Soundcheck: 10 Best K-Pop Songs of 2016

 

2016 is crazy year, for sure. Namun, terlepas dari segala keabsurdan yang terjadi di dunia sepanjang tahun ini, tak bisa dipungkiri jika 2016 is also a great year for music yang ditandai oleh maraknya rilisan lagu dan video yang keren, termasuk dalam kancah K-Pop. Meskipun tahun 2016 ini kita sudah melihat beberapa berita disbandment yang menyedihkan, dari mulai Rainbow, KARA, 4Minute, hingga hengkangnya Minzy dari 2NE1 yang pada akhirnya berujung pada pembubaran resmi grup besutan YG Entertainment tersebut, untungnya seperti pepatah mati satu tumbuh seribu, skena K-Pop yang tampaknya tidak pernah kehabisan talenta-talenta baru pun siap menawarkan “racun” terbaru mereka dalam bentuk grup-grup rookies yang sangat menjanjikan. I’m here to stay for the K-Pop’s catchy chorus and superb videos, and without further ado, here are my list of top 10 K-Pop of this year!

10. K.A.R.D – “Oh NaNa”

Terakhir kali kita melihat grup co-ed (berpersonel cewek dan cowok dalam satu grup) yang cukup promising di K-Pop adalah Co-Ed School yang dibentuk oleh Core Contents Media back in 2010 yang sayangnya tidak berumur lama. Since then, kita hampir tidak pernah mendengar grup co-ed yang menarik untuk disimak, but as a nice surprise, kurang dari seminggu lalu DSP Media memperkenalkan K.A.R.D, sebuah grup co-ed yang terdiri dari empat personel (BM, Jeon JiWoo, J.Seph, Jeon SoMin) dengan single pertama mereka, “Oh NaNa”, yang saat artikel ini ditulis sudah menembus satu juta views di YouTube, sebuah pencapaian impresif bagi grup rookie yang datang dari company di luar the Big 3 (SME, JYP, YG). It’s no wonder kenapa mereka bisa menarik atensi dengan cepat. Tak hanya atraktif secara fisik, keempat member-nya juga disebut berbakat dalam hal composing, menulis lagu, hingga membuat koreografi sendiri yang ditunjukkan dalam MV pertama mereka. Secara videografi, sebetulnya konsep MV “Oh NaNa” cukup standard namun berhasil menampilkan kemampuan setiap member dengan porsi yang pas, and with those addictive summer-ish dancehall beats, we can’t help but to keep press the repeat button.

9. PENTAGON – “Can You Feel It”

Empat tahun telah berlalu sejak Cube Entertainment memperkenalkan BTOB ke pecinta K-Pop dan rumor jika Cube sedang mempersiapkan boy group terbaru mereka sudah ramai dibicarakan sejak tahun 2015 lalu. Jawaban dari penantian tersebut adalah PENTAGON, boy group dengan 10 member yang merilis debut album mereka pada tanggal 10 Oktober 2016 lalu dengan title track berjudul “Gorilla”. Sebelum debut, para member PENTAGON diperkenalkan ke publik lewat survival show bernama Pentagon Maker di Mnet, dengan beberapa member dikenal sebagai bekas trainee dari company besar lainnya seperti SM dan YG. But make no mistake, jangan sebut grup ini sebagai grup “buangan”, karena lewat comeback single “Can You Feel It” dari EP kedua bertajuk Five Senses, mereka membuktikan diri sebagai grup rookie yang patut diawasi. Dengan koreografi yang matang dan chemistry di antara member yang kuat, mereka punya teamwork dan potensi yang tidak kalah dengan grup sebesar EXO sekalipun.

8. I.O.I – “Very Very Very”

To be honest, saya tidak bisa menulis tentang grup berpersonel 11 orang yang datang dari berbagai agensi berbeda ini tanpa merasa sedih. Seperti yang kamu tahu, grup yang namanya berarti Ideal of Idol ini adalah sebuah girl group yang lahir dari sebuah survival show bertajuk Produce 101 milik Mnet di mana 101 trainee dari berbagai agensi berlomba mendapatkan posisi dan debut di sebuah “ultimate girl group” selama satu tahun. Sebagai penonton setia Produce 101, ke-11 member yang akhirnya membentuk I.O.I terbukti sama sekali tidak mengecewakan, they’re all very talented and pretty dengan lagu-lagu yang super catchy. But here’s the truth, faktanya umur grup ini hanya setahun sebelum para member kembali ke agensi masing-masing. As a last single, “Very Very Very” yang diproduseri oleh JYP adalah lagu yang berhasil merangkum semua pesona I.O.I dengan gemilang. Its super catchy dengan MV yang juga sama ekspresifnya. We’re not ready for their disbandment tapi di saat yang sama juga tidak sabar untuk menonton season kedua Produce 101.

7. NCT U – “The 7th Sense”

 

Belajar dari pengalaman yang kurang menyenangkan dari hengkangnya beberapa member Super Junior dan EXO, S.M. Entertainment meracik konsep terbaru untuk proyek grup terbarunya yang bernama Neo Culture Technology yang kemudian disingkat sebagai NCT. Konsep utama NCT adalah jumlah member yang tidak terbatas, dalam artian, SM bebas menambahkan atau merombak susunan member dalam setiap comeback dalam bentuk sub-unit yang berbeda-beda dengan para personel yang berasal dari grup pre-debut SM Rookies. NCT U yang menjadi sub-unit pertama yang diperkenalkan pada April lalu berhasil mencuri perhatian dengan single “The 7th Sense”, sebuah lagu debut yang benar-benar terdengar unik dari grup-grup K-pop pada umumnya. Dengan beat-beat elektronik yang ganjil (its kinda weird yet sexy at the same time) dan diperkuat oleh koreografi menghipnotis serta mind tripping visual, “The 7th Sense” adalah sebuah eksperimen SM untuk keluar dari zona nyaman mereka dengan hasil yang gemilang.

6. Twice – “TT”

Ya, saya tahu beberapa dari kamu pasti akan bertanya kenapa saya memilih “TT” instead of “Cheer Up” yang memang menjadi salah satu anthem K-pop paling besar di 2016, but I have my own reason. “Cheer Up” memang lagu yang super duper catchy dan berhasil melambungkan girl group besutan JYP ini menjadi salah satu national girl group, tapi jujur saja, mendengarkan “Cheer Up” lebih dari 5 kali berturut-turut adalah hal yang menyebalkan (based on personal experience). Lain halnya dengan “TT”, tentu saja saat pertama menonton MV-nya, kita akan sibuk terpesona pada sembilan member dengan kostum Halloween masing-masing yang imut dan koreografi yang lagi-lagi ikonik secara instan. Namun, saat didengarkan dengan headphone tanpa melihat MV-nya pun, “TT” memiliki banyak elemen dan detail musik yang menarik untuk diulik setiap kali mendengarnya. Dari mulai bagian intro, bridge, hingga chorus, its full of musical surprises yang menunjukkan jika lagu ini tak hanya catchy tapi juga digarap dengan sungguh-sungguh. Totally a bop.

5. Red Velvet – “Russian Roulette”

Mendengar nama Red Velvet, biasanya kita akan langsung membayangkan MV penuh visual warna-warni yang whimsical dan semanis sakarin, tapi di title track untuk EP ketiga mereka ini, they injects a darker twist to it. Saat mendengarnya untuk pertama kali, “Russian Roulette” adalah lagu synthpop berbumbu bebunyian retro 8-bit dan robotic chorus yang memiliki semua elemen dari classic K-Pop girl group hits, it’s catchy, fun, with a nice dynamic and breakdowns. MV-nya sendiri pun terlihat sama ceria dan bubbly di mana para member yang memakai pakaian bertema olahraga terlihat bermain tennis dan dodgeball plus koreografi yang sama serunya dalam setting yang dipenuhi warna pastel andalan mereka. But in the following scenes, kita menyadari jika kelima member RV berusaha menyingkirkan satu sama lain dengan berbagai skenario yang cartoonish (dari mulai menjatuhkan piano, menyelipkan baut ke dalam mangkuk sereal, hingga mendorong temannya ke mobil yang melaju) yang terinspirasi dari serial Itchy & Scratchy dari The Simpsons. For some people, beberapa adegan tersebut mungkin memang disturbing, tapi dengan sajian visual dan audio yang begitu sinfully sweet, we can’t help but craving for more.

4. Seventeen (SVT) – “Check-In”

Bagi kamu yang belum pernah mengenal Seventeen, let me explains the basic thing about their concept. Dengan member sebanyak 13 orang, Seventeen terdiri dari tiga sub unit yang meliputi vocal unit, hip-hop unit, dan performance unit. Sejak melakukan debut di bulan Mei 2015, mostly mereka memang tampil as one big group di mana para member punya peranan penting dalam setiap produksi yang mereka rilis, dari mulai composing lagu hingga koreografi, yang akhirnya membuat mereka dijuluki “self-producing” idol group. Tahun ini, mereka tak hanya merilis banyak K-Pop hits seperti “Very Nice” dan yang terbaru, “Boom Boom”, tapi juga “Check-In”, sebuah single dari hip-hop mixtape milik Hip-Hop Unit mereka yang terdiri dari S.Coups, Wonwoo, Mingyu, dan Vernon. With tropical beat and laidback feels, keempat rapper tersebut menunjukkan skill masing-masing and just vibing with each other dengan latar Hong Kong yang sangat picturesque. Seriously, warna-warni vibrant dan lanskap arsitektur dalam MV ini adalah pure aesthetic orgasm. Every scene is like a screencap from Wong Kar Wai’s movies. Dengan shout out untuk kota-kota dunia yang telah mereka kunjungi (termasuk Jakarta!) ditambah nuansa restless youth yang kental, this MV feels so uplifting and hopeful yang mampu mendorongmu untuk menyiapkan backpack and travel abroad with your crew.

 

3. Blackpink – “Whistle”

 

Sebagai girl group pertama yang lahir dari YG Entertainment sejak 2NE1 muncul tujuh tahun lalu dan meraih status legend dalam dunia K-Pop, Blackpink yang terdiri dari Jisoo, Jennie, Rosé, dan Lisa mengemban banyak antisipasi dan prasangka positif maupun negatif jauh sebelum mereka akhirnya resmi debut dengan single album bertajuk Square One bulan Agustus lalu yang kemudian secara instan berhasil meraih respons yang totally worth the hype lewat dua debut single mereka, “Boombayah” dan “Whistle”. While “Boombayah” is a party banger, “Whistle” is a slick minimalist hip-hop yang genius. Saat menonton MV “Whistle” untuk pertama kalinya, it takes only literally the first three seconds to fell in love with this song. Lagu yang diproduksi oleh Teddy Park dan Future Bounce ini dibangun oleh melodi drum ‘n’ bass yang terdengar minimal dan sparse namun sangat infectious yang diperkuat oleh killing rap parts, country guitar di bagian chorus yang totally unexpected, dan tentu saja, bunyi siulan yang melekat di kepala ever since. Semua racikan tersebut memang terdengar agak ganjil pada awalnya, but somehow it feels so right, dan tanpa kamu sadari, kamu pun akan terhipnotis melihat visual cantik yang disajikan di MV-nya, dengan keempat personel yang memiliki daya tarik masing-masing yang sama kuat, dan tanpa sadar you will get down with this song. Dengan follow up singles seperti “Playing With Fire” dan “Stay” dari Square Two yang sama kerennya dari segi sounds dan visual, Blackpink is the best rookie group in 2016, no objection.

2. BTS – “Blood Sweat & Tears”

No matter what the antis might say, 2016 is the year of BTS. Setelah trilogi Most Beautiful Moment in Life yang melesatkan karier mereka ke strata atas grup K-Pop kontemporer, grup besutan Big Hit Entertainment yang terdiri dari 7 orang personel ini pun merilis album kedua mereka, Wings, pada tanggal 10 Oktober 2016 lalu dan langsung memecahkan berbagai rekor di sana-sini. Pertama kali muncul di tahun 2013 sebagai grup berkonsep hip-hop dengan image bad boys, dalam perjalanan kariernya, BTS yang juga dikenal dengan nama Bangtan Boys (Bulletproof Boy Scouts) menjelma sebagai grup dengan image dan konsep yang semakin matang tanpa melupakan cara bersenang-senang lewat musik dan koreografi yang standout. “Blood Sweat & Tears” yang menjadi single utama dari Wings adalah narasi tentang kehidupan dan kematian dengan inspirasi utama dari novel Demian karya Herman Hesse yang dikemas dalam sebuah produksi musik ambisius yang menggabungkan electronic, synthpop, rap, hingga moombahton dengan MV yang sangat artistik. Set the bar really high for the other groups, tidak heran jika BTS tahun ini dinobatkan sebagai Artist of the Year dalam gelaran Mnet Asian Music Awards dan menjadi grup pertama di luar perusahaan Big 3 (SM, YG, JYP) yang meraih penghargaan tersebut.

1. Big Bang – “Fxxk It”

Kalau saja Big Bang tidak merilis album penuh mereka MADE di penghujung akhir tahun ini, posisi nomor satu ini akan diduduki oleh BTS. Dibandingkan hits sebelumnya seperti “Bang Bang Bang” dan “Fantastic Baby” yang heboh, “Fxxk It” lebih dekat dengan “We Like To Party” yang terdengar easy going and chill. Dibuka oleh Taeyang dengan verse berbahasa Inggris yang fasih, “Fxxk It” adalah lagu electro hip-hop mid-tempo dengan nuansa tropical beat dan efek woozy pada detailnya di mana setiap member mendapat porsi yang seimbang untuk bersinar. MV yang disutradarai oleh Seo Hyun-Seung menampilkan para personel Big Bang hanging around di daerah Cheongju, dari sebuah kamar sederhana hingga ke sebuah club, like a group of rascals yang mengingatkan pada masa-masa remaja mereka di awal karier sebelum akhirnya menjadi salah satu legend di dunia K-Pop. Bersama-sama menjalani satu dekade penuh perjuangan, more than just old friends, mereka mungkin sudah seperti keluarga sendiri dan hal itu terlihat di MV ini yang terasa apa adanya tanpa pretensi. Meskipun jelas mereka mengusung semangat “semau gue”, tak bisa dipungkiri jika ada kedewasaan yang terpancar dari dinamika di antara para member di MV ini. As a last hurrah sebelum mereka bergantian menjalani wajib militer, lagu ini seperti pesta perpisahan yang santai dan intimate bagi para member dengan fans setia mereka. Mungkin butuh waktu cukup lama sebelum mereka bisa kembali dengan formasi utuh, but we sure will wait for these kings to return.

 

Advertisements

Global Beats: Five Music Genre You Should Know

Dari Guadalajara sampai Korea, musik tak pernah berhenti berkembang dan memunculkan genre-genre baru. Kami memilih beberapa music scene yang bagi mayoritas orang masih dicap underrated atau bahkan overrated. So, just open your ears and more importantly, your mind.

Witch House

ORIGIN: Tercetus dari becandaan yang dilontarkan Travis Egedy untuk menggambarkan musik electronic bernuansa gelap yang ia buat di proyek musiknya, Pictureplane. Istilah ini kemudian diambil situs musik Pitchfork dan mewabah ke berbagai blog sampai sebuah artikel di New York Times. The rest is history.

FORMULA: Down-tempo trance + industrial + ethereal + goth = mind-chilling noise

SOUNDS LIKE: Murid-murid Hogwarts mengadakan rave di Forbidden Forest dan tak lupa mengundang semua hantu asrama mereka.

THE BUZZ: Internet meme atau bukan, genre ini berhasil menjadi hype tersendiri sejak dua tahun lalu. Selain musik eksperimentalnya yang weird in a good way, visual aesthetic dari genre ini juga memegang peranan penting, seperti terlihat pada band artwork dan video mapping yang kental dengan simbol okultisme. Mayoritas band di scene ini memiliki nama aneh dan rumit seperti oOoOO (dibaca “Oh”) dan †‡† (dibaca “Ritualz”), yang membuat mereka sulit dilacak di situs pencari dan menjadikannya semacam secret society tersendiri. Selain Pictureplane, Balam Acab dan Salem yang membuat musik witch house bahkan sebelum genre ini mempunyai namanya sendiri, Robert Disaro dari Disaro Records dan Robin Carolan dari Tri Angle yang pernah merilis witch house mixtape bertema Lindsay Lohan adalah orang-orang yang bertanggung jawab memperkenalkan genre ini ke massa yang lebih luas. Jangan lantas berpikir kalau genre ini depresif dan dragging, karena istilah witch house sendiri mencakup tak hanya house music atau trance, tapi juga hip-hop dan bahkan pop, which the funny thing is, most of them are actually quite catchy on the dance floor. Seperti yang Travis Egedy katakan kepada para witch house wannabe: “Mereka menanyakanku peralatan musik apa yang harus mereka punya kalau ingin menjadi band witch house, saya berpikir ‘Apa anak-anak ini serius?’. Jika kamu menjebloskan dirimu sendiri ke suatu kotak dan berpikir ‘Oh saya witch house, jadi saya harus membuat musik seperti ini dan berlaku seperti itu’, well, you’re really losing the point.”

LISTEN TO:

GRIMES

Sulit menyebut apa yang lebih menarik dari sosok Claire Boucher, gadis 23 tahun asal Montreal yang membuat musik avant-garde pop dengan nama Grimes. Apakah vokal falsetto miliknya yang mirip Lykke Li (kebetulan ia menjadi opening act untuk tur Lykke Li), wajahnya yang mirip Winona Ryder muda, rambutnya yang di-bleach warna pink atau musiknya yang misterius namun membuatmu berdansa canggung tanpa sadar? Semua pilihan itu rasanya tepat untuk menjelaskan kenapa dirinya terus disebut sebagai It Girl di berbagai media, mulai dari NYLON sampai Vogue.

RITUALZ (†‡†)

Kalau selama ini kamu membayangkan Meksiko dengan gurun pasir dan matahari yang senantiasa bersinar, dalam kenyataannya Meksiko justru seringkali berawan dan suram, sama seperti musik yang dibuat DJ misterius asal Mexico City yang hanya dikenal dengan inisial JC ini. Meramu musik hip-hop dengan trance dan rave, “Ghetto Ass Witch” adalah track yang menggambarkan musik Ritualz dan genre witch house dengan cerdas. Its dark and dance-y at the same time.

SALEM

Trio asal Michigan yang terdiri dari John Holland, Heather Marlatt dan Jack Donoghue ini bisa dibilang salah satu pionir witch house. Terkenal dengan low BPM darkwave yang menyembunyikan vokal ethereal dibaliknya, single “King Night” dari LP pertama mereka yang berjudul sama dipilih sendiri oleh Riccardo Tisci untuk menjadi lagu pembuka dan penutup runway Givenchy musim Spring/Summer 2011.

Psych Pop

ORIGIN: Ketika musik psychedelic menemukan jalannya ke musik pop lewat The Beatles, The Beach Boys dan Syd Barrett di pertengahan 60-an dan para produser serta musisi di Los Angeles seperti Brian Wilson, Michael Lloyd dan Curt Boettcher mulai menginjeksikan tekstur musik psikedelia ke lagu pop komersial yang kemudian dikenal dengan nama west coast psych-pop.

FORMULA: fuzzy guitar + reverb + spacey keyboard. Eastern influence is just optional.

SOUNDS LIKE: A good trip.

THE BUZZ: Bicara psych pop, kita bisa melihatnya dari kacamata Amerika maupun Inggris. Musisi Amerika cenderung melihatnya sebagai fenomena garage-based hard rock dengan ciri wall-of-sounds yang penuh dengan suara echo, reverb dan distorsi, sementara Inggris melihatnya sebagai pop yang lebih berwarna dengan sounds collage surealis berunsur folk dan memakai elemen musik Timur dengan menambahkan bunyi sitar atau banjo seperti “Strawberry Fields Forever” milik The Beatles yang menjadi lagu klasik dari psych pop itu sendiri. Bila psych pop di Inggris kemudian berkembang menjadi Madchester scene (Stone Roses, Happy Mondays, New Order), Amerika melahirkan band-band seperti Animal Collective, Flaming Lips dan Beachwood Sparks yang eksperimental. Sekarang, band-band psych pop generasi baru seperti Phantogram, Painted Palms dan Howlin Rain meramu musik psych pop mereka dengan referensi yang lebih luas dari pendahulunya. Krautrock, shoegaze, space rock, prog rock dan tentu saja musik pop itu sendiri. “Kami sangat menyukai musik pop yang benar-benar pop,” ujar Chris Prudhomme dari Painted Palms. “Musik pop 60-an dan semacamnya…tapi kami juga sangat menyukai tekstur lagu modern yang dibawakan musik pop modern saat ini.”

LISTEN TO:

ANTOINE REVERB

Seperti yang bisa kamu tangkap dari namanya, band berpersonel 5 orang dari Guadalajara Meksiko ini membuat lagu-lagu indie pop/rock penuh reverb dengan influens shoegaze yang kental. Album baru mereka, Everything Is A Foreign Language To Me, yang dirilis label Arts & Craft Mexico adalah sebuah album psych pop yang seminal.

PHANTOGRAM

Mendengarkan musik mereka yang penuh dengan bunyi keyboard dan synth yang begitu lush, sulit untuk dipercaya jika Phantogram hanya terdiri dari Sarah Barthel dan Josh Carter. Duo asal Saratoga Springs New York ini menyebut musik mereka sebagai “street beat, psych pop”, dengan inspirasi dari Flaming Lips, Cocteau Twins, hingga Serge Gainsbourg. Sepintas terdengar seperti Françoise Hardy berkolaborasi dengan My Bloody Valentine.

PAINTED PALMS

Reese Donohue dan Christopher Prudhomme, sepasang sepupu dari Lousiana yang masih duduk di bangku kuliah, mengajakmu berdansa dengan lagu electro psych pop berirama Afro beat dan vokal ethereal yang membius.

Neo Italo Disco

ORIGIN: Bentuk revival dari Italo disco, subgenre musik disko yang muncul di Italia era 80-an. Cikal bakal dari musik dance dan elektronik Eropa saat ini, seperti yang banyak kamu dengar di kompilasi Kitsuné Maison.

FORMULA: Lovestruck + drum machine + 80s synth + tongue-in-cheek humor

SOUNDS LIKE: Falling in love with a robot.

THE BUZZ: Dengan mengeksplorasi musik elektronik dan sensibilitas lagu pop, para DJ di Milan dan Verona yang mengajak vokalis perempuan untuk menyanyikan lirik berbahasa Inggris tentang robot dan cinta dengan aksen Eropa yang kental sukses.membuat scene tersendiri yang disebut dengan Italo disco. Its sounds as cheesy as pizza, tapi seperti halnya pizza, genre ini dengan cepat dikonsumsi oleh publik di seluruh Eropa. Setelah sempat meredup dan berkembang menjadi Eurodance dan Italo-house di era 90-an, tahun 2010 kemarin Mark Zonda mempopulerkan apa yang ia sebut dengan Neo Italo Disco lewat website musik miliknya sleepwalkingmag.com dan merilis kompilasi U.N.DISCO yang berisi single-single Italo Disco generasi baru seperti Sylvia Paradiso, Barry Bianco dan Cynn Der Elle. Selain itu, muncul juga musik italo-disco revival dengan sound yang lebih sleek dari berbagai tempat, mulai dari Sally Shapiro (Swedia), Flight Facilities (Australia), hingga Tommy February6 (Jepang) dan kompilasi yang dirilis label Italians Do It Better milik Mike Simonetti  Lucunya, Italo-disco generasi pertama tidak pernah booming di inggris (walau menginfluens band seperti Pet Shop Boys dan Erasure) namun sekarang inggris justru menjadi salah satu pusat neo italo disco dengan bermunculannya gig-gig italo disco seperti Cocadisco, Lunar Jam, Robot Disco Terror dan italoBLACK.

LISTEN TO:

SALLY SHAPIRO

From Sweden with love, Sally Shapiro dengan dibantu produser Johan Agebjörn menghasilkan dance pop dengan beat-beat retro yang membuatmu jatuh cinta dan patah hati di lantai dansa.

CHROMATICS         

Setelah ditinggal pergi oleh semua personel sebelumnya, Adam Miller sebagai satu-satunya personel yang tersisa mengubah drastis arah musik band asal Portland ini yang tadinya noise punk menjadi italo disco dan bergabung di label Italians Do It Better. Kini bersama personel baru Ruth Radelet, Nat Walker dan Johnny Jewel, Adam merilis album Night Drive yang berisi lagu-lagu italo disco yang lebih dark dan dingin, termasuk cover version “Running Up That Hill” milik Kate Bush.

K-Pop

ORIGIN: Bermula dari asimilasi antara musik Western pop dan musik trot (Korean folk) di tahun 60-an yang membentuk pop kontemporer Korea Selatan. Baru di tahun 90-an, musik pop Korea mulai memakai unsur techno, rap dan rock yang dipengaruhi musik pop Jepang (J-pop) yang lebih dulu terkenal.

FORMULA: Pretty faces + flashy wardrobe + catchy dance + high-contagious hooks = It’s pop with capital P-O-P.

SOUNDS LIKE: Mengunyah permen karet sambil berjalan-jalan di Hongdae, kawasan paling hip di Seoul.

THE BUZZ: Oke, kita bisa mengacuhkan fakta jika setiap hari ada saja artis K-pop yang menjadi trending topic di Twitter, single mereka masuk ke chart Billboard Hot 100 Amerika atau video mereka menjadi most watched di Youtube. Kamu pun boleh saja mencibir teman-temanmu yang terkena Korean Fever. Tapi jika situs musik sekelas Pitchfork menulis artikel khusus tentang K-pop dan produser seperti Kanye West dan Diplo mulai berkolaborasi dengan grup K-pop, now that really means something, right? Ada banyak hal yang menjadikan pop berbahasa Korea (yang notabene hanya dipakai oleh 78 juta orang) ini bisa diterima tak hanya di negara Asia, tapi juga orang-orang Eropa, Amerika Latin hingga Timur Tengah yang tidak berbahasa Korea dan mungkin tidak pernah pergi ke Korea. Pertama adalah agensi/manajemen yang mencetak para bintang pop dengan melatih artis-artis mereka selama bertahun-tahun sebelum debut, kemampuan mereka memanfaatkan internet sebagai media promosi dan yang paling utama adalah musiknya yang luar biasa catchy walau kita sama sekali tidak mengerti artinya dan seperti yang Martina Stawski dari blog Eat Your Kimchi bilang: “K-pop sangat beragam, mulai dari hip-hop, dance dan R&B yang salah satunya pasti akan ‘kena’ di kamu, sekalipun kamu tidak ingin mengakuinya.” Pada akhirnya, K-pop adalah suatu paradoks, its overrated on some points but at the same time, still underrated.

LISTEN TO:

T-ARA

Grup berpersonel 7 gadis berusia antara 18 sampai 25 tahun yang bisa dibilang standout diantara girlband Korea lainnya karena kecantikan masing-masing personel yang sama rata dan single-single disko sangat catchy seperti “Roly Poly” dan “Lovey Dovey” yang memiliki dance choreo dan video musik yang tak kalah catchy.

IU

Aktris/penyanyi solo berumur 18 tahun ini mencuri perhatian berkat wajah manis (no plastic surgery!) dan keandalannya meng-cover lagu-lagu seperti “Video Killed The Radio Star“ dan “Loving You” dengan gitar akustiknya, yang membuatnya diundang tampil sebagai bintang tamu di konser Corinne Bailey Rae di Seoul.

2NE1

Disaat girlband lainnya tampil imut dan manis, CL, Dara, Bom dan Minzy dari 2NE1 justru meneriakkan female empowerment lewat lagu-lagu yang kental dengan warna hip-hop, R&B dan electro hop. Girlband yang menjadi “Best New Band” versi MTV Iggy ini juga terkenal dengan fashion sense yang edgy sampai-sampai Jeremy Scott menyebut mereka sebagai muse-nya dan membuatkan sneakers khusus bernama JS Collage Wings x 2NE1.

Post-dubstep

ORIGIN: Perkembangan terbaru dari dubstep dengan bass-oriented rhythm yang lebih pelan (bertempo kurang-lebih 130 BPM) dan lebih perkusif sehingga cenderung ambient dan listenable.

FORMULA: Dubstep – BPM + Ambient + R&B.

SOUNDS LIKE: A fresh, sober morning.

THE BUZZ: Saat dubstep menjadi sesuatu yang sangat mainstream dan terkenal di Amerika dengan istilah “Brostep” yang diusung Skrillex, ini saatnya bagi para musisi Inggris, tempat lahirnya genre bertempo 138-142 BPM ini, untuk mengklaimnya kembali. Caranya? Well, dengan mengurangi tempo, menambahkan ritme yang lebih polished dan mudah diterima telinga sehingga dubstep tak lagi terdengar agresif, monoton dan identik dengan party gila-gilaan. Musisi Inggris seperti James Blake, Star Slinger, Jamie xx dan Fantastic Mr. Fox seolah-olah memurnikan kembali apa yang telah hilang dari dubstep, yaitu substansi musik itu sendiri, dengan musik mereka yang berisi vokal R&B yang enjoyable dan electro bass yang mengajakmu berdansa di dancefloor dengan cara yang menyenangkan tanpa membuatmu bergerak seperti robot rusak.

LISTEN TO:

JAMES BLAKE

Di tangan produser/singer-songwriter London yang baru berusia 23 tahun ini, dubstep menjadi sesuatu yang classy dan seminal.  Masuk ke list BBC Sounds of 2011 dan mendapat hype begitu besar dari berbagai media, he define the scene and set the bar really high.

SBTRKT

Aaron Jerome memulai karier sebagai DJ di klub hip di London Timur yang bernama Plastic People dan me-remix lagu dari Radiohead, M.I.A dan Mark Ronson sebelum mulai memproduksi lagu-lagu orisinal yang mencampur UK Funky, dubstep dan Chicago House dengan nama alias SBTRKT (dibaca “subtract”). Dengan topeng suku Afrika yang selalu ia pakai saat live dan ditemani kolaboratornya, Sampha, ia membuat klub-klub di Inggris kembali panas.

MOUNT KIMBIE

Dominic Maker dan Kai Campos dari London bisa dibilang pihak yang paling bertanggungjawab mempopulerkan apa yang sekarang disebut post-dubstep. Pemakaian gitar, sampling, loop dan ambient soundscape dalam album debut mereka, Crooks & Lovers yang manis secara akustik dan elektrik di saat yang sama adalah penanda era baru dubstep dan musik Inggris pada umumnya.

As published in NYLON Indonesia February 2012

Illustration by Amanda Mitsuri