The Girl We Love, An Interview With Dylan Sada

Entah itu fotografi, modeling, atau menyanyi, Dylan Sada tak pernah kehilangan sentuhan ajaib dalam setiap hal yang ia lakukan. Next goal? Scare the shit out of you.

Ketika mendengar kabar Dylan Sada sedang berada di Jakarta, sama seperti banyak orang lainnya di ranah media dan fashion, secara instingtif kami langsung mengontaknya to do some project with her. Memiliki portofolio impresif di belakang maupun di depan lensa kamera, sosok wanita kelahiran Jakarta tahun 1984 ini telah menjadi cult tersendiri dan namanya bersinonim dengan kata It Girl bagi anak-anak subkultur lokal maupun New York City yang menjadi tempatnya bermukim saat ini. Walaupun kedatangannya ke Indonesia kali ini sebetulnya murni untuk vakansi, namun apa daya, semua orang tampaknya paham jika melewatkan kesempatan langka untuk bekerjasama dengannya secara langsung adalah hal yang bodoh. Alhasil, Dylan pun harus rela melakukan transisi dari pleasure ke business during her stay di Jakarta dengan jadwal yang padat akan interview dan pemotretan. Everybody wants a glimpse of her, that’s for sure.

Di akhir Juni tahun lalu, ia pun datang ke kantor Nylon demi mengeksekusi pemotretan cover Alex Abbad untuk Nylon Guys Indonesia dan seperti pertemuan kami setahun sebelumnya, ia datang lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan. Ia memang tak mengenal istilah jam karet yang kerap menjadi alasan orang Jakarta, namun satu hal yang tidak bisa ia tolak adalah appetite untuk makanan Indonesia setelah sekian lama merindukannya. “Nggak ada willpower lagi, semua dimakan!” cetusnya sambil tertawa renyah.“Pertama kali sampai di Jakarta aku langsung ke restoran Padang. Terus aku senang banget kaya nunggu jam 6 sore nunggu tukang martabak keluar. Aku senang aja duduk di pinggir jalan, ngobrol sama orang lokal,”sambungnya dengan senyuman lebar.

Ditemani oleh sang suami (“sahabat, an ally slash supporter,” menurut Dylan), ia mengaku sangat senang bisa pulang ke Indonesia yang tak sekadar untuk berlibur, tapi juga membangun network lagi dengan industri kreatif lokal. “Pulang-pulang ke Indonesia banyak sekali hal baru, oh man, I feel like everyone has their own label or restaurant. Aku kaya yang ‘Wow anak-anak umur segini udah bisa, gue di umur segitu mungkin masih panjat pohon.’ I’m really proud, so many talented people that need some spotlight, jadi aku banyak jalan-jalan, kenalan-kenalan aja. Seru,” paparnya antusias. Salah satunya seperti yang terlihat di Instagram Nikicio di mana Dylan bersama figur wanita keren lainnya seperti Chitra Subyakto, Ayla Dimitri, dan Eva Celia basically just hanging out and looking awesome together.“I’ve been a long time supporter for her works,” ujar Dylan tentang Nina Nikicio. “She really love what she does and it shows. Kemarin aku juga pertama kali ketemu sama Ayla, terus akhirnya ketemu sama Chitra dan Eva setelah selama ini cuma sebatas internet. Meeting them in person is really fun.”

            Saat disinggung soal current obsession saat ini, secara mengejutkan Dylan mengaku jika ia sebetulnya masih mencari dan mengeksplor hal yang ia benar-benar suka dalam dunia fotografi yang ia geluti. “Selama ini aku kira fashion, tapi kayanya masih eksplor juga. Aku senang dengan fotografi karena nggak ada limit umurnya. Aku rencananya ingin lebih banyak travel and seeing things. My current obsession is to make good works, so many people reaching out to me, and I never really like my works, and now it drives me to make a better work. So that’s my obsession right now… Working again, being creative again, and Indonesian food,” tandasnya optimis.

Photography aside, Dylan yang berasal dari keluarga dengan darah musik yang kental dan telah berlatih vokal sejak kecil bersama ibunya juga berniat menyanyi kembali. “Lagi mau kolaborasi sama teman aku, kita mau bikin yang nyinden pakai gamelan,” bocornya. Jika selama ini masih jarang orang yang mengenal Dylan sebagai penyanyi, mungkin karena memang dari dulu Dylan selalu memilih menyanyi di balik layar, mostly menyumbangkan vokalnya untuk berbagai iklan. ”Nggak pernah mau jadi frontman, sukanya di belakang.layar. Aku mau orang hanya fokus dengan suara aku. Aku bukan penyanyi terbaik, tapi aku senang aja sih nyanyi, people think ‘Kenapa lo bilangnya lo fotografer?’ Well, the reason is kalau orang baru kenal, kalau aku bilang aku penyanyi pasti kaya disuruh nyanyi, so I don’t say that, I’m just gonna say I’m photographer,” tukas Dylan.

Wanderlust and always curious to try something new, merupakan hal yang natural jika ia mengaku masih banyak hal yang ingin ia lakukan. Salah satunya adalah berkolaborasi dengan duo sutradara The Mo Brothers. “Kalau jujur sih aku ingin banget proyek main film sebagai hantu,” ujarnya serius. “Life goal aku itu aneh, aku mau jadi hantu yang paling seram yang pernah kamu tonton di screen, I’m gonna scare the shit out of you, people!” tutupnya dengan gelak tawa.

01

Dylan Sada’s favorites:

EATING

Oh man, pertama kali sampai di Jakarta, aku nggak suka manis, tapi aku abisin martabak manis satu loyang, piring sampai aku jilat. Langsung nggak mikirin berat badan.

SCARY MOVIE

Classic ones like John Carpenter. I love sci-fi horror like Alien, tapi Rosemary’s Baby juga suka. Aku suka horror yang lebih seram secara imajinasi tapi Suzanna lah nggak ada yang ngalahin.

TRAVEL PLAN

Honestly Indonesia. People always want to keliling dunia, but Indonesia is so beautiful. Aku pengen keliling Indonesia dulu. Ke Flores, Malang, ke Pulau Sempu, mau ke Bromo juga belum pernah.

CELEBRITY CRUSH

Adrien Brody, but for female, I’ve been watching Mad Max and Charlize Theron is so awesome, she’s like my girl crush forever and I always have eternal crush for Björk.

TV SERIES

Game of Thrones! Lagi suka banget. The books also really good, sekarang ceritanya juga mulai melenceng dari bukunya dan orang-orang langsung pada stress.

 

Advertisements

Through The Lens: Deby Sucha

Deby Sucha

Dalam edisi Oktober 2015 NYLON Indonesia yang mengangkat tema “The It issue”, saya menulis tentang profil empat perempuan muda yang berkarya di dunia fotografi yang masih didominasi kaum pria. Salah satunya adalah Deby Sucha, fotografer kelahiran Jakarta 29 tahun yang lalu yang saat ini sedang bermukim di Jepang. Dengan mata yang jeli menangkap atmosfer raw dari street photography, Deby telah menarik banyak klien besar seperti The Body Shop dan Makarizo serta menjuarai berbagai kompetisi fotografi dari Sony, Capcom, Garuda Indonesia, dan Korea Air. Let’s get to know her better, shall we?

Deby7

Hai Deby, boleh perkenalkan sedikit tentang dirimu?

Hi! My name is Deby Sucha, born in Jakarta, Indonesia. Some called me their personal photographer. Currently based in Tokyo, Japan and working for Airbnb.com

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada fotografi dan kapan pertama kalinya kamu mulai bereksperimen dengan kamera?

Simply because I loved travelling, dan kayaknya seru banget kalau apa yang aku lihat selama perjalanan bisa terus dilihat kapan aja. I am a living-in-the-present kind of person, but when I look back to the past, I’d like to immerse myself into the snap shots photographs I took. Awalnya aku suka street snap fotografi dengan kamera pocket waktu aku umur 18 tahun, kemudian aku dapat kesempatan untuk jadi asisten fotografer fashion di Jakarta yang bikin aku mau belajar lebih dalam lagi tentang fotografi.

Deby9Deby3Deby4

Deby5

Apa kamera pertama yang kamu punya?

Analog Nikon FM2.

Siapa fotografer yang paling menginspirasimu?

My all time favs Peter Lindbergh, Gavin Watsons, Philip Lorca Dicorcia.

Kalau kamera yang paling sering digunakan saat ini?

Digital: Canon EOS 6D, Film: Pentax 67 Medium Format.

How about your dream camera?

Kamera sekarang canggih-canggih banget deh udah pasti bikin be’em semua ya… Haha! Apalagi yang mirrorless dengan fitur full frame plus dukungan ISO tinggi. Tapi yang bikin penasaran itu dikit banget, and actually I have owned my dream camera, which is my medium format Pentax 67.

Deby8

What’s your educational background? Apakah kamu otodidak atau memang mempelajari fotografi secara khusus?
Graduated of Visual Communication Design , Bachelor of Art. Untuk fotografi sih belajar sendiri , dan curi-curi ilmu dari kerja sebagai asisten di lapangan. Selain itu juga hobi liatin photobook-photobook buat cari inspirasi.

Apa obyek favoritmu untuk difoto?
Street and people.

Deby2Deby1

How would you describe your own aesthetic?
Raw.

What do you think about being female photographer di dunia yang masih didominasi fotografer laki-laki ini? Do you think gender is important in this field?
Menurut aku sekarang ini udah banyak fotografer-fotografer wanita yang super talented in their field. See that gender doesn’t matter. If the camera itself would choose their own photographer , I bet most of it would say “hand me to the ladies please!” Haha.

Di zaman, semua orang bisa memotret dengan smartphone masing-masing dan aplikasi editing, do you think  conventional” photography masih relevan saat ini?
I appreciate all the photography related technologies we have right now, as I often use that as well and it’s super easy and cool! But if you want to create something big, something powerful, you won’t go with that shortcut things, right? We put at least some effort to it, and someday we get paid for the effort we have made. Kalau untuk sharing di social media , why not?

Deby10

Dari mana biasanya mencari inspirasi?
Go outside , and walk, look around. There you go.

Sejauh ini project apa yang paling berkesan untukmu?
The project I’m running with my friends right now.

What’s your next project?
An independent webmagazine for art, culture, street and fashion.

Advice/tips to anyone who wants to become a photographer?
First thing is to go outside, go to the public library and see other people’s artworks, go to exhibitions, and bring your camera all the time, never stop shooting.  And last but the most important thing. Show off your works to your friends, listen to their opinion.

Deby6

All photos by Deby Sucha

Instagram: @debysucha

www.debysucha.com

Through The Lens: Amanda Kusai

Amanda Kusai

Among of countless Instagram feeds laden with VSCO Cam and the over-stylized pictures, there’s always some users with their own distinct charms that makes us instantly hit the follow button, endlessly scrolling, and spending a nice few minutes to like every single photos in our screen. Surabaya born and Jakarta based Amanda Kusai is one of them. This young visual artist’s Instagram feeds is nothing but visual feast for the eyes with her signature sense of clean simplicity, subtle twist, irony, and a touch of plants here and there. Recently, she was participating on special project with hashtag #GeographyofYouth where she interviewing and taking photos of the millennial kids.

Works1

 Hi Amanda, how are you? Where are you right now and what were you doing before answering this email?

Hello! I am better than ever, thank you! Right now I’m sitting in my new empty room that’s been mistakenly painted purple and pink instead of white. Before this color tragedy I was underwater swimming like a human dolphin with all the other exotic fishes and saw the most wonderful array of colors reflected and refracted from the corals and sunlight, but then I woke up.

Could you tell me a bit of yourself and your occupation?

In short, people know me by Amanda Kusai instead of Amanda Sutiono. Kusai was a name of a pink swirly poo looking toy I liked and was given, not long after, I retrieved the name thanks to a lovely bunch of people I call my best friends. Well at least it’s a pretty catchy name (I once burst out laughing when a company I applied work for, addressed me as Kusai when I clearly wrote my formal name on my CV and cover letter). I moved quite a lot in the 20 or so years that I’ve lived it’s always exciting but I dream to settle down one day. I am self employed with my best buddy Axel Oswith, we partnered up to run a creative culture hub called The Taable, specializing in art direction + photography, we’ve only just started less than a year ago so wish us luck!

Amanda_Kusai_Instagram_15
What attracted you to photography?

To be completely honest I don’t really classify myself as being too serious, I believe it’s important to be flexible but stubborn in what you believe in. I grew up getting used to photography as a medium to express, explore and to document like a visual diary, and photography has been one of the tool to realize these ideas into actual visual forms that I can share with others to enjoy. Throughout high school I took business and art as my majors and now I already graduated.

What kind of camera you usually use? 

I like going light so I just use my iPhone it does the job simply and seamlessly, unless of course it’s for work I use a full-frame DSLR so that I can have more control over post-production. Leisurely, I use my film cameras, the canon ae1 and rolleiflex.

Amanda_Kusai_Instagram_09
Could you tell me about this #geographyofyouth project?

Geography of youth is an art project (founded by Alan and Morrigan) exploring the millennial generation and how we can relate to each other as youths around the world. I actually have no idea why they pick me but one day I got an email request to be one of the contributors for this project, I’m just grateful for this chance to contribute along with other photographers from Kenya, England, South Korea and Turkey (I have not personally met them). I am also especially grateful that my friend Axel Oswith is supporting me with this project.

Is there any certain quality you looking for from the subject of your photos?

Quirkiness and personality.

Works2

What does its mean for yourself to be the part of the millennial?

I believe being a part of the millennial generation is a step of transition from old customs to new; we are the generation that believes in no limitation to our dreams in search for the best.

What else you’re doing beside photography?

Surviving life in general and helping my mother with her floral business.

Next or other projects?

Planning to formally launch our company: The Taable by the end of this year, and perhaps a visual project that has something to do with moving images.

Amanda_Kusai_Instagram_21Follow her on Instagram: @amandakusai

Through the Lens: Ainur Rasyidah

Semakin banyaknya perempuan yang bersenjatakan kamera DSLR di media pit untuk berjuang memotret momen terbaik dalam suatu pertunjukan musik menunjukkan jika stage photography bukan lagi monopoli dari para fotografer pria belaka. Dalam artikel berjudul Stage Presence yang saya tulis untuk NYLON Indonesia Maret 2013, saya mewawancarai lima gig photographer perempuan tentang serunya menangkap momen yang menampilkan pesona sang performer dan emosi yang mereka ekspresikan di atas panggung.  Here’s the first instalment.

Ainur copy

Tell us a bit about yourself.

My name is Ainur Rasyidah, people call me Sida or Ainur. I always call myself as a “Vintage Owl”. Because I love vintage stuffs and vintage fashion style.  And Owl, karena gue biasa konsentrasi bekerja di rumah pada malam hari dan biasanya gue baru bisa tidur jam 3 pagi hampir setiap hari, hahaha! Nickname itu menjadi identitas gue dan signature gue. And I always thought I am a lucky music fan, karena profesi dan hobi gue bisa membuat gue mengenal bahkan berteman dan bekerja bersama musisi-musisi dan para idola gue di dunia musik, hahaha!

 Sejak kapan kamu menjadi gig photographer, and what was your first gig?

Sejujurnya gue lebih suka dan ingin menyebut diri gue nantinya sebagai music photographer, tidak terbatas hanya gig atau konser saja. Gue resmi bergabung di Gigsplay sekitar awal bulan Maret 2012, dan resmi bergabung di irockumentary pada bulan April di tahun yang sama. Senang sekali rasanya karena gue memang ingin bergabung di salah satu media tersebut dan ternyata gue dapat kesempatan untuk bergabung di keduanya! Gig pertama gue untuk Gigsplay adalah “Tribute to Morrissey” yang diadakan di Borneo Beerhouse tanggal 9 Maret 2012. Sedangkan gig pertama gue untuk Irockumentary adalah “Enjoy Yourself! On Record Store Day” tanggal 22 April 2012 lalu di Aksara Kemang.

 Apa yang mendorongmu menjadi gig photographer?

I always love to share stories and memories! Dan musik bisa dibilang bagian terbesar dalam hidup.  Gue sangat berharap foto gue bisa mengabadikan cerita seru di gig atau konser tersebut dan membangkitkan kembali memori menyenangkan orang-orang yang berada pada momen itu. Dan gue punya cita-cita memotret festival-festival musik di seluruh dunia seperti Coachella, Fuji Rock Festival, Glastonbury, dll.  Itulah kenapa gue ingin menjadi fotografer.

Natasha Khan by Sidainur

 Apa cerita di balik foto ini?

This is Natasha Khan aka Bat For Lashes live at Laneway Festival 2013 in Singapore. Gue mungkin bisa dibilang baru menjadi fans Bat For Lashes. Ketika gue punya kesempatan untuk memotret Laneway Festival tahun ini dan bisa menyaksikan live performance-nya, ditambah gue berhasil foto bareng dengan Natasha, gue sangat bahagia! Hahaha. Foto ini adalah momen ketika dia selesai membawakan lagu pertama. Seems like she was very excited to be there, ditambah dengan penonton yang juga bersemangat tinggi, hampir di sepanjang penampilan senyum tidak pernah hilang dari wajah Natasha membuatnya nampak seperti bersinar. She looks so bright and sings beautifully flawless! Momen yang gue tangkap ini diharapkan bisa menceritakan how bright she was on that stage. Ditambah dengan Laneway Festival 2013 adalah festival musik luar negeri pertama yang gue potret, foto ini sangat berkesan buat gue hahaha.

 Gig paling berkesan yang pernah kamu datangi?

Sampai saat ini yang paling berkesan buat gue adalah Sigur Ros concert di Fort Canning Park, Singapore. Sigur Ros masuk dalam daftar musisi dan band yang harus gue foto ketika gue menjadi photographer. Dan ketika hal itu terkabul, bisa memotret dan menonton mereka langsung, gue senang sekaligus terharu. Musik yang mereka mainkan secara live yang lebih dramatis dan indah, visual dan lighting yang luar biasa, ditambah hujan yang turun di lagu terakhir dan berhenti ketika lagu selesai dimainkan cukup membuat gue menangis terharu dan kegirangan sepanjang nonton konser itu. It was MAGICAL! Sedangkan gig lokal paling berkesan adalah Dream Together Happily Ever After, Soft Launching L’alphalpha edition by Koola Stuffa di Aksara Kemang Jakarta tanggal 8 April 2012. Suasana yang sangat hangat, seru dan akrab ketika L’alphalpha manggung dengan sangat bersemangat membentuk lingkaran di tengah-tengah toko dikelilingi penonton di sekitar mereka sangat berkesan buat gue. There’s nothing but laugh and joy floating in the air back then!

 Apa kamera yang biasa kamu gunakan?

My camera is Nikon D90 with 18-105 f/3.5 lens. Kadang juga memakai lensa Tamron 17-50 mm f/2.8 atau Nikkor fix lens f/1.8. Gue memakai kamera itu dari awal menjadi fotografer hingga sekarang. Nantinya ingin menambah lagi lensa dan lainnya supaya hasil fotonya semakin bagus hahaha.

 What’s your secret photography tips?

If you enjoy the music and the gig’s atmosphere, you’ll get great pictures and share great stories! Ada kalanya gue harus liputan ke gig yang band atau acaranya belum pernah gue kenal atau datangi. Supaya tidak canggung gue harus mencoba menikmati susasana dan musik yang ditampilkan. And it is always works for me! Tapi juga harus tetap konsentrasi jangan sampai lengah karena terlalu menikmati suasana atau musik supaya tidak kelewatan momen-momen menarik. Gue pribadi sangat suka memotret interaksi antar anggota band di atas panggung atau gestur tubuh yang menarik ketika mereka menyanyi atau bermain musik. Momen-momen tersebut adalah momen yang selalu gue tunggu ketika memotret.

 Musisi/Band/Gig yang ingin kamu foto?

Gue punya daftar sekitar 10 musisi yang menjadi tujuan kenapa gue harus jadi Gig Photographer. Diantaranya adalah The Strokes, Mew, Radiohead, dan Bjork adalah beberapa nama musisi yang menjadi tujuan kenapa gue harus menjadi music photographer! Dan gue punya cita-cita mengumpulkan profile photos musisi-musisi lokal favorit seperti L’alphalpha, Stars & Rabbit, Sapphira Singgih, Luky Annash, dll. Siapa tahu nanti bisa gue jadikan buku juga hahaha.

 Any advice for other girl who want to be gig photographer?

Be consistent! Sekarang sudah banyak sekali gig photographer, ditambah kebijakan penonton boleh membawa kamera DSLR pada beberapa gig dan music festival. Jangan pernah merasa tersaingi oleh mereka dan kemudian berhenti di tengah jalan. Tunjukkan bahwa lo bisa mengambil foto yang lebih baik dari mereka dan jangan berhenti di tengah jalan. Being gig or music photographer is super fun!

 Selain fotografi, apa lagi yang kamu kerjakan?

Gue sekarang bekerja menjadi Motion Editor di sebuah perusahaan yang baru berdiri pada pertengahan tahun lalu dan fokus di bidang edukasi. Seru dan gue jadi banyak belajar dalam arti sebenarnya di bidang pekerjaan ini hahaha. Selain itu gue menjadi freelance graphic designer, photographer, dan video editor. Saat ini gue juga sedang berusaha mewujudkan cita-cita membuat visual untuk musisi-musisi lokal favorit gue ketika mereka manggung, atau video-video klip semacam fanmade untuk lagu-lagu mereka.

 What’s the perks of being gig photographer?

The chance of getting new friends and partners, capturing great moments and atmospheres into pictures, and experiencing so many exciting music events! Mungkin orang berpikir jadi gig fotografer itu keuntungan yang paling enak adalah karena dapet akses gratis di gigs, konser-konser, dan festival-festival. Eits, siapa bilang? Justru untuk keistimewaan yang satu itu tanggung jawabnya besar. Fotografer harus menunjukkan hasil yang sepantar dengan akses yang sudah diberikan serta mengikuti aturan yang telah ditentukan seperti misalnya deadline hasil foto. Banyak keistimewaan dan keuntungan lainnya selain akses gratis, in my opinion.

Fotografer favoritmu?

Banyak sekali sebenarnya hahahaha! Kalau dari internasional, yang paling gue suka adalah Maria Louceiro dari Portugal. Style dan warna foto-foto karyanya bagus sekali, mysterious and dreamy at the same time! Sedangkan fotografer lokal, Agung Hartamurti Wirawan (Irockumentary), Nikensari Prista, Lionindra Harviana (irockumentary), Ahmad Haffiyan Faza adalah beberapa nama  fotografer-fotografer favorit gue. Gue suka foto-foto mereka yang mempunyai ciri khas dan mampu menangkap momen yang bercerita, serta attitude mereka dalam dunia fotografi sangat patut dijadikan contoh yang baik walaupun mereka semua masih muda.

 Apa yang membedakan fotomu dari jepretan fotografer lainnya? Do you have any signature style?

Jujur, saat ini gue masih mencari style foto yang akan menjadi ciri khas gue, entah dari segi komposisi, momen, warna, dan lain sebagainya. Gue ingin nantinya ketika orang-orang melihat foto karya gue, mereka langsung berkata: “Oh that’s Vintage Owl’s photo!” Tapi saat ini nama dan watermark “Vintage Owl” yang gue pakai untuk menjadi identitas dan ciri khas gue dan sudah cukup diingat oleh beberapa orang dan itu cukup membuat gue senang.

http://www.flickr.com/photos/singingowl/

As published in NYLON Indonesia March 2013 “Stage Presence” feature.

 

Through The Lens: Rukii Naraya

Rukii Naraya

Boleh cerita sedikit tentang diri kamu?

Laki-laki yang lahir di ibukota 28 tahun yang lalu yang menghabiskan sisa hidupnya untuk melakukan hal-hal yang dianggapnya menarik. Jika tidak dalam jam kerjanya, kalau tidak menggambar di studio mininya, ia suka jalan-jalan bersama kamera kecilnya. Kini ia jatuh cinta dan tinggal di Jogjakarta. Saya juga mengurusi zine alternatif bernama FUR sejak 2008.

Apa yang membuatmu tertarik dengan fotografi?

Memori. Ketika saya bertemu dengan sebuah peristiwa, fotografi membantu saya menyimpannya. Cerita. Salah satu media saya untuk menggambarkan apa yang ingin saya ceritakan. Bagi saya fotografi dan menggambar itu sudah merupakan kebutuhan. Jadi itu bukan lagi pekerjaan atau side job, melainkan sama seperti saya membutuhkan makan atau liburan.

Siapa fotografer favoritmu?

Ryan McGinley; youth, nude and freedom. Tiga kata yang saya suka dari seorang Ryan.

000062

Apa ciri khas/signature dari foto-fotomu? 

Sebenarnya saya tidak pernah tahu apa yang khas dari foto saya, mungkin orang-orang yang melihat proses karya saya yang bisa mengatakan itu. tapi yang jelas saya selalu ingin bercerita tentang apa yang pernah atau sedang saya alami, salah satunya lewat fotografi.

Tolong ceritakan tentang foto-foto yang kamu kirimkan ini.

Kota ini sepertinya menyimpan sudut-sudut ruang yang sampai saat ini saya selalu dibuatnya terkejut. Banyak sudut-sudut ruang yang setiap hari saya lewati tapi saya tidak menyadari ada hal menarik yang membuat saya ingin bercerita dan nyaman. Foto-foto ini merupakan beberapa dari sudut-sudut ruang tersebut. Dan mungkin hanya ada di kota kecil ini.

52900005

Tempat favoritmu?

Warung Senja, Sebuah warung teh poci tua di salah satu sudut kota Jogja. Warung tua yang sebenarnya biasa saja ini, sudah ada sebelum angkringan menginjakkan gerobaknya di Jogja. Saya benar-benar merasakan suasana berbeda, seperti berada di rumah kakek.

Next project?

Menerbitkan buku secara independen, buku buat saya media yang tepat untuk bercerita. Ada kenikmatan tersendiri ketika membuat sebuah buku, kemudian saya ingin mengadakan pameran kolektif lagi dan pameran tunggal.

 000067 000068

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Rukii Naraya

http://worldwithouttitle.blogspot.com/

 

Through The Lens: Rendha Rais

Boleh cerita sedikit tentang diri kamu?

Hai nama saya Rendha dan saya suka sekali memotret. Saat ini saya bekerja sebagai fotografer dan konsultan produk. Saya memulainya sejak lulus kuliah tahun 2007 sebagai asisten fotografer fashion ternama dan memotret untuk beberapa band, jadi sering ikut tur dengan band-band yang meng-hire saya. Saat tur itu kalau ada waktu kosong saya manfaatkan untuk jalan-jalan. Jadi traveling sambil bekerja.

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik dengan fotografi?

Dari kecil saya selalu terkagum-kagum jika melihat kamera, entah itu kamera pocket ataupun kamera profesional. Bisa dibilang saya suka dengan bentuk kamera.

Berapa banyak kamera yang kamu miliki? Favoritmu?

Kurang lebih ada 30. Ada SLR, DSLR, Lomo, kamera tua, Polaroid dan sebagainya. Saya paling suka Contax T2 karena bentuknya dan hasilnya yang tajam. Incaran saya adalah Leica M9, masih belum kebeli, hihi.

Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu datangi, kenapa memilih Solo dan Jogja untuk ditampilkan?

Buat saya Solo dan Jogja merupakan tempat yang sangat menyenangkan dan memiliki banyak objek dan tempat-tempat menarik untuk didatangi. Ambience di sana membuat betah dan nggak mau pulang.

Destinasi impianmu?

Pulau Rani di Kepulauan Raja Ampat. Saya pernah baca artikelnya di internet dan dulu ada teman yang pernah pamer foto-fotonya sepulang dari sana yang membuat saya kagum sama keindahan alamnya. terus berpikir daripada jalan-jalan ke luar negeri kenapa nggak ke sana aja ya? Tapi akses ke sana masih susah dan mahal, jadi sekarang nabung dulu, hehe.

Apa objek foto favoritmu?

Manusia… portrait photo. Manusia itu berbeda-beda dan menurut saya kita bisa memahami karakter seseorang dari foto.

What’s your passion?

Traveling around the world with my camera.

Next project?

Lagi mau buat video dan essay photo documenter mengenai band-band di Indonesia.

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Rendha Rais

http://rendharais.wordpress.com/

Through The Lens: Ridzki Noviansyah

Boleh cerita sedikit tentang diri kamu?

Nama saya Achmad Ridzki Noviansyah biasa dipanggil Ridzki, saya bekerja sebagai freelance photographer namun main job saya saat ini adalah Clinical Research Associate dan sekarang sedang bertugas di Malaysia selama 6 bulan.

Apa yang membuatmu tertarik dengan fotografi?

Fotografi adalah medium ekspresi yang paling cocok untuk saya. Saya juga senang menulis tapi saya sering menganggap tulisan saya terlalu cheesy dan terkadang malah idenya nggak tersampaikan karena terlalu panjang. Maka dari itu saya mendalami fotografi, untuk menyampaikan ide, cerita, pengalaman atau pada yang paling mendasar kenyataan.

Tempat paling menarik yang kamu datangi, so far?

Nggak bisa dipungkiri lagi, cuma Indonesia. 17 ribu lebih pulau dengan penduduk yang memiliki adat-istiadat yang berbeda-beda, belum lagi hal-hal lain yang menakjubkan baik di darat maupun di laut. Keanekaragaman Indonesia itu sangat luas, saya pernah baca bila orang Aceh, Jogjakarta, Bali dan Papua dimasukkan dalam 1 ruangan dan diminta melakukan tarian tradisionalnya masing-masing, nggak akan ada yang percaya mereka datang dari satu negara.

Apa yang ingin kamu sampaikan dari foto-fotomu?

Realitas. mungkin itu kata yang tepat, sebagai contoh sekarang saya menghindari sesuatu yang jelas-jelas sebagai tujuan dari suatu tempat wisata. Saya lebih tertarik untuk menarik diri dan melihat kehidupan di sekeliling tempat wisata tersebut. Saya juga tertarik dengan melihat bagaimana warna benda-benda di sekeliling kita saling berbenturan dan melengkapi satu dengan yang lain. Ini menjadikan sesuatu yang banal jadi memiliki sebuah nilai estetika, kalau saya nyebutnya “yang banal, yang berwarna.”

Tolong ceritakan tentang foto-foto yang kamu kirimkan ini

Ok, ini foto-foto yang saya ambil ketika saya pergi ke India awal tahun ini. Saya nggak punya konsep mau foto apa sebelumnya karena saya berpikir lihat saja nanti keadaannya di sana gimana. Ketika sampai, saya dibombardir dengan pemandangan, aroma dan hal-hal lain yang membuat saya takjub. Saya mulai mencoba memotret manusia dan hewan yang ada di India dibanding sekadar bangunan atau landscape. Hewan mungkin tidak begitu sulit tetapi orang-orang India sangat tidak mau difoto. Nah untungnya ada yang namanya auto (bajaj kalau di Jakarta), supirnya senangnya ngebut-ngebutan dan di atas auto itu saya selalu melihat ke jalan, kalau ada orang-orang dengan tingkah laku yang menarik langsung saya foto.

Hal paling berkesan dari India?

Kekacauan dan keindahan dalam satu tempat, yang bisa dinikmati terpisah atau sekaligus dengan secangkir chai.

Apa arti traveling untuk kamu?

Traveling itu ibarat belajar buat saya. Tujuannya bukan lagi atraksi wisata tetapi apa yang terjadi selama di perjalanan; apa yang saya pelajari dari itu dan pengalaman apa yang bisa saya dapatkan. Kalau ngeliat atraksi wisatanya itu cuma bonus.

Next project?

Saya sedang ingin mencari inspirasi baru. Selama ini hanya melihat karya fotografi dan saya nggak terlalu terpengaruh dengan karya fotografer lain. Saya teringat ucapan Erik Prasetya yang berkata ketika dia membuat Jakarta, Estetika Banal yang di otaknya adalah puisi-puisi yang dia baca. Maka dari itu saya memutuskan rehat dulu selama sebulan dari semua yang berbau fotografi. Namun akhir Juli nanti saya akan mengikuti sebuah workshop fotografi di Chiang Mai, Thailand. Ini selain mendapatkan pembelajaran baru juga akan melihat the up and coming photographers di region Asia, maka dari itu saya sangat bersemangat untuk menghadiri ini. Sebagai persiapan mungkin saya harus baca literatur tentang Chiang Mai terlebih dahulu dan berkenalan lebih mendalam tentang kebudayaan Thailand secara umum dan melihat apakah ada hal-hal tertentu yang saya bisa angkat sebagai cerita.

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Ridzki Noviansyah

http://ridzkinoviansyah.com/

Through The Lens: Albert Judiyanto

Boleh cerita sedikit tentang diri kamu?

Nama saya Albert Judiyanto, saya seorang fotografer dan creative director di Whatnot yang terdiri dari dua divisi yaitu Whatnot Studio yang bergerak di branding, marketing, graphic house dan DailyWhatnot yang berupa media online.

Tolong ceritakan tentang foto-foto yang kamu kirimkan ini

Ini foto-foto saya di Israel. Beberapa foto ini kurang lebih merupakan kumpulan dari perjalanan saya di sana. Banyak hal menarik yang saya temui seperti contohnya ketemu bapak-bapak yang cukup berkarakter dengan kumis indahnya itu, di Western Wall ada anak muda yang beribadah dengan senjatanya, mural-mural dengan pesan humanity di West Bank Wall. Juga Petra, sebuah kota di Jordan yang bangunannya terbuat dari batu semua.

 

Dari sekian banyak tempat yang pernah kamu datangi, kenapa memilih Israel untuk ditampilkan?

Dari semua tempat saya memilih Israel karena perjalanan saya waktu itu yang membuat saya jadi ingin keliling dunia dan penasaran sama budaya-budaya lainnya.

Tempat paling menarik yang kamu datangi, so far?

Waktu tahun 1999 tanggal 25 Desember, saya ke Italia dengan tujuan untuk masuk Gereja St. Peter’s Basilica lewat The Holy Door. Pintu itu dibuka cuma setiap 25 tahun sekali, kabarnya orang-orang yang bisa ngelewatin pintu itu dosa-dosanya akan diampuni. Beruntungnya saya punya kesempatan untuk bisa ke sana dan juga bisa bertemu dengan Paus waktu itu. Jadi buat saya yang terasa berkesan itu lebih ke momen yang bisa saya rasakan, di saat Natal bisa ke Italia dan dari sekian ribu orang yang masuk pintu itu, saya salah satunya.

Apa ciri khas/signature dari foto-fotomu?

Foto-foto saya kebanyakan natural dan agak raw pada umumnya, jadi what you see is what you get.

Siapa saja fotografer favoritmu?

Kalau untuk foto, saya terinspirasi dari beberapa fotografer seperti Garry Winogrand, Juergen Teller, Terry Richardson, Hedi Slimane juga beberapa fotografer yang tergabung di tinyvices.

Destinasi impianmu saat ini?

Pelaminan…haha! Kalau jawaban seriusnya, saya ingin jadi orang yang pernah ke semua negara, tapi untuk saat ini sih ingin ke Tokyo, New York, Miami.

Next project?

Kalau project jangka panjangnya ngumpulin foto-foto traveling, kalau kesampaian, semoga bisa semua negara. Someday mau saya compile dalam satu media. Kalau yang jangka pendeknya, Whatnot sedang dalam proses membuat dua website baru seperti DailyWhatnot, ya pertengahan tahun ini harusnya sudah running.

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Albert Judiyanto

http://albertjudiyanto.com/

Gone With The Wind, An Interview With Timur Angin

Timur Angin mengajak kita mengintip sudut dunia lewat bidikan kameranya. 

Ada sejuta alasan kenapa orang senang berpergian. Sebagian dengan tujuan rekreasi dan menghilangkan penat, sementara sebagian lainnya pergi mencari inspirasi dan menceritakan kembali apa yang diperoleh dari perjalanannya. Beberapa akan bercerita lewat catatan tulisan dan yang lain memilih mengabadikan momen-momen tersebut lewat jepretan foto, seperti yang dilakukan oleh Timur Angin, seorang fotografer dengan reputasi yang sudah dikenal baik oleh dunia fotografi Indonesia. “Memotret dan bikin karya, daripada uang habis untuk membeli barang-barang bermerk atau mempercantik mobil, misalnya. Lagian kan kalau gue bisa balik modal hehe.” Jawabnya dengan enteng tentang motivasinya berpergian.

Sebagai fotografer, Timur tentu terbiasa dengan pekerjaan yang meliputi foto fashion, wedding, hingga corporate, tapi kecintaannya pada fotografi justru datang dari foto-foto scenery yang ia tangkap dalam perjalanannya. Entah ada kaitan dengan namanya atau tidak, yang jelas pria berumur 33 tahun kelahiran Jogjakarta ini memang senang berpergian ke berbagai tempat baik dalam maupun luar negeri dan seringkali destinasinya adalah tempat-tempat yang bukan menjadi tujuan wisata populer. Mulai dari Asia Tenggara, Cina, India, Tibet hingga Israel pernah dijajakinya.

Dalam berpergian, Timur lebih menyukai metode backpacking dan membaur dengan para penduduk lokal ketimbang berdiam diri di hotel. Bukan rahasia jika backpacking memang menawarkan cerita-cerita menarik di balik segala tantangannya. “Pernah waktu ke kota Chengdu, Cina, cari alamat kok nggak ketemu-ketemu. Berasa bego banget, padahal ya cuma muter-muter di situ. Mungkin terbiasa dengan ketidakberesan kota Jakarta, pas nemu kota yang teratur malah bingung sendiri.” Ucap Timur sambil tersenyum. Namun kesulitan mencari alamat mungkin tak ada apa-apanya jika dibandingkan pengalaman bertransportasi yang jauh dari kata layak. “Backpacking dari India menuju Nepal lewat jalan darat. Berjejalan naik kereta ekonomi di India. Waktu itu pas lagi winter, jendelanya bolong dan dinginnya minta ampun, toiletnya juga parah kondisinya dan pengemis mondar-mandir. Sebenarnya sama aja kaya di Jawa, tapi karena di India jadinya lebih parah. Hahaha, pengalaman hidup sih intinya.” Kenangnya ketika diminta menceritakan salah satu pengalaman berkesan yang dialaminya.

 Interaksi dengan masyarakat setempat pun tentu tak dapat dihindari, lantas bagaimana Timur menyikapi hal tersebut?  “Sebagai turis, pasti mudah kok berinteraksi. Bahkan nggak perlu mengerti bahasanya pun pasti berhasil. Apalagi yang backpacking. Kalau sama pelayan restoran, interaksinya mungkin hanya sebatas bayar bill. Tapi kalau ingin tahu lebih dalam, mending baca Lonely Planet. Kita nggak pernah tahu tabiat orang yang kita ajak bicara kayak gimana, entah itu lokal atau sesama backpacker, yang penting selalu waspada.” Jawabnya. Dan dia pun menceritakan ada keuntungan tersendiri ketika mengatakan dirinya berasal dari Indonesia, “Beberapa kali pasti berhasil dalam hal tawar-menawar. Kalau bilang bahwa kita sama-sama berasal dari negara miskin yang korup pasti tawaran kita akan diiyakan oleh si pedagang, contohnya seperti di Myanmar dan Kamboja, haha.”

Untuk masalah destinasi, Timur mengaku tidak terlalu pilih-pilih. Pantai, gunung atau perkotaan siap dikunjungi, yang penting lokasinya menarik untuk hunting foto. Dari sekian banyak tempat, jika harus menyebut satu, mana yang menjadi the best place he ever visit? “Tel Aviv karena nggak mudah bagi orang Indonesia untuk dapat izin masuk ke sana, kalau ke Jerusalem mungkin lebih umum.” Jawabnya. Dari kota ini juga ia mendapat souvenir paling memorable, yaitu kaus bendera Israel yang sampai sekarang belum pernah dipakai keluar rumah. Selain foto dan koleksi fridge magnet dari berbagai negara, Timur juga gemar mencicipi sajian lokal yang tak ditemukan di tempat lain seperti susu dan burger daging yak yang dicicipinya di Tibet.

Pertanyaan terakhir dari saya adalah destinasi impian selanjutnya, dan dengan semangat ia menjawab kawasan Amerika Selatan. “Terinspirasi oleh foto-foto karya Alex Webb. Matahari di sana bagus banget nggak kaya di Jakarta, terus ambience manusia dan lingkungannya selalu berwarna. Yang pasti langit biru seperti di Bali dan mau apa-apa juga murah. Lagian gue juga senangnya sama negara-negara eksotis. Ketimbang negara plesir yang major seperti Amerika atau Eropa, tapi kalau dibayarin orang sih nggak apa-apa juga kesana. Hahaha.”

 As published in NYLON Indonesia June 2011

All photos by Timur Angin

http://timurangin.com/

Through The Lens: Noran Bakrie

Boleh cerita sedikit tentang dirimu?

Saya Noran, secara KTP tinggal di Jakarta tapi tahu benar rumahnya lebih luas dari Jakarta, hehe. Rumah saya itu ada di mana pun kaki saya menapak. Kesibukan saat ini di Verve Reps, saya representing beberapa ilustrator & fotografer di situ. Di luar itu, kalau ada yang minta saya fotoin untuk project-nya, saya fotoin, atau saya buat project foto sendiri aja sekalipun nggak ada yang minta, hehe.

Apa yang membuatmu tertarik dengan fotografi?

Its simplicity. Nggak usah repot-repot berkata-kata untuk menjelaskan, cukup satu foto saja kadang bisa langsung buat ribuan orang mengerti.

Tempat paling menarik yang kamu datangi, so far?

Semuanya berkesan. Personally saya merasa sangat nyaman di Pulau Fraser dan di Kepulauan Great Barrier Reef, saya suka bagaimana dunia terasa di situ, warna hidup jadi cuma 5: krem (warna pasir), hijau (warna hutan), biru (warna laut dan danau), putih dan biru cerah (warna langit). Tenang banget. Saya suka landscape di Pulau Rinca, Komodo & Alor. Out of earth. Oh dan saya juga menemukan “rumah” di kepulauan di Andaman Thailand, it’s my personal sanctuary.

Apa arti traveling untuk kamu?

Buat saya, the road is home. Saya merasa paling nyaman ketika dalam perjalanan. Ada sebongkah besar “ketidaktahuan” ketika kita datang ke tempat baru, dan bongkahan itu yang membuat hidup menjadi menarik. Ada rasa ingin belajar, rasa ingin mengerti, ada rasa kerendahan hati juga ketika kita bertemu budaya baru, prinsip hidup baru, cara pikir baru, penduduk lokal dan orang-orang asing; perasaan bahwa saya cuma setitik jiwa bagai debu di antara hamparan jiwa-jiwa lainnya di bumi itu, mengajarkan saya untuk melepas ego saya dan mengutamakan kebaikan untuk semuanya.

Destinasi impianmu saat ini?

Ingin kembali ke Afrika lagi. Namibia, Madagascar, Kenya, Seychellen & Mauritius, Pulau Socotra, hampir semuanya di benua itu. Oh dan ingin sekali explore Amerika Selatan. Doain ya!

Tolong ceritakan tentang foto-foto yang kamu kirimkan ini

Ini adalah catatan saya ketika backpacking ke Macau dan Hong Kong. Waktu itu rencana backpack saya lumayan impulsive, saya lagi chatting sama web designer (kami lagi ngerjain project bareng) yang kenal banget juga nggak, tapi ternyata gampang disetanin. Saya cuma nanya ke dia, “Jadi kita mau backpack ke mana, hutan, pantai, gunung apa kota?” dan dia jawab, “Semuanya.” – Jadilah kami merencanakan itinery Macau – HK – Thailand – India – Nepal, yang rasanya memegang rekor tercepat kalau ada award untuk travel planning, haha. Tau-tau dalam setengah jam kemudian kami sudah punya tiket pesawat untuk ke semua negara itu.

Hal-hal paling berkesan selama di sana?

Semua yang janggal terasa menyenangkan: dari angin super kencang di Macau, bangunan kuno Cina kolonial (kami menginap di sebuah hospedaria bekas lokasi shooting Wong Kar Wai), sampai keramahan penduduknya dan kebiasaan mereka untuk jogging seharian dimana-mana. Yang kita lakukan selama di Macau sebenarnya cuma satu: nyasar tanpa arah, dari pagi sampai malam. Kalau ingin ke tempat tertentu, dengan polosnya nanya ke orang di jalan, salah turun bis, salah belok, sampai akhirnya sampai juga tanpa mengerti gimana caranya kok bisa sampai. Tapi syukur, semua tempat yang kami lewati itu menarik, dari kasino sampai hutan gantung. Kalau capek, kami berhenti di kedai kopi/dimsum lokal dan nguping cara bicara atau cerita pengunjungnya yang lagi ngobrol, buat saya itu menyenangkan. Kegiatan nyasar itu masih kami lakukan sampai mau berpindah negara, niatnya mau ke Hong Kong, kami salah arah pas naik bis, turun di perbatasan Shenzen Cina, dan dengan bloonnya nanya, “Ini ke Hong Kong, bukan?” Hahaha.

Hong Kong lebih teratur dari Macau, saya amazed dengan kota itu. Kami tinggal di sebuah gedung dodgy, Chung King Mansion, terkenal sebagai sarang narkoba dan prostitusi. Isinya imigran Afrika, Pakistan, India – badannya gede-gede semua. Kalau mau ngantri lift, selalu dagdigdug soalnya mata mereka besar-besar dan menatap tajam ke antrian, hahaha. Kalau malam, kami bisa mendengar teriakan-teriakan pelacur imigran Afrika yang lagi jualan di Tsim Sha Tsui, padahal kamar sewaan kami di lantai 20-an. Oh, ngomong-ngomong soal kamar sewaan, saya masih ingat kalau kamar itu kasurnya banyak kutunya, jadilah semalaman kami garuk-garuk nggak bisa tidur hahaha. Tapi nggak satu pun dari itu bisa membuat saya sebal, saya sudah terlanjur mencintai Hong Kong.

As published in NYLON Indonesia June 2012 “Through The Lens” feature.

All photos by Noran Bakrie

http://noranbakrie.com/

 

 

 

On The Records: Girls on Gigs

Siapa bilang perempuan hanya bisa menjadi sekadar pemanis belaka di konser-konser musik? Empat perempuan berikut ini bercerita tentang serunya bekerja di gigs. 

Ade Putri

Road manager

Road manager adalah penghubung antara band dengan panitia; kami yang mengatur jadwal keberangkatan serta kepulangan rombongan sesuai request dan availability player mau pun tim produksi. Kami juga memastikan panitia membaca rider dengan baik dan memberikan counter rider – intinya memastikan kebutuhan band & produksi bisa terpenuhi.” Ungkap Ade Putri tentang job description seorang road manager. Bila masalah standar road manager pada umumnya adalah panitia yang kurang kordinasi atau liaison officer yang tidak komunikatif, sebagai seorang road manager yang mengurusi band-band cadas seperti Seringai, Superman Is Dead dan Suicidal Sinatra, ia harus berhadapan dengan tantangan ekstra, yaitu crowd dan medan yang tak terduga. “Waktu SID perform di USU, Medan tahun 2003 lalu, ada provokator dan konser jadi rusuh. Panitia nggak bisa berbuat banyak karena mereka nggak nyangka kejadiannya akan seperti itu,” kenangnya, “SID tetap menuntaskan set list, biar pun udah gue suruh turun karena suasananya nggak kondusif. Turun panggung, SID dan manajer langsung naik mobil kembali ke hotel. Saat gue bersama tim produksi lagi beresin alat di panggung, eeh…banyak banget barang melayang ke atas panggung. Jadilah gue dan stage crews berlindung di bawah ridging stage. Menegangkan, kayak perang, hahaha.” Tandasnya santai. Gadis kelahiran Surabaya yang juga berprofesi sebagai freelance publicist dan social media strategist di sebuah digital agency ini mengaku lebih menyukai terjun langsung ke lapangan dibanding bekerja di balik meja, karena itu di antara semua kesibukannya, ia tetap menikmati menjadi freelance road manager untuk band yang sudah disebutkan di atas dan beberapa nama lainnya seperti Vicky Shu, The Flowers dan Armada. “Let me tell you something, handling bunch of rockin’ boys is much much much easier than handling one unpredictable selfish and spoiled princess!” Tutupnya dengan senyum jahil.

Isha Hening

Visual Jockey

Apakah kamu sempat menonton penampilan Röyksopp di Love Garage beberapa bulan lalu? Kalau iya, pasti kamu ingat visual mapping keren yang melengkapi live performance mereka. Well, guess what? Visual mapping tersebut dibuat oleh perempuan manis bernama Isha Hening yang kian dikenal sebagai seorang Visual Jockey andal. Semua bermula saat ia masih berkuliah di ITB jurusan DKV – Multimedia, gadis berumur 25 tahun ini sering menghabiskan waktu di Common Room, sebuah ruang kreatif di Bandung, yang juga tempat sebuah komunitas bernama Openlabs yang mengulik soal electronic music, visual dan new media art. Dari situ ia belajar soal VJ dan live visual sampai akhirnya pertama kali menjadi VJ untuk Bottlesmoker di sebuah gig elektronik Bandung, sebuah pengalaman yang membuatnya jatuh cinta, ketagihan dan akhirnya menjadi profesi. Isha lalu dipercaya menjadi VJ untuk event-event besar seperti Godskitchen, Beatfest, Djakarta Warehouse Project, Dance Republic, Playground dan Love Garage. “Hampir semua event berkesan sebetulnya, karena pasti ada yang uniknya, seperti kemarin senang banget bisa VJ-ing untuk Bag Raiders dan Röyksopp karena saya kebetulan memang ngefans atau yang paling capek saat main sampai pukul 6 pagi untuk Armin Van Buuren. Tapi tetap sih, saya paling menikmati kalau main di gigs drum ‘n bass seperti Phunktion, hehe.”  Jawab Isha saat ditanya event yang menurutnya paling berkesan. Selepas Love Garage, kini gadis yang memiliki daily job sebagai motion graphic artist di Fear FX Studio di daerah Bangka, Jakarta Selatan ini sedang bersiap mengerjakan video klip untuk Rock N Roll Mafia bersama temannya Guntech dan sebuah group exhibition di Dia.lo.gue Artspace, Kemang. Bekerja di field yang didominasi pria, apakah sebagai VJ ia pernah diremehkan hanya karena ia perempuan? “Haha, ya pasti pernah, seringnya sih masalah teknis, tapi seharusnya isu seperti itu sudah basi ya, sudah tidak penting gendernya apa, pada akhirnya karya dan profesionalisme yang berbicara.” Jawabnya optimis.

Niken Prista

Gig photographer

Admit it, DSLR is just like fashion accessory nowadays. Kita dengan mudah melihat cewek-cewek menenteng kamera di gig musik, tapi berapa banyak diantara mereka yang memang seorang gig photographer dan rela berdesak-desakan di media pit yang disesaki pria-pria yang terkadang, literally push each other untuk mendapatkan foto yang keren? Mungkin masih bisa dihitung dengan jari dan Nikensari Pristandari adalah salah satunya. Gadis berperawakan mungil ini dapat dengan mudah kamu lihat di berbagai gig sedang membidikkan kamera kesayangannya, Canon Kiss X2, untuk situs musik Geeksbible.com atau beberapa media lainnya. “Keinginan buat motret penampilan band/musisi buat gue pribadi adalah untuk mendukung band lokal yang masih belum dikenal banyak orang dan sebagai media berbagi keriaan buat mereka yang nggak bisa nonton konser tertentu. Jadi ketika liat jepretan gue, mereka juga bisa merasakan euforia yang sama saat gue motret penampilan band/musisi itu,“ ungkap Niken tentang alasannya menjadi gig photographer, “Basically, gue sendiri cinta musik, dan menjadi salah satu bagian dari hal tersebut adalah menyenangkan.” Imbuhnya. Melihat sosok mungil dan pembawaannya yang kalem, mungkin kamu akan kaget mengetahui jika ternyata ia paling antusias memotret untuk gig-gig metal dan salah satu keinginan terbesarnya adalah memotret di Hellfest. Gadis berumur 21 tahun ini mengaku dirinya memang pendiam, namun jika melihat foto-foto bidikannya di akun flickr-nya (flickr.com/photos/nikenprista), kamu bisa merasakan emosi dan semangat dari objek fotonya. Apa tipsnya? “Baiknya sih survey dulu venue-nya di mana jadi kira-kira sudah siap angle photo yang mau diambil dan mau bawa lensa apa aja. Terus peka juga sama hal-hal yang berpengaruh pada hasil foto, misalnya lighting. Biasanya kalau venue cukup gelap, gue ngitungin waktu kapan lighting ini bisa pas nembak ke objek yang mau gue foto, atau pada lighting warna tertentu.”

Nastasha Abigail

Announcer/band manager

Berbincang dengan Nastasha Abigail sama menyenangkannya dengan mendengarkan siarannya di Trax FM. Ia ramah, approachable dan senantiasa menyelipkan joke segar dalam omongannya. Sebagai seorang announcer merangkap reporter untuk salah satu stasiun radio anak muda paling dikenal tersebut, Abigail memang kerap kali dijumpai di berbagai acara musik, baik yang berskala besar maupun gig-gig yang lebih kecil. Kini, selain siaran dan mendesain cincin buatan sendiri dengan nama Hullo, lulusan Jurnalistik UPH ini menambah resume dengan menjadi manajer untuk Zeke Khaseli, suatu tawaran yang secara spontan ia terima dengan antusias, walau ia mengaku masih dalam tahap belajar. Saya pun bertanya di umurnya yang ke-25 tahun ini, sampai kapan kira-kira ia ingin berkarier di bidang yang berhubungan dengan musik. “Gue sedang berada di comfort zone sebetulnya. Apalagi sebagai anak muda yang notabene budak konser, gue bersyukur dapet tiket-tiket gratisan, ketemu banyak teman baru, lokal dan internasional. Jadwal siaran pun membuat gue bisa melakukan banyak kegiatan lainnya. Kalau ditanya mau sampai kapan, itu gue agak bingung. Pernah sih kepikiran kerja kantoran dan menciptakan kestabilan hidup, tapi kayaknya gue nggak terlalu banyak punya baju rapi,” jawabnya sebelum menambahkan dengan tersenyum lebar “Menjamin mapan bukan berarti menjamin senang kan?”

As published in NYLON Indonesia April 2012

Fotografi oleh Muhammad Asranur