Easy A, An Interview With Ariel Nayaka

Tanpa perlu menjual kontroversi kacangan dan komentar-komentar miring, rapper muda Ariel Nayaka menunjukkan kelasnya sendiri sebagai bintang baru layak simak di skena Hip-Hop lokal just like a Straight-A student.

Setelah seakan mati suri sekian lama dari radar mainstream, dengan semakin banyaknya nama rapper dan beatmaker lokal yang naik ke permukaan, releasing their tapes, doing gigs here and there, dan crowd yang semakin apresiatif, I think it’s safe to say our local Hip Hop scene is on the rise again and Ariel Nayaka is proud to be part of it. Menghabiskan masa pubernya di Houston, Texas, cowok 22 tahun ini mengaku sudah terekspos pada kultur Hip Hop sejak dini, namun album 50 Cent lah yang menjadi awal dari segalanya. “Basically gue lagi road trip sama keluarga dan stuck di mobil selama 12 jam lebih. Sepanjang perjalanan, hiburan gue cuma album 50 Cent yang Get Rich or Die Tryin’. That was also the first time I ever listened to Gangsta Rap and I was hooked on it immediately. Album itu yang membuka pintu buat gue untuk eskplor Hip Hop, tapi album yang benar-benar mendorong gue untuk mulai nulis lirik adalah album Eminem yang The Eminem Show,” ceritanya.

Sempat main di genre metal dan post-hardcore emo, minatnya pada Hip Hop bangkit lagi saat ia kembali ke Jakarta. Secara otodidak dari video YouTube, ia mulai mempelajari proses rekaman dan menulis lirik sendiri di atas free beats yang ia dapat di internet lalu mengunggahnya ke SoundCloud. After some singles, videos, and one mixtape, tahun ini dengan bangga Nayaka mempersembahkan mixtape anyar berjudul Curriculum Vitae. Seperti yang disugestikan oleh judulnya, album berisi 12 track ini adalah rangkuman dari skill yang dimilikinya. Berkolaborasi dengan beberapa rapper dan beatmaker sebayanya seperti Ben Utomo, Scamy, dan Greybox, Nayaka menunjukkan bermacam warna Hip Hop dan tema lirik, mulai dari old school, new school, R&B, hingga trap, yang semuanya dikemas dengan lafal Inggris yang fasih, wordplay yang asik, dan produksi yang rapi.

To complete this exciting year, single terbarunya bersama produser Emir Hermono yang bertajuk “3Am In Jakarta” dengan video yang ia rekam sendiri menjadi topik viral, menarik respons positif, dan mengantarkan namanya ke pendengar yang lebih luas tak hanya di Indonesia tapi juga di Malaysia dengan tampil di Good Vibes Festival, di Kuala Lumpur beberapa bulan lalu. Not stopping for rest and relax, he’s already got so much more to show and we can’t wait for it.

img_5054

So, what are the musical influences for you?

 

Kalau musik secara general, gue akan sebut Michael Jackson. Gue ingat nonton live performance dia bawain “Smooth Criminal” when I was 3, straight up from Laser Discs. Tapi kalau Hip Hop, pasti berubah setiap minggu, haha. Usually I’ll listen to the “new age hip hop” era in the States seperti Lil Yachty, Lil Uzi Vert, Playboi Carti. But then again there are also those moments where I feel like I need me some Bryson Tiller, Partynextdoor, Drake vibes as well. And those melodic sappy ones have been influencing me HEAVY lately.

cv

Tell me about Curriculum Vitae, apa konsep utama dari album ini?

 

Jadi Curriculum Vitae ini dibuat dengan konsep “This is my CV into the music industry”, that’s why I’ve got a couple different type of “Hip Hop Styles” in one body of work to show my diversity and overall sounds that I am capable of. Lagu pertama yang gue bikin yang eventually masuk ke album direkam sekitar April 2015.

Waktu itu gue sebetulnya belum berencana rilis mixtape/album karena di Januari 2015 gue baru ngerilis mixtape yang judulnya To Each His Own. Tapi pas summer 2015, gue ke Jerman selama setengah tahun dan gue bawa recording equipment gue ke sana. I travelled around Europe with my friends, and along the way I took in influences from my surroundings and applied them to my music.

Sekitar 70% rekaman vokal di album ini gue kerjain di Eropa. And as for the album cover, it was a picture of a piece of the Berlin Wall in the East Side Gallery that simply said “Curriculum Vitae”. Itu foto gue literally snapped with my iPhone, sent it to my sister to edit a little, and BOOM! That’s the album cover, haha.

Gimana biasanya proses songwriting berlangsung buat lo dari awal sampai jadi?

I always get confused everytime anyone asks me this question, because its always different every single time. Sometimes someone would send me a beat and I’ll just write lyrics to that beat and I’ll record. But some other times I could just be anywhere and I’d get ideas and I would write them down in my Notes app on my phone. Just rhymes and/or random topics. You’d be surprised to see how much idea I have just laying there on my Notes app lol. Then when I do have the time, I would try to use those ideas and mash it together with an instrumental that flows well with the lyrics. To me, the process of songwriting cannot be stuck in just one method of formula. You have to constantly experiment with new sounds/topics. Getting out of your comfort zone is very important, because at the end of the day YOU HAVE to sound different than your peers.

Apa opini lo soal skena Hip-Hop lokal saat ini?

 

The Hip Hop scene in Indonesia is GROWING FASTER AND FASTER! The culture is moving really fast and I see it growing faster than it did with EDM back around 2010-ish. Banyak banget rapper baru yang muncul setiap bulannya and that’s awesome! Sekarang juga ada beberapa Hip Hop events di Jakarta di mana lo bisa ngeliat producer, rapper, DJ hanging out in one place as friends and vibing with one another. Cul De Sac is a collective of very talented young producers and DJs who make events as well. You can probably say that these guys are the ones that are running the underground Hip Hop scene in these weekly parties.

 

What’s the career highlight so far? Yang gue tau tahun ini lo ikut perform di Good Vibes Malaysia, how was it?

 

YES actually so far, performing in Good Vibes alongside Emir Hermono was a really crazy experience. Gue bikin lagu “3AM In Jakarta” bareng dia beberapa bulan lalu dan ternyata lagu ini lumayan booming di Kuala Lumpur, to the point that it actually got radio airplay. Lucunya, pas kita bawain lagu itu di Good Vibes, there were actually people singing and rapping along to the EXACT lyrics. Itu momen yang gila buat gue karena kalau dipikir, gue nulis lirik lagu itu di rumah gue di Jakarta, tapi gue bawainnya di negara lain dan orang-orang nyanyiin liriknya. That feeling right there is what I’ll always crave and that’s the reason that I make music now.

 

Selain musik, apa aja kegiatan sehari-hari lo?

MASIH KULIAH MAN! I mean it’s my last semester but I need to get this out the way first so I can focus on this music 100%. On a daily basis I usually just wake up, go to the gym, go back home and usually the homies would want to hang at my place. My place is where I do all of my recordings and usually we would all just hang out eventually come up with ideas for music.

What’s your dream collaboration?

 

Yo! If could choose anyone, I would want to have a song with Travis Scott on the hook, me doing 2 verses, Drake doing the last verse, and the overall production by Kanye West and Metro Boomin. Terus have DJ Khaled promote it HAHAHA! If I could get that done, I would die happily LOL.

Apa rencana selanjutnya?

Sekarang gue lagi ngerjain beberapa tracks bareng beberapa producers. Bantuin Emir Hermono di album barunya. I’m doing a joint EP with some very talented producers that I can’t tell u about right now and overall I’m just dropping music here and there. Just keep up on my social media accounts cause every announcement I make will go through there.

img_5038

Foto oleh: Willie William.

https://soundcloud.com/ariel-nayaka

IG: @ArielNayaka

Twitter: @ArielNayaka

YouTube: youtube.com.arielnayaka

Snapchat: arielnayaka

 

Advertisements

On The Records: Girls on Gigs

Siapa bilang perempuan hanya bisa menjadi sekadar pemanis belaka di konser-konser musik? Empat perempuan berikut ini bercerita tentang serunya bekerja di gigs. 

Ade Putri

Road manager

Road manager adalah penghubung antara band dengan panitia; kami yang mengatur jadwal keberangkatan serta kepulangan rombongan sesuai request dan availability player mau pun tim produksi. Kami juga memastikan panitia membaca rider dengan baik dan memberikan counter rider – intinya memastikan kebutuhan band & produksi bisa terpenuhi.” Ungkap Ade Putri tentang job description seorang road manager. Bila masalah standar road manager pada umumnya adalah panitia yang kurang kordinasi atau liaison officer yang tidak komunikatif, sebagai seorang road manager yang mengurusi band-band cadas seperti Seringai, Superman Is Dead dan Suicidal Sinatra, ia harus berhadapan dengan tantangan ekstra, yaitu crowd dan medan yang tak terduga. “Waktu SID perform di USU, Medan tahun 2003 lalu, ada provokator dan konser jadi rusuh. Panitia nggak bisa berbuat banyak karena mereka nggak nyangka kejadiannya akan seperti itu,” kenangnya, “SID tetap menuntaskan set list, biar pun udah gue suruh turun karena suasananya nggak kondusif. Turun panggung, SID dan manajer langsung naik mobil kembali ke hotel. Saat gue bersama tim produksi lagi beresin alat di panggung, eeh…banyak banget barang melayang ke atas panggung. Jadilah gue dan stage crews berlindung di bawah ridging stage. Menegangkan, kayak perang, hahaha.” Tandasnya santai. Gadis kelahiran Surabaya yang juga berprofesi sebagai freelance publicist dan social media strategist di sebuah digital agency ini mengaku lebih menyukai terjun langsung ke lapangan dibanding bekerja di balik meja, karena itu di antara semua kesibukannya, ia tetap menikmati menjadi freelance road manager untuk band yang sudah disebutkan di atas dan beberapa nama lainnya seperti Vicky Shu, The Flowers dan Armada. “Let me tell you something, handling bunch of rockin’ boys is much much much easier than handling one unpredictable selfish and spoiled princess!” Tutupnya dengan senyum jahil.

Isha Hening

Visual Jockey

Apakah kamu sempat menonton penampilan Röyksopp di Love Garage beberapa bulan lalu? Kalau iya, pasti kamu ingat visual mapping keren yang melengkapi live performance mereka. Well, guess what? Visual mapping tersebut dibuat oleh perempuan manis bernama Isha Hening yang kian dikenal sebagai seorang Visual Jockey andal. Semua bermula saat ia masih berkuliah di ITB jurusan DKV – Multimedia, gadis berumur 25 tahun ini sering menghabiskan waktu di Common Room, sebuah ruang kreatif di Bandung, yang juga tempat sebuah komunitas bernama Openlabs yang mengulik soal electronic music, visual dan new media art. Dari situ ia belajar soal VJ dan live visual sampai akhirnya pertama kali menjadi VJ untuk Bottlesmoker di sebuah gig elektronik Bandung, sebuah pengalaman yang membuatnya jatuh cinta, ketagihan dan akhirnya menjadi profesi. Isha lalu dipercaya menjadi VJ untuk event-event besar seperti Godskitchen, Beatfest, Djakarta Warehouse Project, Dance Republic, Playground dan Love Garage. “Hampir semua event berkesan sebetulnya, karena pasti ada yang uniknya, seperti kemarin senang banget bisa VJ-ing untuk Bag Raiders dan Röyksopp karena saya kebetulan memang ngefans atau yang paling capek saat main sampai pukul 6 pagi untuk Armin Van Buuren. Tapi tetap sih, saya paling menikmati kalau main di gigs drum ‘n bass seperti Phunktion, hehe.”  Jawab Isha saat ditanya event yang menurutnya paling berkesan. Selepas Love Garage, kini gadis yang memiliki daily job sebagai motion graphic artist di Fear FX Studio di daerah Bangka, Jakarta Selatan ini sedang bersiap mengerjakan video klip untuk Rock N Roll Mafia bersama temannya Guntech dan sebuah group exhibition di Dia.lo.gue Artspace, Kemang. Bekerja di field yang didominasi pria, apakah sebagai VJ ia pernah diremehkan hanya karena ia perempuan? “Haha, ya pasti pernah, seringnya sih masalah teknis, tapi seharusnya isu seperti itu sudah basi ya, sudah tidak penting gendernya apa, pada akhirnya karya dan profesionalisme yang berbicara.” Jawabnya optimis.

Niken Prista

Gig photographer

Admit it, DSLR is just like fashion accessory nowadays. Kita dengan mudah melihat cewek-cewek menenteng kamera di gig musik, tapi berapa banyak diantara mereka yang memang seorang gig photographer dan rela berdesak-desakan di media pit yang disesaki pria-pria yang terkadang, literally push each other untuk mendapatkan foto yang keren? Mungkin masih bisa dihitung dengan jari dan Nikensari Pristandari adalah salah satunya. Gadis berperawakan mungil ini dapat dengan mudah kamu lihat di berbagai gig sedang membidikkan kamera kesayangannya, Canon Kiss X2, untuk situs musik Geeksbible.com atau beberapa media lainnya. “Keinginan buat motret penampilan band/musisi buat gue pribadi adalah untuk mendukung band lokal yang masih belum dikenal banyak orang dan sebagai media berbagi keriaan buat mereka yang nggak bisa nonton konser tertentu. Jadi ketika liat jepretan gue, mereka juga bisa merasakan euforia yang sama saat gue motret penampilan band/musisi itu,“ ungkap Niken tentang alasannya menjadi gig photographer, “Basically, gue sendiri cinta musik, dan menjadi salah satu bagian dari hal tersebut adalah menyenangkan.” Imbuhnya. Melihat sosok mungil dan pembawaannya yang kalem, mungkin kamu akan kaget mengetahui jika ternyata ia paling antusias memotret untuk gig-gig metal dan salah satu keinginan terbesarnya adalah memotret di Hellfest. Gadis berumur 21 tahun ini mengaku dirinya memang pendiam, namun jika melihat foto-foto bidikannya di akun flickr-nya (flickr.com/photos/nikenprista), kamu bisa merasakan emosi dan semangat dari objek fotonya. Apa tipsnya? “Baiknya sih survey dulu venue-nya di mana jadi kira-kira sudah siap angle photo yang mau diambil dan mau bawa lensa apa aja. Terus peka juga sama hal-hal yang berpengaruh pada hasil foto, misalnya lighting. Biasanya kalau venue cukup gelap, gue ngitungin waktu kapan lighting ini bisa pas nembak ke objek yang mau gue foto, atau pada lighting warna tertentu.”

Nastasha Abigail

Announcer/band manager

Berbincang dengan Nastasha Abigail sama menyenangkannya dengan mendengarkan siarannya di Trax FM. Ia ramah, approachable dan senantiasa menyelipkan joke segar dalam omongannya. Sebagai seorang announcer merangkap reporter untuk salah satu stasiun radio anak muda paling dikenal tersebut, Abigail memang kerap kali dijumpai di berbagai acara musik, baik yang berskala besar maupun gig-gig yang lebih kecil. Kini, selain siaran dan mendesain cincin buatan sendiri dengan nama Hullo, lulusan Jurnalistik UPH ini menambah resume dengan menjadi manajer untuk Zeke Khaseli, suatu tawaran yang secara spontan ia terima dengan antusias, walau ia mengaku masih dalam tahap belajar. Saya pun bertanya di umurnya yang ke-25 tahun ini, sampai kapan kira-kira ia ingin berkarier di bidang yang berhubungan dengan musik. “Gue sedang berada di comfort zone sebetulnya. Apalagi sebagai anak muda yang notabene budak konser, gue bersyukur dapet tiket-tiket gratisan, ketemu banyak teman baru, lokal dan internasional. Jadwal siaran pun membuat gue bisa melakukan banyak kegiatan lainnya. Kalau ditanya mau sampai kapan, itu gue agak bingung. Pernah sih kepikiran kerja kantoran dan menciptakan kestabilan hidup, tapi kayaknya gue nggak terlalu banyak punya baju rapi,” jawabnya sebelum menambahkan dengan tersenyum lebar “Menjamin mapan bukan berarti menjamin senang kan?”

As published in NYLON Indonesia April 2012

Fotografi oleh Muhammad Asranur