#Xinjiapo, My Singapore Trip Part 2: Tiong Bahru & Laneway Festival

Hari kedua di Singapura: Mengeksplor hip culture dan festival musik paling seru di Asia Tenggara.

Setelah hari pertama dihabiskan untuk menelusuri art conclave Gillman Barracks dan night life di Haji Lane, saya terbangun di hari Sabtu tanggal 24 Januari dengan excitement penuh. Today is the day for St. Jerome’s Laneway Music Festival Singapore 2015! Tahun ini merupakan kali kelima festival musik asal Australia tersebut digelar di Singapura dan seperti biasa menghadirkan lineup keren dari established & upcoming indie musicians seperti FKA twigs, St. Vincent, dan Little Dragon. Tahun ini juga menjadi tahun pertama saya datang ke Laneway, so excited!

Well, Laneway sendiri baru akan dimulai sekitar jam 12 siang, karena itu kami punya agenda lain sebelum menuju Gardens by The Bay yang menjadi venue festival tersebut. Setelah breakfast di hotel, kami pun naik taksi dengan tujuan Tiong Bahru, sebuah tempat yang belakangan menjadi daerah hip di Singapura. Tapi, entah kenapa supir taksi kami salah menurunkan kami. Instead of Tiong Bahru, kami turun di Keong Saik Road di daerah Chinatown, yang sebetulnya tak kalah menarik untuk jalan-jalan. Daerah yang awalnya dikenal sebagai red light district ini sekarang dipenuhi oleh coffee shop, cafe, art gallery, dan bahkan sebuah coworking space yang akan segera dibuka. Di jalan ini juga terdapat Potato Head dan Three Buns, a familiar fixture if you’re Jakarta hipster. Dibanding naik taksi lagi dan kami pun sebetulnya tidak terburu-buru, kami memutuskan untuk jalan kaki ke stasiun MRT untuk menuju Tiong Bahru. Tentunya sambil menikmati gedung-gedung art deco di area Keong Saik dan gang-gang kecilnya yang seringkali dihiasi mural dan warna-warni vibrant yang membuat daerah ini terasa seperti a quaint little village.

Keong Saik Road

Setelah naik MRT dari Outram Park yang hanya berjarak satu stasiun dari Tiong Bahru, kami pun jalan kaki sedikit lagi sebelum akhirnya sampai di Yong Siak Street, salah satu jalanan di Tiong Bahru yang paling hip dengan deretan toko buku, cafe, coffee shop, dan organic store. Dibangun tahun 1930-an, Tiong Bahru yang artinya “Kuburan Baru” merupakan area perumahan paling tua di Singapura yang dulunya memang area pemakaman dan daerah perumahan yang sepi dan didominasi orang tua. Namun, thanks to para creativepreneur muda yang membawa hip culture ke area ini, Tiong Bahru sekarang telah hidup kembali menjadi tempat favorit para ekspat dan local cool kids di mana lifestyle establishment hidup berdampingan di antara bangunan ruko dari tahun 40-an dan pasar basah tradisional. Berjalan-jalan di Yong Siak sendiri yang didominasi apartemen dua sampai lima lantai dari zaman pre-war bertembok putih dengan balkon bundar dan tangga spiral yang khas adalah pengalaman yang menyenangkan. Di daerah yang cenderung tenang ini, waktu seakan berhenti. Di antara obrolan santai orang-orang yang sedang asik menyisip kopi, kamu masih bisa mendengar musik Chinese tradisional dan suara burung di antara pohon kelapa. It was very nice place to live, I think.

polaroidMAKER_31_01_2015 7_32_04polaroidMAKER_31_01_2015 7_33_14
Sampai di Yong Siak, kami sebetulnya ingin mencicipi kopi terkenal di 40 Hands Coffee, namun coffee shop tersebut tampak sedang ramai-ramainya. So, kami pun memutuskan untuk saling berpencar untuk mengekslorasi Tiong Bahru sendiri-sendiri sebelum makan siang. Yang langsung menarik perhatian saya adalah toko buku di seberang 40 Hands Coffee, yang bernama BooksActually yang bisa dibilang Aksara Bookstore-nya Singapura, walaupun jauh lebih mungil. Toko buku independen milik Kenny Leck dan Karen Wai ini dimulai tahun 2005 dan sempat berpindah-pindah sebelum akhirnya stay di Tiong Bahru dan menjadi literary hub bagi skena literatur lokal. Begitu masuk, it was love at the first sight. I mean, tumpukan buku-buku yang semuanya menggoda untuk dibawa pulang, terutama karya-karya para penulis lokal dan majalah-majalah indie setempat. Para pemilik toko buku ini tampaknya adalah penyuka kucing. Selain menjual banyak buku yang mengangkat tema kucing, toko buku ini memiliki tiga ekor kucing peliharaan yang dibiarkan bebas berkeliaran di atas tumpukan buku dan mencakar punggung buku, which is very cute dan malah terasa seperti “sentuhan khusus” untuk buku tersebut. Seolah hal itu tidak cukup, BooksActually juga menjual banyak pernak-pernik vintage yang menggemaskan. Mulai dari postcard, toples kaca, tumpukan kaset, foto-foto kuno, hingga koleksi Pez, semuanya adalah cobaan untuk mental dan dompet saya.

BooksActuallyBagian dalam BooksActually

Sadar saya belum melihat toko-toko lain, saya pun keluar sejenak dari BooksActually untuk melihat toko-toko sekitarnya. Tak jauh dari situ ada toko buku satu lagi berhias mural yang lucu bernama Woods in the Books yang khusus menjual buku anak-anak, bakery bernama Plain Vanilla yang terkenal dengan cupcakes-nya dengan dekorasi yang dihiasi jejeran sepeda vintage dan ayunan kayu, restoran Jepang bernama Ikyu, Bhutan Shop yang menjual produk-produk organik dari mulai bahan makanan sampai peralatan mandi, dan Open Door Policy (ODP), sebuah bistro bernuansa rustic dengan desain ruangan open-planned yang membuat tamu bisa melihat proses pembuatan masakan di balik dinding kaca. Sudah masuk jam makan siang, dan ODP pun obviously terlihat ramai. Untungnya kami sudah reservasi terlebih dulu dan segera duduk di meja kami dan mulai melihat-lihat menu. Semua menu yang ada di main dish sangat menggoda selera. Mulai dari 48 hour braised beef cheek with red wine quinoa and beetroot puree, roast akaroa salmon with crushed potatoes, grilled baby leeks and brown butter jus, hingga ODP wagyu burger with all the trimmings, garlic fries and japanese mayonnaise. Saya pun memesan burger andalan mereka tersebut. It was really big, tasty, and awesomely yummy!

Woods in the BooksODP famous burgerBelanjaan dari BooksActually
Membawa ransel berisi belanjaan buku ke festival musik mungkin bukan ide yang bagus, but I can’t stop myself untuk kembali ke BooksActually setelah lunch untuk membeli buku dan majalah. Buku yang saya beli bertajuk Lontar yang merupakan jurnal literatur para penulis Asia Tenggara dan majalah desain lokal, The Design Society Journal. Well, dengan ransel yang semakin berat, sekitar jam 2 siang kami berangkat menuju Gardens by The Bay di area Marina Bay yang menjadi tempat perhelatan Laneway Fest dalam tiga tahun terakhir ini. Di hari-hari biasa pun sebetulnya tempat ini menarik untuk dieksplor, terutama jika kamu penggemar dunia botani, I would like to come back to this place again, tapi untuk sekarang tujuan utama memang ke Laneway Festival, so here we go!

LanewayFest
Begitu masuk ke area festival, terlihat para festival goers dari regional Asia Tenggara dan Australia sudah memenuhi area rerumputan di bukit-bukit kecil ataupun berdesakkan menyaksikan para performer di tiga stage yang tersedia. This is my first Laneway experience, karena itu saya memutuskan untuk mengelilingi seluruh area Laneway terlebih dahulu sambil menikmati alcohol-infused popsicle dari Popaganda, checking out the booths and the crowd dan bertemu beberapa teman, termasuk Cherie Ko the Singapore’s indie darling, sebelum menuju depan stage untuk menyaksikan performance dari Pond, Royal Blood, dan Mac DeMarco. Hujan yang sempat turun agak deras tak membuat penonton gentar, dengan memakai disposable raincoat, orang-orang cuek asik berdansa di atas rumput dengan latar Marina Bay Sands Hotel, it was awesome.

Laneway2Laneway3
Semakin malam, semakin sulit untuk bergerak saking banyaknya orang yang datang. Tahun ini tiket Laneway berhasil sold out sebelum hari H dan sekitar 13 ribu orang dari Singapura dan kawasan Asia Pasifik memenuhi festival ini. It might be really crammed, tapi hal itu terbayar dengan aksi fenomenal dari para headliners dan semangat dari crowd-nya sendiri yang datang untuk menikmati musik dan bersenang-senang. Tak heran kalau Laneway Festival disebut sebagai Coachella-nya Asia Tenggara, it’s a must visit festival for the music lovers! Highlights tentang Laneway Festival akan saya post secara terpisah, namun yang pasti I really happy to finally watch FKA twigs live in front of my eyes!

Ketika St. Vincent merampungkan setnya sebagai performer terakhir Laneway tahun ini, waktu sudah melewati jam 12 malam. Selain Keenan, di hari kedua ini rombongan kami ditambah oleh pasangan musisi Lala Karmela dan Petra Sihombing yang memang baru bisa menyusul ke Singapura hari itu karena ada pekerjaan lain sebelumnya. Sebelum pulang ke hotel, kami sepakat untuk mengisi perut terlebih dulu. Daerah Clarke Quay yang dekat dengan hotel kami pun menjadi tujuan. Kawasan pinggir sungai ini juga telah dikenal dengan night life yang hidup, terutama karena waktu itu Sabtu malam, banyak sekali orang yang berjalan-jalan santai, hang out di cafe dan restoran (termasuk Hooters), atau party di beberapa club yang ada di area tersebut. Selesai mengisi perut di salah satu restoran Jepang, kami pun kembali ke hotel dengan perut kenyang dan beristirahat.

Laneway Team

Advertisements

Java Soundsfair 2014, Sebuah Festival Musik Lintas Batas.

Hampir satu dekade terakhir ini, Java Festival Production (JFP) lewat berbagai festival musik berkelas internasional seperti Java Jazz Festival (JJF), Java Rockin’land (JRL), dan Java Soulnation Festival telah menjadi salah satu motor penggerak gairah publik untuk datang ke festival musik sekaligus membawa iklim positif bagi industri musik dalam negeri dan membangun kepercayaan musisi luar negeri untuk tampil di Indonesia. That’s why I actually quite sad ketika belakangan JRL yang merupakan salah satu festival musik lokal favorit saya terasa agak tertatih-tatih dan bahkan urung digelar. Namun, bukan berarti JFP patah arang dan hanya berpangku tangan saja. Tahun ini mereka melakukan gebrakan baru dalam bentuk Java Soundsfair, sebuah festival musik lintas genre yang, in a nutshell, bisa disebut sebagai gabungan dari JRL dan Soulnation. Bertempat di Jakarta Convention Center (JCC) dari tanggal 24 sampai 26 Oktober silam, festival yang memiliki 9 stage dan menghadirkan 90 performer dari dalam dan luar negeri ini merupakan festival musik dan art all indoor pertama di Indonesia. Atas undangan dari Maverick yang mewakili Sampoerna A sebagai salah satu sponsor Java Soundsfair 2014, saya berkesempatan hadir dalam perhelatan perdana ini.
Day 1

WP_20141024_017

Selesai jam kantor saya langsung menuju JCC dan ketika sampai, terlihat crowd sudah memadati area masuk venue. Yang menjadi highlight untuk hari pertama ini adalah Magic! band asal Kanada yang sedang hype dengan single “Rude” yang merajai frekuensi radio. Namun jujur saja, salah satu tujuan utama saya hari ini adalah Sophie Ellis-Bextor, biduan cantik asal Inggris yang terkenal dengan lagu-lagu disco pop seperti “Take Me Home” dan “Murder On The Dancefloor”. Tampil di stage utama Plenary Hall, Sophie muncul dengan dress merah dan sepatu dance berwarna silver metalik. Ia membawakan lagu-lagu dari album terbarunya, Wanderlust, yang terdengar berbeda dari album-album sebelumnya. Di album ini Sophie mengubah haluan ke arah baroque pop dan folk yang kental dengan unsur orkestra. That’s why penampilan Sophie kali ini juga dilengkapi dengan dua orang violinist. Menjelang setengah jam terakhir penampilannya, Sophie mundur ke belakang panggung dan muncul lagi setelah berganti kostum dengan dress hijau semi transparan yang membuka sesi disco time with her signature dancey songs.

Setelah penampilan Sophie saya mampir ke sebuah sudut dekat salah satu pintu keluar yang menjadi area untuk Refresh Lounge, sebuah lounge yang disiapkan oleh Sampoerna untuk memperkenalkan tampilan baru A Mild Menthol. Sesuai namanya, di lounge khusus 18+ ini, para pengunjung Soundsfair dapat mengikuti aktivitas yang refreshing, seperti menata rambut di Refresh Your Look corner, menggunakan mesin pijat di Refresh Your Body corner, atau mengambil minuman-minuman menyegarkan seperti juice dan fruit popsicle gratis di area barnya. Tak hanya itu, Refresh Lounge juga menawarkan pembuatan merchandise customized pouch yang difasilitasi oleh Maja Esa Indonesia di mana pengunjung bisa membawa pulang pouch hasil kreasi mereka sendiri.

GAC 3 GAC 2 GAC 1

Puas refreshing, saya menuju ke A Create Stage untuk menyaksikan duo elektronik Bandung, Bottlesmoker. Selain menampilkan pertunjukan band-band indie terkenal seperti Sore, Rock N Roll Mafia, dan Bottlesmoker, A Create Stage juga menampilkan hasil karya pemenang Go Ahead Challenge 2014 di salah satu sudutnya. Sebelumnya, dua pemenang Go Ahead Challenge tahun ini yaitu Sylvester Suwandy (Syl) dan I.G. Aditya Bramantya (Bram) mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan tim Tex Saverio dalam mempersiapkan Paris Fashion Week di Jakarta dan Paris dan bekerja sama dengan fotografer fashion profesional Prancis bernama Michel Dupre yang hasil karyanya dipamerkan di A Create Stage Soundsfair 2014. Penampilan seru lainnya dalam hari pertama Soundsfair yang meliputi Tokyo Ska Paradise, Asian Dub Foundation, Morfem, dan Jakarta Techno Militia menjadi penutup dari hari pertama festival yang menyenangkan ini.
Day 2

WP_20141025_011

Hari kedua Soundsfair dimulai lebih awal dari hari sebelumnya dengan Maliq N D’Essentials yang tampil di jam setengah 6 sore. Saya menuju ke Cendrawasih 3 untuk menonton penampilan .GIF, unit elektronik asal Singapura yang memainkan musik elektronik berelemen glitch dan synthpop yang menarik. Puas menonton .GIF saya menyempatkan mampir lagi ke Refresh Lounge untuk bersantai sejenak sekaligus menjadi meeting point yang strategis untuk bertemu teman-teman. Pukul 8, saya beranjak ke A Create Stage untuk menyaksikan penampilan bersejarah dari The BRNDLS. Kenapa dibilang bersejarah? Well, penampilan The BRNDLS malam itu akan menjadi penampilan live terakhir mereka sebelum memutuskan untuk hiatus dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Jadi jelas saja, walaupun berbarengan dengan jadwal Cody Simpson yang menjadi salah satu main attraction di Plenary Hall yang dipenuhi gadis-gadis remaja, penampilan The BRNDLS juga tak kalah ramai dengan para penikmat musik indie lokal yang telah mengikuti perkembangan band Jakarta tersebut sejak awal muncul dekade lalu. Eka Annash, sang vokalis, muncul dalam balutan jubah dan topi lebar. Wajahnya ditutupi face art bergambar tengkorak dan terlihat sangar, begitu juga dengan para personel lainnya. Seolah tak mau melewatkan panggung ini begitu saja, mereka tampil all out membawakan repertoire lagu-lagu terkenal mereka seperti “100 KM/Jam”, “Lingkar Labirin”, “Start Bleeding”, “Perak”, serta “Abrasi” yang menghadirkan Iwa K sebagai bintang tamu untuk mengisi bagian rap yang aslinya dibawakan oleh Morgue Vanguard. It was one hell of rock & roll performance, and we’re gonna wait for them to come back with new material and new spirit.

WP_20141025_030
Selesai The BRNDLS, dengan setengah berlari saya menuju stage Cibo Matto, band indie asal New York yang dimotori oleh Yuka Honda dan Miho Hatori. Terbentuk dari tahun 1994, Cibo Matto yang dalam bahasa Italia berarti “crazy food” ini terkenal dengan musik eklektik mereka yang perpaduan indie pop, trip hop, acid jazz, hingga bossa nova. Lagu “Sugar Water” yang merupakan single pertama mereka dari debut album Viva! La Woman menjadi lagu pertama yang dibawakan. Sempat hiatus dari tahun 2002 sampai 2011, penampilan mereka di Soundsfair ini merupakan penampilan perdana mereka di Asia Tenggara. How special that is!
Penampilan Miho dan Yuka yang atraktif walau sudah tak terbilang muda lagi berhasil memancing eforia penonton. Tanpa cela dan semangat tinggi, mereka membawakan lagu-lagu ikonik seperti “Sci-Fi Wasabi” dan “Aguas de Marco” yang diselingi oleh materi-materi baru dari album terbaru Hotel Valentine yang tidak kalah seru seperti “Deja Vu”, “Empty Pool” dan “10th Floor Ghost Girl”. Penampilan selama satu jam tersebut hampir tidak terasa dan menimbulkan teriakan encore ketika Cibo Matto turun panggung. Panggilan encore tersebut menarik mereka naik ke atas panggung untuk membawakan “Birthday Cake” walau sayangnya entah kenapa lagu paling hits mereka, “Moonchild” urung dimainkan walau sudah tertera di song list. Nevertheless, it was my most favorite performance on this festival, atau bahkan dari semua konser yang saya hadiri tahun ini.
Selesai Cibo Matto, bukan berarti tidak ada penampilan seru lainnya. Setelah mondar-mandir ke beberapa stage, saya sempat menonton Themilo, Angsa & Serigala yang tampil dalam format baru, serta White Shoes and The Couples Company yang berhasil membuat De Majors stage full house dengan performa atraktif khas mereka.
Day 3

WP_20141026_015Setelah stay sampai penampilan terakhir di hari sebelumnya, dalam hari ketiga dan terakhir Soundsfair tahun ini, awalnya saya ingin datang agak lebih malam, namun demi menonton Mocca yang tampil di jam 6 sore akhirnya saya bergegas lebih awal. Rugi rasanya kalau melewatkan penampilan Mocca, mumpung Arina sang vokalis yang bermukim di Amerika Serikat sedang ada di Indonesia. Sebagai salah satu dedengkot indie scene Indonesia, penampilan Mocca tentu tak perlu diragukan lagi. Penonton pun masih antusias menyanyikan lagu-lagu manis gubahan mereka seperti “I’ll Remember”, “I Would Never”, “Secret Admirer” dan cover version “Hyperballad” milik Bjork. Mocca untuk pertama kalinya juga membawakan lagu terbaru mereka yang merupakan ode untuk kota asal mereka, “Bandung”.

WP_20141026_021
Setelah Mocca, saya menyaksikan Yuna, seorang singer-songwriter asal Malaysia yang berhasil go international dan berkerja sama dengan Pharell Williams. Tampil cantik dengan busana hijab, Yuna memamerkan vokalnya yang khas dalam lagu-lagu berbahasa Inggris maupun Malaysia seperti “Mountains”, “Penakut”, “Falling”, dan tentu saja “Live Your Life”. Setelah mundur ke backtage sehabis membawakan “Lelaki” dan “Dan Sebenarnya”,Yuna muncul lagi untuk menyanyikan “Rescue”, hits single yang memang telah ditunggu-tunggu.

WP_20141026_028
Marius Lauber, electronic pop artist dari Cologne yang lebih dikenal dengan nama Roosevelt menjadi aksi selanjutnya yang saya tonton. Tampil dengan dua orang temannya di drum dan synth, mereka membawakan lagu-lagu chill out yang hip dengan elemen house dan disco. Its suddenly feels like a sunset in Ibiza. Selain Yuna, yang menjadi magnet utama di hari ketiga adalah The Jacksons yang tampil di Plenary Hall. Namun alih-alih menyaksikan aksi keluarga Michael Jackson tersebut, saya malah ke A Create Stage untuk menonton The S.I.G.I.T, band cadas asal Bandung yang seperti bisa diharapkan, tampil dengan keren.

WP_20141026_038
Saya menutup hari terakhir Soundsfair dengan menikmati racikan drum n bass dari kolektif Javabass Soundsystem yang disambung oleh DJ Makoto dari Jepang. Overall, walaupun kecewa JRL tidak diadakan lagi tahun ini, saya puas dengan Soundsfair 2014 karena berhasil membawa atmosfer festival musik baru dengan performance yang sangat beragam. Diversifikasi genre yang ada membawa crowd penggemar masing-masing, namun hal itu justru terasa menyenangkan melihat para penggemar musik dari scene yang berbeda-beda bisa saling berbaur dan menghargai satu sama lain. Dalam satu hari saya bisa menikmati sajian indie pop, rock, jazz, hingga drum n bass, so it was really nice dan bisa menjadi ajang edukasi para penikmat musik indonesia untuk mengenal musisi dari berbagai genre dan menikmatinya atas nama musik yang berkualitas.
Special thanks for Maverick dan Sampoerna A for this report!

WP_20141026_034