On The Records: Mallaka

In this era of internet famous, anonimitas adalah hal yang romantis. Setidaknya itu yang saya rasakan saat mendengarkan musik Mallaka, sebuah proyek solo dari singer-songwriter yang konon bernama Aksop Aryaduit (not his real name, I presume). Entah sengaja atau tidak, informasi soal dirinya memang sangat minim, baik foto maupun biografi. Clue lain tentang dirinya saya dapat dari halaman Bandcamp milik Barokah Records (Jatinangor-based netlabel) yang merilis debut EP Mallaka pada tanggal 11 April 2015 silam. Dalam liner note EP berisi 4 lagu itu, Barokah Records menyebut bahwa Mallaka adalah Poska Ariadana, mahasiswa Indonesia di Beppu, Jepang yang menggubah lagu lo-fi ambient berbasis gitar dari puisi-puisi karyanya sendiri.

Terlepas dari anonimitas yang ia pilih dan pengakuan bahwa ia baru pernah tampil live sekali dalam acara peluncuran buku temannya, itu bukan alasan untuk tidak mengapresiasi musiknya. “Saya bermain musik dari SMP. Karena dulu saya pikir musik adalah hal yang cukup aneh—orang-orang berkumpul di sebuah ruangan untuk menonton orang lain memainkan bongkahan kayu yang terpasang senar,” cetusnya dalam email interview ini. Mendengarkan lagu-lagu seperti “Aku Akan Pulang Cepat Malam Ini”, “Sebelum Kau Tidur”, “Gipsy”, atau “Nanti” (dengan sisipan cover “Melati Suci” karya Guruh Soekarnoputra) yang mengajak kita melamun dalam lirik melankolis nan kontemplatif yang dijodohkan dengan petikan gitar lo-fi bernuansa dreamy dan haunting, semua lagu yang ia racik memang terdengar seperti rekaman intim seorang secret admirer yang romantis dan obsesif di saat yang sama. Begitupun saat menikmati “Foto-Foto Yang Kuambil Saat Merindukanmu”, lagu instrumental sepanjang hampir 5 menit yang terinspirasi dari film Tempting Heart karya Sylvia Chang.

 Menyebut musiknya sebagai Pop Kejawen, Aksop yang mengidolakan musisi Jeff Buckley, John Frusciante, dan Tom Waits juga pernah merendisi lagu anak-anak “Balonku” menjadi lagu sentimental berjudul “Wheresoever She was, There was Eden Part 1”. Untuk sekarang, mungkin kita memang baru bisa menikmati musiknya lewat SoundCloud, namun dengan segala potensi yang ia punya, we hope to see and hear more about him.

Debut EP
Mallaka debut EP (Barokah Records, 2015).

Hi Aksop, apa kabar? First thing first, apakah Aksop Aryaduit adalah nama asli atau hanya alias?

Halo! Kabar baik. Akhir-akhir ini sedang mencoba memahami Masha and The Bear tanpa subtitle. Saat ini tinggal di Jakarta dan belum bisa menyetir. Iya, itu nama asli yang diubah-ubah sedikit.

Apa cerita di balik nama Mallaka yang kamu gunakan untuk proyek ini?

Karena suka saja sama bunyinya dan biar tidak Java-centric juga. Dan ada seorang kenalan yang bilang (seingat saya ya) kalau sejarah Islam di Indonesia sangat terpengaruh Melaka—namun banyak dilupakan di sejarah tertulis Indonesia. Lalu belakangan, ada seseorang yang cukup penting bagi saya yang pernah ke Melaka, bilang bahwa di sana ada aura-aura nostalgic yang agak angker a la Peranakan-Tionghoa-Melayu (mungkin feeling-nya mirip seperti Semarang?). Dan saya selalu suka corak-corak Peranakan-Tionghoa-Melayu, entah kenapa.

Apakah memang dari awal kamu ingin anonimitas tetap menjadi bagian dari musikmu?

Tidak juga, cuma agak malu-malu saja.

Boleh cerita soal lagu “Wheresoever She was, There was Eden Part 1”?

Itu karena habis baca The Diary of Adam and Eve karyanya Mark Twain dan saya pikir daripada sekadar share soal bukunya begitu saja di social media, mungkin bisa juga nge-share lewat bentuk lagu.

Ada rencana merilis album atau single secara proper?

Kalau sudah ketemu orang yang mau jadi vokalis mungkin nanti akan dipikirkan!

Last, what’s your dream gig/collaboration/project?

Saya sangat berharap Pandu Priyanto, Arief Handoko, Anandya Kurniawan, dan Andrew Anggardhika untuk kembali ke Indonesia nanti dan bermusik di sini!

https://soundcloud.com/mallakapost

Advertisements

Winning Pitch, An Interview With SALES

Hampir mirip seperti prinsip ekonomi, duo indie pop SALES memproduksi musik yang terdengar seminimal mungkin untuk menghasilkan musik berkualitas maksimal.

Sejak pertama kali merilis single perdana bertajuk “renee” di akhir 2013 lalu, SALES yang merupakan kolaborasi dari dua sahabat lama Lauren Morgan (vokal/gitar) dan Jordan Shih (gitar/programming) telah mendapat apresiasi positif dan termasuk salah satu band yang paling banyak dibahas di blog walaupun belum merilis album apapun. Relaxed and intimate, duo asal Orlando, Florida ini meramu musik lo-fi pop minimalis berbasis gitar dengan unsur folk di mana vokal Lauren yang whispery mengalun ringan di antara aransemen memikat racikan Jordan. April lalu, mereka pun merilis sendiri self-titled LP perdana mereka secara DIY dengan 15 lagu di dalamnya, termasuk single seperti “ivy” serta “jamz” yang sangat adiktif dan terasa “penuh” di balik segala kesederhanaan musik yang mereka usung. Setelah menghasilkan sebuah timeless bedroom pop album terbaik yang kami dengar tahun ini dan menyelesaikan tur Amerika mereka, keduanya kembali ke Orlando untuk istirahat sejenak dan menjawab beberapa pertanyaan dari kami.

Jadi, bagaimana kalian pertama kali bertemu dan memutuskan untuk bikin musik bareng? Kami bertemu saat SMA dan musik menjadi mutual interest kami walaupun kami datang dari latar musik yang berbeda. Jordan memproduksi musik elektronik dari kamar tidurnya dan bermain tenor saxophone di marching band, sementara Lauren tumbuh besar belajar piano dan gitar. Kami telah berkolaborasi sekitar sepuluh tahun.

Apa cerita di balik nama band kalian? Orangtua Lauren bekerja sebagai sales people yang bekerja demi komisi. Mereka menjual macam-macam benda dari mulai permen, pasta gigi, obat-obatan, wine, teh, hingga herbal vape pens dan industrial oil/lubricant untuk menyebut segelintirnya.

Apa saja yang menjadi influens musikal untuk SALES? I think we are more so inspired by other artists, rather than influenced. Kami mencoba mendorong musik kami sejauh yang kami bisa. Kami selalu bingung menjawab pertanyaan ini karena kami mendengarkan banyak sekali musik dan tampil bersama banyak inspiring musicians both big and small. Menyebutkan hanya beberapa nama terasa tidak adil bagi kami.

Saya sangat menikmati LP kalian. Apa yang menjadi tema besar yang ingin kalian angkat di album ini? Thanks, we are glad you like it. Tidak ada tema khusus untuk album ini, tapi sejak pertama kali kami membuat musik, kami membagikannya ke teman-teman kami yang datang dan pergi seiring waktu. Kami hanya membuat musik yang ingin kami dengar, it is music to share with your friends. We recorded it all in an untreated bedroom studio. 

sales-lp

Kalau soal songwriting sendiri? Songwriting is collaborative, kami saling melengkapi secara kreatif dengan kompak. Jordan sangat teliti soal arrangement, aspek teknis dari rekaman, dan menemukan that million dollar baby moment dari 30 minutes long take. Lauren adalah penulis lirik dan gitaris yang cenderung improvisational. Pada akhirnya, jika kami tidak sepakat pada satu hal, kami akan mundur sejenak dan baru akan kembali menghadapinya dengan pikiran yang lebih jernih dan tenang. We usually can always reach understanding since we both just want what is best for the song.

Bagaimana kalian mendeskripsikan genre kalian? Apakah kalian terganggu jika orang menyebut musik kalian sebagai “twee”? We are okay with whatever label gets stuck on the project–labels happen and “twee” fills up our hearts. Musik kami sangat dipengaruhi oleh pilihan kami untuk tetap independen. We think our sound stands on its own, and isn’t what you’d expect.  

Untuk Lauren, adakah vokalis perempuan yang kamu kagumi? Tentu saja ada banyak sekali vokalis perempuan yang saya kagumi dan tidak bisa saya sebut satu per satu. Tapi ketika masih sekolah saya pernah mendapat tugas untuk presentasi soal Billie Holiday, she was an early inspiration for me.

Apa yang membuat kalian memilih Alana Questell untuk membuat artwork album ini? Alana telah membuat artwork dari mulai single pertama sampai LP kami. Artwork kolase yang ia buat sangat interpretif dan berdiri sendiri, terpisah dari musiknya sendiri. Like the songs, the artwork may mean something different to everyone– there is room for your story.

Boleh cerita soal skena musik di kota asal kalian, Orlando? We love it walaupun kami melihat banyak teman-teman musisi datang dan pergi. It is rough to have a scene when everyone is there temporarily. Tapi, selalu ada sesuatu yang terjadi, banyak orang dan venue yang menggelar show, festival, dan acara komunitas. We don’t really go out much though. Kami lebih sering menghabiskan waktu membuat musik, makan di restoran, masak di rumah, atau main tenis.

Bagaimana rasanya tampil live di panggung bagi kalian? Every night is unique with a different city and the same songs. Kami mencoba membuka diri kami ke crowd dan menampilkan show yang bagus. Jordan tidak terlalu excited soal tur (low key stage-fright), tapi dia belajar menghadapinya dan melakukannya dengan baik.

Apa yang menjadi career highlight sejauh ini? Our sold-out L.A. show at the Troubadour was one of the best shows we have ever played. We got late night dinner after the show in Thai town. We will never forget those feels. 

Apa yang kalian kerjakan di luar musik? Musik adalah full time job kami. Kami memilih untuk tetap independen dan melakukan semuanya sendiri dari menjawab undangan manggung, mengurus berkas pajak, merencanakan tur Eropa, dan tur Amerika kami berikutnya di bulan Oktober. We love making music, jadi kami akan terus melakukannya. Selain itu, Lauren hobi berkebun di rumah barunya dan main gitar sedangkan Jordan suka memasak dan mencoba menjadi the Prince of Tennis.

Karena ini Summer Issue kami, apa hal favorit dan rencana kalian untuk musim panas? Kami baru saja membatalkan sisa jadwal tur untuk musim panas agar kami bisa istirahat dan punya waktu untuk menyiapkan materi selanjutnya dan mengurus segi bisnis. SALES sedang tumbuh dan kami ingin meyakinkan diri jika kami juga bisa berkembang lebih jauh. Rencana kami untuk musim panas tahun ini adalah mempertajam LP kami, menambahkan elemen baru yang bisa kami pakai di live show, dan mencari Patbingsu di Orlando.

sales-band-2015-770x485

Follow SALES: https://sales.bandcamp.com/

Foto oleh: Carlos Quinteros Jr.

 

Mixtape: Sex Sux

sexsux

Terdiri dari sepasang suami-istri bernama Deni (vokal/gitar/harmonika) dan Melly (vokal/gitar/ukulele/keyboard) serta iPod untuk bunyi loop drum, aksi duo dari Bogor ini meramu musik indie pop berfidelitas rendah yang mengingatkanmu akan band-band seminal seperti The Vaselines, The Pastels, Beat Happening, dan Vivian Girls. “Awalnya gue nggak pernah mau seband sama pacar/suami, karena gue males kalau kehidupan personal kecampur aduk sama ngeband. Terus Deni ajak latihan, gue ikut, bawain lagu yang Deni tulis (“Catch Up”, “Frown”) dan lagu itu emang cocok banget buat Sex Sux. Hati gue mulai terpanggil, tapi gue bener-bener nggak mau kalo kita lagi ada masalah, band ikut terpengaruh (waktu itu kita masih pake drummer manusia), sehingga akhirnya kita putuskan, udah lah kita berdua bener-bener berdua aja. Kita tendang si drummer baru proyek ini bisa berjalan. Jadi kalo kita berantem, terus berpengaruh ke band, yang kena rasanya juga kita berdua doang. Hehe. akhirnya baru gue sepakat untuk ngejalanin Sex Sux. Pas awal-awal ngejalanin Sex Sux, gue lagi seneng-senengnya dengerin Vivian Girls. Mungkin secara musik nggak terlalu mempengaruhi sih. Tapi justru gue seneng ngeliat attitude mereka dalam band. Gue pengen ngejalanin band yang fun, bisa ngelakuin apa yang kita mau, pokoknya semua kita bikin fun aja,” ungkap Melly tuntas tentang cerita terbentuknya band yang namanya diambil dari salah satu judul lagu The Vaselines di album Dum Dum ini. Untungnya, unsur fun yang mereka idamkan itu berhasil ditampilkan dalam album debut mereka, Sing Along With Bananas, yang dirilis HeyHo! Records bulan April lalu. Berisi 10 lagu dengan tema-tema menarik seperti zombie, kucing peliharaan, sampai ubur-ubur, album ini dipenuhi singalong chorus dan reverb noise yang catchy. Pertanyaan terakhir, kenapa suka sekali kucing? “Kenapa orang nggak suka kucing?” Melly balik bertanya, “Bagaimana mungkin ada yang bisa menahan diri melihat muka yang lucu itu?” sambung Deni. Well said.

“Marathon”

Tennis

Sebenarnya lagu ini soal terjebak di badai pas mereka berlayar. Lagunya terlalu riang untuk dianggap lagu soal pertaruhan nyawa di tengah badai.  Namun, tetap saja lagunya secara keseluruhan asik buat diputar di luar rumah kalau cuacanya sedang bersahabat dan bikin kita ingin mencoba berlayar.

“Christmas Island”

Lake

Deni itu fans berat Adventure Time.  Berkat Adventure Time dia tahu lagu ini, dan menjadi salah satu lagu favorit.  Dia bahkan pernah seharian cuma muter lagu ini.  Lagunya sendiri mengajak kita bertualang dengan lirik seperti “Come along with me/ To a place beside the sea/ We can wander through the forest/ And do so as we please.”

“Meet Me In The City”

The Babies

Kita berdua pernah jalan-jalan keliling kota mutar album pertama The Babies yang ada lagu ini, on repeat di stereo mobil.  Boleh dibilang lagu ini jadi anthem jalan-jalan kita.

 

“Grass Skirt”

All Girl Summer Fun Band

Lagunya bikin ingin pakai grass skirt, ngambil ukulele, sambil nyanyi-nyanyi di pantai.

“Indian Summer”

Beat Happening

Calvin Johnson itu jenius.

“Fantastic Cat”

Takako Minekawa

Lagu ini mungkin tersegmen untuk pencinta kucing.  Kalau mendengar lagu ini kita inginnya selama liburan cuma di rumah dan main bersama kucing kesayangan. Ngeliat mereka cuma tiduran seharian itu sangat menyenangkan loh.

“I’m Drunk, How About You?”

Melting Bitches

Liburan itu waktunya membuang semua pikiran.  Lagu dari labelmates kita yang satu ini bisa menjadi buaian paling pol untuk membuang pikiran.  Literally.

“Tree Hugger”

Antsy Pants

Kita anggap ini adalah lagu terbaik untuk bermain gitar kopong depan api unggun.  Kecuali tentu bila teman kemping kita lebih memilih untuk nyanyi bareng lagu “More Than Words.”

“All The Time”

Vivian Girls

Pergi liburan itu perlu semangat ekstra.  Kita ngerasa lagu ini adalah the perfect pick-me-up buat memulai liburan.

“Party In The U.S.A.”

Miley Cyrus

Kita bukan jenis-jenis yang suka partying atau apalah, tapi setiap lagu ini keluar kita selalu ingin PARTYAnd the Miley’s song is on, nodding our heads like ‘yeah’.

 sexsuxtee

http://sex-sux.tumblr.com/

The Best Summer Ever, An Interview With Summer Camp

Bagaimana cara mengobati patah hati setelah ditinggal summer fling kamu? Coba dengarkan lagu-lagu Summer Camp. 

Rachel Berry di episode pertama Glee pernah berkata: “Being anonymous is worse than being poor.” Tapi bagi Jeremy Warmsley dan Elizabeth Sankey, dua musisi London yang membentuk Summer Camp, anonymity justru merupakan kemewahan tersendiri yang terpaksa mereka lepas saat lagu-lagu mereka terus mencuri perhatian para music blogger dunia. Proyek musik ini bermula dari bedroom project Jeremy, seorang multi-instrumentalist yang sebelumnya bergerak di genre folktronica, yang mengajak Liz temannya untuk mengisi vokal di lagu berjudul “Ghost Train”, sebuah lagu pop bernuansa 60’s girl group dengan viral video yang memakai footage dari film 80-an. Single itu juga yang menjadikan nama Summer Camp tercantum di setiap situs musik berpengaruh sekaligus membuat orang-orang penasaran tentang identitas mereka (awalnya mereka bahkan tidak punya foto publisitas dan malah mengirim foto polaroid dua orang yang sedang berciuman di pesta untuk artikel tentang mereka).

It’s easy to understand kenapa mereka bisa mendapat perhatian yang bahkan melebihi dari yang diharapkan. Di tengah menjamurnya boy-girl duo dengan musik nostalgic seperti Cults, Kisses, Big Deal, Minks, dan masih banyak lagi, Summer Camp mengambil influence dari film-film remaja Amerika tahun 80-an dan menggabungkan lo-fi, chillwave, sunshine pop dan synth pop yang terdengar manis dan ringan namun menyembunyikan lirik-lirik patah hati dan obsesi gelap di saat yang sama (“I’d make you love me so much that you’d ask permission to breathe” ancam Liz di lagu “I Want You”).

Sekarang, setelah beberapa single dan video menyusul, merilis satu EP berjudul Youth, dan tawaran manggung terus berdatangan, mau tak mau mereka mulai membuka diri terhadap media dan ternyata anggapan sinis yang mengatakan mereka hanyalah dua orang hipster yang sok misterius terbukti salah. They’re really nice folks yang bahkan masih mau menyempatkan membalas sendiri setiap email penggemar yang masuk di sela-sela tur Eropa untuk mempromosikan album debut mereka, Welcome to Condale, yang dirilis Moshi Moshi Records di hari Halloween kemarin. Via email, saya berbincang tentang album debut, rumor, dan film-film John Hughes favorit mereka.

Bagaimana ceritanya sampai kalian bisa bertemu kemudian membuat musik bersama?

Jeremy: Kami telah saling mengenal sejak lama. Suatu hari kami memutuskan untuk bersama-sama merekam satu lagu hanya dengan niat just for fun lalu mengunggahnya ke internet dengan nama samaran. Lagu itu kemudian ternyata mendapat respons sangat bagus dari blog-blog musik jadi kami memutuskan untuk melanjutkan proyek main-main ini. Kami berdua sangat senang bisa berada di band yang sama karena kami saling menutupi kekurangan satu sama lain dengan sangat baik.

Sebelum kalian membuka identitas kalian ke publik, apa gosip paling aneh yang sampai di telinga kalian tentang siapa orang dibalik Summer Camp?

Elizabeth: Kami pernah dikira Chris Martin dan Gwyneth Paltrow, haha!

Tolong ceritakan sedikit tentang proses rekaman album debut kalian

Jeremy: Ha, how nice to be asked! Prosesnya sendiri sudah lumayan lama jadi agak sulit untuk mengingatnya dengan detail. Let me see, yang saya ingat adalah menghabiskan berjam-jam di kamar tidurku yang sempit dan membuat lagu-lagu bersuara aneh, saya cenderung memasukkan suara paling aneh yang saya buat dan tidak pernah membuat sesuatu yang simpel jika saya bisa membuatnya rumit, haha. I’m still very proud of those days, saya bisa belajar banyak, tapi sekarang saya bersyukur bisa tergabung di sebuah band, I always wanted to be in a band!

Saya sudah mendengarkan kalian sejak single “Ghost Train” yang masuk ke kompilasi NME Radar, lalu kalian merilis EP dan sekarang kalian juga sudah mempunyai LP pertama kalian, apa yang kalian rasakan ketika telah berada di titik ini?

Elizabeth: It feels great, kami tak pernah menyangka akan sampai sejauh ini. Kami hanya senang membuat musik dan memainkannya di atas panggung, rasanya luar biasa saat hal itu menjadi pekerjaan utama kami sekarang.

Dimana Condale? Dan kenapa kalian memakainya sebagai judul album?

Elizabeth: Sebenarnya Condale bukan kota sungguhan. Condale adalah kota kecil yang ceritanya terletak di California. Semua lagu kami bertempat di sana, kami menyukai ide jika karakter-karakter di satu lagu dapat berinteraksi dengan karakter di lagu-lagu yang lain.

 

Apa influens terbesar untuk musik Summer Camp?

Jeremy: Wow, sulit untuk disebutkan dengan spesifik. Kami berdua menyukai film dan cerita bergenre coming-of-age seperti Freaks and Geeks, My So-Called Life dan film-film John Hughes. Kami juga menyukai banyak genre musik seperti Motown, Gracelands dan electronic.

So, apa film John Hughes favorit kalian?

Jeremy: We love them all. Mungkin Sixteen Candles karena humornya, Breakfast Club untuk dance scene ikoniknya dan Pretty In Pink karena tokoh Duckie. Ah, Duckie.

Di album ini ada lagu berjudul ‘1988’, apa yang kira-kira sedang kalian lakukan di tahun itu?

Elizabeth: Haha! Jeremy berumur lima tahun baru masuk sekolah di Venezuela, Amerika Selatan yang sama jauhnya dari Inggris dimana dia tinggal sekarang dengan Indonesia. Saya berumur empat tahun dan barangkali sedang makan..

Kira-kira suasana bagaimana yang paling tepat untuk mendengarkan album ini? Apakah kalian membayangkan situasi tertentu saat sedang membuat lagu?

Jeremy: Tidak juga, kami harap lagu-lagu ini bisa dipasang ketika orang ingin berdansa tapi juga saat mereka ingin santai mendengarkan musik sendirian di kamar. Seseorang bahkan pernah mengirim email dan memberitahu kami jika dia baru saja bercinta dengan diiringi lagu kami, which was weird! Haha

Dimana gig terbaik kalian sejauh ini?

Jeremy: Kami baru saja bermain di Oxford dan rasanya luar biasa! Show kami yang berkesan lainnya adalah di Bologna dan New York

Apa rencana kalian selanjutnya?

Elizabeth: Kami ingin suatu saat datang ke Indonesia untuk sebuah show! Lalu kami juga ingin mulai menulis untuk album berikutnya

 

http://www.wearesummercamp.com/

Pura Vida, An Interview With Las Robertas

“Pura Vida” yang berarti “pure/good life” adalah frasa paling khas dari masyarakat Costa Rica, negara asal Las Robertas. Frasa yang sama juga dengan tepat menggambarkan musik mereka. 

It was a typical day in San José, Costa Rica. Matahari bersinar cukup terik dengan angin yang sesekali bertiup di negara Amerika Tengah yang mendapat sinar matahari sekitar 2040 jam per tahunnya ini, cuaca yang membuatmu ingin pergi ke pantai untuk surfing atau sekedar berjalan-jalan. Namun, Monserrat Vargas, penduduk asli San José yang juga bassist dan vokalis trio Las Robertas, justru memilih menghabiskan harinya di dalam rumah dengan menonton film dokumenter Fugazi yang berjudul Instrument sambil sesekali berbincang dengan sang drummer, Franco Valenciano, tentang acara TV konyol yang baru-baru ini ditontonnya. “Kami bertemu sekitar 3 tahun lalu, Meche (Mercedes Oller, vokalis/gitaris) dan saya melihat Franco bermain dengan bandnya saat itu, kami sangat ngefans dengannya jadi kami mengajaknya bergabung di band baru kami dan dia bilang dia mau asalkan dia boleh tampil dengan memakai dress dan wig. We were totally fine with that.” ungkap Monserrat tentang sejarah terbentuknya band mereka.

Dengan referensi dari berbagai girl group, musik soul 60-an, musik ye-ye Perancis dan band-band 90-an seperti Black Tambourine, Sonic Youth dan The Breeders, mereka merilis Cry Out Loud, album debut berisi 10 lagu garage/noise pop/surf rock berbahasa Inggris dengan durasi singkat (kurang dari 4 menit) yang dipenuhi bebunyian fuzzy, nostalgic reverb. Monserrat dan Mercedes menepati janji mereka untuk membiarkan Franco tampil di gig-gig awal Las Robertas sebagai drummer cewek bernama Ana Maria, yang membuat banyak orang terkecoh dan mencap mereka sebagai all-girl band selayaknya Dum Dum Girls dan Vivian Girls, sebuah mispersepsi yang menjadi inside joke tersendiri tentang gender seperti halnya nama band mereka. “Meche yang memilih nama itu karena menurutnya nama Roberta terdengar maskulin dan feminin di saat yang sama. Dan dia sebagai seorang musisi tak ingin dipandang dari jenis kelaminnya saja.” jelas Monserrat.

“Kami tak terlalu memikirkan tentang apa yang ingin kami buat, kami hanya memainkan apa yang terlintas di kepala, karena itu kami tak bisa menyebut dengan tegas genre apa yang kami bawakan. Kurasa garage cukup mendekati, tapi does it really matter?” Monserrat balik bertanya saat saya menanyakan arah bermusik mereka. No is the clear answer, tak penting label apa yang orang lekatkan ke mereka, nyatanya berkat single-single seperti “In Between Buses”, “Ghost Lover” dan “Ballroom”, mereka tak hanya menjadi band yang dikenal di kawasan Amerika Latin. Tahun lalu mereka tampil di New York dan festival SXSW, diantara banyak kesibukan mereka lainnya. Franco yang kini tak lagi menyamar sebagai perempuan memiliki dua band lain, yaitu Zopilot dan Monte, Mercedes telah menyelesaikan studinya di jurusan Interior Design, sementara Monserrat tampil bersama The Great Wilderness, bandnya yang lain. Di awal tahun ini, mereka sedang kembali ke studio menyiapkan LP kedua mereka yang diharapkan bisa dirilis pada akhir bulan Maret dan sebuah tur Eropa.

Entah ini relevan apa tidak, mungkin kamu belum tahu jika Costa Rica sekarang memiliki seorang presiden perempuan pertama di sepanjang sejarahnya. Saya pun bertanya kepada Monserrat, apakah hal itu memiliki pengaruh terhadap dirinya sebagai seorang musisi perempuan di Costa Rica? Gadis cantik ini menjawabnya dengan lugas, “Tidak juga, kami tidak pernah melihat musik dari sisi gender. Kurasa menjadi musisi di Costa Rica sama beratnya bagi cowok ataupun cewek. Hal tersebut lebih tentang bekerja keras dan melakukan apa yang bisa kamu lakukan dengan kemampuanmu sendiri, tak peduli kamu cewek atau cowok.”

As published in NYLON Indonesia March 2012

Photo by Natalia Sanabria