Film Strip: Fatal Frame & Parasyte

Beberapa pekan terakhir ini saya berkesempatan menonton dua film asal Jepang yang dibawa oleh Moxienotion ke Indonesia. Keduanya merupakan live action dari game maupun manga yang sudah terkenal. Berikut adalah catatan kecil saya tentang keduanya.

Fatal FrameFatal Frame (Gekijoban: Zero)

Sutradara: Mari Asato.

Diangkat berdasarkan novel karya Eiji Otsuka, Fatal Frame telah lebih dulu dikenal sebagai seri game mystery supernatural ikonik dengan plot seorang gadis remaja Jepang yang menggunakan sebuah camera obscura untuk menghadapi hantu dan memecahkan kejadian misteri. Disebut sebagai salah satu game horror terbaik berkat storytelling yang brilian dan sinematografi yang kuat, game Fatal Frame kental akan misteri, suspense, dan teka-teki yang akan membuatmu penasaran dan tersedot dalam alur ceritanya. Unsur itu pula yang terasa dalam film adaptasi garapan sutradara Mari Asato ini.
Berlatar sekolah Katolik khusus perempuan di sebuah bukit di daerah pedesaan Jepang yang dipenuhi gadis-gadis sekolah berpakaian seragam hitam dan desas-desus tentang sebuah ritual serta kutukan yang hanya menimpa anak gadis, Fatal Frame menceritakan tentang Aya (diperankan oleh model remaja Ayami Nakajo), seorang gadis cantik bersuara indah yang dihantui bayangan seorang gadis mirip dirinya yang tenggelam dalam air dan memohon untuk dibebaskan dari kutukan yang menimpanya. Gadis yang populer dan memiliki banyak pengagum ini pun mengurung diri di kamarnya dan membuat teman-temannya cemas. Kejadian aneh mulai muncul ketika seorang siswi bernama Kasumi (Kasumi Yamaya) melakukan ritual tengah malam dengan mencium foto wajah Aya dan menghilang tanpa jejak ketika berjalan di hutan bersama temannya, Michi (Aoi Morikawa). Michi, gadis penggemar fotografi tersebut menemukan foto Aya di kamar Kasumi dan mulai dihantui oleh sosok mirip Aya yang memohon dibebaskan dari kutukannya. Tak butuh waktu lama, kutukan tersebut menyebar ke seluruh sekolah dan semakin banyak siswi yang menghilang dan ditemukan meninggal di sungai seperti lukisan Ophelia karya John Everett Millais yang tergantung di ruangan suster kepala. Bertekad untuk mencegah lebih banyak korban, Aya pun keluar dari kamar dan mengajak Michi untuk bersama menyelidiki misteri tentang sesosok arwah yang menyerupai dirinya dan rahasia gelap yang tersimpan di balik dinding sekolah tersebut.

FatalFrame2
Film ini sendiri memang menyajikan cerita tentang ritual, exorcism, dan pembunuhan yang menjadi tema besar dari serial game Fatal Frame, namun kamu tak akan menemukan adegan penuh darah atau penampakan yang akan membuatmu terlonjak dari kursi. Sutradara Mari Asato menghadirkan atmosfer creepy lewat kamera film 16mm dan tensi cerita yang dibangun oleh suasana kelam di sudut-sudut sekolah merangkap katedral, hutan berpohon tinggi, danau penuh teratai, dan jalanan kota kecil. You can almost feel the eerie chill, bahkan di adegan siang bolong sekalipun. Tanpa adanya keterangan tentang latar waktu dan tempat yang spesifik, nuansa klasik dan konservatif di film ini pun mengaburkan batas antara realita dan fantasi. Lebih dari sebuah cerita horror, dengan banyak referensi dan simbol yang terkandung dalam setiap detailnya, Fatal Frame juga mengusung tema besar tentang cinta terlarang dan coming of age story tentang fase dari gadis remaja yang menuju kedewasaan. Ethereal dan delicate seperti The Virgin Suicides bertemu dengan The Crucible, film ini dengan anggun menghadirkan plot misteri berkualitas dan narasi visual yang cantik.

parasyteParasyte: Part 1 (Kiseiju)

Sutradara: Takashi Yamazaki.

Film Jepang garapan Takashi Yamazaki ini diangkat dari serial manga horror sci-fi legendaris berjudul sama karya Hitoshi Iiwaki. Bercerita tentang invasi entitas misterius yang muncul dari dalam laut dan secara serentak mulai melakukan rencana mereka menguasai dunia dengan cara mengambil alih tubuh manusia sebagai host. Salah satu parasit tersebut tiba di kamar seorang anak SMA bernama Shinichi Izumi (Shota Sometani) dan berusaha masuk ke lubang telinganya saat ia tertidur. Lucky for him, dia sedang memakai earphone. Parasit berbentuk seperti cacing itu pun berusaha masuk melalui hidung Shinichi namun lagi-lagi gagal karena ia terbangun dan melakukan perlawanan sebelum akhirnya parasit itu menembus telapak tangan kanannya dan berdiam di situ.
Awalnya Shinichi merasa tidak ada yang aneh selain tangan kanannya yang mati rasa, namun perlahan tangan kanannya mulai bergerak dengan sendirinya. Next thing he know, tangan kanannya bisa memanjang dan berubah bentuk dengan sendirinya, sebelum akhirnya muncul bola mata dan mulut yang memperkenalkan dirinya sebagai parasit. Parasit yang kemudian dipanggil dengan nama Migi (tangan kanan) ini pun berdialog dengan Shinichi dan menunjukkan rasa haus akan ilmu pengetahuan dan apapun yang menyangkut tentang spesies manusia. Sementara itu di berbagai tempat lain, parasit yang berhasil mengambil alih otak host-nya mulai meneror manusia dengan cara memakan manusia lain sebagai sumber nutrisi dan menjalankan misi untuk menghapus umat manusia dari bumi ini sebagai reaksi dari kerusakan alam. Beberapa dari parasit tersebut yang lebih pintar mulai beradaptasi dengan cara menyamar sebagai bagian dari masyarakat. Mulai dari polisi, murid sekolah, politikus, dan salah satunya menjadi guru di sekolah Shinichi. Parasit yang mengambil alih tubuh seorang wanita bernama Ryoko Tamiya (Eri Fukatsu) tertarik kepada anomali simbiosis antara Shinichi dan Migi. Pertemuan dengan Ryoko membuahkan rentetan peristiwa yang memaksa Shinichi dan Migi untuk bekerjasama bertahan hidup dari serangan Parasyte lain dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh Shinichi dan orang-orang terdekatnya sebelum akhirnya bereskalasi menjadi perang antara alien dan manusia.
Terlepas dari premis invasi alien dan body snatcher horror, film ini sendiri menawarkan visual sinema Jepang yang subtle dan akting mengesankan dari para pemainnya. Secara halus, sang sutradara berhasil menunjukkan transisi dari adegan sekolahan yang hangat berbumbu light comedy menuju thriller yang semakin gory dan kelam dengan tema seperti degadrasi lingkungan dan family dissolution. Semuanya dilengkapi oleh adegan laga dengan efek CGI yang smooth dan beberapa kali membuat saya menahan napas atau berdecak kagum. Film ini sendiri adalah bagian pertama yang akan dilanjutkan bagian kedua yang akan dirilis April nanti di Jepang. One thing for sure, you don’t have to read the manga beforehand to enjoy this movie, saya merekomendasikan film ini untuk yang suka pada film-film seperti The Faculty dan The Host.

Parasyte2

Art Talk: The Peculiar Illustrations of Anwita Citriya

Anwita Citriya

For some people, once they start drawing, they’ll never stop. Sama seperti natural-born artist pada umumnya, Anwita Citriya telah mulai menggambar sejak sejauh yang dia bisa ingat. “Bagi saya ilustrasi adalah cara untuk mengekspresikan pemikiran dan ide karena saya tidak pandai berkata-kata. Saya mulai membuat lebih banyak ilustrasi sejak tahu banyak orang mengapresiasi karya saya. Feedback dari mereka juga membuat saya terus ingin lebih baik lagi,” ungkap gadis kelahiran Bandung 22 tahun lalu yang kini masih menginjak semester 7 jurusan Desain Interior di Binus University tersebut. Mengidolakan para ilustrator perempuan seperti Audrey Kawasaki, Amy Judd, Ykha Amelz, dan Amna Oriana, “misterius” menjadi kata yang biasanya terlintas ketika kita melihat karya ilustrasinya yang didominasi warna hitam dan putih serta beberapa warna pastel yang terkadang ikut menyemburat. Gaya ilustrasinya sendiri memang kental dengan pengaruh manga, namun ia juga memiliki sumber inspirasi lain dari novelis Jepang favoritnya, Haruki Murakami, yang dikenal dengan cerita surreal dan rasa melankolis yang dreamy. Hal yang sama juga terasa dalam ilustrasi Citriya, there’s some certain floating and sentimental mood about it that make us want to go deeper to know her.

Anwita2

How do you usually introduce yourself?
I’m Citriya, a girl who draws and day-dream a lot.

Apa medium favoritmu dalam berkarya?
My favorite medium is pencil and watercolor. Sometimes I use acrylic paint too.

Hal apa saja yang biasanya menjadi inspirasimu?
It can be anything. Mulai dari baca buku, listening to some new songs, jalan-jalan sore, getting lost or just sit in a coffee shop mengamati orang lalu-lalang. Sometimes inspiration comes when you least expect it.

Anwita7

Do you believe in creative block? Kalau iya, bagaimana caramu untuk mengatasinya?
I do. When I’m stuck with no inspiration at all, the best thing to do is just to stop drawing.
Usually I’d bring one book, go to a nearby coffee shop and find myself a quiet nook to read for hours. But if I’m too lazy to go out I’d surf the net to find some new, weird, unusual things for inspiration. Pinterest and Tumblr are the two sites i frequently use.

Anwita4

Sejauh ini project apa yang paling berkesan untukmu?
Mungkin untuk melukis, proyek pertama saya yang paling berkesan. Saat masih di bangku SMP saya pernah diminta melukis background panggung untuk acara sekolah. It’s not big or anything, tapi rasanya bangga aja. Setelah itu saya dan teman saya selalu dipercaya untuk jadi tim dekorasi setiap kali sekolah mengadakan acara. It was fun.

Musik apa yang biasanya menemanimu saat berkarya?
It depends on the mood, but mostly I listen to instrumental or indie music. Like The Cinematic Orchestra’s “Arrival of the Birds & Transformation” or Agnes Obel’s “Philharmonics.”

Apa saja kesibukanmu saat ini?
Right now I’m doing internship in an interior design company.

Anwita5

Apa kegiatan yang suka kamu lakukan bila tidak sedang berkarya?
Read mangas and blogs, do a movie marathon or play the piano.

What’s your current obsession?
Human psychology and mythical beings. I find them really intriguing.

You love Haruki Murakami a lot, apa quote-nya yang paling berkesan untukmu?
“Your work should be an act of love, not a marriage of convenience.”

Anwita1

What’s the next project from you?
Well… Me and my friend are developing a project and it’s related to fashion. I’ll be doing some illustrations and hopefully it goes as planned. Fingers crossed!

http://instagram.com/anwitacitriya

Anwita6