Très chic, très hip, très sexy! An Interview With Mademoiselle Yulia

Tokyo’s It Girl, DJ, musisi, style icon, club queen, fashion & accessories designer, muse, kolumnis mode NYLON Japan… Mademoiselle Yulia telah mengantungi lebih banyak profesi dari yang bisa kamu bayangkan dari seorang wanita yang bahkan belum menginjak umur 30 tahun. Menyebutnya sekadar seorang multi-hyphenate adalah sebuah understatement, namun di luar segala label yang melekat pada dirinya, Mademoiselle Yulia tidak akan pernah puas mengeksplorasi dunia dengan style and sound personalnya yang nyaris tanpa cela. We want to know the secret, s’il vous plait

 img_3894

Di masa ketika siapapun bisa menjadi overnight celebrity dengan berbekal persona social media yang kuat dan jumlah follower sebagai currency untuk kepopuleran seseorang, istilah It Girl mungkin telah menjadi sesuatu yang sangat cair dan fleksibel. Begitu mudahnya kita beralih dari satu girl crush ke girl crush lainnya hanya dengan beberapa klik dan stalking di Instagram, it’s became everybody’s game at this moment. Tapi ada satu hal penting yang tak bisa ditutupi filter apapun dan membuat seorang It Girl tetap standout di antara ribuan It Girls lainnya, yaitu? The genuine talent and natural charms, tentu saja. For some people, setiap post yang mereka unggah di Instagram adalah full-time job yang membutuhkan effort besar demi the so-called “curated contents”, paid content, dan menarik lebih banyak followers. Namun, bagi sebagian orang lainnya, Instagram sebetulnya tidak lebih dari sekadar platform untuk membagikan sekelumit keseharian mereka yang jauh lebih seru in real life instead of URL. Mademoiselle Yulia termasuk golongan yang kedua.

            DJ, penyanyi, dan desainer asal Tokyo ini mungkin “hanya” memiliki 141K followers di akun Instagram @mademoiselle_yulia miliknya, jauh lebih sedikit dari katakanlah Kiko Mizuhara dengan 3, 4 juta followers-nya, namun sempatkan waktu untuk scrolling sekejap di feeds miliknya yang dipenuhi foto dirinya menghadiri berbagai acara fashion paling happening across the globe, entah itu duduk di front row sebuah fashion week, menjadi DJ di party untuk brands seperti Louis Vuitton, Sonia Rykiel, dan Chanel, memamerkan personal style-nya baik di red carpet maupun di depan lensa street photographers, or just chilling with her best friends yang meliputi Jeremy Scott, 2NE1, Virgil Abloh (style advisor Kanye West), dan Kiko; kamu akan paham jika dia sebetulnya memang orang yang lebih memilih berinteraksi di dunia nyata dibanding seseorang yang obsessively berkutat dengan smartphone setiap saat. “Sejujurnya saya tidak menganggap social media sebagai hal yang vital bagi kehidupan pribadi saya sehari-hari,” cetus wanita berumur 28 tahun ini. “Saya menggunakan social media seperlunya saja untuk berkomunikasi dengan teman-teman di luar negeri. Tapi memang saya paling suka Instagram karena basically it’s a picture and you don’t need to say anything,” sambungnya.

Telah kembali ke Tokyo setelah kunjungan terbarunya ke Paris yang meliputi pemotretan untuk majalah yang kamu pegang sekarang, Yulia membalas email interview kami hanya beberapa jam sebelum final deadline kami, but its kinda forgivable mengingat aktivitasnya yang padat. “I’m DJ-ing a lot these days. Saya juga baru menggelar ekshibisi untuk koleksi Autumn/Winter 2016 brand baru saya, Growing Pains, bulan lalu. Jadi saya baru akan mulai memikirkan ide untuk koleksi berikutnya. Lots of new project this year,” ungkap Yulia soal aktivitasnya belakangan ini. Dengan segala kesibukan yang ia lakukan, Yulia mungkin tidak punya waktu untuk meng-update Instagramnya setiap saat, namun tak bisa dipungkiri jika Instagram juga yang memperkenalkan dirinya ke audiens global (termasuk Rihanna, but we will talk about it later), walaupun sejatinya Mademoiselle Yulia telah memiliki reputasi cult di kancah fashion dan musik electro Tokyo sejak dia bahkan belum lulus SMA.

img_3916

Bagaimana cara memperkenalkan Mademoiselle Yulia kepada orang yang belum familiar dengan namanya? Well, to put it simple, Mademoiselle Yulia adalah seorang fashion royalty di Tokyo yang terbiasa tampil di red carpet, front row, galeri foto street style paling bergengsi di sela-sela kesibukannya membuat musik J-pop dengan influens electro yang kental serta menjadi DJ di pesta-pesta paling eksklusif di dunia fashion. Namun seiring kamu membaca artikel ini, kamu akan tahu jika she’s way more than that.

Lahir dan besar di Tokyo, wanita kelahiran 10 Agustus 1987 ini memulai karier bermusiknya dengan menjadi vokalis dan gitaris untuk sebuah band berpersonel empat orang yang ia bentuk saat dia baru masuk SMA. “It was a punk band, saya banyak mendengarkan musik Barat, terutama punk, rock, new wave, post punk dari akhir 70-an sampai awal 80-an,” kenangnya soal band pertamanya yang mengambil inspirasi dari The Clash dan Kraftwerk tersebut. Tahun berikutnya, terinspirasi dari kunjungannya ke sebuah acara DJ night di London, Yulia mulai menggelar sebuah electronic dance party underground serupa di Tokyo dengan nama Neon Spread. Just like The Misshapes party di New York City ataupun acara Kitsuné di Prancis, acara tersebut dengan cepat menjadi party paling happening sekaligus ajang seen and to be seen para It Crowds setempat. “Saat masih di band pun saya juga telah banyak mendengarkan musik electro, terutama electroclash karena genre tersebut adalah perpanjangan dari musik-musik yang saya sukai (post punk dan new wave). So it was natural for me to start to listens electro music,” ungkapnya.

            Just like a rite of passage seperti yang dialami juga oleh para club queens seperti Leigh Lezark, Sarah Jane Crawford, Solange, dan Harley Viera-Newton yang tidak puas bila hanya berdansa di dance floor, langkah berikutnya yang dilakukan Yulia adalah menguasai DJ deck dan merilis mixtape. Di tahun 2008, Yulia melakukan debutnya sebagai DJ dengan kontrak bersama EMI Music Japan untuk merilis mixtape perdananya bertajuk Neon Spread dari lagu-lagu yang ia mainkan di acara tersebut dan sampai saat ini telah memiliki tiga volume. Seiring kepopulerannya sebagai DJ di berbagai event dan party, Yulia pun mulai berkolaborasi dengan tokoh-tokoh penting lainnya di skena electro dan hip-hop Tokyo seperti Plastics, Towa Tei, Shinichi Osawa, M-Flo, dan Teriyaki Boyz, serta Krazy Baldhead dan Uffie, dua musisi elektronik asal Prancis yang pada masa itu menjadi kebanggaan Ed Banger Records. Kedekatannya dengan rapper Verbal dari grup Teriyaki Boyz dan M-Flo sebagai kolaborator kemudian berlanjut ketika ia menjadi executive producer untuk album debut Yulia sebagai penyanyi elektronik. Dirilis pada bulan September 2011, album debut yang diberi judul Mademoworld itu mengantarkan nama Yulia ke ranah mainstream dengan sebuah world wide tour bertajuk “Angee Yung Robotz” untuk mempromosikan album berisi 12 lagu tersebut.

Mendapat apresiasi positif baik dari kritikus maupun penggemar musik berkat produksi yang slick, persona Yulia yang unik, dan beat yang adiktif, album ini juga dianggap memperkenalkan genre J-pop yang lebih universal dan mudah diterima ke telinga pendengar internasional. A kind of album you can bangin on with, terlepas kamu mengerti bahasa Jepang atau tidak. Single utama di album ini berjudul “Gimme Gimme” yang disutradarai oleh graffiti artist asal Prancis, Fafi, memperlihatkan Yulia with her glorious blue hair dan girl squad-nya berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya dengan visual aesthetic yang nyaris serupa seperti yang akan Madonna buat untuk video “Bitch I’m Madonna” empat tahun kemudian (Yulia lebih dulu merilis “Gimme Gimme” di tahun 2011). Selain kolaborasi dengan will.i.am dan Basement Jaxx serta membuatnya menjadi opening act untuk tur Jepang Kylie Minogue, kepopuleran Mademoworld juga menghasilkan sebuah show miliknya sendiri dengan nama yang sama di kanal musik Space Shower dan di tahun 2013 Yulia merilis album keduanya, Whatever Harajuku, dengan single “Harajuku Wander” dan musik video yang menunjukkan Yulia di habitat naturalnya di antara para fashion forward people Harajuku.

Fun and unexpected,” jawab Yulia singkat saat diminta mendeskripsikan personal style dirinya. It’s been long days sejak Gwen Stefani tergila-gila pada gaya Harajuku dan menjadikannya sebuah stereotipe klise dari giggling Japanese girls in wacky outfits, namun, di tangan Yulia sebagai the true native and role model, ia berhasil membawa street style kebanggaan Tokyo tersebut ke level selanjutnya yang lebih mature dan edgy dengan aesthetic yang terinspirasi dari pusat-pusat skena alternatif Tokyo seperti Harajuku, Koenji, dan Shimokitazawa yang merepresentasikan sense of style kota tersebut yang surreal. Tokyo’s street style is finally cool again. “I think fashion is the first passion karena saya tidak terlalu pandai mengekspresikan diri lewat kata-kata. Jadi bagi saya fashion adalah cara saya untuk mengekspresikan diri. Tapi sejak saya bergabung di band pertama saya, musik juga menjadi salah satu cara saya untuk berekspresi. Fashion dan musik, keduanya sangat berpengaruh dalam hidup saya,” tukasnya.

Dengan kepopuleran EDM yang menjadi salah satu genre paling besar di awal abad ini, whether you like it or not, DJ is the new rock star and fashion muses. Mademoiselle Yulia kebetulan termasuk salah satu DJ yang mampu memadukan style dan sound dengan sama apiknya. Diberkahi personal style eklektik dan kemampuan mix and match sesuatu yang unexpected menjadi kesatuan looks yang membuat iri fashion blogger paling berani sekalipun, Yulia mampu mengenakan pakaian paling ajaib dari runway dan membuatnya tetap wearable. Contohnya saat ia memakai gaun Chanel berwarna pastel dengan heels putih dan kaus kaki semata kaki atau memakai kimono sambil menenteng tas Gucci berdetail bunga. Dengan injeksi whimsical khas Harajuku, ia membuktikan dirinya sebagai the ultimate mix master, dengan atau tanpa turntable di sampingnya.

img_3871

Terima kasih untuk kemajuan teknologi, sense of style dirinya pun membuahkan legion of fans dari seluruh dunia, termasuk dari kalangan fashion insider seperti Jeremy Scott yang menjadikannya muse dan menjadi sahabat baiknya atau Stella McCartney yang memintanya sebagai representasi Tokyo untuk proyek “One City, One Girl” label miliknya di mana Stella McCartney herself memilih gadis-gadis paling keren untuk mewakili dan memperkenalkan kota mereka masing-masing. “Saya sejujurnya lebih aktif di malam hari karena pekerjaan sebagai DJ selalu dimulai saat larut malam, tapi saya selalu berusaha bangun sebelum jam 10 pagi. Saya memulai hari saya dengan meminum yoghurt,” jawab Yulia tentang bagaimana ia biasanya menjalani hari-harinya di Tokyo. Berkumpul dengan teman-temannya di daerah Harajuku, a little bit of shopping, lalu makan malam dan setelahnya pergi ke bar atau club adalah kegiatan favoritnya di kota kelahirannya tersebut. “Tokyo is really convenient and clean. Saya menyukai bagaimana mood kota ini berubah seiring pergantian musim. Tapi saya juga sangat suka London. Saya ingin tinggal di sana suatu hari nanti,” akunya.

            Dengan reputasi yang kian menanjak, maka tidak mengherankan jika Yulia pun bisa dibilang telah bertransisi dari local icon ke global stardom, membuatnya mendapat fans dari berbagai belahan dunia dari New York sampai Yunani dan membuka pintu sosial yang lebih lebar lagi baginya. Buktinya? Well, tampil sebagai cameo di video klip “The Baddest Female” milik CL dari 2NE1, duduk di front row Jeremy Scott di tengah Iggy Azalea dan Nicki Minaj, menjadi satu-satunya model Asia di kampanye global H&M yang bertema “H&M Loves Music”, dan mendapat sahabat baru, Rihanna.

“Saya bertemu Rihanna sekitar 3-4 tahun lalu di Paris. Saya pergi ke sebuah party bersama teman-teman saya dan ketika saya sedang berdansa seru di dance floor, tiba-tiba Rihanna melambaikan tangannya ke arah saya dan memanggil saya ke mejanya! Dia bilang, ‘I know you from Instagram and I love your style!’ Kebetulan kami berdua punya mutual friends seperti Jeremy Scott dan lain-lain, jadi dari situ dia menemukan saya di Instagram tapi sejujurnya saya sangat terkejut karena dia mengenali saya! Sejak saat itu kami pun berteman. Kalau CL, sebenarnya saya sudah kenal dia sejak sepuluh tahun lalu. Saya bertemu dengannya sebelum dia debut dengan 2NE1 karena saya berteman dengan stylist-nya.”

Setelah cameo-nya di video CL, ia pun diminta menjadi DJ untuk after party show Chanel Resort di Seoul dan berada di bawah naungan agensi model internasional IMG yang turut membantu popularitasnya di dunia fashion baik digital maupun real life. Namun, bahkan sebelum era social media pun, Yulia adalah sosok egnimatis yang dengan effortless menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. “Lewat social media, saya memang beruntung karena bisa bertemu beberapa orang yang mungkin tidak bisa saya temui sebelumnya, tapi untungnya, di lingkungan saya berkembang, bahkan sebelum adanya media sosial pun, saya punya banyak kesempatan untuk bertemu orang-orang seperti Jeremy Scott dan tim KTZ yang mengulurkan tangan mereka bahkan sejak saya baru mulai tampil sebagai DJ,” ujarnya.

Sama halnya dengan sikapnya pada musik, rasa cintanya kepada fashion juga tak berhenti sebatas sebagai konsumen. She needs to create something. Selain masih menjadi kolumnis tetap rubrik fashion miliknya sendiri dalam setiap edisi NYLON Japan selama delapan tahun terakhir ini, Yulia pun memiliki fashion brand sendiri. Brand pertama miliknya adalah Giza, sebuah label statement accessories yang ia buat di tahun 2008. Aksesori yang ia buat untuk label ini meliputi jewelry, tas, headwear, badges, dan t-shirts yang terinspirasi dari ancient Egypt dengan sentuhan pop art yang kental dan telah berkolaborasi dengan label-label streetwear terkenal seperti Wesc untuk Fall 2010 dan Joyrich, label kelahiran Tokyo yang kini berbasis di Los Angeles, di mana ia membuat kolaborasi bertema sport-luxe yang playful untuk koleksi Spring/Summer 2015 label tersebut.

Tak pernah berhenti berkreasi atau kekurangan inspirasi, bulan November tahun lalu, ia pun meluncurkan clothing brand terbarunya yang diberi nama Growing Pains dengan koleksi yang meliputi outerwear, patterned dresses, faux fur, dan latex skirts. “Saya terinspirasi dari berbagai macam pergerakan seni, baik itu dari musik, sinema, underground culture, dan movement dari seluruh dunia. It also celebrates bit of humor and every spirit of enjoying fashion as a self-expression. Musim pertamanya terinspirasi 90’s culture dan film Doom Generation, musim keduanya terinspirasi film-film Wong Kar-wai dari awal 2000-an,” terangnya soal label tersebut.

img_3965

 Fashion dan musik faktanya adalah yin & yang tak terpisahkan dari hidup Yulia, bahkan sejak ia masih kecil. Ibunya adalah seorang kimono dresser dan ayahnya adalah seorang hairstylist, so it’s definitely in her genes. “Saya sangat berterima kasih terhadap kedua orangtua saya karena walaupun mereka sangat strict tapi mereka selalu mendukung apapun yang ingin saya kerjakan. Mereka juga menyukai fashion dan musik,” ujar kolektor vintage Moschino dan Thierry Mugler ini. Sama seperti mayoritas anak perempuan Jepang, Yulia tumbuh dengan kecintaan terhadap benda-benda kawaii yang terus berlanjut sampai sekarang. Dalam sebuah feature dirinya di situs The Coveteur, kita bisa melihat kamarnya yang tidak hanya dipenuhi koleksi designer items, sneakers, dan barang-barang fashion saja, tapi juga pernak-pernik My Little Pony, Sailor Moon, dan kawaii things lainnya yang tertata rapi. “Saya mulai mengoleksi beberapa benda sejak kecil, tidak hanya kawaii things, saya juga mengoleksi boneka Barbie dan snow globes,” ungkapnya sambil menyebut compact powder Sailor Moon sebagai salah satu item wajib yang ada di tasnya, di samping dompet Celine, iPhone dengan cigarette case yang ia buat sendiri, lipstick Chanel, dan gummy bears merek Haribo favoritnya.

Hal yang menurutnya impossible bila ia harus memilih antara fashion atau musik, Yulia pun tidak bisa pergi terlalu lama dari dunia musik. 17 Desember lalu, ia kembali ke dunia musik dengan dua single terbarunya, “GOGO” dan “THIS WEEKEND” yang merupakan rilisan terbarunya sejak Whatever Harajuku. “Saya merekam kedua lagu ini bersama seorang beat maker teman saya yang tergabung di band bernama ANIMAL FEELINGS saat saya di New York. Ini adalah pengalaman pertama saya merekam lagu di luar Jepang. ‘GOGO’ is beautiful song with slow jam sedangkan ‘THIS WEEKEND’ memiliki little disco flavor dengan beat yang danceable. Saya ingin membuat lagu yang berbeda dari yang telah saya kerjakan sebelumnya dan kembali ke akar saya, which is playing with the band,” tegasnya. Stay true to her roots, kedua single ini tidak hanya dirilis secara digital, tapi juga dalam bentuk CD dan 7 inch vinyl record sebagai reminiscence dari masa yang telah lewat. “Tentu saja pasar musik digital juga telah besar saat saya membuat mixtape pertama saya, namun waktu itu orang-orang masih banyak yang membeli musik dalam format CD, but now… Not anymore. Tapi saya masih ingin membuat bentuk fisik untuk musik saya, karena itu saya juga merilisnya dalam format vinyl. Karena seperti yang kamu tahu, vinyl secara ironis menjadi sangat populer kembali di seluruh dunia,” terangnya.

img_3956

            Kedua single tersebut adalah perkenalan dari album terbarunya yang akan berjudul YULIA dan direncanakan rilis musim dingin nanti. Untuk sekarang, ia masih mengerjakan album tersebut sambil juggling every works in her hands with ease, namun berbeda dari prasangka orang, ia sebetulnya tidak menganggap dirinya sebagai seorang multi-tasker. “Yang saya sukai dari diri saya… Saya berusaha untuk stay true to myself baik dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari. Yang saya tidak sukai, saya tidak bisa memikirkan hal-hal lain ketika saya sedang fokus terhadap suatu hal,” akunya. Sebuah fakta yang cukup membuat terkejut jika kita menghitung semua kesibukan dan profesi yang ia jalankan secara bersamaan.

Fashion dan musik mungkin telah menjadi hal yang familiar dan semudah membalik tangan baginya, namun saya pun penasaran bidang apa lagi yang ingin ia eksplor berikutnya. Selain personal style, sebetulnya yang membuat sosok Yulia menarik adalah her flawless makeup and hair style. Seperti yang sudah disebutkan, ayahnya adalah seorang hair stylist dan Yulia sendiri pun memiliki license sebagai hair stylist. “Iya, saya punya license untuk hairdressing. Karena saya sempat ingin menjadi hair stylist atau makeup artist saat masih remaja. Saya sebetulnya masih berminat melakukan proyek yang berhubungan dengan beauty, mungkin membuat beauty products? Who knows right? Haha… Tapi kalau bisa memilih, saya sebetulnya ingin menjadi pramugari!” ungkapnya gamblang. “Saya ingin pergi ke Mesir, Turki, dan Maroko! Saya telah mengunjungi cukup banyak negara di Asia, Eropa, dan Amerika, tapi saya sangat tertarik untuk mengunjungi Afrika. Sedangkan Turki berada tepat di antara Asia dan Eropa. Jadi saya pikir budaya di sana akan sangat menarik,” sambungnya. How about Indonesia then? “I really wanna go to Indonesia!” jawabnya dengan excited sambil mengungkapkan keinginannya untuk bisa bertemu dengan penggemarnya di sini. A little bird told me, hal itu mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Jika saat itu tiba, persiapkan dirimu untuk mencari koneksi yang bisa membuatmu diundang ke acara yang sama dengannya. Untuk sekarang, at least you know more about her already from us, and yeah, you’re welcome.

img_3959

Fotografi: Yuji Watanabe.

Stylist: Stefanie Miano.

Makeup Artist: Vichika Yorn.

Hair Stylist: Jonathan Dadour (B Agency).

 

Blooming Days, An A To Z of Ashley Yuka Mizuhara

Tumbuh besar di bawah bayang-bayang sang kakak, Kiko Mizuhara, tentu bukan hal mudah. Namun kini, Ashley Yuka Mizuhara bersiap mekar dengan warna dirinya sendiri.

IMG_0913

Jika kamu bertanya siapa cewek Jepang paling keren saat ini, most likely 7 dari 10 orang akan menjawab nama Kiko Mizuhara. Well, that’s only my wild guess dan memang hal itu belumterbukti secara empiris, namun melihat bagaimana sekarang semua orang tampak terpesona oleh karisma dan kecantikan model merangkap aktris tersebut, saya rasa tebakan saya tidak akan meleset terlalu jauh. After all, Kiko adalah natural-born It Girl yang memancarkan aura kekerenan dengan begitu effortless, dan tampaknya that innate coolness adalah sebuah warisan genetis yang mengalir di darahnya, karena kinikita pun diperkenalkan oleh sang adik semata wayangnya, Ashley Yuka Daniel atau lebih akrab dikenal dengan nama Yuka Mizuhara yang mengikuti jejaknya di bidang modelling.

Sama seperti Kiko, Yuka yang lebih muda empat tahun dari Kiko juga mewarisi look yang unik, hasil dari paduan genetis ayah Amerika dan ibu berdarah Korea-Jepang atau yang lazim disebut dengan istilah Zainichi. Lahir dan besar di wilayah Kobe yang terkenal dengan daging sapi berkualitas tinggi (fakta yang dengan antusias diselipkan olehnya dalam balasan interview ini), Yuka dan Kiko tumbuh menjadi kakak-adik dengan hubungan yang super erat, terutama ketika orangtua mereka bercerai dan sang ayah kembali ke Amerika. “Suatu hari, kakak saya mengajak saya ke sebuah runway untuk Kobe Girl’s Collection. Sebelumnya saya belum pernah melihat langsung dia berjalan di atas runway, dan saya terpukau karena dia sangat stunning dan keren! Sejak itu, saya merasa saya ingin mengikuti jejaknya dengan menjadi model,” ungkap Yuka tentang awal ketertarikannya menjadi model.

Sama seperti sang kakak, tak butuh waktu lama bagi Yuka untuk menjadi the next It Girl dengan tampil di berbagai majalah fashion dan komersial, di samping berbagai aktivitas lainnya seperti talk showdi Apple store untukHanae Mori Maniscuri ×Digital Couture Fashion hingga berkolaborasi dengan musisi elektronik legendaris Jepang, Towa Tei, di mana ia menyumbangkan vokal di lagu “Luv Pandemic” dari album terbarunya yang berjudul CUTE.

 Walaupun kerap dibandingkan dengan sang kakak, Yuka jelas memiliki pesonanya sendiri yang tak kalah memikat. Jika Kiko terlihat dewasa dan seksi, maka Yuka adalah versi Kiko yang lebih kawaii dan ceria, seperti yang bisa kamu lihat di akun Instagram miliknya @ashley_yuka yang dipenuhi oleh selfie imut dan hal-hal quirky yang ia jumpai sehari-hari. Untuk mengenalnya lebih jauh, kami pun memintanya menjawab the A to Z tentang dirinya!

 IMG_0526

About your relationship with Kiko

She is like my best friend always and forever!

Breakfast menu?

Mostly cereal with soy milk!

Cute mascot?

KIRIMI CHAN!(karakterSanrio)

Dream collaboration/project?

I won’t tell yet, it’s a secret, hehe!

Embarassing moment?

Saya pernah memakai t-shirt terbalik seharian >_<

First love?

Saat saya remaja, tapi saya tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

Guilty pleasure?

Saya pernah berbohong kepada teman saya >_<

Happiest moment?

Family time

It Girl?

Lion Baby

Japanese pride?

Japanese food is the best!!

Karaoke song?

“Royal” – Lorde

Love of your life?

To be with my friends. They made me so happy!!

Musician you would like to meet?

Brandy!!!!

IMG_1125

Never have I ever…

I try not to do anything dirty.

Obsession lately?

Drinking cappuccinoevery day.

Pet you like to have?

I already have the cutest cat on my own

Question you hate to answer?

Nothing^^

Rumor about you?

Also nothing…!!!l hope.

Style icon?

Debbie Harry 

Things you can’t live without?

My family and friends!

Ultimate crush?

Benda-benda penuh glitter!

Vacation plan?

I’m just planning to go to Bali!!!

What things you would never wear?

Any large size’s clothes!!!!

X-factor?

Doja Cat

Your beauty secret?

Eating healthy food!!!

Zodiac?

Libra. Dog in Chinese Zodiac.

IMG_0958

Foto: Sally Ann & Emily May

Styling: Kosei Matsuda

Makeup: Mariko Tagayashi

Hair: Sayuda Miki

Time For A Change, Time To Move On

Apa yang terjadi setelah kamu menjalani passion yang kamu miliki? Well, hidup ternyata tak berhenti di titik itu. Everything’s changing dan kita harus selalu siap.

Its not quite a secret anymore kalau belakangan ini saya sering menghabiskan waktu di ask.fm, sebuah situs social network di mana para penggunanya bisa saling bertanya satu sama lain. Terlepas dari image negatif sebagian orang kalau ask.fm isinya hanya orang-orang narsis yang kurang kerjaan, situs ini sebetulnya bisa menjadi tempat untuk saling berbagi cerita dan inspirasi, ataupun bertanya kepada mereka yang lebih berpengalaman. Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima di situs tersebut adalah bagaimana saya bisa memulai karier di majalah dan menemukan passion saya.

passion

Tentu saja bukan rahasia lagi jika tidak sedikit orang yang mengaku belum menemukan passion masing-masing, mereka yang masih clueless dalam memilih jurusan kuliah atau karier, maupun mereka yang merasa sedang stuck di rutinitas yang sama dan tidak sesuai dengan apa yang sebetulnya ingin mereka kerjakan. Well, guess what? Saya pun pernah berada di titik seperti itu, dan sekarang izinkan saya bercerita tentang bagaimana I finally able to pursue my passion and write my own story.

It’s all started ketika saya masih menjadi mahasiswa di Program Studi Cina, FIB Universitas Indonesia. Back in the days, saya tergolong mahasiswa dengan prestasi akademik yang sangat rata-rata dan bahkan harus mengulang mata kuliah wajib sampai dua kali. Dari awal, saya memang ingin kuliah sastra walau sejujurnya pilihan pertama saya adalah Jepang atau Prancis. Waktu itu saya memilih Sastra Cina simply karena orangtua bilang jurusan itu lagi banyak diminati dan akan membuat saya mudah mendapat kerja. Waktu itu saya belum paham bagaimana kita sebaiknya tidak memilih jurusan kuliah hanya dengan alasan “biar gampang dapat kerja”, instead of memang niat mempelajari ilmunya. Seiring waktu, dengan banyaknya peer pressure dan tekanan dari dosen, ada banyak momen yang membuat saya berpikir “Kayanya gue salah jurusan deh.” Pikiran itu memuncak ketika saya tidak lulus untuk kedua kalinya dan terancam drop out. Saya merasa serba salah. Mau meneruskan rasanya sudah tidak ada gairah, mau mengundurkan diri pun rasanya tanggung karena sudah setengah jalan. But at the same time I feel like I’m not following my dream & wasting my time.

Untungnya, waktu itu saya menemukan “pelarian” dengan bergabung sebagai Music Director di radio kampus yang membuat saya tetap waras. Sebagai Music Director, saya terobsesi menemukan band-band indie atau musik-musik paling baru dan merekomendasikannya ke teman-teman melalui tulisan di Notes Facebook. Dari situ, seorang teman yang sering menjadi sasaran curhat saya suatu hari berkata, “Kenapa elo nggak bikin blog aja, Lex? Daripada cuma browsing dan stress kuliah?” Waktu itu saya hanya menanggapinya malas-malasan, tapi diam-diam saya berpikir, “Betul juga sih, I need to change my routine, indeed.” Akhirnya bulan Februari 2010, saya iseng membuat blog di Tumblr yang isinya tulisan soal musik dan passion saya yang lain, yaitu fashion.

Beda dari fashion blogger umumnya yang gemar menampilkan personal style mereka, saya sebetulnya tidak merasa sebagai orang yang trendi. I just love watching fashion show on YouTube and write my impression about the show and the collection on my blog. Dari yang awalnya iseng, perlahan kegiatan blogging menjadi rutinitas baru yang menyenangkan. Hari-hari saya tidak lagi terasa membosankan. Karena waktu itu saya menulis dalam bahasa Inggris (sekalian latihan) dan selalu me-link postingan blog ke Twitter dan Facebook, saya mulai mendapat respons dari orang yang membaca blog saya. Dengan makin banyaknya interaksi dan atensi, saya makin bersemangat menulis blog dan sadar jika ternyata saya masih bisa mengejar passion saya.

nikicio

Nikicio Mixte Vol. 05 Fashion Show yang menjadi fashion show pertama yang saya liput:

Satu hari, tanpa diduga saya dihubungi tim dari fashion label Nikicio untuk hadir ke fashion show mereka. Waktu itu Nikicio adalah label yang terbilang masih baru namun sangat populer dan menjadi bagian dari kebangkitan fashion independen lokal circa Brightspot Market. Terus terang, saya cukup shock karena blog saya ternyata bisa di-notice label betulan. Akhirnya, saya pun datang ke fashion show Nikicio di Salihara and it was my first ever fashion show. Pulangnya saya langsung menulis review soal show tersebut dan me-link post itu ke Twitter. Tak disangka, ternyata postingan tersebut dibaca oleh Nina Nikicio, the designer herself, dan dia me-retweet sambil menambahkan “Best review ever”. Tentu rasanya senang banget dan membuat saya semakin bersemangat ngeblog. Tak berhenti di situ, beberapa hari setelah di-retweet Nina, tiba-tiba saya mendapat message dari wakil pemimpin redaksi majalah Cleo Indonesia untuk datang ke kantor mereka. “Kenapa nih?” pikir saya sempat ragu, walau akhirnya saya memutuskan untuk datang ke kantor Cleo.

It turns out, ternyata Mbak Ein Halid, wakil pemred Cleo tersebut membaca blog saya dari retweet-an Nina. Ia mengajak saya ngobrol tentang blog saya, about fashion dan terutama, passion saya. Tak disangka, saat itu juga beliau tertarik untuk menawari saya menjadi kontributor untuk halaman fashion di Cleo! Hal yang sangat surprising, kalau kata zaman sekarang sih “dah aku mah apa atuh”, haha. Hanya blog biasa tiba-tiba mendapat kesempatan menulis untuk majalah skala nasional. Saya yang biasanya selalu ragu-ragu dan cenderung berpikir lama dalam menentukan sesuatu (bawaan Libra) akhirnya berani untuk break free dari zona nyaman saya dan memilih mengikuti kata hati, I said yes! Walaupun tentu masih grogi dan cemas apakah tulisan bisa delivered sesuai ekspektasi atau tidak. Tapi saya meyakinkan diri, kapan lagi mendapat kesempatan seperti itu?

Di hari itu juga saya diajak ikut liputan ke pembukaan Level One di Grand Indonesia dan merasakan langsung jadi reporter untuk pertama kalinya. Dari situ, saya mendapat tawaran menulis secara berkala dari Cleo. Rasanya senang ketika akhirnya merasakan dapat honor, tapi jauh lebih senang lagi ketika melihat tulisan saya bisa dimuat di majalah dan dibaca orang lain secara luas. Waktu itu untuk pertama kalinya saya merasakan momen eureka, “This is it, this is what I wanna do in life. I want to write my own story, and I’ll follow my passion.”

cleo

cleo2

Cleo1 Beberapa tulisan saya untuk Cleo Indonesia.

Semangat tersebut menular ke aspek hidup lainnya. Saya jadi semangat belajar, serius kuliah, dan bertekad lulus secepatnya. Setelah lulus, saya pun langsung melamar kerja di berbagai majalah sampai akhirnya diterima di Nylon Indonesia yang baru terbit awal tahun 2011. Di Nylon, tahun pertama saya menjadi junior writer dan untuk pertamakalinya melihat nama lengkap saya ada di jajaran masthead sebuah majalah, dream came true! Tahun berikutnya saya di-promote menjadi associate editor sebelum dipromosikan lagi menjadi senior editor dari tahun 2013 sampai sekarang.

NYLON Indonesia January 2015
Lima tahun bekerja di tempat yang sama, apalagi untuk ukuran first time job, bukan waktu yang sedikit. Tak bisa dipungkiri jika bekerja di manapun pasti ada momen-momen melelahkan atau kejadian yang membuat bad mood. Namun, semua stress itu hilang jika saya mengingat lagi masa-masa yang menentukan itu. Saya hanya cukup bersandar sejenak and realize that I already follow my dreams, I’m on the right track to pursue my passion & I just need to keep deliver the unexpected result, even for myself. Di Nylon, saya dibebaskan penuh untuk menulis topik apapun yang saya suka, mulai dari musik, seni, fashion, dan creative culture lainnya. Meskipun begitu, tetap saja terkadang saya mulai merasa bosan atas pekerjaan menulis yang telah berubah menjadi rutinitas dan merasa telah terjebak di comfort zone. Beberapa kali saya berpikir untuk resign dan mencoba bekerja di tempat lain. Di sisi lain, saya merasa target saya di Nylon belum tercapai, dan akhirnya saya pun memilih untuk stay. Saat passion telah berubah menjadi habit atau routinity, sebetulnya kita punya dua pilihan: Resign dan mencari pekerjaan baru atau menggali lagi passion dan bakat lain yang selama ini mungkin belum kamu sadari ada di diri kamu. Saya memilih yang kedua.

photo 5Change The Ordinary
People often says to be yourself, tapi bagi saya hal itu sebetulnya tidak cukup. We need to be the better version of ourselves. Caranya banyak sekali. Dari hal sesimpel bangun lebih pagi dari biasanya, menyelesaikan deadline lebih awal, atau mengikuti suatu workshop dan mendapat skill baru. Cara paling ampuh adalah trying something new atau pergi ke tempat baru. Bila sebelumnya saya memilih menghabiskan weekend di rumah saja, belakangan saya lebih rajin keluar rumah dan mencoba banyak hal. Sesimpel quick getaway ke Bogor dengan kereta, nonton festival musik, river tubing di Sukabumi, solo traveling ke Ubud, atau ikut workshop membuat barang handmade. (Saya sempat belajar membuat tote bag sendiri and it is super fun!) Sebagai penulis, saya sadar jika kebiasaan berdiam di kamar hanya akan mengurung kreativitas saya. I need to keep myself updated and be inspired to deliver the unexpected!

life

Satu hal yang saya pelajari dalam hidup, saya beruntung bisa mengejar passion yang saya punya dan saya percaya semua orang juga pasti bisa melakukannya. If you want to do something, just go ahead, follow your dream, give it your best shot and the universe will work its way. Namun, apakah semuanya selesai sampai di situ? No, it’s not. Passion yang dibiarkan statis hanya akan menjadi rutinitas dan tak ada yang lebih membosankan dibanding terjebak dalam rutinitas yang sama selama bertahun-tahun. Seperti quote di atas, kita harus terus bergerak dan berani break away dari rutinitas and keep surprising yourself! Life is nothing but series of challenges, tak jarang justru kita lah yang harus menantang diri sendiri untuk berani berubah. As for me personally, saya merasa 5 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk berdiam di satu tempat dan saya sadar tidak mungkin selamanya stay di satu tempat yang sama. There’s still a lot of things I want to do, tantangan baru, dan pencapaian-pencapaian baru. Salah satunya sedang saya kerjakan sekarang, yaitu menulis sebuah buku. Sebuah project yang sudah terbengkalai terlalu lama dan sudah waktunya diselesaikan. It’s time to keep moving forward.

And it’s only just the beginning of the next chapter of my life 🙂

Disclaimer: judul postingan ini diambil dari judul album milik Pure Saturday, band favorit saya yang saat ini juga sedang mengalami momen perubahan. God speed!

quotes

Behind The Scene: Melody JKT48

melody2

So, here I am again, in my second post about JKT48. Baru-baru ini saya berkesempatan menonton teater JKT48 lagi, baik untuk Pajama Drive para trainee maupun Renai Kinshi Jourei dari Team J. Untuk Pajama Drive dengan terpaksa harus memakai jurus rahasia ID press karena pas dengan shonichi mereka, sedangkan untuk show RKJ akhirnya bisa merasakan menjadi fans regular yang harap-harap cemas menunggu email konfirmasi (well, I’ve sent like 10 times, dan akhirnya berhasil tembus!) sebelum antre dan menunggu bingo. Sebelumnya karena media, saya hanya bisa menonton dari bangku paling belakang, harapannya sih kali ini mau nonton agak di barisan depan, tapi sayang bingonya agak akhir-akhir jadi duduknya di dua deret dari belakang, cuma maju selangkah dari tempat media! Haha.

Well, baik show Pajadora maupun RKJ sama-sama menyenangkan. Untuk Pajama Drive, akhirnya bisa melihat debut dari anak-anak trainee, karena ketika saya nonton Pajadora Team J, mereka kan sudah bagus, jadi tidak bisa melihat proses dari awal sampai akhirnya bagus, nah itu yang ingin dicari dari penampilan para trainee. Saya ingin melihat perkembangan mereka sebulan lagi, terutama Yona, Vienny, dan Rona. Sedangkan RKJ, sesuai ekspektasi terlihat bagus karena Team J yang memang jam terbangnya sudah tinggi. Walau sayangnya, waktu saya nonton (Jumat 16 Jan) tidak ada Akicha dan Harugon. Juga tidak ada Ghaida (JOT, please jangan lama-lama suspend Ghaida). Untungnya masih ada Veranda dan Cigull yang selalu paling ramah saat high touch, juga Rena yang ternyata lucu banget kalau lagi MC talk. Yang jelas, bulan depan harus nonton lagi kalau Akicha dan Harugon sudah kembali ke Jakarta, kalau bisa juga ada Melody karena saya belum pernah melihat dia perform di teater.

Dari pengalaman teater yang baru tiga kali ini, untungnya tidak ada pengalaman buruk seperti antrean atau fans yang meresahkan. walau sebetulnya saya agak terganggu saat menonton Pajama Drive trainee karena banyak yang berdiri di belakang malah teriak-teriak sendiri atau memanggil member Team J. But afterall, crowd-nya asik kok, mungkin saya harus mulai latihan nge-chant biar bisa ikutan, hehe. Semoga penonton teater yang datang bisa selalu saling menghormati dan tidak heboh sendiri. Dan seperti diduga, sedikit banget ya cewek yang nonton? Well, mungkin karena memang appeal JKT48 bisa dibilang masih dominan di cowok. Sayang sih, karena seharusnya bisa seperti AKB48 yang disukai baik cowok maupun cewek dari range umur yang beragam. Sekadar saran, mungkin JOT harus mulai memberikan member, khususnya Team J, untuk mencari solo activity walau tentu saja tetap atas nama JKT48, seperti jadi model fashion spread majalah atau kegiatan individu lainnya. Biar orang awam juga tahu kalau JKT48 itu member-nya semuanya unik-unik dan patut dikenal. Andaikan member JKT sering muncul di majalah fashion untuk cewek, misalnya, bukan nggak mungkin cewek-cewek Indonesia juga jadi ngeh dengan keberadaan JKT48 dan menjadi panutan, seperti Tomomi Itano atau Mariko Shinoda AKB48 yang menjadi kiblat fashion cewek-cewek Jepang. Mungkin itu salah satu cara untuk menjangkau lebih banyak range penggemar JKT48. Karena jujur saja, JOT terkesan mengeksklusifkan diri dengan menampilkan JKT48 di majalah atau channel tv yang itu-itu saja.

Anyway, that’s just my random thought and rambling chat. Meanwhile, untuk yang kangen dengan Melody, semoga rekaman interview ini bisa sedikit mengobati.

EDIT: CONGRATS TO JKT48 FOR THEIR NEW AWARDS! TOTALLY DESERVED IT!

Joie de Vivre! An Interview With Dian Sastrowardoyo

Dian X NYLON

Lama tak terdengar bukan berarti memudar, Dian Sastrowardoyo justru sedang berpijar menikmati hari-harinya kini. What’s the secret, D?

BILA BERBICARA TENTANG seorang Dian Sastro, saya rasa semua orang akan memiliki impresi tersendiri tentang sosok bernama lengkap Diandra Paramitha Sastrowardoyo tersebut, namun saya berani bertaruh jika mayoritas impresi tersebut akan terdengar positif. Kilas balik sejenak, rasanya tak perlu diceritakan lagi bagaimana nama Dian pertama kali dikenal sebagai model di usia 14 tahun sebelum kemudian mulai berkiprah di sinema lewat film indie Rudi Soedjarwo berjudul Bintang Jatuh yang dirilis tahun 2000. Walaupun tak pernah ditayangkan di bioskop, film itu menjadi cult tersendiri yang membuat film ini dicari orang sampai hari ini karena penasaran melihat debut akting Dian. Disusul oleh Pasir Berbisik, critically acclaimed movie garapan Nan Achnas yang memasang aktor-aktor sekaliber Christine Hakim, Didi Petet, dan Slamet Rahardjo sebagai lawan mainnya serta breakthrough role di Ada Apa Dengan Cinta? film remaja yang ikonik bagi generasi 2000-an dan disebut sebagai penanda bangkitnya perfilman Indonesia. Nama Dian dan Nicholas Saputra yang menjadi tokoh utama melesat sebagai aktris-aktor muda paling bersinar di era baru sinema Tanah Air. Dian pun seolah menjadi muse semua orang, secara konsisten Dian tampil di film karya sineas-sineas terbaik, di cover majalah-majalah prestisius, video klip dan ditunjuk sebagai brand ambassador produk-produk besar, yang dijalaninya sambil berkuliah di Jurusan Filsafat UI. Singkatnya, Dian ibarat paket komplet: ia cantik, profesional, cerdas, dan hebatnya, sangat down-to-earth dalam bersikap. Saya ingat saat menjadi mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Budaya UI, di angkatan saya ada kebanggaan tersendiri bila bisa berfoto bersama Dian di kampus. Walau Dian yang sering menjadi asisten dosen selalu datang ke kampus dengan dandanan kasual khas mahasiswi pada umumnya, perhatian orang akan tertuju padanya saat ia berjalan santai menuju kelas, baik dengan melirik secara terang-terangan ataupun seperti saya, yang berusaha stay cool saat berpapasan dengannya walau setengah mati menahan starstruck yang muncul. Fast forward tujuh tahun kemudian, tepatnya di suatu hari Jumat menuju akhir Juni lalu, saya bertemu lagi dengannya di sebuah studio foto daerah Kemang untuk pemotretan cover edisi ini. Ada semacam nervous tersendiri saat tahu saya yang mendapat tugas mewawancarai Dian, namun juga excited karena bisa mengobrol langsung tentang kabarnya kini setelah menikah dan memiliki seorang putra. Tepat jam 12 siang sesuai jadwal, Dian datang dengan mengenakan blus krem Topshop, jegging dan flat shoes Manolo Blahnik. Wajahnya polos tanpa riasan dengan rambut yang digelung ke atas. Setelah menyapa semua orang dengan ramah, dia menuju ruang hair & makeup dan terlihat tenang membaca buku berjudul The Magic sambil mulai dirias. Dengan luwes ia mengikuti arahan fotografer dan tak jarang berpose dengan inisiatif sendiri yang effortlessly cool, membuat photoshoot berjalan lancar dan menyenangkan. Selesai pemotretan, jarum jam telah menunjukkan pukul setengah lima, Dian lalu mengajak saya menemaninya ke sebuah salon langganannya untuk merapikan rambut sambil interview. Di dalam mobil, Dian mengaku masih kurang sehat karena tertular pilek dari Shailendra, anak pertamanya yang akan berusia satu tahun, saat pulang dari Prancis. Well, seperti yang kamu pasti sudah dengar, Dian baru-baru ini pergi ke Prancis untuk menghadiri Festival Film Cannes sebagai brand ambassador L’Oréal Paris. So, how was the red carpet? “Aku sebetulnya baru tahu kalau aku akan jalan di red carpet pas hari itu juga!” tukas Dian yang mengenakan gaun berwarna biru elektrik rancangan Eddy Betty untuk kesempatan itu. Didandani oleh beauty team papan atas seperti Billy B dan John Nollet, Dian terlihat tak kalah cantik saat berjalan bersama aktris-aktris dunia seperti Fan Bingbing, Gong Li, Freida Pinto dan Andie MacDowell. “Di situ aku yang paling tan. Well, anak-anak India kaya Freida dan Sonam Kapoor juga kulitnya tan sih, tapi mereka cuek-cuek aja dan keren. Andie MacDowell juga baik banget, dia nemenin aku jalan di red carpet dan ternyata aku yang tampilannya Indonesia banget ini justru diapresiasi positif, makanya rasanya aku mau bilang ke cewek-cewek Indonesia kalau kita nggak harus mutihin kulit atau bleach rambut biar dicap cantik.” Tandas Dian dengan semangat. Tak hanya merasakan sensasi berjalan di karpet merah festival fim paling bergengsi di dunia tersebut, Dian yang juga memakai rancangan Didit Hadiprasetyo dan Sebastian Gunawan selama di Cannes juga sempat membuat kehebohan di Twitter saat ia mengunggah fotonya bersama Robert Pattinson ketika menonton film Mud karya Jeff Nichols, walau ia mengaku kepada saya jika ia sebenarnya tidak terlalu nge-fans dengan RPatz. Selesai Cannes, ia tak langsung pulang dan menyempatkan diri menonton pertunjukan musik klasik di Paris bersama suaminya, Indraguna Sutowo, dan menonton konser Madonna di Turki. Dian Pembicaraan terhenti sejenak saat kami tiba di salon yang dituju dan diiringi bunyi gunting dan hair dryer, kami pun meneruskan obrolan yang kali ini menyoal life after marriage untuknya. “Yang berubah pasti prioritas, dan kewajiban sih lebih tepatnya. Sekarang kewajiban utamaku adalah ngurus keluarga, bukan mencari nafkah. Cuma di situ lah challenge buat cewek ambisius macam diriku ini muncul. Kalau udah terpenuhi segala kewajiban domestik, suami mengijinkan aku berkarier dan berkarya setinggi mungkin. Jadi itulah yang aku lakukan. Kalau dulu aku berkarier untuk ambisi jadi yang paling top, dan mencapai penghasilan yang paling besar, sekarang aku bisa berkarier untuk lebih mengikuti passion. Aku berkarier lebih yang sesuai passion aku, dan pencapaian-pencapaian yang ingin dicapai juga yang menurut passion aku. Bukan pembuktian eksternal semata,” ungkap Dian yang tahun ini telah memasuki usia kepala tiga. “Untungnya suami juga bukan orang yang terlalu mengatur, dia justru yang suka mendorong aku, ‘Ayo kapan dong kamu main film lagi’ padahal justru aku yang belum mau, karena berkomitmen dalam satu produksi kan kita harus ninggalin keluarga selama berbulan-bulan, buat aku rasanya masih belum kondusif untuk sekarang,” sambungnya. Does she always know someday she’s gonna be star? Dengan senyum lebar ia menjawab, “Hmm, no…tapi pengen!” ujarnya sambil tergelak dan menceritakan bagaimana saat kecil dulu ia sering joget di atas meja sambil mengikuti lagu-lagu Janet Jackson atau Michael Jackson.dan pengalamannya tampil pantomim seorang diri di atas panggung acara sekolah saat masih SD. “Sekarang ini aku justru lagi berusaha mewujudkan cita-cita masa kecil dulu, aku dulu pengen banget belajar balet, piano, tari tradisional… Sekarang tiap Senin dan Selasa pagi aku di rumah les piano klasik dari nol dan les piano pop n jazz. Dua kali seminggu aku pilates.” Ungkap Dian. Walau mengaku dulu ia sempat mengalami fase ugly duckling saat beranjak remaja, Dian nyatanya tumbuh besar sebagai ikon kecantikan Indonesia, namun bagaimana Dian melihat konsep kecantikan itu sendiri? Entah sedang berpikir atau sengaja membiarkan dengungan hair dryer berlalu, sesaat ia terbungkam sebelum menjawab, “Aku memandang kecantikan itu sebagai persepsi yang bisa dibangun oleh siapa saja dan bebas diinterpretasikan seperti apapun. Contohnya lewat skripsi aku, kesimpulan aku adalah: kalau kita perlu mendefinisikan persepsi kecantikan secara mandiri dan jangan mau didikte orang lain mengenai hal itu, tentunya berangkat dari notion bahwa kita ini masing-masing cantik. Dari situ akan tumbuh cara pikir dan kepercayaan diri yang otomatis akan membentuk pribadi kita lebih menarik, dan jadilah kita cantik di mata orang lain. Eventually, kalau pun nggak, ya yang penting kita udah cantik di mata kita sendiri, ya kan? Hehe,” tandasnya sambil tersenyum, sebelum mengimbuhkan, “makanya yang bikin aku bersedia menjadi ambassador L’Oréal  salah satunya adalah slogan ‘Because I’m worth it‘ mereka yang kemudian berkembang menjadi ‘Because we’re worth it’, aku suka banget karena slogan itu mengembalikan kebebasan itu kepada sang perempuan lagi. Sebelum iklan L’Oréal  itu ada, sebelumnya iklan produk kecantikan selalu menceritakan bahwa perempuan baru dinyatakan cantik kalau ada approval dari pihak luar, terutama pujian dari suami atau pacar. Sementara slogan L’Oréal  menekankan bahwa kita sendiri perempuan perlu mandiri mengatakan kita boleh merasa cantik, kenapa? Karena kita begitu berharga. Sebelum iklan L’Oréal , iklan-iklan kecantikan biasanya voice over-nya laki-laki, itu loh suara narator yang biasanya berkesan authoritative seperti zamannya serial Mad Men. Tapi L’Oréal  lah yang pada tahun 1972 pertama kali membuat iklan kecantikan voice over-nya itu perempuannya sendiri. How empowering, right?” Tanpa terkesan sedang ‘berjualan’, Dian melanjutkan ceritanya dengan semangat, “Aku rasa slogan ‘Because we’re worth it’ itu khususnya di Indonesia, adalah pesan yang sangat powerful, yang sangat sangat perlu disampaikan kepada perempuan Indonesia. Pesan ini sarat makna… Dimulai dari kemandirian untuk mengkonsumsi hingga semangat kesetaraan gender. Benar-benar antithesis dari skripsi aku dulu banget!” ujar wanita bergelar Sarjana Humaniora ini. Sebetulnya, tak perlu menjadi brand ambassador produk kecantikan pun, industri kecantikan adalah topik yang dikuasai betul oleh Dian, bagaimana tidak? Dia membahas industri kecantikan dari sudut pandang postmodernismedalam skripsinya yang berjudul Beauty Industrial Complex: Sebuah Analisis Sosial Filsafat, yang diganjar nilai A oleh para dosen penguji. “Skripsi aku tentang kritik sosio-filosofis terhadap dunia industri kecantikan. Bagaimana industri ini sangat bergantung pada persepsi kecantikan, dan roda bisnis berputar dengan cara mengeksploitasi persepsi itu. Teori feminisme tradisional kerap mengecam industri ini telah menjadikan perempuan sebagai objeknya, dan mengeksploitasi daya beli perempuan sebagai konsumen. Dunia advertising dan brand development pun bekerja sama dalam melakukan hak ini. Namun lewat skripsi aku, argumentasi ini aku bawa ke tingkat yang lebih lanjut di mana di zaman yang lebih ‘kini’ teori pemikiran yang perlu digunakan adalah postmodernisme, di mana saat postmo ‘berselingkuh’ dengan feminisme, lahirlah postfeminisme. Dalam postfeminisme: perempuan diberikan kebebasan intelektual untuk memahami dirinya: di mana perempuan tidak melulu satu dimensional saja, contoh dimensi fisik, perempuan diperbolehkan untuk menyadari dan memahami bahwa dirinya adalah entitas dengan multi dimensi… ya intelektualitas, spiritual, professional dan lain-lain. Dengan menggunakan kacamata postfeminisme ini, premis yang mengatakan bahwa perempuan dieksploitasi oleh industri kecantikan itu menjadi premis yang prematur. Karena pada saat yang sama, yang telah dieksploitasi oleh industri barangkali cuma salah satu atau salah dua dari berbagai dimensi dari seorang perempuan. Sehingga jangan-jangan kita perlu curiga: bahwa mungkin saja justru kaum perempuan lah yang menunggangi industri kecantikan itu sendiri. Jadi kita harus kritis: siapa yang mengeksploitasi siapa. Kalau tante Madonna, Lady Gaga, Beyonce pake baju seksi jangan buru-buru kita lihat sebagai objek, jangan-jangan tanpa disadari kita lah sebagai konsumen mereka yang sedang dieksploitasi daya belinya oleh mereka.” Tukas Dian dengan ekspresi sungguh-sungguh, membuat saya sejenak seperti terlempar ke kelas filsafat dadakan. Dian_2 Well, pembicaraan soal beauty dan filsafat di sebuah salon memang cukup membuat kening berkerut walau membuka persepsi baru bagi saya. Untuk meringankan topik sore hari yang agak mendung itu, saya menanyakan beberapa trivial questions seperti cast AADC? yang masih sering ia jumpai (Adinia Wirasti dan Nicholas Saputra), TV series kesukaannya (Glee dan How I Met Your Mother), juga musik yang ia sedang dengarkan, yang dijawabnya dengan memperlihatkan iPod berisi banyak komposisi musik klasik dan lagu-lagu Glee, sambil berkata, “Kalau passion, justru akting dan film itu datang belakangan, musik selalu menjadi passion pertamaku, makanya aku ikut les piano, hehe,” Saya lalu memberitahunya tentang Ladya Cheryl, salah satu sahabatnya di film AADC?, yang kini serius menjadi bassist untuk band Zeke Khaseli, Dian menceritakan dulu ia sempat ngeband bersama temannya, Nasta Sutardjo, bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagu New Young Pony Club. Saya pun teringat tentang buku yang dibacanya saat sedang dirias, The Magic yang merupakan lanjutan dari buku self-help laris The Secret. Seorang Dian masih membaca buku self-help? Pikir saya, pasti ada yang sesuatu yang menarik dibaliknya. “The Magic aku baca setelah The Power. Aku tau buku ini dari teman aku Shirley Muhiddin. Teman aku yang baiiiik banget! Dan dia bisa begitu karena she is soooo happy and fullfilled. Aku belajar banyak dari dia… She changed my lifeAt least she changed the way I see life. Buku itu dan Sherly bikin aku jadi orang yang sangat bersyukur atas segala aspek hidup aku, dan atas segala hal-hal kecil yang sebelumnya I took for granted. And you know what? That attitude has changed my life! Aku jadi tambah happy, dan positive thinking… Alhamdulillah dapet small and even huge miracles in life! Hahaha!” ungkap Dian dengan mata berbinar. Jujur saja, saya termasuk orang yang skeptis dengan buku-buku semacam The Secret tersebut, namun melihat sosok Dian yang menceritakan kekagumannya pada buku itu dengan begitu semangat, mau tak mau saya berpikir jika rasa gratefulness yang ia pancarkan memang tidak main-main. “Life and the universe is so loving and so giving… So you should too! Aku sekarang suka nulis hal-hal kecil yang aku syukuri setiap harinya, and it really works to keep you positive!” Misalnya, lo jangan nunggu dapet uang dulu baru bisa seneng, harusnya lo seneng dulu, baru kemudian rezeki pasti datang sendirinya,” pesan Dian. Karena keasikan ngobrol, saya hampir tak menyadari jika rambut Dian telah selesai di-treat, kini rambut panjangnya yang telah dipotong 10 cm tampak lebih ber-volume membingkai wajahnya yang ayu. Saya menuntaskan interview ini dengan bertanya harapannya kini. “Harapan aku sekarang adalah untuk bisa balance dalam menjadi ibu dan istri yang baik, punya keluarga yang bahagia tapi juga tetap accomplish a log of things in terms of my career and passion. Bukan semata buat membuktikan sesuatu, tapi untuk ‘keep the fire burning inside’ I guess. Aku rasa to have passion or to have some fire inside is very important. Kalau nggak aku jadi nggak ngerasa ‘cantik’ lagi. Haha… Sebenarnya fire atau passion is something very contagious, aku ingin anakku nanti tumbuh jadi orang yang passionate, dan aku juga pengen suami terus menerus jadi orang yang passionate in whatever he does, karena menurutku that’s what makes him very attractive!” Jawab Dianyang merasa bersyukur mendapat suami yang sama-sama adventurous saat berpergian ke negara-negara yang kuat akan pesona budaya (next destination is South Korea and Vietnam). Saat beranjak ke meja kasir untuk membayar, ia memperlihatkan dompetnya yang di dalamnya terdapat selembar uang lima ribuan yang direkatkan dengan selotip dan bertuliskan kalimat “Thank you for all the money I’ve been given throughout my life” satu lagi kalimat positif yang menjadi mantra penyemangat harinya kini, selain sesi me time favoritnya di kamar mandi, sekadar untuk membaca majalah dan menulis inspirasi. Sebelumnya, saya sudah terbayang jika interview bersama Dian, for better or worse, akan mengubah pandangan pribadi saya kepadanya, namun sikap Dian yang begitu terbuka, tanpa kesan jaga image sama sekali dan memperlakukan interviewer seperti teman, jauh melebihi ekspektasi saya. Semangatnya yang meletup-letup dalam menjalani hidup begitu contagious dan siapa sangka menghabiskan satu jam di salon ternyata bisa mendapat banyak sekali pembelajaran dan inspirasi baru? C’est la vie!

As published in NYLON Indonesia July 2012

Photography Glenn Prasetya Senior Fashion & Beauty Editor Anindya Devi Beauty Editor Tiara Puspita Make up & Hairdo Adi Adrian & Team V&E Leone Stave Agustino