Book Club: Interview with Dea Anugrah

Menyoal masa kecil, Dea Anugrah mengaku memiliki banyak cita-cita. Mulai dari pemain sepakbola, musisi rock, anggota sirkus keliling, hingga Pokemon master. Namun, berawal dari obrolan bersama guru Bahasa Indonesia saat SMA serta melahap koleksi perpustakaan sekolah yang meliputi The Old Man and the Sea, Huck Finn, dan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, pria 25 tahun asal Pangkal Pinang tersebut terpancing untuk menulis puisi, esai, dan cerpen yang berlanjut sampai hari ini. Karyanya telah tersebar di berbagai media baik cetak maupun online dan ia pun berkesempatan tampil di festival sastra sekelas Ubud Writers & Readers Festival 2013 di Bali bahkan sebelum merilis buku puisi pertamanya, Misa Arwah dan Puisi-puisi Lainnya di tahun 2015 lalu. Tahun ini, setelah menuntaskan studinya di jurusan Filsafat UGM dengan tugas akhir tentang pemikiran Arthur Schopenhauer, ia pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai wartawan dan merilis Bakat Menggonggong, sebuah kumpulan 14 cerita pendek yang ditulis dalam rentang waktu 2012-2016 di mana setiap cerita menunjukkan eksplorasi gamblangnya dalam teknik bercerita yang beragam.

img_20160308_025129

Hai Dea, apa kabar? Bagaimana biasanya kamu memperkenalkan dirimu dan profesimu?

Halo, Alex. Kabarku baik. Untuk keperluan publikasi, biasanya aku mencantumkan keterangan bahwa aku menulis puisi, cerpen, dan esai dalam bahasa Indonesia dan sedikit informasi tentang buku-bukuku (Misa Arwah dan Bakat Menggonggong).

Bagaimana biasanya kamu memulai hari dan apa yang menjadi kegiatan keseharianmu belakangan ini?

Sekarang aku bekerja sebagai wartawan. Jadi, kegiatan utamaku sehari-hari, setelah bangun tidur sekitar jam 12 siang (hehe), ialah mengetik berita.

Di titik apa kamu serius menulis secara profesional?

Kalau profesional yang kamu maksud adalah sekadar mendapatkan uang dari menulis, kukira itu bukan hal yang serius, bukan hasil menimbang-nimbang sampai sesak napas selama empat harmal atau semacamnya. Aku mengirimkan tulisan-tulisan ke koran dan majalah, mereka memuatnya, lalu membayarku. Tapi kalau profesional berarti menjadikan menulis sebagai mata pencarian utama, aku belum, dan mungkin tidak bakal, menjerumuskan diriku sendiri ke dalamnya.

Seorang teman pernah bercerita bahwa bukunya cuma terjual 59 eksemplar di bulan pertama setelah diterbitkan. Sila bayangkan situasi bulan-bulan berikutnya, ketika orang yang membicarakan buku itu makin sedikit. Dan pengalaman temanku itu bukan kasus langka di Indonesia.

Boleh cerita soal Bakat Menggonggong? Berapa lama proses pembuatannya sampai selesai dan apa yang menjadi tema utama/benang merah dari kumpulan cerpen ini?

Karena berbentuk kumpulan, pembuatan Bakat Menggonggong santai sekali. Tidak seperti orang mengerjakan novel atau traktat, misalnya, yang mesti menulis secara rutin setiap hari selama berbulan-bulan atau lebih. Belasan cerita pendek dalam buku itu kutulis dalam rentang 2012-2016 dan hampir seluruhnya sudah terbit secara terpisah di pelbagai media.

Sebagaimana tertulis di sampul belakang, yang “mengikat” cerita-cerita yang bermacam-macam dalam buku itu adalah suara naratornya. Dalam hampir setiap cerita, si narator cerewet dan sinis dan mulutnya agak tercela. Selain itu ada kesamaan “semangat”, yakni penjelajahan bentuk dan teknik penyampaian cerita.

 

Siapa sosok yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk dirimu yang sekarang?

Teman-teman dekat, para penulis yang bukunya kubaca, pacar dan bekas pacar, keluarga. Aku tidak tahu siapa yang memberikan pengaruh paling banyak.

 

Tanpa berpikir terlalu lama, tolong sebutkan satu nama penulis favoritmu yang terlintas beserta alasannya.

Ernest Hemingway. Dia penulis besar yang karyanya kubaca paling awal. Dan sampai sekarang, setiap kali membaca buku-bukunya aku merasa mendapat pelajaran baru tentang menulis dan hidup dan apa saja.

Sejauh ini apa hal yang paling disukai selama menjadi penulis?

Ketika menemukan hal-hal yang bisa kusadap dari buku-buku bagus dan ketika bertemu dan berkumpul dengan teman-teman yang pintar dan menyenangkan. Kupikir dua jenis pengalaman itulah yang paling kusukai. Kalau tidak menulis, mungkin aku tidak akan mengalami keduanya.

Percaya dengan yang namanya writer’s block? Kalau iya, bagaimana caramu mengatasinya?

Writer’s block itu seperti dosa. Kalau kita tidak memikirkannya, ia tidak ada. Seperti kata Szymborska: dua puluh tujuh tulang, tiga puluh lima otot, dan dua ribu saraf pada tiap ujung jari-jari kita sudah lebih dari cukup untuk menulis apa saja.

Bagaimana kondisi yang ideal bagi Dea untuk menulis?

Aku mudah terganggu oleh bunyi-bunyian, terutama suara orang, wabil khusus suara anak kecil, dan bau tidak enak. Di luar itu kurasa tidak ada masalah, keadaan apa pun cocok-cocok saja buat menulis. Masalahnya, sekalipun kondisi di sekitarku ideal, menulis tidak pernah terasa mudah.

 

Apa pengaruh sosial media/internet untuk dirimu, baik secara personal maupun profesional?

Internet jelas sangat penting untuk orang-orang di negara dunia ketiga, termasuk para penulisnya. Tanpa situs-situs file sharing, misalnya, aku pasti kekurangan bahan bacaan dan tontonan. Internet membuat persebaran pengetahuan jadi berkali-kali lipat lebih murah, cepat, dan luas.

Perkara media sosial agak ruwet. Pada satu sisi ia memudahkan kita bergaul dan berjualan, tapi di sisi lain ia menimpuk kita dengan banyak sekali urusan yang kita tidak perlukan. Media sosial bisa menggiring seorang penulis untuk menulis seperti keinginan khalayak alias menjadi penyambung lidah netizen. Apakah perbedaan netizen dan gerombolan biri-biri? Kadang, suara biri-biri enak didengar dan perlu.

Menurutmu, di zaman media sosial seperti sekarang, masih perlukah seorang penulis bergantung pada toko buku/penerbit untuk menjual karyanya?

Perlu. Sejauh yang kualami, berjualan sendiri itu melelahkan sekali, terutama urusan mengirimkan buku kepada para pemesan.

Seberapa sering kamu menilai buku dari sampulnya?

Cuma sesekali dan patokan yang kupakai tidak terlalu tinggi. Selama tidak keterlaluan buruknya, aku bisa maklum. Aku lebih sering menilai buku dari nama penulis yang tertera di sampulnya, sebab yang fana adalah waktu, penulis jelek abadi. Hehe.

Banyak yang mengira dirimu perempuan based on your name. Seandainya kamu jadi perempuan untuk satu hari, apa hal pertama yang ingin kamu lakukan?

Memeriksa apakah aku tetap menyukai hal-hal yang kusukai dan tetap tidak menyukai hal-hal yang tidak kusukai. Seandainya aku jadi mengagumi SBY dan senang mendengarkan lagu “Tubuhku Otoritasku” dan membenci rokok, misalnya, kupikir aku tidak bakal tahan.

 

Selain menulis, apa lagi hal yang suka kamu lakukan?

Membaca, menonton, main videogame, dan tidur. Khusus soal tidur: tentu semua orang terbiasa tidur, tapi aku tidur seperti kacung tenis mengejar bola dan seperti rohaniwan memikirkan hari kiamat dan seperti wartawan membaca tulisannya sendiri. Dalam kata-kata lain, aku tidur seolah-olah di dunia ini tidak ada urusan yang lebih penting daripada tidur.

Jika bisa memilih satu ceritamu untuk difilmkan, cerita apa yang kamu pilih dan siapa yang akan kamu pilih untuk menyutradarainya?

Tamasya Pencegah Bunuh Diri, Alejandro Jodorowsky atau Hitoshi Matsumoto.

 

Apa satu hal yang ingin kamu pelajari/kuasai lebih dalam?

Kupikir yang paling mendesak adalah belajar bahasa asing selain Inggris, supaya aku bisa mengakses lebih banyak bacaan.

Apa rencana selanjutnya untuk saat ini?

Menulis novel.

 

Terakhir, boleh berikan rekomendasi lima buku favoritmu beserta alasan singkat untuk masing-masing buku?

orang2

Orang-Orang Bloomington

Budi Darma

Satu dari sedikit sekali buku yang akan bertahan andai suatu saat kesusastraan Indonesia memutuskan untuk bertaubat dan mensucikan diri dari karya-karya buruk.

 snows

The Snows of Kilimanjaro and Other Stories

Ernest Hemingway

Beberapa cerita pendek penting Hemingway terhimpun di dalam buku ini (“A Clean, Well-lighted Place”, “The Short Happy Life of Francis Macomber”, dan “Fifty Grand”).

pedro 

Pedro Paramo

Juan Rulfo

Gabriel Garcia Marquez mengaku sanggup menuturkan ulang novel ini, baik dari depan ke belakang maupun dari belakang ke depan. Tidak mengherankan, sebab, dilihat dari sisi mana pun, novel ini bagus sekali.

 bartleby

Bartleby & Co.

Enrique Vila-Matas

Novel ensiklopedik tentang para penulis yang memutuskan untuk tidak atau berhenti menulis. Salah satu buku paling menarik yang saya baca dalam beberapa tahun terakhir.

 maps

Map: Collected and Last Poems

Wislawa Szymborska

“Saat kuucapkan hari depan, suku katanya yang pertama telah jadi milik masa silam,” tulis Szymborska dalam “The Three Oddest Words”. Buku ini memuat sekitar 250 puisi Szymborska dalam bahasa Inggris, mulai dari yang termahsyur seperti “Love at the First Sight”, “On Death, Without Exaggeration”, dan “Nothing Twice” hingga puisi-puisi yang ditulisnya menjelang kematian.

Foto oleh: Saila Rezcan.

http://www.dea-anugrah.com

 

Advertisements

Book Club: Gelombang, Kepingan Terbaru Saga Supernova

Gelombang

Dewi Lestari menyeretmu lebih dalam lagi ke dunia Supernova lewat kepingan terbarunya, Gelombang.

Sebagai natural-born bookworm (or at least self-proclaimed) yang tak pernah absen membaca sejak bisa mulai merangkai huruf menjadi kalimat, buku fiksi bagi saya adalah sebuah hiburan, guru, dan terutama eskapisme. Walau sejujurnya, saya hanya punya dua serial fiksi yang benar-benar meninggalkan jejak dalam hidup saya. Yang pertama adalah serial Harry Potter karya J. K. Rowling dan yang kedua adalah serial Supernova karya Dewi “Dee” Lestari. Keduanya adalah serial yang seakan ikut “tumbuh” menemani proses saya beranjak dewasa sampai sekarang. Kali ini saya ingin berbicara tentang Supernova yang masih saya akui sebagai buku berbahasa Indonesia terfavorit saya. Tidak hanya karena saya belajar banyak hal darinya, setiap buku Supernova entah kenapa selalu datang di saat yang tepat dan beresonansi pada titik kehidupan yang sedang saya jalani.

Awal perkenalan saya dengan Supernova dimulai dari buku pertama, Supernova: Ksatria, Puteri, Bintang Jatuh (KPBJ) yang dirilis tahun 2001 ketika saya masih duduk di bangku SMP. Teman sekelas saya membawanya ke sekolah lalu saya iseng meminjamnya dan baru mengetahui jika Dee sang penulis ternyata Dewi Lestari dari trio pop Rida Sita Dewi yang terkenal di medio 90-an. Sampulnya sekilas mengingatkan saya pada buku pelajaran fisika dan melihat isinya saya tercengang dengan banyaknya footnotes berisi istilah-istilah ilmiah dan teori antah berantah yang belum pernah saya baca sebelumnya. Its a little bit off-putting awalnya karena saya lumayan alergi pada pelajaran IPA tapi toh saya bosan di kelas dan mulai membacanya. Di rumah, saya menuntaskan buku pinjaman itu. Jujur, saat itu saya beberapa kali saya melewatkan bagian perdebatan intelektual Dimas-Reuben dan lebih fokus pada cerita Diva-Ferre-Rana. KPBJ keluar di tengah berkembangnya computer culture di Indonesia, ketika internet sudah semakin umum, termasuk hal-hal seperti bulletin board, hacker, The Matrix, chat room dan sebagainya yang menjadi obsesi baru remaja Indonesia, termasuk saya. Satu hal lagi yang membuat novel ini berkesan adalah penggambaran same-sex relationship di antara Reuben-Dimas yang tidak terjebak pada dinamika cliche dan stereotyping. Satu hal yang cukup personal bagi saya saat itu.

Tak lama KPBJ keluar, muncul sekuelnya yang bertajuk Akar di tahun 2001, namun waktu itu saya sama sekali tidak aware dengan kehadiran buku kedua ini sebelum menonton infotainment yang mengabarkan kontroversi yang menyelimuti kelahirannya. Waktu itu saya sama sekali tidak tergerak untuk membaca, apalagi datang ke toko buku untuk membelinya. Tapi lagi-lagi, universe seperti sengaja menyuguhkannya di depan mata saya begitu saja. Saya membacanya dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2004. Saat itu saya sedang libur semester kelas tiga SMA dan menginap di rumah ipar saya. Bosan main game, saya mulai mengecek lemari buku di lantai atas. Ada beberapa novel dan banyak komik Marvel, tapi mata saya tertumbuk pada Akar edisi cetakan pertama dengan simbol ohm masih tertera di sampul. Lagi-lagi out of boredom, saya mengambilnya dan mulai membaca. Di halaman-halaman awal saya masih merasa buku ini murni lanjutan buku pertama, sebelum tiba-tiba saya diperkenalkan dengan tokoh Bodhi dengan segala keunikan dikotomi dan perjalanan lintas negaranya. Narasi di buku ini berjalan lebih linear dan tidak ada timbunan istilah rumit sehingga saya menghabiskan buku ini dalam sekali duduk. Saya terpesona dan menemukan impian baru untuk backpacking (yang belum juga dilakukan sampai saat ini) and basically keinginan untuk keluar dari zona nyaman saya.

Seperti sudah direncanakan, hanya beberapa hari sejak membaca Akar, saya menemukan review tentang Petir, buku ketiga Supernova di sebuah majalah. Hari pertama kembali ke sekolah, saya mampir ke toko buku untuk membeli Petir. Dan lagi-lagi saya tersengat oleh keandalan Dee dalam bercerita. Jika KPBJ adalah perkenalan pertama yang berlangsung acuh tak acuh, maka Akar adalah pertemuan kedua yang memesona, namun baru di Petir akhirnya saya menyadari telah jatuh cinta seutuhnya dengan serial ini. Petir memiliki formula yang sama dengan Akar. Dibuka oleh bab (kepingan) yang berkaitan langsung dengan KPBJ sebelum kita berfokus pada satu karakter baru, yaitu Elektra, gadis dengan obsesi pada petir dan memiliki kemampuan menyembuhkan lewat energi listrik alami pada tubuhnya. Yang menarik, gaya bahasa di Petir bahkan jauh lebih ringan lagi, penuh humor, dan terasa santai seperti atmosfer Bandung yang menjadi latar cerita di buku ini. Di titik ini saya pun baru mengetahui masih akan ada dua buku Supernova lagi yang akan berjudul Partikel dan Gelombang yang memiliki satu tokoh sentral utama, serta Intelegensi Embun Pagi yang akan mempertemukan mereka semua dan menjadi pamungkas cerita.

Selepas Petir, para penggemar Supernova dihadapkan pada penantian panjang yang seakan tanpa akhir untuk menikmati sekuelnya, Partikel. Saya baca Petir ketika sedang belajar serius untuk SPMB, tapi bahkan sampai saya lulus kuliah dan mulai bekerja, Partikel tidak kunjung datang. Penantian itu terjawab di tahun 2012. Delapan tahun lamanya. Bayangkan bagaimana riuhnya respons para penikmat Supernova, terutama karena Partikel hadir di era social media, khususnya Twitter. Antisipasi untuk buku keempat ini hampir tidak bisa dibendung hingga akhirnya 13 April 2012, jam 4:44 sore, Partikel muncul di toko buku dan hal yang saya pikirkan hari itu adalah secepat mungkin ke toko buku untuk membelinya. It was almost emotional dan saya ingat betul rasanya merinding melihat buku itu langsung di depan mata. Partikel mengisahkan Zahra, gadis keluarga Muslim dari Bogor dengan mata jeli yang menangkap hal-hal yang sering luput dari orang awam, secara literal oleh profesinya sebagai fotografer wild life, maupun hal-hal yang lebih bersifat transcendental. Partikel adalah buku yang membuat saya bertanya-tanya tentang alam semesta, konsep agama, dan melihat hal-hal sekitar dengan cara yang berbeda, baik dengan bantuan enteogen maupun tidak. Personally, Partikel adalah buku Supernova yang paling relate untuk saya, so far.

Dalam sebuah email interview yang saya lakukan bersama Dee tentang Partikel, beliau memberi tahu saya jika fokus berikutnya adalah menyelesaikan Gelombang. Dan karena itu tak mengherankan jika Gelombang bisa hadir dalam waktu yang tak terlalu lama dari Partikel. Buku kelima ini hadir tanggal 17 Oktober lalu, namun saya baru membelinya dua hari lalu dan selesai membacanya kemarin. Entah kenapa saya merasa tak ingin terburu-buru membelinya, namun seperti arus pasang, saya terseret Gelombang sejak halaman-halaman awal. Saya tahu jika tokoh utama buku ini adalah Alfa dan selalu membayangkannya sebagai seorang geek yang mungkin ada kaitannya dengan fisika dan beragama Hindu (totally random bet, karena merasa setiap tokoh akan memiliki agama yang berbeda). Saya tak tahu bagaimana setting cerita buku ini karena saya menghindari spoiler di socmed dan bahkan sengaja tidak membaca sinopsis di balik sampulnya saat akhirnya membeli buku ini. Saya ingin mengenal Alfa tanpa pretensi. Tapi, sejak pertama saya tahu jika Alfa ternyata berdarah Batak tulen, langsung terbersit pikiran “Oh wait…. jangan bilang kalau namanya sebenarnya Thomas Alfa Edison…” dan saya secara spontan terkekeh sendirian karena intuisi saya benar.

Yup, Alfa adalah Thomas Alfa Edison Sagala yang lebih akrab dipanggil “Ichon”, anak bungsu keluarga Sagala dari Sianjur Mula-Mula, sebuah kampung di Samosir, Sumatera Utara yang dipercaya sebagai asal muasal lahirnya suku Batak dan masih menganut agama tradisional yang disebut Parmalim. Bermula dari sebuah upacara pemanggilan roh leluhur, kehidupan Ichon si bocah penggemar serial Kho Ping Hoo berubah dengan hadirnya mimpi yang sama berulang-ulang dan kehadiran makhluk gaib misterius bernama Si Jaga Portibi yang seakan mengintainya. Keanehan tersebut ditangkap oleh dua orang dukun yang ingin memperebutkan Ichon sebagai murid, menyisakan Ichon di persimpangan keputusan dan hampir kehilangan nyawanya untuk itu. Insiden yang membuat keluarga mereka memutuskan merantau ke Jakarta, walau tak lama setelahnya Ichon pun pergi lebih jauh lagi ke belahan dunia lain sebagai imigran gelap di Amerika Serikat. Dihantui mimpi buruk yang sama setiap harinya, Ichon alias Alfa alias Alfie belajar mempertahankan diri dengan menahan tidur. Dan dengan kecerdasan alami, keuletan, serta waktu belajar ekstra dari teman-teman sebayanya, ia berhasil mendapat beasiswa penuh di kampus Ivy League sekaligus selamat dari kehidupan imigran gelap yang penuh risiko deportasi dan lingkungan yang dikuasai gang kriminal. Nasib menghempaskan Alfa pada Wall Street, salah satu surga dan neraka dunia dalam arti sesungguhnya, di mana ia meraih sukses sebagai hot-shot trader, gitaris berbakat, sekaligus full-blown insomniac di saat yang sama. Tertidur lelap sama artinya dengan meregang nyawa baginya, karena secara tak sadar ia memiliki suicide program ketika tertidur. Pertemuan dengan seorang gadis luar biasa cantik di sebuah klub rahasia yang membuatnya terbablas tidur dan nyaris mati, mempertemukannya dengan Dr. Nicky dan Dr. Colin dari Somniverse, sebuah pusat kajian yang berfokus pada masalah tidur, mulai dari insomnia, gangguan tidur, mimpi, hingga lucid dream. Perlahan tabir mulai terbuka dengan sendirinya, mengantarkan Alfa ke Tibet untuk menemukan jawaban dari segala mimpinya dan belajar memercayai instingnya sekali lagi.

Selalu ada pengetahuan baru yang saya dapat dari buku-buku Supernova, dalam Gelombang, hal itu adalah mekanisme mimpi, lucid dream, dan kosmologi Batak yang mengagumkan. Gaya penulisan Dee sendiri dalam buku ini terasa sangat fokus dan seakan tak menyisakan ruang untuk bernafas. Klimaks terus terbangun dengan intens hingga buku sudah mencapai ¼ akhir. Bayangkan Inception bertemu dengan Bourne Identity dan Jumper. Unsur fast-paced action itu yang memaksa saya untuk tidak berhenti membaca sampai larut malam, bahkan ketika mata ini sudah lelah dan rasa ngantuk mulai menyerang. Seakan saya bisa merasakan perjuangan Alfa untuk bisa tetap terbangun dan menghindari tidur. Saking cepatnya, entah kenapa ada sensasi fast-forward yang saya rasakan dalam Gelombang, yang membedakannya dari buku-buku sebelumnya yang mengajak kita menikmati perkembangan tokoh utamanya dengan lebih personal. Ada sesuatu yang membuat saya merasa tidak pernah benar-benar mengenal sosok Alfa ketika ia dewasa karena ia hanya terfokus pada mimpinya dan emosinya yang naik-turun. Tidak ada keterikatan dalam level emosional seperti yang saya alami dengan Elektra dan Zahra.

Gelombang terasa seperti paradoks alfa dan omega. Di satu sisi, secara kronologis Gelombang adalah buku terakhir yang berfokus pada satu tokoh (avatar?) utama dan menjadi kepingan terbesar puzzle yang menjawab banyak pertanyaan tentang universe yang dibangun Dee. Di buku ini kita diperkenalkan dengan istilah-istilah seperti Asko, Infiltran, Peretas, dan Sarvara sekaligus beberapa clue yang membuat kita mulai meraba alur cerita sebetulnya dari saga ini. Di sisi lain, Gelombang pun justru terasa seperti babak awal dari buku-buku sebelumnya. Akar, Petir, Partikel adalah cerita yang sebetulnya bisa berdiri sendiri tanpa adanya bab yang berkaitan dengan KPBJ, namun rasanya sulit untuk benar-benar menikmati Gelombang tanpa pernah membaca buku-buku sebelumnya, terutama mungkin Akar, karena dua tokoh penting dalam Akar kembali muncul dalam Gelombang dalam porsi singkat namun sangat menohok bagi siapa pun yang membaca Supernova dengan khidmat. Gelombang seakan ingin menghempas kita untuk kembali membaca ulang buku-buku sebelumnya demi mengumpulkan remah-remah clue yang tercecer.

Terlepas dari beberapa hal yang mungkin terasa ganjil dan menimbulkan beberapa pertanyaan baru, kita semua tahu jika Gelombang adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. And I can’t hardly wait for it.

Book Club: Ladya Cheryl

ladya-cheryl

Ladya Cheryl adalah salah satu dari sedikit aktris muda Indonesia yang memiliki resume akting yang menarik. Setelah breakthrough role-nya sebagai seorang gadis rapuh di Ada Apa Dengan Cinta?, Ladya terus memainkan peran-peran tak biasa di film-film berikutnya seperti Fiksi, Kara Anak Sebatang Pohon, Babi Buta Yang Ingin Terbang dan Postcard from the Zoo. Saat ini selain bermain film yang umumnya berjenis film festival, Ladya juga sibuk menjadi pemain bass untuk Zeke Khaseli, menonton film-film Indonesia di bioskop, merawat kaktus pemberian teman dan merajut. “Bisa dibilang hobi, tapi kadang-kadang bosan juga. Merajut belajar sama teman. Di daerah Mandar ada toko benang namanya Sasha, kalau beli benang di sana diajarin merajut gratis sekalian. Senang juga. Kenapa pilih rajut? karena lihat teman waktu itu asik merajut sambil ngobrol, tapi akhirnya jadi barang, seperti cardigan, topi, syal,” ungkap perempuan kelahiran Jakarta, 31 tahun lalu ini. “Kalau kita baca buku atau nonton film, ada karakter yang membuat kita ingin menjadi seperti karakter atau mengikuti kisah hidupnya, kemudian merasa senasib atau simpati/empati,” ujar Ladya ketika saya memintanya memilih 5 novel yang menurutnya menarik untuk dijadikan film.

les_miserables

Les Misérables

Victor Hugo

Buku ini ceritanya memang panjang dan sudah difilmkan. Saya sudah nonton dan inginnya dibuat yang lebih lengkap seperti bukunya. Mungkin kalau terlalu panjang untuk difilmkan, bisa dibuat serial. Di Inggris ada play-nya, ingin banget nonton.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
The Adventures of Tom Sawyer

Mark Twain

Sudah difilmkan juga. Karena ketika saya baca The Adventures of Tom Sawyer, saya merasa terhibur dan ingin hidup di kota kecil yang ada sungainya, main sama teman-teman sekitar rumah di atas bukit. Di zaman itu, kalau mau dapetin sesuatu/barang yang anak-anak itu suka, mereka saling tukar benda-benda kepunyaan masing masing, rasanya ingin ada di zaman itu, tempat itu.

Sybil1

Sybil

Flora Rheta Schreiber

Ini saya belum tau sudah atau belum. Kalau belum boleh juga, karena ingin tau penggambaran perpecahan Sybil akan seperti apa. Untuk buku ini, saya lebih ingin lihat siapa pemainnya, karena buku ini diangkat dari kisah nyata, jadi kalau kita mau nonton film Sybil, mungkin pemainnya yang tidak biasa kita lihat, atau pemain yang bisa menghilangkan identitas dirinya sendiri. Karena saya penasaran dengan Sybil dan teman-teman kepribadiannya.

audrina
My Sweet Audrina

V.C.  Andrews

Menunggu perasaan tegang dan suasana rumah Audrina dan keluarganya yang aneh.

book-cover
Norwegian Wood

Haruki Murakami

Ini juga sudah difilmkan, tapi saya belum nonton. Belum siap kalau tidak sesuai bayangan, karena baca buku ini seperti berada di Jepang dan menonton langsung dialognya. Intinya rasanya seperti nonton filmnya ketika baca. Terasa nyata.

Sweeter Than Fiction, An Interview With Maradilla Syachridar

Selalu menyenangkan untuk mengulik sosok seorang novelis, dan dalam kasus Maradilla Syachridar, the excitement times two.

Sekarang ini bila kita datang ke toko buku, melihat rak khusus yang ditujukan untuk karya para penulis muda Indonesia tentu bukan hal yang aneh lagi. Kita tentu masih ingat ada semacam gairah menulis dan membaca di kalangan anak muda, di mana setiap harinya bermunculan buku-buku baru dari berbagai genre, walau yang menjadi mayoritas adalah teen-lit dan humor. Dari sekian banyak penulis itu, satu nama yang menarik untuk diangkat adalah Maradilla Syachridar yang pertama kali dikenal sebagai penulis saat menerbitkan buku pertamanya, Ketika Daun Bercerita, tahun 2008 lalu. Menyebut nama Seno Gumira, Stephen Chbosky, Haruki Murakami, Ugoran Prasad, Budi Darma, Steve Toltz, dan Paolo Coelho sebagai penulis favoritnya, nama Maradilla kian dikenal publik sejak merilis novel kedua berjudul Turiya yang diterbitkan oleh Else-Press bulan April kemarin.

Turiya sendiri bercerita tentang tiga orang sahabat bernama Dwayne, Millo dan King. Mengangkat tema cinta dan arti kebahagiaan dengan elemen pendukung seperti lucid dream, wine, dan filsafat, dipermanis dengan ilustrasi buatan Ykha Amelz yang mempertajam ambient yang ingin disampaikan, Turiya mungkin terkesan rumit tapi jangan bayangkan sosok penulisnya sebagai orang yang serius dan kaku karena Maradilla adalah pribadi yang menarik dengan paras cantik khas mojang Bandung. Selain sibuk menulis dan menyelesaikan skripsinya di Fakultas Hukum UNPAD, hari-hari gadis manis kelahiran 22 Maret 1987 ini juga diisi dengan menjadi announcer Rase FM Bandung dan tampil bersama Homogenic sebagai additional vocal dan synth player. Ketika tempo hari saya mengunjungi Bandung, tentu saja saya tak melewatkan kesempatan untuk bertemu dengannya dan mencoba mengenal dirinya sebagai penulis dengan lebih jauh, so here it is:

How do you reflect yourself in your writing?

Seorang Maradilla Syachridar dari sisi yang berbeda. Ketika dalam kehidupan sehari-hari saya menjadi pribadi yang terkesan cuek dan playful, setiap karya yang saya buat adalah sebuah cara untuk memperlihatkan the diary of my inner emotions, thoughts, and philosophical stuffs, karena saya tidak mau menyimpan semuanya sendirian.

Apa perbedaan paling signifikan dari Turiya bila dibandingkan novel pertamamu, Ketika Daun Bercerita?

Walaupun dalam setiap karya saya selalu ada karakter khas yang menjadi benang merah, tapi kalau dilihat ada satu perbedaan besar antara Turiya dan Ketika Daun Bercerita. Saya merasa novel Ketika Daun Bercerita masih sangat memperlihatkan sisi naif saya dalam membuat suatu cerita (which is good for my learning progress), dan Turiya adalah satu karya yang ditulis pada fase dimana saya mulai ingin memperkuat karakter penulisan saya.

Bagian paling sulit dalam menulis sebuah cerita menurutmu?

Menjahit bagian-bagian atau cerita-cerita yang berdiri sendiri, karena saya jarang membuat kerangka cerita, maka yang ada di otak ya tulis aja dulu. Lalu tantangan selanjutnya adalah bagaimana caranya menjembatani ide-ide yang ditulis secara acak menjadi satu keseluruhan cerita.

Do you ever feel creatively blocked?

Bukan pernah lagi, tapi sering, apalagi sebenarnya saya adalah orang yang cukup moody dalam hal menulis. Akhirnya ketika saya mulai menerima tawaran-tawaran untuk menulis di luar novel, saya mulai berlatih untuk berdamai dengan deadline. Jadi ya itu, ketika stuck, saya tidak lagi menuruti ego saya, tapi berusaha untuk mencari referensi dan hal-hal yang bersifat refreshing.

Buku paling berkesan yang pernah kamu baca?

Terlalu banyak. Tapi salah satu buku paling berkesan yang saya baca akhir-akhir ini adalah buku lama, A Fraction of The Whole oleh Steve Toltz. Ibaratnya kitab suci, kalau saya buka acak, semua kata-katanya quotable. Banyak kata-katanya yang “Berteriak”, dan memunculkan rasa panas di hati karena penciptaan karakter utamanya yang sangat kuat dan brilian.

Ketika menulis, bagaimana caramu meriset detail atau mengumpulkan bahan cerita dalam tulisanmu? Apakah kamu membaca/mendengarkan musik/menonton film tertentu ketika sedang menulis Turiya?

Ya. Saya banyak belajar dari buku-buku dari Budi Darma, buku-buku tentang wine, History of Art (karena banyak menyinggung aliran-aliran lukisan) banyak menonton film-film yang bertemakan mimpi (Film-filmnya Akira Kurosawa atau Michel Gondry misalnya), dan musik-musik yang cenderung dreamy.

Selain dari literatur yang kamu baca, dari mana lagi biasanya kamu mendapat inspirasi atau stimulasi kreatif?

Random googling, blogwalking, sampai-sampai saya merasa tersesat dan penuh dengan inspirasi karena beberapa kali terdampar di blog orang-orang yang saya sendiri tidak menyangka bisa menemukannya.

Since Turiya talks a lot about wine, do you enjoy drinking the wine too? Kalau iya, jenis wine favoritmu apa?

Just being the social drinker. Saya lebih tertarik pada filosofi dan sejarah pembuatannya daripada meminumnya. Tapi, untuk wine favorit, pilihan saya akan jatuh pada wine yang cenderung feminin, seperti Moscato dan sparkling Chardonnay.

Komentar paling menyebalkan yang pernah kamu terima terkait dengan tulisanmu?

Sebenarnya dibilang menyebalkan enggak juga sih. Menyentil mungkin. Saya pernah dikritik bahwa tema yang diambil pada tulisan Turiya cukup umum dan sederhana, tapi saya terkesan terlalu berambisi untuk membuatnya menjadi berat. Padahal memang sengaja dibuat demikian, karena dulu saya menulisnya memang sedang dalam fase seperti itu. Saya pikir menarik juga untuk mengabadikan momen dimana saya sedang mengalami (yang kritikus sastra biasa bilang) fase sastra kamus.

Project selanjutnya? Sudah ada rencana untuk menulis lagi?

Sudah mulai jalan. Untuk proyek selanjutnya saya bersama 6 penulis lainnya sedang membuat buku kumpulan cerpen, dan juga mulai menyicil novel ketiga dan keempat secara bersamaan.

As published in NYLON Indonesia October 2011

Photo by Deni Dani

http://www.maradilla.com/

The Epiphany of Dee, An Interview With Dewi Lestari

Menjawab penantian panjang para penggemar serial Supernova, Dewi Lestari memberikan kepingan puzzle terbarunya, Partikel. 

Delapan tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu sesuatu yang kamu idamkan, dan dalam hal ini, sesuatu itu adalah sebuah buku karya Dewi “Dee” Lestari. Terlepas apakah kamu penggemar karya penulis Indonesia atau bukan, saya yakin kamu tahu tentang Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, novel pertama Dee yang dirilis tahun 2001 dengan respons yang sangat baik. Berturut-turut, Dee lalu merilis sekuelnya, Akar di tahun 2002 dan Petir di 2004 yang membuatnya mendapat fan base yang loyal serta menjadi salah satu nama paling menarik dan dicintai di ranah literatur negeri ini. Pembaca pun terus dibuat penasaran dengan kelanjutan serial yang akan dirilis dalam 6 buku ini (heksalogi) dan saya yakin saya bukan satu-satunya orang yang kerap “meneror” Dee tentang kapan episode-episode selanjutnya dirilis. Namun, Dee tampaknya ingin beristirahat sejenak dari Supernova dan menulis beberapa buku seperti Filosofi Kopi, Rectoverso, Perahu Kertas dan Madre dalam rentang waktu 8 tahun itu, hingga akhirnya tanggal 13 April lalu tepat pukul 4:44 sore, buku keempat Supernova yang berjudul Partikel dirilis serentak di beberapa toko buku terpilih. Menjelang dirilis, Partikel sudah menimbulkan histeria tersendiri di dunia maya berkat promosi di Twitter yang berhasil menyedot perhatian para penggemar lama yang memang sudah lama menanti dan penggemar baru yang tak kalah penasaran. Di beberapa situs yang menyediakan pre-order, Partikel pun masuk ke daftar best seller hingga sudah naik cetak dua kali bahkan sebelum benar-benar dirilis.

Partikel sendiri masih mengikuti pattern dari dua episode sebelumnya, Akar dan Petir yang menceritakan satu tokoh sentral sebagai inti cerita (Bodhi dan Elektra, respectively). Partikel memperkenalkan tokoh Zarah, seorang gadis yang memiliki kedekatan khusus dengan alam, yang harus berhadapan dengan banyak misteri besar dalam hidup dan rangkaian twist of fate yang mengantarkan gadis kelahiran Bogor ini ke berbagai penjuru dunia sebagai seorang wild life photographer dengan misi mencari ayahnya yang tiba-tiba menghilang. Dee dengan luwes memadukan hal-hal yang membuatmu berpikir keras dengan cerita yang mudah dicerna menjadi kesatuan cerita yang enggan kamu lepas sebelum selesai. Di balik elemen rumit (suatu hal yang menjadi keasikan tersendiri serial ini) seperti UFO, konservasi alam, enteogen, spiritualitas, religi, dan sains, Partikel juga bisa disebut sebagai coming-of-age story dari seorang Zarah, di mana sejak belia ia kerap berbenturan dengan sistem sosial dan agama yang penuh stigma, mempertahankan prinsip pribadinya, broken marriage orangtuanya, mencari arti “rumah” sebenarnya, melepas virginitas, serta jatuh cinta dan patah hati seperti gadis-gadis lain seumurnya.

Tak lama setelah menyelesaikan novel ini, saya menghubungi Dee untuk berbincang tentang Partikel dan episode-episode berikutnya.

Awalnya, hal yang paling ingin saya tanyakan adalah begitu lamanya rentang waktu dari Petir ke Partikel, but you already explain about it on the book itself, jadi saya akan mengganti pertanyaan tersebut dengan:  how do you feel right now setelah Partikel akhirnya dirilis?

Mixed of feelings. Yang mendominasi tentu saja rasa lega, sekaligus excited ingin tahu respons pembaca bagaimana, apalagi mereka yang sudah menunggu bertahun-tahun. So far, I’m overwhelmed with the warm response, beyond happy!

Bolehkah saya meminta Anda untuk sedikit mengingat kembali saat pertama kali memulai menulis Supernova?

Saya menulis Supernova tahun 2000, tak lama setelah saya mengalami semacam “epifani” personal yang mengubah total pandangan saya terhadap spiritualitas, religi, dan sebagainya. Dulu tujuannya bikin Supernova sebetulnya tidak lebih dari berbagi penelusuran spiritual pribadi saya.

Bagian apa yang paling susah dan menyenangkan dalam menyelesaikan Partikel?

Paling susah adalah waktu. Saya menulis Partikel dalam kondisi sudah ada anak dua, yang satu sudah SD, yang satu masih balita, di tengah gempuran berbagai urusan pekerjaan dan mengurus rumah tangga. It felt almost impossible. Tapi dengan dukungan suami saya dan orang-orang rumah, keleluasaan dari penerbit, dan juga tekad yang memang sudah bulat untuk menyelesaikan manuskrip Partikel, akhirnya bisa juga. Yang paling menyenangkan tentunya adalah proses menulis itu sendiri. Bisa tenggelam dalam semesta kehidupan karakter saya. It’s a pleasant and exciting process, bahkan saat sulit sekalipun. If it’s pain, then it’s a good pain.

Buku-buku atau materi apa saja yang paling membantu Anda sebagai referensi/bahan riset untuk Partikel?

Setiap bagian atau babak punya referensi tersendiri. Tiga yang paling membantu adalah buku-buku dan penelitian Paul Stamets tentang fungi, Graham Hancock tentang enteogen, dan Birute Galdikas tentang orang utan. Selain itu masih banyak lagi, tapi bisa dibilang pondasi terkuat adalah tiga penulis tadi.

Di Partikel Anda menuliskan dengan begitu gamblang tentang efek dari enteogen, apakah Anda juga mencoba mengonsumsinya untuk mengetahui efeknya?

Sayangnya tidak. I wish, though. Tiga tahun lalu saya sudah berencana ke Peru, tapi batal karena hamil anak kedua. Akhirnya, murni riset. Tapi, pengalaman bermeditasi amat sangat menolong. Ketika saya membaca dan tanya jawab dengan mereka yang sudah mengalami, saya sangat bisa relate.

Saya tidak bisa menahan diri untuk bertanya, kapan episode berikutnya, Gelombang, akan dirilis? Apakah Anda sudah mulai menulis beberapa bagiannya atau belum sama sekali?

Semua episode Supernova sudah saya buat konsepnya sejak 2001. Jadi embrio Gelombang sudah lama ada. Rencananya saya menulis maraton, sih. Jadi tidak ada proyek menulis lain sampai Supernova selesai.

Bagaimana dengan project lainnya? Saya dengar Perahu Kertas sedang difilmkan, bagaimana keterlibatan Anda dalam pembuatannya?

Perahu Kertas sudah selesai syuting, akan tayang Agustus. Saya menulis skenario dan menggawangi hingga proses casting kemarin. Sisanya sudah di tangan Hanung Bramantyo dan para produser. Untuk menulis, saya akan melanjutkan penulisan Supernova selanjutnya. Sekarang masih dalam tahap riset. Ada beberapa buku saya lain yang akan difilmkan juga, tapi saya nggak akan terlibat jauh. Mau menyelesaikan Supernova dulu.

How do you manage to balance the family life and writing?

I don’t think there’s any certain formula to that. Dijalankan saja, lengkap dengan trial dan error tentunya. Selalu ada konsekuensi. Ketika menulis Partikel, saya sempat “disapih” (berhenti menyusu – red.) oleh Atisha, anak kedua saya, padahal saya masih berencana menyusuinya. Mungkin dia merasa vibrasi ibunya jadi agak lain. Tapi begitu manuskrip selesai, pelan-pelan dia balik lagi menyusui. Sekarang sudah normal lagi. Suamiku, yang untungnya terapis, juga kenyang dengan ups and downs yang saya alami, ketika stuck, ketika riset mentok. He was really, really, my strongest pillar throughout the process.

Untuk sekarang, apa yang sedang Anda inginkan?

Beristirahat dulu. It was quite a roller coaster, secara batin terkuras tiap kali menulis intensif.

Apa mimpi-mimpi Anda yang belum terwujud?

Hmm. Apa, ya. Saat ini rasanya saya lebih condong melihat sesuatu jarak pendek, nggak terlalu panjang-panjang lagi. Dalam jarak dekat ini “impian” saya adalah menyelesaikan Supernova. Tapi sebetulnya itu lebih ke target daripada “mimpi”.

Ok, any last word for this time?

Bacalah Partikel. Hehe.

As published in NYLON Indonesia May 2012