A Lucky Girl, An Interview With Fazerdaze

Bukan hanya para fans yang merasa beruntung dapat menyaksikan penampilan perdana Fazerdaze di Jakarta, sang penyanyi pun tak kalah sumringah.

Processed with VSCO with nc preset

Ada suatu hal yang saya rasakan setiap bertemu langsung dengan para musisi indie yang memulai karier mereka dari kamar tidur sebelum beralih ke panggung. Di video musik atau foto pers, mereka umumnya memancarkan aura effortlessly cool yang membuat mereka bersinar dan menjadi objek afeksi bagi anak-anak keren lainnya. Namun, ketika bertemu langsung, terlebih sebelum mereka tampil di atas panggung, umumnya mereka memiliki pembawaan yang approachable dan cenderung kikuk atau pemalu. In endearing way, tentu saja.

Begitu juga yang saya rasakan saat bertemu Amelia Murray atau yang lebih dikenal dengan nama Fazerdaze, beberapa jam sebelum gig perdananya di Jakarta yang berlangsung di Rossi Musik Fatmawati, tanggal 21 Oktober lalu dan dipromotori oleh Studiorama, Six Thirty Recordings, dan noisewhore.

Impresi pertama saya, gadis berusia 24 tahun ini bahkan terlihat lebih stunning in real life dengan paras dan postur yang terlihat seperti model Jepang. Wajahnya bersih dari riasan dan memang agak terlihat lelah akibat jadwal tur padat yang telah berlangsung sekitar 6 minggu di mana ia telah tampil di Eropa, Jepang, dan Asia Tenggara, tapi dengan ramah ia menunjukkan senyum semanis gula saat berkenalan dengan saya.

Saya bisa menangkap rasa canggung dalam gestur tubuh dan caranya menjawab pertanyaan di awal interview one on one kami. Untungnya, tak butuh waktu lama sebelum pembicaraan kami menjadi lebih cair dan relaks, khususnya ketika berbicara soal musik. “Lumayan nervous sebetulnya, karena gig Jakarta ini menjadi gig dengan penjualan tiket paling cepat habis dalam tur kali ini. Saya nervous karena saya ingin tampil sebaik mungkin agar penonton bisa menikmatinya dan tidak merasa rugi telah menghabiskan waktu, energi, dan uang mereka untuk menonton saya di atas panggung,” ungkapnya dalam bahasa Inggris beraksen Selandia Baru.

Memulai karier musiknya sebagai bedroom musician. Amelia mengaku masih sering takjub kalau melihat banyak orang datang ke show-nya dan bahkan ikut menyanyikan lirik yang ia tulis di kamar tidurnya di Auckland, Selandia Baru. Begitupun saat ia melihat animo fans Indonesia yang tinggi untuk konsernya. Tiket yang dibanderol seharga Rp250.000 habis terjual dalam waktu dua hari dan meskipun waktu itu jam masih menunjukkan pukul 4 sore yang artinya masih beberapa jam lagi sebelum venue dibuka dan dimulai dengan penampilan dua band lokal, Sharesprings dan Grrrl Gang, sebagai opening act, beberapa fans sudah hadir dan sabar menunggu di sekitar Rossi.

Selain musik dan (let’s be honest here) fisik yang dengan mudah membuat jatuh hati, saya merasa ada daya tarik lain yang membuatnya diterima dengan tangan terbuka oleh orang Indonesia. Yaitu? Trivia jika Amelia masih memiliki darah Indonesia dalam tubuhnya yang sadar atau tidak membangkitkan optimisme Good News From Indonesia bagi pecinta musik lokal. Meskipun pada faktanya, Amelia tidak pernah tinggal di Indonesia. Kedatangannya ke Jakarta kali ini memang bukan untuk pertama kali, karena ia masih punya keluarga dari pihak ibu yang tinggal di sini, namun ia adalah gadis Selandia Baru sejati.

IMG_20171021_154933

“Saya kangen minum kopi Selandia Baru,” jawabnya tentang hal yang paling ia rindukan setelah sekian lama menghabiskan waktu di jalan. “Selandia Baru punya kopi-kopi yang enak. Saya juga kangen tidur di kamar saya sendiri. Tapi yang paling saya rindukan adalah pacar saya, haha!” tandasnya.

Dengan inspirasi musik yang umumnya berasal dari tahun 90-an seperti Pixies, Smashing Pumpkins, Slowdives, dan Mazzy Star, debut LP Fazerdaze yang bertajuk Morningside dirilis tahun ini dengan respons positif untuk nuansa dreampop bercampur shoegaze yang dibangun oleh gitar catchy dan vokalnya yang ringan. “Nama Fazerdaze sendiri sebetulnya tidak punya arti apa-apa. Waktu saya mencari nama alias untuk proyek ini, saya menuliskan beberapa calon nama di atas kertas dan ketika terlintas nama Fazerdaze saya langsung berpikir ‘This is it. That’s the name’,” ujarnya. “Saya suka bagaimana Fazerdaze dilafalkan dan ditulis, it just feels right.”

Instrumen pertama yang ia pelajari adalah piano saat kecil, namun ia tak menyukainya dan baru ketika belajar main gitar ia mulai membuat musiknya sendiri. “Saya tidak ingat lagu pertama yang saya mainkan dengan gitar, antara ‘Daniel’ dari Elton John, Bic Runga yang ‘Drive’, atau Foo Fighters yang ‘Times Like These’” kenangnya. Tiga pilihan lagu yang sangat berbeda satu sama lain sebetulnya dan sama beragamnya dengan musik yang ada di playlist-nya. “Belakangan ini saya lagi mendengarkan King Krule, Frank Ocean, dan The Smiths. Sebelumnya saya tidak pernah benar-benar mendengarkan The Smiths, baru akhir-akhir saja saya mulai serius mengulik musik mereka.”

Diversitas dalam selera musik tersebut menurutnya turut dipengaruhi dari skena musik di sekitarnya, khususnya di Wellington di mana ia menghabiskan masa kecilnya, dan Auckland di mana ia menulis materi untuk album debutnya. “Dibandingkan skena musik Australia, skena musik di Selandia Baru mungkin lebih kecil, tapi juga tak kalah berkembang dan keren. Skenanya lebih ke alternative underground di mana orang dengan bebas membuat musik, entah itu di band, menjadi bedroom producer, atau DJ,” paparnya.

Saya melontarkan nama Yumi Zouma, band dream pop yang juga berasal dari Selandia Baru, dan bertanya apakah dream pop memang komoditas musik asal negara Kiwi tersebut. Dengan sumringah Amelia mengungkapkan kecintaannya pada rekan satu genrenya tersebut, namun ia tak lupa menambahkan jika Selandia Baru juga memiliki musisi folk yang patut disimak seperti Aldous Harding, Tiny Ruins, dan Nadia Reid.

Kesuksesan Morningside yang berisi 10 lagu dan merupakan kelanjutan dari self-titled EP berisi 6 lagu di tahun 2014 tak lepas dari single utama “Lucky Girl” dengan video yang ia sunting sendiri. Sepintas musik dan video lagu ini terasa innocent lewat irama hangat super catchy dan singalong chorus di mana ia mendeklarasikan dirinya adalah “a lucky girl” berulang kali dengan sajian visual yang tak kalah vibrant. Namun, jika jeli mendengar dan melihat, kamu akan sadar jika lagu ini menyimpan pesan tersembunyi yang melankolis dan penuh rasa cemas.

“Saya menulis lagu itu setelah baru saja melewati masa yang sulit dan depresif. Saya menyelesaikan lagu itu dengan sekali duduk. Lagu ini adalah cara saya untuk move on dan mensyukuri hal-hal yang saya punya,” jelasnya tentang lagu tersebut. “Untuk videonya, saya ingin mengangkat tema-tema seperti taking things for granted dan self-sabotage lewat adegan yang menggambarkan emosi destruktif. Hal itu memang saya sengaja agar terasa kontras dengan liriknya yang bilang kalau saya adalah cewek yang beruntung. Saya ingin orang menyadari ada kesedihan dan kegelapan di balik musik pop yang ringan.”

“Lucky Girl” juga yang kerap menjadi lagu pamungkas dengan koor paling meriah dalam setiap konser Fazerdaze sejauh ini. Menyoal tampil live, apakah Amelia dan band pengiringnya punya ritual sebelum naik ke panggung? “Kami biasanya suka mengoper benda seperti bola untuk membangun koneksi lalu kami biasanya melakukan salaman, which is really lame, haha!” jawabnya sambil tertawa.

Melihat jumlah penggemar yang terus bertambah, rasanya tak akan ada yang menganggap Fazerdaze sebagai band yang lame. Respons positif atas musiknya pun telah membuahkan banyak pengalaman menarik bagi Amelia seperti bertemu dengan salah satu role model-nya, Bjӧrk, saat ia mengikuti Red Bull Music Academy di Kanada tahun lalu, atau ketika ia bertemu dengan Ansel Elgort. “Saya sempat bertemu dengannya bersama beberapa kru film. Saya tak yakin ia mendengarkan musik saya, tapi sutradaranya menyukai album saya, hehe.”

Dalam show Jakarta kali ini, ia dan band pengiringnya sukses tampil gemilang membawakan 13 lagu plus satu lagu encore tanpa mengindahkan kondisi venue yang malam itu terasa begitu panas karena banyaknya penonton. Setelah Jakarta, ia akan pulang sejenak ke Selandia Baru sebelum melanjutkan tur ke Amerika Utara. Ia mengaku senang dapat kembali pulang dan berharap bisa segera punya waktu untuk membuat materi baru. Ia juga tak lupa mengungkapkan harapan untuk dapat kembali mengunjungi Jakarta di tahun depan.

Menutup interview ini, saya pun memintanya memberikan sedikit saran bagi mereka, terutama cewek-cewek muda, yang juga ingin terjun ke dunia musik seperti dirinya. “Yang penting berani untuk mencoba,” pesannya. “Tidak ada yang benar atau salah dalam bermusik, yang penting adalah berani memulai dan tetap bekerja keras,” simpulnya dengan, lagi-lagi, senyuman manis.

Processed with VSCO with oak1 preset

 

Advertisements

On The Records: NICHOLSON

Come from the land of so-called Bollywood sounds, NICHOLSON is a live electronica project from singer-songwriter Sohrab Nicholson and producer/multi-instrumentalist Rohan Rammana which bringing a breath of fresh air to the musical landscape in Mumbai, India. The project is started not long after Sohrab finishing his jazz piano study at St. Francis Xavier University in Canada. After a brief stint in UK, he went home to India along with his musical exploration of ambient electronic which he combines with the key harmony of jazz. His conquest to find music producer who can understand and enhance his music bringing him to Rohan, one of the founders of Cotton Press, a music studio in Mumbai with main focus is to support the local alternative scene. With the right chemistry of emotive vocal and transcendental ambient electronic, it doesn’t took a long time for them to gain positive recognition through their debut EP For What in 2014. Supported by hypnotizing live performance and cinematic music video for singles like “Cold Water” and “For What II”, NICHOLSON successfully serving an interesting feast of sounds and sights.

14040007_524066931118756_1237400459790716242_n

Hi Sohrab & Rohan, how are you? Where in the world are you right now and what are you doing before answering this email?

Very well thanks. We’re in Mumbai, India right now. We’re in the process of writing our first album, so we have been spending a lot of time in the studio.

So I guess we should start from the beginning, what inspired you to start making beats in the first place and how did you guys meet and make this project?

Well music was essentially a very essential part of both our childhoods. We were exposed to a lot of it because of our families. Our dads exposed us to what they listened to, and eventually we learned to play our instruments. As far as the project is concerned, we met quite by chance at Cotton Press Studio in Mumbai, where Rohan is one of the founding partners. We started working on our first EP before we planned on launching a project of any kind.

What’s the story behind NICHOLSON’s name?

I had initially gone to Cotton Press Studio, to record a couple songs I had written. We worked on our first EP together in an artist-producer context. I didn’t at the time want another alias, so I just used my last name. Very quickly the dynamic changed and it was quite clear we were a duo in every sense, but the name stuck. Funnily enough we later discovered that Rohan grew up next to a lady called Mrs. Nicholson. Turns out she was my great aunt!

How would you describe your genre?

Wellwe’re not really genre specific. We draw inspiration from a really large palette. We come from similar jazz backgrounds, but listen to vastly different music from one another. So, in essence what we make is an amalgamation of all our influences.

What are your musical influences?

Jazz, Classical, Hip-Hop, Film Scores, Pop, Electronica… We’re sort of all over the place.

What kind of records were you collecting when you’re growing up?

Collectively… Michael Jackson. We definitely both had Michael Jackson records growing up. Pink Floyd, Miles Davis, Oscar Peterson, Weather Report – a few names that were always playing at home when we were growing up.

How do you think your hometown affects your music?

Never really thought about it to be honest…

How the songwriting/recording is usually goes for you? Who’s doing what?

It just depends on the song. We’ll jam out an idea and develop it. Sometimes, Sohrab will have a song skeleton with lyrics and basic chord guideline, which then gets developed together. Other times, it just starts with a groove… There’s no real system. It’s sort of a give and take. We both have ideas that all make it to the table and then we curate them.

You have awesome music videos that always feels so cinematic, how do you came up with the concept for your videos?

Well the video series is all thanks to our good friend Sachin Pillai, who came on board to collaborate with us from the very beginning. He’s a very talented cinematographer and documentary film maker. Our common friends are in the videos as well which made it quite special. The videos are Sachin’s babies. We brainstormed concepts etc, but he definitely captained that ship.

How do you feel about your local indie music scene in India nowadays? Do you have any recommended names to listens to?

The landscape of Indie music in India is changing very rapidly. A few years ago, there wasn’t really a market for non-mainstream Bollywood music. What’s happening right now is quite exciting. Yeah, lots of great acts… Sandunes, Parekh and Singh (Formerly Nischay Parekh), Sid Vashi are a few you should definitely check out!

What are you doing when not making music?

It’s pretty much our full time job. Other than this project, we also compose and produce music for television commercials, documentaries, etc.

What’s the most memorable gig so far and why?

Magnetic Fields which is a music festival held in a palace in Alsisar, Rajasthan. The festival on a whole was truly a very unique experience and we are just so happy we had the opportunity to perform there.

What’s your dream project?

A feature film background score.

What are the next goals for you?

We are writing our album as well as working on a creating a complete audio/visual experience tour collaborating with really talented visual artists, the “Wolves” who recently played at Glastonbury with Anoushka Shankar.

https://www.facebook.com/nicholsontunes/

Photos by Neville Sukhia

On The Records: Sunmantra

Saat memutuskan mengajak visual artist Psychobiji untuk tampil di malam final NYLON Face Off, kami langsung membayangkan aksi musik apa yang tepat bila disandingkan dengan visual liquid nan trippy yang akan diracik olehnya. Pilihan kami pun jatuh pada Sunmantra, duo indie electronic Jakarta yang terdiri dari Jonathan “Jojo” Pardede dan Bernadus Fritz Adinugroho, and we proudly says we make a right choice. Musik techno andalan Sunmantra seperti “Silver Ray”, “Elusive Synergy”, dan “When You Bite My Lips” seolah bersinergi sempurna dengan visual yang disajikan sebagai backdrop. It feels like a match made in audio visual heaven dan membuat NYLON Face Off tahun ini begitu memorable.

Tercetus dari tahun 2012, Sunmantra sejatinya bermula dari proyek long distance saat Jojo dan Fritz masih berkuliah di negara yang berbeda. Sesi tukar-menukar file Digital Audio Workstation menjadi jalan bagi mereka untuk membuat lagu-lagu techno yang diramu dengan genre lain seperti krautrock, shoegaze, atau elemen apapun yang mereka anggap menyenangkan dan bisa membantu lagu yang sedang digarap agar terdengar lebih hidup. Sampai sekarang pun, walau telah stay di kota yang sama, metode ini masih mereka jalankan. “Kita jarang banget ngerjain lagu bareng, biasanya kita satu studio kalau udah mau mixing. Semua draft musik dibuat di studio masing-masing. Jadi bisa aja kita bikin lagu sendiri-sendiri terus baru dipilih yang mana yang cocok buat Sunmantra, sisanya kita pakai buat proyek pribadi,” ungkap mereka.

 Nama Sunmantra sendiri bisa dibilang muncul secara magis di mimpi Jojo. “Jadi di dalam mimpi itu gue lagi di atas panggung di sebuah festival dan ngeliat drum head-nya bertuliskan ‘Sunmantra’, nah setelah bangun gue langsung chat Fritz dan bilang, ‘Kayanya kita harus punya band namanya ‘Sunmantra’,” kenang Jojo. Magis dan menghipnotis, diperkuat oleh ciri khas mereka memakai facepaint saat manggung, penampilan live Sunmantra adalah salah satu aksi lokal yang wajib dinantikan dan disaksikan dengan mata kepala sendiri. “Waktu live, mindset kita adalah ‘menghibur penonton’ jadi kita taruh posisi kita dalam point of view-nya penonton, jadi gimana caranya kita bikin live set kita seseru mungkin. Bisa aja kita pakai yang sama dengan recording, bisa juga berbeda, kita lihat bigger picture dari set-nya sendiri.”

            Dengan respons positif yang terus diraih lewat beberapa single dan live act yang seru, wajar jika banyak orang penasaran mengapa Sunmantra belum merilis album apapun. Sambil tertawa, mereka menjelaskan jika sebetulnya dari dua tahun lalu mereka sudah ingin sekali merilis album di bawah nama Sunmantra yang sayangnya akhirnya terus tertunda karena kesibukan keduanya di proyek masing-masing. “Tahun ini kita bakal rilis sesuatu sih, semoga bisa dirilis sebelum puasa,” janji mereka dengan singkat. Sempat mengerjakan beberapa remix untuk musisi lain, saya pun menanyakan kolaborasi impian mereka. “Mungkin Sasha Grey ya? Suaranya bagus banget. Kita rasa untuk Sunmantra yang musiknya cenderung gelap bisa cocok sih,” tutup mereka.

            Sembari menunggu materi berikutnya, Jojo dan Fritz pun mengungkapkan beberapa album yang paling berpengaruh dalam karier musik mereka. Foto oleh: Bhrahu Pradipto.

Jojo:

 da82227f0cf94551c55520099b2e523a

Bad Music for Bad People

The Cramps

Kalau nggak ada album ini mungkin gue nggak nge-band sih, dari SMP gue udah tergila-gila sama Lux Interior dan Poison Ivy, panggung mereka selalu powerful dan energetic.

 the_brian_jonestown_massacre_their_satanic_majesties_second_request-front

Their Satanic Majesties’ Second Request

The Brian Jonestown Massacre
Album ini membuat gue akhirnya milih kerja di musik setelah lulus SMA.

sound of silver

Sound of Silver

LCD Soundsystem
Album yang selalu membuat gue terkesima dalam pemilihan sound-nya. Nggak nyangka dance music bisa dibikin sekece ini.

Fritz:

rotten apples

Rotten Apples

The Smashing Pumpkins

Dulu kira-kira tahun 2004-an gue beli kaset ini zaman masih nyari-nyari sound gitar. abis dengerin album ini gue langsung ngulik efek dan mulai nemuin sound yang gue suka.

 nin-with-teeth-cover

With Teeth

Nine Inch Nails

CD ini masih ada di mobil gue sampai sekarang, lumayan bisa dibilang kalau nggak dengerin ini gue kayaknya nggak bakal mikir buat dengerin techno, EBM, dan kawan-kawannya.

nite-versions-4e514653e5bf7

Nite Versions

Soulwax

Gue doyan banget album mereka ini, salah satu yang bikin gue penasaran buat ngulik synthesizer dan mulai nyoba bikin lagu yang isinya nggak full gitar-gitaran aja.

On The Records: Lao Ra

“Saya tidak terlalu yakin apa yang sebetulnya mendorong saya untuk bermusik, it was a mix of things I guess; dari mulai terlalu banyak menonton MTV, menjadi seorang attention seeker, dan mungkin ada bagian dari diri saya yang ingin membuat orangtua saya kesal,” ungkap Laura Carvajalino, seorang musisi pendatang baru asal Kolombia yang bermusik dengan nama Lao Ra. Lahir dan besar di ibukota Kolombia, Bogota, yang terkenal sebagai salah satu kota dengan angka kriminalitas tertinggi di dunia sekaligus iklim konservatif dan religius yang kental, musik memang menjadi sebuah pelarian sekaligus pemberontakan bagi gadis kelahiran 22 Juli 1991 tersebut.

Mengaku mulai membuat musik sejak umur 14 tahun dari kegemarannya menulis puisi dan bermain gitar akustik, karier profesionalnya dimulai saat dia bertemu dengan Peter Jarrett yang sekarang menjadi manajer dan produsernya di sebuah restoran India. Kolaborasi keduanya menghasilkan lagu bertajuk “Jesus Made Me Bad”, sebuah lagu rebel pop berelemen glitchy tropical beats yang danceable dengan video yang menampilkan Lao Ra berdoa di gereja sebelum menelusuri jalanan Bogota yang dipenuhi graffiti sambil menggenggam botol sampanye. “Ibu saya tidak menyukai lagu itu,” ujarnya. ”Walaupun keluarga saya sebetulnya tidak terlalu relijius, dia berpikir jika saya tidak menghormati tradisi, but I just keep saying that’s actually the point; it’s about not apologizing for yourself. We all are wild at heart and we can’t help our behavior. Tapi dia menyukai lagu-lagu lainnya, haha! Dia sangat suportif dan selalu mendukung saya!” sambungnya.

Lagu tersebut termasuk dalam debut EP berjudul sama yang ia rilis di bawah label Black Butter setelah menyelesaikan kuliahnya di sebuah akademi musik di Kolombia dan pindah ke London. Lirik lugas, sikap cuek, dan pesan-pesan tersirat yang dibalut musik electronic pop dan influens R&B/hip-hop yang catchy dalam musiknya membuatnya dibandingkan dengan M.I.A. dan Gwen Stefani, yang diterimanya dengan senang hati karena kedua musisi memang tersebut termasuk influensnya, namun bukan berarti dia tidak punya warna tersendiri yang lahir dari tempat asalnya. “Im very influenced by pop music, but I’m equally influenced by Caribbean and Colombian traditional music. Saya ingin musik saya terdengar fresh, pop, dan mewakili diri saya dan tempat asal saya. Datang dari Bogota tidak hanya menginfluens musik saya, tapi juga diri saya sendiri. It’s the place where I was born, my people and what I know best.”

 Pengaruh dari lingkungan sekitarnya tidak berhenti di elemen tropical beat dalam musiknya, tapi juga lirik-lirik lagu yang menurutnya berasal dari situasi, pemikiran, dan dilema yang secara konstan berputar di benaknya. “Daddy Issues” bercerita soal sosok tipikal Latin dad yang absen dan tidak pernah benar-benar berkomunikasi dengan anak-anak mereka sehingga banyak anak perempuan yang tidak tahu bagaimana seharusnya mereka diperlakukan oleh pria dan seringkali berakhir mengejar para bad boys. Sementara dalam “Tell Me Why” dengan video yang menampilkan dirinya dan sahabat perempuannya di sebuah kamar temaram dengan lampu neon, Lao Ra menunjukkan vokal innocent dengan lirik penuh percaya diri dan frasa-frasa catchy sebagai bentuk empowerment melawan para fuckboi. “Lagu ini tentang stupid boyfriends, young love, and heartache. Tentang cowok-cowok kemarin sore yang sok bertingkah selayaknya pria dewasa. Lagu ini sangat personal karena saya rasa hampir semua cewek bisa relate ke hal ini karena kita pernah pacaran dengan cowok semacam itu,” jelasnya. Sambil masih menulis dan menyiapkan album penuhnya, kali ini Lao Ra pun membocorkan katalog album yang mempengaruhi musiknya.

Love.-Angel.-Music.-Baby.

Gwen Stefani

Love. Angel. Music. Baby.

Bagi saya album ini adalah definisi sempurna dari kata “cool”. Semua lagu di album ini keren- its fun, edgy, dope production, and super original lyrics. Gwen is next level! Menurut saya album ini adalah ultimate goal of how a pop album should be.

miaarular

M.I.A.

Arular

Pertama kali saya mendengarkan album ini, it really changed my life, and I’ve never heard anything like it. Beats-nya terdengar aneh seperti datang dari planet lain. Penyampaian liriknya sangat mentah dan energetik. It was really a punch in the face- super confident and so ahead of everything else.

Bomba12_cover_new

Bomba Estereo

Elegancia Tropical

Bomba adalah band Kolombia favorit saya. No one makes music like them back home. Mereka punya lebih banyak swag dibanding siapapun. Their fearless approach to Colombian traditional music mixed with dance beats is so sick.

cafetacvba

Cafe Tacvba

Re

Ini adalah CD pertama yang saya punya. Kakak saya memberi saya CD ini untuk kado Natal, walaupun saya masih sangat kecil namun saya langsung terobsesi dengan musik yang mereka buat. Mereka adalah band Meksiko yang memadukan pop dan musik dance dengan musik tradisional Meksaiko seperti racheras. Sampai hari ini saya masih percaya kalau album ini salah satu album Latin Amerika terbaik dan mereka adalah band Meksiko paling hebat sepanjang masa.

 Johnny_Cash-The_Great_Lost_Performance-Frontal

Johnny Cash

The Great Lost Performance

He was the ultimate bad boy; Liriknya, personanya, dan vokalnya sangat jujur dan unapologetic, bahkan sampai karya-karya terakhirnya sebelum wafat. Johnny is one of my biggest ever crushes. Saya dulu mempelajari liriknya sambil membuka kamus Inggris-Spanyol. Saya bisa bilang jika Johnny Cash lah yang mengajarkan saya Bahasa Inggris.

majorlaze

Major Lazer

Peace Is The Mission

These guys are the best producers around. Mereka tahu dengan pasti apa yang mereka lakukan dan mereka membuat seluruh dunia berdansa mengikuti irama mereka. Saya harus memberi acungan jempol untuk itu. Their music is borderless and thats super cool!

 

Soundcheck: 10 Best K-Pop Songs of 2016

 

2016 is crazy year, for sure. Namun, terlepas dari segala keabsurdan yang terjadi di dunia sepanjang tahun ini, tak bisa dipungkiri jika 2016 is also a great year for music yang ditandai oleh maraknya rilisan lagu dan video yang keren, termasuk dalam kancah K-Pop. Meskipun tahun 2016 ini kita sudah melihat beberapa berita disbandment yang menyedihkan, dari mulai Rainbow, KARA, 4Minute, hingga hengkangnya Minzy dari 2NE1 yang pada akhirnya berujung pada pembubaran resmi grup besutan YG Entertainment tersebut, untungnya seperti pepatah mati satu tumbuh seribu, skena K-Pop yang tampaknya tidak pernah kehabisan talenta-talenta baru pun siap menawarkan “racun” terbaru mereka dalam bentuk grup-grup rookies yang sangat menjanjikan. I’m here to stay for the K-Pop’s catchy chorus and superb videos, and without further ado, here are my list of top 10 K-Pop of this year!

10. K.A.R.D – “Oh NaNa”

Terakhir kali kita melihat grup co-ed (berpersonel cewek dan cowok dalam satu grup) yang cukup promising di K-Pop adalah Co-Ed School yang dibentuk oleh Core Contents Media back in 2010 yang sayangnya tidak berumur lama. Since then, kita hampir tidak pernah mendengar grup co-ed yang menarik untuk disimak, but as a nice surprise, kurang dari seminggu lalu DSP Media memperkenalkan K.A.R.D, sebuah grup co-ed yang terdiri dari empat personel (BM, Jeon JiWoo, J.Seph, Jeon SoMin) dengan single pertama mereka, “Oh NaNa”, yang saat artikel ini ditulis sudah menembus satu juta views di YouTube, sebuah pencapaian impresif bagi grup rookie yang datang dari company di luar the Big 3 (SME, JYP, YG). It’s no wonder kenapa mereka bisa menarik atensi dengan cepat. Tak hanya atraktif secara fisik, keempat member-nya juga disebut berbakat dalam hal composing, menulis lagu, hingga membuat koreografi sendiri yang ditunjukkan dalam MV pertama mereka. Secara videografi, sebetulnya konsep MV “Oh NaNa” cukup standard namun berhasil menampilkan kemampuan setiap member dengan porsi yang pas, and with those addictive summer-ish dancehall beats, we can’t help but to keep press the repeat button.

9. PENTAGON – “Can You Feel It”

Empat tahun telah berlalu sejak Cube Entertainment memperkenalkan BTOB ke pecinta K-Pop dan rumor jika Cube sedang mempersiapkan boy group terbaru mereka sudah ramai dibicarakan sejak tahun 2015 lalu. Jawaban dari penantian tersebut adalah PENTAGON, boy group dengan 10 member yang merilis debut album mereka pada tanggal 10 Oktober 2016 lalu dengan title track berjudul “Gorilla”. Sebelum debut, para member PENTAGON diperkenalkan ke publik lewat survival show bernama Pentagon Maker di Mnet, dengan beberapa member dikenal sebagai bekas trainee dari company besar lainnya seperti SM dan YG. But make no mistake, jangan sebut grup ini sebagai grup “buangan”, karena lewat comeback single “Can You Feel It” dari EP kedua bertajuk Five Senses, mereka membuktikan diri sebagai grup rookie yang patut diawasi. Dengan koreografi yang matang dan chemistry di antara member yang kuat, mereka punya teamwork dan potensi yang tidak kalah dengan grup sebesar EXO sekalipun.

8. I.O.I – “Very Very Very”

To be honest, saya tidak bisa menulis tentang grup berpersonel 11 orang yang datang dari berbagai agensi berbeda ini tanpa merasa sedih. Seperti yang kamu tahu, grup yang namanya berarti Ideal of Idol ini adalah sebuah girl group yang lahir dari sebuah survival show bertajuk Produce 101 milik Mnet di mana 101 trainee dari berbagai agensi berlomba mendapatkan posisi dan debut di sebuah “ultimate girl group” selama satu tahun. Sebagai penonton setia Produce 101, ke-11 member yang akhirnya membentuk I.O.I terbukti sama sekali tidak mengecewakan, they’re all very talented and pretty dengan lagu-lagu yang super catchy. But here’s the truth, faktanya umur grup ini hanya setahun sebelum para member kembali ke agensi masing-masing. As a last single, “Very Very Very” yang diproduseri oleh JYP adalah lagu yang berhasil merangkum semua pesona I.O.I dengan gemilang. Its super catchy dengan MV yang juga sama ekspresifnya. We’re not ready for their disbandment tapi di saat yang sama juga tidak sabar untuk menonton season kedua Produce 101.

7. NCT U – “The 7th Sense”

 

Belajar dari pengalaman yang kurang menyenangkan dari hengkangnya beberapa member Super Junior dan EXO, S.M. Entertainment meracik konsep terbaru untuk proyek grup terbarunya yang bernama Neo Culture Technology yang kemudian disingkat sebagai NCT. Konsep utama NCT adalah jumlah member yang tidak terbatas, dalam artian, SM bebas menambahkan atau merombak susunan member dalam setiap comeback dalam bentuk sub-unit yang berbeda-beda dengan para personel yang berasal dari grup pre-debut SM Rookies. NCT U yang menjadi sub-unit pertama yang diperkenalkan pada April lalu berhasil mencuri perhatian dengan single “The 7th Sense”, sebuah lagu debut yang benar-benar terdengar unik dari grup-grup K-pop pada umumnya. Dengan beat-beat elektronik yang ganjil (its kinda weird yet sexy at the same time) dan diperkuat oleh koreografi menghipnotis serta mind tripping visual, “The 7th Sense” adalah sebuah eksperimen SM untuk keluar dari zona nyaman mereka dengan hasil yang gemilang.

6. Twice – “TT”

Ya, saya tahu beberapa dari kamu pasti akan bertanya kenapa saya memilih “TT” instead of “Cheer Up” yang memang menjadi salah satu anthem K-pop paling besar di 2016, but I have my own reason. “Cheer Up” memang lagu yang super duper catchy dan berhasil melambungkan girl group besutan JYP ini menjadi salah satu national girl group, tapi jujur saja, mendengarkan “Cheer Up” lebih dari 5 kali berturut-turut adalah hal yang menyebalkan (based on personal experience). Lain halnya dengan “TT”, tentu saja saat pertama menonton MV-nya, kita akan sibuk terpesona pada sembilan member dengan kostum Halloween masing-masing yang imut dan koreografi yang lagi-lagi ikonik secara instan. Namun, saat didengarkan dengan headphone tanpa melihat MV-nya pun, “TT” memiliki banyak elemen dan detail musik yang menarik untuk diulik setiap kali mendengarnya. Dari mulai bagian intro, bridge, hingga chorus, its full of musical surprises yang menunjukkan jika lagu ini tak hanya catchy tapi juga digarap dengan sungguh-sungguh. Totally a bop.

5. Red Velvet – “Russian Roulette”

Mendengar nama Red Velvet, biasanya kita akan langsung membayangkan MV penuh visual warna-warni yang whimsical dan semanis sakarin, tapi di title track untuk EP ketiga mereka ini, they injects a darker twist to it. Saat mendengarnya untuk pertama kali, “Russian Roulette” adalah lagu synthpop berbumbu bebunyian retro 8-bit dan robotic chorus yang memiliki semua elemen dari classic K-Pop girl group hits, it’s catchy, fun, with a nice dynamic and breakdowns. MV-nya sendiri pun terlihat sama ceria dan bubbly di mana para member yang memakai pakaian bertema olahraga terlihat bermain tennis dan dodgeball plus koreografi yang sama serunya dalam setting yang dipenuhi warna pastel andalan mereka. But in the following scenes, kita menyadari jika kelima member RV berusaha menyingkirkan satu sama lain dengan berbagai skenario yang cartoonish (dari mulai menjatuhkan piano, menyelipkan baut ke dalam mangkuk sereal, hingga mendorong temannya ke mobil yang melaju) yang terinspirasi dari serial Itchy & Scratchy dari The Simpsons. For some people, beberapa adegan tersebut mungkin memang disturbing, tapi dengan sajian visual dan audio yang begitu sinfully sweet, we can’t help but craving for more.

4. Seventeen (SVT) – “Check-In”

Bagi kamu yang belum pernah mengenal Seventeen, let me explains the basic thing about their concept. Dengan member sebanyak 13 orang, Seventeen terdiri dari tiga sub unit yang meliputi vocal unit, hip-hop unit, dan performance unit. Sejak melakukan debut di bulan Mei 2015, mostly mereka memang tampil as one big group di mana para member punya peranan penting dalam setiap produksi yang mereka rilis, dari mulai composing lagu hingga koreografi, yang akhirnya membuat mereka dijuluki “self-producing” idol group. Tahun ini, mereka tak hanya merilis banyak K-Pop hits seperti “Very Nice” dan yang terbaru, “Boom Boom”, tapi juga “Check-In”, sebuah single dari hip-hop mixtape milik Hip-Hop Unit mereka yang terdiri dari S.Coups, Wonwoo, Mingyu, dan Vernon. With tropical beat and laidback feels, keempat rapper tersebut menunjukkan skill masing-masing and just vibing with each other dengan latar Hong Kong yang sangat picturesque. Seriously, warna-warni vibrant dan lanskap arsitektur dalam MV ini adalah pure aesthetic orgasm. Every scene is like a screencap from Wong Kar Wai’s movies. Dengan shout out untuk kota-kota dunia yang telah mereka kunjungi (termasuk Jakarta!) ditambah nuansa restless youth yang kental, this MV feels so uplifting and hopeful yang mampu mendorongmu untuk menyiapkan backpack and travel abroad with your crew.

 

3. Blackpink – “Whistle”

 

Sebagai girl group pertama yang lahir dari YG Entertainment sejak 2NE1 muncul tujuh tahun lalu dan meraih status legend dalam dunia K-Pop, Blackpink yang terdiri dari Jisoo, Jennie, Rosé, dan Lisa mengemban banyak antisipasi dan prasangka positif maupun negatif jauh sebelum mereka akhirnya resmi debut dengan single album bertajuk Square One bulan Agustus lalu yang kemudian secara instan berhasil meraih respons yang totally worth the hype lewat dua debut single mereka, “Boombayah” dan “Whistle”. While “Boombayah” is a party banger, “Whistle” is a slick minimalist hip-hop yang genius. Saat menonton MV “Whistle” untuk pertama kalinya, it takes only literally the first three seconds to fell in love with this song. Lagu yang diproduksi oleh Teddy Park dan Future Bounce ini dibangun oleh melodi drum ‘n’ bass yang terdengar minimal dan sparse namun sangat infectious yang diperkuat oleh killing rap parts, country guitar di bagian chorus yang totally unexpected, dan tentu saja, bunyi siulan yang melekat di kepala ever since. Semua racikan tersebut memang terdengar agak ganjil pada awalnya, but somehow it feels so right, dan tanpa kamu sadari, kamu pun akan terhipnotis melihat visual cantik yang disajikan di MV-nya, dengan keempat personel yang memiliki daya tarik masing-masing yang sama kuat, dan tanpa sadar you will get down with this song. Dengan follow up singles seperti “Playing With Fire” dan “Stay” dari Square Two yang sama kerennya dari segi sounds dan visual, Blackpink is the best rookie group in 2016, no objection.

2. BTS – “Blood Sweat & Tears”

No matter what the antis might say, 2016 is the year of BTS. Setelah trilogi Most Beautiful Moment in Life yang melesatkan karier mereka ke strata atas grup K-Pop kontemporer, grup besutan Big Hit Entertainment yang terdiri dari 7 orang personel ini pun merilis album kedua mereka, Wings, pada tanggal 10 Oktober 2016 lalu dan langsung memecahkan berbagai rekor di sana-sini. Pertama kali muncul di tahun 2013 sebagai grup berkonsep hip-hop dengan image bad boys, dalam perjalanan kariernya, BTS yang juga dikenal dengan nama Bangtan Boys (Bulletproof Boy Scouts) menjelma sebagai grup dengan image dan konsep yang semakin matang tanpa melupakan cara bersenang-senang lewat musik dan koreografi yang standout. “Blood Sweat & Tears” yang menjadi single utama dari Wings adalah narasi tentang kehidupan dan kematian dengan inspirasi utama dari novel Demian karya Herman Hesse yang dikemas dalam sebuah produksi musik ambisius yang menggabungkan electronic, synthpop, rap, hingga moombahton dengan MV yang sangat artistik. Set the bar really high for the other groups, tidak heran jika BTS tahun ini dinobatkan sebagai Artist of the Year dalam gelaran Mnet Asian Music Awards dan menjadi grup pertama di luar perusahaan Big 3 (SM, YG, JYP) yang meraih penghargaan tersebut.

1. Big Bang – “Fxxk It”

Kalau saja Big Bang tidak merilis album penuh mereka MADE di penghujung akhir tahun ini, posisi nomor satu ini akan diduduki oleh BTS. Dibandingkan hits sebelumnya seperti “Bang Bang Bang” dan “Fantastic Baby” yang heboh, “Fxxk It” lebih dekat dengan “We Like To Party” yang terdengar easy going and chill. Dibuka oleh Taeyang dengan verse berbahasa Inggris yang fasih, “Fxxk It” adalah lagu electro hip-hop mid-tempo dengan nuansa tropical beat dan efek woozy pada detailnya di mana setiap member mendapat porsi yang seimbang untuk bersinar. MV yang disutradarai oleh Seo Hyun-Seung menampilkan para personel Big Bang hanging around di daerah Cheongju, dari sebuah kamar sederhana hingga ke sebuah club, like a group of rascals yang mengingatkan pada masa-masa remaja mereka di awal karier sebelum akhirnya menjadi salah satu legend di dunia K-Pop. Bersama-sama menjalani satu dekade penuh perjuangan, more than just old friends, mereka mungkin sudah seperti keluarga sendiri dan hal itu terlihat di MV ini yang terasa apa adanya tanpa pretensi. Meskipun jelas mereka mengusung semangat “semau gue”, tak bisa dipungkiri jika ada kedewasaan yang terpancar dari dinamika di antara para member di MV ini. As a last hurrah sebelum mereka bergantian menjalani wajib militer, lagu ini seperti pesta perpisahan yang santai dan intimate bagi para member dengan fans setia mereka. Mungkin butuh waktu cukup lama sebelum mereka bisa kembali dengan formasi utuh, but we sure will wait for these kings to return.

 

On Stage: Neon Lights Singapore 2016

Dipenuhi deretan headliners memukau dari berbagai genre, Neon Lights 2016 berhasil memancing 15 ribu penonton untuk berbesar hati menerjang hujan badai dan genangan lumpur di Fort Canning Park, Singapura.

Saat menulis artikel ini, sepatu saya belum sepenuhnya bersih dari sisa-sisa lumpur pada festival musik dan seni yang berlangsung 26-27 November 2016 tersebut. Yup, hujan badai yang turun sejak siang hari di hari pertama membuat area perbukitan Fort Canning menjadi lautan lumpur. Untungnya, ribuan penonton tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu and still having fun dengan mengenakan poncho ataupun bertelanjang kaki dan mandi hujan, after all that’s the spirit of outdoor music festival! Dibandingkan Laneway, Neon Lights sendiri adalah festival yang masih terbilang baru. Namun, meskipun baru menginjak tahun kedua, Neon Lights tampak siap menjadi sebuah annual event yang wajib dikunjungi tak hanya berkat lineup yang keren, tapi juga penekanan pada kata “festival” itu sendiri. Selain aksi musisi regional dan internasional, kita juga bisa melihat berbagai aktivasi seru seperti performance art, spoken word poetry, graffiti painting, light installations, dance showcases, hingga teater musikal yang bercerita tentang sejarah skena punk setempat. With the all good memories, I’ll tell you what really happened.

 

Day 1 – 26 November

Foals
Foals

Hujan deras yang mengguyur Singapura dari siang membuat saya baru bisa tiba di Fort Canning sekitar jam 5 sore dan terpaksa melewatkan penampilan Chairlift dan Lucy Rose. Tanpa buang waktu, saya langsung merapat ke Fort Gate Stage untuk menyaksikan Shura yang hampir merampungkan setengah set-nya. Membawakan electronic jams seperti “Touch” dan “Indecision” yang groovy, penyanyi Inggris tersebut menjadi pembuka yang manis bagi Neon Lights pertama saya. Selesai Shura, saya menyempatkan waktu untuk mengenal medan Fort Canning terlebih dahulu. Dibagi menjadi dua stage utama dan empat stage kecil yang letaknya lumayan berjauhan, kita harus pintar-pintar mengatur waktu untuk mengejar artis yang mau kita lihat. Sembari menunggu jadwal Foals tampil di Fort Green Stage, saya masih sempat melihat Gentle Bones membawakan dua lagu terakhir. Menjadi musisi Singapura yang tampil di jam dan stage utama, kualitas singer-songwriter berusia 22 tahun tersebut memang tidak kalah dengan para musisi internasional. Mendapat posisi lumayan depan dan dekat speaker saat giliran Foals tampil, saya bisa menikmati dengan maksimal deretan hits yang dibawakan oleh kuintet asal Oxford ini. Tampil dengan energi eksplosif, vokalis Yannis Philippakis sempat berkata jika festival ini akan menjadi penampilan terakhir mereka sebelum ke studio untuk merampungkan materi-materi baru. In the mean time, Foals pun memanjakan penggemar mereka dengan lagu-lagu andalan seperti “Spanish Sahara”, “Cassius”, serta “Inhaler” yang memancing beberapa orang untuk moshing.

Crystal Castles
Crystal Castles

Bergegas kembali ke Fort Gate untuk bisa berdiri paling depan di set Crystal Castles, produser Inggris Aaron Jerome yang lebih dikenal dengan nama SBTRKT belum menuntaskan DJ set-nya yang meliputi garage, UK bass, hip-hop, hingga remix “Midnight Request Line” milik Skream. Sambil menunggu kru menyiapkan panggung, terdengar juga racikan elektronik eklektik milik Gold Panda dari tenda di belakang Fort Gate Stage. Sempat bimbang untuk melihat sejenak Gold Panda, lampu stage padam yang artinya Crystal Castles sudah siap tampil. Songwriter/producer Ethan Kath naik ke panggung diiringi lampu strobe yang menghipnotis dan mulai memainkan synth-nya sebelum disusul oleh vokalis Edith Frances. Dengan rambut pink dan vokalnya yang setengah berteriak, Edith tampil seperti orang kesetanan yang tak lelah menarik atensi penonton dengan berbagai cara. Mulai dari naik ke speaker hingga berguling di lumpur, more reason to be hyped up! Repertoire dari album pertama hingga album terbaru mereka Amnesty (I) pun disajikan dengan sangat intens. It’s definitely a highlight for the first day!

Selesai digempur habis-habisan oleh Crystal Castles yang menutup Fort Gate Stage, masih ada penampilan Neon Indian di Fort Green Stage, namun sebelum ke sana, saya tidak bisa menahan diri untuk mengunjungi Silent Disco yang berada di area Easy Street samping Fort Gate. I always love Silent Disco! Bayangkan sekumpulan orang memakai headset yang terdiri dari tiga channel (biru, merah, hijau) di mana ada tiga orang DJ di DJ deck yang mengisi 3 channel tersebut dengan playlist masing-masing yang sangat bertolak belakang. Saat kamu sedang asik mendengarkan Chainsmokers, bisa saja orang di sebelahmu sedang menyanyikan keras-keras lagu Nirvana atau sedang heboh berjoget reggae, it was fun and crazy! Saking serunya, saya tidak sadar telah berada di Silent Disco selama lebih dari setengah jam sebelum akhirnya beranjak ke Fort Green Stage untuk mengintip aksi Alan Palomo dan rekannya di Neon Indian. Sayangnya, penampilan mereka diganggu beberapa kendala teknis dan gerimis yang kembali turun membuat sebagian penonton beranjak pulang. Hal itu tak membuat Neon Indian kecil hati dan tetap maksimal membawakan singles juara seperti “The Glitzy Hive”, “Should Have Taken Acid with You”, dan ditutup oleh “Polish Girl”.

Day 2 – 27 November

The Tallest Man on Earth
The Tallest Man on Earth

Hari kedua Neon Lights masih dibayangi awan mendung dan udara lembap, namun untungnya tidak turun hujan deras seperti hari sebelumnya. But still, lapangan rumput Fort Canning masih berupa lautan lumpur yang cukup dalam dan licin. Sialnya sepatu yang saya pakai di hari sebelumnya masih basah dan saya pun terpaksa memakai sandal hotel, which is obviously bad decision karena tak butuh waktu lama sebelum sandal itu copot terbenam lumpur. Melihat orang-orang sekitar cuek bertelanjang kaki, saya pun nyeker sambil membayangkan ini semua adalah mud spa. Anyway, artis yang pertama saya lihat di hari kedua adalah The Tallest Man on Earth yang merupakan solo project dari singer-songwriter asal Swedia, Kristian Matsson. Ternyata beliau baru saja cerai dari istrinya dan masih galau, sehingga lagu-lagu ballad yang dibawakan dengan gitar akustiknya pun membuat suasana di Fort Gate Stage makin terasa syahdu dan intim.

Blood Orange
Blood Orange

Selesai bergalau ria, saya menuju Fort Green Stage untuk menunggu giliran Blood Orange. Proyek musik R&B electronic yang digawangi oleh Dev Hynes ini memang menjadi salah satu incaran utama saya dan saya pun rela menunggu di depan stage. Hasilnya tentu tidak mengecewakan. Membuka penampilannya dengan single “Augustine” dari album Freetown Sound, Dev adalah seorang performer ulung serba bisa yang membuat kita tak bisa berhenti kagum. Mulai dari menyanyi, mencabik gitar, memainkan synth, hingga menari sepanjang stage dengan latar gedung-gedung New York City semuanya dilakukan dengan sangat atraktif. It’s all a grand tribute to 80’s NYC! Disokong oleh band pendukung dan backing vocal yang sama kerennya, penampilan selama 45 menit dari Blood Orange terasa berlalu begitu cepat dan membuat hampir semua penonton bertahan dan meminta encore. Blood Orange’s solo show in the near future, dear promoters?

Jose Gonzalez
Jose Gonzalez

Setelah Blood Orange adalah giliran penyanyi kebanggaan Malaysia, Yuna, yang akan tampil di Fort Green Stage. Yang sayangnya bentrok dengan jadwal José González di Fort Gate Stage. Dengan pertimbangan saya akan menyaksikan Yuna di Jakarta seminggu setelahnya, saya pun memutuskan untuk menunggu Jose Gonzalez saja. Persiapan yang cukup lama membuat saya sempat mengintip beberapa stage kecil yang diisi oleh performance yang seru, dari mulai ensemble musik tradisional Melayu hingga poetry reading. Ketika akhirnya José González naik panggung, the feel is so surreal. I mean, hanya memakai kaus oblong, berjenggot tebal, dan memeluk gitar Alhambra favoritnya, pria berusia 38 tahun ini terlihat seperti sosok kultus yang sedang menyampaikan kotbah dengan suara husky dan lirik-lirik syahdu bagi para jemaatnya. Alam raya pun seperti bersekongkol. Semilir angin yang sejuk, bintang yang malu-malu di balik awan, dan penonton yang tenggelam dalam khidmat (beberapa bahkan terlihat menangis) membuat penampilan José González sebagai pengalaman yang magis dan membangun mood yang tepat untuk penampilan selanjutnya, Sigur Rόs.

Sigur Ros
Sigur Ros

            Datang jauh-jauh dari Islandia, band post-rock legendaris ini telah memukau pendengar musik dari berbagai generasi berkat musik mereka yang surgawi. Band yang kini terdiri dari Jόnsi, Goggi, dan Orri ini menyapa penggemar lama mereka dengan beberapa lagu dari album-album terdahulu seperti “Starálfur” dan “Popplagið” sebelum membawakan materi dari album ketujuh, Kveikur. Diperkuat oleh sajian visual dan lighting yang turut membangun atmosfer, segala elemen khas dari Sigur Rόs yang meliputi vokal falsetto Jόnsi, classical dan minimalist aransemen yang dipadu oleh wall-of-sounds post rock yang eksplosif membuat seluruh crowd di Fort Canning seperti tersihir dan hanya bisa terpana. Bagaimanapun, menyaksikan Sigur Rόs secara live adalah sensasi sounds & visual yang sangat memorable. Melihat penonton yang berangsur pulang dengan senyuman puas meski kaki tenggelam dalam lumpur, Neon Lights 2016 pun ditutup with high notes!

 Foto oleh: Andandika Surasetja.

The Pursue of Perfection, An Interview With George Maple

Always try to push the limit of herself dan segala batasan yang ada di sekitarnya, George Maple adalah sosok musisi perfeksionis penuh talenta yang tidak pernah dipuaskan oleh mediocrity, tidak dari orang lain, dan terutama tidak dari dirinya sendiri. 

dsc09932-2

Almost like a déjà vu, di hari pertama We The Fest (WTF) tahun ini yang jatuh pada hari Sabtu tanggal 13 Agustus lalu, tim NYLON menemukan diri kami dalam situasi yang nyaris sama dengan setahun sebelumnya. Which is? Menyambangi Fairmont Hotel Jakarta di Sabtu pagi untuk melakukan photoshoot dan interview eksklusif bersama salah satu international artist yang menjadi bintang festival musik garapan Ismaya Live tersebut. Tahun lalu kami telah bertemu Kimbra, sementara kali ini kami berkesempatan bertemu dengan Jess Higgs, seorang penyanyi perempuan muda yang tak kalah bertalentanya yang saat ini lebih dikenal dengan nama panggungnya, yakni George Maple. Entah kebetulan apa bukan, kedua vokalis perempuan tersebut memiliki beberapa kesamaan yang mudah disadari. Keduanya telah mulai bermusik sejak awal remaja, berasal dari wilayah Down Under (Kimbra dari Selandia Baru, sementara George dari Australia), meraih breakthrough lewat sebuah lagu kolaborasi, dan yang paling penting, keduanya memiliki bakat musikalitas yang impresif dengan perhatian pada detail visual yang sama kompleksnya. In other words, both of them are very passionate and perfectionist for their body of works. Namun tentu di sini kami tidak bicara soal membandingkan keduanya secara head to head, karena bagaimanapun keduanya punya karakteristik masing-masing. Jika Kimbra identik dengan kata quirky, maka sexy dan sultry adalah kata yang lebih tepat menggambarkan George Maple.

            Ditemui di kamar hotelnya, penyanyi berusia 25 tahun ini baru kembali setelah melakukan soundcheck untuk performanya di hari pertama WTF sebelum terbang esok hari untuk Sunny Side Up di Bali. She’s been in Indonesia for few times. Salah satunya ketika tampil bersama Flight Facilities untuk menyanyikan single “Foreign Language” saat ia masih memakai nama Jess. Tapi ini adalah penampilan perdananya sebagai George Maple and she’s definitely excited for it. “Tentu saja rasanya selalu seru saat pergi ke negara baru dan tampil di sebuah festival. Saya merasa setiap hari adalah sebuah pencapaian baru, entah itu berkolaborasi dengan musisi lain, menulis lagu, atau tampil di atas panggung. Playing shows is obviously very fun, saya menikmati tampil di panggung sama besarnya seperti bekerja di studio. Especially for the fans, it’s all about the kids who come and the fact that I want to come out. When they sing louder than you, it’s amazing,” ungkapnya sambil duduk di depan cermin makeup dan membiarkan wajahnya mulai dirias.

Saat berhadapan langsung dengannya, kamu akan merasa jika sejatinya wanita ini memang memiliki aura seorang chanteuse karismatik. Perawakannya tinggi dengan rambut jet black serta winged eyeliner yang membingkai mata dan bibir yang diselimuti lipstick yang terkesan intimidating. However, vokalnya saat berbicara mengalun halus dan merdu hampir seperti sedang bernyanyi. Lahir dan dibesarkan di Newport, Sydney, ia mengaku bukan berasal dari keluarga musisi. Ayahnya adalah seorang businessman dan ibunya seorang akademisi. Namun ia menyebut jika kakeknya yang berdarah Jerman adalah seorang pengacara yang juga bernyanyi di choir dan mungkin dari sana lah bakatnya menurun. Waktu kecil, ia terbiasa mendengarkan apapun yang didengarkan oleh orangtuanya seperti Sade, Prince, dan penyanyi Australia bernama Renee Geyer, sampai akhirnya ia mulai menemukan selera musiknya sendiri saat beranjak remaja yang terdiri dari TLC, Justin Timberlake, dan Backstreet Boys.

dsc09412-2

Ketertarikannya pada musik diawali dengan mempelajari piano dengan metode Suzuki yang sekaligus mempertajam kemampuan vokalnya. Selama masa SMA, ia mulai tampil di berbagai acara musik di kotanya menyanyikan lagu-lagu cover musisi favoritnya sebelum beberapa tahun kemudian ia bertemu dengan Flight Facilities lewat mutual friend di sebuah bar dan seminggu kemudian mengisi vokal di lagu “Foreign Language” yang telah disebutkan sebelumnya. Kepopuleran lagu tersebut berimbas tak hanya rasa penasaran orang pada sosok dirinya, tapi juga keinginannya untuk merilis materi lagunya sendiri sebagai musisi profesional yang sempat tertunda saat ia berkuliah di jurusan media dan jurnalisme. Following her true calling to be musician, ia merilis sebuah lagu electro-soul bertajuk “Fixed” di tahun 2013 yang juga menjadi salam perkenalannya ke publik dengan nama George Maple. “Di masa awal-awal membuat musik, saya masih merasa enggan untuk menunjukkan diri saya, saya menginginkan suatu wadah di mana saya bisa berkreasi tanpa harus mengekspos diri saya, jadi saya membuat George Maple sebagai sebuah kanvas kosong. Nama itu sendiri sebetulnya tidak berarti apa-apa, it’s just a name that emulate what I’m trying to show, and my mom like it, haha.”

            Just like Sasha Fierce for Beyonce atau David Bowie sebagai Ziggy Stardust, tidak sedikit musisi yang memilih untuk menciptakan sebuah persona baru dalam berkarya dengan berbagai alasan masing-masing. Most of them are for creative reasons. Begitu pun juga yang menjadi alasannya dalam memakai nama George Maple. “I think it’s more like a space where I can channel energy and put my experiences in more dramatic form. Saya senang bercerita dan apa yang saya tulis kebanyakan memang berdasarkan pengalaman personal yang mungkin agak sedikit didramatisir. Rasanya melegakan memiliki sebuah wadah berkreasi di mana George sebagai karakter, instead of me, bisa menempatkan dirinya di kondisi yang lebih ekstrem. It’s really a good place for me to put certain things so they don’t become a part of me, seperti energi-energi negatif yang bisa saya tampung di sebuah safe place.”

            Ketertarikannya pada musik elektronik terpicu saat mendengarkan album kolaborasi Gil Scott-Heron dan Jamie xx beberapa tahun lalu. Menggabungkan sensibilitas musik pop dan soul klasik dengan balutan produksi elektronik minimalis, ia menyebut musiknya sebagai Future Pop. “I don’t want to be the one to define future pop, everyone have their own interpretations, tapi bagi saya hal ini tentang mengeksplor cara baru untuk membuat musik dan menulis lagu, karena bagaimanapun, it’s always paying homage to the traditional pop music but also exploring these new technologies and style and challenging the traditional method a little bit,” paparnya, sebelum melanjutkan, “Saya merasa produksi adalah bagian besar dalam penulisan lagu, but in the end of the day, jika kamu bisa duduk dan memainkan lagu itu dengan sebuah gitar, then it’s a good song.”

Bicara soal songwriting sendiri, George mengaku mengagumi para penulis lagu pop seperti Max Martin dan Linda Perry, “Hal yang menarik adalah influens musik yang saya buat sekarang sebetulnya saya sendiri tidak tahu asalnya dari mana, I don’t grow up listening to some music I tend to create now and my friends always tell me about these artists yang mereka pikir memengaruhi saya, seperti Rose Royce misalnya yang terkenal di tahun 70-an. Mereka pikir saya mendengarkan Rose Royce padahal saya tidak mendengarkan musiknya sebelum mereka memberitahu saya. I try not to listen to too many things because I have quite sympathetic ears, and I don’t want to accidentally copy something, a lot of it actually comes from whatever going on inside of me. Saya senang menemukan musisi baru baik yang zaman sekarang maupun old artists, discovering Rose Royce is big one for me because it’s open this door to something I’m not naturally doing namun bisa mengembangkan warna musik saya. So I guess I’m always open to many new things.”

Telah banyak sekali berkolaborasi dengan para musisi dan produser elektronik seperti Flume, What So Not, DJ Snake, Kilo Kish, Ta-ku, Snakehips untuk menyebut segelintir kecilnya, George saat ini sedang menikmati serunya membuat lagu seorang diri, tak hanya soal vokal, tapi juga produksi hingga mixing. To be able to 100% sufficient adalah hal vital baginya. Kepekaannya yang semakin terlatih dan introspeksi personal pada inspirasi dalam dirinya kemudian mewujud dalam sebuah debut album mini Vacant Space yang dirilis akhir 2015 lalu oleh Future Classic dengan hits single “Talk Talk” yang melambungkan namanya. Direkam selama 18 bulan dan dikerjakan berpindah-pindah kota, dari mulai London, Los Angeles, New York, dan Sydney, album ini berisi lima lagu soulful dengan produksi aransemen elegan di mana vokalnya silih berganti menyesuaikan mood lagu, berat dan powerful di satu lagu dan ringan di lagu lain dengan lirik emosional nan jujur soal relationship, terutama di lagu “Vacant Space” yang juga menjadi lagu pertama. “Saat menulis lagu ini saya sedang ada di London dan berada di situasi emosional yang lumayan berantakan. Saya punya pengalaman kurang menyenangkan soal relationship dan merasa lelah soal itu. Saya pergi ke tempat teman saya untuk main musik. Dia bermain gitar lalu lagu ini mengalir dengan sendirinya dan selesai dalam waktu 10 menit. Aslinya, lagu ini lebih seperti lagu pop tradisional dengan chorus and everything, saya lalu mengirimnya ke Harley (alias Flume) dan ia mengutak-atik aransemennya menjadi lebih obscure,” kenangnya.

Not just moving on dari cerita cinta yang kandas, kepindahannya ke Amerika tahun lalu juga membawanya ke inspirasi baru dalam bermusik. Pertemanannya dengan para rapper dan produser Hip Hop di Amerika menginjeksikan semangat baru dalam dirinya dan menginfluens musiknya. “I think it’s just a life, saya telah melewati beberapa fase, saya mungkin akan kembali menelusuri sisi rapuh saya lagi di masa mendatang, tapi untuk saat ini saya sedang menikmati rasa percaya diri dan boldness yang ada di diri saya sekarang. It’s just what me at the moment,” paparnya. Hasilnya adalah materi baru seperti “Stick And Horses” dan “Buried“ yang dirilis tahun ini. Dibandingkan materi sebelumnya, kedua lagu tersebut terdengar jauh lebih agresif dan powerful dengan influens Hip Hop kental yang menjadi babak baru dalam musiknya, termasuk dalam urusan visual.

 Jika sebelumnya George dengan sengaja membangun image misterius dengan menolak memberikan press shot dan memilih vokalnya yang berbicara mewakili dirinya, belakangan ini ia seutuhnya menempatkan dirinya di bawah spotlight panggung-panggung besar dari mulai Coachella sampai Lollapalooza, bidikan fotografer, dan menjadi tokoh utama dalam video-video terbarunya yang bernuansa provokatif dengan tema besar seperti power, money, and sex, yang juga sebuah commentary yang berasal dari pengamatannya soal industri musik yang ia geluti. “I think it’s about observing and being aware of it. Banyak hal yang bisa membuatmu geram tapi kamu punya pilihan untuk mengambil sikap, and I choice not to act that way but also to hopefully provide some guidance for people who don’t really understand the complexity of the industry. Begitu banyak anak muda yang berharap masuk ke industri ini dan dimanfaatkan oleh orang sekitarnya. It’s an industry where if someone is taking advantage of you, they not just taking advantage of your job, but also for you as a person, because we are the product and it’s quite upsetting for me watching younger artists go through that, so I hope my observations could help someone else one day.”

            Di video untuk “Stick And Horses” yang juga menampilkan kolaborasi dengan rapper GoldLink, George menampilkan imaji kekuasaan dan seksualitas dalam sebuah strips club yang seduktif dan berbahaya, sebuah wilayah yang diakuinya benar-benar asing bagi dirinya. Sementara di video “Buried” yang digarap oleh Leticia Dare, George kembali menemukan dirinya di tempat yang dekat dari rumahnya. Berkolaborasi bersama teman masa kecilnya, Chris Emerson, yang lebih dikenal sebagai What So Not dan rapper asal Atlanta bernama Rome Fortune, video ini menampilkan visual dirinya yang sedang tenggelam di bawah air. “Waktu sekolah, kami punya acara seperti swimming carnival di mana kami harus pergi dan berkompetisi dalam adu renang, dan kebetulan tempat kami merekam video ini adalah tempat yang sama. Kebetulan juga Chris memang dulu tinggal tak jauh dari rumah saya, jadi ini seperti nostalgia. Kami berada di tempat renang yang sering kami kunjungi saat sekolah, it’s quite humbling and cool.”

            Perhatiannya pada detail visual tak lantas berhenti di situ. Dalam pemotretan ini misalnya, secara spesifik ia mengetahui dan menyiapkan referensi riasan seperti apa yang ia mau, pilihan baju, dan overall concept. Visual baginya adalah perpanjangan dari musik yang ia hasilkan. Saat saya bertanya apakah ia termasuk orang yang lebih suka mencari inspirasi dengan cara menonton film atau membaca buku, ia menjawab bukan dua hal itu yang menjadi sumber inspirasinya. “Saya banyak menghabiskan waktu di imajinasi saya sendiri. Dari kecil saya sering jalan-jalan sendirian dan menulis cerita di benak saya dan mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa akhirnya saya melakukan hal ini sebagai profesi. Saya tentu saja ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan menonton film atau membaca buku, tapi saya merasa inspirasi saya berasal dari hal-hal yang benar-benar ada di sekitar saya. I don’t think you can really write about things you don’t know, so for me it’s about learning and experiencing as much as possible. You learn so much just by hanging around with other people and listening to them.”

            Menyebut nama Kendrick Lamar dan Kanye West sebagai dream collaborators, kolaborasi baginya adalah tentang membangun koneksi tak hanya soal kreativitas tapi juga di level personal. “I just love to work with people whom I can vibing with in personal sense, dan vibe itu tidak selalu harus yang bersifat positif, it could be a friction, sexual tension, or even sometimes frustration, I guess it’s all about the energy and how the energy works together,” terangnya. Sisi perfeksionis dalam dirinya bahkan membuatnya tak segan untuk turun tangan langsung dalam menangani hal-hal teknis seperti membalas email and all the business side of it. “Rasanya seperti bekerja di sebuah dapur,” cetusnya, “Kita harus tahu setiap aspek dan bagian dari profesi yang kita lakukan. Saya merasa tidak banyak musisi yang berusaha mengerti soal itu, for me it’s just my personality that need to be hands on everything.”

Dengan jadwal tampil di festival bergengsi di berbagai belahan dunia, praktis tahun 2016 menjadi tahun super sibuk baginya. Telah tinggal di banyak kota besar dunia, saat ini, ia menyebut Los Angeles sebagai tempatnya pulang. Ketika sedang bercerita tentang LA, omongannya sempat terhenti saat speaker memutarkan salah satu lagunya. “Is it weird to hear your own song?” tanya saya yang langsung dijawabnya “No, I’m used to it, it’s cool, but it always a bit funny,” tandasnya dengan senyuman simpul, sebelum melanjutkan hal yang paling ia rindukan dari rumah, yaitu? “Saya suka membuat salad. Hal favorit saya saat pulang tur adalah pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan salad dan membuat semangkuk besar salad. It’s strange thing I enjoy, I especially salmon salad, haha,” pungkasnya. Menyoal hal yang ia suka lakukan selain bermusik, ia sempat berpikir agak lama karena baginya saat ini fokusnya memang sedang 100% di musik, tapi pada akhirnya ia mengutarakan jawaban yang melintas di benaknya. “Saya pergi ke Meksiko beberapa bulan lalu dan menginap di sebuah tempat di dekat Cabo yang agak terpencil, and that’s the first holiday I got in so long and I feel really relax. I do yoga retreats as well, I would like to go to Ubud, saya belum pernah ke sana, dan mungkin setelah tur ini saya akan ke sana.”

            Sebagai musisi yang namanya sedang naik, especially in this social media age, George pun mengungkapkan pendapat pribadinya soal popularitas dan media sosial. “Media sosial tentu saja sangat bermanfaat in so many ways tapi di saat yang sama saya juga tidak menyukai orang-orang yang bersembunyi di balik keyboard. Orang-orang sekarang bisa sangat judgemental di internet, terutama untuk anak-anak dan remaja. It’s hard enough to growing up; you don’t need the additional stress from internet tapi saya merasa media sosial adalah platform yang luar biasa. Contohnya baru-baru ini saya menonton video di Facebook tentang seorang gadis kecil berumur 10 tahun di Palestina yang melaporkan hal di sekitarnya yang mungkin tidak diekspos oleh media umum,” tandasnya. Talk about keyboard warriors, apakah dia punya pengalaman buruk soal komentar di internet? “I’m pretty good with them. Tentu saja ada momen di mana saya ingin menjawab setiap komentar dan menjelaskan dari sisi saya, but you know, yang namanya hater pasti ada saja, its part of the job and not a new thing, entah itu dari media atau dari orang di internet. Saya membaca satu hal yang diucapkan oleh Kiera Knightley, dia bilang dia tidak membaca review apapun soal filmnya baik yang positif maupun negatif dan lebih fokus berkarya, dan saya pikir itu adalah sikap yang tepat karena kemungkinannya kamu bisa saja menjadi besar kepala saat membaca pujian atau justru merasa bitter saat membaca komentar negatif. So yeah I try not to read too much because in the end of the day, semua orang punya pendapat masing-masing.”

            Tanpa terasa, perbincangan saya dengan George telah berlangsung hampir satu jam. Wajahnya telah selesai dirias dan ia pun bersiap mengganti pakaian ke wardrobe yang telah disediakan stylist kami. Sebelum beranjak, saya pun melempar pertanyaan terakhir soal rencana yang ada di depan matanya. Selain tentu saja masih menyiapkan materi-materi baru dengan kejutan-kejutan yang masih ia rahasiakan, ia pun mengungkapkan, “I don’t really have a bucket list, to be honest. Yang jelas saya merasa sangat beruntung dan bersyukur dengan segala hal dan kesempatan yang telah terjadi sepanjang tahun ini and all the crazy circumstances, I don’t even know what will happen around the corner dan hal itu yang justru membuat segalanya menjadi exciting, so I will just keep myself surprised,” tandasnya sambil menyunggingkan senyum. “But for now…” ujarnya tiba-tiba, “Saya berpikir untuk mencari seseorang yang bisa membantu mengkustom jaket saya, put a bunch of rhinestones on it, saya mungkin akan mencarinya di Bali dan menikmati sisa hari sambil minum cocktail di samping kolam and just chill.”

dsc09530-2

 

On The Records: Rizky Argadipraja/Greybox

 

“Keluarga saya tidak berlatar musisi jadi saya tidak bisa bilang jika mereka menginfluens saya untuk membuat musik. Tapi saat saya umur 12 tahun, ayah saya mengoleksi piringan hitam dari UK rock scenes, jazz, classical dan memainkannya di record player tua miliknya. Hal itu membuat saya tertarik untuk mendengarkan berbagai genre tersebut tapi dia tidak mengizinkan saya untuk menyentuh record player miliknya, until one day, I tried to mess with it myself. I honestly had no idea what I was doing but that actually made me more curious,” kenang Rizky Argadipraja tentang awal ketertarikannya pada musik. Curiouser and curiouser, rasa penasaran pria kelahiran Jakarta, 23 tahun lalu ini terbayar manis saat dirinya menjadi music producer dan sounds engineer yang dikenal dengan nama alias Greybox.

Sempat bergabung di jazz band, pengaruh jazz yang smooth menjadi salah satu elemen dari produksi musiknya saat ini yang merupakan paduan eklektik dari electronic, Hip Hop, house, RnB, soul dengan influens meliputi J Dilla, DJ Krush, dan Theo Parrish. Setelah merilis beberapa volume kompilasi dengan judul Crusted Swing dan begabung di roster dua label US, Ninetofive Records dan Mellow Orange, di tahun 2015 lalu, pria yang berkuliah di New York ini merilis debut EP bertajuk Elevate yang berisi 4 track dengan genre beragam, namun tetap mengusung vibes yang slick and chilled andalannya.

 Membangun karier di negeri orang, tak lantas membuatnya melupakan scene lokal begitu saja, whether collaborating with local talents atau membagikan pengalamannya. “Apa yang saya sukai dari New York adalah state of appreciation yang dimiliki para New Yorkers. Appreciation is what I learned the most after being a few years there. But you know, there is nothing feels better than home. Banyak yang saya rindukan dari Jakarta. Nomor satu yang jelas adalah makanan. The spicy Indonesian food and the price. Food in New York is mad expensive. Tapi pada akhirnya saya akan pulang ke Jakarta anyways, so I’m hyped for that and everything in the future to come!

 

SAMSUNG CSC

Apa yang mendorongmu untuk membuat musik sendiri?

 

Back in 2012, saya menemukan software Ableton di Mac lama saya. It was intimidating at first, but got hooked after a few tries. Awalnya saya tidak tahu mau buat apa, jadi saya menghabiskan setahun untuk mempelajari software itu. Lalu saya pergi ke New York di akhir 2012 dan untuk pertamakalinya dikenalkan ke Hip Hop oleh sepupu saya yang tinggal di sana. And not just Hip Hop the genre but the culture itself. Saya mulai nyaman dengan NY Hip Hop scene dan mulai membuat Trip-hop pada awalnya. Dari situ, saya mulai mengeksplor genre lain seperti House, Soul, RnB, dan sejenisnya. Dan menggabungkan semua genre tersebut menjadi satu, into my own sound.

What’s the story behind Greybox moniker?

 

It goes way back when I was in middle school, I made a production house called Greybox Production. Had a small team, and we used to make short films. Long story short, we end up going our own ways.

 

After I made my first track in 2013 called “Simplicity”, I was so excited to upload it on Soundcloud but haven’t think of an alias yet, so I end up using Greybox just for a temporal account name. But then people started to recognize me with that moniker, so I decided to stick with the name until now. It took me a while to finally accept that name, and to really find a meaning behind it. But after awhile, I realized that the tracks that I made compile a meaning of my alias.

 

To describe it in a quick yet casual way, Grey as a neutral color that comes from a mixture of many colors combined into one, being open minded towards any type of sounds. Covered by a box that will keep the groove stable.

Who are your musical influences that really shape your taste and works?

 

Lots of great artist from the Hip-Hop divisions, House, and also old school RnB cats. I found influences not just from one source but a chain of sources. I always try to learn something new from producers that I look up to also from producers that are on the same boat as I am. I want to broaden my style so I would just look at other artists that have a completely different taste as mine and just try to learn their style. I target myself to at least stumble one new artist/producer every each day.

 

Individually, I would always credit J-Dilla as my main influence. I appreciate his work cause he combine different genres but always have that one element that keeps it in motion, it could be the drums, or maybe the bass.

How would you describe your sounds?

I would describe my sound as a spacey yet soulful tones wrapped in repetitive swing. I love loops. I express my sound in a few bars, and keeping it unique. Fitting a complete message in that few bars, repeating, and still achieve a new motion every each repetition. Basically, making loops that don’t sound like a loop.

elevate

Berapa lama kamu mengerjakan Elevate EP?

Saya mengerjakannya kurang dari seminggu. Yang menarik adalah saya mengerjakan track “Discrete” dan “Enigmatic” di Starbucks sambil memakai headphone di NY. Ide tidak selalu datang di studio musik, it’s crazy how you can just sit at Starbucks with your coffee and then just build an idea of a new track. Sejak itu saya lebih open-minded di setiap tempat yang saya kunjungi, bahkan kamar mandi sekalipun. Saat mengerjakan sebuah track, saya tidak pernah menghabiskan lebih dari dua menit karena saya cepat bosan. Setelah Elevate EP, saya jadi semakin serius and step up my game dengan membuat track lebih dari dua menit… And also go to Starbucks more often.

Kamu di New York kuliah Sinematografi, apa korelasi antara sounds dan visual di musik menurut kamu sendiri?

 I find that cinematography is a thing that I love to switch activities to. Saya merasa belajar soal film bisa membantu musik saya juga. And it turned out good. In cases like shortage on a film budget, hiring a sound recordist in New York cost you an arm and a leg. So it really helped me many ways by being able to do sound and visual.

So far, pengalaman main paling seru di mana dan kenapa?

 

I don’t do gigs that often, tapi kalau pengalaman paling seru so far when I did a show in Brooklyn, NY di sebuah private rooftop party. The vibe was great, people were dancing and they really felt the music. Pengalaman itu sangat berkesan karena ada this one afro-latino girl came all the way up to the DJ booth and just start pulling up dance move right away and just vibin’ all night. It excites me looking at people appreciating my music.

What’s your dream collaboration?

 

A producer named IAMNOBODI. It’s just something about his drums that always give me the chills.

Apa kamu sedang mengerjakan sesuatu saat ini?

 

Ya, saya sedang mengerjakan sebuah proyek bernama Ocean EP dengan seorang musisi dari major label. Karena masih sedang dalam proses, saya tidak bisa membocorkan lebih banyak, but yeah you’ll be expecting a fresh material coming up soon.

Greybox’s Fave Records:

489152 

Trouvaille

Freddie Joachim

Album ini baru keluar bulan ini, terlepas dari kami ada di label yang sama, dia hanya merilis album ini dalam format vinyl. Owning the vinyl version and all tracks from Trouvaille album is top notch.

drum-library

Drum Library Volume 12

This one is a collection of drum samples/loops both sides. A hip-hop drum breaks from Super Break Records. Since I do sampling alot, this record has always been a foundation to my drum chops.  Always have this record with me wherever I travel.

quincy

Walking In Space

Quincy Jones

An all time favorite, saya dikenalkan album ini oleh ayah saya dan menjadi inspirasi ever since. All the elements on this album influence the sounds of my releases. Also lots of chops I use for my track from this piece.

avatars-000270425634-plp3fk-t500x500

https://soundcloud.com/greybox

Easy A, An Interview With Ariel Nayaka

Tanpa perlu menjual kontroversi kacangan dan komentar-komentar miring, rapper muda Ariel Nayaka menunjukkan kelasnya sendiri sebagai bintang baru layak simak di skena Hip-Hop lokal just like a Straight-A student.

Setelah seakan mati suri sekian lama dari radar mainstream, dengan semakin banyaknya nama rapper dan beatmaker lokal yang naik ke permukaan, releasing their tapes, doing gigs here and there, dan crowd yang semakin apresiatif, I think it’s safe to say our local Hip Hop scene is on the rise again and Ariel Nayaka is proud to be part of it. Menghabiskan masa pubernya di Houston, Texas, cowok 22 tahun ini mengaku sudah terekspos pada kultur Hip Hop sejak dini, namun album 50 Cent lah yang menjadi awal dari segalanya. “Basically gue lagi road trip sama keluarga dan stuck di mobil selama 12 jam lebih. Sepanjang perjalanan, hiburan gue cuma album 50 Cent yang Get Rich or Die Tryin’. That was also the first time I ever listened to Gangsta Rap and I was hooked on it immediately. Album itu yang membuka pintu buat gue untuk eskplor Hip Hop, tapi album yang benar-benar mendorong gue untuk mulai nulis lirik adalah album Eminem yang The Eminem Show,” ceritanya.

Sempat main di genre metal dan post-hardcore emo, minatnya pada Hip Hop bangkit lagi saat ia kembali ke Jakarta. Secara otodidak dari video YouTube, ia mulai mempelajari proses rekaman dan menulis lirik sendiri di atas free beats yang ia dapat di internet lalu mengunggahnya ke SoundCloud. After some singles, videos, and one mixtape, tahun ini dengan bangga Nayaka mempersembahkan mixtape anyar berjudul Curriculum Vitae. Seperti yang disugestikan oleh judulnya, album berisi 12 track ini adalah rangkuman dari skill yang dimilikinya. Berkolaborasi dengan beberapa rapper dan beatmaker sebayanya seperti Ben Utomo, Scamy, dan Greybox, Nayaka menunjukkan bermacam warna Hip Hop dan tema lirik, mulai dari old school, new school, R&B, hingga trap, yang semuanya dikemas dengan lafal Inggris yang fasih, wordplay yang asik, dan produksi yang rapi.

To complete this exciting year, single terbarunya bersama produser Emir Hermono yang bertajuk “3Am In Jakarta” dengan video yang ia rekam sendiri menjadi topik viral, menarik respons positif, dan mengantarkan namanya ke pendengar yang lebih luas tak hanya di Indonesia tapi juga di Malaysia dengan tampil di Good Vibes Festival, di Kuala Lumpur beberapa bulan lalu. Not stopping for rest and relax, he’s already got so much more to show and we can’t wait for it.

img_5054

So, what are the musical influences for you?

 

Kalau musik secara general, gue akan sebut Michael Jackson. Gue ingat nonton live performance dia bawain “Smooth Criminal” when I was 3, straight up from Laser Discs. Tapi kalau Hip Hop, pasti berubah setiap minggu, haha. Usually I’ll listen to the “new age hip hop” era in the States seperti Lil Yachty, Lil Uzi Vert, Playboi Carti. But then again there are also those moments where I feel like I need me some Bryson Tiller, Partynextdoor, Drake vibes as well. And those melodic sappy ones have been influencing me HEAVY lately.

cv

Tell me about Curriculum Vitae, apa konsep utama dari album ini?

 

Jadi Curriculum Vitae ini dibuat dengan konsep “This is my CV into the music industry”, that’s why I’ve got a couple different type of “Hip Hop Styles” in one body of work to show my diversity and overall sounds that I am capable of. Lagu pertama yang gue bikin yang eventually masuk ke album direkam sekitar April 2015.

Waktu itu gue sebetulnya belum berencana rilis mixtape/album karena di Januari 2015 gue baru ngerilis mixtape yang judulnya To Each His Own. Tapi pas summer 2015, gue ke Jerman selama setengah tahun dan gue bawa recording equipment gue ke sana. I travelled around Europe with my friends, and along the way I took in influences from my surroundings and applied them to my music.

Sekitar 70% rekaman vokal di album ini gue kerjain di Eropa. And as for the album cover, it was a picture of a piece of the Berlin Wall in the East Side Gallery that simply said “Curriculum Vitae”. Itu foto gue literally snapped with my iPhone, sent it to my sister to edit a little, and BOOM! That’s the album cover, haha.

Gimana biasanya proses songwriting berlangsung buat lo dari awal sampai jadi?

I always get confused everytime anyone asks me this question, because its always different every single time. Sometimes someone would send me a beat and I’ll just write lyrics to that beat and I’ll record. But some other times I could just be anywhere and I’d get ideas and I would write them down in my Notes app on my phone. Just rhymes and/or random topics. You’d be surprised to see how much idea I have just laying there on my Notes app lol. Then when I do have the time, I would try to use those ideas and mash it together with an instrumental that flows well with the lyrics. To me, the process of songwriting cannot be stuck in just one method of formula. You have to constantly experiment with new sounds/topics. Getting out of your comfort zone is very important, because at the end of the day YOU HAVE to sound different than your peers.

Apa opini lo soal skena Hip-Hop lokal saat ini?

 

The Hip Hop scene in Indonesia is GROWING FASTER AND FASTER! The culture is moving really fast and I see it growing faster than it did with EDM back around 2010-ish. Banyak banget rapper baru yang muncul setiap bulannya and that’s awesome! Sekarang juga ada beberapa Hip Hop events di Jakarta di mana lo bisa ngeliat producer, rapper, DJ hanging out in one place as friends and vibing with one another. Cul De Sac is a collective of very talented young producers and DJs who make events as well. You can probably say that these guys are the ones that are running the underground Hip Hop scene in these weekly parties.

 

What’s the career highlight so far? Yang gue tau tahun ini lo ikut perform di Good Vibes Malaysia, how was it?

 

YES actually so far, performing in Good Vibes alongside Emir Hermono was a really crazy experience. Gue bikin lagu “3AM In Jakarta” bareng dia beberapa bulan lalu dan ternyata lagu ini lumayan booming di Kuala Lumpur, to the point that it actually got radio airplay. Lucunya, pas kita bawain lagu itu di Good Vibes, there were actually people singing and rapping along to the EXACT lyrics. Itu momen yang gila buat gue karena kalau dipikir, gue nulis lirik lagu itu di rumah gue di Jakarta, tapi gue bawainnya di negara lain dan orang-orang nyanyiin liriknya. That feeling right there is what I’ll always crave and that’s the reason that I make music now.

 

Selain musik, apa aja kegiatan sehari-hari lo?

MASIH KULIAH MAN! I mean it’s my last semester but I need to get this out the way first so I can focus on this music 100%. On a daily basis I usually just wake up, go to the gym, go back home and usually the homies would want to hang at my place. My place is where I do all of my recordings and usually we would all just hang out eventually come up with ideas for music.

What’s your dream collaboration?

 

Yo! If could choose anyone, I would want to have a song with Travis Scott on the hook, me doing 2 verses, Drake doing the last verse, and the overall production by Kanye West and Metro Boomin. Terus have DJ Khaled promote it HAHAHA! If I could get that done, I would die happily LOL.

Apa rencana selanjutnya?

Sekarang gue lagi ngerjain beberapa tracks bareng beberapa producers. Bantuin Emir Hermono di album barunya. I’m doing a joint EP with some very talented producers that I can’t tell u about right now and overall I’m just dropping music here and there. Just keep up on my social media accounts cause every announcement I make will go through there.

img_5038

Foto oleh: Willie William.

https://soundcloud.com/ariel-nayaka

IG: @ArielNayaka

Twitter: @ArielNayaka

YouTube: youtube.com.arielnayaka

Snapchat: arielnayaka

 

Top of the Pops, An Introduction of PC Music

Ketika generasi Tumblr meredefinisikan musik pop dengan cara yang penuh ironi, gender play, over the top cuteness, dan racikan elektronik yang undeniably catchy dalam bentuk PC Music, kita mungkin sedang menyaksikan lahirnya fenomena kultur pop era post-internet yang mengaburkan garis tipis antara URL dan IRL.

Bagi mayoritas orang, eksplorasi akan selera musik mereka berawal dari musik pop alias musik populer apapun yang sedang diputar non-stop di radio atau televisi ketika mereka beranjak besar, lagu-lagu easy listening yang umumnya bercerita tentang cinta dan hal banal lainnya dalam hidup yang dikemas dalam aransemen catchy dan mudah menempel di kepala dan disajikan oleh anak muda dengan physical attractiveness yang memenuhi beauty standards era musik itu dirilis. For me, it was Spice Girls & Britney Spears kind of girls yang menjadi simbol dari musik pop di masa kejayaan MTV saat saya menuju masa remaja. Musik pop adalah titik nol sebelum perlahan saya mengenal berbagai genre musik lainnya dan memasuki fase music snob yang membuat saya seolah menjadi “anak durhaka” dengan menganggap musik pop sebagai hal yang cheesy dan sama sekali tidak keren lagi.

Pop music used to be everything back then, namun semua berubah ketika kita memasuki abad 21 dengan keengganan terhadap hal-hal yang dianggap mainstream. Kita telah melihat kualitas dan popularitas musik pop memasuki titik jenuh yang ditandai oleh demam reality show yang menghilangkan aura mistis bintang pop kesayanganmu, berbagai talent show yang mencetak bintang pop secara generik, ketika Britney mengalami mental breakdown dan diva pop lainnya meninggalkan citra girl next door mereka untuk tampil seprovokatif mungkin demi tidak tergilas Lady Gaga, invasi K-Pop ke seluruh dunia, dan saat Jepang menciptakan bintang pop virtual seperti Hatsune Miku. Pop seakan tidak lagi menjadi hal yang relevan dan Electronic Dance Music menggantikan posisinya sebagai genre musik paling dominan secara global saat ini.

Meski demikian, pada kenyataannya, musik pop tidak pernah mati. Ia hanya bertransformasi mengikuti selera pasar seperti yang lantas ditunjukkan oleh Katy Perry dan Beyoncé. Ketika pop tradisional dianggap hal yang tabu, musik pop pun menemukan avatar baru lewat sosok-sosok seperti Charli XCX, Lorde, Lana Del Rey, dan Grimes dengan citra dan musik yang dinilai lebih edgy dibanding pendahulu mereka. Namun, baru ketika Taylor Swift menanjak naik dan Carly Rae Jepsen muncul dengan “Call Me Maybe” yang luar biasa catchy dan unapologetically pop, kita seolah tersadar jika we actually miss the cheesy happy go lucky sensation of it dan musik pop somehow terasa make sense again sekaligus menimbulkan pertanyaan besar: “Seperti apakah wajah musik pop di era post-internet sekarang ini, ketika semua orang berusaha menjadi yang paling intelek dan avant-garde?”

The unlikely answer secara mengejutkan datang dari London dalam wujud PC Music, sebuah net label/kolektif musisi elektronik yang digagas oleh seorang produser bernama A. G. Cook yang bermula dari sebuah akun Soundcloud di tahun 2013. Secara gamblang, PC Music seperti yang diisyaratkan namanya berfokus pada musik dance electronic yang seolah dihasilkan dari software musik rumahan minimalis dengan inspirasi utama dari cyberculture seperti Tumblr, GIF, 4chan, maupun desain grafis klise yang seolah berasal dari Windows 1995 yang impressively bad.

Secara musikal, PC Music mengambil influens dari  90’s Pop, R&B, trance, electro house, dan Eurotrash yang dipadukan dengan unsur kawaii dan artifisial dari K-pop dan J-pop dengan manipulasi vokal feminin high-pitch yang sudah diedit habis-habisan hingga nyaris seperti suara robot. Tema yang dimuat dalam lirik lagu (kalau pun ada) biasanya jika tidak lagu cinta dengan kalimat klise yang seperti diambil dari buku harian anak 12 tahun atau tentang budaya konsumerisme seperti label fashion dan makeup yang dikemas secara ironis. Jika semua penjelasan tersebut gagal memberimu gambaran soal apa itu PC Music, tolong bayangkan jika lagu “Barbie Girl” milik Aqua di-remix oleh Kyary Pamyu Pamyu dengan video berupa mash-up dari potongan klip Kim Kardashian, Clueless, video bayi hewan, dan font yang dibuat dari WordArt. Secara singkat, PC Music adalah musical equivalent dari video Fluxcup dan internet jokes seperti yang diusung oleh @iCaltext. Its confusing and obnoxious, yet its so incredibly pop and refreshing at the same time.

Di awal kemunculannya, info tentang PC Music masih sangat minim. Mereka memberikan informasi seminimum mungkin tentang siapa saja yang terlibat di dalamnya dan membatasi interaksi dengan jurnalis sehingga menciptakan kesan jika hanya orang-orang tertentu yang boleh mengakses musik mereka. Hal itu hampir mirip ketika Witch House pertama kali muncul dari kultur Tumblr sekitar 2010 lalu. Sama seperti para musisi Witch House yang memakai nama alias yang nyaris tidak bisa di-googling, para artis di PC Music juga merupakan kumpulan persona dengan nama alias dan ultra-cute image yang terinspirasi dari Internet slang seperti Lipgloss Twins, easyFun, Lil Data, dan Princess Bambi yang menyamarkan fakta jika mayoritas orang di baliknya adalah para lelaki tulen. Taktik tersebut sekali lagi berhasil membangun nuansa misterius dari masa-masa sebelum Google dan menjadi click bait sempurna bagi mereka yang selalu ingin menjadi yang pertama menemukan musik baru. Thus, the hype was born.

            Respons yang diterima untuk PC Music adalah pro dan kontra. It’s either you love it or you really hate it. Namun, ketika bulan Maret tahun lalu A. G. Cook memboyong para artisnya ke Amerika untuk showcase khusus di South by Southwest, merilis kompilasi resmi pertama mereka dengan tajuk PC Music Volume 1, dan tampil di Red Bull Music Academy di Brooklyn dengan review yang sangat positif, hal itu ibarat legitimasi jika PC Music adalah sesuatu yang nyata dan tidak lagi sekadar menjadi record label, it’s transcend into subgenre and subculture. In the end of the day, apakah PC Music adalah hal yang legit atau hanya internet prank tetap menjadi hal yang subyektif dan bahan debat yang tak ada habisnya. Namun, jika hal itu bisa membuat kita kembali berfantasi dalam perfect glossy world dari musik pop lagi, we’re on it.

Meet the culprits:

agcook2

A.G. Cook

Sebagai the founding figure of PC Music, sosok lelaki kurus berkacamata dengan rambut model jamur ini adalah sosok yang bertanggungjawab atas racikan elektronik yang merupakan versi hyperreal dan distortif dari mainstream pop yang menjadi cetak biru bagi PC Music. Ia memulai kariernya bersama Danny L Harle dalam duo Dux Content yang berfokus pada eksperimen sounds dan ritme dalam musik elektronik, sebelum akhirnya bekerjasama dengan Sophie dan Hannah Diamond yang menjadi cikal bakal PC Music di Agustus 2013. Mengambil posisi sebagai A&R, ia terus memperkenalkan nama-nama baru di roster-nya di samping merilis karya-karyanya sendiri yang diakuinya terinfluens oleh K-Pop, J-Pop, dan subkultur gyaru dari Jepang. Dengan segala pencapaian personal dan PC Music, ia pun disebut sebagai salah satu orang yang meredefinisikan style dan youth culture di tahun 2015 menurut majalah Dazed.

Listen This: “Keri Baby”, “Beautiful”, “Drop FM”.

sophie3

SOPHIE

Di awal kemunculannya di tahun 2013 setelah merilis single “Bipp/Elle” yang mendapat atensi dari kritikus musik karena menukar bunyi drum tradisional dengan bassline yang bouncy dan efek vokal ber-pitch tinggi, SOPHIE menyembunyikan rapat identitas aslinya dengan cara menyamarkan suaranya saat interview dan menyewa seorang drag queen untuk berpura-pura menjadi dirinya dalam sebuah live DJ set sementara ia sendiri berpura-pura menjadi seorang bodyguard. Namun, ketika eksperimen musiknya yang terinfluens kultur boyband/girlband era millennium semakin mendapat apresiasi luas dengan puncaknya single “Lemonade” dipakai dalam iklan McDonald’s, Sophie pun tidak bisa lagi tampil anonymous dan membeberkan fakta jika ia adalah Samuel Long yang sebelumnya tergabung di band bernama Motherland. Walaupun secara resmi bukan bagian dari PC Music, ia turut membidani kelahiran label tersebut dan berkolaborasi dengan para artisnya. Sebagai salah satu nama yang paling high-profile dari sirkuit PC Music, ia telah bekerjasama dengan Kyary Pamyu Pamyu, Namie Amuro, hingga Madonna untuk lagu “Bitch I’m Madonna” dan dikabarkan sedang bekerjasama dengan Charli XCX untuk album terbarunya.

Listen This: “Bipp”, “Lemonade”, “Elle”.

qt

QT

I hate to inform you this, tapi sosok yang selama ini kamu percaya sebagai QT di musik video dan promotional image ternyata bukanlah sosok yang sebenarnya. QT pada hakikatnya adalah sebuah enigma tentang sosok idola pop sempurna hasil pikiran bersama A. G. Cook dan SOPHIE yang meminjam tubuh Hayden Dunham, seorang performance artist asal Amerika yang berpose sebagai QT dan tampil lip-sync di acara live. Semua bermula ketika Dunham mencari tahu tentang A. G. Cook dan PC Music dan mengajak kerjasama membuat lagu untuk mempromosikan energy drink bernama QT. Hasil kolaborasinya adalah “Hey QT”, sebuah lagu electropop rilisan XL Recordings yang merupakan perpaduan antara musik pop awal 2000-an, lagu Dance-Dance Revolution, dengan lirik repetitif yang sugary dan infectious. There’s something magical about that song yang terasa intentionally cheesy and campy, namun meninggalkan after taste yang menempel di benakmu untuk waktu yang lama dan menghipnotismu untuk mendengarkannya lagi dan lagi. Don’t say we didn’t warn you.

Listen this: “Hey QT”.

hannahdiamond24004141

Hannah Diamond

Berbeda dari artis PC Music lainnya yang menyembunyikan sosok mereka, Hannah Diamond dengan sengaja menampilkan wajahnya di cover art, tepatnya the heavy retouched version yang merupakan bagian dari image yang sengaja ia bentuk sebagai sindiran terhadap budaya pop dan industri fashion. Dengan latar belakang fashion communication dan styling, ia memulai karier sebagai internet celebrity, seniman, dan  menjadi bagian dari Diamond Wright yang membuat materi promosi untuk makeup brand Illamasqua serta menjadi co-editor dan director of photography untuk LOGO Magazine. Perpaduan estetika kawaiiness dan streetwear London miliknya juga tercermin dalam single miliknya, “Attachment”, yang dideskripsikan sebagai “bubblegum hyper reality” dan “Pink and Blue” yang merupakan lagu dengan ritme lullaby dalam efek sintetis yang dinyanyikan dengan vokal childlike. Kedua lagu tersebut menjadi lagu yang melambungkan nama PC Music dan membuatnya menjadi the cover girl of PC Music.

Listen This: “Attachment”, “Pink and Blue”, “Every Night”.

gfoty

GFOTY

GFOTY yang merupakan singkatan dari Girlfriend Of The Year adalah nama alias dari Polly-Louisa Salmon, seorang blogger London kelahiran 1990 yang bernyanyi dengan gaya spoken word tentang pesta dan patah hati dengan sarkastik di antara melodi elektronik yang glitchy dan infectious. Menyebut R. Kelly sebagai influens terbesarnya, ia merilis Secret Mix yang berisi cover version dari lagu-lagu Celine Dion, Toni Braxton, dan Carly Simon sebelum berkolaborasi dengan Ryan Hemsworth dengan mengisi vokal di lagu “My Song” yang masuk ke kompilasi EP shh#ffb6c1 miliknya. Dengan selera humor sarkas dan ironically cute aesthetic yang kental, persona dirinya tak hanya tercermin lewat musik, tapi juga Instagram miliknya yang dipenuhi inspirational quotes dan selfie konyol.

Listen this: “Bobby”, “Friday Night”, “Don’t Wanna / Let’s Do It”.

liz

LIZ

Liz yang bernama lengkap Elizabeth Abrams sebetulnya bukan nama yang benar-benar baru. Ia telah membuat musik sejak berumur 13 tahun sebelum bergabung di bawah label Mad Decent milik Diplo dan merilis single berjudul “XTC” di tahun 2013 dan tur bersama Charli XCX di tahun yang sama. Tahun berikutnya, ia merilis EP Just Like You dan bekerjasama dengan Pharrell untuk soundtrack Amazing Spider-Man 2 sebelum rehat sejenak dari dunia musik. Tahun lalu ia kembali dengan lagu “When I Rule the World” garapan SOPHIE yang menjadi jingle iklan terbaru Samsung. That exact moment ketika kamu mulai menonton video “When I Rule The World” yang tanpa basa-basi dibuka oleh eksklamasi Liz yang memakai tiara di kepala, tracksuit, dan image kartun yang flashy, kamu tahu kamu akan mendapatkan sajian musik pop dengan huruf kapital P-O-P. Walaupun tidak berafiliasi langsung dengan PC Music, namun semua hal yang ada di lagu dan video ini meneriakkan kata pop dan estetika PC Music secara jenius. Dari mulai kamar tidur berisi boneka, animal print, emoji dan lirik materialistis, aransemen elektronik super catchy garapan SOPHIE, hingga sosok sang penyanyi sendiri yang mengingatkan kita akan karakter rich spoiled brat di film-film teenage rom-com 90-an, semuanya mengingatkan pada masa keemasan Britney Spears, and you know you love it.

Listen This: “When I Rule The World”, “XTC”, “Hush”.

Girls Just Want To Have Fun, An Interview With Hinds

Lewat album debut Leave Me Alone, kuartet garage rock asal Madrid, Hinds menyajikan musik yang gutsy dan kental akan feminisme tanpa melupakan caranya bersenang-senang.

Kurang dari tiga tahun lalu, baik Carlotta Cosials dan Ana García Perrote tidak tahu caranya memainkan gitar. Namun, sebuah liburan musim panas di pesisir pantai Denia di mana mereka menghabiskan waktu dengan bermain gitar dan bernyanyi menginspirasi kedua gadis Spanyol tersebut untuk membuat musik bareng sepulangnya mereka ke Madrid. Setelah melewati masa latihan ekstensif, keduanya membentuk duo bernama Deers yang terinfluens dari band-band seperti The Strokes, Black Lips, serta The Vaccines dan merilis dua track berjudul “Bamboo” dan “Trippy Gum” via Bandcamp di tahun 2014 sebelum akhirnya mereka berkembang menjadi full band dengan mengajak dua sahabat mereka Ade Martin di bass dan Amber Grimbergen di drum. Memadukan bunyi lo-fi dari garage rock kontemporer dengan elemen pop dari musik surf rock dan girl group 60-an, mereka merilis beberapa single selanjutnya dan dengan segala respons positif yang didapat, mereka pun menghabiskan tahun tiga tahun terakhir dengan tampil di berbagai festival musik, termasuk South by Southwest di mana mereka tampil dalam 16 show hanya dalam kurun waktu empat hari. Sayangnya, kepopuleran itu juga memancing atensi yang tidak diinginkan dari band bernama The Dears yang lewat kuasa hukumnya mengancam akan menuntut Deers jika mereka tidak mengganti namanya yang dianggap terdengar mirip band Kanada tersebut. Deers mengalah dan mengganti nama mereka menjadi Hinds (yang berarti rusa betina) dan dengan nama itu juga mereka akhirnya merilis album debut bertajuk Leave Me Alone lewat label Lucky Number di awal tahun ini. Berisi 12 lagu yang memadukan materi-materi baru seperti “Garden” dengan beberapa single yang sudah dirilis sebelumnya seperti “Chili Town” dan “Castigadas en el granero”, bersama album ini Hinds pun sukses menggelar tur dunia dan kini, dari teras rumah mereka di Madrid, Carlotta dan Ana membalas email dari NYLON.

hinds-by-salva-lopez
DARI KIRI: Ade Martin, Amber Grimbergen, Ana Perrote, Carlotta Cosials.

Hai Carlotta dan Ana, Hinds bermula dari kalian berdua, tapi bagaimana sebenarnya kalian bisa bertemu? Kami diperkenalkan oleh dua bekas pacar kami. Sekarang kalau diingat lagi, kami merasa harus berterima kasih karena mereka lah yang memperkenalkan kami ke satu sama lain. Dan kenapa akhirnya kami bikin musik bareng… Saya tidak tahu! We’ve always loved music because music inspires life.

Apa rasanya menjadi sebuah girl band di Spanyol? Bagaimana biasanya proses pembuatan lagu bagi kalian? Well, kami merasa kreativitas dan bermusik di girl band sebetulnya tidak ada kaitannya sama sekali, hahaha. Being in an all girl band is seriously tough, tapi kami siap melawan siapapun dan apapun. Kalau tentang penulisan lagu, tergantung masing-masing lagu sih, tapi biasanya memang Ana dan saya (Carlotta) yang menulis lirik dan melodi serta gitar, Ade mengerjakan bass lines dan Amber di drum. Jadi setiap personel mencurahkan dirinya dalam setiap lagu, even tho we spend so many hours in here searching for the right melodies and feelings.

Apa yang menjadi influens utama bagi musik kalian? Sun, beer, and oceans.

Boleh cerita soal album Leave Me Alone? Di mana kalian merekamnya dan berapa lama prosesnya? Kami merekamnya April tahun lalu di daerah selatan Spanyol, di sebuah kota kecil bernama El Puerto de Santa Maria yang terletak di Cadiz. Kami di sana selama sepuluh hari dan butuh tiga hari bagi kami sampai akhirnya menemukan sound yang kami inginkan dari proses mixing. We were young and innocent dan walaupun kami sangat menyukai hasilnya, kami sebetulnya sama sekali tidak menyangka jika banyak orang di luar sana yang juga menyukai album ini sebesar kami.

Feminisme telah menjadi topik yang tidak dapat dihindari dalam musik sekarang ini, bagaimana kalian memandangnya? Apakah kalian terganggu jika banyak orang yang melabeli kalian sebagai “Girl Crush” atau “It Girls” hanya karena kalian merupakan girl band? Boys have a crush with girls, girls have a crush with boys, boys have crushes with boys and girls also with girls; saya rasa masalahnya bukan di situ. Kesalahan pada sikap sexism di musik adalah berpikir jika apa yang kami raih sejauh ini berkat campur tangan pria di baliknya, masih banyak orang bodoh yang tidak mau percaya jika kami bisa berada di titik ini karena usaha kami sendiri, because we FOUR YOUNG SPANISH GIRLS have done what we’ve done. 

Apakah kalian pernah mengalami perlakuan misoginis saat manggung atau di tur? Tidak terhitung. Hal-hal seperti “She is prettier than you”, atau “Show your pussy”, atau doing like the gesture of sucking a dickSeriously, so so so so many times. Atau selesai manggung, pria paruh baya menghampirimu and telling you bullshit karena mereka pikir mereka bebas melakukannya karena mereka lebih tua dan kamu secara otomatis harus menghormati mereka and bla bla blah…

Apa yang paling kalian sukai dari tampil di panggung? Performing is the best. Beraksi di panggung adalah salah satu momen favorit kami, no doubt. Tapi yang paling kami suka dari tur adalah kami melakukannya dengan teman-teman kami. Like having a supporting band for the whole tour so we become super close to each other, or inviting friends from Spain that are studying abroad… Itu hal yang asik dan keren. And the energy? Energinya sama besarnya seperti kamu pergi ke sebuah pesta. A gooood party.

Kalian baru saja menyelesaikan tur dunia kalian di Singapura, apa hal yang kalian sukai dari touring selain manggung? Discovering that people is incredibly different in every city, but with kind of similitude in each continent. Dan kuliner! Kami suka makan dan mencoba berbagai menu andalan setempat.

Since it’s our Summer Issue, what’s the best way to spend summer in Madrid? In the streets drinking sangria!

Jika kalian bisa memilih tempat apa saja untuk liburan musim panas, tempat apa yang akan kalian pilih dan kenapa? Oke, kalau kami juga bisa mengajak semua teman kami di Madrid, kami pasti akan pilih daerah pantai yang super murah. Mungkin… Benicassim?

Apa yang ada di playlist kalian saat ini? Bob Dylan, King Gizzard, dan Joaquin Sabina. 

Rencana untuk sisa tahun ini? Menyelesaikan tur dunia! And writing the best album ever, again!

Terakhir, sebutkan top 5 musisi perempuan favorit kalian! Courtney Barnett, Patti Smith, Gabriella Cohen, , dan Fiona Campbell.

 

Midnite Cruise, An Interview With Neon Indian

Lewat album Vega Intl. Night School, Alan Palomo dari Neon Indian menawarkan kelas ekstra untuk sesi berdansa tengah malam. Sign us up, pretty please.

Saat tiba di sebuah restoran di daerah Panglima Polim pada suatu Senin malam, saya sebetulnya tidak sadar jika pria berambut ikal yang sedang asik menikmati makan malamnya di salah satu meja adalah Alan Palomo, not before dia membalikkan tubuh dan mengulurkan tangannya untuk menyapa saya. Produser dan multi-instrumentalist berumur 27 tahun tersebut adalah sosok utama di balik Neon Indian, sebuah unit indietronica asal Texas yang berawal dari bedroom project sebelum berkembang menjadi full band seperti sekarang. Lewat album debut bertajuk Psychic Chasms (2009) yang melahirkan beberapa hits seperti “Deadbeat Summer” dan “Should Have Taken Acid With You”, Neon Indian dengan racikan synthesizer yang terdengar dreamy dan summer-ish dianggap sebagai salah satu pencetus lahirnya demam chillwave di awal 2010-an, sebuah genre musik yang meskipun tidak bertahan lama tapi menjadi pengantar bagi berkembangnya musik-musik chill out a la Majestic Casual, sehingga rasanya agak surreal melihat sosoknya ada di depan mata.

            Empat tahun telah berlalu sejak perilisan Era Extraña, album kedua yang menginjeksikan bunyi shoegaze dan new wave yang lebih eksperimental dan gelap ke dalam musik Neon Indian, dan kini mereka datang ke Jakarta hanya sebulan setelah perilisan album ketiga yang berjudul VEGA INTL. Night School. Keesokan harinya, Alan dan rekannya akan tampil dalam konser besutan Prasvana yang menjadi show perdana Neon Indian di Indonesia sebagai bagian dari tur Asia promosi album tersebut. “Setelah hiatus yang cukup lama, saya sudah agak lebih tua dari sebelumnya dan setelah merilis album ini saya langsung pergi tur, tapi saya bisa bilang jika mungkin kurang dari sebulan lalu kami baru bisa mendapatkan groove-nya kembali. Selalu ada satu titik dalam sebuah tur di mana semuanya akhirnya terasa make sense, semua orang bahagia, and we’re just having fun dan itu juga yang menjadi tujuan utama dari tur Asia ini, untuk bisa menikmati waktu. Jadi kami selalu menyempatkan waktu untuk melihat-lihat saat tiba di sebuah tempat baru,” jelas Alan saat saya bertanya bagaimana rasanya kembali tur.

Bila Psychic Chasms adalah soundtrack senja musim panas yang riang dan Era Extrana adalah pengiring malam musim panas yang kontemplatif, maka VEGA INTL. Night School bisa dibilang mengambil inti sari terbaik dari kedua album sebelumnya tersebut dan membawanya ke level yang baru. Judul albumnya sendiri cukup menjelaskan tentang apa yang menjadi benang merah 14 lagu di dalamnya dengan kata “VEGA” yang merujuk pada proyek musik dance Alan sebelum Neon Indian terbentuk. “Pada awalnya saya berniat untuk merilis album untuk proyek VEGA, tapi kemudian saya menyadari jika saya tidak harus terpaku pada apa materi yang bisa dikategorikan demo untuk VEGA atau demo untuk Neon Indian karena pada akhirnya komponen produksi keduanya saling bersinggungan dan menjadi katarsis tersendiri. Adalah hal yang lebih konstruktif untuk terus berkarya dan baru memikirkan mau disebut apa musik itu setelah selesai. Jadi saya terus merekam dan walaupun judul album ini terinspirasi dari proyek saya sebelumnya, tapi album ini bergerak ke arah yang benar-benar baru. Saya memiliki ide untuk membuat sebuah rekaman yang terdengar seperti kolase dari macam-macam genre dan dekade dalam musik dance, namun tetap memiliki benang merah. Referensi nama VEGA di judulnya adalah sebuah perayaan dari merger kedua proyek ini sekaligus merujuk bagaimana Neon Indian akhirnya mengkanibal Vega dan menyerapnya menjadi kesatuan,” papar Alan soal ide tercetusnya album tersebut.

            Clue selanjutnya adalah kata “International” di judul. Sebagai sebuah album berkonsep kolase, album ini memang berisi referensi musikal dari musik dance berbagai negara selama empat dekade terakhir, dari mulai disco, funk, R&B, hingga reggae. “Annie” yang menjadi single pertama adalah homage untuk lagu pop 80-an dengan lirik naratif berisi nama perempuan dan nomor telepon dengan elemen reggae yang kental. “Adalah hal yang menarik ketika ‘Annie’ pertama kali keluar dan pendengar Amerika merasa lagu itu mirip lagu Ace of Base. Jika sebuah lagu terdengar upbeat dan agak ‘etnik’, mayoritas pendengar Amerika akan langsung menyebut sesuatu yang sangat pop untuk menjadi referensi mereka, yang bagi saya sangat aneh karena lagu ini sama sekali tidak terdengar ‘Eropa’, its a lot of calypso, cumbia, dan komponen dari musik Latin Amerika lainnya. Saya berasal dari Meksiko dan walaupun saya tidak secara aktif dan sadar mendengarkan genre tersebut saat beranjak dewasa, tapi baru ketika lagu itu jadi, saya baru berpikir ‘Holy shit, it’s like early 90’s cumbia’. Bagian menyenangkan dari jalan-jalan keliling dunia adalah menyerap sensibilitas musik setempat dan menyadari jika semua genre bisa hidup di universe yang sama. Saya rasa hal itu yang agak hilang di musik indie dan saya ingin membawanya kembali.”

            Alih-alih menjadi stadium banger seperti mayoritas dance music saat ini, album ini adalah tribute bagi kehidupan club malam yang sempit dan penuh keringat. There’s a sense of humidity di lagu-lagu seperti “61 Cygni Ave” dan “Smut!” yang sensual dan intim, sesuatu yang tercetus dari New York sebagai latar belakang. “Saya pikir New York adalah latar yang menarik karena kota itu selalu bermutasi,” cetus Alan sebelum melanjutkan, “Saya tinggal di New York baru sekitar enam tahun tapi saya merasa kota itu adalah city of transplant. Selalu ada orang yang pindah ke sana. Saya ingat ketika pergi makan malam di salah satu restoran lokal favorit saya di Williamsburg, saya menyadari jika semua orang berbicara dalam bahasa-bahasa Eropa asing, semua yang ada di sana adalah turis, tidak ada orang lokal. Banyak anak muda pindah ke New York setelah lulus SMA dan kita bisa merasakan bagaimana mereka berusaha keras untuk dilihat seperti apa yang mereka inginkan instead of bagaimana diri mereka sebenarnya. They’re full of drugs and booze, dan apa lagi sih yang dicari orang saat larut malam selain drugs, booze, and getting laid? Ada kejujuran yang datang dari lingkungan itu, people are just acting like animal and they’re lacking experience, atau sekadar perasaan kamu tiba di New York untuk pertama kalinya dalam hidupmu. Itu hal yang menarik untuk menjadi latar dari sebuah album,” ungkapnya tentang album yang lahir dari apartemennya di Brooklyn namun dibesarkan di atas kapal pesiar.

Saudara kandungnya, Jorge Palomo, yang menjadi drummer Neon Indian terikat kontrak dengan kapal pesiar yang mengharuskannya berlayar selama enam bulan dan terancam meninggalkan Alan untuk menunda produksi selama setengah tahun. Apa yang Alan lakukan? Well, mengepak pakaian serta peralatan rekamannya dan memesan tiket pesiar bersama seorang engineer-nya. “Saya langsung mabuk laut,” cetusnya sebelum menenggak birnya sambil terkekeh. “Waktu itu adalah bulan Desember, bukan bulan yang bagus untuk berlayar karena ombaknya kencang. Ada dua cara untuk mengatasi hal itu, yang pertama kita bisa meminum obat yang disediakan di kapal dengan beberapa efek samping atau cara kedua yang banyak dipilh orang: mabuk. Jadi Jorge akan pergi ke toko duty free dan membawa beberapa botol alkohol ke kabin dan saya berusaha untuk menghindar dari rasa mual itu tapi juga tidak terlalu wasted karena saya berusaha menjadi seorang produser yang baik dan menginstruksikan arahan, its very frantic,” simpulnya.

Seolah pelayaran di atas kapal pesiar saja tidak cukup untuk menekankan rasa “internasional” di dalamnya, cover art album ini turut dihiasi kanji yang membuatnya terlihat seperti album rilisan Jepang, yang terinspirasi dari kegemaran Alan berburu plat rekaman di tempat yang ia datangi. “Salah satu favorit saya adalah Dessinee Shop di Shibuya. Mereka punya koleksi lengkap diskografi Yellow Magic Orchestra, semua album solo personelnya, Yukihiro Takahashi, Haru Hosono, Ryuichi Sakamoto, dan semua album yang mereka produseri seperti Akiko Yano, Sandii & the Sunsetz dan semua album Jepang itu dilengkapi obi strip di sampulnya dan saya ingin album ini memiliki rasa yang sama dengan album yang mungkin bisa kamu temukan tanpa sengaja di sebuah record store di negara asing,” jelasnya. Sama fasihnya ketika ia berbicara soal musisi-musisi Jepang favoritnya, ia pun menyebut film-film Seijun Suzuki, Sion Sono, serta anime seperti Akira dan Perfect Blue sebagai bagian dari referensi sinematik yang menginspirasinya. Minatnya pada film juga disalurkan dengan menyutradarai beberapa video untuk album ini dan ia pun mengungkapkan rencananya untuk membuat sebuah film pendek. Tapi untuk sekarang, Alan masih akan berkonsentrasi menyelesaikan tur internasionalnya. “Saat kamu merilis album, kamu harus siap untuk berada di jalan selama 18 bulan lebih, so we’re still doing that,” pungkasnya dengan tegukan bir terakhir. Masih terlalu dini untuk pulang dan kelas malam besutannya masih terbuka lebar, kamu belum terlambat.

 

On The Records: Emir Hermono

What I learn from being far from home is that you appreciate your own country more,” ungkap Emir Hermono, seorang musisi dan produser R&B dan Hip Hop berdarah Indonesia yang berdomisili di Kuala Lumpur, Malaysia. Memulai karier bermusiknya sebagai rapper dengan nama The Shakes, pria kelahiran Semarang 25 tahun lalu yang dibesarkan di Papua ini mulai membuat beats sejak umur 17 tahun lewat eksperimennya dengan software FL Studio saat ia pindah ke KL. “It feels the same tho, like good music is good music. Honestly though, I love being an outcast here sometimes. At times I feel I got more love from Malaysia than in Indo, haha. I look up to DJ CZA a lot here cause he’s an Indonesian that’s been doing big out here in Malaysia and Singapore with his group, Ahli Fiqir,” ungkap Emir menyoal rasanya menjadi seorang musisi Indonesia di negeri orang. “Gue merasa Hip Hop scene di Malaysia lebih manageable as in like it’s a small circle of Hip Hop like everyone knows everyone here and they’re so advance on a production level and the whole style tuh up to date banget. The reason why I kinda stop rapping when I was in Malaysia sebenarnya juga karena minder, man they are so good! Haha!” tandasnya.

Menyebut dirinya sebagai emotional guy, pengalaman pribadi seperti heartbreak dan relationship menjadi katalis baginya dalam berkarya, not that different dari sentimental guys seperti Drake atau Ta-ku yang turut menjadi influens baginya. Emosi mentah yang dibalut oleh production yang slick terangkum dalam tiga beat tapes bertajuk Beats & Breakups, Songs About Her, dan Karma Kisses yang menjadi trilogi narasi tiga episode hidupnya yang melibatkan tiga wanita berbeda yang dirilis dalam kurun waktu setahun terakhir ini. Selain merilis Karma Kisses pada Februari lalu, 2016 has been particularly a strong year for him. Mengerjakan sebuah track bersama penyanyi legendaris Malaysia Sheila Majid dan tampil di Good Vibes Festival for the first time dalam sebuah DJ set sebelum Ta-ku (and get to hang out with him) telah dilakoninya, selain terus berkolaborasi dengan para musisi muda di region Asia Tenggara seperti Jonah Sithole, Shelhiel, Leo Ari, FRS, JNARO, Yosugi, serta rapper Ariel Nayaka dalam single terbaru Emir yang berjudul “3AM in Jakarta”, sebuah R&B track sentimental dengan vibes retrospektif yang kinda bittersweet.

Dengan semua pencapaian yang telah ia raih di luar sana, saya merasa sudah saatnya giliran publik Indonesia untuk lebih mengenal sosoknya beserta karya-karyanya. Tak hanya menjawab beberapa pertanyaan, Emir pun menceritakan beberapa album musik yang berpengaruh bagi dirinya.

Processed with VSCO with hb2 preset

Hi Emir, where are you right now and what are you doing before answering this email? Hellooooo! I’m in Kuala Lumpur right now, just finished my dinner. I had this BOMB ass Japanese rice bowl that I’m a sucker for every time #fattylife.

How do you usually introduces yourself? Usually I would start by saying I produce music here and there, a donut eating expert or a professional Hey Arnold! fan – if there’s even such a thing.

So tell me your story, gimana awalnya lo mulai bikin musik? What really prompted you? And why hip-hop/R&B? Okay so I actually started as a rapper (lol I know even I had to laugh at that) this was when I was like 13-ish in middle school. I grew up in Papua for most of my childhood terus langsung pindah ke KL when I was 14. I only started like making beats at 17 – I remember I was still using FL Studio to like mess around with it and since then I’ve always been making tunes. Why hip-hop RnB? Too Phat was definitely the one that kinda got me on hip-hop. Remember when Too Phat was like BIG AS HELL di Indo? Yeah around that time I fell in love with hip-hop, although I’ve been listening to hip-hop since the Iwa K days. Shoutout to Iwa K tho, he’s the real OG.

Where did you grew up and what kind of records you listen to back then? I grew up in Papua since I was like 2 and I was there since 14 – my parents are still there tho so yeah Papua is the home. My first record that I bought was actually AQUA, man! That “Barbie Girl” album. That shit was FIRE fam hahahaha (I’m actually laughing as I type this)

So I read about your rap name, The Shakes, was based on your wish buat bikin burger shop, masih kepikiran untuk itu nggak? Hahahahaha! Goddamn man I forgot about that – gue aja udah lupa when did I say that to be honest. But yeah that’s part of the plan, I love food in general so most definitely. Mungkin nasi padang shakes deh kayaknya hahaha!

So from what I know, Beats & Breakups, Songs About Her, and Karma Kisses are basically three different albums about three different girls in the episodes in your life, would you mind to elaborate more about that? Yesss I’m such an emotional guy man, haha. So basically Beats & Breakups was the one that started it all; I had a relationship with someone that didn’t work out and at that time I was at my lowest point so I just decided to make a tape you know – to ease the pain, turns out it got a pretty good reception from the scene so yeah (she’s probably reading this right now). Songs About Her tape is kinda like me moving on and found a girl that I like and I did this tape to kinda impress her in a way (I know cheesy banget hahaha) so yeah she came to the actual release party and everything we were vibing tapi ya ujung-ujungnya it didn’t kinda work out you know. The last one Karma Kisses is the end of the trilogy – I met someone that I really like and I got married to this one (my current actual wife) so it has this happy undertone but at the same time I still kept it a bit emo-ish if that makes sense.

As musician and producer, ada yang berubah nggak soal musik sejak married? YES of course! I find it harder to kinda make depressing music when you’re in a proper relationship and I even told this to my wife; so whenever I need to like be in a depressing state I just tapped into my old self like remembering the past and it’ll come out naturally. 

What about the story behind “3AM in Jakarta”? Apa inspirasinya dan gimana akhirnya memutuskan collab bareng Ariel Nayaka di single ini? “3AM In Jakarta” was like my final thoughts before I got married – actually a month before. So a month before I got married I was in Jakarta and started writing and making music – and something about 3AM In Jakarta that just brings that mood you know – that Drake depressed state. I hollered at Ariel Nayaka cause first of all he’s so dope – probably THE BEST right now in Indonesian hip hop but that’s just me. And we vibe and gel pretty well together – he’s the future.

Kenapa cover art-nya pakai gambar Chitato rasa Indomie Goreng? Have you taste it, man? YES definitely – udah cobain and enak banget I even brought some back to KL, hehe. Kayaknya it’s so eye catching aja to be the cover, like people will think like the hell is this dude doing. 

Baru-baru ini lo perform di Good Vibes Festival, how was it? Is it your first Good Vibes or not? Kalau di Indonesia sendiri lo udah pernah perform di festival belum? Yeaah that was my first Good Vibes ever – I did a DJ set right before Ta-Ku’s set and got to meet him and hang out with him which was super dope. I regard Ta-Ku as my BIGGEST inspiration in my music. I brough Ariel Nayaka too on my set! I’ve only played a couple of DJ sets in Jakarta but not festival level yet – I need to make more songs I guess. I tried my luck to perform for WTF but didn’t get through, oh well there’s still next year!

What has been the career highlight, so far? Career highlights probably meeting Sheila Majid to work on a track, playing at Good Vibes and having the ability to work with a lot of young producers and acts from the region most definitely like Ariel Nayaka, Jonah Sithole, Shelhiel, Leo Ari, FRS, JNARO, Yosugi, and a bunch more.

Lo masih ngikutin hip-hop Indo nggak sih? Beside Rich Chigga, sekarang yang lagi populer (and quite controversial) is Young Lex, how do you think about that? Yesss I do keep my ears open and eyes open too. I met Young Lex in KL and it was with Joe Flizzow too in the studio. Young Lex was doing some tracks with Kartel records and I was just around to pass him a few beats for his upcoming album. Rich Chigga is on hot fire right now tho everyone knows him – I’ve been dropping Rich Chigga tracks on my DJ sets and everytime I dropped it everyone always goes nuts. Props to him and Young Lex, all love!

Beside music, apa lagi aktivitas sehari-hari lo? Beside music I’m trying to involve myself with a lot of diplomatic groups and youth political movements to strengthen Malaysia and Indonesia’s relationships. What I learn from being far from home is that you appreciate your own country more.

EMIR’S FAVORITE ALBUMS:

aquarium

Aqua

Aquarium

One thing that you need to know about me: I will always love catchy music, haha. This album was FULL of catchy songs – plus when I was in Papua, the school bus driver always plays this album RELIGIOUSLY, dari TK sampai SD denger lagu Aqua tiap pagi. Shout out to Om Nelson, my childhood bus driver for the plug.

too-phat

Too Phat

360

This was the album that got me like love hip hop for real. It’s crazy that I ended up briefly worked for Malique and got to like in talking terms with Joe Flizzow. I used to listen “If I Die Tonight” before going for my Friday prayers.

mad-season-2000-matchbox-twenty

Matchbox Twenty

Mad Season

The world needs to know that I’m like one of the biggest Matchbox Twenty fans ever. I could literally sing the whole songs on this album. I used to wait for “If You’re Gone” and “Bent” music videos on MTV Asia ‘cause we don’t have YouTube back then.

iwa-k

Iwa-K

Kramotak!

Probably my first hip hop album that I bought – well my dad bought it for me so we could listen to “Kramotak!”. Interesting point: I actually shared a stage with Iwa-K when I and he were the opening acts for Sean Kingston when he came down to Jakarta, and yes I was actually rapping on stage and opened for SK, not bad right? Haha.

project_pop_ok

Project Pop

Pop OK

I LOVE PROJECT POP and this album especially. Remember all the classics in this album tho? One of my life goals right now is actually to meet ANY of them in real life.

kanye

Kanye West

Graduation

Always been a fan of ‘Ye since College Dropout but this album got me through my first year of high school abroad in KL di asrama. I bought this album with like the last 300 ribu Rupiah I had for the month.

drake.jpg

Drake

Take Care

Probably my fave album from Drake, like I make beats right now because of this album. This album has inspired me so much musically and till this day is the best body of work to get depressed to, haha.

taku

Ta-Ku

Songs To Break Up To

I love this album cause it was because of this that inspired me to do beats and breakups – and I LOVE TAKU he’s like a GOD in my eyes and I couldn’t believe I played before his set and actually got to hang out with him backstage during Good Vibes.

nelly-sweatsuit

Nelly

Suit

Remember this came out like with Sweat? Like there’s Sweat & Suit, Suit is like more R&B and more “chill get your sexy time with your girl kinda vibe” plus “My Place” is in this album and that track probably is on my top 3 fave songs of all time.

On The Records: Gentle Bones

Di umur yang baru menginjak 22 tahun, singer-songwriter Joel Tan yang bermusik dengan nama alias Gentle Bones telah meraih banyak pencapaian yang mengundang decak kagum, terutama dari negara asalnya, Singapura. Pertama kali muncul di usia 16 tahun dengan mengunggah lagu cover di kanal YouTube miliknya, Joel dengan cepat menarik perhatian publik dan tampil di berbagai festival musik besar di Singapura, termasuk SEA Games 2014, tahun yang sama ketika ia merilis self-titled debut EP dengan single balada akustik seperti “Until We Die”, “Save Me”, dan “Elusive” yang merajai iTunes chart dan membuatnya menjadi artis lokal pertama yang dikontrak oleh Universal Music Singapura.

Seiring kepopuleran yang terus melambung, tawaran tampil di luar Singapura pun terus berdatangan, termasuk dari Indonesia pada bulan September lalu . Sayangnya, pengalamannya tampil di Indonesia yang menjadi tur luar negeri pertamanya membuahkan pengalaman yang tidak menyenangkan. Bersama dengan singer-songwriter asal Amerika Kina Grannis, 12 musisi dan kru lainnya, Joel tersangkut masalah dengan pihak Imigrasi Indonesia karena kesalahan pihak promotor yang gagal mendapatkan izin tampil. Paspor mereka ditahan dan mereka tidak boleh meninggalkan Jakarta selama 99 hari, membuatnya terpaksa membatalkan konser regional di Hong Kong, Kuala Lumpur, Manila, dan melewatkan satu semester kuliahnya di sekolah bisnis Nanyang Technological University. “It definitely did not leave a sour note and I’d love to come back again!” akunya tentang pengalaman buruk itu.

            Walaupun kejadian itu bisa dibilang menghambat kariernya yang tengah melaju kencang, namun sekembalinya ke Singapura, he is even stronger than before. Dia merilis album mini kedua dengan judul Geniuses and Thieves yang disusul oleh konser solo perdananya selama dua malam di Esplanade Concert Hall pada tanggal 10 & 11 Juni lalu. Tiket sebanyak 1.500 untuk hari pertama show habis terjual dalam waktu kurang 10 hari. Menambahkan influens musik electronic dan R&B yang lebih kental, album dengan single “Run Tell Daddy” dan “Geniuses and Thieves” tersebut menjadikannya artis Singapura pertama yang memenangkan Super Nova Award di Hong Kong Asian-Pop Music Festival tahun ini dan membuat namanya masuk dalam daftar 30 orang di bawah usia 30 tahun yang paling berpengaruh di bidang entertainment and sport Asia versi majalah Forbes. Stay humble and true to his roots, Joel pun membisikkan perasaannya atas segala hal yang terjadi setahun terakhir ini: “Saya tidak akan mengubah apapun dan bersyukur atas semua kejadian baik maupun buruk yang telah terjadi karena berkat semua pengalaman itu lah saya bisa ada di titik ini sekarang.” Now, that’s the spirit.

gentle-bones-2

How It Started

“Saya berumur 16 tahun ketika pertama kali belajar memainkan gitar akustik dan mengumpulkan keberanian untuk bernyanyi. Ketika saya mulai sering melakukan live performance, saya menyadari jika saya ingin memainkan materi buatan saya sendiri dibanding menyanyikan lagu cover. That’s when my love for song-writing began.”

Behind The Name

“Saat menulis lagu pertama saya, saya langsung ingin mengunggahnya ketika selesai. Karena nama asli saya cukup pasaran di Singapura, saya ingin nama alias yang terdengar stand out. Saya memilih nama Gentle Bones ketika berumur 17 tahun dan menempel sampai sekarang.”

Influences

“Ed Sheeran membuat saya jatuh cinta pada seni menulis lagu dan membangun fondasi awal bagi album pertama saya. Saya selalu menyukai musik R&B dan tumbuh besar mendengarkan Michael Jackson dan Backstreet Boys. Semakin dewasa saya jatuh cinta pada hip-hop dan alternative R&B dan memutuskan untuk mengambil risiko dengan bereksperimen di ranah electronic yang terdengar berbeda dari album debut saya. Akar dari semua ini adalah pikiran saya jika menulis lagu sebetulnya bisa dilakukan tanpa terikat genre walapun banyak yang menganggap genre sebagai identitas. Hal itu yang juga mempengaruhi judul album terbaru saya.”

Record Collection

“Saya mengoleksi banyak album ketika berumur 8-14 tahun. Band seperti Good Charlotte sangat mempengaruhi saya dalam memandang musik dan mengajari saya serunya memadukan banyak genre. Ketika masih kecil, saya adalah penggemar boyband 90-an dan terobsesi pada Michael Jackson.”

Listen This

EP Geniuses and Thieves saya kerjakan selama hampir satu setengah tahun. Saya lebih percaya pada kualitas dibanding kuantitas dan menghabiskan bulan demi bulan menulis dan memilih 5 lagu terbaik yang akan dimasukkan ke album ini. Saya ingin Gentle Bones bisa bebas dari belenggu genre dan klasifikasi dan lebih bebas menulis lagu-lagu menyenangkan untuk dinikmati orang. ‘Run Tell Daddy’ adalah lagu tentang hambatan yang saya hadapi dalam perjalanan musikal saya dan saya ingin EP kedua ini menggambarkan strong return saya ke dunia musik.”

Best Gig

Solo show at Esplanade was incredibly surreal. Konser dua malam itu adalah validasi dari semua usaha yang telah saya curahkan di Gentle Bones dan mendengar penonton ikut menyanyikan lagu-lagu yang awalnya hanya terdengar di kamar tidur saya adalah absolute blessing.”

Favorite Past Time

“Saya terobsesi dengan segala bentuk media dan menghabiskan waktu untuk memikirkan konsep video musik saya, designing collateral for my music and songwriting and directing for others.”

Sweet Dreams

“Saya berharap bisa tampil di banyak show penting di segala penjuru dunia. Di saat yang sama saya ingin melakukan semuanya one step at a time.”

Hometown Glory

“Skena musik di Singapura sangat eklektik dan tumbuh dengan pesat, and it’s up to the rest of the region to catch on! Disco Hue, Sam Rui, Linying, Forests adalah musisi-musisi lokal favorit saya sekarang ini, do check ‘em out!”

Anticipation

“Saya sendiri belum terlalu yakin apa yang akan saya lakukan selanjutnya! Saya sangat bersyukur atas apa yang telah terjadi dan yang ingin terus saya lakukan adalah berusaha agar musik saya bisa mencapai pendengar sebanyak mungkin.”

gentle-bones-3

http://gentlebones.com/

Très chic, très hip, très sexy! An Interview With Mademoiselle Yulia

Tokyo’s It Girl, DJ, musisi, style icon, club queen, fashion & accessories designer, muse, kolumnis mode NYLON Japan… Mademoiselle Yulia telah mengantungi lebih banyak profesi dari yang bisa kamu bayangkan dari seorang wanita yang bahkan belum menginjak umur 30 tahun. Menyebutnya sekadar seorang multi-hyphenate adalah sebuah understatement, namun di luar segala label yang melekat pada dirinya, Mademoiselle Yulia tidak akan pernah puas mengeksplorasi dunia dengan style and sound personalnya yang nyaris tanpa cela. We want to know the secret, s’il vous plait

 img_3894

Di masa ketika siapapun bisa menjadi overnight celebrity dengan berbekal persona social media yang kuat dan jumlah follower sebagai currency untuk kepopuleran seseorang, istilah It Girl mungkin telah menjadi sesuatu yang sangat cair dan fleksibel. Begitu mudahnya kita beralih dari satu girl crush ke girl crush lainnya hanya dengan beberapa klik dan stalking di Instagram, it’s became everybody’s game at this moment. Tapi ada satu hal penting yang tak bisa ditutupi filter apapun dan membuat seorang It Girl tetap standout di antara ribuan It Girls lainnya, yaitu? The genuine talent and natural charms, tentu saja. For some people, setiap post yang mereka unggah di Instagram adalah full-time job yang membutuhkan effort besar demi the so-called “curated contents”, paid content, dan menarik lebih banyak followers. Namun, bagi sebagian orang lainnya, Instagram sebetulnya tidak lebih dari sekadar platform untuk membagikan sekelumit keseharian mereka yang jauh lebih seru in real life instead of URL. Mademoiselle Yulia termasuk golongan yang kedua.

            DJ, penyanyi, dan desainer asal Tokyo ini mungkin “hanya” memiliki 141K followers di akun Instagram @mademoiselle_yulia miliknya, jauh lebih sedikit dari katakanlah Kiko Mizuhara dengan 3, 4 juta followers-nya, namun sempatkan waktu untuk scrolling sekejap di feeds miliknya yang dipenuhi foto dirinya menghadiri berbagai acara fashion paling happening across the globe, entah itu duduk di front row sebuah fashion week, menjadi DJ di party untuk brands seperti Louis Vuitton, Sonia Rykiel, dan Chanel, memamerkan personal style-nya baik di red carpet maupun di depan lensa street photographers, or just chilling with her best friends yang meliputi Jeremy Scott, 2NE1, Virgil Abloh (style advisor Kanye West), dan Kiko; kamu akan paham jika dia sebetulnya memang orang yang lebih memilih berinteraksi di dunia nyata dibanding seseorang yang obsessively berkutat dengan smartphone setiap saat. “Sejujurnya saya tidak menganggap social media sebagai hal yang vital bagi kehidupan pribadi saya sehari-hari,” cetus wanita berumur 28 tahun ini. “Saya menggunakan social media seperlunya saja untuk berkomunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Tapi memang saya paling suka Instagram karena basically it’s a picture and you don’t need to say anything,” sambungnya.

Telah kembali ke Tokyo setelah kunjungan terbarunya ke Paris yang meliputi pemotretan untuk majalah yang kamu pegang sekarang, Yulia membalas email interview kami hanya beberapa jam sebelum final deadline kami, but its kinda forgivable mengingat aktivitasnya yang padat. “I’m DJ-ing a lot these days. Saya juga baru menggelar ekshibisi untuk koleksi Autumn/Winter 2016 brand baru saya, Growing Pains, bulan lalu. Jadi saya baru akan mulai memikirkan ide untuk koleksi berikutnya. Lots of new project this year,” ungkap Yulia soal aktivitasnya belakangan ini. Dengan segala kesibukan yang ia lakukan, Yulia mungkin tidak punya waktu untuk meng-update Instagramnya setiap saat, namun tak bisa dipungkiri jika Instagram juga yang memperkenalkan dirinya ke audiens global (termasuk Rihanna, but we will talk about it later), walaupun sejatinya Mademoiselle Yulia telah memiliki reputasi cult di kancah fashion dan musik electro Tokyo sejak dia bahkan belum lulus SMA.

img_3916

Bagaimana cara memperkenalkan Mademoiselle Yulia kepada orang yang belum familiar dengan namanya? Well, to put it simple, Mademoiselle Yulia adalah seorang fashion royalty di Tokyo yang terbiasa tampil di red carpet, front row, galeri foto street style paling bergengsi di sela-sela kesibukannya membuat musik J-pop dengan influens electro yang kental serta menjadi DJ di pesta-pesta paling eksklusif di dunia fashion. Namun seiring kamu membaca artikel ini, kamu akan tahu jika she’s way more than that.

Lahir dan besar di Tokyo, wanita kelahiran 10 Agustus 1987 ini memulai karier bermusiknya dengan menjadi vokalis dan gitaris untuk sebuah band berpersonel empat orang yang ia bentuk saat dia baru masuk SMA. “It was a punk band, saya banyak mendengarkan musik Barat, terutama punk, rock, new wave, post punk dari akhir 70-an sampai awal 80-an,” kenangnya soal band pertamanya yang mengambil inspirasi dari The Clash dan Kraftwerk tersebut. Tahun berikutnya, terinspirasi dari kunjungannya ke sebuah acara DJ night di London, Yulia mulai menggelar sebuah electronic dance party underground serupa di Tokyo dengan nama Neon Spread. Just like The Misshapes party di New York City ataupun acara Kitsuné di Prancis, acara tersebut dengan cepat menjadi party paling happening sekaligus ajang seen and to be seen para It Crowds setempat. “Saat masih di band pun saya juga telah banyak mendengarkan musik electro, terutama electroclash karena genre tersebut adalah perpanjangan dari musik-musik yang saya sukai (post punk dan new wave). So it was natural for me to start to listens electro music,” ungkapnya.

            Just like a rite of passage seperti yang dialami juga oleh para club queens seperti Leigh Lezark, Sarah Jane Crawford, Solange, dan Harley Viera-Newton yang tidak puas bila hanya berdansa di dance floor, langkah berikutnya yang dilakukan Yulia adalah menguasai DJ deck dan merilis mixtape. Di tahun 2008, Yulia melakukan debutnya sebagai DJ dengan kontrak bersama EMI Music Japan untuk merilis mixtape perdananya bertajuk Neon Spread dari lagu-lagu yang ia mainkan di acara tersebut dan sampai saat ini telah memiliki tiga volume. Seiring kepopulerannya sebagai DJ di berbagai event dan party, Yulia pun mulai berkolaborasi dengan tokoh-tokoh penting lainnya di skena electro dan hip-hop Tokyo seperti Plastics, Towa Tei, Shinichi Osawa, M-Flo, dan Teriyaki Boyz, serta Krazy Baldhead dan Uffie, dua musisi elektronik asal Prancis yang pada masa itu menjadi kebanggaan Ed Banger Records. Kedekatannya dengan rapper Verbal dari grup Teriyaki Boyz dan M-Flo sebagai kolaborator kemudian berlanjut ketika ia menjadi executive producer untuk album debut Yulia sebagai penyanyi elektronik. Dirilis pada bulan September 2011, album debut yang diberi judul Mademoworld itu mengantarkan nama Yulia ke ranah mainstream dengan sebuah world wide tour bertajuk “Angee Yung Robotz” untuk mempromosikan album berisi 12 lagu tersebut.

Mendapat apresiasi positif baik dari kritikus maupun penggemar musik berkat produksi yang slick, persona Yulia yang unik, dan beat yang adiktif, album ini juga dianggap memperkenalkan genre J-pop yang lebih universal dan mudah diterima ke telinga pendengar internasional. A kind of album you can bangin on with, terlepas kamu mengerti bahasa Jepang atau tidak. Single utama di album ini berjudul “Gimme Gimme” yang disutradarai oleh graffiti artist asal Prancis, Fafi, memperlihatkan Yulia with her glorious blue hair dan girl squad-nya berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya dengan visual aesthetic yang nyaris serupa seperti yang akan Madonna buat untuk video “Bitch I’m Madonna” empat tahun kemudian (Yulia lebih dulu merilis “Gimme Gimme” di tahun 2011). Selain kolaborasi dengan will.i.am dan Basement Jaxx serta membuatnya menjadi opening act untuk tur Jepang Kylie Minogue, kepopuleran Mademoworld juga menghasilkan sebuah show miliknya sendiri dengan nama yang sama di kanal musik Space Shower dan di tahun 2013 Yulia merilis album keduanya, Whatever Harajuku, dengan single “Harajuku Wander” dan musik video yang menunjukkan Yulia di habitat naturalnya di antara para fashion forward people Harajuku.

Fun and unexpected,” jawab Yulia singkat saat diminta mendeskripsikan personal style dirinya. It’s been long days sejak Gwen Stefani tergila-gila pada gaya Harajuku dan menjadikannya sebuah stereotipe klise dari giggling Japanese girls in wacky outfits, namun, di tangan Yulia sebagai the true native and role model, ia berhasil membawa street style kebanggaan Tokyo tersebut ke level selanjutnya yang lebih mature dan edgy dengan aesthetic yang terinspirasi dari pusat-pusat skena alternatif Tokyo seperti Harajuku, Koenji, dan Shimokitazawa yang merepresentasikan sense of style kota tersebut yang surreal. Tokyo’s street style is finally cool again. “I think fashion is the first passion karena saya tidak terlalu pandai mengekspresikan diri lewat kata-kata. Jadi bagi saya fashion adalah cara saya untuk mengekspresikan diri. Tapi sejak saya bergabung di band pertama saya, musik juga menjadi salah satu cara saya untuk berekspresi. Fashion dan musik, keduanya sangat berpengaruh dalam hidup saya,” tukasnya.

Dengan kepopuleran EDM yang menjadi salah satu genre paling besar di awal abad ini, whether you like it or not, DJ is the new rock star and fashion muses. Mademoiselle Yulia kebetulan termasuk salah satu DJ yang mampu memadukan style dan sound dengan sama apiknya. Diberkahi personal style eklektik dan kemampuan mix and match sesuatu yang unexpected menjadi kesatuan looks yang membuat iri fashion blogger paling berani sekalipun, Yulia mampu mengenakan pakaian paling ajaib dari runway dan membuatnya tetap wearable. Contohnya saat ia memakai gaun Chanel berwarna pastel dengan heels putih dan kaus kaki semata kaki atau memakai kimono sambil menenteng tas Gucci berdetail bunga. Dengan injeksi whimsical khas Harajuku, ia membuktikan dirinya sebagai the ultimate mix master, dengan atau tanpa turntable di sampingnya.

img_3871

Terima kasih untuk kemajuan teknologi, sense of style dirinya pun membuahkan legion of fans dari seluruh dunia, termasuk dari kalangan fashion insider seperti Jeremy Scott yang menjadikannya muse dan menjadi sahabat baiknya atau Stella McCartney yang memintanya sebagai representasi Tokyo untuk proyek “One City, One Girl” label miliknya di mana Stella McCartney herself memilih gadis-gadis paling keren untuk mewakili dan memperkenalkan kota mereka masing-masing. “Saya sejujurnya lebih aktif di malam hari karena pekerjaan sebagai DJ selalu dimulai saat larut malam, tapi saya selalu berusaha bangun sebelum jam 10 pagi. Saya memulai hari saya dengan meminum yoghurt,” jawab Yulia tentang bagaimana ia biasanya menjalani hari-harinya di Tokyo. Berkumpul dengan teman-temannya di daerah Harajuku, a little bit of shopping, lalu makan malam dan setelahnya pergi ke bar atau club adalah kegiatan favoritnya di kota kelahirannya tersebut. “Tokyo is really convenient and clean. Saya menyukai bagaimana mood kota ini berubah seiring pergantian musim. Tapi saya juga sangat suka London. Saya ingin tinggal di sana suatu hari nanti,” akunya.

            Dengan reputasi yang kian menanjak, maka tidak mengherankan jika Yulia pun bisa dibilang telah bertransisi dari local icon ke global stardom, membuatnya mendapat fans dari berbagai belahan dunia dari New York sampai Yunani dan membuka pintu sosial yang lebih lebar lagi baginya. Buktinya? Well, tampil sebagai cameo di video klip “The Baddest Female” milik CL dari 2NE1, duduk di front row Jeremy Scott di tengah Iggy Azalea dan Nicki Minaj, menjadi satu-satunya model Asia di kampanye global H&M yang bertema “H&M Loves Music”, dan mendapat sahabat baru, Rihanna.

“Saya bertemu Rihanna sekitar 3-4 tahun lalu di Paris. Saya pergi ke sebuah party bersama teman-teman saya dan ketika saya sedang berdansa seru di dance floor, tiba-tiba Rihanna melambaikan tangannya ke arah saya dan memanggil saya ke mejanya! Dia bilang, ‘I know you from Instagram and I love your style!’ Kebetulan kami berdua punya mutual friends seperti Jeremy Scott dan lain-lain, jadi dari situ dia menemukan saya di Instagram tapi sejujurnya saya sangat terkejut karena dia mengenali saya! Sejak saat itu kami pun berteman. Kalau CL, sebenarnya saya sudah kenal dia sejak sepuluh tahun lalu. Saya bertemu dengannya sebelum dia debut dengan 2NE1 karena saya berteman dengan stylist-nya.”

Setelah cameo-nya di video CL, ia pun diminta menjadi DJ untuk after party show Chanel Resort di Seoul dan berada di bawah naungan agensi model internasional IMG yang turut membantu popularitasnya di dunia fashion baik digital maupun real life. Namun, bahkan sebelum era social media pun, Yulia adalah sosok egnimatis yang dengan effortless menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. “Lewat social media, saya memang beruntung karena bisa bertemu beberapa orang yang mungkin tidak bisa saya temui sebelumnya, tapi untungnya, di lingkungan saya berkembang, bahkan sebelum adanya media sosial pun, saya punya banyak kesempatan untuk bertemu orang-orang seperti Jeremy Scott dan tim KTZ yang mengulurkan tangan mereka bahkan sejak saya baru mulai tampil sebagai DJ,” ujarnya.

Sama halnya dengan sikapnya pada musik, rasa cintanya kepada fashion juga tak berhenti sebatas sebagai konsumen. She needs to create something. Selain masih menjadi kolumnis tetap rubrik fashion miliknya sendiri dalam setiap edisi NYLON Japan selama delapan tahun terakhir ini, Yulia pun memiliki fashion brand sendiri. Brand pertama miliknya adalah Giza, sebuah label statement accessories yang ia buat di tahun 2008. Aksesori yang ia buat untuk label ini meliputi jewelry, tas, headwear, badges, dan t-shirts yang terinspirasi dari ancient Egypt dengan sentuhan pop art yang kental dan telah berkolaborasi dengan label-label streetwear terkenal seperti Wesc untuk Fall 2010 dan Joyrich, label kelahiran Tokyo yang kini berbasis di Los Angeles, di mana ia membuat kolaborasi bertema sport-luxe yang playful untuk koleksi Spring/Summer 2015 label tersebut.

Tak pernah berhenti berkreasi atau kekurangan inspirasi, bulan November tahun lalu, ia pun meluncurkan clothing brand terbarunya yang diberi nama Growing Pains dengan koleksi yang meliputi outerwear, patterned dresses, faux fur, dan latex skirts. “Saya terinspirasi dari berbagai macam pergerakan seni, baik itu dari musik, sinema, underground culture, dan movement dari seluruh dunia. It also celebrates bit of humor and every spirit of enjoying fashion as a self-expression. Musim pertamanya terinspirasi 90’s culture dan film Doom Generation, musim keduanya terinspirasi film-film Wong Kar-wai dari awal 2000-an,” terangnya soal label tersebut.

img_3965

 Fashion dan musik faktanya adalah yin & yang tak terpisahkan dari hidup Yulia, bahkan sejak ia masih kecil. Ibunya adalah seorang kimono dresser dan ayahnya adalah seorang hairstylist, so it’s definitely in her genes. “Saya sangat berterima kasih terhadap kedua orangtua saya karena walaupun mereka sangat strict tapi mereka selalu mendukung apapun yang ingin saya kerjakan. Mereka juga menyukai fashion dan musik,” ujar kolektor vintage Moschino dan Thierry Mugler ini. Sama seperti mayoritas anak perempuan Jepang, Yulia tumbuh dengan kecintaan terhadap benda-benda kawaii yang terus berlanjut sampai sekarang. Dalam sebuah feature dirinya di situs The Coveteur, kita bisa melihat kamarnya yang tidak hanya dipenuhi koleksi designer items, sneakers, dan barang-barang fashion saja, tapi juga pernak-pernik My Little Pony, Sailor Moon, dan kawaii things lainnya yang tertata rapi. “Saya mulai mengoleksi beberapa benda sejak kecil, tidak hanya kawaii things, saya juga mengoleksi boneka Barbie dan snow globes,” ungkapnya sambil menyebut compact powder Sailor Moon sebagai salah satu item wajib yang ada di tasnya, di samping dompet Celine, iPhone dengan cigarette case yang ia buat sendiri, lipstick Chanel, dan gummy bears merek Haribo favoritnya.

Hal yang menurutnya impossible bila ia harus memilih antara fashion atau musik, Yulia pun tidak bisa pergi terlalu lama dari dunia musik. 17 Desember lalu, ia kembali ke dunia musik dengan dua single terbarunya, “GOGO” dan “THIS WEEKEND” yang merupakan rilisan terbarunya sejak Whatever Harajuku. “Saya merekam kedua lagu ini bersama seorang beat maker teman saya yang tergabung di band bernama ANIMAL FEELINGS saat saya di New York. Ini adalah pengalaman pertama saya merekam lagu di luar Jepang. ‘GOGO’ is beautiful song with slow jam sedangkan ‘THIS WEEKEND’ memiliki little disco flavor dengan beat yang danceable. Saya ingin membuat lagu yang berbeda dari yang telah saya kerjakan sebelumnya dan kembali ke akar saya, which is playing with the band,” tegasnya. Stay true to her roots, kedua single ini tidak hanya dirilis secara digital, tapi juga dalam bentuk CD dan 7 inch vinyl record sebagai reminiscence dari masa yang telah lewat. “Tentu saja pasar musik digital juga telah besar saat saya membuat mixtape pertama saya, namun waktu itu orang-orang masih banyak yang membeli musik dalam format CD, but now… Not anymore. Tapi saya masih ingin membuat bentuk fisik untuk musik saya, karena itu saya juga merilisnya dalam format vinyl. Karena seperti yang kamu tahu, vinyl secara ironis menjadi sangat populer kembali di seluruh dunia,” terangnya.

img_3956

            Kedua single tersebut adalah perkenalan dari album terbarunya yang akan berjudul YULIA dan direncanakan rilis musim dingin nanti. Untuk sekarang, ia masih mengerjakan album tersebut sambil juggling every works in her hands with ease, namun berbeda dari prasangka orang, ia sebetulnya tidak menganggap dirinya sebagai seorang multi-tasker. “Yang saya sukai dari diri saya… Saya berusaha untuk stay true to myself baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Yang saya tidak sukai, saya tidak bisa memikirkan hal-hal lain ketika saya sedang fokus terhadap suatu hal,” akunya. Sebuah fakta yang cukup membuat terkejut jika kita menghitung semua kesibukan dan profesi yang ia jalankan secara bersamaan.

Fashion dan musik mungkin telah menjadi hal yang familiar dan semudah membalik tangan baginya, namun saya pun penasaran bidang apa lagi yang ingin ia eksplor berikutnya. Selain personal style, sebetulnya yang membuat sosok Yulia menarik adalah her flawless makeup and hair style. Seperti yang sudah disebutkan, ayahnya adalah seorang hair stylist dan Yulia sendiri pun memiliki license sebagai hair stylist. “Iya, saya punya license untuk hairdressing. Karena saya sempat ingin menjadi hair stylist atau makeup artist saat masih remaja. Saya sebetulnya masih berminat melakukan proyek yang berhubungan dengan beauty, mungkin membuat beauty products? Who knows right? Haha… Tapi kalau bisa memilih, saya sebetulnya ingin menjadi pramugari!” ungkapnya gamblang. “Saya ingin pergi ke Mesir, Turki, dan Maroko! Saya telah mengunjungi cukup banyak negara di Asia, Eropa, dan Amerika, tapi saya sangat tertarik untuk mengunjungi Afrika. Sedangkan Turki berada tepat di antara Asia dan Eropa. Jadi saya pikir budaya di sana akan sangat menarik,” sambungnya. How about Indonesia then? “I really wanna go to Indonesia!” jawabnya dengan excited sambil mengungkapkan keinginannya untuk bisa bertemu dengan penggemarnya di sini. A little bird told me, hal itu mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Jika saat itu tiba, persiapkan dirimu untuk mencari koneksi yang bisa membuatmu diundang ke acara yang sama dengannya. Untuk sekarang, at least you know more about her already from us, and yeah, you’re welcome.

img_3959

Fotografi: Yuji Watanabe.

Stylist: Stefanie Miano.

Makeup Artist: Vichika Yorn.

Hair Stylist: Jonathan Dadour (B Agency).

 

On The Records: The fin.

Sejak merilis dua EP bertitel Glowing Red on the Shore dan Days With Uncertainty di tahun 2014 dengan review gemilang, The fin. adalah band yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka di jalan dan tampil dalam berbagai festival di dalam dan luar Jepang. Pasca tur di Inggris selama sebulan penuh pada Mei lalu dalam rangka mempromosikan EP terbaru mereka dengan judul Through The Deep yang berisi 6 lagu (termasuk satu remix dari Petite Noir), mereka singgah ke Hong Kong dan Taiwan sebelum menjalani tur Jepang bersama band Inggris All We Are. Berasal dari pertemanan masa kecil di kota asal mereka Kobe, band yang terdiri dari Yuto Uchino (vokal, synth, gitar songwriter), Ryosuke Odagaki (gitar), Takayasu Taguchi (bass), Kaoru Nakazawa (drum) ini menyajikan musik indie rock yang terpengaruh dari band-band indie Inggris akhir 80-an dengan sentuhan elemen Chillwave dari musisi seperti Washed Out dan Toro Y Moi di mana vokal Yuta yang ethereal mengingatkan pada Thomas Mars dari Phoenix ketika menyanyikan lagu-lagu berbahasa Inggris dengan pembawaan fasih. Catchy dengan ambience moody yang masih jarang terdengar di skena musik Jepang membuat mereka dideskripsikan sebagai yogakuppoi (musik yang terdengar “kebarat-baratan”) dalam ulasan media domestik sekaligus memberikan international appeal tersendiri bagi pendengar di luar Jepang. Dari Tokyo, Yuta sang frontman pun menjelaskan beberapa hal tentang bandnya.

How It Started

“Kami bertemu saat preschool dan sekolah dasar ketika kami berumur empat sampai enam tahun. Saya, Ryosuke, dan Nakazawa sempat bergabung di sebuah band sebelum The fin. terbentuk. Setelah band itu bubar, kami membentuk band ini.”

Behind The Name
Nothing special. Just popped into my head and we liked its atmosphere.”

Influences

“Band ini terbentuk bersama sahabat-sahabat lama saya, jadi saya pikir yang menginspirasi kami adalah special vibe yang muncul dari persahabatan kami. Saya sendiri telah mendengarkan musik Barat sejak kecil dan itu mengalir di nadi saya. Tidak hanya dari musik, tapi juga dari film dan seni yang terus mendorong saya berkarya. Di Jepang, saya merasa musik populer terbagi menjadi dua jenis: Japanese music and Western music. Orang Jepang sering bilang jika musik saya terdengar Western. But I don’t care much. I just make what I want.”

Listen This

I always write in my room. In Tokyo or Kobe. I make the demo first, and play
in the studio with the band, and record in my room. Saya menulis banyak lagu untuk album Through The Deep sekitar tahun lalu dan sebetulnya berencana merilisnya sebagai full album, namun banyak materi baru yang terdengar berbeda dari materi-materi sebelumnya. Jadi saya merasa akan lebih baik jika saya merilis beberapa materi dalam format EP lebih dulu untuk memperkenalkan sounds baru kami. Seperti yang bisa kamu lihat dari judulnya, kami merasa perubahan adalah kunci dari perjalanan kami.”

Best Gig
Definitely, the best was the Great Escape. It was so exciting. I fell in
love with Brighton too. I’ve got to live there someday
.”

Sweet Dreams
“Saya ingin bermain di Coachella suatu saat nanti. Kalau impian pribadi saya adalah pergi ke luar angkasa dan melihat bumi dari kejauhan.”

Hometown Glory

“Saya sebetulnya tidak punya bayangan soal skena musik lokal di Jepang saat ini. Tapi saya tahu kalau banyak indie band yang muncul di Tokyo.

Favorite Past-time

“Drinking and talking about silly things. We’re just friends basically.”

Anticipation

“Menyelesaikan full album. It’s gonna be a great one. I know it’s worth waiting. Dan saya harap kami bisa juga main di Indonesia!”

thefin_dublin

http://www.thefin.jp/

Winning Pitch, An Interview With SALES

Hampir mirip seperti prinsip ekonomi, duo indie pop SALES memproduksi musik yang terdengar seminimal mungkin untuk menghasilkan musik berkualitas maksimal.

Sejak pertama kali merilis single perdana bertajuk “renee” di akhir 2013 lalu, SALES yang merupakan kolaborasi dari dua sahabat lama Lauren Morgan (vokal/gitar) dan Jordan Shih (gitar/programming) telah mendapat apresiasi positif dan termasuk salah satu band yang paling banyak dibahas di blog walaupun belum merilis album apapun. Relaxed and intimate, duo asal Orlando, Florida ini meramu musik lo-fi pop minimalis berbasis gitar dengan unsur folk di mana vokal Lauren yang whispery mengalun ringan di antara aransemen memikat racikan Jordan. April lalu, mereka pun merilis sendiri self-titled LP perdana mereka secara DIY dengan 15 lagu di dalamnya, termasuk single seperti “ivy” serta “jamz” yang sangat adiktif dan terasa “penuh” di balik segala kesederhanaan musik yang mereka usung. Setelah menghasilkan sebuah timeless bedroom pop album terbaik yang kami dengar tahun ini dan menyelesaikan tur Amerika mereka, keduanya kembali ke Orlando untuk istirahat sejenak dan menjawab beberapa pertanyaan dari kami.

Jadi, bagaimana kalian pertama kali bertemu dan memutuskan untuk bikin musik bareng? Kami bertemu saat SMA dan musik menjadi mutual interest kami walaupun kami datang dari latar musik yang berbeda. Jordan memproduksi musik elektronik dari kamar tidurnya dan bermain tenor saxophone di marching band, sementara Lauren tumbuh besar belajar piano dan gitar. Kami telah berkolaborasi sekitar sepuluh tahun.

Apa cerita di balik nama band kalian? Orangtua Lauren bekerja sebagai sales people yang bekerja demi komisi. Mereka menjual macam-macam benda dari mulai permen, pasta gigi, obat-obatan, wine, teh, hingga herbal vape pens dan industrial oil/lubricant untuk menyebut segelintirnya.

Apa saja yang menjadi influens musikal untuk SALES? I think we are more so inspired by other artists, rather than influenced. Kami mencoba mendorong musik kami sejauh yang kami bisa. Kami selalu bingung menjawab pertanyaan ini karena kami mendengarkan banyak sekali musik dan tampil bersama banyak inspiring musicians both big and small. Menyebutkan hanya beberapa nama terasa tidak adil bagi kami.

Saya sangat menikmati LP kalian. Apa yang menjadi tema besar yang ingin kalian angkat di album ini? Thanks, we are glad you like it. Tidak ada tema khusus untuk album ini, tapi sejak pertama kali kami membuat musik, kami membagikannya ke teman-teman kami yang datang dan pergi seiring waktu. Kami hanya membuat musik yang ingin kami dengar, it is music to share with your friends. We recorded it all in an untreated bedroom studio. 

sales-lp

Kalau soal songwriting sendiri? Songwriting is collaborative, kami saling melengkapi secara kreatif dengan kompak. Jordan sangat teliti soal arrangement, aspek teknis dari rekaman, dan menemukan that million dollar baby moment dari 30 minutes long take. Lauren adalah penulis lirik dan gitaris yang cenderung improvisational. Pada akhirnya, jika kami tidak sepakat pada satu hal, kami akan mundur sejenak dan baru akan kembali menghadapinya dengan pikiran yang lebih jernih dan tenang. We usually can always reach understanding since we both just want what is best for the song.

Bagaimana kalian mendeskripsikan genre kalian? Apakah kalian terganggu jika orang menyebut musik kalian sebagai “twee”? We are okay with whatever label gets stuck on the project–labels happen and “twee” fills up our hearts. Musik kami sangat dipengaruhi oleh pilihan kami untuk tetap independen. We think our sound stands on its own, and isn’t what you’d expect.  

Untuk Lauren, adakah vokalis perempuan yang kamu kagumi? Tentu saja ada banyak sekali vokalis perempuan yang saya kagumi dan tidak bisa saya sebut satu per satu. Tapi ketika masih sekolah saya pernah mendapat tugas untuk presentasi soal Billie Holiday, she was an early inspiration for me.

Apa yang membuat kalian memilih Alana Questell untuk membuat artwork album ini? Alana telah membuat artwork dari mulai single pertama sampai LP kami. Artwork kolase yang ia buat sangat interpretif dan berdiri sendiri, terpisah dari musiknya sendiri. Like the songs, the artwork may mean something different to everyone– there is room for your story.

Boleh cerita soal skena musik di kota asal kalian, Orlando? We love it walaupun kami melihat banyak teman-teman musisi datang dan pergi. It is rough to have a scene when everyone is there temporarily. Tapi, selalu ada sesuatu yang terjadi, banyak orang dan venue yang menggelar show, festival, dan acara komunitas. We don’t really go out much though. Kami lebih sering menghabiskan waktu membuat musik, makan di restoran, masak di rumah, atau main tenis.

Bagaimana rasanya tampil live di panggung bagi kalian? Every night is unique with a different city and the same songs. Kami mencoba membuka diri kami ke crowd dan menampilkan show yang bagus. Jordan tidak terlalu excited soal tur (low key stage-fright), tapi dia belajar menghadapinya dan melakukannya dengan baik.

Apa yang menjadi career highlight sejauh ini? Our sold-out L.A. show at the Troubadour was one of the best shows we have ever played. We got late night dinner after the show in Thai town. We will never forget those feels. 

Apa yang kalian kerjakan di luar musik? Musik adalah full time job kami. Kami memilih untuk tetap independen dan melakukan semuanya sendiri dari menjawab undangan manggung, mengurus berkas pajak, merencanakan tur Eropa, dan tur Amerika kami berikutnya di bulan Oktober. We love making music, jadi kami akan terus melakukannya. Selain itu, Lauren hobi berkebun di rumah barunya dan main gitar sedangkan Jordan suka memasak dan mencoba menjadi the Prince of Tennis.

Karena ini Summer Issue kami, apa hal favorit dan rencana kalian untuk musim panas? Kami baru saja membatalkan sisa jadwal tur untuk musim panas agar kami bisa istirahat dan punya waktu untuk menyiapkan materi selanjutnya dan mengurus segi bisnis. SALES sedang tumbuh dan kami ingin meyakinkan diri jika kami juga bisa berkembang lebih jauh. Rencana kami untuk musim panas tahun ini adalah mempertajam LP kami, menambahkan elemen baru yang bisa kami pakai di live show, dan mencari Patbingsu di Orlando.

sales-band-2015-770x485

Follow SALES: https://sales.bandcamp.com/

Foto oleh: Carlos Quinteros Jr.