#30DaysofArt 20/30: Nurrachmat Widyasena

Stupid third world Asian tries to talking-talking about Space Age,” cetus seniman asal Bandung yang biasa dipanggil Mas Ito ini untuk mendeskripsikan diri dan karyanya. Memiliki ayah seorang pakar teknologi dan menyukai sci-fi sejak kecil menjadi fondasi dari tema retro-futurism yang dikemas dengan humor oleh lulusan FSRD ITB ini lewat instalasi, drawing, dan printmaking. Namun, meskipun terlihat cenderung ringan dan mengundang senyum, bukan berarti pria kelahiran Kanada, 20 Mei 1990 ini tidak serius dalam berkarya. “Bagi saya, dalam berkarya kita tidak bisa hanya bergantung dan mengandalkan kreativitas saja. Karena bagi saya kreativitas hanyalah 10% dari kekaryaan. Sisanya adalah kerja keras, skill manajemen, bertemu dengan orang yang tepat, dan disiplin diri yang baik,” papar pria yang juga dikenal sebagai pemilik clothing brand bernama KITC ini.

nurrachmat-widyasena-foto-diri-2

Siapa sosok yang membuatmu tertarik pada seni?

Pada saat SMA, guru Bahasa Indonesia saya, Ibu Molly merupakan istri dari seniman terkenal Pak Tisna Sanjaya. Ibu Molly sering bercerita tentang dunia seniman dan apa yang dikerjakan oleh suaminya. Dari cerita-cerita tersebut saya menjadi tertarik untuk menjadi seorang seniman. Tiga tahun kemudian saya masuk FSRD ITB dan diajar langsung oleh Pak Tisna Sanjaya.

Apa yang kemudian mendorongmu untuk berkarya?

Awalnya sih karena adanya janji-janji utopis seorang seniman yang sudah sukses, bikin satu buah karya, laku, bisa hidup tenang 3-5 tahun, hahahaha. Tetapi sekarang berkarya buat saya menjadi seperti sebuah kepuasan sendiri, seperti sebuah simulation game, mengembangkan karier, naikin level kekaryaan, berstrategi membuat pameran, dsb. Menarik!!

Bagaimana akhirnya kamu menemukan medium/style favoritmu?

Pada saat saya kuliah di tingkat 3 awal, saya terkena cacar air untuk kedua kalinya di hidup saya. Karena hanya bisa berada di rumah, saya iseng membuka lemari tempat saya menyimpan barang-barang saya waktu kecil. Di situ saya menemukan beberapa gambar eksplorasi luar angkasa yang retro sekaligus futuristik. Dari situlah saya menyadari dan mulai mencari tau trend dalam seni kreatif yang bernama Retro Futurism yang kemudian menjadi fondasi utama dalam kekaryaan saya sekarang.

 2015-pt-besok-jaya-nike-space-max-rocket-shoes

Masih ingat karya atau ekshibisi pertamamu?

“Patriotic Myth Of Space Age”, adalah pameran tunggal pertama saya di Galeri Kamones, Bandung, tahun 2013. Pameran tersebut sangat berkesan bagi saya, karena 5 bulan setelah lulus kuliah saya membuat sebuah pameran tunggal di sebuah bangunan yang sangat industrial dan tidak “white cube” seperti layaknya sebuah galeri profesional. Pertama kalinya saya merancang sebuah pameran dengan sangat bebas dan tidak ada beban. Sampai saat ini, pameran tersebut masih menjadi pameran pribadi yang paling saya sukai.

Siapa saja seniman yang menginspirasi?

Banyak sekali seniman-seniman yang menjadi inspirasi saya dalam berkarya. Tapi dari dulu sampai sekarang, saya sangat mengidolakan Kenji Yanobe dan Tom Sachs.

Pencapaian paling berkesan sejauh ini?

Bekerjasama dengan Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk mengerjakan beberapa seri karya saya. Saya diundang melihat langsung peluncuran roket milik LAPAN di kota pesisir Pantai Pameungpeuk. Berbincang dengan petinggi-petinggi militer, bertemu dan melihat perangkat kerja para staff ahli LAPAN, merasakan dan mendengarkan dari dekat secara langsung detik-detik perhitungan mundur peluncuran roket.

artwork-1457805631

Apa rasanya menjadi seorang seniman di era social media seperti sekarang?

Tidak dapat dipungkiri social media sangat berperan aktif dalam pengembangan karier seorang seniman. Mempercepat jalur distribusi visual kekaryaan yang telah kita buat untuk dilihat orang banyak. Membuat semakin banyak orang tau apa yang sedang kita lakukan, karya apa saja yang telah kita buat, dan masih banyak lagi.

Tell me about your current obsession!

Untuk saat ini saya sedang sangat terobsesi dengan onigiri yang dijual di Indomaret. ENAAAAAAK DAN MURAAAH!! Selain itu saya sedang senang mengoleksi minuman-minuman kaleng dari berbagai negara, biasanya saya titip dengan teman-teman yang sedang berpergian ke luar negeri. 

Di mana biasanya kamu bisa ditemukan saat weekend?

Di studio tempat saya berkarya, sedang main game, atau sedang bekerja.

artwork-1457803058

Project saat ini?

Untuk saat ini saya sedang membangun sebuah perusahaan berbasis teknologi bernama PT Besok Jaya untuk menjadi mercusuar teknologi di Indonesia seperti Space X dan Tesla Motors-nya Elon Musk. Selain itu saya sedang mempersiapkan diri untuk project pameran tunggal saya.

Target sebelum usia 30?

Target Tidak Realistis Sebelum 30 Tahun

  • Punya android humanoid personal yang bisa bantuin bikin karya.
  • Diundang oleh NASA untuk bikin karya di luar angkasa.
  • Bisa mengubah daun menjadi uang dengan bantuan teknologi.

Target Realistis Sebelum 30 Tahun

  • Punya studio seniman sendiri lengkap dengan tim produksi dan tim administrasinya.
  • Membuat karya roket luar angkasa sendiri 1:1.
  • Brand personal saya KITC lebih dikenal dan matang secara income dan infrastruktur.

2015-dangdut-alien

Advertisements

Film Strip: Fatal Frame & Parasyte

Beberapa pekan terakhir ini saya berkesempatan menonton dua film asal Jepang yang dibawa oleh Moxienotion ke Indonesia. Keduanya merupakan live action dari game maupun manga yang sudah terkenal. Berikut adalah catatan kecil saya tentang keduanya.

Fatal FrameFatal Frame (Gekijoban: Zero)

Sutradara: Mari Asato.

Diangkat berdasarkan novel karya Eiji Otsuka, Fatal Frame telah lebih dulu dikenal sebagai seri game mystery supernatural ikonik dengan plot seorang gadis remaja Jepang yang menggunakan sebuah camera obscura untuk menghadapi hantu dan memecahkan kejadian misteri. Disebut sebagai salah satu game horror terbaik berkat storytelling yang brilian dan sinematografi yang kuat, game Fatal Frame kental akan misteri, suspense, dan teka-teki yang akan membuatmu penasaran dan tersedot dalam alur ceritanya. Unsur itu pula yang terasa dalam film adaptasi garapan sutradara Mari Asato ini.
Berlatar sekolah Katolik khusus perempuan di sebuah bukit di daerah pedesaan Jepang yang dipenuhi gadis-gadis sekolah berpakaian seragam hitam dan desas-desus tentang sebuah ritual serta kutukan yang hanya menimpa anak gadis, Fatal Frame menceritakan tentang Aya (diperankan oleh model remaja Ayami Nakajo), seorang gadis cantik bersuara indah yang dihantui bayangan seorang gadis mirip dirinya yang tenggelam dalam air dan memohon untuk dibebaskan dari kutukan yang menimpanya. Gadis yang populer dan memiliki banyak pengagum ini pun mengurung diri di kamarnya dan membuat teman-temannya cemas. Kejadian aneh mulai muncul ketika seorang siswi bernama Kasumi (Kasumi Yamaya) melakukan ritual tengah malam dengan mencium foto wajah Aya dan menghilang tanpa jejak ketika berjalan di hutan bersama temannya, Michi (Aoi Morikawa). Michi, gadis penggemar fotografi tersebut menemukan foto Aya di kamar Kasumi dan mulai dihantui oleh sosok mirip Aya yang memohon dibebaskan dari kutukannya. Tak butuh waktu lama, kutukan tersebut menyebar ke seluruh sekolah dan semakin banyak siswi yang menghilang dan ditemukan meninggal di sungai seperti lukisan Ophelia karya John Everett Millais yang tergantung di ruangan suster kepala. Bertekad untuk mencegah lebih banyak korban, Aya pun keluar dari kamar dan mengajak Michi untuk bersama menyelidiki misteri tentang sesosok arwah yang menyerupai dirinya dan rahasia gelap yang tersimpan di balik dinding sekolah tersebut.

FatalFrame2
Film ini sendiri memang menyajikan cerita tentang ritual, exorcism, dan pembunuhan yang menjadi tema besar dari serial game Fatal Frame, namun kamu tak akan menemukan adegan penuh darah atau penampakan yang akan membuatmu terlonjak dari kursi. Sutradara Mari Asato menghadirkan atmosfer creepy lewat kamera film 16mm dan tensi cerita yang dibangun oleh suasana kelam di sudut-sudut sekolah merangkap katedral, hutan berpohon tinggi, danau penuh teratai, dan jalanan kota kecil. You can almost feel the eerie chill, bahkan di adegan siang bolong sekalipun. Tanpa adanya keterangan tentang latar waktu dan tempat yang spesifik, nuansa klasik dan konservatif di film ini pun mengaburkan batas antara realita dan fantasi. Lebih dari sebuah cerita horror, dengan banyak referensi dan simbol yang terkandung dalam setiap detailnya, Fatal Frame juga mengusung tema besar tentang cinta terlarang dan coming of age story tentang fase dari gadis remaja yang menuju kedewasaan. Ethereal dan delicate seperti The Virgin Suicides bertemu dengan The Crucible, film ini dengan anggun menghadirkan plot misteri berkualitas dan narasi visual yang cantik.

parasyteParasyte: Part 1 (Kiseiju)

Sutradara: Takashi Yamazaki.

Film Jepang garapan Takashi Yamazaki ini diangkat dari serial manga horror sci-fi legendaris berjudul sama karya Hitoshi Iiwaki. Bercerita tentang invasi entitas misterius yang muncul dari dalam laut dan secara serentak mulai melakukan rencana mereka menguasai dunia dengan cara mengambil alih tubuh manusia sebagai host. Salah satu parasit tersebut tiba di kamar seorang anak SMA bernama Shinichi Izumi (Shota Sometani) dan berusaha masuk ke lubang telinganya saat ia tertidur. Lucky for him, dia sedang memakai earphone. Parasit berbentuk seperti cacing itu pun berusaha masuk melalui hidung Shinichi namun lagi-lagi gagal karena ia terbangun dan melakukan perlawanan sebelum akhirnya parasit itu menembus telapak tangan kanannya dan berdiam di situ.
Awalnya Shinichi merasa tidak ada yang aneh selain tangan kanannya yang mati rasa, namun perlahan tangan kanannya mulai bergerak dengan sendirinya. Next thing he know, tangan kanannya bisa memanjang dan berubah bentuk dengan sendirinya, sebelum akhirnya muncul bola mata dan mulut yang memperkenalkan dirinya sebagai parasit. Parasit yang kemudian dipanggil dengan nama Migi (tangan kanan) ini pun berdialog dengan Shinichi dan menunjukkan rasa haus akan ilmu pengetahuan dan apapun yang menyangkut tentang spesies manusia. Sementara itu di berbagai tempat lain, parasit yang berhasil mengambil alih otak host-nya mulai meneror manusia dengan cara memakan manusia lain sebagai sumber nutrisi dan menjalankan misi untuk menghapus umat manusia dari bumi ini sebagai reaksi dari kerusakan alam. Beberapa dari parasit tersebut yang lebih pintar mulai beradaptasi dengan cara menyamar sebagai bagian dari masyarakat. Mulai dari polisi, murid sekolah, politikus, dan salah satunya menjadi guru di sekolah Shinichi. Parasit yang mengambil alih tubuh seorang wanita bernama Ryoko Tamiya (Eri Fukatsu) tertarik kepada anomali simbiosis antara Shinichi dan Migi. Pertemuan dengan Ryoko membuahkan rentetan peristiwa yang memaksa Shinichi dan Migi untuk bekerjasama bertahan hidup dari serangan Parasyte lain dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh Shinichi dan orang-orang terdekatnya sebelum akhirnya bereskalasi menjadi perang antara alien dan manusia.
Terlepas dari premis invasi alien dan body snatcher horror, film ini sendiri menawarkan visual sinema Jepang yang subtle dan akting mengesankan dari para pemainnya. Secara halus, sang sutradara berhasil menunjukkan transisi dari adegan sekolahan yang hangat berbumbu light comedy menuju thriller yang semakin gory dan kelam dengan tema seperti degadrasi lingkungan dan family dissolution. Semuanya dilengkapi oleh adegan laga dengan efek CGI yang smooth dan beberapa kali membuat saya menahan napas atau berdecak kagum. Film ini sendiri adalah bagian pertama yang akan dilanjutkan bagian kedua yang akan dirilis April nanti di Jepang. One thing for sure, you don’t have to read the manga beforehand to enjoy this movie, saya merekomendasikan film ini untuk yang suka pada film-film seperti The Faculty dan The Host.

Parasyte2