Style Study: Blackbook Jakarta

BB4

Berawal dari signature notebooks berwarna hitam dengan witty quotes sebagai tugas akhir kuliah, Blackbook melebarkan sayapnya ke produk apparel dengan lini a.part. Straightforward dan personal, brand asal Jakarta ini mengingatkan kita jika black is always be the new black.

BB5

So first thing first, how was it started?

Blackbook bermula sebagai final project untuk salah satu kelas kami di uni, we’re not gonna bored you with the details, but if we failed in this class, damn, we have to retakes the whole semester next year, of course we wouldn’t want that. Membuat produk stationery seperti notebooks is an easy choice, since all of us is such a stationery nerd, kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam di toko stationery and we do love the feels you got when you are about to use your brand new stationery for the first time, there’s something about it that can instantly boost up your mood. Plus, a well design stationery is our weakness.

Dari kiri: Ragil Satria, Hafiz Akhbar, Flori Amelia, Sigi Savero.
Dari kiri: Ragil Satria, Hafiz Akhbar, Flori Amelia, Sigi Savero.

 Boleh diperkenalkan ada siapa saja di tim kalian?

In the beginning there are a four of us, but along the way, anggota kita bertambah. Our background in this team cukup beragam, namun hal ini lah yang membuat setiap orang dapat memberikan gagasan serta sudut pandang yang sangat unik dan menarik sehingga mempengaruhi proses kita dalam mendapatkan ide atau inspirasi. Ada saya Hafiz Akhbar, sebagai Creative Director, saya berkerja di industri retail dan belakangan ini mulai menjadi brand consultant untuk beberapa brand lokal. Lalu ada Sigi Savero, sebagai Management Director, Sigi juga berkerja sebagai announcer di salah satu radio terkemuka di Jakarta. Ada Ragil Satria, sebagai Production Director, Ragil disibukkan dengan perannya sebagai vokalis band post-hardcore yang langganan manggung di acara wajib scene tersebut. Lalu ada Flori Amelia, sebagai Production Manager, Flori juga cukup disibukkan mengontrol bisnis-bisnis lain yang digelutinya. Tim kita dilengkapi dengan Aci Amar yang berperan sebagai Finance Manager dan Sugi Hermawan sebagai in-house photographer.

Blackbook bermula dari literally black book, tapi sekarang berkembang ke produk lain seperti bag dan apparel, bagaimana ceritanya?

When we started, we want to create wellmade stationery and office supplies. Untuk berkembang ke produk lain seperti variasi tas dan apparel tidak pernah terbayangkan sebelumnya, it just happened naturally and we’re kinda go along with it. Sehingga sekarang kami memiliki dua divisi brand, all stationery and office supplies is under Blackbook. Other than stationery and office supplies is under a.part.

Kalau A.part Mob itu sendiri sebetulnya apa?

A.part Mob adalah panggilan yang kita berikan untuk kustomer kita, we love our customer, we grew because of them, so we like the idea having this big family, a big crew, a mob, a fuckin rad mob, because they really are.

BB1

Apa saja yang menjadi influens utama bagi label ini?

Influens terbesar label ini datang dari diri kita sendiri, not in narcissistic way, tapi banyak inspirasi kami datang dari kehidupan sehari-hari, sesimpel obrolan dengan keluarga atau teman, random thought yang muncul saat stuck di kemacetan, or what this fuckin’ rad unknown biker beside you during red light wearing. All those simple things. Dan jangan lupa, Jakarta is our backyard, we don’t need to look further for great inspiration.

Bagaimana kalian mendeskripsikan potential customer kalian?

It’s really hard to describe our potential customer, karena produk kami sangat universal, stationery is very universal, and because what we do is personal, hopefully everyone from every background can relate to our products easily.

BB3

Target atau rencana kalian selanjutnya apa saja, baik dari segi desain maupun marketing?

Rencana kami ke depannya dari segi desain, kami masih terus berusaha mengolah dan meningkatkan tidak hanya kualitas estetika tetapi kualitas produk secara menyeluruh. Hal ini membutuhkan proses yang cukup memakan waktu karena minimnya resources yang kita miliki sekarang. Oleh karena itu kami ingin mengajak masyarakat atau kustomer kami untuk lebih menghargai dan mencintai produk buatan lokal. Sehingga bila dikaitkan dengan target atau rencana marketing ke depannya, kami ingin sekali memberikan pendalaman yang lebih lanjut mengenai keuntungan apa saja yang didapatkan ketika membeli produk buatan lokal, seperti dapat membantu perekonomian industri menengah ke bawah yang kebetulan selama ini kami ajak untuk bekerjasama.

Dengan banyaknya label lokal sekarang ini, apa taktik kalian untuk terus stand out from the crowd?

It’s not hard, you just have to stay true to yourself, stand to what you believe in and just do your own things. We do believe in honest voice speak louder than a crowd.

BB2

As published in Nylon Indonesia June 2015

The Reader: Keinesasih Hapsari Puteri

 

Telah mulai membaca komik sejak umur 4 tahun, komik memang selalu menjadi bagian penting dalam hidup Keinesasih Hapsari Puteri, seorang penulis komik yang berbasis di Jakarta. Ines, demikian ia bisa dipanggil, punya reputasi cukup tinggi di media sosial dan komunitas fandom karena passion dan aktivitasnya pada hal-hal yang dianggap “geeky” seperti video game, kultur Jepang, dan tentu saja, komik. Namanya semakin mencuat ketika bersama teman-teman sevisinya di awal 2014 lalu meluncurkan proyek Nusantaranger, sebuah serial webcomic tentang pasukan pembela kebenaran a la Power Rangers dengan muatan lokal yang kental. Dalam proyek yang diprakarsai oleh Shani Budi Pandita dan Tamalia Arundhina tersebut, Ines yang merupakan penggemar berat komikus Hiromu Arakawa (Fullmetal Alchemist) dan Brian K. Vaughan (Saga, Ex Machina, the Private Eye) berperan sebagai penulis cerita, sesuatu yang telah menjadi impian perempuan kelahiran 1988 tersebut sejak lama. Walau belum punya pengalaman menulis komik sama sekali, just like a duck to water, tulisannya diapresiasi positif oleh para pencinta komik dan hype yang diraih Nusantaranger turut menggairahkan kembali geliat komunitas komik lokal yang sempat lesu. Kini, di samping menyiapkan follow-up project bersama tim Nusantaranger, Ines disibukkan dengan menjadi pembicara di berbagai event komik, menulis cerita untuk sebuah studio game independen lokal dan sebuah project terbaru dengan judul God Complex. Kali ini, Ines pun menyempatkan diri menjawab beberapa pertanyaan sekaligus merekomendasikan beberapa judul graphic novel favoritnya dan menegaskan kembali jika siapapun boleh menikmati komik dengan bebas.

Hi Ines, sejak kapan mulai tertarik dengan komik? Masih ingat nggak komik apa saja yang paling berkesan bagimu saat kecil dulu?

Mungkin sama seperti banyak orang seumuran saya, komik-komik pertama saya adalah manga (komik Jepang) seperti Doraemon, Tekken Chinmi (Kung-Fu Boy), dan Sailor Moon. Saya juga suka komik Eropa seperti Asterix dan Spirou, tapi baru berkenalan dengan komik Amerika setelah mulai remaja karena peredarannya relatif jarang di Indonesia. Dulu, komik yang saya baca adalah apa pun yang dibawa pulang oleh kakak. Baru setelah masuk SD saya memilih komik yang saya baca sendiri. I used to burn all my allowance on comic rental shop, hahaha. Judul yang berkesan ada banyak sekali, tapi salah satu momen yang paling berkesan berhubungan dengan SHOOT! karya Tsukasa Ooshima. Satu adegan sedih di sana berhasil membuat saya yang waktu itu masih kelas 3 SD menangis tersedu-sedu di kasur dan menolak makan sampai orang tua saya bingung.

Komikus idolamu siapa saja, Nes?

Saya sangat mengidolakan Hiromu Arakawa, komikus sekaligus penulis Fullmetal Alchemist dan Gin no Saji (Silver Spoon). Ia memiliki fleksibilitas dan jangkauan tema yang mengagumkan—mulai dari genre aksi yang mengandung muatan filosofis sampai genre slice of life yang sarat bumbu komedi, semua bisa dieksekusi dengan baik dan selalu laku keras, yang berarti komiknya bisa diterima oleh kalangan luas. Saya juga mengidolakan Brian K. Vaughan (Saga, Ex Machina, the Private Eye). Komik-komik yang ia tulis selalu memiliki world building yang sangat imajinatif dan rapi, karakter yang mudah disukai, serta cerita yang menghibur dan kritis di saat yang sama. Selain itu dia juga sangat produktif!

Dari sekian banyak komik, apa judul yang membuatmu berpikir jika komik bukan sekadar bacaan anak-anak?

I’ve always known that the appeal of comic book is universal. Tapi kalau ada sebuah judul yang membuat saya berpikir, “Damn, komik ternyata bisa gini juga,” yang pertama adalah Monster karya Naoki Urasawa. Saya terbiasa membaca manga yang rata-rata sangat cartoonish dan hiperbolis, dan Monster sama sekali tidak seperti itu―it’s serious, mature, grim, and psychologically brutal.

Boleh cerita soal God Complex?

God Complex adalah sebuah IP (intellectual property) yang diciptakan oleh Bryan Lie dari GLITCH Network. Awalnya, karakter-karakter God Complex dirilis sebagai figurine saja, dan universe-nya ditulis oleh Bryan sebagai latar belakang mereka. Tapi, karena permintaan dari berbagai pihak, akhirnya GLITCH Network memutuskan untuk membuat komiknya. Kebetulan mereka membaca Nusantaranger, menyukainya, dan meminta saya untuk menulis ceritanya God Complex. Berbeda dari Nusantaranger dengan cerita kepahlawanannya yang sangat lugas dan cenderung aman untuk semua umur, God Complex akan lebih dewasa, kelam, dan sedikit bermain-main dengan filosofi. Komiknya juga ditulis dalam bahasa Inggris. Ceritanya bertempat di dunia di mana dewa-dewa yang selama ini hanya kita kenal dari mitologi betul-betul ada, namun mereka tidak lagi relevan dalam kehidupan manusia. I’m very excited and, honestly, a bit scared to see how people will react to this title. But mostly excited!

Secara singkat, bagaimana kamu melihat industri komik lokal saat ini?

Saya termasuk pendatang baru di dunia komik, jadi tidak bisa berbicara banyak. Tapi, yang saya lihat, industri komik ini antara ada dan tiada. Bisa dibilang ada karena banyak komikusnya dan rilisannya bisa ditemukan di toko-toko buku (walau tenggelam di lautan komik-komik terjemahan), tapi bisa juga dibilang tidak ada karena kondisi dan infrastrukturnya belum memadai. Jumlah penerbit komik bisa dihitung dengan jari. Jumlah editor yang mengerti bagaimana cara menyunting komik bahkan lebih sedikit lagi. Standar industri pun boleh dibilang tidak ada. Misalnya, berapa honor minimal untuk komikus amatir? Bagaimana dengan yang profesional? Ini juga diperparah dengan banyaknya komikus yang hanya mengerti bagaimana cara ngomik saja, tapi tidak paham atau bahkan malas mempelajari bisnis dan cara memasarkan karya. Setahu saya ini sudah berlangsung bertahun-tahun, dan sangat patut disayangkan mengingat dunia komik Indonesia tak kekurangan talenta hebat. Beberapa judul yang bisa dicek antara lain Pusaka Dewa karya Sweta Kartika yang juga ilustrator Nusantaranger dan Arigato Macaroni karya Erfan Fajar yang juga akan segera merilis Manungsa yang diprediksi akan menjadi hit di tahun ini. Keduanya bisa dibaca secara gratis di internet, just give them a google.

Sebagai perempuan, suka risih nggak kalau dicap sebagai comic geek? I mean, seperti ada dua kutub yang berbeda ketika bicara soal itu. Di satu sisi, banyak pria yang menganggap perempuan yang suka baca komik Marvel contohnya, itu keren, sampai jatuhnya seperti fetish atau sexualization tersendiri, tapi ada juga yang melihatnya negatif dengan melontarkan sexist remarks atau menuduh poser karena sekadar ikut-ikutan tren. What do you think?

Maaaaan, we fetishize everything and anything. Bagaimana lagi bisa ada akun Instagram yang berisi foto-foto laki-laki tampan sedang membaca buku—harus buku, tidak boleh tablet—di subway yang diambil diam-diam? Tidak penting apakah kamu betul-betul suka membaca atau buku apa yang kamu baca. Pokoknya kalau kamu ganteng dan kamu terlihat sedang membaca, kamu seksi. Begitu juga dengan komik. Cewek pembaca komik terlihat menarik karena mereka tidak sesuai dengan stereotipe pembaca komik pada umumnya. Apalagi kalau cantik, semakin terlihat eksotislah dia. Tapi saya rasa, karena komunitas pembaca komik adalah lingkungan yang sedikit “eksklusif” sebelum kesuksesan film-film superhero, beberapa anggotanya bereaksi tidak ramah terhadap orang yang terlihat berbeda dari “kalangan dalam” mereka. Misalnya, cewek yang baca komik kemudian dibilang ikut-ikutan atau poserwhich is weird because, shouldn’t they be happy if the stuff they love received wider recognition? Kalau mau dibahas terus, bisa panjang sekali jawabannya. Tapi yang jelas bagi saya kedua kutub ini sama tidak pentingnya. Membaca komik tidak membuatmu otomatis keren karena, let’s be honest, banyak juga komik yang jelek. Tertarik pada komik setelah menonton filmnya juga tidak membuatmu jadi poser, karena komik seharusnya bisa dibaca oleh siapa saja.

What’s the next project/plan?

Tahun ini masih konsentrasi ke God Complex dan follow-up project dari tim Nusantaranger. I’m still new in this so I’m taking my time to adjust with the pace of the industry, which can fluctuate a lot between the busy and slow days. Tapi mudah-mudahan tahun depan saya bisa mulai mengerjakan judul saya sendiri. Selama ini, komik-komik yang saya tulis seperti God Complex dan Nusantaranger selalu berasal dari gagasan orang lain, and I want to release something that’s meaningful to me and truly comes from within. Until then, I’m building my skills and confidence so I can come up with a story that I can really be proud of. Wish me luck!

INES’ GRAPHIC NOVEL RECOMMENDATIONS:

 ms_marvel_cover_a_p

Ms. Marvel

Story: G. Willow Wilson

Art: Adrian Alphona, Jacob Wyatt (#6-7), Elmo Bondoc (#12), Takeshi Miyazawa (#13-15)

Ketika pertama kali membaca Ms. Marvel, saya berpikir, “Finally, sebuah komik yang patut dibaca oleh cewek di mana pun tanpa terkecuali.” Kamala Khan a.k.a. the newest Ms. Marvel adalah protagonis perempuan yang paling relatable bagi saya sepanjang sejarah membaca komik. Sebagai remaja Muslim-Amerika keturunan Pakistan, Kamala tidak hanya bergulat dengan identitas gandanya sebagai superhero merangkap pelajar SMA, namun juga dengan keluarganya yang kolot dan kepercayaannya. Ms. Marvel bukanlah sekadar cerita superhero, namun juga cerita tentang remaja dan perjuangan mereka untuk “fit-in” dengan lingkungannya, sekaligus untuk menemukan jati diri mereka sendiri. Seandainya komik ini sudah ada saat saya SMA, mungkin saya akan merasa menemukan sosok sahabat dalam diri Kamala.

Monster

Monster

Story & art: Naoki Urasawa

Banyak orang menyebut Monster sebagai salah satu psychological thriller terbaik, dan mereka tidak melebih-lebihkan. Komik ini menceritakan perjalanan Dokter Kenzo Tenma yang dihantui rasa bersalah karena sembilan tahun lalu ia menyelamatkan nyawa seorang anak yang ternyata tumbuh menjadi psikopat paling berbahaya di Eropa. Johan Liebert, karakter antagonis dalam komik ini, mungkin adalah salah satu karakter antagonis paling berkarisma sekaligus membangkitkan bulu kuduk yang pernah ditulis. Jika Monster adalah kisah nyata, ibu-ibu di Jerman pasti akan menakut-nakuti anak mereka yang nakal dengan, “Awas nanti didatangi Johan Liebert.”

saga

Saga

Story: Brian K. Vaughan

Art: Fiona Staples

Bayangkan Romeo & Juliet bertemu Star Wars. A very trippy, psychedelic Star Wars. Cerita utama Saga memang sangat sederhana—dua orang dari ras yang saling bermusuhan saling jatuh cinta dan menjadi buronan di seluruh galaksi karena anak mereka dianggap sebagai simbol persekutuan yang tabu—namun Brian K Vaughan dan Fiona Staples berhasil mengemasnya menjadi bacaan yang sangat menghibur berkat desain karakter yang super keren, dialog cerdas, serta dunia yang tak kurang dari ajaib. Kalau kamu jeli, kamu juga bisa menjumpai sentilan-sentilan berbau kritik sosial yang menggelitik di sana-sini, yang merupakan ciri khas setiap komik karya BKV.

Bakuman

Bakuman

Story: Tsugumi Ohba

Art: Takeshi Obata

Bagi yang menyukai komik, khususnya manga, Bakuman adalah bacaan yang tidak boleh dilewatkan. Komik ini membeberkan cara kerja dan infrastruktur industri komik Jepang dan seberapa keras persaingan yang harus dihadapi para mangaka (komikus) sekadar untuk mempertahankan karier mereka dengan cara yang ringan dan mudah dimengerti. Penggemar karya duet Ohba-Obata sebelumnya, Death Note, juga mungkin akan terhibur karena mereka banyak menyelipkan curhat colongan tentang Death Note ke dalam Bakuman. Pokoknya, setelah membaca Bakuman, saya jadi jauh lebih menghargai manga dan para mangaka, serta makin iri pada industri mereka.

CIVWAR_CVRS.indd

Civil War

Story: Mark Millar

Art: Steve McNiven

Sebuah reality show yang dibintangi beberapa superhero kurang berpengalaman mengalami kecelakaan yang menewaskan ratusan korban sipil. Masyarakat Amerika pun mulai resah dan menuntut para superhero untuk mendaftarkan diri di bawah pengawasan pemerintah. Tuntutan ini melahirkan Superhuman Registration Act yang memecah para superhero menjadi dua kubu, yaitu pro-registrasi yang dipimpin oleh Iron Man dan anti-registrasi yang dipimpin oleh Captain America. Mengingat film Captain America: Civil War akan dirilis bulan Mei tahun depan, kamu mungkin ingin segera membaca seri ini, terutama jika kamu ingin punya geek cred di hadapan teman-teman setelah menonton filmnya. Selain itu, Civil War juga bisa jadi entry point bagi kamu yang baru ingin membaca komik-komik Marvel, karena ada banyak hero yang terlibat dalam cerita ini.

fullmetal

Fullmetal Alchemist

Story & art: Hiromu Arakawa

Sebuah kegagalan ritual alkimia mengakibatkan Edward Elric kehilangan tangan kanan dan kaki kirinya, sementara adiknya, Alphonse, kehilangan seluruh tubuhnya dan hanya hidup sebagai roh yang melekat pada sebuah baju zirah raksasa. Fullmetal Alchemist menceritakan perjalanan kakak-beradik ini untuk mengembalikan tubuh mereka seperti sedia kala. Serial ini adalah bukti bahwa komik remaja tidak harus selalu dangkal atau simplistis. Mulai dari filosofi “equivalent exchange” yang dapat diaplikasikan pada alkimia sekaligus dalam kehidupan, world building yang kompleks, drama yang menyentuh, hingga karakter yang membuat pembaca jatuh hati, semua dapat diramu dengan baik, dengan penyampaian yang ringan dan penuh bumbu komedi. Ending-nya pun terbilang sempurna—sesuatu yang jarang dimiliki serial manga lain. Untuk alasan-alasan ini, saya berani bilang bahwa FMA adalah salah satu manga terbaik yang pernah ada.

Ghosted

Ghosted

Story: Joshua Williamson

Art: Goran Sudzuka

Kalau kamu penggemar genre heist dan horor sekaligus, bergembiralah. Dalam Ghosted, kamu akan diperkenalkan dengan Jackson T. Winters, seorang pencuri handal sekaliber Danny Ocean, yang dihantui trauma setelah seluruh krunya tewas secara aneh dan brutal saat hendak membobol sebuah kasino. Winters mengira kariernya sebagai pencuri sudah tamat saat tiba-tiba seorang miliuner eksentrik membebaskannya dari penjara dan memintanya mencuri hantu dari sebuah mansion angker. Jika sinopsis ini terdengar edan, maka kamu sudah mendapat gambaran yang tepat tentang Ghosted. Selain ceritanya, hal terbaik dari serial ini adalah Jackson Winters sendiri. You will hate to love him, and you will love to hate him. Atau, jika kamu—seperti saya—memiliki soft spot untuk karakter antihero dengan masa lalu kelam, kamu akan jatuh cinta habis-habisan pada Winters.

The Wicked

The Wicked + The Divine

Story: Kieron Gillen

Art: Jamie McKelvie

Bagi beberapa fanboy dan fangirl di luar sana, status idola mereka mungkin sudah mendekati nabi atau dewa-dewi. Tapi bagaimana jika para rockstar ini memang dewa-dewi dalam arti sesungguhnya? Dalam dunia The Wicked + The Divine, setiap sembilan puluh tahun sekali, dua belas makhluk ilahi mewujud dalam diri manusia-manusia muda. Mereka akan menjadi pujaan dan sumber inspirasi manusia selama dua tahun untuk kemudian menghilang, dan kembali lagi sembilan puluh tahun mendatang. The Wicked + The Divine adalah renungan yang menarik tentang pop culture, industri budaya, dan spiritualisme. Namun, yang lebih penting, serial ini adalah bacaan yang sangat menghibur.

All You Need Is Kill

All You Need is Kill

Story: Sakurazuka Hiroshi

Art: Takeshi Obata

Keiji Kiriya adalah seorang prajurit biasa yang direkrut untuk berperang melawan alien Mimics yang menyerang umat manusia. Namun, setiap kali Keiji tewas di medan perang, ia akan terbangun di pagi hari yang sama, menjalani rutinitas yang sama, berperang, tewas, begitu terus berulang-ulang. Satu-satunya petunjuk bagi Keiji untuk keluar dari loop tersebut adalah Rita Vrataski, prajurit terbaik umat manusia yang dijuluki Full Metal Bitch. Jika plot All You Need is Kill terdengar familiar, itu karena manga ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Hiroshi Sakurazaka, yang juga sudah diadaptasi ke dalam film layar lebar berjudul Edge of Tomorrow, dibintangi Tom Cruise dan Emily Blunt. The manga is as fast-paced as the movie, and is equally entertaining. And Takeshi Obata deserves to be in this list twice because his art is that good.

As published in NYLON Indonesia August 2015 

Art Talk: The Punk Rock Illustration of Ayash Haryanto

Ayash Haryanto

Pertama kali menemukan akun Instagram @wonderyash yang bernuansa monokrom hitam-putih, saya seperti tidak bisa menahan diri untuk menekan tombol Likes sebanyak mungkin pada karya ilustrasi hitam-putih dengan referensi terhadap musik punk dan pop culture yang begitu kuat dan sosok musisi ikonik seperti Kurt Cobain hingga Morrissey. Kekaguman saya bertambah ketika menyadari jika sang ilustrator adalah seorang perempuan muda dengan penampilan yang cute. Bernama lengkap Ayash Haryanto, ilustrator kelahiran Medan, 26 September 1992 tersebut masih tercatat sebagai mahasiswi semester akhir di salah satu universitas di Jakarta. Mengaku suka menggambar sejak masih sangat kecil, Ayash sendiri baru mulai fokus menggambar sejak SMA dengan kiblat utama gambar-gambar superheroes dari komik DC dan Marvel. Namun, baru ketika masuk kuliah ia memfokuskan diri pada artwork hitam-putih seperti yang ia buat sekarang. “Saat kuliah baru sadar, kalau menggambar, terutama anatomi tubuh dan perspektif, tidak sesimpel itu. Apalagi urusan warna, dan buatku bermain warna itu bisa dibilang sulit nan rumit. Nah, karena aku pribadi merasa kurang bisa memadukan warna, walaupun sempat coba berbagai media seperti cat air atau minyak, aku putuskan untuk fokus dengan artwork black and white. Tidak kompleks, dan tidak mudah, namun aku merasa artwork black and white itu mudah diterima oleh semua orang,” ungkap gadis yang juga gemar bereksperimen dengan media mural tersebut.

tumblr_ne57eoOLI11qa0ub6o1_1280

Secara sekilas, terlihat elemen punk yang kuat di karyamu. Kalau untuk kamu sendiri bagaimana musik memengaruhi proses berkaryamu?

Kalau soal elemen punk dalam gambarku, jujur sekali pada awalnya aku membuat artwork bertemakan punk hanya sekelibat terlintas di kepala karena waktu itu aku nggak sengaja lagi scrolling down Tumblr dan nemu salah satu foto yang aku kira cocok untuk aku bikin quick sketch. Mulai dari situ, aku kepo sama genre punk ini, kemudian aku penasaran dengan culture, cara berpakaian, ideologi, dan terutama musik mereka yang mendukung aku dalam pembuatan proses karya. Buatku, musik itu pembangkit mood. Musik apapun itu, terkadang saat membuat artwork punk pun aku nggak selalu mendengarkan musik mereka juga. Karena ya, lagi-lagi menyesuaikan dengan suasana hati.

Siapa saja seniman favoritmu?

Seniman favoritku cukup banyak. Untuk yang dari luar negeri aku suka Raymond Pettibon, Sam Dunn, Alex MDC, Benjamin Lande, dan mereka semua seniman/ilustrator yang mostly black and white. Untuk dalam negeri, ada Roby Dwi Antono (aku favorit sama lukisan popsurealisnya), Amenkcoy, dan masih banyak lagi. Influens benar-benar datang dari Raymond Pettibon dan Amenkcoy. Mereka bisa dibilang kiblatku banget.

Wonder1

Apa medium favoritmu dalam berkarya dan kenapa?

Tinta hitam dan kuas. Media paling simpel yang pernah aku pakai. Cukup mudah, dan dalam pembuatan karya nggak memakan waktu banyak, khususnya untuk blocking, aku bisa lebih menghemat waktu. Dan tentunya nggak pusing-pusing menentukan warna.

Selain art, apa lagi yang kamu suka?

Semua kesukaanku sepertinya nggak bisa jauh dari yang namanya art. Aku suka musik. Akhir-akhir ini aku lagi rajin explore soal musik dari genre mana aja dan dari Indonesia atau luar negeri. Karena musik sangat berpengaruh dalam pembuatan karyaku, kadang aku buat playlist sendiri sesuai current mood, dan aku putar saat aku mau buat suatu artwork. Dan biasanya, artwork itu bisa nunjukkin perasaan aku saat itu.

What’s your current obsession?

Obsesiku untuk sekarang, aku mau ngadain mini exhibition (khusus black and white artwork) bareng temen-temen ilustrator lain, dan di dalamnya ada sesi workshop plus gambar bareng menggunakan media tinta hitam aja. Selain itu, aku lagi terobsesi untuk ngebuat artwork band, dari band-band favoritku. Mungkin lingkup musiknya masih nggak jauh dari punk ya, atau mungkin band bergenre ambience.

Who’s your local music hero?

Still Superman Is Dead! Dan Slank… hehe.

Apa project selanjutnya?

Rencana, ingin membuat fanzine yang isinya karya-karya dari teman-teman sekitar terlebih dahulu. Kalau rencana awal sukses, aku akan lanjut ke konsep selanjutnya, yaitu mengajak beberapa ilustrator favorit yang aku kenal untuk ikut berkontribusi langsung dalam menyumbangkan karyanya untuk fanzine ini. Mengapa fanzine, karena buatku ini media yang bisa memperluas koneksi dan menambah teman lebih banyak.

tumblr_nme8s08TAX1qa0ub6o1_1280

Wondeyash’s mixtape:

Talking Heads

“New Feeling”

Buatku ini lagu post-punk yang bisa ngebangkitin mood. Cocok didengerin di waktu apapun. Biasa aku dengerin lagu ini ketika mood lagi jelek-jeleknya, dan berhasil balikin mood jadi baik lagi.

Radiohead

“High and Dry”

I just love the lyrics. Lagu Radiohead terbaik versiku, dan jadi salah satu lagu favorit ketika mood lagi nggak bagus.

The Clash

“The Magnificent Seven”

Ini lagu unik dan bisa cheer up your day. Pertama kali aku dengar salah satu lagu Daftpunk, nggak tau kenapa langsung terbayang lagu ini. Dan ternyata aku temuin mashup dari lagu ini dengan Daftpunk di YouTube.

The Pixies

“Here Comes Your Man”

Mungkin untuk yang suka sama OST 500 Days of Summer, tau lagu ini yang pernah dinyanyikan ulang sama Meaghan Smith. Ini juga termasuk lagu yang bisa  membangkitkan mood.

The Smiths

“Ask”

Lagu ini masih jadi andalan dan masuk ke dalam playlist aku untuk gambar di saat momen-momen senang.

tumblr_nqgibroxYE1qa0ub6o1_r1_1280

Art Talk: The Delicate Hand Lettering of Novia Achmadi

Sebagai salah satu elemen krusial dalam dunia desain, tipografi secara natural telah menjadi bentuk seni tersendiri, baik dalam bentuk digital ataupun hand lettering yang bagi sebagian orang terasa lebih otentik. Beberapa tahun terakhir seni hand lettering pun kembali naik ke permukaan sebagai eskapisme dunia desain digital yang terasa “dingin” dan kaku. Seni hand lettering yang bersifat fleksibel dan mudah beradaptasi dengan media apapun tersebut yang akhirnya menarik minat Novia Satyawati Achmadi untuk menekuninya. “When you learn about typography, you always start from sketches. Some people find it stressful tapi aku enjoy karena basically aku suka gambar dari kecil. I started with one simple word then escalate it to a complete sentence. I love the fact that it’s all handwritten where it’s digital world we live in,” ungkap desainer grafis berusia 24 tahun tersebut. Lulusan DKV Binus ini kemudian membentuk sebuah label handwriting art bernama Kallos dan bereksplorasi dalam berbagai medium, mulai dari helm, denim, jaket kulit, hingga kotak aki yang terdengar maskulin dan memadukannya dengan sentuhan feminin yang menjadi ciri khas karyanya.

The-Best-Thing-in-LifeBagaimana sampai tercetus ide untuk Kallos? And what’s the story behind the name?
Aku kerja di agency as a graphic designer where you can’t always do what you love all the time. Jadi kalau ada waktu senggang, aku bikin hand lettering just as refreshment. And I thought, other than keeping me creative, a hobby should make money for me. Awalnya sih iseng masukin karya di Instagram @missachmadi. Tapi taunya banyak yang tertarik, terus aku putusin untuk bentuk sebuah brand aja sekalian. Lahirlah Kallos (@kallos_hl). Kallos—means beautiful in Greek—adalah kata dasar dari calligraphy. This is the perfect word because that’s what I do, ‘sugarcoating’ words so it’ll look prettier.

Do you already find your own aesthetic signature in Kallos?
Selama ini di dunia design, I learn that art is subjective. That depends sama siapa yang lihat & nilai. Sometimes people can’t really judge but feel the need to throw comments, what they say is ‘bagus sih, tapi kok cewek banget ya?’. I hate the way it used as criticism. Emang salah kalo cewek banget? Kenapa nggak pernah ada yang protes kalau itu cowok banget? Jadi aku berusaha masukin unsur ‘cewek’ dalam karya Kallos. Entah itu dari shape atau warna, pokoknya harus ada sisi feminin dari karyaku. Aku mau kasih tau orang kalau nggak ada yang salah dari menjadi perempuan and women can totally pull it off.

11_Kallos10_Lady-Luck06_Things-We-Do-For-FunBagaimana biasanya proses yang kamu lalui saat berkarya?
Setelah tau mau nulis apa, aku mulai cari-cari typeface apa yang cocok. It’s not always matching typeface to a specific word, but to the whole sentence. Lalu aku bikin sketsa layout. I find it challenging karena medianya selalu berbeda-beda bentuk, ada yang melingkar, datar, kain, dll. Setelah itu baru masuk proses pengecatan. Untuk referensi, I look not only typography based reference, but design as a whole. That helps the creativity flowing.

Setelah bereksperimen dengan beberapa media, mana yang paling menantang sejauh ini dan apa ada medium lain yang sedang ingin kamu eksplor?
Jaket parasut sih! Haha. Still working on it. Yang mau aku eksplor… Truk! Kayaknya seru kalau bisa nulisin “Doa Ibu” atau “Putus cinta sudah biasa, putus rem mati kita’, hehe.

Dari mana biasanya menemukan inspirasi?
Mostly internet. Can’t deny it, haha. Dan dari ngobrol sama orang lain, entah mereka artist juga atau bukan. People’s point of view is always interesting.

Sejauh ini Kallos sudah pernah terlibat project/kolaborasi apa saja? Mana yang paling berkesan untukmu?
Kallos sedang kolaborasi dengan Lawless & Unionwell, and also have another on the pipeline. Honestly it’s hard to say which one I love the most karena tiap project aku ketemu orang yang berbeda, personality & backgrounds. They impress me in different ways and I feel grateful to experience that.

Processed with MoldivBrake-Clutch-Detail

Siapa lettering artist favoritmu dan kenapa?
Pertama, Gemma O’Brien because her details are amazing! Kedua, those who still learning typography & hand lettering! Their spirits inspire me.

Peralatan apa yang biasanya kamu pakai untuk hand-lettering?
Pensil, penghapus, dan penggaris untuk sketsa. Acrylic untuk media yang serap air. Enamel & thinner PU untuk media yang nggak serap air. Brush untuk keduanya juga beda.

BoysMarketApa yang membuat sebuah lettering art dikatakan sukses?
Simpel sih: bisa dibaca! Hehe. Beberapa kalimat susah di-layout and on some cases, there are people who actually dare to scramble the words so it looks nice on the layout but irritating to read!

Kamu sendiri melihat scene hand-lettering di Indonesia seperti apa saat ini dan ke depannya? Karena di luar negeri pun hand-lettering sedang booming lagi kan.
Aku seneng banget sekarang orang-orang udah mulai sadar kalau tipografi itu juga termasuk art not just the fonts you use on your resume or things like that. I see that many workshops are there to help. Aku mau banget sih ikutan, I want to learn from other people sampai akhirnya mungkin someday aku bisa buka workshop sendiri, hehe.

Do you have any personal favorite font in particular?
Din is always my fav! When people say “You are more perfect than Helvetica'”, they must be talking to Din.

Apa yang kamu lakukan untuk menghadapi creative block?
Take a break. Menurut aku penting untuk step back and see things from different perspective. And don’t be so hard with yourself.

Apa quote yang selalu berhasil menginspirasimu?
“A woman who doesn’t wear perfume, has no future.” —Coco Chanel. It tells you that you have to have that signature along the way and how it’s gonna leave mark on people—how they’re gonna remember you as something special.

04_Get-Shit-Done

On the Records: Bedchamber

Bedchamber, unit indie pop teranyar Jakarta bersiap meninggalkan masa remaja dengan sebuah album debut yang impresif dan semoga saja, everlasting.

PerennialDi masa ketika musik didominasi oleh bebunyian elektronik dan artifisial, jujur saja ada kerinduan tersendiri untuk mendengarkan kembali musik indie pop dalam format band yang organik selayaknya musik-musik dari skena indie pop lokal di dekade lalu yang didominasi oleh band Bandung, yang sayangnya seperti mati suri digusur oleh genre electronic atau folk. Adalah Bedchamber, band besutan anak-anak jurusan desain di Jakarta yang menebus kerinduan tersebut dengan mini album bertajuk Perennial. Berawal dari sebuah project pameran seni kolektif, Ratta Bill (vokal/gitar), Abi Chalabi (gitar), dan Smita Kirana (bass) yang sama-sama ingin ngeband iseng nge-jam bareng dan mengajak Ariel Kaspar, teman sekelas Ratta sebagai drummer hingga terbentuklah band yang namanya diambil dari sebuah random page di Wikipedia tentang Lady of the Bedchamber ini sekitar pertengahan tahun lalu.

Awal terbentuk, mereka masih menerka arah bermusik dari beragam influens setiap personelnya dari Radiohead, Weezer, DIIV, sampai musik punk (akun Soundcloud mereka masih menyimpan cover version lagu “Salah” milik Potret) dan sempat memainkan musik yang cenderung ke arah post rock sebelum akhirnya mekar sempurna menjadi sounds Bedchamber saat ini yang bisa dijabarkan sebagai indie pop at its best: aransemen yang jangly, struktur melodi yang catchy, vokal yang menyelisik dalam reverb, dan lirik bertema teen angst seperti misalnya saja, lirik “Who we are when we’re gone at 21/When we’re 21/Will we lose our sight?” yang terdapat dalam single pertama mereka, “Youth”.

“Ya sebenarnya EP ini bercerita tentang anxiety kita sendiri gimana kita masuk ke fase baru dalam hidup. Album ini dibikin pas kita masuk umur 20 di mana dari kita umur 19 ke 20 itu ada perbedaan yang cukup signifikan karena 19 adalah umur terakhir sebagai teenager jadi perasaan itu sih yang banyak dijadiin inspirasi,” ungkap Ratta yang menulis semua lirik di EP ini. “’Youth’ menyambung cerita kita sempat cari momen apa sih yang bisa kita capture dari EP ini yang kita buat waktu kita beranjak umur 20. Dan kebetulan kita semua sama-sama anak-anak yang cukup resah setelah ini kita mau ngapain? Kalau orang taunya masa muda itu hura-hura aja kita justru sebaliknya, di balik hura-hura ‘Youth’ sendiri ada kegelisahan yang cukup besar dan itu yang kita angkat,” imbuhnya tentang album debut yang berhasil mengangkat nama Bedchamber sebagai salah satu band pendatang baru paling menarik saat ini dan menghujani mereka dengan banyak tawaran manggung, termasuk tampil di Keuken, Bandung yang diakui mereka sebagai gig luar kota pertama mereka beberapa waktu lalu.

Semangat Do-It-Yourself khas remaja dalam album ini terasa kental tak hanya dari musiknya tapi juga desain packaging bertema scientific illustration yang dibuat oleh para personelnya dan Perennial sendiri dirilis oleh Kolibri Rekords, sebuah label rekaman baru yang dibentuk oleh para personel Bedchamber dan juga sahabat mereka, Daffa Andika. Tak hanya Bedchamber, label ini pun dalam waktu dekat akan merillis materi dari nama-nama baru seperti Atsea dan Gizpel yang tak kalah menariknya, which is very exciting for our local scene.

Di balik kedewasaan musiknya, yang menarik ketika saya bertemu langsung dengan band ini adalah para personelnya yang ternyata masih terasa sewajarnya anak-anak kuliahan yang gemar bercanda, tidak bisa diam saat difoto, saling meledek satu sama lain, dan terasa sekali semangat mereka menjalani band ini, walaupun seringkali harus mengorbankan waktu kuliah. “Promosi, nge-gigs, tapi jangan lupa kuliah,” ujar mereka sambil tertawa santai saat ditanya rencana selanjutnya dari band ini. Yang pasti, Perennial adalah sebuah perkenalan manis dari band yang masih dalam tahap berkembang ini dan menyoal kembali pertanyaan retoris yang dilontarkan dalam sebait lirik “Youth” di atas, I really hope they will never lose their sight.

https://soundcloud.com/bedchamber

DARI KIRI: Ratta Bill, Smita Kirana, Ariel Kaspar, Abi Chalabi.

Foto oleh Sanko Yannarotama.

Art Talk: Macabre Pop Embroidery of Puji Lestari Ciptaningrum

Puji Lestari Ciptaningrum

“Aku nggak jago menggambar, melukis, drawing, dan lainnya. tapi aku bisa menyulam, walaupun nggak jago juga sebenarnya, haha. So why not aku coba berkarya dengan embroidery,” tukas Puji Lestari Ciptaningrum menjelaskan alasannya memilih embroidery (sulam) sebagai medium berkreasi. Ucapan tersebut terkesan merendah, walaupun faktanya gadis yang masih duduk di semester 5 Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta ini memang baru mulai fokus di embroidery sejak tahun lalu setelah melihat karya stitch di sebuah pameran yang lantas memotivasinya untuk mencoba embroidery. Beginner’s luck? It’s way more than that. Walaupun masih terbilang sangat baru, karya Puji yang memadukan unsur macabre dengan warna-warna vibrant telah tampil di beberapa pameran dan bahkan telah membuat workshop yang membuktikan jika embroidery yang sebelumnya identik sebagai kegiatan orang tua juga bisa dikemas secara pop dan menyenangkan.

Puji1

Kalau diperhatikan karyamu banyak yang menampilkan image tengkorak, why?
Iya, tengkorak itu kan bagian dari anggota tubuh kita. Tanpa kita sadari tubuh manusia juga punya nilai estetis jadi aku nggak mau jauh-jauh terlalu mikirin kehidupan sosial, politik, atau apalah untuk memvisualisasikan ke dalam karya aku. Toh di dalam diri kita pun ada sesuatu yang terlihat indah.

Apa yang biasanya menginspirasimu dalam berkarya?
Orangtua pastinya. Kalau ingat orangtua aku jadi semangat buat berkarya terus karena tujuannya ya aku mau buat orangtua aku bahagia. Serius loh ini bukan bohongan, hehe.

Siapa seniman yang menjadi favoritmu dan kenapa?
Seniman favorit aku kalau dari Indonesia Oomleo, kalau dari luar Ana Teresa Barboza. Nggak bisa dijelasin kenapa sih, yang pasti mereka sama-sama “gila”.

Beberapa waktu lalu kamu mengadakan workshop embroidery di Waga Gallery, how was it?
Yap. Senang bisa berbagi ilmu, walaupun sebenarnya ilmu aku soal embroidery juga masih cetek. Tapi seneng juga jadi bisa sama-sama belajar, malah ada juga peserta yang lebih jago dari aku. Hahaha.

Puji2

Kalau kamu sendiri menganggap seni sebagai profesi atau hobi?
Profesi yang menjadi hobi. Soalnya aku lebih hobi tidur dan santai-santai sih ketimbang embroiling. Tapi ya ujung-ujungnya ya harus tanggung jawab sama apa yang udah ditekunin.

 Kamu melihat seni di kalangan anak muda saat ini seperti apa?
Aku nggak tau sih ya seni di kalangan anak muda sekarang gimana. Tapi aku selalu support dan appreciate anak muda yang semangat dan mau maju dan berkembang, at least buat dirinya sendiri dulu aja deh.

Selain berkarya secara personal kamu juga punya proyek bernama Junk Not Dead, boleh diceritakan?
Junk Not Dead itu kolaborasi aku sama Muchlis Fachri (Muklay) di bidang merchandise. Jadi Muklay ini dulu ajak aku untuk membuat produk untuk dijual, tapi dalam konteks karya lukis dia supaya menjadi produk. Jadi Muklay di divisi gambar/lukis, aku yang divisi menjahitnya dan sekarang sih Junk Not Dead mencoba untuk bukan cuma menjual produk merchandise aja tapi juga menjadi art collective yang mewadahi teman-teman di kampus supaya bisa tetap semangat berkarya.

Puji3

Apa yang kamu lakukan untuk mengatasi creative block?
Jalan-jalan cari referensi, refreshing, liat-liat katalog pameran, searching internet, atau nanya-nanya sama Muklay bikin apa yang asik-asik gitu. kan kita sering kerja bareng juga jadi pasti dikasih saran.

Do you have any dream project?
Mimpi aku ada di Junk Not Dead.

Rencana ke depannya apa?
Rencana ke depannya merealisasikan harapan Junk Not Dead dan cita-cita aku to be an artist. Maybe, hahaha.

Puji4

http://instagram.com/ijupacups

As published in NYLON Indonesia November 2014

Art Talk: The Peculiar Illustrations of Anwita Citriya

Anwita Citriya

For some people, once they start drawing, they’ll never stop. Sama seperti natural-born artist pada umumnya, Anwita Citriya telah mulai menggambar sejak sejauh yang dia bisa ingat. “Bagi saya ilustrasi adalah cara untuk mengekspresikan pemikiran dan ide karena saya tidak pandai berkata-kata. Saya mulai membuat lebih banyak ilustrasi sejak tahu banyak orang mengapresiasi karya saya. Feedback dari mereka juga membuat saya terus ingin lebih baik lagi,” ungkap gadis kelahiran Bandung 22 tahun lalu yang kini masih menginjak semester 7 jurusan Desain Interior di Binus University tersebut. Mengidolakan para ilustrator perempuan seperti Audrey Kawasaki, Amy Judd, Ykha Amelz, dan Amna Oriana, “misterius” menjadi kata yang biasanya terlintas ketika kita melihat karya ilustrasinya yang didominasi warna hitam dan putih serta beberapa warna pastel yang terkadang ikut menyemburat. Gaya ilustrasinya sendiri memang kental dengan pengaruh manga, namun ia juga memiliki sumber inspirasi lain dari novelis Jepang favoritnya, Haruki Murakami, yang dikenal dengan cerita surreal dan rasa melankolis yang dreamy. Hal yang sama juga terasa dalam ilustrasi Citriya, there’s some certain floating and sentimental mood about it that make us want to go deeper to know her.

Anwita2

How do you usually introduce yourself?
I’m Citriya, a girl who draws and day-dream a lot.

Apa medium favoritmu dalam berkarya?
My favorite medium is pencil and watercolor. Sometimes I use acrylic paint too.

Hal apa saja yang biasanya menjadi inspirasimu?
It can be anything. Mulai dari baca buku, listening to some new songs, jalan-jalan sore, getting lost or just sit in a coffee shop mengamati orang lalu-lalang. Sometimes inspiration comes when you least expect it.

Anwita7

Do you believe in creative block? Kalau iya, bagaimana caramu untuk mengatasinya?
I do. When I’m stuck with no inspiration at all, the best thing to do is just to stop drawing.
Usually I’d bring one book, go to a nearby coffee shop and find myself a quiet nook to read for hours. But if I’m too lazy to go out I’d surf the net to find some new, weird, unusual things for inspiration. Pinterest and Tumblr are the two sites i frequently use.

Anwita4

Sejauh ini project apa yang paling berkesan untukmu?
Mungkin untuk melukis, proyek pertama saya yang paling berkesan. Saat masih di bangku SMP saya pernah diminta melukis background panggung untuk acara sekolah. It’s not big or anything, tapi rasanya bangga aja. Setelah itu saya dan teman saya selalu dipercaya untuk jadi tim dekorasi setiap kali sekolah mengadakan acara. It was fun.

Musik apa yang biasanya menemanimu saat berkarya?
It depends on the mood, but mostly I listen to instrumental or indie music. Like The Cinematic Orchestra’s “Arrival of the Birds & Transformation” or Agnes Obel’s “Philharmonics.”

Apa saja kesibukanmu saat ini?
Right now I’m doing internship in an interior design company.

Anwita5

Apa kegiatan yang suka kamu lakukan bila tidak sedang berkarya?
Read mangas and blogs, do a movie marathon or play the piano.

What’s your current obsession?
Human psychology and mythical beings. I find them really intriguing.

You love Haruki Murakami a lot, apa quote-nya yang paling berkesan untukmu?
“Your work should be an act of love, not a marriage of convenience.”

Anwita1

What’s the next project from you?
Well… Me and my friend are developing a project and it’s related to fashion. I’ll be doing some illustrations and hopefully it goes as planned. Fingers crossed!

http://instagram.com/anwitacitriya

Anwita6

On The Records: Danilla

Danilla2

Darah musisi mengalir kental dalam keluarga Danilla Riyadi, penyanyi solo muda asal Jakarta. Kakek-neneknya adalah pasangan penyanyi keroncong dan seriosa, ibunya adalah penyanyi jazz Ika Ratih Poespa sementara pamannya adalah musikus terkenal Dian Permana Poetra. Musik mungkin menjadi hal natural bagi gadis berusia 24 tahun tersebut, namun nyatanya ia mengaku tak pernah berniat mengikuti jejak ibunya sebagai penyanyi. Sebelumnya ia lebih dulu menjadi keyboardist di band Britpop bernama Orca sebelum bertemu dengan Lafa Pratomo yang mendorongnya menjadi solo singer dan memproduseri album debut Danilla yang berjudul Telisik. “Bahkan sebenarnya pas buat album ini pun saya masih nggak percaya kalau saya bisa nyanyi. Kalau ditanya ada influens nyanyi dari siapa itu nggak ada sama sekali satu orang pun karena saya sendiri pun merasa ‘kayanya gue nggak bisa nyanyi deh’ jadi seadanya aja keluarnya kaya gitu. Awalnya disuruh bawain pop, tapi kalau memang terlanjur bermusik, saya mau sejujur-jujurnya saya. Indie dikit lah,” ungkap gadis yang mengaku seorang introvert ini. Telisik, album berisi 13 lagu dengan tema seorang stalker berjiwa romantis dengan sisi gelap ini memiliki beragam influens mulai dari ballad, jazz, swing, dan bossanova. Yang menjadi benang merah adalah vokal classy Danilla dan aransemen yang membuai. “Ada yang saya lupa, harusnya di album ini saya ketik ‘Album ini bisa menyebabkan kantuk’, karena semua orang yang dengerin, biasanya nyebutnya lullaby,” ucapnya sambil tersenyum.

WHERE: Jakarta.

INFLUENCES: Coldplay, Radiohead, Jay-Jay Johanson, Rumer.

LISTEN THIS: “Buaian”, single pertama bernuansa swing dengan video klip hitam putih yang menarik, “Rezte Avec Moi” lagu karya ibunya yang berbahasa Prancis dan “Junko Furuta” yang terinspirasi kasus penculikan seorang gadis sekolah di Jepang. “Itu true story kan, nggak tau kenapa pas saya baca cerita itu pas kuliah pengen banget bikin lagu buat dia.”

FIRST GIG: “Pertama kali perform sendiri itu di Prime Cafe Bandung. Itu pertama kalinya saya ngerasa percaya kalau ada orang di luar sana yang suka musik saya. Gugup sih, terus malu karena biasanya saya pegang keyboard sekarang nyanyi sendirian, tapi akhirnya blend juga sama bandnya dan orang-orang. Sekarang udah biasa sih, udah enak perform-nya tapi ada juga yang bilang ‘Danilla kalau manggung merem melulu, nanti penontonnya kabur’ haha!”

DREAM COLLAB: Jay-Jay Johanson & Sean Lennon.

LOCAL MUSIC HEROES: “Tiga Pagi. Itu band Indonesia pertama yang saya suka banget sepanjang hidup saya. Saya jarang dateng ke gigs, yang saya kerahkan dengan sepenuh jiwa sih kalau Tiga Pagi manggung, nggak mau tau harus dateng.”

HOMETOWN GLORY: “Kayanya memang saya juga sadar sih kalau lagu di album Telisik mungkin nggak bisa dinikmatin banyak orang, tapi kalau lagu-lagu yang sekarang beredar di industri musik Jakarta kayanya memang yang porsinya pas untuk orang Jakarta sendiri. Tapi lumayan bagus sih ya, daripada yang kemarin itu musiknya sempat freak banget, Melayunya ngangkat banget. Sekarang sih udah bisa lah.”

NEXT PLAN: “Banyakin gigs, banyakin mondar-mandir dalam jangka waktu dekat mau maksimalin promo album, dan bersenang-senang sih, program utama adalah bersenang-senang lewat musik.”

Telisik

https://soundcloud.com/danilla-jpr

Through The Lens: Amanda Kusai

Amanda Kusai

Among of countless Instagram feeds laden with VSCO Cam and the over-stylized pictures, there’s always some users with their own distinct charms that makes us instantly hit the follow button, endlessly scrolling, and spending a nice few minutes to like every single photos in our screen. Surabaya born and Jakarta based Amanda Kusai is one of them. This young visual artist’s Instagram feeds is nothing but visual feast for the eyes with her signature sense of clean simplicity, subtle twist, irony, and a touch of plants here and there. Recently, she was participating on special project with hashtag #GeographyofYouth where she interviewing and taking photos of the millennial kids.

Works1

 Hi Amanda, how are you? Where are you right now and what were you doing before answering this email?

Hello! I am better than ever, thank you! Right now I’m sitting in my new empty room that’s been mistakenly painted purple and pink instead of white. Before this color tragedy I was underwater swimming like a human dolphin with all the other exotic fishes and saw the most wonderful array of colors reflected and refracted from the corals and sunlight, but then I woke up.

Could you tell me a bit of yourself and your occupation?

In short, people know me by Amanda Kusai instead of Amanda Sutiono. Kusai was a name of a pink swirly poo looking toy I liked and was given, not long after, I retrieved the name thanks to a lovely bunch of people I call my best friends. Well at least it’s a pretty catchy name (I once burst out laughing when a company I applied work for, addressed me as Kusai when I clearly wrote my formal name on my CV and cover letter). I moved quite a lot in the 20 or so years that I’ve lived it’s always exciting but I dream to settle down one day. I am self employed with my best buddy Axel Oswith, we partnered up to run a creative culture hub called The Taable, specializing in art direction + photography, we’ve only just started less than a year ago so wish us luck!

Amanda_Kusai_Instagram_15
What attracted you to photography?

To be completely honest I don’t really classify myself as being too serious, I believe it’s important to be flexible but stubborn in what you believe in. I grew up getting used to photography as a medium to express, explore and to document like a visual diary, and photography has been one of the tool to realize these ideas into actual visual forms that I can share with others to enjoy. Throughout high school I took business and art as my majors and now I already graduated.

What kind of camera you usually use? 

I like going light so I just use my iPhone it does the job simply and seamlessly, unless of course it’s for work I use a full-frame DSLR so that I can have more control over post-production. Leisurely, I use my film cameras, the canon ae1 and rolleiflex.

Amanda_Kusai_Instagram_09
Could you tell me about this #geographyofyouth project?

Geography of youth is an art project (founded by Alan and Morrigan) exploring the millennial generation and how we can relate to each other as youths around the world. I actually have no idea why they pick me but one day I got an email request to be one of the contributors for this project, I’m just grateful for this chance to contribute along with other photographers from Kenya, England, South Korea and Turkey (I have not personally met them). I am also especially grateful that my friend Axel Oswith is supporting me with this project.

Is there any certain quality you looking for from the subject of your photos?

Quirkiness and personality.

Works2

What does its mean for yourself to be the part of the millennial?

I believe being a part of the millennial generation is a step of transition from old customs to new; we are the generation that believes in no limitation to our dreams in search for the best.

What else you’re doing beside photography?

Surviving life in general and helping my mother with her floral business.

Next or other projects?

Planning to formally launch our company: The Taable by the end of this year, and perhaps a visual project that has something to do with moving images.

Amanda_Kusai_Instagram_21Follow her on Instagram: @amandakusai

On The Records: Jonathan Kusuma

Lewat berbagai project yang ia geluti, Jonathan Kusuma berusaha menghidupkan denyut lain dari skena musik Jakarta yang terluput oleh orang banyak.

Tanpa adanya plang bertuliskan Rossi Musik, mungkin orang akan sedikit kesulitan saat mencari gedung di Jalan Fatmawati Raya nomor 30 tersebut. Hanya dinding penuh graffiti dan serakan gig flyers di parkiran yang meyakinkanmu jika kamu telah sampai di Rossi Musik, salah satu hot spot bagi skena musik underground Jakarta beberapa tahun terakhir ini. Dari luar, bangunan ruko tersebut tampak sunyi, padahal di dalamnya bercokol sekolah musik, studio rekaman, dan venue musik yang sering dipakai untuk gig berbagai macam genre; mulai dari metal, grunge, hardcore, hingga elektronik dari band-band domestik maupun luar negeri. Seiring waktu, Rossi Musik pun berkembang menjadi salah satu simpul budaya musik sidestream ibukota dan melahirkan satu skena musik tersendiri yang terdiri dari para musisi eksperimentalis dengan warna musik yang berbeda. Menaiki sebuah elevator tua yang berderit cukup mengkhawatirkan, saya sampai di lantai 3 gedung tersebut untuk menemui Jonathan Kusuma yang merupakan salah satu tokoh kunci di skena yang sedang berkembang ini.

Biasa dipanggil Ojon, pria kelahiran Jakarta 13 Juli 1983 tersebut adalah seorang komposer, multi-instrumentalis, DJ, dan desainer grafis yang dikenal sebagai separuh nyawa dari Space System, sebuah duo electronic garda depan yang ia bentuk bersama rekannya Aryo Adhianto. Tak berhenti dengan membuat musik di Space System maupun solo project atas namanya sendiri, passion musikalnya juga diwujudkan dengan menjadi co-founder dari Space Records, sebuah label independen yang menampung musisi cutting edge lokal dari berbagai genre, serta Akamady Online Music Store yang bisa dibilang online record store pertama di Jakarta. Di ruang kantornya yang dipenuhi tumpukan plat,saya pun berbincang tentang bagaimana ia memandang project yang ia tekuni dan kaitannya dengan skena musik Jakarta saat ini.

Boleh cerita dari kapan mulai terjun ke musik? Dan kenapa memilih elektronik?
Dari SD sebetulnya udah mulai ngeband, tapi baru nyadar kalau ini yang pengen gue lakukan baru sekitar 7 tahun terakhir. Kalau akhirnya mulai bikin musik elektronik, dulu waktu SMP gue pernah dipinjemin alat namanya Groovebox sama temen gue. Tapi waktu itu belum ngerti kalau ini musik elektronik atau apa, masih buyar lah, belum paham klasifikasi musik. Baru beneran mulai pas ketemu partner gue di Space System sekarang, Aryo. Dia yang paling banyak ngajarin gue musik. Kenapa elektronik, soalnya gue lahir di zaman yang apa aja yang lo temuin di kehidupan sehari-hari itu berhubungan sama elektronik. Lo bisa bikin suara pake handphone atau apalah. Jadi kebetulan aja gue besarnya di abad segini dan rasanya cocok.

So, which came first: Space System or Space Records?
Space System. Jadi Space Rec itu awalnya ada untuk merilis materi Space System, sesimpel itu. Kita waktu itu bertiga, yaitu gue, Aryo, sama sahabat SMA gue namanya Pattra Pangestu, dia yang jadi manajer Space System sekarang dan running Space Rec secara total. Dari yang awalnya untuk merilis Space System aja, terus Space Rec jadi nyari teman-temannya Space System yang lagunya mirip dan berpotensi. Awal-awal yang gabung juga teman-teman kita sendiri kaya Voyagers of Icarie atau Svarghi yang kebetulan roommate-nya Aryo di Bandung. Abis itu ada Curah Melodia Mandiri alias Abim, dia kebetulan yang mengelola gedung ini (Rossi-red). Kita ketemu Abim karena dikenalin Gerhan Ferdinal yang studionya di sebelah kita. Gerhan yang bikin Akamady juga.

Apa misi utama dari Space Rec?
Awalnya cuma buat rilis lagu-lagu lokal dan untuk bisa wadah atau inspirasi. Kalau misi utamanya, bukan klise ya, tapi sejujurnya pengen majuin musik Indonesia. Mungkin emang susah banget, tapi harus ada yang mulai.

Banyak yang bilang kalau musik-musik Space Rec cenderung eksperimental dan susah dimengerti orang awam.
Itu susah menjelaskannya sih kenapa kita milih musik-musik ini, gue pribadi masih susah merumuskannya. Kadang kalau dari struktur lagunya sih agak nggak mirip, tapi ada satu benang merah dan rasa connect yang susah dijelasin sama kata-kata. Kalau dibilang eksperimental, bermusik itu sendiri menurut gue udah bereksperimen. Yang paling menjelaskan mungkin ada karakteristik dari musisi-musisinya, maksudnya sikap mereka sebagai musisi itu gimana, itu yang biasanya jadi penilaian. Jadi dia beneran serius di musik nggak atau ngeliat musik kaya apa, lebih ke situ sih kaitannya. Gue sering nemu orang sini bikin musik bagus di Soundcloud atau apa tapi ya udah gitu aja. Nggak ada pertanggungjawaban dia atas karyanya. Dirilis kek, reply ke orang kek, kasih ke record label gitu, haha. Jadi kurang konsisten sih. Tapi emang susah, balik lagi bermusik di Jakarta saat ini susah, apalagi bermusik tanpa mau dengerin kata publik.

Records

Menurut lo sendiri, gimana sih scene musik Jakarta sekarang?
Bisa dibilang banyak sih. Banyak yang bikin ini itu tapi kurangnya menurut gue masih kurang bergabung, itu klise juga, tapi kaya ada semacam barrier yang misahin scene A, B, dan C. Kurang integrated, soalnya kalau dilihat masing-masing scene sama-sama berpotensi cuma kaya nggak gabung aja. Kita jadi nggak bisa saling introspeksi atau kasih feedback di musik. Orang luar negeri juga akan mengenali music scene Jakarta kalau rame-rame. Kalau kecil gitu nggak akan dibilang scene. Makanya harus join, bedanya itu. Kalau orang luar kan kaya integrated gitu ya musik, art, visual, dance, semua jadi satu. Makanya penyebaran dan promosinya bisa booming.

Bagaimana dengan tanggapan kalau Rossi Musik dan Space Record disebut sebagai bikin scene sendiri?
Itu kebetulan terjadinya gitu, kita nggak merencanakan apa-apa. Kaya gue sama Gerhan kenalannya waktu manggung bareng. Gue suka banget lagu-lagunya dia dan ngajak kenalan. Kebetulan kita orangnya sama-sama bisa dibilang ansos, jadi scene-nya sebenarnya kita-kita aja, tapi kalau misalnya ada yang wah kayanya orangnya bisa diajak ngobrol nih, kita terbuka-terbuka aja. Kita pengennya juga terbuka. Kalau mungkin kita keliatannya tertutup, kita nggak bermaksud gitu. Kita tetap pengen saling interaksi.

Okay moving on, boleh cerita soal Akamady?
Akamady inisiasinya dari Gerhan. Dia sebenarnya DJ yang lama di San Francisco. Pas dia di sana, scene dance-nya SF lagi booming banget, ketika pulang dia bawa culture record collecting yang di sini saat itu gue sama Aryo kalau nyari lagu itu kayanya susah banget. Kita suka dengerin mixtape orang yang lagunya bagus-bagus banget, sampai hafal lagunya tapi nggak ada yang tau itu lagu apa. Gerhan dateng, dia sharing tentang musik, bawa plat dan akhirnya pengen buka record store. Awalnya seperti itu, tapi kita nggak mau kalau musik terbatas harus plat. Mulai dari CD, kaset, atau lo burn CD di rumah terus dihargain berapa, itu bisa kita jual. Sampai alat musik, kabel, dan kebetulan tahun ini kita baru rilis record-nya Gerhan. Jadi Akamady akhirnya punya sub sendiri, Akamady Records yang tahun ini dijadwalin sekitar 5 rilisan, plat semua.

Jadi apa bedanya antara musik yang dirilis Space Rec dan Akamady Records?
Bedanya? Kalau yang gue liat secara pribadi, kalau Space Rec musiknya lebih serius, dalam arti ada karakteristik eksperimentalnya dan pendalaman teknis atau yang komposisinya lebih nggak biasa. Kalau Akamady gue liat komposisinya lebih 4/4 atau lagu-lagu yang dance. Kita kantornya juga barengan, jadi bisa saling interact. Misal Space Rec ada artis yang kira-kira cocok buat Akamady, kita bisa kasih referensi atau sebaliknya. Jadi udah punya perannya masing-masing. Menurut gue perlu lebih banyak record label yang saling integrated.

Akamady

Menurut lo masih penting nggak sih bentuk fisik album di era digital sekarang?
Penting tapi nggak harus. Penting dalam arti kadang musik yang berbentuk itu lebih ada rasanya. Kalau gue nge-DJ, gue lebih suka masukin CD karena gue bisa lebih hafal lagunya, gue jadi lebih bisa mendekatkan diri ke materi lagunya.

Bagaimana Akamady melihat kultur record collecting lokal?
Menurut gue masih terpaku vinyl. Bukan collecting music tapi lebih ke collecting records. Kalau gue lebih setuju collecting music, mau bentuknya kaset atau CD. Yang paling penting kan musiknya, bukan cover atau bukan vinyl-nya. Scene di sini jujur masih vinyl-oriented banget terus gue sering overheard kaya ada kesan kalau musik digital itu jelek. Gue setuju kalau musik digital yang pembajakan, itu memang nggak bagus tapi kalau buat orang yang emang beli musiknya di iTunes gimana? In the end, it’s about the music itself.

Apa tantangannya dengan memutuskan jualan record secara online?
Itu sampai sekarang masih perlu strategi sih. Kultur ini kan dari dulu udah ada aturannya kalau kita dateng ke record shop, liat-liat cover, cobain, terus ngobrol sama penjaganya, dapet rekomendasi. Itu yang masih susah karena kita nggak bisa kasih pengalaman itu secara digital, lewat internet apalagi. Susah banget ngajak orang buat digging music secara digital tapi untuk vinyl. Itu aja udah aneh karena udah ganti media berapa kali. Sekarang strategi kita dari Facebook page-nya kita coba post video tentang kulturnya. Kalau ada artikel tentang electronic kita share atau kalau kebetulan kita ada rilisan Kraftwerk misalnya, kita kasih brief sejarahnya Kraftwerk. Sebagai proses pembelajaran di musik juga.

Last, apa harapan lo untuk skena musik Jakarta?
Harapan gue music scene Jakarta selain maju, gue pengen kita punya karakter Indonesia. Karakter itu nggak harus batik atau wayang atau gamelan lah, itu bisa aja hanya simbol. Karakter Indonesia dalam arti sifat Indonesia yang sekarang, kaya budaya gotong-royong atau kesopanannya, karakter seperti itu yang udah di-translate ke art & music. Kita maju tapi tetap dengan karakter Indonesia. Jangan kita maju tapi cuma minjem karakter Barat. Kalau gitu kan jadi cuma copycat.

https://soundcloud.com/jonathan-kusuma

Foto oleh: Sanko Yannarotama

As published in Nylon Indonesia March 2014

Space. Recommended
Sejak dibentuk tahun 2006 silam, Space Records telah menjadi rumah bagi musisi-musisi seminal dalam negeri dari berbagai genre dengan karakter distinctive. Berikut adalah beberapa di antaranya:

pantai

Curah Melodia Mandiri
Curah Melodia Mandiri (CMM) adalah solo project dari Syafwin R. Bajumi yang menghasilkan bebunyian elektronik tidak biasa dengan instrumen utama sebuah Gameboy dan Nanoloop 1.3. Ia menjelaskan musik Chiptune yang ia ramu sebagai bunyi sintetis lo-fi berpadu dengan idenya akan musik tradisional kontemporer. Lewat beberapa rilisan seperti Pantai EP dan album debut Mashed yang kental akan elemen musik tradisional lokal, CMM merumuskan cetak biru dari musik Chiptune rasa Indonesia.

Duck Dive

Duck Dive
Bagi Muhammad Fahri alias Gonzo yang membuat musik dengan nama Duck Dive, kecintaannya pada bunyi lautan dan misteri di dalamnya menjadi inspirasi terbesar dalam musik ambient/electronic yang ia buat. Album debut yang dirilis tahun 2007 bertajuk Inner Projections yang berisi deburan repetitif melodi dan influens dari era awal munculnya genre electronic mengajak kita menyelami musik elektronik sebagai sebuah sesi eksperimen suara dan nalar.

https://soundcloud.com/duck-dive

SPACE SYSTEM
Space System
Merefleksikan diversitas budaya yang membentuk Jakarta hari ini, Space System menggabungkan berbagai elemen dan genre musik seperti electronic, jazz, krautrock, dance, psychedelic, hingga Gamelan menjadi racikan eklektik dari musik yang mereka sajikan. Terbentuk dari tahun 2005, Space System yang dibentuk oleh Aryo Adhianto dan Jonathan Kusuma yang pada perkembangannya turut diperkuat oleh Erlangga Utama dan Gerinov Medaimanto berhasil menempatkan nama Jakarta di peta musik dunia.

https://soundcloud.com/spacesystem

Suarasama

Suarasama
Diprakarsai oleh Irwansyah Harahap dan Rithaony Hutajulu yang keduanya merupakan dosen Etnomusikologi di Universitas Sumatra Utara, Suarasama merupakan kolektif musisi yang menghasilkan musik kontemporer dengan pendekatan world music serta elemen dari musik tradisional Sumatra Utara. Album Timeline yang dirilis tahun 2013 lalu adalah perayaan ulang tahun ke-18 mereka sekaligus bab baru dalam pembelajaran musik Indonesia.

http://www.last.fm/music/Suarasama

Komodo

Komodo
KOMODO merupakan dub disco house project dari Gerhan Ferdinal, seorang DJ Jakarta yang menyerap influens dari pergerakan kultur dance San Francisco di tahun 90-an. Telah mulai menjadi DJ di program Reggae Revolution di klub legendaris Jakarta bernama Parc, menjadi awak Quirk It! Sound System, hingga saat ini membentuk Akamady Online Music Store, Gerhan tak berhenti memajukan skena musik elektronik Jakarta.

https://soundcloud.com/space-rec/komodo-music-akamady

On The Records: Ramayana Soul

ramayana-soul-2

Memadukan bunyi musik tradisional India dengan musik rock Inggris mungkin sama sekali bukan hal yang asing seperti yang sudah lama dipopulerkan oleh The Beatles di akhir 60-an atau band Britpop Kula Shaker yang melejit di 90-an dengan single “Govinda” yang berbahasa Sanksrit, namun tetap saja rasanya selalu menyenangkan mendengar paduan sitar yang magis dengan sounds gitar yang modern. Adalah Ramayana Soul, band raga-rock/psychedelia gagasan Erlangga Ishanders yang sebelumnya dikenal sebagai gitaris band indie legendaris Jakarta bernama Pestolaer yang membawa formula tersebut ke ranah lokal. “Jujur awalnya nggak ada kepikiran, semua ngalir kaya air karena ada kesempatan. Singkat kata, semua berawal dari musik kamar seperti biasa. Yang pada akhirnya solid terbentuk sebagai band di 2010,” ungkap vokalis yang akrab disapa Angga tersebut. Melihat langsung penampilan live mereka yang membius di mana Angga dengan bertelanjang kaki akan bergantian memainkan sitar dan keyboard atau justru bernyanyi cuek sambil menari diiringi nyanyian chanting dari Ivon Destian dan aransemen padu dari 3 personel lainnya, its enough to take you to higher realm of sonic and stay grounded at the same time. “Kalau dibilang influens mungkin jadi rahasia dapur, tapi kalau yang membangkitkan adalah beberapa musisi yang notabene di luar sana kalau ngomongin agama sulit tapi mereka bisa. Kenapa kita yang di sini yang lebih beragam kok nggak bisa? Contoh kaya Ray Charles besar dari dunia gospel dan Enya yang segitu ribetnya dunia dia bisa lurus bikin sesuatu tanpa mandang bulu agama,” ungkap Angga tentang warna musik mereka. Setelah baru-baru ini merampungkan kolaborasi eksklusif dengan Studiorama Sessions dalam bentuk video musik, band ini pun dicanangkan tampil dalam gelaran Studiorama Live kelima pada tanggal 18 Oktober nanti di Rossi Musik Fatmawati.

WHO: Erlangga Ishanders (vokal, sitar, gitar, harmonium, tabla), Adhe Kurniawan (gitar), Ivon Destian (vokal), Kaisar Irfan Tirtamurti (bass) dan Sultan Bimo Kamil (drums, tabla).

WHERE: Jakarta.

INFLUENCES: The Stone Roses, Kula Shaker, George Harrison, Ian Brown, Ravi Shankar, Enya. “Yang paling nggak bisa munafik adalah psychedelic, itu akarnya. Cuma kita bukan hippies, kita bukan bohemian, kita nggak mencoba untuk jadi mereka,” cetus Angga.

BEHIND THE NAME: “Itu sebetulnya ‘kepeleset’ aja nggak tau kenapa, jadi waktu dianjurin temen buat main di acara ditanya ‘nama band lo apa?’ nah Ramayana Soul ini yang keluar. Nggak ada arti yang spesifk, cuma terbersit seketika.”

LISTEN THIS: “Jaya Raga Jiwa” yang menenangkan seperti mantra, “Mawar Batu” yang dari judulnya seakan terinspirasi dari The Stone Roses dan “Aluminium Foil” dengan aransemen psych rock dan peralihan vokal mencengangkan dari berbisik hingga lantang berteriak. “Lagu itu bercerita tentang beberapa kaum yang menjauhi fitnah sebagai loyalitas terhadap Penciptanya. Dan beberapa cerita tentang kaum yang nggak bisa lepas dari madat,” ungkap Angga.

LOCAL MUSIC HEROES: “Udah jelas Rhoma Irama. Kalau dibilang suka musiknya sih nggak, tapi kok dia bisa berpikir segitu jauhnya. Pas banget waktu musik India dateng, teknologi rekaman di Indonesia lagi maju-majunya sampai Rhoma Irama juga dapat serapan dari Deep Purple hingga akhirnya dangdut terlihat kaya gitu, nggak yang Melayu atau terlalu stagnan.”

HOMETOWN GLORY: “Kita ngeliat scene sekarang udah beragam dan lebih berani dari sisi positif tentunya.”

BEST GIG: “Semua gigs berkesan, tapi sejauh ini yang lebih berkesan kita main di acara Polpang vol. 1 pemutaran acara film Amuk, karena menurut kita sangat menyenangkan dan apresiasif.”

NEXT PLAN: “Sejauh ini kita nggak pasang target sebagai hal yang idealis. Yang penting jalan aja. Album adalah next target. Kita akan mengeluarkan full album bekerjasama dengan Wasted Rockers Records berisi 8 materi yang rampung dan juga dibantu beberapa kawan kita dari Sineping yang membantu pembuatan video klip single kita nantinya.”

https://soundcloud.com/ramayanasoul

Art Talk: The Britpop Sensibility of Danu Labda

Danu Labda

It’s kinda hard to imagine if you never have at least one favorite Britpop song, terutama kalau kamu termasuk generasi 90-an yang beranjak remaja ketika genre asal Inggris tersebut tengah mendominasi tangga lagu di seluruh dunia. Dengan aksen Inggris yang kental, lirik yang mencerminkan kehidupan anak muda marginal, dan terutama karena aransemen yang catchy, band-band Inggris Raya seperti Oasis, Blur, Radiohead, Suede berhasil menjadi fenomena kultur pop tersendiri yang melawan dominasi budaya pop Amerika. Tak hanya di negara asalnya, Britpop pun menjadi bagian dari gerakan Cool Britannia di seluruh dunia, ketika apapun yang berbau Inggris dianggap cool, termasuk di kalangan remaja Indonesia di akhir 90-an di mana musik Britpop menjadi populer dan banyak band indie lokal saat itu yang secara langsung maupun tak langsung terinfluens Britpop. Rasanya, siapa saja yang sudah menginjak usia sekolah ketika di akhir 90-an dan awal 2000-an akan dengan mudah menyebut lagu atau band Britpop favorit mereka, which at some point represent our younger days. Danu Labda adalah salah satunya. Desainer grafis, ilustrator, dan art director di salah satu advertising agency Jakarta ini menuangkan kecintaannya pada Britpop dalam bentuk ilustrasi digital yang menampilkan sosok-sosok ikonik Britpop dalam gaya line art yang terlihat seperti goresan cat air. Thom Yorke, Jarvis Cocker, Morrissey, dan dua bersaudara Gallagher yang digambarnya dengan mencantumkan biografi singkat masing-masing terasa sebagai sebuah tribute yang menyenangkan dan membuatmu ingin membuka lagi playlist musik Britpop di iPod-mu.

Thom Yorke

Apa yang pertama kali mendorongmu untuk menjadi ilustrator?
Pertama kali banget waktu gue kecil gue selalu suka sama film-film superhero masa-masa generasi 90-an kaya Kamen Rider Black, Saint Seiya, dll. Gue nggak pernah ketinggalan ngikutin film mereka, kalau ketinggalan bisa nangis. Sampai suatu saat gue dibeliin kaos jagoan-jagoan masa kecil gue, di situ gue coba bikin gambar mereka di kertas pake referensi yang ada di kaos. Dari situ jadi suka gambar-gambar tokoh-tokoh kesukaan gue, setelahnya gue mulai banyak gambar macem-macem, nggak cuma tokoh-tokoh fiksi kesukaan aja tapi gue mulai mencoba gambar keadaan di sekitar gue dan musisi kesukaan gue.

Apa yang menjadi influens kamu dalam berkarya?
Dalam mendesain, influens gue adalah manusia itu sendiri karena desain yang sukses itu adalah desain yang berhasil mengomunikasikan pesannya kepada audiens. Sedangkan dalam ilustrasi kebanyakan karya gue terinfluens oleh beberapa seniman kontemporer dan surealis seperti Conrad Roset, Florian Nicolle & Salvador Dali.

Dari sekian banyak genre musik, kenapa Britpop? What’s your personal story about it?
Sebenarnya gue suka eksplorasi musik-musik yang gue denger. Gua coba dengerin ini, gue coba dengerin itu, coba dengerin lagu dari ranah Eropa & Amerika. Tapi kalau ditanya kenapa Britpop jadi yang paling favorit mungkin lirik-lirik dari lagu-lagu band asal British ini yang paling merefleksikan beberapa kejadian di kehidupan gue. Oasis “Stand By Me” itu lagu pertama yang gue denger yang bikin gue jatuh hati sama lagu-lagu mereka sampai sekarang. Lagu lainnya yang bisa bikin emosi gue naik-turun di setiap lirik-lirik juga iramanya dan bersinggungan dengan kehidupan dan orang-orang terdekat gue.

Noel GallagherJarvis Cocker Liam Gallagher

Dari Britpop series ini, karya mana yang pertama dibuat dan apa ceritanya sampai tercetus ide project ini?
Ilustrasi yang pertama kali dibuat itu yang Thom Yorke, kadang kalau gue lagi suka sama sebuah lagu gue suka ekspresiin apa yang gue suka, waktu itu lagi suka-sukanya album solo Noel Gallagher yang Noel Gallagher’s High Flying Birds dan kebetulan Noel Gallagher akan berulang tahun, jadi gue iseng-iseng bikin ilustrasi buat Noel, eh tanpa disadarin kok kayanya asik ya bikin full series legenda-legenda British pop ini. Tapi nggak sempet jadinya yang kesampean baru 4 orang, haha.

Sejauh ini project paling berkesan yang pernah kamu kerjakan apa saja?
Wah semuanya berkesan tapi dengan cara yang berbeda-beda, mungkin yang baru-baru ini gue kerjain ya, bikin 50 ilustrasi tentang Hari Kartini, dikerjain dengan deadline yang cuma 6 hari, selama 6 hari itu jam tidur gue nggak beres dan hampir sakit-sakitan, haha. Klien gue di sini sebuah graphic house dari Jakarta dan gambar gue ini bakal dipake oleh 50 anak yatim piatu dalam bentuk t-shirt.

Oh ya, kamu juga punya dua project yang disebut Kojay dan Ikidolanan, boleh diceritakan?
Haha ini sebenarnya 2 projek itu projek alterego gue aja sih, gue suka koleksi action figure dan gue suka komik. Kalau kojay (komikjayus) karena gue suka komik dan gue pengen bikin komik, tapi nggak punya terlalu banyak waktu buat merealisasikan komik yang serius gitu makanya gue bikin komik yang becanda aja. Ini juga projek gue sama temen-temen gue yang lain yaitu Amer Risnadi, Nino Aditya, Afda Trihatma. Kalau Ikidolanan itu projek web series gue sama Amer Risnadi & Adri Putra, isinya ngomongin dan ngebahas action figure di YouTube.

What’s your dream project?
Membuat sebuah ilustrasi raksasa dan berkolaborasi dengan Konrad Roset mungkin haha, who knows?

Apa project lain baru-baru ini?
Lagi ngejalanin ilustrasi untuk Jazz Goes To Campus 2014 & beberapa ilustrasi untuk brand Monstore.

JGTC 2014

Danu’s favorite Britpop songs:
Oasis – Stand By Me
Pulp – Like a Friend
Beady Eye – Blue Moon/The Beat Goes On
Jarvis Cocker – Don’t Let Him Waste Your Time
Morrissey – The First of the Gang To Die
The Beatles – I’ll Follow the Sun
Suede – The Beautiful Ones
Radiohead – No Surprises

http://danulabda.com/

Triple Threats, An interview With Tim Matindas

Cerita seorang vokalis yang kemudian mencoba berakting di film mungkin terdengar sama klisenya dengan cerita ditawari main film setelah mengantar teman ikutan casting. Well, kedua cerita tersebut memang dialami oleh Timothy Jorma Matindas yang dikenal sebagai vokalis band indie rock Jakarta via Vancouver bernama Roman Foot Soldiers (RFS). Untungnya, tak ada yang klise pada karier barunya sebagai seorang aktor.

            Tim, demikian pria kelahiran Jakarta 27 tahun lalu ini akrab disapa, pertama kali berakting dalam short movie berjudul The Kiosk yang tergabung dalam omnibus Sinema Purnama tahun lalu. Tak disangka, peran pertama tersebut membuahkannya gelar Best Actor dalam kategori omnibus di Piala Maya 2012. Sebuah awal yang manis bagi pria yang mengaku belum pernah akting sama sekali. Di akhir tahun ini, Tim kembali mendapat peran utama dalam film Toilet Blues garapan Dirmawan Hatta. Dalam road movie bergenre arthouse ini, ia berperan sebagai Anggalih, seorang calon pastor muda yang bersama sahabat masa kecil dan cinta platoniknya Anjani (Shirley Anggraini) mengadakan perjalanan dengan kereta dari Jakarta menuju Jawa Tengah. Di jalan, mereka dihadapkan pada banyak perdebatan dan godaan yang akan menentukan arah hidup keduanya. Turut dibintangi oleh Tio Pakusadewo, film ini dipenuhi simbol dan alegori Katolik yang terinspirasi oleh puisi Nyanyian Angsa karya W.S Rendra dan film The Last Temptation of Chris karya Martin Scorsese. Uniknya, baik sutradara maupun Tim sendiri sebetulnya bukan beragama Katolik. “Itu yang susah, Anggalih ini pengen jadi pastor tapi gue sendiri Muslim kan. Jadi pada awalnya gue nggak terlalu ngerti, gue harus research dulu, baca, ngobrol sama beberapa pastor di Jakarta. Gue nggak pernah serelijius itu sih, tapi menarik aja karena adegan simbolisnya memang bagus untuk film ini secara visual supaya message tertentu disampaikannya nggak harus lewat dialog. Seperti adegan membasuh kaki, terus adegan yang ditampar pipi kiri dikasih pipi kanan,” ungkap Tim tentang peran ini.

            Toilet Blues pertama kali diputar di Indonesia pada ajang JiFFest bulan lalu, namun sebelumnya film ini telah lebih dulu berjaya di sirkuit festival film di luar negeri. Menjadi satu-satunya film Indonesia dari 12 film dalam kategori New Currents pada Busan International Film Festival 2013, film ini lantas menarik perhatian festival film di negara-negara lain, mulai dari Mumbai, Goa, Kamboja, hingga Göteborg International Film Festival di Swedia bulan Januari nanti. Tampil di film kelas festival seperti ini, apakah sekarang Tim telah nyaman menyandang titel aktor? “Belum kali ya, gue masih ingin lebih dikenal sebagai vokalis RFS sih dibanding aktor. Sekarang juga lagi belajar banget, aktingnya juga masih otodidak, ke sananya gue pengen lebih dalemin lagi kalau bisa,” tukas Tim yang akan ikut berperan dalam sebuah drama romantis berjudul The Right One garapan Stephen Odang yang akan dirilis pada hari Valentine nanti.

            Bisa jadi, omongan tadi adalah upayanya untuk merendah, karena jelas saat berbicara tentang film matanya membinarkan passion yang kuat pada bidang ini. “Sekarang ini waktu yang bagus untuk kinda revolution sedikit. Karena The Raid kemarin meledaknya kaya gitu, its open a lot of door. Bikin investor lebih berani dan kasih liat ke orang kalau Indonesia capable juga kok bikin film kaya gini. Sekarang mungkin karena ngeliat kaya gitu, filmmaker Indonesia udah mulai mikir ke arah situ kali ya?” ujarnya.

            Tak hanya tampil di depan kamera, saat ini Tim justru lebih serius mengasah bakatnya yang lain sebagai penulis naskah dan produser film. “Gue sekarang lagi partneran sama produser Toilet Blues kemarin, dia abis nge-produce Toilet Blues yang arthouse sekali filmnya, tahun depan kita mau masuk yang lebih komersil. Tapi komersil yang bagus. Kayanya kalau liat film Indonesia masih setengah-setengah sekarang. Kalau nggak yang artsy banget, atau yang jadinya agak norak. Dia punya dua script, gue punya satu script, tahun depan kita mau go around shopping for investors. Sekarang kita lagi bikin proposal film-film ini. Gue pengen ke depannya kerjaan utama gue lebih ke behind the scene. Producing, writing, sambil jalanin RFS at the same time, seru kayanya,” ungkap Tim sebelum mengeluarkan Macbook dan menunjukkan satu trailer dari film karyanya sendiri yang bergenre thriller suspense, which all I could say for now, its looks promising.

            Bagaimana dengan RFS sendiri? Tenang saja, band keren ini memang jarang terdengar belakangan ini, namun itu karena mereka sengaja stop terima tawaran manggung untuk fokus menyelesaikan full album mereka yang diproduseri oleh Dipha Barus. Berisi delapan lagu, saya sempat mendengarkan satu lagu tanpa judul yang akan menjadi single pertama. Terdengar elemen elektronik yang lebih kental dibanding lagu-lagu sebelumnya, membuat album baru ini akan pas diletakkan di tengah-tengah album Random Access Memories milik Daft Punk dan album terbaru Phoenix. Dalam waktu dekat, mereka juga akan membuat video klip pertama untuk album ini dengan disutradarai oleh Shadtoto Prasetio dan akan berupa short film. Baru-baru ini, Roman Foot Soldiers merilis single baru tersebut dengan tajuk “Controversy” dan akan tampil di hari kedua acara LocalFest 2014, hari Sabtu pekan ini.

            “Kalau akting di depan kamera, kalau salah bisa cut! Tapi kalau dia panggung, wah mati aja,” ujar Tim sambil tertawa saat ditanya lebih menakutkan main film atau tampil di stage. “Tapi thrill-nya sendiri lebih kalau perform with the band,” tukasnya. “Perform di depan live audience itu nggak ada yang ngalahin deh, make you feel alive. Akting sendiri gue suka prosesnya, yah kalau bisa jalanin dua-duanya kenapa nggak?” tutupnya dengan retoris.

Foto oleh Sanko Yannarotama

She’s All That! An Interview With Chelsea Elizabeth Islan

IMG_2406

Cantik, cerdas, dan classy, NYLON menemukan sosok seorang “It Girl” Indonesia selanjutnya dalam diri Chelsea Elizabeth Islan. Get ready for some serious girl crush! 

NYLON bulan November 2013 lalu mengangkat tema “It Girl”, satu istilah yang sering terdengar namun tak pernah benar-benar bisa didefinisikan. “The ‘It Girl’ is the girl that EVERYONE wants to be. She has everything that you want so you tend to envy her. She does all the things that you can’t do so you grow to hate her.” Demikian salah satu pengertian “It Girl” yang terdapat di Urban Dictionary. Ketika saya coba mengaplikasikan definisi tersebut pada aktris pendatang baru Chelsea Elizabeth Islan, tampaknya saya kurang setuju pada poin terakhir. Well, melihat sosoknya yang effortlessly pretty, it’s easy for anyone to envy her for sure. Namun saat berbincang langsung dengannya, you can’t help but notice kalau dia ternyata tak hanya menarik secara fisik saja. Di balik wajah cantiknya, terdapat personality yang santai namun berprinsip kuat. It’s almost impossible to hate her, and you’ll know why.

            Chelsea, demikian gadis kelahiran New York 18 tahun yang lalu ini biasa dipanggil, datang ke studio pemotretan sendirian tanpa ditemani manajer. Ia mengaku belum punya manajer dan masih mengatur semua jadwalnya sendiri. Tanpa canggung, ia menyapa semua orang dengan manis dan segera bersiap untuk di-makeup. Dengan makeup minimalis dan wardrobe yang didominasi oleh lace pieces membuatnya terlihat angelic, Tanpa bersusah payah, ia mengikuti arahan fotografer dan setiap gestur kecil dari dirinya yang terkadang candid justru menjadi momen-momen yang menarik untuk difoto. It all seems natural. Tak heran jika ia mengawali karier dengan terpilih sebagai juara utama sebuah pemilihan cover girl majalah remaja, sebelum pada bulan Juni lalu membintangi debut layar lebarnya di film Refrain garapan Fajar Nugros yang juga dbintangi oleh Maudy Ayunda dan Afgansyah Reza.

            Akting sendiri bukan hal yang asing baginya. Dimulai dari peran sebagai salah satu bunga di drama Wizard of Oz di sekolahnya saat masih SD, teater menjadi salah satu passion-nya sampai saat ini di samping fotografi, fashion, dan art. Tak puas hanya di depan kamera, Chelsea pun gemar menulis cerita dan mewujudkannya dalam bentuk film pendek yang ia buat sendiri. “Film itu adalah media di mana aku bisa mengekspresikan pikiran aku dan mengembangkan kaya pikiran orang lain biar terinspirasi juga. Di film pendek pertama aku, judulnya The Junk Society tentang anak muda yang mencintai seni. Aku bilang seni di Indonesia belum banyak yang menghargai dan belum banyak yang memikirkan kalau seni itu useful. Banyak yang bilang ‘ih kok suka seni sih? Mau jadi apa?’ Pertanyaan-pertanyaan itu yang mau aku coba jawab di film aku itu,” ungkapnya.

            Bila di Refrain, ia berperan sebagai Annalise, seorang sweetheart yang tak jauh beda dari dirinya sehari-hari, maka bersiaplah melihat sisi lain Chelsea dalam peran terbarunya sebagai Karina di film action karya Awi Suryadi berjudul Street Society yang akan dirilis awal tahun depan. “Karina ini orangnya tricky banget, dominan, powerful, aduh… pokoknya dia temperamen banget dan agak psychotic. Jadi beda banget sama Annalise. Aku suka dari dua peran ini aku bisa jadi yang biasa dan yang tidak biasa. Karena menurut aku akting kan harus bisa semuanya. Lewat akting aku juga belajar facial expression sama tubuh juga harus gimana. Jadi akting bukan sekadar be someone else, tapi harus menghayati and be the character,” tandasnya.

Chelsea3

            Untuk pemotretan look terakhir, ia meminta berpose bersama salah satu kucing peliharaan di studio. Dengan sigap ia menggendong kucing Persia tersebut dengan gemas. Saya mengira jika ia adalah seorang cat person, namun saat dikonfirmasi, dengan tegas ia mengaku lebih menyukai anjing daripada kucing. “Aku lebih suka anjing karena bisa jagain kita dan setia. Kalau kucing keliatan lemes, males,” ujarnya. Sekali lagi, ia mematahkan persepsi awal saya. Penampilannya memang girly, tapi ternyata Chelsea besar sebagai anak yang cukup tomboy. Dari kecil ia ikut taekwondo, bermain go-kart dan motor ATV, bahkan pernah menjadi best soccer player di sekolahnya. Sekarang, ia memilih berenang dan diving sebagai olahraganya. “Kalau diving belum terlalu sering sih. Aku terakhir diving ke Tulamben di Bali, ke Liberty shipwreck, jadi di sana sekitar 12 meter di bawah laut itu ada shipwreck. Agak angker tapi it’s a good experience,” ceritanya dengan semangat. Ia lantas mengungkapkan keinginannya pergi ke Pulau Komodo dan menyebut Riri Riza dan Mira Lesmana sebagai sutradara yang dikagumi. “Mau banget kerja sama mereka. karena mereka bener-bener down to earth dan kalau kita lihat kerjaan mereka, there is always something to do with Indonesia. Mereka keliatan cinta banget sama Indonesia dan caring about society,” jelasnya.

            Terlepas dari peran debutnya di film drama romantis, Chelsea mengaku dirinya bukan penggemar cerita cinta. “It’s not my cup of tea. Bukannya aku tidak menghargai cinta, tapi terkadang semua terlalu sentimental,” cetusnya. Tak heran bila kamu tak akan menemui film cheesy romance dalam film favoritnya. Ia lebih tertarik pada film berbau sejarah seperti Gie misalnya yang diperankan Nicholas Saputra yang menjadi aktor favoritnya. “Dari semua filmnya, dia punya prinsip. Yang bikin aku suka sama orang itu dia punya prinsip atau tidak. Dia mau memerankan karakter yang benar-benar mendidik dan ada moralnya. Like Twilight, what are you gonna get from that? Bukannya mau sok pinter atau apa, tapi lebih baik kita nonton film yang memberikan ilmu kan?”

            Chelsea sering sekali disebut mirip Mariana Renata, dan itu juga yang saya pikirkan. Namun saat interview, saya menangkap dari angle tertentu ia justru terlihat seperti Dian Sastro, dan kesan itu bertambah kuat saat ia mengungkapkan pemikiran yang sama kritis dan idealisnya dengan Dian. Entah coincidence atau bukan, Chelsea sendiri berencana melanjutkan kuliah di almamater Dian, yaitu Universitas Indonesia, tepatnya jurusan Sosiologi. Penggemar buku-buku Paulo Coelho ini punya alasan kuat untuk pilihan tersebut. “Menurut aku sosiologi itu akar dari segalanya, karena kita mempelajari manusia, mempelajari masyarakat, tata kota, semuanya. Salah satu cita-cita aku selain jadi film director dan fashion editor, aku juga pingin jadi menteri pemberdayaan wanita gitu,” ujarnya dengan serius, sebelum melanjutkan, “aku memang agak feminis. Bukannya sexist atau apa tapi memang aku ingin wanita bisa maju. Di sini wanita menurut aku belum ada freedom of expression, aku nggak mau ngomongin agama atau apa. Tapi wanita itu belum equal. Dari situ aku pingin memajukan wanita Indonesia. Deep inside, I want to change Indonesia, nggak tau gimana makanya menurut aku kalau belajar sosiologi itu udah bisa relate ke semua aspek kehidupan,” imbuhnya.

            Social awareness tersebut menurutnya sudah dipupuk sejak ia masih kecil. Dan jangan kira ia hanya berwacana tanpa berbuat hal yang nyata. Sekarang pun, di samping semua aktivitasnya di dunia showbiz, ia berperan aktif menjadi ambassador generasi muda di gerakan LovePink untuk isu breast cancer di Indonesia. ”You have to be the change that you want to see in this world. And you have to make the difference and believe nothing it’s impossible,” tutupnya sambil tersenyum. Biasanya ungkapan a la buku Chicken Soup tersebut hanya terdengar seperti jargon kosong. Namun entah kenapa, saya percaya gadis cantik ini bisa mewujudkannya.

IMG_2837

Styling by Patricia Annash

Photos by Andre Wiredja

Makeup by Marina Tasha

BRNDLFEST: The Brandals’ 12 Years Retrospective Concert

SAN_1833 copy

Ungkapan “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya” ternyata bisa diterapkan pula dalam perjalanan sebuah band. Band yang besar harus menghargai sejarahnya dan The Brandals mengamini hal itu. Terbentuk sejak Desember 2001, The Brandals telah menjadi salah satu band ibukota paling ikonik berkat penampilan mereka membawakan garage rock di atas panggung dengan liar, ditingkahi bahasa vulgar, namun tetap terlihat stylish. Ibaratnya, bila New York punya The Ramones dan London punya The Clash, maka Jakarta memiliki The Brandals sebagai band rock yang mewakili esensi liar kota besar dalam lirik lagu yang lekat dengan kehidupan masyarakat urban. 12 years and four albums later, they still stands tall dan merayakannya dengan sebuah konser retrospektif bernama BRNDLFEST tanggal 22 Desember lalu di Rolling Stone HQ, Kemang.

            Dengan sub judul “Cerita Mutasi Urban”, Festival BRNDLS tersebut menghadirkan pameran memorabilia segala pernak-pernik berbau The Brandals, mulai dari CD, kliping artikel, properti panggung, flyer, poster gig, kaos, well, basically anything! Acara dijadwalkan mulai pukul 3 sore namun terpaksa mundur sejenak karena gerimis yang turun tanpa henti hari itu. Saat dijumpai, sang vokalis Eka Annash sedang mengelap salah satu kotak kaca berisi memorabilia yang basah tersiram hujan sementara personel lainnya masih bersiap untuk ganti baju dan sebagainya. Eka mengungkapkan bagaimana festival ini awalnya direncanakan untuk satu dekade mereka namun terhalang beberapa hal hingga baru terlaksana sekarang dengan kerja keras dari para personel, kru, dan tentu saja fans mereka yang kerap disebut brigade rock n’ roll. Fans memang tak terpisahkan dalam karier sebuah band, dan dalam event ini The Brandals mengajak dua band bentukan fans mereka, yaitu Lampu Kereta dan The Badunks untuk menjadi pembuka acara. Penonton belum terlalu ramai, namun kedua band tersebut meminjam semangat yang sama dengan idola mereka dan bermain tanpa gentar.

Memorabilia

            “The Brandals sekarang gue ngeliatnya kaya Johnny Depp waktu jadi sersan Tom Hanson di 21 Jump Street tapi sekarang udah jadi James Bond, haha! Dulu masih muda, masih ijo… sekarang udah tua, udah content, suave, tau apa yang dia mau, lebih experienced,” ungkap Eka saat saya bertanya bagaimana sebetulnya The Brandals di umurnya yang ke-12. “Sekarang lebih family, lebih keluarga karena hampir semua di Brandals udah berkeluarga jadinya tidak raw lagi, lebih terpoles biar disayang mertua,” sambung Toni Dwi Setiadji, sang gitaris yang bersama drummer Rully Anash menjadi dua personel yang telah ada dari awal.

            Lepas Maghrib, diadakan pemutaran perdana video klip lagu “Abrasi” dari album terbaru mereka DGNR8 yang disutradarai oleh fotografer Anton Ismael dan disambung dengan penayangan film dokumenter Marching Menuju Maut yang dibuat oleh Faesal Rizal yang telah mendokumentasikan perjalanan karier The Brandals dari awal karier mereka. Dokumenter tersebut secara gamblang mengungkap segala sesuatu tentang The Brandals. Bagaimana mereka bermula dari band bernama The Motives dengan vokalis Edo Wallad sebelum digantikan oleh Eka dengan nama The Brandals, persiapan latihan sebelum naik panggung pertama kali, bagaimana mereka membangun popularitas dari berbagai gig intim di BB’s Café, Parc, dan berbagai pensi, termasuk PL Fair tahun 2003 di Stadion Lebak Bulus yang bersejarah bagi mereka. Bagaimana tidak? Dalam pensi tersebut, The Brandals tampil dalam keadaan “tinggi” di depan 8 ribu penonton dan memprovokasi mereka dengan kata-kata kasar. Hasilnya adalah hujan batu dan benda-benda lain namun dengan berani The Brandals tetap melanjutkan penampilan mereka. Momen tersebut menguatkan citra jika The Brandals memang benar-benar berandalan di atas panggung dan sempat dilarang tampil oleh beberapa event organizers.

Kliping

            Dokumenter berdurasi cukup panjang tersebut juga mengungkapkan bagaimana pergantian manajer menjadi turning point The Brandals untuk lebih lurus dalam bermusik dan bersikap. Salah satu momen lucu adalah beberapa footage Eka yang sebelumnya identik dengan ngomong kasar berubah mengucapkan assalamualaikum ketika manggung. Yang tak luput dibahas adalah soal pergantian personel dan bagaimana musik mereka beralih menjadi lebih digital di album terbaru. Yang jelas, 12 tahun memang bukan waktu yang sedikit untuk mendewasakan mereka.

            Selesai screening dan ngobrol-ngobrol singkat soal Marching Menuju Maut, The Brandals formasi saat ini yang terdiri dari Eka, Rully, Toni serta dua personel yang bergabung belakangan, bassist Radit Syahrazam dan gitaris PM, akhirnya tampil di atas panggung dengan backdrop bergambar drakula yang dibuat oleh ilustrator bernama Gogoporen. Lagu “Mutasi Urban” dan “Lingkar Labirin” dari self-titled debut mereka dipilih menjadi lagu pembuka. Sebagai frontman, Eka memang sudah tidak sevulgar dulu ketika berbicara di atas panggung, namun dia masih terdengar witty dengan celetukan-celetukan khasnya. Energi mereka semakin memanas seiring membawakan lagu-lagu jawara lainnya dalam repertoire empat album yang telah mereka hasilkan, termasuk “Abrasi” yang mengajak Eric PRBLMZ untuk mengisi bagian rapnya, “100% Kontrol”, “Brokenheart Blues”, dan “Perak”.

Bayu

            Bukan ulang tahun namanya kalau tidak ada kejutan. The Brandals menghadirkan dua mantan personel awal mereka, gitaris Bayu Indrasoewarman dan bassist Dodi Widyono ke atas panggung untuk memainkan lima lagu dari album ketiga Audio Imperialist, termasuk “24 Lewat (Lagu Luna)”  dan “100 KM”. Penonton semakin bersemangat melihat formasi awal The Brandals dan melihat Eka yang melakukan crowd surfing, saya lantas teringat bagaimana dulu saya terkagum-kagum melihat penampilan mereka yang intens dalam berbagai acara musik yang saya datangi. Radit dan PM akhirnya naik panggung lagi dan The Brandals menuntaskan penampilan mereka dari tiga lagu dari album DGNR8, yaitu “DGNR8”, “Awas Polizei!”, “Start Bleeding” dan dipungkaskan dengan “Marching Menuju Maut” dari album pertama mereka.

            Total 21 lagu dibawakan oleh The Brandals dalam durasi satu jam lebih. Dengan gemilang, The Brandals berhasil merangkum 12 tahun pertama karier mereka dengan menghargai masa-masa yang telah lewat tanpa terpaku di masa lalu. Toh lewat album baru mereka, The Brandals telah membuktikan diri jika mereka bukanlah band nostalgia. What’s next for them? “Yang jelas mau liburan dulu sebulan! Haha! Terus udah mulai kumpulin materi lagi pelan-pelan,” jawab Eka sambil tersenyum puas. The Brandals pada akhirnya akan terus bermutasi to keep the spirit alive. And I wish them a Godspeed.

Eka Annash

Foto oleh Sanko Yannarotama

On The Records: Anoa Records, Jakarta’s Freshest Indie Label

anoa

Di zaman ketika para musisi dan band hanya tinggal memiliki akun Soundcloud atau Bandcamp untuk mempromosikan musik mereka, apakah keberadaan label rekaman masih berarti? Well, selain label major yang paling terkena dampaknya secara ekonomi, keadaan ini secara menyegarkan justru memunculkan label-label indie di beberapa kota di Indonesia yang menampung berbagai rilisan paling menarik dari band-band lokal mereka. Dan serunya, semua itu dilakukan for the sake’s of fun dan kecintaan mereka akan band yang berkualitas. Salah satu label indie yang tengah menarik perhatian adalah sebuah label asal Jakarta bernama Anoa Records. Label baru yang digawangi oleh Peter A. Walandouw, Andri Rahadi, dan Ritchie Ned Hansel ini telah merilis dua album dari band roster mereka, yaitu duo alternative rock Jakarta bernama Barefood dan Seaside yang merupakan band indie pop bervokalis perempuan. Sebagai teaser, kamu bisa mendengarkan beberapa single dari kedua band yang mengusung aroma 90’s alt music tersebut di Soundcloud milik Anoa Records, namun saya menyarankanmu untuk memesan CD mereka langsung bila kamu ingin mendengarkan dua band paling fresh di Jakarta saat ini. Dengan dua rilisan awal yang menjanjikan tersebut, saya pun mengirim beberapa pertanyaan via email yang dijawab oleh Peter A. Walandouw sebagai representatif Anoa Records.

Hi, Peter, dari mana kalian bertiga memiliki ide untuk membuat label ini?

Ide label ini sendiri muncul gara-gara menonton film dokumenter Creation Records, Upside Down. Di dokumenter itu saya ngeliat betapa uniknya Alan McGee mendirikan labelnya. Lalu terbersit untuk membuat label, ide ini saya lempar dan gayung bersambut oleh yang lainnya. Tadda! Jadilah label ini.

What’s the story behind the name?

Hehe… Kita awalnya ingin milih nama label yang beda, nggak melulu bahasa Inggris. Nama yang tetap berkesan slenge’an, hahaha dan kayaknya asik kalau nama binatang lokal Indonesia, dan terpilihlah nama Anoa dari beberapa nama unik binatang lokal seperti trenggiling dan sebangsanya. Diucapinnya juga enak. Simpel gitu aja.

So how was it? Setelah akhirnya punya label sendiri?

Ternyata emang seru ya berada di balik layar, ngurusin rilisan sebuah band. Ada sensasinya juga hahaha! Intinya sih ya, kita bisa tahu seluk-beluk bisnis mikro untuk label semacam ini dan tantangannya.

barefood

Kalau daily job kalian sendiri sebetulnya apa?

Kami bertiga pekerja kantoran semua8 to 5, dan kami ngurusin label ini jika ada waktu luang selepas kantor hahaha!

Apa yang menjadi pertimbangan kalian untuk merilis sebuah record?

Sebenarnya kami sudah kenal band-band ini dan kenal baik dengan personelnya. Dan band-band yang bagus, fresh, dan potensial. Alhamdulilah, mereka tertarik untuk bekerjasama dengan label kami yang sebenarnya masih hijau. Pertimbangannya sederhana sesuai dengan moto kami: If we believe in something we hear, it’s better to record it. Dan kami melakoni label ini dengan santai sebenarnya, pokoknya rilis band yang kami sukai dan keren. tanpa harus pusing label ini harus seperti apa konsepnya atau artistik sebuah label kayak apa, seribet 4AD Record misalnya, hahaha! Kami sudah keburu pusing ngurus soal produksi.

Menurut kalian fungsi label sekarang ini apa?

Saling melengkapi saja. Promosi tak bisa mengandalkan publisher semata, tetapi juga sang artis. Social media sudah menjadi instrumen sangat penting dalam promo sebuah produk, apapun jenisnya. Sebenarnya tak ada yang berubah secara drastic sih dari fungsi sebuah label. Peran promo harus bersama-sama. Soundcloud itu juga penting banget untuk band-band baru memperkenalkan musik mereka.

Selain Barefood dan Seaside akan ada apa lagi yang muncul dari kalian?

Wah, sebenarnya kami ingin fokus dulu untuk dua band ini, Barefood dan Seaside, setelah merilis mereka, lalu memasarkannya, dan memastikan promo dan serapan di pasar berjalan dengan baik. Kedua band ini perlu banget dikenal skena lokal kita. Namun tentu ada beberapa nama band yang kami pikir layak dan hendak dijajaki kerjasamanya. Namun namanya belum bisa kami sampaikan, takut nggak jadi haha! Maklumlah ini label cekak dengan pendanaan dari sebagian gaji bulanan kami, hehe… doakan semoga lancar.

seaside

http://anoarecs.com/

 

Grrrl Power! An Interview with BIKINIES

Bikinies by Aloysius Nitia

The Jakarta’s literal riot grrrl band, Bikinies, kembali ke permukaan dengan sebuah album mini yang akan membuatmu berkeringat. 

Sadly, kita harus mengakui jika band perempuan yang bagus di Indonesia masih terbilang sangat minim. Kita pernah punya band perempuan paling keren di Indonesia yaitu Dara Puspita di tahun 60-an dengan skill bermusik yang tak kalah dengan kaum pria. Kita juga pernah melihat beberapa band lain yang semua personelnya perempuan muncul sekilas, namun tak ada yang pernah benar-benar berhasil menancapkan kuku mereka di kancah musik Indonesia. Dan kini, ketika bicara “girl band” di Indonesia berarti bicara tentang sekelompok gadis imut yang bernyanyi lip-sync dengan gerakan koreo yang seragam, band perempuan asal Jakarta, Bikinies, mungkin menjadi satu-satunya harapan untuk mengembalikan lagi makna dari kata “girl band” yang sesungguhnya.

            Terdiri dari Selviana Shapie (vokal), Victoria “Meti” Anastasia (gitar/back vox), Dhany Arliyanti (bass), dan Tiffany Ayu Puspasari (keyboard), nama Bikinies sebetulnya bukan nama yang benar-benar baru. Band yang terbentuk akhir tahun 2003 ini merupakan bagian dari booming band-band keren bentukan anak-anak Institut Kesenian Jakarta yang membangkitkan dan mendominasi skena musik indie Jakarta circa pertengahan era 2000-an silam.

            Dengan influens bermusik dari The Donnas, Bikini Kill, Jossie And The Pussycats, dan band-band perempuan berkarakter lainnya, Bikinies meramu musik pop rock bernapaskan riot grrrl dengan tempo kencang, distorsif, dan penuh semangat. Bikinies pun menyumbangkan lagu dalam kompilasi musik indie legendaris Thursday Riot di tahun 2005 lalu dengan single “Like An Idiot” dan dua tahun kemudian, single “C’mon” masuk kompilasi 24 Hour Campus Hits vol.2. Sayangnya, band ini kemudian sempat menghilang karena kesibukan masing-masing personel, bahkan sebelum merilis satu album pun.

            Enam tahun berselang, namun Bikinies ternyata tak pernah benar-benar tenggelam. Tahun ini mereka merilis self-titled album mini pertama mereka yang berisi empat lagu yang memproklamirkan jika Bikinies masih ada dan siap untuk menggebrak lagi. “Kenapa lama sekali… karena semua butuh proses yang matang dari segi arrangement lagu dan musik, yang masih berubah dan akhirnya matang. Juga karena kesibukan dari masing-masing personel. Dan kita mengerjakannya semuanya secara santai, nggak terburu-buru supaya maksimal. Proses recording-nya sendiri itu terjadi di bulan April 2013 setelah semua arrangement fix dan maksimal. Maka kami pikir sekarang waktu yang tepat untuk mengeluarkan EP kita,” ungkap mereka.

            Diperkuat dua additional player pria bernama Christian Kity (additional guitar) dan Pasha van Krab (drum), BIKINIES EP dibuka oleh single “Dance Floor Mafia” yang memacu adrenalin dan sama intensnya dengan dua lagu selanjutnya “Come On” dan “My Ex Boyfriend” sebelum ditutup oleh “Like A Bottle Of Beer” yang lebih akustik dan kalem. Menyusul respons positif untuk album yang memang telah ditunggu ini, mereka pun mulai tampil di beberapa show lagi, termasuk dalam gig bertajuk Identite di Home Club, Singapura. “Menyenangkan! Tidak terlalu ramai pengunjung tapi venue & crowd-nya asik, nggak pada malu-malu untuk joget. Tidak menyangka musik & perform kita dapat diterima oleh masyarakat Singapura dengan baik. Seru juga sih karena bisa kenal band-band lain yang emang musiknya keren-keren,” kenang mereka akan gig yang juga menghadirkan Puti Chitara dari Indonesia dan dua band Singapura, Obedient Wives Club dan .gif, tersebut.

            Kita bisa berharap jika EP ini hanya perhentian sementara sambil menunggu mereka melaju dengan potensi maksimal dalam sebuah full album. Kini, sambil menanggapi undangan gigs dan menyiapkan sebuah video klip, mereka mengaku sudah berencana untuk melanjutkan recording kembali dengan target album baru tahun depan. In the mean time, let’s wish them Godspeed and dance with their EP.

Logo

http://bikinies.bandcamp.com/

As published in NYLON Indonesia November 2013