Be Kind, Rewind: 5 Illustrators Remaking Their Fave Movie Posters

Whether you judge a movie from the poster or not, poster film memang selalu menjadi bagian integral dalam ikonografi sebuah film. Lebih dari sekadar alat promosi yang dengan vulgar menyuguhkan kalimat bombastis dan nama-nama besar pelakonnya, ada sebuah masa ketika poster film menjadi medium bagi para ilustrator untuk menginterpretasikan adegan atau tema yang lebih subtle dalam film tersebut lewat gaya artistik yang beragam sebelum akhirnya tergerus oleh medium fotografi. Untuk membangkitkan semangat yang ada di masa-masa itu, saya pun mengajak lima ilustrator berikut untuk menginterpretasikan poster film favorit mereka dengan signature style masing-masing.

BIH HERO 6 POSTER_NYLON 

William Davis

Instagram: @wd.willy

 WD.WILLY PHOTO PROFIL

Describe yourself in one sentence!

Orang yang sering memperhatikan lingkungan sekitar.

Current project?

Project buku ilustrasi Azka Corbuzier, membantu Faza Meong dalam pembuatan Si Juki, dan tetap sebagai mahasiswa di suatu kampus di Jakarta.

Ilustrator favorit?

Eiichiro Oda (komikus manga One Piece), Rhoald Marchellius, Kim Jung Gi.

How would you describe your artwork?

Memiliki karakteristik dalam setiap pembangunan karakternya, sangat bermain dengan gesture dan ekspresif, dan sangat teliti tentang detail dan pencahayaan.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Big Hero 6! Karena sangat cocok banget dari mulai karakter, tempat, segala sesuatunya tentang Big Hero 6 sangat mirip dengan style saya!

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Karena menurut saya Big Hero 6 sangat unik dalam segi cerita maupun pembangunan karakternya sangat berkhas Jepang. 

Your Instagram crush?

@thepumpkinbear, @hong_sonnsang, @jakeparker, @david_adhinarya_lojaya

Next project?

Sedang dalam pembuatan komik dan pembuatan buku ilustrasi Azka Corbuzier.

mr nobody

Anindito Wisnu

IG: @aninditowisnu

Photo 11-10-15 17.55.41

Describe yourself in one sentence!

Seorang arsitek yang belum juga sukses dan sedang mencoba menjadi seniman yang siapa tahu bisa lebih sukses.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Sebelumnya hanya hobi, mulai serius berkarya setelah mendapat tawaran untuk menyumbang artwork di novel karya Risa Sarasvati, Sunyaruri.

How would you describe your artwork?

Similarity. Menangkap esensi dan karakter objek yang digambar melalui ekspresi muka, selebihnya saya bisa “bermain-main” di bagian lain seperti rambut, badan, dll.

Alasan memilih Mr. Nobody untuk di-remake posternya?

Film ini menyadarkan saya bahwa hidup terdiri dari keputusan-keputusan dan pilihan yang akan membawa kita ke cerita hidup selanjutnya. Sebuah pilihan yang sederhana pun ternyata sangat menentukan nasib kita ke depan secara signifikan. Pilihan tersebut bukan perkara benar atau salah, namun bagaimana kita memaknai segala proses dalam hidup di setiap langkah yang kita ambil. “If you never make choice, anything is possible.”

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Beauty And The Beast (2015), karena menampilkan salah satu cerita dongeng masa kecil favorit saya namun dengan sajian visual yang dark gloomy.

What’s your latest obsession?

Obsesi saya untuk bisa menyimpan karya saya di setiap negara yang ada di dunia ini.

cd5

Gemma Ivana Miranda

IG: @gemmaivanamiranda

Gemmabio2

Describe yourself in one sentence!

A visual enthusiast, dreamy dog lover, Disney aficionado, dessert devotee, and music habitué.

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

I grew up loving fairytales and folklores, and I have been an avid doodler since I was a kid. But it was not ‘till my college years I got into designing seriously.

Apa objek favoritmu?

Binatang! Untuk kolase,saya suka mencari ilustrasi vintage, foto-foto klasik, dan motif-motif abstrak.

Ilustrator favoritmu?

A lot of people! Samuel Burgess Johnson, Sam Chirnside, Sam Donaldson, Raf Ram, dan banyak lagi. I usually find random artists through my Behance account.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Semua film Disney klasik yang hampir seluruh elemennya dikerjakan oleh tangan, serial Harry Potter, dan apapun dari Wes Anderson.

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Ilene Woods, yang mengisi suara Cinderella, adalah favorit saya, dan saya telah mencintai cerita ini sepanjang hidup saya. I find that older movies (and music!) give me so much tranquility and inspiration.

Your Instagram crush?

@kathkrnd, @yendryma, @theacademynewyork, dan @samuelburgessjohnson. Untuk fashion, saya suka @jennalyyy dan @stone_cold_fox

What’s the coolest art tip you’ve ever received?

My professor once told me to never lose myself in an artwork and to always give a touch of magic. After all, as quoted from Ursula Le Guin, “The creative adult is the child who has survived.”

 Scan10163

Muchlis Fachri

IG: @muklay

 Muchlis fachri_ foto 4

Describe yourself in one sentence!

Naughty or free but polite, hehehe!

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

Kehidupan sehari-hari dan sneakers. Dahulu aku senang sekali menggambar sepatu polosku karena gatal apalagi kalau warnanya putih, sempat dimarahi ibu karena itu.

Ilustrator favoritmu?

Banyak sekali, aku sangat terinspirasi dari seniman pop Amerika, sampai street art NYC yang membuatku amaze karena tidak mungkin dilakukan di Indonesia. 

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Aku suka sekali dengan setiap karya Tim Burton, lalu aku juga menggemari Johnny Depp karena setiap dia ada di film Tim Burton selalu dengan kostum dan make-up yang berbeda-beda, sangat total, dan saya memilih Edward Scissorhands, karena selain film ini sangat cool di segi visual, juga mempunyai cerita yang sangat mendalam.

Your Instagram crush?

@DABS MYLA dan @TRISTANEATON, they are dope, sick, and crazy and last but not least @laurenevemayberry.

Next project?

Let it flow! Tidak pernah merencanakan sesuatu dari jauh, semua serba shocking and shaking, hehe!

MOVIE POSTER -

Lissy Radityanti

IG: @lissy.ra

 IMG_4820

Describe yourself in one sentence!

I am a 21-year-old girl who is very passionate in any form of art, call it music, movie, or fine arts, I’m in!

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?

I guess it’s in my blood, karena keluargaku turun temurun semuanya senang berkarya baik musik ataupun hand-craft. Tapi mungkin karena dari kecil aku juga suka nonton Disney’s cartoon especially the princesses, and always got mesmerized by its visual jadi aku pengen bisa menggambar sebagus itu dan jadi suka gambar dari kecil.

Apa objek favoritmu?

Girls. Because they are pretty, magical, and powerful. 

Ilustrator favoritmu?

Agnes Cecile, Diela Maharanie, dan Paula Bonet.

Film dengan visual paling indah menurutmu?

Any Wes Anderson’s movie. The Grand Budapest, Fantastic Mr. Fox, The Darjeeling Limited. Karena tone warnanya yang visual-appealing untuk saya dan teknik pengambilan gambarnya yang quirky dan khas banget.

Alasan memilih film ini untuk di-remake posternya?

Film ini salah satu film yang visualnya sangat indah dan dreamy. Walau film ini dirilis tahun 1999, tapi serasa lagi nonton film 70-an dari mulai tone film sampai musik-musiknya, so I guess that’s kinda cool.This movie is also an adaptation from the novel with the same title and the movie director, Sofia Coppola (one of my faves) cukup berhasil menyampaikan pesan melalui film ini tanpa mengurangi esensi dari bukunya. I also feel personally attached to the movie when I first watched it and that’s rarely happen.

What’s your latest obsession?

I’m obsessed with vintage movies, psychology, and Mr. Robot!

 

 

Advertisements

Filmstrips: Cannes 2016 Movie Picks Part. 2

Sebagai salah satu festival film paling bergengsi di dunia, Cannes Film Festival yang tahun ini telah memasuki tahun ke-69 telah diselenggarakan pada tanggal 11-22 Mei lalu dan kembali menjadi barometer penting bagi perkembangan sinema dunia di mana tercatat 21 film berkompetisi memperebutkan Palme d’Or, 18 film di seleksi Un Certain Regard dan 10 film pendek telah ditayangkan dalam perhelatan tahun ini. Berikut adalah seleksi film yang harus masuk dalam watch list.

Click here for the part one.

personal-shopper

Personal Shopper

Setelah berkolaborasi dalam Clouds of Sils Maria yang mendapat apresiasi positif, sutradara Olivier Assayas kembali menggandeng Kristen Stewart dalam film terbarunya yang bergenre thriller ini. Kristen berperan sebagai Maureen Cartwright, seorang gadis Amerika di Paris yang bekerja sebagai personal shopper untuk selebriti bernama Kyra (Nora von Waldstätten) di mana ia tak hanya dihantui oleh klien yang demanding, tapi juga teror tak kasatmata dari bayangan saudara kembarnya yang telah meninggal dan pesan-pesan misterius dari nomor tak dikenal yang mendorongnya melakukan perbuatan buruk di luar zona nyamannya.

Julieta

Julieta

Kembali menelusuri female-centric drama yang menjadi andalannya, Pedro Almodóvar menampilkan akting gemilang dari Emma Suarez dan Adriana Ugarte yang keduanya memerankan Julieta sang tokoh utama dalam film yang berdasarkan tiga cerita pendek dalam antologi Runaway karya Alice Munro ini. Julieta di usia paruh bayanya (Suarez) adalah wanita Madrid yang berusaha menata hidupnya setelah tragedi yang menimpa suaminya, Xoan (Daniel Grao). Putri satu-satunya, Antia (Blanca Parés) melarikan diri tanpa penjelasan apapun saat berumur 18 tahun dan pencarian berbekal sekelumit info hanya membuka kenyataan jika ia tidak pernah benar-benar mengenal putrinya.

Neon Demon

The Neon Demon 

Dibintangi oleh aktris-aktris muda seperti Elle Fanning, Abbey Lee, dan Bella Heathcote, film terbaru Nicolas Winding Refn ini mengambil latar dunia fashion Los Angeles di mana Jesse (Fanning) seorang model 16 tahun direkrut oleh seorang desainer eksentrik (Alesandro Nivola) sebagai muse dan seketika menjadi the It model yang menjadikannya target kecemburuan dari wanita-wanita yang terobsesi pada kecantikan untuk merebut apa yang mereka tidak miliki dalam diri Jesse: youth & innocence. Jesse pun membuka tabir dunia fashion yang walau terlihat gemerlap namun ternyata penuh darah, skandal, dan obsesi liar.

 the-handmaiden-is-an-upcoming-south-korean-film-based-on-the-novel-fingersmith-by-sarah-waters-being-directed-by-park-chan-wook-and-starring-kim-min-hee-ha-jung-woo-and-kim-tae-ri

The Handmaiden

Dikenal sebagai sutradara Korea dengan tendensi humor gelap yang brutal, Park Chan-wook membawa adaptasi novel Fingersmith karya Sarah Waters yang berlatar di Inggris masa Victorian ke Korea di masa kependudukan Jepang di tahun 1930-an. Nam Sook-hee (Kim Tae-ri), seorang gadis pencopet terlibat dalam rencana jahat Count Fujiawara (Ha Jung-woo), seorang penipu ulung yang berpura-pura menjadi bangsawan Jepang demi menikahi dan merebut harta Lady Hideko (Kim Min-hee), seorang wanita Jepang kaya yang tinggal di bawah asuhan pamannya, Kouzuki (Cho Jin-woong). Menyamar sebagai pelayan, rencana Sook-hee berantakan ketika sang target justru jatuh cinta padanya dan seiring waktu menguak lapis demi lapis rahasia.

i_daniel_blake_no_film_school_interview

I, Daniel Blake

Daniel Blake (Dave Johns) adalah seorang pengrajin kayu berusia 59 tahun di daerah Newscastle Inggris yang terkena serangan jantung dan memutuskan mendaftarkan diri untuk menerima bantuan pemerintah lewat program Employment and Support Allowance. Dipusingkan oleh masalah birokrasi yang rumit dan petugas pemerintah yang tidak kooperatif, ia bertemu single mother bernama Katie (Hayley Squires) dan kedua anaknya yang demi melarikan diri dari ancaman tinggal di penampungan kaum homeless di London harus berjuang memiliki sepetak tempat tinggal. Mengangkat isu kondisi ekonomi dengan humanis, film garapan sutradara Ken Loach (yang telah berusia 80 tahun) ini berhasil mendapat penghargaan tertinggi Palme d’Or di Cannes tahun ini.

 

What’s Up, Doc? Six Documentary You Should Watch in 2016

 

There’s certain air of realness di film dokumenter yang seringkali tidak bisa kamu temukan di sebuah film feature, tak peduli se-trivial apapun topik atau tema yang diangkat. Candid, thought-provoking, dan apa adanya, film dokumenter selalu memiliki kejutan menarik, and sometimes, reality check. Berikut adalah enam judul film dokumenter yang akan datang dan harus masuk ke watch list kamu di tahun 2016.

WAITING FOR B

Apakah kamu termasuk orang yang rela mengantre semalaman demi membeli tiket konser idolamu? Jika iya, kamu pasti bisa relate terhadap para fans Beyoncé di Brasil yang menjadi subjek utama dalam film dokumenter garapan Paulo Cesar Toledo dan Abigail Spindel ini. Waiting For B mengajak kita ke garda terdepan dari para Beyhive di Brasil yang rela mengantre dan bertenda selama dua bulan demi mendapat posisi strategis di konser Beyoncé di Sao Paolo. Dalam penantiannya, antrean tersebut menjadi tempat berkumpul para anak muda LGBT dari berbagai latar belakang, some are in full drag, yang mayoritas telah mengalami diskriminasi dan prejudice dari lingkungan sekitar mereka, Waiting For B tidak hanya menyorot soal fan culture di dunia pop dan bagaimana megastar seperti Beyoncé adalah sosok kultus, namun juga menyibak peran pop sebagai aksi politis dan twerk sebagai jari tengah bagi pandangan sempit masyarakat pada LGBT.

SPEED SISTERS

Melaju kencang dengan mobil balap masing-masing, empat pembalap wanita Palestina berusaha menabrak batasan dominasi pria dalam dunia balap mobil, demikian premis dari karya debut sutradara Amber Fares ini. Sebagai tim balap perempuan pertama di Timur Tengah, Marah, Noor, Monda, dan Betty tidak hanya berhadapan dengan masalah klasik di dunia balapan seperti dana, strategi, kompetisi, dan drama ricuh di sirkuit yang panas, mereka juga berhadapan dengan peran gender, politik, sosial, agama, dan intervensi militer tanpa akhir di daerah West Bank yang diduduki tentara Israel. Tak hanya memaparkan konflik Israel-Palestina dengan sudut pandang yang berbeda, Speed Sisters juga menampilkan emansipasi wanita di sirkuit balap yang penuh adrenaline rush, di mana balapan membuka dunia baru bagi keempat wanita tersebut tanpa kehilangan feminitas mereka.

ALL THINGS MUST PASS: THE RISE AND FALL OF TOWER RECORDS

Dokumenter karya Colin Hanks (aktor dan putra dari Tom Hanks) ini bercerita tentang sejarah Tower Records, sebuah destinasi wajib bagi para pencinta musik dari tahun 1960 sampai akhirnya gulung tikar di tahun 2006. Dengan motto “No Music. No Life”, di masa kejayaannya, Tower Records tidak sekadar record store, tapi juga tempat hangout para musisi terkenal seperti Elton John dan Bruce Springstein yang asik menyusuri rak-rak album di dalamnya, antrean fans untuk mendapatkan album terbaru musisi favorit mereka, dan para karyawan yang berpesta sampai larut malam dengan iringan musik-musik paling keren. Tidak hanya bercerita soal sejarah Tower Records, dokumenter ini juga mengungkap sejarah musik dalam 50 tahun terakhir ini lewat interview dan anekdot dari sang pendiri Russ Solomon dan jajaran karyawannya, termasuk mantan karyawan seperti Dave Grohl yang pernah menjadi penjaga tokonya.

DO I SOUND GAY?

Setelah hubungan asmara yang kandas, David Thorpe sebagai seorang pria gay berumur 40-an mengalami krisis identitas dan kehilangan percaya diri. Bagaimana ia mengatasinya? Dengan melakukan riset untuk mengungkap misteri “gay voice” yang merujuk pada stereotipe jika seorang pria bisa dianggap gay berdasarkan cara berbicara dan vokal mereka yang terdengar “feminin”. Perpaduan otobiografi dan dokumenter, film ini menyoal vokal gay dalam konteks sosial, psikologis, dan linguistik dengan cara yang menghibur dan informatif lewat riset ekstensif David dengan ahli sejarah (ada sebuah artikel dari koran abad ke-18 yang mengolok para pria yang memiliki vokal feminin), pelatih vokal, ahli linguistik, obrolan dengan narasumber seperti komedian Margaret Cho, penulis David Sedaris, Tim Gunn, Dan Savage, George Takei, hingga cerita para remaja yang di-bully di sekolah hanya karena terdengar “gay”, yang tidak selalu benar, karena di dokumenter ini kita akan melihat pria bersuara feminin yang ternyata straight dan pria gay dengan pembawaan maskulin. Afterall, it’s just an effing stereotype.

WOMEN HE’S UNDRESSED

Dokumenter tentang perancang busana mungkin sudah tidak asing, namun bagaimana dengan para costume designer di balik film-film ikonik? Film garapan Gillian Armstrong ini adalah salah satunya. Bercerita soal karier Orry Kelly yang dijuluki sebagai salah satu perancang kostum terbaik sepanjang masa, pria asal Australia tersebut telah terlibat dalam 285 judul di era keemasan Hollywood dan mengantungi tiga Piala Oscar berkat kepiawaiannya di bidang kostum. Beberapa portofolionya yang paling terkenal adalah Marilyn Monroe di Some Like It Hot, Nina Foch di An American in Paris, dan Ingrid Bergman di Casablanca. Tak hanya interview bersama para perancang kostum kontemporer seperti Catehrine Martin, Annd Roth, dan Kym Barrett, film ini juga menampilkan interview bersama Jane Fonda, Angela Lansbury, dan para Hollywood insiders dengan salah satu topik menyoal hubungan asmara rahasia antara Orry Kelly dengan salah satu bintang pria Hollywood terkenal di era di mana topik itu masih sangat kontroversial.

BREAKING A MONSTER

Rockumentary berdurasi 92 menit karya Luke Meyer ini mengungkap perjalanan karier band Unlocking The Truth, sebuah trio anak kulit hitam asal Brooklyn berumur 13 tahun yang terdiri dari bassist Alec Atkins, gitaris Malcolm Brickhouse, dan drummer Jarad Dawkins yang popularitasnya bermula dari video-video viral berisi aksi mereka membawakan heavy metal di jalanan New York City yang lantas menarik perhatian produser musik Alan Sacks. Dengan kontrak rekaman bersama Sony Music, tur US ke festival-festival bergengsi tanpa rilisan resmi apapun, cerita mereka memang seperti dream come true. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Jalan menuju ketenaran yang telah mereka idamkan sejak kecil juga dipenuhi dengan rapat bisnis bersama para eksekutif industri rekaman, ego clash, dan sisi rebel khas ABG dalam perjalanan penuh ambisi, realita, dan rock and roll.

Film Strip: Fatal Frame & Parasyte

Beberapa pekan terakhir ini saya berkesempatan menonton dua film asal Jepang yang dibawa oleh Moxienotion ke Indonesia. Keduanya merupakan live action dari game maupun manga yang sudah terkenal. Berikut adalah catatan kecil saya tentang keduanya.

Fatal FrameFatal Frame (Gekijoban: Zero)

Sutradara: Mari Asato.

Diangkat berdasarkan novel karya Eiji Otsuka, Fatal Frame telah lebih dulu dikenal sebagai seri game mystery supernatural ikonik dengan plot seorang gadis remaja Jepang yang menggunakan sebuah camera obscura untuk menghadapi hantu dan memecahkan kejadian misteri. Disebut sebagai salah satu game horror terbaik berkat storytelling yang brilian dan sinematografi yang kuat, game Fatal Frame kental akan misteri, suspense, dan teka-teki yang akan membuatmu penasaran dan tersedot dalam alur ceritanya. Unsur itu pula yang terasa dalam film adaptasi garapan sutradara Mari Asato ini.
Berlatar sekolah Katolik khusus perempuan di sebuah bukit di daerah pedesaan Jepang yang dipenuhi gadis-gadis sekolah berpakaian seragam hitam dan desas-desus tentang sebuah ritual serta kutukan yang hanya menimpa anak gadis, Fatal Frame menceritakan tentang Aya (diperankan oleh model remaja Ayami Nakajo), seorang gadis cantik bersuara indah yang dihantui bayangan seorang gadis mirip dirinya yang tenggelam dalam air dan memohon untuk dibebaskan dari kutukan yang menimpanya. Gadis yang populer dan memiliki banyak pengagum ini pun mengurung diri di kamarnya dan membuat teman-temannya cemas. Kejadian aneh mulai muncul ketika seorang siswi bernama Kasumi (Kasumi Yamaya) melakukan ritual tengah malam dengan mencium foto wajah Aya dan menghilang tanpa jejak ketika berjalan di hutan bersama temannya, Michi (Aoi Morikawa). Michi, gadis penggemar fotografi tersebut menemukan foto Aya di kamar Kasumi dan mulai dihantui oleh sosok mirip Aya yang memohon dibebaskan dari kutukannya. Tak butuh waktu lama, kutukan tersebut menyebar ke seluruh sekolah dan semakin banyak siswi yang menghilang dan ditemukan meninggal di sungai seperti lukisan Ophelia karya John Everett Millais yang tergantung di ruangan suster kepala. Bertekad untuk mencegah lebih banyak korban, Aya pun keluar dari kamar dan mengajak Michi untuk bersama menyelidiki misteri tentang sesosok arwah yang menyerupai dirinya dan rahasia gelap yang tersimpan di balik dinding sekolah tersebut.

FatalFrame2
Film ini sendiri memang menyajikan cerita tentang ritual, exorcism, dan pembunuhan yang menjadi tema besar dari serial game Fatal Frame, namun kamu tak akan menemukan adegan penuh darah atau penampakan yang akan membuatmu terlonjak dari kursi. Sutradara Mari Asato menghadirkan atmosfer creepy lewat kamera film 16mm dan tensi cerita yang dibangun oleh suasana kelam di sudut-sudut sekolah merangkap katedral, hutan berpohon tinggi, danau penuh teratai, dan jalanan kota kecil. You can almost feel the eerie chill, bahkan di adegan siang bolong sekalipun. Tanpa adanya keterangan tentang latar waktu dan tempat yang spesifik, nuansa klasik dan konservatif di film ini pun mengaburkan batas antara realita dan fantasi. Lebih dari sebuah cerita horror, dengan banyak referensi dan simbol yang terkandung dalam setiap detailnya, Fatal Frame juga mengusung tema besar tentang cinta terlarang dan coming of age story tentang fase dari gadis remaja yang menuju kedewasaan. Ethereal dan delicate seperti The Virgin Suicides bertemu dengan The Crucible, film ini dengan anggun menghadirkan plot misteri berkualitas dan narasi visual yang cantik.

parasyteParasyte: Part 1 (Kiseiju)

Sutradara: Takashi Yamazaki.

Film Jepang garapan Takashi Yamazaki ini diangkat dari serial manga horror sci-fi legendaris berjudul sama karya Hitoshi Iiwaki. Bercerita tentang invasi entitas misterius yang muncul dari dalam laut dan secara serentak mulai melakukan rencana mereka menguasai dunia dengan cara mengambil alih tubuh manusia sebagai host. Salah satu parasit tersebut tiba di kamar seorang anak SMA bernama Shinichi Izumi (Shota Sometani) dan berusaha masuk ke lubang telinganya saat ia tertidur. Lucky for him, dia sedang memakai earphone. Parasit berbentuk seperti cacing itu pun berusaha masuk melalui hidung Shinichi namun lagi-lagi gagal karena ia terbangun dan melakukan perlawanan sebelum akhirnya parasit itu menembus telapak tangan kanannya dan berdiam di situ.
Awalnya Shinichi merasa tidak ada yang aneh selain tangan kanannya yang mati rasa, namun perlahan tangan kanannya mulai bergerak dengan sendirinya. Next thing he know, tangan kanannya bisa memanjang dan berubah bentuk dengan sendirinya, sebelum akhirnya muncul bola mata dan mulut yang memperkenalkan dirinya sebagai parasit. Parasit yang kemudian dipanggil dengan nama Migi (tangan kanan) ini pun berdialog dengan Shinichi dan menunjukkan rasa haus akan ilmu pengetahuan dan apapun yang menyangkut tentang spesies manusia. Sementara itu di berbagai tempat lain, parasit yang berhasil mengambil alih otak host-nya mulai meneror manusia dengan cara memakan manusia lain sebagai sumber nutrisi dan menjalankan misi untuk menghapus umat manusia dari bumi ini sebagai reaksi dari kerusakan alam. Beberapa dari parasit tersebut yang lebih pintar mulai beradaptasi dengan cara menyamar sebagai bagian dari masyarakat. Mulai dari polisi, murid sekolah, politikus, dan salah satunya menjadi guru di sekolah Shinichi. Parasit yang mengambil alih tubuh seorang wanita bernama Ryoko Tamiya (Eri Fukatsu) tertarik kepada anomali simbiosis antara Shinichi dan Migi. Pertemuan dengan Ryoko membuahkan rentetan peristiwa yang memaksa Shinichi dan Migi untuk bekerjasama bertahan hidup dari serangan Parasyte lain dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh Shinichi dan orang-orang terdekatnya sebelum akhirnya bereskalasi menjadi perang antara alien dan manusia.
Terlepas dari premis invasi alien dan body snatcher horror, film ini sendiri menawarkan visual sinema Jepang yang subtle dan akting mengesankan dari para pemainnya. Secara halus, sang sutradara berhasil menunjukkan transisi dari adegan sekolahan yang hangat berbumbu light comedy menuju thriller yang semakin gory dan kelam dengan tema seperti degadrasi lingkungan dan family dissolution. Semuanya dilengkapi oleh adegan laga dengan efek CGI yang smooth dan beberapa kali membuat saya menahan napas atau berdecak kagum. Film ini sendiri adalah bagian pertama yang akan dilanjutkan bagian kedua yang akan dirilis April nanti di Jepang. One thing for sure, you don’t have to read the manga beforehand to enjoy this movie, saya merekomendasikan film ini untuk yang suka pada film-film seperti The Faculty dan The Host.

Parasyte2

On The Records: Agustin Oendari

Agustin Oendari

Agustin Oendari merangkum esensi penuh rasa dari Jakarta kala malam.

“Oendari adalah gadis Virgo asal Jakarta, dari lahir sampai umur awal dua puluhan tinggal di kota yang sama, di lingkungan yang sama, dalam rumah yang sama, sampai akhirnya memutuskan untuk mandiri, pindah ke pinggir barat ibukota, ke sebuah kawasan mandiri bernama Karawaci. Gadis yang berkacamata sejak SD ini nggak suka panas tapi juga nggak bisa kedinginan, nggak suka pedes tapi doyan nasi padang, nggak suka bau durian tapi toleran sama aroma pepaya, nggak suka berantakan tapi mobilnya kayak kapal pecah, takut minum obat yang pahit tapi suka kopi hitam tanpa gula. Rumit ya. Iya, memang,” tandas Agustin Oendari dengan gamblang saat mendeskripsikan dirinya sendiri dari sudut pandang orang ketiga.
Nama singer-songwriter berusia 25 tahun ini mungkin masih asing bagi kalangan umum. Kariernya memang lebih banyak di belakang layar dengan menjadi manajer band, vokalis latar, mengurus kontrak kerja sama produksi atau men-direct program sebuah studio musik di bilangan Karawaci yang bernama Roemah Iponk. Namanya menarik perhatian saya semenjak saya menonton film Selamat Pagi, Malam garapan Lucky Kuswandi yang tayang pada bulan Juni lalu. Film tersebut menceritakan satu malam di hidup tiga orang perempuan Jakarta (Adinia Wirasti, Ina Panggabean, dan Dayu Wijanto) yang kerap bersinggungan satu sama lain tanpa mereka sadari. Diwarnai dengan berbagai scene Jakarta di malam hari yang ramai benderang tapi juga sepi dan muram serta dialog yang akan mengusik pikiran warga Jakarta, film ini diperkuat oleh lagu tema berjudul sama yang digarap oleh Oendari dan rekan bermusiknya, Ivan Gojaya.
Musik akustik yang tenang dengan vokal lirih Oendari yang seakan berbisik itu terlihat kontras saat melatari scene gedung-gedung perkantoran, jalanan padat, dan lalu-lalang penduduk Jakarta yang sibuk dengan urusan masing-masing, menciptakan jukstaposisi bagaimana Jakarta bisa membuat kita bisa merasa begitu kesepian di tengah keramaian. Bagaimana kita setengah mati mencari kedamaian di antara bising yang mengepung kita. Oendari menerjemahkan esensi Jakarta yang ingin diceritakan oleh sang sutradara ke dalam sebuah balada akustik dengan melodi dan lirik yang bittersweet. Saya pun tergerak untuk mengenalnya lebih jauh lewat sepucuk surat elektronik.

Hi Oendari! Apa kabar? Lagi apa sebelum balas email ini?
Hai, Alex. Aku baik-baik, sehat-sehat, bahagia. Sejujurnya, (walaupun udah siang) aku belum lama bangun, setelah semalaman begadang karena ada yang harus dikerjakan. Sebelum balas email ini, Aku baru sarapan: home-made scrambled egg with button mushroom, pakai selembar toast, dan beberapa butir cherry tomatoes; gak lupa kopi hitam (kalau gak pake kopi hitam, pasti hari ini rasanya malah jadi muram).
Oh ya, jangan tanya apa aku yang masak semua benda-benda itu, karena jelas bukan aku. Haha. Peranku di dapur sementara ini cuma sampai di tahap chef-assistant, sekadar doing the cooking preps. Tangannya belum cukup dingin untuk mengerjakan masakan-masakan, bahkan yang sesederhana sarapan tadi. Hihi.

Bermusik sendiri sejak kapan? Dan apa yang mendorongmu?
Dulu, waktu masih berumur kira-kira tiga tahun, aku suka banget ngomong sendiri, teriak-teriak, dan nyanyi-nyanyi di depan cermin. Melihat itu, Mama lah yang pertama punya inisiatif untuk memasukkan aku ke dalam komunitas paduan suara gereja, yang akhirnya menjadi semacam rumah kedua selama tujuh belas tahun berikutnya. Ketertarikanku terhadap menyanyi makin berkembang ketika aku mulai tergabung di dalam band, pada masa-masa SMP sampai kuliah. Di dalam komunitas-komunitas itu, aku menemukan bahwa aku betul-betul menikmati menyanyi, bahwa menyanyi bisa sewaktu-waktu melepaskan aku dari dunia nyata, bahwa menyanyi membuat aku tetap waras menghadapi hari-hari sulit.
Seiring dengan latihan vokal yang aku jalani sejak kecil, aku juga dimotivasi oleh Mama untuk belajar instrumen musik. Dua instrumen yang pernah aku kenal seumur hidupku adalah piano – instrumen yang aku pelajari selama kurang lebih tiga tahun melalui kursus privat, tapi kemudian aku berhenti di tengah jalan karena, berdasarkan yang aku ingat, di rumah guru lesnya ada anjing galak – dan gitar – instrumen yang sebetulnya aku nikmati selama kurang lebih lima tahun, tapi apa daya, sejak kuliah dengan jadwal sebegitu padat, instrumen ini sudah tidak aku kenal lagi sekarang –. Namun, setelah mengenal dua instrumen itu pun, aku tetap lebih tertarik menyanyi (walaupun sebetulnya membantu sekali lho, menyanyi plus juga bisa memainkan alat musik). Sekarang ini, aku menyentuh piano cuma kalau lagi bosen atau lagi membuat draft lagu. Itu pun jarang banget. Jadi, sementara ini, my instrument’s only in my mind, my body, my spirit: my voice. Hehehe.

Kalau influens bermusikmu siapa saja?
Soal influence, banyak banget dan multigenre sih, sebetulnya. Waktu kecil, ada beberapa musisi yang kasetnya harus banget ada di rumah dan didengerin hampir setiap hari, antara lain David Foster, Earth, Wind, & Fire, Chicago, The Carpenters apa lagi ya. Kadang-kadang, kalau Papa lagi pingin dengerin yang lebih lawas, berkumandang jugalah Jim Reeves, Elvis, Sinatra. Aduh. Apa lagi ya. Banyak sih. Bertumbuh remaja sampai dewasa, aku mulai mengenal Norah Jones, Cranberries, Nelly Furtado, Alanis Morissette, No Doubt, Eminem, Linkin Park, Evanescence, lalu muncul Keane, John Legend, John Mayer, Corinne Bailey Rae, Amy Winehouse, Mara Carlyle, Ingrid Michaelson, Sara Bareilles, Fleetfoxes, The Paper Kites, High Highs, Kimbra. Banyak dan multigenre kan.
Gak berarti aku gak suka musik Indonesia, justru beberapa tahun belakangan lagi kepincut banget dengerin Payung Teduh, Sore, dan White Shoes & The Couples Company. Tapi, yang gak pernah gagal memesona aku sampai sekarang adalah Eyang Titiek Puspa dan Alm. Chrisye.

Aku jujur saja baru dengar nama kamu pas di film Selamat Pagi, Malam ini, bagaimana ceritanya sampai bisa terlibat di project ini?
Nah, Selamat Pagi, Malam ini memang proyek film pertama yang aku kerjakan. Sebelumnya, aku lebih banyak di belakang layar: nyambi juga jadi manajer band, ngurusin kontrak kerja sama produksi atau direct program studio, semuncul-munculnya aku di depan khalayak paling sebagai background vocalist doang.
Jadi, sebetulnya, keterlibatan aku di dalam proyek film Selamat Pagi, Malam itu rasanya semacam kebetulan banget (meskipun gak ada yang kebetulan ya di dunia ini, hehe). Nah, kalau diceritain di sini, bakal jadi panjang banget. Kalau kamu berkenan, aku menyarankan kamu untuk membaca tulisan mengenai ini di petikanbulan.com, ada empat post yang nempel di halaman pertama mengenai ini. Sudah lengkap di situ semua, Lex.

What’s the inspiration untuk liriknya? Aku suka karena musiknya benar-benar mewakili rasa Jakarta di malam hari sepulang kantor.
Ketika menuliskan lirik “Selamat Pagi, Malam”, inspirasi terbesar datang dari filmnya sendiri. Toh, bagaimanapun, lirik lagu ini kan mesti erat hubungannya dengan si film. Jadi, memang, ketika itu, bahan diskusi-diskusi (dengan Ivan Gojaya, yang menciptakan musik untuk lagu ini) selama pra-produksi lebih banyak mengenai filmnya sendiri.
Buat aku, hal paling inspirasional dari filmnya sendiri adalah cara Lucky Kuswandi menampilkan bagaimana setiap aktor membuka topengnya masing-masing ketika satu malam turun di Jakarta: sangat jujur, sangat berani, dan sangat manusiawi. Ketika nonton filmnya, aku langsung berpikir, “Oh, betapa manusia Jakarta: hidup beramai-ramai dalam kesendirian masing-masing. Tapi, di film ini, peran-peran ini, hanya pada satu malam saja menemukan ruang kosong dan saling berbagi kesendirian di situ. Meski cuma buat satu malam itu aja. Besoknya, mungkin mereka kembali pada topeng-topeng sepinya masing-masing. Gak ada yang tahu.” Betapa, meskipun nyata, buat aku, itu rasanya sedih dan tragis. Nah. Rasa sedih dan tragis ini sebetulnya yang melandasi penulisan lirik “Selamat Pagi, Malam”.

Kalau Oendari sendiri melihat hidup di Jakarta itu seperti apa?
Hidup di Jakarta itu ibarat pacaran lama sama orang yang kita betul-betul cinta. Cinta sih, tapi karena terbiasa dan sudah lama bareng, jadi gak sungkan lagi saling menyakiti satu sama lain. Tapi, kalo yang satu pergi dari yang lain, rindu tetap ada.
Yang paling aku rindu dari Jakarta adalah memorinya. aku kurang lebih dua puluh tahun hidup di Jakarta, sebelum pindah ke pinggir kota. Banyak kenangan di berbagai sudut-sudut Jakarta: yang baik ataupun yang buruk, semuanya dari itu membentuk aku jadi aku yang sekarang. Kaya yang Anggia bilang di dalam film, ketika merenungkan masa-masa yang lewat di tempat-tempat yang pernah kita lalui di Jakarta, pada akhirnya Aku bisa bilang: life was so carefree – no heartbreak – no drama. Itu rasa yang ngangenin.

 Bicara soundtrack film, kamu paling suka OST film apa? What makes a good soundtrack?
What makes a good soundtrack. Hmmm. Good question. Hopefully, this won’t be a bad answer. Hahaha. Based on my first experience in SPM dan sebagai penikmat musik film aja yah, Lex. Buat aku, dalam membuat soundtrack, hal terpenting yang mesti aku ingat adalah: aku harus bertanggung jawab terhadap filmnya; aku harus bertanggung jawab (plus, super jujur) terhadap hatiku dan pikiranku sebagai penikmat filmnya; dan aku harus bertanggung jawab terhadap kata-kata dan melodi yang akan aku nyanyikan.
Soundtrack favorit yang keinget sampai sekarang: Landon Pigg & Lucy Schwartz – Darling, I Do. Kalau gak salah, itu soundtrack-nya Shrek, entah yang keberapa. Kenapa? Simply, it’s romantic.

Next project apa saja?
Hmmm. Next project. Setelah ini, sudah ada rencana rilis karya baru. Masih dengan format dan tema yang kurang lebih sama dengan karya untuk film Selamat Pagi, Malam. Doakan segera muncul titik-titik terang ya untuk ini.

http://petikanbulan.com/

Foto oleh Teddy Setiadjie

The Blind Truth, An Interview With Ayushita & Nicholas Saputra

Apa saja hal-hal yang tidak dibicarakan ketika kita membicarakan Nicholas Saputra dan Ayushita Nugraha? Let’s find it out together.

The early bird catches the worm” menjadi mantra penyemangat saat saya harus meninggalkan rumah lebih pagi dari biasanya menuju sebuah studio foto di daerah Kuningan demi jadwal cover photoshoot dan interview bersama Nicholas Saputra dan Ayushita Nugraha untuk edisi Mei. Mereka sebetulnya bukan nama asing bagi majalah ini, Nicholas pernah menjadi cover NYLON Guys Indonesia edisi April 2011, sementara saya sempat mewawancarai Ayu untuk edisi Anniversary NYLON Januari tahun ini. Sekarang, mereka berdua sengaja dipasangkan berkat film terbaru mereka, What They Don’t Talk About When They Talk About Love, di mana keduanya berperan sebagai penyandang disabilitas yang menjalin hubungan yang “tidak biasa”.

Bila film-film bertema disabilitas pada umumnya dibanjiri drama air mata serta pesan-pesan preachy, film kedua karya sineas perempuan Mouly Surya ini memilih menunjukkan realita di balik tembok sebuah Sekolah Luar Biasa dengan apa adanya secara humanis. Dalam film dengan ensemble cast yang turut dibintangi oleh Karina Salim, Anggun Priambodo, dan Lupita Jennifer ini, Ayushita berperan sebagai Fitri, seorang remaja tunanetra di sebuah asrama untuk visually impaired yang terobsesi pada cerita hantu, dan selayaknya remaja seumurnya, she’s dying to feel some love. Saban malam Jumat, ia pergi ke kolam renang sekolahnya untuk bercerita kepada sesosok hantu dokter yang konon merupakan urban legend di sekolahnya, sampai suatu hari “hantu” itu muncul dan berkomunikasi dengannya lewat surat yang ditulis dengan huruf Braille. Fitri tak tahu jika dokter hantu pujaannya itu ternyata seorang pemuda tunarungu bergaya punk bernama Edo (Nicholas Saputra) yang diam-diam sering memperhatikan Fitri.

Semboyan love is blind menjadi hal yang literal dalam cerita ini. Terlepas dari keterbatasan fisik keduanya, mereka pun menjalani hubungan yang sangat passionate lewat sentuhan fisik dan momen-momen ajaib dari minimnya komunikasi di antara mereka. Menariknya, di film ini Mouly menghadirkan twist berupa alternate reality di mana keduanya adalah pasangan normal yang sangat komunikatif satu sama lain walaupun tinggal di sebuah kamar kos sempit, yang semakin terasa pengap dengan rentetan dialog klise orang mabuk cinta yang bila diresapi ternyata sangat “kering” dan dipaksakan. Conversation is (sometimes) overrated adalah pesan yang terpapar dari sini, dan membuat kita bertanya do they really fell in love? Atau justru seperti yang Fitri ungkapkan, apa mereka hanya jatuh cinta dengan konsep jatuh cinta itu sendiri?

Dengan premis skenario yang menarik tersebut, film ini berhasil disertakan dalam World Cinema Dramatic Competition di Sundance Film Festival tahun ini yang juga membuatnya menjadi film Indonesia pertama dalam salah satu festival film dunia paling bergengsi itu. Setelahnya, film ini juga ditayangkan di Rotterdam, Goteborg, dan Hong Kong International Film Festival dan mendapat respons gemilang dari semua media. Well, setelah menontonnya sendiri, kamu akan langung mengetahui penyebabnya. Script yang memang menarik itu diperkuat oleh pendekatan sinematik khas Mouly yang dipenuhi sinematografi cantik dan penuh simbol. Tak hanya secara visual, dari audio pun film ini memaksa kita menajamkan indera pendengaran kita. Di satu titik di mana tidak ada audio sedikit pun, kita dibuat “tuli” sesaat dan seluruh bioskop terasa hening sampai-sampai penonton seperti menahan napas menunggu suara muncul kembali. Komposisi musik yang digarap Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani dengan cerdas juga menjadi elemen penting yang menggambarkan emosi internal setiap karakter, salah satu yang paling memorable adalah lagu “Twinkle, Twinkle, Little Star” dengan lirik lagu “twinkle, twinkle, little star. How I wonder what you are,” yang terasa menusuk saat dinyanyikan karakter bernama Maya (Lupita Jennifer). Somehow, saya merasa lirik tersebut juga menggambarkan sosok Nicholas dan Ayushita. Keduanya memang bukan “bintang kecil”, dan hampir semua orang mengenal mereka, tapi apakah persepsi publik sudah cukup mewakili kepribadian mereka di dunia nyata? That’s what I try to find out this time.

IMG_0454 copy

Ayushita datang tepat waktu dan mulai menjalani proses makeup saat saya tiba. Sama seperti perjumpaan kami sebelumnya, ia terlihat riang dan bersemangat walau jam masih menunjukkan pukul sembilan, jam yang menentukan mood kita sepanjang sisa hari nanti. Satu-satunya yang berubah adalah kilatan warna turquoise yang kini menghiasi sebagian rambut belakangnya. “Sundance was so cold!” katanya riang saat saya menanyakan ceritanya ikut ke Sundance bulan Januari silam, “tapi aku sama Lupita pulang duluan karena aku harus nyiapin launching album. Yang senang pas lagi screening itu, kita juga nervous dan mereka tahu ini film Indonesia pertama yang masuk Sundance, tapi mereka memberikan respons yang baik, nggak ada penonton yang walkout, mereka stay sampai film selesai, dengerin Q&A, dan banyak yang pengen foto bareng. Aku pikir cuma hari itu aja, tapi the next day kita jalan-jalan, ada orang yang bilang, ‘kamu yang main di film itu ya?’ Terus ngajakin foto bareng, terus besoknya lagi pas kita jalan-jalan makan siang di main street ada orang yang bilang “Hey I saw your movie! Congratulation, we love it!’ terus banyak yang bilang ke Mbak Mouly, ‘terima kasih sudah bikin film yang bagus,’” ceritanya sambil tersenyum.

Gadis kelahiran 1989 ini punya alasan kuat untuk tersenyum. Kuartal awal tahun ini kariernya bisa dibilang tengah mengalami transformasi. Ia menggebrak dengan dua project besar sekaligus, yaitu film ini dan album musik solo pertamanya yang bertajuk Morning Sugar. Beberapa minggu sebelumnya, ia mengadakan mini concert di gedung PPHUI untuk perilisan albumnya, satu hal yang ia turun tangan sendiri menyiapkan segala sesuatunya. Musik di album ini sendiri sejujurnya bukan sesuatu yang akan kamu sangka dinyanyikan oleh Ayushita yang sebelumnya lekat dengan cap Bukan Bintang Biasa (BBB). Dibantu oleh Ramondo Gascaro (eks-keyboardist SORE) dan Ricky Virgana dari White Shoes & The Couples Company, album ini berwarna indie pop Indonesiana. “Banyak yang kaget sih, wah kok sekarang jadi kaya gini ya? Banyak juga yang agak sarkastik, tapi…I’m okay. Maksudnya sudah terbiasa dengan hal-hal kaya gitu,” cetusnya sambil mengangkat bahu. “Aku sebetulnya nggak ngerasa ini hal yang baru buat aku, untuk di depan publik mungkin iya. Mereka kan mikirnya aku sangat mainstream atau gimana, aku keburu udah di tengah-tengah, I like the off-stream, but I don’t hate the mainstream either, to be realistic aja sebetulnya. In real life, ini musik yang aku suka juga. iPod aku terlalu beragam playlist-nya dan indie pop adalah salah satu jenis lagu yang aku suka banget.”

Terjun ke dunia showbiz sejak kecil, Ayu memang telah terbiasa dengan berbagai pemberitaan menyangkut dirinya di media, entah kariernya sebagai aktris maupun sebagai penyanyi, walau ada satu sisi dirinya yang belum terekspos. “They don’t know if I love cooking a lot! Recently aku baru belajar baking. Baking itu lebih susah dibanding masak Italian or Japanese food, aku pernah mau bikin kue ulang tahun belajarnya kaya orang mau ujian, berkali-kali sambil nonton YouTube. It was fun. Terakhir aku bikin Strawberry Shortcake, dan Alhamdulilah rasanya kaya punya restoran yang emang aku suka Strawberry Shortcake-nya, Ahaa… gue punya resepnya! Bisa nih bikinnya! Haha!”  ungkapnya dengan wajah excited.

IMG_0532 copy

            Jam sepuluh kurang sedikit, Nico akhirnya tiba. Ia meminta maaf atas keterlambatannya, walaupun saya bisa memakluminya. Baru malam sebelumnya, ia pulang ke Indonesia dari traveling ke New York dan daerah selatan Prancis. Sialnya, setelah tiga minggu meninggalkan Indonesia, ia harus langsung berhadapan dengan schedule super padat, hari itu pun ia hanya punya waktu sampai jam 12 siang untuk memenuhi jadwal lainnya sampai malam. Sambil menunggu Ayushita selesai makeup, saya pun, melakukan ice breaking dengan aktor berusia 29 tahun tersebut. So how was Sundance? “Sundance…Ok, good… Di sana kita sepuluh hari di Park City, kota kecil di Utah yang pusat ski resort, waktu itu pas lagi peak musim orang main ski.tapi karena di sana dingin jadi kita maunya masuk bioskop terus. Responsnya oke, sebetulnya film ini kan bukan tipikal film Amerika, jadi buat mereka ini sesuatu yang baru dan beda dibanding film-film Amerika,” tandasnya.

Nico menjawab setiap pertanyaan dengan singkat dan tegas, mengingatkan saya akan perannya di film AADC yang melambungkan namanya. Mungkin karena faktor jet lag, ia agak terlihat lelah dan kurang mood untuk bicara panjang lebar. I know my safest bet adalah bertanya seputar film terbarunya ini. “Proyek film ini dimulai tahun 2010, awalnya memang diajakin Mouly untuk film ini, syutingnya Juni tahun lalu, reading dua bulan dan syuting dua minggu. Saya riset ke SLB tunarungu di daerah Cipete, ikut kelas mereka beberapa kali, ikut proses belajar. Banyak yang didapat sih, sebelumnya kita cuma mikir mereka nggak bisa dengar dan nggak bisa ngomong, tapi ternyata banyak hal yang bisa mereka lakukan,” jelas Nico sebelum tiba-tiba mengalihkan pandangan dan berseru, “Wohoo, thanks for the diet!” dengan cengiran iseng saat melihat Ayushita keluar dari ruang makeup dengan mengenakan look pertama yang terdiri dari crop top Topshop dan celana rok Balenciaga. Ayushita hanya tertawa menanggapi celetukan itu. Obrolan canggung saya dan Nico pun harus terhenti karena kini gilirannya berganti wardrobe dan memulai pemotretan.

Thanks for their role as a couple, mereka sudah tidak risih lagi saat harus berpose berdua. Frame demi frame dilewati keduanya dengan santai dan diselipi beberapa inside jokes. Saat hampir jam 12, Nico berulangkali melirik jam dan smartphone miliknya. Di saat ia mengira pemotretan sudah selesai, ternyata masih ada satu look lagi yang harus ia pakai, dan Nico pun berbesar hati menyanggupi. Ia berganti baju dengan cepat dan tanpa buang waktu menuntaskan sisa pemotretan. Setelahnya, dengan agak tergesa, Nico membereskan barang bawaannya, mengucapkan terima kasih ke semua orang dan segera melesat ke appointment berikutnya. Sebelumnya, kami berjanji untuk bertemu lagi besoknya untuk melanjutkan interview dan saya pun melanjutkan interview dengan Ayu saat ia juga telah menyelesaikan pemotretannya.

Melihat keakraban keduanya saat photoshoot, saya bertanya kepada Ayu tentang caranya membangun chemistry bersama Nico untuk film ini. “Aku baru kerja bareng Nico di film ini. I was so nervous sebetulnya karena dia jam terbangnya udah jauh lebih banyak dan ada hal-hal yang aku belum pernah jalanin di film tapi dia udah. Cara Mbak Mouly nge-direct itu lebih diskusi dan nanya opini kita kaya gimana scene-nya, jadi kita banyak ngobrol karena aku scene-nya paling banyak sama Nico. Kita spend time quite long sepanjang syuting selama dua minggu. I don’t really think about the chemistry, tapi justru karena ada satu adegan yang harus dilewati itu, yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. I have to pull myself together. Jadi aku milih dengerin iPod dan duduk sendiri dulu. Waktu liat set adegan itu aku yang ‘Oh no!nervous banget! Aku nggak omongin ke siapa-siapa, tapi semua yang ada di situ tau dan mereka nggak push aku untuk apapun, mereka benar-benar memberi waktu ke pemain dengan ketegangan kita masing-masing,” papar Ayu mengingat kembali salah satu adegan di film ini yang merupakan tantangan baru bagi dirinya sebagai aktris.

Risque scene aside, sama seperti Nico, Ayu juga belajar banyak hal dari film ini tentang penyandang disabilitas. Ia belajar huruf Braille dan meningkatkan sense selain penglihatan dengan menutup mata seharian dan berjalan dengan meniti railing di tembok lokasi syuting. “Waktu pertama kali datang ke lokasi ada banner foto-foto kegiatan mereka dan judulnya ‘Jangan Kasihani Kami’, aku yang ’owkaaay…’ Aku nggak tau yang lain notice apa nggak tapi itu yang pertama aku liat. Begitu masuk, ternyata mereka sama aja kaya kita, saling ngeledekin temen-temennya yang pacaran, ada yang busted lagi ngapain, terus jadi bahan omongan,” kenangnya. “Mereka punya passion yang sama dan feeling yang lebih kuat dari kita. Mereka juga mandiri, ada yang selalu pulang sendiri ke Bogor naik bus, padahal dia cewek. Setelah menjalani film ini aku mikir, oke aku nggak kasihan lagi sama mereka. Karena mereka hebat dan mereka memang nggak suka dikasihani, kaya ‘kenapa? I’m happy dengan keadaan ini’,” imbuhnya dengan mimik serius. “Yang jelas, aku jadi belajar lebih embrace dengan apa yang kita punya,” tuntas Ayu.

Besoknya, saya pergi ke kantor Cinesurya di daerah Melawai untuk melanjutkan interview dengan Nico dan kali ini berharap ia mau sedikit lebih bercerita dibanding pertemuan sebelumnya. Nico terlihat sama kasual dari hari sebelumnya dengan paduan polo shirt putih dan jeans. Dari dekat, saya bisa melihat kantung matanya masih agak tebal, ia mengaku baru tidur jam satu malam dan bangun jam 10, “Knocked out!” cetusnya sambil tersenyum kecil. Anyway, setelah tidur 9 jam, tampaknya mood Nico jauh lebih rileks hari ini. Saya memulai obrolan dengan topik-topik ringan, seperti musik apa yang biasanya ia dengarkan, “I listen a lot of rock, jazz music, yang sekarang ini apa ya? Gue lebih suka band-band lama…Emerson, Lake & Palmer, terus yang di playlist gue belakangan ini paling Depeche Mode sama Tears for Fears!” jawabnya sambil sesekali menghisap rokok. Saya menyinggung sedikit perannya sebagai Edo di film ini yang bergaya punk dengan jaket kulit, rambut dicat, dan tindikan di bibir, walaupun Edo sebetulnya tidak bisa mendengar, “Yeah, sometimes people do that, sekarang kan orang gaya apa belum tentu denger musiknya ya sesuai gayanya. Yang penting kan orang gayanya apa juga bebas-bebas aja,” ujarnya. Nico mengaku sudah lumayan lama sejak ia terakhir kali datang ke sebuah konser, karena kesibukannya traveling dan main film. Bagi orang awam, mungkin nama Nico seperti menghilang, walau sebetulnya ia masih rutin terlibat produksi film. Harus diakui belakangan ini ia cenderung bermain dalam film-film festival yang kurang terdeteksi publik umum. Hal itu menurutnya bukan suatu kesengajaan, tapi karena ia memang tertarik pada skrip yang ditawarkan dengan peran-peran tidak umum. “Too many characters in the world, gue nggak pernah yang pengen karakter ini karakter itu, sebetulnya karakter sederhana  justru bisa dibuat menarik karena kesederhanaannya,” tukasnya.

IMG_0240 copy

Satu dekade berkecimpung di entertainment, apakah Nico puas dengan portrayal media tentang dirinya? “Portrayal gue di media? Aduh sebetulnya gue nggak terlalu perhatiin sih, nggak sempet, paling kalau lagi berhubungan sama filmnya aja, pengen tau kritik, pengen tau review, pandangan orang sama kerjaan gue, biasanya ya gitu aja sih, yang hubungannya sama pekerjaan,” ucapnya. Dari sini pembicaraan pun bergulir dengan sendirinya, kita telah memasuki zona nyaman Nico dengan topik seputar kariernya di industri yang menurutnya harus selalu dikembangkan lagi. “Sebetulnya kritik atau review film di Indonesia masih perlu dikembangin, karena kita masih sedikit banget punya kritikus yang menurut gue capable mengkritik film dan sebetulnya itu juga bagian penting dalam industri film sih,” lugasnya sambil menambahkan, “kritikus tugasnya mewakili masyarakat tapi juga meng-educate masyarakat supaya hubungan antara filmmaker dan penontonnya ada, ini sebetulnya link yang harus dimiliki industri film. Sekarang banyak medium blog film juga bagus banget, pertama karena melatih mereka untuk menulis dan berpendapat soal film, terserah lo mau nulis apa, it’s a free country. Mudah-mudahan 5 atau10 tahun ke depan kita punya banyak kritikus yang bagus dan ngerti film,” paparnya panjang-lebar.

Selain film, traveling menjadi hal lain yang akan memacu Nico untuk dengan senang hati bercerita. Apakah ia masih menganggap dirinya sebagai full time traveler, part-time actor seperti yang tercantum di bio Twitter-nya? “So far, iya, haha!” responsnya sambil terkekeh, “itu joke aja sih sebetulnya, karena pekerjaan utama gue ya main film. Traveling itu penting buat gue karena selain dari dulu seneng jalan-jalan, penting buat cari inspirasi, cari hidup, Maksudnya kita tinggal di Jakarta, you live in the bubble, dan bubble itu makin lama makin tebel dindingnya, dan gue pengen keluar dari bubble itu untuk bisa refresh. Traveling itu lo ngeliat dunia, kalau akting juga ngaruh karena lo dapet references yang banyak dari kehidupan orang. Lo bisa lebih eksploratif, bisa melihat banyak kehidupan, sama to get away… kalau gue traveling ke luar negeri ya untuk menikmati hidup di suatu kota atau lingkungan tanpa ada yang minta foto atau hal yang berhubungan dengan pekerjaan gue,” ungkap Nico seraya menegaskan jika bukan berarti ia selalu memilih traveling ke luar negeri. Ia sempat selama dua tahun fokus traveling dalam negeri untuk lebih mengenal Indonesia dan jatuh cinta dengan Pulau Komodo yang menjadi lokasi diving favoritnya.

Somehow, I still can manage it sih, gue bukan tipe yang 9 to 5, yang kerja kaya maraton gitu, kalau kerja monoton gue cepet bosen,” kata Nico saat saya bertanya tentang caranya mengatur schedule yang padat. “Gue lebih suka sprint. Jadi gue rileks, santai tapi abis itu gue ngebut, that’s how I do my muscle. Mending kalau nggak ada kerjaan, gue cabut, pulang-pulang kerjaan numpuk tapi abis itu gue bisa rileks lagi,” imbuhnya.  Untuk menjaga stamina, Nico rutin berlatih Muay Thai dan renang yang diakuinya seperti meditasi, sambil bersiap terlibat dalam produksi film selanjutnya yang akan berskala besar akhir tahun ini.

Untuk menutup pembicaraan siang itu yang diselingi cemilan pisang asam dari Thailand, saya meminta Nico berandai-andai tentang hal yang ingin ia lakukan jika ia memiliki waktu luang, “Do nothing, gue akan ada di suatu kapal di Komodo, ngopi seharian dan diving sesuka hati, but I got many times like that sih sebetulnya. Seminggu kosong nggak ngapa-ngapain, I know the art of doing nothing, definitely!” jawabnya sambil tertawa renyah.

            In the end of the day, saat saya memikirkan kembali tujuan utama saya dalam menulis artikel ini, tentang apakah Ayu dan Nico adalah orang yang sama saat ada di depan dan belakang sorotan kamera, hal itu menjadi tidak relevan lagi. Satu hari jelas tidak akan cukup menjawabnya, yang pasti mereka berdua adalah orang yang passionate di bidang yang mereka geluti dan tak takut menjadi diri sendiri. No sugarcoated words, and of course, no superficiality.

As published in NYLON Indonesia May 2013

Photo by Hakim Satriyo

Styling by Anindya Devy