En Garde, En Vogue! An Interview With Ayabambi

Membaurkan kedinamisan dan energi eksplosif dari tarian vogue dengan sensibilitas serta kemisteriusan Jepang yang berakar dari kultur geisha dan kabuki, power couple sekaligus dance duo AyaBambi siap menaklukkan dunia, one dance at a time

nylon_indonesia_oct_cover_19648

Ketika tarian vogue (atau voguing) terlahir dari subkultur ballroom kaum LGBT keturunan kulit hitam dan Latin di daerah Harlem, New York City pada tahun 80-an, tarian ini pada hakikatnya lebih dari sekadar sebuah aliran modern house dance yang menjadi ajang pertaruhan gengsi dua orang “queens” yang saling mengadu kebolehan mereka dalam berpose dan menari dengan cara yang super stylish, artful, dan fierce. Identik dengan exaggerated choreography yang terlihat feminin dan maskulin di saat yang bersamaan, tarian yang mengambil inspirasi dari bentuk hieroglif kebudayaan Mesir kuno dan pose-pose elegan para model yang menghiasi halaman majalah Vogue ini, seperti yang kemudian diceritakan dalam film dokumenter Paris is Burning yang mengupas ballroom scene New York City di akhir 80-an, sama seperti aspek-aspek lainnya dari subkultur tersebut adalah bentuk self-expression yang lahir sebagai reaksi perlawanan dari sebuah opresi dan diskriminasi seksualitas, gender, warna kulit, hingga kelas sosial di era tersebut.

Sebelum film dokumenter garapan Jennie Livingston tersebut dirilis di tahun 1990 dan menjadi sebuah cult classic sampai sekarang, ballroom scene dan drag culture bagaikan sebuah dunia lain yang tidak tersentuh oleh masyarakat umum. A little bit of Narnia for the African-American and Latino LGBT people di era itu, sebuah safe haven untuk melarikan diri sejenak dari realita keras dalam kehidupan sehari-hari (“the white, rich, straight world”). Selain dokumenter tersebut, sang primadonna pop Madonna lah yang kemudian bertanggung jawab memperkenalkan tarian vogue ke publik mainstream saat ia merilis single berjudul “Vogue” di tahun yang sama. Menjadi salah satu hits terbesar dari Madonna, “Vogue” dengan musik video ikonik yang disutradarai oleh David Fincher berhasil membawa tarian vogue yang awalnya hanya ditampilkan di underground gay bars and disco di New York City ke clubs di seluruh dunia. Vogue pun bergeser menjadi sebuah tarian yang merefleksikan hedonism, positivity, serta inclusivity yang menginspirasi para penari dan calon penari di seluruh dunia, termasuk AyaBambi yang berasal dari Jepang.

Jika ini kali pertama kamu mendengar nama mereka, you are in for a treat. Secara singkat, AyaBambi adalah duo penari Jepang yang terdiri dari Aya Sato dan Bambi yang meraih popularitas global berkat koreografi menghipnotis dan gaya cyber-goth mereka yang super keren. Keduanya sudah mulai menari sejak usia dini dan mengambil inspirasi dari berbagai macam aliran dance untuk menciptakan highly synchronized routine yang powerful, penuh presisi, dan tentu saja, fierce. Menekankan hand choreography untuk mengeksekusi gerakan-gerakan tajam yang membingkai wajah mereka dengan potongan rambut avant-garde dan riasan gothic vibe yang khas, jelas ada pengaruh yang kuat dari elemen vogue dan tutting dalam tarian yang mereka peragakan. Meskipun begitu, dengan cepat mereka menolak jika tarian mereka hanya dikategorisasikan sebagai vogue. “Our dance isn’t actually vogue dance. It has some elements of vogue dance, but it is our original style consisting of our favorite posing and stuff,” tegas Aya Sato dalam balasan email untuk kami yang mereka kirim dari Rio de Janeiro, Brasil. Meski demikian, keduanya juga tak menampik jika tarian vogue yang mereka lihat saat beranjak dewasa memegang peranan penting dalam seni tari yang mereka geluti, not only for the stylistic direction, but also for the self-liberation.

nylon_indonesia_oct_cover_19262

Setelah menarik perhatian para netizen semenjak mengunggah video-video dance workshop mereka sejak empat tahun lalu di YouTube dan mengundang ribuan views dengan cepat, membintangi kampanye fashion, video musik, komersial, dan berkeliling dunia memang telah menjadi bagian dari keseharian mereka dalam beberapa tahun terakhir ini. Thanks to their international appeal dan fakta jika dance adalah universal language yang tidak terbelenggu batas bahasa dan budaya, mereka dapat dengan mudah diterima di mana saja, dari mulai underground club di New York, warehouse party di London, maupun galeri seni di Tokyo, they simply doesn’t have boundaries. Brasil hanyalah satu dari sekian banyak destinasi yang telah mereka kunjungi untuk menunjukkan kemampuan mereka, entah itu dengan tampil bersama megastar sekelas Madonna ataupun menggelar dance class yang selalu dipenuhi para peminat, most of them adalah penggemar yang telah menyaksikan AyaBambi lewat video-video yang beredar di internet. Saat ini, menyebut AyaBambi hanya sekadar dancer pun adalah sebuah simplifikasi yang bisa menyesatkan. Dalam akun Instagram @ayabambi_official yang telah diikuti oleh 131K followers, dengan bangga mereka mencantumkan profesi yang meliputi dancer, koreografer, model, stylist, fotografer, editor, dan director. Tentu saja, itu bukan hanya gelar yang asal mereka sematkan ke diri sendiri begitu saja, they have enough creds to back it up.

Tiga tahun terakhir ini mereka telah mengumpulkan resume video features yang impresif. Setelah muncul di beberapa musik video Jepang untuk BoA, Nano, Shiina Ringo, dan Miliyah Kato, mereka pun go international dengan tampil di video untuk Benjamin Pettit, DJ asal Inggris yang lebih dikenal dengan nama Zinc dalam single “Show Me” yang menampilkan AyaBambi menari di depan cermin sebuah dance studio dengan twist yang mencengangkan serta video “Forever (Pt. II)” milik Snakehips di mana keduanya tampil begitu membius dalam video berdurasi 3 setengah menit tersebut. Video selanjutnya yang benar-benar memperkenalkan mereka ke ranah mainstream adalah saat mereka ikut tampil dalam video “Bitch I’m Madonna” seperti sebuah rekayasa semesta yang mempertemukan mereka tak hanya dengan the queen herself (Madonna, duh!) tapi juga nama-nama besar lainnya di video tersebut seperti Rita Ora, Jeremy Scott, Miley Cyrus, dan terutama the prodigal designer and cool kids patron, Alexander Wang. It was love at first sight bagi desainer Amerika berdarah Asia tersebut. Dengan kecintaan yang sama pada fashion and art, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk saling mengapresiasi karya masing-masing dan Wang pun mengajak AyaBambi menjadi bagian dari kampanye koleksi goth-inspired Fall-Winter 2015 labelnya bersama deretan perempuan keren dengan personal style yang distinctive lainnya seperti Anna Ewers, Molly Bair, Binx Walton, Lexi Boling, Hanne Gaby Odiele, Sarah Brannon, Isabella Emmack dan mantan vokalis Crystal Castes, Alice Glass. “Saya sudah mengagumi Aya dan Bambi sejak menonton video-video mereka di internet, “ ungkap Wang pada WWD. “Kebetulan, saat mereka tampil di video Madonna, saya bertemu mereka di pesta yang diadakan Madonna di Paris dan langsung jatuh cinta. Mereka memiliki gaya yang sangat individual namun mereka juga sangat sesuai dengan karakter di koleksi ini,” ungkapnya tentang keputusannya mengajak AyaBambi dalam kampanye yang dijepret oleh fotografer legendaris Steven Klein tersebut.

Chemistry antara Madonna dan AyaBambi tak berhenti di video musik saja, tapi juga berlanjut ke tur dan live performance. Keduanya resmi menjadi penari dalam Rebel Heart Tour yang diadakan Madonna di seluruh dunia, walaupun sempat terjadi sebuah insiden. Pada penampilannya di Brit Awards Februari 2015 lalu yang disiarkan secara langsung, Madonna sempat mengalami kecelakaan di atas panggung saat ia membawakan lagu “Living for Love”. Masuk ke panggung seperti high priestess slash bride of darkness, Madonna mengenakan jubah panjang hitam dengan Aya dan Bambi mengekor di belakangnya sambil memegang ujung jubah. Saat di puncak tangga, jika sesuai rencana, mereka akan menarik lepas jubah Armani tersebut dan Madonna dengan epik akan melanjutkan langkahnya sebagai seorang ratu dalam balutan busana matador. Sialnya, Madonna ternyata belum benar-benar melepas ikatan jubahnya dengan sempurna saat AyaBambi menariknya, seorang Madonna pun terjatuh dari tangga di depan ribuan orang yang hadir secara live maupun yang menonton dari layar televisi. “Saya sangat ketakutan waktu itu!” kenang Aya. “Saya merasa waktu seakan berhenti dan kejadian itu seperti berlangsung berjam-jam,” tandasnya. Untungnya, Madonna dengan profesional tetap melanjutkan tampil dengan gemilang tanpa terlihat kesal dan tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu karena AyaBambi tetap menari bersamanya di sepanjang tur termasuk dalam sebuah penampilan untuk lagu yang sama di The Ellen DeGeneres Show. “Bekerja dengan Madonna adalah hal yang sangat menyenangkan, she liked us,” ungkap Aya lagi. “Hal yang paling menggembirakan adalah dia sangat terbuka dengan ide dan koreografi yang saya ciptakan, and we were so glad for that. Dia pun sangat ramah. Tapi, at the same time, kami merasa tidak boleh berpuas diri dan berhenti di situ.”

Seperti yang bisa diduga dan mereka akui sendiri, fashion memang memegang peranan penting bagi proses kreatif mereka. “We don’t just attract to dancing. Dancing is one of the ways to fuse fashion and art. We are influenced by people who create work together,” ujar mereka. “Saat tidak menari, kami menekuni hal-hal lain yang kami sukai. We enjoy designing clothes, and making clothes, and thinking about so many stuff that we can make is also fun.” Maka tak heran jika pesona AyaBambi terus menarik mutual symbiosis dengan para kreatif di bidang fashion.

nylon_indonesia_oct_cover_19090

Sebagai bagian dari proyek bertajuk MOVEment yang digagas oleh AnOther Magazine dan Sadler’s Wells Theatre (sebuah tempat pertunjukan seni di London), AyaBambi membintangi salah satu dari fashion film yang digarap oleh tujuh sutradara kontemporer dan menampilkan tujuh koleksi khusus dari fashion designers ternama saat ini. Dibalut oleh rancangan Hussein Chalayan from head to toe, mereka berkolaborasi dengan Ryan Heffington yang juga dikenal sebagai koreografer untuk FKA twigs (“Google Glass” dan “Video Girl”) dan Sia (“Elastic Heart” dan “Chandelier”) untuk menciptakan sebuah tarian hyper-synchronized dengan background putih yang memperkuat sajian visual tersebut dengan diiringi oleh dentam elektronik minimalis. ”Pakaian dan filmnya sendiri sebetulnya sangat simple dan dalam, which we love, sometimes the form of the clothes is more important than the freedom or beauty of the physical body,” ungkap mereka soal video yang digarap oleh Jacob Sutton tersebut. Selain untuk Hussein Chalayan, AyaBambi pun telah tampil di banyak fashion video lainnya, termasuk saat menari bersama si kembar Dean & Dan Caten dari label Dsquared2 dalam video buatan Leslie Kee.

Terlepas dari semua pencapaian tersebut, cult following, dan minat publik yang besar pada keduanya, salah satu dari daya tarik paling vital dari kesuksesan AyaBambi adalah misteri yang menyelimuti keduanya yang mengingatkan kita kepada tabir rahasia dan kemistisan seorang penari geisha dari masa lampau. Di zaman di mana detail personal siapa saja dengan mudah bisa dilacak hanya dengan memasukkan kata kunci di kolom pencarian dan beberapa kali klik, mereka menjaga rapat hal-hal yang menurut mereka tidak perlu diungkap ke publik, termasuk nama lengkap dan usia mereka. Minimnya informasi yang bisa dilacak di internet pun membuahkan spekulasi tersendiri tentang sosok mereka sebenarnya. Apakah mereka anak kembar? Are they sisters? Apakah mereka berasal dari masa depan? Are they cyborgs? Semua pertanyaan tersebut menciptakan misteri dan image yang too cool to be true akan keduanya. And just like some sort mythical creatures, people dying to know more about them, including us. Tapi mereka tidak mudah dipancing. Dalam email berisi sekitar 30 pertanyaan yang kami kirimkan sebagai usaha untuk mengulik lebih dalam tentang diri mereka, mereka hanya menjawab mungkin setengahnya saja dan itu pun dengan kalimat-kalimat sangat singkat dan ambigu. Namun, satu hal yang tidak pernah mereka tutupi adalah kenyataan jika mereka adalah romantic partners.

 Berasal dari Yokohama dan kini berdomisili di Tokyo, Aya dan Bambi (atau Akkun dan Mammi-chan, yang menjadi cara mereka memanggil satu sama lain) pertama kali bertemu di sebuah audisi dance dan walaupun baru benar-benar berkolaborasi secara profesional sebagai AyaBambi sekitar dua tahun terakhir ini, mereka sebetulnya telah menjadi romantic partner selama tiga tahun belakangan. “Kami bertemu secara kebetulan, tapi Bambi memahami apa yang ingin saya lakukan. Pemikirannya, ekspresi, dan daya tariknya mampu memandu ide-ide dalam kepala saya, so I think its good balance,” ungkap Aya.

Instagram menjadi salah satu jendela kecil bagi kita untuk mengintip dunia mereka. Tak hanya aktivitas sehari-hari, proyek terbaru atau hal-hal personal seperti teddy bear kesayangan Bambi yang diberi nama Meringue, tapi terutama adalah soal hubungan mereka. Keduanya telah bertunangan sejak setahun terakhir, namun saat pertanyaan soal pernikahan muncul, they’re not really bothered about it, Bagaimanapun Jepang masing sebuah negara konservatif yang memegang teguh nilai-nilai tradisional. “Jepang sering disebut sebagai negara maju,” ungkap Aya pada sebuah wawancara, “Namun negara ini tetap sangat konservatif dan tradisional. Isu-isu seperti ini bergerak sangat lambat di Jepang,” lanjutnya.

nylon_indonesia_oct_cover_18654

Titik terang bagi keduanya muncul saat beberapa distrik seperti Shibuya , Setagaya, dan tiga distrik lainnya melegalkan sertifikat same-sex couples special partnership. Walaupun secara hukum, sertifikat tersebut tidak dianggap sebagai sertifikat pernikahan, namun sertifikat tersebut mengakui adanya partnership untuk same-sex couple dan memberikan mereka hal-hak sipil selayaknya pasangan pada umumnya. It’s not a marriage certificate but it’s still better than nothing, dan itu adalah sebuah kemajuan bagi LGBT rights di Jepang. Aya dan Bambi sendiri mungkin tidak terburu-buru untuk menikah, namun mereka telah melakukan their fantasy dream wedding dalam sebuah video bertajuk “Short White Wedding” yang digarap oleh situs Vogue tahun lalu. Dalam video yang disutradari oleh Ujin Lin tersebut, Aya dan Bambi menampilkan koreo keren mereka dalam balutan bridal dresses musim tersebut yang meliputi koleksi dari Givenchy, Valentino, Louis Vuitton, Rodarte, dan Vera Wang. Menukar pakaian hitam dominatrix khas mereka dengan busana pengantin putih yang ethereal dengan iringan musik yang glorious, kamu tidak bisa untuk tidak tersenyum dan merasa ikut bahagia saat menyaksikan video tersebut. “We don’t know. We don’t think. In our world, probably there are only two of us. I am what I am, and so is she,” ungkap Aya tentang pandangan orang lain atas hubungannya dengan Bambi.

            “We had many awesome things together, but we still want to do many things, and we think we can learn many other things from collaboration,” ujarnya. Selain pernikahan itu sendiri, masih banyak mimpi yang ingin mereka capai, khususnya proyek-proyek revolusioner yang menggabungkan dunia fashion, seni tari, dan film. “Tim Burton adalah filmmaker favorit kami, jadi jika ada kesempatan bekerjasama dengannya, itu akan mengabulkan salah satu impian kami!” pungkas mereka.

Kembali ke tarian vogue, dalam sejarahnya yang paling primal, vogue sebetulnya adalah tarian perang, sebuah duel di antara dua rival penari. Namun di tangan Aya dan Bambi, tarian ini menjelma menjadi sebuah kolaborasi transcendental yang tak hanya berhenti di raga tapi juga jiwa, melumerkan batas frasa dan rasa di antara keduanya. In the end, it’s a celebration of life, love, and beauty.

nylon_indonesia_oct_cover_19374

Photo: Yuji Watanabe.

Styling: Shotaro Yamaguchi @eight peace.

Make-Up Artist: Nao Yoshida.

Hair: Shuco @3rd

 

Advertisements

Style Profile: Elleanor Yamaguchi

Jepang boleh saja dipenuhi oleh para fashion blogger dan style icon yang tak terhitung jumlahnya, tapi mencari yang mampu berbahasa Inggris untuk pembaca internasional adalah hal yang lumayan tricky. Erina Elleanor Yamaguchi adalah salah satu dari segelintirnya. Berdarah ¼ Singapura, gadis 21 tahun kelahiran Chigasaki City, Kanagawa, Jepang ini memang sempat tinggal di Singapura selama 8 tahun sebelum kembali ke Tokyo di mana ia kemudian menjadi vlogger untuk kanal YouTube TokyoFashion.com dan menjadi street styler, model, DJ, serta freelance fashion stylist dalam banyak project, termasuk untuk video “Lionhearted” milik Porter Robinson. Seakan tidak pernah puas, ia pun masih mengejar passion-nya yang lain, “Saya mulai mengerjakan segala hal yang saya lakukan sekarang karena cita-cita saya sejak kecil adalah menjadi orang terkenal. Saya selalu ingin menjadi model dan sekarang saya berpikir untuk menjadi vokalis begitu saya bisa mengumpulkan cukup banyak orang untuk membentuk band!”

2015-05-11-17-47-32

Apa definisi personal style kamu?

Saat ini saya lebih memilih pakaian yang jauh lebih simpel daripada yang sebelumnya biasa saya kenakan, mungkin karena saya juga sudah bertambah dewasa. Saya tidak pernah mendeskripsikan gaya saya sendiri, tapi jika harus, saya akan menyebutnya “Elleanor”.

Deskripsi fashion Jepang menurutmu?

Ketika pertama kali tertarik pada fashion, saya menyangka fashion Jepang pada umumnya sangat simpel dan boring tapi Harajuku dipenuhi oleh banyak orang dengan beragam style yang unik dan membuat saya berpikir jika orang-orang bisa mengekspresikan diri mereka lewat fashion. Tapi saat ini, sudah semakin jarang orang-orang yang ingin terlihat “beda” dari orang lain. Beberapa masih memakai pakaian warna-warni tapi mereka terlihat “normal” dan tidak seunik beberapa tahun sebelumnya. Tapi saya masih merasa orang Jepang bisa lebih bebas mengekspresikan diri lewat fashion dibanding negara lain.

Apa yang kamu sukai dari Jepang?

Saya suka makanannya, empat musim yang tidak dimiliki Singapura, dan keamanan di negara ini. Saya pernah ke L.A. dan menyadari betapa mudahnya berpergian di Jepang tanpa harus naik mobil atau taksi. Tokyo’s trains go everywhere!

2015-06-21-20-04-22

Latest obsession/discovery?

Saat ini saya terobsesi Fred Perry dan Dr. Martens! Baru-baru ini saya menonton film This Is England dan saya sangat menyukai fashion di dalamnya. Sekarang saya benar-benar ingin sepasang sepatu basic 3 holed dari Dr. Martens.

What are your biggest passions?
My passions are to spend time alone in my favorite cafe, to drink alcohol with my friends, and to go shopping!

What’s your secret skill?
Hmm…I’m not sure if this is a skill, but I love singing! Karaoke is a really popular place to hang out in Japan.

Who’s your favorite local musician/band?
I can’t choose one, so here I go! I love the singer-songwriter Aiko and the band Judy and Mary and The Yellow Monkey.

Favorite fashion quotes to live by?
“People will stare. Make it worth their while.” – Harry Winston
I found this on the internet and was struck by.

Style tip?

Saya tidak pernah punya tips apapun, saya hanya mencoba gaya apapun yang ingin saya coba and let’s see if it works out!

2015-06-04-15-14-24

 

Très chic, très hip, très sexy! An Interview With Mademoiselle Yulia

Tokyo’s It Girl, DJ, musisi, style icon, club queen, fashion & accessories designer, muse, kolumnis mode NYLON Japan… Mademoiselle Yulia telah mengantungi lebih banyak profesi dari yang bisa kamu bayangkan dari seorang wanita yang bahkan belum menginjak umur 30 tahun. Menyebutnya sekadar seorang multi-hyphenate adalah sebuah understatement, namun di luar segala label yang melekat pada dirinya, Mademoiselle Yulia tidak akan pernah puas mengeksplorasi dunia dengan style and sound personalnya yang nyaris tanpa cela. We want to know the secret, s’il vous plait

 img_3894

Di masa ketika siapapun bisa menjadi overnight celebrity dengan berbekal persona social media yang kuat dan jumlah follower sebagai currency untuk kepopuleran seseorang, istilah It Girl mungkin telah menjadi sesuatu yang sangat cair dan fleksibel. Begitu mudahnya kita beralih dari satu girl crush ke girl crush lainnya hanya dengan beberapa klik dan stalking di Instagram, it’s became everybody’s game at this moment. Tapi ada satu hal penting yang tak bisa ditutupi filter apapun dan membuat seorang It Girl tetap standout di antara ribuan It Girls lainnya, yaitu? The genuine talent and natural charms, tentu saja. For some people, setiap post yang mereka unggah di Instagram adalah full-time job yang membutuhkan effort besar demi the so-called “curated contents”, paid content, dan menarik lebih banyak followers. Namun, bagi sebagian orang lainnya, Instagram sebetulnya tidak lebih dari sekadar platform untuk membagikan sekelumit keseharian mereka yang jauh lebih seru in real life instead of URL. Mademoiselle Yulia termasuk golongan yang kedua.

            DJ, penyanyi, dan desainer asal Tokyo ini mungkin “hanya” memiliki 141K followers di akun Instagram @mademoiselle_yulia miliknya, jauh lebih sedikit dari katakanlah Kiko Mizuhara dengan 3, 4 juta followers-nya, namun sempatkan waktu untuk scrolling sekejap di feeds miliknya yang dipenuhi foto dirinya menghadiri berbagai acara fashion paling happening across the globe, entah itu duduk di front row sebuah fashion week, menjadi DJ di party untuk brands seperti Louis Vuitton, Sonia Rykiel, dan Chanel, memamerkan personal style-nya baik di red carpet maupun di depan lensa street photographers, or just chilling with her best friends yang meliputi Jeremy Scott, 2NE1, Virgil Abloh (style advisor Kanye West), dan Kiko; kamu akan paham jika dia sebetulnya memang orang yang lebih memilih berinteraksi di dunia nyata dibanding seseorang yang obsessively berkutat dengan smartphone setiap saat. “Sejujurnya saya tidak menganggap social media sebagai hal yang vital bagi kehidupan pribadi saya sehari-hari,” cetus wanita berumur 28 tahun ini. “Saya menggunakan social media seperlunya saja untuk berkomunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Tapi memang saya paling suka Instagram karena basically it’s a picture and you don’t need to say anything,” sambungnya.

Telah kembali ke Tokyo setelah kunjungan terbarunya ke Paris yang meliputi pemotretan untuk majalah yang kamu pegang sekarang, Yulia membalas email interview kami hanya beberapa jam sebelum final deadline kami, but its kinda forgivable mengingat aktivitasnya yang padat. “I’m DJ-ing a lot these days. Saya juga baru menggelar ekshibisi untuk koleksi Autumn/Winter 2016 brand baru saya, Growing Pains, bulan lalu. Jadi saya baru akan mulai memikirkan ide untuk koleksi berikutnya. Lots of new project this year,” ungkap Yulia soal aktivitasnya belakangan ini. Dengan segala kesibukan yang ia lakukan, Yulia mungkin tidak punya waktu untuk meng-update Instagramnya setiap saat, namun tak bisa dipungkiri jika Instagram juga yang memperkenalkan dirinya ke audiens global (termasuk Rihanna, but we will talk about it later), walaupun sejatinya Mademoiselle Yulia telah memiliki reputasi cult di kancah fashion dan musik electro Tokyo sejak dia bahkan belum lulus SMA.

img_3916

Bagaimana cara memperkenalkan Mademoiselle Yulia kepada orang yang belum familiar dengan namanya? Well, to put it simple, Mademoiselle Yulia adalah seorang fashion royalty di Tokyo yang terbiasa tampil di red carpet, front row, galeri foto street style paling bergengsi di sela-sela kesibukannya membuat musik J-pop dengan influens electro yang kental serta menjadi DJ di pesta-pesta paling eksklusif di dunia fashion. Namun seiring kamu membaca artikel ini, kamu akan tahu jika she’s way more than that.

Lahir dan besar di Tokyo, wanita kelahiran 10 Agustus 1987 ini memulai karier bermusiknya dengan menjadi vokalis dan gitaris untuk sebuah band berpersonel empat orang yang ia bentuk saat dia baru masuk SMA. “It was a punk band, saya banyak mendengarkan musik Barat, terutama punk, rock, new wave, post punk dari akhir 70-an sampai awal 80-an,” kenangnya soal band pertamanya yang mengambil inspirasi dari The Clash dan Kraftwerk tersebut. Tahun berikutnya, terinspirasi dari kunjungannya ke sebuah acara DJ night di London, Yulia mulai menggelar sebuah electronic dance party underground serupa di Tokyo dengan nama Neon Spread. Just like The Misshapes party di New York City ataupun acara Kitsuné di Prancis, acara tersebut dengan cepat menjadi party paling happening sekaligus ajang seen and to be seen para It Crowds setempat. “Saat masih di band pun saya juga telah banyak mendengarkan musik electro, terutama electroclash karena genre tersebut adalah perpanjangan dari musik-musik yang saya sukai (post punk dan new wave). So it was natural for me to start to listens electro music,” ungkapnya.

            Just like a rite of passage seperti yang dialami juga oleh para club queens seperti Leigh Lezark, Sarah Jane Crawford, Solange, dan Harley Viera-Newton yang tidak puas bila hanya berdansa di dance floor, langkah berikutnya yang dilakukan Yulia adalah menguasai DJ deck dan merilis mixtape. Di tahun 2008, Yulia melakukan debutnya sebagai DJ dengan kontrak bersama EMI Music Japan untuk merilis mixtape perdananya bertajuk Neon Spread dari lagu-lagu yang ia mainkan di acara tersebut dan sampai saat ini telah memiliki tiga volume. Seiring kepopulerannya sebagai DJ di berbagai event dan party, Yulia pun mulai berkolaborasi dengan tokoh-tokoh penting lainnya di skena electro dan hip-hop Tokyo seperti Plastics, Towa Tei, Shinichi Osawa, M-Flo, dan Teriyaki Boyz, serta Krazy Baldhead dan Uffie, dua musisi elektronik asal Prancis yang pada masa itu menjadi kebanggaan Ed Banger Records. Kedekatannya dengan rapper Verbal dari grup Teriyaki Boyz dan M-Flo sebagai kolaborator kemudian berlanjut ketika ia menjadi executive producer untuk album debut Yulia sebagai penyanyi elektronik. Dirilis pada bulan September 2011, album debut yang diberi judul Mademoworld itu mengantarkan nama Yulia ke ranah mainstream dengan sebuah world wide tour bertajuk “Angee Yung Robotz” untuk mempromosikan album berisi 12 lagu tersebut.

Mendapat apresiasi positif baik dari kritikus maupun penggemar musik berkat produksi yang slick, persona Yulia yang unik, dan beat yang adiktif, album ini juga dianggap memperkenalkan genre J-pop yang lebih universal dan mudah diterima ke telinga pendengar internasional. A kind of album you can bangin on with, terlepas kamu mengerti bahasa Jepang atau tidak. Single utama di album ini berjudul “Gimme Gimme” yang disutradarai oleh graffiti artist asal Prancis, Fafi, memperlihatkan Yulia with her glorious blue hair dan girl squad-nya berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya dengan visual aesthetic yang nyaris serupa seperti yang akan Madonna buat untuk video “Bitch I’m Madonna” empat tahun kemudian (Yulia lebih dulu merilis “Gimme Gimme” di tahun 2011). Selain kolaborasi dengan will.i.am dan Basement Jaxx serta membuatnya menjadi opening act untuk tur Jepang Kylie Minogue, kepopuleran Mademoworld juga menghasilkan sebuah show miliknya sendiri dengan nama yang sama di kanal musik Space Shower dan di tahun 2013 Yulia merilis album keduanya, Whatever Harajuku, dengan single “Harajuku Wander” dan musik video yang menunjukkan Yulia di habitat naturalnya di antara para fashion forward people Harajuku.

Fun and unexpected,” jawab Yulia singkat saat diminta mendeskripsikan personal style dirinya. It’s been long days sejak Gwen Stefani tergila-gila pada gaya Harajuku dan menjadikannya sebuah stereotipe klise dari giggling Japanese girls in wacky outfits, namun, di tangan Yulia sebagai the true native and role model, ia berhasil membawa street style kebanggaan Tokyo tersebut ke level selanjutnya yang lebih mature dan edgy dengan aesthetic yang terinspirasi dari pusat-pusat skena alternatif Tokyo seperti Harajuku, Koenji, dan Shimokitazawa yang merepresentasikan sense of style kota tersebut yang surreal. Tokyo’s street style is finally cool again. “I think fashion is the first passion karena saya tidak terlalu pandai mengekspresikan diri lewat kata-kata. Jadi bagi saya fashion adalah cara saya untuk mengekspresikan diri. Tapi sejak saya bergabung di band pertama saya, musik juga menjadi salah satu cara saya untuk berekspresi. Fashion dan musik, keduanya sangat berpengaruh dalam hidup saya,” tukasnya.

Dengan kepopuleran EDM yang menjadi salah satu genre paling besar di awal abad ini, whether you like it or not, DJ is the new rock star and fashion muses. Mademoiselle Yulia kebetulan termasuk salah satu DJ yang mampu memadukan style dan sound dengan sama apiknya. Diberkahi personal style eklektik dan kemampuan mix and match sesuatu yang unexpected menjadi kesatuan looks yang membuat iri fashion blogger paling berani sekalipun, Yulia mampu mengenakan pakaian paling ajaib dari runway dan membuatnya tetap wearable. Contohnya saat ia memakai gaun Chanel berwarna pastel dengan heels putih dan kaus kaki semata kaki atau memakai kimono sambil menenteng tas Gucci berdetail bunga. Dengan injeksi whimsical khas Harajuku, ia membuktikan dirinya sebagai the ultimate mix master, dengan atau tanpa turntable di sampingnya.

img_3871

Terima kasih untuk kemajuan teknologi, sense of style dirinya pun membuahkan legion of fans dari seluruh dunia, termasuk dari kalangan fashion insider seperti Jeremy Scott yang menjadikannya muse dan menjadi sahabat baiknya atau Stella McCartney yang memintanya sebagai representasi Tokyo untuk proyek “One City, One Girl” label miliknya di mana Stella McCartney herself memilih gadis-gadis paling keren untuk mewakili dan memperkenalkan kota mereka masing-masing. “Saya sejujurnya lebih aktif di malam hari karena pekerjaan sebagai DJ selalu dimulai saat larut malam, tapi saya selalu berusaha bangun sebelum jam 10 pagi. Saya memulai hari saya dengan meminum yoghurt,” jawab Yulia tentang bagaimana ia biasanya menjalani hari-harinya di Tokyo. Berkumpul dengan teman-temannya di daerah Harajuku, a little bit of shopping, lalu makan malam dan setelahnya pergi ke bar atau club adalah kegiatan favoritnya di kota kelahirannya tersebut. “Tokyo is really convenient and clean. Saya menyukai bagaimana mood kota ini berubah seiring pergantian musim. Tapi saya juga sangat suka London. Saya ingin tinggal di sana suatu hari nanti,” akunya.

            Dengan reputasi yang kian menanjak, maka tidak mengherankan jika Yulia pun bisa dibilang telah bertransisi dari local icon ke global stardom, membuatnya mendapat fans dari berbagai belahan dunia dari New York sampai Yunani dan membuka pintu sosial yang lebih lebar lagi baginya. Buktinya? Well, tampil sebagai cameo di video klip “The Baddest Female” milik CL dari 2NE1, duduk di front row Jeremy Scott di tengah Iggy Azalea dan Nicki Minaj, menjadi satu-satunya model Asia di kampanye global H&M yang bertema “H&M Loves Music”, dan mendapat sahabat baru, Rihanna.

“Saya bertemu Rihanna sekitar 3-4 tahun lalu di Paris. Saya pergi ke sebuah party bersama teman-teman saya dan ketika saya sedang berdansa seru di dance floor, tiba-tiba Rihanna melambaikan tangannya ke arah saya dan memanggil saya ke mejanya! Dia bilang, ‘I know you from Instagram and I love your style!’ Kebetulan kami berdua punya mutual friends seperti Jeremy Scott dan lain-lain, jadi dari situ dia menemukan saya di Instagram tapi sejujurnya saya sangat terkejut karena dia mengenali saya! Sejak saat itu kami pun berteman. Kalau CL, sebenarnya saya sudah kenal dia sejak sepuluh tahun lalu. Saya bertemu dengannya sebelum dia debut dengan 2NE1 karena saya berteman dengan stylist-nya.”

Setelah cameo-nya di video CL, ia pun diminta menjadi DJ untuk after party show Chanel Resort di Seoul dan berada di bawah naungan agensi model internasional IMG yang turut membantu popularitasnya di dunia fashion baik digital maupun real life. Namun, bahkan sebelum era social media pun, Yulia adalah sosok egnimatis yang dengan effortless menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. “Lewat social media, saya memang beruntung karena bisa bertemu beberapa orang yang mungkin tidak bisa saya temui sebelumnya, tapi untungnya, di lingkungan saya berkembang, bahkan sebelum adanya media sosial pun, saya punya banyak kesempatan untuk bertemu orang-orang seperti Jeremy Scott dan tim KTZ yang mengulurkan tangan mereka bahkan sejak saya baru mulai tampil sebagai DJ,” ujarnya.

Sama halnya dengan sikapnya pada musik, rasa cintanya kepada fashion juga tak berhenti sebatas sebagai konsumen. She needs to create something. Selain masih menjadi kolumnis tetap rubrik fashion miliknya sendiri dalam setiap edisi NYLON Japan selama delapan tahun terakhir ini, Yulia pun memiliki fashion brand sendiri. Brand pertama miliknya adalah Giza, sebuah label statement accessories yang ia buat di tahun 2008. Aksesori yang ia buat untuk label ini meliputi jewelry, tas, headwear, badges, dan t-shirts yang terinspirasi dari ancient Egypt dengan sentuhan pop art yang kental dan telah berkolaborasi dengan label-label streetwear terkenal seperti Wesc untuk Fall 2010 dan Joyrich, label kelahiran Tokyo yang kini berbasis di Los Angeles, di mana ia membuat kolaborasi bertema sport-luxe yang playful untuk koleksi Spring/Summer 2015 label tersebut.

Tak pernah berhenti berkreasi atau kekurangan inspirasi, bulan November tahun lalu, ia pun meluncurkan clothing brand terbarunya yang diberi nama Growing Pains dengan koleksi yang meliputi outerwear, patterned dresses, faux fur, dan latex skirts. “Saya terinspirasi dari berbagai macam pergerakan seni, baik itu dari musik, sinema, underground culture, dan movement dari seluruh dunia. It also celebrates bit of humor and every spirit of enjoying fashion as a self-expression. Musim pertamanya terinspirasi 90’s culture dan film Doom Generation, musim keduanya terinspirasi film-film Wong Kar-wai dari awal 2000-an,” terangnya soal label tersebut.

img_3965

 Fashion dan musik faktanya adalah yin & yang tak terpisahkan dari hidup Yulia, bahkan sejak ia masih kecil. Ibunya adalah seorang kimono dresser dan ayahnya adalah seorang hairstylist, so it’s definitely in her genes. “Saya sangat berterima kasih terhadap kedua orangtua saya karena walaupun mereka sangat strict tapi mereka selalu mendukung apapun yang ingin saya kerjakan. Mereka juga menyukai fashion dan musik,” ujar kolektor vintage Moschino dan Thierry Mugler ini. Sama seperti mayoritas anak perempuan Jepang, Yulia tumbuh dengan kecintaan terhadap benda-benda kawaii yang terus berlanjut sampai sekarang. Dalam sebuah feature dirinya di situs The Coveteur, kita bisa melihat kamarnya yang tidak hanya dipenuhi koleksi designer items, sneakers, dan barang-barang fashion saja, tapi juga pernak-pernik My Little Pony, Sailor Moon, dan kawaii things lainnya yang tertata rapi. “Saya mulai mengoleksi beberapa benda sejak kecil, tidak hanya kawaii things, saya juga mengoleksi boneka Barbie dan snow globes,” ungkapnya sambil menyebut compact powder Sailor Moon sebagai salah satu item wajib yang ada di tasnya, di samping dompet Celine, iPhone dengan cigarette case yang ia buat sendiri, lipstick Chanel, dan gummy bears merek Haribo favoritnya.

Hal yang menurutnya impossible bila ia harus memilih antara fashion atau musik, Yulia pun tidak bisa pergi terlalu lama dari dunia musik. 17 Desember lalu, ia kembali ke dunia musik dengan dua single terbarunya, “GOGO” dan “THIS WEEKEND” yang merupakan rilisan terbarunya sejak Whatever Harajuku. “Saya merekam kedua lagu ini bersama seorang beat maker teman saya yang tergabung di band bernama ANIMAL FEELINGS saat saya di New York. Ini adalah pengalaman pertama saya merekam lagu di luar Jepang. ‘GOGO’ is beautiful song with slow jam sedangkan ‘THIS WEEKEND’ memiliki little disco flavor dengan beat yang danceable. Saya ingin membuat lagu yang berbeda dari yang telah saya kerjakan sebelumnya dan kembali ke akar saya, which is playing with the band,” tegasnya. Stay true to her roots, kedua single ini tidak hanya dirilis secara digital, tapi juga dalam bentuk CD dan 7 inch vinyl record sebagai reminiscence dari masa yang telah lewat. “Tentu saja pasar musik digital juga telah besar saat saya membuat mixtape pertama saya, namun waktu itu orang-orang masih banyak yang membeli musik dalam format CD, but now… Not anymore. Tapi saya masih ingin membuat bentuk fisik untuk musik saya, karena itu saya juga merilisnya dalam format vinyl. Karena seperti yang kamu tahu, vinyl secara ironis menjadi sangat populer kembali di seluruh dunia,” terangnya.

img_3956

            Kedua single tersebut adalah perkenalan dari album terbarunya yang akan berjudul YULIA dan direncanakan rilis musim dingin nanti. Untuk sekarang, ia masih mengerjakan album tersebut sambil juggling every works in her hands with ease, namun berbeda dari prasangka orang, ia sebetulnya tidak menganggap dirinya sebagai seorang multi-tasker. “Yang saya sukai dari diri saya… Saya berusaha untuk stay true to myself baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Yang saya tidak sukai, saya tidak bisa memikirkan hal-hal lain ketika saya sedang fokus terhadap suatu hal,” akunya. Sebuah fakta yang cukup membuat terkejut jika kita menghitung semua kesibukan dan profesi yang ia jalankan secara bersamaan.

Fashion dan musik mungkin telah menjadi hal yang familiar dan semudah membalik tangan baginya, namun saya pun penasaran bidang apa lagi yang ingin ia eksplor berikutnya. Selain personal style, sebetulnya yang membuat sosok Yulia menarik adalah her flawless makeup and hair style. Seperti yang sudah disebutkan, ayahnya adalah seorang hair stylist dan Yulia sendiri pun memiliki license sebagai hair stylist. “Iya, saya punya license untuk hairdressing. Karena saya sempat ingin menjadi hair stylist atau makeup artist saat masih remaja. Saya sebetulnya masih berminat melakukan proyek yang berhubungan dengan beauty, mungkin membuat beauty products? Who knows right? Haha… Tapi kalau bisa memilih, saya sebetulnya ingin menjadi pramugari!” ungkapnya gamblang. “Saya ingin pergi ke Mesir, Turki, dan Maroko! Saya telah mengunjungi cukup banyak negara di Asia, Eropa, dan Amerika, tapi saya sangat tertarik untuk mengunjungi Afrika. Sedangkan Turki berada tepat di antara Asia dan Eropa. Jadi saya pikir budaya di sana akan sangat menarik,” sambungnya. How about Indonesia then? “I really wanna go to Indonesia!” jawabnya dengan excited sambil mengungkapkan keinginannya untuk bisa bertemu dengan penggemarnya di sini. A little bird told me, hal itu mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Jika saat itu tiba, persiapkan dirimu untuk mencari koneksi yang bisa membuatmu diundang ke acara yang sama dengannya. Untuk sekarang, at least you know more about her already from us, and yeah, you’re welcome.

img_3959

Fotografi: Yuji Watanabe.

Stylist: Stefanie Miano.

Makeup Artist: Vichika Yorn.

Hair Stylist: Jonathan Dadour (B Agency).

 

On The Records: The fin.

Sejak merilis dua EP bertitel Glowing Red on the Shore dan Days With Uncertainty di tahun 2014 dengan review gemilang, The fin. adalah band yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka di jalan dan tampil dalam berbagai festival di dalam dan luar Jepang. Pasca tur di Inggris selama sebulan penuh pada Mei lalu dalam rangka mempromosikan EP terbaru mereka dengan judul Through The Deep yang berisi 6 lagu (termasuk satu remix dari Petite Noir), mereka singgah ke Hong Kong dan Taiwan sebelum menjalani tur Jepang bersama band Inggris All We Are. Berasal dari pertemanan masa kecil di kota asal mereka Kobe, band yang terdiri dari Yuto Uchino (vokal, synth, gitar songwriter), Ryosuke Odagaki (gitar), Takayasu Taguchi (bass), Kaoru Nakazawa (drum) ini menyajikan musik indie rock yang terpengaruh dari band-band indie Inggris akhir 80-an dengan sentuhan elemen Chillwave dari musisi seperti Washed Out dan Toro Y Moi di mana vokal Yuta yang ethereal mengingatkan pada Thomas Mars dari Phoenix ketika menyanyikan lagu-lagu berbahasa Inggris dengan pembawaan fasih. Catchy dengan ambience moody yang masih jarang terdengar di skena musik Jepang membuat mereka dideskripsikan sebagai yogakuppoi (musik yang terdengar “kebarat-baratan”) dalam ulasan media domestik sekaligus memberikan international appeal tersendiri bagi pendengar di luar Jepang. Dari Tokyo, Yuta sang frontman pun menjelaskan beberapa hal tentang bandnya.

How It Started

“Kami bertemu saat preschool dan sekolah dasar ketika kami berumur empat sampai enam tahun. Saya, Ryosuke, dan Nakazawa sempat bergabung di sebuah band sebelum The fin. terbentuk. Setelah band itu bubar, kami membentuk band ini.”

Behind The Name
Nothing special. Just popped into my head and we liked its atmosphere.”

Influences

“Band ini terbentuk bersama sahabat-sahabat lama saya, jadi saya pikir yang menginspirasi kami adalah special vibe yang muncul dari persahabatan kami. Saya sendiri telah mendengarkan musik Barat sejak kecil dan itu mengalir di nadi saya. Tidak hanya dari musik, tapi juga dari film dan seni yang terus mendorong saya berkarya. Di Jepang, saya merasa musik populer terbagi menjadi dua jenis: Japanese music and Western music. Orang Jepang sering bilang jika musik saya terdengar Western. But I don’t care much. I just make what I want.”

Listen This

I always write in my room. In Tokyo or Kobe. I make the demo first, and play
in the studio with the band, and record in my room. Saya menulis banyak lagu untuk album Through The Deep sekitar tahun lalu dan sebetulnya berencana merilisnya sebagai full album, namun banyak materi baru yang terdengar berbeda dari materi-materi sebelumnya. Jadi saya merasa akan lebih baik jika saya merilis beberapa materi dalam format EP lebih dulu untuk memperkenalkan sounds baru kami. Seperti yang bisa kamu lihat dari judulnya, kami merasa perubahan adalah kunci dari perjalanan kami.”

Best Gig
Definitely, the best was the Great Escape. It was so exciting. I fell in
love with Brighton too. I’ve got to live there someday
.”

Sweet Dreams
“Saya ingin bermain di Coachella suatu saat nanti. Kalau impian pribadi saya adalah pergi ke luar angkasa dan melihat bumi dari kejauhan.”

Hometown Glory

“Saya sebetulnya tidak punya bayangan soal skena musik lokal di Jepang saat ini. Tapi saya tahu kalau banyak indie band yang muncul di Tokyo.

Favorite Past-time

“Drinking and talking about silly things. We’re just friends basically.”

Anticipation

“Menyelesaikan full album. It’s gonna be a great one. I know it’s worth waiting. Dan saya harap kami bisa juga main di Indonesia!”

thefin_dublin

http://www.thefin.jp/

Blooming Days, An A To Z of Ashley Yuka Mizuhara

Tumbuh besar di bawah bayang-bayang sang kakak, Kiko Mizuhara, tentu bukan hal mudah. Namun kini, Ashley Yuka Mizuhara bersiap mekar dengan warna dirinya sendiri.

IMG_0913

Jika kamu bertanya siapa cewek Jepang paling keren saat ini, most likely 7 dari 10 orang akan menjawab nama Kiko Mizuhara. Well, that’s only my wild guess dan memang hal itu belumterbukti secara empiris, namun melihat bagaimana sekarang semua orang tampak terpesona oleh karisma dan kecantikan model merangkap aktris tersebut, saya rasa tebakan saya tidak akan meleset terlalu jauh. After all, Kiko adalah natural-born It Girl yang memancarkan aura kekerenan dengan begitu effortless, dan tampaknya that innate coolness adalah sebuah warisan genetis yang mengalir di darahnya, karena kinikita pun diperkenalkan oleh sang adik semata wayangnya, Ashley Yuka Daniel atau lebih akrab dikenal dengan nama Yuka Mizuhara yang mengikuti jejaknya di bidang modelling.

Sama seperti Kiko, Yuka yang lebih muda empat tahun dari Kiko juga mewarisi look yang unik, hasil dari paduan genetis ayah Amerika dan ibu berdarah Korea-Jepang atau yang lazim disebut dengan istilah Zainichi. Lahir dan besar di wilayah Kobe yang terkenal dengan daging sapi berkualitas tinggi (fakta yang dengan antusias diselipkan olehnya dalam balasan interview ini), Yuka dan Kiko tumbuh menjadi kakak-adik dengan hubungan yang super erat, terutama ketika orangtua mereka bercerai dan sang ayah kembali ke Amerika. “Suatu hari, kakak saya mengajak saya ke sebuah runway untuk Kobe Girl’s Collection. Sebelumnya saya belum pernah melihat langsung dia berjalan di atas runway, dan saya terpukau karena dia sangat stunning dan keren! Sejak itu, saya merasa saya ingin mengikuti jejaknya dengan menjadi model,” ungkap Yuka tentang awal ketertarikannya menjadi model.

Sama seperti sang kakak, tak butuh waktu lama bagi Yuka untuk menjadi the next It Girl dengan tampil di berbagai majalah fashion dan komersial, di samping berbagai aktivitas lainnya seperti talk showdi Apple store untukHanae Mori Maniscuri ×Digital Couture Fashion hingga berkolaborasi dengan musisi elektronik legendaris Jepang, Towa Tei, di mana ia menyumbangkan vokal di lagu “Luv Pandemic” dari album terbarunya yang berjudul CUTE.

 Walaupun kerap dibandingkan dengan sang kakak, Yuka jelas memiliki pesonanya sendiri yang tak kalah memikat. Jika Kiko terlihat dewasa dan seksi, maka Yuka adalah versi Kiko yang lebih kawaii dan ceria, seperti yang bisa kamu lihat di akun Instagram miliknya @ashley_yuka yang dipenuhi oleh selfie imut dan hal-hal quirky yang ia jumpai sehari-hari. Untuk mengenalnya lebih jauh, kami pun memintanya menjawab the A to Z tentang dirinya!

 IMG_0526

About your relationship with Kiko

She is like my best friend always and forever!

Breakfast menu?

Mostly cereal with soy milk!

Cute mascot?

KIRIMI CHAN!(karakterSanrio)

Dream collaboration/project?

I won’t tell yet, it’s a secret, hehe!

Embarassing moment?

Saya pernah memakai t-shirt terbalik seharian >_<

First love?

Saat saya remaja, tapi saya tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

Guilty pleasure?

Saya pernah berbohong kepada teman saya >_<

Happiest moment?

Family time

It Girl?

Lion Baby

Japanese pride?

Japanese food is the best!!

Karaoke song?

“Royal” – Lorde

Love of your life?

To be with my friends. They made me so happy!!

Musician you would like to meet?

Brandy!!!!

IMG_1125

Never have I ever…

I try not to do anything dirty.

Obsession lately?

Drinking cappuccinoevery day.

Pet you like to have?

I already have the cutest cat on my own

Question you hate to answer?

Nothing^^

Rumor about you?

Also nothing…!!!l hope.

Style icon?

Debbie Harry 

Things you can’t live without?

My family and friends!

Ultimate crush?

Benda-benda penuh glitter!

Vacation plan?

I’m just planning to go to Bali!!!

What things you would never wear?

Any large size’s clothes!!!!

X-factor?

Doja Cat

Your beauty secret?

Eating healthy food!!!

Zodiac?

Libra. Dog in Chinese Zodiac.

IMG_0958

Foto: Sally Ann & Emily May

Styling: Kosei Matsuda

Makeup: Mariko Tagayashi

Hair: Sayuda Miki

Through The Lens: Deby Sucha

Deby Sucha

Dalam edisi Oktober 2015 NYLON Indonesia yang mengangkat tema “The It issue”, saya menulis tentang profil empat perempuan muda yang berkarya di dunia fotografi yang masih didominasi kaum pria. Salah satunya adalah Deby Sucha, fotografer kelahiran Jakarta 29 tahun yang lalu yang saat ini sedang bermukim di Jepang. Dengan mata yang jeli menangkap atmosfer raw dari street photography, Deby telah menarik banyak klien besar seperti The Body Shop dan Makarizo serta menjuarai berbagai kompetisi fotografi dari Sony, Capcom, Garuda Indonesia, dan Korea Air. Let’s get to know her better, shall we?

Deby7

Hai Deby, boleh perkenalkan sedikit tentang dirimu?

Hi! My name is Deby Sucha, born in Jakarta, Indonesia. Some called me their personal photographer. Currently based in Tokyo, Japan and working for Airbnb.com

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada fotografi dan kapan pertama kalinya kamu mulai bereksperimen dengan kamera?

Simply because I loved travelling, dan kayaknya seru banget kalau apa yang aku lihat selama perjalanan bisa terus dilihat kapan aja. I am a living-in-the-present kind of person, but when I look back to the past, I’d like to immerse myself into the snap shots photographs I took. Awalnya aku suka street snap fotografi dengan kamera pocket waktu aku umur 18 tahun, kemudian aku dapat kesempatan untuk jadi asisten fotografer fashion di Jakarta yang bikin aku mau belajar lebih dalam lagi tentang fotografi.

Deby9Deby3Deby4

Deby5

Apa kamera pertama yang kamu punya?

Analog Nikon FM2.

Siapa fotografer yang paling menginspirasimu?

My all time favs Peter Lindbergh, Gavin Watsons, Philip Lorca Dicorcia.

Kalau kamera yang paling sering digunakan saat ini?

Digital: Canon EOS 6D, Film: Pentax 67 Medium Format.

How about your dream camera?

Kamera sekarang canggih-canggih banget deh udah pasti bikin be’em semua ya… Haha! Apalagi yang mirrorless dengan fitur full frame plus dukungan ISO tinggi. Tapi yang bikin penasaran itu dikit banget, and actually I have owned my dream camera, which is my medium format Pentax 67.

Deby8

What’s your educational background? Apakah kamu otodidak atau memang mempelajari fotografi secara khusus?
Graduated of Visual Communication Design , Bachelor of Art. Untuk fotografi sih belajar sendiri , dan curi-curi ilmu dari kerja sebagai asisten di lapangan. Selain itu juga hobi liatin photobook-photobook buat cari inspirasi.

Apa obyek favoritmu untuk difoto?
Street and people.

Deby2Deby1

How would you describe your own aesthetic?
Raw.

What do you think about being female photographer di dunia yang masih didominasi fotografer laki-laki ini? Do you think gender is important in this field?
Menurut aku sekarang ini udah banyak fotografer-fotografer wanita yang super talented in their field. See that gender doesn’t matter. If the camera itself would choose their own photographer , I bet most of it would say “hand me to the ladies please!” Haha.

Di zaman, semua orang bisa memotret dengan smartphone masing-masing dan aplikasi editing, do you think  conventional” photography masih relevan saat ini?
I appreciate all the photography related technologies we have right now, as I often use that as well and it’s super easy and cool! But if you want to create something big, something powerful, you won’t go with that shortcut things, right? We put at least some effort to it, and someday we get paid for the effort we have made. Kalau untuk sharing di social media , why not?

Deby10

Dari mana biasanya mencari inspirasi?
Go outside , and walk, look around. There you go.

Sejauh ini project apa yang paling berkesan untukmu?
The project I’m running with my friends right now.

What’s your next project?
An independent webmagazine for art, culture, street and fashion.

Advice/tips to anyone who wants to become a photographer?
First thing is to go outside, go to the public library and see other people’s artworks, go to exhibitions, and bring your camera all the time, never stop shooting.  And last but the most important thing. Show off your works to your friends, listen to their opinion.

Deby6

All photos by Deby Sucha

Instagram: @debysucha

www.debysucha.com

On The Records: Kero Kero Bonito

Kero Kero Bonito

Menyebut musik racikan Kero Kero Bonito sekadar bubblegum neon pop saja adalah sebuah understatement. Get ready for some rainbow vomit & sugar rush! 

Ketika pertama kali mendengarkan lagu-lagu Kero Kero Bonito (biasa disingkat sebagai KKB) yang dipenuhi bunyi glitch video game 8-bit dari era 80-an, dancehall beat, dan rap dwibahasa dalam bahasa Inggris dan Jepang, mungkin kamu akan menyangka jika Kero Kero Bonito adalah versi terbaru dari idola Jepang seperti Kyary Kyary Pamyu atau Mademoiselle Yulia with slightly better English. Namun faktanya, KKB merupakan trio asal London yang terdiri dari vokalis Sarah Midori Perry dan duo produser Gus Lobban dan Jamie Bulled. “Sebut saja kami sebagai band internasional. Karena setiap orang selalu memiliki ide yang berbeda tentang kami,” cetus Gus yang juga memiliki solo karier dengan nama alias Kane West dan Augustus yang terinfluens musik city pop khas Jepang ketika membalas email dari Nylon sehabis penampilan mereka di Glastonbury.

            Semua bermula di tahun 2013 ketika Gus dan Jamie yang sudah berteman sejak kecil memutuskan untuk membuat proyek musik bareng dan mencari seorang vokalis yang menguasai bahasa Jepang dengan cara memasang iklan di MixB, sebuah online bulletin board untuk para ekspatriat Jepang di Inggris. Iklan tersebut dengan cepat mendapat tanggapan dari Sarah yang merupakan seorang seniman blasteran Inggris-Jepang yang pernah punya pengalaman bergabung dengan sebuah girl group Jepang sebelumnya. It was an instant click, dan dalam pertemuan kedua mereka, Sarah langsung ikut rekaman dan hasilnya adalah album Intro Bonito yang dirilis oleh Double Denim Records pada pertengahan tahun lalu di bawah nama Kero Kero Bonito yang merupakan gabungan dari suara katak dalam bahasa Jepang (“Kero”) dan nama sejenis ikan yang biasa menjadi sajian kuliner (“Bonito”).

Menyebut nama-nama seperti Halcali, SPC700, Pepper Seed Jam sebagai influens utama, bayangkan jika Pizzicato Five menjadi karakter piksel di game Harvest Moon dengan Le Tigre dan Freezepop sebagai bintang tamunya, dan itulah yang akan kamu dapatkan dalam Intro Bonito yang berisi 15 lagu dengan Casio SA-45 mini-keyboard sebagai instrumen utama dan deadpan rap dari Sarah yang terdengar sama innocent-nya dengan setiap cover yang dibuat olehnya untuk semua lagu di dalamnya. It looks childish and harmless, namun di balik semua cute imagery yang melekat dalam musik dan visual yang mereka sajikan, terdapat lirik-lirik yang berbicara soal topik serius seperti isu lingkungan dan peran gender. Contohnya saja di single “Sick Beat”, di balik aransemen yang sangat catchy terdapat pesan soal ekspektasi sosial terhadap peran perempuan dan stereotipe negatif untuk girl gamer: “It’s often said, I should get some girly hobbies instead, but that thought fills me with dread / I’m not into sewing, baking, dressmaking, not eating, bitching, submitting,” cetus Sarah dalam lagu ini.

Tak hanya menarik bagi para penggemar J-pop, synthpop, dan video game music, band ini juga dengan cepat mendapat atensi dari para senpai. Mereka menyumbangkan single berjudul “Flamingo” dalam kompilasi milik Ryan Hemsworth dan merilis Bonito Recycling yang merupakan kompilasi remix dari lagu-lagu di Intro Bonito dari artis-artis seperti Danny L Harle, Toby Gale, dan Spazzkid. Kolaborasi mereka dengan Spazzkid juga berlanjut dengan Sarah mengisi bagian rap di lagu “Truly” di EP miliknya serta “Daytime Disco” yang juga menampilkan bintang Korean indie, Neon Bunny.

Dengan segala pencapaian tersebut, tidak heran jika mereka sedang disibukkan dengan tur padat dan tampil di berbagai festival musik. “Kami membawa dunia rekaan kami sendiri di atas stage untukmu, salah satu penampilan yang menurut kami paling berkesan adalah di Portals’ SXSW house party di mana anjing dan kucing ikut dalam barisan penonton,” ungkap mereka, yang seolah mereferensikan lagu “Cat Vs Dog” milik mereka yang bercerita tentang pet worship:There’s nothing I like more than a mutt getting whacked with my baseball bat / that’ll stop you barking in the morning … I wanna murder moggies … brains everywhere.” Di samping masih disibukkan dengan jadwal gigs yang padat dan menyiapkan album baru yang kabarnya akan dirilis lebih cepat dari dugaan semua orang, mereka pun dengan excited menyebut rencana kepergian mereka ke Jepang. Apa yang pertama kali mereka akan lakukan jika sampai di Jepang? “Rap battle melawan Baku Baku Dokin,” jawab mereka dengan singkat. Sounds like a plan.

ssh

KKB’s trivia:

The all-time favorite game:

Sarah: Tomb Raider.

Gus: Super Metroid.

Jamie: Worms.

Favorite Japanese act:

Sarah: Melt Banana.

Gus: Yuming.

Jamie: Oorutaichi.

Fictional character you would like to marry with:

Sarah: Beast dari Beauty and the Beast karena he is a beast.

Gus: Kane West. Dia DJ paling keren sedunia.

Jamie: Haley Smith (from American Dad).

Favorite Japanese word:

Sarah: どこでもドア (“dokodemodoa”, pintu ajaib Doraemon untuk pergi ke mana saja).

Gus: 音楽 (“ongaku”, musik).

Jamie: 虹 (“niji”, pelangi).

Pokemon or Digimon?

Sarah: Pokemon!!!

Gus: Pokemon but the Digimon movie was better.

Jamie: Pokemon.

Kero Kero Bonito_

Film Strip: Fatal Frame & Parasyte

Beberapa pekan terakhir ini saya berkesempatan menonton dua film asal Jepang yang dibawa oleh Moxienotion ke Indonesia. Keduanya merupakan live action dari game maupun manga yang sudah terkenal. Berikut adalah catatan kecil saya tentang keduanya.

Fatal FrameFatal Frame (Gekijoban: Zero)

Sutradara: Mari Asato.

Diangkat berdasarkan novel karya Eiji Otsuka, Fatal Frame telah lebih dulu dikenal sebagai seri game mystery supernatural ikonik dengan plot seorang gadis remaja Jepang yang menggunakan sebuah camera obscura untuk menghadapi hantu dan memecahkan kejadian misteri. Disebut sebagai salah satu game horror terbaik berkat storytelling yang brilian dan sinematografi yang kuat, game Fatal Frame kental akan misteri, suspense, dan teka-teki yang akan membuatmu penasaran dan tersedot dalam alur ceritanya. Unsur itu pula yang terasa dalam film adaptasi garapan sutradara Mari Asato ini.
Berlatar sekolah Katolik khusus perempuan di sebuah bukit di daerah pedesaan Jepang yang dipenuhi gadis-gadis sekolah berpakaian seragam hitam dan desas-desus tentang sebuah ritual serta kutukan yang hanya menimpa anak gadis, Fatal Frame menceritakan tentang Aya (diperankan oleh model remaja Ayami Nakajo), seorang gadis cantik bersuara indah yang dihantui bayangan seorang gadis mirip dirinya yang tenggelam dalam air dan memohon untuk dibebaskan dari kutukan yang menimpanya. Gadis yang populer dan memiliki banyak pengagum ini pun mengurung diri di kamarnya dan membuat teman-temannya cemas. Kejadian aneh mulai muncul ketika seorang siswi bernama Kasumi (Kasumi Yamaya) melakukan ritual tengah malam dengan mencium foto wajah Aya dan menghilang tanpa jejak ketika berjalan di hutan bersama temannya, Michi (Aoi Morikawa). Michi, gadis penggemar fotografi tersebut menemukan foto Aya di kamar Kasumi dan mulai dihantui oleh sosok mirip Aya yang memohon dibebaskan dari kutukannya. Tak butuh waktu lama, kutukan tersebut menyebar ke seluruh sekolah dan semakin banyak siswi yang menghilang dan ditemukan meninggal di sungai seperti lukisan Ophelia karya John Everett Millais yang tergantung di ruangan suster kepala. Bertekad untuk mencegah lebih banyak korban, Aya pun keluar dari kamar dan mengajak Michi untuk bersama menyelidiki misteri tentang sesosok arwah yang menyerupai dirinya dan rahasia gelap yang tersimpan di balik dinding sekolah tersebut.

FatalFrame2
Film ini sendiri memang menyajikan cerita tentang ritual, exorcism, dan pembunuhan yang menjadi tema besar dari serial game Fatal Frame, namun kamu tak akan menemukan adegan penuh darah atau penampakan yang akan membuatmu terlonjak dari kursi. Sutradara Mari Asato menghadirkan atmosfer creepy lewat kamera film 16mm dan tensi cerita yang dibangun oleh suasana kelam di sudut-sudut sekolah merangkap katedral, hutan berpohon tinggi, danau penuh teratai, dan jalanan kota kecil. You can almost feel the eerie chill, bahkan di adegan siang bolong sekalipun. Tanpa adanya keterangan tentang latar waktu dan tempat yang spesifik, nuansa klasik dan konservatif di film ini pun mengaburkan batas antara realita dan fantasi. Lebih dari sebuah cerita horror, dengan banyak referensi dan simbol yang terkandung dalam setiap detailnya, Fatal Frame juga mengusung tema besar tentang cinta terlarang dan coming of age story tentang fase dari gadis remaja yang menuju kedewasaan. Ethereal dan delicate seperti The Virgin Suicides bertemu dengan The Crucible, film ini dengan anggun menghadirkan plot misteri berkualitas dan narasi visual yang cantik.

parasyteParasyte: Part 1 (Kiseiju)

Sutradara: Takashi Yamazaki.

Film Jepang garapan Takashi Yamazaki ini diangkat dari serial manga horror sci-fi legendaris berjudul sama karya Hitoshi Iiwaki. Bercerita tentang invasi entitas misterius yang muncul dari dalam laut dan secara serentak mulai melakukan rencana mereka menguasai dunia dengan cara mengambil alih tubuh manusia sebagai host. Salah satu parasit tersebut tiba di kamar seorang anak SMA bernama Shinichi Izumi (Shota Sometani) dan berusaha masuk ke lubang telinganya saat ia tertidur. Lucky for him, dia sedang memakai earphone. Parasit berbentuk seperti cacing itu pun berusaha masuk melalui hidung Shinichi namun lagi-lagi gagal karena ia terbangun dan melakukan perlawanan sebelum akhirnya parasit itu menembus telapak tangan kanannya dan berdiam di situ.
Awalnya Shinichi merasa tidak ada yang aneh selain tangan kanannya yang mati rasa, namun perlahan tangan kanannya mulai bergerak dengan sendirinya. Next thing he know, tangan kanannya bisa memanjang dan berubah bentuk dengan sendirinya, sebelum akhirnya muncul bola mata dan mulut yang memperkenalkan dirinya sebagai parasit. Parasit yang kemudian dipanggil dengan nama Migi (tangan kanan) ini pun berdialog dengan Shinichi dan menunjukkan rasa haus akan ilmu pengetahuan dan apapun yang menyangkut tentang spesies manusia. Sementara itu di berbagai tempat lain, parasit yang berhasil mengambil alih otak host-nya mulai meneror manusia dengan cara memakan manusia lain sebagai sumber nutrisi dan menjalankan misi untuk menghapus umat manusia dari bumi ini sebagai reaksi dari kerusakan alam. Beberapa dari parasit tersebut yang lebih pintar mulai beradaptasi dengan cara menyamar sebagai bagian dari masyarakat. Mulai dari polisi, murid sekolah, politikus, dan salah satunya menjadi guru di sekolah Shinichi. Parasit yang mengambil alih tubuh seorang wanita bernama Ryoko Tamiya (Eri Fukatsu) tertarik kepada anomali simbiosis antara Shinichi dan Migi. Pertemuan dengan Ryoko membuahkan rentetan peristiwa yang memaksa Shinichi dan Migi untuk bekerjasama bertahan hidup dari serangan Parasyte lain dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh Shinichi dan orang-orang terdekatnya sebelum akhirnya bereskalasi menjadi perang antara alien dan manusia.
Terlepas dari premis invasi alien dan body snatcher horror, film ini sendiri menawarkan visual sinema Jepang yang subtle dan akting mengesankan dari para pemainnya. Secara halus, sang sutradara berhasil menunjukkan transisi dari adegan sekolahan yang hangat berbumbu light comedy menuju thriller yang semakin gory dan kelam dengan tema seperti degadrasi lingkungan dan family dissolution. Semuanya dilengkapi oleh adegan laga dengan efek CGI yang smooth dan beberapa kali membuat saya menahan napas atau berdecak kagum. Film ini sendiri adalah bagian pertama yang akan dilanjutkan bagian kedua yang akan dirilis April nanti di Jepang. One thing for sure, you don’t have to read the manga beforehand to enjoy this movie, saya merekomendasikan film ini untuk yang suka pada film-film seperti The Faculty dan The Host.

Parasyte2

Influences: Scandal

Scandal Band

First look can be so deceiving. Itulah yang saya rasakan sewaktu pertama kali melihat foto keempat gadis Osaka yang bernaung di satu band pop rock bernama SCANDAL di suatu majalah. Prasangka awal saya mengatakan mereka adalah unit bubblegum pop yang menari-nari ceria dengan suara imut melengking. Namun begitu melihat beberapa video mereka di YouTube, terutama live show mereka, saya menyadari betapa prasangka tersebut tidak bisa lebih salah lagi. SCANDAL benar-benar sebuah girl band dalam arti sesungguhnya. Terdiri dari Haruna Ono (lead vocalist/secondary guitarist), Mami Sasazaki (lead guitarist/secondary vocal), Tomomi Ogawa (bassist/secondary vocal), dan Rina Suzuki (drummer/secondary vocal), keempat gadis cantik ini memulai karier saat masih memakai seragam SMA dengan tampil di jalanan dan taman di Osaka setiap akhir pekan, sebelum tak lama kemudian dikontrak indie label Kitty Records dan diundang tur ke 6 kota di Amerika Serikat, jauh sebelum mereka merilis mini-album pertama mereka, Yah! Yah! Yah! Hello Scandal: Maido! Scandal Desu! Yah Yah Yah! di tahun 2008.

Pencapaian impresif tersebut mengantar mereka ke major label dan pendengar yang lebih luas, menghasilkan 4 LP dan banyak singles yang merajai chart. Tahun lalu, setelah menggelar tur Asia kedua, mereka pun merilis album terbaru bertajuk Standard dan melempar video untuk single “Awanai Tsumori no, Genki de ne” di mana melihat empat gadis cantik memakai dress putih dan memainkan instrumen masing-masing sambil headbanging menjadi bukti jika tradisi band-band perempuan keren dari Jepang masih terjaga sampai detik ini. Kali ini, mereka membicarakan influens awal mereka dan obsesi mereka pada diva-diva J-pop.

Apa yang membuat kalian ingin membentuk band bersama?

Haruna: Kami semua pertama kali bertemu di sebuah sekolah dance dan vokal di daerah Kansai (Jepang bagian barat seperti Osaka, Kobe, Kyoto, dll), dan suatu hari seorang guru kami bertanya, “Kenapa kalian tidak mencoba memainkan instrumen?” guru yang sama juga menanyakan hal itu ke murid-murid lainnya, tapi akhirnya, cuma kami berempat yang terus lanjut bermain instrumen. Kami tak menyangka akhirnya bisa benar-benar menjadi band seperti sekarang ini.

Musik apa yang kalian dengarkan saat itu?

Haruna: Saya mendengarkan R&B dan J-pop yang waktu itu sedang sangat booming.

Tomomi: Saat itu saya sedang serius belajar dance, jadi saya banyak mendengarkan R&B.

Mami: Saya juga mendengarkan J-pop.

Rina: Saat masih kecil, saya hanya mendengarkan J-pop. Idola pertama saya adalah Ayumi Hamasaki saat saya masih SD.

ayumi hamasaki

Lalu, album atau band apa yang berpengaruh saat kalian mulai membentuk SCANDAL?

Mami: Saat pertama terbentuk, kami semua menonton DVD SUM 41 untuk mempelajari penampilan mereka.

Apa album pertama yang kalian beli?

Haruna: “Don’t Wanna Cry” dari Namie Amuro.

namie amuro

Tomomi: Album Greatest Hits Morning Musume.

Mami: Sama! Greatest Hits Morning Musume.

Rina: Saya juga! Waktu SD saya membentuk grup dance dan mengkopi gerakan mereka… ah saya jadi ingat masa-masa itu.

Morning_Musume_-_Best_1

Kalau konser yang pertama kalian datangi?

Haruna: Konser Arashi.

Tomomi: Morning Musume.

Mami: Ibu saya pernah bilang kalau saya ikut menonton konser Kome Kome Club saat masih berumur tiga tahun… tapi tentu saja saya tidak ingat. Haha.

Rina: Konser Kinki Kids di Kyocera Dome di Osaka bersama ibu saya. Itu pengalaman pertama saya datang ke konser.

Apa yang menjadi inspirasi untuk lirik di lagu-lagu kalian?

Rina: Saya biasanya menulis sendirian di rumah. Namun akhir-akhir ini kami mulai menulis lirik dan membuat lagu secara bersamaan. Terkadang saya yang menyelesaikan semua lirik dan membuat melodi untuk bagian chorus, dan meminta personel lain untuk menyelesaikan sisanya. Inspirasi selalu datang tak terduga, jadi biasanya saya segera merekam inspirasi dengan voice recorder atau menulisnya di buku catatan.

Apa rasanya berada di atas panggung?

Mami: Setiap pertunjukan live, kami selalu berusaha agar penonton bisa merasakan excitement seperti mereka seolah-olah sedang berada di taman hiburan, dan melupakan dunia nyata untuk sejenak.

Kalau bisa berkolaborasi dengan siapa saja, siapa yang kalian pilih?

Haruna: 2NE1!

2NE1

Boleh ceritakan sedikit tentang album baru kalian?

Tomomi: Sejak kami membentuk SCANDAL, lagu-lagu kami memiliki tema utama tentang impian kami untuk mengadakan konser di Osaka-jo Hall. Tempat ini adalah concert hall legendaris di Osaka seperti halnya Nippon Budokan di Tokyo, karena kami semua berasal dari daerah Kansai, venue ini adalah tujuan pertama kami. Setelah impian ini tercapai pada bulan Maret lalu, kami akhirnya mulai membuat lagu yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Album baru ini bisa menjadi musik background bagi kehidupan sehari-hari seseorang.

osaka jo

Kalian telah menggelar konser pertama di Indonesia tahun lalu, ada pesan untuk fans Indonesia?

Rina: Kami sangat bahagia melihat banyak fans di Indonesia yang sudah menantikan kami, dan kami merasa kebudayaan Jepang sangat diterima dengan baik. Kami suka makanan Indonesia dan ingin kembali lagi untuk bersantai dan liburan. Kami terus berusaha mengadakan konser di luar Jepang bahkan sebelum major debut kami. Terima kasih banyak untuk semua support dan sampai bertemu lagi di live show kami berikutnya di Indonesia!

Influences: Mademoiselle Yulia

yulia

“Tokyo’s finest IT Girl” would be the perfect title for Mademoiselle Yulia. The 25-year-old Tokyo beauty became an icon on the city’s hippest scene thanks to her golden touch for every single thing she had done. Whether becomes a voclaist/guitarist of punk band when she’s just barely 14, a DJ and the creator of coolest underground party called Neon Spread when she’s on highschool, or a solo singer with debut album Mademoworld, one thing for sure, music always be her ultimate passion. Nevertheless, Yulia also pursue her other passion for fashion and art, with her endeavors as model, fashion designer, and a columnist for NYLON Japan. Inspirative and ultra cool, it will be exciting to know all the influences behind her works, don’t you think?

Hi Yulia, how are you? What are you doing before answering this email?
I was watching some youtube videos that my friend had sent me:
What first sparked your desire for music?   
I started a band when I was 14, and stayed in it until I was 17. I started DJing when I was 17, then started designing things at 19.
Tell me about your activities now whether its music, fashion, or your writing gig for NYLON Japan. 
Currently, I DJ, sing, and design accessories for GIZA. I also have a column at Nylon which has been going on for 6 years now, and I model on occasion as well. As for GIZA, it’s an accessories brand, however now we are collaborating with the clothing brand JOYRICH. Aside from our original accessories, we make T-shirts, sweatsuits, bags, sneaker, etc. I look forward to challenging myself in fields that I feel confident in, that also has a demand in the market.
giza
You’ve always worn a stylish stage outfits, who’s your favorite designer and why? 
I have so many that they won’t fit on this page.
 What was the first gig/concert you ever went to? 
I remember being taken to an Eikichi Yazawa concert by my dad when I was three. The first show I went on my own was during my first year in middle school for Summer Sonic.
How would you describe the feeling you get now when you go onstage? 
My main goal is to allow people have fun and enjoy my music, which makes me nervous when I go on. To think that they are having fun while I play makes it fun for me as well.
Who are your style icons? 
I can’t think of any.
First record you reach for when you need to be cheered up? 
QUEEN KYLIE
Kylie-Minogue
Best nonmusical influences? (movies/books/stuff) 
My mother was a big influence on me as far as film and books. And Gilbert and George’s works. Pierre et Gilles’ photography also influenced me since I used to look at their photographs when I was a child, and was influenced by their colors, clothes, set designs, among other things. As for movies I’ve seen most of the films that Eiko Ishikawa had worked on. I’ve also been influenced by animations, manga, and toys. Sailor Moon, Ninja Turtles, Versailles Nobara, Barbie dolls, etc. from when I was a child.
sailormoon
What artist whom you never got to see perform would you love to have seen? 
BEYONCE !!!!!
 If you could collaborate with anyone, who would it be? 
 
As an artist, A$AP ROCKY!! Sailor Moon, VERSACE, Barbie, olly pocket, etc.
Asap
What advice do you have for girls who want to get into music? 
When I was in a band, I didn’t think that I would end up becoming a DJ. I also didn’t expect to be DJing this long when I first became one. I also didn’t expect to become a singer. At the time, I studied what I wanted to do and somehow pulled it off. I think the important thing is to try.
 Next project? 
The plan is to release my 2nd album sometime in April. Also, the 2013 S/S collection for JOYRICH x GIZA has just been released. The original GIZA accessories will be up on the website soon.
Please come to Indonesia some day! 
I really want to visit some day!
Mademoiselle Yulia’s Mixtape:
MIA – BAD GIRLS (SURKIN RMX)
The original song is awesome, but I love the intro to this track.
A$AP Rocky – Goldie
 
I love A$AP Rocky. I like his music, as well as his fashion side.
GO HARD / Kreayshawn
 
Recently, I’ve been visiting LA a lot and have felt a certain energy from the women.
 GRIMES / Oblivion
I like her voice. When I saw live footage of her, I was impressed because she could sing there by herself and looked like she was really having fun.
EVERYBODY DAZ / BROOKE CANDY
I saw her DJ at a bunch of different parties in LA so I was curious about her. Apparently she has been featured in I-D Magazine.
Riot Rhythm / Sleigh Bells
It sounds like punk but it also has a soothing feel to it.
Snapbacks & Tattoos (Original Mix) / Driicky Graham
I play this a lot recently when I DJ.
WIZ KHALIFA / Black and Yellow (feat. T-Pain)
 
I like the way Wiz Khalifa dresses, and am also a big fan of Snoop Dogg so I am checking them both out.
Werkin’ Girls (Son Of Kick Rmx) /Angel Haze
I like her rap because it sort of sounds like Grime, and because there aren’t a lot of female rappers that sound like her.
ZODIAC GOLD
This is my song from my last album, which was used for the JOYRICH x GIZA video for this season.

On The Records: Kishi Bashi

Hi Mr. Ishibashi, how are you? How’s your day so far?
Fine, thank you. I just ate great Korean food two days in a row and I’m feeling very content.

You have been touring recently, how was the experience?
I’ve been touring non-stop for the last three months. It’s very exciting, kind of akin to having a birthday party every day for 30 days straight.

Was it kind of nervous when you about to perform as solo artist on the stage for the first time?
The first time was extremely nervous. I’m never fearful of performing, but I do have anxiety when I’m unprepared. A couple of drinks usually takes that part away.  

Can you tell me a little bit about what you were like when you were kids? What did you like to spend your time doing and thinking about?
I was a quiet kid. I was also very inquisitive about everything.  Music never really dominated my psyche until I was in high school, when I got into chamber music. I remember being very excited about playing certain violin and orchestral pieces.  
 
How do you think your childhood has shaped your music? Do you think it would be different if you were grown up in Japan?
My parents were very supportive of me playing violin. It’s the only thing I really stuck to consistently, and it’s paid off (I think). It helped me to really involve myself with classical music from the inside out, which I think has a lot of bearing on my melodic sensibilities. I try to imagine what I would be like if I had grown up in Japan, and I every time I think that, I’m extremely glad that I hadn’t. There’s a negative premium attached to being individualistic and also to “show” your emotions. As a musician and performer, those are the characteristics that are absolutely necessary on stage and in the studio. I don’t think I would have been able to flourish as much as I have in the US.
 
When exactly you know you’re good at music and decide to pursue it?
I knew I loved music all my life, but I never thought I would pursue it as a career until I was faced with a very grave academic situation in college. I was rapidly flunking out of engineering school (Cornell), and I decided then and there that I would go to Berklee College of Music and study jazz violin and musical composition and make a career out of it. It was terrifying to dive into the unknown and unproven world of music, but it was the best decision I had ever made in my life.
 
How you describe your music to someone who hadn’t heard it?
Isn’t that your job? Just kidding 🙂  I always like to describe it as orchestral and somewhat experimental pop. There’s a lot of analog synths because I just love the sound of that.  
 
Which musicians and albums are you most inspired by?
I listen to a lot of music old and new, but I do remember being very excited by Beirut and Sufjan Stevens. My work with of Montreal has been a huge influence on my writing, especially concerning dense textures and vocal complexity. 
 

Tell me about your debut LP, how long it takes for you to finish the album?
I brought over two songs, “Manchester” and “Bright Whites” from a previously existing EP, but the bulk of it was composed in a couple of months, mixing was done in two weeks. 
 
How’s the creative process behind the songs? What’s the main theme?
I tried to keep the album positive and uplifting in general. I decided to not use any electric guitars or full drum sets. Instead I relied on percussion and the violin. Also acoustic guitars and analog synths were a theme.  
 
You’re known as multi-instrumentalist, why you decide to pick violin as your main weapon for 151a? What the first instrument you learn to play?
Violin has always been my first and most comfortable instrument. It is also my “professional” instrument, but for some odd reason, I never really wanted to use it for my own work.  I would really just want to play guitar or piano or sing, etc.  It wasn’t until I realized that I had something unique that I decided that I would do what I do for other people on myself. My debut album is the result of this experimentation. I basically hired myself to produce my album. 
 
Talking about the title of your album, 151a, I heard it’s like Japanese phrase, ichi go ichi e, would you mind to elaborate the meaning of that phrase?
Ichi go ichi e means “one time, one meeting” and is a very popular Japanese idea that expresses the ideal of sado, or the “way of the tea”.  It means to cherish this one time meeting (and can be extended to include performance) and its beauty, because it will never happen again in that same way. It came to me at a very good time, and it helps me to understand that my musical experimentations on stage and off stage in the studio, are unique to that one moment only, and to embrace it for all it’s worth. 
 
Do you have any other favorite Japanese phrase? Mine would be mono no aware, and I think your music is kinda describing the phrase, its jubilant and charming but also has certain kind of bittersweet on it, do you agree?
I would have to agree. The bittersweet comes from a darker side of me that I’ve suppressed for the most part in the creation of this album for consistency’s sake. I’m always aware of the idea of impermanence with art and music and life in general.
 

 
As a songwriter and musician, are you kind of hold back some of your ideas/fantasies for the song or just let it burst?
“Bursting” is my theme really for this entire album. When I was working on it, I oversaturated the productions with as many wild ideas I could, and then subtracted from that. Also, in writing songs, I would set 30 minute sessions where I would improvise something and create a loop, and then quickly do all I could to be inspired by it. I would quickly record it, and then move on to a new idea. I’d revisit them later to see if anything good actually came out of it.
 

On the side note, I once take a hallucinogenic trip and listen to your music while watching the artwork, the tiger and the girl is kinda moving around and the clouds or swirling pattern on it kinda move on their own. Who made that great artwork? 
You took mushrooms and stared at my cover? haha 🙂
My friend JLP had created the actual design of the girl (my daughter), and the tiger (my wife who was born in the year of the tiger). I like it alot, but it didn’t feel like the album to me. David Woodruff, another great designer who works for the label, traced it and turned it into a piece of art, which I’m very happy with.
 
How do you see life in general?
I am very positive, and I love the fact that the world is filled with such shiny toys. 
 
Do you feel any differences in life/music after you got married and have a daughter? Is your daughter listening to your music? What she say about it?
My daughter loves my music, and she’s my biggest fan. She’s sad when I have to go on tour, but she understands. Having a child can really take over your life, so it’s very difficult to create. I need a lot of idle time and a distractionless workspace in order to flourish. I can find this at night, so most of creation happens at night or during the day when she goes to school.
 
What are you doing beside music?
Hanging out with my family. it’s basically back and forth between those two. 

What do you hope for right now?
I hope that my album will continue to do well and I hope i’ll be able to come to southeast Asia sometime soon! 
 
Next project?
Another album, but I haven’t even thought about it. My album is doing well and the rest of my year is booked solid with shows. 
 
Is there any chance you come to Indonesia?
I hope so! My friend Sondre Lerche says he has big shows there, so I’m hoping that Indonesians will like me enough to invite me. 
 
Thank you so much for this interview, I’m sorry if some of the questions kinda boring and tedious. Thanks for your music as well, it’s a heaven on earth.
Thanks!

http://www.kishibashi.com/

The Another Side of Kemas Dwisatria Ramadhana

Boleh cerita sedikit tentang diri kamu?

Hi, saya Kemas Dwisatria Ramadhana, biasa dipanggil Acil, kira-kira  saya adalah seorang pria paruh baya yang dulunya mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter dan pelukis. Namun akhirnya sekarang menjadi seorang graphic designer yang dulunya berkuliah di DKV Universitas Bina Nusantara. Untungnya, sampai sekarang tetap berkutik di dalam dunia ilustrasi walaupun bukan menjadi seorang pelukis. Hehehe.

Sejak kapan mulai suka bikin ilustrasi?

Kalau ilustrasi sebenarnya dari kecil sudah suka menggambar, karena saat itu kita lebih mengenal menggambar. Dari dulu ikut lomba gambar waktu TK sama SD, tapi kalau kenal ilustrasi itu saat SMA dan mulai mendalami saat kuliah. Karena ternyata makna ilustrasi itu sangat mendalam, tidak seperti sekadar menggambar yang tidak memiliki makna di dalamnya.

Apa hal yang pertama kali membuatmu ingin menggambar?

Film kartun Jepang sama Si Komo. Dari dulu suka Doraemon.

Kalau ilustrator favoritmu?

Tomer Hanuka, Audrey Kawasaki dan James Jean, karakter yang mereka buat itu inspiratif banget.

 Kesibukan saat ini apa saja?

Kalau kesibukan sekarang, ya paling kerja di bidang digital advertising, ikut beberapa event sama mencicil self project

Bisa cerita sedikit tentang project Животное стороне (The Animal Side) yang kamu buat untuk teman-temanmu?

Awalnya project ini cuma hadiah buat teman-teman kampus yang sudah 4 tahun main bareng, tapi ternyata banyak yang suka sama project ini dan jadi banyak yang minta dibuatin ilustrasi, akhirnya diseriusin deh.

Kalau ilustrasimu baru-baru yang menampilkan karakter dengan unsur Jepang idenya dari mana?

Ide awalnya dari pandangan sehari-hari. Kita sering bertemu orang berbeda-beda, baik genre musik, watak maupun style fashion yang berbeda. Mungkin penggambaran dari ide awalnya saya mau menggambarkan musik yang plural serta penampilan orangnya seperti apa.

Apa yang kamu harapkan selanjutnya?

Mudah-mudahan bisa membuat pameran tunggal, insya Allah, dan ingin mengambil S2 di luar jika sanggup. Hehehe.

http://kemasacil.blogspot.com/

Cool Japan

Jepang boleh saja dihempas Korean Wave atau bahkan Tsunami, namun scene musik Jepang selalu mempunyai tempat tersendiri di peta musik internasional berkat eksplorasi visual dan sounds yang mendobrak batas. Berikut adalah nama-nama yang mengibarkan kembali slogan Cool Japan.

Trippple Nippples

Sangat sulit untuk menjelaskan musik Trippple Nippples. Coba bayangkan saja tiga orang gadis Jepang bernama Yuka Nippples, Qrea Nippples dan Nabe Nippples yang bernyanyi dan bergoyang liar diiringi musik gabungan electropop dan dance punk yang dimainkan dua pria Australia dan satu pria Amerika yang tak kalah lantangnya. Fast and furious saja tidak cukup untuk menjelaskan penampilan mereka yang seperti ledakan acid di pesta sekolah seni paling seru dan paling absurd. Saya pertama kali mengetahui eksistensi mereka saat menonton seri dokumenter Tokyo Rising dari label sepatu boots terkenal Palladium, di mana Pharell Williams datang ke Tokyo sebagai host dan menyusuri creative industry Tokyo pasca tragedi gempa bumi dan Tsunami yang melanda Jepang bulan Maret tahun lalu. Di video itu (you still can watch it on YouTube, by the way), saya melihat aksi mereka di sebuah klub dengan mengenakan kostum handmade (beberapa kostum yang pernah mereka pakai meliputi spaghetti basi, bulu ayam hingga lumpur) juga body painting dan membuat semua penonton, termasuk Pharell, ikut berjingkrak kesetanan. Tak hanya Pharell, grup elektronik legendaris Devo pun terpincut dan mengajak Trippple Nippples menjadi opening act dalam US Tour mereka. Mendengar lagu-lagu energetik  seperti “LSD”, “Quetzalcoatl” atau “Cavity” (yang bercerita tentang seorang cewek yang menggosok gigi dengan lollipop dan berkumur dengan Cola), kamu hanya punya dua pilihan: terbengong karena takjub atau ikut berdansa seperti orang gila, which is the more fun option, obviously.

 

Mademoiselle Yulia

Istilah It Girl mungkin tidak terlalu familiar di Jepang, tapi jika ada satu cewek Jepang yang berhak menyandangnya, maka dia adalah Mademoiselle Yulia. Gadis berusia 24 tahun ini sudah membuat pesta-pesta underground paling hip di Tokyo sejak masih duduk di bangku kelas 2 SMA, termasuk pesta electro DJ legendaris bernama Neon Spread di tahun 2005 sepulangnya ia dari Inggris dan merilis mixtape bernama sama yang berisi lagu-lagu electro yang dimainkan di event itu. Sejak saat itu ia menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam club scene Jepang berkat kontribusinya sebagai MC, DJ, penyanyi juga style icon yang terkenal dengan rambutnya yang dicat biru (dicat sendiri olehnya yang sempat belajar di sekolah tata rambut) dan edgy wardrobe (mulai dari Jeremy Scott sampai baju vintage yang di-customize sendiri), jauh sebelum Lady Gaga terkenal. Saat ini, di antara berbagai kesibukannya yang meliputi menjadi kolumnis NYLON Japan, mendesain aksesori berdesain rockabilly dengan label Giza dan berkolaborasi dengan banyak musisi andal seperti Towa Tei, Uffie, Verbal, Teriyaki Boyz, termasuk yang paling terbaru dengan will.i.am di lagu “Blow Your Mind”, Yulia merilis album debutnya berjudul Mademoworld dengan single “Gimme Gimme” yang catchy dan video klip keren buatan seniman terkenal asal Perancis, Fafi. Dengan tur dunia bertajuk Angee Yung Robotz dan tampil di berbagai media style berpengaruh seperti Vice, Vogue dan NYLON, she’s more than ready to rule your world.

Nisennenmondai

Jepang punya sejarah panjang tentang girl band, yang bisa ditelusuri mulai dari Shonen Knife, The 5.6.7.8’s, Stereopony hingga The Suzan yang memainkan musik dengan pesona tersendiri dan skill yang tak kalah keren dari para musisi pria, namun trio perempuan Tokyo bernama Nisennenmondai mempunyai bekal yang lebih dari cukup untuk membawa fakta itu ke level selanjutnya. Masako Takada (gitaris), Yuri Zaikawa (bassist) dan Sayaka Himeno (drummer) membentuk Nisennemondai yang namanya diambil dari istilah Jepang untuk “Y2K bug” sejak tahun 1999 dan telah merilis tujuh album hingga saat ini. Melihat penampilan mereka yang tampak malu-malu khas perempuan Jepang, mungkin kamu tak akan menyangka jika mereka adalah maestro dalam hal meracik musik Japanoise dengan influens post-rock dan bebunyian eksperimental yang menari di garis tipis antara harmoni dan pure chaos. Walaupun tidak terlalu tertangkap radar media mainstream, berkat lagu-lagu instrumental garda depan seperti “Destination Tokyo”, “Sonic Youth”, “Ikkkyokume” dan “This Heat”, mereka sukses menjadi cult tersendiri di kancah internasional. Band ini pernah tampil sebagai opening act untuk Battles, Hella, Thurston Moore dan No Age serta menghiasi headline berbagai festival seperti Death By Audio di Brooklyn, Roskilde Festival di Denmark dan juga tur ke berbagai negara Eropa.

Kyary Pamyu Pamyu

Kiriko Takemura awalnya hanya satu dari ratusan anak SMA Jepang yang senang hangout di Harajuku, tempat di mana mereka bisa memakai pakaian seaneh mungkin tanpa resiko dihujani pandangan aneh dari orang-orang sekitar, namun ada suatu “Faktor X” dalam wajah imut dan personality-nya yang mengundang para fotografer street fashion untuk membidiknya sebagai model majalah mereka dan menjadikannya idola lokal tersendiri dengan nama Kyary Pamyu Pamyu. Tidak butuh waktu lama, popularitasnya terus naik ke skala yang lebih luas berkat blog pribadinya yang penuh tulisan menarik dengan bahasa slang bikinannya sendiri dan merilis koleksi bulu mata palsu rancangannya. Next thing she know, di usianya yang ke-18 tahun dia dikontrak Warner Music Japan dan menjadi penyanyi pop Jepang paling menarik saat ini dengan merilis single-single SUPER catchy (ya, saya harus meng-capslock kata itu) seperti “Cherry Bon Bon”, “Candy Candy” dan terutama “PonPonPon”, lagu bernada adiktif dengan video yang menjadi international hit di Youtube dan iTunes. Setelah merilis album debut Moshi Moshi Harajuku dan otobiografi Oh! My God! Harajuku Girl, Kyary sempat pergi ke Amerika Serikat untuk penampilan perdananya di luar negeri dengan tampil di Culver City dan membuat kita kembali terpesona dengan gaya street style Harajuku yang fantastically weird. Saya pun berpikir sendiri, mungkin kah Kyary pergi ke Amerika untuk mengambil kembali tahta Harajuku Princess dari tangan Gwen Stefani? Well in the mean time, kamu bisa melihat videonya di YouTube dan bersiaplah menekan tombol replay berulang kali.

White White Sisters

Jangan tertipu dengan nama band ini, pertama: Yuya Matsumura (vokalis/gitaris/programmer) dan Kazumasa Ishii (drummer) bukan perempuan kakak beradik, dan kedua: walau sekilas nama mereka terdengar innocent, nyatanya dua pemuda Nagoya ini memainkan electro-rock dengan elemen industrial yang mengingatkanmu akan era terbaik Nine inch Nails dan Boom Boom Satellites. Well, gaung musik industrial memang telah lama pudar, namun Kazu dan Yuya membawa daya tarik tersendiri ke genre ini berkat gabungan bunyi instrument organik dan digital, di mana Kazu menggebuk drumnya seakan tidak ada hari esok dan Yuya mencabik gitarnya sambil menyanyikan lirik berbahasa Inggris dengan efek loop dan vocoder (bayangkan saja Daft Punk bertemu Trent Reznor) yang terdengar di lagu-lagu seperti “Wasted”, “Spica” dan “Imperfect Conflict” dari EP mereka, [euphoriaofeuphobia] yang juga dirilis di Amerika Serikat. Dengan live performance yang selalu didukung visual mapping oleh VJ dan Art Director Kouta Tajima, duo ini berhasil memukau penonton di Summer Sonic, Canadian Music Week dan SXSW.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Foto Trippple Nippples oleh Cedric Diradourian. Mademoiselle Yulia oleh Kazunobu Yamada. Nisennenmondai oleh Kim Hiorthoy. Kyary Pamyu  Pamyu oleh Natalie. White White Sisters oleh Sachie Kimura.