#30DaysofArt 19/30: Naufal Abshar

There’s always a meaning behind a laugh, dan lewat sentuhan kuasnya, pelukis kelahiran Bandung, 13 Juli 1993 ini mengeksplorasi makna yang lebih dalam di balik aktivitas tertawa sebagai konstruksi hubungan sosial dan emosi. Graduated with honours dari jurusan Fine Arts Lasalle College of The Arts Singapura & Goldsmiths University London, pria yang sekarang tinggal di Jakarta ini mengakui jika hobinya menggambar sejak kecil terinfluens dari film Disney dan mainan Lego favoritnya, “Saya selalu menggambar di manapun dan kapanpun, saya tidak pernah memperhatikan guru ketika sedang mengajar, saya malah asik duduk di pojok kelas untuk menggambar di buku paket ataupun buku tulis,” ungkap founder dari NA Arthouse tersebut. Karyanya yang dipenuhi oleh sosok-sosok penuh tawa ekspresif dalam warna colorful segar sekilas memang terlihat harmless namun ada yang selalu mengusik rasa penasaran tentang konteks di balik tawa tersebut di mana karya-karya tersebut telah dipamerkan di banyak tempat, dari mulai Indonesia, Singapura, Venice, hingga Lithuania.

artist-photo2

Apa yang mendorongmu untuk berkarya?
Apapun. Terutama kegelisahan dan ketidaksesuaian saya terhadap situasi publik yang men-trigger saya untuk berkarya.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium favoritmu?

Perjalanannya cukup panjang memakan waktu 2 setengah tahun untuk menemukan style dan concept saya garap sekarang, sewaktu kuliah saya melakukan sejumlah research dan eksperimen untuk mendapatkan konsep “HAHA” yang termotivasi oleh salah satu manifestasi humor yaitu laughter. Dari situ saya mencoba untuk mengolah aktivitas laughter tersebut untuk menjadi bahan landasan kritikan terhadap social issues dan politik.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?
Seniman dalam negeri: Arin Sunaryo, Nyoman Masriadi, Heri Dono.

 hiding-behind-the-armor

Apa idealismemu dalam berkarya?
Hati, berkaryalah dengan jujur dari hati karena itulah yang akan membuat suatu karya itu jauh lebih berarti. Bagi saya seni adalah cerminan buah pikiran dan observasi saya pada sebuah kehidupan yang saya alami

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu? 
Ya mungkin sekitar 4 tahun yang lalu ketika saya masih menuntut ilmu di universitas. Saya ingat karya saya terpilih menjadi shortlisted artwork yang akan dipamerkan pada saat open house kampus. Saya merasa senang dan bangga walaupun pada saat eksekusinya karya saya hanya dipajang di sudut bawah panel besi yang tidak banyak orang-orang melihat. Ya tapi namanya starting jadi tetap saja senang, haha.

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?
Hmm… Karya saya didominasi oleh tulisan “HAHA”, figur tertawa, dan warna-warna colorful yang tajam.

Apa yang menjadi pencapaian paling berkesan sejauh ini? 
Menjadi cover sebuah art magazine besar di Singapura yaitu ART REPUBLIK Magazine dan bisa menjadi pembicara pada forum seni tingkat dunia dan menjadi the only representative dari Indonesia sebagai the youngest fast rising artist.

the-laughing-girl

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?
Apa ya? Menurut saya Social Media sangatlah membantu dalam bidang self-promotion tergantung bagaimana kita memposisikan kita pada social media tersebut.

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?
Untuk sekarang masih cukup lemah tetapi ada banyak potensial dan kesempatan untuk mengembangkan art scene untuk lebih wide dan global.

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?
Di mana saja, kebanyakan di studio.

Target sebelum usia 30?
Yes, saya akan menjadi the most established and famous young Indonesian artist pertama yang akan berpameran di galeri dan museum besar dunia seperti MoMa,Tate Modern, Guggenheim, White Cube. Dan mendirikan residency atau foundation seniman-seniman muda lainnya.

high-end-life-style

Advertisements

#30DaysofArt 15/30: Muhammad Zico Albaiquni

Lahir di Bandung pada tanggal 8 Agustus 1987, seniman peraih gelar magister penciptaan seni di ITB ini sempat menghabiskan masa kecilnya di Braunschweig, Jerman, ketika sang ayah, pelukis terkenal Tisna Sanjaya, menempuh studi seni grafis di negara tersebut. “Hampir setiap hari saya selalu dibawa ke kampusnya. Ayah saya selalu menitipkan saya di perpustakaan kampusnya dan hal itu sangat menyenangkan buat saya! Mungkin itu start paling awal saya mulai menyukai dunia seni rupa. Saya juga sering sekali dibawa ke pameran-pameran seni rupa, menonton film, melihat performance art, dan mengunjungi museum-museum,” kenangnya. Mengikuti jejak ayahnya dalam dunia seni lukis, Zico pun berusaha menciptakan sebuah counter culture dalam seni lukis yang kini kerap dianggap bentuk seni paling usang di zaman yang kian modern. Hasilnya adalah eksplorasi medium yang selalu bertransformasi dan instalasi yang telah dipamerkan di berbagai negara, termasuk residency dan solo exhibition di Vienna, Austria.

zico-albaiquni-hijab-ludus-velum-suppancontemporary

Kapan pertama kali kamu tertarik pada seni?

Saat SD hingga SMP saya sebetulnya tidak terlalu masuk dalam dunia seni rupa.  Bahkan pelajaran seni rupa saya waktu SD nilainya buruk dan tidak mungkin rasanya menang kompetisi gambar anak yang waktu itu selalu dimenangkan oleh anak-anak sanggar. Waktu itu rasanya sirik banget! Hehehe. Di SMA saya mulai bertemu lagi dengan dunia seni rupa dan mulai sering terlibat proyek-proyek mural bersama teman-teman saya. Masa akhir SMA pun saya malah testing Kedokteran. Meskipun lolos, saya akhirnya malah masuk FSRD ITB gara-gara ngobrol bareng senior saya yang sekarang juga jadi salah satu seniman muda Bandung yang karyanya kuat, Faisal Habibi.

Tahun pertama saya masuk FSRD ITB saya main dulu di jurusan Desain Komunikasi Visual. Namun gara-gara melihat lukisan S. Sudjojono di Galeri Nasional, saya benar-benar tergerak untuk akhirnya meyakinkan diri untuk pindah jurusan di tahun ketiga saya di FSRD ITB untuk masuk Jurusan Seni Rupa studio Seni Lukis.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Intinya selalu karena curiosity. Karena rasa penasaran, karena keingintahuan dan sisanya adalah obsesi. Menciptakan karya seni menjadi sebuah kebutuhan bagi saya. Saya selalu terobsesi dengan dunia seni.

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Bagi saya medium atau style adalah konsekuensi dari idea yang saya pikirkan. Namun dari awal berkarya saya selalu fokus dalam pemahaman mengenai painting. Painting atau seni lukis merupakan sebuah idea paling tua dalam bentuk seni, paling banyak dirayakan dalam dunia seni namun juga jadi medium yang problematis dan dianggap menjadi bentuk paling usang. Karena seluruh idea yang muncul mengenai seni lukis, maka saya semakin terobsesi untuk melakukan percobaan-percobaan di dalamnya. Bagi saya seni lukis adalah sebuah ideology dan merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk menciptakan sebuah counter culture di dalamnya.

267570_10151172213337969_801870083_n

Apa idealismemu dalam berkarya?

Mencari ‘the truth’, walaupun kadang harus menutupinya agar menjadi sadar value the truth itu sendiri.

 

Bagaimana kamu mendeskripsikan sendiri ciri khas dalam karyamu?

Tidak pernah tetap dan tidak pernah sama. Selalu dalam transformasi.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

  1. Sudjojono,  Gerhard Richter,  Vermeer,  Baldessari,  Lucian Freud, GSRB (Gerakan Seni Rupa Baru),  Velazques,  Bob Dylan,  Alejandro González Iñárritu,  Anselm Kiefer, Tisna Sanjaya.

Apa pameran yang paling memorable?

Pameran yang paling saya ingat adalah pameran pertama saya di Jakarta. Saat itu berpameran di Umah Seni Jakarta pada tahun 2009. Waktu itu saya masih kuliah tingkat 3 sementara seniman-seniman lainnya merupakan seniman-seniman dahsyat kala itu dan salah satunya adalah Ronald Manulang! Salah satu eksponen GSRB. Pada saat itu pamerannya berjudul Holocaust. Kebanyakan karya seniman menciptakan image Nazi. Namun waktu itu saya menciptakan ide mengenai teror yang dibawa oleh kesalahpahaman yang terbawa oleh fundamentalis agama di Indonesia. Saya awalnya merasa seperti salah kostum namun pada ujungnya karya itu menjadi karya favorit saya, bahkan hingga saat ini.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Mampu bertahan menciptakan sebuah space bernama Ruang Gerilya di Bandung selama 5 tahun dan mulai berkembang menjadi tempat residensi Internasional dan bisa menjadi wadah bagi teman-teman seniman lainnya.

 

Apa rasanya menjadi seniman di era social media seperti sekarang?

Waktu paling menarik yang bisa saya bayangkan sejauh ini.  Awalnya saya pikir golden age seni itu terjadi saat masa revolusi kemerdekaan atau reformasi dari orde baru.  Namun era social media justru menawarkan pergeseran paradigma mengenai banyak hal secara lebih cepat dan responsif.

artwork-1398923676
33 Sacred Repetition, Oil on canvas, cable 33 Panels, 2011

Bagaimana kamu memandang skena seni di sekelilingmu saat ini?

Saya bahagia hidup di Bandung saat ini. Art scene yang mulai berkembang dan banyak seniman muda yang pintar, cerdas, kritis, dan tidak membosankan. Memang belum bisa akselerasi secara signifikan namun pelan tapi pasti. Saya sangat optimis melihat perkembangan art scene Bandung ke depannya.

Punya secret skill di luar seni?

Modding game di PC, terutama game FIFA.

 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Bersama istri saya Kartika Larasati.

 

Project saat ini?

Dalam proses mengumpulkan data, image, dan medium untuk menciptakan semacam naskah bergambar.

Target sebelum usia 30?

Di kota saya ada event seni yang sekelas Documenta Kassel.

artwork-1400761033
ARTIST STUDIO, painting and mixed media installation, 2014

Art Talk: The Moody Sketches of Natisa Jones

PROFILE 2- Photographed by Olivier Turpin

Ketika anak-anak lainnya tengah belajar menulis dan membaca, Natisa Jones telah lebih dulu menggambar. Datang dari keluarga kreatif, di mana ketertarikan akan seni muncul dengan sendirinya, gadis kelahiran tahun 89 ini selalu tahu jika seni visual adalah sesuatu yang ingin ia lakukan. Passion itu yang membuatnya berani keluar dari rumahnya di Bali saat masih berumur 15 tahun untuk ikut boarding school di Prem Tinsulanonda International di Chiang Mai, Thailand dan meraih gelar diploma pertamanya di bidang Visual Art.

            Sebelumnya, di akhir tahun 2005 Natisa telah menggelar pameran perdananya yang bertajuk “Through My Eyes” di Bali dan Jakarta. Ia pun melanjutkan kuliah seni di Royal Melbourne Institute of Technology Australia, di mana ia mendapat gelar Bachelor of Fine Arts Painting. Lulus dari RMIT, Natisa tidak langsung kembali ke Bali, dan memilih stay di Jakarta selama beberapa waktu dan terlibat dalam berbagai kegiatan kreatif, di antaranya menjalani internship di NYLON Indonesia dan membuat desain print untuk label mode KLE, sembari mulai menyelesaikan beberapa karya terbaru.

            Tak lama setelah kembali menetap di Sanur, Bali, ia lantas membesut pameran tunggal terbaru dengan judul “Are We There Yet”. Dalam pameran yang diadakan di Three Monkeys Sanur akhir Juni tahun lalu, Natisa menampilkan 25 karya sketsa mixed media terbarunya yang memaparkan berbagai imaji yang lekat di kehidupannya. Lewat email, saya pun mengajak Natisa bercerita tentang visinya dalam berkarya.

7. OH ITS SO AMAZING HERE

Hi, Nat, apa kabar? Boleh cerita berapa lama kamu menyiapkan pameran “Are We There Yet”?

Hi Lex, I’m good, can’t complain. Saya sudah merencanakan tentang ekshibisi ini di kepala saya cukup lama namun baru mulai benar-benar menyiapkan semuanya sekitar dua bulan, sedangkan saya sendiri membutuhkan 3-4 bulan sampai semua karya selesai.

How was the opening night?

It was a lot of fun. Beberapa pelukis yang saya kagumi datang untuk melihat karya saya. Orang-orang memberi respons positif dan yang paling saya ingat ada sekitar 8 cewek yang menghampiri saya dan bilang salah satu sketsa yang berjudul “Gak Pernah Sisiran” seperti menggambarkan mereka. Hal itu membuat saya gembira, karena mereka bisa merasa relate dengan karya saya secara personal. That was exciting.

Apa inspirasi utamamu dalam pameran ini?

Inspirasinya hal-hal di sekitar saya. Saya sangat responsif terhadap lingkungan sekitar saya, so I drew a line for all the pieces I have made to be about anything I was going through and an ever moving timeline. Jadi semua karya di pameran ini adalah dokumentasi dari sebuah perjalanan, yang paralel dengan perjalanan untuk menjadi manusia dan perjalanan dalam berkarya. “Are We There Yet?” melempar pertanyaan: to being aware of the present moment but not concerned with a destination or a conclusion. Dengan begitu, tanpa mendikte jawabannya, orang bisa mengingat pengalaman mereka sendiri dan merasa terhubung dengan karya tersebut. So Are We There Yet? You tell me.

8. SABLENG

Bagaimana momen atau mood yang sempurna bagimu untuk berkarya?

Momen atau mood yang tepat untuk berkarya adalah… ketika saya menemukan sebuah momentum dan saya harus menyalurkan ide tersebut ke atas kertas tak peduli di manapun dan kapanpun. sometimes of course, you can’t, Tergantung kondisi tapi biasanya saya akan mulai sketching dulu dan menyelesaikannya nanti ketika saya berada di studio, but there’s no such thing as perfect time, ide bisa datang tak terduga dan umumnya justru ketika saya hendak tidur sambil memandang langit-langit kamar atau ketika berada di mobil… semacam itulah.

Kamu dengan sengaja tidak menghapus atau memperbaiki setiap “kesalahan”, seperti salah coret dan sebagainya dalam karyamu, apa yang kamu pikirkan?

Haha I am lazy, but no, that’s not why. Saya tidak suka menghapus kesalahan. Saya ingin bisa melihat bagaimana karya saya berkembang sejak saya mulai mengerjakannya sampai akhirnya selesai. Saya senang bisa mengingat setiap decision yang saya ambil sampai akhirnya karya tersebut jadi.

Setiap “kesalahan” itu menjadi bagian dari cerita karya itu sendiri. I think it’s not good to try and be too polished and clean. I like errors, I like mistakes, I enjoy chaos. It’s all part of the fun part of why the story is so exciting. Life isn’t perfect, nobody is perfect. Why pretend like it is?

Apa kamu punya personal favorite dari ekshibisi ini?

Hmm… well I don’t know if I have a favorite, but here’s one I get asked a lot: suatu saat, salah satu teman saya melihat beberapa lukisan saya dan berkata jika semua sosok pria dalam karya saya mirip pacar saya. Saya tertawa, karena saya tak selalu sengaja menggambar pacar saya, but because his face and body is the one I have sketched out the most, I become most familiar to his anatomy. Jadi salah satu lukisan berjudul “Always The Same Goddamned Boy” bercerita tentang itu. It’s funny that it may come off as romantic, or cheesy, but it’s not. It’s just part of my process. I just draw and take from whatever is around me. 

5. Its Okay

http://www.natisajones.com/