A League of Her Own, An Interview With Natalie Ludwig

Dari Dartmouth sampai Dolce & Gabbana, dengan cantik Natalie Ludwig melangkah seimbang di antara kehidupan akademis di kampus Ivy League yang tersohor dan kariernya sebagai rising supermodel di berbagai pentas fashion dunia. 

Pada tanggal 11 September 2015 lalu, bertempat di dermaga Pier 26 dengan pemandangan cahaya matahari terbenam yang membentang di atas Sungai Hudson, New York City, hampir 100 model turun beriringan untuk berjalan di atas runway Givenchy koleksi Musim Semi 2016. Seperti yang bisa diharapkan dari rumah mode legendaris asal Prancis yang saat itu masih dinahkodai oleh sang Creative Director Riccardo Tisci (baru bulan Februari kemarin ia mengumumkan rencananya meninggalkan Givenchy setelah 12 tahun di sana), pagelaran mode tersebut berlangsung dengan spektakuler. Dengan koreografi kreasi seniman garda depan Marina Abramovic, deretan model tersohor seperti Mariacarla Boscono, Kendall Jenner, dan Joan Smalls memeragakan koleksi yang menjadi tribute bagi peringatan serangan teror yang menimpa kota tersebut 14 tahun sebelumnya. Ethereal and divine, para model yang mayoritas mengenakan pakaian berwarna hitam, putih, dan gading terlihat seperti para peziarah sekaligus penyintas. Di antara wajah-wajah familiar yang telah lama malang-melintang di atas catwalk, terselip satu wajah yang terlihat asing, namun seakan menghipnotis para penonton untuk memerhatikan gerak-geriknya di atas panggung.

03580007

Sang pemilik wajah bernama Natalie Ludwig. Runway tersebut adalah kali pertama model asal Kanada ini berjalan di fashion week dan pintu masuknya ke dunia fashion sebagai model eksklusif untuk Givenchy. Dibantu oleh casting director kepercayaannya, Patrizia Pilotti, bukan hal yang aneh bagi Riccardo Tisci untuk, once in awhile, memilih wajah-wajah paling fresh sebagai model eksklusif bagi show Givenchy, dalam artian, sang model terpilih hanya boleh berjalan untuknya di musim tersebut. It’s once in a lifetime opportunity and almost like a rite of passage to a stardom. Butuh lebih dari keberuntungan untuk mendapat kesempatan itu, dan Natalie Ludwig punya banyak hal yang membuat seorang Riccardo Tisci dan casting director manapun menyukainya. “Saya tidak bisa memikirkan alternatif lain yang lebih baik untuk memulai karier saya. And yes, I’ll never forget the magic of that show! Tentu saja saya sangat nervous tapi saya berusaha sebisanya agar hal itu tak terlihat. Pakaian yang saya kenakan adalah extraordinary works of art, the energy was moving, and the show took place in New York City on September 11th,” kenangnya.

Nat, demikian gadis kelahiran Vancouver, 14 Juli 1995 ini biasa dipanggil, bergabung di agensi model pertamanya saat masih berumur 13 tahun, namun baru di tahun 2014 ia bergabung di agensi papan atas Elite Management. Setelah debut yang impresif sebagai model eksklusif untuk Givenchy di Musim Semi 2016, di musim berikutnya ia langsung melesat sebagai fresh face paling dicari di kancah fashion week dunia. Rumah mode termahsyur mulai dari Burberry, Valentino, Maison Margiela, hingga Dolce & Gabbana berebut memintanya untuk berjalan di show mereka.

Diberkahi oleh tubuh semampai dengan kecantikan klasik bak Dewi Venus, gadis berdarah Kanada dan Jerman ini memang seakan terlahir untuk menjadi seorang model. Namun, bukan berarti ia menganggap modeling adalah poros utama dalam hidupnya. Ketika banyak model muda lainnya mencurahkan fokus dan masa muda mereka untuk karier modeling sampai rela meninggalkan bangku sekolah, bagi Natalie edukasi adalah hal yang tak bisa ditawar. Kendati menjadi model yang tengah naik daun dengan sejuta peluang terhampar di hadapannya, ia memutuskan untuk tetap menikmati masa mudanya seperti teman-teman sebayanya dan melanjutkan kuliah di jurusan Sosiologi di Dartmouth College, salah satu universitas Ivy League bergengsi di Amerika Serikat. “Bukan hal yang mudah untuk kuliah sekaligus kerja, tapi mendapatkan degree adalah hal yang penting bagi saya, jadi saya secara secara maksimal berusaha menyeimbangkan keduanya. Saya menghabiskan satu semester untuk fokus kuliah, semester berikutnya untuk modeling, dan kembali ke kampus semester selanjutnya secara bergantian. It’s allowing me to devote different portions of time to each and try to stay on top of both. Saya juga merasa beruntung punya kesempatan untuk kuliah di salah satu universitas Ivy League karena bisa mendapat banyak inspirasi dari teman-teman kampus yang datang dari latar yang sangat beragam.”

            Itu adalah caranya untuk tetap menjalani hidupnya dengan “biasa” seperti remaja pada umumnya. Namun, mungkin “biasa” memang bukan suatu kata yang tepat untuknya. Ia berasal dari keluarga yang tak asing dengan sorotan lampu dan atensi. Ibunya, Sharlene, adalah mantan aktris; ayahnya, Harald Horst Ludwig adalah businessman dan petinggi dari perusahaan showbiz Lionsgate, sedangkan kakaknya adalah Alexander Ludwig, aktor yang muncul sebagai Cato di The Hunger Games dan serial Vikings di History Channel. Sebelumnya, Alexander juga memulai karier sebagai model untuk Abercrombie & Fitch saat fotografer Bruce Weber melihatnya di perpustakaan University of Southern California dan baru-baru ini adik perempuan Natalie, Sophia, juga baru bergabung di IMG Models mengikuti jejaknya. So it’s really a family affair for her. Melihat latar belakang keluarganya, kamu mungkin bertanya-tanya apakah Natalie akan mulai merambah ke akting dan tampaknya memang hanya tinggal menunggu waktu hingga saat itu tiba. “Iya, saat ini saya sedang mencari kelas akting, karena saya merasa art form dari modeling dan akting sebetulnya berjalan beriringan,” ungkapnya.

            Genetically blessed dan didukung support system yang kuat dari keluarganya, adalah hal yang mendebarkan untuk menanti hal-hal menakjubkan apa lagi yang bisa ia lakukan di masa depan. Tapi untuk sekarang, menyelesaikan kuliah dan meniti karier menuju status supermodel adalah fokus utamanya. Di antara jeda waktu menunggu wajahnya dirias and hit the runway, Natalie menjawab interview berikut ini di belakang panggung pagelaran Ralph Lauren untuk New York Fashion Week musim ini.

03570006.jpg

Di mana kamu tumbuh besar dan apa pengaruh dari masa kecilmu yang terbawa sampai sekarang? Saya lahir dan besar di Vancouver, Kanada, di keluarga besar yang sangat adventurous! Sekarang pun kalau sedang tidak modeling saya suka traveling, ski, hiking, main tennis dan melakukan aktivitas penuh adrenalin lain seperti bungee jumping, sky diving, kayaking, etc. I’m always up for testing my boundaries and trying new things. Hal itu membuat saya menjadi orang yang cukup pemberani dan mengajari saya untuk stand my own ground, yang menurut saya sangat penting di industri yang sedang saya jalani.

Apa cita-citamu waktu kecil dulu? Waktu kecil saya selalu ingin menjadi penyiar berita. Dulu saya selalu menonton berita setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan terpesona dengan sosok orang-orang yang menyampaikan berita-berita penting untuk dunia.

Jadi apa yang membuatmu terjun ke modeling? Saya mulai modeling di usia 13 tahun saat saya di-scout Lizbell Agency di sebuah field hockey game. Ketika saya pindah ke East Coast untuk kuliah, saya bergabung di Elite New York, untungnya karena jarak kampus dan agensi saya sangat dekat jadi saya bisa melakukan keduanya sekaligus! Saya suka modeling karena pekerjaan ini membuat saya bisa mengeksplor diri sendiri melalui emosi dan karakter yang berbeda-beda yang harus saya tampilkan di set.

Apa hal yang kamu baru pelajari dari dunia fashion dan modeling saat kamu akhirnya terjun ke dalamnya? Kamu akan menyadari jika industri ini ternyata bisa mengajarkan banyak hal tentang diri kamu sendiri. Hal itu terasa ketika saya bereksperimen dengan fashion lebih dalam, bekerja dengan fotografer yang berbeda-beda dengan visi masing-masing.

Apakah kamu punya pencapaian favorit di dunia modeling sejauh ini? Saya rasa saya tidak bisa memilih satu yang paling favorit, tapi menjadi model eksklusif untuk Givenchy selalu menjadi hal yang membanggakan bagi saya! Yang baru-baru ini, saya lagi di Times Square dan melihat wajah saya di American Eagle Holiday Campaign terpampang di atas jalanan, which was a very cool moment for me!

03590008x

Bila harus memilih antara runway dan photo shoot, mana yang membuatmu lebih excited? Keduanya sangat exciting, jadi kembali lagi tergantung pada job itu sendiri. Tapi yang jelas, there is nothing that compares to the energy you feel as you walk on the runway.

Di antara major fashion week capitals, kota apa yang menjadi favoritmu dan kenapa? My favorite fashion week capital is Paris. There is a special sense of magic in the air there, causing me to feel constantly inspired simply by people-watching on the streets as I walk to castings.

Kamu sempat mendapat pujian dari Naomi Campbell saat berjalan di Burberry, bagaimana kamu berkenalan dengannya? Siapa saja model favoritmu saat kamu beranjak dewasa? Saya bertemu dengan Naomi pertama kali di Uruguay dan merasa beruntung bisa mengenal dirinya, dia adalah salah satu model yang paling hard-working dan loyal yang pernah saya temui. Saat saya kecil, Naomi adalah model yang saya idolakan, kepercayaan dirinya dari dulu sampai sekarang selalu menginspirasi tanpa batas. Selain Naomi, saya juga mengidolakan Linda Evangelista dan Stephanie Seymour.

Siapa saja yang ada di daftar dream collaboration milikmu? Rasanya tidak mungkin untuk menyebut semua dream job yang saya inginkan, tapi ada banyak para visionaries yang saya harap bisa bekerjasama dengan saya, contohnya seperti Steven Meisel, Patrick Demarchelier, dan Peter Lindberg.

What’s your secret weapon when it comes to confidence? Stay true to myself and only do what makes me happy. When I am happy, I feel confident. Self-love is very important, especially in this industry.

Di Instagram terlihat kamu sangat dekat dengan kakak-adikmu, siapa yang paling dekat denganmu di keluarga? My siblings are my best friends no question, I Facetime with all of them daily, it would be evil to pick a favorite! Haha.

Kamu mengambil major Sosiologi di Dartmouth, kenapa dan apa yang membuatmu passionate di bidang itu? Saya tertarik pada Sosiologi karena ini ilmu tentang manusia dan budaya. Saya passionate soal humanitarian work. Baru-baru ini saya bergabung di “Model Mafia”, sebuah grup aktivis yang digagas oleh Cameron Russel dan saya tidak sabar untuk terlibat di proyek-proyek yang akan datang.

Menyinggung tentang politik, bagaimana iklim politik belakang ini mempengaruhi dirimu? Hal apa yang ingin kamu ubah dari dunia? Saya harus bilang jika saya bangga menjadi orang Kanada karena negara ini tetap menjadi negara yang menghargai perbedaan dan menerima semua orang. I would love for the world to be a more accepting and safe space.

Tell us about your personal style, how would you describe it and what’s your sartorial signature? Gaya personal saya cukup free-spirited dan menyesuaikan dengan kegiatan yang saya lakukan. Kalau lagi kuliah, saya hanya memakai pakaian yang kasual dan agak sporty, a lot of Adidas originals and Supreme! Tapi kalau lagi modeling di New York, saya cenderung memakai pakaian warna hitam, with good vintage statement pieces to spice things up.  

Jika kamu bisa memilih satu karakter fiksi untuk menggambarkan dirimu, siapa yang akan kamu pilih? Carrie Bradshaw dari Sex and The City karena dia mampu menyeimbangkan antara cinta, fashion, karier, dan teman-temannya, dengan great sense of humor about it all.

Have you ever been in love? What makes you fall in love with someone? I’ve been in love once. I fell In love because he always pushed me to be a better version of myself. I think having someone who encourages you to grow is extremely important.

Apakah kamu termasuk orang yang membaca dan mempercayai horoskop? I love reading my Cancer horoscope everyday, it keeps me mindful! 

Saya dengar kamu suka mendengarkan musik sebelum berjalan di runway atau sebelum photo shoot untuk membangun mood, apa yang sedang kamu dengarkan belakangan ini? “Paris” dari The Chainsmokers, “White Inversion” dari Post Malone, dan “Free Fallin” dari Tom Petty. Selera musik saya sangat beragam!

Kamu telah berpergian ke banyak tempat, punya destinasi impian yang belum terlaksana? Destinasi travel impian saya adalah Peru. Saya selalu ingin hiking dan melihat Machu Picchu dengan mata sendiri.

 Apa saja yang menjadi bucket list tahun ini? Do a half marathon, work with youth at risk in New York, go gorge jumping, and launch the starting of a fashion line with my brother, Alexander Ludwig. 

Terakhir, what’s the best advice you ever got, in term of modeling or life in general? “Good things happen when you show up”.

Photographer: David Richardson.

Stylist: Jo Heng.

Assistant Stylist: Enyu Lin.

Makeup: Kentaro Kondon.

Hair: Jake Gallagher.

Advertisements

Fluorescent Adolescent, An Interview With Saffron Llewellyn

We hate to burst the bubble, tapi menyebut Saffron Llewellyn hanya sebagai representatif dari generasi millennial adalah sebuah honest mistake. She’s actually way more than that. 

Fotografi: Sally Ann & Emily May. Stylist: Anindya Devy & Priscilla Nauli. Makeup Artist: Priscilla Risjad. Assistant Stylist: Versace Wang.

img_9498

Lebih dari edisi apapun, memilih cover untuk edisi Anniversary selalu menjadi momen krusial bagi kami. Kami berharap sosok yang menghiasi sampul edisi Anniversary kami untuk set up the mood for the upcoming year and to be the face yang dapat mewakili DNA majalah yang sedang kamu pegang ini. Beberapa nama di tahun-tahun sebelumnya yang meliputi Eva Celia, Sherina, dan Chelsea Islan adalah segelintir bintang muda Tanah Air yang tak hanya diberkahi oleh talenta besar di bidang masing-masing tapi juga their own personal style and state of mind yang selaras dengan semangat yang kami usung, which is para perempuan muda yang punya sikap, mimpi, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Memasuki tahun keenam ini, we’re planning to even gutsier and take more risk. Kami ingin memperkenalkanmu kepada fresh face yang bisa menjadi sosok alternatif dari yang biasanya kamu lihat. Salah satunya adalah cover kami edisi ini, Saffron Llewellyn. Namanya mungkin masih terbilang asing bagi banyak orang, beberapa mengenalnya sebagai putri dari Gwen Winarno dan cucu dari pakar kuliner Bondan Winarno, sementara bagi sebagian orang lainnya, she’s a budding model with promising future.

            Bernama lengkap Saffron Jemima Llewellyn, wajah gadis berdarah Indonesia, Belanda, Inggris, dan Amerika yang lahir di Jakarta, 26 Juni 2001 silam ini belakangan semakin sering dijumpai dalam berbagai pemotretan untuk majalah-majalah high fashion dan campaign untuk brand seperti The Balletcats dan Mazuki. Tapi di usianya yang baru menginjak 15 tahun, modelling is more like an after school extra activity for her. Saat tiba di apartemen milik fotografer Sally dan Emily yang menjadi lokasi shoot kali ini, Saffron literally baru pulang dari sekolah dengan masih memakai seragam, rambut yang diikat seadanya, dan wajah polos tanpa riasan apapun. Dengan tinggi 163 cm dan kesan pertama yang terlihat canggung, sejujurnya ia terlihat seperti anak sekolah biasa dengan tas penuh buku pelajaran. Things are getting interesting setelah dia duduk di depan cermin rias, menarik napas, dan membiarkan wajahnya mulai dirias oleh makeup artist yang memperlihatkan facial features miliknya dengan cekatan. Setelah mengenakan looks yang telah disiapkan dan mulai berdiri di depan kamera, the transformation is complete. “I wouldn’t mind doing modelling,” ujarnya sambil tersenyum. “In fact I really enjoy it. My mom says dari masih bayi saya juga sempat ikut beberapa foto, but I think my first ever shoot yang saya ingat itu waktu umur 11 tahun untuk majalah Dewi, and after that it’s kinda build it up,” sambungnya.

img_2964

Ditemani oleh playlist 90’s R&B hits dari Spotify, ia terlihat nyaman berada di depan kamera sambil sesekali menggumamkan lirik dari lagu TLC yang terdengar. She knows her angles so well dan ketika diminta menunjukkan raut fierce, wajahnya seperti pinang dibelah dua dengan sang ibu, with a hint of young Natalie Portman and the same allure of Lily-Rose Depp. Namun ketika tertawa atau diminta menunjukkan ekspresi konyol, wajahnya langsung kembali carefree selayaknya anak sebayanya. Setelah beberapa looks, dia memekik senang saat kami menunjukkan t-shirt bergambar selfie dari Instagram dirinya yang kami siapkan khusus (later on the t-shirt became a birthday present for her boyfriend). Memakan waktu dari jam 4 sore sampai jam 9 malam, shoot terakhir dilakukan di kolam renang yang cukup dingin without any complaints. Ini memang bukan cover majalah pertamanya, but still, dia ternyata sama excited-nya dengan kami. “I was like ‘Nylon? It’s pretty big, right?’ saat dihubungi kalian, lucunya saya sebetulnya pernah datang ke acara Nylon bersama teman-teman saya and yeah its cool, dan sekarang saya ada di sini untuk foto cover! I’m actually really happy and thank you for having me to do it!”

            Dengan umur yang masih sangat belia dan potensi yang luar biasa, saya rasa hanya masalah waktu sebelum wajah Saffron mendominasi halaman-halaman fashion spreads, covers, dan proyek seru lainnya. In the mean time, education is still her number one priority. Tidak mau asal ambil pekerjaan, ia mengaku memilih semua tawaran dengan hati-hati dengan concern utama tidak mengganggu jadwal sekolahnya. I love meeting new people and getting to do so many different things in the process. Memang agak susah untuk terbiasa but I’m getting there, you know? The creative process is really fun. Yang saya nggak suka paling kalau terlalu lama dan saya masih punya banyak homeworks, haha.”

Di balik mature professionalism yang ia tunjukkan, berbincang dengannya ternyata sama serunya seperti menemukan sosok seorang BFF. Super chill dan secara candid menceritakan segalanya tanpa pretensi apapun, she’s actually a normal teenager who likes to spend the weekend with her friends or boyfriend dan menikmati masa remajanya. “I like being teenager. In the fashion point of view pun saya merasa fashion saat ini sedang booming, like the guys really dressing up at the moment. I like how teenagers nowadays have good sense of fashion. I think we’re really outgoing and like to try new things out there,” ujarnya.

Bicara soal remaja saat ini, most people akan menyambungkannya dengan generasi Millennial, dan Saffron punya pengalaman soal hal itu. “You know what happens? Dalam pemotretan sebelumnya, they ask me about being millennial dan banyak yang bilang kalau millennial itu anak-anak seumuran saya, right? Tapi saya sempat search di internet and found out that I’m not even counted as millennial. Orang bilang millennial kan mereka yang lahir dari tahun 1980 sampai 2000, but I was born in 2001, haha! So, I’m like ‘are you sure I’m millennial?’” ungkapnya sambil tertawa renyah. Well, maybe it’s time for us untuk mulai memikirkan generasi AFTER the millennial seperti Saffron, generasi baru yang mungkin lebih berani lagi dengan sisi individu dan sikap rebellious khas remaja tanpa peduli prasangka dari generasi-generasi pendahulunya. “Well… Excuse me, but we’re the kids at the moment, like gimana lagi right? I mean we’re just enjoying our time, leave us alone! Haha!”

So Saffron, boleh cerita sedikit soal masa kecil kamu? Dulu kamu kecilnya kaya gimana sih?

Waktu kecil saya sempat sangat girly, tapi kemudian saya jadi lumayan tomboy setelah mulai aktif olahraga seperti tennis dan renang. I was very active and cut my hair really short. So yeah, saya sempat jadi girly Barbie girl kemudian tomboy dan kemudian jadi seperti sekarang which I think is a mix of both of them.

What’s your childhood dream back then?

It’s so embarrassing, tapi saya ingat dulu saya pengen banget jadi penyanyi. You can ask my mom, dulu saya sering pecicilan nyanyi random lyrics sambil pura-pura main gitar. Saya juga dulu ingin jadi aktris, tapi kalau sekarang saya ingat lagi, I’m like ‘what was I thinking?

Kalau sekarang masih minat jadi penyanyi atau cukup di karaoke saja?

Oh no, cukup karaoke saja. I love karaoke, it’s like a time for me to release myself, haha. I usually go with a bunch of crazy friends and just jammed out.

Apa lagu karaoke wajibmu?

“Mamma Mia” by ABBA atau “Bohemian Rhapsody”, apa lagi ya? Oh ya “Don’t Stop Me Now” dari Queen juga! Kalau karaoke bareng keluarga saya, we always sing “Bohemian Rhapsody”. It’s just a thing that we always do.

Kalau di keluarga kamu paling dekat dengan siapa?

Probably my mom, karena we’re just like sisters in a sense ada waktu-waktu di mana we completely hate each other and then love each other so much. Kami juga sering sharing pakaian, sepatu, makeup… atau lebih tepatnya, I share my makeup, haha. So yeah, saya rasa saya paling dekat dengan ibu saya, dia bisa tau jika saya punya masalah dan sangat suportif soal modeling, she’s like “Oow… look at you in the cover,” and I’m like “Oh my God, please stop, it’s annoying,” haha.

Pasti banyak yang bilang kamu mirip banget sama your mom ya?

Yeah! And to be honest I don’t see the similarity at all! Dia kadang-kadang suka menggoda saya soal itu tapi saya justru suka sebal kalau disama-samakan. But I think I kinda understand. She’s also a fashion stylist and I get my fashion sense from her. Most of my things are from her wardrobe anyway and I’m like the younger version of her in that sense. Barang terakhir yang saya pinjam dari lemarinya adalah boyfriend jeans yang sangat nyaman and she’s like “You better give it back or get your own jeans!” and I’m like, “Okay, geez…”

How about your grandpa? Kamu sering diajak wisata kuliner sama Pak Bondan?

Ya kalau di family trip he’s the one that will show us around and to try something new in different places. Saya harap nggak akan ada yang cari dan nonton, tapi saya sempat muncul di salah satu episode show-nya. Saya masih kecil banget bareng sepupu saya, please do not try to find the clip because it’s probably the most embarrassing thing ever! Haha! But yeah, it’s always fun to going around with my grandpa because there’s an always new experience. Saya sangat picky soal makanan dan biasanya menolak kalau disodorkan makanan yang tidak biasa saya makan but in the end of the day, I will try it too, haha.

Kamu punya nama yang unik, what do you think about it dan jika bisa memilih nama sesuai yang kamu inginkan, nama apa yang akan kamu pilih?

Saya sempat bertanya-tanya soal arti nama saya dan dari mana asalnya karena orang-orang sempat memanggil saya dengan nama “kunyit” kemudian saya baru tahu it was a spice. Sebetulnya nama saya tidak hanya terinspirasi dari nama rempah-rempah but actually dari nama lead vocalist sebuah band bernama The Republica yang menjadi favorit mama saya. The lead singer’s stage name was Saffron. I always liked the name Aquamarine. So then my nickname would be Aqua. People think I’m weird when I tell them that. 

Mengintip Instagram milikmu, tampaknya kamu sangat into Halloween ya?

Yeah I really like Halloween. Setiap tahun saya mencoba something new. Tahun ini saya punya dua kostum. Yang pertama saya menjadi Alice karena keluarga saya did the Alice in Wonderland things, my mom became the White Queen, I became Alice, my mom’s boyfriend became Mad Hatter and his daughter became Cheshire Cat, it was cute and fun! Yang kedua, saya merias muka saya sendiri dengan riasan bertema tengkorak, that was the first Halloween makeup I did all by myself, It took such a long time maybe because I’m such a perfectionist. It took like two hours, literally.

 img_9709

Tell me about school life, seberapa penting edukasi bagimu?

I take education very seriously, I’m not the best at it but I feel like without it I can’t do anything else. Itu sebabnya untuk kerja, saya hanya bisa melakukannya sepulang sekolah atau pas weekend. Orangtua saya nggak akan kasih izin saya untuk bolos demi pemotretan dan saya pun juga nggak mau bolos karena saya pasti akan ketinggalan pelajaran.

Apa satu hal atau skill yang ingin kamu pelajari?

Saya ingin bisa bahasa Prancis. Saya sempat belajar sendiri, but it doesn’t seem really working, haha. But yeah, saya selalu ingin belajar bahasa Prancis atau Belanda karena keluarga dari pihak ibu saya banyak yang berasal dari sana. Saya sebetulnya lumayan paham kalau mendengar orang ngomong bahasa Belanda, tapi saya nggak bisa ikutan ngomong, which is so frustrating.

Apa yang menjadi obsesimu belakangan ini?

I don’t really obsess over things, so yeah, I don’t have a current obsession.

What’s on your music playlist right now?

The 1975, Arctic Monkeys, and a lot of old 90s music. They are so fun to jam out and karaoke with.

Kamu sering datang ke festival musik, konser atau festival apa yang paling ingin kamu datangi dan kenapa?

I love festivals! I love how they have all these different genres and indie music which I really love. Baru-baru ini saya pergi ke We The Fest yang sangat amazing karena ada The 1975, haha. I really want to go to Glastonbury or Coachella one day. It’s on my bucket list.

Who’s your celeb crush? Jika bisa menghabiskan satu hari dengannya, apa yang ingin kamu lakukan?

I have so many that I don’t really know which one to pick! Mungkin yang paling utama adalah Matty Healy atau Alex Turner karena mereka terlihat really chill. Saya ingin ngobrol dengan mereka soal bagaimana mereka mendapat ide dan menulis lirik untuk lagu-lagu mereka dan mungkin minta diajari main gitar. I wouldn’t mind talking about those things at a cafe or something over coffee.

Dengan atensi yang makin banyak, bagaimana caramu menanggapi rumor dan negativitas, baik itu di real life maupun di internet?

I sometimes get caught up tapi saya selalu mencoba tetap positif dan berusaha agar hal itu tidak mengganggu saya. I think its stupid when people hate on you, make rumors so say negative things about you. They are totally wasting their time, jadi kenapa saya harus membuang waktu juga untuk menanggapinya? Like my mum says, they’re probably just saying those things cause they’re jealous! Hahaha.

Seberapa penting media sosial bagimu dan socmed apa saja yang kamu pakai?

Tidak terlalu penting. Saya biasanya membuka socmed hanya untuk mengetahui apa yang sedang dibicarakan atau apa yang menjadi ‘the new big thing’. I usually just go on Instagram, I’m always on Snapchat and Facebook. That’s pretty much it, hahaha.

Kamu pernah punya akun ask.fm tapi dihapus, why?

Hahaha omg yeah I did! I don’t know. Saya menganggapnya cukup memalukan dan sebetulnya tidak terlalu menyukai konsepnya, like anonymous people would ask you questions and I don’t know where any of them are going! I also didn’t really used it and only seemed to have used it when it was big. Everyone in my school started using it so I did. Quite stupid of me to be honest.

Seberapa sering kamu berpergian dan apa tujuan liburan favoritmu?

I don’t travel often. Saya biasanya pergi ke Bali karena cukup dekat dan kakek-nenek saya tinggal di sana. I always feel most at home and stress-free at Bali. Jadi destinasi favorit saya bisa dibilang Bali karena saya selalu ke sana, haha. Terkadang, tapi sangat jarang, saya mengunjungi saudara di Inggris dan Prancis, which is always loads of fun.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Apa destinasi liburan impianmu?

Wow. This is a hard question. I’m quite of a beach gal so I would probably want to go to Maldives or Fiji.

Apa satu hal darimu yang membuatmu merasa unik dari orang lain?

I think my sense of style and my nose, haha!

Apa brand favoritmu?

Brand favorit saya adalah Zara dan Topshop. Mereka sangat kreatif dalam soal desain, terutama jeans. I feel like Zara and Topshop really stand out. I feel like I can always see some similarites between other brands but with these two brands, they can never be the same like the others. They are just so different. I seem to only fit in jeans from Zara and sometimes Topshop.

Apakah kamu pernah melakukan fashion faux pas?

Of course! I think everyone does. Dengan bertambahnya umur, saya mencoba lebih berhati-hati saat berpakaian. Saya punya dua rules yang saya patuhi. It’s basically either I have one denim item in my outfit and I am only allowed to wear one pattern item with my outfit and the rest have to be plain clothing. Saya tidak ingin mengambil risiko aneh-aneh dalam berpakaian. I think the most common one I do is wear the wrong undergarmets with my outfit, hahaha! 

Do you have any secret skills?

My secret skill is probably tennis and maybe baking. I’ve played tennis since I was 4 years old and I always bake in my free time and for some family occasions.

Apa zodiakmu dan seberapa besar kamu percaya horoskop?

Zodiak saya Cancer. I take them really seriously no matter how many people tell me it’s not true, hahaha! Saya bisa duduk berjam-jam membicarakan sikap orang berdasarkan zodiak mereka. My boyfriend hates it when I talk about it but you got to admit! They are all pretty spot on.

What do you want to be remembered for years from now?

I want to be remembered as someone who was really hardworking to get where she was in her life and that no obstacle was hard enough for her to go over.

img_9723-2

 

Little Miss Sunshine, An Interview With Zahara Davis

Dari Bali sampai ke West Coast, model belia Zahara Davis membawa irresistible beauty dan effervescent charm ke dunia fashion yang ia geluti sejak dini. Fine, fresh, fierce, she got it on lock! Foto oleh: Andre Wiredja.

dsc01217

Bayangkan jika pada suatu hari kamu hanyalah gadis berumur 14 tahun yang sedang asik melahap Big Mac di sebuah shopping mall, seseorang dari model agency menghampiri dan memberimu kartu nama, and next thing you know, kamu berjalan di runway prestisius fashion week dunia, menjadi Victoria’s Secret Angel, mengencani pria-pria seperti Leonardo DiCaprio dan Tom Brady serta menjadi model dengan bayaran paling mahal di dunia seperti yang dialami oleh supermodel Gisele Bündchen. Skenario yang hampir mirip juga terjadi untuk Kate Moss yang di usia 14 tahun menarik perhatian seorang scouting agent dari Storm Model Management saat ia berada di bandara JFK New York sebelum akhirnya menjadi salah satu model paling iconic di dunia.

Sekelumit cerita di atas mungkin contoh cerita ‘discovery’ yang sama klisenya dengan cerita seorang gadis mengantarkan temannya untuk casting namun justru ia yang menjadi bintang (seperti yang dialami oleh Adriana Lima dan Gemma Ward misalnya). Sebuah anekdot di dunia modelling yang terdengar seperti dongeng, but it’s really happened and never gets old. Kita tidak akan pernah tahu apa yang membuat seorang scouting agent dari agensi modeling berani mempertaruhkan kepercayaan kepada seorang gadis muda yang hanya ia lihat sekilas di random places. But still, kita terus mendengar cerita tentang gadis yang tadinya bukan siapa-siapa breaks into the industry dan menjadi model tenar thanks to street-scouting. The chances are odd but it’s not impossible.

It’s the girl who never thought she could who gets discovered. The prettiest girl in school doesn’t always make the best model,” ujar Ivan Bart, seorang top agent dari IMG Models, yang pernah menaungi Gisele Bundchen, Heidi Klum, dan Kate Moss. Pada kenyataannya, dari sekian banyak pretty faces in the crowd, memang tidak ada jaminan jika wajah cantik dan postur semampai saja cukup untuk membuatmu menjadi the next big thing dalam industri modeling yang sangat kompetitif. Just like any other It Girls, the It models juga diberkahi that ‘special oomph’, the ‘je ne sais quoi’, the ‘x-factor’, dan istilah lainnya untuk mendeskripsikan pesona natural dan magis yang dimiliki beberapa gadis remaja yang membuat mereka stands out in the crowd dengan begitu effortless dan membuat orang-orang tergila-gila. Seperti yang dimiliki Zahara Davis, seorang model muda dan girl crush yang siap membuatmu terobsesi dan menjadikan dirinya sebagai ‘goals’.

Just like any other crushes in the social media era, saya pertama kali mengetahui sosok Zahara justru dari akun Instagram miliknya (@zaharadavis) yang saat artikel ini ditulis telah memiliki 32.2K followers. Sama seperti umumnya model generasi sekarang yang kerap disebut sebagai “The Instagirls” (Cara Delevingne, Kendall Jenner, Gigi Hadid, Fernanda Ly, etc) yang dengan gamblang menunjukkan personality mereka lewat social media dan membuat mereka terasa lebih approachable dan relatable, Zahara juga memiliki daya tarik tersendiri yang membuat siapapun tergoda untuk scrolling down her feeds dan menekan tombol follow dengan cepat. Saya ingat yang pertama kali tercetus di benak saya adalah “Wow, this girl is drop dead gorgeous!” dan lebih terkejut lagi saat mengetahui jika dirinya adalah seorang model yang kala itu berdomisili di Bali.

Diberkahi oleh kulit semanis karamel yang eksotis, perfect bikini body, facial feature unik paduan genetik Native American, Saint Lucia, dan Inggris yang mengalir dalam darahnya, gadis yang dilahirkan di Maui, Hawaii dan dibesarkan di Bali ini memulai karier modelingnya sejak ia ditemukan oleh Jules Henry, CEO dan founder dari Fauve Agency sekitar tiga tahun lalu saat ia masih berumur 13 tahun. Di bawah naungan model management yang berbasis di Bali tersebut, Zahara mengembangkan talenta naturalnya sebagai model paling muda di antara jajaran roster lainnya seperti Salvita DeCorte, Helene Jansen, Reti Ragil, Dara Warganegara, Drina Ciputra, dan model-model papan atas lainnya di Indonesia saat ini.

Blessed with good genes itu sudah pasti, namun berbekal kerja keras, professionalism dan work ethic yang sudah dibangun dari usia dini, tidak butuh waktu lama bagi Zahara untuk menjadi sensasi baru di skena fashion dengan menjadi muse bagi banyak fashion photographer terkenal dan muncul di berbagai editorial majalah-majalah mode prestisius. Kini di umurnya yang baru saja menginjak 16 tahun, Zahara telah memiliki cukup portofolio yang akan mengundang decak kagum siapa saja. Selain Fauve, saat ini ia juga diwakili oleh agensi internasional Next Management yang membuka peluang pekerjaan internasional lebih lebar baginya. Setahun terakhir ia telah malang melintang ke Paris, Los Angeles, dan New York dan bekerja untuk klien-klien besar seperti This Is A Love Song, NYLON US, Urban Outfitters, Glamour US, Billabong, dan yang menjadi salah satu career highlight-nya sejauh ini: Dipotret fotografer legendaris Bruce Weber untuk editorial berjudul “Reach Out and Touch Somebody’s Hand”  di Vogue Italia edisi April 2016 bersama model-model internasional seperti Ajak Deng, Mica Arganaraz, Fare Fares, Gelila Assefa, Anushka Sharma, dan Shehkar Jah.

Keputusan menjadikan Zahara sebagai cover edisi Summer tahun ini muncul secara spontan ketika fotografer Andre Wiredja bertemu Zahara di Bali dan melakukan test shoot. Tanpa ragu, ketika Andre melempar ide untuk memotret Zahara, kami pun langsung menyambutnya. Walaupun sayangnya saya tidak bisa bertemu dan mewawancarainya langsung, semua testimoni dari orang-orang yang saya dengar tentang Zahara selalu bernada positif. Semua sepakat jika Zahara adalah sosok berkepribadian, down to earth, menyenangkan untuk bekerjasama, dan memiliki masa depan cemerlang di bidang yang ia geluti sekarang. Dari apartemennya di Los Angeles, Zahara pun mengungkapkan beberapa sisi dalam dirinya lewat balasan email yang ia kirim untuk NYLON. Ready to know her better?

dsc01581

Hai Z, jadi apa yang mendorongmu terjun ke dunia modeling? Saya selalu ingin melakukannya, something I had a passion for. Saya mulai modeling bersama Juls saat saya berumur 13 tahun dan mendapat kesempatan bertemu dengan fotografer Nicoline Patricia yang kemudian banyak mendidik saya soal pekerjaan sebagai model. Sebelum itu saya juga sudah melakukan beberapa pekerjaan modeling, namun saya rasa itu titik di mana karier saya benar-benar dimulai. And since then I haven’t really stopped. Both my mum and my grandma were in the fashion industry, so that did have an impact on what I’m doing now.

Bagaimana akhirnya kamu dikontrak Fauve Management dan Next Management? It was all at the right time, with the right people and things just happened perfectly.

Apa hal yang paling kamu sukai dan tidak sukai dari modeling? Saya suka kesempatan traveling ke berbagai tempat di dunia dan bertemu banyak orang-orang berbakat namun saya harus bilang jika bangun dan bekerja dari mulai jam 4 pagi isn’t the cherry on my Sunday.

Bagaimana rasanya melihat foto diri kamu sendiri di media? Tergantung fotonya sebetulnya tapi saya jelas bukan the best judge untuk menilai diri saya sendiri karena kebanyakan foto yang saya kurang sukai justru malah disukai banyak orang lain.

Boleh cerita sedikit soal pengalamanmu bekerja bersama Bruce Weber untuk Vogue Italia? Saya sampai harus mencubit diri saya sendiri saat tiba di lokasi pemotretan agar yakin jika itu bukan mimpi. Salah satu pengalaman terbaik saya sebagai model sejauh ini. Semua orang sangat friendly dan menyenangkan untuk bekerjasama.

Susah nggak membagi waktu antara karier dan akademis? Ya, lumayan susah karena saya harus selalu berpergian, but somehow I manage to work it out. Home school is pretty mobile.

Do you consider yourself as world citizen? Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu tempati, mana yang kamu anggap sebagai “rumah”?

I am a citizen of the world, tapi saya lahir di Hawaii dan dibesarkan di Indonesia. Bali is where I will always call home.

Apakah kamu punya kakak atau adik? Siapa supporter paling besar di keluargamu? Saya anak satu-satunya dan dibesarkan oleh ibu saya. She is most definitely my biggest fan. Dia selalu mendukung saya 100%

Apa yang paling kamu rindukan dari Bali? Bagaimana kamu mendeskripsikan perfect night out di Bali? Saat saya di Bali, itu biasanya saya sedang liburan dari semua hal lain. Itu waktu bagi saya untuk bersantai dan berkumpul bersama keluarga dan teman-teman saya. Quiet nights in are my favorite there.

Apa hal favorit yang kamu lakukan di musim panas?

My favorite is to island hop between Indonesia and all the little islands.

 

What’s your favorite summer memory? I now go every year to Glastonbury, which is coming up soon and is my favorite festival of summer so far.

 

What do you think about summer fling? Not on the top of my list.

dsc01431

Saya pernah lihat salah satu posting di Instagram milikmu tulisan “Those who criticise our generation forget who raised it”, kalau bagi kamu sendiri apa rasanya menjadi seorang model dari generasi millennial di era media sosial seperti sekarang? Media sosial telah menjadi satu hal yang berpengaruh di industri fashion dan saya pun menjadi bagian darinya, tapi call me old fashion but it was a lot easier for models back when it didn’t matter how many likes your Instagram post got. 

Seberapa penting social media untuk kehidupan sehari-harimu? Saya hanya punya akun Instagram dan Snapchat. Kalau kamu menemukan akun social media selain dua itu atas nama saya, kemungkinan besar mereka adalah fake accounts. Saya berusaha untuk tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial.

Apakah kamu termasuk morning person atau evening person? Depends how the crowd is! As long as I’m with good people then I can do either.

Couch potato or gym fanatic? Bagaimana caramu agar tetap fit? Gym! Without a doubt. Tapi saya tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuan nutritionist dan trainer saya Melanie dari Motion. Saya selalu excited untuk kembali latihan bersamanya setiap saya di Bali.

Apa kamu punya signature style yang menjadi andalanmu? Setiap hari saya bangun dengan mood yang berbeda. Saya tidak bisa bilang saya punya satu particular style, but it’s always me.

Siapa model favoritmu? Naomi Campbell dan Candice Swanepoel.

Selain modeling, hal-hal apa lagi yang kamu sukai? Membaca, menulis, traveling, musik, nutrisi dan healthy living.

 

Apa yang menjadi obsesimu belakangan ini? Saya selalu terobsesi dengan every healthy thing on the market, never gets old to me.

Musik apa yang biasanya ada di playlist personalmu? Rap dan R&B adalah favorit saya. My top band would probably be Destiny’s Child or TLC.

How about the beauty regime? Produk apa yang menjadi favoritmu? Saya sangat perhatian soal produk yang akan saya pakai untuk kulit saya. I love organic products. Saat ini saya menyukai:

– All lush bath bombs 

– Pure shea butter lip balm

– Hemp seed hair oil (amazing)

– Sea salt body scrub

– BEST cream I use is Bali browning lotion 

What makes you laugh? Life.

What makes you cry? LIFE.

Apa hal paling mendebarkan yang pernah kamu lakukan? Bungee jumping, it was crazy.

Apa sifat yang paling kamu sukai dari dirimu sendiri? I’m just a happy go lucky girl.

Kalau yang paling tidak disukai? Being happy go lucky, sometime doesn’t always work out, you may end up in a ditch, ahaha!

Apa yang menjadi ketakutan terbesarmu? Tidak bisa meraih target-target yang telah saya buat.

Secret skill? Staying balanced through it all the craziness that I love.

Apa saran terbaik yang pernah kamu terima? Keep your eyes on the stars and your feet on the ground.

Do you collect something? Memories.

Rencanamu selanjutnya? Reaching my goals and dreams.

dsc01753

 

Très chic, très hip, très sexy! An Interview With Mademoiselle Yulia

Tokyo’s It Girl, DJ, musisi, style icon, club queen, fashion & accessories designer, muse, kolumnis mode NYLON Japan… Mademoiselle Yulia telah mengantungi lebih banyak profesi dari yang bisa kamu bayangkan dari seorang wanita yang bahkan belum menginjak umur 30 tahun. Menyebutnya sekadar seorang multi-hyphenate adalah sebuah understatement, namun di luar segala label yang melekat pada dirinya, Mademoiselle Yulia tidak akan pernah puas mengeksplorasi dunia dengan style and sound personalnya yang nyaris tanpa cela. We want to know the secret, s’il vous plait

 img_3894

Di masa ketika siapapun bisa menjadi overnight celebrity dengan berbekal persona social media yang kuat dan jumlah follower sebagai currency untuk kepopuleran seseorang, istilah It Girl mungkin telah menjadi sesuatu yang sangat cair dan fleksibel. Begitu mudahnya kita beralih dari satu girl crush ke girl crush lainnya hanya dengan beberapa klik dan stalking di Instagram, it’s became everybody’s game at this moment. Tapi ada satu hal penting yang tak bisa ditutupi filter apapun dan membuat seorang It Girl tetap standout di antara ribuan It Girls lainnya, yaitu? The genuine talent and natural charms, tentu saja. For some people, setiap post yang mereka unggah di Instagram adalah full-time job yang membutuhkan effort besar demi the so-called “curated contents”, paid content, dan menarik lebih banyak followers. Namun, bagi sebagian orang lainnya, Instagram sebetulnya tidak lebih dari sekadar platform untuk membagikan sekelumit keseharian mereka yang jauh lebih seru in real life instead of URL. Mademoiselle Yulia termasuk golongan yang kedua.

            DJ, penyanyi, dan desainer asal Tokyo ini mungkin “hanya” memiliki 141K followers di akun Instagram @mademoiselle_yulia miliknya, jauh lebih sedikit dari katakanlah Kiko Mizuhara dengan 3, 4 juta followers-nya, namun sempatkan waktu untuk scrolling sekejap di feeds miliknya yang dipenuhi foto dirinya menghadiri berbagai acara fashion paling happening across the globe, entah itu duduk di front row sebuah fashion week, menjadi DJ di party untuk brands seperti Louis Vuitton, Sonia Rykiel, dan Chanel, memamerkan personal style-nya baik di red carpet maupun di depan lensa street photographers, or just chilling with her best friends yang meliputi Jeremy Scott, 2NE1, Virgil Abloh (style advisor Kanye West), dan Kiko; kamu akan paham jika dia sebetulnya memang orang yang lebih memilih berinteraksi di dunia nyata dibanding seseorang yang obsessively berkutat dengan smartphone setiap saat. “Sejujurnya saya tidak menganggap social media sebagai hal yang vital bagi kehidupan pribadi saya sehari-hari,” cetus wanita berumur 28 tahun ini. “Saya menggunakan social media seperlunya saja untuk berkomunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Tapi memang saya paling suka Instagram karena basically it’s a picture and you don’t need to say anything,” sambungnya.

Telah kembali ke Tokyo setelah kunjungan terbarunya ke Paris yang meliputi pemotretan untuk majalah yang kamu pegang sekarang, Yulia membalas email interview kami hanya beberapa jam sebelum final deadline kami, but its kinda forgivable mengingat aktivitasnya yang padat. “I’m DJ-ing a lot these days. Saya juga baru menggelar ekshibisi untuk koleksi Autumn/Winter 2016 brand baru saya, Growing Pains, bulan lalu. Jadi saya baru akan mulai memikirkan ide untuk koleksi berikutnya. Lots of new project this year,” ungkap Yulia soal aktivitasnya belakangan ini. Dengan segala kesibukan yang ia lakukan, Yulia mungkin tidak punya waktu untuk meng-update Instagramnya setiap saat, namun tak bisa dipungkiri jika Instagram juga yang memperkenalkan dirinya ke audiens global (termasuk Rihanna, but we will talk about it later), walaupun sejatinya Mademoiselle Yulia telah memiliki reputasi cult di kancah fashion dan musik electro Tokyo sejak dia bahkan belum lulus SMA.

img_3916

Bagaimana cara memperkenalkan Mademoiselle Yulia kepada orang yang belum familiar dengan namanya? Well, to put it simple, Mademoiselle Yulia adalah seorang fashion royalty di Tokyo yang terbiasa tampil di red carpet, front row, galeri foto street style paling bergengsi di sela-sela kesibukannya membuat musik J-pop dengan influens electro yang kental serta menjadi DJ di pesta-pesta paling eksklusif di dunia fashion. Namun seiring kamu membaca artikel ini, kamu akan tahu jika she’s way more than that.

Lahir dan besar di Tokyo, wanita kelahiran 10 Agustus 1987 ini memulai karier bermusiknya dengan menjadi vokalis dan gitaris untuk sebuah band berpersonel empat orang yang ia bentuk saat dia baru masuk SMA. “It was a punk band, saya banyak mendengarkan musik Barat, terutama punk, rock, new wave, post punk dari akhir 70-an sampai awal 80-an,” kenangnya soal band pertamanya yang mengambil inspirasi dari The Clash dan Kraftwerk tersebut. Tahun berikutnya, terinspirasi dari kunjungannya ke sebuah acara DJ night di London, Yulia mulai menggelar sebuah electronic dance party underground serupa di Tokyo dengan nama Neon Spread. Just like The Misshapes party di New York City ataupun acara Kitsuné di Prancis, acara tersebut dengan cepat menjadi party paling happening sekaligus ajang seen and to be seen para It Crowds setempat. “Saat masih di band pun saya juga telah banyak mendengarkan musik electro, terutama electroclash karena genre tersebut adalah perpanjangan dari musik-musik yang saya sukai (post punk dan new wave). So it was natural for me to start to listens electro music,” ungkapnya.

            Just like a rite of passage seperti yang dialami juga oleh para club queens seperti Leigh Lezark, Sarah Jane Crawford, Solange, dan Harley Viera-Newton yang tidak puas bila hanya berdansa di dance floor, langkah berikutnya yang dilakukan Yulia adalah menguasai DJ deck dan merilis mixtape. Di tahun 2008, Yulia melakukan debutnya sebagai DJ dengan kontrak bersama EMI Music Japan untuk merilis mixtape perdananya bertajuk Neon Spread dari lagu-lagu yang ia mainkan di acara tersebut dan sampai saat ini telah memiliki tiga volume. Seiring kepopulerannya sebagai DJ di berbagai event dan party, Yulia pun mulai berkolaborasi dengan tokoh-tokoh penting lainnya di skena electro dan hip-hop Tokyo seperti Plastics, Towa Tei, Shinichi Osawa, M-Flo, dan Teriyaki Boyz, serta Krazy Baldhead dan Uffie, dua musisi elektronik asal Prancis yang pada masa itu menjadi kebanggaan Ed Banger Records. Kedekatannya dengan rapper Verbal dari grup Teriyaki Boyz dan M-Flo sebagai kolaborator kemudian berlanjut ketika ia menjadi executive producer untuk album debut Yulia sebagai penyanyi elektronik. Dirilis pada bulan September 2011, album debut yang diberi judul Mademoworld itu mengantarkan nama Yulia ke ranah mainstream dengan sebuah world wide tour bertajuk “Angee Yung Robotz” untuk mempromosikan album berisi 12 lagu tersebut.

Mendapat apresiasi positif baik dari kritikus maupun penggemar musik berkat produksi yang slick, persona Yulia yang unik, dan beat yang adiktif, album ini juga dianggap memperkenalkan genre J-pop yang lebih universal dan mudah diterima ke telinga pendengar internasional. A kind of album you can bangin on with, terlepas kamu mengerti bahasa Jepang atau tidak. Single utama di album ini berjudul “Gimme Gimme” yang disutradarai oleh graffiti artist asal Prancis, Fafi, memperlihatkan Yulia with her glorious blue hair dan girl squad-nya berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya dengan visual aesthetic yang nyaris serupa seperti yang akan Madonna buat untuk video “Bitch I’m Madonna” empat tahun kemudian (Yulia lebih dulu merilis “Gimme Gimme” di tahun 2011). Selain kolaborasi dengan will.i.am dan Basement Jaxx serta membuatnya menjadi opening act untuk tur Jepang Kylie Minogue, kepopuleran Mademoworld juga menghasilkan sebuah show miliknya sendiri dengan nama yang sama di kanal musik Space Shower dan di tahun 2013 Yulia merilis album keduanya, Whatever Harajuku, dengan single “Harajuku Wander” dan musik video yang menunjukkan Yulia di habitat naturalnya di antara para fashion forward people Harajuku.

Fun and unexpected,” jawab Yulia singkat saat diminta mendeskripsikan personal style dirinya. It’s been long days sejak Gwen Stefani tergila-gila pada gaya Harajuku dan menjadikannya sebuah stereotipe klise dari giggling Japanese girls in wacky outfits, namun, di tangan Yulia sebagai the true native and role model, ia berhasil membawa street style kebanggaan Tokyo tersebut ke level selanjutnya yang lebih mature dan edgy dengan aesthetic yang terinspirasi dari pusat-pusat skena alternatif Tokyo seperti Harajuku, Koenji, dan Shimokitazawa yang merepresentasikan sense of style kota tersebut yang surreal. Tokyo’s street style is finally cool again. “I think fashion is the first passion karena saya tidak terlalu pandai mengekspresikan diri lewat kata-kata. Jadi bagi saya fashion adalah cara saya untuk mengekspresikan diri. Tapi sejak saya bergabung di band pertama saya, musik juga menjadi salah satu cara saya untuk berekspresi. Fashion dan musik, keduanya sangat berpengaruh dalam hidup saya,” tukasnya.

Dengan kepopuleran EDM yang menjadi salah satu genre paling besar di awal abad ini, whether you like it or not, DJ is the new rock star and fashion muses. Mademoiselle Yulia kebetulan termasuk salah satu DJ yang mampu memadukan style dan sound dengan sama apiknya. Diberkahi personal style eklektik dan kemampuan mix and match sesuatu yang unexpected menjadi kesatuan looks yang membuat iri fashion blogger paling berani sekalipun, Yulia mampu mengenakan pakaian paling ajaib dari runway dan membuatnya tetap wearable. Contohnya saat ia memakai gaun Chanel berwarna pastel dengan heels putih dan kaus kaki semata kaki atau memakai kimono sambil menenteng tas Gucci berdetail bunga. Dengan injeksi whimsical khas Harajuku, ia membuktikan dirinya sebagai the ultimate mix master, dengan atau tanpa turntable di sampingnya.

img_3871

Terima kasih untuk kemajuan teknologi, sense of style dirinya pun membuahkan legion of fans dari seluruh dunia, termasuk dari kalangan fashion insider seperti Jeremy Scott yang menjadikannya muse dan menjadi sahabat baiknya atau Stella McCartney yang memintanya sebagai representasi Tokyo untuk proyek “One City, One Girl” label miliknya di mana Stella McCartney herself memilih gadis-gadis paling keren untuk mewakili dan memperkenalkan kota mereka masing-masing. “Saya sejujurnya lebih aktif di malam hari karena pekerjaan sebagai DJ selalu dimulai saat larut malam, tapi saya selalu berusaha bangun sebelum jam 10 pagi. Saya memulai hari saya dengan meminum yoghurt,” jawab Yulia tentang bagaimana ia biasanya menjalani hari-harinya di Tokyo. Berkumpul dengan teman-temannya di daerah Harajuku, a little bit of shopping, lalu makan malam dan setelahnya pergi ke bar atau club adalah kegiatan favoritnya di kota kelahirannya tersebut. “Tokyo is really convenient and clean. Saya menyukai bagaimana mood kota ini berubah seiring pergantian musim. Tapi saya juga sangat suka London. Saya ingin tinggal di sana suatu hari nanti,” akunya.

            Dengan reputasi yang kian menanjak, maka tidak mengherankan jika Yulia pun bisa dibilang telah bertransisi dari local icon ke global stardom, membuatnya mendapat fans dari berbagai belahan dunia dari New York sampai Yunani dan membuka pintu sosial yang lebih lebar lagi baginya. Buktinya? Well, tampil sebagai cameo di video klip “The Baddest Female” milik CL dari 2NE1, duduk di front row Jeremy Scott di tengah Iggy Azalea dan Nicki Minaj, menjadi satu-satunya model Asia di kampanye global H&M yang bertema “H&M Loves Music”, dan mendapat sahabat baru, Rihanna.

“Saya bertemu Rihanna sekitar 3-4 tahun lalu di Paris. Saya pergi ke sebuah party bersama teman-teman saya dan ketika saya sedang berdansa seru di dance floor, tiba-tiba Rihanna melambaikan tangannya ke arah saya dan memanggil saya ke mejanya! Dia bilang, ‘I know you from Instagram and I love your style!’ Kebetulan kami berdua punya mutual friends seperti Jeremy Scott dan lain-lain, jadi dari situ dia menemukan saya di Instagram tapi sejujurnya saya sangat terkejut karena dia mengenali saya! Sejak saat itu kami pun berteman. Kalau CL, sebenarnya saya sudah kenal dia sejak sepuluh tahun lalu. Saya bertemu dengannya sebelum dia debut dengan 2NE1 karena saya berteman dengan stylist-nya.”

Setelah cameo-nya di video CL, ia pun diminta menjadi DJ untuk after party show Chanel Resort di Seoul dan berada di bawah naungan agensi model internasional IMG yang turut membantu popularitasnya di dunia fashion baik digital maupun real life. Namun, bahkan sebelum era social media pun, Yulia adalah sosok egnimatis yang dengan effortless menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. “Lewat social media, saya memang beruntung karena bisa bertemu beberapa orang yang mungkin tidak bisa saya temui sebelumnya, tapi untungnya, di lingkungan saya berkembang, bahkan sebelum adanya media sosial pun, saya punya banyak kesempatan untuk bertemu orang-orang seperti Jeremy Scott dan tim KTZ yang mengulurkan tangan mereka bahkan sejak saya baru mulai tampil sebagai DJ,” ujarnya.

Sama halnya dengan sikapnya pada musik, rasa cintanya kepada fashion juga tak berhenti sebatas sebagai konsumen. She needs to create something. Selain masih menjadi kolumnis tetap rubrik fashion miliknya sendiri dalam setiap edisi NYLON Japan selama delapan tahun terakhir ini, Yulia pun memiliki fashion brand sendiri. Brand pertama miliknya adalah Giza, sebuah label statement accessories yang ia buat di tahun 2008. Aksesori yang ia buat untuk label ini meliputi jewelry, tas, headwear, badges, dan t-shirts yang terinspirasi dari ancient Egypt dengan sentuhan pop art yang kental dan telah berkolaborasi dengan label-label streetwear terkenal seperti Wesc untuk Fall 2010 dan Joyrich, label kelahiran Tokyo yang kini berbasis di Los Angeles, di mana ia membuat kolaborasi bertema sport-luxe yang playful untuk koleksi Spring/Summer 2015 label tersebut.

Tak pernah berhenti berkreasi atau kekurangan inspirasi, bulan November tahun lalu, ia pun meluncurkan clothing brand terbarunya yang diberi nama Growing Pains dengan koleksi yang meliputi outerwear, patterned dresses, faux fur, dan latex skirts. “Saya terinspirasi dari berbagai macam pergerakan seni, baik itu dari musik, sinema, underground culture, dan movement dari seluruh dunia. It also celebrates bit of humor and every spirit of enjoying fashion as a self-expression. Musim pertamanya terinspirasi 90’s culture dan film Doom Generation, musim keduanya terinspirasi film-film Wong Kar-wai dari awal 2000-an,” terangnya soal label tersebut.

img_3965

 Fashion dan musik faktanya adalah yin & yang tak terpisahkan dari hidup Yulia, bahkan sejak ia masih kecil. Ibunya adalah seorang kimono dresser dan ayahnya adalah seorang hairstylist, so it’s definitely in her genes. “Saya sangat berterima kasih terhadap kedua orangtua saya karena walaupun mereka sangat strict tapi mereka selalu mendukung apapun yang ingin saya kerjakan. Mereka juga menyukai fashion dan musik,” ujar kolektor vintage Moschino dan Thierry Mugler ini. Sama seperti mayoritas anak perempuan Jepang, Yulia tumbuh dengan kecintaan terhadap benda-benda kawaii yang terus berlanjut sampai sekarang. Dalam sebuah feature dirinya di situs The Coveteur, kita bisa melihat kamarnya yang tidak hanya dipenuhi koleksi designer items, sneakers, dan barang-barang fashion saja, tapi juga pernak-pernik My Little Pony, Sailor Moon, dan kawaii things lainnya yang tertata rapi. “Saya mulai mengoleksi beberapa benda sejak kecil, tidak hanya kawaii things, saya juga mengoleksi boneka Barbie dan snow globes,” ungkapnya sambil menyebut compact powder Sailor Moon sebagai salah satu item wajib yang ada di tasnya, di samping dompet Celine, iPhone dengan cigarette case yang ia buat sendiri, lipstick Chanel, dan gummy bears merek Haribo favoritnya.

Hal yang menurutnya impossible bila ia harus memilih antara fashion atau musik, Yulia pun tidak bisa pergi terlalu lama dari dunia musik. 17 Desember lalu, ia kembali ke dunia musik dengan dua single terbarunya, “GOGO” dan “THIS WEEKEND” yang merupakan rilisan terbarunya sejak Whatever Harajuku. “Saya merekam kedua lagu ini bersama seorang beat maker teman saya yang tergabung di band bernama ANIMAL FEELINGS saat saya di New York. Ini adalah pengalaman pertama saya merekam lagu di luar Jepang. ‘GOGO’ is beautiful song with slow jam sedangkan ‘THIS WEEKEND’ memiliki little disco flavor dengan beat yang danceable. Saya ingin membuat lagu yang berbeda dari yang telah saya kerjakan sebelumnya dan kembali ke akar saya, which is playing with the band,” tegasnya. Stay true to her roots, kedua single ini tidak hanya dirilis secara digital, tapi juga dalam bentuk CD dan 7 inch vinyl record sebagai reminiscence dari masa yang telah lewat. “Tentu saja pasar musik digital juga telah besar saat saya membuat mixtape pertama saya, namun waktu itu orang-orang masih banyak yang membeli musik dalam format CD, but now… Not anymore. Tapi saya masih ingin membuat bentuk fisik untuk musik saya, karena itu saya juga merilisnya dalam format vinyl. Karena seperti yang kamu tahu, vinyl secara ironis menjadi sangat populer kembali di seluruh dunia,” terangnya.

img_3956

            Kedua single tersebut adalah perkenalan dari album terbarunya yang akan berjudul YULIA dan direncanakan rilis musim dingin nanti. Untuk sekarang, ia masih mengerjakan album tersebut sambil juggling every works in her hands with ease, namun berbeda dari prasangka orang, ia sebetulnya tidak menganggap dirinya sebagai seorang multi-tasker. “Yang saya sukai dari diri saya… Saya berusaha untuk stay true to myself baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Yang saya tidak sukai, saya tidak bisa memikirkan hal-hal lain ketika saya sedang fokus terhadap suatu hal,” akunya. Sebuah fakta yang cukup membuat terkejut jika kita menghitung semua kesibukan dan profesi yang ia jalankan secara bersamaan.

Fashion dan musik mungkin telah menjadi hal yang familiar dan semudah membalik tangan baginya, namun saya pun penasaran bidang apa lagi yang ingin ia eksplor berikutnya. Selain personal style, sebetulnya yang membuat sosok Yulia menarik adalah her flawless makeup and hair style. Seperti yang sudah disebutkan, ayahnya adalah seorang hair stylist dan Yulia sendiri pun memiliki license sebagai hair stylist. “Iya, saya punya license untuk hairdressing. Karena saya sempat ingin menjadi hair stylist atau makeup artist saat masih remaja. Saya sebetulnya masih berminat melakukan proyek yang berhubungan dengan beauty, mungkin membuat beauty products? Who knows right? Haha… Tapi kalau bisa memilih, saya sebetulnya ingin menjadi pramugari!” ungkapnya gamblang. “Saya ingin pergi ke Mesir, Turki, dan Maroko! Saya telah mengunjungi cukup banyak negara di Asia, Eropa, dan Amerika, tapi saya sangat tertarik untuk mengunjungi Afrika. Sedangkan Turki berada tepat di antara Asia dan Eropa. Jadi saya pikir budaya di sana akan sangat menarik,” sambungnya. How about Indonesia then? “I really wanna go to Indonesia!” jawabnya dengan excited sambil mengungkapkan keinginannya untuk bisa bertemu dengan penggemarnya di sini. A little bird told me, hal itu mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Jika saat itu tiba, persiapkan dirimu untuk mencari koneksi yang bisa membuatmu diundang ke acara yang sama dengannya. Untuk sekarang, at least you know more about her already from us, and yeah, you’re welcome.

img_3959

Fotografi: Yuji Watanabe.

Stylist: Stefanie Miano.

Makeup Artist: Vichika Yorn.

Hair Stylist: Jonathan Dadour (B Agency).

 

Blooming Days, An A To Z of Ashley Yuka Mizuhara

Tumbuh besar di bawah bayang-bayang sang kakak, Kiko Mizuhara, tentu bukan hal mudah. Namun kini, Ashley Yuka Mizuhara bersiap mekar dengan warna dirinya sendiri.

IMG_0913

Jika kamu bertanya siapa cewek Jepang paling keren saat ini, most likely 7 dari 10 orang akan menjawab nama Kiko Mizuhara. Well, that’s only my wild guess dan memang hal itu belumterbukti secara empiris, namun melihat bagaimana sekarang semua orang tampak terpesona oleh karisma dan kecantikan model merangkap aktris tersebut, saya rasa tebakan saya tidak akan meleset terlalu jauh. After all, Kiko adalah natural-born It Girl yang memancarkan aura kekerenan dengan begitu effortless, dan tampaknya that innate coolness adalah sebuah warisan genetis yang mengalir di darahnya, karena kinikita pun diperkenalkan oleh sang adik semata wayangnya, Ashley Yuka Daniel atau lebih akrab dikenal dengan nama Yuka Mizuhara yang mengikuti jejaknya di bidang modelling.

Sama seperti Kiko, Yuka yang lebih muda empat tahun dari Kiko juga mewarisi look yang unik, hasil dari paduan genetis ayah Amerika dan ibu berdarah Korea-Jepang atau yang lazim disebut dengan istilah Zainichi. Lahir dan besar di wilayah Kobe yang terkenal dengan daging sapi berkualitas tinggi (fakta yang dengan antusias diselipkan olehnya dalam balasan interview ini), Yuka dan Kiko tumbuh menjadi kakak-adik dengan hubungan yang super erat, terutama ketika orangtua mereka bercerai dan sang ayah kembali ke Amerika. “Suatu hari, kakak saya mengajak saya ke sebuah runway untuk Kobe Girl’s Collection. Sebelumnya saya belum pernah melihat langsung dia berjalan di atas runway, dan saya terpukau karena dia sangat stunning dan keren! Sejak itu, saya merasa saya ingin mengikuti jejaknya dengan menjadi model,” ungkap Yuka tentang awal ketertarikannya menjadi model.

Sama seperti sang kakak, tak butuh waktu lama bagi Yuka untuk menjadi the next It Girl dengan tampil di berbagai majalah fashion dan komersial, di samping berbagai aktivitas lainnya seperti talk showdi Apple store untukHanae Mori Maniscuri ×Digital Couture Fashion hingga berkolaborasi dengan musisi elektronik legendaris Jepang, Towa Tei, di mana ia menyumbangkan vokal di lagu “Luv Pandemic” dari album terbarunya yang berjudul CUTE.

 Walaupun kerap dibandingkan dengan sang kakak, Yuka jelas memiliki pesonanya sendiri yang tak kalah memikat. Jika Kiko terlihat dewasa dan seksi, maka Yuka adalah versi Kiko yang lebih kawaii dan ceria, seperti yang bisa kamu lihat di akun Instagram miliknya @ashley_yuka yang dipenuhi oleh selfie imut dan hal-hal quirky yang ia jumpai sehari-hari. Untuk mengenalnya lebih jauh, kami pun memintanya menjawab the A to Z tentang dirinya!

 IMG_0526

About your relationship with Kiko

She is like my best friend always and forever!

Breakfast menu?

Mostly cereal with soy milk!

Cute mascot?

KIRIMI CHAN!(karakterSanrio)

Dream collaboration/project?

I won’t tell yet, it’s a secret, hehe!

Embarassing moment?

Saya pernah memakai t-shirt terbalik seharian >_<

First love?

Saat saya remaja, tapi saya tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

Guilty pleasure?

Saya pernah berbohong kepada teman saya >_<

Happiest moment?

Family time

It Girl?

Lion Baby

Japanese pride?

Japanese food is the best!!

Karaoke song?

“Royal” – Lorde

Love of your life?

To be with my friends. They made me so happy!!

Musician you would like to meet?

Brandy!!!!

IMG_1125

Never have I ever…

I try not to do anything dirty.

Obsession lately?

Drinking cappuccinoevery day.

Pet you like to have?

I already have the cutest cat on my own

Question you hate to answer?

Nothing^^

Rumor about you?

Also nothing…!!!l hope.

Style icon?

Debbie Harry 

Things you can’t live without?

My family and friends!

Ultimate crush?

Benda-benda penuh glitter!

Vacation plan?

I’m just planning to go to Bali!!!

What things you would never wear?

Any large size’s clothes!!!!

X-factor?

Doja Cat

Your beauty secret?

Eating healthy food!!!

Zodiac?

Libra. Dog in Chinese Zodiac.

IMG_0958

Foto: Sally Ann & Emily May

Styling: Kosei Matsuda

Makeup: Mariko Tagayashi

Hair: Sayuda Miki

And All That Jess, An Interview With Jessie Setiono

Jessie Setiono

Jessie Setiono meredefinisi arti brain, beauty, behavior dengan cara yang effortless dan tanpa pretensi apapun.

Due to increasing tendency of insomnia, saya sejujurnya lupa kapan terakhir kali bangun sebelum jarum jam menyentuh angka delapan pagi, except when I have important appointment of course. Hari Rabu di akhir bulan Juni lalu menjadi salah satu pengecualian tersebut. It’s not even eight o’clock yet, namun saya sudah di jalan menuju daerah Pondok Indah untuk sesi pemotretan dan interview cover edisi ini. I must admit though, it was nice to feel the morning sun again, dan cahaya matahari memang menjadi alasan utama pemotretan harus dilakukan sepagi ini. Begitu tiba di sebuah rumah yang dituju, saya dan fashion editor Anindya Devy langsung disambut hangat oleh sang pemilik rumah, the lady of this chic house, Jessie Setiono herself. Dengan senyuman manis, ia mengajak kami masuk dan langsung ke lantai atas, tepatnya ke sebuah ruang kerja yang dipenuhi berbagai buku dengan topik hukum dan balkon yang menghadap kolam renang.

As one of the Indonesian top models, wajah Jessie memang sama sekali tidak asing bagi siapapun yang tertarik atau berkecimpung di dunia mode. Wajahnya muncul dalam berbagai cover dan fashion spread di semua majalah fashion ternama sama seringnya dengan sosoknya berjalan di atas runway desainer papan atas Indonesia. Kami telah saling follow di Instagram, but it’s actually our first time to meet each other. Pagi itu wajahnya terlihat segar walau tanpa riasan apapun, ia mengikat rambutnya menjadi ponytail dan memakai jersey hitam-putih serta matching pants, she looks as fresh as morning dew. Kasual dan bersemangat, the real life Jessie ternyata lumayan berbeda dari image yang saya tangkap dalam foto-foto spread yang umumnya menegaskan sisi elegan dan refined dari dirinya. With high cheekbones, feline eyes, dan preferensinya berbicara dalam Bahasa Inggris, saya selalu menyangka model berumur 26 tahun ini memiliki darah Kaukasia dalam dirinya. Satu hal yang ditepisnya halus. “Saya Chinese-Indonesian, that’s an Asian me, I look very Asian in that picture, right?” ujarnya sambil menunjuk sebuah foto berpigura di atas meja kerjanya yang menampilkan Jessie kecil dan kedua orangtuanya. “But as I grew up, I have no idea why I just turn into crazy mixture of Asian and Caucasian,” sambungnya seraya tersenyum.

Ketika semua tim sudah tiba, kami pun segera bersiap. Pemotretan kali ini berkonsep natural lighting, jadi kami harus agak bergegas sebelum matahari terlalu terik atau malah mendung. Jessie memekik gemas melihat baju-baju dengan desain fun dari This Is A Love Song dan Alex[a]lexa. Sambil memasang lagu-lagu dari Banks yang merupakan penyanyi favoritnya saat ini, ia membiarkan wajahnya dirias dengan makeup ringan. We want to keep everything as natural and relaxed as possible. Melakukan photo shoot di rumahnya sendiri, Jessie terlihat sangat nyaman. Frame demi frame ditangkap oleh fotografer Dylan Sada tanpa kesulitan berarti. Matahari yang terus beranjak naik membuat udara semakin panas, namun Jessie tanpa mengeluh terus bermain hide and seek dengan bayangan dan cahaya, walau ketika akhirnya pemotretan dirampungkan, wajahnya terlihat agak memerah dan dengan senang hati menyetujui permintaan saya untuk interview sambil makan siang di ruang kerjanya yang nyaman.

jess1
Tepat seminggu sebelumnya ia baru saja mengikuti graduation ceremony dan mendapat gelar Master in International Trade, Investment and Competition Law dari Universitas Pelita Harapan. Terjawab sudah jika koleksi buku hukum di ruangan ini memang miliknya. It’s not her first academical achievement, obviously. Sebelumnya ia juga telah menyandang gelar Bachelor of Business Law dari universitas yang sama dan Bachelor of Commerce dari Curtin University di Perth, kota tempatnya beranjak dewasa sejak berumur 10 tahun, where she still consider as her home town. Semasa di Perth ia menjalani kehidupan senormal anak lainnya yang naik bus ke universitas, bekerja part-time dan hang out bersama teman saat weekend. Karier modelingnya sendiri bermula dari gagasan sang ayah yang menginginkan Jessie yang cuek dan agak tomboy agar lebih feminin dengan mendaftarkannya masuk ke sebuah sekolah model. The modeling school saw potentials in her dan mulai memberikan beberapa pekerjaan modeling, dan karier Jessie pun beranjak dengan mulus. Tak hanya di dalam negeri, tapi juga di regional Asia seperti Bangkok, Hong Kong, Singapura, dan lainnya.
Ia masih mengingat jelas saat-saat awal terjun di dunia modeling tersebut. “Waktu mulai modeling, yang ditekankan adalah ‘a girl has to be very glamorous, you must stand up straight, you can’t slouch, you have to wear nice heels, nice dresses,’ it was so hard for me. Sampai sekarang saya masih merasa jauh dari image glamorous looking girl, I’m very casual and relax… to me it does add character,” ungkapnya. Jessie pun mengaku senang dengan konsep pemotretan kali ini yang lebih laid back dari yang biasa ia lakukan. “I think Nylon is one of my favorite magazines, because its very me, I’m very casual person. People say I slouch, and I do slouch, not because I’m not confident person but it’s just the way I am. Saat berbicara dengan orang lain, when I’m talking with someone like you, I want them to feel relaxed too, I don’t have to be uptight,” ujarnya sambil berpura-pura menegakkan duduknya dan menyilangkan tangannya di atas meja yang membuat kami berdua tertawa.

I like modeling. I really like modeling very much because it has giving me opportunities to travel and meet talented people, tapi modeling juga punya tantangannya sendiri. People think it’s easy, all you have to do is just have pretty face, tapi mereka nggak tau hal yang harus kita hadapi sebagai model. We all have to go through a lot of rejections. They never thought how those rejections could impact our self-confidence or ego. Menjadi model juga dihadapkan dengan standar tertentu orang selalu mengharapkan model untuk skinny, tall, and they scrutinize you up close and personal like ‘your eyes are wide apart’, ‘your hair is too short’, ‘you’re slouching’, things like that… but I personally find beauty in imperfection, so yeah, that’s just my two cents,” ujar Jessie. “So what’s your imperfection?” Tembak saya langsung. “I have many imperfections, there’s a lot that I can’t mention, but I think my imperfections define who I am. For example I think I’m very anxious person, I have to keep on moving, but I think it’s just definition of me and i embrace that. I embrace all my imperfections,” jawabnya santai.

Modeling mungkin lebih seperti satu hal dalam dirinya yang muncul secara natural dalam dirinya, namun Jessie menyimpan passion lain yang lebih besar untuk hidupnya. The law itself. “Saya selalu menyukai tantangan yang dihadapi lawyer. But I think law’s changes one’s perspective about life, mengajarkan orang untuk berpikir lebih filosofis dan dalam. Why does the law exist, what’s the impact for the society, I think law is also the way that you can help the society. And I always want to help people. Maybe through law, one day I could make a change. I would eventually use my degree as a lawyer,” terang Jessie tentang pilihan akademisnya.

jess2
Untuk siapapun yang besar di akhir tahun 90-an pasti pernah mengenal serial Ally McBeal yang menceritakan sosok pengacara cantik yang diperankan oleh Calista Flockhart. Saat disinggung tentang itu, ia meresponsnya dengan tawa. “I don’t know why people associates me with Ally McBeal, but she’s pretty hot! Haha. But no, she didn’t inspire me. There’s such a cliché about being a model and do lawyer, like people ask ‘what are you trying to do? Are you trying to prove yourself?’ I was like, ‘No, I’m not trying to prove myself, it’s a self-accomplishment, it’s just something that I always passionate about, even before I start modeling. I want this career path,” ungkapnya. “My parents are very westernized, mereka selalu mengajari saya untuk punya ambisi dan goal dalam hidup. They do think that as women we shouldn’t just being comfortable in our comfort zone, we have to keep improving ourselves, bagaimana membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna untuk orang lain instead of just living comfortably, married and having kids, you know? It’s a standard of what women should do, but women could do more than just stay at home,” ucap Jessie menyoal upbringing yang ia dapat dari keluarganya.

Talk about the marriage itself, Jessie sendiri telah menikah sejak berumur 22 tahun dengan Christian Rijanto, the entrepreneur mogul di balik Ismaya Group yang merupakan figur penting dalam perkembangan gaya hidup urban Indonesia selama satu dekade terakhir ini. Dalam pernikahan yang telah berjalan selama 4 tahun ini, Jessie mengaku tak ada perubahan drastis dalam dirinya. “I’m still do the things that I do before I got married, I go travel, I go out, pursuing my own career and things. The good thing is that Christian… He’s not at all obstructive. Dia tidak menghalangi saya melakukan apa yang saya inginkan, that’s what I like about Christian,” simpulnya.

Membagi waktu antara karier modeling, marriage life, dan mengejar gelar akademis, Jessie memilih traveling sebagai resep anti stress. Saya pun bertanya, tipe traveler seperti apa dirinya. “I’m a light traveler, I do my research before I travel, I need to know where to shop, to eat or go for party, bars. Tapi tergantung dengan siapa perginya, kalau bersama teman-teman, I like to go to the cities, but if I’m traveling on my own or with my significant others, with my husband, I like to go to more relaxed places like mountain or island. Ia bercerita tentang kunjungannya ke Bhutan yang masih meninggalkan kesan manis baginya. “Bhutan is like amazing, its full of culture, everything there is so simple and down to earth,” kenangnya. Dengan alasan yang sama, ia memilih Jogjakarta sebagai destinasi domestik favoritnya. “I like Jogjakarta, its beautiful and very cultural. Bali is also nice, but these days Bali is a little too crowded, but its still very nice quick weekend escape,” imbuhnya. Saat ditanya tentang destinasi selanjutnya, tanpa berpikir lama Jessie menyebut kawasan Australia. “Last time we went to New Zealand for bungee jumping, I’m a thrill-seeker and adrenaline junkie. Next I want to do skydiving, or rock climbing… Uhm not rock climbing, but mountain biking,” ujarnya sambil tertawa.
In term of next goal and future plan, dengan gelar dalam bidang bisnis dan hukum serta suami yang memiliki kerajaan bisnisnya sendiri, orang mungkin menyangka cepat atau lambat Jessie akan bergabung dalam Ismaya. Namun dengan tegas ia mengungkapkan keinginannya untuk membangun kariernya sendiri, walau untuk saat ini ia ingin memanfaatkan waktunya to simply step back and enjoy life. “You know what? I’ve been in school for such a long time that I feel like after I finish my degree, I’m planning to just take a break and maximize my modeling career before I become corporate slave, haha,“ serunya antusias sebelum menambahkan, “But of course I eventually want to have my own business or law firm, but for now I like what I’m doing now. Modeling, traveling… It’s definitely a luxury that I don’t get to have for a very long time.”

jess3

Photography by Dylan Sada

Styling by Anindya Devy

Make-up & Hairdo by Ryan Ogilvy

As published in NYLON Indonesia June-July 2014

She’s All That! An Interview With Chelsea Elizabeth Islan

IMG_2406

Cantik, cerdas, dan classy, NYLON menemukan sosok seorang “It Girl” Indonesia selanjutnya dalam diri Chelsea Elizabeth Islan. Get ready for some serious girl crush! 

NYLON bulan November 2013 lalu mengangkat tema “It Girl”, satu istilah yang sering terdengar namun tak pernah benar-benar bisa didefinisikan. “The ‘It Girl’ is the girl that EVERYONE wants to be. She has everything that you want so you tend to envy her. She does all the things that you can’t do so you grow to hate her.” Demikian salah satu pengertian “It Girl” yang terdapat di Urban Dictionary. Ketika saya coba mengaplikasikan definisi tersebut pada aktris pendatang baru Chelsea Elizabeth Islan, tampaknya saya kurang setuju pada poin terakhir. Well, melihat sosoknya yang effortlessly pretty, it’s easy for anyone to envy her for sure. Namun saat berbincang langsung dengannya, you can’t help but notice kalau dia ternyata tak hanya menarik secara fisik saja. Di balik wajah cantiknya, terdapat personality yang santai namun berprinsip kuat. It’s almost impossible to hate her, and you’ll know why.

            Chelsea, demikian gadis kelahiran New York 18 tahun yang lalu ini biasa dipanggil, datang ke studio pemotretan sendirian tanpa ditemani manajer. Ia mengaku belum punya manajer dan masih mengatur semua jadwalnya sendiri. Tanpa canggung, ia menyapa semua orang dengan manis dan segera bersiap untuk di-makeup. Dengan makeup minimalis dan wardrobe yang didominasi oleh lace pieces membuatnya terlihat angelic, Tanpa bersusah payah, ia mengikuti arahan fotografer dan setiap gestur kecil dari dirinya yang terkadang candid justru menjadi momen-momen yang menarik untuk difoto. It all seems natural. Tak heran jika ia mengawali karier dengan terpilih sebagai juara utama sebuah pemilihan cover girl majalah remaja, sebelum pada bulan Juni lalu membintangi debut layar lebarnya di film Refrain garapan Fajar Nugros yang juga dbintangi oleh Maudy Ayunda dan Afgansyah Reza.

            Akting sendiri bukan hal yang asing baginya. Dimulai dari peran sebagai salah satu bunga di drama Wizard of Oz di sekolahnya saat masih SD, teater menjadi salah satu passion-nya sampai saat ini di samping fotografi, fashion, dan art. Tak puas hanya di depan kamera, Chelsea pun gemar menulis cerita dan mewujudkannya dalam bentuk film pendek yang ia buat sendiri. “Film itu adalah media di mana aku bisa mengekspresikan pikiran aku dan mengembangkan kaya pikiran orang lain biar terinspirasi juga. Di film pendek pertama aku, judulnya The Junk Society tentang anak muda yang mencintai seni. Aku bilang seni di Indonesia belum banyak yang menghargai dan belum banyak yang memikirkan kalau seni itu useful. Banyak yang bilang ‘ih kok suka seni sih? Mau jadi apa?’ Pertanyaan-pertanyaan itu yang mau aku coba jawab di film aku itu,” ungkapnya.

            Bila di Refrain, ia berperan sebagai Annalise, seorang sweetheart yang tak jauh beda dari dirinya sehari-hari, maka bersiaplah melihat sisi lain Chelsea dalam peran terbarunya sebagai Karina di film action karya Awi Suryadi berjudul Street Society yang akan dirilis awal tahun depan. “Karina ini orangnya tricky banget, dominan, powerful, aduh… pokoknya dia temperamen banget dan agak psychotic. Jadi beda banget sama Annalise. Aku suka dari dua peran ini aku bisa jadi yang biasa dan yang tidak biasa. Karena menurut aku akting kan harus bisa semuanya. Lewat akting aku juga belajar facial expression sama tubuh juga harus gimana. Jadi akting bukan sekadar be someone else, tapi harus menghayati and be the character,” tandasnya.

Chelsea3

            Untuk pemotretan look terakhir, ia meminta berpose bersama salah satu kucing peliharaan di studio. Dengan sigap ia menggendong kucing Persia tersebut dengan gemas. Saya mengira jika ia adalah seorang cat person, namun saat dikonfirmasi, dengan tegas ia mengaku lebih menyukai anjing daripada kucing. “Aku lebih suka anjing karena bisa jagain kita dan setia. Kalau kucing keliatan lemes, males,” ujarnya. Sekali lagi, ia mematahkan persepsi awal saya. Penampilannya memang girly, tapi ternyata Chelsea besar sebagai anak yang cukup tomboy. Dari kecil ia ikut taekwondo, bermain go-kart dan motor ATV, bahkan pernah menjadi best soccer player di sekolahnya. Sekarang, ia memilih berenang dan diving sebagai olahraganya. “Kalau diving belum terlalu sering sih. Aku terakhir diving ke Tulamben di Bali, ke Liberty shipwreck, jadi di sana sekitar 12 meter di bawah laut itu ada shipwreck. Agak angker tapi it’s a good experience,” ceritanya dengan semangat. Ia lantas mengungkapkan keinginannya pergi ke Pulau Komodo dan menyebut Riri Riza dan Mira Lesmana sebagai sutradara yang dikagumi. “Mau banget kerja sama mereka. karena mereka bener-bener down to earth dan kalau kita lihat kerjaan mereka, there is always something to do with Indonesia. Mereka keliatan cinta banget sama Indonesia dan caring about society,” jelasnya.

            Terlepas dari peran debutnya di film drama romantis, Chelsea mengaku dirinya bukan penggemar cerita cinta. “It’s not my cup of tea. Bukannya aku tidak menghargai cinta, tapi terkadang semua terlalu sentimental,” cetusnya. Tak heran bila kamu tak akan menemui film cheesy romance dalam film favoritnya. Ia lebih tertarik pada film berbau sejarah seperti Gie misalnya yang diperankan Nicholas Saputra yang menjadi aktor favoritnya. “Dari semua filmnya, dia punya prinsip. Yang bikin aku suka sama orang itu dia punya prinsip atau tidak. Dia mau memerankan karakter yang benar-benar mendidik dan ada moralnya. Like Twilight, what are you gonna get from that? Bukannya mau sok pinter atau apa, tapi lebih baik kita nonton film yang memberikan ilmu kan?”

            Chelsea sering sekali disebut mirip Mariana Renata, dan itu juga yang saya pikirkan. Namun saat interview, saya menangkap dari angle tertentu ia justru terlihat seperti Dian Sastro, dan kesan itu bertambah kuat saat ia mengungkapkan pemikiran yang sama kritis dan idealisnya dengan Dian. Entah coincidence atau bukan, Chelsea sendiri berencana melanjutkan kuliah di almamater Dian, yaitu Universitas Indonesia, tepatnya jurusan Sosiologi. Penggemar buku-buku Paulo Coelho ini punya alasan kuat untuk pilihan tersebut. “Menurut aku sosiologi itu akar dari segalanya, karena kita mempelajari manusia, mempelajari masyarakat, tata kota, semuanya. Salah satu cita-cita aku selain jadi film director dan fashion editor, aku juga pingin jadi menteri pemberdayaan wanita gitu,” ujarnya dengan serius, sebelum melanjutkan, “aku memang agak feminis. Bukannya sexist atau apa tapi memang aku ingin wanita bisa maju. Di sini wanita menurut aku belum ada freedom of expression, aku nggak mau ngomongin agama atau apa. Tapi wanita itu belum equal. Dari situ aku pingin memajukan wanita Indonesia. Deep inside, I want to change Indonesia, nggak tau gimana makanya menurut aku kalau belajar sosiologi itu udah bisa relate ke semua aspek kehidupan,” imbuhnya.

            Social awareness tersebut menurutnya sudah dipupuk sejak ia masih kecil. Dan jangan kira ia hanya berwacana tanpa berbuat hal yang nyata. Sekarang pun, di samping semua aktivitasnya di dunia showbiz, ia berperan aktif menjadi ambassador generasi muda di gerakan LovePink untuk isu breast cancer di Indonesia. ”You have to be the change that you want to see in this world. And you have to make the difference and believe nothing it’s impossible,” tutupnya sambil tersenyum. Biasanya ungkapan a la buku Chicken Soup tersebut hanya terdengar seperti jargon kosong. Namun entah kenapa, saya percaya gadis cantik ini bisa mewujudkannya.

IMG_2837

Styling by Patricia Annash

Photos by Andre Wiredja

Makeup by Marina Tasha