Très chic, très hip, très sexy! An Interview With Mademoiselle Yulia

Tokyo’s It Girl, DJ, musisi, style icon, club queen, fashion & accessories designer, muse, kolumnis mode NYLON Japan… Mademoiselle Yulia telah mengantungi lebih banyak profesi dari yang bisa kamu bayangkan dari seorang wanita yang bahkan belum menginjak umur 30 tahun. Menyebutnya sekadar seorang multi-hyphenate adalah sebuah understatement, namun di luar segala label yang melekat pada dirinya, Mademoiselle Yulia tidak akan pernah puas mengeksplorasi dunia dengan style and sound personalnya yang nyaris tanpa cela. We want to know the secret, s’il vous plait

 img_3894

Di masa ketika siapapun bisa menjadi overnight celebrity dengan berbekal persona social media yang kuat dan jumlah follower sebagai currency untuk kepopuleran seseorang, istilah It Girl mungkin telah menjadi sesuatu yang sangat cair dan fleksibel. Begitu mudahnya kita beralih dari satu girl crush ke girl crush lainnya hanya dengan beberapa klik dan stalking di Instagram, it’s became everybody’s game at this moment. Tapi ada satu hal penting yang tak bisa ditutupi filter apapun dan membuat seorang It Girl tetap standout di antara ribuan It Girls lainnya, yaitu? The genuine talent and natural charms, tentu saja. For some people, setiap post yang mereka unggah di Instagram adalah full-time job yang membutuhkan effort besar demi the so-called “curated contents”, paid content, dan menarik lebih banyak followers. Namun, bagi sebagian orang lainnya, Instagram sebetulnya tidak lebih dari sekadar platform untuk membagikan sekelumit keseharian mereka yang jauh lebih seru in real life instead of URL. Mademoiselle Yulia termasuk golongan yang kedua.

            DJ, penyanyi, dan desainer asal Tokyo ini mungkin “hanya” memiliki 141K followers di akun Instagram @mademoiselle_yulia miliknya, jauh lebih sedikit dari katakanlah Kiko Mizuhara dengan 3, 4 juta followers-nya, namun sempatkan waktu untuk scrolling sekejap di feeds miliknya yang dipenuhi foto dirinya menghadiri berbagai acara fashion paling happening across the globe, entah itu duduk di front row sebuah fashion week, menjadi DJ di party untuk brands seperti Louis Vuitton, Sonia Rykiel, dan Chanel, memamerkan personal style-nya baik di red carpet maupun di depan lensa street photographers, or just chilling with her best friends yang meliputi Jeremy Scott, 2NE1, Virgil Abloh (style advisor Kanye West), dan Kiko; kamu akan paham jika dia sebetulnya memang orang yang lebih memilih berinteraksi di dunia nyata dibanding seseorang yang obsessively berkutat dengan smartphone setiap saat. “Sejujurnya saya tidak menganggap social media sebagai hal yang vital bagi kehidupan pribadi saya sehari-hari,” cetus wanita berumur 28 tahun ini. “Saya menggunakan social media seperlunya saja untuk berkomunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Tapi memang saya paling suka Instagram karena basically it’s a picture and you don’t need to say anything,” sambungnya.

Telah kembali ke Tokyo setelah kunjungan terbarunya ke Paris yang meliputi pemotretan untuk majalah yang kamu pegang sekarang, Yulia membalas email interview kami hanya beberapa jam sebelum final deadline kami, but its kinda forgivable mengingat aktivitasnya yang padat. “I’m DJ-ing a lot these days. Saya juga baru menggelar ekshibisi untuk koleksi Autumn/Winter 2016 brand baru saya, Growing Pains, bulan lalu. Jadi saya baru akan mulai memikirkan ide untuk koleksi berikutnya. Lots of new project this year,” ungkap Yulia soal aktivitasnya belakangan ini. Dengan segala kesibukan yang ia lakukan, Yulia mungkin tidak punya waktu untuk meng-update Instagramnya setiap saat, namun tak bisa dipungkiri jika Instagram juga yang memperkenalkan dirinya ke audiens global (termasuk Rihanna, but we will talk about it later), walaupun sejatinya Mademoiselle Yulia telah memiliki reputasi cult di kancah fashion dan musik electro Tokyo sejak dia bahkan belum lulus SMA.

img_3916

Bagaimana cara memperkenalkan Mademoiselle Yulia kepada orang yang belum familiar dengan namanya? Well, to put it simple, Mademoiselle Yulia adalah seorang fashion royalty di Tokyo yang terbiasa tampil di red carpet, front row, galeri foto street style paling bergengsi di sela-sela kesibukannya membuat musik J-pop dengan influens electro yang kental serta menjadi DJ di pesta-pesta paling eksklusif di dunia fashion. Namun seiring kamu membaca artikel ini, kamu akan tahu jika she’s way more than that.

Lahir dan besar di Tokyo, wanita kelahiran 10 Agustus 1987 ini memulai karier bermusiknya dengan menjadi vokalis dan gitaris untuk sebuah band berpersonel empat orang yang ia bentuk saat dia baru masuk SMA. “It was a punk band, saya banyak mendengarkan musik Barat, terutama punk, rock, new wave, post punk dari akhir 70-an sampai awal 80-an,” kenangnya soal band pertamanya yang mengambil inspirasi dari The Clash dan Kraftwerk tersebut. Tahun berikutnya, terinspirasi dari kunjungannya ke sebuah acara DJ night di London, Yulia mulai menggelar sebuah electronic dance party underground serupa di Tokyo dengan nama Neon Spread. Just like The Misshapes party di New York City ataupun acara Kitsuné di Prancis, acara tersebut dengan cepat menjadi party paling happening sekaligus ajang seen and to be seen para It Crowds setempat. “Saat masih di band pun saya juga telah banyak mendengarkan musik electro, terutama electroclash karena genre tersebut adalah perpanjangan dari musik-musik yang saya sukai (post punk dan new wave). So it was natural for me to start to listens electro music,” ungkapnya.

            Just like a rite of passage seperti yang dialami juga oleh para club queens seperti Leigh Lezark, Sarah Jane Crawford, Solange, dan Harley Viera-Newton yang tidak puas bila hanya berdansa di dance floor, langkah berikutnya yang dilakukan Yulia adalah menguasai DJ deck dan merilis mixtape. Di tahun 2008, Yulia melakukan debutnya sebagai DJ dengan kontrak bersama EMI Music Japan untuk merilis mixtape perdananya bertajuk Neon Spread dari lagu-lagu yang ia mainkan di acara tersebut dan sampai saat ini telah memiliki tiga volume. Seiring kepopulerannya sebagai DJ di berbagai event dan party, Yulia pun mulai berkolaborasi dengan tokoh-tokoh penting lainnya di skena electro dan hip-hop Tokyo seperti Plastics, Towa Tei, Shinichi Osawa, M-Flo, dan Teriyaki Boyz, serta Krazy Baldhead dan Uffie, dua musisi elektronik asal Prancis yang pada masa itu menjadi kebanggaan Ed Banger Records. Kedekatannya dengan rapper Verbal dari grup Teriyaki Boyz dan M-Flo sebagai kolaborator kemudian berlanjut ketika ia menjadi executive producer untuk album debut Yulia sebagai penyanyi elektronik. Dirilis pada bulan September 2011, album debut yang diberi judul Mademoworld itu mengantarkan nama Yulia ke ranah mainstream dengan sebuah world wide tour bertajuk “Angee Yung Robotz” untuk mempromosikan album berisi 12 lagu tersebut.

Mendapat apresiasi positif baik dari kritikus maupun penggemar musik berkat produksi yang slick, persona Yulia yang unik, dan beat yang adiktif, album ini juga dianggap memperkenalkan genre J-pop yang lebih universal dan mudah diterima ke telinga pendengar internasional. A kind of album you can bangin on with, terlepas kamu mengerti bahasa Jepang atau tidak. Single utama di album ini berjudul “Gimme Gimme” yang disutradarai oleh graffiti artist asal Prancis, Fafi, memperlihatkan Yulia with her glorious blue hair dan girl squad-nya berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya dengan visual aesthetic yang nyaris serupa seperti yang akan Madonna buat untuk video “Bitch I’m Madonna” empat tahun kemudian (Yulia lebih dulu merilis “Gimme Gimme” di tahun 2011). Selain kolaborasi dengan will.i.am dan Basement Jaxx serta membuatnya menjadi opening act untuk tur Jepang Kylie Minogue, kepopuleran Mademoworld juga menghasilkan sebuah show miliknya sendiri dengan nama yang sama di kanal musik Space Shower dan di tahun 2013 Yulia merilis album keduanya, Whatever Harajuku, dengan single “Harajuku Wander” dan musik video yang menunjukkan Yulia di habitat naturalnya di antara para fashion forward people Harajuku.

Fun and unexpected,” jawab Yulia singkat saat diminta mendeskripsikan personal style dirinya. It’s been long days sejak Gwen Stefani tergila-gila pada gaya Harajuku dan menjadikannya sebuah stereotipe klise dari giggling Japanese girls in wacky outfits, namun, di tangan Yulia sebagai the true native and role model, ia berhasil membawa street style kebanggaan Tokyo tersebut ke level selanjutnya yang lebih mature dan edgy dengan aesthetic yang terinspirasi dari pusat-pusat skena alternatif Tokyo seperti Harajuku, Koenji, dan Shimokitazawa yang merepresentasikan sense of style kota tersebut yang surreal. Tokyo’s street style is finally cool again. “I think fashion is the first passion karena saya tidak terlalu pandai mengekspresikan diri lewat kata-kata. Jadi bagi saya fashion adalah cara saya untuk mengekspresikan diri. Tapi sejak saya bergabung di band pertama saya, musik juga menjadi salah satu cara saya untuk berekspresi. Fashion dan musik, keduanya sangat berpengaruh dalam hidup saya,” tukasnya.

Dengan kepopuleran EDM yang menjadi salah satu genre paling besar di awal abad ini, whether you like it or not, DJ is the new rock star and fashion muses. Mademoiselle Yulia kebetulan termasuk salah satu DJ yang mampu memadukan style dan sound dengan sama apiknya. Diberkahi personal style eklektik dan kemampuan mix and match sesuatu yang unexpected menjadi kesatuan looks yang membuat iri fashion blogger paling berani sekalipun, Yulia mampu mengenakan pakaian paling ajaib dari runway dan membuatnya tetap wearable. Contohnya saat ia memakai gaun Chanel berwarna pastel dengan heels putih dan kaus kaki semata kaki atau memakai kimono sambil menenteng tas Gucci berdetail bunga. Dengan injeksi whimsical khas Harajuku, ia membuktikan dirinya sebagai the ultimate mix master, dengan atau tanpa turntable di sampingnya.

img_3871

Terima kasih untuk kemajuan teknologi, sense of style dirinya pun membuahkan legion of fans dari seluruh dunia, termasuk dari kalangan fashion insider seperti Jeremy Scott yang menjadikannya muse dan menjadi sahabat baiknya atau Stella McCartney yang memintanya sebagai representasi Tokyo untuk proyek “One City, One Girl” label miliknya di mana Stella McCartney herself memilih gadis-gadis paling keren untuk mewakili dan memperkenalkan kota mereka masing-masing. “Saya sejujurnya lebih aktif di malam hari karena pekerjaan sebagai DJ selalu dimulai saat larut malam, tapi saya selalu berusaha bangun sebelum jam 10 pagi. Saya memulai hari saya dengan meminum yoghurt,” jawab Yulia tentang bagaimana ia biasanya menjalani hari-harinya di Tokyo. Berkumpul dengan teman-temannya di daerah Harajuku, a little bit of shopping, lalu makan malam dan setelahnya pergi ke bar atau club adalah kegiatan favoritnya di kota kelahirannya tersebut. “Tokyo is really convenient and clean. Saya menyukai bagaimana mood kota ini berubah seiring pergantian musim. Tapi saya juga sangat suka London. Saya ingin tinggal di sana suatu hari nanti,” akunya.

            Dengan reputasi yang kian menanjak, maka tidak mengherankan jika Yulia pun bisa dibilang telah bertransisi dari local icon ke global stardom, membuatnya mendapat fans dari berbagai belahan dunia dari New York sampai Yunani dan membuka pintu sosial yang lebih lebar lagi baginya. Buktinya? Well, tampil sebagai cameo di video klip “The Baddest Female” milik CL dari 2NE1, duduk di front row Jeremy Scott di tengah Iggy Azalea dan Nicki Minaj, menjadi satu-satunya model Asia di kampanye global H&M yang bertema “H&M Loves Music”, dan mendapat sahabat baru, Rihanna.

“Saya bertemu Rihanna sekitar 3-4 tahun lalu di Paris. Saya pergi ke sebuah party bersama teman-teman saya dan ketika saya sedang berdansa seru di dance floor, tiba-tiba Rihanna melambaikan tangannya ke arah saya dan memanggil saya ke mejanya! Dia bilang, ‘I know you from Instagram and I love your style!’ Kebetulan kami berdua punya mutual friends seperti Jeremy Scott dan lain-lain, jadi dari situ dia menemukan saya di Instagram tapi sejujurnya saya sangat terkejut karena dia mengenali saya! Sejak saat itu kami pun berteman. Kalau CL, sebenarnya saya sudah kenal dia sejak sepuluh tahun lalu. Saya bertemu dengannya sebelum dia debut dengan 2NE1 karena saya berteman dengan stylist-nya.”

Setelah cameo-nya di video CL, ia pun diminta menjadi DJ untuk after party show Chanel Resort di Seoul dan berada di bawah naungan agensi model internasional IMG yang turut membantu popularitasnya di dunia fashion baik digital maupun real life. Namun, bahkan sebelum era social media pun, Yulia adalah sosok egnimatis yang dengan effortless menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. “Lewat social media, saya memang beruntung karena bisa bertemu beberapa orang yang mungkin tidak bisa saya temui sebelumnya, tapi untungnya, di lingkungan saya berkembang, bahkan sebelum adanya media sosial pun, saya punya banyak kesempatan untuk bertemu orang-orang seperti Jeremy Scott dan tim KTZ yang mengulurkan tangan mereka bahkan sejak saya baru mulai tampil sebagai DJ,” ujarnya.

Sama halnya dengan sikapnya pada musik, rasa cintanya kepada fashion juga tak berhenti sebatas sebagai konsumen. She needs to create something. Selain masih menjadi kolumnis tetap rubrik fashion miliknya sendiri dalam setiap edisi NYLON Japan selama delapan tahun terakhir ini, Yulia pun memiliki fashion brand sendiri. Brand pertama miliknya adalah Giza, sebuah label statement accessories yang ia buat di tahun 2008. Aksesori yang ia buat untuk label ini meliputi jewelry, tas, headwear, badges, dan t-shirts yang terinspirasi dari ancient Egypt dengan sentuhan pop art yang kental dan telah berkolaborasi dengan label-label streetwear terkenal seperti Wesc untuk Fall 2010 dan Joyrich, label kelahiran Tokyo yang kini berbasis di Los Angeles, di mana ia membuat kolaborasi bertema sport-luxe yang playful untuk koleksi Spring/Summer 2015 label tersebut.

Tak pernah berhenti berkreasi atau kekurangan inspirasi, bulan November tahun lalu, ia pun meluncurkan clothing brand terbarunya yang diberi nama Growing Pains dengan koleksi yang meliputi outerwear, patterned dresses, faux fur, dan latex skirts. “Saya terinspirasi dari berbagai macam pergerakan seni, baik itu dari musik, sinema, underground culture, dan movement dari seluruh dunia. It also celebrates bit of humor and every spirit of enjoying fashion as a self-expression. Musim pertamanya terinspirasi 90’s culture dan film Doom Generation, musim keduanya terinspirasi film-film Wong Kar-wai dari awal 2000-an,” terangnya soal label tersebut.

img_3965

 Fashion dan musik faktanya adalah yin & yang tak terpisahkan dari hidup Yulia, bahkan sejak ia masih kecil. Ibunya adalah seorang kimono dresser dan ayahnya adalah seorang hairstylist, so it’s definitely in her genes. “Saya sangat berterima kasih terhadap kedua orangtua saya karena walaupun mereka sangat strict tapi mereka selalu mendukung apapun yang ingin saya kerjakan. Mereka juga menyukai fashion dan musik,” ujar kolektor vintage Moschino dan Thierry Mugler ini. Sama seperti mayoritas anak perempuan Jepang, Yulia tumbuh dengan kecintaan terhadap benda-benda kawaii yang terus berlanjut sampai sekarang. Dalam sebuah feature dirinya di situs The Coveteur, kita bisa melihat kamarnya yang tidak hanya dipenuhi koleksi designer items, sneakers, dan barang-barang fashion saja, tapi juga pernak-pernik My Little Pony, Sailor Moon, dan kawaii things lainnya yang tertata rapi. “Saya mulai mengoleksi beberapa benda sejak kecil, tidak hanya kawaii things, saya juga mengoleksi boneka Barbie dan snow globes,” ungkapnya sambil menyebut compact powder Sailor Moon sebagai salah satu item wajib yang ada di tasnya, di samping dompet Celine, iPhone dengan cigarette case yang ia buat sendiri, lipstick Chanel, dan gummy bears merek Haribo favoritnya.

Hal yang menurutnya impossible bila ia harus memilih antara fashion atau musik, Yulia pun tidak bisa pergi terlalu lama dari dunia musik. 17 Desember lalu, ia kembali ke dunia musik dengan dua single terbarunya, “GOGO” dan “THIS WEEKEND” yang merupakan rilisan terbarunya sejak Whatever Harajuku. “Saya merekam kedua lagu ini bersama seorang beat maker teman saya yang tergabung di band bernama ANIMAL FEELINGS saat saya di New York. Ini adalah pengalaman pertama saya merekam lagu di luar Jepang. ‘GOGO’ is beautiful song with slow jam sedangkan ‘THIS WEEKEND’ memiliki little disco flavor dengan beat yang danceable. Saya ingin membuat lagu yang berbeda dari yang telah saya kerjakan sebelumnya dan kembali ke akar saya, which is playing with the band,” tegasnya. Stay true to her roots, kedua single ini tidak hanya dirilis secara digital, tapi juga dalam bentuk CD dan 7 inch vinyl record sebagai reminiscence dari masa yang telah lewat. “Tentu saja pasar musik digital juga telah besar saat saya membuat mixtape pertama saya, namun waktu itu orang-orang masih banyak yang membeli musik dalam format CD, but now… Not anymore. Tapi saya masih ingin membuat bentuk fisik untuk musik saya, karena itu saya juga merilisnya dalam format vinyl. Karena seperti yang kamu tahu, vinyl secara ironis menjadi sangat populer kembali di seluruh dunia,” terangnya.

img_3956

            Kedua single tersebut adalah perkenalan dari album terbarunya yang akan berjudul YULIA dan direncanakan rilis musim dingin nanti. Untuk sekarang, ia masih mengerjakan album tersebut sambil juggling every works in her hands with ease, namun berbeda dari prasangka orang, ia sebetulnya tidak menganggap dirinya sebagai seorang multi-tasker. “Yang saya sukai dari diri saya… Saya berusaha untuk stay true to myself baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Yang saya tidak sukai, saya tidak bisa memikirkan hal-hal lain ketika saya sedang fokus terhadap suatu hal,” akunya. Sebuah fakta yang cukup membuat terkejut jika kita menghitung semua kesibukan dan profesi yang ia jalankan secara bersamaan.

Fashion dan musik mungkin telah menjadi hal yang familiar dan semudah membalik tangan baginya, namun saya pun penasaran bidang apa lagi yang ingin ia eksplor berikutnya. Selain personal style, sebetulnya yang membuat sosok Yulia menarik adalah her flawless makeup and hair style. Seperti yang sudah disebutkan, ayahnya adalah seorang hair stylist dan Yulia sendiri pun memiliki license sebagai hair stylist. “Iya, saya punya license untuk hairdressing. Karena saya sempat ingin menjadi hair stylist atau makeup artist saat masih remaja. Saya sebetulnya masih berminat melakukan proyek yang berhubungan dengan beauty, mungkin membuat beauty products? Who knows right? Haha… Tapi kalau bisa memilih, saya sebetulnya ingin menjadi pramugari!” ungkapnya gamblang. “Saya ingin pergi ke Mesir, Turki, dan Maroko! Saya telah mengunjungi cukup banyak negara di Asia, Eropa, dan Amerika, tapi saya sangat tertarik untuk mengunjungi Afrika. Sedangkan Turki berada tepat di antara Asia dan Eropa. Jadi saya pikir budaya di sana akan sangat menarik,” sambungnya. How about Indonesia then? “I really wanna go to Indonesia!” jawabnya dengan excited sambil mengungkapkan keinginannya untuk bisa bertemu dengan penggemarnya di sini. A little bird told me, hal itu mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Jika saat itu tiba, persiapkan dirimu untuk mencari koneksi yang bisa membuatmu diundang ke acara yang sama dengannya. Untuk sekarang, at least you know more about her already from us, and yeah, you’re welcome.

img_3959

Fotografi: Yuji Watanabe.

Stylist: Stefanie Miano.

Makeup Artist: Vichika Yorn.

Hair Stylist: Jonathan Dadour (B Agency).

 

Influences: Mademoiselle Yulia

yulia

“Tokyo’s finest IT Girl” would be the perfect title for Mademoiselle Yulia. The 25-year-old Tokyo beauty became an icon on the city’s hippest scene thanks to her golden touch for every single thing she had done. Whether becomes a voclaist/guitarist of punk band when she’s just barely 14, a DJ and the creator of coolest underground party called Neon Spread when she’s on highschool, or a solo singer with debut album Mademoworld, one thing for sure, music always be her ultimate passion. Nevertheless, Yulia also pursue her other passion for fashion and art, with her endeavors as model, fashion designer, and a columnist for NYLON Japan. Inspirative and ultra cool, it will be exciting to know all the influences behind her works, don’t you think?

Hi Yulia, how are you? What are you doing before answering this email?
I was watching some youtube videos that my friend had sent me:
What first sparked your desire for music?   
I started a band when I was 14, and stayed in it until I was 17. I started DJing when I was 17, then started designing things at 19.
Tell me about your activities now whether its music, fashion, or your writing gig for NYLON Japan. 
Currently, I DJ, sing, and design accessories for GIZA. I also have a column at Nylon which has been going on for 6 years now, and I model on occasion as well. As for GIZA, it’s an accessories brand, however now we are collaborating with the clothing brand JOYRICH. Aside from our original accessories, we make T-shirts, sweatsuits, bags, sneaker, etc. I look forward to challenging myself in fields that I feel confident in, that also has a demand in the market.
giza
You’ve always worn a stylish stage outfits, who’s your favorite designer and why? 
I have so many that they won’t fit on this page.
 What was the first gig/concert you ever went to? 
I remember being taken to an Eikichi Yazawa concert by my dad when I was three. The first show I went on my own was during my first year in middle school for Summer Sonic.
How would you describe the feeling you get now when you go onstage? 
My main goal is to allow people have fun and enjoy my music, which makes me nervous when I go on. To think that they are having fun while I play makes it fun for me as well.
Who are your style icons? 
I can’t think of any.
First record you reach for when you need to be cheered up? 
QUEEN KYLIE
Kylie-Minogue
Best nonmusical influences? (movies/books/stuff) 
My mother was a big influence on me as far as film and books. And Gilbert and George’s works. Pierre et Gilles’ photography also influenced me since I used to look at their photographs when I was a child, and was influenced by their colors, clothes, set designs, among other things. As for movies I’ve seen most of the films that Eiko Ishikawa had worked on. I’ve also been influenced by animations, manga, and toys. Sailor Moon, Ninja Turtles, Versailles Nobara, Barbie dolls, etc. from when I was a child.
sailormoon
What artist whom you never got to see perform would you love to have seen? 
BEYONCE !!!!!
 If you could collaborate with anyone, who would it be? 
 
As an artist, A$AP ROCKY!! Sailor Moon, VERSACE, Barbie, olly pocket, etc.
Asap
What advice do you have for girls who want to get into music? 
When I was in a band, I didn’t think that I would end up becoming a DJ. I also didn’t expect to be DJing this long when I first became one. I also didn’t expect to become a singer. At the time, I studied what I wanted to do and somehow pulled it off. I think the important thing is to try.
 Next project? 
The plan is to release my 2nd album sometime in April. Also, the 2013 S/S collection for JOYRICH x GIZA has just been released. The original GIZA accessories will be up on the website soon.
Please come to Indonesia some day! 
I really want to visit some day!
Mademoiselle Yulia’s Mixtape:
MIA – BAD GIRLS (SURKIN RMX)
The original song is awesome, but I love the intro to this track.
A$AP Rocky – Goldie
 
I love A$AP Rocky. I like his music, as well as his fashion side.
GO HARD / Kreayshawn
 
Recently, I’ve been visiting LA a lot and have felt a certain energy from the women.
 GRIMES / Oblivion
I like her voice. When I saw live footage of her, I was impressed because she could sing there by herself and looked like she was really having fun.
EVERYBODY DAZ / BROOKE CANDY
I saw her DJ at a bunch of different parties in LA so I was curious about her. Apparently she has been featured in I-D Magazine.
Riot Rhythm / Sleigh Bells
It sounds like punk but it also has a soothing feel to it.
Snapbacks & Tattoos (Original Mix) / Driicky Graham
I play this a lot recently when I DJ.
WIZ KHALIFA / Black and Yellow (feat. T-Pain)
 
I like the way Wiz Khalifa dresses, and am also a big fan of Snoop Dogg so I am checking them both out.
Werkin’ Girls (Son Of Kick Rmx) /Angel Haze
I like her rap because it sort of sounds like Grime, and because there aren’t a lot of female rappers that sound like her.
ZODIAC GOLD
This is my song from my last album, which was used for the JOYRICH x GIZA video for this season.

Cool Japan

Jepang boleh saja dihempas Korean Wave atau bahkan Tsunami, namun scene musik Jepang selalu mempunyai tempat tersendiri di peta musik internasional berkat eksplorasi visual dan sounds yang mendobrak batas. Berikut adalah nama-nama yang mengibarkan kembali slogan Cool Japan.

Trippple Nippples

Sangat sulit untuk menjelaskan musik Trippple Nippples. Coba bayangkan saja tiga orang gadis Jepang bernama Yuka Nippples, Qrea Nippples dan Nabe Nippples yang bernyanyi dan bergoyang liar diiringi musik gabungan electropop dan dance punk yang dimainkan dua pria Australia dan satu pria Amerika yang tak kalah lantangnya. Fast and furious saja tidak cukup untuk menjelaskan penampilan mereka yang seperti ledakan acid di pesta sekolah seni paling seru dan paling absurd. Saya pertama kali mengetahui eksistensi mereka saat menonton seri dokumenter Tokyo Rising dari label sepatu boots terkenal Palladium, di mana Pharell Williams datang ke Tokyo sebagai host dan menyusuri creative industry Tokyo pasca tragedi gempa bumi dan Tsunami yang melanda Jepang bulan Maret tahun lalu. Di video itu (you still can watch it on YouTube, by the way), saya melihat aksi mereka di sebuah klub dengan mengenakan kostum handmade (beberapa kostum yang pernah mereka pakai meliputi spaghetti basi, bulu ayam hingga lumpur) juga body painting dan membuat semua penonton, termasuk Pharell, ikut berjingkrak kesetanan. Tak hanya Pharell, grup elektronik legendaris Devo pun terpincut dan mengajak Trippple Nippples menjadi opening act dalam US Tour mereka. Mendengar lagu-lagu energetik  seperti “LSD”, “Quetzalcoatl” atau “Cavity” (yang bercerita tentang seorang cewek yang menggosok gigi dengan lollipop dan berkumur dengan Cola), kamu hanya punya dua pilihan: terbengong karena takjub atau ikut berdansa seperti orang gila, which is the more fun option, obviously.

 

Mademoiselle Yulia

Istilah It Girl mungkin tidak terlalu familiar di Jepang, tapi jika ada satu cewek Jepang yang berhak menyandangnya, maka dia adalah Mademoiselle Yulia. Gadis berusia 24 tahun ini sudah membuat pesta-pesta underground paling hip di Tokyo sejak masih duduk di bangku kelas 2 SMA, termasuk pesta electro DJ legendaris bernama Neon Spread di tahun 2005 sepulangnya ia dari Inggris dan merilis mixtape bernama sama yang berisi lagu-lagu electro yang dimainkan di event itu. Sejak saat itu ia menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam club scene Jepang berkat kontribusinya sebagai MC, DJ, penyanyi juga style icon yang terkenal dengan rambutnya yang dicat biru (dicat sendiri olehnya yang sempat belajar di sekolah tata rambut) dan edgy wardrobe (mulai dari Jeremy Scott sampai baju vintage yang di-customize sendiri), jauh sebelum Lady Gaga terkenal. Saat ini, di antara berbagai kesibukannya yang meliputi menjadi kolumnis NYLON Japan, mendesain aksesori berdesain rockabilly dengan label Giza dan berkolaborasi dengan banyak musisi andal seperti Towa Tei, Uffie, Verbal, Teriyaki Boyz, termasuk yang paling terbaru dengan will.i.am di lagu “Blow Your Mind”, Yulia merilis album debutnya berjudul Mademoworld dengan single “Gimme Gimme” yang catchy dan video klip keren buatan seniman terkenal asal Perancis, Fafi. Dengan tur dunia bertajuk Angee Yung Robotz dan tampil di berbagai media style berpengaruh seperti Vice, Vogue dan NYLON, she’s more than ready to rule your world.

Nisennenmondai

Jepang punya sejarah panjang tentang girl band, yang bisa ditelusuri mulai dari Shonen Knife, The 5.6.7.8’s, Stereopony hingga The Suzan yang memainkan musik dengan pesona tersendiri dan skill yang tak kalah keren dari para musisi pria, namun trio perempuan Tokyo bernama Nisennenmondai mempunyai bekal yang lebih dari cukup untuk membawa fakta itu ke level selanjutnya. Masako Takada (gitaris), Yuri Zaikawa (bassist) dan Sayaka Himeno (drummer) membentuk Nisennemondai yang namanya diambil dari istilah Jepang untuk “Y2K bug” sejak tahun 1999 dan telah merilis tujuh album hingga saat ini. Melihat penampilan mereka yang tampak malu-malu khas perempuan Jepang, mungkin kamu tak akan menyangka jika mereka adalah maestro dalam hal meracik musik Japanoise dengan influens post-rock dan bebunyian eksperimental yang menari di garis tipis antara harmoni dan pure chaos. Walaupun tidak terlalu tertangkap radar media mainstream, berkat lagu-lagu instrumental garda depan seperti “Destination Tokyo”, “Sonic Youth”, “Ikkkyokume” dan “This Heat”, mereka sukses menjadi cult tersendiri di kancah internasional. Band ini pernah tampil sebagai opening act untuk Battles, Hella, Thurston Moore dan No Age serta menghiasi headline berbagai festival seperti Death By Audio di Brooklyn, Roskilde Festival di Denmark dan juga tur ke berbagai negara Eropa.

Kyary Pamyu Pamyu

Kiriko Takemura awalnya hanya satu dari ratusan anak SMA Jepang yang senang hangout di Harajuku, tempat di mana mereka bisa memakai pakaian seaneh mungkin tanpa resiko dihujani pandangan aneh dari orang-orang sekitar, namun ada suatu “Faktor X” dalam wajah imut dan personality-nya yang mengundang para fotografer street fashion untuk membidiknya sebagai model majalah mereka dan menjadikannya idola lokal tersendiri dengan nama Kyary Pamyu Pamyu. Tidak butuh waktu lama, popularitasnya terus naik ke skala yang lebih luas berkat blog pribadinya yang penuh tulisan menarik dengan bahasa slang bikinannya sendiri dan merilis koleksi bulu mata palsu rancangannya. Next thing she know, di usianya yang ke-18 tahun dia dikontrak Warner Music Japan dan menjadi penyanyi pop Jepang paling menarik saat ini dengan merilis single-single SUPER catchy (ya, saya harus meng-capslock kata itu) seperti “Cherry Bon Bon”, “Candy Candy” dan terutama “PonPonPon”, lagu bernada adiktif dengan video yang menjadi international hit di Youtube dan iTunes. Setelah merilis album debut Moshi Moshi Harajuku dan otobiografi Oh! My God! Harajuku Girl, Kyary sempat pergi ke Amerika Serikat untuk penampilan perdananya di luar negeri dengan tampil di Culver City dan membuat kita kembali terpesona dengan gaya street style Harajuku yang fantastically weird. Saya pun berpikir sendiri, mungkin kah Kyary pergi ke Amerika untuk mengambil kembali tahta Harajuku Princess dari tangan Gwen Stefani? Well in the mean time, kamu bisa melihat videonya di YouTube dan bersiaplah menekan tombol replay berulang kali.

White White Sisters

Jangan tertipu dengan nama band ini, pertama: Yuya Matsumura (vokalis/gitaris/programmer) dan Kazumasa Ishii (drummer) bukan perempuan kakak beradik, dan kedua: walau sekilas nama mereka terdengar innocent, nyatanya dua pemuda Nagoya ini memainkan electro-rock dengan elemen industrial yang mengingatkanmu akan era terbaik Nine inch Nails dan Boom Boom Satellites. Well, gaung musik industrial memang telah lama pudar, namun Kazu dan Yuya membawa daya tarik tersendiri ke genre ini berkat gabungan bunyi instrument organik dan digital, di mana Kazu menggebuk drumnya seakan tidak ada hari esok dan Yuya mencabik gitarnya sambil menyanyikan lirik berbahasa Inggris dengan efek loop dan vocoder (bayangkan saja Daft Punk bertemu Trent Reznor) yang terdengar di lagu-lagu seperti “Wasted”, “Spica” dan “Imperfect Conflict” dari EP mereka, [euphoriaofeuphobia] yang juga dirilis di Amerika Serikat. Dengan live performance yang selalu didukung visual mapping oleh VJ dan Art Director Kouta Tajima, duo ini berhasil memukau penonton di Summer Sonic, Canadian Music Week dan SXSW.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Foto Trippple Nippples oleh Cedric Diradourian. Mademoiselle Yulia oleh Kazunobu Yamada. Nisennenmondai oleh Kim Hiorthoy. Kyary Pamyu  Pamyu oleh Natalie. White White Sisters oleh Sachie Kimura.