Style Study: Rupahaus

Rupahaus merupakan kolaborasi antara tim desain yang berbasis di Australia dengan penjahit dan pengrajin tekstil di desa-desa kecil Indonesia. Berdirinya Rupahaus di tahun 2015 berangkat dari kepedulian sang pendiri dan creative director atas kekayaan tekstil Indonesia yang perlahan kehilangan jati diri dengan digantikannya beberapa proses tradisional menjadi produksi mesin yang berbahaya bagi lingkungan. Banyak pengrajin tekstil yang menyerah pada tuntutan ekonomi dan menjadi buruh industri demi bertahan hidup dan hal itu tercermin dari banyaknya pabrik fast fashion yang kini berdiri di Indonesia. Memadukan tradisi dengan desain leisure wear yang chic dengan proses handmade dan bahan natural, sebagian profit yang didapat pun diinvestasikan kembali pada komunitas pengrajin desa.

21910771_1442902312443382_5839801096033271808_n(1)

Bagaimana awal mula label ini berdiri?

Creative Director dan Founder kami lahir di Indonesia, menghabiskan masa remajanya di Australia, lalu tinggal di Jerman untuk belajar fashion lebih dalam sebelum pulang kembali ke Australia. Dalam perjalanannya, dia menyaksikan banyak disintegrasi budaya dan dampaknya terhadap kehidupan saat ini. Dari tiga budaya yang ia alami, dia merasa paling tertarik dengan kekayaan warisan budaya tekstil Indonesia yang perlahan kehilangan identitas.

Rupahaus berdiri dari hasil kolaborasi antara tim kami dengan pengrajin dan penjahit lokal. Kami percaya setiap orang dalam kolaborasi ini berharga, karena itu kami merasa bertanggungjawab untuk berkontribusi pada komunitas yang telah mendukung kami. Itu yang menjadi akar dari label ini. Dengan menampilkan keindahan dan sejarah di balik tekstil Indonesia, kami turut menyediakan wadah bagi pengrajin lokal untuk berkembang dan mempertahankan tradisi. Secara khusus kami mengajak para pengrajin dari desa-desa terpencil untuk berkolaborasi di mana kami memperkenalkan proses inovatif namun tetap mempertahankan metode pembuatan tekstil tradisional.

Apa yang menjadi filosofi label ini?

Nama Rupahaus sendiri secara fundamental merefleksikan pemilihan dan penggunaan bahan-bahan alami dalam setiap aspek produk kami—mulai dari bahan mentah hingga finishing touches. Dengan mengaplikasikan berbagai teknik tradisional seperti hand waving dan batik hand-drawing, kami membuat kain dengan tekstur menarik yang bisa diapresiasi indra kita. Karena setiap produk menampilkan kisah para pengrajin dan kemampuan mereka, kami punya hubungan simbiosis dengan mereka dan ini yang membuat kami berbeda dibanding label lain.

30084356_586993365009514_1676491873553743872_n(1)

Apa yang membuat Rupahaus memilih berada di jalur eco-friendly/sustainable?

Sustainability ibarat sebuah perjalanan. Kesadaran akan sustainability dan praktik etis di Indonesia masih tergolong rendah. Karena kami ingin mempertahankan warisan tradisi, kenapa tidak sekalian menjaga autentisitasnya dan mengembangkannya sebagai proses yang berkelanjutan? Kami secara sadar mengusung filosofi slow fashion di mana selain menciptakan tren, kami juga ingin menjalankan rantai supply kami dengan cara yang etis dan bertanggungjawab. Kami membuat produk yang dibuat dari bahan mentah dan pewarna alami berkualitas tinggi yang digabungkan dengan teknik produksi handmade. Kami pun selalu memastikan bahwa bahan yang kami pakai tidak berbahaya bagi lingkungan.

 

Bagaimana kalian melihat perkembangan mode ramah lingkungan dalam beberapa tahun terakhir? 

Kami menyaksikan perkembangan positif di masyarakat dengan orang dari berbagai generasi mulai aktif beralih ke pilihan pakaian yang lebih sustainable dan mendukung gerakan slow fashion. Semakin banyak orang yang peduli dan bertanya tentang dari mana dan bagaimana pakaian yang mereka kenakan dibuat. Hal itu semakin membuat kami percaya diri bahwa kami berjuang untuk hal yang benar.

21980423_118758792126242_6271646807671963648_n

Sejauh ini apa koleksi paling laris yang telah kalian buat?

Koleksi kedua kami, KURAKARA, berhasil menarik perhatian masyarakat yang lebih luas. Khususnya MAIA wrap dress dan ABBE shirt yang senantiasa sold out di semua platform penjualan.

 

Bagaimana kalian menanggapi respons dari konsumen?

Selalu menegangkan sekaligus exciting melihat respons publik terhadap produk kami! Kami begitu bersyukur melihat banyaknya orang yang tak hanya mengapresiasi produk kami tapi yang lebih penting adalah cerita di baliknya dan tujuan di balik label ini. Kami melihat perkembangan yang positif di masyarakat yang menginginkan transparansi dalam produk yang mereka kenakan, dan kami bangga bisa turut berkontribusi dalam pergerakan untuk menjaga lingkungan.

23279371_1974077762862739_8956684353371373568_n

Apa rencana selanjutnya untuk label ini?

Creative Director kami baru kembali dari perjalanan produksi tahunan dan kami yakin ia punya banyak ide menarik yang siap diwujudkan. Selain pakaian, setahun terakhir ini tim kami juga telah bekerja keras menyiapkan koleksi homewares.

 

Apa harapan kalian untuk industri mode secara umum? 

Industri mode termasuk sumber polusi terbesar di dunia dan prosesnya termasuk rumit karena rantai supply yang begitu panjang hanya untuk menjual sebuah produk jadi. Kita bisa melihat sendiri kerusakannya namun belum bisa maksimal untuk mencegah dampaknya. Secara komersial, di mana ada permintaan pasti ada supply. Karena itu, kami percaya jika setiap perusahaan mode ikut peduli dengan isu ini, kita bisa memenuhi permintaan untuk pakaian dengan tren terbaru yang affordable tanpa harus merusak lingkungan. Jika semua pihak bisa beroperasi dengan cara yang etis dan berkelanjutan, pada akhirnya kita bisa memenuhi target industri dengan bonus ekosistem yang sehat. Bila bukan kita yang membuat perubahan, siapa lagi?

34406575_181901499166876_7341166287977971712_n(1)

All pictures are courtesy of Rupahaus

Instagram: @rupahaus

Website: www.rupahaus.com

Take It To the Street With… Paradise Youth Club

PARADISE YOUTH CLUB

IG: @PARADISEYOUTHCLUB

Started in early 2015, Vincentius Aditya dan Fritz Yonathan yang merupakan founder Paradise Youth Club mengaku jika ide untuk membuat label streetwear tersebut muncul secara spontan. “We’re just doing it for fun! For daily personal use since we can’t afford to buy overpriced Supreme tees to support our so called social lyfe! Haha!” tukas mereka enteng. Well, saya tidak tahu apakah pengakuan itu hanya becanda atau memang sebuah brutal honesty, but one thing I know, itu adalah keputusan yang tepat. Turut dibantu oleh Hendrick Setio sebagai Distribution Manager, brand ini dengan nyaman memilih bergerak di ranah cutting edge dari urban street fashion. Menggabungkan berbagai influens dari budaya surfer, skatewear, musik, dan pengaruh 90’s yang kuat, lewat koleksi bertajuk “The United States of Paradise”, mereka merilis rangkaian t-shirt, crewneck sweaters, bucket hat, snapback, dan strapback dengan desain grafis yang menampilkan logo Paradise Youth Club, bendera US yang sudah di-tweak, dan tulisan seperti “Cash Can’t Rule”, dan “Talking To The Children About Nuclear War”. The overall statement of the brand is laidback, unisex, dan tentu saja, limited. Menyoal semakin riuhnya pasar streetwear global dan domestik, PYC pun menegaskan jika sekarang bukan zamannya lagi untuk merasa inferior memakai produk dari label lokal. “Tilt your head to our local brands, there’s many of ’em worth to see. You don’t have to wait till they’re featured on Hypebeast!Amen to that.

This slideshow requires JavaScript.

Behind the name:

Paradise is a state of mind! If you choose to change conditions for the better, get some material on mental imaging and start changing your life. The more depressed you are, the more you have to gain.

Inspiration:

Social issues and the universe. The goal itself is to revive the spirit from one of the greatest decade, to share that spirit to everyone else. To be aware that everyone has a right to have fun and everyone is entitled of their own paradise.

Aesthetic in three words:

Freed! Freed! Freed!

Most wanted:

Logo Tee.

Where to get:

Offline: Orbis (Jakarta), Nine Collective (Bandung), Toidiholic (Lampung), Gate Store (Jogja), Stock n Supply (Brisbane-Australia), The Good Luck Bunch (Singapura). Online: Paradiseyouthclub.com, a bunch of online stores in Australia.

What’s next:

Surviving! We never do any market research! Better to let the brand manifest naturally, because it means it’s more honest and there’s more of a chance that people are going to connect to it.

Top of the Pops, An Introduction of PC Music

Ketika generasi Tumblr meredefinisikan musik pop dengan cara yang penuh ironi, gender play, over the top cuteness, dan racikan elektronik yang undeniably catchy dalam bentuk PC Music, kita mungkin sedang menyaksikan lahirnya fenomena kultur pop era post-internet yang mengaburkan garis tipis antara URL dan IRL.

Bagi mayoritas orang, eksplorasi akan selera musik mereka berawal dari musik pop alias musik populer apapun yang sedang diputar non-stop di radio atau televisi ketika mereka beranjak besar, lagu-lagu easy listening yang umumnya bercerita tentang cinta dan hal banal lainnya dalam hidup yang dikemas dalam aransemen catchy dan mudah menempel di kepala dan disajikan oleh anak muda dengan physical attractiveness yang memenuhi beauty standards era musik itu dirilis. For me, it was Spice Girls & Britney Spears kind of girls yang menjadi simbol dari musik pop di masa kejayaan MTV saat saya menuju masa remaja. Musik pop adalah titik nol sebelum perlahan saya mengenal berbagai genre musik lainnya dan memasuki fase music snob yang membuat saya seolah menjadi “anak durhaka” dengan menganggap musik pop sebagai hal yang cheesy dan sama sekali tidak keren lagi.

Pop music used to be everything back then, namun semua berubah ketika kita memasuki abad 21 dengan keengganan terhadap hal-hal yang dianggap mainstream. Kita telah melihat kualitas dan popularitas musik pop memasuki titik jenuh yang ditandai oleh demam reality show yang menghilangkan aura mistis bintang pop kesayanganmu, berbagai talent show yang mencetak bintang pop secara generik, ketika Britney mengalami mental breakdown dan diva pop lainnya meninggalkan citra girl next door mereka untuk tampil seprovokatif mungkin demi tidak tergilas Lady Gaga, invasi K-Pop ke seluruh dunia, dan saat Jepang menciptakan bintang pop virtual seperti Hatsune Miku. Pop seakan tidak lagi menjadi hal yang relevan dan Electronic Dance Music menggantikan posisinya sebagai genre musik paling dominan secara global saat ini.

Meski demikian, pada kenyataannya, musik pop tidak pernah mati. Ia hanya bertransformasi mengikuti selera pasar seperti yang lantas ditunjukkan oleh Katy Perry dan Beyoncé. Ketika pop tradisional dianggap hal yang tabu, musik pop pun menemukan avatar baru lewat sosok-sosok seperti Charli XCX, Lorde, Lana Del Rey, dan Grimes dengan citra dan musik yang dinilai lebih edgy dibanding pendahulu mereka. Namun, baru ketika Taylor Swift menanjak naik dan Carly Rae Jepsen muncul dengan “Call Me Maybe” yang luar biasa catchy dan unapologetically pop, kita seolah tersadar jika we actually miss the cheesy happy go lucky sensation of it dan musik pop somehow terasa make sense again sekaligus menimbulkan pertanyaan besar: “Seperti apakah wajah musik pop di era post-internet sekarang ini, ketika semua orang berusaha menjadi yang paling intelek dan avant-garde?”

The unlikely answer secara mengejutkan datang dari London dalam wujud PC Music, sebuah net label/kolektif musisi elektronik yang digagas oleh seorang produser bernama A. G. Cook yang bermula dari sebuah akun Soundcloud di tahun 2013. Secara gamblang, PC Music seperti yang diisyaratkan namanya berfokus pada musik dance electronic yang seolah dihasilkan dari software musik rumahan minimalis dengan inspirasi utama dari cyberculture seperti Tumblr, GIF, 4chan, maupun desain grafis klise yang seolah berasal dari Windows 1995 yang impressively bad.

Secara musikal, PC Music mengambil influens dari  90’s Pop, R&B, trance, electro house, dan Eurotrash yang dipadukan dengan unsur kawaii dan artifisial dari K-pop dan J-pop dengan manipulasi vokal feminin high-pitch yang sudah diedit habis-habisan hingga nyaris seperti suara robot. Tema yang dimuat dalam lirik lagu (kalau pun ada) biasanya jika tidak lagu cinta dengan kalimat klise yang seperti diambil dari buku harian anak 12 tahun atau tentang budaya konsumerisme seperti label fashion dan makeup yang dikemas secara ironis. Jika semua penjelasan tersebut gagal memberimu gambaran soal apa itu PC Music, tolong bayangkan jika lagu “Barbie Girl” milik Aqua di-remix oleh Kyary Pamyu Pamyu dengan video berupa mash-up dari potongan klip Kim Kardashian, Clueless, video bayi hewan, dan font yang dibuat dari WordArt. Secara singkat, PC Music adalah musical equivalent dari video Fluxcup dan internet jokes seperti yang diusung oleh @iCaltext. Its confusing and obnoxious, yet its so incredibly pop and refreshing at the same time.

Di awal kemunculannya, info tentang PC Music masih sangat minim. Mereka memberikan informasi seminimum mungkin tentang siapa saja yang terlibat di dalamnya dan membatasi interaksi dengan jurnalis sehingga menciptakan kesan jika hanya orang-orang tertentu yang boleh mengakses musik mereka. Hal itu hampir mirip ketika Witch House pertama kali muncul dari kultur Tumblr sekitar 2010 lalu. Sama seperti para musisi Witch House yang memakai nama alias yang nyaris tidak bisa di-googling, para artis di PC Music juga merupakan kumpulan persona dengan nama alias dan ultra-cute image yang terinspirasi dari Internet slang seperti Lipgloss Twins, easyFun, Lil Data, dan Princess Bambi yang menyamarkan fakta jika mayoritas orang di baliknya adalah para lelaki tulen. Taktik tersebut sekali lagi berhasil membangun nuansa misterius dari masa-masa sebelum Google dan menjadi click bait sempurna bagi mereka yang selalu ingin menjadi yang pertama menemukan musik baru. Thus, the hype was born.

            Respons yang diterima untuk PC Music adalah pro dan kontra. It’s either you love it or you really hate it. Namun, ketika bulan Maret tahun lalu A. G. Cook memboyong para artisnya ke Amerika untuk showcase khusus di South by Southwest, merilis kompilasi resmi pertama mereka dengan tajuk PC Music Volume 1, dan tampil di Red Bull Music Academy di Brooklyn dengan review yang sangat positif, hal itu ibarat legitimasi jika PC Music adalah sesuatu yang nyata dan tidak lagi sekadar menjadi record label, it’s transcend into subgenre and subculture. In the end of the day, apakah PC Music adalah hal yang legit atau hanya internet prank tetap menjadi hal yang subyektif dan bahan debat yang tak ada habisnya. Namun, jika hal itu bisa membuat kita kembali berfantasi dalam perfect glossy world dari musik pop lagi, we’re on it.

Meet the culprits:

agcook2

A.G. Cook

Sebagai the founding figure of PC Music, sosok lelaki kurus berkacamata dengan rambut model jamur ini adalah sosok yang bertanggungjawab atas racikan elektronik yang merupakan versi hyperreal dan distortif dari mainstream pop yang menjadi cetak biru bagi PC Music. Ia memulai kariernya bersama Danny L Harle dalam duo Dux Content yang berfokus pada eksperimen sounds dan ritme dalam musik elektronik, sebelum akhirnya bekerjasama dengan Sophie dan Hannah Diamond yang menjadi cikal bakal PC Music di Agustus 2013. Mengambil posisi sebagai A&R, ia terus memperkenalkan nama-nama baru di roster-nya di samping merilis karya-karyanya sendiri yang diakuinya terinfluens oleh K-Pop, J-Pop, dan subkultur gyaru dari Jepang. Dengan segala pencapaian personal dan PC Music, ia pun disebut sebagai salah satu orang yang meredefinisikan style dan youth culture di tahun 2015 menurut majalah Dazed.

Listen This: “Keri Baby”, “Beautiful”, “Drop FM”.

sophie3

SOPHIE

Di awal kemunculannya di tahun 2013 setelah merilis single “Bipp/Elle” yang mendapat atensi dari kritikus musik karena menukar bunyi drum tradisional dengan bassline yang bouncy dan efek vokal ber-pitch tinggi, SOPHIE menyembunyikan rapat identitas aslinya dengan cara menyamarkan suaranya saat interview dan menyewa seorang drag queen untuk berpura-pura menjadi dirinya dalam sebuah live DJ set sementara ia sendiri berpura-pura menjadi seorang bodyguard. Namun, ketika eksperimen musiknya yang terinfluens kultur boyband/girlband era millennium semakin mendapat apresiasi luas dengan puncaknya single “Lemonade” dipakai dalam iklan McDonald’s, Sophie pun tidak bisa lagi tampil anonymous dan membeberkan fakta jika ia adalah Samuel Long yang sebelumnya tergabung di band bernama Motherland. Walaupun secara resmi bukan bagian dari PC Music, ia turut membidani kelahiran label tersebut dan berkolaborasi dengan para artisnya. Sebagai salah satu nama yang paling high-profile dari sirkuit PC Music, ia telah bekerjasama dengan Kyary Pamyu Pamyu, Namie Amuro, hingga Madonna untuk lagu “Bitch I’m Madonna” dan dikabarkan sedang bekerjasama dengan Charli XCX untuk album terbarunya.

Listen This: “Bipp”, “Lemonade”, “Elle”.

qt

QT

I hate to inform you this, tapi sosok yang selama ini kamu percaya sebagai QT di musik video dan promotional image ternyata bukanlah sosok yang sebenarnya. QT pada hakikatnya adalah sebuah enigma tentang sosok idola pop sempurna hasil pikiran bersama A. G. Cook dan SOPHIE yang meminjam tubuh Hayden Dunham, seorang performance artist asal Amerika yang berpose sebagai QT dan tampil lip-sync di acara live. Semua bermula ketika Dunham mencari tahu tentang A. G. Cook dan PC Music dan mengajak kerjasama membuat lagu untuk mempromosikan energy drink bernama QT. Hasil kolaborasinya adalah “Hey QT”, sebuah lagu electropop rilisan XL Recordings yang merupakan perpaduan antara musik pop awal 2000-an, lagu Dance-Dance Revolution, dengan lirik repetitif yang sugary dan infectious. There’s something magical about that song yang terasa intentionally cheesy and campy, namun meninggalkan after taste yang menempel di benakmu untuk waktu yang lama dan menghipnotismu untuk mendengarkannya lagi dan lagi. Don’t say we didn’t warn you.

Listen this: “Hey QT”.

hannahdiamond24004141

Hannah Diamond

Berbeda dari artis PC Music lainnya yang menyembunyikan sosok mereka, Hannah Diamond dengan sengaja menampilkan wajahnya di cover art, tepatnya the heavy retouched version yang merupakan bagian dari image yang sengaja ia bentuk sebagai sindiran terhadap budaya pop dan industri fashion. Dengan latar belakang fashion communication dan styling, ia memulai karier sebagai internet celebrity, seniman, dan  menjadi bagian dari Diamond Wright yang membuat materi promosi untuk makeup brand Illamasqua serta menjadi co-editor dan director of photography untuk LOGO Magazine. Perpaduan estetika kawaiiness dan streetwear London miliknya juga tercermin dalam single miliknya, “Attachment”, yang dideskripsikan sebagai “bubblegum hyper reality” dan “Pink and Blue” yang merupakan lagu dengan ritme lullaby dalam efek sintetis yang dinyanyikan dengan vokal childlike. Kedua lagu tersebut menjadi lagu yang melambungkan nama PC Music dan membuatnya menjadi the cover girl of PC Music.

Listen This: “Attachment”, “Pink and Blue”, “Every Night”.

gfoty

GFOTY

GFOTY yang merupakan singkatan dari Girlfriend Of The Year adalah nama alias dari Polly-Louisa Salmon, seorang blogger London kelahiran 1990 yang bernyanyi dengan gaya spoken word tentang pesta dan patah hati dengan sarkastik di antara melodi elektronik yang glitchy dan infectious. Menyebut R. Kelly sebagai influens terbesarnya, ia merilis Secret Mix yang berisi cover version dari lagu-lagu Celine Dion, Toni Braxton, dan Carly Simon sebelum berkolaborasi dengan Ryan Hemsworth dengan mengisi vokal di lagu “My Song” yang masuk ke kompilasi EP shh#ffb6c1 miliknya. Dengan selera humor sarkas dan ironically cute aesthetic yang kental, persona dirinya tak hanya tercermin lewat musik, tapi juga Instagram miliknya yang dipenuhi inspirational quotes dan selfie konyol.

Listen this: “Bobby”, “Friday Night”, “Don’t Wanna / Let’s Do It”.

liz

LIZ

Liz yang bernama lengkap Elizabeth Abrams sebetulnya bukan nama yang benar-benar baru. Ia telah membuat musik sejak berumur 13 tahun sebelum bergabung di bawah label Mad Decent milik Diplo dan merilis single berjudul “XTC” di tahun 2013 dan tur bersama Charli XCX di tahun yang sama. Tahun berikutnya, ia merilis EP Just Like You dan bekerjasama dengan Pharrell untuk soundtrack Amazing Spider-Man 2 sebelum rehat sejenak dari dunia musik. Tahun lalu ia kembali dengan lagu “When I Rule the World” garapan SOPHIE yang menjadi jingle iklan terbaru Samsung. That exact moment ketika kamu mulai menonton video “When I Rule The World” yang tanpa basa-basi dibuka oleh eksklamasi Liz yang memakai tiara di kepala, tracksuit, dan image kartun yang flashy, kamu tahu kamu akan mendapatkan sajian musik pop dengan huruf kapital P-O-P. Walaupun tidak berafiliasi langsung dengan PC Music, namun semua hal yang ada di lagu dan video ini meneriakkan kata pop dan estetika PC Music secara jenius. Dari mulai kamar tidur berisi boneka, animal print, emoji dan lirik materialistis, aransemen elektronik super catchy garapan SOPHIE, hingga sosok sang penyanyi sendiri yang mengingatkan kita akan karakter rich spoiled brat di film-film teenage rom-com 90-an, semuanya mengingatkan pada masa keemasan Britney Spears, and you know you love it.

Listen This: “When I Rule The World”, “XTC”, “Hush”.

Style Study: Blackbook Jakarta

BB4

Berawal dari signature notebooks berwarna hitam dengan witty quotes sebagai tugas akhir kuliah, Blackbook melebarkan sayapnya ke produk apparel dengan lini a.part. Straightforward dan personal, brand asal Jakarta ini mengingatkan kita jika black is always be the new black.

BB5

So first thing first, how was it started?

Blackbook bermula sebagai final project untuk salah satu kelas kami di uni, we’re not gonna bored you with the details, but if we failed in this class, damn, we have to retakes the whole semester next year, of course we wouldn’t want that. Membuat produk stationery seperti notebooks is an easy choice, since all of us is such a stationery nerd, kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam di toko stationery and we do love the feels you got when you are about to use your brand new stationery for the first time, there’s something about it that can instantly boost up your mood. Plus, a well design stationery is our weakness.

Dari kiri: Ragil Satria, Hafiz Akhbar, Flori Amelia, Sigi Savero.
Dari kiri: Ragil Satria, Hafiz Akhbar, Flori Amelia, Sigi Savero.

 Boleh diperkenalkan ada siapa saja di tim kalian?

In the beginning there are a four of us, but along the way, anggota kita bertambah. Our background in this team cukup beragam, namun hal ini lah yang membuat setiap orang dapat memberikan gagasan serta sudut pandang yang sangat unik dan menarik sehingga mempengaruhi proses kita dalam mendapatkan ide atau inspirasi. Ada saya Hafiz Akhbar, sebagai Creative Director, saya berkerja di industri retail dan belakangan ini mulai menjadi brand consultant untuk beberapa brand lokal. Lalu ada Sigi Savero, sebagai Management Director, Sigi juga berkerja sebagai announcer di salah satu radio terkemuka di Jakarta. Ada Ragil Satria, sebagai Production Director, Ragil disibukkan dengan perannya sebagai vokalis band post-hardcore yang langganan manggung di acara wajib scene tersebut. Lalu ada Flori Amelia, sebagai Production Manager, Flori juga cukup disibukkan mengontrol bisnis-bisnis lain yang digelutinya. Tim kita dilengkapi dengan Aci Amar yang berperan sebagai Finance Manager dan Sugi Hermawan sebagai in-house photographer.

Blackbook bermula dari literally black book, tapi sekarang berkembang ke produk lain seperti bag dan apparel, bagaimana ceritanya?

When we started, we want to create wellmade stationery and office supplies. Untuk berkembang ke produk lain seperti variasi tas dan apparel tidak pernah terbayangkan sebelumnya, it just happened naturally and we’re kinda go along with it. Sehingga sekarang kami memiliki dua divisi brand, all stationery and office supplies is under Blackbook. Other than stationery and office supplies is under a.part.

Kalau A.part Mob itu sendiri sebetulnya apa?

A.part Mob adalah panggilan yang kita berikan untuk kustomer kita, we love our customer, we grew because of them, so we like the idea having this big family, a big crew, a mob, a fuckin rad mob, because they really are.

BB1

Apa saja yang menjadi influens utama bagi label ini?

Influens terbesar label ini datang dari diri kita sendiri, not in narcissistic way, tapi banyak inspirasi kami datang dari kehidupan sehari-hari, sesimpel obrolan dengan keluarga atau teman, random thought yang muncul saat stuck di kemacetan, or what this fuckin’ rad unknown biker beside you during red light wearing. All those simple things. Dan jangan lupa, Jakarta is our backyard, we don’t need to look further for great inspiration.

Bagaimana kalian mendeskripsikan potential customer kalian?

It’s really hard to describe our potential customer, karena produk kami sangat universal, stationery is very universal, and because what we do is personal, hopefully everyone from every background can relate to our products easily.

BB3

Target atau rencana kalian selanjutnya apa saja, baik dari segi desain maupun marketing?

Rencana kami ke depannya dari segi desain, kami masih terus berusaha mengolah dan meningkatkan tidak hanya kualitas estetika tetapi kualitas produk secara menyeluruh. Hal ini membutuhkan proses yang cukup memakan waktu karena minimnya resources yang kita miliki sekarang. Oleh karena itu kami ingin mengajak masyarakat atau kustomer kami untuk lebih menghargai dan mencintai produk buatan lokal. Sehingga bila dikaitkan dengan target atau rencana marketing ke depannya, kami ingin sekali memberikan pendalaman yang lebih lanjut mengenai keuntungan apa saja yang didapatkan ketika membeli produk buatan lokal, seperti dapat membantu perekonomian industri menengah ke bawah yang kebetulan selama ini kami ajak untuk bekerjasama.

Dengan banyaknya label lokal sekarang ini, apa taktik kalian untuk terus stand out from the crowd?

It’s not hard, you just have to stay true to yourself, stand to what you believe in and just do your own things. We do believe in honest voice speak louder than a crowd.

BB2

As published in Nylon Indonesia June 2015