On Stage: STUDIORAMA Live #6

Sejak pertama kali digelar tahun 2011 silam, STUDIORAMA Live yang digarap oleh kolektif Studiorama bisa dibilang telah menjadi barometer dan ajang showcase karya audio dan visual dari aksi-aksi musik paling fresh dan menjanjikan yang ada di skena musik lokal saat ini, tak terkecuali dalam perhelatan keenamnya pada hari Sabtu, 19 November 2016 lalu. Bertempat di Rossi Musik, Fatmawati, Jakarta Selatan, tahun ini STUDIORAMA Live turut didukung oleh British Council dan berhasil memboyong bintang tamu internasional pertamanya, which is trio electro pop asal Inggris, Kero Kero Bonito, untuk melengkapi line-up yang juga terdiri dari band-band lokal seperti Circarama, Ikkubaru, dan Heals.

circarama-kkb-2
Circarama

            Saat tiba di Rossi sekitar jam 7 malam, Circarama yang merupakan kuartet psych rock telah memulai set mereka yang turut diiringi oleh visual menarik dari Rafaela Lisa. Yup, dalam gelaran keenam ini, Studiorama kembali mengajak band yang akan tampil untuk berkolaborasi dengan para visual jockey untuk menghadirkan sajian audio dan visual yang apik. Bersama visualisasi trippy dari Rafaela Lisa, Circarama pun sukses membuka gig ini dengan aksi seru dalam membawakan racikan psych, folk, dan rock dari album mini mereka Limustaqarrin Laha, termasuk single terbaru mereka yang bertajuk “Porcelain Sky”.

ikkubaru-kkb-2
Ikkubaru

            Selesai menyaksikan Circarama dan menunggu band selanjutnya bersiap tampil, tampaknya crowd semakin ramai dan ya, the on the spot ticket was sold out. Beberapa calon penonton pun harus gigit jari dan menunggu di lantai bawah. Tak hanya memenuhi Rossi, crowd juga menyesaki area Mondo by The Rooftop di mana deretan disc jockey ibu kota yang terdiri dari Django, Gerhan, dan komplotan W_Music siap menghibur dengan set eklektik masing-masing. Setelah preparasi sekitar 30 menit, band kedua, Ikkubaru, pun siap tampil di atas panggung. Berkiblat pada genre musik pop elektronik Jepang dekade 90-an yang lazim disebut City Pop, kuartet asal Bandung ini sebelumnya telah lebih dulu sukses di Jepang dengan beberapa kali menggelar tur dan merilis album berjudul Amusement Park. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui mengapa mereka dapat diterima dengan mudah oleh publik Jepang. Dalam penampilan perdananya di STUDIORAMA Live ini, mereka berhasil tampil atraktif dalam membawakan materi orisinal plus satu lagu cover “Star Guitar” milik The Chemical Brothers yang turut dperkuat visual dari Anggun Priambodo dan beberapa penari latar yang membawa lightstick ke atas panggung.

ikkubaru-kkb-1
Ikkubaru

            Setelah Ikkubaru menuntaskan penampilannya, crowd pun banyak yang beringsut memenuhi bibir panggung karena setelah ini adalah giliran Kero Kero Bonito (KKB). Jauh-jauh datang dari London, KBB yang terdiri dari vokalis Sarah Midori Perry serta duo produser Gus Lobban dan Jamie Bulled ini tampil tidak mengecewakan. Walau sempat ada masalah teknis di lagu pertama, tak lantas membuat mereka mati gaya, dengan aura kawaii yang kental, Sarah pun berkomunikasi dengan crowd sebelum melanjutkan penampilan mereka membawakan materi-materi menyenangkan dari album Intro Bonito (2014) dan Bonito Generation (2016). Rimbawan Gerilya yang dipercaya membuat visual untuk mengiringi KKB pun berhasil menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Setiap lagu memiliki visual masing-masing yang mewakilinya dan membuat musik synth-pop KKB yang terinspirasi dari J-pop, dancehall, dan musik video game semakin terasa hidup! Aksi seru yang membuat penonton melompat seperti anak kecil kebanyakan gula dan beberapa gimmick pemancing senyum di lagu-lagu seperti “Flamingo”, “Graduation”, dan “Pocket Crocodile” membuat waktu seakan begitu cepat, and we want it little bit longer, sehingga tak heran saat KKB menuntaskan set mereka dengan single terbaru “Trampoline”, penonton langsung meneriakkan encore yang kemudian dipenuhi oleh KKB dengan senang hati.

foto-utamakkb-kkb-3

            Usai KKB akhirnya benar-benar menghilang ke backstage, bukan berarti STUDIORAMA Live #6 berakhir begitu saja, karena masih ada satu penampilan lagi dari Heals, kuintet nu-gaze asal Bandung yang terkenal lewat single mereka, “Void”, dengan wall of sounds penuh oleh distorsi gitar, reverb agresif, dan vokal mengawang yang mengingatkan pada band-band seperti Tokyo Shoegazer, My Vitriol, dan Sunny Day Real Estate. Diiringi oleh visual dari Ramaputratantra, Heals berhasil menutup STUDIORAMA #6 dengan gemilang. Sembari menunggu dan menerka band apa lagi yang akan ditampilkan dalam STUDIORAMA Live berikutnya, kita pun bisa menikmati STUDIORAMA Sessions terbaru dari kolaborasi Heals x Ramaputratantra dan Ikkubaru x Anggun Priambodo di kanal YouTube Studiorama.

heals-kkb-2
HEALS

Foto oleh: Norman Permadi // @xxnorm

 

Advertisements

On The Records: Kero Kero Bonito

Kero Kero Bonito

Menyebut musik racikan Kero Kero Bonito sekadar bubblegum neon pop saja adalah sebuah understatement. Get ready for some rainbow vomit & sugar rush! 

Ketika pertama kali mendengarkan lagu-lagu Kero Kero Bonito (biasa disingkat sebagai KKB) yang dipenuhi bunyi glitch video game 8-bit dari era 80-an, dancehall beat, dan rap dwibahasa dalam bahasa Inggris dan Jepang, mungkin kamu akan menyangka jika Kero Kero Bonito adalah versi terbaru dari idola Jepang seperti Kyary Kyary Pamyu atau Mademoiselle Yulia with slightly better English. Namun faktanya, KKB merupakan trio asal London yang terdiri dari vokalis Sarah Midori Perry dan duo produser Gus Lobban dan Jamie Bulled. “Sebut saja kami sebagai band internasional. Karena setiap orang selalu memiliki ide yang berbeda tentang kami,” cetus Gus yang juga memiliki solo karier dengan nama alias Kane West dan Augustus yang terinfluens musik city pop khas Jepang ketika membalas email dari Nylon sehabis penampilan mereka di Glastonbury.

            Semua bermula di tahun 2013 ketika Gus dan Jamie yang sudah berteman sejak kecil memutuskan untuk membuat proyek musik bareng dan mencari seorang vokalis yang menguasai bahasa Jepang dengan cara memasang iklan di MixB, sebuah online bulletin board untuk para ekspatriat Jepang di Inggris. Iklan tersebut dengan cepat mendapat tanggapan dari Sarah yang merupakan seorang seniman blasteran Inggris-Jepang yang pernah punya pengalaman bergabung dengan sebuah girl group Jepang sebelumnya. It was an instant click, dan dalam pertemuan kedua mereka, Sarah langsung ikut rekaman dan hasilnya adalah album Intro Bonito yang dirilis oleh Double Denim Records pada pertengahan tahun lalu di bawah nama Kero Kero Bonito yang merupakan gabungan dari suara katak dalam bahasa Jepang (“Kero”) dan nama sejenis ikan yang biasa menjadi sajian kuliner (“Bonito”).

Menyebut nama-nama seperti Halcali, SPC700, Pepper Seed Jam sebagai influens utama, bayangkan jika Pizzicato Five menjadi karakter piksel di game Harvest Moon dengan Le Tigre dan Freezepop sebagai bintang tamunya, dan itulah yang akan kamu dapatkan dalam Intro Bonito yang berisi 15 lagu dengan Casio SA-45 mini-keyboard sebagai instrumen utama dan deadpan rap dari Sarah yang terdengar sama innocent-nya dengan setiap cover yang dibuat olehnya untuk semua lagu di dalamnya. It looks childish and harmless, namun di balik semua cute imagery yang melekat dalam musik dan visual yang mereka sajikan, terdapat lirik-lirik yang berbicara soal topik serius seperti isu lingkungan dan peran gender. Contohnya saja di single “Sick Beat”, di balik aransemen yang sangat catchy terdapat pesan soal ekspektasi sosial terhadap peran perempuan dan stereotipe negatif untuk girl gamer: “It’s often said, I should get some girly hobbies instead, but that thought fills me with dread / I’m not into sewing, baking, dressmaking, not eating, bitching, submitting,” cetus Sarah dalam lagu ini.

Tak hanya menarik bagi para penggemar J-pop, synthpop, dan video game music, band ini juga dengan cepat mendapat atensi dari para senpai. Mereka menyumbangkan single berjudul “Flamingo” dalam kompilasi milik Ryan Hemsworth dan merilis Bonito Recycling yang merupakan kompilasi remix dari lagu-lagu di Intro Bonito dari artis-artis seperti Danny L Harle, Toby Gale, dan Spazzkid. Kolaborasi mereka dengan Spazzkid juga berlanjut dengan Sarah mengisi bagian rap di lagu “Truly” di EP miliknya serta “Daytime Disco” yang juga menampilkan bintang Korean indie, Neon Bunny.

Dengan segala pencapaian tersebut, tidak heran jika mereka sedang disibukkan dengan tur padat dan tampil di berbagai festival musik. “Kami membawa dunia rekaan kami sendiri di atas stage untukmu, salah satu penampilan yang menurut kami paling berkesan adalah di Portals’ SXSW house party di mana anjing dan kucing ikut dalam barisan penonton,” ungkap mereka, yang seolah mereferensikan lagu “Cat Vs Dog” milik mereka yang bercerita tentang pet worship:There’s nothing I like more than a mutt getting whacked with my baseball bat / that’ll stop you barking in the morning … I wanna murder moggies … brains everywhere.” Di samping masih disibukkan dengan jadwal gigs yang padat dan menyiapkan album baru yang kabarnya akan dirilis lebih cepat dari dugaan semua orang, mereka pun dengan excited menyebut rencana kepergian mereka ke Jepang. Apa yang pertama kali mereka akan lakukan jika sampai di Jepang? “Rap battle melawan Baku Baku Dokin,” jawab mereka dengan singkat. Sounds like a plan.

ssh

KKB’s trivia:

The all-time favorite game:

Sarah: Tomb Raider.

Gus: Super Metroid.

Jamie: Worms.

Favorite Japanese act:

Sarah: Melt Banana.

Gus: Yuming.

Jamie: Oorutaichi.

Fictional character you would like to marry with:

Sarah: Beast dari Beauty and the Beast karena he is a beast.

Gus: Kane West. Dia DJ paling keren sedunia.

Jamie: Haley Smith (from American Dad).

Favorite Japanese word:

Sarah: どこでもドア (“dokodemodoa”, pintu ajaib Doraemon untuk pergi ke mana saja).

Gus: 音楽 (“ongaku”, musik).

Jamie: 虹 (“niji”, pelangi).

Pokemon or Digimon?

Sarah: Pokemon!!!

Gus: Pokemon but the Digimon movie was better.

Jamie: Pokemon.

Kero Kero Bonito_