Art Talk: The Psychic Trip of Kendra Ahimsa

kendra

Jika kamu termasuk orang yang dengan jeli memperhatikan poster di gigs Jakarta, khususnya yang digelar oleh Studiorama, besar kemungkinan kamu telah terbiasa melihat karya Kendra Ahimsa, seorang ilustrator/desainer grafis yang sentuhan ajaibnya bisa kamu nikmati dalam bentuk poster art maupun visual art bagi band-band seperti Polka Wars dan Marsh Kids untuk menyebut segelintir proyeknya. Sejak kecil, pria kelahiran Jakarta, 5 Agustus 1989ini mengaku memiliki imajinasi aktif serta ide-ide random yang menjadi trigger baginya untuk menggambar, namun baru ketika pertengahan SMA ia mulai serius menekuni dunia art, salah satunya dengan aktif di MySpace dan DeviantArt dengan nickname Ardneks yang menjadi turning point tersendiri baginya. Dengan influens penuh detail dari karya-karya Hieronymus Bosch, Mati Klarwein, dan Henry Darger, psychedelic dan retrofuturisme mungkin menjadi hal yang pertama terlintas saat kamu melihat karya visual Kendra, namun tak bisa dipungkiri jika musik turut menjadi bagian integral dalam proses kreasi gitaris Crayola Eyes tersebut.

Studiorama

Hi Kendra, apa kabar? Boleh perkenalkan diri sedikit?

 Halo, saya Kendra Ahimsa, kabar baik. Saya hanya salah satu ilustrator/desainer grafis yang mencoba peruntungan di dunia nyata. Kegiatan sehari-hari sekarang banyak menggambar, menonton film, dan memasak.

Apa yang pertama kali membuatmu tertarik pada art? Dan siapa saja yang menginfluens?

Kalau ada yang bisa saya ingat sejak kecil itu saya selalu curious dan selalu mikirin hal-hal random. Random misalnya kaya gimana menurut saya besar ukuran setiap binatang itu sudah sebagai mestinya diciptakan, kebayang nggak sih kalau gajah itu seukuran semut dan mereka baris di meja makan ngerubungin kue, atau nyamuk sebesar kucing terbang berkeliaran, bukan hanya aneh, itu bakal mengerikan. Nah itu gimana saya mulai menggambar, semacam outlet buat memvisualisasikan pikiran-pikiran random saya. Tapi baru mid-SMA saya mulai terekspos dengan kultur art, itu sekitar tahun 2006-2007-an, di mana saya mulai suka fotografi, pergi ke pameran seni, museum, digging buku-buku visual arts, ekstensif nonton film, jatuh cinta sama cover art dari album-album vinyl, perangko vintage, poster art, graphic design, tahun-tahun di mana saya mulai aktif di Myspace dan Deviantart. Di sana saya ketemu orang-orang ajaib yang nggak hanya jadi teman dunia nyata sampai sekarang, tapi juga berperan sangat penting untuk kancah saya sebagai individu kreatif. Kita berdiskusi, bertukar influens, bikin proyek bareng. Di tahun-tahun itu juga turning point saya, di tengah itu semua saya menemukan kenyamanan tersendiri. Alhasil, saya ikutin passion saya dan ambil jalur kreatif.

Wah kalau soal influens banyak sekali, belakangan ini saya sangat terinfluens dengan south beach art deco, memphis design style, retrofuturism dan cover-cover LP rilisan Jepang. Saya sangat suka komposisi yang mendetail dan bercerita seperti karya-karya Hieronymus Bosch, Mati Klarwein, dan Henry Darger.

Ada cerita khusus di balik nickname ardneks?

Waktu itu saya lagi membuat akun Deviantart, namanya juga anak bocah mau gampangnya, ya nama saya aja dibalik. Kebetulan nickname ardnek sudah ada yang pakai jadi saya tambahkan “s” aja di belakang, eh stuck sampai sekarang.

Kamla

Masih ingat artwork pertama yang kamu buat?

Lupa, soalnya banyak artwork iseng-iseng. Kalau artwork serius mungkin proyek Kamala, itu proyek ilustrasi saya dari tahun 2010-2012. Saya ingat awalnya cuma iseng pingin gambar gara-gara habis baca buku Be Here Now-nya Ram Dass, tapi belum tahu mau gambar apa. Saya turun ke ruang keluarga ternyata lagi pada nonton American Idol di TV. Saya nggak terlalu peduli sih sama American Idol, tapi saat itu kebetulan yang sedang tampil seorang kontestan perempuan dengan paras unik sedang main gitar akustik vintage sambil menyanyikan “Lullaby of Birdland” versi Ella Fitzgerald yang merupakan salah satu lagu favorit saya. Terinspirasi deh, akhirnya saya buat ilustrasi yang berjudul “Feathers”. Saya kirim ke dia lewat Facebook dan akhirnya ngobrol panjang, ternyata dia punya band indie bernama Varlet dan ilustrasi saya akhirnya jadi cover EP mereka yang bertitel I Win!.

Banyak yang bilang karyamu sangat psikedelik dan trippy, tapi bagaimana kamu mendeskripsikan estetikamu sendiri?

Mungkin referensial, semacam self-portrait yang agak kompleks. Psychedelic is all about experiencing things atau istilahnya trip, dan itu bukan berarti harus dikoneksikan ke drugs, trigger-nya bisa muncul dari mana saja, musik, film, apapun. Saya senang ilustrasi yang bercerita, jadi ilustrasi-ilustrasi saya itu antara hal-hal random yang saya pikirkan atau hal-hal yang pernah saya alami. Saya pernah lagi menyeduh secangkir kopi hitam, saat saya aduk muncul buih-buih di tengah hitamnya kopi, dan hal itu secara random mengingatkan saya akan galaksi milky way, yang akhirnya saya malah jadi memikirkan arti kehidupan. Sangat nonsensikal. Tapi beberapa tahun kemudian saya menonton film berjudul 2 ou 3 choses que je sais d’elle karya Jean-Luc Godard dan di film itu ada scene yang hampir persis sama dengan yang pernah saya alami, di mana sang laki-laki mempertanyakan arti kehidupan dalam secangkir kopi. Cerita ini menjadi inspirasi ilustrasi saya yang berjudul “Moonage Oddity”, di mana ada seorang gadis fanatik David Bowie yang menemukan arti kehidupan di semangkuk sereal.

Skala besarnya sih seperti ingin menciptakan semacam dunia saya sendiri. Dunia yang tidak terbatas perbedaan-perbedaan, malah membaurkan. Seorang bandit thuggee dari India dan seekor godzilla mendengarkan The Beach Boys di pinggir pantai sambil minum sangria, kenapa tidak? Itulah kelebihan dari ilustrasi, imajinasi yang tak terbatas.

Kalau soal estetika, itu rangkuman dari referensi-referensi visual yang saya sukai.

Kalau kamu sendiri sebetulnya memang belajar art secara akademis atau otodidak?

Partially. Kuliah ambil desain grafis saya belajar banyak tentang penggunaan software, color theory, typografi, percetakan. Di sana saya belajar disiplin yang dibutuhkan dalam melakukan seni secara profesional. Tapi kalau gambar saya belajar sendiri, dari sebelum kuliah sih juga udah suka gambar. Apalagi jaman sekarang, mau belajar apa saja tinggal cari di internet. Tutorial bikin apapun ada pasti kalau dicari, mau belajar sejarah seni juga perpustakaan internet jauh lebih lengkap. Jadi kalau dulu ‘edukasi itu sangat penting, tapi kok mahal?’, sekarang ya itu sudah bukan alasan lagi, cukup rutin ke warnet atau berlangganan internet lalu research sendiri saja.

Polka Wars

Sebagai seorang visual artist yang juga musisi, bagaimana kamu melihat korelasi antara musik dan seni?

Keduanya  berinteraktif, bisa berupa stimulan seperti kasus saya, atau kalau yang lebih konkret misalnya identitas visual dari sebuah band (cover album, video klip, etc). Sebuah band sebaiknya memiliki identitas visual yang khas, nah di situlah peran seorang seniman visual untuk menyampaikan maksud dari musik band tersebut ke pendengar, semacam mengantar setting suasana lah.  Sama juga kalau kebalikan kaya misalnya scoring film. Tapi di balik keinteraktifan itu, keduanya harus bisa dinikmati masing-masing secara tunggal. Saya pernah memberikan contoh kasus “Dark Side of Oz”, di mana kita memainkan film Wizard of Oz yang di-mute dan album Dark Side of the Moon dari Pink Floyd secara bersamaan. Itu hal yang sangat fenomenal, padahal kedua dari karya tersebut sudah sempurna dinikmati masing-masing.

Medium favorit untuk berkarya sejauh ini? Ada nggak medium lain yang sedang ingin dieksplor?

Pensil dan kertas. Sudah lama sih ingin serius ngelukis, tapi mungkin belom terpanggil.

Sejauh ini project apa yang paling memorable?

Semua proyek bagi saya memorable, karena setiap proyek men-trigger memori masing-masing yang spesifik.

Apa yang menjadi obsesimu saat ini?

Memphis design style, foto-foto dari katalog tahun 1970-an, dan penghapus merek Pentel yang berwarna pink dengan dua burung flamingo pink di packaging-nya, saya suka sekali desain produknya.

Apa proyek selanjutnya?

Fokus menyelesaikan proyek-proyek personal yang tertunda. Saya gampang sekali terdistraksi, jadi banyak gambar-gambar yang setengah jadi.

Peregrine

Kendra’s Top 5 Favorite Cover Art:

Bitches_brew

Bitches Brew – Miles Davis

Dua kata: Mati Klarwein. Salah satu cover yang membuat saya jatuh cinta dengan cover album.

Rolling_Stones_-_Their_Satanic_Majesties_Request_-_1967_Decca_Album_cover

Their Satanic Majesties Request – The Rolling Stones

Jawaban dari album The Beatles, Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club. Band yang menurut saya lebih bagus. Foto lentikular tiga dimensi yang kalau dilihat dari angle tertentu menghadap satu sama lain kecuali Mick Jagger yang di posisi tengah, lalu dikelilingi frame biru-putih.

Pink_Floyd-Animals-Frontal

Animals – Pink Floyd

Landscape gedung power station di mana ada detail seekor babi yang sedang terbang, dan istimewanya didesain oleh Roger Waters sendiri. Sarat akan kritik sosial, tapi sangat subtle.

The-Jacks-Vacant-World-478572

Vacant World – Jacks

Album dari band Jepang yang dirilis tahun 1968. Saya suka foto band yang berkonsep, dan di cover album ini komposisinya pas sekali.

hollow me

Hollow Me/Beautiful – Yura Yura Teikoku

Shintaro Sakamoto selalu mendesain sendiri visual untuk semua proyek musiknya, dan pada album ini dia sukses dengan desain simpel namun sangat mengena. Dari konsep, warna, komposisi. Padahal cuma ilustrasi pipa-pipa biru di atas warna pink, jenius.

studiorama-4tee1_800

www.cargocollective.com/ardneks

 instagram.com/ardneks

   soundcloud.com/ardneks

On The Records: Ramayana Soul

ramayana-soul-2

Memadukan bunyi musik tradisional India dengan musik rock Inggris mungkin sama sekali bukan hal yang asing seperti yang sudah lama dipopulerkan oleh The Beatles di akhir 60-an atau band Britpop Kula Shaker yang melejit di 90-an dengan single “Govinda” yang berbahasa Sanksrit, namun tetap saja rasanya selalu menyenangkan mendengar paduan sitar yang magis dengan sounds gitar yang modern. Adalah Ramayana Soul, band raga-rock/psychedelia gagasan Erlangga Ishanders yang sebelumnya dikenal sebagai gitaris band indie legendaris Jakarta bernama Pestolaer yang membawa formula tersebut ke ranah lokal. “Jujur awalnya nggak ada kepikiran, semua ngalir kaya air karena ada kesempatan. Singkat kata, semua berawal dari musik kamar seperti biasa. Yang pada akhirnya solid terbentuk sebagai band di 2010,” ungkap vokalis yang akrab disapa Angga tersebut. Melihat langsung penampilan live mereka yang membius di mana Angga dengan bertelanjang kaki akan bergantian memainkan sitar dan keyboard atau justru bernyanyi cuek sambil menari diiringi nyanyian chanting dari Ivon Destian dan aransemen padu dari 3 personel lainnya, its enough to take you to higher realm of sonic and stay grounded at the same time. “Kalau dibilang influens mungkin jadi rahasia dapur, tapi kalau yang membangkitkan adalah beberapa musisi yang notabene di luar sana kalau ngomongin agama sulit tapi mereka bisa. Kenapa kita yang di sini yang lebih beragam kok nggak bisa? Contoh kaya Ray Charles besar dari dunia gospel dan Enya yang segitu ribetnya dunia dia bisa lurus bikin sesuatu tanpa mandang bulu agama,” ungkap Angga tentang warna musik mereka. Setelah baru-baru ini merampungkan kolaborasi eksklusif dengan Studiorama Sessions dalam bentuk video musik, band ini pun dicanangkan tampil dalam gelaran Studiorama Live kelima pada tanggal 18 Oktober nanti di Rossi Musik Fatmawati.

WHO: Erlangga Ishanders (vokal, sitar, gitar, harmonium, tabla), Adhe Kurniawan (gitar), Ivon Destian (vokal), Kaisar Irfan Tirtamurti (bass) dan Sultan Bimo Kamil (drums, tabla).

WHERE: Jakarta.

INFLUENCES: The Stone Roses, Kula Shaker, George Harrison, Ian Brown, Ravi Shankar, Enya. “Yang paling nggak bisa munafik adalah psychedelic, itu akarnya. Cuma kita bukan hippies, kita bukan bohemian, kita nggak mencoba untuk jadi mereka,” cetus Angga.

BEHIND THE NAME: “Itu sebetulnya ‘kepeleset’ aja nggak tau kenapa, jadi waktu dianjurin temen buat main di acara ditanya ‘nama band lo apa?’ nah Ramayana Soul ini yang keluar. Nggak ada arti yang spesifk, cuma terbersit seketika.”

LISTEN THIS: “Jaya Raga Jiwa” yang menenangkan seperti mantra, “Mawar Batu” yang dari judulnya seakan terinspirasi dari The Stone Roses dan “Aluminium Foil” dengan aransemen psych rock dan peralihan vokal mencengangkan dari berbisik hingga lantang berteriak. “Lagu itu bercerita tentang beberapa kaum yang menjauhi fitnah sebagai loyalitas terhadap Penciptanya. Dan beberapa cerita tentang kaum yang nggak bisa lepas dari madat,” ungkap Angga.

LOCAL MUSIC HEROES: “Udah jelas Rhoma Irama. Kalau dibilang suka musiknya sih nggak, tapi kok dia bisa berpikir segitu jauhnya. Pas banget waktu musik India dateng, teknologi rekaman di Indonesia lagi maju-majunya sampai Rhoma Irama juga dapat serapan dari Deep Purple hingga akhirnya dangdut terlihat kaya gitu, nggak yang Melayu atau terlalu stagnan.”

HOMETOWN GLORY: “Kita ngeliat scene sekarang udah beragam dan lebih berani dari sisi positif tentunya.”

BEST GIG: “Semua gigs berkesan, tapi sejauh ini yang lebih berkesan kita main di acara Polpang vol. 1 pemutaran acara film Amuk, karena menurut kita sangat menyenangkan dan apresiasif.”

NEXT PLAN: “Sejauh ini kita nggak pasang target sebagai hal yang idealis. Yang penting jalan aja. Album adalah next target. Kita akan mengeluarkan full album bekerjasama dengan Wasted Rockers Records berisi 8 materi yang rampung dan juga dibantu beberapa kawan kita dari Sineping yang membantu pembuatan video klip single kita nantinya.”

https://soundcloud.com/ramayanasoul