48 Hours at Jogja: Show Your Colors!

Mengeksplorasi warna-warni kreatif Jogjakarta dalam dua hari yang artsy.

Jogja yang dikenal sebagai salah satu destinasi budaya di Indonesia memang memiliki sejuta pesona yang menarik untuk dieksplor, tak terkecuali industri kreatif yang memang sedang berkembang pesat di kota seni tersebut. Atas undangan Sampoerna AMOTION, tanggal 11 dan 12 April silam, saya pun berkesempatan untuk datang ke Jogja dan melihat sendiri geliat komunitas kreatif yang ada di daerah istimewa tersebut. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir saya ke Jogja, so I’m very excited for this weekend trip!

Day 1
Sabtu pagi tanggal 11 April, saya berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Adisucipto. Perjalanan ke Jogja berlangsung kurang dari satu jam tanpa kendala apapun. Tiba di Adisucipto saya bertemu tim Sampoerna dan Kang Motulz (@motulz) yang juga menjadi salah satu blogger yang diundang sekaligus akan mengisi workshop kreatif keesokan harinya. Tepat waktunya makan siang, tujuan pertama kami adalah mengisi perut di The House of Raminten yang memang menjadi salah satu tempat makan yang wajib didatangi di Jogja. Terletak di daerah Kota Baru, House of Raminten menyajikan sajian angkringan seperti nasi kucing, nasi liwet, dan menu-menu unik seperti ayam koteka, serta pilihan minuman berbasis susu yang disajikan dalam mug berbentuk, well, “susu”. Dengan desain interior bernuansa Jawa yang diselipi guyonan sana-sini, porsi menu yang besar dengan harga yang murah, tak heran kalau tempat ini selalu ramai oleh turis maupun warga lokal.

House of RamintenSelesai makan siang, kami check in di hotel tempat kami menginap, Santika Hotel di Jl. Jenderal Sudirman dan setelah refresh sejenak, kami pun segera pergi lagi menuju Jogja Expo Center, tempat digelarnya The Parade 2015 yang memang menjadi tujuan utama dalam trip kali ini. Digagas oleh KICK (Kreatif Independen Clothing Community) Yogyakarta, The Parade merupakan the biggest clothing expo di daerah Jawa Tengah yang setiap tahunnya bisa menyedot sekitar 50 ribu pengunjung yang berasal dari Jogja dan daerah-daerah sekitarnya seperti Solo, Klaten, Semarang, Magelang, Muntilan, dan Purwokerto. Tahun ini merupakan perhelatan keenam dengan mengusung tema “Manufacturing Identity” yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 10 sampai 12 April. Tak hanya menghadirkan bazaar berisi 60 lebih clothing label, The Parade juga diisi oleh pentas band, komunitas-komunitas kreatif, dan workshop seru yang berlangsung di A Create Booth milik Sampoerna AMOTION.

The ParadeSampoerna AMOTION sendiri secara khusus mengangkat tema “Show Your Colors” yang dirasa bisa menggambarkan denyut kreatif di Jogja yang penuh warna. Implementasinya pun dilakukan dengan cara yang fun. Di hari pertama misalnya, diadakan doodling workshop oleh Farid Stevy Asta, vokalis band FSTVLST asal Jogja yang menggunakan medium kartu pos dan marker berwarna merah dan hitam. Selain workshop gratis, di A Create Booth, para pengunjung berusia di atas 18 tahun juga bisa melakukan berbagai aktivasi seru seperti body painting, colorful barbershop, dan proyek do-it-yourself (DIY) mewarnai dan menggambar t-shirt serta dompet kulit sesuai kreativitas masing-masing sambil menikmati penampilan beberapa band. Saat saya tiba di A Create Booth, terlihat Sari Sartje sang vokalis White Shoes & The Couples Company sedang bersiap menggelar workshop doodling dengan medium Chinese ink di atas kertas A5. Dengan cekatan, Sari mengajarkan basic membuat sketsa dengan tinta hitam dan menekankan untuk jangan takut salah ketika berkreasi. Walaupun hasil sketsa saya tidak sebagus karya peserta lain yang keren-keren banget, but it was fun!

Sari White ShoesA Create BoothSelesai workshop, saya pun mulai berkeliling menjelajahi berbagai booth yang ada. Tak hanya clothing brand, tapi juga booth dari komunitas kreatif lainnya, mulai dari urban toys, homedecor, robot, kamera pinhole, hingga aeromodelling club. Ada juga berbagai kompetisi seru mulai dari skateboarding, BMX, modern dance, dan Tamiya yang menunjukkan jika insan kreatif Jogja memang tak kalah dengan kota-kota besar lainnya. Ketika malam tiba, juga diadakan parade Show Your Colors yang menampilkan berbagai odong-odong dan delman yang tampil ngejreng dengan hiasan lampu warna-warni. Sayangnya, karena keasikan ikut workshop bersama Sari, saya terpaksa melewatkan kesempatan untuk ikut dalam parade tersebut.

Odong-odong

Selesai menikmati parade, tim kami bertambah satu orang dengan kedatangan Intan Anggita si @badutromantis dan kami pun meninggalkan JEC untuk makan malam di Mediterranea Restaurant di daerah Tirtodipuran. Dikelola oleh Chef Camille Massard Combe (Kamil), sesuai namanya restoran ini terkenal karena hidangan dari daerah Mediterranean namun malam itu saya sedang mood makan steak. Rib eye dengan sautee potato dan saus chimicurri sukses menumpas lapar, namun kami masih enggan untuk kembali ke hotel. Kami pun mencari makanan manis di Roaster & Bear, sebuah cafe yang terletak di Hotel Harper, Jalan Mangkubumi. Begitu masuk, interiornya yang cute dengan mural bergambar beruang di sana-sini langsung menarik perhatian. Dengan area dua lantai yang terbilang luas, cafe ini kabarnya memang menjadi salah satu tongkrongan baru paling hip di Jogja. Harganya sih standar harga cafe di Jakarta, but its really nice place to visit.

Roaster & Bear

Day 2

Hari kedua di Jogja, petualangan kuliner tadi malam berlanjut dengan sarapan Soto Kadipiro yang memang wajib dicicipi. Di sepanjang jalan hari itu, terlihat banyak iring-iringan massa PPP yang ternyata akan mengadakan gathering di Stadion Kridosono yang kebetulan menjadi tujuan kami selanjutnya. Masih terkait dengan “Show Your Colors”, tembok luar Stadion Kridosono telah disulap oleh para street artist Yogya menjadi galeri mural berukuran besar dengan empat warna utama: biru, merah, kuning, dan hitam. Puas berfoto di depan mural-mural keren, kami menuju ke Kali Code untuk melihat aktivasi Show Your Colors lainnya. Dari atas Jembatan Gondolayu, kami melihat beberapa rumah di bantaran Kali Code telah dicat dengan warna merah, kuning, dan biru yang terlihat seperti kolase, membuat daerah yang dikenal dengan kehidupan masyarakatnya yang kreatif tersebut tambah semarak.

KridosonoKali CodeWaktu sudah beranjak tengah hari dan matahari tepat di atas kepala, mumpung ada waktu luang sebelum kembali ke The Parade, saya dan Komang Adhytama pun menemani Intan berburu vinyl di daerah Tirtodipuran. Sempat nyasar ke toko antik, berkat arahan salah satu teman Intan yang kebetulan ada di Jogja, kami menemukan sebuah rumah tak jauh dari jalan Tirtodipuran yang dalamnya berisi banyak harta karun. Dari mulai vinyl, mainan kuno, sampai radio dan telepon jadul.

RumahRumah2Seorang teman menyarankan saya untuk datang ke Epic Coffee di daerah Sari Harjo, maka saya pun mengikuti sarannya dan setelah sempat harus berputar-putar mencari jalan karena macet, kami tiba di coffee shop yang juga merangkap sebagai toko furniture Epilog tersebut. Terbagi menjadi area indoor bergaya industrial warehouse dan outdoor dengan kebun yang cukup luas, Epic Coffee termasuk salah satu establishment yang membangun hip culture di Jogja saat ini yang memang sedang berkembang. Price list-nya memang cenderung mahal untuk ukuran Yogya namun hal itu sebanding dengan kualitas dan service yang ditawarkan.

Epic CoffeeMenjelang jam tiga sore, kami menuju JEC untuk The Parade hari terakhir. A Create Booth kembali menggelar doodling workshop sebagai kelanjutan dari dua workshop sebelumnya. Kali ini yang memberi materi adalah Kang Motulz, seorang fotografer dan visual artist yang mengajarkan basic membuat sketsa objek dalam bentuk kubus simetris di atas kertas A3. Kang Motulz menekankan para peserta untuk jangan takut memenuhi kertasnya dengan tumpukan kubus dan kemudian mewarnainya dengan warna kuning, merah, atau biru secara acak seusai imajinasi masing-masing. Setelah itu, ada workshop tambahan oleh Mahaputra Vito dari Laurel Studio yang mengajarkan teknik membuat sketsa dari sample gambar dari internet.
Workshop tersebut pun menuntaskan trip saya kali ini. Setelah menyempatkan diri berbelanja di The Parade, kami pun bersiap ke bandara untuk perjalanan kembali ke Jakarta. Well, dua hari memang dirasa sangat kurang untuk menelusuri warna-warni Jogjakarta, namun thanks to The Parade dan Show Your Colors, saya merasa telah cukup banyak melihat ragam kreatif yang dimiliki Jogja saat ini dan berniat kembali lagi in near future, it’s a promise!

Advertisements

Space Invader: Lir Shop, Yogyakarta.

lir shop

Sebagai kota seni, Jogja tentu memiliki banyak sekali artspace yang menarik untuk didatangi. Salah satu yang paling membuat saya penasaran adalah sebuah artspace mungil di tepi Jalan Anggrek, Baciro, Jogja bernama Lir Shop. Lir yang dibuka pertengahan tahun 2011 adalah perpaduan antara toko buku, resto, curiosity shop, dan alternative art space dengan konsep “Where Fiction and Reality Mingle.” Saya memang belum sempat untuk mengunjunginya langsung ke Jogja, namun saya sempat mewawancarai Mira Asriningtyas via email tentang art space miliknya ini untuk salah satu artikel di majalah NYLON Indonesia edisi Art tahun ini. Berikut adalah isi interview tersebut.

Halo, bisa ceritakan sekilas tentang Lir? Apa main concept dari Lir?

Lir itu awalnya adalah impian saya untuk memiliki toko buku. Di tahun 2008, saya menuliskan skripsi sekaligus business plan tentang Lir. Pada kenyataannya, Lir dibuat menjadi perpaduan antara toko buku, resto, curiosity shop, dan alternative art space. Konsepnya adalah “Where Fiction and Reality Mingle”… maka mulai dari dekorasi sampai menunya dibuat seperti ‘keluar dari buku dongeng’… fresh from the book. Selain itu, sesuai dengan konsep awal dan nama Lir- (Lire | Lair) Lir adalah ‘a hideaway place to read’. Kami sengaja memilih tempat yang sedikit tersembunyi walaupun masih berada di tengah kota supaya pengunjung bisa ‘bersembunyi’ dari keramaian dan membaca dengan santai. Banyak hal yang kami buat berangkat dari buku maupun kultur membaca.

 Reading Room

Siapa saja orang-orang di belakangnya?

Lir didirikan oleh Mira Asriningtyas. Lir Space (alternative art space-nya Lir) dikelola oleh Dito Yuwono.  Saat ini, selain mengurus Lir –Mira aktif menulis dan Dito adalah fotografer yang juga tergabung di kelompok fotografi kontemporer Mes56.

Di saat hampir semua tempat menyediakan wi-fi hotspot sebagai fasilitas, Lir justru dengan sengaja tidak menyediakan hal itu. Apa yang mendorong Lir untuk itu?

Baik saya maupun Dito menyukai percakapan yang hangat dan intens. Kami senang ketika ada teman yang datang dan bercakap-cakap sambil minum teh (atau kopi, atau lemonade.. apapun lah). Tapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa berada di tempat yang ber-hotspot itu sangat menggoda untuk fokus beralih pada hal-hal di dunia maya, atau bahkan membuat masing-masing anak asik bercakap-cakap dengan seseorang di tempat lain dan terkadang mengacuhkan orang yang di sekitarnya. Call me old-fashioned but I’d like to bring back the old style of interaction. I love to hear laughter and conversation linger in the air somewhere in the restaurant while I’m working in the office inside Lir. So, anyway.. ada dua alasan:

Pertama, tidak adanya hotspot setidaknya mengurangi distraksi dan memberi kesempatan terjadinya obrolan yang intens dan kemungkinan muncul ide baru. Cukup banyak event, pameran, maupun project yang kemudian tercipta dari ngobrol-ngobrol santai ini..

Kedua, karena konsep Lir adalah ‘hideaway place to read’; misalnya ada teman yang datang sendirian di Lir dan mati gaya (atau memang datang ke Lir untuk membaca), tidak adanya hotspot (harapannya) akan membuat mereka memiliki tempat ‘bersembunyi’ (dari dunia maya maupun nyata) untuk membaca dengan tenang.

Koleksi di reading room ada sekitar berapa buku dan terdiri dari buku apa saja? 

Total di koleksi pribadi saya ada sekitar 2000-2500 buku, tapi yang dipajang di reading room hanya sekitar separuhnya. Genrenya macam-macam, mulai dari komik, zine, magazine,  buku seni, filosofi, psikologi, fiksi, sastra, dll.. Dulunya buku-buku sempat dibuat berbayar apabila dibaca di luar ruang baca (untuk biaya maintenance) tapi sekarang semuanya free tapi hanya untuk dibaca di tempat dan tidak boleh dibawa pulang.

IMG_0001

Untuk restorannya, apa menu-menu yang menjadi andalan?

Konsep restorannya (secara tempat) adalah ‘piknik’ dengan dominasi warna hijau dan putih, natural light, tempat yang semi outdoor, dan windchimes di beberapa tempat—maka, menu-menu menyegarkan seperti fresh lemonade dan homemade ginger ale cukup digemari. Sementara ide dasar restorannya adalah mengeluarkan makanan-makanan dari buku cerita.. jadi biasanya menu seperti Mad Hatter’s Tea Party, Butterbeer, Ratatouille, Mother Bear’s Porridge jadi andalan selain homemade yoghurt dan comfort drink (yang banyak dipilih saat hari hujan).

IMG_2093

Kalau di curiousity shop, benda-benda apa saja yang dijual?

Kebanyakan benda-benda handmade dan barang-barang antik. Mulai dari produk kolase Vantiani, silk-screen Mukamalas, komik-komik dari Mulyakarya, jewelry dari Forgetmenot, hingga barang-barang manis dari Monster Buaya dan Journ(al)ey.

space

Siapa saja seniman atau event yang sudah pernah ekshibisi di Lir? Bisa ceritakan salah satu yang paling berkesan?

Hmm.. salah satu yang paling berkesan.. hampir semuanya memberikan pembelajaran berharga bagi kami tapi saya pribadi paling banyak belajar dari pameran-pameran yang saya kuratori di Lir (Strangely Beautiful oleh Sandi Kalifadani, Simalakamma and the Agent of Senses oleh Simalakamma, Disable Crowd oleh Hendra Hehe, dan Power of the Sun oleh Prihatmoko Moki).

IMG_2169

Bagaimana Lir melihat art scene di Jogja saat ini, khususnya di kalangan anak muda?

Art scene Jogja itu sangat dinamis, banyak artist-initiative project dan alternative art space yang mulai bermunculan saat ini. Berbagai bidang dan orang-orangnya saling berhubungan dengan pola interaksi yang akrab dan kekeluargaan. Mungkin terdengar sedikit berlebihan, tapi saya sering membayangkan dinamika seni kota Jogja ini seperti kota Paris dalam A Moveable Feast-nya Ernest Hemingway.. begitulah! Mungkin karena karakter kota Jogja yang nyaman dengan mobilitas yang mudah maka setiap minggunya selalu ada acara seni; mulai dari diskusi, artist talk, pembukaan pameran, pemutaran film, dll yang hampir selalu ramai dan diminati oleh anak muda. Dinamika ini lah yang banyak membantu Lir bertahan sampai saat ini.

Next event/project?

Pameran grafis oleh Iwan Effendi di bulan Juli yang juga akan saya kuratori, sebuah site-specific project di bulan Agustus, dan kami sedang mempersiapkan sebuah platform untuk artist residency program yang semoga saja sudah bisa mulai aktif tahun depan. Di sela-sela itu, semoga saja program musik kami (In the Wood dan Folk Afternoon) serta program-program tahunan yang picnic-based bisa tetap berjalan.

IMG_2120

Lir Shop:

Jl.Anggrek 1/33, Baciro, Djogjakarta, Indonesia

http://lirshop.blogspot.com/

Foto Lir oleh: Dito Yuwono

Any Given Sunday, An Interview With Suddenly Sunday

Lewat album debut berjudul Everything Under The Sun, Suddenly Sunday ingin menunjukkan jika kita tak perlu menunggu hari Minggu untuk bersenang-senang. 

Bukan rahasia lagi jika pergantian personel dalam sebuah band adalah momen krusial yang menentukan masa depan dari band tersebut. It’s either a break it or make it moment, namun untungnya Suddenly Sunday termasuk dalam kategori yang kedua. Kuintet female-fronted indie rock asal Jogja tersebut memang sempat mengalami beberapa pergantian personel, termasuk dua orang vokalis, sebelum akhirnya melaju stabil dengan line-up saat ini yang terdiri dari bassist Woro Agustin, vokalis Dini Yunitasari, gitaris Adi Wijaya, gitaris Helmy Febrian dan drummer Dewi Sarmudyahsari alias Moody. Terbentuk sejak tahun 2007 saat para personelnya masih sama-sama bekerja di sebuah distro di Jogja bernama Whatever Shop (dengan Woro dan Moody sebagai personel awal yang masih tersisa sampai sekarang), perkenalan saya dengan band ini bermula saat melihat video klip mereka untuk single “Club Addicted” di YouTube. Single yang diambil dari album mini pertama mereka, bertajuk Music Box, tersebut berhasil menarik perhatian dengan vokal powerful Dini yang diiringi guitar-based ritme dancey yang dibangun personel lainnya. Sekilas langsung teringat aksi-aksi seperti CSS dan Ladyhawke. Kini, mereka telah merampungkan debut full album berjudul Everything Under The Sun dan dalam kunjungan singkat mereka ke Jakarta beberapa pekan lalu, mereka menyempatkan diri mendatangi NYLON untuk sesi interview.

Dua hari sebelumnya mereka baru tampil di RadioShow, yang menjadi agenda utama sekaligus gig pertama mereka di ibukota. RadioShow sendiri bisa dibilang salah satu program musik berkualitas yang tak ragu mengundang band-band indie dalam negeri saat acara lainnya memilih bermain aman dengan pengisi acara yang dikenal publik mainstream. “Followers naik dengan signifikan!” ungkap Dini sambil tertawa saat mengungkapkan efek dari gig tersebut yang paling dirasakan. Banyak band yang masih menunggu waiting list untuk bisa tampil dalam acara itu, mereka beruntung mendapat slot untuk tampil membawakan 7 lagu, termasuk meng-cover “ Barcelona” milik The Plasticines yang mereka akui sebagai influens bermusik selain Bloc Party dan Yeah Yeah Yeahs. “Nama Suddenly Sunday sendiri idenya dari salah satu owner Whatever Shop itu tadi. Soalnya kami tiap hari Senin ada jadwal latihan, hari itu kami sering minta libur atau shift pagi biar sorenya bisa latihan bareng, jadi dari hari Minggu kami suka tiba-tiba nyiapin materi besok mau nge-jam apa ya? Hehe” cerita Woro. Hasil dari jam session itu mewujud dalam Everything Under The Sun yang dirilis dengan dua cara, yaitu kemasan digital yang bekerjasama dengan situs Gigsplay di mana saat kamu membeli merchandise mereka (kaus atau tote bag) di Gigsplay.com, kamu akan mendapat kode verifikasi untuk mengunduh album ini. Satu lagi adalah bentuk fisik dengan packaging unik berupa notes/kalendar meja dari bahan kayu yang artsy.“Kalau zaman sekarang memang 55 ribu untuk CD lokal terbilang cukup mahal, ya? Tapi kalau dilihat dari prosesnya ini memang handmade, kami beli plywood meteran terus motong sendiri, di depannya juga ada proses cutting tersendiri yang dibantuin sama pengrajin di selatan Jogja. Idenya dari brainstorming, artwork dibikin sama teman kami, Afit. Walaupun memang agak ribet karena harus print sendiri, motongin sendiri, makanya kami bikinnya masih limited 200 pieces, nanti 201 kalau kami sudah punya biaya lagi,”.ungkap Woro sambil tersenyum.

Berisi 11 track termasuk tiga lagu dari EP Music Box yang diaransemen ulang dan satu remix “Club Addicted” oleh Egaaa, mereka menunjuk “Hibernation” sebagai single pertama. “Kami pilih ‘Hibernation’ karena cukup mewakili soul-nya SS dan atmosfer yang ingin ditampilkan di album ini. Lagu-lagu kami juga nggak melulu soal cinta, misal ‘Hibernation’ itu menyinggung tentang global warming, terus ada “Myopia’ yang ingin mengangkat fenomena yang tampak dan tidak, intinya semua aksi reaksi yang terjadi di bawah matahari,” ujar Dini. Respons yang didapat pun terbukti positif, mereka lantas mengenang kembali momen launching album ini yang diadakan secara free di Lembaga Indonesia Prancis Jogja, 6 Juni lalu. “Kami menyiapkan semuanya sendiri. Mulai setting dari jam 9 pagi dan harus mulai main jam 8 malam, tanpa MC, tanpa band pembuka, dan badan lagi capek-capeknya. Tapi senangnya yang datang banyak sekali dan apresiatif,” ujar Woro, sebelum disambung oleh Dini, “Orang Jogja itu paling susah tepuk tangan di gigs, untungnya yang datang itu sudah dengan mindset mau nonton Suddenly Sunday jadi mereka tepuk tangan setiap kami habis membawakan setiap lagu, atmosfernya juga kena banget, kami dibantu tiga teman artist untuk bikin visual di atas panggung, jadi pas kami manggung di atasnya ada ilustrasi matahari dari kain yang ditembak, yang terlihat panas, meredup kemudian senja. Semacam interpretasi dari ‘apa sih everything under the sun itu?’”

Dalam sesi interview ini, memang yang paling dominan menjawab adalah Dini dan Woro. Mungkin karena peran Dini sebagai vokalis yang juga bekerja sebagai penyiar radio di salah satu radio ternama Jogja dan Woro yang termasuk paling lama di band ini. Adi dan Helmy lebih memilih mendengarkan dan mengiyakan. “Mereka berdua memang kurang talkative karena dasarnya pendiam, mereka lebih suka berbicaranya lewat musik. Aransemen awalnya biasanya datang dari mereka, Mereka berbicara lewat karya, hehe,” tukas Dini sambil melirik jahil kedua temannya. Terlihat sekali jika setiap personel memang sudah nyaman dan memahami peran masing-masing, satu modal penting yang harus dimiliki sebuah band. Berikutnya? “Kami ingin lagu-lagu kami terus menyebar dan ingin tur lagi, kalau bisa sampai ke luar negeri!” tandas Woro dengan semangat. Well, tak ada yang tidak mungkin terjadi di bawah matahari, so let’s see what’s happen next for them, shall we? Fingers crossed.

As published in NYLON Indonesia October 2012

Photo by Rude Billy

Through The Lens: Rendha Rais

Boleh cerita sedikit tentang diri kamu?

Hai nama saya Rendha dan saya suka sekali memotret. Saat ini saya bekerja sebagai fotografer dan konsultan produk. Saya memulainya sejak lulus kuliah tahun 2007 sebagai asisten fotografer fashion ternama dan memotret untuk beberapa band, jadi sering ikut tur dengan band-band yang meng-hire saya. Saat tur itu kalau ada waktu kosong saya manfaatkan untuk jalan-jalan. Jadi traveling sambil bekerja.

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik dengan fotografi?

Dari kecil saya selalu terkagum-kagum jika melihat kamera, entah itu kamera pocket ataupun kamera profesional. Bisa dibilang saya suka dengan bentuk kamera.

Berapa banyak kamera yang kamu miliki? Favoritmu?

Kurang lebih ada 30. Ada SLR, DSLR, Lomo, kamera tua, Polaroid dan sebagainya. Saya paling suka Contax T2 karena bentuknya dan hasilnya yang tajam. Incaran saya adalah Leica M9, masih belum kebeli, hihi.

Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu datangi, kenapa memilih Solo dan Jogja untuk ditampilkan?

Buat saya Solo dan Jogja merupakan tempat yang sangat menyenangkan dan memiliki banyak objek dan tempat-tempat menarik untuk didatangi. Ambience di sana membuat betah dan nggak mau pulang.

Destinasi impianmu?

Pulau Rani di Kepulauan Raja Ampat. Saya pernah baca artikelnya di internet dan dulu ada teman yang pernah pamer foto-fotonya sepulang dari sana yang membuat saya kagum sama keindahan alamnya. terus berpikir daripada jalan-jalan ke luar negeri kenapa nggak ke sana aja ya? Tapi akses ke sana masih susah dan mahal, jadi sekarang nabung dulu, hehe.

Apa objek foto favoritmu?

Manusia… portrait photo. Manusia itu berbeda-beda dan menurut saya kita bisa memahami karakter seseorang dari foto.

What’s your passion?

Traveling around the world with my camera.

Next project?

Lagi mau buat video dan essay photo documenter mengenai band-band di Indonesia.

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Rendha Rais

http://rendharais.wordpress.com/

Art Talk: Still Loving Youth Illustration of Ryan Ady Putra

Boleh cerita sedikit tentang dirimu dan apa yang kamu kerjakan?

Halo nama saya Ryan Ady Putra, mahasiswa tingkat akhir di salah satu institut seni di selatan Yogyakarta. Minum kopi 2x sehari dan gemar menggambar dengan indian ink di kertas.

Apa yang mendorongmu untuk menjadi seorang ilustrator?
Emmm ilustrator? Sebenarnya sih nggak mau disebut ilustrator, lebih suka disebut artist, hehehe
ya alasannya klasik banget sih dari sekadar hobi menggambar, tertarik sama dunia seni, dan saya rasa jadi ilustrator itu fun banget. Kamu bisa memvisualkan apa saja yang kamu pikirkan dan yang kamu ingin sampaikan ke publik.


Bagaimana kamu mendeskripsikan karyamu sendiri? Pilih satu
lagu/video yang bisa  menggambarkannya.
 Karyaku? Respons visual dari apa yang ada di sekitarku, tentang bagaimana cara merayakan hidup, menceritakan kegelisahan dan harapan atau kegalauan seorang anak muda untuk masa depannya. Buat lagunya coba deh dengerin “Shine On You Crazy Diamond” dari Pink Floyd.


Apa influens terbesar untuk karyamu?
     Paling banyak sih karya saya ter-influence dari musik, skateboard dan lifestyle anak muda tentunya. Yang lain mungkin dari kejadian sehari-hari yang ada di sekitar saya. Contohnya kaya kejadian orang utan yang dibakar kemarin terus saya iseng bikin drawing orang utan judulnya “There’s No Way To Home”


 Di mana domisilimu saat ini dan apa hal paling keren dari situ?
    Saat ini saya tinggal di Yogyakarta. Yang paling keren yaitu banyak banget seniman-seniman keren dari yang muda sampai yang tua ada semua di sini.

Siapa seniman lokal idolamu?
   Saya memilih satu paket seniman yang ada di Ace House Collective. Idola banget tuh semuanya, haha… Soalnya karya mereka “still loving youth” banget.

Selain art, apa lagi yang kamu lakukan?
    Saat ini selain gambar sih ya kuliah. Prepare buat skripsi.

Sejauh ini, dari semua karyamu, mana yang paling kamu anggap personal?
Mungkin karya yang judulnya ” Make Yr Own Tomorrow” saya membuat 4 panel di piringan hitam. Saya menceritakan tentang harapan dan apa yang harus dilakukan untuk menghadapi masa depan yang gemilang.


Selain di atas kertas/kanvas, apa kamu pernah berkarya dengan
medium lain? Apa medium yang paling ingin kamu coba?
    Saya sudah pernah bikin di papan skate bekas, teak wood, piringan hitam. Lagi pengen banget sih coba di keramik atau kaca. Kelihatannya gampang-gampang susah tapi menarik buat dicoba.


Pameran paling berkesan yang kamu ikuti?
      “Can’t Grow Up” Art Exhibition di California. Itu pertama kali saya pameran di luar negeri, saya pameran bareng artist idola seperti Jimbo Phillips, Michael Sieben, dll.


Apa quote favoritmu tentang art?
    “Kalau kamu nggak bisa dapet uang dari karyamu, kamu bisa cari uang dari tempat lain, biar tetap bisa berkarya”

Current/next project?
Akhir September nanti saya ada pameran di Perth, Australia sama beberapa seniman dari Australia dan Amerika. Sekarang juga lagi prepare buat t-shirt merch saya sendiri yang saya beri nama The LVST project.

http://www.localyouth.blogspot.com/

The Breakfast Club, An Interview With Brilliant at Breakfast

Brilliant at Breakfast menyajikan musik semanis lolipop tanpa membuatmu sakit gigi.

Cuaca Jogja yang cenderung panas ternyata bukan halangan bagi Brilliant at Breakfast untuk menghasilkan musik indie pop, satu genre yang umumnya lebih banyak datang dari daerah sejuk seperti Bandung. Setelah tahun lalu merilis digital EP berjudul Almost Verbose, kini band yang terdiri dari Mumu (drum & perkusi), Tanto (keyboard), Eka (bass & vokal), Eka (melodica & perkusi), Ramii (gitar) dan Roy (gitar) hadir dengan Being Verbose Is Easy, Being Verbose Ain’t Easy, sebuah debut LP berisi sembilan lagu dengan berbagai tema menarik seperti superhero lokal (“Gundala Putra Petir”), mitologi Yunani (“Splashdown”), kotak pos kesepian (“Words Afloat”), berakhirnya liburan (“If Monday’d Never Come”), Harvey Williams dari band Another Sunny Day (“Nobody Ever Died…”), dan minuman manis (“Strawberry V”). Simak obrolan saya dengan band bersuara perky dan whimsy ini.

 

Bagaimana cerita terbentuknya band ini?

Kami terbentuk sejak akhir 2008 lalu, awalnya mau dibikin band fiktif beranggotakan stick figure tanpa ada wujud manusia sama sekali. Tapi karena nggak realistis untuk dijalankan, jadinya cukup semi-fiktif saja. Kami sengaja anonim dan nggak banyak menampilkan identitas individu. Bukan tidak mungkin kami hanya dikenal lewat karakter stick figures tadi.

Dari Gundala sampai Harvey Williams, dari mana datangnya inspirasi untuk membuat lagu?

Kami punya selera humor dan bacaan yang agak aneh, oleh karena itu kami mau nggak mau terinfluens Monty Python, Lewis Carroll serta Lemony Snicket. Dari kategori lain ada komik strip Calvin & Hobbes serta seniman grafiti Banksy. Kalo musik ya biasa lah, band-band Eropa seperti Heavenly, Belle & Sebastian, Acid House Kings.

Biasanya band indie pop yang bagus berasal dari Bandung, tapi kalian sendiri dari Jogja, bagaimana sih kalian melihat scene music jogja saat ini?

Cukup menarik. Seperti ruang tersembunyi tempat orang pacaran. Kecil, bagi yang belum tahu mungkin nggak terdengar, tapi ternyata asik. Nama-nama lama mungkin sudah cukup banyak yang tahu, tapi ternyata muncul nama-nama baru yang menunggu ditemukan satu persatu.

Kalian sempat mini tour ke Jakarta, how was it?

Saat itu kami sedang berjemur di pantai setelah merilis album pertama lalu kami mendapat tawaran dari bung Wahyu “Acum” Nugroho untuk mengadakan tur Jakarta-Bogor. Tentu kami tidak ingin melewatkan kesempatan untuk jajan es podeng di Jakarta, maka kami pun berangkat. Kami tampil di dua show radio dan tiga gig. Kami mendapat pengalaman seru dari semua event tersebut. Bertemu sejumlah radio personalities, bermain di pub retro dan crowd yang ramah di Superbad, serta bermain di antara record-record keren di dalam toko Hey Folks yang membuat kami bingung antara mau menjual atau membeli hehe.

Bagaimana kalian memandang respons yang terbilang baik untuk musik kalian, sampai-sampai ada band dari Amerika yang meng-cover lagu kalian dan album kalian juga dirilis label dari Peru (Susy Records) dan Connecticut (February Records)?

Pastinya nggak bisa menyembunyikan rasa senang dan bangga kita. Di kehidupan secara umum, rasanya kita di Indonesia sudah terbiasa terperosok ke bawah sebawah-bawahnya dari konflik, kebencian, kemiskinan, korupsi, inefisiensi, dan seterusnya.

Hanya dari dunia berbagai subkultur musik, kita semua bisa mengangkat kepala dengan bangga. Band-band Indonesia mulai terbiasa saling mengapresiasi dan menjalin kerjasama di lingkup dalam negeri maupun luar negeri. Lewat karya kita menunjukkan bahwa kita bukan hanya negara dunia ketiga yang hobi bikin onar atau apalah, namun kita juga manusia dan kita punya potensi cukup tinggi dalam berkarya.

 What’s the next plan/project?

Setelah kemarin sudah rilis album, ke depan kita ingin rilis single, album split, dan mungkin proyek kolaborasi. Baik dengan manusia maupun… err… bukan manusia. Kalo ada yang mau menggila bersama kami, silakan colek. Lalu jalan-jalan yang lebih jauh lagi, lalu bikin video klip, menang Pulitzer, masuk Dewan Keamanan PBB, dan menguasai dunia.

 

As published in NYLON Indonesia June 2011

Photo by Dead Media

Mixtape: Answer Sheet

Mendengar bunyi ukulele, biasanya kita langsung membayangkan suasana pantai berpasir putih dengan pohon-pohon kelapa dan segelas piña colada di tangan. Kamu bebas memilih pantai mana pun, mulai dari Pantai Waikiki di Hawaii, tempat instrumen petik tersebut berasal, hingga Pantai Sadranan di Yogyakarta, yang menjadi sumber inspirasi bermusik bagi Answer Sheet. Unit musik asal Jogja yang terdiri dari Wafiq Giotama (Ogi, ukulele/vokal/tamborin), Mas Gilang Karebet (Karebet, ukulele/vokal/keyboard) dan Abdullah Haq (Abi, bass/backing vocal) ini memang mengandalkan bunyi ukulele untuk membangun musik mereka yang easy listening dan nyaman didengarkan di hari libur. “Lebih mudah dieksplor, lebih portable, kebetulan referensi musik juga banyak yang pakai ukulele, dan menyenangkan.” tandas Ogi tentang alasan mereka memilih ukulele sebagai senjata utama. Dengan influens meliputi Beirut, Jens Lekman, Jake Shimabukuro dan Dent May, trio yang lebih memilih disebut duo (“Karena dihitungnya dari nol! Haha” ucap Ogi) ini telah merilis beberapa single seperti “Stay, Leave”, “A Love Beach, Sadranan”, “The Pleasant Drink of United Ink” dan beberapa cover dari band-band seperti Coldplay, Netral dan Blur yang terdapat dalam dua EP mereka, Uku Got EP Live in Bedroom dan SEA Indie Singles “SEA001: Answer Sheet”. Sambil menunggu dirilisnya LP pertama mereka, nikmati dulu mixtape berisi racikan lagu-lagu pengisi liburan ala mereka dan mulai belajar memainkan ukulele di liburan kali ini. 

 

Kishi Bashi

“Manchester”

Sejauh ini 151a merupakan salah satu rilisan favorit di tahun 2012. “Manchester” memiliki aroma warm feeling tersendiri, terutama saat menyusuri trotoar kota di pagi hari setelah berkutat dengan rutinitas selama berbulan-bulan.

 

Israel Kamakawiwo’Ole

“White Sandy Beach Of Hawaii”

Dan memang lebih baik untuk tidak melupakan ukulele dengan permainan alunan tembang hits lawas ketika berduaan bersama pasangan di pantai. Google it: “Bruddah Iz” – sebutan akrab Israel, RIP – lalu kamu akan menemukan fakta kalau beliau adalah salah satu legenda yang paling dikenal dari scene musik Hawaii.

Tommy Guerrero

“Thank You MK”

Siang yang panas, berbaring di kamar dengan segelas limun dingin. Melamun, memandang langit-langit. Imajinasi liar membawamu berjalan di pinggiran pesisir laut Meksiko. Dari jauh tampak bangunan bar terbuka ala Maladewa, lengkap dengan pengunjung yang mengenakan aloha shirt.

 

Depapepe

“Summer Parade”

Lagu favorit dari Depapepe. Cocok ketika terbangun di pagi yang cerah (masih) di pinggir pantai. Ada jet ski, paraseling dan permainan lainya. Jika difilmkan, kamera menangkapmu dari helikopter yang terbang tinggi sambil mengikuti movement dari depan. TV banget deh.

Petty Booka

“Let’s Talk Dirty In Hawaiian”

Walau kurang begitu paham dengan kata-kata kotor yang diucapkan, namun mencari kosakata baru akan menyenangkan dalam menghabiskan waktu liburan. Petty Booka adalah duo ukulele wanita menawan dari Jepang yang sudah ditinggalkan semua founding member-nya.

 

Two Door Cinema Club

“What You Know”

Kembali ke kota di malam hari bersama teman-teman hits nan hip. Berhenti di sebuah klab malam dengan dua pintu, memasukinya kemudian dilanjutkan dengan momen girang bersama. Ya, a club with two door, literally.

Jubing Kristianto

“Ayam Den Lapeh”

Lagu Minang yang dibawakan ulang oleh gitaris fingerstyle Indonesia, Jubing Kristianto. Mungkin komposisi tersebut dapat mengingatkanmu tentang semua yang sudah kamu jelajahi di museum pada waktu siang tadi.

Beirut

“Elephant Gun”

Salah satu influence terbesar kami dalam bermusik. Zachary Francis Condon cs selalu berhasil membuat musik yang kaya. Alasan utama mengapa lagu ini masuk dalam playlist adalah karena liriknya: “Let the season begin…” Memang seharusnya musim liburan dimulai.

 

Foals

“Spanish Sahara”

Terkadang liburan tidak harus selalu menyenangkan. Sikap galau bisa jadi alternative dalam mengisi waktu liburan. Ditambah menjadi penghuni Twitter ababil yang sarat akan galau. Alunan sunyi ini dapat membuatmu lebih galau walau sedikit. Ayo liburan galau!

 

Benjamin Francis Leftwich

“Atlas Hands”

Track ini kami persiapkan untuk mengakhiri liburan. Tidak bisa membohongi diri kalau kamu masih ingin liburan. “Cause I’m still in love with that place…” katanya. Semua kenangan liburan akan tersimpan dalam benakmu dengan lagu ini.

As published in NYLON Indonesia June 2012

Photo by Galih Indra Setyanto

http://www.answersheet.co.nr/

The Whimsical Kincy of Roby Dwi Antono

First of all, I love rabbit and anything surreal/whimsical, that’s why saya sempat berteriak kegirangan saat pertama kali melihat artwork buatan Roby Dwi Antono, seorang ilustrator berusia 21 tahun kelahiran Semarang yang menjadikan kelinci sebagai objek favoritnya untuk digambar. Ilustrasi yang dikerjakan secara manual dengan pensil dan cat air menampilkan berbagai macam kelinci dengan background kosong sehingga terlihat seolah muncul dari buku dongeng klasik. Sudah senang mencorat-coret sejak kecil, Roby mengaku waktu masih TK dulu sering ikut lomba menggambar tapi tak pernah menang sekalipun, namun hal itu tak menyurutkan niatnya untuk menjadi seorang ilustrator. Lulus SMP, ia melanjutkan sekolah desain grafis dan kini ia telah berdomisili dan bekerja sebagai desainer grafis di Yogyakarta disamping terlibat berbagai project seru di kota seni tersebut. Tak hanya di atas kertas, artwork buatannya kini juga mewujud dalam bentuk tote bag, mural, cover art untuk band dan di-feature di berbagai situs art terkenal, termasuk Juxtapoz dan ARTchipel. Setelah sukses menggelar pameran tunggal bertajuk “Imajinasi” di Tirana House & Artspace Jogja pada bulan April – Mei kemarin, kini ia sedang menyiapkan diri untuk mengikuti ekshibisi BAZAAR Art Fair di Pacific Place Jakarta, 27-29 Juli nanti. Meanwhile, saya pun berbincang dengannya untuk mengetahui lebih dalam tentang dirinya dan kincy-kincy (kelinci) karyanya. Ready to jump in rabbit hole?

 

Artwork kamu kalau dilihat terasa sangat whimsical, seperti buku cerita anak-anak yang walaupun terlihat naif/imut/lucu tapi ada unsur misterius juga, how you define your artwork?

Ya benar sekali, artwork saya adalah campuran dari unsur lucu, imut, bahagia namun juga tragis, sedih dan pilu. Lebih ke arah dunia mimpi. Unsur misteri itu ada untuk orang lain supaya merenungkan dan menarik kesimpulan mereka sendiri atas karya saya.

Who’s your fave artist?

 Seniman favorit saya ada beberapa nama, namun yang paling saya kagumi adalah seorang Mark Ryden karena menurut saya karyanya memang sangat mengagumkan. Mark Ryden adalah raja dari gerakan Pop Surealisme. Seniman lainnya yang saya sukai adalah Ray Caesar, Nicoletta Ceccoli, Dilka Bear, dan Jana Brike

 Kenapa kamu suka sekali menggambar kelinci?

Karena saya suka dengan hewan ini maka saya memutuskan untuk menggambarkan kelinci sebagai karakter saya. Kelinci ini adalah alter ego saya.

 Apa medium favorit kamu untuk menggambar?

Semua media yang pernah saya coba adalah favorit saya. Jika ditanya media paling favorit, saya tidak bisa memilihnya karena menurut saya semuanya sama menyenangkan dan menantang. Namun untuk saat ini saya sedang belajar bermain acrylic di atas kanvas serta kayu.

Kalau diminta untuk bikin cover album musisi/bandfavorit kamu, mau bikin untuk siapa?

Mungkin saya akan membuat cover album untuk FRAU, salah satu musisi, pianis, dan penyanyi yang saya kagumi.

Apa project paling berkesan yang pernah kamu buat?

Project yang paling berkesan yang pernah saya kerjakan adalah diberi kesempatan untuk mengerjakan cover album baru “SLEEP PARTY PEOPLE”, band indie dari Denmark. Ketika itu saya iseng mengirimkan link portfolio saya di blog ke Brian Batz, dari Sleep Party People, dan ternyata mereka tertarik dengan karya saya, mungkin karena konsep band mereka yang selalu mengenakan topeng kelinci saat tampil sesuai dengan karakter kelinci yang saya ciptakan. Saya senang karena ada band seperti mereka yang mau menggunakan karya saya untuk cover album mereka.

Apa yang akan kamu buat untuk pameran di Jakarta nanti?

Untuk pameran kali ini saya terinspirasi film The Tree of Life karya Terrence Malick. Film yang benar-benar keren menurut saya.
Apa lagi yang sedang kamu harapkan?
Yang saya harapkan sih semoga karya yang saya hasilkan untuk ke depannya semakin “baik” dari karya sebelumnya.

http://lobilob.blogspot.com/