Book Club: The Murmur House, A Murmuration of Frolicking Young Writers.

Murmur
Looking through the personal blogs and indie zines, Indonesia sepertinya telah memiliki regenerasi penulis mudanya sendiri secara natural. Namun, di samping mereka yang berhasil meraih kontrak penerbitan buku, masih banyak juga penulis muda yang seakan tidak punya outlet untuk menampilkan karya mereka dan cenderung berjuang sendirian. Hal tersebut yang kemudian mendorong dua penulis muda Rain Chudori dan Syarafina Vidyadhana untuk membuat Murmur House, sebuah wadah bagi para penulis muda untuk berkumpul dan berkembang bersama melalui jurnal literatur kolaboratif. Selain merilis jurnal literatur, dalam peluncuran setiap edisi mereka juga menggelar event bertajuk Murmuration di mana para pencinta literatur bisa berkumpul untuk menikmati impromptu reading dan acoustic performance. Klub membaca adalah rencana mereka selanjutnya, namun untuk sekarang let’s have some chat with these two charming young ladies.

Hi Rain and Avi, how are you? Boleh cerita bagaimana kalian bertemu dan akhirnya tercetus ide untuk bikin project bareng ini?
Rain: We met one afternoon for tea and to talk about our two favorite things, love and literature. Somewhere amongst that, had an idea of creating a project that made by young writers for young writers.
Avi: It was December last year. Rain happened to be in my campus, waiting for her friend to finish some errands and I happened to be a little frustrated from writing my final paper. So we kept each other company and talked about boys and books. It was really fun, and so before we parted that day we thought how wonderful it’d be if we could share the warmth with more people with passion alike.

What’s the story behind the name?
Rain: There are two meanings behind our name. The first, “murmur” means “to speak softly”. The second, “murmuration” means the migration of a flock of starlings that are synchronous and constant.
Avi: ‘Murmuration’ itu suatu fenomena yang menurut gue indah banget. Starlings ketika terbang sinkron dan sangat peka terhadap satu sama lain, sehingga jika ada satu yang berubah, yang lain langsung adaptasi. Di kelompok mereka juga nggak ada yang mendominasi. Oleh karena itu, kita mencoba untuk menerapkan hal yang sama di The Murmur House. Istilahnya, itu kami jadikan filosofi dalam merawat rumah kami.

avi
What’s the main idea when you start this project?
Rain: We wanted to create a home for young writers to gather and grow with each other through a collaborative literary journal. We also hope to foster our home by hosting events such as Murmuration (the launch of each literary journal), and soon, reading clubs.
Avi: idem!

Apa pengalaman menyenangkan saat kalian menyusun Murmur edisi pertama?
Rain: It was exciting to see the participation of writers and to know that we were all interacting in the hopes of creating something beautiful together.
Avi: Selain yang Rain sudah utarakan, ya paling ke percetakan sih. Jauh kan tuh, tapi kami nggak nyasar. Bangga banget lah nggak nyasar. Karena biasanya kalau pergi jauh gue nyasar mulu. Oiya, paling sama proses editing dan ketika kami bisa lihat interpretasi ilustrator/fotografer terhadap karya tulis pada jurnal kami. Kagum aja sama mereka.

Apa yang menjadi pertimbangan kalian dalam memilih konten karya yang akan masuk?
Rain: Our editorial team discusses each piece and goes through a process of workshopping the pieces with the writers and translators.
Avi: Untuk edisi pertama, kami memang menyeleksi secara tertutup penulis-penulisnya. Sebetulnya tidak ada kualifikasi khusus, kami melihat potensi dari tulisan-tulisan mereka sebelumnya di blog maupun media lain, lalu kami ajak mereka untuk berkolaborasi. Setelah kami jelaskan tema pertama jurnal kami, yaitu “welcome to warmth”, mereka lalu menulis puisi, prosa atau essay sesuai dengan interpretasi mereka terhadap tema tersebut. Untuk ke depannya, kami menerima submission dari mana saja, yang tentunya akan kami seleksi bersama para editor dan translator.

rain
How about the Murmuration? Tell me about it, kalian baru saja menggelar Murmuration pertama, how does it go?
Rain: The first Murmuration was quite full and there were a lot of enthusiastic performers, both who are part of Murmur and impromptu ones. It was heartening to find that there is a large amount of enthusiasm for literature.
Avi: Menggembirakan sekali, khususnya karena banyak yang membaca secara impromptu. Tadinya sempat khawatir acaranya akan dianggap menjemukan. But everyone seemed to be having a good time! (At least I was.)

 Have you guys thinking to go online as well?
Rain: There’s a lot of perks in having online content and we have thought of doing so. We are trying to publish the literary journal in print because we love the feel of a physical copy.
Avi: Setuju sama Rain. Ini pretensius banget sih, tapi ya emang belum ada yang bisa ngalahin wanginya kertas krem buku.

Do you have any favorite figure from literature scene?
Rain: From Indonesia, my mother, Leila Chudori. From outside of Indonesia, Sylvia Plath.
Avi: This is one tough question. Kalau penulis Indonesia, Umar Kayam deh. Penulis luar negeri sekarang lagi suka sama Alissa Nutting, cuz Tampa is hilarious.

What literature means for both of you?
Rain: A pure attempt to live.
Avi: I know it won’t save the world, but it might just enlighten its people. Or at least move some hearts.

Bagaimana kalian melihat literature scene di Indonesia saat ini, terutama di kalangan anak mudanya?
Rain: We see a lot of developing young writers, but as young writers ourselves, there is not a lot of outlet for us, especially for fiction writers. This can be quite dispiriting. We hope that The Murmur House can be one, out of many, places where young writers can bloom.
Avi: Nah, iya gitu. Makanya kita bangun The Murmur House, biar nggak saling terpencar dan kesepian.

Spoil some secret for your second issue, what’s the theme dan bagaimana caranya bisa berkontribusi?
Rain: The theme is “Love and Other Drugs”. We intend to find short stories, poetry, proses, plays, and essays on addiction.
Avi: Caranya mudah kok, kirimkan aja tulisan yang (menurut penulisnya) cocok dengan tema ke submit@themurmurhouse.com, jangan lupa sertakan foto dan bio singkat!

opsub
What’s the next plan for Murmur House?
Rain: We hope to continue publishing our literary journal and launching them in our Murmurations. We also hope to establish a reading club that will meet and discuss books once in every two-three months.
Avi: More gatherings! We’d love to make a habit out of reading aloud in public!

http://www.themurmurhouse.com/

The photos by Bintang Adamas and Devi Merakati.

order

Advertisements

Something Poetic, An Interview With Rain Chudori

Selayaknya hujan, setiap cerita yang ditulis Rain Chudori menyimpan banyak emosi tersembunyi. 

Tanpa disadari, tiga profil yang saya tulis untuk Radar NYLON Indonesia edisi Januari 2012 lalu semuanya merupakan storyteller dengan cara mereka sendiri. Pikiran itu melintas saat saya bengong di dalam taksi menuju lokasi interview, yang apa daya harus terjebak macet dan diperparah hujan deras yang turun. Coincidentally, orang yang akan saya temui sebentar lagi juga bernama Rain. Sesampainya di tempat yang dijanjikan, dengan mudah saya bisa menemukan sosok gadis berperawakan mungil yang sedang asik membaca majalah di salah satu meja. Saya bergegas menghampirinya dan meminta maaf atas keterlambatan saya. Dressed in black with deadpan expression, sepintas dia terlihat intimidatif, tapi begitu ia membuka mulut, yang keluar adalah sapaan yang ramah.

Yang sedang duduk di depan saya adalah Rain Chudori-Soerjoatmodjo, seorang penulis muda yang namanya tengah bersinar berkat cerita-cerita pendek berbahasa Inggris karyanya yang sudah dimuat di berbagai media seperti Jakarta Post, Tempo dan Jakarta Globe. Dunia tulis-menulis sama sekali bukan hal yang asing bagi gadis kelahiran 1994 ini. Kakeknya adalah seorang wartawan Kantor Berita ANTARA, sementara ibunya, Leila S. Chudori, adalah nama besar di dunia sastra Indonesia dan ayahnya, Yudhi Soerjoatmodjo, adalah fotografer jurnalistik yang kerap membuat esai foto. Ia bercerita bila semuanya bermula saat salah satu cerpennya berjudul Blue, yang sebenarnya adalah tugas sekolah, dikirim ke Jakarta Post oleh ibunya tanpa sepengetahuan dirinya. Cerpen itu dimuat dan mendapat respons positif. Sejak itu karyanya semakin sering dimuat dan tawaran menulis berdatangan, termasuk menulis novel dwi-bahasa, Serdadu Kumbang, yang berdasarkan dari film berjudul sama. Hal yang sebetulnya tidak mengherankan, karena bila kamu membaca salah satu karyanya, kamu pun akan mengerti. Emosi yang selalu tertangkap dari tulisan penggemar Haruki Murakami ini adalah beautifully sad, real, and poignant. “My mom says I was writing in realism, I write about real life, what’s there, I think my writing is more observation of life.” Ucapnya.

Sejak kecil, ia ingat setiap bangun tidur yang dia cari adalah buku, dia banyak membaca cerita klasik Charles Dicken dan Jane Austen, sebelum kemudian menyukai novel klasik Rusia seperti Anna Karenina dan karya Anton Chekhov. Sounds deep right? Tapi bagaimana sih keseharian seorang Rain? “I like tweeting, watching film, being with my friends and boyfriend, going to concerts. I’m pretty regular teenager actually.” Jawabnya sambil tersenyum. Saya pun bertanya iseng apakah ia juga sering membaca cheesy story? “No, but I watch bad TV show, like Jersey Shore, it’s so bad you wanna watch it, just for laugh, haha.” Rain yang saat artikel ini ditulis masih duduk di kelas 3 SMA dan sedang menyiapkan diri mendaftar kuliah jurusan English atau Film Writing memproklamirkan dirinya sebagai movie buff. “Saya selalu ingin menjadi penulis, but with film I think I can explore even broader art form.” Cetusnya. Sebelumnya ia juga pernah menulis resensi (500) Days of Summer untuk Jakarta Post, berdasarkan kebiasaannya menganalisa film yang ia tonton. “I love both. But at some level, film always reach more audiences, nggak semua orang suka baca buku, tapi mayoritas orang suka nonton.” Ungkap Rain yang menyebut American Beauty sebagai film favoritnya.

Punya ibu yang juga seorang penulis terkenal membuat tulisan mereka kerap dibandingkan, untuk itu Rain punya tanggapannya sendiri, ”They’re kinda similar with themes like juxtaposing personal life experience and political condition as background, I just recently realized how much she influence my works.” Dari sekian banyak cerita yang pernah ia tulis, mana yang menurutnya paling personal? “Smoking with God. It contain one of my deepest anger, it’s basically about my parents relationship and the peak point of their broken marriage.” Jawabnya dengan gamblang. Saat ini ia tengah menyiapkan antologi kumpulan cerpen yang pernah ia buat. “Konsepnya adalah kumpulan cerita dari satu kompleks perumahan di mana setiap rumah punya cerita masing-masing.”

Sampai di penghujung interview ini, saya melontarkan pertanyaan yang sudah saya simpan dari tadi, which is perihal namanya yang unik. “I keep asking my parents and they keep changing their answers, I mean sometimes they says it’s from the weather but sometimes they say I was named after Rain Phoenix, sibling of River and Joaquin Phoenix,” jawabnya ringan. Dia sendiri mengaku kalau dia tidak begitu menyukai namanya dan lebih memilih nama Marigold atau Luna sebagai alter-ego dirinya. Well, apapun nama yang ia pilih, bagi saya she’s still one of the most interesting girl out there.

 As published in NYLON Indonesia January 2012

Photo by Luca Knegtering.

Click the links to read her short stories:

Blue

Something Poetic

Smoking With God (part 1)

Smoking With God (part 2)