#30DaysofArt 29/30: Wastana Haikal

“Nama lengkapku Haikal, tapi aku coba tambahkan unofficial name di depan, yaitu Wastana (‘wasta’ di dalam Bahasa Sunda artinya ‘nama’, wastana = namanya). Why I chose this name because everytime I introduce my name, everybody always asking me my full name,” ungkap freelance graphic desainer kelahiran Bandung, 12 Juni 1994 yang baru saja lulus dari DKV ITB ini. Terinfluens dari kartun masa kecil seperti film-film Disney’s serta serial animasi Avatar: The Last Airbender, ia mengembangkan gaya ilustrasi yang terkesan quirky, vibrant, dan penuh detail. Maka tak heran jika ia pun menaruh minat khusus pada animasi. Proyek akhir kuliahnya berupa film animasi pendek 2D bertajuk Biwar yang berdasarkan folklore Papua adalah bukti dari talentanya yang menjanjikan.

haikal

Kapan dan siapa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Specifically,aku lupa. Tapi, keluarga aku dari ibu dan ayah memang banyak yang tertarik terhadap seni dan estetis. Kakek aku, dua-duanya senang menggambar, tanteku tertarik dunia fashion, tante aku yang lain tertarik di bidang kerajinan, ibuku senang terhadap nilai estetis dalam berpakaian atau hiasan rumah. Jadi mungkin secara alami alam memperkenalkanku terhadap seni. Tapi untuk yang secara formal itu sepertinya terjadi waktu SD, jadi aku masuk ekstrakulikuler gambar, nah di situ gurunya adalah guru kelas keterampilan. Beliau adalah orang kedua yang sering melibatkan aku di dalam lomba gambar setelah ibuku.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Satu, tanggung jawab sebagai lulusan sekolah desain yang menurut aku emang harus selalu berkarya. Dua, mata pencaharian, haha. Tapi pada dasarnya aku senang banget buat sesuatu.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Emte, NALU, Diana Volonskaya, Kelly Beeman, Ariel Victor, Zaruhi Galstyan, Rebecca Green, Oliver Jeffers, Rachel Ajeng, Alina Chau, Maruti Bitamin, and many more.

biwar

Bagaimana kamu menemukan medium favoritmu?

Saat masuk kuliah, aku diperkenalkan dengan cat air oleh dosen gambar bentuk. Sebelum itu aku sudah tau apa itu cat air tapi belum pernah menggunakannya, lebih sering menggunakan pensil warna yang bisa di-blend menggunakan air. Nah, saat aku coba cat air, aku seneng banget. The after effect was mesmerized me. Stroke-nya sama hasil “beauty mess” yang ia hasilkan. Akhirnya mulai dari situ aku pakai cat air terus untuk membuat karya-karya manual. Pada satu waktu aku akhirnya beli pen tablet karena aku ingin mengasah skill digital drawing (cat air masih tetap berjalan). Intinya, sampai sekarang aku masih menjalankan manual dan digital karena aku merasakan ada keindahan tersendiri dari mereka berdua, dan terkadang mereka memiliki misi yang berbeda, dalam artian ada beberapa konsep karya yang aku rasa lebih cocok pakai manual, atau lebih cocok pakai digital sehingga aku menetapkan untuk mempertahankan itu.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Festive, vibrant, cheerfull, quirky, immature, detail, exaggerate.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama aku, kata ibuku adalah ikan lumba-lumba di lantai rumah pada saat umur 3 tahun. Dan semenjak itu aku terus menggambar sampai detik ini. Kalau official pameran aku yang pertama pas ada di tingkat 1 kuliah. Pameran tugas akhir tahun 1 untuk penentuan program studi di tingkat 2. Seperti mahasiswa yang lain, aku menampilkan tugas-tugas tingkat 1 seperti Nirmana, gambar bentuk, gambar konstruksi, dan lain-lain. I was so excited that time bukan karena pamerannya tapi karena persiapannya yang benar-benar mengerahkan 200+ orang satu angkatan untuk membuat pameran itu. Kami menginap di kampus, men-display, dan lain-lain.

untitled

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Berkesempatan meluncurkan buku ilustrasi anak pertama aku awal tahun 2016 di bawah asosiasi Room To Read dan PROVISI dan menyumbangkannya hampir ke seluruh perpustakaan terpencil di Indonesia bersama buku-buku dari ilustrator lain. Satu lagi, ini agak fanboyish tapi, I was so happy salah satu karya aku tentang Meghan Trainor mendapat apresiasi dari Meghan Trainor dan dia me-repost itu.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Aku bisa mendapatkan unlimited referensi. Like really. Unlimited. Jadi aku bisa tau orang-orang skill-nya udah sampai mana, media apa saja yang dipakai, tutorial, dan lainnya yang menyangkut kemakmuran skill kita. Dan kalau beruntung kita bisa personal message ke artist yang kita tuju dan menjadi teman di dunia maya. Tapi terkadang aku bakal mudah putus asa. So many talented people on internet. Dan nggak jarang karya mereka keren mampus. Dan kadang aku suka jadi down, putus asa, dan bahkan bisa sampai berhenti berkarya. Padahal mungkin aku harus sabar sedikit, siapa tau aku sedang on the way ke sana with more practice and intergrity atau aku memang nggak bisa kaya yang lain karena memang itu keunikan aku dan gimana caranya keunikan aku itu jadi nilai tambah.

guys

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Kalau untuk Bandung sendiri, aku udah mulai senang karena sudah mulai didandani di sana-sini. Nuhun Kang Emil. Sebagian orang bilang beliau hanya menata kota namun tidak membenahi kota. Well, I think dia membenahi kota juga. Kota itu di dalamnya ada manusia, dan manusia butuh hiburan dan sesuatu yang eye pleasing dan Ridwan Kamil udah bikin itu dan menjadi contoh untuk kota- kota lain. Walaupun Bandung sekarang macetnya udah mampus. But anyway, I like his programs and progress. Orang-orang di Bandung, contohnya saja di ITB sudah mulai menyadari berapa besar nilai seni dan desain di berbagai aspek kehidupan. Dalam bikin acara, brand dan lain-lain. Bahkan ada kabar, karena ITB sedang mengejar sebuah akreditasi, mereka mengajak teman saya untuk membuat mural di setiap fakultas. And it’s such an old song, every time I graduate from school, the school gets more beauty. Tapi ya gitu, sebagian besar orang masih kurang concern terhadap nasib dompet para desainer dan seniman. Hiks.

Current obsession?

I really want to go to America no matter what the purpose is. I want to live there, one week is enough. I want to be one of the animator, or illustrator, or intern in Walt Disney’s movie production.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di kamar aku, duduk di depan laptop. Aku nggak terlalu banyak main keluar pas weekend, karena jarak rumah aku jauh dari pusat kota, bisa 2 jam. Jadi keluar rumah kalau ada occasion aja. Paling aku keluar ke Miko Mall, nearest mall that provides duniawi amusement from my house kaya bioskop, KFC, McD dan lain-lain. Paling jauh ya sekitaran Kota Bandung, terutama Dago. Biasanya aku kumpul sama teman sambil ngobrol atau ngerjain kerjaan.

baroque-2

Project saat ini?

Aku baru menyelesaikan proyek animasi dari J&T Express semacam pengantar paket yang digunakan untuk pelatihan para kurir. Aku juga baru menyelesaikan proyek buku cerita seri tentang pertumbuhan seorang cewek, aku dapat bagian cerita saat dia menemukan kesempurnaan dirinya. Selanjutnya aku bakal ikutan workshop ilustrasi bersama Room To Read dan PROVISI dengan penerbit-penerbit yang dari workshop tersebut akan dibikin buku cerita anak dan dibagikan ke perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Lalu aku lagi merencanakan bikin studio animasi bareng partner aku.

Target sebelum usia 30?

Menaikkan haji orang tua, memiliki kendaraan pribadi, lulus S2, menjadi desainer yang memiliki pribadi yang baik, terlibat dalam produksi animasi baik luar atau dalam negeri, have 10k followers on Instagram.

jovi

Advertisements

#30DaysofArt 28/30: Theo Frids Hutabarat

Melewati masa kecil di Bekasi yang menurutnya jauh dari paparan dunia seni, satu-satunya akses bagi seniman kelahiran Jakarta, 6 Februari 1987 ini pada dunia seni rupa adalah melihat gambar di buku. “Waktu SMP saya pertama kali melihat buku tentang Vincent van Gogh di sebuah toko buku. Karena saya tidak sanggup beli buku itu, jadi saya pelototi isi buku tersebut agar semua terekam di dalam kepala. Dari buku itu juga saya tahu saudara laki-laki Vincent namanya sama dengan saya, Theo. Sejak saat itu saya berpikir mungkin ini pertanda, haha,” kenang peraih magister FSRD ITB yang saat ini juga berprofesi sebagai guru seni rupa di sebuah sekolah swasta di Bandung. Selama masa studinya, ia menemukan minat pada persoalan di sekitar proses penciptaan karya lukis yang kemudian diwujudkan dalam karya-karya lukisan yang menampilkan seorang pelukis yang sedang men-trace karya-karya pelukis lain melalui bantuan proyeksi, sebuah insepsi menarik yang menyoal referensi dan originalitas dalam dunia yang ia geluti

theo-frids-hutabarat

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak kecil saya suka menggambar, tapi gambar saya saat itu banyak dipengaruhi komik-komik Jepang, khususnya Dragon Ball dan Offside. Orang tua selalu mendukung saya, tapi secara khusus saya ingat momen di mana almarhumah Nenek memarahi ibu saya karena sempat melarang saya kotor-kotoran saat membuat karya. Berkat kejadian itu saya seperti mendapat license untuk berkreasi sebebas-bebasnya, haha. Saya juga ingat guru seni rupa saya di SMP, Pak Aji Sumakno, yang mengenalkan saya pada cat air dan memamerkan hasil karya saya di sekolah. Waktu itu rasanya bangga sekali bisa memamerkan karya ke teman-teman di sekolah.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Menurut saya, karya seni mestinya bisa menyediakan jeda dalam hidup yang makin cepat dan sibuk ini, untuk menyadari hal-hal yang terlewat dan tidak sempat terpikirkan.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Francis Bacon, Egon Schiele, Paul Cezanne, dan tentu saja Vincent van Gogh.

the-labor-oil-on-canvas-200x150-cm-2014

Bagaimana kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sejak masuk Studio Seni Lukis FSRD-ITB, saya menghabiskan banyak waktu di dalam studio dan melakukan eksperimentasi dalam melukis. Menjelang tugas akhir, saya menyadari potensi dari proyektor dalam membantu membuat lukisan, misalnya untuk memperbesar gambar agar bisa di-trace ke atas kanvas. Dari situ saya mulai menggunakan proyeksi dalam karya saya.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya tertarik pada persoalan di sekitar penciptaan seni lukis. Kanvas, sketsa, ide, referensi, dan originalitas adalah beberapa kata kunci dalam kekaryaan saya. Lukisan-lukisan saya sering menggambarkan pelukis yang sedang men-trace karya-karya pelukis lain melalui bantuan proyeksi. Karena karya saya seperti ini, sampai-sampai seorang teman mengatakan kalau saya tidak pernah punya lukisan dengan trademark saya sendiri, haha.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran karya cat air saya waktu SMP. Sampai hari ini karya tersebut masih dipajang di rumah. Kalau pameran ‘serius’ pertama, tidak lama setelah sidang tugas akhir kuliah saya, sekitar tahun 2009. Seusai sidang, dosen pembimbing saya (yang kebetulan kurator) meminta karya tugas akhir saya untuk dipamerkan di sebuah galeri di Jakarta.

 tracing-insulinde-video-projection-on-painting-dimension-variable-2015

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mendapat kesempatan untuk mempresentasikan karya dalam solo project di ArtStage Singapore 2015 dan berpartisipasi dalam pameran 125.660 Specimens of Natural History di Galeri Salihara pada tahun yang sama. Pameran yang membaca warisan Alfred Russell Wallace ini sangat berkesan buat saya, karena secara kritis memperlihatkan pengaruh pengetahuan manusia terhadap alam. Dua curator pameran ini, Etienne Turpin dan Anna-Sophie Springer, berhasil membangun sebuah narasi pameran yang menyadarkan saya akan risiko dari perkembangan ilmu pengetahuan.

 

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Saya bukan pengguna social media. Sehari-hari hanya menggunakan email, WhatsApp, dan Line. Tapi teman-teman saya sering menyarankan saya membuat Instagram. Katanya bagus untuk memperkenalkan karya kita ke khalayak luas. Mungkin benar, ya?

 

Bagaimana kamu memandang art scene di sekelilingmu saat ini?

Art scene di Bandung mulai memperlihatkan pergeseran dari ruang-ruang pusat seni ke arah ruang-ruang alternatif, di mana seni rupa bisa cair berbaur dengan musik, fashion, dan gaya hidup. Ruang-ruang seperti Spasial dan Pabrik Tekstil Cicaheum menawarkan pengalaman pameran yang lebih santai dan egaliter karena mayoritas diisi oleh anak-anak muda. Semoga saja keadaan ini terus berkembang, sehingga dunia seni rupa Bandung tidak lagi terasing di ruang yang itu-itu saja.

the-chair-oil-on-canvas-200x150-cm-2015

Punya talenta rahasia di luar seni?

I’m good at organizing things. Sepertinya turunan dari bapak-ibu saya. Kalau obsesi, saat ini saya sedang maraton nonton film-film dari Lee Yoon-ki, Hong Sang-soo, dan Hirokazu Koreeda.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Having a me time di daerah Dalem Kaum dekat Alun-alun Bandung, khususnya di Toko Simanalagi yang menjual pisang goreng terbaik in town. Atau tenggelam dalam buku-buku di Kineruku. Tapi stay di rumah, kumpul bersama teman-teman, dan nonton bioskop dadakan pakai proyektor juga selalu menjadi pilihan. Bandung selalu macet saat weekend, jadi kalau tidak terpaksa pergi, stay di rumah adalah pilihan terbaik.

 im-art

Project saat ini?

Saya sedang mempersiapkan pameran tunggal pertama saya. Project ini akan menyoal ‘kekosongan’ di tengah praktek seni lukis sekarang, khususnya di Indonesia.

Target sebelum usia 30?

Pameran tunggal! Rencana pameran ini sudah lama tertunda, jadi tidak sabar ingin segera jadi.

viva-la-capital

#30DaysofArt 8/30: Kara Andarini

Sebagai seorang visual artist dan ilustrator, Kara Andarini percaya jika ada hal baru yang dapat dipelajari/dikembangkan di setiap karya yang dibuat, bahkan dari sebuah kesalahan sekalipun. “Ayah suka menggambar, dan dari kecil saya senang melihat cara beliau menarik garis… Itu salah satu pengalaman visual di masa kecil yang masih teringat sampai sekarang, hehe,” ucap wanita kelahiran Jakarta, 10 Februari 1989 ini. Saat masuk jurusan Seni Grafis di ITB, ketertarikannya pada garis diperkuat oleh eksplorasinya saat menggambar sketsa dengan ballpoint. Dari mulai memainkan tekanan dan tebal-tipis garis arsiran, mencoba tekstur yang berbeda di setiap jenis kertas, hingga hal tak disengaja seperti tinta yang bocor, semua hal tersebut yang kemudian mempengaruhi permainan komposisi garis yang padat dan arsiran bertekstur dari ballpoint dalam karya-karya penuh detail miliknya yang juga banyak terinfluens oleh minatnya pada arsitektur dan peta.

foto-profile

Hai Kara, boleh cerita sedikit soal masa kecilmu dan bagaimana hal itu memengaruhi karyamu saat ini?

Saya lahir dan tinggal di Jakarta, dibesarkan oleh orang tua yang senang berpetualang ke daerah Puncak. Waktu kecil hampir setiap weekend saya dan keluarga pergi ke Puncak untuk menikmati kebun teh dan jagung bakar. Kadang kami jalan-jalan menelusuri hutan pinus. Sepertinya pengalaman berjalan-jalan, jalan kaki, dan memperhatikan suasana lingkungan sekitar mempengaruhi metode berkarya saat ini.

Apa yang mendorongmu berkarya?

Menggambar seperti bercerita atas apa yang saya amati di keseharian. Setiap berkarya ada rasa penasaran yang selalu muncul terhadap apa yang saya buat dan amati, entah itu mengenai teknis atau bentuk visual akhir.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Karya saya biasanya banyak bermain dengan komposisi garis yang padat dan arsiran bertekstur dari ballpoint.

dscf0229

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Waktu kuliah Seni Rupa di Bandung, di tingkat 2 saya masuk jurusan Seni Grafis. Proses berkarya selalu dihadapkan dengan membuat sketsa menggunakan medium sederhana seperti kertas dengan pensil/pena/cat air, kemudian gambar sketsa dipindahkan di atas plat cetak. Dari proses sketsa tersebut saya menikmati eksplorasi dengan ballpoint, memainkan tebal tipis garis dan mengarsir, apalagi ketika tinta ballpoint bocor dan beleber… Saya malah senang melihatnya. Ketika mengarsir saya seringkali amazed bagaimana hasil arsiran dapat menimbulkan efek tekstur berbeda-beda di setiap jenis kertas.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Shantell Martin, Agus Suwage, Aytjoe Christine, Egon Schiele, Lebbeus Woods, Chiharu Shiota, Louise Despont.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran drawing “How to Draw” di YPK Naripan Bandung tahun 2008, karya di pameran tersebut menggunakan pensil di atas kertas A3. Senang sekali waktu itu untuk pertama kalinya bisa lolos kurasi pameran bersama dengan mahasiswa seni lainnya.

fragmen-1-dialog

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pengalaman residensi di Bandung tahun 2015 di Selasar Sunaryo Art Space selama 3 bulan. Bisa bertemu dan belajar dengan seniman lain dan praktisi seni lainnya seperti Pak Sunaryo dan Hendro Wiyanto.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Cukup merasa beruntung karena banyak akses untuk men-share karya kita ke jaringan yang lebih luas dan dapat menyerap informasi banyak hal, dari informasi seni sampai hal-hal yang nggak penting tapi menghibur, hehe.

Bagaimana kamu melihat skena seni di kotamu?

Sangat berkembang dan masyarakat mulai aware dengan pameran seni dan desain, walaupun mungkin hanya datang untuk sekadar update di social media hehe, tapi nggak apa-apa juga, saya yakin ini bentuk awal dari bagaimana seni akan semakin diterima lagi oleh masyarakat luas.

 versus

What’s your current obsession?

Gas mask.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah, streaming TV series atau Youtube.

Project saat ini?

Lagi mempersiapkan karya untuk pameran di Surabaya dan Jogja.

Target sebelum usia 30?

Travelling ke luar Indonesia tanpa itinerary.

therraporum-03

#30DaysofArt 3/30: Argya Dhyaksa

Di tangan lulusan Kriya Keramik ITB ini, seni keramik menjadi sesuatu yang sangat fun. Makhluk-makhluk imajiner dari keramik yang diwarnai glasir dan disandingkan dengan kalimat humor yang absurd menjadi ciri khas karya seniman kelahiran Jakarta, 5 Agustus 1991 yang akrab disapa Gya ini. Terkesan childish serta “seenak jidat”, Gya mengakui jika hal itu terbawa dari kebiasaan menggambar kartun favoritnya saat kecil dan membuat karakter sendiri berdasarkan teman-teman dan hal sekelilingnya. Maka tak heran, karyanya banyak memodifikasi budaya populer dan humor-humor sektoral yang dibumbui sarkasme. “Saya ingin karya saya selalu serius dalam bermain-main, dan saya ingin orang melihat inilah seorang Argya Dhyaksa dalam karya saya. Saya tidak ingin orang memaknai terlalu dalam lalu tenggelam, lebih baik seperti tablet effervescent mengambang dan pelan-pelan larut tanpa harus saya aduk,” tandas pemilik Kirain Studio di Bandung ini.

gya

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada seni?

Dulu asli deh nggak suka banget sama seni, dalam hati tuh kaya mikir “Nih orang pada bikin apaan sih, kenapa ya mereka?” Ya dulu masih tertutup banget lah, terus pas di kampus kan lingkup seninya luas banget dan ternyata nggak semua seni tuh “apaan sih” walaupun banyak juga yang “apaan sih”.  Juga jadi mulai terbuka, jadi mungkin yang memperkenalkan pada seni ya lingkungan kampus aja pada waktu proses perkuliahan.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat dan jujur dalam lubuk hati yang paling dalam, dorongan berkarya adalah uang dan popularitas, maaf nggak bisa jawab yang lain, cuma kepikiran ini gimana dong maafin yah.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Yang jelas semua melalui proses trial and error banget soalnya bikin keramik kan mestinya harus melalui ritual-ritual merepotkan yang prosesnya panjang, tapi karena saya pemalas saya dobrak ritual itu dengan cara yang bisa saya nikmati, sejenis pakai cheat gitu sih tapi masih dalam batas wajar. Walaupun dapat cheat-nya juga harus ngerti dasarnya dulu baru bisa nemu cheat-nya.

waeee

Masih ingat ekshibisi perdanamu?

Masih. Ekshibisi pertama untuk yang keramik sih dulu di Padi Art Ground. Sekarang tempatnya udah ambrahum, dulu bikin karya keramik bentuknya binatang kecil-kecil yang dideformasi gitu, yang kalau diingat dulu bikinnya sampai mau nangis karena mikir ”Ya ampun bikin keramik gini-gini amat ya ribet banget.”

 

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Sebetulnya untuk bisa masuk ke dalam art scene itu buat saya suatu pencapaian karena saya sebetulnya berada di grey area. Material keramik itu kalau di luar negeri sulit untuk berada di wilayah art, dianggapnya material craft, apalagi saya lulusan dari kriya, untuk masuk ke art scene pasti kesempatannya lebih sulit daripada yang lulusan seni murni.

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Grayson Perry dan David Shrigley. Keduanya memakai teks yang memperkuat karya yang mereka buat, lalu Naoki Nomura karena bentuk keramiknya yang absurd tapi keren.

artwork-1471173237

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Ada plus minusnya sih. Plusnya referensi semakin banyak ditemukan jadi makin mudah mencari inspirasi berkarya, publikasi juga gampang banget. Minusnya, yang karyanya niru ya gampang ketahuan “referensinya” siapa, kan kasian tuh hehe. Terus kalau ada orang mengunggah kesuksesan menimbulkan rasa sirik menyebabkan penyakit hati.

 

Bagaimana kamu melihat skena seni di sekitarmu sekarang?

Art scene di kota Bandung berlangsung damai sentosa, tidak ada yang sirik-sirikan adanya sirik betulan, haha nggak deng. Di Bandung kalau pameran sih kurang menarik, yang datang pameran paling yang itu-itu aja, lebih menarik pameran di Jakarta karena nggak ketebak siapa yang bakal datang.

artwork-1448964646

Your current obsession and secret skill di luar seni?

Kalau current obsession mau jadi Youtuber aja sih bikin video yang nyampah di Youtube nge-review produk-produk fiktif sama eksperimen sosial yang nggak ada faedahnya dan banyak mudharatnya kayanya seru. Secret skill ya secret dong.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan kalau weekend?

Di rumah palingan, tidur, aku lelah.

Target sebelum usia 30?

Target sebelum umur 30 tahun saya adalah berumur 29 tahun, umur kan nggak ada yang tau, hehe.

karya-3