The Girl We Love, An Interview With Dylan Sada

Entah itu fotografi, modeling, atau menyanyi, Dylan Sada tak pernah kehilangan sentuhan ajaib dalam setiap hal yang ia lakukan. Next goal? Scare the shit out of you.

Ketika mendengar kabar Dylan Sada sedang berada di Jakarta, sama seperti banyak orang lainnya di ranah media dan fashion, secara instingtif kami langsung mengontaknya to do some project with her. Memiliki portofolio impresif di belakang maupun di depan lensa kamera, sosok wanita kelahiran Jakarta tahun 1984 ini telah menjadi cult tersendiri dan namanya bersinonim dengan kata It Girl bagi anak-anak subkultur lokal maupun New York City yang menjadi tempatnya bermukim saat ini. Walaupun kedatangannya ke Indonesia kali ini sebetulnya murni untuk vakansi, namun apa daya, semua orang tampaknya paham jika melewatkan kesempatan langka untuk bekerjasama dengannya secara langsung adalah hal yang bodoh. Alhasil, Dylan pun harus rela melakukan transisi dari pleasure ke business during her stay di Jakarta dengan jadwal yang padat akan interview dan pemotretan. Everybody wants a glimpse of her, that’s for sure.

Di akhir Juni tahun lalu, ia pun datang ke kantor Nylon demi mengeksekusi pemotretan cover Alex Abbad untuk Nylon Guys Indonesia dan seperti pertemuan kami setahun sebelumnya, ia datang lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan. Ia memang tak mengenal istilah jam karet yang kerap menjadi alasan orang Jakarta, namun satu hal yang tidak bisa ia tolak adalah appetite untuk makanan Indonesia setelah sekian lama merindukannya. “Nggak ada willpower lagi, semua dimakan!” cetusnya sambil tertawa renyah.“Pertama kali sampai di Jakarta aku langsung ke restoran Padang. Terus aku senang banget kaya nunggu jam 6 sore nunggu tukang martabak keluar. Aku senang aja duduk di pinggir jalan, ngobrol sama orang lokal,”sambungnya dengan senyuman lebar.

Ditemani oleh sang suami (“sahabat, an ally slash supporter,” menurut Dylan), ia mengaku sangat senang bisa pulang ke Indonesia yang tak sekadar untuk berlibur, tapi juga membangun network lagi dengan industri kreatif lokal. “Pulang-pulang ke Indonesia banyak sekali hal baru, oh man, I feel like everyone has their own label or restaurant. Aku kaya yang ‘Wow anak-anak umur segini udah bisa, gue di umur segitu mungkin masih panjat pohon.’ I’m really proud, so many talented people that need some spotlight, jadi aku banyak jalan-jalan, kenalan-kenalan aja. Seru,” paparnya antusias. Salah satunya seperti yang terlihat di Instagram Nikicio di mana Dylan bersama figur wanita keren lainnya seperti Chitra Subyakto, Ayla Dimitri, dan Eva Celia basically just hanging out and looking awesome together.“I’ve been a long time supporter for her works,” ujar Dylan tentang Nina Nikicio. “She really love what she does and it shows. Kemarin aku juga pertama kali ketemu sama Ayla, terus akhirnya ketemu sama Chitra dan Eva setelah selama ini cuma sebatas internet. Meeting them in person is really fun.”

            Saat disinggung soal current obsession saat ini, secara mengejutkan Dylan mengaku jika ia sebetulnya masih mencari dan mengeksplor hal yang ia benar-benar suka dalam dunia fotografi yang ia geluti. “Selama ini aku kira fashion, tapi kayanya masih eksplor juga. Aku senang dengan fotografi karena nggak ada limit umurnya. Aku rencananya ingin lebih banyak travel and seeing things. My current obsession is to make good works, so many people reaching out to me, and I never really like my works, and now it drives me to make a better work. So that’s my obsession right now… Working again, being creative again, and Indonesian food,” tandasnya optimis.

Photography aside, Dylan yang berasal dari keluarga dengan darah musik yang kental dan telah berlatih vokal sejak kecil bersama ibunya juga berniat menyanyi kembali. “Lagi mau kolaborasi sama teman aku, kita mau bikin yang nyinden pakai gamelan,” bocornya. Jika selama ini masih jarang orang yang mengenal Dylan sebagai penyanyi, mungkin karena memang dari dulu Dylan selalu memilih menyanyi di balik layar, mostly menyumbangkan vokalnya untuk berbagai iklan. ”Nggak pernah mau jadi frontman, sukanya di belakang.layar. Aku mau orang hanya fokus dengan suara aku. Aku bukan penyanyi terbaik, tapi aku senang aja sih nyanyi, people think ‘Kenapa lo bilangnya lo fotografer?’ Well, the reason is kalau orang baru kenal, kalau aku bilang aku penyanyi pasti kaya disuruh nyanyi, so I don’t say that, I’m just gonna say I’m photographer,” tukas Dylan.

Wanderlust and always curious to try something new, merupakan hal yang natural jika ia mengaku masih banyak hal yang ingin ia lakukan. Salah satunya adalah berkolaborasi dengan duo sutradara The Mo Brothers. “Kalau jujur sih aku ingin banget proyek main film sebagai hantu,” ujarnya serius. “Life goal aku itu aneh, aku mau jadi hantu yang paling seram yang pernah kamu tonton di screen, I’m gonna scare the shit out of you, people!” tutupnya dengan gelak tawa.

01

Dylan Sada’s favorites:

EATING

Oh man, pertama kali sampai di Jakarta, aku nggak suka manis, tapi aku abisin martabak manis satu loyang, piring sampai aku jilat. Langsung nggak mikirin berat badan.

SCARY MOVIE

Classic ones like John Carpenter. I love sci-fi horror like Alien, tapi Rosemary’s Baby juga suka. Aku suka horror yang lebih seram secara imajinasi tapi Suzanna lah nggak ada yang ngalahin.

TRAVEL PLAN

Honestly Indonesia. People always want to keliling dunia, but Indonesia is so beautiful. Aku pengen keliling Indonesia dulu. Ke Flores, Malang, ke Pulau Sempu, mau ke Bromo juga belum pernah.

CELEBRITY CRUSH

Adrien Brody, but for female, I’ve been watching Mad Max and Charlize Theron is so awesome, she’s like my girl crush forever and I always have eternal crush for Björk.

TV SERIES

Game of Thrones! Lagi suka banget. The books also really good, sekarang ceritanya juga mulai melenceng dari bukunya dan orang-orang langsung pada stress.

 

Advertisements

Style Study: 5 Labels You Should Know From NYFW Fall/Winter ’14

It’s definitely been a long time since I wrote about fashion week. I used to do that every single seasons back on my Tumblr heydays, but on the recent years, I even barely pay any attention anymore to my favorite labels like Proenza Schouler, Rodarte, Alexander Wang, etc. I’ve lost track about their recent collections, let alone knowing the who’s who in the industry nowadays. Today, I woke up feeling nostalgic about my past endeavor as Fashion Week reviewer and how I’ve been dreaming to actually attend the shows someday so I decide to skimming most of the New York Fashion Week Fall/Winter 2014 shows, and in the process, I educated myself about some of the most interesting new labels, fresh designers, and probably the new fashion It Kids. Here’s my short list:

Public School: Maxwell Osborne (left) & Da0-Yi Chow (right)
Public School: Maxwell Osborne (left) & Da0-Yi Chow (right)

PUBLIC SCHOOL

Dao-Yi Chow and Maxwell Osborne, the two masterminds behind this NYC-based menswear label, had gain some buzz when they receive the prestigious CFDA/Vogue Fashion Fund Award last year, so its probably not surprising to saw Anna Wintour and her daughter, Bee Shaffer, sitting in the front row of Public School’s first formal show this season. Put the hype aside, they’re proving they’re more than ready to open their school of style to the public. The show was started by Asian male model (hey, that’s unusual) in the monochromatic flannel, jeans, wide hat, and cape. Thanks to American Horror Story: Coven, I’ve been obsessing over wide hat and cape lately, and to see them wore by men, I’m very thrilled even though they probably not taking the reference from the New Orleans witches. Accessorized with scarves underneath the hat, they’re giving an ode to Jewish rabbis in the downtown New York, while the pastoral neck on some pieces hinting a Catholic preacher aesthetic.

PublicSchool

The collection itself is very urban, very New York, very modern. Its like a refined mix of sportwear and tailored suits in neutral hues, with heavy emphasis on their outerwears (cape, jacket, blazer, coat) and for the first time, they also create some women wears that ooze the same relaxing cool vibes as their male counterpart. Like a proper runway debut, they don’t need any gimmicks, they let the clothes speaks for themselves and it’s a big hit. Some people are giving them standing ovation while Mrs. Wintour clapping her approval, and it’s easy to understood. It’s very smart collection and Public School bringing their A-level game to teach us how the cool guys and girls should wear in public.

Maria ke Fisherman: Victor Alonso and Maria Lemus
Maria ke Fisherman: Victor Alonso and Maria Lemus

Maria ke Fisherman

Founded by Maria Lemus and Victor Alonso in 2011, the Madrid-based label is well known for their edgy streetwears that combines futuristic design with references from 90’s pop culture. For their New York debut, the duo are not afraid to show their signature colors which includes cotton-candy knitwear, crop tops, tracks pants, platform sneakers, and crochet sweaters. It’s basically “Monsters University mixed with Korean hookers and the way hip-hop singers dressed in the nineties, especially when they went to Aspen to ski,” explains the duo themselves about the daring collection which must be worn with certain kind of self-mocking and humorous attitude.

mariakefisherman

What comes in my mind is Akihabara’s cyberpunk meets hip-hop meets 90’s MTV. The spaghetti-straps denim dress is like straight from Posh Spice’s wardrobe in her Spice World era while combination of black bra and plaid pleats mini skirts looks like a homage to Britney’s Baby One More Time. The fluffy sweaters fully adorned with MkF insignia in pixel bit colors is right on the hook and show us that they’re ready to play.

Calla Haynes and her cho chow, Lilybear.
Calla Haynes and her chow chow, Lilybear.

CALLA

I love when designers have some fascinating story to backing up their new collection. In the Calla Haynes’ mind, her Fall/Winter 2014 collection is about a heartbroken French belle who moves to Nashville in the 60’s and bring along her wide array of cute retro dresses, tweed boyfriend blazer, and belted coats. Mixing a Parisian chic with American girl’s aesthetic such as varsity jacket, pleated skirts, and oversized sweatshirts, Miss Calla staying true to her relaxed luxury which all about young, dreamy yet vibrant feminine looks that could be taken straight from Lula magazine’s fashion spread.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Print is always a biggest forte for the Toronto-born, Paris-based designer who used to work with Olivier Theyskens and Nina Ricci. This season, she based the playful prints from her chow chow pet called Lilybear while bringing some fresh colors like minty ice and strawberry sorbet to the traditionally subdued season.

Katie Gallagher
Katie Gallagher

Katie Gallagher

Talk about witches, Katie Gallagher presumably show us how witches would look like if they’re exist in The Matrix universe at her first proper seated runway presentation. The High Line hotel, with its stained glass windows and fireplace, is a perfect place to showcasing her famous goth overtones collection. Models with their pale skins, slick wet hair, slouchy hair bows, and deep blood lip colors strutting the runway draped with chiffon ornamented jackets, flowing skirts, fluid looking nylon pieces, bare midriffs, and utilitarian coats. 

Katie Gallagher

Consist of nothing but black, vampy red, and a strike of silver fur, its something that girls like Claire Boucher and Fairuza Balk will wear proudly. It’s sleek, mysteriously cool, and sexy just like the designer herself who have Jared Leto as her biggest supporter. While Katie Gallagher is not really a newbie, this season marks another collection that reminds about she’s one of the new bloods to be reckoned.

Hyein Seo
Hyein Seo

Hyein Seo

Halloween comes early this year. The young South Korean designer might still in the middle of pursuing her master degree at Royal Academy of Fine Arts in Antwerp, but with her New York debut collection called Fear Eats The Soul, she shows no fear whatsoever to have fun in her designs. At the first glance, they might looks very kitsch, especially when you think of Antwerp as her educational background. Antwerp is mainly associated with very avant-garde designers while Seo’s design feels young and dynamic, and will fits in any style hub streets. From Seoul, Paris, London, and of course, New York.

hyein_seo

A mix of 80’s B-movie horror flicks and streetwear, the collection have a gooey-like “FEAR” word emblazoned in almost every pieces from head to toe. From hairpiece, choker, dresses, to faux fur coats with spooky faces that reminds you with the killer from Scream. While honestly it had a bit of reminiscent from Meadham Kirchhoff and early Jeremy Scott, I can’t wait to see what the future hold to Hyein Seo. Fear no more.

FEAR

I must admit it was fun to write about fashion week again and try to predict the next trends. From what I’ve seen, I think we should ready for 90’s revival and sporty urban aesthetic. Until another fashion week!

World Citizens, An Interview With Young Magic

Young Magic mendokumentasikan setiap kota dan memori dalam perjalanan lewat album debut mereka, Melt. 

Hi Lex, sorry for the long delay, we’ve just got back from a crazy time in Texas,” demikian Melati Malay, vokalis/gitaris dari trio kolektif musisi Young Magic, membuka email balasan interview yang memang telah cukup lama saya tunggu. Perjalanan mereka ke Texas untuk tampil di SXSW memang bisa dibilang cukup gila di mana Melati bersama dua rekannya, Isaac Emmanuel (vokalis/sampler) dan Michael Italia (perkusi/sampler) harus hitchhiking ke venue festival tahunan tersebut dan berhadapan dengan soundman yang tidak becus sehingga show pertama mereka cukup berantakan. Untungnya, penampilan kedua mereka yang mendapat jadwal sebelum Chairlift adalah kebalikannya, semua berjalan lancar dan mereka bisa tampil maksimal.

Well, berkendara ke Texas selama 30 jam dan harus langsung naik ke atas panggung begitu sampai memang terdengar tak menyenangkan, namun mereka bertiga telah terbiasa dengan perjalanan jauh, termasuk ke Reykjavik untuk tampil di Iceland Airwaves bulan Oktober lalu, tour keliling Amerika Serikat dan Kanada bersama Youth Lagoon, dan saat membalas email ini pun mereka sedang berada dalam mobil dari Washington DC menuju Chicago untuk mini tour bersama Korallreven. Proyek musik ini berawal saat Isaac meninggalkan rumahnya di Australia dengan hanya membawa sebuah koper untuk menyusuri Eropa, New York lalu ke Meksiko sambil membuat musik dengan instrumen apapun yang bisa ia temukan. Saat di Meksiko, ia menghubungi teman lamanya di Melbourne, Michael, yang ternyata juga sedang melakukan perjalanannya sendiri sambil membawa alat perekam portable untuk dokumentasi. Mereka memutuskan bertemu di New York bersama teman lama mereka, Melati, seorang vokalis kelahiran Indonesia yang berdomisili di Brooklyn dan akhirnya sepakat menyatukan musik masing-masing dengan menyewa tempat di atas bekas panggung cabaret tahun 1920-an di kota Big Apple tersebut. “New York mempunyai sejarah menarik tentang imigran, kaum nomad, dan budaya para pemikir revolusioner. Saya ingin dikelilingi energi tersebut dan berharap mendapat pengaruh dari hal itu.” tukas Melati tentang keputusan mereka berlabuh di New York.


Hasil dari tiga kepala dengan tiga cerita perjalanan yang berbeda tersebut adalah Melts, sebuah album debut rilisan Carpark Records yang mengaburkan batas masa lalu dan masa depan lewat unsur world beats, psych, dream pop hingga hip hop yang terwujud dalam lagu-lagu seperti “Sparkly”, “You With Air”, “Night In The Ocean”, termasuk lagu berjudul “Jam Karet”. Setiap lagu adalah kolase bunyi wanderlust yang dibuat di 10 kota dunia, meliputi Buenos Aires, Berlin, Melbourne, Bristol, Rio de Janeiro dan tentu saja, Brooklyn. “Saya rasa, unsur wanderlust itu adalah bagian tak terpisahkan dari kami dan tak sebatas eksplorasi dalam bermusik saja, namun juga menyentuh keseharian dan rencana kami yang akan datang. Tempat terbaik bagi saya adalah berdiri di ujung tebing sambil melihat lautan kemungkinan yang tak berujung. Musik kami adalah suara yang tercipta jika ada satu atau dua lapisan yang tercuri dari dunia nyata. There aren’t defined edges or obvious outlines that slap you in the face, instead, it all tends to bleed into each other.” ungkap Melati yang lahir di Jakarta dan menghabiskan masa kecilnya di Indonesia dengan naik kuda di Bromo, menyaksikan lelehan lahar Merapi dan belajar bermain Gamelan di kota asal ibunya, Yogyakarta.

Saat ditanya tentang musisi yang berpengaruh dalam musik mereka, Melati justru memberikan saya link ke beberapa mixtape yang telah mereka buat, dan salah satunya adalah The Maps, sebuah mixtape berisi lagu musisi favorit mereka (Prince Rama, Dom Salvador, Dorothy Ashby, dll), rarities, remixes, demo dan lagu-lagu b-side dari Melts yang bisa diunduh gratis di cargocollective.com dan juga diproduksi dalam bentuk kaset yang dikemas dengan halaman-halaman berwarna National Geographic. Sebuah langkah menarik yang juga memperkuat musik mereka yang memang kental dengan berbagai cultural image. Seperti biasa, saya menutup interview ini dengan bertanya tentang next project mereka sebelumnya, yang dijawab cepat oleh mereka dengan kalimat. “Another album, another adventure, another story.”

As published in NYLON Indonesia June 2012