Writers Club: Interview With Theodora Sarah Abigail

Lahir di Jakarta, 3 April 1998, sejak kecil penulis yang akrab dipanggil Ebi ini sudah gemar menulis apa saja yang bisa ia pikirkan dan rasakan dari sekitarnya—mulai dari Pokemon, pepohonan, hingga cerita tentang putri-putri dari kerajaan asing. Melihat minatnya, sang ibu pun memberikan sebuah buku jurnal yang harus diisi olehnya setidaknya dua halaman per hari. Sempat kesal karena merasa diharuskan menulis, perlahan ia pun terbiasa dan justru menikmatinya. Kini, di tengah kesibukannya sebagai stay at home mom dan manajer untuk sebuah komunitas pendiri startup di Asia Tenggara, ia masih menyempatkan waktu untuk menulis. Tulisannya bisa kamu nikmati dalam antologi puisi Warchild (2016) serta kumpulan esai personal In the Hands of a Mischievous God (2017) yang diterbitkan oleh The Comma Books.

 ebibooks

Apa yang membuatmu ingin menulis?

Selain waktu kecil diharuskan menulis dua halaman per hari, ibu juga sering mengajakku mengunjungi perpustakaan lokal dan meminjam 20 sampai 30 buku untuk aku baca. Kombinasi dari kepercayaan yang ibu berikan dan keinginan untuk mengikuti jejak para penulis yang telah menginspirasi menjadi alasan bagiku untuk menulis juga.

cantik

Masih ingat buku karya penulis lokal yang pertama kali kamu baca?

Sebenarnya, buku pertama yang aku baca adalah Cantik Itu Luka oleh Eka Kurniawan. Tapi bukan edisi Bahasa Indonesianya—I read the translation. Setelah membaca terjemahannya, aku sangat tersentuh dengan caranya bercerita lalu aku pun membaca versi aslinya dalam Bahasa Indonesia, karena aku yakin it must have been a hundred times more beautiful.

 

Siapa saja penulis lokal yang menjadi favoritmu?

Leila Chudori dan putrinya, Raka Ibrahim, Eka Kurniawan, Madina Malahayati, dan Goenawan Mohamad untuk alasan masing-masing. Dan kalau boleh menyebut musisi lokal, karena aku merasa banyak band punya lirik yang indah, aku akan menyebut Payung Teduh, NAIF, dan The Panturas sebagai favoritku juga.

 laut

Kalau hanya boleh memilih satu buku penulis lokal untuk direkomendasikan, buku apa yang akan kamu pilih dan apa alasannya?

Ya ampun… Pertanyaan yang sangat, sangat sulit untuk dijawab. Bukan salah satu penulis tapi salah satu buku ya? Hmm aku akan merekomendasikan Laut Bercerita oleh Leila Chudori karena aku merasa buku ini adalah salah satu contoh terbaik dari literatur Indonesia modern yang kita punya saat ini.

 

Bagaimana kamu melihat dunia literatur di Indonesia saat ini dan apa harapanmu?

Dunia sastra Indonesia masih terus berkembang. Comma Books misalnya dibentuk sebagai anak Kepustakaan Populer Gramedia dengan fokus pada karya literary, dan aku berharap semakin banyak penulis muda yang terinspirasi untuk membagikan cerita mereka. Aku percaya dunia sastra Indonesia tidak akan maju kalau tidak didukung oleh sekolah. Aku berharap sekolah bisa mendorong siswanya untuk mempelajari karya-karya klasik di dunia sastra Indonesia sehingga mereka terekspos pada keindahan kata dalam karya penulis lokal. Aku pun berharap nantinya orang tidak harus selalu memburu karya sastra dari luar negeri karena mereka sudah jatuh cinta dengan karya para penulis lokal.

 

Bagaimana caramu membagi waktu antara menulis, keluarga, dan kesibukan lainnya?

Untungnya aku dapat banyak bantuan dari suami. Dia rela turun tangan dan membantu urus anak—siapin makanan, doing the laundry, and other things that others might say are supposed to be “the women’s job.” Because of this understanding and willingness to help from his end, I’m very grateful to get the time I need to work. I do my best to make the time with my family count as well. Seperti yang dibilang orang, it’s not always the amount of time that counts, but being fully engaged in the time you do have.

Di samping itu, aku juga punya jam kerja yang terbilang aneh, so I may be up until 1-2AM untuk menulis. Sebenarnya 1-2 jam per hari saja sih cukup kalau kita niatin. Lama-lama tulisannya terkumpul. I think the most important point to be made here is that we have to be able to ask for help when we need it, and to share the responsibilities, and to be fully engaged in each endeavor instead of multitasking too much.

 

Apakah sekarang kamu sudah mulai beralih membaca buku digital?

To tell you the truth—I’ve tried to. Tapi karena sudah sangat terbiasa membaca buku fisik, membaca buku digital terasa asing bagiku. The experience doesn’t feel the same. Tapi aku merasa keberadaan buku-buku digital juga penting karena masih sedikit sekali perpustakaan yang layak di Indonesia, jadi seharusnya kita bisa melawan masalah tersebut dan meningkatkan minat membaca dengan membuat buku digital lebih mudah diakses.

APPLE-AND-KNIFE-by-Intan-Paramaditha---cover-(drop-shadow)

 Apa buku yang baru atau sedang kamu nikmati?

Seperti banyak orang lain di Indonesia, aku baru membaca cuplikan-cuplikan dari The Subtle Art of Not Giving a F*ck (Mark Manson). Aku juga menikmati Her Body and Other Parties (Carmen Maria Machado), Apple and Knife (Intan Paramaditha), dan satu lagi (last one!) adalah Commodore oleh Jacqueline Waters, buku puisi yang aku beli di Post Santa.

 

Apa rencanamu selanjutnya?

Doain ya, aku ingin menerbitkan buku baru sekitar tahun depan. Kalau mimpi jangka panjangnya, aku ingin membangun beberapa perpustakaan di Indonesia agar orang punya kesempatan untuk membaca buku dan punya mimpi yang sama seperti yang aku punya waktu kecil dulu.

Foto: Instagram @theodorasabigail

Advertisements

Book Club: The Murmur House, A Murmuration of Frolicking Young Writers.

Murmur
Looking through the personal blogs and indie zines, Indonesia sepertinya telah memiliki regenerasi penulis mudanya sendiri secara natural. Namun, di samping mereka yang berhasil meraih kontrak penerbitan buku, masih banyak juga penulis muda yang seakan tidak punya outlet untuk menampilkan karya mereka dan cenderung berjuang sendirian. Hal tersebut yang kemudian mendorong dua penulis muda Rain Chudori dan Syarafina Vidyadhana untuk membuat Murmur House, sebuah wadah bagi para penulis muda untuk berkumpul dan berkembang bersama melalui jurnal literatur kolaboratif. Selain merilis jurnal literatur, dalam peluncuran setiap edisi mereka juga menggelar event bertajuk Murmuration di mana para pencinta literatur bisa berkumpul untuk menikmati impromptu reading dan acoustic performance. Klub membaca adalah rencana mereka selanjutnya, namun untuk sekarang let’s have some chat with these two charming young ladies.

Hi Rain and Avi, how are you? Boleh cerita bagaimana kalian bertemu dan akhirnya tercetus ide untuk bikin project bareng ini?
Rain: We met one afternoon for tea and to talk about our two favorite things, love and literature. Somewhere amongst that, had an idea of creating a project that made by young writers for young writers.
Avi: It was December last year. Rain happened to be in my campus, waiting for her friend to finish some errands and I happened to be a little frustrated from writing my final paper. So we kept each other company and talked about boys and books. It was really fun, and so before we parted that day we thought how wonderful it’d be if we could share the warmth with more people with passion alike.

What’s the story behind the name?
Rain: There are two meanings behind our name. The first, “murmur” means “to speak softly”. The second, “murmuration” means the migration of a flock of starlings that are synchronous and constant.
Avi: ‘Murmuration’ itu suatu fenomena yang menurut gue indah banget. Starlings ketika terbang sinkron dan sangat peka terhadap satu sama lain, sehingga jika ada satu yang berubah, yang lain langsung adaptasi. Di kelompok mereka juga nggak ada yang mendominasi. Oleh karena itu, kita mencoba untuk menerapkan hal yang sama di The Murmur House. Istilahnya, itu kami jadikan filosofi dalam merawat rumah kami.

avi
What’s the main idea when you start this project?
Rain: We wanted to create a home for young writers to gather and grow with each other through a collaborative literary journal. We also hope to foster our home by hosting events such as Murmuration (the launch of each literary journal), and soon, reading clubs.
Avi: idem!

Apa pengalaman menyenangkan saat kalian menyusun Murmur edisi pertama?
Rain: It was exciting to see the participation of writers and to know that we were all interacting in the hopes of creating something beautiful together.
Avi: Selain yang Rain sudah utarakan, ya paling ke percetakan sih. Jauh kan tuh, tapi kami nggak nyasar. Bangga banget lah nggak nyasar. Karena biasanya kalau pergi jauh gue nyasar mulu. Oiya, paling sama proses editing dan ketika kami bisa lihat interpretasi ilustrator/fotografer terhadap karya tulis pada jurnal kami. Kagum aja sama mereka.

Apa yang menjadi pertimbangan kalian dalam memilih konten karya yang akan masuk?
Rain: Our editorial team discusses each piece and goes through a process of workshopping the pieces with the writers and translators.
Avi: Untuk edisi pertama, kami memang menyeleksi secara tertutup penulis-penulisnya. Sebetulnya tidak ada kualifikasi khusus, kami melihat potensi dari tulisan-tulisan mereka sebelumnya di blog maupun media lain, lalu kami ajak mereka untuk berkolaborasi. Setelah kami jelaskan tema pertama jurnal kami, yaitu “welcome to warmth”, mereka lalu menulis puisi, prosa atau essay sesuai dengan interpretasi mereka terhadap tema tersebut. Untuk ke depannya, kami menerima submission dari mana saja, yang tentunya akan kami seleksi bersama para editor dan translator.

rain
How about the Murmuration? Tell me about it, kalian baru saja menggelar Murmuration pertama, how does it go?
Rain: The first Murmuration was quite full and there were a lot of enthusiastic performers, both who are part of Murmur and impromptu ones. It was heartening to find that there is a large amount of enthusiasm for literature.
Avi: Menggembirakan sekali, khususnya karena banyak yang membaca secara impromptu. Tadinya sempat khawatir acaranya akan dianggap menjemukan. But everyone seemed to be having a good time! (At least I was.)

 Have you guys thinking to go online as well?
Rain: There’s a lot of perks in having online content and we have thought of doing so. We are trying to publish the literary journal in print because we love the feel of a physical copy.
Avi: Setuju sama Rain. Ini pretensius banget sih, tapi ya emang belum ada yang bisa ngalahin wanginya kertas krem buku.

Do you have any favorite figure from literature scene?
Rain: From Indonesia, my mother, Leila Chudori. From outside of Indonesia, Sylvia Plath.
Avi: This is one tough question. Kalau penulis Indonesia, Umar Kayam deh. Penulis luar negeri sekarang lagi suka sama Alissa Nutting, cuz Tampa is hilarious.

What literature means for both of you?
Rain: A pure attempt to live.
Avi: I know it won’t save the world, but it might just enlighten its people. Or at least move some hearts.

Bagaimana kalian melihat literature scene di Indonesia saat ini, terutama di kalangan anak mudanya?
Rain: We see a lot of developing young writers, but as young writers ourselves, there is not a lot of outlet for us, especially for fiction writers. This can be quite dispiriting. We hope that The Murmur House can be one, out of many, places where young writers can bloom.
Avi: Nah, iya gitu. Makanya kita bangun The Murmur House, biar nggak saling terpencar dan kesepian.

Spoil some secret for your second issue, what’s the theme dan bagaimana caranya bisa berkontribusi?
Rain: The theme is “Love and Other Drugs”. We intend to find short stories, poetry, proses, plays, and essays on addiction.
Avi: Caranya mudah kok, kirimkan aja tulisan yang (menurut penulisnya) cocok dengan tema ke submit@themurmurhouse.com, jangan lupa sertakan foto dan bio singkat!

opsub
What’s the next plan for Murmur House?
Rain: We hope to continue publishing our literary journal and launching them in our Murmurations. We also hope to establish a reading club that will meet and discuss books once in every two-three months.
Avi: More gatherings! We’d love to make a habit out of reading aloud in public!

http://www.themurmurhouse.com/

The photos by Bintang Adamas and Devi Merakati.

order