuk generasi millenials tentang social, politic & lifestyle!

death-proof

Death Proof

ITS VERY SATISFYING!

 

 

Practical Magic, An Interview With Canti Widyadhari from Foxglove Tarot

Terlepas dari pandangan skeptis terhadap hal yang berbau mistis, tarot reading telah menjadi satu aktivitas populer di berbagai acara, mulai dari bazaar, art market, restoran, pentas seni, or even at a party. Sosok tarot reader pun tak lagi identik dengan pakaian serba hitam dan tampilan klenik. Nowadays, tarot reader could be as stylish and sweet as the girl next door. Salah satunya adalah Canti Widyadhari, seorang tarot reader yang juga merupakan founder dan astrology writer dari sebuah online tarot reading service bernama Foxglove Tarot yang berbasis di Bali. “I started Foxglove Tarot karena waktu itu aku semacam dapat epiphany dari intuisi yang nyuruh aku pindah ke Bali untuk jadi tarot reader. At that time, I was having misfortune over misfortune yang lumayan bikin aku discouraged untuk nerusin karier aku di marketing, so I decided to go with the flow for once,” papar gadis kelahiran Jakarta, 24 September 1990 tersebut. Intuisi dan keberaniannya pun membuahkan hasil positif. Tak hanya menangani klien secara face to face maupun online, Canti yang kerap menjadi kontributor bagi beberapa platform seperti Magdalene dan The Murmur Journal saat ini juga sedang bersiap meluncurkan sebuah silver jewelry line yang ia beri nama COVEN.

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada tarot dan apakah kamu belajar secara otodidak atau berguru ke orang lain? 

Aku mulai belajar reading dari tahun 2011, waktu itu awalnya belajar otodidak dulu tapi masih pakai buku. Aku tertarik untuk belajar tarot lebih dalam lagi karena waktu itu aku mulai belajar ilmu-ilmunya Wicca. Akhirnya aku mulai lepas bukunya ketika aku belajar dari seorang mentor yang basically sistemnya cuma nyuruh aku untuk dengerin intuisiku. It was a great and enlightening experience, and it got me to where I am today.

Apa cerita di balik pemilihan nama Foxglove Tarot?

The name is based on this flower called Foxglove (nama lainnya Witch’s Bell/Fairy Glove). Bunga Foxglove itu beracun, tapi kalau essence-nya bisa diolah dengan benar, bisa digunakan untuk healing. Sama saja dengan tarot reading atau ilmu-ilmu magic lainnya yang bisa dipakai untuk membantu atau untuk mencelakai orang lain tergantung intention-nya.

What is it that you love and hate about your job?

I love that I could use my gift to help others in need. Whether good readings yang beneran kejadian, atau klien-klien yang decided to take my advice and improve their lives, I’m happy and very grateful for this experience. Senang rasanya kalau aku dengar cerita dari klien yang bilang kalau they finally found their happy endings. What I hate about the job is the feeling that I need to be responsible and careful with my readings. Karena some people take the readings very seriously, dan kadang kalau reading yang kurang enak beneran kejadian, aku bisa merasa bersalah sekali. But I’m working on it by trying to reassure myself that life has its ups and downs. If the unpleasant reading comes true, it’s not my fault nor my client’s fault.

Apa kejadian paling memorable sejauh ini selama di Foxglove?

Waktu itu aku pernah jadi guest reader di pool party dan aku sukses baca 15 orang in a span of 3 hours. Yang memorable bukan cuma jumlahnya, tapi juga pertanyaan-pertanyaannya. I guess I would have never expected for clients to come to me with heavy life-changing questions in the midst of a pool party.

Mispersepsi apa yang paling menyebalkan dari pekerjaanmu dan bagaimana kamu meluruskannya?

Mispersepsi kalau tarot reader itu penipu. Biasanya sih yang skeptis-skeptis begini yang pernah punya pengalaman buruk dari tarot reader lain atau memang generally skeptical. Dulu aku selalu coba untuk debat atau cerita dari sisi aku untuk mengubah persepsi mereka. Tapi lama-lama, I decided to let them be. Everybody has their own opinion and perception of what’s real and not real. I realize that tarot reading is a very abstract concept and not everyone can agree with my reality, just like how I may not be able to agree with theirs.

What’s your current obsession?

Minimalist magickal sigil tattoo! Aku punya beberapa di jari and I’d love to add more!

Beside tarot and divination, what else you consider as your secret skill?

Cooking. It doesn’t sound that magical but I turned out to be a pretty good cook, haha!

Bagaimana media sosial memengaruhi kariermu?

It has affected my career greatly! Foxglove Tarot is online-based, so I always meet my clients through social media. It’s also a great platform for me to interact and open an enlightening discussion with fellow taror reading/astology enthusiasts.

If you could identify with one fictional character, siapa yang akan kamu pilih?

Phoebe dari serial Charmed. I love how adventurous and cheeky she is. I wish I have her divination skill too! It would be awesome to be able to receive premonition the moment you touch someone.

Apa saja rencana selanjutnya bagimu personally maupun untuk Foxglove?

I want to grow Foxglove and COVEN, while taking an astrology course so I can work as a certified astrology practitioner.

 

Canti’s essential items:

untitled 

Bohemian Cats tarot: My favorite tarot deck karena bisa dipakai untuk baca mundane questions dan energinya cocok sama banyak orang juga.

pyra

Orgonite: Untuk cleansing energi negatif sebelum dan sesudah baca tarot.

buckland

Buckland’s Complete Book of Witchcraft oleh Raymon Buckland: Salah satu buku pertama yang jadi guide aku pas mau mulai belajar witchcraft dan divination.

www.foxglovetarot.com

The Bewitching Hour of Audrey Kitching

Fashions fade, style is eternal. Being on top since the early heydays of social networks, the original internet queen Audrey Kitching is simply adapting both IRL and URL while maintaining her mystical side. We are trying to catch up.

photo-aug-02-12-01-12-pm

Jauh sebelum munculnya Twitter, Tumblr, Instagram, dan social media lainnya yang melahirkan the idols and celebrity of modern age dalam wujud socmed influencers dengan jutaan followers dan personal brand yang kuat by simply being themselves, ada sebuah situs social network bernama MySpace di mana kita bisa membuat personal profile dan mengkustomisasinya sesuka hati dengan foto, musik, dan video. Jika kamu sempat membuka MySpace di pertengahan 2000-an, most likely yang akan kamu lihat adalah halaman profile dengan kode HTMLyang telah diedit untuk memunculkan glittery fonts, customized mouse click, lagu yang secara otomatis terpasang (most of it adalah lagu band-band emo yang waktu itu memang sedang meledak), dan bulletin board untuk tempat berkeluh kesah dan menyalurkan semua kegelisahan masa remajamu (and for passive-aggressive drama, obvi). It’s simply like you create your own diary dan membagikannya ke seluruh dunia untuk dilihat. Hal itu mungkin sama sekali tidak terdengar impresif saat ini, namun pada masanya, MySpace adalah salah satu tempat di internet di mana kamu bisa menjadi dirimu sendiri (or secretly trying to be someone else) dan berinteraksi dengan orang-orang dari seluruh dunia tentang hal-hal yang menarik perhatianmu. Dengan semua daya tarik tersebut, tidak mengherankan jika dari tahun 2005 sampai 2009, MySpace adalah situs social network yang paling banyak digunakan di seluruh dunia and at some point  bahkan sempat mengalahkan Google sebagai website yang paling banyak dikunjungi di Amerika Serikat. Namun, sebagaimana sewajarnya sebuah komunitas dengan segala dinamika sosial yang menyertainya, there’s certain social hierarchy yang terjadi dengan sendirinya.

MySpace di masa kejayaannya adalah tempat berkumpulnya generasi cool kids yang disebut sebagai the Scene Kids, alias para remaja berpenampilan eksentrik yang menjadikan MySpace sebagai platform to express themselves dan menghabiskan waktu sebagai microcelebrities (“Oh you know, I’m kinda famous on MySpace!”) dengan mengunggah foto personal style mereka (the typical look adalah rambut yang dicat warna-warni menyolok, makeup emo, dan gaya pakaian seperti paduan Hello Kitty meets Courtney Love yang meliputi neon bikini, cat ears, leather boots, leopard print, band tees, dan baby dolls) serta saling bergosip satu sama lain di chat room tentang drama frenemies di antara mereka, melahirkan kontroversi yang akhirnya membuat anak-anak lain penasaran untuk membicarakan mereka dan secara ironis membuat mereka semakin terkenal. Rebellious namun tetap relatable, mereka adalah orang-orang yang seru untuk dibicarakan dan sebagai remaja, you want to know more about them dan berharap mereka menyetujui friend request darimu. On top of the social ladder, there are the Scene Queens practicing their status quo as the new internet famous and Audrey Kitching is one of them.

Lahir di Philadelphia, Audrey Kitching memulai karier modeling di umur 14 tahun setelah ditemukan oleh seorang agen modeling saat ia sedang mewarnai rambutnya di sebuah salon. Muncul sebagai model untuk beberapa iklan, ia juga sering menjadi model bagi beberapa teman fotografernya yang akhirnya menarik perhatian publik saat ia mengunggah foto-fotonya ke situs-situs seperti Live Journal, Xanga, Buzznet, dan MySpace. Seperti mereka yang lantas disebut sebagai the It Girl, ada sesuatu yang berbeda dari diri Audrey yang menarik perhatian orang dan membuat mereka ingin tahu tentang apapun yang ia lakukan, orang-orang yang ada di lingkup pergaulannya, musik yang ia dengarkan, caranya berdandan, serta personal style yang terdiri dari pakaian murah dari toko bekas yang ia modifikasi untuk menciptakan outfit yang terinspirasi runway looks.

As an early adopter, Audrey adalah salah satu pengguna MySpace yang paling terkenal dan bersama beberapa nama lainnya seperti Jefree Star, Jac Vanek, dan Hanna Beth dijuluki sebagai The Scene Queens, yaitu beberapa figur yang memiliki paling banyak followers dan diberkahi the power of social media bahkan sebelum social media itu sendiri lahir di dunia. “This was all really just an outlet for teenage angst if I’m being completely honest,” kenangnya. “Bagi saya internet adalah tempat di mana saya bisa menjadi diri sendiri dan melarikan diri dari semua hal-hal menyebalkan yang muncul saat saya beranjak remaja dan menghadapi masa SMA. Saya tidak pernah bercita-cita untuk dikenal orang lewat internet, it was more of a place to be weird and accepted.”

Ketika kamu mencari “Audrey Kitching” di Google images, yang pertama muncul adalah foto-fotonya as the original wild child of the internet. Rambut warna pink yang menjadi trademark-nya menyala terang even in the darkest clubs, di mana ia seringkali terlihat berpesta dengan gaya pakaian yang bisa dideskripsikan sebagai gabungan antara Harajuku girl, emo fairy, dan skater girl. Ditambah dengan segala dramanya dengan sesama Scene Queens dan hubungannya dengan Brandon Urie sang vokalis Panic! At The Disco, Audrey adalah sosok kontroversial yang mengundang pro dan kontra. Its either you love her or hate her (and secretly want to be her). Kemunculannya di berbagai acara paling happening dan red carpet membuatnya dijuluki “fashion forward female” sekaligus “fashion disaster” dan sebutan lain seperti “It Kid”, “princess of pop culture”, “social media queen” dari berbagai media.

photo-aug-02-12-14-58-pm

Namun, menyebutnya sekadar famous for being famous adalah sebuah kesalahan. Apa yang membedakan Audrey dengan jutaan scene kids lainnya adalah kemampuannya membawa kepopuleran dunia mayanya ke dunia nyata. Sama halnya dengan beberapa nama seperti fotografer hipster Mark “Cobra Snake” Hunter atau club kid dan model Cory Kennedy, mereka memiliki satu kesamaan sebagai the early adopters yang dengan lihai memanfaatkan internet untuk membangun persona mereka dan meraih ketenaran. Ketika kepopuleran MySpace telah usai dan digantikan oleh Facebook dan social media lainnya, Audrey telah meraih kesuksesan mainstream dengan bertransisi sebagai legit public figure. Berbagai hal telah ia kerjakan dalam satu dekade terakhir ini, dari mulai menjadi spokesmodel dan wajah dari banyak desainer dan label terkenal, dia juga telah tampil dalam berbagai editorial di seluruh dunia, dari Skandinavia sampai Jepang di mana ia melakukan lebih dari 4 editorial setiap bulannya, tampil di beberapa serial televisi dan film sebagai dirinya sendiri, dan merilis beberapa clothing line dan kolaborasi dengan nama-nama seperti H&M, Kerol D Milano, dan Vera Wang. Audrey yang menjalani gaya hidup vegan juga menjadi public person untuk kampanye “Fur Is Dead” bersama Peta2 dan menentang animal testing dalam industri personal care.

            Kini, di umurnya yang telah menginjak 31 tahun, Audrey menemukan dirinya di era yang berbeda dengan pemikiran yang tentu saja sudah jauh meninggalkan masa-masa teenage angst dalam hidupnya. Rambutnya memang masih berwarna pink, namun sekarang ini ia cenderung memilih warna pastel yang dreamy dan menukar gaya hot mess dengan estetika New Age yang ethereal seperti yang terlihat dari akun Instagramnya yang diikuti oleh 273K followers. Naturally against the currents, di era socmed yang serba candid dan terbuka, Audrey justru terasa seperti sosok mistis di internet yang lebih peduli soal inner peace dalam dirinya dibanding menanggapi komentar orang lain.

More than just another internet famous, Audrey saat ini adalah seorang model merangkap desainer dan penulis yang tengah disibukkan dengan usahanya menjalankan clothing line bernama LUNA yang terinspirasi oleh hal-hal seperti astrologi dan magic serta menjadi founder dan CEO dari Crystal Cactus, sebuah lini aksesori yang mencakup crystal pendant jewelry, produk holistic spa, dan gifts yang turut dijual di Urban Outfitters dan mendapat respons positif dari banyak pihak. Menjauh dari gemerlapnya industri fashion dan kehidupan malam yang liar di kota besar, Audrey yang juga menjadi seorang praktisi new age sedang memetik karma baik yang ia terima dan berusaha menyebarkan energi positif ke dunia. We want to know more of her magic.

photo-aug-02-11-54-07-am

Hi Audrey, how are you? Where in the world are you right now, what are you wearing and what you doing before answering this email? Saat ini saya sedang berada di rumah saya di Philadelphia. I’m wearing a nude silk slip and an olive green silk button down shirt tied up. Saya baru saja menyiram tanaman dan menyalakan dupa dan lilin sebelum duduk untuk menjawab interview ini.

Boleh cerita soal aktivitasmu belakangan ini? Sekarang saya sedang menikmati masa-masa kebebasan. Tahun ini telah menjadi tahun yang sangat transformatif bagi saya. I stepped away from the industry in all aspects of the sense and really started to focus on my passions without that influence. I have been really just enjoying the simple pleasures of creating art and living.  

Bagaimana biasanya kamu memulai harimu? Ada ritual harian yang kamu lakukan? Saya punya banyak ritual. I am a ritual. Hari-hari saya selalu dimulai dengan mengisi makanan burung di bird feeders, membuka tirai, mandi, membuat teh, menyiram taman, memberi makan binatang peliharaan saya yang terdiri dari kucing, burung, dan ikan (who are all best friends I might add), memasak sarapan, membaca astrologi atau mencari inspirasi di sudut-sudut internet. As far as my day’s go, saya biasanya di studio untuk mengurus metaphysical shop saya, Crystal Cactus atau melakukan pemotretan dengan teman-teman kreatif saya, lost in an adventure in nature atau jalan-jalan ke museum seni. I always try to have fun and enjoy simple things every day. I have really learned the true meaning of work smart not hard.

Kamu telah biasa tampil di NYLON US, tapi ini pertama kalinya kamu muncul di NYLON Indonesia, apa yang kamu pikirkan saat mendengar Indonesia? I love culture in all aspects. Saya tahu jika Indonesia punya keindahan alam dan candi-candi yang megah. Saat masih remaja, saya dulu sering ke restoran kecil bernama Banana Leaf di California karena mereka punya menu vegetarian Indonesia yang sangat lezat.

Boleh cerita soal pemotretan kali ini bersama Bruno? Kalian sangat sering berkolaborasi belakangan ini, bagaimana sebetulnya kalian pertama bertemu? It was fantastic. Kami punya vibe yang sama dan merupakan hal yang alami jika pada akhirnya kami menjadi creative partners. I will text him and say “I got an idea!” atau kalau dia punya kamera atau film baru, dia akan menelepon saya dan bilang “We have to test this out and experiment!” Menemukan seseorang yang punya kesamaan artistik sama susahnya seperti mencari jarum di tumpukan jerami menurut saya… Terutama saat saya masih berada di industri. Banyak orang yang membuat sesuatu hanya demi pujian dan ketenaran. I create because it’s my soul’s way of survival. I have to create, hal itu bukan pilihan tapi sebuah keharusan bagi saya pribadi. Saya berkarya untuk membuat sesuatu yang tidak bisa saya ungkapkan lewat sekadar kata-kata. Menemukan seseorang yang punya ketertarikan pada seni dengan alasan yang sama bisa dibilang sebagai a blessing in a dark, dark realm of ego centric moldings. Saya ingat awalnya kami kenal saat dia mengirim message ke saya dan bertanya, “Hey want to be in my Polaroid book?” Saya mengiyakan, dan setelah pemotretan dia baru bilang jika sebetulnya he had no idea tentang siapa saya dan tidak pernah mendengar tentang saya sebelumnya. Saya berpikir, “Fantastic, we are going to make some killer creations together.”

 photo-aug-02-11-52-08-am

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada fashion? Apa inspirasi awal yang membentuk personal style bagimu? Self-expression. Saya bahkan belum pernah mendengar Marc Jacobs sampai saya berumur 21 tahun. I didn’t know what that was and never cared. Saya merasa saya tercebur ke industri fashion hampir seperti sebuah kecelakaan. Fashion was always just self expression to me; it was art living and creating. The fashion industry is about fame, money, fitting in… I was never about that. Saat saya kecil, ibu saya sering mengajak saya ke thrift stores untuk membeli pakaian and we would dye the clothing, add lace and paint on it. It was always just natural to me. 

Apakah kamu memang berasal dari keluarga yang kreatif? Ya, bisa dibilang seperti itu.  Waktu kecil saya mengambil kelas seni, I was always painting, creating, making films in my backyard, doing magic spells, collecting fairy’s… Semua hal itu yang mempengaruhi saya sampai sekarang. Ibu saya adalah seorang seniman dan ayah saya seorang pelaut.

 Di mana kamu tinggal sekarang dan apa yang kamu sukai dari tempat itu? Saya tinggal di Philadelphia. Ini adalah kota di mana saya lahir dan dibesarkan. Saya sudah pernah tinggal hampir di semua penjuru Amerika Serikat namun pada akhirnya saya memilih pulang ke kota asal saya. I guess the soul recognizes a good thing when it feels it. Saya suka semua hal dari kota ini, mulai dari budaya, makanan, dan seninya. Kami punya beberapa taman dan hiking trails paling indah di Amerika, fantastic foods, museum, dan hidden gems lainnya. Kamu bisa pergi ke pantai atau ke pegunungan hanya dalam hitungan jam. It’s truly beautiful. Semua hal positif dari hidup di daerah perkotaan tanpa adanya stress, polusi, dan negativitas.

Kamu telah aktif di internet sejak pertama kali munculnya situs-situs social networks, apa yang kamu pikirkan tentang internet dan social media saat ini bila dibandingkan masa sebelumnya? It is so watered down with people all fighting for their 15 minutes of fame. Mungkin saya tidak akan eksis jika saya baru muncul sekarang. I was just being myself which was rebellion in its own right. Saya menentang norma yang ada dan orang-orang menyukainya, and it caught on. Sekarang orang-orang akan melakukan apapun demi mendapat sedikit perhatian. Rasanya menyedihkan. I’m very far removed. Sekarang, media sosial yang saya follow adalah akun-akun tentang real art, sejarah, astrologi, dan film. Kamu harus hati-hati menghadapi media sosial. What you look at your invite in. 

Buzznet mungkin tidak terlalu populer di Indonesia, namun MySpace was a big thing di tahun 2000-an dan saya ingat saat pertama kali melihat profile-mu di MySpace dan langsung kagum. Apakah kamu masih ingat apa yang mendorongmu untuk membuat akun MySpace dan aktif di situs tersebut? Apa yang paling kamu rindukan dari era tersebut? That’s powerful that you remember that feeling. I cherish that, thank you. Sejujurnya waktu itu saya hanya mencoba mencari jati diri saya. Internet telah dan akan selalu menjadi creative outlet bagi saya. It is a blank canvas waiting for paint. Saya hanya mencoba menjadi diri saya sendiri dan hal-hal yang memang biasa lakukan hanya saja kali ini saya menunjukkannya di area publik. Yang saya rindukan adalah rasa authenticity. Sekarang ini hampir semua posting adalah posting berbayar dan tersponsor, bahkan sampai ke pakaian yang mereka kenakan.

photo-aug-02-12-01-54-pm

Apakah kamu pernah bertemu langsung dengan Tom dari MySpace? Sayangnya tidak pernah. Saya juga tidak yakin apakan dia akan suka pada saya. 

Seperti yang kamu bilang, di era social media saat ini, it’s literally 15 minutes of fame untuk semua orang, jadi bagaimana caramu agar tetap relevan di media sosial/internet dan bersikap dewasa? That’s a fantastic question and it’s almost a trick question because I never was focused on being relevant. Beberapa orang mungkin hanya akan posting di jam-jam yang telah mereka tentukan sendiri, mencoba untuk stay on top on trends dan melakukan cross promote. Saya tidak melakukannya. Jika suatu hari saya mempunyai banyak hal yang ingin saya ungkapkan, saya mungkin akan posting 100 tweets di Twitter atau posting sepuluh foto di Instagram. Saya memperlakukan media sosial sebagai platform kreatif, bukan untuk dikagumi. Saya tidak mencari pujian. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri dan berharap hal itu bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Apakah kamu merasa fans-mu dari zaman MySpace masih mem-follow dirimu sampai hari ini? Bagaimana caramu berinteraksi dengan para followersThey do, which is wild. Saya merasa banyak followers saya yang beranjak dewasa bersama saya. They stuck by me through the most radical evolution that can exist. Saya orang yang agak sulit dipahami. Saya bukan tipe orang yang paling mudah didekati dan saya tahu hal itu berdasarkan energi yang saya pancarkan. Orang juga tahu saya tidak terlalu peduli soal komentar dan penerimaan dari orang lain. They kinda just take it in and move on. I appreciate that.

Apa yang kamu rasakan saat melihat foto lamamu di internet? Kalau boleh melihat ke belakang, adakah hal yang kamu sesali, mungkin hal-hal yang tidak seharusnya kamu ucapkan atau lakukan? Sejujurnya, saya merasa dulu sangat out of control dalam kehidupan publik saya. I mean that in the most respectful authentic way. Saya masih 100% orang yang sama dengan sosok di foto itu namun sudah lebih terpoles. Apakah ada orang yang melihat foto diri mereka tujuh tahun lalu dan merasa keren? Mungkin tidak, tapi saya selalu menjadi diri saya sendiri dan tidak ada yang saya sesali. I am 100% still that person just more refined. Does anyone look back at photos of themselves 7 years ago and think it was a fantastic look? Probably not, but I was just doing me and I don’t regret a thing.

Apa media sosial favoritmu saat ini dan kenapa? Saya suka Tumblr untuk posting hal yang personal dan mengumpulkan inspirasi. Twitter untuk berkeluh kesah dan mengeluarkan unek-unek apapun di kepala, sedangkan Instagram lebih untuk curated art. Saya tidak memakai Facebook atau Snapchat because those don’t resonate with me at all.

Tell me about Crystal Cactus, apa yang menginspirasimu untuk membuat label ini? It’s a soul mission. Salah satu alasan kenapa saya ada di sini sekarang. Saya tahu dengan sendirinya jika saya harus punya toko dengan healing power di baliknya walaupun sebelumnya belum terlalu yakin dengan apa yang akan saya buat. Butuh proses yang lumayan panjang. Saat memulainya, hanya ada saya di rumah yang mengerjakan semuanya. Saya akan membayar saudara saya untuk melakukan pengiriman seminggu sekali. Dan hal itu berkembang dengan sendirinya. Saya sudah punya tim karyawan cukup besar dan produknya sudah terjual di banyak retail chains di seluruh dunia. Namun, itu menjadi pelajaran besar bagi saya dan saya sadar bukan itu yang saya inginkan untuk saya maupun perusahaan ini. I scaled back down to basics and it’s coming together beautifully. Rome was not built in a day. 

Apa yang menurutmu menjadi pencapaian terbesarmu sampai hari ini? Being here right now in my home answering these questions by my own will. Saya telah memecat publicist saya dan meninggalkan industri, tapi saya masih mampu mengerjakan apa yang saya suka dengan cara saya sendiri. Having people like you guys support me in that is so powerful. To me that is success.

photo-aug-02-12-03-07-pm

What’s your most prized possession? My soul. 

What are you obsessed with right now and why? Apapun yang menyangkut zaman Medieval dan mitologi Yunani… Saya selalu suka keduanya dari dulu namun belakangan ini saya semakin mendalaminya. Dan juga memasak. I really love to cook. I always have but I’m finding more time for it now. 

Apa satu hal yang ingin kamu lakukan tapi belum sempat terlaksana? Pergi ke Italia lagi. Saya berencana pergi ke sana musim semi ini. I am very Italian and have so many powerful past lives from that region. Saya telah mendedikasikan hidup saya untuk pekerjaan setahun terakhir ini, but I feel Rome at my fingertips and she is waiting.

Bicara tentang entrepreneurship, apakah kamu punya sosok favorit yang kamu anggap sebagai #girlbossJoan of Arc mungkin, atau Aphrodite… Para wanita yang tidak tunduk pada lelaki manapun. Para wanita di sejarah dan mitologi yang berani menentang keadaan. They can sit at my lunch table and they are on my kickball team.  

Apa yang biasanya kamu lakukan untuk memotivasi diri sendiri saat terjadi hal yang kurang menyenangkan? Kamu hanya harus mengingatkan diri sendiri: THIS TOO SHALL PASS. Kalimat tersebut telah banyak membantu saya. Nothing is permanent. Perubahan adalah ritme natural bagi alam semesta. 

Apa hal terakhir yang membuatmu marah? Society. I woke up in a random rage about how people are pushed into conformity. Saya geram melihat ketidakadilan. Beberapa ajaran spiritual  bilang jika amarah adalah sesuatu yang buruk. Saya tidak setuju. Amarah mendorong perubahan, kejujuran, dan keadilan. You need anger. Merupakan hal yang penting untuk bicara menentang ketidakadilan. Penting bagi kita untuk punya rasa marah. I think being neutral, having no emotional charge is bad. Quite the opposite. 

Terakhir, jika kamu bisa memberikan saran ke dirimu sendiri saat masih remaja, apa yang akan kamu katakan? Things will get better. Keep being you. Never give in to the masses.

photo-aug-02-12-23-01-pm

 All photos by Brian Bruno @brunoroids 

The Girl We Love, An Interview With Dylan Sada

Entah itu fotografi, modeling, atau menyanyi, Dylan Sada tak pernah kehilangan sentuhan ajaib dalam setiap hal yang ia lakukan. Next goal? Scare the shit out of you.

Ketika mendengar kabar Dylan Sada sedang berada di Jakarta, sama seperti banyak orang lainnya di ranah media dan fashion, secara instingtif kami langsung mengontaknya to do some project with her. Memiliki portofolio impresif di belakang maupun di depan lensa kamera, sosok wanita kelahiran Jakarta tahun 1984 ini telah menjadi cult tersendiri dan namanya bersinonim dengan kata It Girl bagi anak-anak subkultur lokal maupun New York City yang menjadi tempatnya bermukim saat ini. Walaupun kedatangannya ke Indonesia kali ini sebetulnya murni untuk vakansi, namun apa daya, semua orang tampaknya paham jika melewatkan kesempatan langka untuk bekerjasama dengannya secara langsung adalah hal yang bodoh. Alhasil, Dylan pun harus rela melakukan transisi dari pleasure ke business during her stay di Jakarta dengan jadwal yang padat akan interview dan pemotretan. Everybody wants a glimpse of her, that’s for sure.

Di akhir Juni tahun lalu, ia pun datang ke kantor Nylon demi mengeksekusi pemotretan cover Alex Abbad untuk Nylon Guys Indonesia dan seperti pertemuan kami setahun sebelumnya, ia datang lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan. Ia memang tak mengenal istilah jam karet yang kerap menjadi alasan orang Jakarta, namun satu hal yang tidak bisa ia tolak adalah appetite untuk makanan Indonesia setelah sekian lama merindukannya. “Nggak ada willpower lagi, semua dimakan!” cetusnya sambil tertawa renyah.“Pertama kali sampai di Jakarta aku langsung ke restoran Padang. Terus aku senang banget kaya nunggu jam 6 sore nunggu tukang martabak keluar. Aku senang aja duduk di pinggir jalan, ngobrol sama orang lokal,”sambungnya dengan senyuman lebar.

Ditemani oleh sang suami (“sahabat, an ally slash supporter,” menurut Dylan), ia mengaku sangat senang bisa pulang ke Indonesia yang tak sekadar untuk berlibur, tapi juga membangun network lagi dengan industri kreatif lokal. “Pulang-pulang ke Indonesia banyak sekali hal baru, oh man, I feel like everyone has their own label or restaurant. Aku kaya yang ‘Wow anak-anak umur segini udah bisa, gue di umur segitu mungkin masih panjat pohon.’ I’m really proud, so many talented people that need some spotlight, jadi aku banyak jalan-jalan, kenalan-kenalan aja. Seru,” paparnya antusias. Salah satunya seperti yang terlihat di Instagram Nikicio di mana Dylan bersama figur wanita keren lainnya seperti Chitra Subyakto, Ayla Dimitri, dan Eva Celia basically just hanging out and looking awesome together.“I’ve been a long time supporter for her works,” ujar Dylan tentang Nina Nikicio. “She really love what she does and it shows. Kemarin aku juga pertama kali ketemu sama Ayla, terus akhirnya ketemu sama Chitra dan Eva setelah selama ini cuma sebatas internet. Meeting them in person is really fun.”

            Saat disinggung soal current obsession saat ini, secara mengejutkan Dylan mengaku jika ia sebetulnya masih mencari dan mengeksplor hal yang ia benar-benar suka dalam dunia fotografi yang ia geluti. “Selama ini aku kira fashion, tapi kayanya masih eksplor juga. Aku senang dengan fotografi karena nggak ada limit umurnya. Aku rencananya ingin lebih banyak travel and seeing things. My current obsession is to make good works, so many people reaching out to me, and I never really like my works, and now it drives me to make a better work. So that’s my obsession right now… Working again, being creative again, and Indonesian food,” tandasnya optimis.

Photography aside, Dylan yang berasal dari keluarga dengan darah musik yang kental dan telah berlatih vokal sejak kecil bersama ibunya juga berniat menyanyi kembali. “Lagi mau kolaborasi sama teman aku, kita mau bikin yang nyinden pakai gamelan,” bocornya. Jika selama ini masih jarang orang yang mengenal Dylan sebagai penyanyi, mungkin karena memang dari dulu Dylan selalu memilih menyanyi di balik layar, mostly menyumbangkan vokalnya untuk berbagai iklan. ”Nggak pernah mau jadi frontman, sukanya di belakang.layar. Aku mau orang hanya fokus dengan suara aku. Aku bukan penyanyi terbaik, tapi aku senang aja sih nyanyi, people think ‘Kenapa lo bilangnya lo fotografer?’ Well, the reason is kalau orang baru kenal, kalau aku bilang aku penyanyi pasti kaya disuruh nyanyi, so I don’t say that, I’m just gonna say I’m photographer,” tukas Dylan.

Wanderlust and always curious to try something new, merupakan hal yang natural jika ia mengaku masih banyak hal yang ingin ia lakukan. Salah satunya adalah berkolaborasi dengan duo sutradara The Mo Brothers. “Kalau jujur sih aku ingin banget proyek main film sebagai hantu,” ujarnya serius. “Life goal aku itu aneh, aku mau jadi hantu yang paling seram yang pernah kamu tonton di screen, I’m gonna scare the shit out of you, people!” tutupnya dengan gelak tawa.

01

Dylan Sada’s favorites:

EATING

Oh man, pertama kali sampai di Jakarta, aku nggak suka manis, tapi aku abisin martabak manis satu loyang, piring sampai aku jilat. Langsung nggak mikirin berat badan.

SCARY MOVIE

Classic ones like John Carpenter. I love sci-fi horror like Alien, tapi Rosemary’s Baby juga suka. Aku suka horror yang lebih seram secara imajinasi tapi Suzanna lah nggak ada yang ngalahin.

TRAVEL PLAN

Honestly Indonesia. People always want to keliling dunia, but Indonesia is so beautiful. Aku pengen keliling Indonesia dulu. Ke Flores, Malang, ke Pulau Sempu, mau ke Bromo juga belum pernah.

CELEBRITY CRUSH

Adrien Brody, but for female, I’ve been watching Mad Max and Charlize Theron is so awesome, she’s like my girl crush forever and I always have eternal crush for Björk.

TV SERIES

Game of Thrones! Lagi suka banget. The books also really good, sekarang ceritanya juga mulai melenceng dari bukunya dan orang-orang langsung pada stress.

 

Art Talk: The Many Pieces of Atreyu Moniaga

Berangkat dari imajinasi masa kecil, energi kreativitas yang seolah tanpa batas dalam diri seorang multi-hyphenate Atreyu Moniaga dengan leluasa melintasi berbagai medium. Dari kanvas hingga ke Cannes.

atreyu

Di usia yang masih terbilang muda dan ditambah dengan wajah yang seolah berhenti di umur belasan, mungkin kamu tidak akan menyangka jika Atreyu Moniaga telah mengantungi lebih banyak profesi dari mayoritas orang. A multi-hyphenate, I dare say. Secara ringkas, istilah multi-hyphenate mengacu kepada seseorang yang memiliki beberapa profesi atau bakat sekaligus. Katakanlah seorang singer-songwriter, model merangkap aktris, atau dalam kasus Atreyu: ilustrator, fotografer, dosen, dan belakangan, an actor.

Lulusan IKJ kelahiran 9 Desember 1988 tersebut pertama kali mencuat lewat karya-karya ilustrasi berbasis cat air dengan nuansa whimsical dan dreamy yang terinfluens dari cerita fantasi yang ia lahap dari kecil. Tak berhenti di atas kanvas, pria yang dikenal dengan nickname Atreist dalam sirkuit desain dan seni ini terus mengeksplor berbagai medium dan terlibat di banyak pameran dan project menarik, termasuk salah satunya mendesain embroidery yang menjadi bagian dalam koleksi “Melange De Sens” karya fashion designer Sebastian Gunawan. Di samping ilustrasi, ia pun mewujudkan imajinasinya dalam bentuk fotografi yang walaupun terasa jauh lebih grim bila dibandingkan ilustrasi penuh warna miliknya, namun tetap menunjukkan elemen surreal yang selama ini menjadi ciri khasnya. Seolah tak kehabisan energi, hari-harinya juga disibukkan dengan menjadi dosen fotografi dan ilustrasi di Universitas Bunda Mulia dan ia pun menambah resumenya dengan berakting dalam film pendek The Fox Exploits The Tiger’s Might garapan Lucky Kuswandi.

Dalam debut akting di film pendek berdurasi 25 menit tersebut, Atreyu berperan sebagai Aseng, seorang remaja Tionghoa di sebuah kota kecil yang dekat dengan basis militer di era Orde Baru yang represif. Sarat oleh isu rasial, opresi, dan percikan seksualitas, film ini berhasil terpilih untuk ditayangkan dalam program Semaine de La Critique (Pekan Kritikus) di Festival Film Cannes tahun 2015, sekaligus menjadi film Indonesia pertama yang masuk dalam ajang tersebut setelah film Tjoet Nja’ Dien karya Eros Djarot di tahun 1989. Sebuah langkah awal yang impresif bagi seseorang yang mengaku tidak pernah berakting sebelumnya. Dengan begitu banyak sisi yang menggoda untuk dibicarakan, Atreyu pun menuturkan beberapa fragmen dalam dirinya.

backyard-wonderland

Di mana kamu menghabiskan masa kecil dan hal-hal apa yang menarik minatmu saat itu? Saya menghabiskan masa kecil saya mostly di kamar. Membaca dongeng-dongeng klasik, majalah Bobo, komik Jepang, dan bermain video game. Yang menarik minat saya saat itu adalah keajaiban cerita-cerita fantasi

Apakah kamu memang berasal dari keluarga kreatif? In a way of thinking? Yes. Saya merasa orangtua saya memiliki pandangan dan argumen yang unik.

Hal apa yang pertama kali membuatmu ingin serius menekuni bidang ilustrasi? Yang membuat saya ingin serius menekuni bidang ilustrasi sebenarnya dimulai sejak kuliah. Saya awalnya sempat pupus menggambar karena merasa tidak memiliki bakat dan informasi. Yang saya tahu saat itu adalah jika ingin survive; jadilah desainer grafis. Dan karena dekat dengan menggambar, saya rasa tak apa-apa.Tapi belakangan selama perkuliahan berjalan sayamendapatkan informasi-informasi baru tentang ilustrasi, ilustrator, dan detail-detail lain yang membuat saya merasa punya kesempatan.

Siapa saja sosok yang menginfluens karyamu? Cara bertutur saya dalam berkarya sepertinya sangat terinfluens dari singersongwriter Jewel. Saya merasa ingin membuat ilustrasi sebaik dia membuat lirik. Selain itu saya juga terinspirasi dari orang-orang seperti James Jean, Takashi Murakami, Dussan Kallay, dan dosen saya sewaktu kuliah dulu mas Arief Timor. Saya juga menyukai karya-karya Pedro Almodovar.

13241244_226596837724483_6082203544827445773_n

Kalau sekarang, hal apa saja yang biasanya menginspirasi untuk berkarya? Yang menginspirasi saya dalam berkarya sekarang (selain briefing dan demand), saya rasa kehidupan itu sendiri. Saya secara egois membicarakan tentang diri saya sendiri dalam karya-karya saya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan personal aesthetic dirimu? Dan apa medium favoritmu untuk berkarya? I actually can’t describe my personal aesthetic. Saya mencoba untuk relax dalam berkarya agar saya betul-betul menikmati proses penciptaan karya. Medium favorit saya juga sebetulnya nggak ada. Mungkin karya saya didominasi cat air. Tapi yaitu karena cat air masih sampai saat ini medium yang paling saya kuasai. Tapi sebetulnya saya sangat ingin mencoba medium-medium lain. Rasanya akan sangat seru.

please

Selain ilustrasi, kamu juga mendalami fotografi. Kalau menurutmu, bagaimana ilustrasi dan fotografi bisa saling melengkapi? Saya melakukan treatment yang sama dalam fotografi seperti yang saya lakukan dalam ilustrasi (baca: curhat) jadi saling melengkapi mungkin nggak, tapi ada beberapa hal yang menurut saya bisa diraih lebih baik dengan digambar, dan beberapa lebih baik dengan dipotret.

13245423_230140614036772_5985381347418943950_n

Kalau tentang menjadi dosen? Apa yang menarik dari profesi ini? Saya jadi dosen karena tawaran teman saya yang saat itu sudah jadi dosen uluan. Sudah dua tahun mengajar. Yang menyenangkan adalah melihat semangat-semangat polos anak-anak ini sih dan mengajar membuat saya jadi terus meng-update kabar-kabar terkini dari mata kuliah yang saya ajarkan. Dan semangat mahasiswa-mahasiswa ini yang akhirnya membuat kami sudah membuat 2 kali pameran fotografi dan 1 kali pameran ilustrasi. Semoga bisa terus berlangsung.

Bagaimana ceritanya sampai akhirnya terlibat di film Lucky Kuswandi? Ini kisah yang jawabannya seperti jawaban artis-artis di interview TV nih, haha! Saya nggak sengaja datang ke sebuah pameran di mana saat itu Lucky juga datang. Dan menurut dia saya cocok dengan karakter Aseng di film ini. Terus diajak casting. Terus dapat deh perannya.

Apa yang paling memorable dan menantang selama syuting, mengingat ini adalah film pertamamu? Syutingnya sangat menyenangkan. Saya merasa beruntung bekerja dengan mereka yang sangat cekatan dan rapi. Yang paling menantang saat shooting adalah scene terakhir saat Aseng dan David terlibat perebutan pistol. Malam itu take-nya belasan kali. Saya dan Fauzan (pemeran David) sangat merasa bersalah sama crew yang lain saat adegannya harus diulang, dan saat itu sudah sekitar jam 1 pagi.

Selain film ini, kamu juga bermain di film pendek garapan Monica Tedja, apakah dunia akting akan menjadi sesuatu yang kamu geluti dengan serius? Untuk itu saya masih belum tahu. Saya ternyata menikmati proses berakting dari reading sampai syutingnya beneran. Jadi mungkin saya ingin mencoba lagi. Ya berkaryalah ya, apapun platform-nya. Kalau prosesnya enjoyable yah ayuk aja.

Selain dunia art, apa hal lain yang kamu nikmati? Sushi, tapi ini art juga kan sebenarnya.

Apa yang kamu lakukan untuk mengatasi creative blockBiasanya saya latihan teknis sih kalau lagi mentok. Latihan mewarna atau mengarsir. Tapi kalau jenuh banget biasanya saya stop sama sekali dan nonton-nonton film aja. Cuma baru-baru ini saya mendapat treatment baru yaitu creative talks. Jadi kaya kumpul-kumpul sama teman-teman terus ngobrol ngalor ngidul aja tentang urusan art. Dan kalau tetap mentok juga, saya nyanyi-nyanyi aja di kamar.

What’s your next project? Be healthy, be happy! That’s the ultimate, ultimate project!

14606520_297400527310780_2955092824774464233_n

 

 

Très chic, très hip, très sexy! An Interview With Mademoiselle Yulia

Tokyo’s It Girl, DJ, musisi, style icon, club queen, fashion & accessories designer, muse, kolumnis mode NYLON Japan… Mademoiselle Yulia telah mengantungi lebih banyak profesi dari yang bisa kamu bayangkan dari seorang wanita yang bahkan belum menginjak umur 30 tahun. Menyebutnya sekadar seorang multi-hyphenate adalah sebuah understatement, namun di luar segala label yang melekat pada dirinya, Mademoiselle Yulia tidak akan pernah puas mengeksplorasi dunia dengan style and sound personalnya yang nyaris tanpa cela. We want to know the secret, s’il vous plait

 img_3894

Di masa ketika siapapun bisa menjadi overnight celebrity dengan berbekal persona social media yang kuat dan jumlah follower sebagai currency untuk kepopuleran seseorang, istilah It Girl mungkin telah menjadi sesuatu yang sangat cair dan fleksibel. Begitu mudahnya kita beralih dari satu girl crush ke girl crush lainnya hanya dengan beberapa klik dan stalking di Instagram, it’s became everybody’s game at this moment. Tapi ada satu hal penting yang tak bisa ditutupi filter apapun dan membuat seorang It Girl tetap standout di antara ribuan It Girls lainnya, yaitu? The genuine talent and natural charms, tentu saja. For some people, setiap post yang mereka unggah di Instagram adalah full-time job yang membutuhkan effort besar demi the so-called “curated contents”, paid content, dan menarik lebih banyak followers. Namun, bagi sebagian orang lainnya, Instagram sebetulnya tidak lebih dari sekadar platform untuk membagikan sekelumit keseharian mereka yang jauh lebih seru in real life instead of URL. Mademoiselle Yulia termasuk golongan yang kedua.

            DJ, penyanyi, dan desainer asal Tokyo ini mungkin “hanya” memiliki 141K followers di akun Instagram @mademoiselle_yulia miliknya, jauh lebih sedikit dari katakanlah Kiko Mizuhara dengan 3, 4 juta followers-nya, namun sempatkan waktu untuk scrolling sekejap di feeds miliknya yang dipenuhi foto dirinya menghadiri berbagai acara fashion paling happening across the globe, entah itu duduk di front row sebuah fashion week, menjadi DJ di party untuk brands seperti Louis Vuitton, Sonia Rykiel, dan Chanel, memamerkan personal style-nya baik di red carpet maupun di depan lensa street photographers, or just chilling with her best friends yang meliputi Jeremy Scott, 2NE1, Virgil Abloh (style advisor Kanye West), dan Kiko; kamu akan paham jika dia sebetulnya memang orang yang lebih memilih berinteraksi di dunia nyata dibanding seseorang yang obsessively berkutat dengan smartphone setiap saat. “Sejujurnya saya tidak menganggap social media sebagai hal yang vital bagi kehidupan pribadi saya sehari-hari,” cetus wanita berumur 28 tahun ini. “Saya menggunakan social media seperlunya saja untuk berkomunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Tapi memang saya paling suka Instagram karena basically it’s a picture and you don’t need to say anything,” sambungnya.

Telah kembali ke Tokyo setelah kunjungan terbarunya ke Paris yang meliputi pemotretan untuk majalah yang kamu pegang sekarang, Yulia membalas email interview kami hanya beberapa jam sebelum final deadline kami, but its kinda forgivable mengingat aktivitasnya yang padat. “I’m DJ-ing a lot these days. Saya juga baru menggelar ekshibisi untuk koleksi Autumn/Winter 2016 brand baru saya, Growing Pains, bulan lalu. Jadi saya baru akan mulai memikirkan ide untuk koleksi berikutnya. Lots of new project this year,” ungkap Yulia soal aktivitasnya belakangan ini. Dengan segala kesibukan yang ia lakukan, Yulia mungkin tidak punya waktu untuk meng-update Instagramnya setiap saat, namun tak bisa dipungkiri jika Instagram juga yang memperkenalkan dirinya ke audiens global (termasuk Rihanna, but we will talk about it later), walaupun sejatinya Mademoiselle Yulia telah memiliki reputasi cult di kancah fashion dan musik electro Tokyo sejak dia bahkan belum lulus SMA.

img_3916

Bagaimana cara memperkenalkan Mademoiselle Yulia kepada orang yang belum familiar dengan namanya? Well, to put it simple, Mademoiselle Yulia adalah seorang fashion royalty di Tokyo yang terbiasa tampil di red carpet, front row, galeri foto street style paling bergengsi di sela-sela kesibukannya membuat musik J-pop dengan influens electro yang kental serta menjadi DJ di pesta-pesta paling eksklusif di dunia fashion. Namun seiring kamu membaca artikel ini, kamu akan tahu jika she’s way more than that.

Lahir dan besar di Tokyo, wanita kelahiran 10 Agustus 1987 ini memulai karier bermusiknya dengan menjadi vokalis dan gitaris untuk sebuah band berpersonel empat orang yang ia bentuk saat dia baru masuk SMA. “It was a punk band, saya banyak mendengarkan musik Barat, terutama punk, rock, new wave, post punk dari akhir 70-an sampai awal 80-an,” kenangnya soal band pertamanya yang mengambil inspirasi dari The Clash dan Kraftwerk tersebut. Tahun berikutnya, terinspirasi dari kunjungannya ke sebuah acara DJ night di London, Yulia mulai menggelar sebuah electronic dance party underground serupa di Tokyo dengan nama Neon Spread. Just like The Misshapes party di New York City ataupun acara Kitsuné di Prancis, acara tersebut dengan cepat menjadi party paling happening sekaligus ajang seen and to be seen para It Crowds setempat. “Saat masih di band pun saya juga telah banyak mendengarkan musik electro, terutama electroclash karena genre tersebut adalah perpanjangan dari musik-musik yang saya sukai (post punk dan new wave). So it was natural for me to start to listens electro music,” ungkapnya.

            Just like a rite of passage seperti yang dialami juga oleh para club queens seperti Leigh Lezark, Sarah Jane Crawford, Solange, dan Harley Viera-Newton yang tidak puas bila hanya berdansa di dance floor, langkah berikutnya yang dilakukan Yulia adalah menguasai DJ deck dan merilis mixtape. Di tahun 2008, Yulia melakukan debutnya sebagai DJ dengan kontrak bersama EMI Music Japan untuk merilis mixtape perdananya bertajuk Neon Spread dari lagu-lagu yang ia mainkan di acara tersebut dan sampai saat ini telah memiliki tiga volume. Seiring kepopulerannya sebagai DJ di berbagai event dan party, Yulia pun mulai berkolaborasi dengan tokoh-tokoh penting lainnya di skena electro dan hip-hop Tokyo seperti Plastics, Towa Tei, Shinichi Osawa, M-Flo, dan Teriyaki Boyz, serta Krazy Baldhead dan Uffie, dua musisi elektronik asal Prancis yang pada masa itu menjadi kebanggaan Ed Banger Records. Kedekatannya dengan rapper Verbal dari grup Teriyaki Boyz dan M-Flo sebagai kolaborator kemudian berlanjut ketika ia menjadi executive producer untuk album debut Yulia sebagai penyanyi elektronik. Dirilis pada bulan September 2011, album debut yang diberi judul Mademoworld itu mengantarkan nama Yulia ke ranah mainstream dengan sebuah world wide tour bertajuk “Angee Yung Robotz” untuk mempromosikan album berisi 12 lagu tersebut.

Mendapat apresiasi positif baik dari kritikus maupun penggemar musik berkat produksi yang slick, persona Yulia yang unik, dan beat yang adiktif, album ini juga dianggap memperkenalkan genre J-pop yang lebih universal dan mudah diterima ke telinga pendengar internasional. A kind of album you can bangin on with, terlepas kamu mengerti bahasa Jepang atau tidak. Single utama di album ini berjudul “Gimme Gimme” yang disutradarai oleh graffiti artist asal Prancis, Fafi, memperlihatkan Yulia with her glorious blue hair dan girl squad-nya berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya dengan visual aesthetic yang nyaris serupa seperti yang akan Madonna buat untuk video “Bitch I’m Madonna” empat tahun kemudian (Yulia lebih dulu merilis “Gimme Gimme” di tahun 2011). Selain kolaborasi dengan will.i.am dan Basement Jaxx serta membuatnya menjadi opening act untuk tur Jepang Kylie Minogue, kepopuleran Mademoworld juga menghasilkan sebuah show miliknya sendiri dengan nama yang sama di kanal musik Space Shower dan di tahun 2013 Yulia merilis album keduanya, Whatever Harajuku, dengan single “Harajuku Wander” dan musik video yang menunjukkan Yulia di habitat naturalnya di antara para fashion forward people Harajuku.

Fun and unexpected,” jawab Yulia singkat saat diminta mendeskripsikan personal style dirinya. It’s been long days sejak Gwen Stefani tergila-gila pada gaya Harajuku dan menjadikannya sebuah stereotipe klise dari giggling Japanese girls in wacky outfits, namun, di tangan Yulia sebagai the true native and role model, ia berhasil membawa street style kebanggaan Tokyo tersebut ke level selanjutnya yang lebih mature dan edgy dengan aesthetic yang terinspirasi dari pusat-pusat skena alternatif Tokyo seperti Harajuku, Koenji, dan Shimokitazawa yang merepresentasikan sense of style kota tersebut yang surreal. Tokyo’s street style is finally cool again. “I think fashion is the first passion karena saya tidak terlalu pandai mengekspresikan diri lewat kata-kata. Jadi bagi saya fashion adalah cara saya untuk mengekspresikan diri. Tapi sejak saya bergabung di band pertama saya, musik juga menjadi salah satu cara saya untuk berekspresi. Fashion dan musik, keduanya sangat berpengaruh dalam hidup saya,” tukasnya.

Dengan kepopuleran EDM yang menjadi salah satu genre paling besar di awal abad ini, whether you like it or not, DJ is the new rock star and fashion muses. Mademoiselle Yulia kebetulan termasuk salah satu DJ yang mampu memadukan style dan sound dengan sama apiknya. Diberkahi personal style eklektik dan kemampuan mix and match sesuatu yang unexpected menjadi kesatuan looks yang membuat iri fashion blogger paling berani sekalipun, Yulia mampu mengenakan pakaian paling ajaib dari runway dan membuatnya tetap wearable. Contohnya saat ia memakai gaun Chanel berwarna pastel dengan heels putih dan kaus kaki semata kaki atau memakai kimono sambil menenteng tas Gucci berdetail bunga. Dengan injeksi whimsical khas Harajuku, ia membuktikan dirinya sebagai the ultimate mix master, dengan atau tanpa turntable di sampingnya.

img_3871

Terima kasih untuk kemajuan teknologi, sense of style dirinya pun membuahkan legion of fans dari seluruh dunia, termasuk dari kalangan fashion insider seperti Jeremy Scott yang menjadikannya muse dan menjadi sahabat baiknya atau Stella McCartney yang memintanya sebagai representasi Tokyo untuk proyek “One City, One Girl” label miliknya di mana Stella McCartney herself memilih gadis-gadis paling keren untuk mewakili dan memperkenalkan kota mereka masing-masing. “Saya sejujurnya lebih aktif di malam hari karena pekerjaan sebagai DJ selalu dimulai saat larut malam, tapi saya selalu berusaha bangun sebelum jam 10 pagi. Saya memulai hari saya dengan meminum yoghurt,” jawab Yulia tentang bagaimana ia biasanya menjalani hari-harinya di Tokyo. Berkumpul dengan teman-temannya di daerah Harajuku, a little bit of shopping, lalu makan malam dan setelahnya pergi ke bar atau club adalah kegiatan favoritnya di kota kelahirannya tersebut. “Tokyo is really convenient and clean. Saya menyukai bagaimana mood kota ini berubah seiring pergantian musim. Tapi saya juga sangat suka London. Saya ingin tinggal di sana suatu hari nanti,” akunya.

            Dengan reputasi yang kian menanjak, maka tidak mengherankan jika Yulia pun bisa dibilang telah bertransisi dari local icon ke global stardom, membuatnya mendapat fans dari berbagai belahan dunia dari New York sampai Yunani dan membuka pintu sosial yang lebih lebar lagi baginya. Buktinya? Well, tampil sebagai cameo di video klip “The Baddest Female” milik CL dari 2NE1, duduk di front row Jeremy Scott di tengah Iggy Azalea dan Nicki Minaj, menjadi satu-satunya model Asia di kampanye global H&M yang bertema “H&M Loves Music”, dan mendapat sahabat baru, Rihanna.

“Saya bertemu Rihanna sekitar 3-4 tahun lalu di Paris. Saya pergi ke sebuah party bersama teman-teman saya dan ketika saya sedang berdansa seru di dance floor, tiba-tiba Rihanna melambaikan tangannya ke arah saya dan memanggil saya ke mejanya! Dia bilang, ‘I know you from Instagram and I love your style!’ Kebetulan kami berdua punya mutual friends seperti Jeremy Scott dan lain-lain, jadi dari situ dia menemukan saya di Instagram tapi sejujurnya saya sangat terkejut karena dia mengenali saya! Sejak saat itu kami pun berteman. Kalau CL, sebenarnya saya sudah kenal dia sejak sepuluh tahun lalu. Saya bertemu dengannya sebelum dia debut dengan 2NE1 karena saya berteman dengan stylist-nya.”

Setelah cameo-nya di video CL, ia pun diminta menjadi DJ untuk after party show Chanel Resort di Seoul dan berada di bawah naungan agensi model internasional IMG yang turut membantu popularitasnya di dunia fashion baik digital maupun real life. Namun, bahkan sebelum era social media pun, Yulia adalah sosok egnimatis yang dengan effortless menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. “Lewat social media, saya memang beruntung karena bisa bertemu beberapa orang yang mungkin tidak bisa saya temui sebelumnya, tapi untungnya, di lingkungan saya berkembang, bahkan sebelum adanya media sosial pun, saya punya banyak kesempatan untuk bertemu orang-orang seperti Jeremy Scott dan tim KTZ yang mengulurkan tangan mereka bahkan sejak saya baru mulai tampil sebagai DJ,” ujarnya.

Sama halnya dengan sikapnya pada musik, rasa cintanya kepada fashion juga tak berhenti sebatas sebagai konsumen. She needs to create something. Selain masih menjadi kolumnis tetap rubrik fashion miliknya sendiri dalam setiap edisi NYLON Japan selama delapan tahun terakhir ini, Yulia pun memiliki fashion brand sendiri. Brand pertama miliknya adalah Giza, sebuah label statement accessories yang ia buat di tahun 2008. Aksesori yang ia buat untuk label ini meliputi jewelry, tas, headwear, badges, dan t-shirts yang terinspirasi dari ancient Egypt dengan sentuhan pop art yang kental dan telah berkolaborasi dengan label-label streetwear terkenal seperti Wesc untuk Fall 2010 dan Joyrich, label kelahiran Tokyo yang kini berbasis di Los Angeles, di mana ia membuat kolaborasi bertema sport-luxe yang playful untuk koleksi Spring/Summer 2015 label tersebut.

Tak pernah berhenti berkreasi atau kekurangan inspirasi, bulan November tahun lalu, ia pun meluncurkan clothing brand terbarunya yang diberi nama Growing Pains dengan koleksi yang meliputi outerwear, patterned dresses, faux fur, dan latex skirts. “Saya terinspirasi dari berbagai macam pergerakan seni, baik itu dari musik, sinema, underground culture, dan movement dari seluruh dunia. It also celebrates bit of humor and every spirit of enjoying fashion as a self-expression. Musim pertamanya terinspirasi 90’s culture dan film Doom Generation, musim keduanya terinspirasi film-film Wong Kar-wai dari awal 2000-an,” terangnya soal label tersebut.

img_3965

 Fashion dan musik faktanya adalah yin & yang tak terpisahkan dari hidup Yulia, bahkan sejak ia masih kecil. Ibunya adalah seorang kimono dresser dan ayahnya adalah seorang hairstylist, so it’s definitely in her genes. “Saya sangat berterima kasih terhadap kedua orangtua saya karena walaupun mereka sangat strict tapi mereka selalu mendukung apapun yang ingin saya kerjakan. Mereka juga menyukai fashion dan musik,” ujar kolektor vintage Moschino dan Thierry Mugler ini. Sama seperti mayoritas anak perempuan Jepang, Yulia tumbuh dengan kecintaan terhadap benda-benda kawaii yang terus berlanjut sampai sekarang. Dalam sebuah feature dirinya di situs The Coveteur, kita bisa melihat kamarnya yang tidak hanya dipenuhi koleksi designer items, sneakers, dan barang-barang fashion saja, tapi juga pernak-pernik My Little Pony, Sailor Moon, dan kawaii things lainnya yang tertata rapi. “Saya mulai mengoleksi beberapa benda sejak kecil, tidak hanya kawaii things, saya juga mengoleksi boneka Barbie dan snow globes,” ungkapnya sambil menyebut compact powder Sailor Moon sebagai salah satu item wajib yang ada di tasnya, di samping dompet Celine, iPhone dengan cigarette case yang ia buat sendiri, lipstick Chanel, dan gummy bears merek Haribo favoritnya.

Hal yang menurutnya impossible bila ia harus memilih antara fashion atau musik, Yulia pun tidak bisa pergi terlalu lama dari dunia musik. 17 Desember lalu, ia kembali ke dunia musik dengan dua single terbarunya, “GOGO” dan “THIS WEEKEND” yang merupakan rilisan terbarunya sejak Whatever Harajuku. “Saya merekam kedua lagu ini bersama seorang beat maker teman saya yang tergabung di band bernama ANIMAL FEELINGS saat saya di New York. Ini adalah pengalaman pertama saya merekam lagu di luar Jepang. ‘GOGO’ is beautiful song with slow jam sedangkan ‘THIS WEEKEND’ memiliki little disco flavor dengan beat yang danceable. Saya ingin membuat lagu yang berbeda dari yang telah saya kerjakan sebelumnya dan kembali ke akar saya, which is playing with the band,” tegasnya. Stay true to her roots, kedua single ini tidak hanya dirilis secara digital, tapi juga dalam bentuk CD dan 7 inch vinyl record sebagai reminiscence dari masa yang telah lewat. “Tentu saja pasar musik digital juga telah besar saat saya membuat mixtape pertama saya, namun waktu itu orang-orang masih banyak yang membeli musik dalam format CD, but now… Not anymore. Tapi saya masih ingin membuat bentuk fisik untuk musik saya, karena itu saya juga merilisnya dalam format vinyl. Karena seperti yang kamu tahu, vinyl secara ironis menjadi sangat populer kembali di seluruh dunia,” terangnya.

img_3956

            Kedua single tersebut adalah perkenalan dari album terbarunya yang akan berjudul YULIA dan direncanakan rilis musim dingin nanti. Untuk sekarang, ia masih mengerjakan album tersebut sambil juggling every works in her hands with ease, namun berbeda dari prasangka orang, ia sebetulnya tidak menganggap dirinya sebagai seorang multi-tasker. “Yang saya sukai dari diri saya… Saya berusaha untuk stay true to myself baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Yang saya tidak sukai, saya tidak bisa memikirkan hal-hal lain ketika saya sedang fokus terhadap suatu hal,” akunya. Sebuah fakta yang cukup membuat terkejut jika kita menghitung semua kesibukan dan profesi yang ia jalankan secara bersamaan.

Fashion dan musik mungkin telah menjadi hal yang familiar dan semudah membalik tangan baginya, namun saya pun penasaran bidang apa lagi yang ingin ia eksplor berikutnya. Selain personal style, sebetulnya yang membuat sosok Yulia menarik adalah her flawless makeup and hair style. Seperti yang sudah disebutkan, ayahnya adalah seorang hair stylist dan Yulia sendiri pun memiliki license sebagai hair stylist. “Iya, saya punya license untuk hairdressing. Karena saya sempat ingin menjadi hair stylist atau makeup artist saat masih remaja. Saya sebetulnya masih berminat melakukan proyek yang berhubungan dengan beauty, mungkin membuat beauty products? Who knows right? Haha… Tapi kalau bisa memilih, saya sebetulnya ingin menjadi pramugari!” ungkapnya gamblang. “Saya ingin pergi ke Mesir, Turki, dan Maroko! Saya telah mengunjungi cukup banyak negara di Asia, Eropa, dan Amerika, tapi saya sangat tertarik untuk mengunjungi Afrika. Sedangkan Turki berada tepat di antara Asia dan Eropa. Jadi saya pikir budaya di sana akan sangat menarik,” sambungnya. How about Indonesia then? “I really wanna go to Indonesia!” jawabnya dengan excited sambil mengungkapkan keinginannya untuk bisa bertemu dengan penggemarnya di sini. A little bird told me, hal itu mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Jika saat itu tiba, persiapkan dirimu untuk mencari koneksi yang bisa membuatmu diundang ke acara yang sama dengannya. Untuk sekarang, at least you know more about her already from us, and yeah, you’re welcome.

img_3959

Fotografi: Yuji Watanabe.

Stylist: Stefanie Miano.

Makeup Artist: Vichika Yorn.

Hair Stylist: Jonathan Dadour (B Agency).

 

Eyes Wide Open, An Interview With Nasya Marcella

Selayaknya langit malam, dunia layar kaca tak pernah sepi akan bintang-bintang yang terus melesat berkilauan. But once in awhile, selalu ada sosok-sosok tertentu dengan pijar tersendiri yang lebih dari paras cantik belaka. Kami pun menemukan that something special thing dalam diri Nasya Marcella yang simply irresistible. Mari buka mata lebar-lebar untuknya.

img_8681

Dibesarkan di zaman ketika televisi masih menjadi sumber hiburan utama di rumah, jujur saja, saya termasuk anak yang tumbuh dengan menonton sinetron lokal for guilty pleasure dan karena memang kurangnya pilihan tontonan lain saat itu. Namun, seiring bertambahnya umur dan kesibukan (and dwelling in YouTube, obviously) saat ini saya termasuk orang yang hampir tidak punya waktu untuk menonton stasiun televisi lokal. Alhasil, saya nyaris tidak familiar lagi dengan para pendatang baru yang menghiasi layar kaca Indonesia saat ini. Tapi sebagai pekerja media, terkadang saya merasa perlu menyempatkan diri untuk tune in sejenak di stasiun-stasiun TV lokal demi meng-update diri sendiri soal who’s who in television nowadays (and the local infotainment buzz, for another guilty pleasure) dan tidak butuh waktu lama untuk mengetahui fakta jika sinetron tampaknya memang masih mendominasi jam-jam prime time televisi lokal dengan deretan wajah-wajah rupawan yang mostly berdarah Kaukasia.

Some things never really change, I guess. Namun, seperti yang sudah sempat saya singgung sebelumnya di atas, dari sekian banyak bintang-bintang muda yang silih berganti muncul di layar perak dengan talentanya masing-masing, pasti ada saja segelintir nama yang memiliki sparkle tersendiri yang seolah mengundang kita untuk mengenalnya lebih jauh. Dan Nasya Marcella adalah salah satu di antaranya. Cantik? Itu sudah pasti. Dengan pembawaan girl next door yang sangat manis dan senyuman berlesung pipit yang teduh, dara bernama lengkap Victoria Nasya Marcella Tedja tersebut memang terlihat selayaknya gadis impian yang menjadi the object of affection dalam kisah-kisah komedi romantis. It’s easy to fell in love at the first sight with her saat melihatnya di berbagai judul-judul sinetron atau iklan yang ia bintangi, namun saat melihatnya secara langsung di malam final NYLON Face Off akhir tahun lalu, saya harus mengakui jika she’s even prettier in real life. Dengan senyum radiant yang seolah menular dan kepribadian super sweet, ditunjang perannya sebagai brand ambassador untuk label kosmetik remaja Emina, it’s really no brainer jika kami memilihnya sebagai cover girl edisi Beauty tahun ini.

            Di sebuah pagi di pertengahan bulan Januari lalu, ia datang tepat pada jam yang telah ditetapkan untuk pemotretan ini. Memakai kemeja blus bermotif gingham warna pastel dengan jeans putih yang senada, ia melepas kacamata hitam yang bertengger di atas hidung bangirnya untuk menyapa kami dengan senyuman manis. Ditemani oleh sang mama yang selalu setia mengantarnya memenuhi berbagai jadwal, ia pun duduk dengan sabar menunggu tim makeup & hair datang sambil sesekali mengecek smartphone miliknya. Untuk mencairkan suasana, saya pun bertanya tentang kesibukannya akhir-akhir ini yang dijawabnya dengan antusias. “Kemarin terakhir itu habis main film layar lebar judulnya Abdullah dan Takeshi, sebetulnya belum selesai, masih ada satu hari lagi untuk syuting tapi jadwalnya belum ketemu sama yang lain. Sama paling photoshoot-photoshoot gitu sih. Ini film pertama aku, seneng banget, terus udah gitu syutingnya ke Jepang juga!” paparnya ceria.

            Saat tim makeup & hair akhirnya tiba, interview ini pun kami lanjutkan di depan meja makeup. Sambil membiarkan wajah segarnya mulai dirias, ia melanjutkan ceritanya soal film debutnya tersebut yang turut dibintangi oleh Kemal Palevi dan Dion Wiyoko. Bergenre komedi, dalam film yang direncanakan tayang bulan Maret ini Nasya berperan sebagai seorang mahasiswi yang terjebak dalam perebutan dua pria berdarah Arab dan Jepang yang tertukar saat lahir. Proses syutingnya sendiri di Jepang hanya berlangsung selama empat hari, namun Nasya harus extend beberapa hari ekstra untuk syuting iklan terbaru Emina sekaligus merayakan ulang tahun ke-19 yang jatuh di tanggal 9 Desember silam. “Itu pas ulang tahun pas aku lagi syuting, tapi sebelum ulang tahun aku justru punya free time ke Disneyland sama mama berdua dari pagi sampai malam. Ulang tahun di Jepang seneng sih, tapi karena lagi jauh jadi ngerayainnya cuma aku sama mama dan tim Emina, karena tim film udah pada pulang. Ulang tahun nggak ketemu sama keluarga… Agak gimana gitu rasanya… Tapi aku tetap teleponan sama keluarga, mereka ngucapin happy birthday. Agak sedih sih karena nggak ketemu langsung, sama teman-teman juga. Tapi pas aku pulang dan sampai di Jakarta aku dapet surprise juga sama temen-temen, hehe,” ungkap gadis Sagittarius tersebut tanpa bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.

img_8977

Walaupun saat ini sudah tergabung dalam sebuah manajemen artis, Nasya mengaku ia masih lebih suka ditemani sang mama ke mana saja. Tak hanya menjadi sahabat dan sosok manajer pribadi, sang mama juga yang menjadi pendukung utama ketika ia memutuskan terjun ke dunia entertainment. Lahir dan besar di Jakarta, anak tengah dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan tersebut memulai kariernya sejak kelas satu SMP di tahun 2010 lewat beberapa iklan dan ajang modeling. Lain dari yang sempat saya perkirakan, walaupun sepintas dari wajahnya terlihat memiiki darah blasteran, Nasya mengaku jika orangtuanya berdarah Jawa tulen. “Cuma masih ada kakek di Semarang, jadi setahun sekali aku pulang ke Semarang. Mungkin di keluarga, aku memang kaya beda sendiri gitu, kayanya aku paling belo deh di keluarga makanya dulu sering disuruh coba aja jadi artis, padahal di keluarga aku memang nggak ada yang sama sekali di dunia entertainment. Awalnya coba sih karena penasaran aja, aku casting sama ikut modeling yang di mall gitu, karena nggak ada basic jadi awalnya nggak tau harus ngapain juga, tapi terus mama daftarin les modeling yang berguna banget karena dulunya aku memang anaknya cuek banget sih, lewat les itu aku jadi belajar dandan, belajar pakai baju yang bagus kaya gimana, belajar jalan, sama ngelatih kepribadian aku juga,” ceritanya mengenang awal perjuangannya sebelum akhirnya masuk ke dunia sinetron yang membesarkan namanya.

“Kalau sinetron sendiri baru pas kelas 9, mau masuk SMA. Awalnya juga nggak kepikiran main sinetron sama sekali karena masih sekolah, tapi ya udah iseng aja ikut casting terus ternyata dipanggil diajak main sinetron yang sudah tayang. Aku pikir seru juga karena syutingnya kaya jalan-jalan, ke Puncak, ke Anyer… Tapi ternyata nyita waktu, akhirnya pas SMA aku sempat sekolah reguler tapi terus keluar dan home school. Tapi home school-nya masih ada kelasnya juga jadi nggak boring. Sekelas ada sekitar 10 orang, aku tetap cari yang ada temannya juga sih, nggak pengen yang bener-bener sekolah sendirian,” akunya.

Berbekal dengan keberanian mencoba hal-hal baru untuk mengembangkan bakatnya, perannya sebagai Safira di sinetron berjudul Satria yang diputar di tahun 2011 itu menjadi pengantar baginya untuk fokus di kancah sinetron dengan membintangi sinetron-sinetron selanjutnya seperti Yang Masih Dibawah Umur, Magic, Akibat Pernikahan Dini, Fortune Cookies, dan Jakarta Love Story, walaupun ia mengaku tidak memiliki basic akting sebelumnya. “Apa ya, aku belajar dari pengalaman aja, dari casting iklan kadang ada akting dan dialognya juga kan. Yang pasti sih harus rajin pelajarin skenario terus waktu itu kaya banyak nanya dulu, dimarahin sutradara pasti pernah karena nggak hapal dialog tapi lama-lama akhirnya terbiasa sih. Pokoknya jangan malu untuk bertanya, jangan malu untuk dimarahin, kalau dimarahin ya dipelajarin salahnya di mana, belajar dari kesalahan.”

Dengan kontrak bersama SinemArt, ia pun kerap beradu peran dengan para bintang muda lainnya di bawah rumah produksi tersebut. Salah satu yang cukup sering adalah dengan Stefan William, salah satu aktor muda yang paling digilai penggemar sinetron saat ini. Dengan Stefan ia sempat bermain dalam tiga judul produksi. Mau tak mau, ia pun sempat digosipkan cinta lokasi yang lantas ditampiknya halus dan dianggapnya sebagai usaha untuk membangun chemistry dengan lawan mainnya saja. Tentu saja beberapa orang tampaknya tidak semudah itu untuk diyakinkan. “Bukan cuma nanyain, ada yang sampai ngata-ngatain juga, haha! Mungkin nggak bisa dibilang haters aku sih, tapi mereka lebih kaya fans-nya Stefan sama si ini atau si itu. Mereka kaya ‘Kenapa sih Kak Stefan sama Kak Nasya?’, ‘Ih cantikan dia tau daripada Kak Nasya’, ‘Kak Nasya kan orangnya gini gini gini’… Tapi nggak sampai yang buat haters gitu sih. Aku biasa aja sih hadapinnya, lucu-lucu aja, kadang ada yang setiap aku upload apa, benar-benar dikomenin tiap foto tapi ya udah nggak apa-apa, malah bagus haha, berarti dia care sama aku,” tukas Nasya dengan santai.

Untuk menjaga hubungan dengan fans, Nasya termasuk aktif di Instagram dengan followers sejumlah 242 ribu saat artikel ini ditulis. Selain Instagram, Nasya juga mengaku aktif di Ask.fm, sebuah media sosial yang memang cukup digandrungi belakangan ini karena memungkinkan para penggunanya untuk saling mengirim dan menjawab pertanyaan secara langsung. “Kalau Twitter aku susah balesinnya, kalau di Ask.fm bisa langsung dijawab terus bisa anon juga. Sempat ada yang nanya aneh-aneh, tapi aku sering off-anon biar yang nanya harus keliatan namanya, seru sih Ask.fm.” ungkap pemilik akun nasmarcella di situs tersebut.

img_8495

Beside the occasional haters, enam tahun berkarier di entertainment, Nasya tampaknya telah cukup merasakan manis-pahitnya industri ini. Ia menyukai fakta jika lewat kariernya ia bisa bertemu dengan banyak orang dan menambah pengalaman, di samping tentunya memiliki penghasilan sendiri sehingga tidak harus merepotkan orangtuanya lagi, walaupun ia sepenuh hati sadar jika ada beberapa hal yang harus dikorbankan untuk meraih itu semua. “Ya aku jadi korbanin pendidikan. Dulu pas mulai sinetron ambil home schooling biar tetap sekolah tapi ambil jalan tengahnya, sekarang juga belum sempat kuliah. Waktu juga terkuras karena syuting. Jadwal di entertainment kan nggak tentu ya, kalau kerja kantoran kan udah tetap Senin sampai Jumat, tapi ini hari Minggu suka ada kerjaan juga jadi kadang-kadang nggak bisa ke gereja atau ke acara keluarga. Orang-orang sekitar aku jadi susah bikin janji, aku jadi nggak enak tapi kalau bisa nyusul aku pasti nyusul, misal ke acara keluarga atau ketemu temen,” bukanya dengan jujur dan tanpa pretensi.

Untuk urusan kuliah, Nasya mengaku jika beberapa jurusan yang menjadi pertimbangannya adalah Psikologi dan Komunikasi, namun jika ditanya soal passion, ia sebetulnya ingin belajar soal makeup and beauty dengan serius. Well, saat ini ia memang tidak hanya menjadi brand ambassador bagi Emina, beberapa bulan belakangan ia pun sibuk mengembangkan bisnisnya sendiri di bidang beauty, yaitu label fake eyelashes dengan nama Enlashes yang dijual secara online. “Aku memang suka makeup dan dandan, aku udah jadi brand ambassador makeup juga terus aku mikir apa lagi yang masih relate, ya udah akhirnya bulu mata, iseng-iseng dan menurut aku kalau bulu mata untuk penyimpanannya nggak perlu sampai yang punya gudang, kalau misalkan nggak laku juga aku santai aja, soalnya bulu mata kan nggak terpengaruh sama trend. Kalau jualan baju pasti ada trend kan, ini project santai banget untuk waktu luang aja,” tukasnya.

Dengan interest khusus pada makeup and beauty, ia juga percaya diri untuk merias wajahnya sendiri sebelum syuting dengan skill yang ia dapat dari menonton para beauty blogger favoritnya seperti Michelle Phan dan Peary Pie. “Kalau menurut aku makeup mereka cocok karena nggak terlalu tebel tapi variasinya banyak. Terus mereka Asian juga, jadi lebih bisa relate untuk contoh warna makeup-nya. Beauty Icon aku itu Michelle Phan karena dia keren terus orangnya keliatan ulet kerjanya, dia bisa sukses dari blogger jadi entertainer juga, bikin buku, terus kerjasama sama brand kosmetik terkenal juga,” paparnya dengan excited saat berbicara soal subjek favoritnya tersebut.

img_9564

Untuk urusan personal style, penikmat film bergenre superheroes dan young adults series seperti Hunger Games Trilogy dan The Divergent ini mengaku tidak memiliki gaya khusus untuk mendeskripsikan dirinya. Ia memilih mood untuk menentukan outfit yang ia kenakan walau saat ini ia mengaku lebih menyukai gaya yang simple dengan two piece dan monokromatis sesuai umurnya yang telah beranjak dewasa. No more short pants, dan tentunya mental yang terus berkembang. “Ya, setiap ulang tahun aku kaya lebih ke mindset aja, ini udah umur baru harus lebih dewasa lagi, emang nggak terlalu keliatan banget perubahannya tapi dari dalem aja. Rasanya kaya harus lebih berani, nggak boleh manja, jadi lebih kaya bangun mindset gitu. Terus harus lebih happy. Lebih lega. Be better aja. Pembawaannya dari tahun ke tahun harus punya mood yang lebih bagus lagi.”

Di umur yang hampir 20 tahun sekarang, apakah Nasya sudah mulai memikirkan untuk menjalin hubungan yang serius? Saya memancingnya dengan pertanyaan seputar Valentine’s Day. “Jomblo nih, jadi nggak ngerayain Valentine, haha! Paling sama keluarga aja, aku suka kasih bunga ke mama. Kalau kemarin-kemarin sebetulnya belum boleh pacaran karena masih sekolah, sekarang sih sebetulnya udah boleh, tapi belum ada juga, hehe,” ucapnya dengan agak tersipu. Sosok seperti apa yang dicari olehnya? “Carinya yang seagama aja, orangtua pasti ingin anaknya sama yang seagama, terus kalau bisa yang nggak kerja di entertainment juga. Kalau maunya orangtua sih kaya gitu, kalau aku sendiri  sebetulnya nggak terlalu ngerti yang gitu-gitu karena nggak banyak pengalaman juga, tapi kalau kata orangtua sebaiknya seperti itu. Jadi ya udah ikutin aja. Sama yang lebih dewasa sih yang pasti secara pemikiran,” tandasnya mantap.

Walaupun telah mengantungi berbagai profesi mulai dari aktris, model, brand ambassador hingga beauty entrepreneur, rasa penasaran untuk mencoba hal-hal baru dalam dirinya tampaknya belum bisa terbendung. Ia membocorkan keinginan untuk menambah resumenya lagi. Yaitu? “Aku belum pernah nge-host! Aku punya beberapa teman yang jadi MC terus keliatannya seru banget, aku juga jadi pengen coba, tapi belum ada kesempatannya aja. Dan kayanya memang harus punya karakter sendiri, kalau jadi MC mungkin aku jadi bawel sih jatuhnya, haha!” Bebernya.

Hampir satu jam telah berlalu, wajahnya sudah selesai dirias dan ia pun bersiap berganti baju untuk first look yang akan ia kenakan. Untuk menuntaskan obrolan kami, saya meminta Nasya untuk mengutarakan keinginan dan targetnya untuk tahun 2016 ini. Dengan mata yang membulat jenaka, ia pun membuka mulutnya untuk menjawab. “Di tahun ini… Aku ingin sukses antara sinetron atau film. Mungkin harus memilih salah satu karena kalau dua-duanya nggak mungkin deh. Sama bisnis bulu mata ini bisa jalan dan ada kemajuan. Sama dapat pacar kali ya? Haha.” Well, it’s her coming of age days after all and it looks as bright as her eyes.

img_9811

Foto oleh: Hilarius Jason.

Styling oleh: Andandika Surasetja

Makeup artist: Virry Christiana

Hair stylist: Jeffry Welly

Asisten Stylist: Kanishka Andhina

Lokasi: TM Studio

On The Records: Much

Terinspirasi setelah melihat aksi Lemuria di Rossi Musik, Dandy Gilang yang merupakan vokalis kuintet pop-punk Malang bernama Write The Future mulai membuat proyek solo indie rock berelemen Midwest emo dan merilis album mini berjudul Know Where You’re Heading di tahun 2014. Proyek ini lantas berkembang ketika Dandy mengajak pacarnya, Aulia Anggia, untuk mengisi vokal dan lahirlah Much, duo indie rock asal Malang yang telah merilis album Closest Things I Can Relate To pada Record Store Day tahun lalu. Dirilis oleh Haum Entertainment yang merupakan label indie di Malang yang gencar memajukan local scene kota apel tersebut dengan berbagai rilisan menarik, album tersebut berisi 6 lagu beraransemen fuzzy dengan melodi gitar yang twinkly serta vokal manis yang menyanyikan lirik tentang romance youth dan mengingatkanmu pada anthemic soundtrack dari teenage flick 90-an yang catchy.

WHO

Halo, di Much sendiri ada Aulia Anggia biasa dipanggil Anggi berperan sebagai sinden di band ini, ada Dandy Gilang biasa dipanggil Dandy juga nyanyi tapi dengan porsi yang lebih sedikit, lebih banyak bermain gitar sih. Selain berdua, kita biasa dibantu sama teman-teman baik dari keluarga Haum Records, ada Risang Candrasa (Risang) di gitar juga dan biasanya bermain gitar di band pop-punk Write The Future, ada juga Pandu Rahadya (Pandu) di drum yang kebetulan sedang menempuh akhir masa studi di ITB dan juga bermain untuk band lokal di sana Stagger, terakhir ada bos besar Haum Records pecinta idol group, I Made Nara Virjana (Vino) di bass.

 HOME BASE

Malang, Jawa Timur. “Kalau sekarang, terutama anak-anak lebih semangat dan berani, berani keluar kandang, berani bikin musik, berani bikin rilisan, dan thankfully lebih banyak lagi media yang mau liput atau bahas musik dan band di Malang, yang masih kurang sih venue, hehe,” ungkap Dandy.

 THE NAMESAKE

Anggi: “Jadi awalnya setelah kita berhasil membentuk sebuah grup musik ini, mulailah kita mencari nama yang dirasa cocok, simple, dan dapat menggambarkan personality kita. Beberapa nama sempat terlintas tetapi kebanyakan nama ternyata tidak cocok, dan akhirnya ketika dirasa kita punya terlalu banyak ide untuk nama band ini atau dalam Bahasa Inggris too much, kemudian tanpa banyak pertimbangan ya maka jatuhlah pilihan kita pada nama Much.”

 INFLUENCES

Anggi: “Jadi dulu saya lebih sering mendengarkan band-band Britpop atau post punk. Namun, setelah Dandy melibatkan saya dalam proyek musik ini, saya mulai mencari-cari referensi band-band yang vokalisnya cewek, dan favorit saya seperti Alvvays, Colour Me Wednesday, Tigers Jaw, Camera Shy, dan Adventures.”

Dandy: “Musical influences saya, terutama untuk Much bisa pertama dari Lemuria, trus Adventures, Joyce Manor, Saves The Day, Andrew Jackson Jihad, sampai ke Algernon Cadwallader.”

LISTEN THIS

“Break Heart, Break Apart”, single terbaru dari album kedua yang direncanakan rilis tahun ini. “Sedikit banyak sih lagu ini bisa jadi teaser buat materi dan sound di album baru nanti bakal kaya gimana. Selain itu untuk kualitas produksi juga kita berusaha untuk bisa lebih keren lah dari Closest Things I Can Relate To.

LOCAL MUSIC HEROES

Anggi: “Apa ya? Potret kali ya.”

Dandy: “Untuk Indo sih, dari dulu saya suka Padi. Love you mas Fadly.”

BEST GIG

Gigs paling seru sih di acara We.Hum Collective, Humming Mad ke-10 di Jakarta bareng Barefood, Laguna Bang Bang, Fuzzy I, sama Saturday Night Karaoke beberapa bulan yang lalu. Bisa dibilang itu pengalaman pertama kami main di luar kota juga pertama kali kita nyobain house gig dan juga mungkin musik dan lagu kita juga kayanya masih belum banyak yang tau, tapi eh kok rame banyak yang nyanyi dan setelah main pun banyak yang mau ngajakin kita ngobrol dan nanyain rilisan.

IMG_2281IMG_2282

DREAM GIG

Anggi: “Aku sih pengen banget nyobain sensasi main di house-gig lagi, selain itu juga pengen tur di beberapa kota sekalian jalan-jalan. Tapi juga pengen jadi opening act-nya Tigers Jaw kalau bisa, haha!”

Dandy: “Kalau aku sih pengen banget main di pinggir pantai. Plus pengen banget kolaborasi sama Mas Prabu Saturday Night Karaoke plis, apa aja.”

FAVORITE PAST TIME

“Kalau Anggi, biasa mengisi hari-harinya sebagai sarjana dengan menonton serial The Return of The Superman yang berisikan Daehan, Minguk, dan Manse sambil cari-cari kerja. Kalau Dandy biasanya ngurusin café di Malang sembari tetap aktif dalam grup musik lain bersama Risang, yaitu Write The Future. Kalau Risang Candrasa juga biasanya mengisi hari-harinya sebagai entrepreneur dengan mengelola café pribadi miliknya. Vino dan Pandu Rahadya sampai saat jawaban ini ditulis, masih juga berjuang menyelesaikan tugas akhirnya dengan tekanan batin yang dirasa semakin berat setiap hari ketika melihat teman-temannya satu per satu mulai meraih gelar sarjana.”

FUTURE PLAN

Dandy: “Lebih banyak main, gigs/music festival, dalam kota luar kota. Rilis album baru, tour, ketemu lebih banyak lagi temen baru, scene Malang lebih rame lagi yang berkecimpung, lebih banyak media yang mau liput, terus banyak juga yang mau main ke Malang.”

Anggi: “Hampir sama kayak Dandy sih, lebih banyak main di gigs/music festival, rilis album, tour, dan Nikah!!! HAHAHAHA!”

IMG_2279

Foto oleh: Permana Hidayat.

A Copy of Her Mind, An Interview With Tara Basro

REX_6694

It takes more than luck to stay in the highly competitive movie biz, dan dengan kematangan skill serta repertoire peran yang kian membubung, Tara Basro telah menemukan spotlight tersendiri baginya dalam industri ini, and it’s getting brighter all the time

Disclaimer: Artikel ini diambil dari NYLON Indonesia November 2015 tanpa proses penyesuaian dengan keterangan waktu yang telah lewat.

Tara Basro always have a special spot in my heart. There, I said it. Tidak hanya karena sosoknya yang terus mencuri perhatian dalam setiap project yang ia kerjakan, tapi juga karena pribadi di balik layarnya yang tetap down to earth dan apa adanya, tak peduli sejauh apapun ia telah melangkah. Di hari Jumat menjelang akhir Oktober lalu, sama seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, Tara datang seorang diri ke lokasi pemotretan tanpa ditemani manajer, asisten, atau entourage lain seperti artis pada umumnya. Mengenakan jumpsuit berpadu sneakers, aktris cantik bernama lengkap Andi Mutiara Pertiwi Basro ini terlihat effortlessly chic dan santai. Wajahnya yang tersenyum ramah dibingkai oleh rambut hitam yang baru dipotong pendek dengan model bob yang fresh dan mempertegas feature wajahnya: high cheekbones, mata sayu nan sensual, dan kulit sawo matang yang glowing. Semua hal yang membuat dirinya terlihat stand out dan kerap membuat “eksotis” sebagai adjektiva yang melekat padanya, sesuatu yang membuatnya berjengit, as we will talk about it later.

REX_6907

“Lagi sibuk istirahat,” ujar Tara membuka interview ini. “Soalnya dari awal tahun ini aku sibuk dari mulai promosi film terus lanjut syuting film lainnya, traveling, dan kebanyakan di luar kota, jadi sekarang lagi beristirahat akhirnya,” sambungnya sambil membiarkan wajahnya mulai dirias. Well, jika ada orang yang berhak memiliki time out untuk beristirahat setelah bekerja keras sepanjang tahun, Tara adalah orangnya. 2015 memang telah menjadi tahun yang exceptionally busy untuk dara satu ini. Tak lama setelah aksinya sebagai pendekar wanita di Pendekar Tongkat Emas akhir tahun lalu, kita telah melihatnya di Filosofi Kopi sebagai sexy assistant yang walaupun bukan termasuk peran utama tapi berhasil membuat hati penonton berdegup kencang dalam setiap scene-nya. Setelah menyelesaikan film surealis garapan Ismail Basbeth berjudul Another Trip to the Moon yang masuk ke International Film Festival Rotterdam, ia pun langsung terjun dalam syuting A Copy of My Mind, film terbaru Joko Anwar di mana ia dan Chicco Jerikho bersanding sebagai pemeran utama.

ACOMM

            Dengan teaser poster yang menampilkan Tara dan Chicco sebagai pasangan yang dimabuk cinta, gampang bagi orang untuk mengiranya sebagai film drama romantis. But we’re talking about Joko Anwar’s work here, so basically, walaupun film ini memang mengedepankan relationship antara sepasang anak muda Jakarta, namun dengan adanya plot twist dan grand scheme tentang sisi gelap dunia politik dan industri pembajakan film, A Copy of My Mind jelas bukan cerita cinta biasa.“Yes, there’s a little bit about politics. Tapi Bang Joko mau film ini bisa dinikmati semua orang, bukan orang Indonesia doang dan akhirnya di-package dalam romantic film. It’s like a time capsule, kalau orang mau lihat Jakarta di tahun 2015 seperti apa ya seperti di film ini, walau orang nggak tinggal di Jakarta dan nggak tau what’s going on di Jakarta pun masih bisa relate,” tutur Tara.

            Sambil mulai melahap pisang yang ia bawa sendiri dari rumah, Tara pun menceritakan lebih lanjut soal perannya sebagai seorang pekerja salon bernama Sari di film ini. “She’s very… Orangnya sangat cuek. Karakter Sari dan Alek, mereka menggambarkan karakter anak-anak muda di Jakarta yang sebenarnya tidak peduli dengan politik sama sekali, they don’t care what’s going on outside, tapi bagaimanapun juga, walau dua karakter ini tidak peduli dengan politik, hidup mereka tetap terpengaruh. Jadi gue rasa banyak anak muda yang masih seperti itu, I think gue bisa merasa dekat dengan karakter Sari ini karena bisa dibilang tahun-tahun sebelumnya I’m also like that, gue yang sangat pesimis and I don’t wanna get involved with politics at all, karena rasanya kaya lo menggebu tapi percuma, but now I think sekecil apapun input kita pasti akan berguna,” paparnya. Lantas, apakah setelah film ini ia menjadi antusias soal politik? “Not really, I’m chillin’,” tampik Tara dengan senyuman kecil, “Tapi misalkan dari hal-hal kecil kaya yang lo lihat di sekitar lo misalkan dengan sesimpel buang sampah pada tempatnya, I know it has nothing to do with building your country tapi mulai dari self-awareness seperti itu dulu deh,” tandasnya.

            Dengan waktu syuting hanya 9 hari dengan cast yang bisa dihitung dengan jari, skill akting Tara jelas dituntut secara maksimal di film ini, terutama ketika harus syuting secara diam-diam di sebuah tempat pembajakan DVD di Glodok. “I never see so much DVD in my life, DVD bajakan semua, mereka bikin packaging-nya and everything. Tadinya kita minta izin tapi nggak dikasih, akhirnya kita diam-diam, itu rasanya kaya lo bisa aja tiba-tiba dikarungin, terus diculik nggak balik-balik, serem banget kaya suicide mission. Yang megang kamera gantian Bang Joko sama DOP-nya, jadi kita sok-sok lihat DVD tapi kalau dilihat footage yang nggak dipakai, kebanyakan muka gue udah pucat banget dan kaku,” ceritanya sambil menunjukkan ekspresi pura-pura takut. Undercover shoot aside, yang tak kalah menantang adalah membangun chemistry dan beradegan intim dengan lawan main.“Chicco is great,I love working with him, karena dari awalnya kita juga teman dan sering ngobrol jadi ketika harus bangun chemistry dengan Chicco pun everybody can relate about feeling love, find someone that you love dan melihat sesuatu bisa diperjuangin untuk orang ini,” tukasnya sebelum melanjutkan, “Yang gue suka dari kerja dengan Bang Joko adalah dia memang membangun karakternya sangat matang, he would do interviews dengan gue sebagai Sari. Misalkan dia akan pura-pura jadi polisi terus Sari ditilang, kira-kira Sari akan ngomong apa di kondisi itu? Jadi mau nggak mau ya rasanya udah kaya jadi karakternya, jadi begitu kita syuting, its more like capturing moment.”

Kerja keras mereka terganjar dengan terpilihnya A Copy Of My Mind menjadi official selection di kategori Orrizonti di 72nd Venice International Film Festival tahun ini. Bulan September lalu, Tara pun bertandang ke Italia untuk mempromosikan dan gala premiere film tersebut di mana ia berjalan di red carpet dengan memakai rancangan Jeffry Tan. “Aneh aja dengar orang Itali manggil-manggil nama gue, haha!” kenangnya terbahak.“Tapi seru sih, deg-degan juga karena belum pernah jalan di red carpet segede itu kan, apalagi orang-orang tau soal film lo. Senang banget pas di sana orang-orang sangat antusias nonton filmnya, tadinya gue nggak menduga orang akan sesenang itu sama filmnya, terharu aja rasanya, kaya pas lagi jalan ada orang yang nyamperin dan bilang ‘I’ve seen your film! It’s so good, thank you so much for making it!’ jadi rasanya pasti senang lah, dari awal bikin filmnya juga karena suka dan yang bikin juga memang senang sama karyanya sendiri, jadi gue sangat berterimakasih banget sama yang nonton karena bisa appreciate dengan apa yang kita kasih. Itu jadi humbling experience juga karena orang-orang di sana sangat passionate dengan film dan pekerjaan mereka, jadi gue merasa kaya I wanna do something bigger, I wanna do more. Malah kaya ah gila, I’ve done nothing rasanya,” ungkapnya bersemangat.

Selain di Venice, film ini juga telah ditayangkan di festival film internasional di Toronto dan Busan. Publik Indonesia sendiri masih harus bersabar karena film ini direncanakan baru tayang di dalam negeri sekitar Februari tahun depan. Meanwhile, sembari menunggu, kita juga bisa melihat aksi Tara di proyek Joko Anwar lainnya, yaitu serial televisi Halfworlds yang diproduksi HBO Asia. Dalam serial action thriller berbumbu mitologi Indonesia ini, Tara menjadi bagian ensemble cast dari aktor-aktris Indonesia paling menarik saat ini. “Halfworlds sangat seru soalnya cast-nya banyak dan isinya banyol semua jadi proses syuting sangat menyenangkan and I think its a fun story juga. Yang seru,it was the first time for me to working in the studio karena sebelumnya kan selalu real set, kemarin set beneran cuma beberapa, sisanya di studio semua jadi gue kaya ‘Wow this is actually pretty awesome’, you working in very controlled environment kaya lo nggak harus peduli ada tukang bakso lewat untuk break syuting, its kinda nice, but at the same time, you also miss the energyand spontanity,” jelas Tara tentang proses syutingnya yang berlangsung di studio di Batam. Dalam serial ini, Tara kembali berpasangan dengan Reza Rahadian sebagai bad ass duo. Kalau di Pendekar Tongkat Emas mereka menjadi sepasang pendekar culas, kali ini mereka menjadi sepasang Bonnie and Clyde kinda characters dengan kekuatan Demit dan adegan laga yang seru. Menyoal bagaimana seringnya ia dipasangkan dengan Reza, dengan berseloroh ia menjawab: “I love working with him, he’s such a good actor and I learn a lot from him, jadinya kaya udah sahabatan tapi lama-lama kaya yang ‘Can I be someone else’s girlfriend, please?

REX_6736

Harapannya terjawab di film Tiga Srikandi di mana Tara kembali satu film dengan Reza namun kali ini tanpa embel-embel asmara. Berlatar tahun 80-an, film karya Iman Brotoseno yang juga dibintangi oleh Chelsea Islan dan Bunga Citra Lestari tersebut mengangkat kisah nyata tiga srikandi dari tim atlet panahan Indonesia yang berlaga dan memenangkan medali perak di Olimpiade Seoul tahun 1988. Demi perannya, Tara pun belajar memanah selama tiga bulan.”Awalnya gue pikir panahan is gonna be very monotone, tapi pas dilakuin ternyata bikin emosi karena you know you could hit the target. Panahan itu soal konsistensi, kalau posisi tangan berubah sedikit aja, pasti hasilnya beda, jadi setiap manah posisi lo harus sama, tapi seru sih, I love it,” paparnya soal film yang akan ditayangkan akhir tahun ini.“Dari film ini gue juga pengen bangun awareness karena kita butuh regenerasi, nggak hanya soal atlet tapi aktor juga perlu ada regenerasi, I think semuanya sih, semua orang yang bekerja di bidangnya harus punya tanggung jawab untuk pass on ilmunya,” pungkasnya.

Berhadapan dengan Tara membuat memori saya kembali ke tahun 2011 ketika saya baru mulai berkarier di media dan bertemu Tara untuk pertama kalinya saat ia dan cast lainnya dari Catatan (Harian) Si Boy datang ke kantor NYLON. Looking at her right now, saya tidak bisa mengesampingkan perasaan kagum melihat bagaimana sosok girl next door pemalu dan pendiam yang saya temui empat tahun lalu telah menjelma sebagai aktris muda berkaliber yang dengan begitu eloquent bercerita soal passion-nya di dunia film. “That was my first film, I was a baby…Its crazy, nggak kerasa nggak sih?” tanyanya retoris. 12 film panjang dalam kurun waktu lima tahun adalah pencapaian impresif bagi seseorang yang mengaku terjun di film karena “tercemplung” tanpa basic akting sebelumnya. Just like a baptism with fire, bakat mentah dalam dirinya terus terasah secara natural di setiap judul film yang ia bintangi. “Dari akting I learn so much, especially about myself karena selama ini gue melihatnya selalu keluar tapi karena akting, I have to switch untuk lebih melihat ke dalam diri gue sendiri kaya ‘How can I be more sensitive?’, karena gue lumayan ignorant kan, tapi di akting you have to pay attention to detail, so I love my job, its the best job.”

Tak banyak yang tahu jika sebelum mencapai titik ini rejection adalah hal yang cukup akrab bagi seorang Tara Basro yang sempat tidak percaya diri dengan penampilannya. “I think I’m being a little hard to myself sometimes,” ujarnya pelan. “I had difficulties because of my skin tone, apalagi dulu rambut gue cepak, sekarang juga pendek sih tapi dulu lebih pendek lagi, dulu masih di highschool, kerjanya ya di bawah matahari terus jadi udah butek, item, rambutnya pendek, terus orang-orang kaya yang ‘Umm, we’re looking for someone with lighter skin and longer hair’ gitu, jadi untuk gue bisa masuk ke film setelah gue putus asa dengan casting segala macem, it was such a blessing,” kenangnya. “Tapi perjuangan nggak berhenti di film pertama, it was a good film untuk film pertama tapi setelah itu perjuangannya gue bisa berbulan-bulan nggak kerja, doing nothing, sementara my mom and dad mulai ngomel-ngomel di rumah kaya ‘What are you doing? You’re not doing anything!’ haha, gue kaya yang ‘Just be patience, okay…’ Haha. It was really tough, jadi walaupun sekarang gue belum ada di posisi yang gue impikan, tapi to be here right now it took a lot of hard work, banyak patah hati segala macem, I learn a lot of things dengan cara yang lumayan harsh, but here I am, surviving.”

Lucunya, di umurnya yang kini menginjak 25 tahun, kulit sawo matang yang dulu seolah menjadi ‘kutukan’ tersendiri baginya sekarang justru menjadi ciri khas dan daya tarik istimewa dalam dirinya. Sulit mencari artikel tentang Tara yang tidak menyelipkan kata “seksi” dan “eksotis” untuk mendeskripsikan dirinya. Namun, saya selalu penasaran bagaimana sebetulnya perasaan Tara soal julukan “eksotis” tersebut. “I have mixed feeling about that word,” akunya, “Apalagi kalau misalkan ada orang yang bilang ‘Mukanya Indonesia banget ya?’ Gue kaya yang ‘What exactly is muka Indonesia?’ Muka Indonesia kan beda-beda, kalau di Korea masih mending ya, karena everybody’s white, tapi kalau di kita kan beda-beda, ada yang orang Manado, ada orang Papua, ada Sulawesi, NTT, semuanya beda-beda. Kalau dibilang eksotis pun gue masih bingung, is it because of my eyes or my skin? But I take it as compliment, but it makes me cringe every time I hear,“ ungkapnya.

REX_6454

“Gue pengen generasi muda untuk more brave, more loving, and forgiving,” ujar Tara dengan mimik serius. “Sampai sekarang gue masih mencoba raise awareness untuk generasi muda to take care of themselves karena awalnya I deal with a lot of insecurities kaya misalkan, maybe I’m not pretty enough, not skinny enough, my skin is not flawless enough, udah coba berbagai macam cara, udah ke dokter muka segala macem, yang pada akhirnya all those side effects gue rasain di umur gue yang 25 tahun ini. Like oh my God I’ve been so selfish, pengennya semuanya perfect padahal dengan gue yang sekarang ini udah cukup. Those beauty stuff… Its harming, mungkin sekarang nggak ngerasain apa akibatnya tapi later on itu bakal kerasa and you will regret it, jadi gue pengen as someone yang bisa dibilang public figure, I feel like I have some responsibility untuk try to educate, mungkin not for everybody tapi ke orang yang mungkin look up to me. But in the end of the day, nobody could love you unless you love yourself first.”

Semua yang terlontar dari bibirnya jelas bukan sekadar empty words tanpa aksi. Cara Tara mencintai dirinya sendiri adalah dengan menghindari zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Ia termasuk konsumen yang rajin membaca nutrition fact dalam setiap produk yang ia gunakan dan cukup familiar dengan istilah-istilah yang asing bagi orang awam. Ia juga mengaku sekarang ini lebih tertarik pada hal-hal yang berbau kesehatan dan mengungkapkan keinginan untuk belajar ilmu nutrisi di samping belajar bahasa asing, khususnya French, mengingat waktu kecil ia sempat tinggal di Prancis. “I go to the gym a lot,” ucap Tara tentang caranya menjaga kesehatan di antara jadwal yang sangat padat. Sempat belajar wushu untuk syuting Pendekar Tongkat Emas, saat ini Tara masih rutin yoga, weight training, dan Muay Thai. “Pokoknya masa-masa istirahat ini yang gue maksimalin adalah olahraga karena kalau syuting apalagi di luar kota kaya udah nggak punya waktu. I’ll be in my best mood after workout, meskipun capeknya kaya apa tapi tetap sangat menyenangkan. Selebihnya mungkin baca buku and keep in touch with my family, karena makin lama makin jarang ketemu karena kerjaan,” lanjut anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara ini. Buku apa yang sedang dibaca Tara belakangan ini? “Sekarang lagi baca Conversations with God, right now gue lagi banyak baca buku yang lebih spiritual karena working in this industry, its little hard to find yourself karena kadang-kadang kalau lanjut dari satu karakter one to another itu kadang-kadang I get lost sometimes, I love to read books to feel relax and better about myself.”

            Sejalan dengan hobi berolahraga, Tara yang lebih nyaman dengan gaya kasual adalah penggemar sneakers.“People think I started to have problem karena right now at my place, I’m sleeping with my sneakers karena udah kebanyakan gitu, dan kalau ada acara gue kaya yang ‘I don’t have any shoes! I don’t have any heels!’ Haha! I wish I could wear my sneakers with dresses, tapi ya gitu, gue udah mulai dimarahin kaya disuruh stop beli sneakers,” kisah penggemar Adidas dan Vans yang hobi berburu sneakers baik di eBay maupun saat keluar negeri dan saat ini sedang menunggu pesanan Adidas Ultra Boost warna putih incarannya tiba.

            Mind, body, and soul. Keseimbangan ketiganya tak akan lengkap tanpa adanya cinta dan ketika menyinggung topik itu, Tara mengaku dirinya adalah seorang hopeless romantic yang gemar menonton film rom-com sebagai guilty pleasure-nya. “Its easy for me to fall in love with someone because I wear my heart on my sleeve,” ujarnya tersenyum. “I dunno if you’re notice or not, but every girl is a psycho in different ways. I feel like kalau pacaran itu tentang mentolerir kekurangan orang lain, you need someone you can trust and accept you whoever you are, at the end of the day itu yang harus lo hadapi for the rest of your life. Karena if you wanna change somebody I don’t think its possible.” Kualitas apa yang biasanya dicari Tara for potential lover? “Sense of humor, caring, initiative, and good taste in music… Itu parah banget,” jawabnya cepat. Wait, jadi Tara termasuk yang menilai orang dari selera musiknya? “Of course I do! Apalagi kalau lagunya udah nggak nyambung itu kaya yang aah… Gue pernah pacaran sama orang, he doesn’t listen to music, can you imagine? Gue kaya yang ‘Are you serious?’ Jadi kalau di mobilnya ya kalau nggak radio ya diam, sedangkan gue yang tipikal langsung blasting the music!” ungkap penggemar Brandy, Jordan Rakei, dan Hiatus Kaiyote ini. Khusus nama terakhir, ia rela terbang ke Kuala Lumpur untuk menonton konser kuartet soul asal Melbourne tersebut dan dengan semangat menyebut Hiatus Kaiyote sebagai dream wedding band-nya, dengan catatan kalau ia tidak bisa mengundang Beyoncé untuk tampil di dream wedding-nya.

            True to her confession as hopeless romantic, di balik persona yang terlihat cuek, Tara ternyata punya dream wedding versinya sendiri. “Are you sure you wanna go there? Because we will have two hours talk, haha!” candanya saat saya bertanya soal pernikahan impiannya.“My dream wediing would be outdoor. I would love to have Latin music, all white, very intimate… Apalagi ya? Nggak tau, gue kalau dilamar aja kayanya udah senang, haha!” jawabnya. Ketika ditanya apakah itu artinya Tara sudah serius memikirkan soal getting married and settled down, dengan kerlingan mata yang kadang terlihat jahil, ia menjawab, “Ready or not, you just have to jump. Kalau ditanya ‘ready’ sih iya, tapi kalau ditanya ‘rela’jawabannya belum, karena I still want do something more.

            Dengan sederet peran dan proyek seru yang sudah ia jalani, apa lagi yang ingin dikejar Tara? “Sebenarnya gue pengen banget kerja bareng Dimas Djay, tapi sayangnya dia udah nggak mau bikin film lagi kayanya. Atau Gareth Evans. I wanna do musical, tapi musical itu harus sangat hati-hati ya, jangan sampai tiba-tiba pas nonton nanti orang malah kaya ‘What?I enjoy singing, strictly di kamar mandi or in a car, but yeah I love to explore music more if I have the chance, tapi kalau if I ever do music, its gonna be something yang bukan buat jualan sih, buat kesenangan gue aja,” tandasnya. Di samping berbagai proyek yang sudah dipaparkan di atas, Tara juga terlibat dalam Flutter Echoes and Notes Concerning Nature, film garapan Amir Pohan yang mengangkat environmental issue dan masih dalam tahap post-production, di samping beberapa film yang masih tahap in consideration untuk tahun depan. Untuk sekarang, Tara hanya ingin menghabiskan akhir tahun dengan beristirahat. “Capek banget, karena semua project gue belakangan ini udah physical. Gue capek dengan semua begadangnya .I just feel I need to respect and listen to my body more, karena selama ini badan gue kaya pengen ngomong ‘I’m tired’ But I keep ignoring it, so I think I deserve a break, lagian biar orang nggak bosan juga lihat gue terus. I’m excited karena akan ada beberapa project yang keluar and I’m curious tanggapan orang akan seperti apa,” pungkasnya dengan nada optimis.

REX_6563

Fotografer: Raja Siregar

Stylist: Patricia Rivai.

Makeup Artist: Marina Tasha

Hair Stylist: Jeffry Welly (Studio 47)

The Magic Hour, An Interview With Kimbra

Kimbra1

Dengan eksplorasi musikal tanpa batas, performance eksplosif, dan segala keunikan yang melekat dalam dirinya,Kimbra membuktikan jika ia bukan sekadar “somebody that you used to know”. She’s here to stay with guts and a whole heap more

Hanya sehari menjelang keberangkatan saya ke Bali untuk Sunny Side Up Festival di awal Agustus lalu, tersiar kabar jika Gunung Raung kembali memuntahkan abu vulkanik and there’s big chance jika jadwal penerbangan ke Denpasar akan sangat kacau. Ada ketakutan jika banyak para performer yang terpaksa membatalkan penampilan mereka dan memilih langsung terbang ke Jakarta untuk We The Fest yang juga diselenggarakan oleh Ismaya Live. Saya sendiri akhirnya memilih stay di Jakarta sekaligus dengan berat hati membatalkan exclusive interview dengan salah satu performer utama di festival itu, Kimbra Lee Johnson, singer-songwriter asal Selandia Baru atau yang lebih dikenal dengan nama depannya saja. It turns out, penyanyi berumur 25 tahun yang terkenal dengan single “Settle Down” dan duetnya bersama Gotye di lagu “Somebody That I Used to Know” ini memiliki nyali serta dedikasi yang lebih besar dari saya. Tak mau mengecewakan penggemarnya, dia tetap terbang dari Australia walaupun harus detour ke Surabaya lebih dahulu untuk mencapai Bali dan berdasarkan reaksi yang saya baca di social media, sukses tampil gemilang di festival yang berlangsung di Potato Head Beach Club tersebut. Lucky for me, Kimbra bersedia untuk menjadwalkan ulang interview dan photoshoot bersama NYLON Indonesia di Jakarta, tepatnya Minggu, tanggal 9 Agustus lalu di hari yang sama dengan digelarnya WTF di Parkir Timur Senayan.

Saat saya dan tim tiba sekitar jam 10 pagi di hotel tempatnya menginap, sang tour manager menginformasikan jika Kimbra masih butuh beberapa saat untuk bersiap dan mengingatkan jika dirinya mungkin masih agak lelah. Well, tiba di Jakarta untuk langsung rehearsal setelah terjebak di bandara selama enam jam memang terdengar seperti resep jitu untuk mood yang jelek, terutama jika kamu telah menghabiskan banyak waktu di tur dan harus menghadapi jurnalis di Minggu pagi yang terik. Satu hal yang saya notice, Kimbra termasuk public figure yang sangat peduli akan detail. Dengan segala persiapan yang lumayan mendadak karena perubahan jadwal yang juga tiba-tiba, kami harus memberi tahu dengan jelas tentang konsep dan detail pemotretan yang akan kami lakukan, dari mulai wardrobe, make up, sampai lokasi yang setelah beberapa pertimbangan akhirnya disepakati untuk dilakukan di kamar hotelnya. Dia hanya mengizinkan fotografer dan stylist untuk naik terlebih dulu ke kamarnya dan setelah nyaris satu jam menunggu di lobi, akhirnya saya diperkenankan untuk masuk ke kamar hotelnya.

Jujur saja, saya sempat berpikir jika mungkin dia adalah tipikal artis yang banyak mau dan mungkin agak diva-ish, tapi semua prasangka tersebut langsung luruh ketika dengan ramah ia mengulurkan tangan sambil tersenyum lebar untuk memperkenalkan dirinya. Berambut hitam sebahu dengan poni, lipstick merah, dan winged eyeliner, wajahnya terlihat segar meskipun ia mengaku agak mengantuk. “Sebetulnya saya termasuk orang yang lebih suka bangun pagi,” ujarnya sambil menikmati potongan buah-buahan dan secangkir kopiyang menjadi breakfast-nya. “Saya tahu adalah hal yang tipikal bagi seorang musisi untuk tidur sampai siang, tapi saya berusaha bangun sekitar 9 pagi. Kalau sedang disiplin saya akan memulai hari dengan olahraga, tapi saat tur panjang seperti sekarang hal itu lumayan sulit. Jadi biasanya saya memulai hari dengan sarapan, menyalakan laptop untuk mengirim email dan hal-hal administratif lainnya. Dan ketika siang atau menjelang petang, baru lah saya menulis musik,” imbuhnya.

Meskipun sempat terjebak di bandara selama 6 jam karena abu vulkanik, Kimbra mengaku sangat antusias untuk penampilannya di Bali dan Jakarta. Bila kamu mengikuti akun Instagram miliknya, kamu mungkin sudah tahu jika salah satu hal yang membuatnya antusias datang ke Indonesia adalah musik gamelan. “Saya mengetahui soal gamelan saat saya di Montreal dari salah satu produser yang bekerjasama dengan saya, Damian Taylor, yang pernah bekerjasama dengan Björk untuk album Volta di mana Björk sangat terpesona oleh gamelan. Damian memberikan saya beberapa album gamelan Bali yang suka saya dengarkan sebelum tidur karena bunyinya yang sangat melodic dan soothing,” ungkapnya.

Honestly, ketertarikan Kimbra pada gamelan sama sekali bukan hal yang aneh, mengingat bagaimana ia terkenal karena warna musiknya yang eklektik. Secara umum, Kimbra membuat musik yang merupakan anagram dari berbagai genre. Dari mulai modern electropop, R&B, jazz, dan soul yang dengan mudah menari di antara balada kontemplatif hingga tubthumping anthem yang membakar stage. Rasanya, bunyi gamelan yang dreamy sekaligus perkusif tidak akan terasa aneh jika dimasukkan dalam album terbarunya, The Golden Echo yang dirilis Warner Bros setahun lalu.Inspirasi utama diThe Golden Echo banyak datang dari mitologi Yunani, khususnya cerita Narcissuss yang terpesona pada bayangannya sendiri. Dan album ini memang menampilkan banyak refleksi dari Kimbra, in term of music and mood. 12 lagu di dalam album ini dikerjakan olehnya di sebuah urban farm yang dipenuhi hewan ternak di daerah Los Angeles, sehari setelah ia memenangkan Grammy Award 2013 bersama Gotye untuk kategori Record of the Year dan Best Pop Duo/Group Performance yang membuatnya menjadi orang Selandia Baru ketiga yang pernah tercatat dalam sejarah Grammy.

Kini, setelah dua setengah tahun tinggal di L.A., merilis The Golden Echo, tur keliling dunia, dan critical acclaim sebagai solo singer-songwriter, Kimbra memutuskan pindah ke New York City, namun tampaknya fragmen masa lalu bertajuk “Somebody That I Used to Know” tersebut masih membayangi langkahnya. “Saya tiba-tiba mendengar lagu itu dimainkan di sebuah cafe ketika saya sedang di New York dan rasanya semua tiba-tiba kembali terlintas di depan mata saya, gosh, karena lagu itu sebetulnya sudah tidak terlalu sering diputar di radio lagi sekarang ini kan? Saya lantas tersadar jika semuanya terjadi dengan begitu cepat. Rasanya baru kemarin saya merekam lagu itu di studio rumah saya. It is such a nice song, more like a ballad, tapi saya tidak pernah berpikir jika lagu ini akan menjadi begitu fenomenal. Bagi saya, itulah beautiful mystery of music, ketika semua variabel terasa tepat, itu bisa terjadi pada siapapun, tapi tentu saja butuh kerja keras untuk sampai di titik itu. Gotye pun bukan penyanyi baru sebetulnya, dia telah memiliki tiga album. Tapi, it’s beautiful humbling realization jika pop hit song bukan sekadar sesuatu yang kamu formulasikan dalam kepala. Kadang hal itu bisa terjadi begitu saja, dan bagi saya, itulah yang membuat saya tetap percaya pada musik pop. Saya tidak mau percaya jika musik pop hanya sekadar sekumpulan orang di meja rapat yang memutuskan lagu apa yang akan menjadi nomor satu. Terkadang something just hit the right moment dan sebuah lagu begitu mendunia karena emosi di dalamnya terasakuat, that’s what I think about that song.”

Kimbra4

Tak bisa dipungkiri jika kebanyakan orang mungkin memang baru mengenal namanya berkat lagu duet tersebut. Namun sebetulnya, bahkan sebelum merilis album debutnya, Vows, di tahun 2011, Kimbra adalah natural-born musician dengan talenta mengagumkan. Lahir di Hamilton, Selandia Baru pada tanggal 27 Maret 1990, Kimbra berasal dari keluarga medical. Ayahnya adalah dokter dan ibunya adalah seorang perawat dengan koleksi rekaman The Beach Boys dan Frank Sinatra. “It’s always in my heart,” ujarnya soal musik. “Saya selalu menganggap musik adalah bahasa dan medium bagi saya untuk mengeluarkan emosi di dada saya,” imbuhnya. Mulai menulis lagu sejak umur 10 tahun, belajar gitar di umur 12, dan membuat video musik pertama di umur 14 untuk sebuah acara TV anak-anak, saat SMA ia bergabung dalam jazz choir sekolahnya dan berkompetisi dalam kompetisi musik nasional. Sebagai remaja, ia mencintai musik pop, tapi dia juga mendengarkan Björk, Nine Inch Nails, Mars Volta, dan Cornelius. Namun, saat ditanya siapa musisi yang membuatnya ingin serius bermusik, dengan tegas ia menyebut nama mendiang Amy Winehouse. “Hmm… Waktu itu saya sangat terinspirasi Amy Winehouse, karena walaupun dia penyanyi jazz, tapi dia punya influens hip-hop yang kental with those beat and toughness dan dia tidak takut untuk mengutarakan pendapatnya. Ketika saya mendengarkan album pertamanya, saya tersadar jika saya juga bisa membuat musik seperti itu, dengan melodi jazz tapi juga terdengar tough. Dan tentu saja saya juga menyukai musik-musik yang lebih keras seperti Soundgarden, Mars Volta karena walaupun mereka rock tapi juga sangat soulful. Saya banyak mendengarkan punk dan juga Jeff Buckley karena walaupun dia penyanyi rock tapi dia memiliki vokal jazz yang sangat kuat. Mereka dan penyanyi-penyanyi bernyali besar lainnya seperti Kate Bush yang menginspirasi musik saya. I don’t wanna be safe, I want to push the boundaries,” tegasnya.

The Golden Echo adalah usahanya untuk mendobrak batasan tersebut. Dibuka oleh lagu berjudul “Teen Heat”, paruh pertama album ini dipenuhi oleh racikan glorious beat yang exuberant dan catchy seperti “Miracle” dengan influens disco yang menjadi lagu pertamanya yang bertengger di Billboard dan single utama “90s Music”, sebuah ode untuk generasi 90-an yang unapologetically pop dan turut diproduseri Mark Foster dari Foster the People. “Ketika mendengar kata pop, saya membayangkan musik yang punya melodi catchy, musik yang bisa diterima baik oleh sembarang orang di jalan maupun seorang music student. Tapi saya juga merasa jika banyak musik pop yang quite unimaginative and uninteresting. Terkadang saya merasa sedih jika orang hanya memandang saya sebagai musisi pop, karena saya percaya jika pop justru adalah wadah di mana kamu bisa menggabungkan banyak ide dan genre. Ketika saya melihat Prince atau Michael Jackson misalnya, mereka memiliki musik yang menarik dan progresif, tapi masih terasa pop karena kamu bisa menyanyikan chorus-nya sambil mandi tapi ketika kamu mendengar bagian verse-nya, kamu akan seperti… ‘Wow!’, it’s crazy. Pop tidak seharusnya membosankan dan predictable, bagi saya musik pop justru harus punya kejutan dan menantangmu untuk mendengarkannya tidak hanya lewat telinga, tapi juga lewat hati dan pikiran. That’s what I’m passionate about.”

Sementara paruh kedua album ini diisi lagu-lagu yang lebih sentimental seperti “As You Are”, sebuah lagu balada dengan dentingan piano yang diakuinya merupakan lagu paling jujur dan personal dalam album ini. Ia tersenyum tipis ketika bercerita soal lagu itu, seakan luka emosi yang melatarbelakangi lagu itu belum benar-benar pulih. “Lagu itu adalah lagu yang sangat emosional, karena berdasarkan real situation dengan seseorang yang mematahkan hati saya,” paparnya, sebelum melanjutkan, “Lagu ini tentang vulnerability ketika kamu telah mengekspos dirimu kepada seseorang dengan begitu jujur dan apa adanya, literally as you are, dan sebagai seorang seniman, merupakan hal yang sakral untuk mengizinkan orang lain untuk masuk ke hatimu dan menjadi bagian hidupmu in an intimate way. Lagu ini tentang ketika hubungan tersebut kandas, ketika kita merasa tereksploitasi dan terluka. Ini adalah lagu yang paling berat yang saya tulis. But I’m already over it, semua orang pernah berada di titik itu, haha,” tuntasnya sambil tertawa kecil.

Kimbra3

Alih-alih terdengar seperti album bipolar, The Golden Echo untungnya lebih seperti sebuah cerita yang berkesinambungan di mana seperti hidup, there’s a lot of ups and downs dan Kimbra menyikapinya dengan aksi panggung yang setara, bahkan lebih dari ekspektasi. “Yang saya suka ketika tampil di panggung adalah bagaimana setiap momen terasa berbeda dan tidak bisa kamu ulangi lagi. Dan saya selalu berpikir bagaimana caranya agar penampilan saya tidak hanya menghibur penonton tapi juga diri saya sendiri. Terkadang saya hanya ingin duduk dan menyanyi dengan memejamkan mata, dan di hari lain saya ingin rock out seliar mungkin. It’s about changing the energy every time,” ucap Kimbra yang menyebut Coachella sebagai festival moment favoritnya sejauh ini. “Saya pernah tampil di Coachella sebelumnya bersama Gotye, tapi Coachella kemarin adalah kali pertama saya tampil bersama band saya sendiri dan rasanya luar biasa. Its very iconic music festival, dengan gurun pasir dan matahari terbenam, it was very beautiful,” kenangnya.

Seperti yang mungkin kamu saksikan sendiri di WTF silam, totalitas Kimbra sebagai musisi turut diperkuat oleh elaborate costume yang ia kenakan dalam setiap penampilan live-nya. Dalam penampilan di Coachella kemarin, misalnya, ia mengenakan gaun dengan konsep cermin yang didesain oleh Cassandra Scott-Finn, seorang desainer berlatar sculpture artist dan fine art yang menjadi stylist untuknya. “Orang selalu bertanya apakah saya menjadi orang lain saat berada di atas panggung, tapi saya merasa jika hal itu sebetulnya lebih sebagai exaggeration of the personality, karena saat tampil di depan ribuan orang, kita harus menonjolkan penampilan kita karena kalau saya tampil di panggung dengan baju sehari-hari saya, akan sulit bagi saya untuk memisahkan mana diri saya sebagai seorang entertainer dan diri saya sehari-hari. I love the loudness of my performance, tapi sebetulnya saya sendiri lebih cenderung pendiam, dan lebih memilih obrolan one on one seperti ini. Di akhir hari, ketika saya membersihkan make up dan melepas kostum panggung saya, rasanya menyenangkan untuk menjadi Kimbra yang apa adanya,” ungkapnya.

Namun, baik di atas maupun di luar panggung, Kimbra tak pernah lupa menginjeksikan quirkiness yang segar dalam kesehariannya. Dalam interview ini, ia memakai printed sweater dari label Selandia Baru bernama Stolen Girlfriends Club yang kasual tapi tetap terlihat eye-catching. “I like to dress comfortably yet still able to express myself,” akunya. “Salah satu sahabat baik saya, Natasha Bedingfield, pernah bilang jika terkadang kita berpakaian bukan hanya untuk membuat diri kita sendiri feel good, tapi juga membuat orang lain tersenyum. Jadi ketika kita berjalan ke luar dan terlihat fun, it’s like something that make people smile and bring joy to other person. I like to think fashion being a conversation,” jelasnya.

Meski demikian, ia pun tak mengingkari jika sebagai seorang musisi wanita, there’s a lot of pressure dalam industri ini, terlepas dari maraknya slogan feminisme dalam dunia musik yang kini dilontarkan oleh rekan-rekan musisinya seperti Taylor Swift hingga Beyoncé. “Saya lebih percaya pada equality movement. Saya merasa ‘feminisme’ telah menjadi suatu kata dengan banyak momok dan beban tersendiri yang melekat. Women are now taking back the power, which is good thing, tapi jika itu artinya musik menjadi more and more sexualized, hal itu tak akan mengubah apapun. Pria masih akan memandangmu sebagai sexual object. Yang saya percaya adalah kesetaraan antar gender dan mutual respect di mana baik pria dan wanita bisa bangga terhadap tubuh mereka, atau pria dan wanita bisa duduk di studio dan merekam musik mereka sendiri. I don’t think it’s about war between the sexes, namun saya juga sangat bangga jika kaum perempuan bisa menunjukkan taring mereka, its great thing.”

Kimbra2

Fotografi oleh Andre Wiredja

Stylist: Anindya Devy

After School Rock, An Interview with No Vacation

IMG_0794

Hailed from San Francisco, indie-pop duo No Vacation began as dorm room project between Basil Saleh and Sabrina Mai as a way for the former to fight his personal depression. With influences from different musical backgrounds, they’re making their debut “mixtape” called Amo XO which basically a collection of summer-ish buoyant and hazy pop songs perfectly crafted for lazy summer days. Here’s my interview with Basil about the band.

Amo X

Hi Basil! How are you? Where are you right now and what are you doing before answering this email?

Hi, so nice to hear from you! Right now I am at the cafe right now with my favorite iced coffee. I just finished my last final exams of the semester earlier today. I haven’t got much sleep this week because I’ve been busy studying, so I’m a bit tired, haha. I think Sabrina is helping her girlfriend move out of her suite right now.

So, how was it started? What prompted you to make a band? 

I had found Sabrina’s SoundCloud and fell in love with her singing. Also, we both had history class together, and had mutual friends, so we were already familiar with each other. I remember I used to be really attracted to one of her friends. One day I went to her friend’s bedroom expecting to get some alone time, and to my dismay, Sabrina was already inside playing guitar along to some music on the floor. Now that I knew she had a guitar, I later invited her to jam with me in the laundromat (even though back then, I was pretty bad at guitar), and that’s kinda how the band got started. The two of us writing songs and playing covers down in the dusty laundromat when we had free time after class. The only song we still have from that time is “August”. Some of the other old songs we wrote were pretty good now that I think about it, I might bring them back in some form or another someday for a future No Vacation record.

What’s the story behind the name?

Well, I’m not exactly the most diligent student in the world, and after my first semester of university, my grades were bad enough to get me put on academic probation. I knew that I would have a very busy time ahead of me because I not only had to get my grades up, and become very studious, but also put in a lot of time with the new band. So after we recorded the mixtape and were trying to come up with a name for ourselves, No Vacation seemed pretty spot-on, as a little reference to how busy I was going to be. (Oh, and my grades are fine now by the way!)

You define your sound as Post-Tropical Sadcore, care to elaborate more? And what were the biggest influences for your music?

That description really just started as a joke, I found a bunch of fake genres names on an emo music blog and thought it would be funny to have that as our genre. Somewhat coincidentally, this joke descriptor ended up being really truthful, as a lot of our songs have a sweet sunny melody (hence the post-tropical), along with sad lyrics (the sadcore).

As for music influences, we are all really into bands like The Smiths, Toro y Moi, and Two Door Cinema Club and also local Bay Area indie bands like Surf Club, Leer, and The Bilinda Butchers. Personally speaking I’ve taken a lot of influence from shoegaze bands like My Bloody Valentine, and also electronic music producers like Nujabes.

Is there any particular influences from San Francisco itself that reflected on your music?

Yeah, the scenery and atmosphere here is a huge influence for us, the city is very chilled out and fun, so it inspires us to write our very melodic indie-pop. I think we would sound completely different if we lived elsewhere.

Tell me the story of Amo XO, how’s the creative process and who usually wrote up the lyrics?

Sometime after playing our first show together as just the two of us, I told Sabrina i didn’t want to be in a band together anymore, because I wanted to make really loud and heavier sounding music (having been in mostly punk bands before).  Around this time, I was dealing with a lot of depression. One of my best friends had just moved from SF back to Austin, and I started feeling isolated and alone all the time. I remember spending a lot of Christmas break either locked inside my room, or wandering around taking long walks at night. I was consumed with a lot of negative feelings. I guess calling Sabrina and asking her if she wanted to record some songs with me was my way of reaching out and trying to get help. She was super happy to pick up where we had left off, and we went to her friend’s home studio with a lot of new ideas.

We had each written most of the songs on Amo XO apart from each other by ourselves. So we recorded our individual songs by ourselves, and then once those versions were recorded, I came in and played the other instruments (adding in lead guitar, bass, and synth, and the beats) and did the backing vocals, so most of the songs (with the exception of the two acoustic tracks) ended up sounding completely new and being very collaborative when we were done. I came up with the concept of using samples and outside sounds in the mixtape, so that the mixtape would have more of a story: thematically following the arc of a day, with the intro, interlude, and outro tracks representing early morning, noon, and night.

Near the end of the session, we were still one song short, so I went home and wrote the riff for “Beach Bummer”. Since we usually write our own lyrics and just bounce them off each other, the next day we came up with our individual lyrics together and finished recording.

I still remember us getting the finished mixtape on CD after our final day in the studio and feeling the happiest I’ve ever felt just driving around playing the songs over and over on the car speakers and eating falafels.

Do you remember your first gig? How was it?

Our first gig was really special, we have our keyboardist Nat to thank for that. She got us the gig, through this SF based collective called The Secret Show Society that plans and throws annual hidden shows in different remote locations and only promotes the shows by word of mouth. So it was cool playing our first gig as No Vacation to a big crowd at such a cool event, and we were able to play a really good first show and kind of stun the crowd. The people who had listened to Amo XO already were super shocked with how loud and energetic we were live, and the people who hadn’t heard it yet thought we were some kind of shoegazing punk band.

What’s the most memorable gig so far?

We just played the legendary SF venue Bottom of the Hill, and it was an incredible experience. I was ridiculously nervous because it was the biggest show we’ve played so far and we had just played two awful shows in the weeks before where my guitar broke. This time we were playing in front of a packed venue, with some big music business people in the crowd. But we played our best gig yet and gave all the fans a great show, so that was super relieving!

Also, that night, my all time favourite band, The Bilinda Butchers came out to see us and I got to chat with them after the show, it was so cool meeting my heroes and finding out that they are just like me!

What’s the next plan?

We have grown so fast for being such a young and new band, it’s been such a humbling experience for me. We just want to keep spreading our music and growing our audience, as well as becoming a better band and better musicians. Thanks to Converse, we got to record some new songs in their professional studio with Rubber Tracks SF. We think people will love the new EP we have coming out. No Vacation is no longer just two people, we are a full band with five members now, and the new songs reflect this.  Our new stuff has a lot more energy now but still retains the trademark style that fans of our songs are used to.

I think the next step is for us to find a record label that can help us expand even further. We want to play big festivals like Coachella someday, just like all the bands we love. We also want to tour in Europe and Asia as well because we have a lot of fans outside of the U.S. that we would love to play for.

Last, where’s your dream vacation would be?

I went to a lot of cool places as a kid when my dad took me on his travels. But right now i’m discovering so much just in San Francisco and having so much fun just living my life. But to answer the question, I listen to a lot of Japanese music, so I guess my dream vacation would be to go on tour there with my band and play some gigs there and explore Tokyo. I’d also like to visit both Austin and Boston in the U.S. sometime soon to visit my friends there and see some of the great local bands in those cities.

NoVacation

https://novacationgrrl.bandcamp.com/

Center Nova, An Interview with JKT48’s Jessica Veranda

Ve1

Dalam dunia 48 group, istilah center merujuk pada member yang berada di blocking utama (di tengah barisan paling depan) yang mengemban tugas sebagai center of attention dalam penampilan mereka. Di dalam grup dengan puluhan member, posisi center jelas menjadi the highly coveted position, dan tak sembarang member bisa dipercaya sebagai center. You need charisma, uniqueness, nerve, talent, plus support dari para fans, dan Jessica Veranda memiliki semua faktor itu.

Tergabung dalam generasi pertama JKT48, pada awalnya gadis yang akrab disapa Ve ini adalah sesosok wallflower yang hampir tidak terlihat dibanding member lain yang berada di posisi depan. Namun, sikapnya yang kalem dan cenderung dewasa justru berhasil menarik perhatian banyak fans dan disertai oleh kepercayaan diri yang terus ditempa, ia pun secara perlahan sukses menjadi salah satu member terdepan yang sering kali tampil mewakili JKT48 dalam penampilan mereka di media. Puncaknya adalah ketika mantan aktris dan model cilik ini terpilih menjadi center di single terbaru JKT48 “Refrain Penuh Harapan” yang disadur dari single “Kibouteki Refrain” milik AKB48 dengan perolehan suara 22.404 votes dari para fans dalam ajang sousenkyo tahun ini, mengalahkan semua member lainnya, termasuk Melody yang selama ini hampir selalu menjadi center di JKT48.

“Awalnya sama sekali nggak nyangka, tapi Puji Tuhan bisa terpilih jadi nomor satu. Sebelumnya juga ada semacam rapat strategi dengan fans kan, fans aku bilang ‘Udah Ve duduk diam saja, paling bantuin kita berdoa aja, nanti kita yang kerja’ Aku kaya yang ‘Wah?’ Senang aja sih, walaupun sempat bingung karena rasanya aku jalanin kegiatan di JKT sama aja kaya member yang lain, tapi apa yang membuat aku spesial di mata mereka ya? Tapi bersyukur aja sih,” ujar Ve yang seolah masih belum percaya dengan posisinya saat ini. Mengemban tanggung jawab sebagai center dengan jadwal JKT48 yang kian padat ditambah aktivitasnya sebagai mahasiswi Desain Komunikasi Visual dengan tugas yang melimpah tentu bukan hal yang mudah, namun gadis yang juga dikenal sebagai fashion leader di JKT48 ini mengaku sangat optimis untuk terus membawa nama grupnya ke kalangan yang lebih luas.

Ve2

Hai Ve, selamat ya terpilih jadi center, senang nggak dapat single “Kibouteki Refrain” untuk dibawakan sebagai single sousenkyo tahun ini?

“Senang sih karena itu termasuk lagu AKB48 yang lagi nge-hits juga di Jepang, jadi bisa bawainnya di sini senang juga sih. Lagu ini sebetulnya bercerita dari sudut pandang cowok yang nggak bisa move on sih intinya, haha.”

Sebetulnya bagaimana sih rivalitas di dalam JKT48?

“Bingung juga ya, kalau rival antar tim kaya misal kemarin di konser “JKT48 Ada Banyak Rasa, Pilih Suka Rasa Apa” kan kayanya orang memandangnya antar tim lagi bersaing banget nih memperjuangkan tiket masing-masing show-nya supaya sold out, tapi sebetulnya bukan rival yang secara negatif kok, karena kita lebih fokus ke targetnya karena tim yang duluan sold out bisa dapat album sendiri untuk timnya, jadi kita berjuang untuk tim masing-masing kali ini. Kalau rival antar member mungkin baru terlihat ketika pemilhan-pemilihan seperti sousenkyo, kalender, atau revival show. Tapi intinya rivalitasnya bukan yang negatif, karena kita di sini sama-sama berjuang dan didukung fans juga.”

Tapi di konser kemarin belum ada tim yang berhasil sold out ya?

“Iya, sedih juga sih apalagi setelah tahu kalau Team J sedikit lagi sold out, kurang dari 100 tiket, tapi ya sudah mungkin kita memang harus usaha dan semangat lagi. Sudah dibilangin juga karena kali ini nggak ada yang sold out, nantinya bakal dibikin konser seperti ini lagi, jadi kalau bisa harus tambah fans lagi. JKT48 sekarang bisa dibilang sudah terkenal tapi fans-nya masih ‘fans dalam kandang’ nih, di luar paling masih taunya kalau JKT48 itu yang ramai-ramai, taunya yang lagu ‘Heavy Rotation’ doang, jadi kita harus terus kenalin JKT48 ke masyarakat yang lebih luas lagi.”

Kalau fans di luar Indonesia?

“Sekarang fans yang dari Jepang yang justru ke sini untuk nonton teater atau handshake. Banyak orang Jepang yang awalnya datang sendirian dan pas pulang ke Jepang mereka ajak teman-temannya untuk datang lagi ke Indonesia. Kebanggaan tersendiri juga kalau JKT48 dipercaya sama brand yang ada di Indonesia dan jadi jembatan persahabatan antara Jepang sama Indonesia. Dengan adanya JKT48, orang Jepang jadi melirik dan ingin tahu soal Indonesia juga. Waktu itu aku juga pernah ke Jepang khusus untuk memperkenalkan budaya Indonesia dan ngajarin Bahasa Indonesia ke orang Jepang, mereka jadi penasaran dan akhirnya datang ke Indonesia.”

Bagaimana caramu membagi waktu antara profesi dan akademis?

“Tanpa adanya teman-teman di kampus aku bakal susah survive di kuliah karena terkadang kan harus izin buat kegiatan JKT, nah mereka yang suka ingetin ada tugas atau apa. Kalau dari keluarga sih masih support banget, tapi mungkin karena aku anak cewek satu-satunya, mereka sering kaya kehilangan gitu, karena kalau lagi sibuk banget kan benar-benar nggak ada libur, jadi suka kangen juga. Kalau bagi waktu, dibilang susah pasti susah, apalagi untuk member yang masih sekolah atau kuliah, pas ujian atau banyak tugas terkadang sampai nggak tidur, tapi kan kalau mau sukses sesuatu memang harus ada yang dikorbanin. Kalau di JKT yang dikorbanin adalah waktu, waktu untuk keluarga dan waktu istirahat.”

Kalau personal style kamu di luar JKT48 seperti apa?

“Kalau fashion aku jujur lebih suka vintage sih. Cuma semenjak di JKT jadi jarang pakai fashion yang ‘niat’. Aku maunya kalau di JKT kan pas perform bajunya udah spesial, jadi kalau nggak perform aku mau pakai baju yang simpel aja supaya orang ngeliatnya beda ya Ve yang sehari-hari dengan Ve kalau di JKT. Kalau di kampus aku suka pakai yang boyish, yang agak gombrong sampai sempat disindir teman juga sih kaya ‘Lo kan artis, masa iya dandanannya kaya gini?’ Haha, tapi cuek aja sih.”

Bagi kamu, idol itu apa sih?

“Kalau menurut aku idol itu sosok penyemangat, bisa untuk inspirasi, motivator, karena segala sesuatu yang kita lakukan dilihat banyak orang, Dari situ gimana nih sebagai idol kita bisa kasih dampak positif untuk yang melihat kita. Minimal sih fans kalau melihat kita perform bisa ikut semangat atau dengan sekadar kita kasih kabar di Twitter jadi bikin mereka semangat.”

Lagu AKB48 apa yang ingin kamu bawakan?

“Kalau aku ‘Sakura no Ki ni Narou’, karena aku lebih suka lagu yang mellow dan menceritakan tentang kehidupan. Kan JKT rata-rata lagunya tentang cinta terus, yang tentang kehidupan mungkin baru ‘Yuuhi wo Miteiruka’, ‘River’, sama ‘Kaze wa Fuiteiru’, sisanya tentang cinta.

Apa yang biasanya dilakukan Ve kalau ada waktu luang di luar JKT?

“Tidur! Haha, semua member sering kaya ‘Kak, kita kapan libur nih?’ tapi pas dikasih libur kita kaya bingung sendiri mau ngapain, haha. Tapi kalau libur beberapa hari kalau aku yang pertama pasti dipakai tidur sepuasnya terus yang kedua baru rapihin kamar karena kamar biasanya udah nggak keurus, habis itu paling spending time sama keluarga.”

Target selanjutnya di JKT48?

“Kalau aku sih karena kapten setiap tim udah baru, mudah-mudahan dengan kapten yang baru ini bisa majuin JKT48 lagi seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, pengennya JKT bisa lebih luas lagi kaya sister group kita, kaya kalau AKB48 kan setiap ada sousenkyo ada apa kaya seluruh Jepang ikut heboh, pengennya kita juga bisa kaya gitu.”

Ve3

As published in Nylon Indonesia August 2015

Fotografer: Willie William

Stylist: Patricia Rivai

Atasan dan bawahan oleh Pinx

The F Word: A Dialogue About Feminism and Riot Grrrl

Apa yang kami bicarakan ketika kami berbicara tentang feminisme, riot grrrl, dan basically, bagaimana rasanya menjadi perempuan muda di tengah masyarakat patriarkal.

Ketika mendengar kata-kata seperti “feminis” dan “feminisme”, yang biasanya langsung terbayang bagi mayoritas orang mungkin sosok para wanita pemarah yang membakar bra mereka, anti makeup, dan meneriakkan kebencian mereka terhadap kaum pria serta tatanan sosial konservatif pada umumnya. Stereotipe tersebut baru sebagian kecil dari miskonsepsi yang membayangi gerakan sosial tersebut sejak awal muncul sampai saat ini dan membuat dua kata tersebut seakan menjadi momok bagi banyak orang yang salah kaprah.

Luckily, walaupun berita televisi lokal kita masih dipenuhi oleh politik absurd yang ditujukan bagi kaum wanita (virginity test, anyone?), di sisi yang lebih terang makin banyak orang-orang yang concern terhadap feminisme dan kesetaraan gender. Situs lokal seperti Magdalene dan Bracode misalnya, menawarkan perspektif segar yang tak terbelenggu nilai gender dan budaya tipikal. Sementara munculnya ikon-ikon feminis kontemporer seperti style blogger Tavi Gevinson yang rajin mengulas feminisme di situs miliknya Rookiemag, Lena Dunham lewat serial Girls, hingga Beyoncé yang menyelipkan orasi  “We should all be feminists” dari Chimamanda Ngozi Adichie dalam lagunya “Flawless” turut mengakrabkan isu tersebut ke audiens yang lebih luas. So many young girls are now educating themselves about the issue and proudly says, “I’m a feminist!”

Dalam edisi Beauty NYLON bulan April lalu, secara khusus saya ingin mengangkat soal feminisme lewat obrolan bersama Dyana Savina Hutadjulu dan Lissete Miller, dua wanita muda yang merupakan pelaku aktif dari gerakan feminisme. Nama Dyana Savina yang juga dikenal sebagai Clanirella/Vina sendiri bukan nama yang asing di indie scene Jakarta. Gadis berkacamata tersebut telah malang-melintang sebagai frontwoman dari berbagai band keren seperti Amazing in Bed, Fever To Tell, dan yang terbaru adalah all-girl band bernama WITCHES. Selain saat ini bekerja di sebuah program pembangunan yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dengan cara memperkuat organisasi perempuan dan organisasi yang berkepentingan terhadap isu gender, Vina bersama temannya, Mira Sumanti, adalah dua orang di balik Bracode (http://bracodemag.com/).

Sementara Lissette yang juga dikenal sebagai DJ Afroluna adalah seorang feminis berdarah Afro-Nicaragüense yang tinggal di Washington, D.C. Di samping full time job sebagai cultural worker yang membuatnya sering berpergian ke berbagai negara, gadis berusia 25 tahun yang aktif dalam isu sosial untuk LGBT, women’s rights, immigrant rights, dan racial justice (terutama gerakan #BlackLivesMatters) tersebut juga berpartisipasi di Madre Tierra Collective, sebuah kolektif radical woman of color di Miami yang memilih medium seni dan workshop kreatif untuk menyerukan gender dan social equality. Kedatangannya ke Jakarta kali ini memang untuk urusan pekerjaan, namun di sela waktunya ia tak lupa menelusuri jejak feminisme lokal yang memperkenalkannya kepada Vina. Keduanya pun sepakat untuk duduk di sebuah coffee shop demi menjawab pertanyaan dan sharing soal feminisme di negara masing-masing yang terangkum dalam obrolan berikut.

riot3

About Feminism

So, Vina dan Lissete, boleh cerita awal mula kalian berkenalan dan tertarik pada feminisme?

Dyana Savina: Waktu kecil, ibu saya pernah bilang kalau saya waktu SD malu banget ketika harus memakai miniset. Saya memilih memakai kaus dalam untuk menutupi fakta bahwa payudara sudah mulai tumbuh. Saya ingat dulu di kelas, teman-teman perempuan saya sering diolok-olok karena sudah tumbuh payudara. Sebuah proses bullying yang cukup traumatis, meski saya dulu hanya sebagai bystander. Tetapi, karena peristiwa yang dialami teman saya begitu membekas, maka saya bersikeras melindungi tubuh saya dari ejekan cowok-cowok nakal di kelas saya. Alhasil, memakai kaus gombrong di dalam seragam. Waktu SD tentu belum mengenal paham feminisme. Lanjut SMP, olokan tersebut menjadi sapaan menggelikan yang dianggap pujian, oleh mereka yang menyapa – umumnya pria. Lagi-lagi tubuh perempuan dijadikan objek, dulu sebagai bahan cela sekarang berkembang menjadi ke pujian yang tercela. Sampai akhirnya ketika masuk kuliah jurusan Kriminologi UI, saya mulai berkenalan dan tertarik dengan feminisme. Belajar teori dan pendekatan feminisme membuat saya memahami bahwa olokan dan pujian tentang tubuh perempuan yang saya saksikan dulu merupakan sebuah perilaku yang dinormalisasi sebagai hal yang biasa, hal yang “macho”, atau hal yang bahkan dianggap wajar. Dulu, saya menganggap perilaku ini tidak mengenakkan, mulai dari bangku kuliah perilaku tersebut saya anggap penyerangan bahkan kekerasan.

Lissette Miller: Sebagai anak perempuan di keluarga imigran Nikaragua yang punya privilege untuk pulang ke Nikaragua setahun sekali, saya banyak belajar tentang struggle, tekanan, sekaligus kekuatan yang dimiliki kaum perempuan di sana. Wanita Nikaragua sangat deacachimba atau “badass”. Wanitalah yang berdagang di pasar, menjadi healers, dan mempertahankan adat-istiadat dari generasi sebelumnya. Saya belajar tentang kekuatan seorang wanita dari ibu dan nenek saya, dan feminisme menjadi senjata untuk memperkuat diri saya sekaligus menjadi kacamata bagi saya untuk melihat social justice.

Jadi apa definisi “Feminis” dan “Feminisme” bagi kalian sendiri?

DS: Feminisme buat saya adalah keadilan. Feminis adalah manusia yang percaya akan keadilan. Siapapun bisa menjadi seorang feminis: Perempuan, laki-laki, gay, lesbian, transgender, tua, muda, kakek, nenek, om, tante, dll.

LM: Feminisme yang saya usung adalah “intersectional feminism”, sebuah istilah yang digagas oleh Dr. Kimberlé Crenshaw, yang melihat bagaimana semua sistem sosial (ras, gender, kelas, ability, dan etnik) saling bersinggungan dan tidak semua feminis adalah adalah cis-gendered kulit putih dari kelas menengah dengan fisik sempurna. Sebagai seorang Afro-Latina queer femme dari keluarga imigran menengah ke bawah, saya tidak bisa hanya peduli tentang bagaimana gender saya sebagai seorang wanita memengaruhi hidup saya tanpa memedulikan privilege saya sebagai cis-gendered US citizen, light-skinned Black grrrl dengan fisik yang sehat. Hal itu tidak cuma salah, tapi juga bertentangan dengan nilai yang saya anut sebagai feminis. Sebagai seorang intersectional feminist, saya berusaha memakai privilege yang saya punya untuk mengejar kesetaraan sambil tetap memperjuangkan hak saya sebagai queer Afro-Latina.

Sejauh ini apa project feminisme paling berkesan yang pernah kalian lakukan?

DS: Blog saya, Bracode. Cerita di balik lahirnya Bracode dimulai dari ketertarikan saya dan Mira soal feminisme, budaya, dan seni. Kita pengen banget bikin sebuah ruang ekspresi, dalam hal ini berbentuk blog, di mana blog ini bisa menjadi platform untuk membahas isu-isu perempuan yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan dari soal sepatu hingga seksualitas sampai ke hal musik dan menstruasi. Banyak sekali konteks dan tema kehidupan manusia yang sering dianggap tabu jika dikaitkan dengan perempuan, di Bracode kita berupaya membuka ruang tabu tersebut dengan diskusi dan pendapat kritis yang dikemas dengan menarik. Kami bermimpi besar untuk membawa Bracode menjadi sebuah gerakan kritis yang mempertanyakan perilaku patriarki yang mendiskriminasi perempuan, dengan format yang fun dan mudah dicerna untuk semua orang.

LM: Bersama Madre Tierra, kami membuat direct action trainings, di mana warga bisa belajar dari anggota Earth First! tentang bagaimana cara melakukan protes sipil tanpa kekerasan, menggelar poetry party dan musical performances demi menggalang dana untuk Coalition of Immokalee Workers, dan acara komunitas bersama organisasi Haitian and Afro-American di mana kami merayakan budaya kami melalui musik, tarian, dan seni.

Bagaimana kalian melihat situasi women’s rights di lingkungan kalian masing-masing?

DS: Di lingkungan saya sehari-hari, perempuan masih belum sepenuhnya diberikan ruang adil. Contoh kecil, masih banyak peraturan daerah diskriminatif di banyak daerah di Indonesia yang menyerang tubuh perempuan dan membatasi ruang gerak perempuan. Tantangan feminisme terbesar saat ini adalah ketika mendukung feminisme dianggap membangkang dari konformitas. Dan konformitas itu lebih mengedepankan budaya patriarki. Pelecehan seksual masih terjadi sehari-hari dan tidak seharusnya dianggap “normal”, hal itu bisa datang dari mana saja, bahkan dari orang-orang terdekat di lingkungan kamu. Yang paling berbahaya adalah ketika si pelaku tidak merasa salah, karena dianggap “biasa”. Biasanya, jika saya digoda orang asing di area publik, saya hanya akan memelototi mereka sambil menjauh.

My motto is safety first, with strangers you must be very careful. Tapi dengan orang di lingkungan saya, saya terbiasa untuk menyampaikan keberatan saya dan memberitahu orang itu jika apa yang ia lakukan atau celetukan sexist yang ia lontarkan membuat saya tidak nyaman. Start small, from your closest family to circle of friends. Then hopefully it will pay forward.

LM: Di Amerika, kami sedang berjuang untuk wanita dan siapapun yang terjebak di pusat detensi imigran dan penjara. Kesejahteraan bagi kaum wanita, queer, dan transgender non-kulit putih di pusat imigran dan penjara sangat mengkhawatirkan. Reproductive justice, sebuah gerakan yang dimulai oleh seorang wanita kulit hitam berjuang demi hak untuk memutuskan punya anak atau tidak dan hak untuk merawat anak di lingkungan yang aman dan sehat sangat diperlukan, terutama bagi wanita hamil yang dipenjara dan tak mendapat perawatan yang layak, bahkan ada laporan wanita yang melahirkan di penjara masih dalam keadaan diborgol. Begitu juga klinik aborsi yang gencar ditutup dan para pekerja rumah tangga yang mayoritas adalah wanita imigran juga sering diabaikan haknya. Setiap hari ada tiga wanita yang terbunuh dalam kejahatan yang melibatkan pasangan di Amerika. Misogini dan patriarki masih bertahan kuat bahkan di lingkungan “kekirian” dan progresif. Masih banyak kaum pemerkosa dan misoginis yang masih berlindung di kelompok yang mengklaim berjuang untuk kebebasan, kita yang harus bertanya, kebebasan siapa yang sedang mereka perjuangkan?

About Riot Grrrl

Bagaimana dengan gerakan Riot Grrrl? How do you found it?

DS: Saya pertama kali mengenal gerakan Riot Grrrl di masa kuliah, ketika saya mencari referensi band-band yang digawangi wanita. Saya menemukan band-band seperti Bikini Kill, Bratmobile, Le Tigre, dan saya langsung jatuh cinta dengan Riot Grrrl. I adore their character and sense of empowerment, on stage and at society. Selain Simone De Beauvoir, Kathleen Hanna dan gerakan Riot Grrrl 90-an lah yang memberi sumbangsih penguatan paham feminis saya. Selain memberikan puisi yang kuat soal marjinalisasi dan pengalaman diskriminasi lewat lirik-liriknya, musik yang diciptakan memiliki pesan advokasi yang influential.

LM: Saya tidak ingat kapan pertama kali saya mendengarkan Bikini Kill, mungkin saat SMA, tapi energi, fierceness, dan pesan anti-patriarki yang mereka usung menarik hati saya sejak itu. Saya sudah mendengarkan musik punk dari kecil, tapi setiap saya mendengar vokal wanita berteriak di balik mic, saya sangat excited. I also love the zine and DIY culture of Riot Grrrl, terutama gagasan jika kita tidak harus menjadi bagian dari budaya kapitalis dan mainstream untuk melakukan hal-hal yang kita suka. Kita bisa mempromosikan karya dan prinsip kita sendiri untuk membagi pengetahuan. We can tell our own stories because we tell them best. Saya melihat Riot Grrrl sebagai sisi musikal dan artistik dari feminisme, sebuah gerakan di mana kita bisa menyuarakan rasa frustrasi terhadap patriarki, kapitalisme, heteronormativity dan apapun yang merampas self-determination orang-orang.

N: Tell me some of your favorite women in music.

DS: Saya mengagumi Kathleen Hanna dari Bikini Kill karena ia konsisten mengawinkan seni, budaya, dan feminisme lewat musiknya. Beth Ditto dari The Gossip for staying true to herself, and for being a great poet in her music. Kim Gordon dari Sonic Youth for being the ultimate Alpha-Female. Dan Kartika Jahja dari Tika and The Dissidents, karena ia menjadi salah satu dari sedikit wanita di skena musik Indonesia yang mengadvokasi hak-hak wanita lewat musik. It can be tough for a girl who conforms to its patriarchal cult, but it can be interesting and fun for a girl who stay true to herself.

LM: Kebanyakan musisi yang saya dengarkan adalah wanita. Ana Tijoux, Erykah Badu, M.I.A., Björk, Santigold, Valerie June, low leaf, Ibeyi, dan masih banyak lagi. Saya mencintai musisi wanita karena saya bisa relate terhadap kisah mereka and because their music speaks to my life. Saya bisa membayangkan sulitnya berjuang di dunia musik bagi wanita, namun perjuangan itu juga yang mungkin membuat musik mereka jauh lebih powerful lagi. Saya selalu marah jika mengingat dibutuhkan pengakuan dari kaum pria dan kapitalis untuk menjadi musisi yang sukses dan hidup dari karya mereka sendiri. I am so grateful to the women and grrrls who do their thing and whose music keeps me going.

About Beauty

Bagaimana persepsi kalian tentang beauty standards saat ini?

DS: Beauty standards are constructed by fundamentalists, product developers and mass media.

LM: Saya rasa setiap wanita harus punya pendirian yang kuat dan personal value untuk menghargai diri mereka sendiri. Itu adalah perlindungan kita dari berbagai iklan yang mendoktrin bagaimana seharusnya wanita terlihat dan bagaimana kita harus bersikap, dan apa yang harus kita beli untuk meraihnya.

Siapa beauty icon kalian dan kenapa?

DS: Ultimate beauty icon saya Alexa Chung karena dia effortlessly cool, dan all time fave adalah Audrey Hepburn karena dia super classy.

LM: Frida Kahlo. Terutama bagaimana kecintaannya pada beauty, warna, hidup, dan alegria atau kebahagiaan berasal dari rasa sedih dan penderitaan yang ia alami. Tapi itu juga yang membuatnya menjadi wanita yang kuat. Dia bertahan dari norma gender yang eurocentric tentang bagaimana seorang wanita harus berdandan dan bersikap dengan cara menonjolkan kecantikan alaminya, her facial hair, and her ferocity.

 Apakah kalian punya beauty routine khusus?

DS: Good facial wash, clean teeth, eyeliner and red lippy.

LM: Tidak ada yang membuatmu lebih bersinar dibanding asupan air yang cukup, deep breaths, tertawa, dan berada di lingkungan orang-orang yang bersikap positif padamu. A holistic healthy lifestyle will do wonders to your face.

Terakhir, ada pesan untuk siapa saja yang membaca artikel ini?

DS: Stand true to yourself and always wear a good BRA at all times – BRain and Attitude!

LM: You are so beautiful. I wish I had half the strength and energy that you do. You inspire me daily to keep moving forward, and to work with you to build a better Earth. Thank you.

riot2

Foto oleh: Willie William.

On The Records: HEALS

HEALS

Tercetus dari lingkup pertemanan dengan kesamaan selera musik, pemikiran, dan personality para personelnya, Heals secara resmi memperkenalkan diri lewat single “Void” yang dirilis bulan September tahun lalu. It was an instant hook, terutama bagi siapa saja yang menyukai band-band NuGaze seperti My Vitriol dan Blonde Redhead, walaupun kuintet asal Bandung ini menawarkan alternatif lain untuk mendeskripsikan musik mereka. “Hmm sound yang kami mainkan sekarang sih lebih merepresentasikan musik-musik yang kerap didengar dan dikonsumsi oleh masing masing personel. Ya jadinya begini, kalau boleh kami mau sebut musiknya sebagai ‘Random-gaze, hehe.” So what’s ‘Random-gaze’ anyway? Bayangkan campuran antara alternative rock, new wave, dan shoegaze yang digambarkan lewat aransemen penuh distorsi dan reverb namun catchy di saat yang sama. Trust me, its good.

Halo! Boleh diperkenalkan ada siapa saja di Heals? 

Boleh dong. Nih kenalin Aldead di vokal/gitar, Rara di gitar, Ejasaurus di gitar/vokal, Via di bass/vokal, dan Reza di drum.

Bagaimana ceritanya kalian bisa saling bertemu dan memutuskan buat ngeband bareng?Jadi gini, kami berlima udah berteman lama sekali. Kami seringkali berbincang dan bertukar pikiran tentang kekonyolan, absurditas, candaan, curhat, khususnya musik. Sebelumnya kami tidak terpikir untuk membentuk sebuah band, karena masing-masing personel sudah memiliki band yang digarap. Seiring waktu berjalan, kami merasakan bahwa akan lebih baik jika setiap diskusi (tentang musik) dimediai oleh sesuatu sehingga pada akhir 2013 kami memutuskan untuk membuat proyek dengan format grup band yang dinamakan Heals. Singkat cerita, Heals terbentuk karena pertemanan yang menghabiskan waktu cukup lama dengan adanya kesamaan selera musik, pemikiran, dan personality dari masing-masing personel.

Apa cerita di balik nama band kalian?

Untuk nama “Heals” sendiri kami usung dengan tidak ambil pusing karena kami menginginkan nama yang singkat, padat, dan mudah diingat. Sebelumnya saat kami belum memiliki nama, kami menamakan grup di salah satu aplikasi chat (Line) kami dengan nama “Satanic” lalu saat itu kami sudah mulai bosan dengan anonimitas sehingga diganti dengan nama yang secara spontan keluar dan disepakati yaitu Heals.

Apa atau siapa saja influens bermusik kalian yang paling berpengaruh ke materi Heals saat ini?

Mengenai influence di Heals sih setiap personel punya dan berbeda-beda, seperti influence-nya Aldead yaitu Glassjaw, The Mars Volta. Rara yaitu Silverchair, M83. Eja lebih ke Japanese shoegaze, idol group Jepang dan Indonesia. Via sekarang lagi suka dengar band-band alternative rock, grunge seperti Hole, The Smashing Pumpkins dll. Influence Reza yaitu Soundgarden dan Foo Fighters. Namun perbedaan tersebut tidak jadi masalah bagi kami sehingga untuk influence Heals kami kerucutkan lagi menjadi Amusement Parks On Fire, My Vitriol, The Depreciation Guild, Tokyo Shoegazer, Luminous Orange, Anne, dan lain-lain.

How’s the creative process usually goes? Siapa yang biasanya bikin lirik dan inspirasinya dari mana saja?

Kalau proses perancangan musik sih biasanya kami adakan workshop/briefing yang dilakukan di rumah Aldead, kami semua membuat pattern dan kerangka lagu sesuka hati tetapi di studio dikurasi dan disesuaikan lagi. Untuk lirik dan inspirasi sih datang dari mana aja, seperti single kami yang berjudul “Void” itu inspirasinya datang dari sebuah film yang berjudul Gravity.

Boleh cerita soal single “Void”, what’s the story behind the song?

Oke, kalau “Void” sih sebetulnya nggak punya cerita/plot yang absolut sih, tapi “Void” itu lebih kami implisitkan dengan keadaan di mana seseorang berada di dalam titik jenuh yang paling maksimal. Menggambarkan seseorang dengan kesendirian dan berasa di ruang hampa udara. Nggak ada cerita yang nyata di lagu ini

Bagaimana dengan persiapan album? Apakah berencana rilis EP atau LP?

Persiapan untuk rilis sih sekarang sudah digarap sekitar 57% lah, rencana kami bakalan membuat rilisan di pertengahan tahun ini semoga aja nggak ngaret.

Kalian punya nggak sih sosok yang kalian anggap Local Music Heroes? Musisi lokal yang kalian kagumi atau band lokal yang kalian suka, perhaps?

Menurut kami sosok Local Music Heroes itu adalah setiap sosok yang melakukan upaya demi keberlangsungan industri musik lokal entah itu bandnya, record label, media, dll terlepas dari besar kecilnya pengaruh yang didapat. Jadi menurut kami Local Music Heroes tuh banyak banget. Kalau musisi lokal favorit setiap personel pasti punya.

Aldead: Saya sih band lokal suka banyak ada Jolly Jumper, Kaimsasikun terus Hark It’s Crawling Tar-tar.

Rara: Homogenic sama The Milo.

Eja: saya sih mengagumi Dewi Lestari, kalau untuk band lokalnya suka Friday (Surabaya).

Via: Hmm, The Milo & Boys Are Toys pas saya masih SMP. Mereka cukup menjadi inspirasi saat itu.

Reza: Gugun Blues Shelter, Pure Saturday.

Bagaimana sih kalian ngeliat scene musik di Bandung saat ini?

Aldead: Scene musik di Bandung saat ini sih lagi asik, sedang menggeliat. Gigs lagi rutin, lagi regenerasi pokoknya.

Eja: Lagi banyak bermunculan micro gig yang dikemas secara keren, dari mulai konsepnya, pengisi acaranya, dan apapun yang terlibat dengan micro gig tersebut.

Untuk Via, bagaimana rasanya jadi perempuan sendiri di band?

Rasanya enak diasuh sama 4 orang cowok yang lebih tua dari saya dan selalu dikasih pengetahuan baru. Serasa punya pacar 4, dan karena mereka semua laki-laki, no drama.

Kalau untuk kalian, apa rasanya tampil live di atas panggung? Punya memorable moment selama manggung nggak, so far

Rasanya tampil live di atas “panggung”, hhmmm lebih banyak memperhitungkan sesuatu, terus pasti persiapannya agak berlebihan walau pada akhirnya ke-blunder-an memang suka terjadi. Memorable moment selama perform sejauh ini masih memorable semua karena jumlah performance masih bisa terhitung jari hahaha.

Kalau boleh berandai-andai, what’s your dream gig?

Aldead: Coachella.

Eja: Summersonic Japan.

Ramdhan: Summer Sonic.

Via: Pengen main di gig metal, dan Heals satu-satunya band yang nggak/belum metal hehehe.

Reza: Lollapalooza, Bonnaroo.

Next plan/goal for this year?

Tahun ini beres rilisan pertama kita harus liburan se-band, haha. Jadi intinya ya tahun ini kita harus udah punya rilisan.

https://soundcloud.com/healsmusic

Foto oleh Yogha Prasiddhamukti

Love Actually, An Interview With Velove Vexia

Nylon April

Dengan attitude santai dan easy going, Velove Vexia melangkah tenang dengan temponya sendiri baik dalam karier maupun sisi kehidupan lainnya. Yang jelas, she’s not here for taking your order, she’s here to be herself.

Audrey Hepburn pernah berkata: “The beauty of a woman must be seen from in her eyes, because that is the doorway to her heart, the place where love resides.” Sayangnya, di suatu pagi awal Maret lalu, Velove Vexia masuk ke studio pemotretan dengan ditemani seorang asisten dan mata yang ditutupi sunglasses tebal. Tanpa buang waktu, ia pun langsung duduk di depan meja rias. “Uhm… Jelek,” tukasnya singkat saat ditanya kabarnya hari itu seraya melepas kacamata hitamnya dan membiarkan rambutnya tergerai bebas. Sebuah jawaban yang intimidatif dan kita jelas tahu bagaimana menyebalkannya harus bekerja di pagi hari dengan mood yang kacau. Namun, secepat kata itu terlontar dari mulutnya, senyuman jahil pun menyemburat di wajahnya. “Enggak, it’s just becanda!” serunya dengan mata berbentuk almond yang menyipit jenaka dan memancarkan keramahan sang pemiliknya. As simple as that, kami bisa merasa ini akan menjadi pemotretan yang menyenangkan.

            Nama Velove Vexia jelas bukan nama asing bagi mereka yang memiliki televisi. Mengawali karier akting di layar perak, gadis berdarah Manado-Jawa tersebut dengan cepat dikenal banyak orang berkat paras cantiknya yang terkesan innocent dan aktingnya yang terlihat natural, serta tentu saja namanya yang ear-catching. Saya selalu penasaran arti di balik namanya yang keren dan bertekad jika bisa ngobrol dengannya, pertanyaan pertama saya adalah mengenai namanya. “Aku juga nggak tau sih, there’s must be some meaning tapi aku juga nggak pernah nanya. Cuma kalau nama aku its actually ada ‘a’-nya, jadi bukan ‘Velove’ tapi ‘Vaelove’. Jadi sebetulnya namanya ‘Vaelovexia’ nyambung. Cuma karena orang susah manggilnya, jadi ‘Velove Vexia’. Kalau ‘Vaelove’ sendiri itu dari nama belakang mamaku yang digabungin sama ‘love’ jadi artinya kaya ‘love from the mother’,” jelasnya dengan senyum simpul.

            Menyoal sang mama, aktris kelahiran Jakarta, 13 Maret 1990 tersebut mengungkapkan jika ibunya mungkin orang pertama yang mendorongnya untuk berada di spotlight, bahkan sejak ia masih kecil dan sama sekali tidak berminat untuk hal itu. “Dari kecil my mom obsesinya pengen aku jadi model, artis, atau something like that, cuma aku dulunya tomboy sekali. Aku aja waktu SD itu kalau pakai rok rasanya malu. Karena aku punya kakak dan adik cowok jadi aku juga main sama teman-teman mereka dan kalau pakai rok malah malu takut diejekin. Jadi mama dulu kaya yang nyuruh aku ke sanggar, ikutan dance, ikutan pemilihan Abang None cilik dan aku menang, tapi aku nangis dan cemberut karena sebetulnya itu tuh obsesinya mama. Karena aku juga ogah-ogahan, akhirnya dia stop ngedorong aku. Eh tiba-tiba sekarang malah jadi artis sendiri tanpa dibantuin mama, jadi kayanya emang udah jalannya sih,” kenang putri dari pengacara terkenal O.C. Kaligis tersebut.

Velove1

Dress: Jaquemus @ Escalier, Shoes: Camper.

Ia menyebut karier entertainment-nya sebagai sebuah ketidaksengajaan yang berawal dari sebuah liburan di Bali dan bertemu manajer yang kemudian membukakan jalannya ke showbiz lewat peran utama di sinetron bertajuk Olivia tahun 2007 silam. Dalam sinetron tersebut ia berperan sebagai sang title character, seorang gadis enerjik yang menyamar sebagai cowok demi bergabung dengan klub sepak bola. “Awalnya aku nggak mau main sinetron karena aku juga bukan penonton sinetron, terus akhirnya ketemu satu produser yang tadinya ngomongin film eh tapi ujung-ujungnya ngomongin sinetron. Aku kaya yang ‘Ambil nggak ya?’ Terus temanku ada yang bilang ‘Udah ambil aja, coba’, so I take it for experience,” jelasnya.

Tanpa background akting sama sekali sebelumnya, Velove mengaku sempat clueless saat pertama kali syuting. “Kan kalau syuting they change the angles and everything. I was like, ‘Lho tadi kan udah adegannya? Kenapa diulang-ulang?’ Aku kaya beneran clueless gitu dan aku ingat ada adegan yang ceritanya aku akting kaget, itu menghabiskan 12 kali take karena aku nggak mau kaget yang lebay. Aku sampai argumen dengan sutradaranya karena walau main sinetron, tapi aku nggak mau akting yang lebay gitu. Akhirnya sutradara mengiyakan dan untungnya nggak apa-apa aku akting dengan gaya natural,” paparnya sambil membiarkan wajahnya dirias dengan makeup yang, well, natural. “I learn along the way but still with my style. Director dan produser yang adapt to my kind of acting. I don’t wanna do the ‘lebay’ thing. Karena saat itu rating sinetronnya bagus for almost a year, jadi produsernya okein dan penonton juga suka,” imbuhnya.

Kesuksesan sinetron tersebut pun membuahkan berbagai tawaran menarik lainnya, dari mulai sinetron, FTV, film, bintang video klip, hingga menjadi brand ambassador. Seiring kesuksesan yang ia raih, atensi publik pun mau tak mau mulai mengintainya, termasuk soal kehidupan pribadinya. “Awalnya to be honest its tough for me, karena aku memang nggak suka attention dan segala macem. I’m quite introvert sebetulnya. Dari kecil aku tomboy tapi sering ngabisin waktu di kamar, sampai sekarang pun aku hobinya ya baca buku di kamar. Diliatin orang itu nggak nyaman sebetulnya. Awalnya sih lebih kaya risih diliatin terus, lagi makan diminta foto. Sebetulnya bukan nggak suka sama mereka tapi aku memang nggak nyaman karena bawaannya introvert. Kadang lagi capek pun harus ngeladenin orang untuk interview. Dan waktu mulai akting itu aku masih kecil kan, masih sekolah. Jadi nggak terbiasalah, awalnya shock. Bukannya yang makin tampil atau apa, aku justru malah makin menutup diri, kaya ‘Pak tolong dong saya jangan difoto,’ tapi ya udahlah that’s the risk.”

Velove2

Atasan: Topshop, Rok: DKNY.

Berbeda dengan kebanyakan artis muda yang sedang naik daun lainnya, Velove tak ragu untuk menunda karier yang sedang mekar-mekarnya demi mengejar kehidupan akademis. Setelah vakum selama setengah tahun untuk fokus ujian sekolah, ia sempat bermain dalam satu produksi sinetron lagi sebelum pergi ke Paris untuk kuliah di Catholic Institute of Paris. Setahun di Paris, ia pindah ke Los Angeles untuk kuliah Bisnis Manajemen di Santa Monica College. “I know that one day I want to be a businesswoman,” ucapnya sebelum meneruskan, “Aku memang tertarik sama bisnis. Sebetulnya aku juga suka sih analisa yang berhubungan dengan hukum. Cuma mungkin karena dari kecil udah biasa ngeliat papa jadi lawyer mungkin ada aja rasa ingin coba something else. Dan kayanya aku juga nggak berani deh mesti berantem-berantem sama lawyer lain di persidangan,” tukasnya ketika ditanya kenapa tidak memilih jurusan Hukum seperti ayahnya.

“Senangnya di luar negeri itu karena nggak ada yang kenal, jadi lebih bebas mau ngapain tanpa ada yang ngeliatin, mau makan sendiri pun tenang aja. Kalau di sini kan suka ngerasa ada mata-mata tertuju malah jadi salah tingkah. Terus kaya lagi amburadul aja aku bisa cuek pergi. Kalau di sini, setiap misalnya aku lagi kucel baru bangun tidur terus ke supermarket pasti ada aja ketemu orang dan minta foto terus di-upload ke social media, aku kaya ‘Oh my God!’ ceritanya lagi sambil menyisip air mineral.

Tinggal sendirian di West L.A. membuat Velove belajar untuk hidup mandiri sekaligus menikmati privacy yang jarang ia dapat. Menghabiskan me time di pantai, menyusuri toko-toko vintage, dan road trip menjadi pengalaman yang priceless baginya. The best of it? “Road trip ke San Francisco straight from L.A. Gempor sih!” cetusnya bersemangat. “Ke Vegas juga pernah karena gara-gara ada teman yang punya pesawat sendiri so I don’t need passport, karena waktu itu aku juga belum punya California ID jadi ke mana-mana masih pakai passport. Berangkat sama dia dan keluarganya naik pesawatnya tapi aku baru ingat aku harus pulang ke L.A. karena ada ujian, nah karena nggak bawa passport ya nggak bisa naik pesawat dong, jadi aku naik mobil balik ke L.A. itu capek banget nyetir berapa jam. Itu aneh sih kaya perginya oke deh naik private jet tapi pulangnya nyetir sampai gempor, haha! Tapi seru sih!” ceritanya sambil tertawa lepas.

Tiga tahun di Amerika, bukan berarti namanya tenggelam begitu saja di ranah entertainment Tanah Air. Dalam kurun waktu tersebut Velove sering kali menyempatkan pulang ke Indonesia saat liburan untuk ikut beberapa produksi sinetron dan film, termasuk film Mika yang dirilis tahun 2013. Di film yang disutradarai oleh Lasja Fauzia Susatyo tersebut, Velove tak hanya menjadi pemeran utama yang bersanding dengan Vino G. Bastian tapi juga menjadi executive producer. Kalau pun tidak pulang ke Indonesia, ia akan mengisi harinya dengan mengikuti kelas Thaiboxing atau Bar Method sambil tak lupa mengeksplorasi sisi femininnya. “Aku mulai belajar makeup justru pas di Amerika. Kalau ada waktu luang, kadang abis kelas aku suka pergi sendiri ke Sephora, mainan makeup terus belajar sendiri dari YouTube,” ucap Velove yang menyebut Grace Kelly sebagai beauty icon-nya.

Velove3

Atasan dan rok: Balenciaga

Bicara tentang beauty, kecantikan Velove dan personality-nya yang classy yet approachable membuatnya dipercaya sebagai brand ambassador Maybelline yang berpusat di New York. “It’s a long journey,” ujarnya tentang hal tersebut, “Karena dari  L’Oréal (induk company Maybelline) sendiri kalau milih brand ambassador kan harus disetujui sama tim New York juga dan banyak banget saingannya. They always keep on looking karena kan untuk long term juga, jadinya lama prosesnya hampir setengah tahun.” Perannya sebagai brand ambassador Maybelline tak sebatas menjadi wajah di berbagai ad campaign label tersebut, tapi juga terlibat dalam berbagai aktivasi seru. “Banyak banget, kaya kemarin sempat ada Maybelline Goes To School, aku dan Ryan (Ogilvy) keliling ke beberapa sekolah and I mean it’s not something yang biasa aku lakukan. Kaya ke sekolah ketemu anak-anak sharing beauty tips dan interaksi sama mereka langsung, kapan lagi kan? Sekolahnya juga bukan di Jakarta aja, sekolah yang di daerah juga kita datengin. Beda banget kan anak Jakarta sama anak yang di daerah, mereka lebih polos dan banyak yang nggak bisa dandan tapi mereka sangat antusias dan nggak jaim. It was fun!” pungkasnya, excited.

So what’s her beauty secret, anyway? “Aku sih nggak ribet, sumpah… Aku sih yang penting rajin bersihin muka. Menurutku ritual utama itu fokus di kulit karena kalau kulit kamu bagus, ya udah it’s just stunning. Kalau kulitnya kotor mau di-makeup kaya gimana juga susah jadi aku benar-benar ngerawatnya kulit banget. Sebetulnya nggak ada perawatan khusus, cuma cuci muka itu harus rajin banget. Kalau pakai makeup langsung hapus, jangan dibiarin seharian,” ungkap Velove sebelum kemudian mendefinisikan arti beauty untuknya secara personal: “Beauty is something yang bisa diapresiasikan oleh orang. Jadi, beauty is very subjective, it depends on the people. Tergantung dari kamu melihat beauty itu seperti apa. Tapi beauty menurut aku harus inside and out. It’s a must, kamu nggak bisa cantik di dalam doang tapi luarnya nggak ditata dengan bagus. Atau luarnya cantik tapi dalamnya nggak.”

Lucky for her, she’s indeed not just a pretty face. Terlepas dari persona celebrity yang melekat padanya, ia ternyata seorang avid reader yang lebih memilih menghabiskan waktu untuk membaca buku di kamar dibanding hang out di mall. “Karena dari kecil papa biasain aku untuk baca. Waktu kecil every weekend, anak-anaknya dibawa ke toko buku untuk beli buku dan harus di-review. Akhirnya jadi kebiasaan beli buku. Waktu kecll aku sukanya baca Detektif Conan sama Shin-chan, that’s my favorite comic. Mulai bosan baca komik, aku mulai baca buku-bukunya papa, dan dulu dia suka novel Sidney Sheldon. Kalau sekarang aku lebih suka non-fiction kaya bisnis dan psikologi, cuma kalau novel gitu aku suka banget Paulo Coelho. Aku suka karena novelnya ada makna hidupnya, there’s something deeper, makanya aku suka baca,” ungkapnya. Hebatnya lagi, saat ini pun ia tak hanya sekadar menjadi pembaca buku, she’s also in the middle of writing her own book yang rencananya akan rampung pertengahan tahun ini. “It’s a non-fiction book but I won’t tell you more. Nanti aja pas keluar. It’s about women in general,” bocornya singkat.

            Menulis buku merupakan salah satu bucket list yang siap dicoretnya untuk tahun ini. Kebetulan, hari pemotretan dengan NYLON jatuh tepat satu hari sebelum ulangtahunnya yang ke-25. “Iya! Makanya sebetulnya hari ini tadinya nggak mau kerja, haha,” ujarnya saat disinggung hal itu. Well, 25 tahun biasanya identik dengan quarter life crisis dan segala kegelisahan menghadapi berbagai tuntutan, baik dari lingkungan maupun diri sendiri. It’s a turning point for most people, tak terkecuali bagi seorang Velove Vexia sekalipun. “Rasanya galau. Bukannya tentang mau kawin atau apa, tapi lebih ke what I want to do and what I want achieve. I think I need to travel more, aku harus lebih produktif, dan kaya gitu lah ada resolusi-resolusinya. Age is more than a number, aku juga pengen lebih healthy karena by the time I’m 25 which is tomorrow, metabolisme aku pasti menurun dan emang harus rajin olahraga dan lebih sehat.”

            Walaupun namanya dibesarkan oleh dunia entertainment, Velove tak pernah merasa harus aji mumpung mengambil semua tawaran yang datang. Ia memilih menjalani kariernya with her own pace, pun di usianya saat ini dengan gelar akademis yang sudah ia genggam. Untuk ukuran artis yang sepopuler dirinya, Velove pun sebetulnya baru dua kali bermain film layar lebar. Satu hal yang disebabkan oleh jadwal yang seringkali bentrok. Apakah untuk ke depannya ia masih berminat bermain film? “Masih dong, aku masih pengen main film tapi yang ceritanya lebih unik kali ya. Kalau ceritanya cuma drama doang aku malas karena menurutku nggak ada bedanya sama sinetron, mending aku syuting sinetron. Dan dari awal juga aku masuknya dari sinetron dan lebih dikenal di sinetron. Jadi kalau main film pun aku mau yang di luar karakter aku yang ceritanya lebih unik,” jawabnya tegas. Peran apa yang ia inginkan? “Pengen jadi Lara Croft. Aku suka film action dan karakter cewek yang tough. Menurut aku Angelina Jolie as Lara Croft itu keren sekali karena actually kan Angelina Jolie pernah ditawarin main film James Bond as a Bond girl cuma dia nolak dan dia bilang ‘I want to be the James Bond’ akhirnya dapetlah dia Lara Croft yang nggak kalah keren dari James Bond,” ceritanya dengan antusiasme yang terpancar dari wajahnya.

            Selain Angelina Jolie, ia juga mengidolakan sosok Ron Howard yang dikenal sebagai sutradara A Beautiful Mind dan The Da Vinci Code. Dengan bersemangat, Velove pun menceritakan sebuah kejadian unik saat ia tanpa sengaja duduk di sebelah Ron Howard di dalam pesawat on the way dari L.A. ke New York. “Aku sebetulnya pergi sama teman aku, cewek, tapi kita berdua maunya duduk di window, jadi kita nggak bisa duduk bareng. Kita duduk paling depan terus ada cowok duduk di sebelah teman aku super ganteng tipe cowok Wallstreet guy, sedangkan yang duduk di sebelah aku kaya kakek-kakek brewokan belum mandi, bawa ransel dan buka laptop, haha. Aduh, udah sok-sok tidur tapi diajak ngobrol basa-basi, ternyata aku satu sekolah sama anaknya dia di L.A. Terus dia tiba-tiba nanya aku, ‘Are you an actress?’ tapi aku bilang aja bukan soalnya dibilang aktris di Indonesia pun malas jelasinnya, karena banyak yang nggak ngerti juga Indonesia itu di mana. Terus dia bilang ‘You could be an actress,’ terus abis itu aku nanya, ‘How about you? Are you a blogger?’ Haha! Sumpah aku nanya ke Ron Howard ‘Lo blogger?’ terus dia jawab, ‘No I’m actually a writer and scriptwriter, and I’m also producer and director. Do you know Da Vinci Code?’ Terus aku yang ‘Yes! Oh my God! I love it!’ dan baru sadar kalau dia Ron Howard. Terus dia bilang aku bisa jadi aktris tapi harus ikut acting school karena di New York kan ketat persaingannya. Aku dikasih contact number-nya dan diundang ke premiere filmnya yang The Dilemma,” kenang Velove yang juga sempat ditawari menjadi penyanyi oleh produser American Idol yang ditemuinya secara tak sengaja saat sedang berbelanja. Sekali lagi membuktikan jika ia punya daya magnetis tersendiri dari dirinya yang membuat orang akan mudah berpaling ke arahnya, sebagaimanapun ia berusaha untuk tidak menarik perhatian. Kedua tawaran tersebut ditolaknya karena saat itu ia memang ingin fokus menyelesaikan kuliahnya.

I have two sides. Ada satu sisi yang aku perfeksionis idealis dan ada satu sisi lagi aku yang enjoying life. Jadi kalau lagi kerja ya kerja banget, tapi kalau santai ya bisa santai banget, nggak mau even pergi ke mall. I hate malls. Daripada ke mall mending aku di kamar baca buku, I get something for my thoughts atau traveling sendirian. Aku suka living in my own world,” ungkapnya.

Faktanya, selain membaca buku, traveling memang menjadi salah satu kegiatan favoritnya yang sering ia lakukan. Passport bahkan menjadi salah satu benda yang wajib selalu ada di tasnya. “Kadang biasanya abis dari kerjaan aku langsung ke airport jadi itu kenapa passport harus ada di tas aku dibanding aku tinggal di rumah. Karena sometimes aku suka random tiba-tiba ingin pergi. Paling sering sih Singapore, kadang pulang-pergi. My dad juga gitu sih, pernah beberapa kali aku diajak papa ke London and I have no idea jadi aku nggak bawa apa-apa, cuma paspor. Belanja bajunya di sana. Mungkin kebawa papa juga sih,” ungkapnya sambil menceritakan jika ia memang seringkali pergi bersama sang ayah, termasuk menonton World Cup di Brazil. “Yang paling berkesan di Meksiko. I think the best moment in my life itu, aku ke Cabo, Meksiko, di sana aku naik ATV ke gunung kaktus dan pas sunset kita tepat di atas gunung dan pas turun, langsung sampai di pantai yang nggak ada orangnya, kaya virgin beach gitu dan pas sunset itu kereeen banget, sumpah…” kenangnya dengan senyuman lebar dan mata yang berbinar, membuat siapapun yang mendengarnya seakan ikut menyaksikan langsung pemandangan tersebut.

Di usia yang saat ini telah menginjak 25 tahun, dengan steady career, recognition, dan support dari orang-orang terdekatnya, apalagi yang ingin dikejar olehnya? “Actually on the entertainment side, I’m quite satisfied. Sekarang yang belum malah yang di luar dunia hiburan, itu yang aku rasa pengen coba lebih banyak hal lagi. Kalau entertainment juga bukan main objective aku sebetulnya. Aku lebih sering nolak kerjaan sampai manajer aku kaya suka ngomel. Karena memang nggak pernah niat jadi artis, jadi aku lebih santai. Minat aku pengen jadi wanita karier tapi bukan di dunia hiburan, passion aku di bisnis,” tegas Velove tentang arah karier yang ingin ia jalani seterusnya.

Ketika pemotretan akhirnya rampung, jarum jam sudah menunjuk pukul tiga sore dan langit di luar yang mulai mendung. Tak ingin menahan the soon to be birthday girl lebih lama lagi, saya pun melayangkan pertanyaan terakhir untuknya, what’s next from her?Just wait and see!” ucapnya sambil membereskan barang bawaannya. “It will be surprise, dan pasti ada something different, I’ll keep you posted!” pungkasnya sebelum pamit dan mengucapkan terima kasih kepada semua orang di studio. Cantik, cerdas, dan berkarisma, well maybe she’s born with it.

Velove4

Atasan & rok: Burberry.

As published in NYLON Indonesia April 2015

Fotografer: Hilarius Jason

Stylist: Anindya Devy & Patricia Annash

Makeup Artist: Ryan Ogilvy

Hair Stylist: Jeffry Welly

This Charming Mac, An Interview With Mac DeMarco

macdemarco1

Di balik segala mitos yang menyelimuti dirinya, Mac DeMarco is indeed a cool guy.

Saat pertama kali mendengar kabar Mac DeMarco akan konser di Jakarta, saya langsung membayangkan sebuah konser kecil yang liar, penuh asap rokok, bau bir, dan anak-anak mabuk yang entah terlalu “tinggi” untuk sekadar menggoyangkan kepala, atau justru terlalu excited sampai tak berhenti moshing. Maksud saya, kita sedang berbicara tentang Mac-fucking-DeMarco, seorang singer-songwriter berumur 24 tahun asal Kanada yang dikenal karena aksi liarnya di atas stage. Saya telah membaca banyak hal tentang dirinya yang rata-rata menggambarkan dirinya sebagai musisi slengean yang senantiasa teler di atas panggung, meneriakkan kata-kata cabul, dan weird shits lainnya. Sebuah video live show yang menampilkan dirinya telanjang dan mabuk di atas panggung menyanyikan “Beautiful Day” milik U2 bahkan masih ada di YouTube sampai sekarang. That’s why saya merasa agak cemas saat akan mewawancarai dirinya, satu hari sebelum penampilan perdananya di Jakarta, tanggal 22 Januari lalu. Saya was-was dia akan interview dalam keadaan teler, ditambah jet lag dan kurang tidur dalam tur Asianya dan mungkin melempar botol ke kepala saya, or worse, calling me names.
Saat saya tiba di Kosenda Hotel tempatnya menginap, Mac terlihat asik mengobrol sambil meminum Bir Bintang dingin. Ia memakai kaos Polo berwarna hijau polos yang dimasukkan dalam jeans bapak-bapak dan memakai beanie abu-abu. Wajahnya seperti anak remaja yang tiba-tiba tumbuh besar dalam waktu semalam, dan dia memiliki kecenderungan untuk menyeringai dibanding tersenyum. Sama sekali tak mencerminkan seorang bintang indie rock yang dipuja-puja Pitchfork dan semua publikasi musik influential lainnya.

macdemarco6
There’s nothing hip about him, visually. Kecuali kalau kamu mau menyebutnya dengan istilah normcore, walaupun saya yakin Mac tak akan peduli akan istilah apapun yang dilekatkan padanya. Sama seperti ia tak ambil pusing dengan genre musik yang ia buat. Slacker rock, blue wave, jangle pop, off-kilter pop dipakai untuk mendeskripsikan musik indie rock beratmosfer lo-fi yang ia buat, walau ia lebih suka menyebut musiknya sendiri sebagai “jizz jazz”, hasil dari mendengarkan musik jazz (terutama Steely Dan) sambil menonton situs porno Youjizz.com. Di zaman yang mementingkan style over substance, pria bernama lengkap Macbriare Samuel Lanyon DeMarco ini terlihat menyolok dengan carefree attitude and basically, not giving a single fuck untuk terlihat seperti orang udik.
Strangely enough, di balik segala kecuekannya, ada kehangatan dan sensibilitas emosi tak terbantahkan dalam musik yang ia buat dan lirik genial tentang hal-hal banal dalam hidup yang terangkum dalam 3 album yang telah ia rilis dan mengantarnya tur sampai ke Asia. “Dibandingkan dengan tempat asal saya, yeah banyak hal tidak biasa yang saya lihat. Kami ada di Vietnam kemarin, jadi kami sudah agak terbiasa dengan hal-hal aneh, contohnya sepeda motor. Everybody is on the fucking motorbikes. It’s crazy, but it’s cool tho, I like it,” cetus Mac sambil nyengir dan memamerkan gap tooth miliknya.
Dua minggu lebih sudah ia mengadakan tur Asia, bertemu dengan para local kids dan mencoba makanan eksotis, termasuk gurita hidup di Korea (“It’s fucked up, man,” ujarnya sambil terkekeh.) Jakarta beruntung menjadi tempat persinggahan sebelum ia bertolak ke Singapura untuk Laneway Festival dua hari kemudian. “Biasanya kami tidak punya banyak waktu. Kami datang, tampil, dan pergi lagi. Tapi kami beruntung karena berada di level bekerja dengan promotor kecil yang membawa kami ke suatu tempat yang keren. Saya lebih suka diajak ke tempat hangout local kids dibanding seperti ‘Oh look at that temple’, temple is cool but I prefer to keep it real, but I’m usually just up for whatever.”
Sampai detik ini saya bisa bernapas lega karena Mac dalam kehidupan nyata ternyata sangat ramah (dan completely sober). Namun bagaimana dengan segala rumor atas live show yang liar? “Kami hanya mencoba menjaganya tetap fun. If the kids getting crazy, then we start getting crazy. Terkadang ada saja orang yang mendorong saya berbuat gila seperti ‘Yeah, go ahead Mac, put that drum stick in your ass,’ hanya karena saya pernah melakukannya sekali,” ungkapnya sambil meneguk birnya. Apakah ia masih merasa nervous saat akan tampil di panggung? “Tergantung banyak hal. Jika kami tidak tampil untuk sementara waktu, kami akan agak nervous, jika kami tampil di panggung yang besar, atau melihat teman-teman kami di antara penonton juga bisa bikin nervous, tapi most of time I’m just ready to go,” jawabnya.
Bicara soal big stage, Mac sebetulnya telah punya cukup banyak pengalaman tampil di arena gigs sebagai aksi pembuka dalam tur Phoenix. “Secara keseluruhan saya lebih suka gigs kecil tapi festival juga bisa fun, I mean gig kecil bisa jadi aneh karena orang-orang akan berdiri sangat dekat dan mengatakan hal-hal konyol dan saya seperti ‘shut the fuck up’, tapi kalau dapat crowd yang asik, maka show-nya akan sangat menyenangkan. Di festival tidak bisa seperti itu, karena penonton berjarak 30 kaki dari panggung dan saya tampil sambil melihat belakang kepala para bouncer, haha.”

macdemarco4
Tur Asianya kali ini termasuk dalam rangka mempromosikan Salad Days, album ketiganya yang dirilis tahun lalu dan kelanjutan dari album Rock and Roll Night Club (2012) dan 2 (2012) yang mendapat respons positif dan bisa dibilang albumnya yang paling dewasa, dalam arti tertentu. Kedewasaan itu terdengar dalam single utama “Chamber of Reflection” yang mengambil melodi dari lagu synth track obscure milik komposer Jepang bernama Shigeo Sekito yang berjudul “The Word II” dan dipadukan dengan lirik tentang ritual inisiasi Freemason, di mana calon anggota harus berdiam di sebuah ruangan, memikirkan hidup yang telah mereka jalani sebelumnya dan keluar sebagai orang yang terlahir baru tanpa beban apapun. “Saya membaca tentang hal itu dan menyadari jika itu yang saya lakukan saat membuat Salad Days. Saya mengunci diri dalam kamar selama hampir sebulan untuk album ini dan I’m totally happy for it, saya tidak punya ekspektasi terlalu tinggi untuk album ini. Saya hanya lega bisa mengeluarkan album lagi, saya puas dengan hasilnya dan orang-orang menyukainya, dan saya siap untuk membuat album lagi,” ungkapnya sambil mengimbuhkan jika ia telah merekam beberapa lagu namun belum punya rencana kapan akan merilis album lagi.
So what’s his next plan? “Yang pasti saya ingin membuat album lagi, keep recording maybe… I dunno, that’s a good question. Saya belum benar-benar memikirkan apa yang ingin saya lakukan tahun ini. Mungkin saya harus melakukan sesuatu yang baru dan berbeda, I still need to figure it out,” tuntasnya sambil tersenyum lebar seperti seorang kawan lama, or basically a nice guy to hang out with, dengan atau tanpa bir.

InstagramCapture_ed637540-a9af-409d-af0f-0017aec6082aFoto panggung oleh Andandika Surasetja.

Thanks to Studiorama & Prasvana for this interview.