Art Talk: The Childlike Watermark of Diani Apsari

 Diani Apsari

Hi Diani, boleh cerita sedikit tentang diri kamu dan kegiatan saat ini?

Hi, saya berasal dari Bandung, sekarang kerja jadi desainer grafis di salah satu graphic house di Jakarta.

Apa memori awalmu yang paling berkesan tentang art? Masih ingat gambar pertama yang pernah kamu bikin?

Orang tua saya sering bilang pas saya kecil, saya menggambar “ndhas” (Bahasa Jawa: kepala) melulu. Saya masih ingat dulu pas umur 6 tahun saya menggambar putri duyung dan kepiting. Ibu saya mengirimnya ke Republika, eh taunya dimuat, saya dapat hadiah uang Rp25.000. Terus saya belikan uang itu pensil warna pertama saya.

NYLON

Ciri khas kamu yang paling menonjol yang aku lihat yang berciri buku dongeng zaman dulu seperti Enid Blyton, inspirasi terbesar kamu sendiri apa sih?

Saya memang tumbuh dengan buku-buku cerita bergambar yang cukup variatif di rumah, tapi yang paling saya suka itu serial buku ceritaTini terbitan Pustaka Cerita Gramedia… aslinya namanya Martine, asal Prancis tahun 1950-an.

diani1
Who’s your fave artist?

Wah banyak, tapi saya suka Marcel Marlier (ilustratornya Martine), untuk objek yang lebih dewasa saya suka karya Milo Manara. Iklan-iklan zaman dahulu saya juga suka, tapi sayangnya saya gak tau ilustratornya siapa, hehehe.

lalphalpha-artworks

Bagaimana ceritanya sampai bisa diminta bikinin cover album L’alphalpha? How’s the creative process?

Pertama dikenalin dengan Yudhis (vokalis L’alphalpha) oleh teman saya, dan Yudhis ternyata satu band dengan Herald dan Ciwi (personel L’alphalpha yang lain), teman sekampus saya. Yudhis bilang lagi cari ilustrator yang bisa menggambar ala buku dongeng Enid Blyton, pas itu Yudhis liat-liat karya saya ketika tugas akhir dan sepertinya cocok. Saya juga senang bisa ketemu temen-temen yang suka style gambar saya. Sesudah itu langsung kumpul dengan Satria (manajer L’alphalpha) dan anak-anak yang lain, tuker-tukeran reference. Yudhis bilang kalau konsep albumnya kali ini seperti buku dongeng jaman dahulu, dan kalau bisa mereka juga bisa jadi karakter utama dalam ilustrasi tersebut. Selanjutnya kontak berlangsung via e-mail, dan dalam waktu 10 hari, ilustrasi-ilustrasi tersebut sudah jadi. Untuk desain layout cover dan tipografinya dikerjakan Yudhis.

Jika diminta membuatkan ilustrasi untuk band/musisi favoritmu, kamu mau siapa?

Kalau musisi lokal, saya ingin buat ilustrasi untuk Sore, Stars and Rabbit dan Mian Tiara. Kalau luar, Bjork.

little l’alphalpha.

 What is your dream job?

Jadi ilustrator, punya klien yang bonafid, pameran keliling dunia, punya studio sendiri di rumah.

Next project?

Kebanyakan personal project, lalu ada project cerita bergambar dengan teman saya yang sudah lama ketunda, dan mungkin akan ada lagi project dari L’alphalpha untuk album berikutnya.

http://dianiapsari.tumblr.com/

kitties

Advertisements

Mixtape: Herald Reynaldo

Kalau kamu pernah menyaksikan penampilan L’Alphalpha, kamu pasti tahu jika vokalis band tersebut, Herald Reynaldo, gemar memakai trapper hat saat tampil di panggung sebagai gimmick yang melengkapi musik indie pop/post-rock beratmosfer dingin yang mereka bawakan. Trapper hat sendiri adalah item penting saat musim dingin karena tak hanya berfungsi menghangatkan kepala tapi juga menjadi fashion item berkat bentuknya yang lucu. But as you know, we got no winter here, jadi mencari trapper hat di Indonesia bukan hal yang mudah, itulah yang mendorong Herald untuk membuat trapper hat sendiri bersama temannya Rara Nindita dengan label Polar Deer.

“Nama Polar Deer sendiri awalnya tercetus buat proyek musik/band yang ingin gue rintis. Rara suka sama nama itu dan minta izin buat dipakai jadi label nama clothing line yang mau dia buat, terus gue kepikiran ya kenapa nggak digabung saja. Kebetulan waktu itu, gue sama Rara masih kuliah di Bandung dan di sana masih cocok hawanya untuk pakai trapper hat. Kalau di Jakarta suka lihat beberapa yang pakai kalau ke gig musik,” ungkap Herald. Untuk koleksi awal, Polar Deer merilis berbagai model trapper hat dan beberapa apparel yang juga terkesan winter seperti jaket dan ponco. Selain konsepnya yang memang cenderung untuk udara dingin, salah satu keunikan Polar Deer lainnya adalah setiap pembelian akan mendapat CD berisi 3 lagu dan satu video musik/lookbook yang menurut Herald, inspirasinya datang dari duo electronic Jepang COLTEMÖNIKHA, produser Yasutaka Nakata dan fashion designer Keito Sakai.

“Kalau next project, kami mau coba mengeluarkan produk yang lebih wearable dan trapper hat yang agak berbeda, jadi nggak harus pakaian dingin lagi seperti produk-produk awal, karena base kami bukan di Bandung lagi tapi sudah pindah ke Jakarta,” cetus Herald tentang rilisan mendatang Polar Deer. Kalau L’Alphalpha sendiri, kapan akan merilis album kedua? “Kami baru rekaman dua lagu baru, entah itu untuk album/EP atau rilis single, kami masih nabung untuk album berikutnya. Doain aja.” Jawab cowok berumur 23 tahun yang diminta membuat mixtape kali ini. Prepare your trapper hat, its gonna be cold.

Interpol

“NYC”

Lagu paling favorit dari album terkeren milik Interpol! Lagu panas yang terasa dingin di saat yang sama.

 

The xx

“Islands”

Menurut gue, mungkin album xx adalah salah satu album paling romantis sepanjang sejarah indie rock. Dan “Islands” adalah lagu pertama yang membuat gue jatuh cinta dengan The xx.

Serena Maneesh

“Drain Cosmetics”

Salah satu band shoegaze terbaik era 2000-an, menurut gue sah untuk menjadi penerus sound My Bloody Valentine, dengan cara yang berbeda tentu saja..

 

Daft Punk

“Something About Us”

Lagu terbaik dalam kategori love song bagi gue. Bisa gue repeat berkali-kali sampai puas.

 

Deerhunter

“Vox Humana”

Entah apa yang disyairkan Bradford Cox di lagu ini. Tapi setiap mendengarkan, gue selalu termenung dan di benak gue banyak cerita yang tergambar seperti film pendek di lagu ini.

 

TV on The Radio

“Family Tree”

Indie rock dengan vokalis yang memiliki keturunan darah Afrika itu nggak pernah gagal untuk jadi band bagus.Dan lagu ini bagus banget dari awal sampai akhir.

 

M83

“New Map”

Hentakan drum serta nyanyian yang ada di lagu ini bikin gue semangat banget,

 

Jonathan Boulet

“A Community Service Announcement”

Suasana lagu ini sangat menyenangkan, cobalah berjalan diiringi lagu ini dengan mp3 player kamu, ritme lagu ini tidak akan mengganggu ritme berjalan dan sangat pas.

 

Bloc Party

“So Here We Are”

Seperti kata Kele Okereke setiap kali sebelum dia memainkan lagu ini secara live. “If you had a bit too much of whatever, this song is for you.”

Wu Lyf

“Heavy Pop”

Gue selalu merasa optimis setiap dengar lagu ini. Penuh dengan teriakan-teriakan semangat sekelompok anak muda yang membicarakan kebebasan.

As published in NYLON Indonesia Culture Club October 2012

The Alpha Kids, An Interview With L’Alphalpha

Seperti anak kecil yang menggemaskan, L’Alphalpha dengan cepat menjadi kesayangan semua orang.

Selalu ada dinamika dalam perkembangan musik indie di Indonesia, terlepas dari perdebatan panjang tentang definisi musik “indie” itu sendiri. Ibarat pasang-surut, ada masa di mana muncul begitu banyak band indie berkualitas dan setelah itu tiba tahun-tahun stagnansi tanpa hadirnya nama yang standout. Untungnya, saat ini kita sedang memasuki fase “the next wave”, ditandai oleh band-band baru dengan warna yang terasa segar dan berbeda. Darimana barometernya? Tidak usah jauh-jauh, lihat saja sejumlah gigs yang sedang gencar digelar dan amati nama-nama yang menghiasi headline-nya, salah satu yang paling bersinar adalah sebuah band asal Jakarta yang bernama L’Alphalpha. Band yang belakangan merajai berbagai gig di Jakarta dan Bandung setelah merilis album debut berjudul When We Awake, All Dreams Are Gone.

Berbicara tentang L’Alphalpha, prinsip “the more is the merrier” dapat menjadi kalimat kunci untuk membukanya. Berawal dari sepasang teman bernama Yudhistira Mahendra (Yudish) dan Herald Reynaldo (Herald) yang membentuk band acoustic noise pop dengan nama Alphalpha, yang diambil dari nama salah satu anak kecil di film Little Rascal, sebelum akhirnya berkembang menjadi band empat orang dengan Tercitra Winitya (Ciwi) di keyboard dan Ildo Reynardian (ildo) sebagai drummer, menggantikan posisi Yudish yang akhirnya beralih menjadi gitaris. Menandai awal yang baru, mereka memodifikasi nama band dengan tambahan “L apostrof “ seperti ejaan Perancis dan merekrut dua personil lagi yaitu pianis Byatriasa Ega (Yayas) dan pemain biola Purusha Irma (Irma) yang sesuai dengan tujuan mereka yang ingin terdengar lebih megah dan konseptual. Formasi enam personel inilah yang menjadi L’Alphalpha yang kita kenal sekarang, sebuah band yang musiknya kerap didefinisikan sebagai post-rock, Skandinavia dan ambience, tapi bagaimana mereka memandang musik mereka sendiri? “Orang bilang musik kami agak Skandinavia, agak post-rock, gue sih setuju tapi sebenarnya dibanding genre kami lebih suka menyebutnya sebagai konsep. Konsep kami intinya musik yang ambience dan sinematik. Karena kebetulan di album ini yang dominan nulis lirik itu gue maka memang cenderung ke post-rock.” jelas Herald si vokalis.

Proses membuat album ini sudah dimulai sejak tahun 2009 namun tersendat di tahun pertama karena masalah budget dan kendala waktu, sebagian personel berdomisili di Jakarta sementara Herald dan Ciwi saat artikel ini ditulis masih tercatat sebagai mahasiswa di ITB, dan sempat membentuk band indie pop bernama Jodi In The Morning Glory Parade. Baru di tahun kedua mereka fokus menggarap album yang tadinya direncanakan hanya sebagai album mini dan dijalankan dengan etos Do It Yourself. Mereka dengan berani memilih jalur self-release, di mana mereka mengurus segala sesuatunya bahkan memasukan setiap keping CD dengan tangan mereka sendiri. Ketika launching di HeyFolks! pun mereka mengurus dekorasi hingga sound system sendiri. “Capek tapi terbayar dengan rasa puas, kami menjalani prosesnya dari awal dan jadinya lebih menghargai musik kami sendiri. Puasnya lebih terasa dan ownership-nya jadi lebih tinggi juga.” Tutur Herald, “Begitu tau kami self-release, teman-teman mendukung dengan turun tangan langsung secara maksimal. Jadi untuk band manapun, jangan takut self-release karena pasti banyak orang-orang yang akan membantu,” sambung Yudish. Proses mengurus pemesanan CD pun menjadi kepuasan sendiri ketika membaca pesanan yang datang dari Kalimantan hingga Cina. “Nggak nyangka aja musik kami sampai ke tempat yang bahkan belum pernah kami kunjungi, ini juga salah satu keuntungan self-release, karena kalau lewat label kami nggak akan tau sudah sampai kemana saja flow album ini “ ujar Yudish. Walaupun nama mereka sedang melambung tinggi, mereka mengakui masih agak terkejut dengan banyaknya orang yang menyukai mereka, “Mungkin yang paling bikin seneng sih kalau buka last.fm, biasanya kan top listener-nya kita-kita sendiri, sekarang udah gak tau siapa.” Celetuk Herald sambil tersenyum.

Salah satu yang unik dari band ini adalah walaupun mereka memainkan musik yang terdengar dingin dan muram, mereka memasukkan toys instrument dalam aransemennya sehingga terdengar lebih dreamy serta membuat packaging yang terkesan manis. “Waktu kita masih berdua, Herald selalu bilang cover itu penting. Kita bisa tau Rolling Stones atau Beatles dari cover albumnya aja, hal itu kemudian terpatri dan ketika akhirnya beneran bikin album, kita serius mikirin kemasan yang cocok dan memorable.” Jelas Yudish. Album debut mereka akhirnya dikemas seperti buku dongeng pengantar tidur dengan ilustrasi klasik khas buku Enid Blyton. Proses mencari ilustrator yang cocok pun cukup memakan waktu, setelah browsing sana-sini, akhirnya yang mereka cari datang dari lingkungan pertemanan mereka sendiri dengan dipilihnya Diani Apsari, senior Herald di kampus, yang membuat semua artwork berbasis cat akrilik di album yang mengangkat tema mimpi ini. Berbicara tentang mimpi, mimpi apa yang belum terwujud? “Kami ingin membuat konser berskala besar, mungkin dengan konsep orkestra atau berkolaborasi dengan musisi Indonesia idola kami. Kalau launching kemarin kan hanya sekedar showcase dan media gathering, jadi impian paling dekat adalah konser, doakan saja semoga ada yang mau mensponsori.” Jawab Yudish mewakili rekan-rekannya. Untuk band seperti L’Alphalpha, saya rasa hal itu bukan sekedar mimpi kemarin sore, mereka jelas punya passion dan drive yang mampu mewujudkan setiap mimpi indah mereka.

As published in NYLON Indonesia April 2011

Foto oleh Anton Jhonsen.

http://www.lalphalpha.com/