21 Questions With…. A. Nayaka

Being the hottest rapper in town and getting himself busy with gigs and projects, A. Nayaka kinda surprises me when he releases his latest EP called Colorblindflo right on April Fool’s Day month ago. Collaborating with the usual suspects like Yosugi, Aytsaga, TRIP TRVP, Saesar, Ben Utomo, and NAJ, he describes the 6 tracks EP as a banger album full of heavy traps that could be the perfect anthem for your home party. “But you really have to listen to the last song tho. Where the first 5 songs I go all out crazy, the last song I poured my heart out and basically explained the things I’ve been through in the past couple of months, and eventually finding an escape from that,” says Nayaka about the track called “Escape”. Not stopping to catch a breath, he’s already back to studio for his upcoming full-length album which tentatively called When The Internet Raised Your Kids set to release on Summer. To learn more about this guy, I throw him 21 trivial questions and here are his answers

What’s your favourite breakfast?

A hotel buffet breakfast.

What’s your favourite cartoon when you were a kid?

Yu-Gi-Oh.

 20b

What’s your favourite video game of all time?

The Amazing Spider-man on PS1.

Spider-Man_2000_game_cover

Do you have a nickname?

Close friends call me “Bill”.

What’s the worst haircut you ever had?

Went skin bald during winter in Europe.

What was the first live act you saw?

My Chemical Romance. 

What was the last movie you watch?

It’s not a movie, but I’ve been hooked on Black Mirror the TV series.

 black-mirror-masks

Who’s your favourite person to follow on Instagram?

@floydmayweather

floyd

Who’s the most famous person you ever met?

@carissaperusset

carissa

What’s your favourite beer?

This German beer called “Kolsch”.

Kolsch 

What’s your favourite drunken/stoned snack?

Ramen is a snack for me.

What’s your worst habit?

I criticize everything.

What’s your favourite emoji?

The “100” emoji and the upside down smile emoji.

100_Emoji

Heavy Metal or EDM?

The heaviest metal possible.

Raisa or Isyana Sarasvati?

Raisa, cause apparently I sat next to her table at the ramen place earlier, but I don’t know her LOL.

Do you have pet?

Yes, she is a dog that’s a mix between a Shih Tzu and a Maltese, her name is Molly.

Do you believe in horoscope?

Yes, in a way, but I’m more into Feng Shui.

What’s the coolest thing you ever heard about you?

When people come to Blue Room Studio (my home studio) and they say “You know how many great people have worked here?”

If you could pick any director to direct movie about your life, who would it be?

Gaspar Noé.

gaspar

What song you would like to play on your funeral?

Explosions in the Sky – “Your Hand In Mine”.

What are you plans for this remaining year?

I really want to do more shows and hopefully more international shows as well because nothing feels better than travelling, meeting new people, and get paid off your hobby.

On The Records: Sunmantra

Saat memutuskan mengajak visual artist Psychobiji untuk tampil di malam final NYLON Face Off, kami langsung membayangkan aksi musik apa yang tepat bila disandingkan dengan visual liquid nan trippy yang akan diracik olehnya. Pilihan kami pun jatuh pada Sunmantra, duo indie electronic Jakarta yang terdiri dari Jonathan “Jojo” Pardede dan Bernadus Fritz Adinugroho, and we proudly says we make a right choice. Musik techno andalan Sunmantra seperti “Silver Ray”, “Elusive Synergy”, dan “When You Bite My Lips” seolah bersinergi sempurna dengan visual yang disajikan sebagai backdrop. It feels like a match made in audio visual heaven dan membuat NYLON Face Off tahun ini begitu memorable.

Tercetus dari tahun 2012, Sunmantra sejatinya bermula dari proyek long distance saat Jojo dan Fritz masih berkuliah di negara yang berbeda. Sesi tukar-menukar file Digital Audio Workstation menjadi jalan bagi mereka untuk membuat lagu-lagu techno yang diramu dengan genre lain seperti krautrock, shoegaze, atau elemen apapun yang mereka anggap menyenangkan dan bisa membantu lagu yang sedang digarap agar terdengar lebih hidup. Sampai sekarang pun, walau telah stay di kota yang sama, metode ini masih mereka jalankan. “Kita jarang banget ngerjain lagu bareng, biasanya kita satu studio kalau udah mau mixing. Semua draft musik dibuat di studio masing-masing. Jadi bisa aja kita bikin lagu sendiri-sendiri terus baru dipilih yang mana yang cocok buat Sunmantra, sisanya kita pakai buat proyek pribadi,” ungkap mereka.

 Nama Sunmantra sendiri bisa dibilang muncul secara magis di mimpi Jojo. “Jadi di dalam mimpi itu gue lagi di atas panggung di sebuah festival dan ngeliat drum head-nya bertuliskan ‘Sunmantra’, nah setelah bangun gue langsung chat Fritz dan bilang, ‘Kayanya kita harus punya band namanya ‘Sunmantra’,” kenang Jojo. Magis dan menghipnotis, diperkuat oleh ciri khas mereka memakai facepaint saat manggung, penampilan live Sunmantra adalah salah satu aksi lokal yang wajib dinantikan dan disaksikan dengan mata kepala sendiri. “Waktu live, mindset kita adalah ‘menghibur penonton’ jadi kita taruh posisi kita dalam point of view-nya penonton, jadi gimana caranya kita bikin live set kita seseru mungkin. Bisa aja kita pakai yang sama dengan recording, bisa juga berbeda, kita lihat bigger picture dari set-nya sendiri.”

            Dengan respons positif yang terus diraih lewat beberapa single dan live act yang seru, wajar jika banyak orang penasaran mengapa Sunmantra belum merilis album apapun. Sambil tertawa, mereka menjelaskan jika sebetulnya dari dua tahun lalu mereka sudah ingin sekali merilis album di bawah nama Sunmantra yang sayangnya akhirnya terus tertunda karena kesibukan keduanya di proyek masing-masing. “Tahun ini kita bakal rilis sesuatu sih, semoga bisa dirilis sebelum puasa,” janji mereka dengan singkat. Sempat mengerjakan beberapa remix untuk musisi lain, saya pun menanyakan kolaborasi impian mereka. “Mungkin Sasha Grey ya? Suaranya bagus banget. Kita rasa untuk Sunmantra yang musiknya cenderung gelap bisa cocok sih,” tutup mereka.

            Sembari menunggu materi berikutnya, Jojo dan Fritz pun mengungkapkan beberapa album yang paling berpengaruh dalam karier musik mereka. Foto oleh: Bhrahu Pradipto.

Jojo:

 da82227f0cf94551c55520099b2e523a

Bad Music for Bad People

The Cramps

Kalau nggak ada album ini mungkin gue nggak nge-band sih, dari SMP gue udah tergila-gila sama Lux Interior dan Poison Ivy, panggung mereka selalu powerful dan energetic.

 the_brian_jonestown_massacre_their_satanic_majesties_second_request-front

Their Satanic Majesties’ Second Request

The Brian Jonestown Massacre
Album ini membuat gue akhirnya milih kerja di musik setelah lulus SMA.

sound of silver

Sound of Silver

LCD Soundsystem
Album yang selalu membuat gue terkesima dalam pemilihan sound-nya. Nggak nyangka dance music bisa dibikin sekece ini.

Fritz:

rotten apples

Rotten Apples

The Smashing Pumpkins

Dulu kira-kira tahun 2004-an gue beli kaset ini zaman masih nyari-nyari sound gitar. abis dengerin album ini gue langsung ngulik efek dan mulai nemuin sound yang gue suka.

 nin-with-teeth-cover

With Teeth

Nine Inch Nails

CD ini masih ada di mobil gue sampai sekarang, lumayan bisa dibilang kalau nggak dengerin ini gue kayaknya nggak bakal mikir buat dengerin techno, EBM, dan kawan-kawannya.

nite-versions-4e514653e5bf7

Nite Versions

Soulwax

Gue doyan banget album mereka ini, salah satu yang bikin gue penasaran buat ngulik synthesizer dan mulai nyoba bikin lagu yang isinya nggak full gitar-gitaran aja.

Take It To the Street With… Paradise Youth Club

PARADISE YOUTH CLUB

IG: @PARADISEYOUTHCLUB

Started in early 2015, Vincentius Aditya dan Fritz Yonathan yang merupakan founder Paradise Youth Club mengaku jika ide untuk membuat label streetwear tersebut muncul secara spontan. “We’re just doing it for fun! For daily personal use since we can’t afford to buy overpriced Supreme tees to support our so called social lyfe! Haha!” tukas mereka enteng. Well, saya tidak tahu apakah pengakuan itu hanya becanda atau memang sebuah brutal honesty, but one thing I know, itu adalah keputusan yang tepat. Turut dibantu oleh Hendrick Setio sebagai Distribution Manager, brand ini dengan nyaman memilih bergerak di ranah cutting edge dari urban street fashion. Menggabungkan berbagai influens dari budaya surfer, skatewear, musik, dan pengaruh 90’s yang kuat, lewat koleksi bertajuk “The United States of Paradise”, mereka merilis rangkaian t-shirt, crewneck sweaters, bucket hat, snapback, dan strapback dengan desain grafis yang menampilkan logo Paradise Youth Club, bendera US yang sudah di-tweak, dan tulisan seperti “Cash Can’t Rule”, dan “Talking To The Children About Nuclear War”. The overall statement of the brand is laidback, unisex, dan tentu saja, limited. Menyoal semakin riuhnya pasar streetwear global dan domestik, PYC pun menegaskan jika sekarang bukan zamannya lagi untuk merasa inferior memakai produk dari label lokal. “Tilt your head to our local brands, there’s many of ’em worth to see. You don’t have to wait till they’re featured on Hypebeast!Amen to that.

This slideshow requires JavaScript.

Behind the name:

Paradise is a state of mind! If you choose to change conditions for the better, get some material on mental imaging and start changing your life. The more depressed you are, the more you have to gain.

Inspiration:

Social issues and the universe. The goal itself is to revive the spirit from one of the greatest decade, to share that spirit to everyone else. To be aware that everyone has a right to have fun and everyone is entitled of their own paradise.

Aesthetic in three words:

Freed! Freed! Freed!

Most wanted:

Logo Tee.

Where to get:

Offline: Orbis (Jakarta), Nine Collective (Bandung), Toidiholic (Lampung), Gate Store (Jogja), Stock n Supply (Brisbane-Australia), The Good Luck Bunch (Singapura). Online: Paradiseyouthclub.com, a bunch of online stores in Australia.

What’s next:

Surviving! We never do any market research! Better to let the brand manifest naturally, because it means it’s more honest and there’s more of a chance that people are going to connect to it.

Art Talk: The Inky Juxtaposition of Mediocrux

mediocrux_onel-and-ervi_picture

Sama halnya dengan seorang penulis, sometimes being an artist is a lonely job. Bagi mayoritas, berkesenian adalah proses “bertapa” seorang diri dengan ego dan pemikiran personal, but some artists are lucky to have a fellow artist as their partner, in sense of romance, creative, or both. Seperti yang dialami oleh Norman Dave Carlo Nelwan (Onel) dan Eugenia Ervi, sepasang ilustrator dan tattoo artist Jakarta yang berkarya bersama dengan nama Mediocrux. “Kita awalnya satu kampus, cuma nggak dekat, lalu kita kembali bertemu lagi saat bekerja di kantor yang sama. Semenjak satu kantor kita mulai banyak berdiskusi dan ternyata kita memiliki cukup banyak persamaan lalu kita pacaran, hehehe. Sembari mengisi masa pacaran kita coba untuk membuat proyek bersama, lalu terbentuklah Mediocrux,” terang Onel dan Ervi yang sama-sama lahir di tanggal 24 Maret (Onel yang lahir di tahun 1991 lebih tua setahun dari Ervi). Mediocrux yang dimulai pada pertengahan 2015 pun menjadi platform kolaboratif bagi keduanya. Tak hanya terbatas oleh kertas, kanvas, dan dinding, Mediocrux juga membuat customary item yang bisa digunakan sehari-hari, seperti leather patches, sketchbook, dan dompet untuk menyebut segelintir produk yang dibuat secara hand-made dan hand drawn oleh tangan keduanya dari awal hingga selesai.

Apa cerita di balik nama Mediocrux itu sendiri? “MEDIOcre + horcRUX”, mediocre karena kita merasa banyak banget ilustrator yang karyanya bagus-bagus banget jadi sebenarnya mediocre ini diambil dari rasa minder kita dan horcrux karena kita suka dengan konsepnya (padahal kita bukan fans berat Harry Potter) di mana horcrux dipakai untuk menyimpan sebagian jiwa seseorang, di sini kita menganalogikan karya kita sebagai horcrux.

Apa saja influence untuk kalian dalam berkarya? Dari hal yang kita alami, obrolan sehari-hari, film yang kita tonton, musik yang kita dengar, buku yang kita baca, juga dari hal-hal yang mengganggu pikiran.

Siapa saja artist favorit kalian? Kalau Onel: Albrecht Dürer dan Danny Fox. Ervi: René Magritte.

Karya kalian identik dengan warna hitam yang pekat, baik di Mediocrux maupun personal, how do you two describe your own aesthetic? Kenapa hitam sejujurnya kita juga nggak tau pasti kenapa, cuma setiap ngebayangin mau gambar apa, yang kebayang ya gambarnya warnanya hitam. Mmm… bagi kita less is more, kurang lebih sih itu juga yang kita terapin dalam berkarya.

15338420_245515072529189_6178674402234728448_n

Untuk di Mediocrux sendiri dinamikanya seperti apa saat berkarya? Is there a clash of ego? Saat berkarya bersama kita biasanya brainstorming bareng lalu pada saat eksekusi karya, kita biasanya bagi porsi setengah-setengah untuk memenuhi ego masing-masing.

What it feels like to be a couple and making art together? Sangat menyenangkan karena bisa saling tukar pikiran dan jadi lebih mudah memahami satu sama lain as a couple.

Dari berbagai medium yang pernah kalian olah, apa yang menjadi favorit? Kertas dan kulit sih sejauh ini.

ef19c2263d089dc9d22db0ba827d2cba

Sejauh ini project apa yang memorable bagi kalian? Bagi kita kayanya sih yang paling memorable itu self-project kita dalam membuat merchandise Mediocrux, karena di situ kita banyak eksplor baik media maupun teknik dalam membuatnya.

Apa project selanjutnya? Untuk project mendatang kita ada rencana untuk buat buku ilustrasi,  tapi baru rencana aja sih, hehe.

What’s your dream project? Yang lagi kita jalani sekarang.

13715299_1751089861825515_423680283_n

http://www.instagram.com/mediocrux/

#30DaysofArt 27/30: Tara Astari Kasenda

“Sewaktu sekolah dasar, saya mulai belajar melukis dengan seorang guru bernama Roelijati, ternyata beliau adalah salah satu seniman perempuan alumni ASRI (sekarang ISI) Yogyakarta angkatan tahun 50-an. Ajaran-ajaran beliau tentang seni, terutama seni rupa barat masih saya ingat sampai sekarang dan banyak yang saya jadikan pakem untuk membuat karya,” papar alumni FSRD ITB jurusan Seni Lukis ini tentang salah satu influens dalam karyanya. Walaupun akar ilmunya memang seni lukis, namun seniman muda kelahiran Jakarta, 27 Mei 1990 ini tak pernah berhenti bereksplorasi dengan berbagai medium. Mulai dari menggabungkan digital print dengan medium yang lebih konvensional seperti akrilik dan cat minyak, resin sculptures, instalasi, hingga image transfer di atas silicone sealant.

 profile-pic

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Ketertarikan kepada seni muncul dengan sendirinya sejak kecil, yang memperkenalkannya saya nggak ingat. Mungkin mama saya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Ya, passion terhadap seni itu sendiri.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Cy Twombly.

ini-budi-lagi

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Gaya dalam karya saya terbentuk perlahan-lahan selama saya kuliah. Sedangkan kalau soal medium sampai sekarang saya masih terus eksplorasi.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran pertama saya ketika saya menyelesaikan tingkat pertama di kampus bersama teman-teman seangkatan saya.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Selalu ikuti perasaan dan intuisi dan menstruktur keduanya dalam sebuah konteks.

a-lighter-shade-of-pale

Bagaimana kamu mendeskripsikan ciri khas dalam karyamu?

Dari dulu sampai sekarang warna-warna yang saya ciptakan untuk karya saya selalu warna pastel lembut, biasanya dikombinasikan dengan objek-objek yang diburamkan. Nuansa karya saya dreamy dan ambigu. Oh ya dan sudah 3 tahun terakhir ini karya saya mengeksplorasi silicone sealant sebagai medium berkarya.

 

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Solo presentation di Art Taipei 2015 sebagai salah satu young emerging artist di Asia.

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Sama rasanya seperti orang-orang lain dengan profesi-profesi lain di era ini.

equator-art-project

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Industri kreatif secara keseluruhan saya rasa sedang marak-maraknya di Jakarta sekarang.

What’s your current obsession?

Pipil, anjing saya.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah.

 

Project saat ini?

Sekarang saya sedang fokus mempersiapkan pameran bersama kantor saya, whateverworkshop.

Target sebelum usia 30?

Tidak ada yang spesifik.

somatic-markers

#30DaysofArt 26/30: Sarita Ibnoe

Mendeskripsikan masa kecilnya sebagai anak yang pendiam dan lebih suka mengamati sekitarnya, menggambar pun menjadi penyampaian ekspresi bagi seniman kelahiran Jakarta, 3 April 1989 ini. “Pertama kali saya coba menggambar itu waktu SD kelas 3 atau 4. Pulang sekolah saya langsung ke rumah dan kebetulan jam-jam segitu supir ayah saya pasti lagi di rumah. Pak Yono ini suka ngajak saya gambar, jadi dia gambar sesuatu lalu saya meniru gambarnya di kertas yang berbeda. Lalu yang saya ingat juga dia ngajarin cara bikin cincin dari karet gelang. Haha. Ya sejak itu deh saya jadi kebiasaan coret-coret,” ungkap lulusan Middlesex University, London ini. Selain medium charcoal dan akrilik yang menjadi andalan untuk menciptakan karya yang lekat akan imaji keseharian dari pengalamannya sehari-hari yang terkesan sketchy dalam palet warna earth tone yang hangat, saat ini Sarita juga sedang gemar bereksperimen dengan medium lainnya seperti instalasi dan seni serat.

 unnamed-1

Kapan dan siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Saya datang dari keluarga yang biasa saja, bukan yang berkesenian. Ya walaupun saya punya oom dan tante yang seniman dan designer. Dari kecil saya tinggal di Jakarta sampai umur 13 lalu saya harus pindah ke Kuala Lumpur karena pekerjaan ayah saya. Akhirnya saya melanjutkan sekolah dan kuliah di sana. Tapi tahun terakhir kuliah saya pindah ke London dan akhirnya lulus S1 di sana. Sepertinya oom dan tante saya yang berkesenian itu mempunyai banyak pengaruh ke saya. Waktu kecil saya sering main ke rumah mereka dan melihat pekerjaan-pekerjaan yang sedang mereka kerjakan; dari melukis hingga graphic design. Dan sampai saat ini, kurang lebih itulah yang saya kerjakan. Dari kecil saya termasuk orang yang kalem, jarang ngobrol, dan suka ngeliatin orang, haha. Mungkin itu juga kebawa sampai sekarang dan terlihat dari karya-karya saya juga.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Awalnya saya pikir saya menggambar terus karena saya nggak bisa yang lain. Hehe. Tapi nggak sih, saya tetap berkarya karena saya menemukan keseruan tersendiri waktu berkarya. Walaupun pasti ada stressnya, tapi tetap penasaran dan ingin tahu sampai sejauh apa saya bisa berkarya. Menurut saya berkesenian itu pekerjaan yang misterius, haha. Nggak ada yang ngeh kalau ini juga susah, kecuali pekerja seni juga. Tidak ada benar salah, perlu pemikiran panjang, konsep yang matang, eksekusi yang hati-hati. Tapi kalau dilihat oleh orang awam, yang terlihat mungkin hanya bagusnya saja. Hal ini juga sih yang bikin seru.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Sepertinya saat ini saya pun masih mencari. Adapun style atau medium yang saya pakai selama ini adalah hasil dari jam terbang dan experiment yang saya lakukan.

img_2040

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Di awal-awal berkarya, saya sangat suka karya-karya Mark Rothko dan Kurt Schwitters. Seniman lain yang saya idolakan adalah Kimsooja, Gerhard Richter, Agnes Martin, Marina Abramovic. And of course my local heroes: Handiwirman Saputra dan Ay Tjoe Christine.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Ekshibisi pertama saya sebenarnya waktu mau lulus, tapi it is requirement dari universitasnya, jadi mungkin jangan dihitung ya.

Waktu balik ke Jakarta saya kesulitan banget untuk mencari teman atau bergabung dalam ‘kelompok’ apapun. Teman sekolah dari dulu sudah entah kemana dan sedikit juga yang berkesenian. Tapi lama-lama teman-teman kuliah saya yang orang Indonesia akhirnya balik, jadi kami berkumpul lagi. Dari koneksi melalui mereka, akhirnya saya dan seorang seniman lain bikin pameran sendiri di sebuah café dan pada saat pembukaan ternyata lumayan seru juga, banyak yang datang.

Ada satu lagi ekshibisi pertama saya, yaitu: ekshibisi pertama saya di galeri dan dengan kurator. Bagi saya ini sebuah milestone yang penting, karena jadi tau proses kerja seniman pada umumnya dan dari sini juga saya berkembang sampai sekarang dan berkenalan dengan orang-orang di dunia seni nggak hanya di Jakarta tapi juga mereka yang berbasis di Bandung dan Jogja. Ekshibisi ini berlangsung di tahun 2012 di dia.lo.gue waktu saya lolos seleksi program mereka: Exi(s)t #2. Proses pameran ini cukup panjang, dan lumayan stressful karena istilahnya baru tau tentang fine art yang sebenarnya, sambil terjun langsung berkarya. Tapi hasilnya juga jadi lebih memuaskan, karena dengan proses itu, karya saya jadi lebih beralasan dan bercerita, bukan lagi hanya sekadar skill menggambar saja yang digunakan.

Apa idealismemu dalam berkarya?

Idealisme saya dalam berkarya adalah di mana saya punya waktu yang cukup.

img_1965

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri personal aesthetic dalam karyamu?

Saya terbiasa membuat karya dari keseharian dan pengalaman saya. Dan juga terinspirasi dari dialog-dialog bersama orang lain. Sering kali gambar/karya saya terkesan sketchy dan mempunyai pallete warna yang khas.

Apa yang menjadi personal breakthrough paling berkesan sejauh ini?

Setiap saya menyelesaikan sebuah karya yang menurut saya memuaskan, itu sudah menjadi sebuah pencapaian. Sejauh ini mungkin salah satu pencapaian yang berkesan adalah waktu membuat sebuah karya yang dijadikan finalis Gudang Garam Indonesia Art Award.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media sekarang?

Susah! Haha. Saya juga kadang-kadang bingung kenapa tetap dijalanin. Tapi ya udah, kecebur, jadi basahin aja sekalian.

 memendam-diam

Bagaimana kamu memandang art scene di kotamu saat ini?

Art scene di Jakarta (atau mungkin di Indonesia) sedang sangat maju ya sepertinya. Walaupun awalnya kurang seimbang, dalam arti; banyak yang menjadi seniman, tapi bagian dari ekosistem dunia seni seperti artist manager atau kritikus seni dan lain-lain tidak naik secepat jumlahnya seniman yang bertambah. Tapi bagus juga semakin banyak orang aware dengan profesi-profesi dalam dunia seni.

Punya talenta rahasia di luar seni?

I am so good at travelling solo! Haha! Not sure if that’s a skill, but sure is one of my favourite thing to do.

img_5474_ 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Kemungkinan besar di rumah, haha. Mungkin kadang di pembukaan pameran atau di Roti Bakar Wiwied.

 

Project saat ini?

Sekitar setahun belakangan ini saya sedang merencanakan sebuah personal project tentang rumah atau tempat tinggal, tapi belum yakin akan jadi seperti apa. Sejauh ini kalau ada teman yang pergi ke luar kota atau luar negeri, saya selalu titip bawain tanah/kerikil dari tempat itu dan ditaruh di dalam botol transparan yang tertutup. Sampai saat ini saya sudah punya tanah dan udara dari hampir 30 kota! Hehe.

Target sebelum usia 30?

Menghasilkan karya dengan medium yang sangat berbeda dari yang biasanya saya lakukan.

img_6290

#30DaysofArt 9/30: Kathrin Honesta

Menurut gadis kelahiran Medan 25 Desember 1993 ini, nuansa dreamy, calming, whimsical, dan terkadang mempunyai kesan dark pada karyanya berakar dari hobinya membaca dan mengarang komik sejak kecil. Meskipun berasal dari keluarga pebisnis, minatnya pada seni yang turut didukung oleh orangtua mendorongnya kuliah graphic design & advertising di The One Academy, Kuala Lumpur dan sempat bekerja di Leo Burnett KL sebelum akhirnya kembali ke Jakarta dan menjadi freelance illustrator dengan beragam project, mulai dari advertising campaign, branding, buku cerita anak, cover buku, maupun aktif di pameran yang salah satunya adalah Unknown Asia Art Exchange 2016 di Osaka, Jepang bersama 6 seniman muda Indonesia lainnya. Kathrin percaya jika seni seharusnya tidak hanya sedap dipandang tapi juga harus memiliki makna. “Saya percaya tentang seni yang mempunyai purpose di baliknya. Bisa saja purpose itu adalah untuk seseorang secara pribadi, suatu cause secara spesifik ataupun masyarakat,” tegasnya.

profile_image

Bagaimana masa kecilmu memengaruhi karyamu saat ini?

Saya aslinya dari Medan, besar di situ, tapi pada saat kelas 6 SD, saya sekeluarga pindah ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan papa. Jadi saya sudah di Jakarta selama hampir 10 tahun. Dari kecil, secara natural saya sudah tertarik dengan dunia ilustrasi. Awalnya itu bermula dari buku cerita dan komik yang dibelikan mama. Setelah baca komik, saya suka banget ngarang cerita dan gambar komik versi saya sendiri. Sejak kecil, saya anaknya rumahan banget dan agak pendiam dan mainan saya dulu hanya kertas dan pensil. Kalau sudah ada dua itu, saya bisa duduk berjam-jam hanya untuk menggambar saja. Dan dari situ, saya sudah punya tekad untuk mau menjadi desainer atau bekerja apapun yang berhubungan dengan dunia seni ketika sudah besar nanti.

Siapa yang pertama kali memperkenalkanmu pada seni?

Setelah dipikir-pikir, uniknya, tidak ada satupun di keluarga saya yang bekerja di bidang yang ada hubungannya dengan seni. Kebanyakan dari mereka itu adalah para wirausaha dan pebisnis. Jadi sebetulnya tidak ada yang mengarahkan saya secara khusus untuk tertarik pada seni, itu terjadi secara natural saja.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Yang mendorong saya untuk berkarya itu mungkin karena passion dan ketertarikan saya di bidang seni itu sendiri. Melihat banyak ilustrator/seniman hebat yang karyanya saya kagumi banget juga bisa menjadi inspirasi yang mendorong saya untuk terus berkembang dan berkarya. Saya juga beruntung punya orangtua yang selalu mendukung saya di bidang seni ini, jadi itu juga menjadi mental support yang penting buat saya.

drowning-in-thoughts_coral

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Style dan medium saya berkembang secara gradual lewat eksplorasi dan project yang saya kerjakan. Sampai sekarang, saya masih terbuka untuk perkembangan style dan medium. Meskipun medium yang paling sering saya pakai itu digital, tapi saya ingin lebih mengeksplor medium-medium tradisional juga di kesempatan mendatang.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Karya pertama saya yang menjadi permulaan dari style ilustrasi saya adalah project terakhir saya pada saat kuliah, berupa sebuah buku portfolio berjudul The Undaunted Dandelion. Saya membuat cerita ilustrasi pendek tentang seorang gadis bernama Dandelion yang sedang dalam perjalanan untuk mencapai mimpinya. Dalam langkah awalnya, dia dipenuhi dengan keraguan dan ketakutan sebelum akhirnya dia mempunyai keberanian untuk meneruskan perjalanannya. Sebenarnya cerita itu mewakili apa yang saya rasakan pada saat itu, sebelum benar-benar lulus kuliah dan menghadapi the real world of creative industry.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Edward Gorey, Maurice Sendak, Isabelle Arsenault, Lisk Feng, Carson Ellis, dan masih banyak lagi!

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Personal breakthrough yang paling berkesan adalah suatu Christmas project yang secara inisiatif saya kerjakan dengan teman saya, Kay Jen Ong, seorang penulis. Project itu berupa buku cerita berjudul The Shadow & The Star. Buku ini bercerita tentang bagaimana seorang gadis berhadapan dengan loneliness-nya. Kami mengangkat tema loneliness karena kami sadar kalau terkadang di saat-saat festive seperti hari Natal ini lah, di mana rasa kesepian terasa lebih kuat. Project ini berkesan karena respons dari orang yang membaca cerita ini, di mana mereka sharing kalau mereka bisa relate dengan gadis di cerita itu dan berujung di mana mereka juga menceritakan kisah mereka sendiri. Banyak orang juga menceritakan interpretasi mereka yang berbeda-beda tentang cerita ini dan menurut saya hal seperti itu adalah hal yang sangat menarik.

princessthegoblin 

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Saya sangat beruntung untuk bisa menjadi seorang seniman di era sosial sekarang. Kita bisa berelasi langsung dengan klien ataupun kustomer kita secara langsung hanya dengan comment di Instagram, atau email. Era ini juga memungkinkan saya untuk menjadi seorang freelancer, karena untuk mengerjakan suatu project, saya tidak perlu berada di lokasi yang sama dengan client. Saya bisa mengerjakan project luar negeri dari Jakarta dan bisa meeting via Skype. Hal-hal seperti ini pastinya belum available di jaman dulu dan yang pasti menjadi seorang freelance illustrator tidak pernah dimudahkan seperti sekarang ini.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya merasa art scene di Jakarta sebagai komunitas yang sangat variatif dan inspiratif. Komunitas yang selalu berkembang, unik, ramah, dan juga sangat terbuka untuk hal hal baru. Banyak sekali para seniman yang sangat berbakat dan saling mendukung satu sama lain.

 

Current obsession?

Apapun yang berbau vintage! Tapi sering sekali yang authentic vintage pasti mahal harganya. Jadi sebisa mungkin, kalau mengunjungi suatu tempat, saya sempatkan ke vintage market atau toko second-hand dan biasanya hunting barang yang lebih affordable; seperti buku-buku vintage, bros, pin jadul, dan pernak-pernik lain.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Weekend adalah saatnya saya hang out bareng teman setelah kerja sepanjang minggu. Saya suka nongkrong dan mencoba café baru di Jakarta (karena hampir setiap saat ada yang baru) atau kadang mungkin di rumah saja baca buku, spending time with family.

Project saat ini?

Buku cerita anak dan spot illustrations untuk suatu novel. Untuk selanjutnya, saya berencana membuat project insiatif lain berupa buku cerita. Setelah mengerjakan commisioned works, saya ingin lebih bisa fokus ke project ini.

Target sebelum usia 30?

Sebelum 30, saya harap saya sudah bisa menjadi seorang internationally established illustrator. Saya harap sebelum itu, saya sudah bisa menerbitkan sebuah illustrative story book yang saya tulis & gambar sendiri. Dan yang paling utama, supaya saya tidak berhenti untuk membuat good art with purpose and art which people could relate to.

Print

#30DaysofArt 8/30: Kara Andarini

Sebagai seorang visual artist dan ilustrator, Kara Andarini percaya jika ada hal baru yang dapat dipelajari/dikembangkan di setiap karya yang dibuat, bahkan dari sebuah kesalahan sekalipun. “Ayah suka menggambar, dan dari kecil saya senang melihat cara beliau menarik garis… Itu salah satu pengalaman visual di masa kecil yang masih teringat sampai sekarang, hehe,” ucap wanita kelahiran Jakarta, 10 Februari 1989 ini. Saat masuk jurusan Seni Grafis di ITB, ketertarikannya pada garis diperkuat oleh eksplorasinya saat menggambar sketsa dengan ballpoint. Dari mulai memainkan tekanan dan tebal-tipis garis arsiran, mencoba tekstur yang berbeda di setiap jenis kertas, hingga hal tak disengaja seperti tinta yang bocor, semua hal tersebut yang kemudian mempengaruhi permainan komposisi garis yang padat dan arsiran bertekstur dari ballpoint dalam karya-karya penuh detail miliknya yang juga banyak terinfluens oleh minatnya pada arsitektur dan peta.

foto-profile

Hai Kara, boleh cerita sedikit soal masa kecilmu dan bagaimana hal itu memengaruhi karyamu saat ini?

Saya lahir dan tinggal di Jakarta, dibesarkan oleh orang tua yang senang berpetualang ke daerah Puncak. Waktu kecil hampir setiap weekend saya dan keluarga pergi ke Puncak untuk menikmati kebun teh dan jagung bakar. Kadang kami jalan-jalan menelusuri hutan pinus. Sepertinya pengalaman berjalan-jalan, jalan kaki, dan memperhatikan suasana lingkungan sekitar mempengaruhi metode berkarya saat ini.

Apa yang mendorongmu berkarya?

Menggambar seperti bercerita atas apa yang saya amati di keseharian. Setiap berkarya ada rasa penasaran yang selalu muncul terhadap apa yang saya buat dan amati, entah itu mengenai teknis atau bentuk visual akhir.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Karya saya biasanya banyak bermain dengan komposisi garis yang padat dan arsiran bertekstur dari ballpoint.

dscf0229

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Waktu kuliah Seni Rupa di Bandung, di tingkat 2 saya masuk jurusan Seni Grafis. Proses berkarya selalu dihadapkan dengan membuat sketsa menggunakan medium sederhana seperti kertas dengan pensil/pena/cat air, kemudian gambar sketsa dipindahkan di atas plat cetak. Dari proses sketsa tersebut saya menikmati eksplorasi dengan ballpoint, memainkan tebal tipis garis dan mengarsir, apalagi ketika tinta ballpoint bocor dan beleber… Saya malah senang melihatnya. Ketika mengarsir saya seringkali amazed bagaimana hasil arsiran dapat menimbulkan efek tekstur berbeda-beda di setiap jenis kertas.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Shantell Martin, Agus Suwage, Aytjoe Christine, Egon Schiele, Lebbeus Woods, Chiharu Shiota, Louise Despont.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Pameran drawing “How to Draw” di YPK Naripan Bandung tahun 2008, karya di pameran tersebut menggunakan pensil di atas kertas A3. Senang sekali waktu itu untuk pertama kalinya bisa lolos kurasi pameran bersama dengan mahasiswa seni lainnya.

fragmen-1-dialog

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Pengalaman residensi di Bandung tahun 2015 di Selasar Sunaryo Art Space selama 3 bulan. Bisa bertemu dan belajar dengan seniman lain dan praktisi seni lainnya seperti Pak Sunaryo dan Hendro Wiyanto.

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Cukup merasa beruntung karena banyak akses untuk men-share karya kita ke jaringan yang lebih luas dan dapat menyerap informasi banyak hal, dari informasi seni sampai hal-hal yang nggak penting tapi menghibur, hehe.

Bagaimana kamu melihat skena seni di kotamu?

Sangat berkembang dan masyarakat mulai aware dengan pameran seni dan desain, walaupun mungkin hanya datang untuk sekadar update di social media hehe, tapi nggak apa-apa juga, saya yakin ini bentuk awal dari bagaimana seni akan semakin diterima lagi oleh masyarakat luas.

 versus

What’s your current obsession?

Gas mask.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di rumah, streaming TV series atau Youtube.

Project saat ini?

Lagi mempersiapkan karya untuk pameran di Surabaya dan Jogja.

Target sebelum usia 30?

Travelling ke luar Indonesia tanpa itinerary.

therraporum-03

#30DaysofArt 6/30: Elicia Edijanto

“Saya anak kedua dari empat bersaudara. Saat kecil, saya sudah senang menggambar, membaca buku cerita bergambar, dan saya suka bermain dan berkhayal tentang teman-teman khayalan, hahaha. Mungkin hal ini sedikit banyak berpengaruh di karya-karya saya di mana sebagian besar menggambarkan tentang seorang anak kecil dengan temannya (animals),” ujar artist dan graphic designer yang lahir di Jakarta, 24 Desember 1987 ini tentang lukisan watercolour hitam-putih yang menjadi signature karyanya. Simple dan intim, karyanya yang kerap menggambarkan harmoni manusia dan alam (terutama hewan) dalam lanskap yang seolah berkabut telah mendapat respons yang bagus dari berbagai blog dan publikasi seni internasional, serta ditampilkan dalam ekshibisi para pemenang The Asian Creative Awards 2015 di Osaka, Jepang untuk bersanding dengan seniman andal lainnya dari mancanegara.

elicia

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Sejak kecil saya memang sudah tertarik pada seni, baik itu lukisan, musik, sastra, dan lain-lain. Kebetulan di keluarga saya atau lingkungan sosial lainnya tidak ada/belum ada yang berkecimpung di bidang seni, jadi lebih ke inisiatif saya sendiri untuk berkenalan lebih jauh dengan dunia seni.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Bagi saya, berkarya (melukis) adalah cathartic release saya. Jadi, saat ingin merasa tenang, damai, dan menghilangkan kepenatan itulah yang mendorong saya untuk melukis.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Beberapa inspirasi saya (tidak terbatas di pelukis saja) yaitu Nicholas Roerich, Mark Rothko, Gregory Colbert, Nick Brandt, Branislav Markovic Umbra, Raden Saleh, Yohji Yamamoto, dan lain-lain.

dust-and-wind

Apa idealismemu dalam berkarya?

Yang pertama bagi saya, yang paling penting adalah menjadi jujur. Jujur dengan diri sendiri, menuangkan perasaan ke dalam karya tanpa menambah-nambahkan atau mengurang-ngurangi sesuatu, pokoknya jujur apa adanya saja. Lalu, simplicity. Saya suka sesuatu yang simpel, sederhana, tapi esensinya tercapai.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan ciri khas dalam karyamu?

Menurut saya, ciri khas dalam karya saya mungkin lebih ke simplicity dan intimacy.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Kalau solo exhibition belum pernah. Group exhibition pertama saya di Osaka, Jepang. Exhibition tersebut memajang karya-karya para pemenang dari Asian Creative Awards. Saya senang dan bangga karya saya dapat bersanding dengan karya-karya luar biasa lainnya dari seniman-seniman mancanegara.

 warriors

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Secara personal, saya merasa senang ketika mendapat feedback positif dari orang-orang yang melihat karya saya. Ketika orang-orang tersebut bilang ke saya kalau dengan melihat lukisan saya, mereka mendapat positive vibes, kedamaian, inspirasi, dll. Memberikan energi positif kepada orang lain walaupun terdengar simple namun merupakan pencapaian berkesan bagi saya.

Kalau untukmu sendiri, apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Saya merasa terbantu sekali dengan teknologi di zaman social media sekarang ini. Jika dimanfaatkan dengan benar, social media seharusnya bisa menjadi tools untuk memudahkan sharing karya-karya kita, tapi tentunya juga dengan bertanggung jawab. Orang-orang dari berbagai belahan dunia dapat menikmati karya kita, bahkan memberikan feedback yang berguna bagi seniman itu sendiri.

 

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekitarmu saat ini?

Art scene di sekeliling saya (terutama kota Jakarta) banyak sekali perkembangan terutama bermunculannya galeri atau art space baru. Ini adalah hal positif, namun saya harap, hal ini bisa merangkul publik secara luas untuk lebih mencintai dan aware terhadap art, mewadahi seniman-seniman yang tersebar, bukan sekadar sebagai basecamp sekumpulan seniman-seniman atau orang-orang tertentu atau semacam komunitas eksklusif saja.

lullaby

Current obsession?

Saya punya obsesi terhadap astronomi, segala sesuatu yang berhubungan dengan luar angkasa, bintang-bintang, galaksi, black hole, dll. Saya juga suka Star Wars.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di studio lukis saya, di rumah, atau bersama teman-teman saya.

Project saat ini?

Masih terus melukis, dan kemungkinan ingin membuat buku berisi kompilasi karya-karya saya, dan tentu saja solo exhibition.

Target sebelum usia 30?

Ingin lebih bisa wise dalam menghadapi masalah-masalah yang datang. Tidak hanya bertambah tua, tapi juga bertambah bijak.

eliciaedijanto0-jpg-600x315_q80_crop-smart

#30DaysofArt 4/30: Ariel Victor

“Menurut saya, bukan hanya visual yang berperan penting dalam menghasikan sebuah karya. Cerita justru menjadi esensi dalam karya-karya saya, baik itu animasi ataupun ilustrasi,” ujar animator dan ilustrator lulusan Animation & Interactive Media RMIT University, Melbourne ini. Punya ibu seorang guru TK, sejak kecil pria yang lahir di Semarang, 10 Januari 1992 ini telah disodori film-film Disney, buku cerita anak-anak, dan berbagai ensiklopedia yang menimbulkan hasrat untuk menggambar hal-hal favoritnya, mulai dari karakter film sampai binatang dan dinosaurus. Penuh warna pastel yang vibrant dengan cerita yang memikat, final project animasi 2D karyanya yang berjudul Me & Them sukses meraih penghargaan Best Australian Student Film di Melbourne International Animation Festival (MIAF) dan membuahkan proyek seru lainnya, mulai dari kompilasi animasi indie dalam rangka mempromosikan breast cancer awareness hingga animasi pendek sebagai salah satu Christmas E-card untuk Hallmark.

arielvictor-profile

Bagaimana masa kecilmu mempengaruhi karyamu saat ini?

Saya lahirnya di Semarang, terus sempat pindah ke Salatiga, Tomohon, sebelum akhirnya menetap di Jakarta pas umur 10 tahun. Dari kecil sih orang tua selalu mendukung saya dalam berkreativitas, especially my mom who’s a kindergarten teacher.

 

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Kebanyakan nonton film Disney, lama-lama jadi obsesi untuk bikin film animasi sendiri.

 

Bagaimana akhirnya kamu menemukan style favoritmu?

Tentunya banyak trial and error dilewati. Dari mencoba dan “mencuri” berbagai gaya dari seniman, ilustrator, dan animator favorit saya, eventually and naturally I get to the point where I am comfortable with the way I draw.

 

Siapa saja seniman yang menjadi inspirasi?

Henri Mattise. Warna-warni cut-outs beliau selalu memberikan kesan tersendiri untuk saya. Di dunia animasi, hands down to Hayao Miyazaki dan segala imajinasinya! Selain itu saya juga sangat suka karya dari seniman independen yang saya follow di media sosial seperti Lisk Feng, Dadu Shin, Alex Grigg, dan Charles Huettner.

finding-snakes

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Saya orangnya tergolong perfeksionis, jadi sering banget terobsesi dengan warna, komposisi, bentuk, dan keteraturan obyek-obyek dalam gambar saya.

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

Graduation Show dari RMIT University, Melbourne. Waktu itu final project 2D Animasi saya yang berjudul Me & Them ditayangkan ke publik pertama kali. It felt really good to finally finish and share my hardwork, it took 6 months to make! Acaranya juga spesial banget karena kita sendiri yang organize semuanya, it was a blast!

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Di satu sisi, terkadang disodorin karya-karya keren dari berbagai artist setiap harinya bisa jadi stress tersendiri yang nggak jarang membuat saya minder. Di sisi lain, media sosial sangat membantu mendapatkan koneksi dan juga menjadi wadah untuk membagikan karya saya. But it’s all good. It’s about finding balance between the two.

Bakat rahasia di luar seni?

I can probably mouth along to every episodes of Friends, is that a skill? Hahaha. I am usually easily obsessed with TV series, which can be super distracting. I also like to binge watch a lot of cartoons, still.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Coffee shops di sekitar Jakarta aja, kalau memang lagi nggak banyak deadline.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya melihat banyak sekali event dan pameran yang didedikasikansebagai wadah bagi seniman lokal di Jakarta. Senang sekali tentunya melihat semuanya ini dalam sebuah profesi yang kadang bisa dibilang “lonely”. Belum lagi di kota besar yang selalu sibuk seperti Jakarta ini, nggak gampang untuk connect atau bahkan hangout aja, jadi banyaknya kesempatan untuk bisa mengapresiasi karya satu sama lain tentunya positif banget!

 

Project apa yang sedang atau akan kamu lakukan selanjutnya?

Kampanye Crowdfunding bareng Kopi Keliling lewat wujudkan.com untuk membuat pilot episode dari Traveling Richie (that will hopefully become a webseries in the future) baru selesai bulan lalu. Jadi sekarang sedang dalam tahap produksi. Selain itu saya sedang brainstorming untuk membuat film pendek yang selanjutnya juga.

Target sebelum usia 30?

Wah banyak banget, mau buat film animasi pendek lebih banyak lagi pastinya. Film animasi panjang juga, fingers crossed! I really want to make picture books too! Also getting to experience making works on different countries as well!

the-chosen-generation

Book Club: Interview with Dea Anugrah

Menyoal masa kecil, Dea Anugrah mengaku memiliki banyak cita-cita. Mulai dari pemain sepakbola, musisi rock, anggota sirkus keliling, hingga Pokemon master. Namun, berawal dari obrolan bersama guru Bahasa Indonesia saat SMA serta melahap koleksi perpustakaan sekolah yang meliputi The Old Man and the Sea, Huck Finn, dan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, pria 25 tahun asal Pangkal Pinang tersebut terpancing untuk menulis puisi, esai, dan cerpen yang berlanjut sampai hari ini. Karyanya telah tersebar di berbagai media baik cetak maupun online dan ia pun berkesempatan tampil di festival sastra sekelas Ubud Writers & Readers Festival 2013 di Bali bahkan sebelum merilis buku puisi pertamanya, Misa Arwah dan Puisi-puisi Lainnya di tahun 2015 lalu. Tahun ini, setelah menuntaskan studinya di jurusan Filsafat UGM dengan tugas akhir tentang pemikiran Arthur Schopenhauer, ia pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai wartawan dan merilis Bakat Menggonggong, sebuah kumpulan 14 cerita pendek yang ditulis dalam rentang waktu 2012-2016 di mana setiap cerita menunjukkan eksplorasi gamblangnya dalam teknik bercerita yang beragam.

img_20160308_025129

Hai Dea, apa kabar? Bagaimana biasanya kamu memperkenalkan dirimu dan profesimu?

Halo, Alex. Kabarku baik. Untuk keperluan publikasi, biasanya aku mencantumkan keterangan bahwa aku menulis puisi, cerpen, dan esai dalam bahasa Indonesia dan sedikit informasi tentang buku-bukuku (Misa Arwah dan Bakat Menggonggong).

Bagaimana biasanya kamu memulai hari dan apa yang menjadi kegiatan keseharianmu belakangan ini?

Sekarang aku bekerja sebagai wartawan. Jadi, kegiatan utamaku sehari-hari, setelah bangun tidur sekitar jam 12 siang (hehe), ialah mengetik berita.

Di titik apa kamu serius menulis secara profesional?

Kalau profesional yang kamu maksud adalah sekadar mendapatkan uang dari menulis, kukira itu bukan hal yang serius, bukan hasil menimbang-nimbang sampai sesak napas selama empat harmal atau semacamnya. Aku mengirimkan tulisan-tulisan ke koran dan majalah, mereka memuatnya, lalu membayarku. Tapi kalau profesional berarti menjadikan menulis sebagai mata pencarian utama, aku belum, dan mungkin tidak bakal, menjerumuskan diriku sendiri ke dalamnya.

Seorang teman pernah bercerita bahwa bukunya cuma terjual 59 eksemplar di bulan pertama setelah diterbitkan. Sila bayangkan situasi bulan-bulan berikutnya, ketika orang yang membicarakan buku itu makin sedikit. Dan pengalaman temanku itu bukan kasus langka di Indonesia.

Boleh cerita soal Bakat Menggonggong? Berapa lama proses pembuatannya sampai selesai dan apa yang menjadi tema utama/benang merah dari kumpulan cerpen ini?

Karena berbentuk kumpulan, pembuatan Bakat Menggonggong santai sekali. Tidak seperti orang mengerjakan novel atau traktat, misalnya, yang mesti menulis secara rutin setiap hari selama berbulan-bulan atau lebih. Belasan cerita pendek dalam buku itu kutulis dalam rentang 2012-2016 dan hampir seluruhnya sudah terbit secara terpisah di pelbagai media.

Sebagaimana tertulis di sampul belakang, yang “mengikat” cerita-cerita yang bermacam-macam dalam buku itu adalah suara naratornya. Dalam hampir setiap cerita, si narator cerewet dan sinis dan mulutnya agak tercela. Selain itu ada kesamaan “semangat”, yakni penjelajahan bentuk dan teknik penyampaian cerita.

 

Siapa sosok yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk dirimu yang sekarang?

Teman-teman dekat, para penulis yang bukunya kubaca, pacar dan bekas pacar, keluarga. Aku tidak tahu siapa yang memberikan pengaruh paling banyak.

 

Tanpa berpikir terlalu lama, tolong sebutkan satu nama penulis favoritmu yang terlintas beserta alasannya.

Ernest Hemingway. Dia penulis besar yang karyanya kubaca paling awal. Dan sampai sekarang, setiap kali membaca buku-bukunya aku merasa mendapat pelajaran baru tentang menulis dan hidup dan apa saja.

Sejauh ini apa hal yang paling disukai selama menjadi penulis?

Ketika menemukan hal-hal yang bisa kusadap dari buku-buku bagus dan ketika bertemu dan berkumpul dengan teman-teman yang pintar dan menyenangkan. Kupikir dua jenis pengalaman itulah yang paling kusukai. Kalau tidak menulis, mungkin aku tidak akan mengalami keduanya.

Percaya dengan yang namanya writer’s block? Kalau iya, bagaimana caramu mengatasinya?

Writer’s block itu seperti dosa. Kalau kita tidak memikirkannya, ia tidak ada. Seperti kata Szymborska: dua puluh tujuh tulang, tiga puluh lima otot, dan dua ribu saraf pada tiap ujung jari-jari kita sudah lebih dari cukup untuk menulis apa saja.

Bagaimana kondisi yang ideal bagi Dea untuk menulis?

Aku mudah terganggu oleh bunyi-bunyian, terutama suara orang, wabil khusus suara anak kecil, dan bau tidak enak. Di luar itu kurasa tidak ada masalah, keadaan apa pun cocok-cocok saja buat menulis. Masalahnya, sekalipun kondisi di sekitarku ideal, menulis tidak pernah terasa mudah.

 

Apa pengaruh sosial media/internet untuk dirimu, baik secara personal maupun profesional?

Internet jelas sangat penting untuk orang-orang di negara dunia ketiga, termasuk para penulisnya. Tanpa situs-situs file sharing, misalnya, aku pasti kekurangan bahan bacaan dan tontonan. Internet membuat persebaran pengetahuan jadi berkali-kali lipat lebih murah, cepat, dan luas.

Perkara media sosial agak ruwet. Pada satu sisi ia memudahkan kita bergaul dan berjualan, tapi di sisi lain ia menimpuk kita dengan banyak sekali urusan yang kita tidak perlukan. Media sosial bisa menggiring seorang penulis untuk menulis seperti keinginan khalayak alias menjadi penyambung lidah netizen. Apakah perbedaan netizen dan gerombolan biri-biri? Kadang, suara biri-biri enak didengar dan perlu.

Menurutmu, di zaman media sosial seperti sekarang, masih perlukah seorang penulis bergantung pada toko buku/penerbit untuk menjual karyanya?

Perlu. Sejauh yang kualami, berjualan sendiri itu melelahkan sekali, terutama urusan mengirimkan buku kepada para pemesan.

Seberapa sering kamu menilai buku dari sampulnya?

Cuma sesekali dan patokan yang kupakai tidak terlalu tinggi. Selama tidak keterlaluan buruknya, aku bisa maklum. Aku lebih sering menilai buku dari nama penulis yang tertera di sampulnya, sebab yang fana adalah waktu, penulis jelek abadi. Hehe.

Banyak yang mengira dirimu perempuan based on your name. Seandainya kamu jadi perempuan untuk satu hari, apa hal pertama yang ingin kamu lakukan?

Memeriksa apakah aku tetap menyukai hal-hal yang kusukai dan tetap tidak menyukai hal-hal yang tidak kusukai. Seandainya aku jadi mengagumi SBY dan senang mendengarkan lagu “Tubuhku Otoritasku” dan membenci rokok, misalnya, kupikir aku tidak bakal tahan.

 

Selain menulis, apa lagi hal yang suka kamu lakukan?

Membaca, menonton, main videogame, dan tidur. Khusus soal tidur: tentu semua orang terbiasa tidur, tapi aku tidur seperti kacung tenis mengejar bola dan seperti rohaniwan memikirkan hari kiamat dan seperti wartawan membaca tulisannya sendiri. Dalam kata-kata lain, aku tidur seolah-olah di dunia ini tidak ada urusan yang lebih penting daripada tidur.

Jika bisa memilih satu ceritamu untuk difilmkan, cerita apa yang kamu pilih dan siapa yang akan kamu pilih untuk menyutradarainya?

Tamasya Pencegah Bunuh Diri, Alejandro Jodorowsky atau Hitoshi Matsumoto.

 

Apa satu hal yang ingin kamu pelajari/kuasai lebih dalam?

Kupikir yang paling mendesak adalah belajar bahasa asing selain Inggris, supaya aku bisa mengakses lebih banyak bacaan.

Apa rencana selanjutnya untuk saat ini?

Menulis novel.

 

Terakhir, boleh berikan rekomendasi lima buku favoritmu beserta alasan singkat untuk masing-masing buku?

orang2

Orang-Orang Bloomington

Budi Darma

Satu dari sedikit sekali buku yang akan bertahan andai suatu saat kesusastraan Indonesia memutuskan untuk bertaubat dan mensucikan diri dari karya-karya buruk.

 snows

The Snows of Kilimanjaro and Other Stories

Ernest Hemingway

Beberapa cerita pendek penting Hemingway terhimpun di dalam buku ini (“A Clean, Well-lighted Place”, “The Short Happy Life of Francis Macomber”, dan “Fifty Grand”).

pedro 

Pedro Paramo

Juan Rulfo

Gabriel Garcia Marquez mengaku sanggup menuturkan ulang novel ini, baik dari depan ke belakang maupun dari belakang ke depan. Tidak mengherankan, sebab, dilihat dari sisi mana pun, novel ini bagus sekali.

 bartleby

Bartleby & Co.

Enrique Vila-Matas

Novel ensiklopedik tentang para penulis yang memutuskan untuk tidak atau berhenti menulis. Salah satu buku paling menarik yang saya baca dalam beberapa tahun terakhir.

 maps

Map: Collected and Last Poems

Wislawa Szymborska

“Saat kuucapkan hari depan, suku katanya yang pertama telah jadi milik masa silam,” tulis Szymborska dalam “The Three Oddest Words”. Buku ini memuat sekitar 250 puisi Szymborska dalam bahasa Inggris, mulai dari yang termahsyur seperti “Love at the First Sight”, “On Death, Without Exaggeration”, dan “Nothing Twice” hingga puisi-puisi yang ditulisnya menjelang kematian.

Foto oleh: Saila Rezcan.

http://www.dea-anugrah.com

 

The Pursue of Perfection, An Interview With George Maple

Always try to push the limit of herself dan segala batasan yang ada di sekitarnya, George Maple adalah sosok musisi perfeksionis penuh talenta yang tidak pernah dipuaskan oleh mediocrity, tidak dari orang lain, dan terutama tidak dari dirinya sendiri. 

dsc09932-2

Almost like a déjà vu, di hari pertama We The Fest (WTF) tahun ini yang jatuh pada hari Sabtu tanggal 13 Agustus lalu, tim NYLON menemukan diri kami dalam situasi yang nyaris sama dengan setahun sebelumnya. Which is? Menyambangi Fairmont Hotel Jakarta di Sabtu pagi untuk melakukan photoshoot dan interview eksklusif bersama salah satu international artist yang menjadi bintang festival musik garapan Ismaya Live tersebut. Tahun lalu kami telah bertemu Kimbra, sementara kali ini kami berkesempatan bertemu dengan Jess Higgs, seorang penyanyi perempuan muda yang tak kalah bertalentanya yang saat ini lebih dikenal dengan nama panggungnya, yakni George Maple. Entah kebetulan apa bukan, kedua vokalis perempuan tersebut memiliki beberapa kesamaan yang mudah disadari. Keduanya telah mulai bermusik sejak awal remaja, berasal dari wilayah Down Under (Kimbra dari Selandia Baru, sementara George dari Australia), meraih breakthrough lewat sebuah lagu kolaborasi, dan yang paling penting, keduanya memiliki bakat musikalitas yang impresif dengan perhatian pada detail visual yang sama kompleksnya. In other words, both of them are very passionate and perfectionist for their body of works. Namun tentu di sini kami tidak bicara soal membandingkan keduanya secara head to head, karena bagaimanapun keduanya punya karakteristik masing-masing. Jika Kimbra identik dengan kata quirky, maka sexy dan sultry adalah kata yang lebih tepat menggambarkan George Maple.

            Ditemui di kamar hotelnya, penyanyi berusia 25 tahun ini baru kembali setelah melakukan soundcheck untuk performanya di hari pertama WTF sebelum terbang esok hari untuk Sunny Side Up di Bali. She’s been in Indonesia for few times. Salah satunya ketika tampil bersama Flight Facilities untuk menyanyikan single “Foreign Language” saat ia masih memakai nama Jess. Tapi ini adalah penampilan perdananya sebagai George Maple and she’s definitely excited for it. “Tentu saja rasanya selalu seru saat pergi ke negara baru dan tampil di sebuah festival. Saya merasa setiap hari adalah sebuah pencapaian baru, entah itu berkolaborasi dengan musisi lain, menulis lagu, atau tampil di atas panggung. Playing shows is obviously very fun, saya menikmati tampil di panggung sama besarnya seperti bekerja di studio. Especially for the fans, it’s all about the kids who come and the fact that I want to come out. When they sing louder than you, it’s amazing,” ungkapnya sambil duduk di depan cermin makeup dan membiarkan wajahnya mulai dirias.

Saat berhadapan langsung dengannya, kamu akan merasa jika sejatinya wanita ini memang memiliki aura seorang chanteuse karismatik. Perawakannya tinggi dengan rambut jet black serta winged eyeliner yang membingkai mata dan bibir yang diselimuti lipstick yang terkesan intimidating. However, vokalnya saat berbicara mengalun halus dan merdu hampir seperti sedang bernyanyi. Lahir dan dibesarkan di Newport, Sydney, ia mengaku bukan berasal dari keluarga musisi. Ayahnya adalah seorang businessman dan ibunya seorang akademisi. Namun ia menyebut jika kakeknya yang berdarah Jerman adalah seorang pengacara yang juga bernyanyi di choir dan mungkin dari sana lah bakatnya menurun. Waktu kecil, ia terbiasa mendengarkan apapun yang didengarkan oleh orangtuanya seperti Sade, Prince, dan penyanyi Australia bernama Renee Geyer, sampai akhirnya ia mulai menemukan selera musiknya sendiri saat beranjak remaja yang terdiri dari TLC, Justin Timberlake, dan Backstreet Boys.

dsc09412-2

Ketertarikannya pada musik diawali dengan mempelajari piano dengan metode Suzuki yang sekaligus mempertajam kemampuan vokalnya. Selama masa SMA, ia mulai tampil di berbagai acara musik di kotanya menyanyikan lagu-lagu cover musisi favoritnya sebelum beberapa tahun kemudian ia bertemu dengan Flight Facilities lewat mutual friend di sebuah bar dan seminggu kemudian mengisi vokal di lagu “Foreign Language” yang telah disebutkan sebelumnya. Kepopuleran lagu tersebut berimbas tak hanya rasa penasaran orang pada sosok dirinya, tapi juga keinginannya untuk merilis materi lagunya sendiri sebagai musisi profesional yang sempat tertunda saat ia berkuliah di jurusan media dan jurnalisme. Following her true calling to be musician, ia merilis sebuah lagu electro-soul bertajuk “Fixed” di tahun 2013 yang juga menjadi salam perkenalannya ke publik dengan nama George Maple. “Di masa awal-awal membuat musik, saya masih merasa enggan untuk menunjukkan diri saya, saya menginginkan suatu wadah di mana saya bisa berkreasi tanpa harus mengekspos diri saya, jadi saya membuat George Maple sebagai sebuah kanvas kosong. Nama itu sendiri sebetulnya tidak berarti apa-apa, it’s just a name that emulate what I’m trying to show, and my mom like it, haha.”

            Just like Sasha Fierce for Beyonce atau David Bowie sebagai Ziggy Stardust, tidak sedikit musisi yang memilih untuk menciptakan sebuah persona baru dalam berkarya dengan berbagai alasan masing-masing. Most of them are for creative reasons. Begitu pun juga yang menjadi alasannya dalam memakai nama George Maple. “I think it’s more like a space where I can channel energy and put my experiences in more dramatic form. Saya senang bercerita dan apa yang saya tulis kebanyakan memang berdasarkan pengalaman personal yang mungkin agak sedikit didramatisir. Rasanya melegakan memiliki sebuah wadah berkreasi di mana George sebagai karakter, instead of me, bisa menempatkan dirinya di kondisi yang lebih ekstrem. It’s really a good place for me to put certain things so they don’t become a part of me, seperti energi-energi negatif yang bisa saya tampung di sebuah safe place.”

            Ketertarikannya pada musik elektronik terpicu saat mendengarkan album kolaborasi Gil Scott-Heron dan Jamie xx beberapa tahun lalu. Menggabungkan sensibilitas musik pop dan soul klasik dengan balutan produksi elektronik minimalis, ia menyebut musiknya sebagai Future Pop. “I don’t want to be the one to define future pop, everyone have their own interpretations, tapi bagi saya hal ini tentang mengeksplor cara baru untuk membuat musik dan menulis lagu, karena bagaimanapun, it’s always paying homage to the traditional pop music but also exploring these new technologies and style and challenging the traditional method a little bit,” paparnya, sebelum melanjutkan, “Saya merasa produksi adalah bagian besar dalam penulisan lagu, but in the end of the day, jika kamu bisa duduk dan memainkan lagu itu dengan sebuah gitar, then it’s a good song.”

Bicara soal songwriting sendiri, George mengaku mengagumi para penulis lagu pop seperti Max Martin dan Linda Perry, “Hal yang menarik adalah influens musik yang saya buat sekarang sebetulnya saya sendiri tidak tahu asalnya dari mana, I don’t grow up listening to some music I tend to create now and my friends always tell me about these artists yang mereka pikir memengaruhi saya, seperti Rose Royce misalnya yang terkenal di tahun 70-an. Mereka pikir saya mendengarkan Rose Royce padahal saya tidak mendengarkan musiknya sebelum mereka memberitahu saya. I try not to listen to too many things because I have quite sympathetic ears, and I don’t want to accidentally copy something, a lot of it actually comes from whatever going on inside of me. Saya senang menemukan musisi baru baik yang zaman sekarang maupun old artists, discovering Rose Royce is big one for me because it’s open this door to something I’m not naturally doing namun bisa mengembangkan warna musik saya. So I guess I’m always open to many new things.”

Telah banyak sekali berkolaborasi dengan para musisi dan produser elektronik seperti Flume, What So Not, DJ Snake, Kilo Kish, Ta-ku, Snakehips untuk menyebut segelintir kecilnya, George saat ini sedang menikmati serunya membuat lagu seorang diri, tak hanya soal vokal, tapi juga produksi hingga mixing. To be able to 100% sufficient adalah hal vital baginya. Kepekaannya yang semakin terlatih dan introspeksi personal pada inspirasi dalam dirinya kemudian mewujud dalam sebuah debut album mini Vacant Space yang dirilis akhir 2015 lalu oleh Future Classic dengan hits single “Talk Talk” yang melambungkan namanya. Direkam selama 18 bulan dan dikerjakan berpindah-pindah kota, dari mulai London, Los Angeles, New York, dan Sydney, album ini berisi lima lagu soulful dengan produksi aransemen elegan di mana vokalnya silih berganti menyesuaikan mood lagu, berat dan powerful di satu lagu dan ringan di lagu lain dengan lirik emosional nan jujur soal relationship, terutama di lagu “Vacant Space” yang juga menjadi lagu pertama. “Saat menulis lagu ini saya sedang ada di London dan berada di situasi emosional yang lumayan berantakan. Saya punya pengalaman kurang menyenangkan soal relationship dan merasa lelah soal itu. Saya pergi ke tempat teman saya untuk main musik. Dia bermain gitar lalu lagu ini mengalir dengan sendirinya dan selesai dalam waktu 10 menit. Aslinya, lagu ini lebih seperti lagu pop tradisional dengan chorus and everything, saya lalu mengirimnya ke Harley (alias Flume) dan ia mengutak-atik aransemennya menjadi lebih obscure,” kenangnya.

Not just moving on dari cerita cinta yang kandas, kepindahannya ke Amerika tahun lalu juga membawanya ke inspirasi baru dalam bermusik. Pertemanannya dengan para rapper dan produser Hip Hop di Amerika menginjeksikan semangat baru dalam dirinya dan menginfluens musiknya. “I think it’s just a life, saya telah melewati beberapa fase, saya mungkin akan kembali menelusuri sisi rapuh saya lagi di masa mendatang, tapi untuk saat ini saya sedang menikmati rasa percaya diri dan boldness yang ada di diri saya sekarang. It’s just what me at the moment,” paparnya. Hasilnya adalah materi baru seperti “Stick And Horses” dan “Buried“ yang dirilis tahun ini. Dibandingkan materi sebelumnya, kedua lagu tersebut terdengar jauh lebih agresif dan powerful dengan influens Hip Hop kental yang menjadi babak baru dalam musiknya, termasuk dalam urusan visual.

 Jika sebelumnya George dengan sengaja membangun image misterius dengan menolak memberikan press shot dan memilih vokalnya yang berbicara mewakili dirinya, belakangan ini ia seutuhnya menempatkan dirinya di bawah spotlight panggung-panggung besar dari mulai Coachella sampai Lollapalooza, bidikan fotografer, dan menjadi tokoh utama dalam video-video terbarunya yang bernuansa provokatif dengan tema besar seperti power, money, and sex, yang juga sebuah commentary yang berasal dari pengamatannya soal industri musik yang ia geluti. “I think it’s about observing and being aware of it. Banyak hal yang bisa membuatmu geram tapi kamu punya pilihan untuk mengambil sikap, and I choice not to act that way but also to hopefully provide some guidance for people who don’t really understand the complexity of the industry. Begitu banyak anak muda yang berharap masuk ke industri ini dan dimanfaatkan oleh orang sekitarnya. It’s an industry where if someone is taking advantage of you, they not just taking advantage of your job, but also for you as a person, because we are the product and it’s quite upsetting for me watching younger artists go through that, so I hope my observations could help someone else one day.”

            Di video untuk “Stick And Horses” yang juga menampilkan kolaborasi dengan rapper GoldLink, George menampilkan imaji kekuasaan dan seksualitas dalam sebuah strips club yang seduktif dan berbahaya, sebuah wilayah yang diakuinya benar-benar asing bagi dirinya. Sementara di video “Buried” yang digarap oleh Leticia Dare, George kembali menemukan dirinya di tempat yang dekat dari rumahnya. Berkolaborasi bersama teman masa kecilnya, Chris Emerson, yang lebih dikenal sebagai What So Not dan rapper asal Atlanta bernama Rome Fortune, video ini menampilkan visual dirinya yang sedang tenggelam di bawah air. “Waktu sekolah, kami punya acara seperti swimming carnival di mana kami harus pergi dan berkompetisi dalam adu renang, dan kebetulan tempat kami merekam video ini adalah tempat yang sama. Kebetulan juga Chris memang dulu tinggal tak jauh dari rumah saya, jadi ini seperti nostalgia. Kami berada di tempat renang yang sering kami kunjungi saat sekolah, it’s quite humbling and cool.”

            Perhatiannya pada detail visual tak lantas berhenti di situ. Dalam pemotretan ini misalnya, secara spesifik ia mengetahui dan menyiapkan referensi riasan seperti apa yang ia mau, pilihan baju, dan overall concept. Visual baginya adalah perpanjangan dari musik yang ia hasilkan. Saat saya bertanya apakah ia termasuk orang yang lebih suka mencari inspirasi dengan cara menonton film atau membaca buku, ia menjawab bukan dua hal itu yang menjadi sumber inspirasinya. “Saya banyak menghabiskan waktu di imajinasi saya sendiri. Dari kecil saya sering jalan-jalan sendirian dan menulis cerita di benak saya dan mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa akhirnya saya melakukan hal ini sebagai profesi. Saya tentu saja ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan menonton film atau membaca buku, tapi saya merasa inspirasi saya berasal dari hal-hal yang benar-benar ada di sekitar saya. I don’t think you can really write about things you don’t know, so for me it’s about learning and experiencing as much as possible. You learn so much just by hanging around with other people and listening to them.”

            Menyebut nama Kendrick Lamar dan Kanye West sebagai dream collaborators, kolaborasi baginya adalah tentang membangun koneksi tak hanya soal kreativitas tapi juga di level personal. “I just love to work with people whom I can vibing with in personal sense, dan vibe itu tidak selalu harus yang bersifat positif, it could be a friction, sexual tension, or even sometimes frustration, I guess it’s all about the energy and how the energy works together,” terangnya. Sisi perfeksionis dalam dirinya bahkan membuatnya tak segan untuk turun tangan langsung dalam menangani hal-hal teknis seperti membalas email and all the business side of it. “Rasanya seperti bekerja di sebuah dapur,” cetusnya, “Kita harus tahu setiap aspek dan bagian dari profesi yang kita lakukan. Saya merasa tidak banyak musisi yang berusaha mengerti soal itu, for me it’s just my personality that need to be hands on everything.”

Dengan jadwal tampil di festival bergengsi di berbagai belahan dunia, praktis tahun 2016 menjadi tahun super sibuk baginya. Telah tinggal di banyak kota besar dunia, saat ini, ia menyebut Los Angeles sebagai tempatnya pulang. Ketika sedang bercerita tentang LA, omongannya sempat terhenti saat speaker memutarkan salah satu lagunya. “Is it weird to hear your own song?” tanya saya yang langsung dijawabnya “No, I’m used to it, it’s cool, but it always a bit funny,” tandasnya dengan senyuman simpul, sebelum melanjutkan hal yang paling ia rindukan dari rumah, yaitu? “Saya suka membuat salad. Hal favorit saya saat pulang tur adalah pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan salad dan membuat semangkuk besar salad. It’s strange thing I enjoy, I especially salmon salad, haha,” pungkasnya. Menyoal hal yang ia suka lakukan selain bermusik, ia sempat berpikir agak lama karena baginya saat ini fokusnya memang sedang 100% di musik, tapi pada akhirnya ia mengutarakan jawaban yang melintas di benaknya. “Saya pergi ke Meksiko beberapa bulan lalu dan menginap di sebuah tempat di dekat Cabo yang agak terpencil, and that’s the first holiday I got in so long and I feel really relax. I do yoga retreats as well, I would like to go to Ubud, saya belum pernah ke sana, dan mungkin setelah tur ini saya akan ke sana.”

            Sebagai musisi yang namanya sedang naik, especially in this social media age, George pun mengungkapkan pendapat pribadinya soal popularitas dan media sosial. “Media sosial tentu saja sangat bermanfaat in so many ways tapi di saat yang sama saya juga tidak menyukai orang-orang yang bersembunyi di balik keyboard. Orang-orang sekarang bisa sangat judgemental di internet, terutama untuk anak-anak dan remaja. It’s hard enough to growing up; you don’t need the additional stress from internet tapi saya merasa media sosial adalah platform yang luar biasa. Contohnya baru-baru ini saya menonton video di Facebook tentang seorang gadis kecil berumur 10 tahun di Palestina yang melaporkan hal di sekitarnya yang mungkin tidak diekspos oleh media umum,” tandasnya. Talk about keyboard warriors, apakah dia punya pengalaman buruk soal komentar di internet? “I’m pretty good with them. Tentu saja ada momen di mana saya ingin menjawab setiap komentar dan menjelaskan dari sisi saya, but you know, yang namanya hater pasti ada saja, its part of the job and not a new thing, entah itu dari media atau dari orang di internet. Saya membaca satu hal yang diucapkan oleh Kiera Knightley, dia bilang dia tidak membaca review apapun soal filmnya baik yang positif maupun negatif dan lebih fokus berkarya, dan saya pikir itu adalah sikap yang tepat karena kemungkinannya kamu bisa saja menjadi besar kepala saat membaca pujian atau justru merasa bitter saat membaca komentar negatif. So yeah I try not to read too much because in the end of the day, semua orang punya pendapat masing-masing.”

            Tanpa terasa, perbincangan saya dengan George telah berlangsung hampir satu jam. Wajahnya telah selesai dirias dan ia pun bersiap mengganti pakaian ke wardrobe yang telah disediakan stylist kami. Sebelum beranjak, saya pun melempar pertanyaan terakhir soal rencana yang ada di depan matanya. Selain tentu saja masih menyiapkan materi-materi baru dengan kejutan-kejutan yang masih ia rahasiakan, ia pun mengungkapkan, “I don’t really have a bucket list, to be honest. Yang jelas saya merasa sangat beruntung dan bersyukur dengan segala hal dan kesempatan yang telah terjadi sepanjang tahun ini and all the crazy circumstances, I don’t even know what will happen around the corner dan hal itu yang justru membuat segalanya menjadi exciting, so I will just keep myself surprised,” tandasnya sambil menyunggingkan senyum. “But for now…” ujarnya tiba-tiba, “Saya berpikir untuk mencari seseorang yang bisa membantu mengkustom jaket saya, put a bunch of rhinestones on it, saya mungkin akan mencarinya di Bali dan menikmati sisa hari sambil minum cocktail di samping kolam and just chill.”

dsc09530-2

 

Picture Perfect, An Interview With Gianni Fajri

 

Berawal dari tugas membuat video dan foto promo untuk clothing brand saat mendalami Fashion Business di LaSalle College, Gianni Fajri menyadari jika menyajikan sebuah presentasi visual adalah pelampiasan sempurna bagi kreativitas dalam dirinya, apapun mediumnya. Sempat bekerja di sebuah fashion company, karier profesional gadis kelahiran Bandung yang akrab disapa Ghyan ini di bidang filmmaking dimulai saat ia dipercaya menggarap Behind The Scene dari Filosofi Kopi. Ditambah berbagai project seru lainnya seperti video campaign dan dokumentasi untuk beberapa clothing label maupun company hingga music video untuk Maliq & D’Essentials, Neonomora, dan LCDTRIP, namanya pun mencuat sebagai salah satu director muda dengan resume yang kian hari kian menarik perhatian. Kini, di usia 25 tahun, Gianni dikenal sebagai seorang film director yang memiliki production house sendiri bernama Maji Piktura, creative director dari sebuah creative studio bernama Anara, serta art director untuk PonYourTone. Her upcoming project? Sebuah debut film pendek berjudul Julian Day yang terinspirasi dari album milik band Elephant Kind. 

gianni

Tell me about your background, sejak kapan kamu tertarik pada directing/filmmaking dan apakah kamu mempelajarinya secara akademis atau otodidak?

My background was in a Fashion Industry, I went to LaSalle College majoring Fashion Business and have worked with several fashion company. Filmaking adalah media yang sempurna untuk melampiaskan kreativitasku. Berawal dari tugas kampus yang membutuhkan photo & video untuk promo brand baju, dari situ aku belajar sendiri dari mulai mengambil foto, edit foto sampai ke video. That’s when I started to learn and jump in into the film industry. The right word is otodidak.

Apakah dalam berkarya kamu berusaha memiliki satu ciri khas yang “Gianni banget”? Kalau iya, how would you describe it?

Beauty shoot, neon lights and dynamic shot (ghostly) and there must blue in it.

Siapa saja sosok visual maker yang influential bagimu?

Sofia Copolla, Terrence Malick, Gregg Araki, Nabil (music video director), Chan-wook Park, Wong Kar Wai.

Apa yang biasanya kamu lakukan untuk mencari inspirasi?

Being out of the circle, matiin handphone. Getting lost somewhere and talking with stranger/people randomly. Being sensitive with surroundings.

Sejauh ini, project apa yang paling berkesan bagimu dan kenapa?

Director Behind the Scene, Filosofi Kopi. Punya kesempatan berkarya & belajar di industri film kemudian dibayar pula, hahaha.

Bagaimana kamu melihat peran media sosial bagi kariermu?

Social media nowadays is very important apalagi di industri kreatif. Social media menjadi media promosi yang bisa membantu karya teman-teman sineas & seniman dilihat/didengar lebih luas lagi. Getting inspired and being inspired is what I’ve learnt in social media.

Apa advise terbaik yang pernah kamu dapat soal profesimu?

David Lynch salah satu director yang mempunyai pola pikir spiritual yang sangat menginspirasiku saat melahirkan karya. Ada dua quotes terbaiknya yang selalu kupegang teguh saat mulai berkreasi. Yang pertama: “If you stay true to your ideas, film-making becomes an inside-out, honest kind of process.” Dan yang kedua: “Every viewer is going to get a different thing. That’s the thing about painting, photography, cinema.” Berkarya dengan tujuan, jangan memikirkan yang lain because we’re not a Nutella jar, we cannot make everyone’s happy. So trust your guts, if you don’t feel like you’re doing it, then don’t.

What’s your current obsession?

Writing and walking. 

Benda apa saja yang selalu ada di tasmu?

Books, phone, lipstick, wallet and note book.

What do you love and hate the most about the creative scene in Jakarta right now?

Love: It’s growing! Banyak yang sudah mengapresiasi dan teknologi sudah mendukung. I’m sure it’s getting big kalau kita sama-sama mengapresiasi dan berkarya dengan jujur. Hate: I don’t do hate. But more to critical, kalau karya seni itu butuh proses. Banyak orang yang ingin cepat jadi hanya di layer pertama kemudian membodohi penikmatnya yang membentuk satu benchmark yang tidak jujur dan original.

Tell me about your dream project/collaboration?

Writing my own feature film yang mengangkat sisi humanisme dengan packaging yang sangat fresh.

Apa project selanjutnya yang bisa dibocorkan untuk saat ini?

Preparing my next film, hehehe. Still a secret tho. Well for this year, lagi persiapan buat TV series Viva Barista kedua (it’s a documentary about coffee, lifestyle & travel hosted by 3 boys: Rio Dewanto, Muhammad Aga, dan Roby Navicula) we did it the first time online on Metro TV. Should be exciting!

Gianni’s Watch List:

the-handmaiden-cannes

The Handmaiden

Craziest & exciting plot ever, should watch!

lost-in-translation-2

Lost in Translation

My forever favorite movie, in love with the soundtrack and what they called platonic love.

 knight-of-cups-bale-blanchett

Knight of Cups

Very poetical movie by Terrence Malick, if you feel like you’re in the mood of gloomy, should watch this movie,

viceland-vice-media

Viceland

YouTube channel yang dipimpin oleh Spike Jonze. Content yang sangat menarik untuk generasi millenials tentang social, politic & lifestyle!

death-proof

Death Proof

ITS VERY SATISFYING!

 

 

On Stage: STUDIORAMA Live #6

Sejak pertama kali digelar tahun 2011 silam, STUDIORAMA Live yang digarap oleh kolektif Studiorama bisa dibilang telah menjadi barometer dan ajang showcase karya audio dan visual dari aksi-aksi musik paling fresh dan menjanjikan yang ada di skena musik lokal saat ini, tak terkecuali dalam perhelatan keenamnya pada hari Sabtu, 19 November 2016 lalu. Bertempat di Rossi Musik, Fatmawati, Jakarta Selatan, tahun ini STUDIORAMA Live turut didukung oleh British Council dan berhasil memboyong bintang tamu internasional pertamanya, which is trio electro pop asal Inggris, Kero Kero Bonito, untuk melengkapi line-up yang juga terdiri dari band-band lokal seperti Circarama, Ikkubaru, dan Heals.

circarama-kkb-2
Circarama

            Saat tiba di Rossi sekitar jam 7 malam, Circarama yang merupakan kuartet psych rock telah memulai set mereka yang turut diiringi oleh visual menarik dari Rafaela Lisa. Yup, dalam gelaran keenam ini, Studiorama kembali mengajak band yang akan tampil untuk berkolaborasi dengan para visual jockey untuk menghadirkan sajian audio dan visual yang apik. Bersama visualisasi trippy dari Rafaela Lisa, Circarama pun sukses membuka gig ini dengan aksi seru dalam membawakan racikan psych, folk, dan rock dari album mini mereka Limustaqarrin Laha, termasuk single terbaru mereka yang bertajuk “Porcelain Sky”.

ikkubaru-kkb-2
Ikkubaru

            Selesai menyaksikan Circarama dan menunggu band selanjutnya bersiap tampil, tampaknya crowd semakin ramai dan ya, the on the spot ticket was sold out. Beberapa calon penonton pun harus gigit jari dan menunggu di lantai bawah. Tak hanya memenuhi Rossi, crowd juga menyesaki area Mondo by The Rooftop di mana deretan disc jockey ibu kota yang terdiri dari Django, Gerhan, dan komplotan W_Music siap menghibur dengan set eklektik masing-masing. Setelah preparasi sekitar 30 menit, band kedua, Ikkubaru, pun siap tampil di atas panggung. Berkiblat pada genre musik pop elektronik Jepang dekade 90-an yang lazim disebut City Pop, kuartet asal Bandung ini sebelumnya telah lebih dulu sukses di Jepang dengan beberapa kali menggelar tur dan merilis album berjudul Amusement Park. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui mengapa mereka dapat diterima dengan mudah oleh publik Jepang. Dalam penampilan perdananya di STUDIORAMA Live ini, mereka berhasil tampil atraktif dalam membawakan materi orisinal plus satu lagu cover “Star Guitar” milik The Chemical Brothers yang turut dperkuat visual dari Anggun Priambodo dan beberapa penari latar yang membawa lightstick ke atas panggung.

ikkubaru-kkb-1
Ikkubaru

            Setelah Ikkubaru menuntaskan penampilannya, crowd pun banyak yang beringsut memenuhi bibir panggung karena setelah ini adalah giliran Kero Kero Bonito (KKB). Jauh-jauh datang dari London, KBB yang terdiri dari vokalis Sarah Midori Perry serta duo produser Gus Lobban dan Jamie Bulled ini tampil tidak mengecewakan. Walau sempat ada masalah teknis di lagu pertama, tak lantas membuat mereka mati gaya, dengan aura kawaii yang kental, Sarah pun berkomunikasi dengan crowd sebelum melanjutkan penampilan mereka membawakan materi-materi menyenangkan dari album Intro Bonito (2014) dan Bonito Generation (2016). Rimbawan Gerilya yang dipercaya membuat visual untuk mengiringi KKB pun berhasil menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Setiap lagu memiliki visual masing-masing yang mewakilinya dan membuat musik synth-pop KKB yang terinspirasi dari J-pop, dancehall, dan musik video game semakin terasa hidup! Aksi seru yang membuat penonton melompat seperti anak kecil kebanyakan gula dan beberapa gimmick pemancing senyum di lagu-lagu seperti “Flamingo”, “Graduation”, dan “Pocket Crocodile” membuat waktu seakan begitu cepat, and we want it little bit longer, sehingga tak heran saat KKB menuntaskan set mereka dengan single terbaru “Trampoline”, penonton langsung meneriakkan encore yang kemudian dipenuhi oleh KKB dengan senang hati.

foto-utamakkb-kkb-3

            Usai KKB akhirnya benar-benar menghilang ke backstage, bukan berarti STUDIORAMA Live #6 berakhir begitu saja, karena masih ada satu penampilan lagi dari Heals, kuintet nu-gaze asal Bandung yang terkenal lewat single mereka, “Void”, dengan wall of sounds penuh oleh distorsi gitar, reverb agresif, dan vokal mengawang yang mengingatkan pada band-band seperti Tokyo Shoegazer, My Vitriol, dan Sunny Day Real Estate. Diiringi oleh visual dari Ramaputratantra, Heals berhasil menutup STUDIORAMA #6 dengan gemilang. Sembari menunggu dan menerka band apa lagi yang akan ditampilkan dalam STUDIORAMA Live berikutnya, kita pun bisa menikmati STUDIORAMA Sessions terbaru dari kolaborasi Heals x Ramaputratantra dan Ikkubaru x Anggun Priambodo di kanal YouTube Studiorama.

heals-kkb-2
HEALS

Foto oleh: Norman Permadi // @xxnorm

 

Art Talk: The Fading Melancholia of Cynthia Tedy

profile

Shades that fade slowly but never completely,” demikian deskripsi personal yang diutarakan Cynthia Tedy untuk estetika karya grafisnya. Lahir di Jakarta 24 tahun silam, gadis yang berprofesi sebagai ilustrator dan desainer grafis tersebut mengaku telah mulai rutin menggambar sejak kelas 2 SMA namun baru mempertimbangkannya sebagai karier ketika menginjak tahun ketiganya di jurusan animasi. “Mungkin itu adalah masa-masa saat kebanyakan orang belajar bahwa dunia itu tidak sebatas apa yang kita asumsikan, juga mulai paham bahwa berbagai hal dalam hidup itu bisa dilihat dari banyak sudut pandang. Kita bisa belajar begitu banyak karena ada orang-orang yang mengekspresikan cara mereka merangkul kehidupan with all its beauty and tragedy. Sebisanya, aku mau mengambil bagian juga dalam perjalanan itu,” ungkapnya bijak. Setelah mengenalnya lebih jauh, there’s definitely a certain air of wisdom and innate awareness dalam benaknya yang kemudian mewujud lewat torehan jarinya. Melihat karya milik pengagum James Jean, Yoshitaka Amano, Taiyo Matsumoto, dan Dae Hyun Kim ini, you can’t help to sense some kind of bittersweet melancholia seperti menemukan kembali tumpukan shoujo manga favoritmu dari masa kecil, atau mengingat kembali memori yang hampir pudar. Tak jarang, ilustrasinya turut dilengkapi oleh secarik cerita maupun puisi untuk memperkuat narasi yang ingin ia sampaikan. Belum lama ini, salah satu karyanya pun menjadi ilustrasi dalam buku kumpulan puisi berjudul Kalopsia karya Aaron Ares. “Aku dikontak oleh si penulis karena dia merasa karyaku sejalan dengan apa yang mau dia ekspresikan. Poetry is something I find strangely healing, so I was compelled to work on the project,” papar gadis yang juga pernah membuat ilustrasi untuk cover album milik Jeffrey Popiel/Juniperus ini.

Hi Cynthia, apa kabar? Apa yang menjadi kesibukan belakangan ini? Halo! Selain lifelong personal project yang jalan terus seperti drawing series dan poetry writing, sekarang sedang merencanakan pembuatan formal portfolio website sendiri. Baru-baru ini juga mulai perlahan research dan memilah-milah contact art director atau beragam publikasi yang mungkin ada chemistry dengan working style aku. Basically, thinking about the direction I want to try with my current work.

Dari mana saja biasanya mendapat inspirasi? Dari kehidupan dan percakapan sehari-hari yang sepintas lumrah. Aku ada kebiasaan kecil untuk bertanya dari waktu ke waktu, “Apa cerita yang mungkin ada di balik ini?” Jadi seperti berburu struktur atau denyut nadi tersembunyi. Penemuan-penemuan ini selalu aku catat untuk dipelajari dan diolah kembali di kemudian hari. Biarpun tampak sepele, disiplin kecil ini bisa mengkultivasi ide bagus yang matang perlahan atau betahap. Selain itu, banyak mempelajari ide atau pemikiran orang lain supaya bisa membuka cara pandang dan mengasah sense.

tumblr_nntgln3ffx1r7xgixo1_r1_500

Aku lihat ada beberapa karya yang terinspirasi serial fiksi seperti Evangelion dan Final Fantasy, apakah kamu punya karakter fiksi favoritmu? Kalau karakter fiksi favorit sih nggak ada yang spesifik. Biasanya yang aku favoritin tuh karya atau kreatornya sendiri. Final Fantasy itu ilham besar masa kecil yang membuat aku sadar kalau karya seinspiratif itu memungkinkan untuk dibuat. Makanya dulu sempat berpikir untuk kerja di game company dan ambil kuliah jurusan animasi 3D. Kalau yang menarik dari Evangelion adalah director-nya sendiri, cara dia memproyeksikan emosi dan pengalaman dia ke dalam cerita fiksi.

tumblr_n95pxoxbpr1r7xgixo1_r1_500

Kamu juga suka menulis short story and comic, mana yang biasanya lebih dulu, the visual or the story? Siapa saja penulis favoritmu? Kadang visual, kadang story/words, kadang satu paket. I adore the storytelling of film director Wong Kar Wai and comic artist Natsume Ono.

Apa medium favoritmu dalam berkarya? Meskipun sering mewarnai secara digital, yang paling comforting itu tetap proses inking on paper.

Selain ilustrasi, hal apa lagi yang kamu suka lakukan? Crafts, like sewing and crochet, making plushies or miniature items. Also enjoy taking walks, both solo and accompanied.

tumblr_nsy6fgkaaw1r7xgixo1_r2_500

tumblr_nsy6fgkaaw1r7xgixo2_r2_500

What’s your current obsession? Following baseball games after working hours! Juga menyambut Olympic Games tahun ini. Aku mengikuti berbagai sports secara kasual tergantung season-nya, misalnya gymnastics dan figure skating, yang juga mengandung unsur artistik.

Sejauh ini apa project paling berkesan dan kalau boleh berandai, apa yang menjadi dream project bagimu? Seri ilustrasi Retrospective: Before I grew Up yang dikerjakan untuk minor project semester terakhir kuliah. Karena proposalnya bebas, jadi aku mencoba sesuatu yang lebih reflektif secara pribadi, yaitu cerminan tentang berbagai profesi berkesan yang aku temui saat masa kecil, disandingkan dengan pemikiranku tentang hal yang sama sepuluh tahun lebih kemudian. Karya ini tetap menjadi salah satu favorit pribadiku karena itu pertama kalinya aku merasa berhasil mengabadikan sesuatu “sepenuhnya”. Kalau dream project sih belum terpikir, tapi menurutku akan jadi pengalaman bagus kalau ada kesempatan berkolaborasi dengan bidang seni lain, misalnya fashion design, musik atau arsitektur.

Ada rekomendasi ilustrator lokal yang menurutmu karyanya harus disimak? Elicia Edijanto dengan lukisan hitam-putihnya yang elegan, Stephanie Priscilla dengan dunia bersahajanya yang penuh warna, dan yang satu ini bukan ilustrator tapi musisi lokal yang patut disimak: The Trees and The Wild.

What’s next project from you? Self-published zine kolaborasi dengan teman dari Taiwan. There will be illustrations, comics, short stories plus poetry in it. Temanya belum dipastikan secara spesifik, tapi akan menyangkut summer.

tumblr_n6u1h71s4u1r7xgixo1_r1_500

http://cynthiatedy.tumblr.com/

 

Art Talk: The Psychic Trip of Kendra Ahimsa

kendra

Jika kamu termasuk orang yang dengan jeli memperhatikan poster di gigs Jakarta, khususnya yang digelar oleh Studiorama, besar kemungkinan kamu telah terbiasa melihat karya Kendra Ahimsa, seorang ilustrator/desainer grafis yang sentuhan ajaibnya bisa kamu nikmati dalam bentuk poster art maupun visual art bagi band-band seperti Polka Wars dan Marsh Kids untuk menyebut segelintir proyeknya. Sejak kecil, pria kelahiran Jakarta, 5 Agustus 1989ini mengaku memiliki imajinasi aktif serta ide-ide random yang menjadi trigger baginya untuk menggambar, namun baru ketika pertengahan SMA ia mulai serius menekuni dunia art, salah satunya dengan aktif di MySpace dan DeviantArt dengan nickname Ardneks yang menjadi turning point tersendiri baginya. Dengan influens penuh detail dari karya-karya Hieronymus Bosch, Mati Klarwein, dan Henry Darger, psychedelic dan retrofuturisme mungkin menjadi hal yang pertama terlintas saat kamu melihat karya visual Kendra, namun tak bisa dipungkiri jika musik turut menjadi bagian integral dalam proses kreasi gitaris Crayola Eyes tersebut.

Studiorama

Hi Kendra, apa kabar? Boleh perkenalkan diri sedikit?

 Halo, saya Kendra Ahimsa, kabar baik. Saya hanya salah satu ilustrator/desainer grafis yang mencoba peruntungan di dunia nyata. Kegiatan sehari-hari sekarang banyak menggambar, menonton film, dan memasak.

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada art? Dan siapa saja yang menginfluens?

Kalau ada yang bisa saya ingat sejak kecil itu saya selalu curious dan selalu mikirin hal-hal random. Random misalnya kaya gimana menurut saya besar ukuran setiap binatang itu sudah sebagai mestinya diciptakan, kebayang nggak sih kalau gajah itu seukuran semut dan mereka baris di meja makan ngerubungin kue, atau nyamuk sebesar kucing terbang berkeliaran, bukan hanya aneh, itu bakal mengerikan. Nah itu gimana saya mulai menggambar, semacam outlet buat memvisualisasikan pikiran-pikiran random saya. Tapi baru mid-SMA saya mulai terekspos dengan kultur art, itu sekitar tahun 2006-2007-an, di mana saya mulai suka fotografi, pergi ke pameran seni, museum, digging buku-buku visual arts, ekstensif nonton film, jatuh cinta sama cover art dari album-album vinyl, perangko vintage, poster art, graphic design, tahun-tahun di mana saya mulai aktif di Myspace dan Deviantart. Di sana saya ketemu orang-orang ajaib yang nggak hanya jadi teman dunia nyata sampai sekarang, tapi juga berperan sangat penting untuk kancah saya sebagai individu kreatif. Kita berdiskusi, bertukar influens, bikin proyek bareng. Di tahun-tahun itu juga turning point saya, di tengah itu semua saya menemukan kenyamanan tersendiri. Alhasil, saya ikutin passion saya dan ambil jalur kreatif.

Wah kalau soal influens banyak sekali, belakangan ini saya sangat terinfluens dengan south beach art deco, memphis design style, retrofuturism dan cover-cover LP rilisan Jepang. Saya sangat suka komposisi yang mendetail dan bercerita seperti karya-karya Hieronymus Bosch, Mati Klarwein, dan Henry Darger.

Ada cerita khusus di balik nickname ardneks?

Waktu itu saya lagi membuat akun Deviantart, namanya juga anak bocah mau gampangnya, ya nama saya aja dibalik. Kebetulan nickname ardnek sudah ada yang pakai jadi saya tambahkan “s” aja di belakang, eh stuck sampai sekarang.

Kamla

Masih ingat artwork pertama yang kamu buat?

Lupa, soalnya banyak artwork iseng-iseng. Kalau artwork serius mungkin proyek Kamala, itu proyek ilustrasi saya dari tahun 2010-2012. Saya ingat awalnya cuma iseng pingin gambar gara-gara habis baca buku Be Here Now-nya Ram Dass, tapi belum tahu mau gambar apa. Saya turun ke ruang keluarga ternyata lagi pada nonton American Idol di TV. Saya nggak terlalu peduli sih sama American Idol, tapi saat itu kebetulan yang sedang tampil seorang kontestan perempuan dengan paras unik sedang main gitar akustik vintage sambil menyanyikan “Lullaby of Birdland” versi Ella Fitzgerald yang merupakan salah satu lagu favorit saya. Terinspirasi deh, akhirnya saya buat ilustrasi yang berjudul “Feathers”. Saya kirim ke dia lewat Facebook dan akhirnya ngobrol panjang, ternyata dia punya band indie bernama Varlet dan ilustrasi saya akhirnya jadi cover EP mereka yang bertitel I Win!.

Banyak yang bilang karyamu sangat psikedelik dan trippy, tapi bagaimana kamu mendeskripsikan estetikamu sendiri?

Mungkin referensial, semacam self-portrait yang agak kompleks. Psychedelic is all about experiencing things atau istilahnya trip, dan itu bukan berarti harus dikoneksikan ke drugs, trigger-nya bisa muncul dari mana saja, musik, film, apapun. Saya senang ilustrasi yang bercerita, jadi ilustrasi-ilustrasi saya itu antara hal-hal random yang saya pikirkan atau hal-hal yang pernah saya alami. Saya pernah lagi menyeduh secangkir kopi hitam, saat saya aduk muncul buih-buih di tengah hitamnya kopi, dan hal itu secara random mengingatkan saya akan galaksi milky way, yang akhirnya saya malah jadi memikirkan arti kehidupan. Sangat nonsensikal. Tapi beberapa tahun kemudian saya menonton film berjudul 2 ou 3 choses que je sais d’elle karya Jean-Luc Godard dan di film itu ada scene yang hampir persis sama dengan yang pernah saya alami, di mana sang laki-laki mempertanyakan arti kehidupan dalam secangkir kopi. Cerita ini menjadi inspirasi ilustrasi saya yang berjudul “Moonage Oddity”, di mana ada seorang gadis fanatik David Bowie yang menemukan arti kehidupan di semangkuk sereal.

Skala besarnya sih seperti ingin menciptakan semacam dunia saya sendiri. Dunia yang tidak terbatas perbedaan-perbedaan, malah membaurkan. Seorang bandit thuggee dari India dan seekor godzilla mendengarkan The Beach Boys di pinggir pantai sambil minum sangria, kenapa tidak? Itulah kelebihan dari ilustrasi, imajinasi yang tak terbatas.

Kalau soal estetika, itu rangkuman dari referensi-referensi visual yang saya sukai.

Kalau kamu sendiri sebetulnya memang belajar art secara akademis atau otodidak?

Partially. Kuliah ambil desain grafis saya belajar banyak tentang penggunaan software, color theory, typografi, percetakan. Di sana saya belajar disiplin yang dibutuhkan dalam melakukan seni secara profesional. Tapi kalau gambar saya belajar sendiri, dari sebelum kuliah sih juga udah suka gambar. Apalagi jaman sekarang, mau belajar apa saja tinggal cari di internet. Tutorial bikin apapun ada pasti kalau dicari, mau belajar sejarah seni juga perpustakaan internet jauh lebih lengkap. Jadi kalau dulu ‘edukasi itu sangat penting, tapi kok mahal?’, sekarang ya itu sudah bukan alasan lagi, cukup rutin ke warnet atau berlangganan internet lalu research sendiri saja.

Polka Wars

Sebagai seorang visual artist yang juga musisi, bagaimana kamu melihat korelasi antara musik dan seni?

Keduanya  berinteraktif, bisa berupa stimulan seperti kasus saya, atau kalau yang lebih konkret misalnya identitas visual dari sebuah band (cover album, video klip, etc). Sebuah band sebaiknya memiliki identitas visual yang khas, nah di situlah peran seorang seniman visual untuk menyampaikan maksud dari musik band tersebut ke pendengar, semacam mengantar setting suasana lah.  Sama juga kalau kebalikan kaya misalnya scoring film. Tapi di balik keinteraktifan itu, keduanya harus bisa dinikmati masing-masing secara tunggal. Saya pernah memberikan contoh kasus “Dark Side of Oz”, di mana kita memainkan film Wizard of Oz yang di-mute dan album Dark Side of the Moon dari Pink Floyd secara bersamaan. Itu hal yang sangat fenomenal, padahal kedua dari karya tersebut sudah sempurna dinikmati masing-masing.

Medium favorit untuk berkarya sejauh ini? Ada nggak medium lain yang sedang ingin dieksplor?

Pensil dan kertas. Sudah lama sih ingin serius ngelukis, tapi mungkin belom terpanggil.

Sejauh ini project apa yang paling memorable?

Semua proyek bagi saya memorable, karena setiap proyek men-trigger memori masing-masing yang spesifik.

Apa yang menjadi obsesimu saat ini?

Memphis design style, foto-foto dari katalog tahun 1970-an, dan penghapus merek Pentel yang berwarna pink dengan dua burung flamingo pink di packaging-nya, saya suka sekali desain produknya.

Apa proyek selanjutnya?

Fokus menyelesaikan proyek-proyek personal yang tertunda. Saya gampang sekali terdistraksi, jadi banyak gambar-gambar yang setengah jadi.

Peregrine

Kendra’s Top 5 Favorite Cover Art:

Bitches_brew

Bitches Brew – Miles Davis

Dua kata: Mati Klarwein. Salah satu cover yang membuat saya jatuh cinta dengan cover album.

Rolling_Stones_-_Their_Satanic_Majesties_Request_-_1967_Decca_Album_cover

Their Satanic Majesties Request – The Rolling Stones

Jawaban dari album The Beatles, Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club. Band yang menurut saya lebih bagus. Foto lentikular tiga dimensi yang kalau dilihat dari angle tertentu menghadap satu sama lain kecuali Mick Jagger yang di posisi tengah, lalu dikelilingi frame biru-putih.

Pink_Floyd-Animals-Frontal

Animals – Pink Floyd

Landscape gedung power station di mana ada detail seekor babi yang sedang terbang, dan istimewanya didesain oleh Roger Waters sendiri. Sarat akan kritik sosial, tapi sangat subtle.

The-Jacks-Vacant-World-478572

Vacant World – Jacks

Album dari band Jepang yang dirilis tahun 1968. Saya suka foto band yang berkonsep, dan di cover album ini komposisinya pas sekali.

hollow me

Hollow Me/Beautiful – Yura Yura Teikoku

Shintaro Sakamoto selalu mendesain sendiri visual untuk semua proyek musiknya, dan pada album ini dia sukses dengan desain simpel namun sangat mengena. Dari konsep, warna, komposisi. Padahal cuma ilustrasi pipa-pipa biru di atas warna pink, jenius.

studiorama-4tee1_800

www.cargocollective.com/ardneks

 instagram.com/ardneks

   soundcloud.com/ardneks

Center Nova, An Interview with JKT48’s Jessica Veranda

Ve1

Dalam dunia 48 group, istilah center merujuk pada member yang berada di blocking utama (di tengah barisan paling depan) yang mengemban tugas sebagai center of attention dalam penampilan mereka. Di dalam grup dengan puluhan member, posisi center jelas menjadi the highly coveted position, dan tak sembarang member bisa dipercaya sebagai center. You need charisma, uniqueness, nerve, talent, plus support dari para fans, dan Jessica Veranda memiliki semua faktor itu.

Tergabung dalam generasi pertama JKT48, pada awalnya gadis yang akrab disapa Ve ini adalah sesosok wallflower yang hampir tidak terlihat dibanding member lain yang berada di posisi depan. Namun, sikapnya yang kalem dan cenderung dewasa justru berhasil menarik perhatian banyak fans dan disertai oleh kepercayaan diri yang terus ditempa, ia pun secara perlahan sukses menjadi salah satu member terdepan yang sering kali tampil mewakili JKT48 dalam penampilan mereka di media. Puncaknya adalah ketika mantan aktris dan model cilik ini terpilih menjadi center di single terbaru JKT48 “Refrain Penuh Harapan” yang disadur dari single “Kibouteki Refrain” milik AKB48 dengan perolehan suara 22.404 votes dari para fans dalam ajang sousenkyo tahun ini, mengalahkan semua member lainnya, termasuk Melody yang selama ini hampir selalu menjadi center di JKT48.

“Awalnya sama sekali nggak nyangka, tapi Puji Tuhan bisa terpilih jadi nomor satu. Sebelumnya juga ada semacam rapat strategi dengan fans kan, fans aku bilang ‘Udah Ve duduk diam saja, paling bantuin kita berdoa aja, nanti kita yang kerja’ Aku kaya yang ‘Wah?’ Senang aja sih, walaupun sempat bingung karena rasanya aku jalanin kegiatan di JKT sama aja kaya member yang lain, tapi apa yang membuat aku spesial di mata mereka ya? Tapi bersyukur aja sih,” ujar Ve yang seolah masih belum percaya dengan posisinya saat ini. Mengemban tanggung jawab sebagai center dengan jadwal JKT48 yang kian padat ditambah aktivitasnya sebagai mahasiswi Desain Komunikasi Visual dengan tugas yang melimpah tentu bukan hal yang mudah, namun gadis yang juga dikenal sebagai fashion leader di JKT48 ini mengaku sangat optimis untuk terus membawa nama grupnya ke kalangan yang lebih luas.

Ve2

Hai Ve, selamat ya terpilih jadi center, senang nggak dapat single “Kibouteki Refrain” untuk dibawakan sebagai single sousenkyo tahun ini?

“Senang sih karena itu termasuk lagu AKB48 yang lagi nge-hits juga di Jepang, jadi bisa bawainnya di sini senang juga sih. Lagu ini sebetulnya bercerita dari sudut pandang cowok yang nggak bisa move on sih intinya, haha.”

Sebetulnya bagaimana sih rivalitas di dalam JKT48?

“Bingung juga ya, kalau rival antar tim kaya misal kemarin di konser “JKT48 Ada Banyak Rasa, Pilih Suka Rasa Apa” kan kayanya orang memandangnya antar tim lagi bersaing banget nih memperjuangkan tiket masing-masing show-nya supaya sold out, tapi sebetulnya bukan rival yang secara negatif kok, karena kita lebih fokus ke targetnya karena tim yang duluan sold out bisa dapat album sendiri untuk timnya, jadi kita berjuang untuk tim masing-masing kali ini. Kalau rival antar member mungkin baru terlihat ketika pemilhan-pemilihan seperti sousenkyo, kalender, atau revival show. Tapi intinya rivalitasnya bukan yang negatif, karena kita di sini sama-sama berjuang dan didukung fans juga.”

Tapi di konser kemarin belum ada tim yang berhasil sold out ya?

“Iya, sedih juga sih apalagi setelah tahu kalau Team J sedikit lagi sold out, kurang dari 100 tiket, tapi ya sudah mungkin kita memang harus usaha dan semangat lagi. Sudah dibilangin juga karena kali ini nggak ada yang sold out, nantinya bakal dibikin konser seperti ini lagi, jadi kalau bisa harus tambah fans lagi. JKT48 sekarang bisa dibilang sudah terkenal tapi fans-nya masih ‘fans dalam kandang’ nih, di luar paling masih taunya kalau JKT48 itu yang ramai-ramai, taunya yang lagu ‘Heavy Rotation’ doang, jadi kita harus terus kenalin JKT48 ke masyarakat yang lebih luas lagi.”

Kalau fans di luar Indonesia?

“Sekarang fans yang dari Jepang yang justru ke sini untuk nonton teater atau handshake. Banyak orang Jepang yang awalnya datang sendirian dan pas pulang ke Jepang mereka ajak teman-temannya untuk datang lagi ke Indonesia. Kebanggaan tersendiri juga kalau JKT48 dipercaya sama brand yang ada di Indonesia dan jadi jembatan persahabatan antara Jepang sama Indonesia. Dengan adanya JKT48, orang Jepang jadi melirik dan ingin tahu soal Indonesia juga. Waktu itu aku juga pernah ke Jepang khusus untuk memperkenalkan budaya Indonesia dan ngajarin Bahasa Indonesia ke orang Jepang, mereka jadi penasaran dan akhirnya datang ke Indonesia.”

Bagaimana caramu membagi waktu antara profesi dan akademis?

“Tanpa adanya teman-teman di kampus aku bakal susah survive di kuliah karena terkadang kan harus izin buat kegiatan JKT, nah mereka yang suka ingetin ada tugas atau apa. Kalau dari keluarga sih masih support banget, tapi mungkin karena aku anak cewek satu-satunya, mereka sering kaya kehilangan gitu, karena kalau lagi sibuk banget kan benar-benar nggak ada libur, jadi suka kangen juga. Kalau bagi waktu, dibilang susah pasti susah, apalagi untuk member yang masih sekolah atau kuliah, pas ujian atau banyak tugas terkadang sampai nggak tidur, tapi kan kalau mau sukses sesuatu memang harus ada yang dikorbanin. Kalau di JKT yang dikorbanin adalah waktu, waktu untuk keluarga dan waktu istirahat.”

Kalau personal style kamu di luar JKT48 seperti apa?

“Kalau fashion aku jujur lebih suka vintage sih. Cuma semenjak di JKT jadi jarang pakai fashion yang ‘niat’. Aku maunya kalau di JKT kan pas perform bajunya udah spesial, jadi kalau nggak perform aku mau pakai baju yang simpel aja supaya orang ngeliatnya beda ya Ve yang sehari-hari dengan Ve kalau di JKT. Kalau di kampus aku suka pakai yang boyish, yang agak gombrong sampai sempat disindir teman juga sih kaya ‘Lo kan artis, masa iya dandanannya kaya gini?’ Haha, tapi cuek aja sih.”

Bagi kamu, idol itu apa sih?

“Kalau menurut aku idol itu sosok penyemangat, bisa untuk inspirasi, motivator, karena segala sesuatu yang kita lakukan dilihat banyak orang, Dari situ gimana nih sebagai idol kita bisa kasih dampak positif untuk yang melihat kita. Minimal sih fans kalau melihat kita perform bisa ikut semangat atau dengan sekadar kita kasih kabar di Twitter jadi bikin mereka semangat.”

Lagu AKB48 apa yang ingin kamu bawakan?

“Kalau aku ‘Sakura no Ki ni Narou’, karena aku lebih suka lagu yang mellow dan menceritakan tentang kehidupan. Kan JKT rata-rata lagunya tentang cinta terus, yang tentang kehidupan mungkin baru ‘Yuuhi wo Miteiruka’, ‘River’, sama ‘Kaze wa Fuiteiru’, sisanya tentang cinta.

Apa yang biasanya dilakukan Ve kalau ada waktu luang di luar JKT?

“Tidur! Haha, semua member sering kaya ‘Kak, kita kapan libur nih?’ tapi pas dikasih libur kita kaya bingung sendiri mau ngapain, haha. Tapi kalau libur beberapa hari kalau aku yang pertama pasti dipakai tidur sepuasnya terus yang kedua baru rapihin kamar karena kamar biasanya udah nggak keurus, habis itu paling spending time sama keluarga.”

Target selanjutnya di JKT48?

“Kalau aku sih karena kapten setiap tim udah baru, mudah-mudahan dengan kapten yang baru ini bisa majuin JKT48 lagi seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, pengennya JKT bisa lebih luas lagi kaya sister group kita, kaya kalau AKB48 kan setiap ada sousenkyo ada apa kaya seluruh Jepang ikut heboh, pengennya kita juga bisa kaya gitu.”

Ve3

As published in Nylon Indonesia August 2015

Fotografer: Willie William

Stylist: Patricia Rivai

Atasan dan bawahan oleh Pinx