On The Records: Hikari Todo

Emil RajiWalaupun berbau Jepang, tapi nyatanya Hikari Todo hanya sebuah nama alias dari solo project Emil Prakertia Raji, seorang multi-instrumentalist, self-taught DIY producer, throat destroyer, dan serial heartbreakist seperti yang dideskripsikan sendiri olehnya. Lahir dan dibesarkan di Ubud, Bali dengan orangtua yang berprofesi sebagai pelukis dan penyanyi, minatnya akan musik berkembang secara natural sejak dini dengan mempelajari gitar sebagai instrumen pertamanya pada umur 9 tahun. “Sekarang untuk bermusik itu sama artinya dengan bernapas kali ya, sudah menjadi sebuah keharusan untuk berekspresi,” cetusnya via email dari Perth, tempatnya menuntut ilmu saat ini. Ekspresi bermusik pria kelahiran 1993 ini pun disalurkan dengan menjadi vokalis/gitaris trio screamo/experimental asal Ubud bernama A City Sorrow Built dan menjadi co-founder label independen Sailboat Records yang merilis band-band seperti Amukredam, Senja Dalam Prosa, Riuh, LKTDOV, A City Sorrow Built dan tentunya Hikari Todo itu sendiri yang merupakan eksplorasinya di genre post-rock dan ambient.

Hi Emil, apa yang mendorong kamu untuk bermusik?

Aku kalau gak salah mulai pegang gitar sejak umur 9. Kedua orang tuaku pelukis, Ibuku kebetulan juga penyanyi dan punya banyak teman musisi nah mungkin karena itu aku disuruh gabung les gitar beberapa kali meskipun enggak pernah kelar hahaha. Aku sudah sejak SMA mendengarkan sebuah solo proyek dari seorang Ben Sharp (Cloudkicker) dan pengen membuat sesuatu yang sama dan setelah albumnya Let Yourself Be Huge dirilis, I was hooked dan mencoba sendiri otak-atik komputer sendiri. Down the line, aku menemukan banyak act keren dari Jepang yang influensnya juga sangat kental kepada Hikari Todo seperti Toe, Mouse on the Keys, Spangle Call Lilli Line, Haruka Nakamura, Nujabes, etc. Dan juga without a doubt Sheila on 7.

Kenapa memilih nama Hikari Todo untuk proyek ini?
Dulu main-main di Google Translate mau coba terjemahin liriknya Utada Hikaru, ya kebetulan dapet itu. Aku juga masih kurang tahu if it makes any sense or not, hahahaha.

How do you describe Hikari Todo’s sound?
Lofty, melancholic, simplistic.

Boleh cerita sedikit soal proyek kamu lainnya?
Proyek utamaku sampai belakangan ini merupakan band Screamo/Eksperimental; A City Sorrow Built, bersama beberapa teman sejak masa kecilku di Bali. Kebetulan kita bertiga mempunyai visi yang cocok untuk bermusik bersama. Tapi setelah full length ini mungkin kita akan tone down sedikit proyek itu. Nah di Sailboat Records aku enggak pegang banyak cuma design sedikit sama memperbaiki bahasa Inggrisnya.

Sebagai seseorang yang besar di Bali dan kini di Perth, apa bedanya scene musik di kedua tempat itu menurutmu?
Yah, kalau aku lihat skena Bali dan hometown-ku sendiri hampir ga ada yang tahu aku membuat musik atau apa. Masih sangat amat sulit untuk seseorang yang enggak mengikuti mode outlet kreatif yang ‘normal’ dalam bermusik untuk mendapat apresiasi yang layak. Masih susah kalau berbicara dengan orang awam untuk aku mendeskripsikan musikku. Tapi aku belakangan benar-benar melihat kemajuan dalam diversitas di scene Indie Indonesia dan dalam beberapa tahun Indonesia benar-benar akan menjadi tempat yang subur untuk bermusik, hopefully fingers crossed. Perth sendiri aku kurang aktif juga sibuk kuliah kalau di sini dan kalau bermusik pun di kamar. Hikkikomori anthems.

What’s your dream collaboration?
Ada beberapa kolaborasi sih, tapi aku lebih suka untuk berkolaborasi dengan orang-orang di kehidupan pribadiku karena justru yah mereka sendiri bersangkutan dengan isi musik itu sendiri bahkan jika mereka merasa kurang konfiden atau berpengalaman dalam musik. Entah kenapa tapi aku merasa ini sangat efektif, mungkin karena musikku lebih bersifat seperti jurnal daripada sebuah sesuatu yang berkonsep tinggi. Secara orang terkenal yang bener-bener aku ingin berkolaborasi sih enggak ada, not that I’m saying if you want to collab with me I wouldn’t want to. I’d be thrilled!

Lights Stays EPhttp://sailboatrecords.bandcamp.com/album/light-stays-ep

http://sailboatrecords.com/

Advertisements

Seeing Sounds, An Interview With Sparkle Afternoon

Sparkle Afternoon melukis dunia mereka sendiri lewat nada-nada eksperimental yang lembut dan keras di saat yang sama, so are you in? 

Apa yang ada di benakmu saat mendengar kata dream pop? Kemungkinan besar yang terpikir adalah musik beraransemen meruang dengan soundscape yang seakan bercerita tanpa harus dihiasi vokal dan lirik sekali pun. Saya juga percaya jika lagu dream pop yang baik adalah yang bisa membuatmu melamun dan membayangkan suatu scenery tertentu. Well, hal seperti itulah yang membuat saya langsung suka saat pertama kali mendengarkan single “Gorgeous” milik Sparkle Afternoon. Dibuka dengan dentingan piano yang menjadi pengantar vokal lirih seorang gadis sebelum lengkingan gitar mulai masuk dan semakin intens saat menuju menit ketiga lagu berdurasi sekitar 4 menit tersebut, saya terhanyut dalam ruang yang dibangun lagu yang sedikit mengingatkan saya akan masa-masa awal Homogenic dalam versi less-electronic ini.

Terdiri dari vokalis Ratih Kemala Dewi, gitaris Diki Setiadi, gitaris Yogie Riyanto, bassist Warna Kurnia, drummer Tedy Wijaya dan keyboardist Rizka Rahmawaty, unit musik dari Bandung ini memang meramu musik yang kerap didefinisikan sebagai dream pop dengan nuansa post-rock dan shoegaze yang kental. “Sebenarnya dari dulu kami nggak pernah nentuin mau main musik seperti apa, dulu sempat ke arah indie pop, tapi karena sekarang influensnya juga semakin bertambah akhirnya musik yang kami rilis sekarang seperti ini, ada post-rock, dream pop, shoegaze minimalis dan ada eksperimentalnya juga.” Jawab Yogie saat saya bertanya tentang konsep musik mereka yang mengaku mendapat influens dari band-band seperti God Is an Astronaut dan Maybeshewill.

Dream pop dan post-rock sendiri sama sekali bukan hal yang asing di scene musik Indonesia saat ini sehingga mau tak mau mereka harus memiliki suatu ciri khas yang bisa membuat mereka standout di antara puluhan band segenre di negeri ini, untungnya mereka punya hal itu. Selain memiliki vokalis perempuan yang juga pemain glockenspiel, hal menarik lainnya dari band ini adalah komposisi musik yang kerap mengawinkan dentingan keyboard Rizka dengan kocokan gitar Diki yang powerful (sebelumnya ia tergabung di band metal). Terdengar kontras memang, but opposites attract dan justru itulah yang membuat musik mereka menyenangkan untuk disimak. Bisa dibilang, keyboard adalah salah satu pilar utama band ini, karena itu saya bertanya kepada Rizka tentang influens dari permainan keyboardnya yang kadang terdengar psychedelic itu, “Dulu saya sempat suka banget sama Ray Manzarek (keyboardist The Doors), cuma kalau menyebutnya sebagai influens, kayanya juga nggak sampai segitunya, jadi ya sudah ngalir aja, saya bukan pemain yang baik tapi tetap berusaha untuk punya style sendiri.” Jawab gadis mungil ini dengan merendah.

Dalam band profile-nya, mereka menulis jika saat yang tepat untuk mendengarkan lagu-lagu mereka adalah di sebuah padang rumput terbuka dengan langit yang sedikit mendung. “Katanya sih musik kami lebih ‘kena’ ke pendengar cewek, kaya lagu ‘Gorgeous’ itu yang nyeritain tentang perempuan.” Ungkap Diki yang disetujui personel lainnya, tentang beberapa lagu mereka yang telah dirilis dalam format split album bersama band post-rock Bandung bernama Under The Bright Big Yellow Sun dengan judul We Sit Under The Bright Big Yellow Sun in Sparkle Afternoon yang dirilis Loud For Goodness Records bulan Oktober 2010 lalu. Sebelum itu, dua lagu mereka yaitu “Gorgeous” dan “Fade Away” juga sempat dirilis oleh BFW Recordings, sebuah netlabel asal Manchester, Inggris yang memang spesialis genre ambient, shoegaze, experimental dan semacamnya. “Untuk suasana yang pas mungkin lebih ke nature seperti film Heima, haha,” ucap Yogie sebelum meneruskan, “Harapan kami untuk gig Sparkle Afternoon sendiri lebih yang outdoor atau mungkin di galeri, dan kurang cocok juga kalau siang hari.” Ujar sosok yang termasuk aktif di scene musik Bandung sebagai Head Chief dari Glasslike ent. yang rutin menggelar event bernama Hearing Goodness ini.

Bicara tentang langkah Sparkle Afternoon selanjutnya, mereka mengaku tidak terdesak oleh target, karena saat ini mayoritas personel baru saja meniti karier masing-masing, kecuali Rizka yang masih kuliah, sementara Mala dan Tedy pun kini berdomisili di Jakarta sehingga mereka merasa sedikit kerepotan untuk mengatur jadwal latihan. “Kalau latihan kita live streaming! Haha,” canda Yogie, “Kalau ada materi atau ide-ide baru kita bisa lewat Skype dan kalau mau manggung kita pasti latihan, kadang di Bandung atau nyamperin yang di Jakarta, yang penting tetap komunikasi.” tambah Diki. Masalah perbedaan geografis memang terdengar seperti hal yang telah usang, jangankan Jakarta – Bandung, jarak antar benua pun tak menghalangi mereka menyiapkan sebuah split album bersama band shoegaze asal US, The Sunshine Factory, di samping menggarap materi untuk full album mereka yang diharapkan rilis tahun ini. That’s definitely some sparks to watch out.

As published in NYLON Indonesia April 2012

Photo by Muhammad Asranur.

The Alpha Kids, An Interview With L’Alphalpha

Seperti anak kecil yang menggemaskan, L’Alphalpha dengan cepat menjadi kesayangan semua orang.

Selalu ada dinamika dalam perkembangan musik indie di Indonesia, terlepas dari perdebatan panjang tentang definisi musik “indie” itu sendiri. Ibarat pasang-surut, ada masa di mana muncul begitu banyak band indie berkualitas dan setelah itu tiba tahun-tahun stagnansi tanpa hadirnya nama yang standout. Untungnya, saat ini kita sedang memasuki fase “the next wave”, ditandai oleh band-band baru dengan warna yang terasa segar dan berbeda. Darimana barometernya? Tidak usah jauh-jauh, lihat saja sejumlah gigs yang sedang gencar digelar dan amati nama-nama yang menghiasi headline-nya, salah satu yang paling bersinar adalah sebuah band asal Jakarta yang bernama L’Alphalpha. Band yang belakangan merajai berbagai gig di Jakarta dan Bandung setelah merilis album debut berjudul When We Awake, All Dreams Are Gone.

Berbicara tentang L’Alphalpha, prinsip “the more is the merrier” dapat menjadi kalimat kunci untuk membukanya. Berawal dari sepasang teman bernama Yudhistira Mahendra (Yudish) dan Herald Reynaldo (Herald) yang membentuk band acoustic noise pop dengan nama Alphalpha, yang diambil dari nama salah satu anak kecil di film Little Rascal, sebelum akhirnya berkembang menjadi band empat orang dengan Tercitra Winitya (Ciwi) di keyboard dan Ildo Reynardian (ildo) sebagai drummer, menggantikan posisi Yudish yang akhirnya beralih menjadi gitaris. Menandai awal yang baru, mereka memodifikasi nama band dengan tambahan “L apostrof “ seperti ejaan Perancis dan merekrut dua personil lagi yaitu pianis Byatriasa Ega (Yayas) dan pemain biola Purusha Irma (Irma) yang sesuai dengan tujuan mereka yang ingin terdengar lebih megah dan konseptual. Formasi enam personel inilah yang menjadi L’Alphalpha yang kita kenal sekarang, sebuah band yang musiknya kerap didefinisikan sebagai post-rock, Skandinavia dan ambience, tapi bagaimana mereka memandang musik mereka sendiri? “Orang bilang musik kami agak Skandinavia, agak post-rock, gue sih setuju tapi sebenarnya dibanding genre kami lebih suka menyebutnya sebagai konsep. Konsep kami intinya musik yang ambience dan sinematik. Karena kebetulan di album ini yang dominan nulis lirik itu gue maka memang cenderung ke post-rock.” jelas Herald si vokalis.

Proses membuat album ini sudah dimulai sejak tahun 2009 namun tersendat di tahun pertama karena masalah budget dan kendala waktu, sebagian personel berdomisili di Jakarta sementara Herald dan Ciwi saat artikel ini ditulis masih tercatat sebagai mahasiswa di ITB, dan sempat membentuk band indie pop bernama Jodi In The Morning Glory Parade. Baru di tahun kedua mereka fokus menggarap album yang tadinya direncanakan hanya sebagai album mini dan dijalankan dengan etos Do It Yourself. Mereka dengan berani memilih jalur self-release, di mana mereka mengurus segala sesuatunya bahkan memasukan setiap keping CD dengan tangan mereka sendiri. Ketika launching di HeyFolks! pun mereka mengurus dekorasi hingga sound system sendiri. “Capek tapi terbayar dengan rasa puas, kami menjalani prosesnya dari awal dan jadinya lebih menghargai musik kami sendiri. Puasnya lebih terasa dan ownership-nya jadi lebih tinggi juga.” Tutur Herald, “Begitu tau kami self-release, teman-teman mendukung dengan turun tangan langsung secara maksimal. Jadi untuk band manapun, jangan takut self-release karena pasti banyak orang-orang yang akan membantu,” sambung Yudish. Proses mengurus pemesanan CD pun menjadi kepuasan sendiri ketika membaca pesanan yang datang dari Kalimantan hingga Cina. “Nggak nyangka aja musik kami sampai ke tempat yang bahkan belum pernah kami kunjungi, ini juga salah satu keuntungan self-release, karena kalau lewat label kami nggak akan tau sudah sampai kemana saja flow album ini “ ujar Yudish. Walaupun nama mereka sedang melambung tinggi, mereka mengakui masih agak terkejut dengan banyaknya orang yang menyukai mereka, “Mungkin yang paling bikin seneng sih kalau buka last.fm, biasanya kan top listener-nya kita-kita sendiri, sekarang udah gak tau siapa.” Celetuk Herald sambil tersenyum.

Salah satu yang unik dari band ini adalah walaupun mereka memainkan musik yang terdengar dingin dan muram, mereka memasukkan toys instrument dalam aransemennya sehingga terdengar lebih dreamy serta membuat packaging yang terkesan manis. “Waktu kita masih berdua, Herald selalu bilang cover itu penting. Kita bisa tau Rolling Stones atau Beatles dari cover albumnya aja, hal itu kemudian terpatri dan ketika akhirnya beneran bikin album, kita serius mikirin kemasan yang cocok dan memorable.” Jelas Yudish. Album debut mereka akhirnya dikemas seperti buku dongeng pengantar tidur dengan ilustrasi klasik khas buku Enid Blyton. Proses mencari ilustrator yang cocok pun cukup memakan waktu, setelah browsing sana-sini, akhirnya yang mereka cari datang dari lingkungan pertemanan mereka sendiri dengan dipilihnya Diani Apsari, senior Herald di kampus, yang membuat semua artwork berbasis cat akrilik di album yang mengangkat tema mimpi ini. Berbicara tentang mimpi, mimpi apa yang belum terwujud? “Kami ingin membuat konser berskala besar, mungkin dengan konsep orkestra atau berkolaborasi dengan musisi Indonesia idola kami. Kalau launching kemarin kan hanya sekedar showcase dan media gathering, jadi impian paling dekat adalah konser, doakan saja semoga ada yang mau mensponsori.” Jawab Yudish mewakili rekan-rekannya. Untuk band seperti L’Alphalpha, saya rasa hal itu bukan sekedar mimpi kemarin sore, mereka jelas punya passion dan drive yang mampu mewujudkan setiap mimpi indah mereka.

As published in NYLON Indonesia April 2011

Foto oleh Anton Jhonsen.

http://www.lalphalpha.com/