Java Soundsfair 2014, Sebuah Festival Musik Lintas Batas.

Hampir satu dekade terakhir ini, Java Festival Production (JFP) lewat berbagai festival musik berkelas internasional seperti Java Jazz Festival (JJF), Java Rockin’land (JRL), dan Java Soulnation Festival telah menjadi salah satu motor penggerak gairah publik untuk datang ke festival musik sekaligus membawa iklim positif bagi industri musik dalam negeri dan membangun kepercayaan musisi luar negeri untuk tampil di Indonesia. That’s why I actually quite sad ketika belakangan JRL yang merupakan salah satu festival musik lokal favorit saya terasa agak tertatih-tatih dan bahkan urung digelar. Namun, bukan berarti JFP patah arang dan hanya berpangku tangan saja. Tahun ini mereka melakukan gebrakan baru dalam bentuk Java Soundsfair, sebuah festival musik lintas genre yang, in a nutshell, bisa disebut sebagai gabungan dari JRL dan Soulnation. Bertempat di Jakarta Convention Center (JCC) dari tanggal 24 sampai 26 Oktober silam, festival yang memiliki 9 stage dan menghadirkan 90 performer dari dalam dan luar negeri ini merupakan festival musik dan art all indoor pertama di Indonesia. Atas undangan dari Maverick yang mewakili Sampoerna A sebagai salah satu sponsor Java Soundsfair 2014, saya berkesempatan hadir dalam perhelatan perdana ini.
Day 1

WP_20141024_017

Selesai jam kantor saya langsung menuju JCC dan ketika sampai, terlihat crowd sudah memadati area masuk venue. Yang menjadi highlight untuk hari pertama ini adalah Magic! band asal Kanada yang sedang hype dengan single “Rude” yang merajai frekuensi radio. Namun jujur saja, salah satu tujuan utama saya hari ini adalah Sophie Ellis-Bextor, biduan cantik asal Inggris yang terkenal dengan lagu-lagu disco pop seperti “Take Me Home” dan “Murder On The Dancefloor”. Tampil di stage utama Plenary Hall, Sophie muncul dengan dress merah dan sepatu dance berwarna silver metalik. Ia membawakan lagu-lagu dari album terbarunya, Wanderlust, yang terdengar berbeda dari album-album sebelumnya. Di album ini Sophie mengubah haluan ke arah baroque pop dan folk yang kental dengan unsur orkestra. That’s why penampilan Sophie kali ini juga dilengkapi dengan dua orang violinist. Menjelang setengah jam terakhir penampilannya, Sophie mundur ke belakang panggung dan muncul lagi setelah berganti kostum dengan dress hijau semi transparan yang membuka sesi disco time with her signature dancey songs.

Setelah penampilan Sophie saya mampir ke sebuah sudut dekat salah satu pintu keluar yang menjadi area untuk Refresh Lounge, sebuah lounge yang disiapkan oleh Sampoerna untuk memperkenalkan tampilan baru A Mild Menthol. Sesuai namanya, di lounge khusus 18+ ini, para pengunjung Soundsfair dapat mengikuti aktivitas yang refreshing, seperti menata rambut di Refresh Your Look corner, menggunakan mesin pijat di Refresh Your Body corner, atau mengambil minuman-minuman menyegarkan seperti juice dan fruit popsicle gratis di area barnya. Tak hanya itu, Refresh Lounge juga menawarkan pembuatan merchandise customized pouch yang difasilitasi oleh Maja Esa Indonesia di mana pengunjung bisa membawa pulang pouch hasil kreasi mereka sendiri.

GAC 3 GAC 2 GAC 1

Puas refreshing, saya menuju ke A Create Stage untuk menyaksikan duo elektronik Bandung, Bottlesmoker. Selain menampilkan pertunjukan band-band indie terkenal seperti Sore, Rock N Roll Mafia, dan Bottlesmoker, A Create Stage juga menampilkan hasil karya pemenang Go Ahead Challenge 2014 di salah satu sudutnya. Sebelumnya, dua pemenang Go Ahead Challenge tahun ini yaitu Sylvester Suwandy (Syl) dan I.G. Aditya Bramantya (Bram) mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan tim Tex Saverio dalam mempersiapkan Paris Fashion Week di Jakarta dan Paris dan bekerja sama dengan fotografer fashion profesional Prancis bernama Michel Dupre yang hasil karyanya dipamerkan di A Create Stage Soundsfair 2014. Penampilan seru lainnya dalam hari pertama Soundsfair yang meliputi Tokyo Ska Paradise, Asian Dub Foundation, Morfem, dan Jakarta Techno Militia menjadi penutup dari hari pertama festival yang menyenangkan ini.
Day 2

WP_20141025_011

Hari kedua Soundsfair dimulai lebih awal dari hari sebelumnya dengan Maliq N D’Essentials yang tampil di jam setengah 6 sore. Saya menuju ke Cendrawasih 3 untuk menonton penampilan .GIF, unit elektronik asal Singapura yang memainkan musik elektronik berelemen glitch dan synthpop yang menarik. Puas menonton .GIF saya menyempatkan mampir lagi ke Refresh Lounge untuk bersantai sejenak sekaligus menjadi meeting point yang strategis untuk bertemu teman-teman. Pukul 8, saya beranjak ke A Create Stage untuk menyaksikan penampilan bersejarah dari The BRNDLS. Kenapa dibilang bersejarah? Well, penampilan The BRNDLS malam itu akan menjadi penampilan live terakhir mereka sebelum memutuskan untuk hiatus dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Jadi jelas saja, walaupun berbarengan dengan jadwal Cody Simpson yang menjadi salah satu main attraction di Plenary Hall yang dipenuhi gadis-gadis remaja, penampilan The BRNDLS juga tak kalah ramai dengan para penikmat musik indie lokal yang telah mengikuti perkembangan band Jakarta tersebut sejak awal muncul dekade lalu. Eka Annash, sang vokalis, muncul dalam balutan jubah dan topi lebar. Wajahnya ditutupi face art bergambar tengkorak dan terlihat sangar, begitu juga dengan para personel lainnya. Seolah tak mau melewatkan panggung ini begitu saja, mereka tampil all out membawakan repertoire lagu-lagu terkenal mereka seperti “100 KM/Jam”, “Lingkar Labirin”, “Start Bleeding”, “Perak”, serta “Abrasi” yang menghadirkan Iwa K sebagai bintang tamu untuk mengisi bagian rap yang aslinya dibawakan oleh Morgue Vanguard. It was one hell of rock & roll performance, and we’re gonna wait for them to come back with new material and new spirit.

WP_20141025_030
Selesai The BRNDLS, dengan setengah berlari saya menuju stage Cibo Matto, band indie asal New York yang dimotori oleh Yuka Honda dan Miho Hatori. Terbentuk dari tahun 1994, Cibo Matto yang dalam bahasa Italia berarti “crazy food” ini terkenal dengan musik eklektik mereka yang perpaduan indie pop, trip hop, acid jazz, hingga bossa nova. Lagu “Sugar Water” yang merupakan single pertama mereka dari debut album Viva! La Woman menjadi lagu pertama yang dibawakan. Sempat hiatus dari tahun 2002 sampai 2011, penampilan mereka di Soundsfair ini merupakan penampilan perdana mereka di Asia Tenggara. How special that is!
Penampilan Miho dan Yuka yang atraktif walau sudah tak terbilang muda lagi berhasil memancing eforia penonton. Tanpa cela dan semangat tinggi, mereka membawakan lagu-lagu ikonik seperti “Sci-Fi Wasabi” dan “Aguas de Marco” yang diselingi oleh materi-materi baru dari album terbaru Hotel Valentine yang tidak kalah seru seperti “Deja Vu”, “Empty Pool” dan “10th Floor Ghost Girl”. Penampilan selama satu jam tersebut hampir tidak terasa dan menimbulkan teriakan encore ketika Cibo Matto turun panggung. Panggilan encore tersebut menarik mereka naik ke atas panggung untuk membawakan “Birthday Cake” walau sayangnya entah kenapa lagu paling hits mereka, “Moonchild” urung dimainkan walau sudah tertera di song list. Nevertheless, it was my most favorite performance on this festival, atau bahkan dari semua konser yang saya hadiri tahun ini.
Selesai Cibo Matto, bukan berarti tidak ada penampilan seru lainnya. Setelah mondar-mandir ke beberapa stage, saya sempat menonton Themilo, Angsa & Serigala yang tampil dalam format baru, serta White Shoes and The Couples Company yang berhasil membuat De Majors stage full house dengan performa atraktif khas mereka.
Day 3

WP_20141026_015Setelah stay sampai penampilan terakhir di hari sebelumnya, dalam hari ketiga dan terakhir Soundsfair tahun ini, awalnya saya ingin datang agak lebih malam, namun demi menonton Mocca yang tampil di jam 6 sore akhirnya saya bergegas lebih awal. Rugi rasanya kalau melewatkan penampilan Mocca, mumpung Arina sang vokalis yang bermukim di Amerika Serikat sedang ada di Indonesia. Sebagai salah satu dedengkot indie scene Indonesia, penampilan Mocca tentu tak perlu diragukan lagi. Penonton pun masih antusias menyanyikan lagu-lagu manis gubahan mereka seperti “I’ll Remember”, “I Would Never”, “Secret Admirer” dan cover version “Hyperballad” milik Bjork. Mocca untuk pertama kalinya juga membawakan lagu terbaru mereka yang merupakan ode untuk kota asal mereka, “Bandung”.

WP_20141026_021
Setelah Mocca, saya menyaksikan Yuna, seorang singer-songwriter asal Malaysia yang berhasil go international dan berkerja sama dengan Pharell Williams. Tampil cantik dengan busana hijab, Yuna memamerkan vokalnya yang khas dalam lagu-lagu berbahasa Inggris maupun Malaysia seperti “Mountains”, “Penakut”, “Falling”, dan tentu saja “Live Your Life”. Setelah mundur ke backtage sehabis membawakan “Lelaki” dan “Dan Sebenarnya”,Yuna muncul lagi untuk menyanyikan “Rescue”, hits single yang memang telah ditunggu-tunggu.

WP_20141026_028
Marius Lauber, electronic pop artist dari Cologne yang lebih dikenal dengan nama Roosevelt menjadi aksi selanjutnya yang saya tonton. Tampil dengan dua orang temannya di drum dan synth, mereka membawakan lagu-lagu chill out yang hip dengan elemen house dan disco. Its suddenly feels like a sunset in Ibiza. Selain Yuna, yang menjadi magnet utama di hari ketiga adalah The Jacksons yang tampil di Plenary Hall. Namun alih-alih menyaksikan aksi keluarga Michael Jackson tersebut, saya malah ke A Create Stage untuk menonton The S.I.G.I.T, band cadas asal Bandung yang seperti bisa diharapkan, tampil dengan keren.

WP_20141026_038
Saya menutup hari terakhir Soundsfair dengan menikmati racikan drum n bass dari kolektif Javabass Soundsystem yang disambung oleh DJ Makoto dari Jepang. Overall, walaupun kecewa JRL tidak diadakan lagi tahun ini, saya puas dengan Soundsfair 2014 karena berhasil membawa atmosfer festival musik baru dengan performance yang sangat beragam. Diversifikasi genre yang ada membawa crowd penggemar masing-masing, namun hal itu justru terasa menyenangkan melihat para penggemar musik dari scene yang berbeda-beda bisa saling berbaur dan menghargai satu sama lain. Dalam satu hari saya bisa menikmati sajian indie pop, rock, jazz, hingga drum n bass, so it was really nice dan bisa menjadi ajang edukasi para penikmat musik indonesia untuk mengenal musisi dari berbagai genre dan menikmatinya atas nama musik yang berkualitas.
Special thanks for Maverick dan Sampoerna A for this report!

WP_20141026_034

Advertisements

Eat, Play, Loud!: Blogwalking for Soundrenaline Medan 2014

Menjelajahi Kota Medan dan berkeringat di festival musik rock terbesar di Indonesia dalam waktu 48 jam? Challenge accepted.

As a self-proclaimed avid concert goer dan jurnalis, saya beruntung memiliki kesempatan untuk mendatangi berbagai konser dan festival musik dari berbagai genre di Indonesia maupun di luar negeri. But, if I could confess one thing, ada satu festival musik terkenal yang belum pernah saya datangi sekalipun. Coachella? Summersonic? Glastonbury? They’re all in my checklist for sure, tapi yang akan saya bicarakan adalah festival dalam negeri sendiri dulu, which is Soundrenaline. Yup, Soundrenaline yang telah digelar sejak tahun 2003 silam merupakan festival musik rock yang bisa dibilang terbesar di Indonesia, khususnya berkat komitmen mereka untuk membawa band-band papan atas negeri sendiri untuk menghibur penggemar mereka di berbagai kota di luar Jakarta. Untuk pagelaran tahun ini, Soundrenaline diadakan di Surabaya (10 Mei) dan Medan (7 Juni). Dari dulu sebetulnya saya ingin sekali datang ke Soundrenaline di luar kota sekaligus berlibur dan mengeksplorasi kota lain di Indonesia. Lucky for me, kesempatan itu datang saat saya dihubungi oleh pihak Maverick Indonesia sebagai satu dari lima blogger yang diundang untuk merasakan pengalaman menonton Soundrenaline di Medan. Well, saya belum pernah datang ke Soundrenaline maupun pergi ke Medan, so without any thinking, of course its a big yes for me!

                Seminggu kemudian, tepatnya Jumat 6 Juni, jam lima pagi saya sudah menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk berkumpul dengan tim Maverick dan empat blogger lainnya yang terdiri dari Dimas Ario (@dimasario), Intan Anggita (@badutromantis), Agung @Hartamurti, dan Kang @Motulz. Setelah perjalanan sekitar dua jam dengan maskapai Garuda Indonesia, kami tiba di Bandara Internasional Kualanamu Medan sekitar jam 9 pagi. Bandara Kualanamu sendiri termasuk bandara Indonesia yang tertata dengan sangat baik. Bandara ini juga bandara pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan kereta Airport Railink Service. Maka dengan menaiki kereta bandara yang nyaman tersebut, kami pun sampai di pusat kota Medan hanya dengan memakan waktu sekitar 45 menit.

Bandara Kualanamu Medan
Bandara Kualanamu Medan
Airport Railink Service
Airport Railink Service

                Sebelumnya saya selalu membayangkan Medan adalah kota yang panas, bising, dan sesak. Well, memang selayaknya kota besar, pasti ada saja traffic di setiap titik jalan, namun ibukota Sumatera Utara ini ternyata jauh lebih menarik dari bayangan saya. Kota ini mengingatkan saya akan perpaduan Surabaya dan Bandung dengan bangunan-bangunan art deco zaman kolonial yang masih dipertahankan. Tujuan pertama kami tentu saja mengisi perut. Kami memutuskan sarapan soto di RM Sinar Pagi di Jalan Sei Deli. Saat sampai, rumah makan ini sudah lumayan padat, untungnya service di sini terbilang cepat. Begitu sampai kita tinggal pesan mau soto apa, duduk, dan tak berapa lama, soto hangat dan nasi putih pun tersaji di hadapan kita. Kuah rempah, perkedel kentang dan sambal kecap yang mantap, membuat soto Medan habis tersantap secepat kedatangannya. Sudah kenyang, kami pun siap mengeksplorasi Kota Medan dengan hashtag #GoAheadChoice dan Shri Mariamman Temple terpilih menjadi destinasi selanjutnya. Kuil ini merupakan kuil Hindu tertua di Medan dan terletak di Kampung Keling alias Little India. Dari luar pun, arsitektur kuil ini sudah terlihat menarik dengan pintu gerbang yang dihiasi gopuram yang merupakan semacam gapura yang biasa dilihat di kuil-kuil Hindu kaum Tamil di India Selatan. Untuk masuk ke kuil ini tidak dikenakan biaya, namun kami tidak memasuki ruang utama karena bagaimanapun, tempat ini merupakan tempat ibadah yang harus dihormati. Untuk sejenak, saya seperti berada di Bombay karena banyaknya warga keturunan India di sekeliling kuil ini, mulai dari ibu-ibu dengan kain sari sampai seorang pria India yang terlihat sangat chic dengan turban, jenggot panjang, kemeja putih, yang menaiki sepeda klasik. Tak jauh dari situ mata saya juga menangkap mesjid, gereja, dan kelenteng. Keragaman etnis dan agama di Medan cukup mengingatkan saya pada Kuala Lumpur.

Shri Mariamman Temple
Shri Mariamman Temple

                Destinasi selanjutnya adalah Tjong A Fie Mansion, sebuah rumah mewah bekas kediaman Tjong A Fie yang merupakan seorang significant figure beretnis Tionghoa dalam sejarah kota Medan. Dengan perpaduan gaya Cina, Melayu, dan Victorian, mansion dengan pintu masuk berupa gerbang besar seperti yang biasa kita lihat di film Mandarin ini seperti relik masa lalu yang membeku di antara bangunan ruko modern di sekelilingnya. Its gallant, regal, and more likely, haunted. Dalam museum sekaligus cagar budaya yang terletak di Jalan Ahmad Yani ini, selain mengagumi harta benda dan kekayaan keluarga saudagar Tjong A Fie, kita pun bisa belajar tentang sejarah Kota Medan. Dengan koleksi benda bersejarah (including some very old vinyls!), harga tiket yang terjangkau dan sudah termasuk guide yang akan menjelaskan setiap sudut rumah (kecuali beberapa bagian yang belum direstorasi), tidak heran jika mansion ini menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Medan.

Tjong A Fie Mansion
Tjong A Fie Mansion

Tidak terasa hari sudah menuju sore, dan keinginan untuk jajan-jajan sore pun muncul. Setelah menjemput Agung yang sempat ketinggalan di Tjong A Fie Mansion karena terlalu asik memotret, kami pergi ke Jalan Karo untuk  mengunjungi gerai kopi Macehat, yang kabarnya sedang hits di Medan. Melewati ruangan indoor yang tidak terlalu luas dan bangku yang terisi penuh, kami memutuskan untuk minum dan bersantai di outdoor area. Macehat terkenal dengan kopi Luwak dan Avocado Coffee, namun karena saya bukan peminum kopi saya memesan pancake cokelat dan affogato yang merupakan campuran es krim dan espresso. Puas mengobrol, sekitar jam lima sore kami menuju Grand Swiss-Belhotel tempat kami menginap untuk check in dan beristirahat. Kegiatan selanjutnya yang sudah ditunggu adalah makan malam. Medan punya banyak sekali tempat kuliner yang menarik, namun belum lengkap ke Medan kalau belum ke Restoran Tip Top. Bila Malang punya Toko Oen, maka Medan punya Tip Top yang menawarkan menu dan ambience klasik zaman kolonial. Letaknya di Jalan Ahmad Yani yang juga disebut Jalan Kesawan, tak jauh dari Tjong A Fie Mansion. Berdiri sejak tahun 1934, restoran ini menawarkan menu Western, Indonesia, juga Chinese dan semuanya enak luar biasa. Bahkan saat menulis artikel ini pun, saya sempat menelan ludah ketika mengingat lagi lezatnya berbagai menu yang saya nikmati di Tip Top, terutama Bistik Lidah yang sangat juara. Tak hanya menu besarnya, Tip Top juga dikenal dengan kue-kue pastry yang lezat dan es krim Moorkop khas Belanda. Pulang ke hotel. saya mencatat Tip Top sebagai tujuan wajib jika saya kembali ke Medan.

Dari kiri: Soto RM Sinar Pagi, Affogato Macehat, Bistik Lidah Tip Top
Dari kiri: Soto RM Sinar Pagi, Affogato Macehat, Bistik Lidah Tip Top

Sabtu, 7 Juni menjadi hari kedua saya di Medan sekaligus menjadi hari Soundrenaline digelar. Rasanya sudah tidak sabar untuk menuju Bandara Polonia yang menjadi venue Soundrenaline Medan, namun sebelumnya, kami menyempatkan diri untuk mengeksplorasi Kota Medan lagi. Setelah breakfast di hotel, kami menuju Istana Maimoon yang juga menjadi ikon kota Medan. Dibangun oleh Sultan Deli dan berarsitektur khas Melayu, Istana Maimoon adalah titik sejarah Medan dari sudut Melayu. Namun, berbeda dari Tjong A Fie Mansion, Istana Maimoon tampak kurang dimaksimalkan. Dari 30 ruangan yang ada, pengunjung hanya bisa masuk ke ruang utama yang juga diisi oleh pedagang souvenir sehingga estetikanya jadi lumayan terganggu. Dan hanya sedikit sekali yang bisa kita lihat selain singgasana bernuansa emas, desain interior yang rumit memukau dari lantai, tembok hingga langit-langit, dan beberapa benda sejarah. Kami tak menghabiskan banyak waktu di istana ini dan memutuskan untuk membeli oleh-oleh khas Medan yang apalagi kalau bukan Bolu Gulung Meranti, pancake durian, dan bika Ambon di Jalan Sisingamangaraja. Belum puas belanja, kami juga pergi ke Durian Ucok untuk mencicipi durian Medan yang terkenal.

Istana Maimoon
Istana Maimoon

Puas makan dan belanja, agenda selanjutnya adalah agenda utama kami datang ke Medan, which is the Soundrenaline itself! Diadakan di Lapangan Bandar Udara Polonia, Soundrenaline Medan dibuka oleh trio punk rock Jogja, Endank Soekamti yang membawakan sekitar 11 lagu untuk memanaskan festival ini yang memang sudah panas, literally. Ini pertama kalinya saya datang ke festival yang diadakan di bekas bandara tanpa pepohonan untuk berlindung dari matahari yang menyengat. Penonton yang mayoritas memang anak muda Medan terlihat sudah terbiasa dengan panasnya Medan yang menyengat, but I need to step back dan akhirnya ngumpet ke Media Tent yang dilengkapi pendingin udara dan minuman dingin untuk menghindari heat stroke, haha! Di Media Tent pun diadakan semacam mini talkshow bagi para performer yang akan tampil. Shaggy Dog, The S.I.G.I.T, Kotak, J-Rocks, Burger Kill hadir di talkshow sebelum mereka menampilkan aksi mereka di Soundrenaline yang terbagi menjadi dua stage (A Stage dan Go Ahead Stage).

Endank Soekamti at the A Stage
Endank Soekamti at the A Stage
The S.I.G.I.T at mini talk show.
The S.I.G.I.T at mini talk show.

Makin sore, cuaca semakin nyaman dan penonton semakin ramai berdatangan. Setelah jeda Maghrib, Soundrenaline dilanjutkan oleh Judika, Andra & The Backbone dan Sheila On 7. Dengan berbekal Backstage ID khusus, saya dan blogger lain mendapat akses untuk menonton Sheila On 7 dari bibir panggung. Full disclosure: Sheila On 7 is one of my favorite Indonesian bands ever karena saya tumbuh remaja dengan mendengarkan lagu-lagu mereka, tapi saya belum pernah menonton live performance mereka. Menyaksikan Duta, Eross dan personel lainnya tampil atraktif membawakan lagu-lagu hits mereka, saya seperti terlempar ke masa SMP dan ikut menyanyikan lantang lirik lagu-lagu mereka. It was amazing! Ketika Sheila On 7 turun panggung dan menuju Media Tent untuk mini talkshow, saya mengikuti mereka seperti some giddy teenagers dan akhirnya minta foto bareng dengan Duta, haha! Jujur saja, dalam karier saya sebagai jurnalis saya sangat jarang meminta foto bareng dengan band-band atau musisi lokal. Namun, kali ini saya datang bukan sebagai jurnalis, saya datang sebagai fans Sheila On 7 sejak SMP and I just feel happy to finally saw them again.

Eross SO7 mengomandoi koor penonton.
Eross SO7 mengomandoi koor penonton.
Me as happy fans with Duta SO7
Me as happy fans with Duta SO7

 Khusus tahun ini, Soundrenaline mengusung konsep baru berupa sistem pemilihan suara bernama “Voice of Choice” yang dilakukan melalui situs GoAheadPeople.com. Para pemilih diwajibkan untuk memilih salah satu dari tiga album milik lima band yang terdaftar, yaitu Slank, GIGI, J-Rocks, Andra and The Backbone dan /rif. Album mana yang menang itulah yang akan dinyanyikan secara penuh oleh band tersebut. /rif misalnya, membawakan utuh album pertama mereka Radja yang dirilis tahun 1997,dari track pertama sampai terakhir. Selesai star struck dengan Sheila On 7, saya menonton penampilan Seringai di Go Ahead Stage sementara A Stage sedang dimeriahkan oleh Jamrud. Arian dan kawan-kawannya di Seringai seperti biasa berhasil membakar semangat penonton dan menyulut moshing dengan lagu-lagu anthemic mereka sampai-sampai aparat yang berjaga di bibir panggung harus menahan pagar batas penonton yang hampir ambruk. PAS Band dan GIGI yang menjadi penampil selanjutnya juga mendapat respons antusias dari puluhan ribu penonton yang memadati Polonia. I can feel the adrenaline rush just by seeing the performers and the crowds! Soundrenaline Medan yang dimulai dari jam 12 siang akhirnya dituntaskan oleh Slank sebagai pamungkas acara dan ditutup oleh lagu “Kamu Harus Pulang” sebagai lagu penutup Soundrenaline Medan yang berhasil mendatangkan sekitar 60 ribu penonton. Jarum jam memang sudah menunjukkan pukul 12 lewat, namun saya belum mau pulang ke hotel. Saya lapar. Kami pun menyempatkan diri makan malam di daerah Elizabeth, sebuah tempat nongkrong mahasiswa Universitas Sumatera Utara dengan warung-warung tenda yang mengingatkan daerah Blok S di Jakarta, setelah itu baru pulang ke hotel.

Seringai before the show.
Seringai before the show.

Hari Minggu 8 Juni menjadi hari terakhir saya di Medan. Setelah breakfast dan check out dari hotel, saya dan para blogger lainnya menuju Kualanamu untuk pulang ke Jakarta. Thanks to Sampoerna dan Maverick Indonesia, kini saya sudah bisa mencoret Soundrenaline dari daftar festival musik yang harus saya datangi. Just have a chance to finally watching Soundrenaline is already a blast for me, terlebih berkesempatan menyaksikannya bersama teman-teman baru dan menjelajahi kota Medan. I’m planning to visit Medan again in near future, dan untuk Soundrenaline tahun depan? Well, just see and fingers crossed.

See you on next Soundrenaline.
See you on next Soundrenaline.

Mixtape: Wing Narada Putra (Maverick)

“Awalnya project ini hanyalah Experimental/Collage project, seiring waktu saya semakin mengeksplor tentang beatmaking dan bereksperimen dengan macam-macam bebunyian. Untuk nama Maverick sendiri sebenarnya nggak ada cerita khusus, it just crossed my mind randomly.” Ungkap Wing Narada Putra alias Maverick alias The Glazy Donut, seorang beatmaker/electronic musician asal Jakarta yang namanya dikenal setelah merilis free EP berjudul The Illustration yang berisi 4 lagu experimental dengan sample beat hip-hop, jazz, dan bebunyian ganjil. Selain EP tersebut, track buatan pria yang juga bekerja sebagai asisten Music Director di Brava Radio ini pernah dirilis dalam bentuk home-made CD-R demo dan tergabung di satu kompilasi rilisan Stone Age Records (Jakarta), di mana dia memproduksi semua track buatannya dari dalam kamarnya (“The place where all the magic happens!” serunya). Selain project Maverick, dia juga tergabung dalam proyek bermusik dengan nama Sangsaka Worship bersama Sawi Lieu dan Al Imran Karim yang masih berkutat di ranah noise rock/experimental stuff.

I dig sounds from the past up until today’s buzz. I’m pretty eclectic when it comes to influences because I can’t manage myself digging to some particular genres haha.” Jawab Wing tentang inspirasinya dalam membuat musik yang juga terungkap dalam playlist yang ia buat untuk mixtape kali ini. Final question: where’s the name The Glazy Donut came from? “Haha it came out accidentally when my bro Sawi Lieu post one of my joint on Facebook and he mentioned ‘from the glazy donut himself’ and it just struck me. I need an alias anyway haha.”

The Velvet Underground

“I Heard Her Call My Name”

Sonic experimentation at its finest.

 Colin Stetson

“Lord I Just Can’t Keep From Crying Sometimes”

Classic rendition of Blind Wilie Johnson’s song from 1928. Currently on heavy rotation.

aetra

Sawi Lieu

“Aetra”

My bro made this awesome mind-expanding composition. You guys should check it here http://www.soundcloud.com/sawilieu

The Heliocentrics

“Before I Die”

Ever wonder if Sun Ra decided to jam with Clyde Stubblefield and Ennio Morricone?

Thundercat

“Is It Love?”

Virtuoso of today! Saya menjagokan debut albumnya The Golden Age of The Apocalypse sebagai the best albums of 2011.

Shogun Kunitoki

“Montezuma”

Epicness of the epic.

Tied and Tickled Trio & Billy Hart

“Calaca”

Makes me wanna grab a bass guitar and play the riff while walking around town

Mahavisnu Orchestra

“One Word”

John McLaughlin is a guitar prophet sent from heaven. Period.

Frank Zappa

“Inca Roads”

There’s something mystical about this song.

David Axelrod

“A Divine Image”

Sending me shivers everytime the violins kicks in.

http://www.soundcloud.com/mvrcksounds