Movie Review: Aruna & Lidahnya

Bersama Aruna & Lidahnya, Edwin dan Palari Films mengajak kita bertualang dalam rasa dan romansa.

Tidak dianjurkan menonton film ini dalam kondisi perut kosong.

Itu pesan paling penting yang bisa saya berikan padamu tentang Aruna & Lidahnya, film terbaru garapan Edwin yang dipersembahkan oleh Palari Films. Kenapa? Well, karena film ini bertabur sajian-sajian lezat yang dihadirkan dengan begitu menggoda mata dan imajinasi sekaligus memancing respons alami kita untuk menjilat bibir, menelan ludah, atau menahan bunyi perut yang tiba-tiba. Intinya, tidak ada yang lebih menyiksa dibanding menonton film ini sambil kelaparan.

Diangkat dari novel karya Laksmi Pamuntjak, film ini bercerita tentang Aruna (Dian Sastrowardoyo), seorang penyandang titel ahli wabah di atas kertas dan pemuja kuliner di hati. Aruna termasuk penganut paham “hidup untuk makan” di mana makan adalah kegiatan paling menyenangkan baginya, entah itu sendirian atau bersama sahabatnya, Bono (Nicholas Saputra), seorang chef muda dengan palet lidah dan keterusterangan yang sama tajamnya.

Masakan lezat nyaris seperti obsesi bagi Aruna dan salah satu obsesi terbesarnya adalah racikan resep nasi goreng yang kerap dimasak oleh sang mbok sejak ia kecil. Berulang kali ia mencoba memasak nasi goreng tersebut, berulang kali juga ia gagal mereplika rasanya. Bono pun mengusulkan agar mereka melacak resep itu sampai ke kampung halaman sang mbok di Pontianak.

Kebetulan, mencuatnya kabar tentang wabah flu burung yang mulai menjangkiti manusia membuat Aruna ditugaskan kantornya untuk menyelidiki kasus tersebut di empat kota yang berbeda: Surabaya, Pamekasan (Madura), Pontianak, dan Singkawang. Bersama Bono, perjalanan dinas itu turut menjadi wisata kuliner dengan daftar panjang  makanan yang harus mereka cicipi di kota-kota tersebut: Rawon Surabaya, Soto Ayam Lamongan, Kacang Koah, Campor Lorjuk, Pengkang, Bakmi Kepiting, Choi Pan, dan tentunya, nasi goreng yang konon serupa cita rasanya dengan nasi goreng si mbok.

aruna

Petualangan tersebut makin lengkap dengan hadirnya Nadezhda (Hannah Al Rashid), sahabat keduanya yang membuat hati Bono mencair, serta Farish (Oka Antara), mantan supervisor merangkap cinta lama Aruna yang membuat lidahnya kelu. Bersama Farish yang kini kembali menjadi rekan satu timnya, Aruna mengunjungi beberapa peternakan unggas dan para pasien terindikasi flu burung.

Berbeda dengan Aruna dan dua sahabatnya, Farish sepintas berada di kutub yang berbeda. Ia kaum yang “makan untuk hidup”, yang menganggap makanan hanya untuk mengisi perut yang kosong. Namun, hal itu tak lantas menyurutkan dinamika yang perlahan mengalir dari satu meja makan ke meja makan lainnya. Percikan-percikan afeksi yang belum terungkap antara Aruna dan Farish, antara Bono dan Nad, serta letupan kecemburuan Aruna dan Bono melihat keakraban Nad dan Farish membumbui perjalanan mereka yang kaya rasa baik di lidah maupun di hati.

Dalam investigasinya, Aruna menemukan beberapa kejanggalan tentang data yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan serta sosok-sosok berpakaian steril yang seakan menyebarkan ketakutan akan wabah tersebut. Kecurigaan tersebut memperdalam konflik internal dirinya terhadap Farish. Tentang perasaannya yang terpendam, tentang hubungan rahasia Farish, dan dugaan bahwa isu flu burung ini hanya lahan basah untuk praktik korupsi.

Di Singkawang, rasa curiga berbalut benturan ego pun memuncak dan menyebabkan riak di antara keempat orang ini, namun, lagi-lagi makanan menjadi mediator terbaik. Pada akhirnya, ketika semua pertanyaan telah dijawab dengan terang-benderang, maka makan bersama orang-orang tersayang pun terasa lebih nikmat dan lidah Aruna tak lagi kelu.

aruna3

Aruna & Lidahnya merupakan film kedua Edwin bersama Palari Films setelah Posesif (2017). Keduanya adalah karya Edwin yang tergolong komersial dibanding film-film terdahulunya yang lebih bersifat arthouse. Namun, dalam film ini pun Edwin tak kehilangan sentuhannya. Racikan khas Edwin masih terasa lewat sinematografi lanskap langit/pemandangan, tone warna yang dreamy, serta surrealism yang terselip di beberapa adegan, utamanya di dua adegan mimpi Aruna yang lumayan absurd di mana ia memeras jeruk nipis langsung ke lidahnya dan menyebutnya “asin” serta adegan lain di mana ia meminum air laut dengan sedotan panjang lalu mencetuskan “tawar” tentang rasanya. Kedua adegan alam bawah sadar ini adalah cerminan bahwa memang ada yang salah dalam lidah seorang Aruna. Tak hanya tentang rasa, tapi juga perasaan.

Yang menarik dan membedakan film ini dari karya sebelumnya adalah bumbu humor dalam takaran yang pas. Bila biasanya film Edwin cenderung fokus pada satu atau dua tokoh, film ini menghadirkan empat karakter utama yang perannya bisa dibilang sama penting. Walau tak bisa dipungkiri bila Aruna memang tokoh utama dan poros cerita, yang diperkuat dengan kemampuan breaking the fourth wall, namun tanpa kehadiran Bono, Farish, dan Nadezdha, niscaya film ini rasanya akan hambar, atau seperti yang diungkapkan Bono dalam sebuah adegan: Lauk dalam makanan bisa terasa terlalu asin atau terlalu pedas kalau hanya dicicipi satu per satu, baru ketika semua komponen lauk di piring diambil sedikit-sedikit lalu dilahap dalam satu sendok maka nikmatnya baru terasa maksimal.

aruna1

Untungnya, chemistry di antara Dian, Nico, Oka, dan Hannah berhasil disajikan dengan begitu renyah, Tanpa adanya chemistry yang pas di antara para pemain, film ini akan langsung bubar jalan. Keempatnya berhasil membungkusnya dengan celetukan ringan, komentar usil, dan gestur-gestur kecil yang seringkali berbicara lebih lantang dibanding sekadar dialog. Yang juga menarik adalah film ini memberikan kesempatan bagi keempat tokoh untuk lebih mengenal satu sama lain dengan lebih intim. Tak hanya berputar pada Aruna dan Farish saja, kita juga bisa melihat dinamika antara Aruna dengan Bono, Bono dengan Nad, Nad dengan Farish, Farish dengan Bono, lalu tentu saja momen Aruna dengan Nad yang menampilkan dinamika antara perempuan dengan begitu real: mulai dari meminjamkan pembalut hingga obrolan tentang cinta dan pentingnya membawa kondom.

aruna2

Bagaimanapun, cerita tentang empat orang dewasa muda yang telah ajek dalam karier namun masih gamang dalam urusan cinta memang belum terlalu banyak kita temukan di menu film Indonesia yang terkesan itu-itu saja, dan hal itu yang coba ditawarkan dalam film ini.

Bila indikator kesuksesannya adalah penonton yang mendecakkan lidah setiap visual makanan terpampang di layar dan ikut tertawa di adegan atau dialog yang memang diharapkan mengundang senyum, maka film ini rasanya telah berhasil menuntaskan dahaga tersebut.

Aruna & Lidahnya tayang di bioskop tanggal 27 September 2018

 

Film Strip: Drupadi, Sebuah Penantian Yang Terjawab

Drupadi Poster

Tak hanya dendam dan rindu, keinginan untuk menyaksikan sebuah film pun harus dibayar tuntas, tak peduli selama apa harus menunggu.

Full disclosure: ini adalah review yang terlambat hampir enam tahun. Disutradarai oleh Riri Riza dan diproduksi oleh SinemArt Pictures, Drupadi sejatinya adalah film yang dirilis pada bulan Desember 2008 silam. Bergenre Art House serta kental elemen visual dan musikal, film ini ibarat sebuah mitos tersendiri bagi kalangan penikmat film lokal sejak pertama kali ditayangkan di Jiffest 2008. Ramai dibicarakan, namun di saat yang sama sulit untuk diakses khalayak yang lebih luas karena tak pernah ditayangkan di bioskop umum dan seakan menjadi film khusus festival dan special screening saja. Saya termasuk orang yang belum pernah menonton film ini dan mencatatnya ke dalam daftar must watch movies pribadi saya, dan akhirnya keinginan tersebut tertebus kemarin (05/10) di sebuah screening yang diadakan oleh Muvila.com di Galeri Indonesia Kaya, di mana film ini menjadi film penutup dalam rangkaian pemutaran film garapan Miles Production seperti Gie dan Ada Apa Dengan Cinta? selama dua hari sebelumnya.

Bicara tentang Drupadi, berarti bicara tentang Dian Sastrowardoyo. Namanya lekat menempel dalam screen title film ini dan memang poros utama Drupadi terletak pada sosok aktris sejuta pesona tersebut yang menjadi salah satu produser bersama dua produser lainnya, yaitu Mira Lesmana dan Wisnu Darmawan, sekaligus peran utama sebagai the eponymous Drupadi dari epos Mahabharata.
Bila hikayat klasik yang berasal dari India tersebut umumnya berfokus pada konflik antara keluarga Pandawa melawan keluarga Kurawa, maka adaptasi ini dibesut dari sudut pandang Drupadi, seorang putri Kerajaan Panchala yang terlahir dari api, menjadi istri para Pandawa dan secara tak langsung menjadi penyebab Perang Bharatayuddha. Dibagi dalam beberapa babak layaknya pertunjukan wayang, kita diperkenalkan bagaimana Drupadi menjadi sebuah hadiah dalam sebuah sayembara untuk mencari pendamping hidup untuknya.

D1-drupadi-25-c

Dalam sayembara memanah yang diikuti oleh para ksatria terbaik tersebut, terselip Arjuna (Nicholas Saputra), salah seorang Pandawa yang menyamar dalam balutan jubah Brahmana. Anak panahnya tepat sasaran mengenai bunga lotus di atas permukaan kolam yang menyebabkan kelopaknya pecah menjadi lima. Seolah mewakili jika Pandawa sesungguhnya adalah lima kakak beradik dan menepati janji kepada ibunda mereka, Dewi Kunti, apapun yang dimiliki seorang Pandawa otomatis menjad milik empat Pandawa lainnya, tak terkecuali Drupadi yang kemudian menjadi istri bagi kelima Pandawa sekaligus: Yudhistira (Dwi Sasono) putra sulung yang ditakdirkan menjadi raja di antara raja, Bhima (Ario Bayu) yang kuat dan emosional seperti raksasa namun memiliki hati yang lembut, Arjuna yang luar biasa tampan dan menjadi cinta sejati Drupadi, dan si kembar Nakula dan Sadewa (Aditya Bagus Santosa dan Aditya Bagus Sambada). Drupadi menjalani perannya sebagai istri untuk lima pria sekaligus dengan penuh khidmat dan semua baik-baik saja sampai akhirnya datang undangan oleh keluarga Kurawa, sepupu sedarah yang selalu dengki pada para Pandawa.

Yudhistira sebagai pemimpin memutuskan untuk menyambut undangan tersebut walau sudah diperingati oleh adik-adiknya dan Drupadi. Maka, berangkatlah rombongan Pandawa ke istana kediaman Kurawa demi menanggapi permainan dadu penuh muslihat yang dipimpin oleh Sakuni (Butet Kertaradjasa), paman mereka yang licik dan licin. Dadu yang terbuat dari tulang manusia tersebut menjadi petaka. Satu per satu milik Yudhistira dipertaruhkan di atas meja judi. Harta, tahta, dan bahkan jiwa adik-adiknya serta dirinya sendiri. Semua jatuh menjadi milik Suyudana (Whani Darmawan), hingga akhirnya Yudhistira hanya punya satu pertaruhan terakhir: Drupadi. Its all or nothing, and he gains nothing.

drupadi021
Drupadi pun diseret secara kasar oleh Dursasana (Djarot Dharsana) bagai seekor kuda dan dipermalukan di istana yang terhormat tersebut, sementara kelima suaminya serta para tetua yang ia hormati hanya bisa terdiam. Di antara rasa malu, marah, dan frustrasi, Drupadi berontak dan berteriak lantang memperjuangkan harkatnya sendiri sebagai seorang wanita yang dipertaruhkan oleh suaminya sendiri di meja judi. Ia mempertanyakan apakah Yudhistira yang bahkan sudah menggadaikan dirinya sendiri masih mempunyai hak atas Drupadi. Lolongan Drupadi memecah malam dan di tengah kegentingan saat hendak ditelanjangi oleh para Kurawa, keajaiban muncul. Kain yang membelit tubuhnya secara ajaib seakan tak pernah habis hingga akhirnya para Kurawa kelelahan.
Drupadi terhindar dari noda, namun ia masih memendam dendam seperti api. Ia bersumpah, ia tidak akan mengikat rambutnya sampai bisa membilas rambutnya dengan darah dari para orang yang telah menginjak kehormatannya. Film pun ditutup dengan visualisasi pertempuran penuh darah selama 18 hari antara para Pandawa dan Kurawa.

Drup
Setelah 6 tahun menunggu, is it worth the wait? Jawabannya adalah iya. Durasi film ini hanya 40 menit, yang cukup “nanggung” karena terlalu panjang untuk disebut film pendek, pun terasa terlalu singkat untuk menjadi film feature. Namun saya menikmati sekali setiap momen dalam film ini. Baik dari visual, cerita, maupun musik. Tim yang terlibat dalam film ini bisa dibilang sebagai dream team. Riri Riza di bangku sutradara dan penata kamera Gunnar Nimpuno menyajikan bahasa visual dan directing yang luar biasa indah yang diperkuat costume design dan styling jenius oleh Chitra Subijakto serta musik gamelan yang ditata oleh Djaduk Ferianto. Sementara Leila Chudori sebagai penulis naskah berhasil mengadaptasi hikayat kuno ini dalam konteks perempuan lintas zaman. Drupadi adalah sosok perempuan yang terjebak dalam konstelasi politik yang didominasi para pria dan di masa perempuan seringkali dianggap hanya sebagai komoditas dan objek. Ia berani bersuara menyerukan protes kepada suami dan tetua adat, dan ia mungkin salah satu dari sedikit sosok wanita berpoliandri yang dicatat sejarah. Semua cast tampil gemilang, tak terkecuali para ekstra di keluarga Kurawa yang semuanya merupakan penari dari padepokan seni Bagong Kussudiardja.

Dian Sastro yang turut hadir menonton dalam screening kemarin pun mengaku sangat antusias dan jauh lebih menikmati film ini dengan kapasitas seorang penonton. Jauh berbeda saat ia merilis film ini 6 tahun lalu dengan beban tersendiri sebagai produser dan pertarungannya dengan para “kurawa” di dunia nyata seperti FPI dan konflik antara FFI dan MFI. Film ini sendiri juga sempat kena cekal oleh World Hindu Youth Organization (WHYO) yang membuat film ini sulit diputar secara umum pada waktu itu. Dalam diskusi mini setelah screening, Dian yang sudah menjadi ibu dari dua orang anak dengan gaya berbicaranya yang penuh semangat menceritakan bagaimana ide film ini muncul setelah ia terlibat syuting film epik Putri Gunung Ledang garapan Malaysia dan merasa terbakar semangatnya untuk mengangkat cerita legenda Indonesia yang sebetulnya jauh lebih beragam. Dalam behind the scenes film ini yang juga ditayangkan kita bisa melihat bagaimana Dian 6 tahun lalu adalah gadis jurusan Filsafat yang sangat kritis dan dengan berapi-api mengajak para perempuan untuk berpikir cerdas dan membela diri mereka sendiri. Mungkin melihat dirinya yang dulu di video tersebut, Dian yang sekarang pun mengaku timbul semangat baru dalam dirinya. Ia membocorkan rencana merilis Drupadi dalam bentuk DVD dan dengan setengah bercanda menyampaikan harapannya untuk kembali menjadi produser. Bagaimanapun, dunia film adalah dunia yang membesarkan namanya, dan selalu ada tempat tersendiri bagi Dian di hati penikmat film Indonesia, entah sebagai aktris maupun produser.

Dilihat dari banyaknya review positif dan orang-orang yang menulis tentang film ini setelah menyaksikannya kemarin, Drupadi seolah bangkit kembali dari tidur panjang. Seperti api, ia berkobar kembali. Dan kita pun berharap, ambisi produser dalam diri Dian juga akan segera kembali terbakar.

Film Strip: Geliat Tiga Film Festival Indonesia

Baru-baru ini saya berkesempatan untuk menonton tiga film kelas festival Indonesia yang berjaya di festival-festival film luar negeri namun masih minim rekognisi dari negeri sendiri. Here’s my two cents about those three movies.

SWONSHB

SOMEONE’S WIFE IN THE BOAT OF SOMEONE’S HUSBAND
Sutradara: Edwin

Berbicara film-film Edwin, berarti bicara tentang film sebagai medium berpuisi. Puisi berbahasa visual yang membuai mata penonton sekaligus memberi kesempatan bagi setiap orang untuk mengartikannya sesuai nalar masing-masing. Dalam film panjang terbarunya, Someone’s Wives In The Boat of Someone’s Husband, Edwin menggunakan insting sebagai instrumen utamanya bernarasi di samping kejelian matanya untuk menangkap visual-visual cantik sarat makna.
Tanpa naskah, tanpa survei lokasi pra-syuting, tanpa apapun selain niat bikin film, Edwin dan tim kecilnya yang meliputi Nicholas Saputra dan Mariana Renata datang ke Desa Sawai di Pulau Seram, Maluku, dengan berbekal sekelumit ide cerita hasil interpretasi dari cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Cinta di Atas Perahu Cadik. Di film ini, Mariana adalah seorang perempuan yang datang ke Sawai untuk melacak sebuah legenda tentang kisah cinta terlarang Sukab dan Halimah. Sukab adalah seorang pelaut. Dia juga suami orang. Halimah pun istri orang. Namun, keduanya nekat pergi naik perahu bersama dan tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Dengan gigih, Mariana bertanya soal kebenaran legenda itu kepada para penduduk lokal Sawai yang tentu saja tidak pernah mendengar legenda yang sebetulnya memang tidak pernah benar-benar terjadi di daerah itu.
Di sudut lain pulau tersebut, ada seorang pria muda yang diperankan Nico yang juga gemar mendengarkan hikayat para penduduk lokal. Sama seperti sang perempuan, pria ini juga seorang pendatang. Jelas hanya masalah waktu sebelum keduanya berpapasan. Ketika itu terjadi dalam suatu pagi yang canggung, terungkap jika sang pria bernama Sukab, persis seperti legenda yang dibawa oleh sang perempuan yang tidak pernah kita kenal namanya. Sukab yang tertarik pada cerita yang dibawa sang perempuan akhirnya ikut menemaninya mencari jejak-jejak imajiner Sukab dan Halimah dalam rentetan dialog tentang pencarian dan gambar-gambar cantik panorama Sawai yang membingkai film berdurasi 55 menit ini.
Banyak adegan dalam film minim skenario ini terjadi secara spontan dengan mengandalkan stimulasi dari percakapan dengan penduduk lokal dan alam Sawai yang memang menginspirasi sehingga Edwin bisa dibilang sedang melakukan pertaruhan kepada isi cerita film ini sendiri. Sebagai film panjang, film ini pada akhirnya memang lebih terasa seperti kolase adegan-adegan puitis yang membiarkan interpretasi kita terombang-ambing dengan bebas. Namun, dengan panorama Indonesia Timur yang masih murni dan aura Mariana Renata yang begitu memesona membuat film ini cantik secara literal. Di bulan April ini, film ini beserta film produksi babibutafilm lainnya seperti Rocket Rain, Postcards From The Zoo, dan Babi Buta Yang Ingin Terbang akan diputar di Kineforum secara berkala. Follow @Kineforum dan @babibutafilm untuk infonya.

Something in the Way
Something in the Way
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja

Kehidupan malam di jalanan Jakarta yang gritty belum berhenti menginspirasi sutradara Teddy Soeriaatmadja. Setelah di film sebelumnya, Lovely Man, ia mengangkat kisah seorang transgender, kali ini Teddy kembali turun ke jalan untuk membuat film ketujuhnya, Something in the Way.
Terbagi menjadi tiga chapter, chapter pertama berjudul “Ahmad” mengenalkan kita pada seorang supir taksi bernama Ahmad (Reza Rahadian) yang hidup dalam dua ekstrem. Di satu sisi ia adalah seorang muslim taat, namun, di sisi lain ia juga seorang pria muda yang frustrasi secara seksual dan menyalurkan kegelisahannya dengan bermasturbasi di segala kesempatan, entah itu di taksi ketika ia menunggu penumpang ataupun di unit rumah susun miliknya sambil menonton DVD porno yang berserakan di lantai kamarnya, di lantai yang sama dengan tempat ia menggelar sajadahnya.
Chapter kedua, “Change”, mempertemukannya dengan seorang PSK bernama Kinar (Ratu Felisha) yang ternyata tinggal berseberangan di rumah susun yang sama dengan Ahmad. Pertemanan yang terjalin berujung pada one nite stand, dan Ahmad pun merasa menemukan cinta yang ia cari. He’s simply smitten by the prospect of love dan menjadi pahlawan bagi sang damsel in distress. Semuanya bermuara di chapter ketiga “Righteousness” ketika Ahmad setelah mendengarkan ceramah ustadz tentang jihad, menemui Pinem (Verdi Solaiman), mucikari tempat Kinar bernaung, hanya untuk tertampar pada kenyataan dan terbangun dengan mata gelap dan simbah darah.
Dari nuansa yang dibangun sejak awal film, jelas kita cukup tahu diri untuk tidak berharap banyak adanya happy ending. Namun, akhir cerita yang seperti dipaksakan tragis dalam iringan simfoni “Air on the G String” karya Bach tetap terasa pahit, whether you already anticipate it or not.

Jalanan

Jalanan
Sutradara: Daniel Ziv

Sebagai founder dari majalah Djakarta! yang kerap mengupas ibukota kita dengan cara yang witty, tidak mengherankan jika Daniel Ziv yang sejatinya adalah seorang ekspat asal Kanada bisa melihat Jakarta dengan kacamata yang mungkin luput dari penduduk Jakarta itu sendiri. Dalam film dokumenter ini, Ziv mengajak kita berkenalan dengan tiga orang pengamen sembari menelusuri jalanan Jakarta yang berdebu dan naik kopaja tua yang sumpek oleh penumpang yang berjejalan.
Pengamen pertama bernama Boni tinggal di kolong jembatan, tidak bisa menulis, namun tetap happy go lucky mengamen menyanyikan lagu ciptaannya sendiri. Pengamen kedua, Ho, di balik rambut gimbal dan penampilan lusuhnya ternyata adalah seorang filsuf jalanan yang berorasi lewat lirik lagu satir namun romantis terhadap pujaan hatinya. Sementara Titi adalah seorang istri dan ibu muda yang menafkahi keluarga dengan mengamen sambil berjuang mendapat penyetaraan ijazah SMA untuk mencari kehidupan yang lebih layak bagi keluarganya.
Ziv menghabiskan empat setengah tahun untuk mengikuti ketiga pengamen tersebut. Yang kita lihat adalah gambaran nyata tentang susahnya struggling untuk hidup dari hari ke hari bagi kelas ekonomi bawah yang diwakili oleh Boni, Ho, dan Titi. Sebelum diputar di bioskop bulan ini, Jalanan telah melakukan premiere di Busan Film Festival tahun lalu dan menyabet best documentary award, sementara saya sendiri menontonnya dalam gelaran Ubud Writers & Readers Festival, Oktober lalu. Saya masih ingat bagaimana penonton, baik lokal maupun internasional, silih berganti dibuat tertawa, merenung, dan pada beberapa momen menahan air mata. Untungnya, air mata yang menggantung di ujung mata saya waktu itu bukan akibat adegan sentimenal yang dibuat-buat, melainkan karena film ini secara jujur mengingatkan saya jika kebahagiaan itu bukan dari yang apa kita punya, tapi lebih ke bagaimana cara kita memandang sesuatu dan bersyukur. Jalanan sendiri akhirnya akan diputar di beberapa bioskop bulan ini dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. Follow @JalananMovie untuk info.

The Blind Truth, An Interview With Ayushita & Nicholas Saputra

Apa saja hal-hal yang tidak dibicarakan ketika kita membicarakan Nicholas Saputra dan Ayushita Nugraha? Let’s find it out together.

The early bird catches the worm” menjadi mantra penyemangat saat saya harus meninggalkan rumah lebih pagi dari biasanya menuju sebuah studio foto di daerah Kuningan demi jadwal cover photoshoot dan interview bersama Nicholas Saputra dan Ayushita Nugraha untuk edisi Mei. Mereka sebetulnya bukan nama asing bagi majalah ini, Nicholas pernah menjadi cover NYLON Guys Indonesia edisi April 2011, sementara saya sempat mewawancarai Ayu untuk edisi Anniversary NYLON Januari tahun ini. Sekarang, mereka berdua sengaja dipasangkan berkat film terbaru mereka, What They Don’t Talk About When They Talk About Love, di mana keduanya berperan sebagai penyandang disabilitas yang menjalin hubungan yang “tidak biasa”.

Bila film-film bertema disabilitas pada umumnya dibanjiri drama air mata serta pesan-pesan preachy, film kedua karya sineas perempuan Mouly Surya ini memilih menunjukkan realita di balik tembok sebuah Sekolah Luar Biasa dengan apa adanya secara humanis. Dalam film dengan ensemble cast yang turut dibintangi oleh Karina Salim, Anggun Priambodo, dan Lupita Jennifer ini, Ayushita berperan sebagai Fitri, seorang remaja tunanetra di sebuah asrama untuk visually impaired yang terobsesi pada cerita hantu, dan selayaknya remaja seumurnya, she’s dying to feel some love. Saban malam Jumat, ia pergi ke kolam renang sekolahnya untuk bercerita kepada sesosok hantu dokter yang konon merupakan urban legend di sekolahnya, sampai suatu hari “hantu” itu muncul dan berkomunikasi dengannya lewat surat yang ditulis dengan huruf Braille. Fitri tak tahu jika dokter hantu pujaannya itu ternyata seorang pemuda tunarungu bergaya punk bernama Edo (Nicholas Saputra) yang diam-diam sering memperhatikan Fitri.

Semboyan love is blind menjadi hal yang literal dalam cerita ini. Terlepas dari keterbatasan fisik keduanya, mereka pun menjalani hubungan yang sangat passionate lewat sentuhan fisik dan momen-momen ajaib dari minimnya komunikasi di antara mereka. Menariknya, di film ini Mouly menghadirkan twist berupa alternate reality di mana keduanya adalah pasangan normal yang sangat komunikatif satu sama lain walaupun tinggal di sebuah kamar kos sempit, yang semakin terasa pengap dengan rentetan dialog klise orang mabuk cinta yang bila diresapi ternyata sangat “kering” dan dipaksakan. Conversation is (sometimes) overrated adalah pesan yang terpapar dari sini, dan membuat kita bertanya do they really fell in love? Atau justru seperti yang Fitri ungkapkan, apa mereka hanya jatuh cinta dengan konsep jatuh cinta itu sendiri?

Dengan premis skenario yang menarik tersebut, film ini berhasil disertakan dalam World Cinema Dramatic Competition di Sundance Film Festival tahun ini yang juga membuatnya menjadi film Indonesia pertama dalam salah satu festival film dunia paling bergengsi itu. Setelahnya, film ini juga ditayangkan di Rotterdam, Goteborg, dan Hong Kong International Film Festival dan mendapat respons gemilang dari semua media. Well, setelah menontonnya sendiri, kamu akan langung mengetahui penyebabnya. Script yang memang menarik itu diperkuat oleh pendekatan sinematik khas Mouly yang dipenuhi sinematografi cantik dan penuh simbol. Tak hanya secara visual, dari audio pun film ini memaksa kita menajamkan indera pendengaran kita. Di satu titik di mana tidak ada audio sedikit pun, kita dibuat “tuli” sesaat dan seluruh bioskop terasa hening sampai-sampai penonton seperti menahan napas menunggu suara muncul kembali. Komposisi musik yang digarap Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani dengan cerdas juga menjadi elemen penting yang menggambarkan emosi internal setiap karakter, salah satu yang paling memorable adalah lagu “Twinkle, Twinkle, Little Star” dengan lirik lagu “twinkle, twinkle, little star. How I wonder what you are,” yang terasa menusuk saat dinyanyikan karakter bernama Maya (Lupita Jennifer). Somehow, saya merasa lirik tersebut juga menggambarkan sosok Nicholas dan Ayushita. Keduanya memang bukan “bintang kecil”, dan hampir semua orang mengenal mereka, tapi apakah persepsi publik sudah cukup mewakili kepribadian mereka di dunia nyata? That’s what I try to find out this time.

IMG_0454 copy

Ayushita datang tepat waktu dan mulai menjalani proses makeup saat saya tiba. Sama seperti perjumpaan kami sebelumnya, ia terlihat riang dan bersemangat walau jam masih menunjukkan pukul sembilan, jam yang menentukan mood kita sepanjang sisa hari nanti. Satu-satunya yang berubah adalah kilatan warna turquoise yang kini menghiasi sebagian rambut belakangnya. “Sundance was so cold!” katanya riang saat saya menanyakan ceritanya ikut ke Sundance bulan Januari silam, “tapi aku sama Lupita pulang duluan karena aku harus nyiapin launching album. Yang senang pas lagi screening itu, kita juga nervous dan mereka tahu ini film Indonesia pertama yang masuk Sundance, tapi mereka memberikan respons yang baik, nggak ada penonton yang walkout, mereka stay sampai film selesai, dengerin Q&A, dan banyak yang pengen foto bareng. Aku pikir cuma hari itu aja, tapi the next day kita jalan-jalan, ada orang yang bilang, ‘kamu yang main di film itu ya?’ Terus ngajakin foto bareng, terus besoknya lagi pas kita jalan-jalan makan siang di main street ada orang yang bilang “Hey I saw your movie! Congratulation, we love it!’ terus banyak yang bilang ke Mbak Mouly, ‘terima kasih sudah bikin film yang bagus,’” ceritanya sambil tersenyum.

Gadis kelahiran 1989 ini punya alasan kuat untuk tersenyum. Kuartal awal tahun ini kariernya bisa dibilang tengah mengalami transformasi. Ia menggebrak dengan dua project besar sekaligus, yaitu film ini dan album musik solo pertamanya yang bertajuk Morning Sugar. Beberapa minggu sebelumnya, ia mengadakan mini concert di gedung PPHUI untuk perilisan albumnya, satu hal yang ia turun tangan sendiri menyiapkan segala sesuatunya. Musik di album ini sendiri sejujurnya bukan sesuatu yang akan kamu sangka dinyanyikan oleh Ayushita yang sebelumnya lekat dengan cap Bukan Bintang Biasa (BBB). Dibantu oleh Ramondo Gascaro (eks-keyboardist SORE) dan Ricky Virgana dari White Shoes & The Couples Company, album ini berwarna indie pop Indonesiana. “Banyak yang kaget sih, wah kok sekarang jadi kaya gini ya? Banyak juga yang agak sarkastik, tapi…I’m okay. Maksudnya sudah terbiasa dengan hal-hal kaya gitu,” cetusnya sambil mengangkat bahu. “Aku sebetulnya nggak ngerasa ini hal yang baru buat aku, untuk di depan publik mungkin iya. Mereka kan mikirnya aku sangat mainstream atau gimana, aku keburu udah di tengah-tengah, I like the off-stream, but I don’t hate the mainstream either, to be realistic aja sebetulnya. In real life, ini musik yang aku suka juga. iPod aku terlalu beragam playlist-nya dan indie pop adalah salah satu jenis lagu yang aku suka banget.”

Terjun ke dunia showbiz sejak kecil, Ayu memang telah terbiasa dengan berbagai pemberitaan menyangkut dirinya di media, entah kariernya sebagai aktris maupun sebagai penyanyi, walau ada satu sisi dirinya yang belum terekspos. “They don’t know if I love cooking a lot! Recently aku baru belajar baking. Baking itu lebih susah dibanding masak Italian or Japanese food, aku pernah mau bikin kue ulang tahun belajarnya kaya orang mau ujian, berkali-kali sambil nonton YouTube. It was fun. Terakhir aku bikin Strawberry Shortcake, dan Alhamdulilah rasanya kaya punya restoran yang emang aku suka Strawberry Shortcake-nya, Ahaa… gue punya resepnya! Bisa nih bikinnya! Haha!”  ungkapnya dengan wajah excited.

IMG_0532 copy

            Jam sepuluh kurang sedikit, Nico akhirnya tiba. Ia meminta maaf atas keterlambatannya, walaupun saya bisa memakluminya. Baru malam sebelumnya, ia pulang ke Indonesia dari traveling ke New York dan daerah selatan Prancis. Sialnya, setelah tiga minggu meninggalkan Indonesia, ia harus langsung berhadapan dengan schedule super padat, hari itu pun ia hanya punya waktu sampai jam 12 siang untuk memenuhi jadwal lainnya sampai malam. Sambil menunggu Ayushita selesai makeup, saya pun, melakukan ice breaking dengan aktor berusia 29 tahun tersebut. So how was Sundance? “Sundance…Ok, good… Di sana kita sepuluh hari di Park City, kota kecil di Utah yang pusat ski resort, waktu itu pas lagi peak musim orang main ski.tapi karena di sana dingin jadi kita maunya masuk bioskop terus. Responsnya oke, sebetulnya film ini kan bukan tipikal film Amerika, jadi buat mereka ini sesuatu yang baru dan beda dibanding film-film Amerika,” tandasnya.

Nico menjawab setiap pertanyaan dengan singkat dan tegas, mengingatkan saya akan perannya di film AADC yang melambungkan namanya. Mungkin karena faktor jet lag, ia agak terlihat lelah dan kurang mood untuk bicara panjang lebar. I know my safest bet adalah bertanya seputar film terbarunya ini. “Proyek film ini dimulai tahun 2010, awalnya memang diajakin Mouly untuk film ini, syutingnya Juni tahun lalu, reading dua bulan dan syuting dua minggu. Saya riset ke SLB tunarungu di daerah Cipete, ikut kelas mereka beberapa kali, ikut proses belajar. Banyak yang didapat sih, sebelumnya kita cuma mikir mereka nggak bisa dengar dan nggak bisa ngomong, tapi ternyata banyak hal yang bisa mereka lakukan,” jelas Nico sebelum tiba-tiba mengalihkan pandangan dan berseru, “Wohoo, thanks for the diet!” dengan cengiran iseng saat melihat Ayushita keluar dari ruang makeup dengan mengenakan look pertama yang terdiri dari crop top Topshop dan celana rok Balenciaga. Ayushita hanya tertawa menanggapi celetukan itu. Obrolan canggung saya dan Nico pun harus terhenti karena kini gilirannya berganti wardrobe dan memulai pemotretan.

Thanks for their role as a couple, mereka sudah tidak risih lagi saat harus berpose berdua. Frame demi frame dilewati keduanya dengan santai dan diselipi beberapa inside jokes. Saat hampir jam 12, Nico berulangkali melirik jam dan smartphone miliknya. Di saat ia mengira pemotretan sudah selesai, ternyata masih ada satu look lagi yang harus ia pakai, dan Nico pun berbesar hati menyanggupi. Ia berganti baju dengan cepat dan tanpa buang waktu menuntaskan sisa pemotretan. Setelahnya, dengan agak tergesa, Nico membereskan barang bawaannya, mengucapkan terima kasih ke semua orang dan segera melesat ke appointment berikutnya. Sebelumnya, kami berjanji untuk bertemu lagi besoknya untuk melanjutkan interview dan saya pun melanjutkan interview dengan Ayu saat ia juga telah menyelesaikan pemotretannya.

Melihat keakraban keduanya saat photoshoot, saya bertanya kepada Ayu tentang caranya membangun chemistry bersama Nico untuk film ini. “Aku baru kerja bareng Nico di film ini. I was so nervous sebetulnya karena dia jam terbangnya udah jauh lebih banyak dan ada hal-hal yang aku belum pernah jalanin di film tapi dia udah. Cara Mbak Mouly nge-direct itu lebih diskusi dan nanya opini kita kaya gimana scene-nya, jadi kita banyak ngobrol karena aku scene-nya paling banyak sama Nico. Kita spend time quite long sepanjang syuting selama dua minggu. I don’t really think about the chemistry, tapi justru karena ada satu adegan yang harus dilewati itu, yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. I have to pull myself together. Jadi aku milih dengerin iPod dan duduk sendiri dulu. Waktu liat set adegan itu aku yang ‘Oh no!nervous banget! Aku nggak omongin ke siapa-siapa, tapi semua yang ada di situ tau dan mereka nggak push aku untuk apapun, mereka benar-benar memberi waktu ke pemain dengan ketegangan kita masing-masing,” papar Ayu mengingat kembali salah satu adegan di film ini yang merupakan tantangan baru bagi dirinya sebagai aktris.

Risque scene aside, sama seperti Nico, Ayu juga belajar banyak hal dari film ini tentang penyandang disabilitas. Ia belajar huruf Braille dan meningkatkan sense selain penglihatan dengan menutup mata seharian dan berjalan dengan meniti railing di tembok lokasi syuting. “Waktu pertama kali datang ke lokasi ada banner foto-foto kegiatan mereka dan judulnya ‘Jangan Kasihani Kami’, aku yang ’owkaaay…’ Aku nggak tau yang lain notice apa nggak tapi itu yang pertama aku liat. Begitu masuk, ternyata mereka sama aja kaya kita, saling ngeledekin temen-temennya yang pacaran, ada yang busted lagi ngapain, terus jadi bahan omongan,” kenangnya. “Mereka punya passion yang sama dan feeling yang lebih kuat dari kita. Mereka juga mandiri, ada yang selalu pulang sendiri ke Bogor naik bus, padahal dia cewek. Setelah menjalani film ini aku mikir, oke aku nggak kasihan lagi sama mereka. Karena mereka hebat dan mereka memang nggak suka dikasihani, kaya ‘kenapa? I’m happy dengan keadaan ini’,” imbuhnya dengan mimik serius. “Yang jelas, aku jadi belajar lebih embrace dengan apa yang kita punya,” tuntas Ayu.

Besoknya, saya pergi ke kantor Cinesurya di daerah Melawai untuk melanjutkan interview dengan Nico dan kali ini berharap ia mau sedikit lebih bercerita dibanding pertemuan sebelumnya. Nico terlihat sama kasual dari hari sebelumnya dengan paduan polo shirt putih dan jeans. Dari dekat, saya bisa melihat kantung matanya masih agak tebal, ia mengaku baru tidur jam satu malam dan bangun jam 10, “Knocked out!” cetusnya sambil tersenyum kecil. Anyway, setelah tidur 9 jam, tampaknya mood Nico jauh lebih rileks hari ini. Saya memulai obrolan dengan topik-topik ringan, seperti musik apa yang biasanya ia dengarkan, “I listen a lot of rock, jazz music, yang sekarang ini apa ya? Gue lebih suka band-band lama…Emerson, Lake & Palmer, terus yang di playlist gue belakangan ini paling Depeche Mode sama Tears for Fears!” jawabnya sambil sesekali menghisap rokok. Saya menyinggung sedikit perannya sebagai Edo di film ini yang bergaya punk dengan jaket kulit, rambut dicat, dan tindikan di bibir, walaupun Edo sebetulnya tidak bisa mendengar, “Yeah, sometimes people do that, sekarang kan orang gaya apa belum tentu denger musiknya ya sesuai gayanya. Yang penting kan orang gayanya apa juga bebas-bebas aja,” ujarnya. Nico mengaku sudah lumayan lama sejak ia terakhir kali datang ke sebuah konser, karena kesibukannya traveling dan main film. Bagi orang awam, mungkin nama Nico seperti menghilang, walau sebetulnya ia masih rutin terlibat produksi film. Harus diakui belakangan ini ia cenderung bermain dalam film-film festival yang kurang terdeteksi publik umum. Hal itu menurutnya bukan suatu kesengajaan, tapi karena ia memang tertarik pada skrip yang ditawarkan dengan peran-peran tidak umum. “Too many characters in the world, gue nggak pernah yang pengen karakter ini karakter itu, sebetulnya karakter sederhana  justru bisa dibuat menarik karena kesederhanaannya,” tukasnya.

IMG_0240 copy

Satu dekade berkecimpung di entertainment, apakah Nico puas dengan portrayal media tentang dirinya? “Portrayal gue di media? Aduh sebetulnya gue nggak terlalu perhatiin sih, nggak sempet, paling kalau lagi berhubungan sama filmnya aja, pengen tau kritik, pengen tau review, pandangan orang sama kerjaan gue, biasanya ya gitu aja sih, yang hubungannya sama pekerjaan,” ucapnya. Dari sini pembicaraan pun bergulir dengan sendirinya, kita telah memasuki zona nyaman Nico dengan topik seputar kariernya di industri yang menurutnya harus selalu dikembangkan lagi. “Sebetulnya kritik atau review film di Indonesia masih perlu dikembangin, karena kita masih sedikit banget punya kritikus yang menurut gue capable mengkritik film dan sebetulnya itu juga bagian penting dalam industri film sih,” lugasnya sambil menambahkan, “kritikus tugasnya mewakili masyarakat tapi juga meng-educate masyarakat supaya hubungan antara filmmaker dan penontonnya ada, ini sebetulnya link yang harus dimiliki industri film. Sekarang banyak medium blog film juga bagus banget, pertama karena melatih mereka untuk menulis dan berpendapat soal film, terserah lo mau nulis apa, it’s a free country. Mudah-mudahan 5 atau10 tahun ke depan kita punya banyak kritikus yang bagus dan ngerti film,” paparnya panjang-lebar.

Selain film, traveling menjadi hal lain yang akan memacu Nico untuk dengan senang hati bercerita. Apakah ia masih menganggap dirinya sebagai full time traveler, part-time actor seperti yang tercantum di bio Twitter-nya? “So far, iya, haha!” responsnya sambil terkekeh, “itu joke aja sih sebetulnya, karena pekerjaan utama gue ya main film. Traveling itu penting buat gue karena selain dari dulu seneng jalan-jalan, penting buat cari inspirasi, cari hidup, Maksudnya kita tinggal di Jakarta, you live in the bubble, dan bubble itu makin lama makin tebel dindingnya, dan gue pengen keluar dari bubble itu untuk bisa refresh. Traveling itu lo ngeliat dunia, kalau akting juga ngaruh karena lo dapet references yang banyak dari kehidupan orang. Lo bisa lebih eksploratif, bisa melihat banyak kehidupan, sama to get away… kalau gue traveling ke luar negeri ya untuk menikmati hidup di suatu kota atau lingkungan tanpa ada yang minta foto atau hal yang berhubungan dengan pekerjaan gue,” ungkap Nico seraya menegaskan jika bukan berarti ia selalu memilih traveling ke luar negeri. Ia sempat selama dua tahun fokus traveling dalam negeri untuk lebih mengenal Indonesia dan jatuh cinta dengan Pulau Komodo yang menjadi lokasi diving favoritnya.

Somehow, I still can manage it sih, gue bukan tipe yang 9 to 5, yang kerja kaya maraton gitu, kalau kerja monoton gue cepet bosen,” kata Nico saat saya bertanya tentang caranya mengatur schedule yang padat. “Gue lebih suka sprint. Jadi gue rileks, santai tapi abis itu gue ngebut, that’s how I do my muscle. Mending kalau nggak ada kerjaan, gue cabut, pulang-pulang kerjaan numpuk tapi abis itu gue bisa rileks lagi,” imbuhnya.  Untuk menjaga stamina, Nico rutin berlatih Muay Thai dan renang yang diakuinya seperti meditasi, sambil bersiap terlibat dalam produksi film selanjutnya yang akan berskala besar akhir tahun ini.

Untuk menutup pembicaraan siang itu yang diselingi cemilan pisang asam dari Thailand, saya meminta Nico berandai-andai tentang hal yang ingin ia lakukan jika ia memiliki waktu luang, “Do nothing, gue akan ada di suatu kapal di Komodo, ngopi seharian dan diving sesuka hati, but I got many times like that sih sebetulnya. Seminggu kosong nggak ngapa-ngapain, I know the art of doing nothing, definitely!” jawabnya sambil tertawa renyah.

            In the end of the day, saat saya memikirkan kembali tujuan utama saya dalam menulis artikel ini, tentang apakah Ayu dan Nico adalah orang yang sama saat ada di depan dan belakang sorotan kamera, hal itu menjadi tidak relevan lagi. Satu hari jelas tidak akan cukup menjawabnya, yang pasti mereka berdua adalah orang yang passionate di bidang yang mereka geluti dan tak takut menjadi diri sendiri. No sugarcoated words, and of course, no superficiality.

As published in NYLON Indonesia May 2013

Photo by Hakim Satriyo

Styling by Anindya Devy