On The Records: Low Pink

Berawal dari ruang personal seorang pemuda bernama Raoul Dikka, Low Pink sejatinya hadir sebagai proyek one man band dengan semangat Do-It-Yourself yang pekat. Lahir di Jakarta namun menghabiskan masa SMA di Malang, pemuda 20 tahun tersebut seorang diri merekam musik berinfluens dream pop dan psych dengan peralatan rekaman rumahan sederhana seperti gitar, drum, bass, laptop, dan mic seadanya. “Instrumen musik pertama gue adalah drum, dan gue sama teman-teman sempat bikin band pop-punk ala Blink-182 pas gue kelas 1 SMP. Setelah itu gue mulai penasaran sama gitar, gue belajar sendiri dan pokoknya thanks banget buat YouTube karena dia adalah sumber ilmu yang paling besar buat gue. Sebelum doyan musik rock gue sempat suka banget sama musik jazz karena drummernya jago-jago. Then Radiohead and Tame Impala changed my perspective in music,” papar Raoul. Hijrah kembali ke Jakarta untuk lanjut kuliah, materi-materi yang ada pun diperhalus tanpa meninggalkan esensi lo-fi dari proses rekamannya dan terangkum dalam sebuah debut EP bertajuk Phases yang dirilis oleh Kolibri Rekords bulan Agustus lalu. Drenched in reverbs and hazy atmosphere, album berisi 6 lagu ini diterima dengan baik dan seiring tawaran manggung yang makin gencar, Low Pink pun bertransisi ke format full band dengan mengajak Ryoichi Watanabe (gitar), Bondan Rahadian (bass), dan Ody Panggabean (drums). Cheers for the next phase.

phases-ep 

Hai Raoul, apa kabar? Boleh perkenalkan dirimu and your current activities?

Hellooo, gue Raoul dan hobi gue bikin lagu dan gambar-gambar sebisanya, hehe. Gue sekarang kuliah DKV di Interstudi Tendean.

Apa cerita di balik nama Low Pink?

Low Pink dalam arti rendah warna pink, warna pink bisa mewakili subjek atau objek apapun. Low Pink bisa berarti rendah akan apapun.

Bicara soal Phases EP, boleh cerita soal rekamannya? Berapa lama waktu yang dihabiskan dan di mana saja rekamannya?

Rekamannya gue kerjain sendiri semua di rumah gue di Malang pakai equipment yang seadanya (gitar, drum, bass, laptop, dan mic abal-abal). Proses rekamannya barengan sama penulisan beberapa lagu-lagunya juga. Itu selesai sekitar 1 bulan, dan buat mixing dan mastering gue selesaikan di Jakarta sekitar 2 bulan setelah gue rekaman itu.

Apa tema utama untuk album Phases? Dan kenapa “Someone For Your Days” yang dipilih sebagai single?

Temanya itu dingin, ada perasaan “tersesat dan hampir menyerah”, dirty AF, dan nuansanya penuh debu. Karena pada saat itu gue benar-benar suka banget sama The Soundcarriers. Kalau “Someone For Your Days” itu lagu yang menurut gue paling  beda di Phases EP, dan gue juga yakin banget di Indonesia belum ada yang bikin musik dengan warna dan sound kayak lagu itu. So there’s a chance for Low Pink to show its color.

 

Apa saja musical influences untuk Low Pink?

Banyak banget sih karena sempat berubah warna musik beberapa kali. Beberapa di antaranya adalah Radiohead, Tame Impala, The Soundcarriers, Dead Meadow, DIIV, Washed Out, Beach House, Mac Demarco, Tennis, Cat’s Eyes, The Horrors, Allah-Las, Tredici Bacci, Flunk, dan sebenarnya masih banyak banget.

 

How would you describe your own sounds?

Hmmm… Dusty-Cold-Lost-Psychedelic-Pop-but-a-little-bit-Rock-ish, hahahaha.

 

So far, apa pengalaman manggung terseru?

Waktu main di acaranya Kolibri Rekords di Xabi Studio (21 Agustus 2016), karena yang nonton pada fokus banget dan tumben Low Pink main rapi hehehe. Sama satu lagi di Malang waktu bulan Desember 2015, semuanya pada nggak sober dan pada pilek, ada yang sampai pakai masker segala haha.

 

Di zaman digital kaya sekarang, seberapa pentingnya merilis album secara fisik? Orang jadi nganggap bahwa suatu band itu udah berjalan dengan baik kalau udah punya rilisan fisik. Karena masih banyak banget orang yang nganggap rilisan digital itu masih kurang ‘sah’.

 

Apa komentar paling memorable yang pernah didengar soal Low Pink?

“Gue semalem nyoba dengerin Low Pink, ternyata enak banget didengerin waktu mood lagi nggak enak.”

Please describe your dream gig/collaboration.

Dream Gig? Main di pinggir kolam renang yang gede, tapi yang nonton harus pada di dalam kolam semua hahaha.

 

What’s the next plan?

Materi yang lebih easy-listening/lebih universal dan better live performance pastinya.

Raoul’s Fave Local Releases:

moiss

Substitute EP

Moiss

Band dari Semarang ini musiknya ringan dan benar-benar enjoyable dalam segala keadaan. Plus gue suka banget artwork-nya.

teriakan

Teriakan Bocah

Kelompok Penerbang Roket

Band gokil, berhasil ngambil tema rock jadul yang hasilnya jadi Indonesia banget. Bikin semangat dan menurut gue bisa bikin orang jadi seolah mikir “Gue keren dan kenapa gue harus takut sama apapun?”.

exposure

Exposure

Pijar

Album yang energik, bikin nggak tahan pengen joget-joget sendiri. Isian-isian gitarnya sadis dan masih suka ngagetin.

sommerhaar

Farscape Et Dives

Sommerhaar

Nuansa ‘dingin’-nya dapet banget. Lagu-lagunya nggak klise kayak musik-musik elektronik biasanya. Aneh, tapi enak banget.

silampukau

Dosa, Kota, & Kenangan

Silampukau

Udah jarang gue denger musik kayak gini; simple, catchy, liriknya bagus, dan bikin gue jadi suka lagi sama musik-musik akustik. Ini cocok banget sih buat didengerin sama orang-orang yang udah terlalu kebarat-baratan, biar tau aja kalau dia masih tinggal di Indonesia.

 

https://www.facebook.com/lowpink1

Advertisements

On the Records: Bedchamber

Bedchamber, unit indie pop teranyar Jakarta bersiap meninggalkan masa remaja dengan sebuah album debut yang impresif dan semoga saja, everlasting.

PerennialDi masa ketika musik didominasi oleh bebunyian elektronik dan artifisial, jujur saja ada kerinduan tersendiri untuk mendengarkan kembali musik indie pop dalam format band yang organik selayaknya musik-musik dari skena indie pop lokal di dekade lalu yang didominasi oleh band Bandung, yang sayangnya seperti mati suri digusur oleh genre electronic atau folk. Adalah Bedchamber, band besutan anak-anak jurusan desain di Jakarta yang menebus kerinduan tersebut dengan mini album bertajuk Perennial. Berawal dari sebuah project pameran seni kolektif, Ratta Bill (vokal/gitar), Abi Chalabi (gitar), dan Smita Kirana (bass) yang sama-sama ingin ngeband iseng nge-jam bareng dan mengajak Ariel Kaspar, teman sekelas Ratta sebagai drummer hingga terbentuklah band yang namanya diambil dari sebuah random page di Wikipedia tentang Lady of the Bedchamber ini sekitar pertengahan tahun lalu.

Awal terbentuk, mereka masih menerka arah bermusik dari beragam influens setiap personelnya dari Radiohead, Weezer, DIIV, sampai musik punk (akun Soundcloud mereka masih menyimpan cover version lagu “Salah” milik Potret) dan sempat memainkan musik yang cenderung ke arah post rock sebelum akhirnya mekar sempurna menjadi sounds Bedchamber saat ini yang bisa dijabarkan sebagai indie pop at its best: aransemen yang jangly, struktur melodi yang catchy, vokal yang menyelisik dalam reverb, dan lirik bertema teen angst seperti misalnya saja, lirik “Who we are when we’re gone at 21/When we’re 21/Will we lose our sight?” yang terdapat dalam single pertama mereka, “Youth”.

“Ya sebenarnya EP ini bercerita tentang anxiety kita sendiri gimana kita masuk ke fase baru dalam hidup. Album ini dibikin pas kita masuk umur 20 di mana dari kita umur 19 ke 20 itu ada perbedaan yang cukup signifikan karena 19 adalah umur terakhir sebagai teenager jadi perasaan itu sih yang banyak dijadiin inspirasi,” ungkap Ratta yang menulis semua lirik di EP ini. “’Youth’ menyambung cerita kita sempat cari momen apa sih yang bisa kita capture dari EP ini yang kita buat waktu kita beranjak umur 20. Dan kebetulan kita semua sama-sama anak-anak yang cukup resah setelah ini kita mau ngapain? Kalau orang taunya masa muda itu hura-hura aja kita justru sebaliknya, di balik hura-hura ‘Youth’ sendiri ada kegelisahan yang cukup besar dan itu yang kita angkat,” imbuhnya tentang album debut yang berhasil mengangkat nama Bedchamber sebagai salah satu band pendatang baru paling menarik saat ini dan menghujani mereka dengan banyak tawaran manggung, termasuk tampil di Keuken, Bandung yang diakui mereka sebagai gig luar kota pertama mereka beberapa waktu lalu.

Semangat Do-It-Yourself khas remaja dalam album ini terasa kental tak hanya dari musiknya tapi juga desain packaging bertema scientific illustration yang dibuat oleh para personelnya dan Perennial sendiri dirilis oleh Kolibri Rekords, sebuah label rekaman baru yang dibentuk oleh para personel Bedchamber dan juga sahabat mereka, Daffa Andika. Tak hanya Bedchamber, label ini pun dalam waktu dekat akan merillis materi dari nama-nama baru seperti Atsea dan Gizpel yang tak kalah menariknya, which is very exciting for our local scene.

Di balik kedewasaan musiknya, yang menarik ketika saya bertemu langsung dengan band ini adalah para personelnya yang ternyata masih terasa sewajarnya anak-anak kuliahan yang gemar bercanda, tidak bisa diam saat difoto, saling meledek satu sama lain, dan terasa sekali semangat mereka menjalani band ini, walaupun seringkali harus mengorbankan waktu kuliah. “Promosi, nge-gigs, tapi jangan lupa kuliah,” ujar mereka sambil tertawa santai saat ditanya rencana selanjutnya dari band ini. Yang pasti, Perennial adalah sebuah perkenalan manis dari band yang masih dalam tahap berkembang ini dan menyoal kembali pertanyaan retoris yang dilontarkan dalam sebait lirik “Youth” di atas, I really hope they will never lose their sight.

https://soundcloud.com/bedchamber

DARI KIRI: Ratta Bill, Smita Kirana, Ariel Kaspar, Abi Chalabi.

Foto oleh Sanko Yannarotama.